Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH TERAPI SEL PUNCA NEUROLOGI 2

DISUSUN OLEH : DESI LUTFIATUL FITRIA 12.321.015 3A

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat ridlo dan izin dari-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penyusunan makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah neurologi 2, terutama kepada dosen pembimbing yaitu Bu Iva Mlia Hani R.,S.Kep,Ns. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena keterbatasan data dan pengetahuan penulis serta waktu yang ada saat ini, dengan rendah hati penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari kalangan pembimbing untuk kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Kami berharap semoga penulisan makalah ini bermanfaat khususnya kepada kami selaku penulis dan umumnya kepada pembaca yang budiman.. Akhirnya, semoga Allah senantiasa meberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.

Jombang, 09 November 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul.............................................................................................. ......... Kata Pengantar.................................................................................. ................... Daftar Isi ....................................................................................................... ........ BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. ........ 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang.................................................................................. ........ Rumusan masalah...................................................................... Tujuan...................................................................................... ........ ........

i ii iii 1 1 2 2

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 2.10 2.11 2.12 Definisi Sel punca...................................................................... ........ 3 4 4 5 7 8 9 10 11 12 13 14

Fungsi Sel Punca ............................................................................... ........ Karakteristik Sel punca....................................................................... Jenis Sel Punca.................................................................................. ........ Peran Sel Punca.............................................................................. ........

Letak Sel Punca.......................................................................................... Penggunaan Terapi Sel Punca.............................................................. Hasil Penelitian Terkait Sel Punca....................................................... Sel Punca Menurut Prinsip Keperawatan ............................................. Sel Punca Menurut Agama .............................................................. ........ Sel Punca Menurut Undang-undang..................................................... Keuntungan dan Kerugian Terapi Sel Punca..........................................

BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan...................................................................................... Saran............................................................................................. ......... 17 ......... 17

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Perkembangan ilmu dan teknologi bidang kesehatan yang maju pesat maka dikembangkanlah Sel Punca, sedangkan yang dimaksud Sel Punca adalah sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa memperbaharui atau

meregenerasi dirinya sendiri (self regenerate/self renewal) dan mampu berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate). Kegunaan Sel Punca bagi umat manusia untuk masa yang akan datang sangat menjanjikan karena dapat menyembuhan penyakit serta memulihkan kesehatan melalui upaya transpalasi. Transpalasi yang dimaksud adalah transpalasi jaringan biologi atau jaringan tubuh manusia. Jaringan biologi - berasal dari jaringan manusia yang didermakan oleh donor hidup maupun jenazah yang bebas dari berbagai penyakit dan virus seperti HIV, Hepatitis B atau C, Tuberkolosis, Syphilis dan penyakit menular lain agar tidak menularkan kepada pasien yang menerimanya (respien), contoh jaringan biologi ialah jaringan tulang, kulit, tendon, katup jantung, kornea mata, jantung, lever, otak, jaringan amnion dll. Pemanfaatan sel punca (stem cell) untuk terapi pengobatan terus berkembang pesat. Sejak digunakan di dunia kedokteran pada era 1950-an, sel punca kini dapat digunakan menjadi salah satu jenis terapi modern yang memberi harapan kesembuhan untuk berbagai jenis penyakit kronis. Sel punca ini dapat dikembangkan dari sel embrionik yang diambil dari embrio bayi atau dari sel dewasa, seperti sumsum tulang, darah tepi, dan tali pusat bayi baru lahir. Perlakuan dengan sel punca dibagi menjadi dua, yaitu terapi dan transplantasi. Pada proses terapi, sel punca hanya disuntikkan ke jaringan atau organ target dengan tujuan memperbaiki bagian yang rusak. Penggunaan sel punca untuk terapi telah dilakukan di banyak negara termasuk di antaranya China. Bahkan, di wilayah berpenduduk satu milyar lebih itu, terapi sel punca sudah menjadi salah satu layanan medis yang ditawarkan di rumah sakit. Fenomena ini agak berbeda dengan negara lain yang belum menempatkan terapi sel punca sebagai layanan medis. Di beberapa negara termasuk di Indonesia, pengobatan menggunakan terapi sel punca masih terbatas dalam skala penelitian. Peraturan mengenai terapi sel punca pun cukup ketat, mengingat faktor keamanan serta problem etika. Namun di Negara Tirai Bambu, pengobatan menggunakan sel punca relatif mudah ditemukan. Walau masih kontroversial karena pertimbangan

efektivitas dan keamanannya, beberapa rumah sakit besar di China menawarkan harapan kesembuhan kepada pasien dengan menggunakan sel punca.

