Anda di halaman 1dari 14

HAK KORBAN ATAS KERUGIAN DALAM PERKARA PIDANA Oleh : Aep Sulaeman, S.H., Sp.1.

Abstrak Tuntutan ganti kerugian atas apa yang dialami dan diderita oleh korban kejahatan pada prinsipnya dapat digabungkan dalam perkara pidana, hal ini diatur dalam Pasal 98 sampai dengan Pasal 101 KUHAP. Ketentuan ini merupakan bukti perlindungan hukum bagi korban kejahatan, namun dalam pelaksanaannya hampir tidak pernah digunakan oleh korban atau ahli warisnya dalam menuntut haknya terhadap kerugian yang diakibatkan oleh pelaku kejahatan. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya pengetahuan, belum adanya sosialisasi yang intensif, atau korban sudah menganggap dari awal bahwa hak tersebut percuma untuk diajukan karena beranggapan pelaku kejahatan tidak akan membayar kerugian akibat perbuatan pelaku kejahatan. Kata kunci = Seharusnya korban tindak pidana mendapatkan ganti kerugian. A. Pendahuluan Fenomena hukum yang sering timbul dalam kehidupan

bermasyarakat yang berhubungan dengan hukum pidana dan perdata. Dalam batasan kaitan kedua lapangan hukum ini masih kurang jelas, tetapi keduanya mempunyai hubungan yang erat, dan menurut Wirjono Prodjodikoro: 1 Hubungan ini dapat bersifat positif dalam arti, bahwa suatu perbuatan dari jenis ini dapat dikenakan baik hukuman perdata maupun hukuman pidana, dan juga dapat bersifat negatif dalam arti, bahwa suatu perbuatan dari jenis ini hanya dapat dikenakan hukuman perdata, dan tidak dapat dikenakan hukuman pidana. Dengan demikian suatu perbuatan perdata, ada yang hanya termasuk perbuatan hukum perdata saja dan ada juga suatu perbuatan hukum perdata juga termasuk perbuatan hukum pidana. Persoalan semacam ini sering dihadapi oleh masyarakat dan aparat penegak hukum dalam menafsirkan apakah termasuk lapangan hukum pidana dan/atau hukum perdata.

Wirjono Prodjodikoro, Tindak-tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, PT.Eresco, Banding, 1986, hlm.11.

2 KUHP khususnya mengatur terhadap tentang kekayaan kejahatan orang dan pelanggaran seperti tipu-gelap, pidana yang

mengakibatkan kerugian bagi orang lain, oleh karena itu semua tindak pidana, khususnya mengenai kekayaan juga merupakan pelanggaran hukum bidang hukum perdata, maka disamping hukuman pidana selalu ada kemungkinan hukuman perdata berupa penggantian kerugian akibat perbuatan pelaku tindak pidana kepada korban, disamping pidana denda sebagai hukuman tambahannya. Dalam hukum perdata, penerapan ganti rugi adalah hal biasa apabila seseorang yang melakukan perbuatan melawan hukum yang akhirnya menimbulkan kerugian kepada orang lain, ia diwajibkan untuk mengganti kerugian. Sedang dalam hukum pidana terdapat ketentuan yang

berhubungan dengan hukum perdata, misalnya dalam Pasal 14 butir c KUHP yaitu : Apabila hakim menjatuhkan pidana percobaan, maka di samping penetapan syarat umum bahwa terhukum tidak akan melakukan tindak pidana, dapat pula ditetapkan syarat khusus bahwa terhukum dalam waktu tertentu yang lebih pendek dari masa percobaannya, harus mengganti seluruh atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh tindak pidana. Ketentuan tersebut diatas bila diterapkan tentunya lebih mendekati kepada penegakan hukum, dalam arti bahwa orang yang dirugikan dalam perkara pidana atau yang dapat disebut korban mendapat perhatian. Kedudukan korban atau orang yang dirugikan dalam perkara pidana selama ini memprihatinkan, korban dari kejahatan seolah dilupakan. Ilmu hukum pidana dan praktek penyelenggaraan hukum pidana hanya memperhatikan bentuk balasan dalam arti kurungan badan kepada pelaku. Berdasarkan sejarahnya lembaga penjara adalah tempat untuk membuat orang (terpidana) untuk dibuat jera walaupun sebenarnya sistem ini sudah diubah menjadi sistem lembaga pemasyarakatan. Dalam situasi yang demikian itu maka wajar apabila masalah ganti rugi dalam perkara pidana sama sekali tidak mendapat perhatian. Apabila orang yang dirugikan menghendaki penggantian kerugian maka orang tersebut harus melalui proses beracara yang memerlukan waktu panjang sesuai Bw dan HIR.

