Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi terhadap terhadap Sarcoptes scabei var. hominis dan produknya. Nama lain skabies adalah the itch, kudis, budukan dan gatal agogo (Handoko, R. P, 2007)

B. EPIDEMIOLOGI Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, anatara lain: higiene yang buruk, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik (Handoko, R. P, 2007). Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah endemik skabies adalah daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Kepulauan Karibia, India dan asia Tenggara (Binic, I, 2010 dan Walton, S.F. dan Currie B.J., 2007). Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit tungau skabies (Chosidow, O., 2006). Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, umur, maupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan kondisi hidup didaerah padat penghuni, sehingga penyakit ini lebih sering di daerah perkotaan (Walton, S.F. dan Currie B.J., 2007). Pada penelitian yang dilakukan di Brazil menunjukkan bahwa 8,8% penduduk di lingkungan kumuh dan 3,8% penduduk di lingkungan nelayan mengalami skabies. Faktor resiko meningkatnya angka kejadian scabies yang bermakna adalah umur kurang dari 15 tahun, jenis kelamin perempuan, dan tinggal pada daerah kumuh dan padat penduduk (Heukelbach, J., et al., 2005)

C. ETIOLOGI Sarcoptes scabiei merupakan Arthropoda yang masuk ke dalam kelas Arachnida, sub kelas Acari (Acarina), ordo Astigmata dan famili Sarcoptidae. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Adapun jenis Sarcoptes scabei var. animalis yang kadang-

kadang bisa menulari manusia terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti kambing dan babi (Handoko, R.P., 2007). Tungau S. scabiei berwarna putih krem dan berbentuk oval yang cembung pada bagian dorsal dan pipih pada bagian ventral. Tungau betina dewasa berukuran 300 - 500 x 230 - 340 m sedangkan yang jantan berukuran 213 285 x 160 - 210 m. Permukaan tubuhnya bersisik dan dilengkapi dengan kutikula serta banyak dijumpai garis-garis paralel yang berjalan transversal (Wardhana, A. H. et al., 2006). Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.

Gambar 2.1. Sarcoptes scabiei var. Hominis (a) betina dari dorsal, (b) jantan dari ventral sera skematis (Hadi, U.K., 2000)

D. CARA PENULARAN Penularan skabies pada manusia dapat melalui kontak langsung dengan penderita (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Penularan skabies pada manusia juga dapat secara tidak langsung melalui pakaian, handuk, sprai dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita. Jumlah rata-rata tungau pada awal infestasi adalah sekitar lima sampai sepuluh ekor. Tungau S. scabiei hidup dari sampel debu penderita, lantai, furniture dan tempat tidur. Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Sarcoptes scabei var. animalis yang kadang-kadang bisa menulari manusia, terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti anjing (Handoko, R.P., 2007).

E. PATOGENESIS Setelah terjadi perkawinan (kopulasi) biasanya tungau jantan akan mati, namun kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Setelah tungau betina dibuahi, tungau ini akan membentuk terowongan pada kulit sampai perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum dengan panjangnya 2-3 mm perhari serta bertelur sepanjang terowongan sampai sebanyak 2 atau 4 butir sampai sehari mencapai 40-50 butir. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva tersebut sebagian ada yang tetap tinggal dalam terowongan dan ada yang keluar dari permukaan kulit, kemudian setelah 2-3 hari masuk ke stadium nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Waktu yang diperlukan mulai dari telur menetas sampai menjadi dewasa sekitar 8-12 hari (Handoko, R.P., 2007 dan McCarthy, J.S. et al., 2004)

Gambar 2.2. Siklus hidup Sarcoptes scabei (Wiederkehr M. dan Schwart R.A., 2006)