1.2

Rumusan Masalah 1. Apa definisi sel punca ? 2. Apa peran sel punca dalam pengobatan? 3. Apa karakteristik dari sel punca ? 4. Apa saja jenis-jenis sel punca ? 5. Apa manfaat sel punca ? 6. Bagaimana pengaplikasian terapi sel punca ? 7. Apa dampak pengobatan terapi sel punca ?

1.3

Tujuan 1. Menjelaskan tentang definisi sel punca. 2. Menjelaskan tentang peran sel punca. 3. Menjelaskan tentang karakteristik dari sel punca. 4. Menjelaskan tentang jenis-jenis sel punca. 5. Menjelaskan tentang manfaat dari sel punca. 6. Memaparkan tentang tata cara pengaplikasian terapi mkenggunakan sel punca. 7. Menjelaskan tentang dampak yang timbul selama menjalani terapi menggunakan sel punca.

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1

DEFINISI Sel punca, sel induk, sel batang (bahasa Inggris: stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh (http://wikipedia.com).

Sesuai dengan kata yang menyusunnya (Stem = Batang) dan (punca = awal mula). Stem Cell adalah Sel yang menjadi awal-mula dari pertumbuhan sel lain yang menyusun keseluruhan tubuh organisme, termasuk Manusia. Layaknya batang pohon yang menjadi tumpuan pertumbuhan ranting dan daunnya. Dalam Bahasa Indonesia Stem Cell disebut juga Sel Punca (http://stemcell.ucoz.com/).

Sel punca atau stem cell adalah sel yang tidak spesifik yang memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel-sel lainnya dan kemampuan untuk memperbarui dirinya sendiri atau regenerasi (http://medicastore.com/transplantasi_sel_punca).

Menurut PERMEN RI No. 833/MENKES/PER/IX/2009 Sel punca adalah sel tubuh manusia dengan kemampuan istimewa memperbarui dan meregenerasi dirinya sendiri (self regenerate/self renewal) dan mampu berdeferensiasi menjadi sel lain. Stem sel (sel induk, SC) adalah kelas dengan pembaharuan diri-sendiri (self-renewing) kemampuan sel induk berpotensi majemuk, bahwa sel induk mempertahankan bukan status pembedaan diarahkan dan kemampuan proliferasi, dalam kondisi yang tepat, atau diberi sinyal yang tepat, dapat dibedakan menjadi beberapa fungsi dari sel, jaringan dan organ, dunia kedokteran disebut sebagai sel wildcard, disebut itu juga gambaran populer melakukan sel apapun

2.2

FUNGSI SEL PUNCA Ada dua kegunaan stemcell yaitu berdasarkan fungsinya dan riset. Fungsi setelah diaktifkannya stemcell dalam tubuh adalah sebagai berikut: 1. Menambah jumlah peredaran darah dan mempercepat mikro sirkulasi darah sehingga bagi pasien yang stroke, tekanan darah tinggi, leukimia, dan cuci darah akan sembuh. 2. Menambah oksigen dalam darah dan sel sehingga dapat mematikan virus dan bakteri. 3. 4. Mempercepat transportasi nutrisi ke seluruh tubuh. Mempercepat pembersihan dalam tubuh manusia sehingga pasien setelah diterapi stemcell akan lancar buang air besar dan air kecil. 5. 6. 7. Mempercepat metabolisme tubuh. Menambah kinerja sel badan. Mempercepat penyembuhan luka dan patah tulang, Meningkatkan

kemampuan anti kanker.

Sedangkan peran stemcell dalam riset adalah sebagai berikut: 1. Terapi gen, sebagai alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien dan selanjutnya dapat dilacak jejaknya apakah stemcell ini berhasil

mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh pasien. 2. Mengetahui proses biologis yaitu perkembangan organisme dan

perkembangan kanker. Melalui stemcell dapat dipelajari perkembangan sel baik sel normal maupun sel kanker. 3. Penemuan dan pengembangan obat baru yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan. 4. Terapi sel berupa replacement therapy, Oleh karena stemcell dapat hidup di luar organ tubuh manusia misalnya di cawan petri maka dapat dilakukan manipulasi terhadap stemcell itu tanpa mengganggu organ tubuh manusia.

