Anda di halaman 1dari 18

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI S-1 FARMASI

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI UJI AKTIFITAS OBAT ANTIDIARE PADA HEWAN PERCOBAAN KELINCI

PENYUSUN NURYANTI 10012030 BOGOR 2013

KATA PENGANTAR

Laporan ini disusun dalam rangka pemenuhan rangkaian penilaian Mata Kuliah praktikum farmakologi bagi mahasiswa Semester V Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor tahun ajaran 2012/2013. Garis besar laporan ini meliputi pendahuluan, pembahasan, simpulan dan daftar pustaka. Puji dan syukur penyusun panjatkan pada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat disusun. Pada kesempatan ini penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu demi tersusunnya laporan ini khususnya Bapak Sudrajat Sugiharta selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. Laporan yang penyusun susun ini tidaklah lepas dari kesalahan, mengingat kemampuan dan pengetahuan penyusun yang terbatas. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik pembaca yang dapat membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.

Bogor,27 Januari 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN .................................................................. A. Latar belakang ................................................................... B. Tujuan dan manfaat ............................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... A. Definisi diare ....................................................................... B. Klasifikasi diare .................................................................. C. Pengobatan diare ................................................................. BAB III ALAT,BAHAN dan METODE ............................................. A. Alat .................................................................................... B. Bahan ................................................................................. C. Metode ............................................................................... BAB IV HASIL ...................................................................................... BAB V PEMBAHASAN ...................................................................... i ii 1 1 2 3 3 4 5 8 8 8 8 10 11 13 iii iv

BAB VI KESIMPULAN ....................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. LAMPIRAN ...............................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Angka kejadian diare, penyakit yang ditandai perubahan konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Kepala Subdit Diare dan Kecacingan Departemen Kesehatan I Wayan Widaya di Jakarta, Kamis, mengatakan, angka kejadian diare Indonesia menurut survei morbiditas yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2003 berkisar antara 200-374 per 1000 penduduk. "Sedangkan pada balita, setiap balita rata-rata menderita diare satu sampai dua kali dalam satu tahun," katanya serta menambahkan bahwa tingkat kematian akibat diare pun masih cukup tinggi. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama 2006, kata Wayan, sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan, kata dia, sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian (Case Fatality Rate/CFR=2,5 persen). Hal tersebut, kata dia, utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih. Ia menyebutkan menurut laporan dari 119 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2004 air bersih yang memenuhi syarat kesehatan hanya 57,09 persen. Sementara persentase keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan baru sekitar 67,12 %. Lebih lanjut Wayan menjelaskan, guna menurunkan angka kejadian dan kematian akibat diare pihaknya memfokuskan strategi penanganan pada penatalaksanaan diare pada tingkat rumah tangga, sarana kesehatan dan KLB diare. Penatalaksanaan kasus diare yang tepat pada ketiga hal tersebut diharapkan dapat menurunkan fatalitas akibat penyakit. Selain itu, ia melanjutkan, dilakukan pula upaya pencegahan melalui promosi pemberian ASI

dan Makanan Pendampingan ASI, penggunaan air bersih, penggunaan jamban, cuci tangan dan pembuangan tinja pada tempat yang tepat. B. Tujuan Percobaan Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mengetahui sejauh mana aktivitas obat antidiare dapat menghambat diare yang disebabkan oleh oleum ricini pada hewan percobaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi diare Diare adalah Keadaan buang air besar dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lainnya6. Diare merupakan buang air besar (defekasi) dengan tinja, berbentuk cairan atau setengah cairan (setengah padat), dengan kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya, normalnya 100 200 ml per tinja. Buang air besar encer tersebut dapat atau tanpa disertai lendir dan darah5. Diare sebenarnya adalah proses fisiologis tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan mikroorganisme (virus, bakteri, parasit dan sebagainya) atau bahan- bahan makanan yang dapat merusak usus agar tidak menyebabkan kerusakan mukosa saluran cerna. Diare dikatakan meningkat ketika frekuensi meningkat dengan konsentrasi tinja lebih lembek dan cair,bersifat mendadak dan berlangsung selama 714 hari. Gejala diare pada umumnya yaitu : 1. Fase prodromal ( sindrom pradiare ) Antara lain : perut terasa penuh, mual,muntah,keringat dingin dan pusing. 2. Fase diare Antara lain : diare dengan segala akibatnya berlanjut dengan dehidrasi,asidosis,syok dengan atau tanpa pusing dan panas. 3. Fase penyembuhan Antara lain : diare semakin jarang, mulas berkurang,penderita merasa lemas atau lesu6.