F. MANIFESTASI KLINIS Ketika seseorang terinfestasi oleh scabies untuk yang pertama kalinya, gejala biasanya tidak nampak hingga mencapai 2 bulan kemudian (2-6 minggu) setelah terinfestasi, rata rata 3-4 minggu. Namun bagaimanapun, seseorang yang terinfestasi masih bisa

menyebarkan scabies ini kepada orang lain. Jika seseorang telah pernah menderita scabies sebelumnya, gejala akan muncul dengan segera (1-4 hari) setelah terekspos (Handoko R. P., 2007 dan McCarthy, J. S., et al., 2004). Seseorang yang terinfestasi scabies juga dapat menularkan penyakitnya, walaupun mereka tidak memiliki gejala lagi. Hal ini berlaku sampai scabies pada penderita tersebut diberantas beserta tungau dan telur-telurnya (Handoko, R.P., 2007) Diagnosis skabies dapat ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal sebagai berikut: (Handoko, R.P., 2007) 1. Pruritus nokturna Artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab. Gejala ini adalah yang sangat menonjol. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah (Handoko R. P., 2007). 2. Sekelompok Orang Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu juga dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier) bagi individu lain (Handoko R. P., 2007). 3. Terowongan (kanalikulus) Adanya terowongan (kanalikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder, ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain) (Handoko R. P., 2007).

Gambar 2.3. Kelainan kulit pada skabies (Los Angles Country Departement of Public Health, 2009) Umumnya tempat predileksi tungau adalah lapisan kulit yang tipis, seperti di sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipatan ketiak depan, pinggang, punggung, pusar, dada termasuk daerah sekitar alat kelamin pada pria dan daerah periareolar pada wanita. Telapak tangan, telapak kaki, wajah, leher dan kulit kepala adalah daerah yang sering terserang tungau pada bayi dan anak-anak (Handoko R. P., 2007 dan McCarthy, J. S., et al., 2004).

Gambar 2.4. Tempat predileksi skabies 4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik Apabila kita dapat menemuan terwongan yang masih utuh kemungkinan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa dan ini merupakan hal yang paling diagnostik.

Akan tetapi kriteria yang keempat ini agak susah ditemukan karena hampir sebagian besar pendeita pada umumnya datang dengan lesi variatif dan tidak spesifik (Handoko R. P., 2007)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk menemukan tungau dapat dilakukan dengan beberapa cara: (Handoko, R.P., 2007) 1. Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah sekitar papula yang lama maupun yang baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan KOH 10% kemudian ditutup dengan kaca penutup dan diperiksa di bawah mikroskop. Diagnosis scabies positif jika ditemukan tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran S. scabiei. 2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung pada kertas putih kemudian dilihat dengan kaca pembesar. 3. Dengan membuat biopsy irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau kemudian diperiksa dengan mikroskop cahaya. 4. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin. Tes tinta pada terowongan di dalam kulit dilakukan dengan cara menggosok papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula yang telah tertutup dengan tinta didiamkan selama dua puluh sampai tiga puluh menit, kemudian tinta diusap/ dihapus dengan kapas yang dibasahi alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag. Visualisasi terowongan dibuat tungai juga dapat dilihat menggunakan mineral oil atau flouresence tetracycline test (Wardhana, A. H., et al., 2006). Strategi lain untuk melakukan diagnosis scabies adalah videodermatoskopi, biopsi kulit dan mikroskopi epiluminesken. Videodermatoskopi dilakukan menggunakan sistem mikroskop video dengan pembesaran seribu kali dan memerlukan waktu sekitar lima menit. Umumnya metode ini masih dikonfirmasi dengan basil kerokan kulit. Pengujian menggunakan mikroskop epiluminesken dilakukan pada tingkat papilari dermis superfisial dan memerlukan waktu sekitar lima menit serta mempunyai angka positif palsu yang rendah. Kendati demikian, metode-metode diagnosis tersebut kurang diminati karena memerlukan peralatan yang mahal (Wardhana, A. H., et al., 2006).

H. DIAGNOSIS BANDING Penyakit skabies juga ada yang menyebutnya sebagai the great imitator karena dapat mencakup hampir semua dermatosis pruritik berbagai penyakit kulit dengan keluhan gatal. Adapun diagnosis banding yang biasanya mendekati adalah prurigo, pedikulosis corporis, dermatitis dan lain-lain (Handoko, R.P., 2007)

I. PENATALAKSANAAN Syarat obat yang ideal untuk scabies adalah: (Handoko, R.P., 2007) 1. Harus efektif terhadap semua stadium tungau 2. Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik 3. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaina 4. Mudah diperoleh dan harganya murah Cara pengobatannya ialah seluruh anggota badan harus diobati (termasuk penderita yang hiposensitisasi). Jenis obat topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah: (Handoko, R.P., 2007) 1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Preparatini tidak efektif terhadap stadium telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun. 2. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%) efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. 3. Gama Benzena Heksa klorida (gameksan=gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan wanita hamil, karena toksis terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian. 4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan, mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan anti gatal, dipakai selama 24 jam, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.