2.3

KARAKTERISTIK SEL PUNCA Belum berdiferensiasi (Undiferentiated) Stem Cell merupakan Sel yang belum memiliki bentuk dan fungsi spesifik layaknya sel lainnya pada organ tubuh Sel otot jantung (Kardiomiosit), Neuron dan Sel Pankreas adalah jenis-jenis sel tubuh yang telah memilki bentuk dan fungsi yang spesifik. Sel-sel tsb secara jelas menjalankan Fungsi dari organ yang dibentuknya. Bentuk sel otot jantung mendukung fungsinya untuk berdenyut. Neuron otak juga memiliki bentuk yang memungkinkannya menghantarkan impuls-impuls saraf, sedangkan Sel Pankreas terdapat dalam susunan jaringan yang disebut sebagai Pulau Langerhans pada pankreas, yang memproduksi hormon insulin. Berbeda dengan ketiganya, Stem Cell adalah sel yang belum memiliki fungsi khusus, seperti berdenyut, menghantarkan impuls, menghasilkan hormon, ataupun fungsi lainnya. Bukti ilmiah bahkan menunjukkan bahwa populasi stem cell dalam suatu jaringan matur, tampak sebagai suatu populasi sel inaktif. Yang fungsinya baru dilihat dalam waktu dan kondisi tertentu.

Mampu memperbanyak diri (Self Renewal) Stem Cell dapat melakukan replikasi dan menghasilkan sel-sel berkarakteristik sama dengan sel induknya. Kemampuan memperbanyak diri dan menghasilkan sel-sel yang sama seperti sel induknya ini tidak dimiliki oleh sel-sel tubuh lainnya, seperti sel jantung, otak, ataupun sel pankreas. Itulah sebabnya, apabila jaringan dalam jantung, otak maupun pankreas mengalami kerusakan, maka pada umumnya kerusakan tersebut bersifat Ireversibel. Populasi Stem Cell dalam tubuh terjaga dengan kemampuannya memperbanyak diri sendiri. Kemampuan ini dapat dilakukan berulang kali, bahkan diduga tidak terbatas, selain itu, kemampuan ini juga dipertahankan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Dapat berdiferensiasi menjadi > 1 jenis Sel (Multipoten/Pluripoten) Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keberadaan Stem Cell sebagai sel yang belum berdiferensiasi ternyata dimaksudkan untuk menjaga kontinuitas regenerasi populasi sel yang menyusun jaringan dan organ tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan kemampuan stem cell untuk berdiferensiasi menjadi sel-sel tubuh yang dibutuhkan. Stem cell bersifat Pluripoten bila mampu berdiferensiasi menjadi sel tubuh apapun, yaitu yang berasal dari ketiga lapisan embrional (ektoderm, mesoderm dan endoderm). Dan Stem cell bersifat Multipoten

bila hanya mampu berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel yang biasanya berada dalam suatu golongan serupa, seperti sel-sel system hematopoietik. Maupun system syaraf.

2.4

JENIS SEL PUNCA Berdasarkan Potensi : Sel induk ber-totipotensi (toti=total) adalah sel induk yang memiliki potensi untuk berdiferensiasi menjadi semua jenis sel, yaitu sel ekstraembrionik, sel somatik, dan sel seksual. Jenis sel ini dapat bertumbuh menjadi organisme baru bila diberikan dukungan maternal yang memadai. Sel induk bertotipotensi diperoleh dari sel induk embrio, hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Sel induk ber-pluripotensi (pluri=jamak) adalah sel-sel yang dapat

berdiferensiasi menjadi semua jenis sel dalam tubuh, namun tidak dapat membentuk suatu organisme baru. Sel induk ber-multipotensi adalah sel-sel yang dapat berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel dewasa. Sel induk ber-unipotensi (uni=tunggal) adalah sel induk yang hanya dapat menghasilkan satu jenis sel tertentu, tetapi memiliki kemampuan memperbarui diri yang tidak dimiliki oleh sel yang bukan sel induk.

Berdasarkan Asalnya : 1. Adult Stem Cell Adalah sel induk yang sudah dewasa, artinya sudah memiliki fungsi spesifik dan hanya mampu membentuk beberapa jenis sel yang segolongan saja (multipoten), misalnya Stem Cell Jantung hanya dapat membentuk sel otot jantung, sel otot polos dan endotel. Therapy menggunakan Adult Stem Cell sudah digunakan selama puluhan tahun, namun Karena biayanya yang sangat mahal dan prosedur yang sangat rumit, tidak banyak pasien yang berkesempatan menjalani therapy ini.