Berdasarkan penyebabnya diare dapat dibedakan menjadi : 1. Diare karena virus misalnya influenza perut dan travellers diarrhoeayang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. 2. Diare karena bakteri Bakteri- bakteri tertentu pada keadaan tertentu, misalnya bahan makanan yang terinfeksi oleh banyak kuman, menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa. 3. Diare parasiter seperti protozoa Entamoeba histolytica, Giardia Lambia, Cryptosporidium,dan Cyclospora,yang terutama terjadi didaerah (sub) tropis. 4. Diare akibat enterotoksin Penyebabnya adalah kuman yang membentuk enterotoksin misalnya : E coli,Vibrio cholera kadang-kadang Shigella ,Salmonella, Champylobacter, E hystolitica. Toksin menempel pada mukosa dan merusaknya. B. Klasifikasi Diare1 Beberapa klasifikasi diare antara lain adalah : 1. Klasifikasi berdasarkan pada jenis infeksi gastroenteritis (diare dan muntah),diklasifikasikan menurut dua golongan: a. Diare infeksi spesifik: titis abdomen dan poratitus, disentri bani (Shigella) b. Diare non spesifik 2. Klasifikasi lain berdasarkan organ yang terkena infeksi a. Diare infeksi enternal atau diare karena infeksi di usus (bakteri, virus, parasit). b. Diare infeksi parenteral atau diare karena infeksi di luar usus (otitis,media, infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran urin, dan lainnya).

3. Klasifikasi diare berdasarkan lamanya diare a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak, dan bisa berlangsung terus selama beberapa hari. Diare ini disebabkan oleh karena infeksi usus sehingga dapat terjadi pada setiap umur dan bila menyerang umumnya disebut gastroenteritis infantile. b. Diare kronik merupakan diare yang berlangsung lebih dari dua minggu,sedangkan diare yang sifatnya menahun diantara diare akut dan diare kronik disebut diare sub akut6.

C. Pengobatan diare Tindakan pertama adalah mencegah dan mengatasi keadaan dehidrasi kehilangan cairan dan garam dengan : 1. Garam rehidrasi oral (ORS) terdiri dari campuran NaCl,KCL,Na sitrat dan glukosa dalam air matang (oralit,pedyalite). Glukosa menstimulasi secara aktif transfor Na dan air melalui dinding usus sehingga resorpsi air dalam usus halus meningkat. 2. ORS beras, tepung beras jagung,shorgum dan kentang sebagai pengganti glukosa. Tepung dicerna dalam usus menghasilkan glukosa 2x lebih banyak,mengurangi kuantitas tinja dan lamanya fase diare. Golongan obat yang sering digunakan pada diare adalah : 1. Kemoterapeutika Digunakan untuk terapi kausal (memberantas bakteri penyebab diare ) seperti antibiotic,sulfonamide,kinolon dan furazolidon. 2. Obstipansia Digunakan untuk terapi simtomatik yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara yaitu : a. Zat-zat penekan peristaltic : candu dan alkaloidnya,derivate petidin (difenoksilat dan loperamid) dan antikolinergik (atropine,extract belladon)

b. Adstringens : tannin,tanalbumin,garam bismuth dan alumunium berkhasiat menciutkan selaput lendir usus. c. Adsorbensia : carbo adsorbens,mucilagines,kaolin,pectin,garam bismuth permukaannya dapat menyerap zat beracun yang dihasilkan bakteri atau berasal dari makanan. Mucilagines dapat menutupi luka dengan lapisan pelindung. 3. Spasmolitik Adalah zat yang dapat melepaskan kejang otot yang sering menyebabkan nyeri perut pada penderita diare,contohnya : papaverin dan oksifenomium.

Oleum Ricini ( minyak kastor, minyak jarak) Minyak kastor diperas dari biji jarak (Rhicinus communis) dan mengandung trigliserida dari asam risinoleat, suatu asam lemak tak jenuh. Didalam usus halus, sebagian zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan menghasilkan asam risinoleat yang memiliki efek stimulasi terhadap usus halus. Setelah 2-8 jam timbul defekasi yang cair. Efek sampingnya berupa kolik, mual, dam muntah. Oleum ricini tidak boleh digunakan oleh wanita hamil. Dosis : dewasa 15-30 mL; anak-anak 4-15 ml.

Loperamid HCL

Gambar II.1 rumus bangun loperamid Hcl


Merupakan derivat defenoksilat dan haloperidol (suatu neuroleptikum). Khasiat obstipasinya 2-3 kali lebih kuat tanpa khasiat terhadap sistem saraf pusat, jadi tidak

menyebabkan adiksi, habituasi, dan toleransi. Mulai kerjanya cepat dan masa kerjanya panjang. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 4 jam sesudah minum obat. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh penghambatan motilitas

saluran cerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik1. Loperamid memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinalis usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Waktu paruh 7-14 jam1. Cara kerja : Loperamide memperlambat motilitas saluran cerna dan mempengaruhi pergerakan air dan elektrolit di usus besar.Menurunkan volum feses,meningkatkan viskositas dan kepadatan feses dan menghentikan kehilangan cairan elektrolit1. Efek samping : Tidak terjadi tapi pada anak-anak dibawah 2 tahun tidak boleh diberikan karena akan terjadi penekanan peristaltik usus kuat sehingga timbul konstipasi. Dosis: Diare akut, permulaan 2 tablet berisi 2 mg, lalu 2 jam 1 tablet sampai maksimum 8 tablet sehari. Anak-anak 2-8 tahun : 2-3 kali sehari 0,1 mg/kg BB. Anak-anak 8-12 tahun : pertama 2 mg, maksimal 8-12 mg sehari.