3 Pidana pengenaan kewajiban ganti rugi yang diberikan kepada terpidana itu akan mempunyai arti, apabila terpidana mampu membayar ganti rugi. Persoalannya adalah bagaimana bila terpidana tidak mampu membayar ganti rugi, apakah diganti dengan hukuman tambahan dalam bentuk pidana kurungan tambahan sebagaimana diatur dalam ketentuan pidana denda, hal ini ternyata belum ada ketentuan yang mengaturnya.

B. Pembahasan Pembagian hukum perdata dan pidana adalah pengaruh adanya hukum Romawi yang menjalar ke negara eropa kontinental dan akhirnya sampai ke Indonesia. Masuknya pembagian hukum ini di Indonesia akibat kolonialisme Belanda di Indonesia. Paham individualistis mencapai puncaknya pada abad-19, waktu itu pemerintah Belanda bersifat pasip, artinya tidak banyak ikut campur dalam penyelenggaraan kepentingan masyarakat Indonesia, khususnya dalam lapangan hukum perdata. Hal ini berbanding terbalik dalam keadaan Indonesia merdeka, pemerintah RI banyak turut campur dalam

penyelenggaraan kepentingan masyarakat (invisible hand dan public investment). Ulpianus membagi hukum dalam dua golongan besar, yaitu hukum privat dan hukum publik. Dikatakannya bahwa "Hukum privat merupakan hukum yang mengatur kepentingan perorangan dan persaingan, sedangkan yang dimaksud hukum publik adalah hukum yang berhubungan dengan kesejahteraan negara.2 Masalah ganti kerugian bagi korban dalam lapangan hukum pidana salah satunya diatur dalam Pasal 98 Ayat (1) KUHAP "Jika suatu perbuatan yang menjadi dasar dakwaan di dalam suatu pemeriksaan perkara pidana oleh pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka hakim ketua sidang atas permintaan orang itu dapat menerapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti kerugian kepada perkara pidana itu". Sedangkan dalam Ayat (2) nya diatur mengenai batasan waktu yaitu:
2

Sunaryati Hartono C.F.G, Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia, Bandung, Binacipta, 1989, hlm.73.

4 "Permintaan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) hanya dapat diajukan selambat-lambatnya sebelum penuntut umum mengajukan tuntutan pidana. Dalam hal penuntut umum tidak hadir, permintaan diajukan selambatlambatnya sebelum hakim menjatuhkan putusan". Dalam penjelasan Pasal 98 KUHAP disebutkan bahwa : Ayat (1) Maksud penggabungan perkara gugatan pada perkara pidana ini adalah supaya perkara gugatan tersebut pada suatu ketika yang sama diperiksa serta diputus sekaligus dengan perkara pidana yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan kerugian bagi orang lain termasuk kerugian pihak korban. Ayat (2) Tidak hadirnya penuntut umum adalah dalam hal acara pemeriksaan cepat. Menurut Soesilo: Pasal ini menentukan bahwa jikalau perbuatan yang menjadi dasar dakwaan dalam suatu tuntutan perkara yang diajukan oleh penuntut umum di pengadilan negeri menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka orang ini dapat mengajukan permintaan ganti kerugian dan hakim ketua sidang dapat menetapkan untuk menggabungkan perkara gugatan ganti kerugian itu kepada perkara pedananya. Disini terang bahwa suatu perkara perdata dapat diperiksa bersamasama dengan perkara pidana dalam suatu sidang pengadilan negeri. Permintaan ganti kerugian itu tidak dapat diajukan pada sembarang waktu. Menurut Ayat (2) pasal ini maka permintaan tersebut harus diajukan selambat-lambatnya sebelum penuntut umum dalam sidang pengadilan mengajukan tuntutan pidana. Apabila penuntut umum tidak hadir seperti dalam acara pemeriksaan cepat, maka permintaan harus diajukan selambat-lambatnya sebelum hakim menjatuhkan putusan".3 Mengenai kewenangan mengadili dan besarnya ganti rugi diatur dalam Pasal 99 Ayat (1) KUHAP bahwa : Apabila pihak yang dirugikan minta penggabungan perkara gugatannya pada perkara pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 98, maka pengadilan negeri menimbang tentang kewenangannya untuk mengadili gugatan tersebut, tentang kebenaran dasar gugatan dan tentang hukuman penggantian biaya yang dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan tersebut.

