Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ibuprofen, turunan asam propionat fenil, berfungsi sebagai anti-inflamasi non-steroid, analgesik, dan antipiretik. Dengan waktu paruh 1,8-2 jam. Kelarutan sangat buruk dalam air dan penyerapan dalam oral terbatas, yang mengarah ke masalah bioekuivalen. Dengan demikian, pelepasan yang diinginkan adalah penyerapan ibuprofen yang cepat, yaitu prasyarat untuk onset of action cepat. Bioavailabilitas obat tergantung pada kelarutan dan atau laju disolusi, dan tingkatan pelepasan untuk menentukan awal aktivitas terapeutik. Oleh karena itu, obat yang sulit larut dalam air seperti ibuprofen memiliki karakteristik biovaibilitas yang rendah karen penyerapan yang kurang, yang menjadi perhatian dalam dunia industri farmasi. Beberapa cara dapat meningkatkan kelarutan obat yang sulit larut dalam air, salah satunya adalah metode freezedrying dan mikroemulsi. Freeze-drying, biasa dikenal juga dengan lyophilization adalah proses dehidrasi yang membuat material/zat aktif mudah dalam transportasi dan penyimpanan. Freeze-drying bekerja dengan membekukan material dan mengurangi tekanan sekitar untuk membebaskan air es yang ada dalam material untuk langsung mensublimasi dari fase padat ke fase gas, memberikan obat cepat larut bila kontak dengan air. Beberapa cara untuk meningkatkan kelarutan dan bioavaibilitas obat adalah dengan metode freeze-drying dan mikroemulsi. Mikroemulsi mampu melindungi obat terhadap oksidasi, hidrolisis enzimatik dan meningkatkan kelarutan obat yang tentunya akan meningkatkan bioavaibilita. Formulasi mikroemulsi membuat bioavaibilitas dan konsentrasi plasma obat lebih di reproduksi yang tentunya sangat penting dalam mengatasi efek samping yang cukup serius. Freeze-drying mempercepat ibuprofen untuk larut dalam air dengan menggunakan beberapa bahan tambahan.

1.2 Tujuan
Dapat memahami pembuatan mikrokapsul dengan menggunakan metode freezedrying

Mengetahui sifat bahan aktif dan bahan tambahan yang akan digunakan Membuat formulasi yang sesuai dengan metode freeze-drying Mengetahui cara memperbaiki waktu paruh dan kelarutan yang sesuai

1.3 Rumusan Masalah


Mikrokapsul metode freeze-drying Sifat fisika-kimia bahan aktif Kelarutan bahan aktif Pengertian bahan aktif dan bahan tambahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Mikroenkapsulasi

Mikroenkapsulasi adalah proses fisik dimana bahan aktif (bahan inti), seperti partikel padatan, tetesan air ataupun gas, dikemas dalam bahan sekunder (dinding), berupa lapisan film tipis. Proses ini digunakan untuk melindungi suatu zat agar tetap tersimpan dalam keadaan baik dan untuk melepaskan zat tersebut pada kondisi tertentu saat digunakan. Ide dasar mikroenkapsulasi berasal dari sel, yaitu permeabilitas selektif membran sel memberikan perlindungan terhadap inti sel dari kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan berperan dalam pengaturan metabolisme sel. Mikroenkapsulasi yang berkembang saat ini menggunakan prinsip yang sama untuk melindungi bahan aktif dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Proses mikroenkapsulasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu metode kimia, metode fisikokimia dan mekanik. Metode kimia meliputi polimerisasi antar permukaan, polimerisasi in situ, dan insolubilisasi. Metode fisikokimia meliputi pemisahan fase dari larutan air, pemisahan fase dari pelarut organik, kompleks emulsi dan powder bed. Sedangkan yang termasuk dalam metode mekanik adalah penyalutan suspensi udara atau metode wurster, penyemprot kering, penyalutan hampa udara dan aerosol elektrostatik. (Bartkowiak, 2001)

Gambar. Wujud mikrokapsul dalam mikrosop elektron.