Beberapa contoh alur diferensiasi stem cell dewasa dijelaskan berikut ini Stem cell hematopoietik. Mampu berdiferensiasi menjadi seluruh sel darah, seperti : sel darah merah, trombosit, monosit (makrofag), neutrofil, basofil, eosinofil. Limfosit B, limfosit T, dan Natural Killer (NK) cell. Stem cell jaringan saraf (neural). Mampu berdiferensiasi menjadi tiga golongan utama Sel saraf, yaitu Astrosit, Oligodendrosit, dan Neuron. Selain itu, stem cell jaringan saraf juga mampu berdiferensiasi menjadi kelompok sel saraf yang memiliki aktivitas dopaminergik, sehingga dapat digunakan untuk terapi Parkinson. Stem cell jaringan kulit. Stem cell yang banyak ditemukan di Stratum basalis epidermis kulit dan dasar folikel rambut ini, mampu berdiferensiasi menjadi keratinosit, dan sel penyusun lapisan epidermis kulit. Stem cell masenkimal. Mampu berdiferensiasi menjadi osteosit, kondrosit, adiposit, dan berbagai jenis sel penyusun jaringan ikat. Stem cell jantung. Mampu berdiferensiasi menjadi tiga jenis sel utama penyusun organ jantung, yaitu endotel, kardiomiosit, dan sel otot polos.

2.

Embryonic Stem Cell

Adalah sel induk (sel punca) yang merupakan cikal bakal atau sel mula-mula yang berkembang biak membentuk seluruh organ tubuh makhluk hidup (pluripoten). Stem Cell inilah yang terus menerus membelah diri sehingga terbentuk janin yang kemudian lahir sebagai bayi. Embryonic Stem Cell ini banyak terdapat pada Placenta atau Ari-Ari pada bayi yang baru lahir. Kini sudah banyak pasangan muda yang menyimpan Placenta bayi yang baru dilahirkan di bank Placenta di Singapore maupun di Jakarta. Walaupun biaya penyimpanan dan penggunaannya sangat mahal, banyak pasangan muda yang memanfaatkan fasilitas ini karena saat bayi beranjak dewasa dan terkena penyakit yang mematikan, maka Placenta bayi tersebut dapat digunakan untuk therapy penyembuhan, dan hingga kini tingkat keberhasilannya masih 100%.
10

3.

Germinal/benih embrionik (embryonic germ cells) Sel germinal/benih (seperti sprema/ovum) embrionik

induk/primordial (primordial germ cells) dan prekursor sel germinal diploid ada sesaat pada embrio sebelum mereka terasosiasi dengan sel somatik gond dan kemudian menjadi sel germinal. Sel germinal embrionik

manusia/human embryonic germ cells (hEGCs) termasuk sel punca yang berasal dari sel germinal primordial dari janin berumur 5-9 minggu.Sel punca jenis ini memilki sifat pluripotensi. 4. Sel punca fetal Sel punca fetal adalah sel primitif yang dapat ditemukan pada organ-organ fetus (janin) seperti sel punca hematopoietik fetal dan progenitor kelenjar pankreas. Sel punca neural fetal yang ditemukan pada otak janin menunjukkan kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel neuron dan sel glial (sel-sel pendukung pada sistem saraf pusat). Darah, plasenta, dan tali pusat janin kaya akan sel punca hematopoietik fetal. 2.5 PERAN SEL PUNCA 2.5.1 Terapi gen, stem cell (dalam hal ini hematopoietic stem cell) digunakan sebagai alat pembawa transgen ke dalam tubuh pasien, dan selanjutnya dapat dilacak jejaknya apakah stem cell ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh pasien. Dan karena stem cell mempunyai sifat selfrenewing, maka pemberian pada terapi gen tidak perlu dilakukan berulang-ulang, selain itu hematopoietic stem cell juga dapat berdiferensiasi menjadi bermacam-macam sel, sehingga transgen tersebut dapat menetap di berbagai macam sel. 2.5.2. Mengetahui proses biologis, yaitu perkembangan organisme dan perkembangan kanker. Melalui stem cell dapat dipelajari nasib sel, baik sel normal maupun sel kanker. 2.5.3 Penemuan dan pengembangan obat baru, yaitu untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan. 2.5.4 Terapi sel berupa replacement therapy. Oleh karena stem cell dapat hidup di luar organ tubuh manusia misalnya di cawan petri, maka dapat dilakukan manipulasi terhadap stem cell itu tanpa mengganggu organ tubuh manusia. Stem cell yang telah dimanipulasi tersebut dapat ditransplantasi kembali masuk ke dalam organ tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu.

2.6

LETAK SEL PUNCA Sel punca dewasa dapat diambil dari berbagai sumber seperti:

11

2.6.1

Otak mempunyai sel punca yang dapat diubah menjadi berbagai jenis sel darah seperti sel mieloid, sel limfoid, dan juga sel hematopoietik.

2.6.2

Sumsum tulang belakang merupakan sumber sel punca dewasa paling umum yang menghasilkan sel punca hematopoietik. Sel punca jenis ini telah digunakan secara ekstensif untuk transplantasi sumsum tulang belakang dalam pengobatan kanker darah seperti leukemia. Selain itu juga dapat digunakan untuk memperbaiki otot jantung yang rusak dengan cara menginjeksi mereka ke daerah yang rusak untuk membentuk pembuluh baru dan meningkatkan kapasitas fungsional jantung.

2.6.3

Darah tepi atau darah yang mengalir pada pembuluh darah diketahui memiliki sel punca yang berperan dalam pembentukan sel

darah(hematopoiesis). Selain itu, sel punca dari darah manusia dapat berdiferensiasi menjadi sel hati, saluran pencernaan, dan kulit. 2.6.4 2.6.5 Pembuluh darah. Saluran pencernaan memiliki sel punca tepatnya pada bagian epitel usus untuk mendukung pergantian terus-menerus dari sel-sel epitel usus. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah mengidentifikasi niche atau relung dari sel punca tersebut karena jawabannya akan memberi petunjuk mengapa beberapa pasien yang terinfeksi Helicbacter pylori dapat terkena tukak lambung sementara sebagian besar orang yang memiliki H. pylori pada lambungnya tidak terkena tukak lambung, kemungkinan sel punca berperan dalam hal tersebut. 2.6.6 2.6.7 2.6.8 Kornea Hati Pankreas

2.7

PENGGUNAAN SEL PUNCA BERDASARKAN CELL-BASED THEORY Beberapa penggunaan Stem Cell pada berbagai penyakit diantaranya: 2.7.1 Stem Cell untuk Diabetes Pada diabetes Terjadi kekurangan insulin atau kurangnya kepekaan terhadap insulin. Dalam hal ini transplantasi sel pulau Langerhans diharapkan dapat memenuhi kebutuhan insulin. Pada awalnya, kira-kira 10 tahun yang lalu, hanya 8% transplantasi sel pulau Langerhans yang berhasil. Hal ini terjadi karena reaksi penolakannya besar sehingga diperlukan sejumlah besar steroid; padahal makin besar steroid yang dibutuhkan, makin besar pula kebutuhan metabolik pada sel penghasil insulin. Namun, baru-baru ini penelitian yang dilakukan oleh James Shapiro dkk. di Kanada, berhasil membuat protokol transplantasi sel pulau Langerhans dalam jumlah banyak dengan metode imunosupresi yang berbeda dengan yang sebelumnya. Pada penelitian tersebut, 100% pasien yang diterapi

12

transplantasi sel pulau Langerhans pankreas tidak memerlukan injeksi insulin lagi dan gula darahnya tetap normal setahun setelah transplantasi. Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan untuk diabetes ini mengambil sumber stem cell dari kadaver, fetus, dan dari embryonic stem cell. Selanjutnya, masih dibutuhkan penelitian untuk menemukan cara membuat kondisi yang optimal dalam produksi insulin, sehingga dapat menggantikan injeksi insulin secara permanen. 2.7.2 Stem Cell untuk Skin Replacement Dengan bertambahnya pengetahuan mengenai stem cell, maka peneliti telah dapat membuat epidermis dari keratinosit yang diperoleh dari folikel rambut yang dicabut. Hal ini memungkinkan transplantasi epidermis autolog, sehingga menghindari masalah penolakan. Pemakaian skin replacement ini bermanfaat dalam terapi ulkus vena ataupun luka bakar. 2.7.3 Stem Cell untuk Penyakit Parkinson Pada penyakit Parkinson, didapatkan kematian neuron-neuron nigra-striatal, yang merupakan neuron dopaminergik. Dopamin