Soesilo, Kitab Undang - undang Hukum Acara Pidana, Politeia, Bogor, 1988,

hlm.91.

5 Tentunya pengadilan tidak berwenang untuk mengadili maka korban dapat menambahkan permohonan penetapan hakim dalam pengajuan penggabungan perkara itu sejak awal, sesuai Pasal 99 Ayat (2) bahwa: Kecuali dalam hal pengadilan negeri menyatakan tidak berwenang mengadili gugatan sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) atau gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, putusan hakim hanya memuat tentang penetapan hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan. Dengan demikian walaupun diluar kewenangan hakim yang mengadili, maka penetapan hakim ini mempunyai kekuatan hukum pasti sesuai Pasal 99 Ayat (3) KUHAP, yaitu Putusan mengenai ganti kerugian dengan sendirinya mendapat kekuatan tetap, apabila putusan pidananya juga mendapat kekuatan hukum tetap. Putusan hakim dalam masalah gabungan perkara dapat dimohonkan untuk naik banding, bila para pihak (korban dan terdakwa) merasa putusan hakim ini dianggap tidak adil Pasal 100 ayat (1) dan (2) KUHAP: (1) Apabila terjadi penggabungan antara perkara perdata dan perkara pidana, maka penggabungan itu dengan sendirinya berlangsung dalam pemeriksaan tingkat banding. (2) Apabila terhadap suatu perkara pidana tidak diajukan permintaan banding, maka permintaan banding mengenai putusan ganti rugi tidak diperkenankan. Ketentuan pokok yang mengatur ganti rugi diatur dalam Pasal 101 KUHAP yang berbunyi "bahwa ketentuan dari aturan hukum acara perdata berlaku bagi gugatan ganti kerugian sepanjang dalam undang-undang ini tidak diatur lain". Hal ini dipertegas lagi dalam Pasal 29 UU No.39 tahun 1999 tentang HAM menyebutkan: (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya. (2) Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi dimana saja ia berada. Kemudian dipertegas dalam Pasal 36 UU HAM : (1) Setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain demi pengembangan dirinya, keluarga, bangsa, dan masyarakat dengan cara yang tidak melanggar hukum. (2) Tidak seorang pun boleh dirampas miliknya dengan sewenangwenang dan secara melawan hukum.

6 Pencabutan hak atas dasar kepentingan umum juga harus mengacu kepada kewajaran sesuai Pasal 37 Ayat (1) UU HAM, "Pencabutan hak milik atas suatu demi kepentingan umum, hanya diperbolehkan dengan mengganti kerugian yang wajar dan segera serta pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan-ketentuan tersebut diatas kemudian dikukuhkan dalam UUD 1945 Amandemen kedua tahun 2000, antara lain dalam: Pasal 28G ayat (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dan ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Pasal 28H Ayat (4), Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun". 1. Ganti rugi dalam perkara Perdata. Dalam hukum perdata, gugatan ganti rugi adalah suatu hal yang biasa dilakukan bila seseorang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum dan menimbulkan kerugian kepada orang lain, dengan konsekuensi harus memberikan ganti rugi dalam bentuk biaya, rugi dan bunga (Pasal 1244, 1345, 1246 Bw. Ganti rugi mulai diatur dalam Pasal 1236 Bw : Siberutang adalah berwajib memberikan ganti biaya, rugi dan bunga kepada siberpiutang bila ia telah membawa dirinya dalam keadaan tidak mampu untuk menyerahkan kebendaannya, atau telah tidak merawatnya sepatutnya guna menyelematkannya. Kemudian dalam Pasal 1243 Bw diperjelas terhadap kewajiban ganti rugi, yaitu : Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.

7 Menurut Mariam Darus Badrulzaman,37 dalam suatu perikatan apabila debitur karena kesalahannya tidak melaksanakan prestasinya, maka dikatakan bahwa debitur itu wanprestasi. Ganti kerugian itu terdiri dari tiga macam, yaitu: 1. Ongkos atau biaya yang telah dikeluarkan, misalnya: ongkos cetak, biaya materai, biaya iklan (sesuai Pasal 1244 Bw); 2. Kerugian sesungguhnya karena kerusakan, kehilangan benda milik kreditur akibat kelalaian debitur, misalnya busuknya buah-buahan karena kelambatan penyerahan, ambruknya rumah karena kesalahan konstruksinya, sehingga merusakkan perabot rumah tangga (sesuai ketentuan Pasal 1245 Bw); 3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan, misalnya bunga yang berjalan selama piutang terlambat diserahkan (dilunasi), keuntungan yang tidak diperoleh karena kelambatan penyerahan bendanya (sesuai ketentuan Pasal 1246 Bw).38 Ganti rugi harus berupa uang, bukan barang, kecuali jika diperjanjikan lain. Dalam ganti rugi itu tidak selalu ketiga unsur itu harus ada, yang ada itu mungkin hanya kerugian nyata, atau mungkin hanya ongkos atau biaya, atau mungkin kerugian nyata ditambah dengan ongkos atau biaya. Tidak semua perbuatan yang mengakibatkan kerugian terhadap orang lain dapat dikenakan ganti rugi, apabila si pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya bahwa dia melakukan perbuatan tersebut dalam keadaan yang memaksa atau suatu perbuatan yang tidak disengaja oleh si pelaku. Artinya pelaku wajib mengganti kerugian yang diderita apabila kerugian tersebut tidak seharusnya terjadi melainkan akibat kelalaian yang dilakukan pelaku sehingga mengakibatkan terjadinya kerugian. Apalagi kerugian tersebut diakibatkan tipu daya dan perbuatan melawan hukum, maka penggantian biaya kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pelaku yang secara langsung mengakibatkan tidak terpenuhinya perikatan. Disini jelas bahwa tuntutan ganti rugi dapat dilakukan apabila pelaku benar bersalah dan lalai atas tanggung jawab yang dipikulnya sehingga mengakibatkan kerugian bagi orang lain.

Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm.18. 38 Ibid., hlm.21

37

8 Menurut Abdulkadir Muhamad, untuk melindungi debitur dari tuntutan sewenang-wenang pihak debitur, Bw memberikan batasan terhadap ganti rugi yang harus dibayar oleh debitur sebagai akibat dari kelalainnya, dan kerugian harus dibayar oleh debitur hanya meliputi: 1. Kerugian yang dapat diduga ketika membuat perikatan, dapat diduga itu tidak hanya mengenai kemungkinan timbulnya kerugian, melainkan juga meliputi besarnya jumlah kerugian. Jika jumlah kerugian melampaui batas dugaan itu tidak boleh dibebankan kepada debitur, kecuali jika debitur ternyata telah melakukan tipu daya; 2. Kerugian sebagai akibat langsung dari wanprestasi debitur, seperti yang ditentukan dalam Pasal 1248 Bw Untuk menentukan syarat akibat langsung dipakai teori adequate, menurut teori ini akibat langsung adalah akibat yang menurut pengalaman manusia normal dapat menduga akan merugikan kreditur. Teori ini diikuti dalam praktek peradilan. 3. Bunga dalam hal terlambat membayar sejumlah hutang (Pasal 1250 (1) Bw), besarnya bunga didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, akan tetapi menurut Yurisprudensi, Pasal 1250 Bw tidak dapat diberlakukan terhadap perikatan yang timbul karena perbuatan melawan hukum.39 Dalam hukum pengangkutan keselamatan dan keutuhan