Pada umumnya mikroenkapsulasi dengan metode pemisahan fase terjadi melalui tiga tahap dalam suatu pengadukan yang sinambung (Bakan, 1986), yaitu: a. Tahap pembentukan fase kimia yang tidak saling bercampur yaitu fase cairan pembawa, fase bahan inti dan fase bahan penyalut. b. Penempelan penyalut pada permukaan inti yang terjadi jika polimer diadsorbsikan pada antar permukaan yang terbentuk antara materi inti dan pembawa/air. c. Tahap pengerasan dinding mikrokapsul.

2.2 Metode Freeze-drying

Pengeringan beku (freeze drying) adalah salah satu metoda pengeringan yang mempunyai keunggulan dalam mempertahankan mutu hasil pengeringan, khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap panas. Pengeringan beku merupakan proses pengeluaran air dalam keadaan beku dari suatu produk melalui cara sublimasi, yang dilakukan pada suhu dan tekanan rendah (Fajri 2002). Proses pembekuan pada pengeringan beku akan menentukan hasil akhir produk yang dikeringkan. Pembekuan lambat akan menyebabkan terbentuknya kristal es yang besar yang tersususn pada ruang antar sel dengan ukuran pori-pori yang besar dan ukuran pori yang dihasilkan akan berbanding lurus dengan suhu yang digunakan pada proses pembekuan (Heldman dan Singh, 1981). Fennema (1964) menyatakan bahwa ada 4 faktor yang mempengaruhi laju pembekuan bahan pangan, yaitu; (1) beda suhu antara produk dengan medium pendingin, (2) cara pindah panas ke dalam produk dan di dalam produk, (3) ukuran, bentuk dan tipe kemasan, (4) ukuran , bentuk dan sifat termofisik bahan yang dibekukan. Liapis dan Bruttini (1995) mengatakan bahwa proses pengeringan beku melibatkan tiga tahap berikut : a. Tahap pembekuan; pada tahap ini bahan pangan atau larutan didinginkan hingga suhu di mana seluruh bahan menjadi beku. b. Tahap pengeringan utama; di sini air dan pelarut dalam keadaan beku dikeluarkan secara sublimasi. Dalam hal ini tekanan ruang harus kurang atau mendekati tekanan uap kesetimbangan air di bahan baku. Karena bahan pangan atau larutan
4

bukan air

murni tapi merupakan campuran 18 bersama komponen-komponen

lain, maka pembekuan harus dibawah 0C dan biasanya di bawah -10C atau lebih rendah, untuk tekanan kira-kira 2 mmHg atau lebih kecil. Tahap utama ini berakhir bila semua air beku telah tersublim. c. Tahap pengeringan sekunder; tahap ini mencakup pengeluaran uap air hasil sublimasi atau air terikat yang ada di lapisan kering. Tahap pengeringan sekunder dimulai segera setelah tahap pengeringan utama berakhir.

2.3 Bahan Aktif

Ibuprofen

Sebuah hablur putih atau hampir putih, kristal bubuk atau kristal berwarna. M.p. 75 sampai 78 . praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam aseton, dalam diklorometana, dan dalam metil alkohol, larut dalam larutan encer hidroksida alkali dan karbonat (Ph. Eur. 6.2). Sebuah hablur putih atau hampir menyerupai putih bubuk kristal memiliki bau yang sedikit khas. Praktis tidak larut dalam air; sangat larut dalam alkohol, dalam aseton, dalam kloroform, dan dalam metil alkohol, sedikit larut dalam etil asetat. Simpan dalam kedap udara (USP 31). Ibuprofen diserap dari saluran penceraan dan konsentrasi plasma obat puncaknya adalah 1-2 jam setelah dikonsumsi. Ibuprofen juga bisa diserap pada penggunaan rektal. Juga ada pada penggunaan topikal, penyerapan pada kulit dari gel sekitar 5% dari dosis oral. Terikat pada protein plasma dan memiliki waktu paruh sekitar 2 jam. Hal ini cepat diekskresikan dalam urin sebagai hasil metabolit dan konjugasi. Sekitar 1% diekskresikan dalam urin sebagai ibuprofen yang tidak berubah dan sekitar 14% sebagai ibuprofen yang terkonjugasi. Memiliki efek yang sedikit dalam saluran pencernaan dari pada obat antinflamasi non-steroid lainnya, walaupun begitu dapat menyebabkan dispepsia, mual dan muntah, pendarahan saluran cerna serta tukak lambung.