5.

Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik jika dibandingkan gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi selama seminggu. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 tahun. Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika, biasanya dengan ivermektin.

Untuk rasa gatal dapat diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika diantara anggota keluarga ada yang menderita skabies juga harus diobati. Karena sifatnya yang sangat mudah menular, maka apabila ada salah satu anggota keluarga terkena skabies, sebaiknya seluruh anggota keluarga tersebut juga harus menerima pengobatan. Pakaian, alat-alat tidur, dan lain-lain hendaknya dicuci dengan air panas (Hadi, U. K., 2000).

J. PENCEGAHAN Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan barang-barang penderita secara bersama-sama. Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air panas . Pakaian dan barang-barang asal kain dianjurkan untuk disetrika sebelum digunakan . Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari sekali . Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut) disarankan dimasukkan ke dalam kantung plastik selama tujuh hari, selanjutnya dicuci kering atau dijemur di bawah sinar matahari sambil dibolak batik minimal dua puluh menit sekali (Hadi, U. K., 2000). Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup S. scabiei. Umumnya, penderita masih merasakan gatal selama dua minggu pasca pengobatan. Kondisi ini diduga karena masih adanya reaksi hipersensitivitas yang berjalan relatif lambat. Apabila lebih dari dua minggu masih menunjukkan gejala yang sama, maka dianjurkan untuk kembali berobat karena kemungkinan telah terjadi resistensi atau berkurangnya khasiat obat tersebut. Kegagalan pengobatan pada skabies krustasi secara topikal diduga karena obat tidak mampu berpenetrasi ke dalam kulit akibat tebalnya kerak (Hadi, U. K., 2000).

K. KOMPLIKASI Erupsi dapat berbentuk limfangitis, impetigo, ektima, selulitis, folikulitis dan furunkel jika skabies dibiarkan tidak diobati selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada anak-anak sering terjadi glomerulonefritis Pemakaian anti skabies misalnya gamma benzena heksaklorida yang berlebihan dan terlalu sering dapat menimbukan dermatitis kontak iritan Terjadi iritasi dalam penggunaan benzyl benzoate sehari 2 kali terutama pada pemakian di genitalia pria Dapat timbul infeksisekunder sistemik yang memperberat perjalanan penyakit seperti pielonefritis, abses, internal, pneumonia piogenik dan septikemia.

L. PROGNOSIS Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, seta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain higienitas), maka penyakit ini dapat diberantas dan memiliki prognosis yang baik (Handoko, R.P., 2007)

DAFTAR PUSTAKA

Anonym,2008. Scabies. Online> Available from http://www.scribd.com/doc/2271687?Scabies. [Accesed 15 Maret 2012] Binic I. 2010. Crusted (Norwegian) Scabies Following Systemic and Topical Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25:88-91 Chosidow O. 2006. Scabies. New England J Med. 354:1718-1727 Hadi, U. K. 2000. Scabies in Indonesia. Faculty of Veterinary Medicine Bogor Agricultural University. Handoko, R. P. 2007. Skabies dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed. 5. Jakarta: FKUI. Los Angeles Country Departement of Public Health. 2009. Scabies Prevention and Control Guidelines Acute and Sub Acute Care Facilities. Los Angles: Departement of Public Health. McCarthy, J.S. et al. 2004. Scabies: More Than Just An Irritation. Postgrad Med J. 80:382-387 Walton SF dan Currie BJ. 2007. Problems in Diagnosing scabies, A Global Disease in Human and Animal Ppulations. Clin Microbiol Rev. 268-279 Wardhana, A. H., et al. 2006. Skabies: Tantangan Penyakit Zoonosis Masa Kini dan Masa Datang. Wartazoa. 16(1): 40-52 Wiederkehr M. dan Schwart R. A. http://www.emedicine.com/DERM/topc471.htm 2006. Scabies. Available at: