Anda di halaman 1dari 38

Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)

Pembimbing: Meti Indrowati, S.Si., M.Si.

Tujuan
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dan guna mengembangkan kemampuan dibidang akademis mata kuliah Biologi Umum

Disusun Oleh FKIP Pend. Fisika Kelas A:

Azhar Umam
K2313012

Mukhamad Saifudin
K2313046

Dwi Widiani Astuti


K2313018

Ria Dwi Utami


K2313060

Fadiah Azmi Rahmasari


K2313022

Rintis Agun Purwajati


K2313062

Lanti Hida Rahmawati


K2313038

Roniati
K2313064

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret


Surakarta 2013

Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat luar biasa sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan tugas mata kuliah Biologi Umum. Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Meti Indrowati, S.Si., M.Si. selaku dosen mata kuliah Biologi Umum yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok II yang telah bekerja sama dalam penyusunan makalah ini. Makalah kami berjudul Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas) yang membahas tentang kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Dalam makalah ini kami menjelaskan konsep keanekaragaman dan keseragaman, tingkat, keanekaragaman hayati, keanekaragaman hayati di indonesia, kegiatan manusia yang memengaruhi biodiversitas dan upaya-upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kegiatan pembelajaran ke depan. Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak, masih bayak kekurangan dalam makalah kami. Oleh karena itu kami mengharapkan evaluasi dari Ibu Dosen.

Terima kasih, Wassalamualaikum Wr.Wb.

Surakarta, September 2013

Daftar Isi

i. ii. iii.

Cover ..1 Kata Pengantar ...................................2 Daftar isi .3 a. Latar belakang ...4 b. Rumusan Masalah .4 c. Tujuan ...4 d. Manfaat .5

A. Bab I : Pembukaan

B. Bab II : Isi a. Konsep Keanekaragaman Hayati ..6 b. Tinggkat Keanekaragaman Hayati i. Tingkat Keanekaragaman Gen 8 ii. Tingkat Keanekaragaman Spesies .12 iii. Tingkat Keanekaragaman Ekosistem 1. Komponen-komponen Pembentuk Ekosistem ..13 2. Satuan-satuan Ekosistem ..15 3. Hubungan Ketergantungan Antar Ekosistem ...15 4. Macam Macam Ekosistem .18 c. Keanekaragaman Hayati di Indonesia i. Keanekaragaman Tumbuhan di Indonesia .24 ii. Keanekaragaman Hewan di Indonesia ...27 d. Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati ...30 e. Manfaat dan Nilai Keanekaragaman Hayati ...35 C. Bab II : Penutup Kesimpulan ..37 Daftar Pustaka ...38

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, danmikroorganisme serta ekosistem dan prosesproses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya.Keanekaragaman hayati dapat pula diartikan sebagai keanekaragaman makhluk hidup di berbagai kawasan di muka bumi, baik di daratan, lautan, maupun tempat lainnya. Dapat juga dapat diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis. Pentingkah keanekaragaman hayati untuk kita pelajari? Tentu saja. Bukan sekadar untuk mengetahui bahwa spesies di muka bumi ini banyak ragamnya. Lebih penting lagi kita memahami peranan setiap spesies bagi kelangsungan kehidupan bumi itu sendiri, dan bagi kelangsungan makhluk lainnya. Kita dapat merasakan manfaat langsung keanekaragaman hayati melalui perbandingan lingkungan yang baik dan lingkungan yang rusak. Sebagai warga Indonesia, kita harus memiliki kepedulian tersendiri terhadap keanekaragaman hayati karena negeri kita dijuluki gudang botani dunia dan negara megabiodiversity. Namun, perhatian kita terhadap kekayaan ini sangat kurang sehingga banyak jenis makhluk hidup mengalami kepunahan, menjadi langka, atau diakui secara hak paten atas temuan spesies baru oleh orang-orang asing. Padahal, apabila bangsa Indonesia terus mengeksplorasi kandungan flora, fauna, dan mikroorganisme yang ada, masih banyak kesempatan mengidentifikasi dan membuat hak paten hasil temuan atas nama sendiri. Masih sekitar 90% keanekaragaman hayati di Indonesia belum teridentifikasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dan arti keanekaragaman hayati? 2. Bagaimana tingkat tingkat keanekaragaman hayati? 3. Bagaimana keanekaragaman hayati di Indonesia? 4. Manfaat dan nilai apa yang terkandung dalam keanekaragaman hayati? 5. Bagaimana melestarikan keanekaragaman hayati?

C. Tujuan
1. Merumuskan arti keanekaragaman hayati 2. Membandingkan ciri keanekaragaman hayati pada tingkat gen, jenis dan ekosistem 3. Menelaah keanekaragaman hayati Indonesia 4. Mengurai berbagai kejadian, manfaaat dan nilai dalam keanekaragaman hayati

5. Mengidentifikasi usaha pelestarian keanekaragaman hayati

D. Manfaat
1. Memahami arti, konsep, dan materi keanekaragaman hayati 2. Kita dapat mengetahui macam-macam organisme dan tingkat-tingkat keanekaragaman hayati, khususnya di Indonesia 3. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya keanekaragaman hayati dalam menunjuang kehidupan manusia 4. Meningkatkan potensi keanekaragaman hayati yang bermanfaat bagi kehidupan manusia 5. Meningkatkan usaha pelestarian keanekaragaman hayati

BAB II ISI
A. Konsep Keanekaragaman Hayati
Pengertian Sumber Daya Alam Hayati (Biodiversitas) 1. Pengertian Biodiversitas (dari Society of American Foresters): Biodiversitas mengacu pada macam dan kelimpahan spesies, komposisi genetiknya, dan komunitas, ekosistem dan bentang alam di mana mereka berada. Definisi yang lain menyatakan bahwa biodiversitas sebagai diversitas kehidupan dalam semua bentuknya, dan pada semua level organisasi. Dalam semua bentuknya menyatakan bahwa biodiversitas mencakup tumbuhan, binatang, jamur, bakteri dam mikroorganisme yang lain. Semua level organisasi menunjukkan bahwa biodiversitas mengacu pada diversitas gen, spesies dan ekosistem 2. Menurut adif , Biodiversitas juga mengacu pada macam struktur ekologi, fungsi atau proses pada semua level di atas. Biodiversitas terjadi pada skala spasial yang mulai dari tingkat lokal ke regional dan global. Biodiversitas dapat pula dikelompokkan ke dalam: diversitas komposisional, struktural dan fungsi 3. Biodiversitas komposisional mencakup apa yang dikenal dengan diversitas spesies termasuk diversitas genetik dan ekosistem. Menjaga diversitas genetik sangat penting bagi eksistensi diversitas spesies, sedangkan menjaga diversitas ekosistem penting untuk menyediakan habitat yang diperlukan untuk mengonservasi berbagai spesies. 4. Biodiversitas struktural berkaitan dengan susunan spasial unit-unit fisik. Pada level tegakan, diversitas struktural dapat dikarakterisasi dengan jumlah strata dalam hutan, misalnya kanopi tumbuhan utama, subkanopi, semak, tumbuhan herba. Pada level bentang alam, diversitas struktural dapat diukur dengan distribusi kelas-kelas umur pada suatu hutan atau susunan spasial dari ekosistem yang berbeda. 5. Biodiversitas fungsional merupakan variasi dalam proses-proses ekologi, seperti pendauran unsur hara atau aliran energi. Ini merupakan komponen yang paling sulit untuk diukur dan dipahami. 6. Ahli ekologi membedakan biodiversitas pada skala spasial pada tiga kategori: alpha, beta dan gamma . Diversitas alpha adalah diversitas di dalam suatu habitat. Diversitas beta merupakan diversitas di antara habitat, sedangkan diversitas gamma merupakan diversitas di antara geografi (diversitas skala geografi). 7. Sedangkan dalam Wikipedia, Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (Bahasa Inggris: biodiversity) adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana

bentuk kehidupan ini

merupakan

bagiannya.

Dapat juga

diartikan

sebagai

kondisi

keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis.

Dengan demikian dari berbagai pengertian diatas dapat kita simpulkan pengertian biodiversitas atau yang kita kenal dengan keanekaragaman hayati terbagi menjadi dua kata keanekaragaman dan hayati, keanekaragaman adalah semua kumpulan benda yang bermacam-macam, baik ukuran, warna, bentuk, tekstur dan sebagainya. Hayati yaitu menunjukkan sesuatu yang hidup. Jadi keanekaragaman hayati menggambarkan bermacam-macam makhluk hidup (organisme) penghuni biosfer.

Keanekaragaman atau keberagaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-sifat lainnya. Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang menunjukkan keseluruhan variasi gen, spesies dan ekosistem di suatu daerah. Ada dua faktor penyebab keanekaragaman hayati, yaitu faktor genetik (biotik) dan faktor luar (abiotik). Faktor genetik bersifat relatif konstan atau stabil pengaruhnya terhadap morfologi organisme. Sebaliknya, faktor luar relatif stabil pengaruhnya terhadap morfologi organisme. Lingkungan atau faktor eksternal seperti makanan, suhu, cahaya matahari, kelembaban, curah hujan dan faktor lainnya bersama-sama faktor menurun yang diwariskan dari kedua induknya sangat berpengaruh terhadap fenotip suatu individu. Dengan demikian fenotip suatu individu merupakan hasil interaksi antara genotip dengan lingkungannya Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem.

B. Tingkat Keanekaragaman Hayati


Dari sekian banyak organisme yang menghuni bumi, tidak ada sepasang pun yang benar-benar sama untuk segala hal. Kenyataan tersebut menunjukkan kepada kita, bahwa di alam raya dijumpai keanekaragaman makhluk hidup atau disebut juga keanekaragaman hayati. Keseluruhan gen, jenis dan ekosistem merupakan dasar kehidupan di bumi. Mengingat pentingnya keanekaragaman hayati bagi kehidupan maka keanekaragaman hayati perlu dipelajari dan dilestarikan. Tingginya tingkat keanekaragaman hayati di permukaan bumi mendorong ilmuwan mencari cara terbaik untuk mempelajarinya, yaitu dengan klasifikasi. Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik tingkatan gen, tingkatan spesies maupun tingkatan ekosistem. Berdasarkan hal tersebut, para pakar membedakan keanekaragaman hayati menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis dan keanekaragaman ekosistem.

1. Tingkat Keanekaragaman Gen


Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis. keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis. Semua makhluk hidup dalam satu spesies/jenis memiliki perangkat dasar penyusun gen yang sama. Gen merupakan bagian kromosom yang mengendalikan ciri atau sifat suatu organisme yang bersifat diturunkan dari induk/orang tua kepada keturunannya. Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies. Untuk mendapatkan uraian tentang keanekaragaman hayati tingkat gen yang lebih jelas, perhatikan

a. Ketinggian tanaman

Gambar 1. Ketinggian tanaman: (a) Kerdil, (b) Normal (Sumber: Dokumentasi penelitian)

b. Ketegakan daun
Gambar 2. Ketegakan daun: (a) tegak, (b) menengah (intermediate), dan (c) melengkung kebawah (Sumber: Dokumentasi penelitian)

c. Warna batang semu


Gambar 3. Warna batang semu: (a) kuning, (b) kuning kehijauan, (c) merah kehijauan, (d) merah, (e) merah muda keunguan (Sumber: Dokumentasi penelitian)

d. Warna tepi tangkai daun


Gambar 4. Warna tepi tangkai daun: (a) hijau, (b) merah muda keunguan. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

e. Bercak pada batang semu


Gambar 5. Bercak pada batang semu: (a) merah, (b) keunguan, (c) coklat (Sumber: Dokumentasi penelitian)

f. Keadaan tepi tangkai daun


Gambar 6. Keadaan tepi tangkai daun: (a) bersayap dan menjepit batang, (b) bersayap dan tidak menjepit batang, (c) bersayap dan bergelombang. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

g. Bentuk pangkal daun


Gambar 7. Bentuk pangkal daun: (a) membulat keduanya, (b) salah satu sisi membulat, dan (c) bentuk pangkal daun yang meruncing keduanya. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

h. Tipe kanal (potongan melintang tangkai daun ketiga)


Gambar 8. Tipe kanal: (a) terbuka dengan tepi yang melebar kesamping, (b) terbuka dengan tepi yang melebar dan tegak, dan (c) lurus dengan tepi tegak. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

i. Bercak pada pangkal tangkai daun


Gambar 9. Bercak pada pangkal tangkai daun: (a) bercak kecil, (b) bercak besar, dan (c) tanpa bercak. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

j. Warna bercak tangkai daun


Gambar 10. Warna bercak tangkai daun: (a) coklat, (b) coklat tua, dan (c)coklat kehitaman (Sumber: Dokumentasi penelitian)

10

k. Warna helaian daun bagian permukaan atas dan bawah

1. Warna daun permukaan atas


Gambar 11.1. Warna daun permukaan atas: (a) hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan (c) hijau.

2. Warna daun permukaan bawah


Gambar 11.2. Warna daun permukaan bawah: (a) hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan (c) merah keunguan. (Sumber: Dokumentasi penelitian)

Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis. Gen merupakan bagian kromosom yang mengendalikan ciri atau sifat suatu organisme yang bersifat diturunkan dari induk/orang tua kepada keturunannya. Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies. Ternyata persilangan antara dua individu makhluk hidup sejenis merupakan salah satu penyebabnya. Keturunan dari hasil persilangan memiliki susunan perangkat gen yang berasal dari kedua induk/orang tuanya. Kombinasi susunan perangkat gen dari dua induk tersebut akan menyebabkan keanekaragaman individu dalam satu spesies berupa varietas-varietas yang terjadi secara alami atau secara buatan. Keanekaragaman yang terjadi secara alami adalah akibat adaptasi atau penyesuaian diri setiap individu dengan lingkungan. Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi sifat yang tampak (fenotip) suatu individu di samping ditentukan oleh faktor genetiknya (genotip). Yang membuat variasi dari keanekaragaman gen tersebut adalah:

Rumus :

F=G+L

F = fenotip G = genotip L = lingkungan

11

Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi. Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies.