merupakan neurotransmiter yang berperan dalam gerakan tubuh yang halus. Dengan berkurangnya dopamin, maka pada penyakit Parkinson terjadi gejala-gejala gangguan gerakan halus. Dalam hal ini transplantasi neuron dopamin diharapkan dapat memperbaiki gejala penyakit Parkinson.Tahun 2001, dilakukan penelitia n dengan menggunakan jaringan mesensefalik embrio manusia yang mengandung neuron-neuron dopamin. Jaringan tersebut ditransplantasikan ke dalam otak penderita Parkinson berat dan dipantau dengan alat PET (Positron Emission Tomography). Hasilnya setelah transplantasi terdapat perbaikan dalam uji-uji standar untuk menilai penyakit Parkinson, peningkatan fungsi neuron dopamin yang tampak pada pemeriksaan PET; perbaikan bermakna ini tampak pada penderita yang lebih muda. Namun setelah 1 tahun, 15% dari pasien yang ditransplantasi ini kambuh setelah dosis levodopa dikurangi atau dihentikan. 2.7.4 Stem Cell untuk Stroke Dahulu dianggap bahwa sekali terjadi kematian sel pada stroke, maka akan menimbulkan kecacatan tetap karena sel otak tidak mempunyai kemampuan regenerasi. Tapi anggapan berubah setelah para pakar mengetahui adanya plastisitas pada sel-sel otak dan pengetahuan mengenai stem cell yang berkembang pesat belakangan ini. 2.7.5 Stem Cell untuk Penyakit Jantung Penelitian terkini memberikan bukti awal bahwa adult stem cells dan embryonic stem cell dapat menggantikan sel otot jantung yang rusak

13

dan memberikan pembuluh darah baru. Strauer dkk. mencangkok mononuclear bone marrow cell autolog ke dalam arteri yang menimbulkan infark pada saat PTCA 6 hari setelah infark miokard akut. Sepuluh pasien yang diberi stem cell area infarknya menjadi lebih kecil dan indeks volume stroke, left ventricular end-systolic volume, kontraktilitas area infark, dan perfusi miokard menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Perin dkk. memberikan transplantasi bone marrowmononuclear cells autolog yang diinjeksikan pada miokard yang lemah dengan panduan electromechanical mapping pada 14 pasien gagal jantung iskemik kronik berat.Single-photon emission computed tomography myocardial perfusionscintigraphy

menunjukkan penurunan defek yang signifikan dan perbaikan fungsi sistolik ventrikel kiri global pada pasien yang diterapi.

2.8

HASIL

PENELITIAN

MENGENAI

CELL-BASED

THERAPY

Ada beberapa alasan penelitian mengapa stem cell merupakan calon yang bagus dalam cell-based therapy: 2.8.1 Stem cell tersebut dapat diperoleh dari pasien itu sendiri. Artinya transplantasi dapat bersifat autolog sehingga menghindari potensi rejeksi. Berbeda dengan transplantasi organ yang membutuhkan organ donor yang sesuai (match), transplantasi stem cell dapat dilakukan tanpa organ donor yang sesuai. 2.8.2 Mempunyai kapasitas proliferasi yang besar sehingga dapat diperoleh sel dalam jumlah besar dari sumber yang terbatas. Misalnya pada luka bakar luas, jaringan kulit yang tersisa tidak cukup untuk menutupi lesi luka bakar yang luas. Dalam hal ini terapi stem cell sangat berguna. 2.8.3 Mudah dimanipulasi untuk mengganti gen yang sudah tidak berfungsi lagi melalui metode transfer gen. Hal ini telah dijelaskan dalam penjelasan mengenai terapi gen di atas. 2.8.4 Dapat bermigrasi ke jaringan target dan dapat berintegrasi ke dalam jaringan dan berinteraksi dengan jaringan sekitarnya

2.9

STEM CELL MENURUT PRINSIP KEPERAWATAN 2.9.1 Otonomi Otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu autos, yang berarti sendiri dan nomos berarti aturan. Sedangkan otonomi sendiri berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri. Perawat harus menanyakan pada pasien apakah ingin mengguanakan pengobatan stem cell untuk mengobati penyakitnya. 2.9.2 Beneficience
14

Beneficience merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Perawat harus mengikuti keinginan pasien dan tidak menentang keyakinan pasien untuk menggunakan pengobatan stem cell. 2.9.3 Justice Keadilan merupakan prinsip moral berlaku adil untuk semua individu. Tindakan yang sama namun tidak harus identik tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Perawat harus berlaku adil terhadap pasien maksud dari berlaku adil adalah mengobati dan merawat sesuai dengan penyakit yang di derita pasien. 2.9.4 Nonmaleficience Nonmaleficience berarti tidak melukai atau tidak menimbulkan bahaya atau cedera bagi orang lain. Perawat harus mengobati dan merawat pasien sesuai prosedur yang ada. Jika stem cell merugikan pasien maka pengobatan stem cell tidak perlu dilakukan. 2.9.5 Moral Right Stem cell ini bertentangan dengan paham masyarakat karena berasal dari embrio dan tali pusat bayi yang di dapat dari korban aborsi. 2.9.6 Nilai dan Norma Masyarakat Stem cell berguna bagi pengobatan namun sumber dari sel punca tersebut melanggar norma masyarakat karena dari korban aborsi, sedangkan aborsi dilarang oleh agama karena membunuh cabang bayi yang tidak berdosa.

2.10 STEM CELL MENURUT AGAMA Penggunaan embryonic stem cells lebih dekat dengan hukum menggugurkan kandungan yang diharamkan menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Musyawarah Ulama tahun 1972 dan Musyawarah Nasional (Munas) MUI tahun 1983. Namun Fatwa MUI tersebut ada pengecualiannya yaitu memperbolehkan menggugurkan kandungan apabila kandungan tersebut

membahayakan si ibu atau membawa penyakit menular yang berbahaya. Karena pengguguran kandungan untuk tujuan riset (stemcell research) sangatlah berbeda dengan pengguguran kandungan dengan alasan kesehatan, maka diperlukan hukum atau dalil tersendiri untuk memutuskan boleh tidaknya stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell dari hasil menggugurkan kandungan. Tidak disangsikan lagi, hukum tersebut akan menimbulkan perdebatan yang cukup alot antara kubu yang pro dan kontra stemcell research. Apapun keputusannya, stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell kemungkinan besar akan terus berlanjut.

15

Pemanfaatan janin yang mengalami keguguran atau janin sisa hasil pembuahan bayi tabung untuk kepentingan stemcell research mungkin tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Janin tersebut lebih berguna daripada dibuang secara sia-sia. Pemanfaatan tersebut dapat juga menjadi ibadah bagi pelakunya karena digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Khusus mengenai bayi tabung, fatwa MUI memperbolehkan asal sel telur dan sperma untuk membuat bayi tersebut adalah dari kedua orang tua yang sah menurut hukum Islam, sehingga janin sisa tersebut dapat digunakan untuk kepentingan stemcell research. Pembuatan stemcells melalui SCNT (kloning) mempunyai tendensi untuk menimbulkan perdebatan. Selama ini belum ada fatwa ataupun hukum fiqih yang mengatur mengenai kloning tersebut. Walaupun demikian, sebagian besar ulama mengharamkan kloning dengan alasan proses tersebut tidak melalui hukum Islam (misalnya perkawinan) dan ikut campurnya fihak ketiga dalam proses reproduksi tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa kloning untuk keperluan stemcell research mungkin berbeda dengan kloning untuk mendapatkan keturunan yang dalam hukum Islam harus melalui ikatan perkawinan. Jika dirunut secara teliti, proses kloning sebenarnya merupakan pembuktian kebenaran AlQuran dalam proses pembuahan Nabi Isa A.S., yang tiada berayah. Islam adalah agama yang sederhana dan mudah dimengerti dan diamalkan oleh umat manusia. Dalam Islam, niat merupakan sesuatu yang sangat fundamental. Dengan demikian, niat dalam melaksanakan stemcell research tersebut sangat menentukan baik buruknya stemcell research. Apabila stemcell research digunakan untuk membantu umat manusia, misalnya menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit, maka kegiatan tersebut adalah sangat baik. Sebaliknya, apabila digunakan untuk kejahatan (misalnya menciptakan monster yang mengganggu umat manusia), maka kegiatan tersebut sangat berlawanan dengan ajaran Islam dan wajib untuk ditentang. Selanjutnya, cara pengambilan dan penggunaan embryonic stemcell untuk stemcell research tersebut perlu diperhitungkan pula dalam pembuatan fatwa tersebut.

2.11 STEM CELL MENURUT UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG KESEHATAN NO. 23/1992 Tentang Kesehatan PP NO. 39/1995 Tentang Penelitian & Pengembangan Kesehatan KEPMENKES NO. 1333/2002 Tentang Penelitian Kesehatan Pada Manusia KEPMENKES NO. 1334/2002 Tentang Pembentukan PNEPK(Pedoman Nasional Etik Penelitian

Kesehatan)

16

Standar bagi semua lembaga yang melakukan penelitian kesehatan Pasal 69: LITBANGKES dilaksanakan untuk memilih dan menetapkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna yang diperlukan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan. LITBANG pada manusia dilaksanakan dengan memperhatikan etika penelitian dan norma hukum, agama, kesusilaan dan kesopanan dalam masyarakat serta dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan pasien.

2.12 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN MEMAKAI JENIS STEM CELL TERTENTU DALAM CELL-BASED THERAPY A. Embryonic Stem CelL Keuntungan embryonic stem cell: 1. Mudah didapat dari klinik fertilitas. 2. Bersifat pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel dalam tubuh. 3. Immortal. Berumur panjang, dapat berproliferasi beratus-ratus kali lipat pada kultur. 4. Reaksi penolakan rendah.

Kerugian embryonic stem cell: 1. Dapat bersifat tumorigenik. Artinya setiap kontaminasi dengan sel yang tak berdiferensiasi dapat menimbulkan kanker. 2. Selalu bersifat allogenik sehingga berpotensi menimbulkan penolakan. 3. Secara etis sangat kontroversial.

B. Umbilical Cord Blood Stem Cell Keuntungan umbilical cord blood stem cell (stem cell dari darah tali pusat): 1. 2. Mudah didapat (tersedia banyak bank darah tali pusat). Siap pakai, karena telah melalui tahap prescreening, testing dan pembekuan. 3. Kontaminasi virus minimal dibandingkan dengan stem cell dari sumsum tulang. 4. 5. Cara pengambilan mudah, tidak berisiko atau menyakiti donor. Risiko GVHD (graft-versus-host disease) lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan stem cell dari sumsum tulang, dan transplantasi tetap dapat dilakukan walaupun HLA matching tidak sempurna atau dengan kata lain toleransi terhadap ketidaksesuaian HLA matching lebih besar dibandingkan dengan stem cell dari sumsum tulang.

17

Kerugian umbilical cord blood stem cell: 1. Kemungkinan terkena penyakit genetik. Ada beberapa penyakit genetik yang tidak terdeteksi saat lahir sehingga diperlukan follow up setelah donor beranjak dewasa. 2. umlah stem cell relatif terbatas sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah stem cell yang diperlukan resipien dengan yang tersedia dari donor, karena jumlah sel yang dibutuhkan berbanding lurus dengan usia, berat badan dan status penyakit.

C. Adult Stem Cell Keuntungan adult stem cell: 1. Dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun. 2. Sudah terspesialisasi sehingga induksi menjadi lebih sederhana. 3. Secara etis tidak ada masalah.

Kerugian adult stem cell: 1. Jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan matur sehingga sulit mendapatkan adult stem cell dalam jumlah banyak. 2. 3. Masa hidupnya tidak selama embryonic stem cell. Bersifat multipoten, sehingga diferensiasi tidak seluas embryonic stem cell yang bersifat pluripoten.

18

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri. Pada sumsum tulang dan darah tali pusar, sel punca secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak, meski demikian pada organ lain seperti pankreas atau hati, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu. Sel punca berpontensi untuk mengubah keadaan penyakit pada manusia dengan cara memperbaiki jaringan atau organ tertentu. Sel punca ini bisa dipanen dari sel embrionik yang diambil dari embrio bayi atau dari sel dewasa, seperti sumsum tulang, darah tepi, dan tali pusat bayi baru lahir. Pada proses terapi, sel punca hanya disuntikkan ke jaringan yang rusak, seperti pada penanganan pasien jantung stadium akhir. Terapi menggunakan sel punca menjadi alternatif lain dalam pengobatan suatu penyakit yang mungkin tidak ada obatnya. Terapi ini masih dikembangkan lagi untuk mendapatkan hasil pengobatan yang tidak memiliki efek yang riskan.

3.2

Saran Terapi menggunakan Sel Punca menjadi salah satu pilihan alternatif untuk pengobatan penyakit yang tidak ada penyembuhan dengan obat., walaupun terapi ini masih dikembangkan lagi dan harga yang diapatok relatif lebih mahal dibandingkan pengobatan lainnya.

19

DAFTAR PUSTAKA

Stem Cell and Developmental Biology Writing Group's Report. 2004. Natl Inst Diabetes & Digestive & Kidney Dses, NIH. 1-27 http://wikipedia.com diakses tanggal 08 November 2013 http://stemcell.ucoz.com/ diakses tanggal 09 November 2013 http://medicastore.com/transplantasi_sel_punca diakses tanggal 09 November 2013 http://dianalmira.blogspot.com/2012/12/stem-cell.html diakses tanggal 09 November 2013 http://dani-karnaen.blogspot.com/2012/05/definisi-penggunaan-penelitian.html diakses tanggal 09 November 2013

20

Anda mungkin juga menyukai