2.4 Bahan Tambahan

Gelatin

Sebuah protein murni diperoleh baik secara parsial hidrolisis asam (tipe A), dengan hidrolisis basa parsial (tipe B), atau dengan hidrolisis enzimatik kolagen dari hewan (termasuk ikan dan unggas), tetapi juga dapat menjadi campuran dari berbagai jenis. Hidrolisis menyebabkan pembentuk gel dan non-gel nilai produk. Nilai pembentuk gel dicirikan oleh kekuatan gel (nilai Bloom). Hal ini tidak cocok untuk digunakan parenteral atau untuk keperluan khusus lainnya. Sebuah padat coklat kekuningan agak kuning atau cahaya, biasanya terjadi sebagai lembar tembus, cabik, bubuk, atau butiran. Nilai gel gelatin membengkak dalam air dingin dan pemanasan memberikan solusi koloid yang pada pendinginan selanjutnya membentuk lebih atau perusahaan kurang gel. Gelatin praktis tidak larut dalam organik umum pelarut. Gelatin yang berbeda membentuk larutan air yang bervariasi dalam kejelasan dan warna. Sebuah solusi 1% dalam air pada sekitar 55 memiliki pH 3,8-7,6. Melindungi dari panas dan kelembaban. (Ph Eur. 6.2). Gelatin digunakan dalam penyusunan pasta, pastiles, supositoria, tablet, dan keras dan lunak kerang kapsul. Hal ini juga digunakan untuk mikroenkapsulasi obat-obatan dan bahan industri lainnya. Telah digunakan sebagai kendaraan untuk suntikan: pencair Pitkin, yang terdiri dari gelatin, glukosa, dan asam asetat, telah digunakan dalam bentuk modifikasi untuk heparin sementara dihidrolisis gelatintelah digunakan untuk corticotropin.

Sorbitol

RM BM Pemerian Kelarutan

: C66H14O6 : 182,17 : Serbuk, granul atau lempengan; higroskopis; warna putih rasa manis. : Sangat mudah larut dalam air; sukar larut dalam etanol, metanol dan asam asetat. : 20 35% : Pemanis. : Dapat bercampur dengan kebanyakan bahan tambahan, stabil udara, keadaan dingin dan asam basa encer.
6

Konsentrasi Khasihat Stabilitas

di

OTT Penyimpanan

: Ion logam divalent dan trivalent dalam asam kuat dan suasana basa. : Wadah tertutup rapat.

Sorbitol yang dikenal juga sebagai glusitol, adalah suatu gula alkohol yang dimetabolisme lambat di dalam tubuh. Sorbitol diperoleh dari reduksi glukosa, mengubah gugus aldehid menjadi gugus hidroksil, sehingga dinamakan gula alkohol. Sorbitol digunakan sebagai pemanis buatan pada produk permen bebas gula dan sirup obat batuk. Zat ini juga dikenal sebagai pemanis yang memiliki nilai gizi karena mengandung energi sebanyak 2,6 kkal per gram. Selain digunakan sebagai pemanis pengganti gula, sorbitol juga digunakan sebagai obat pencahar non stimulan. Sorbitol bekerja dengan cara menarik air menuju usus besar, sehingga merangsang pergerakan usus. (FI IV hal. 756, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6 hal. 679)

Formaldehid

(Dirjen POM.1979) Nama Resmi Nama Lain RM / BM Pemerian : FORMALDEHID : Formalin : C2H4O / 30,03 : Cairan tidak berwarna, uap dapat mengeluarkan air mata, baunya sangat merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Kelarutan Penyimpanan : dapat dicampur dengan air dan dengan etanol (95 %). : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya sebaiknya pada suhu diatas 20oC. Formaldehid adalah suatu zat kimia yang mengandung unsur-unsur (elemen) karbon, hidrogen dan oksigen. Mempunyai formula kimia HCHO, sedangkan berat molekulnya (berat massanya) 30,03 g/mol. Dalam keadaan normal berbentuk gas (titik didihnya -19,3oC). Formaldehid berbau sangat keras dan irritan. Biasanya dijual dalam bentuk cairan yang terdiri dari formaldehid 37% -73% dalam air, dan metanol 0,5% 15% untuk mencegah pembentukan polimer. Bisa juga dijual dalam bentuk puyer atau tablet yaitu dalam bentuk paraformaldehid, yang mengandung 91% atau lebih formaldehid. Beratnya dalam bentuk gas hampir sama dengan udara yaitu 1,03 kali berat udara.

Paraffin Liquid

(Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6 hlm. 445, FI IV hlm. 652) Pemerian : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, tidak berfluoresensi, tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin dan berbau ketika dipanaskan. Kelarutan : Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air. Larut dalam jenis minyak lemak hangat. Stabilitas Khasiat Dosis HLB Butuh OTT Penyimpanan : Dapat teroksidasi oleh panas dan cahaya. : Laksativ (pencahar) : Emulsi oral : 15 45 ml sehari (DI 88 hlm. 1630) : 10 12 (M/A). 5 6 (A/M) : Dengan oksidator kuat. : Wadah tertutup rapat, hindari dari cahaya, kering dan sejuk.

Paraffin liquid adalah minyak putih yang banyak digunakan untuk pembuatan kosmetik dan/ atau untuk tujuan medis. Namun para ahli tidak mengajurkan menggunakan untuk jangka waktu yang lama.

Glycine

Hal ini diperoleh dengan penyulingan, pemutihan, hidrogenasi, dan deodorisasi minyak kedelai. Ini terutama terdiri dari trigliserida asam palmitat stearat dan dan merupakan putih atau hampir putih massa atau bubuk yang meleleh yang jelas, cairan kuning pucat ketika dipanaskan. Praktis tidak larut dalam air, sangat sedikit larut dalam alkohol; bebas larut dalam diklorometana, dalam roh minyak setelah pemanas, dan toluena. Lindungi dari cahaya (Ph Eur. 6.2). Glisin adalah asam amino yang paling sederhana dan terdapat pada skleroprotein. Pada tahun 1820 Braconnot menemukan glisin dari hasil hidrolisis gelatin.

Lesitin Lesitin merupakan suatu protein yang dapat membentuk emulsi yang terbuat dari jaringan protein hewan (Kinsela, 1979). Sifat fungsional lesitin dapat membentuk film atau
8

lapisan tipis dan gel yang cukup baik selain fungsinya sebagai penstabil atau emulsifier. Fungsi lain lesitin lainnya adalah sebagai antioksidan (Winarno, 1988).

Carboxymetil selulosa (CMC) CMC (carboxymethyl cellulose) dapat berfungsi sebagai penguat dari dinding mikrokapsul. Bahan kimia seperti formaldehida, benzoat, flourida, senyawa sulfit dan borak dapat ditambahkan ke dalam bahan pangan berlemak dengan tujuan untuk mempertahankan atau menghambat pertumbuhan mikroba. Pemakaian antiseptik tersebut dalam bahan pangan perlu mendapat perhatian khusus karena dapat meracuni atau mempengaruhi metabolisme tubuh bahkan dapat menimbulkan kanker dari akulmulasinya (Bartkowiak, 2001). Gum Arab Gum arab yang tidak larut dalam minyak dan juga tidak larut pada pelarut organik memiliki sifat yang unik, larut dalam air pada konsentrasi 40 - 50 % (Gliksman,1969).

BAB III METODOLOGI

3.1 Mikroenkapsulasi Freeze-drying Ibuprofen


Sekitar 2% b/v larutan gelatin dalam air disiapkan terlebih dahulu dengan cara merendam gelatin dalam air sampai hidrasi lengkap. Gelatin yang terhidrasi diaduk menggunakan pengaduk sampai solusi yang jelas diperoleh. Bobot yang berbeda glisin dan sorbitol yang ditambahkan ke dalam larutan gelatin sambil diaduk sampai benar-benar dibubarkan. Glycine (digunakan untuk mencegah penyusutan tablet selama manufaktur) dan sorbitol (digunakan untuk menanamkan kristalinitas, kekerasan, dan elegan untuk tablet) adalah bahan terkenal dan diterima digunakan dalam menyiapkan tablet freeze-dry. Persentase eksipien digunakan dioptimalkan selama proses formulasi untuk menghasilkan tablet yang kuat dan elegan yang dapat dilakukan dengan mudah. Sejumlah serbuk ibuprofen (10% b / v) kemudian disebarkan di larutan gelatin, glisin, dan sorbitol. Salah satu suspensi yang dihasilkan dituangkan ke masing-masing kantong kemasan blister tablet untuk menghasilkan ibuprofen dosis 100 mg dalam setiap tabletnya. Setiap kemasan blister tablet, masing-masing berisi 10 tablet, kemudian dipindahkan ke freezer pada -22 C dan disimpan dalam freezer selama 24 jam. Tablet beku ditempatkan dalam lyophilizer selama 24 jam menggunakan Novalyphe-NL 500 Freeze Dryer (Savant Instrumen, Holbrook, NY) dengan suhu kondensor -52 C dan tekanan 7 10-2 mbar. Para LTs disimpan dalam desikator selama kalsium klorida (0% kelembaban relatif) pada suhu kamar sampai digunakan lebih lanjut. Empat kemasan blister berisi total 40 tablet diproduksi dalam menjalankan setiap. Delapan tablet dipilih secara acak (dua dari masing-masing pack) diuji untuk keseragaman kandungan obat. Isi obat rata-rata% ditemukan menjadi 94,1% 1,20.

3.2 Karakteristik Mikrokapsul Karakteristik mikrokapsul yang dilakukan uji meliputi pemeriksaan morfologi, distribusi ukuran partikel, kandungan ibuprofen dalam mikrokapsul, dan profil pelepasan ibuprofen dari mikrokapsul.

10

3.2.1 Morfologi Mikrokapsul Pemeriksaan morfologi mikrokapsul dan serbuk ibuprofen dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektron. Sampel mikrokapsul dan serbuk ibuprofen dilapisi "emas" sesuai dengan prosedur standar untuk pengukuran menggunakan mikroskop elektron.

3.2.2 Distribusi Ukuran Partikel Penentuan distribusi ukuran partikel delakukan dengan cara menggunakan pengayak bertingkat otomatis dengan menggunakan pengayak bertingkat otomatis dengan diameter lubang yang berbeda-beda (315, 400, 500, 680, dan 710 mikronmeter). Mikrokapsul dari tiap fraksi dikumpulkan dan ditimbang kemudian ditentukan presentase bobot tiap fraksi terhadap bobot total mikrokapsul yang diperoleh.

3.2.3 Uji Disolusi Ibuprofen dari Mikrokapsul Pengujian dilakukan dengan alat disolusi tipe 2 (dayung). Mikrokapsul yang setara dengan 100mg ibuprofen ditempatkan pada labu disolusi dalam medium simulasi cairan usus yaitu dapar fosfat pH 72 pada suhu 37oC dengan kecepatan putar 100rpm selama 24 jam pengamatan. Uji pelepasan juga dilakukan dalam medium simulasi cairan lambung, yaitu pada larutan HCl pH 1,2 selama 2 jam. Kadar ibuprofen diukur dengan sprektofotometer UV pada panjang gelombang max 223nm.

11

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Contoh-contoh Formulasi

Formula 1 Zat 10 Ibuprofen 10 10 2

Perbandingan dalam (%) b/v 3 4 Karakteristik

10 Pemerian : Sebuah hablur putih atau hampir menyerupai putih bubuk kristal memiliki bau yang sedikit khas. Praktis tidak larut dalam air; sangat larut dalam alkohol, dalam aseton, dalam kloroform, dan dalam metil alkohol, sedikit larut dalam etil asetat. Simpan dalam kedap udara

1 Gelatin

1,5

1,5

Pemerian : Gelatin praktis tidak larut dalam organik umum pelarut. Gelatin yang berbeda membentuk larutan air yang bervariasi dalam kejelasan dan warna.

12

Sebuah solusi 1% dalam air pada sekitar 55 memiliki pH 3,8-7,6. Melindungi dari panas dan kelembaban 1 Sorbitol 1 Sorbitol juga yang dikenal glusitol,

sebagai

adalah suatu gula alkohol yang dimetabolisme

lambat di dalam tubuh. Sorbitol diperoleh dari reduksi glukosa,

mengubah gugus aldehid menjadi gugus hidroksil, sehingga dinamakan gula alkohol. Parafin cair 10 Pemerian : Transparan, tidak berwarna, cairan kental, tidak berfluoresensi, tidak berasa dan tidak berbau ketika dingin dan berbau ketika dipanaskan. Kelarutan : Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air. Larut dalam jenis minyak lemak hangat.

Formaldehid

Pemerian : Cairan tidak berwarna, uap dapat mengeluarkan air mata, baunya sangat

13

merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Kelarutan : dapat dicampur dengan air dan dengan etanol (95 %). Glycine 1 1 1 Glisin adalah asam amino yang paling sederhana dan terdapat pada skleroprotein. Pada tahun 1820 Braconnot menemukan glisin dari hasil hidrolisis gelatin. CMC 10 CMC (carboxymethyl cellulose) dapat berfungsi sebagai penguat dari dinding mikrokapsul. Bahan kimia seperti formaldehida, benzoat, flourida, senyawa sulfit dan borak dapat ditambahkan ke dalam bahan pangan berlemak dengan tujuan untuk mempertahankan atau menghambat pertumbuhan mikroba. Gum Arab 3 Gum arab yang tidak larut dalam minyak dan juga tidak larut pada pelarut organik memiliki sifat yang unik, larut dalam air pada

14

konsentrasi 40 - 50 % (Gliksman,1969).

Lesitin

Lesitin merupakan suatu protein yang dapat

membentuk emulsi yang terbuat dari jaringan

protein hewan (Kinsela, 1979). Sifat fungsional lesitin dapat membentuk film atau lapisan tipis dan gel yang cukup baik

selain fungsinya sebagai penstabil atau emulsifier. Fungsi lain lesitin lainnya adalah antioksidan 1988). sebagai (Winarno,

Pada formulasi 1: Pada formulasi ini menggunakan sorbitol dengan glisin 1 : 1 yang dapat memberi kekuatan pada tablet dan memberikan bentuk yang baik serta memberi kesan elegan. Pada formulasi 2 : Pada formulasi ini gelatin dan gum arab akan bekerja bersama untuk mengemulsi si ibuprofen, yang kemudian menggunakan asam amino lesitin serta tambahan CMC. Pada formulasi 3 : Pada formulasi ini, mikrokapsul terbentuk karena emulsifikasi gelatin ketika memasuki fase organik. Penambahan formaldehid tersebut akan menyebabkan terjadinya pengerasan pada mikrokapsul karena terjadi reaksi antara formaldehid dan gelatin. Dari beberapa formulasi yang tersedia, formulasi kami adalah menurut kami yang terbaik karena akan membentuk tablet yang sangat baik dari formulasi lain, dengan gelatin 2% diharapkan dapat membentuk bentuk tablet yang baik dan elegan.
15

Kami menunjukkan bahwa mikroenkapsulasi ibuprofen terbuat dari bahan banyak digunakan, aman, eksipien larut dalam air adalah layak untuk meningkatkan kelarutan dan meningkatkan laju disolusi ibuprofen. Karena teknologi untuk skala produksi pembuatan sekarang tersedia, kami rasa bahwa formulasi yang kami kembangkan ini layak untuk memudahkan industrialisasi, up scaling, dan manufaktur. Hasil yang diperoleh dikaitkan dengan pembentukan amorf obat dalam matriks terliofilisasi berpori dan mungkin pengurangan dari ukuran partikel obat.

16

BAB V KESIMPULAN

Faktor yang mempengaruhi karakteristik mikrokapsul adalah seperti kecepatan pengadukan,perbandingan konsentrasi gelatin dengan ibuprofen dan waktu pengerasan mikrokapsul. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mikroenkapsulasi adalah antara lain sifat fisika-kimia bahan aktif dan tambahan, medium mikroenkapsulasi, metode mikroenkapsulasi sifat dan struktur dinding mikrokapsul dan kondisi dari penggunaan mikrokapsul. Hasil penelitian yang kami buat adalah mikrokapsul Ibuprofen freeze-dry. Pengeringan beku telah dikenal dan diakui sebagai metode pengeringan yang dapat memberikan mutu hasil pengeringan paling baik dibandingkan dengan metode pengeringan lainnya (Liapis dan Bruttini, 1995). Proses pengeringan beku terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap pembekuan, tahap pengeringan primer dan tahap pengeringan sekunder (Liapis dan Bruttini, 1995). Keunggulan produk hasil pengeringan beku antara lain adalah mempunyai struktur yang tidak mengkerut sehingga memungkinkan rehidrasi yang cepat, retensi flavor tinggi karena pengeringan berlangsung pada suhu rendah, daya hidup, dan rekonstitusi sel-sel hidup pada produk kering beku tetap tinggi. Ibuprofen memiliki waktu paruh biologis yang pendek yaitu lebih kurang dua jam sehingga perlu digunakan berulangkali dalam sehari. Dalam bentuk tablet, pada umumnya digunakan dengan dosis 200 mg sampai 800 mg, tiga sampai empat kali sehari. Hal ini yang menyebabkan ibuprofen sesuai untuk diformulasikan dalam sediaan lepas lambat

17

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi Keempat. Jakarta : Depkes RI. Ditjen POM.

Bakan JA dan JL Anderson. 1978. Micoencapsulation. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy 1978; 2nd edition; 384.

Liapis, A. I., and R. Bruttini. 1995. Freeze Drying, p. 309-343. In arun S. Mujumdar (ed). Handbook of Industrial Drying. Marcel Dekker. Inc. New York. Martindale. (2009). Martindale The Complete Drug Reference. - 36th Edition ed. Pharmaceutical Press.

Journal :

Mohammad M. N*, dkk. 2013. Formulation and Evaluation of a Flash Ibuprofen Emulsified Tablet Using Freeze-Drying Technique. Department of Pharmaceutics, College of Pharmacy, The University of Umm Al-Qura, Holy Mekkah. KSA.

Lannie Hadisoewignyo dan Achmad Fudholi. 2007. Studi pelepasan in vitro ibuprofen dari matriks xanthan gum yang dikombinasikan dengan suatu crosslinking agent.

Yogaswara Ghema. 2008. Mikroenkapsulasi Minyak Ikan Dari Hasil Samping Industri Penepungan Ikan Lemuru (Sardiniella Lemuru) Dengan Metode Pengeringan Beku (Freeze Drying.

18