penumpang dan barang muatan adalah tanggung jawab pengangkut, sehingga apabila terjadi kecelakaan ataupun rusak atau cacat pada barang muatan, maka pengangkut wajib mengganti kerugian. Dalam Bw ditentukan bahwa pengangkut bertanggung jawab terhadap segala kerugian yang timbul akibat kesalahan atau kelalaian pengangkut, sedangkan mengenai kerugian yang timbul akibat : 40 a. Keadaan memaksa (force majeur); b. Cacat pada penumpang atau barang itu sendiri; c. Kesalahan/kelalaian penumpang atau pengirim. Pengangkut dibebaskan dari tanggung jawab membayar ganti kerugian, dan pembatasan atau pembebasan tanggung jawab pengangkut yang ditentukan dalam undang-undang maupun perjanjian disebut eksonerasi.

39 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm.208-209. 40 Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, hlm.36.

9 Dari uraian tersebut di atas, dapat ditarik benang merah adanya tuntutan ganti rugi adalah akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pelaku dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum sehingga akibat perbuatan tersebut orang lain mengalami kerugian. Perbuatan melawan hukum ini diatur dalam Pasal 1365 Bw bahwa Tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Menurut Mariam Darus Badrulzaman Pasal 1365 Bw ini sangat penting artinya karena melalui pasal ini hukum yang tidak tertulis diperhatikan oleh undang-undang.41 Yurisprudensi mengenai ganti rugi dikenal dengan nama Arrest Lindenbaum Cohen (tahun 1919). Sebelum sampai ke Arrest ini, maka terlebih dahulu perlu diketahui syata-syarat apakah yang harus ada untuk menentukan perbuatan melawan hukum itu ada atau tidak. 2. Ganti Rugi Dalam Perkara Pidana. Pada sebagian masyarakat awam tuntutan ganti rugi dalam perkara pidana mungkin merupakan sesuatu yang baru, tetapi ganti rugi dalam perkara pidana merupakan masalah yang sudah lebih satu abad dipersoalkan di berbagai negara. Adalah hak seorang tersangka, terdakwa, dan terpidana untuk menuntut ganti rugi atas penangkapan, penahanan, serta tindakan lain yang tidak sah dan tidak berdasarkan undang-undang. Sebagai salah satu perlindungan hukum terhadap tersangka, terdakwa, dan terpidana yang salah menerapkan hukum kepadanya, maka tersangka, terdakwa, dan terpidana berhak mengajukan

praperadilan. Menurut ketentuan umum Pasal 1 KUHAP : Praperadilan adalah wewenang pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus cara yang diatur dalam undang-undang ini tentang: a. Sah atau tidaknya suatu penangkapan, c/q penahanan atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka;
41

Mariam Darus Badrulzaman, Op.cit, hlm.106.

10 b. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan; c. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang perbuatannya tidak diajukan ke pengadilan. Adapun yang dimaksud dengan penghentian penuntutan tidak termasuk dalam penyampingan perkara untuk kepentingan umum yang menjadi wewenang Jaksa Agung. Permintaan ganti rugi c/q rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan diajukan oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua PN dengan menyebutkan alasannya seperti diatur dalam Pasal 81 KUHAP. Dengan adanya praperadilan kepentingan tersangka atau

terdakwa yang menurut peraturan dahulu tidak ada peraturannya, sekarang terjamin. Ternyata dalam pasal ini permintaan akan

praperadilan itu tidak boleh dilupakan atau diabaikan begitu saja oleh yang berwajib, bahkan permintaan itu harus diperiksa dan diselesaikan dengan segera. Hal itu ternyata dari pasal ini yang menentukan antara lain : a. Dalam waktu 3 hari setelah diterimanya permintaan praperadilan, hakim yang ditunjuk menetapkan hari sidang; dan b. pemeriksaan tersebut dilakukan secara cepat dan paling lambat 7 hari hakim harus sudah menjatuhkan putusannya.42 Demi kepastian hukum, tersangka atau terdakwa sebaiknya mengajukan praperadilan, dan menurut Soesilo : Yang dimaksud dengan kerugian karena dikenakan tindakan lain ialah kerugian yang ditimbulkan oleh pemasukan rumah, penggeledahan, dan penyitaan yang tidak sah menurut hukum, termasuk penahanan tanpa alasan ialah penahanan yang lebih lama daripada pidana yang dijatuhkan.43

42 43

Soesilo, Op.cit., hlm.75. Ibid., hlm.88.