2. Tingkat Keanekaragaman Spesies


Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada keanekaragaman gen. Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba. Untuk mengetahui keanekaragaman hayati tingkat jenis pada tumbuhan atau hewan, anda dapat mengamati, antara lain ciri-ciri fisiknya. Misalnya bentuk dan ukuran tubuh,warna, kebiasaan hidup dan lain-lain. Walaupun hewan-hewan tersebut termasuk dalam satu familia/suku Felidae, tetapi diantara mereka terdapat perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok. Misalnya, perbedaan warna bulu, tipe lorengnya, ukuran tubuh, tingkah laku, serta lingkungan hidupnya.

Cobalah Anda perhatikan perbedaan sifat dari hewan berikut ini:

No. Ciri-ciri 1. Ukuran tubuh 2.

Kucing Kecil

Harimau Besar

Singa Besar

Citah Sedang

Warna bulu Hitam, putih, kuning

Hitam, putih, kuning Hutan

Hitam, putih, kuning Hutan

Hitam/ putih Pohon

3.

Tempat hidup

Hutan, rumah

Demikian pula pada kelompok tumbuhan yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah akan memperlihatkan perbedaan-perbedaan sifat pada tinggi batang, daun dan bunga. Contohnya kelapa, aren, pinang, dan lontar, seperti tampak pada tabel pengamatan berikut ini.

12

No Ciri-ciri Kelapa 1. Tinggi Batang 2. Daun >30m

Aren 25m

Pinang 25

Lontar 15-30m

-Panjang tangkai daun -Panjang 75-150cm -Helaian daun 5m, ujungruncing dan keras tangkai daun 150cm

Tangkai daun pendek

-Panjang tangkai daun 100cm -Helaian daun bulat, tepi daun bercangap menjari

3. Bunga

Tongkol

Tongkol

Tongkol

Bulir

Gambar 2. Keanekaragaman pada suku Palmae

Dari contoh-contoh di atas, Anda dapat mengetahui ada perbedaan atau variasi sifat pada kucing, harimau, singa dan citah yang termasuk dalam familia/suku Felidae. Variasi pada suku Felidae ini menunjukkan keanekaragaman pada tingkat jenis. Hal yang sama terdapat juga pada tanaman kelapa, aren, pinang, dan lontar yang termasuk suku Palmae atau Arecaceae.

3. Tingkat Keanekaragaman Ekosistem


Komponen-komponen pembentuk ekosistem :
1. Abiotik Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa organik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu: a. Suhu. Proses biologi dipengaruhi oleh suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya. b. Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun. c. Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organism melalui osmosis. Beberapa organisme terrestrial beradaptasi dengan lingkungan yang mempunyai kandungan garam tinggi. d. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di senitar permukaan yang

13

terjangkau sinar matahari. Di gurun, intensitas cahaya matahari yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan. e. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah. f. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam satu area. Iklim makro meliputi iklim global, regional, dan local. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

2. Biotik Faktor biotik merupakan bagian hidup dari lingkungan, termasuk semua organism yang dapat berinteraksi satu sama lain. Contoh faktor biotik adalah tumbuhan sebagai produsen, hewan sebagai konsumen, dan mikroba sebagai pengurai. a. Produsen (autotrof), yang berarti penghasil. Dalam hal ini, produsen berarti organisme yang mampu menghasilkan zat makanan sendiri. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah tumbuhan hijau atau tumbuhan yang mempunyai klorofil. Di dalam ekosistem perairan, komponen biotik yang berfungsi sebagai produsen adalah berbagai jenis alga dan fitoplankton. Organism yang dapat membuat makanannya sendiri dengan bantuan sinar matahari disebut fotoautotrof dan dengan bantuan bahan kimia disebut kemoautotrof. b. Konsumen (heterotrof), yang berarti pemakai, yaitu organisme yang tidak dapat menghasilkan zat makanan sendiri tetapi menggunakan zat makanan yang dibuat oleh organisme lain. Organisme yang secara langsung mengambil zat makanan dari tumbuhan hijau adalah herbivora. Oleh karena itu, herbivora sering disebut konsumen tingkat pertama. Karnivora yang mendapatkan makanan dengan memangsa herbivora disebut konsumen tingkat kedua. Karnivora yang memangsa konsumen tingkat kedua disebut konsumen tingkatketiga dan seterusnya. c. Dekomposer atau Pengurai. Dekomposer adalah komponen biotik yang berperan menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme yang telah mati ataupun hasil pembuangan sisa pencernaan. Dengan adanya organisme pengurai, unsur hara dalam tanah yang telah diserap oleh tumbuhan akan diganti kembali, yaitu berasal dari hasil penguraian organisme pengurai. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu :

14

1. Aerobik

: oksigen adalah penerima elektron / oksidan

2. Anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan 3. Fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima e-. Komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan air sebagai komponen

autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.

Satuan-Satuan Ekosistem

Individu adalah makhluk hidup tunggal. Populasi adalah makhluk hidup yang sejenis yang mendiami tempat tertentu. Kepadatan adalah hubungan antara jumlah individu dan ruang yang di tempati. Kepadatan populasi adalah jumlah individu makhluk hidup sejenis persatuan luas tempat yang dihuni pada waktu tertentu. Adanya individu yang datang, yaitu karena ada kelahiran (natalitas) dan imigrasi. Adanya individu yang pergi, yaitu karena adanya kematian (mortalitas) dan emigrasi. Tempat hidup makhluk hidup itu disebut dengan habitat. Komunitas adalah kumpulan populasi-populasi yang berbeda dan hidup bersama pada tempat tertentu. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya disebut EKOLOGI. Terdapat 2 macam ekosistem yaitu : 1. Ekosistem buatan, yang disengaja dibuat oleh manusia. 2. Ekosistem alami,k dibuat oleh manusia tetapi sudah ada di alam. Ekosistem yang terbesar di bumi disebut biosfer yang terdiri dari keseluruhan yang ada di permukaan bumi.

Hubungan ketergantungan antar komponen ekosistem

Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik. 1. Antar komponen biotik a. Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dalam rantai makanan disebut tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan adalah

15

tumbuhan, maka tingkat trofi pertama selalu diduduki oleh tumbuhan hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan karnivora. Setiap

pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya, sebagian energi akan hilang. b. Jaring-jaring makanan, yaitu rantairantai makanan satu yang sama saling lain

berhubungan

sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jaring-jaring. Jaring-jaring

makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu jenis makhluk hidup lainnya. c. Piramida makanan, Merupakan gambaran

perbandingan antara produsen, konsumen I, konsumen II, dan seterusnya. Semakin ke puncak bio masanya semakin kecil. d. Arus energy, Merupakan perpindahan energi dari tempat yang tingi ke tempat yang rendah, yaitu dari sinar matahari lalu produsen ke konsumen tingkat I, ke konsumen tingkat II sampai pengurai, sedangkan mineral membentuk siklus. Energi yang dilepas sangat kecil karena setiap organisme membutuhkan energi dalam memenuhi kebutuhannya. e. Siklus energy, Merupakan perpindahan zat dari tempat satu ke tempat lain. Akhirnya akan kembali ke tempat itu berasal.

Keseimbangan ekosistem dapat terjalin bila ada hubungan timbal balik di antara

komponen-komponen ekosistem.

16

2. Antar komponen biotik dan abiotik Komponen abiotik dapat mempengaruhi komponen biotik. Begitu juga komponen biotik dapat mempengaruhi komponen abiotik dalam ekosistem. Berikut beberapa contoh pengaruh komponen abiotik terhadap komponen biotik: Pengaruh air terhadap makhluk hidup: air sangat berguna bagi makhluk hidup, sebagai contoh perhatikan tanaman padi yang tumbuh di sawah. Akar padi menembus ke dalam tanah untuk menyerap air dan zat-zat hara. Bila tanah mengandung cukup air, maka padi akan tumbuh subur, sebaliknya bila kekurangan air maka padi tidak akan tumbuh dengan baik. Pengaruh udara terhadap makhluk hidup: udara juga berguna bagi hewan maupun tumbuhan. Udara mengandung antara lain: oksigen dan karbon dioksida. Oksigen berguna untuk pernafasan baik manusia maupun hewan. Pengaruh tanaman terhadap tanah dan udara: adanya penanaman pohon yang dapat hidup di tanah yang kurang subur, maka kondisi tanah tersebut dapat diperbaiki. Pohon-pohon berpengaruh dengan cara mengubah struktur tanah dan mengurangi erosi. Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi. Tubuh manusia maupun hewan tersusun atas materi. Materi terdiri dari unsur-unsur kimia seperti karbon (C), oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N). Meteri tersebut akan beredar dari lingkungan masuk ke tubuh organisme dan kembali lagi ke lingkungan membentuk siklus materi. Berikut beberapa gambaran jalannya unsur yang dibutuhkan makhluk hidup:

17

Macam macam ekosistem :

i.

Ekosistem air a. Ekosistem Air Tawar. Ciri-ciri ekosistem air tawar : 1. variasi suhu tidak mencolok, 2. penetrasi cahaya kurangdan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.

Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenisganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi. Flora ekosistem air tawar: Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau). Fauna ekosistem air tawar: Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya: protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mamalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang ke air bila mencari makanan saja. Hewan yang selalu hidup di air mempunyai cara beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam rendah. Pada ikan dimana kadar garam protoplasmanya lebih tinggi daripada air, mempunyai cara beradaptasi sebagai berikut: Sedikit minum, sebab air masuk ke dalam tubah secara terus-menerus melalui proses osmosis.

Garam dari dalam air diabsorbsi melalui insang secara aktif. Air diekskresikan melalui ginjal secara berlebihan, juga diekskresikan b. Ekosistem Air Laut

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daratan termoklin.

18

c. Ekosistem Estuari Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. d. Ekosistem Pantai. Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal. e. Ekosistem sungai. Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit slumba-lumba. edimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan biawak f. Ekosistem terumbu karang.

Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat tinggi. Hewanhewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki pasir putih.

19

g. Ekosistem Laut Dalam. Kedalamannya lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu. h. Ekosistem Lamun. Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di

lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara. Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ii. Ekosistem darat a. Bioma Gurun Bioma yang terletak dibelahan bumi sekitar 20-30 lintang utara dan lintang selatan atau di daerah tropika yang berbatasan dengan bioma padang rumput. Ciri-ciri bioma gurun antara lain sebagai berikut : 1. Curah hujan rendah, yaitu 25 cm per tahun. 2. Pancaran matahari sangat terik, penguapan tinggi, dan suhu siang hari dapat mencapai 40C pada musim panas. 3. Perbedaan suhu siang dan malam hari sangat besar. 4. Vegetasi di daerah gurun di dominasi oleh tanaman kaktus, sukulen, dan berbagai belukar akasia yang berduri. 5. Hewan yang menghuni daerah gurun.

Umumnya adalah serangga, hewan pengerat, ular dan kadal. Contoh bioma gurun adalah Gurun Sahara di Afrika, Gurun Gobi di Asia, Gurun Anzo Borrega di Amerika.

20

b. Bioma Padang Rumput Bioma padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke sub tropika. Ciri-ciri bioma padang rumput antara lain sebagai berikut: 1. Curah hujan 25 - 50 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. 2. Vegetasi yang mendominasi adalah rerumputan. Rumput yang hidup di bioma padang rumput yang relatif basah. Ukurannya bisa mencapai tiga meter, misalnya rumput Bluestem dan Indian Grasses. Rumput yang tumbuh di bioma padang rumput kering, ukurannya pendek-pendek, misalnya rumput Grana dan Buffalo Grasses. 3. Hewannya adalah bison, Zebra, kanguru, singa, harimau, anjing liar, ular, rodentia, belalang dan burung. Contoh bioma padang rumput antara lain Amerika Utara, Rusia, Afrika Selatan, Asia dan Indonesia (Sumbawa). c. Bioma Hutan Gugur Pada umumnya terdapat di sekitar wilayah subtropik yang mengalami pergantian musim panas dan dingin. Hutan gugur juga terdapat diberbagai pegunungan di daerah tropis. Ciri-ciri bioma hutan gugur adalah sebagai berikut: 1. Curah hujan sedang, yaitu 75 -150 cm per tahun. 2. Mengalami 4 musim, yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. 3. Tumbuhannya mempunyai menggugurkan daunnya pada musim gugur. 4. Vegetasinya adalah pohon Maple, Oak, Beech, dan Elm. 5. Hewan yang menghuni pada umumnya adalah Rusa, Beruang, Raccon, Rubah,Bajing, dan Burung Pelatuk. Contoh bioma hutan gugur adalah Kanada, Amerika, Eropa dan Asia. d. Hutan Hujan Tropis Bioma ini terdapat di wilayah khatulistiwa dengan temperatur yang tinggi sekitar 25C. Ciri-ciri hutan hujan tropis antara lain sebagai berikut: 1. Curah hujan bioma hutan hujan tropis cukup tinggi, yatu sekitar 200-225 cm per tahun. 2. Tumbuhannya tinggi dan rimbun membentuk tudung yang menyebabkan dasar hutan menjadi gelap dan basah. 3. Tumbuhan khas, ialah liana dan epifit. Contoh liana adalah rotan sedangkan epifit adalah anggrek. 4. Vegetasinya didominasi oleh tumbuhan yang aktif melakukan fotosintesis, misalnya jati, meranti, konifer, dan keruing. 5. Hewannya didominasi oleh aneka kera, babi hutan, burung, kucing hutan, bajing dan harimau. Contoh bioma hutan hujan tropisnya adalah hutan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua, dan Brasil.

21

e. Bioma Taiga Bioma ini terdapat di wilayah utara hutan gugur subtropis dan pegunungan tropis. Ciri-ciri bioma taiga adalah sebagai berikut: 1. Curah hujan sekitar 35 cm per tahun. 2. Bioma yang biasanya hanya terdiri dari satu spesies pohon, yaitu konifer (pinus). 3. Masa pertumbuhan flora pada musim panas antara 3 sampai 6 bulan. 4. Suhu di musim dingin sangat rendah, dan mengalami musim dingin yang panjang. 5. Vegetasinya Sprice (Picca), Alder (Alaus), Birch (Berula) dan Junipce (Juniperus). 6. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, serigala dan morten. Contoh bioma taiga terdapat di Amerika Utara dan dataran tinggi diberbagai wilayah. f. Bioma Tundra

Bioma ini terdapat di belahan bumi utara di dalam lingkaran kutub utara yang disebutTundra artik dan di puncak gunung disebut Tundra alpin. Ciri-ciri bioma tundra adalah sebagai berikut : 1. Curah hujan sekitar 10 cm per tahun. 2. Iklimnya iklim kutub dengan musim dingin yang panjang dan gelap serta musim panas yang panjang dan terang terus menerus. 3. Tidak ada pohon yang tinggi, kalaupun ada terlihat tebal seperti semak. 4. Tumbuhan semusim biasanya berbunga

dengan warna yang mencolok dalam masa pertumbuhan yang pendek. 5. Vegetasinya Spaghnum, lumut kerak, dan perdu. 6. Hewannya Muskox, rusa kutub, kelinci, serigala, rusa dan domba. g. Bioma Karst Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.

22

Ciri-ciri daerah karst antara lain: 1. Daerahnya berupa cekungan-cekungan. 2. Terdapat bukit-bukit kecil. 3. Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah. 4. Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah. 5. Adanya endapan sedimen lempung berwama merah hasil dari pelapukan batu gamping. 6. Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing. Contoh bioma Karst terdapat di daerah Gunung Kidul. iii. Ekosistem Buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah: Bendungan. Bendungan adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus. Agroekosistem berupa sawah tadah hujan. Sawah irigasi. Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Perkebunan sawit. Ekosistem pemukiman seperti kota dan desa. Ekosistem ruang angkasa.

C. Keanekaragaman Hayati di Indonesia


Keanekaragaman hayati di Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi daripada di Amerika dan di Afrika yang sama-sama beriklim tropis, apalagi jika dibandingkan dengan negara yang beriklim sedang dan dingin. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga dengan kekayaan atau keanekaragaman hayati kita karena banyak hewan dan tumbuhan yang ada di negara kita, tetapi tidak ada di negara-negara lain. Di Indonesia dikenal ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem dapat didefinisikan sebagai suatu sistem hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Sebagai benda nyata, ekosistem dapat diterapkan pada berbagai derajat organisasi makhluk dan lingkungan mulai dari jamur, kolam kecil, padang rumput, hutan, sampai planet bumi secara keseluruhan. Demikian pula iklim regional yang berhubungan tmbal balik dengan substrat dan biota regional membentuk unit-unit komunitas yang luas dan mudah dikenal yang disebut

23

bioma . Bioma dapat diartikan sebagai sebuah ekosistem yang merupakan unit komunitas terbesar yang mudah dikenal dan terdiri dari vegetasi dan hewan. Di Indonesia dapat dikenal beberapa bioma, yaitu (a) hutan hujan, (b) hutan musim, (c) savana, dan (d) padang rumput. (Lihat Tabel) a.

Keanekaragaman Tumbuhan di Indonesia

Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia diperkirakan berjumlah sebanyak 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Lumut dan ganggang diperkirakan jumlahnya 35.000 jenis. Tidak kurang dari 40% dari jenis-jenis ini merupakan jenis yang endemik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia dan tidak terdapat di tempat lain di dunia. Kekayaan hayati ini harus kita jaga dan kita pelihara dengan baik. Dari semua suku tumbuhan yang ada, suku anggrek ( Orchidaceae ) adalah suku yang terbesar dan ditaksir terdapat sekitar 3.000 jenis. Banyak di antara jenis-jenis tumbuhan tersebut mempunyai nilai ekonomi tinggi, antara lain, meranti-merantian ( Dipterocarpaceae n), kacang- kacangan ( leguminosae) , dan jambu-jambuan ( Myrtaceae n).

Tabel. Satuan-Satuan Bioma di Indonesia

24

25

Dari sekian banyak jenis tumbuhan tersebut, sebagian besar terdapat di kawasan hutan tropika basah, terutama hutan primer, yang menutup sebagian besar daratan (63%) bumi Indonesia. Hutan ini merupakan struktur yang kompleks yang menciptakan lingkungan yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dalam hutan tropika basah. Penyebaran geografi tumbuhan di Kepulauan Indonesia secara keseluruhan ditentukan oleh faktor geologi, yaitu adanya Paparan Sunda di bagian barat dan Paparan Sahul di bagian timur yang berbeda sehingga dapat ditarik garis pemisah di antaranya. Dalam tiap-tiap paparan, keadaan flora mempunyai banyak persamaan, misalnya, persamaan flora antara Kalimantan dan Sumatra dapat mencapai 90%. Selanjutnya, variasi flora dalam tiap-tiap paparan ditentukan oleh faktor lingkungan setempat dalam hal ini tercerminkan oleh berbagai tipe vegetasi yang terdapat di paparan tersebut. Selain berbagai macam jenis tumbuhan, Indonesia juga kaya dengan hasil hutan, terutama kayu. Diperkirakan terdapat 4.000 jenis dan 267 jenis di antaranya merupakan kayu niaga yang tergolong dalam 120 macam nama perdagangan. Beberapa di antaranya dapat tumbuh di hutan primer, seperti Pterocymcium spp , Dyera spp , Alstonia spp , Shorea leptosula , S leptoclados , S stenoptera , S parvifolia , Duabanga moluccana, Tetrameles nudiflora , Octometes sumatrana , Agathis spp , dan Araucaria spp . Hutan primer merupakan gudang terbesar sumber hayati yang dapat dimanfaatkan, selain hasil kayu, seperti buah-buahan ( Garcinia, Baccaurea, Eugenia, Durio, Lansium, dan Nephelium ), karbohidrat ( Dioscorea, Colocasia, Alocasia, Arenga, Mypa, Metroxylon ,

26

dan Palmae ), zat pewarna, minyak atsiri, pestisida ( Podocarpus, Perris, Milletia , dan Tephrosia ), dan obat-obatan (obat tekanan darah tinggi, seperti Rauvolfia, Alstonia, dan Apocynacceae ), baik secara langsung maupun dimanfaatkan sebagai sumber bahan genetika untuk pemuliaan jenis atau famili yang telah dibudidayakan. Perlu kalian ketahui bahwa pemanfaatan hasil hutan Indonesia telah meningkatkan pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat. Akan tetapi, penebangan kayu telah menimbulkan berbagai kerusakan terhadap lingkungan, bahkan telah mengakibatkan bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Pengurasan jenis-jenis tertentu, seperti penebangan kayu ulin, agathis, ramin, dan jelutung tanpa memerhatikan kelestarian jenis secara berlebihan karena permintaan konsumen yang tinggi, akan mengurangi secara drastis populasi jenis dan bahkan dapat mengakibatkan kepunahan jenis tersebut sehingga mengurangi biodiversitas kayu di Indonesia. b.

Keanekaragaman Hewan di Indonesia


Jenis-jenis hewan yang ada di Indonesia diperkirakan berjumlah sekitar 220.000 jenis

yang terdiri atas lebih kurang 200.000 serangga ( 17% fauna serangga di dunia), 4.000 jenis ikan, 2.000 jenis burung, serta 1.000 jenis reptilia dan amphibia. Pembagian fauna menjadi dua kelompok didasarkan pada adanya Paparan Sunda dan Paparan Sahul menjadi lebih jelas lagi daripada pembagian flora. Di sini dapat ditarik garis pemisah yang lebih jelas yang disebut garis Wallace (ditemukan oleh Alfred Russel Wallace). Beberapa jenis hewan, seperti ikan tawar dari kelompok timur dan barat penyebarannya tidak pernah bertemu. Akan tetapi, ada pula hewan- hewan, seperti burung, amphibia, dan reptilia yang sering kali antara penyebaran kelompok timur dan barat saling tumpangtindih. Paparan sunda sangat kaya akan berbagai jenis mamalia dan burung; diperkirakan di kawasan ini terdapat ratusan jenis burung dan 70% di antaranya merupakan penghuni hutan primer darat; keanekaragaman ini jauh lebih tinggi daripada di Afrika. Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makassar menuju ke selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, garis Wallace memisahkan wilayah Oriental (termasuk Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur). Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Weber, seorang ahli zoologi dari Jerman. Menurut Weber, hewan-hewan yang ada di Sulawesi tidak semuanya tergolong kelompok hewan Australia karena ada juga yang memiliki sifat-sifat Oriental sehingga Weber berkesimpulan bahwa hewan-hewan Sulawesi merupakan hewan peralihan. Weber kemudian membuat garis pembatas yang berada di sebelah timur Sulawesi memanjang ke utara menuju Kepulauan Aru yang kemudian dikenal dengan nama garis Weber. Sebagai

27

bukti, Sulawesi merupakan wilayah peralihan, contohnya, di Sulawesi terdapat Oposum dari Australia dan kera Macaca dari Oriental.

Fauna daerah Oriental (asiatis) yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan serta pulau-pulau di sekitarnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a. Banyak spesies mamalia berukuran besar , seperti badak, gajah, banteng, dan harimau. Terdapat pula mamalia berkantung, tetapi jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada. b. Terdapat berbagai macam kera , terutama di Kalimantan yang paling banyak memiliki primata, misalnya, orang utan, kukang, dan bekantan. c. Burung-burung yang dapat berkicau , tetapi warnanya tidak seindah burung Australia, misalnya, jalak bali ( Leucopsar rothschildi ), murai ( Myophoneus melurunus ), ayam hutan berdada merah ( Arborphila hyperithra ), dan ayam pegar ( Lophura bulweri ). d. Banyak ikan air tawar

28

Fauna daerah Indonesia bagian timur (australis), yaitu Irian, Maluku, dan kepulauan Aru (bagian timur) relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri yang dimilikinya adalah sebagai berikut. a. Mamalia berukuran kecil . Di Irian dan Papua terdapat kurang lebih 110 spesies mamalia, misalnya, kuskus ( Spilocus maculates ) dan Oposum . Di Irian juga terdapat 27 hewan pengerat (rodensial), dan 17 di antaranya merupakan spesies endemik. b. Banyak hewan berkantung . Di Irian dan Papua banyak ditemukan hewan berkantung, seperti kanguru ( Dendrolagus ursinus ). c. Tidak terdapat spesies kera . Spesies kera tidak ditemukan di daerah Australia, tetapi di Sulawesi ditemukan banyak hewan endemik, misalnya, primata primitif Tarsius spectrum , musang ( Macrogalida

musschenbroecki ), babirusa, anoa, maleo, dan beberapa jenis kupu-kupu. d. Jenis burung berwarna indah dan beragam . Papua memiliki koleksi burung terbanyak dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia, kira- kira 320 jenis, dan setengah di antaranya merupakan spesies endemik, misalnya, burung cenderawasih. e. Ikan air tawar sedikit

Fauna

daerah

peralihan

yaitu

Sulawesi, Nusa Tenggara, dan pulaupulau disekitarnya.Hewan memiliki kedua sifat dari tipe asia dan Australia, contoh babirusa, komodo. kuskus kerdil, anoa, dan

29

D. Upaya pelestarian keanekaragaman hayati


Untuk mengatasi berbagai kerusakan yang mengancam ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, manusia melakukan berbagai tindakan. Tindakan tersebut meliputi penebangan hutan terencana, reboisasi, pengendalian hama dengan hewan predator, dan berbagai usaha pelestarian lainnya. Penebangan hutan yang dilakukan dengan terencana (sistem tebang pilih) akan dapat mengurangi resiko bencana alam akibat penebangan liar. Penebangan tersebut kemudian diikuti dengan reboisasi atau penanaman kembali. Keanekaragaman hayati di Indonesia memang cukup banyak. Hal itu terjadi karena Indonesia adalah negara tropis, tanah pun subur. Hutan hujan tropis adalah tempat dimana keanekaragaman hayati berada. Itulah alasan kenapa hutan hujan tropis sering disebut sebagai plasma nutfah. Ada juga keanekaragaman hayati seperti halnya di daerah Ujung Kulon, Pulau Komodo dan sebagainya dijadikan sebagai "World Herritage" karena daerah-daerah tersebut memiliki keanekaragaman yang tinggi dan khas. Walaupun keanekaragaman hayati masih banyak di Indonesia, juga banyak terdapat keanekaragaman hayati di Indonesia yang sekarang terancam punah. Salah satunya adalah "Harimau Sumatera". Bukan hanya itu, banyak juga tumbuhan dan binatang lain yang terancam punah, contoh binatang yang terancam punah adalah sebagai berikut:

Penyebab kelangkaan hayati : 1) Tingkat reproduksi rendah. Pada hewan yang masa kehamilannya lama dan jumlah keturunan yang dilahirkan sedikit. 2) Bencana Alam. Bencana alam dapat menyebabkan kerusakan ekosistem bahkan punahnya organisme tertentu.

30

3) Aktivitas Manusia Beberapa aktivitas manusia yang menghancurkan ekosistem tertentu sehingga keanekaragaman hayatimati. contohnya: a. Pemburuan dan penangkapan hewan secara liar terus menerus. b. Penangkapan hewan yang ada di laut dengan cara yang salah seperti dengan menggunakan bahan kimia, listrik, dan lain-lain. c. Penebangan hutan secara liar mengakibatkan rusaknya hutan dan punahnya flora dan fauna d. Mengembangkan flora dan fauna tertentu sehingga ekosistem menjadi tidak seimbang e. Mendatangkan flora dan fauna tertentu dari negara lain dan

mengembangkannya.

Jika banyak penyebab keanekaragaman hayati tersebut langka, seharusnya ada usaha untuk melestarikan keanekaragaman hayati tersebut.Usaha pelestarian(konservasi) dapat dilakukan di habibat asli (in situ) ataupun di luar habibat asli (ex situ). Konservasi in situ merupakan upaya pelestarian di habibatasli, sedangkan konservasi ex situ dilakukan di luar habibat asli. Contoh pelestarian habibat asli adalah taman nasional yang melindungi hewan-hewan dan burung beraneka ragam,sedangkan pelestarian di luar habibat asli adalah kebun binatang,kebun botani yang melindungi aneka tumbuhan, dan plasma nuftah yaitu kumpulan flora dan fauna yang terdapat di alam danmasih membawa sifat-sifat yang asli, seperti koleksi padi,koleksi jagung, koleksi biji legume. Macam-macam Bentuk (Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam Hayati) Usaha pelestarian sumber daya alam hayati tidak lepas dari usaha pelestarian lingkungan hidup. Usaha-usaha dalam pelestrian lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab kita semua.Untuk menggalakkan perhatian kita kepada pelestarian lingkungan hidup,maka setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Sedunia. Ditingkat Internasional, peringatan Hari Lingkungan Hidup ditandai dengan pemberian penghargaan kepada perorangan ataupun kelompok atas sumbangan praktis mereka yang berharga bagi pelestarian lingkungan atau perbaikan lingkungan hidup di tingkat lokal, nasional, dan internasional.Penghargaan ini diberi nama "Global 500" yang diprakarsai Program Lingkungan PBB (UNEP = United Nation Environment Program). Di tingkat nasional, Indonesia tidak ketinggalan dengan memberikan hadiah, sebagai berikut.

31

Kalpataru: Hadiah Kalpataru diberikan kepada berikut ini: 1) Perintis lingkungan hidup, yaitu mereka yang telah mempelopori untuk mengubah lingkungan hidup yang kritis menjadi subur kembali. 2) Penyelamat lingkungan hidup, yaitu mereka yang telah menyelamatkan lingkungan hidup yang rusak. 3) Pengabdi lingkungan hidup, yaitu petugas-petugas yang telah mengabdikan dirinya untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.

i.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati secara Insitu pelestarian Keanekaragaman Hayati secara In situ yaitu suatu upaya pelestarian sumber daya alam hayati di habitat atau tempat aslinya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan karakteristik tumbuhan atau hewan tertentu sangat membahayakan kelestariannya apabila dipindahkan ke tempat lainnya. Contoh pelestarian Keanekaragaman Hayati secara In situ sebagai berikut. a. Suaka margasatwa untuk komodo di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo. b. Suaka margasatwa untuk badak bercula satu di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. c. Pelestarian bunga Rafflesia di Taman Nasional Bengkulu. d. Pelestarian terumbu karang di Bunaken.

ii.

Pelestarian Keanekaragaman Hayati secara Ek situ, pelestarian Keanekaragaman Hayati secara Ek situ yaitu suatu upaya pelestarian yang dilakukan dengan memindahkan ke tempat lain yang lebih cocok bagi perkembangan kehidupannya. Contoh pelestarian Keanekaragaman Hayati secara Ek situ sebagai berikut. a. Kebun Raya dan Kebun Koleksi untuk menyeleksi berbagai tumbuhan langka dalam rangka melestarikan plasma nuftah. b. Penangkaran jalak bali di kebun binatang Wonokromo. Salah satu cara untuk ikut melestarikan keanekaragaman hayati secara nyata dan untuk pemenuhan kebutuhan dapur dan tanaman obat maka kita dapat membuat kebun tanaman obat, baik di sekolah ataupun di rumah kita sendiri. Dengan menggalakkan kebun tanaman obat ini, diharapkan tidak akan terjadi kelangkaan tanaman obat akibat kecenderungan mengkonsumsi obat-obatan kimia dan

meninggalkan fungsi tanaman obat-obatan tradisional bagi kesehatan kita. Klasifikasi merupakan suatu cara untuk mengelompokkan makhluk hidup.

32

Dalam pengelompokkan makhluk hidup diperlukan aturan, yaitu dasar yang digunakan untuk pengelompokkan, seperti persamaan dan perbedaan ciri-ciri serta sifat makhluk hidup, yang meliputi ciri morfologis, anatomis, biokimia, dan reproduksinya. Pengelompokan makhluk hidup yang sudah menggunakan aturan tertentu ini disebut sistematika.

iii.

Peranan pemerintah dalam menjaga kelestarian hayati di Indonesia. a. Perlindungan Alam Umum Perlindungan alam umum merupakan perlindungan terhadap flora, fauna, dan tanahnya. Perlindungan alam umum dibagi menjadi tiga, yaitu : Perlindungan alam ketat Perlindungan alam ketat adalah perlindungan alam tanpa campur tangan manusia, kecuali apabila dipandang perlu. Jadi, dalam perlindungan ini, alam dibiarkan berkembang dengan sendirinya. Tujuan perlindungan ini untuk penelitian ilmiah. Contohnya adalah cagar alam Ujung Kulon Perlindungan alam terbimbing Perlindungan alam terbimbing adalah perlindungan alam oleh para ahli. Contohnya adalah Kebun Raya Bogor. Taman nasional Taman nasional merupakan perlindungan terhadap keadaan alam yang meliputi daerah yang sangat luas, di mana tidak diperbolehkan dibangun rumah tinggal atau untuk kepentingan industri. Namun demikian, taman nasional dapat difungsikan sebagai tempat rekreasi dan wisata, asalkan tidak mengubah keseimbangan ekosistem. Contohnya adalah Taman Safari Bogor.

Untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia, pemerintah melakukan beberapa hal, yaitu menetapkan konservasi lingkungan, meliputi cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman raya, dan taman perburuan. Tiap-tiap jenis konservasi tersebut memiliki prinsip pengelolaan dan nilai manfaat yang berbeda. Cagar alam berfungsi sebagai kantung plasma nutfah (bertujuan untuk mencegah punahnya makhluk hidup), sebagai habitat satwa liar dan tumbuhan, pusat pengaturan sistem air, tempat pengungsian satwa, tempat penelitian dan pendidikan, dan referensi (pusat rujukan). Sedangkan fungsi utama taman buru, yaitu sebagai tempat pengembangan ekonomi kepariwisataan, pusat pendidikan, tempat perburuan, tempat koleksi tumbuhan dan satwa, dan penunjang devisa daerah dalam hal pemanfaatan jasa lingkungan.

33

b. Perlindungan Alam dengan Tujuan Tertentu


Perlindungan alam dengan tujuan tertentu merupakan perlindungan dengan tujuan khusus. Kekhususan tersebut berlatar belakang dari potensi yang ada di kawasan yang bersangkutan. Macam-macam perlindungan tersebut adalah seba gai berikut. Perlindungan alam geologi Perlindungan alam geologi yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi formasi geologi tertentu, misalnya batuan. Perlindungan alam botani Perlindungan alam botani yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi komunitas tumbuhan tertentu, misalnya Kebun Baya Bogor. Perlindungan alam zoologi Perlindungan alam zoologi yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi hewan langka dan mengembangkannya dengan cara memasukkan hewan sejenis ke daerah lain, misalnya cagar alam Ujung Kulon. Perlindungan alam antropologi Perlindungan alam antropologi yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi suku bangsa terisolir, misal suku Indian di Amerika, suku Asmat di Irian, dan suku Badui di Banten Selatan. Perlindungan pemandangan alam Perlindungan pemandangan alam yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi keindahan alam, misalnya lembah sianok di Sumatra barat. Perlindungan monumen alam Perlindungan monumen alam yaitu perlindungan alam dengan tujuan melindungi benda-benda alam, misalnya stalagtit dan stalagmit dalam gua serta air terjun. Perlindungan suaka margasatwa Perlindungan suaka margasatwa yaitu perlindungan dengan tujuan melindungi hewan-hewan yang terancam punah, misalnya badak, gajah, dan harimau Jawa. Perlindungan hutan Perlindungan hutan yaitu perlindungan dengan tujuan melindungi tanah, air, dan perubahan iklim. Perlindungan ikan Perlindungan ikan yaitu perlindungan dengan tujuan melindungi ikan yang terancam punah.

34

E. Manfaat dan Nilai Keanekaragaman Hayati


a. Kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan yang bersifat mutlak , Contohnya: 1. Sandang (ulat sutra, bulu domba, kapas). 2. Pangan (serealia/biji-bijian,umbi-umbian,sayur,buah,telur,daging,susu) 3. Papan (meranti, jati, sengon, pohon sawo, dan sebagainya). 4. Udara bersih (pepohonan). b. Kebutuhan Sekunder, yaitukebutuhan untuk lebih menikmati hidup, misalnya: 1. Transportasi (kuda, onta, sapi). 2. Rekreasi (hutan, taman bunga, tanaman hias, keindahan bawah laut, hewan piaraan c. Keanekaragaman hayati dapat menghasilkan produk berupa materi atau jasa yang manfaatnya dapat ditukar dengan uang, misalnya bahan kebutuhan pokok atau pangan yang diperdagangkan, dikatakan memiliki nilai ekonomi. d. Bagi suatu negara tertentu, keanekaragaman hayati dapat memberikan kebanggaan karena keindahan atau kekhasannya, seperti: karapan sapi di madura, ukiran jepara dari kayu jati, lukisan wayang dari kulit domba. Keanekaragaman hayati tersebut memiliki niali budaya. e. Keanekaragaman hayati juga memiliki nilai pendidikan ,karena sebagai sumber ilmu dan untuk tujuan lain.misalnya pelestarian alam.

Nilai Keanekaragaman Hayati 1. Nilai Ekonomi Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan (dapat

mendatangkan devisa). Misal untuk bahan baku industri, rempah-rempah, dan perkebunan. Contoh bahan baku industri yaitu kayu gaharu dan cendana untuk industry kosmetik, kayujati dan rotan untuk industry mebel, teh dan kopi untuk industry minuman, padi dan kedelai untuk industry makanan, serta ubi kayu untuk menghasilkan alkohol. Contoh rempah-rempah yaitu lada, cengkih, dan pala.

2. Nilai Biologis Keanekaragaman hayati memiliki nilai biologis atau penunjang kehidupan bagi makhluk hidup termasuk manusia. Tumbuhan menghasilkan gas oksigen yang diperlukan oleh makhluk hidup untuk pernapasan serta menghasilkan zat organik, misal biji, buah, dan umbi sebagai bahan makanan makhluk hidup lain.

35

Hewan dapat dijadikan bahan makanan dan bahan sandang manusia. Beberapa jasad renik digunakan dalam pembuatan makanan, misal untuk membuat tempe, plasma nutfah (plasma benih).

3. Nilai Ekologis Keanekaragaman hayati merupakan komponen ekosistem yang sangat penting, misal hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis memiliki nilai ekologis atau nilai lingkungan yang penting bagi bumi.

- Sebagai paru-paru bumi. Kegiatan fotosintesis hutan hujan tropis dapat menurunkan
kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer yang berarti dapat mengurangi pencemaran udara dan dapat mencegah efek rumah kaca.

- Dapat menjaga kestabilan iklim global, yaitu mempertahankan suhu dan kelembapan
udara.

4. Nilai Sosial Keanekaragaman hayati dapat dikembangkan menjadi sarana rekreasi dan pariwisata. Contoh tempat rekreasi dan pariwisata yag sekaligus menjadi kawasan pelestarian keanekaragaman hayati adalah Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda di Bandung. Kawasan tersebut memilki keanekaragaman hayati yang melimpah. Tumbuhan yang hidup di hutan tersebut antara lain mahoni, bungur, eukaliptus, dan dammar. Hewan yang terdapat di kawasan tersebut antara lain musang, bajing, dan beberapa jenis burung.

36

BAB III PENUTUP


Kesimpulan
Alam Indonesia sangat kaya akan keberagaman flora dan fauna, keberagaman tersebut dikenal dengan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang menunjukakan keseluruhan variasi gen, spesies, dan ekosisitem di suatu daerah. Penyebebab keanekaragaman hayati ada 2 faktor, yaitu faktor genetik dan faktor luar. Faktor genetik relatif konstan / stabilpengaruhnya terhadap morfologi (fenotip) organisme. Sebaliknya faktor luar relatif labil pengaruhnya terhadap morfologi (fenotip). Keanekragaman hayati mencakup tiga tingkatan pengertian yang berbeda, yaitu

keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem. Dan tidak ada makhluk hidup yang bisa hiup sendiri, terpisah dan terasing dari makhluk hidup lain. Manusia, hewan, dan tumbuhan adalah makhluk hidup, mereka butuh makanan dan tempat hidup yang nyaman untuk hidup. Dengan demikian terjadi hubungan saling ketergantungan antar makhluk hidup dan juga antar makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan saling mempengaruhi yang terjadi antar makhluk hidup dengan lingkungan untuk membentuk suatu sistem yang disebut ekosistem. Ekosistem terbentuk dari komponen hidup (biotik), dan komponen tidak hidup (abiotik). Kedua komponen ini sangat mempengaruhi distribusi persebaran organisme pada tempat yang berbeda-beda.

37

Daftar Pustaka
Aryulina, Dian dkk. 2007. Biologi 1. Jakarta: Esis Erlangga Sulistyorini, Ari. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Trijoko, 2006. Biologi. Erlangga: Jakarta. Yani, Riana dkk. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional http://anahrahmat44artikle.blogspot.com/2012/01/makalah-biodiversitas.html http://ajitheory.webs.com/kelas%20x/keanekaragaman%20hayati.pdf http://id.wikipedia.org/wiki/Keanekaragaman_hayati http://www.slideshare.net/Yuslijusufahmad/pengantar-biodiversitas http://titikkrisna.moodlehub.com/file.php/10/kb1hal10.htm http://www.crayonpedia.org/mw/Keanekaragaman_Hayati_Di_Indonesia_10.2

38