11 Apabila pihak yang dirugikan minta penggabungan perkara gagatannya pada perkara pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 KUHAP, maka PN menimbang tentang kewenangannya untuk mengadili gugatan tersebut, tentang kebenaran dasar gugatan dan tentang hukuman penggantian biaya yang telah dikelurkan oleh pihak yang dirugikan tersebut. Kecuali dalam hal PN menyatakan tidak berwenang mengadili gugatan sebagaimana dimaksud di atas atau gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, putusan hakim hanya memuat tentang penetapan hukuman penggantian biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak yang dirugikan, dan menurut Andi Hamzah : Kemungkinan gugatan pihak ketiga atau korban delik yang dapat digabungkan dengan perkara pidana merupakan inovasi pula dalam KUHAP. Dalam HIR hal itu tidak disebut, dapat disimpulkan bahwa dari Pasal 99 Ayat (3) KUHAP bahwa ganti kerugian kepada pihak ketiga barulah dapat diberikan jika terdakwa dijatuhi pidana atau tindakan tata tertib. Hal ini sejajar dengan Pasal 337 Ayat (2) Ned.Sv. Jadi, kalau terdakwa dibebaskan atau lepas dari segala tuntutan hukum maka tuntutan ganti kerugian yang dijatuhkan kepada terdakwa tidak dapat dikabulkan, hal ini dikemukakan juga oleh van Bemmelen.44 Dengan demikian tuntutan ganti rugi mempunyai kekuatan hukum yang tetap apabilah perkara yang didakwakan kepada terdakwa telah mendapatkan keputusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

3. Sistem Peradilan dan Kewenangan Mengadili a. Kompetensi Absolut Menurut Darwin Prinst, kompetensi absolut adalah

menyangkut kewenangan badan peradilan apa untuk memeriksa perkara apakah wewenang badan peradilan ; umum, militer, agama atau TUN.45 Ini berkaitan dengan siapa yang menjadi pelaku dari tindak pidana itu. Kalau pelakunya berstatus militer menjadi kewenangan peradilan militer untuk memeriksanya,

44 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, CV.Sapta Artha Jaya, Jakarta, 1996, hlm.214. 45 Darwin Prinst, Hukum Anak Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm.13.

12 sementara kalau pelakunya berstatus sipil maka menjadi

kewenangan badan peradilan umum untuk memeriksanaya".46 Jadi dalam proses pengadilan tindak pidana diklasifikasikan siapa pelaku tindak pidana tersebut artinya untuk menentukan

kewenangan mengadili perkaranya. Misalnya seorang anggota oknum TNI-AD melakukan suatu tindak pidana, maka yang berwenang untuk mengadili perkara anggota TNI-AD tersebut adalah pengadilan Militer bukan

pengadilan Umum, sehingga dalam penerapan hukumnya pun menggunakan KUHPM. 2. Kompetensi Relatif. Kompetensi Relatif adalah menyangkut kewenangan

pengadilan sejenis mana untuk memeriksa dan memutus suatu perkara. Dalam mengadili seorang pelaku tindak pidana maka ditentukan dimana pelaku tindak pidana tersebut melakukan tindak pidana atau disebut Tempat Kejadian Perkara (TKP). TKP dalam hukum pidana mempunyai peranan yang sangat penting karena menentukan pengadilan mana yang berwenang mengadili perkara yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana. Untuk menentukan kompetensi relatif pengadilan negeri mana untuk memeriksa perkara itu, hendaklah memperhatikan tempat dimana pidana tersebut dilakukan (locus delicti), sesuai Pasal 2 KUHP, locus delicti dapat ditentukan sebagai berikut : 47 a. Leer van de lichamilijke daat. Teori ini disebut juga teori perbuatan material, yang mengatakan locus delicti adalah tempat dimana pelaku melakukan tindak pidana itu; b. Leer van instrument adalah teori alat yang dipergunakan, yang mengatakan bahwa delik dilakukan di tempat dimana alat yang dipergunakan itu menyelesaikannya, atau dengan kata lain locus delicti adalah tempat dimana alat yang dipergunakan mengakibatkan tindak pidana; c. Leer van gevolg. adalah teori alat, yang mengatakan locus delicti adalah tempat dimana akibat dari perbuatan itu terjadi.

46 47

Ibid. Ibid., hlm.14.

13 Ajaran tempat atau lokasi tindak pidana dan waktu tindak pidana ini tidak ada ketentuannya dalam KUHP. Akan tetapi ajaran ini sangat penting, hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 121 KUHAP bahwa penyidik dalam membuat berita acara diantaranya harus menyebutkan waktu, tempat dan keadaan pada waktu tindak pidana dilakukan, dan Pasal 143 (2) b KUHAP bahwa Penuntut umum dalam membuat surat dakwaan diantaranya

harus menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan, hal ini menunjukkan betapa pentingnya ajaran locus delicti.

C. Penutup Tuntutan ganti rugi dalam perkara pidana dapat penulis simpulkan bahwa : 1. Kendala utama dari pelaksanaan tuntutan ganti rugi dalam perkara pidana sulit dilakukan karena banyak masyarakat belum mengerti dan tahu tentang cara tersebut, tidak mengerti apa yang harus dilakukan bila dirinya menjadi korban tindak pidana dimana telah dirugikan secara materil, karena mereka tidak mengetahui tata cara untuk melakukan penuntutan ganti rugi dalam perkara pidana. 2. KUHAP sebagai hukum acara pidana dalam proses pemeriksaan di pengadilan tidak memberikan penjelasan secara tegas tentang tuntutan ganti rugi dalam perkara pidana. 3. Hakim bersifat pasif dan menunggu adanya permohonan tuntutan ganti rugi oleh korban tindak pidana, dan hakim tidak dapat memutus suatu perkara melebihi tuntutan yang diajukan kepadanya, namun demikian hakim dapat bertindak secara leluasa atau melebihi tuntutan dan dakwaan Jaksa Penuntut Umum berdasarkan keyakinannya atas apa yang ia lihat dan ia dengar dalam proses di persidangan. Selain itu masih minimnya pasal-pasal dalam KUHAP yang mengatur

tentang tuntutan ganti rugi dalam perkara pidana sebagai sarana perlindungan terhadap korban tindak pidana, sehingga perlu

dilakukan revisi secepat mungkin.

14 DAFTAR PUSTAKA 1. Buku : Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, CV.Sapta Artha Jaya, Jakarta, 1993. Abdulkadir Muhammad, Hukum Pengangkutan Niaga, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989. -------, Hukum Perdata Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, PT.Balai Pustaka, Jakarta, 1989. Darwin Prinst, Hukum Anak Indonesia, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997. Koentjoroningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, PT.Gramedia, Jakarta, 1979. K. Wanjik Saleh, Hukum Pidana Indonesia, PT.Ikhtiar Bary, Jakarta. 1978. Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001. Moelyatno, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1987. Purwahid Patrik, Dasar-dasar Hukum Perikatan, CV.Mandar Maju, Bandung, 1994. Setiawan, Pokok-pokok Hukum Perikatan, Putra A.Badrin, Bandung, 1999. Soebekti, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 2002. Soedarto, Hukum Dan Hukum Pidana, PT.Alumni, Bandung, 1977 Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, Politea, Bogor, 1988. Sofyan Sastrawidjaja, Hukum Pidana I, Armico, Bandung, 1995. Sunaryati Hartono C.F.G., Hukum Ekonomi Pembangunan Indonesia, PT.Binacipta, Bandung, 1989. Sugandhi, Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Penjelasannya, Usaha Nasional, Surabaya, 1980. Wirjono Prodjodikoro, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, PT.Eresco, Bandung, 1986. Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, PT.Eresco, Bandung, 1989. 2. Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah diamandemen sampai dengan ke-4 tahun 2002; Staatblad Nomor 44 Tahun 1941 Tentang Herziene Indlandsch Reglement (H.I.R); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Hukum Pidana; --------, Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana; --------, Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia; --------, Nomor 35 Tahun 1999 Tentang Kekuasaan Kehakiman.