BAB III ALAT,BAHAN DAN METODE A. Alat 1. Sonde oral 2. Timbangan digital 3. Kertas saring B. Bahan 1. Kelinci 2. Larutan NaCl 3. Oleum ricini 4. Loperamid C. Metode 1. Disiapkan 2 ekor kelinci dan masing-masing diberikan tanda 2. Ditimbang masing-masing kelinci dan bobotnya dicatat 3. Kelinci dikelompokkan menjadi : a. Kelompok control : 1) Diberikan larutan NaCl secara PO sebanyak 20ml t=0 2) Diberikan oleum ricini secara PO sebanyak 10ml t = 60s b. Kelompok uji : 1) Diberikan loperamid 0,06mg/ml secara PO sebanyak 0,443ml t=0 2) Diberikan oleum ricini secara PO sebanyak 10ml t = 60s 4. Respon diamati selang 30 menit selama 4 jam 5. Parameter : a. Dimenit keberapa waktu muncul diare b. Frekuensi konsistensi diare

c. Konsistensi faeces 1) (-) = tidak ada faeces 2) (+) = faeces normal 3) (++) = faeces lembek 4) (+++) = faeces cair 6. Lama terjadinya diare dicatat 7. Bobot faeces yang berada dalam kertas saring ditimbang (kertas saring kering terlebih dulu ditimbang)

BAB IV HASIL A. Perhitungan konversi dosis Bobot kelinci uji : 285gram Loperamid 2mg/kgBB manusia Konversi : 2 x 0,07 = 0,14mg/1,5kgBB kelinci Volume pemberian PO : x 285 = 0,443ml

B. Pembuatan larutan stok loperamid HCL 0,06mg/ml Stok loperamid HCL : 2mg/tablet Cara pembuatan : 1tablet loperamid di gerus dan disuspensikan dengan NaCMC 1ml dan 1ml air,diambil 0,6ml dan di encerkan dengan air hingga 10ml. C. Tabel bobot kelinci dan volume pemberian obat Kelinci Bobot NaCl Loperamid (gram) (ml) (ml) 1 (control) 308 20 2 (uji) 285 0,443 Tabel IV.1. bobot kelinci dan volume obat

Ol ricini (ml) 10 10

D. Tabel pengamatan Waktu Control Konsistensi Urin Uji Konsistensi (gram) (gram) 30 60 0,01 + 90 0,1 + 120 0,1 + 0,2 + 150 0,2 + 180 + 3,2 ++ 210 0,7 ++ 240 0,4 ++ Tabel IV.2. data pengamatan afektifitas obat antidiare Keterangan : (+) faeces normal, (++) faeces lembek Waktu munculnya faeces : pada kelinci control 106 dan pada kelinci uji 36

urin -

10

BAB V PEMBAHASAN Percobaan kali ini bertujuan untuk menguji aktivitas obat anti diare dalam menghambat diare yang ditimbulkan oleh penginduksi oleum ricini, terhadap hewan percobaan. Pengamatan dilakukan terdapat diare yang dikeluarkan oleh kelinci. O b a t ya n g a k a n d i u j i a k t i f i t a s a n t i d i a r e n ya p a d a p e r c o b a a n k a l i i n i adalah Loperamid HCl. Diare adalah suatu keadaan dimana terjadi pengeluaran feses cair atau seperti bubur berulang. Oleum ricini merupakan zat penginduksi terjadinya diare yang m e n g a n d u n g trigliserida asam risinoleat yang dihidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas menjadi gliserin dan asam risinolat. Oleum ricini merupakan penstimulasi peristaltik usus. Obat antidiare yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah loperamid. Loperamid merupakan obat diare yang bekerja dengan mekanisme penghambatan peristaltik pada reseptor opiat yang digunakan pada diare akibat g a n g g u a n m o t i l i t a s . Pada kelinci control yang dilakukan pertama adalah pemberian NaCl secara per oral sebanyak 20ml,dan selang 60 menit baru di berikan oleum ricini sebanyak 10ml. Sedangkan pada kelinci uji yang dilakukan pertama adalah pemberian loperamid sebanyak 0,443ml secara per oral dan selang 60 menit diberikan oleum ricini sebanyak 10ml. Dari hasil pengamatan yang didapat kelinci control hanya

mengeluarkan faeces sebanyak 1x,sedangkan pada kelinci uji lebih dari 1x dengan konsistensi faeces yang awalnya keras biasa berubah menjadi lembek,hal ini tidak sesuai dengan teori yang berlaku bahwa seharusnya kelinci uji memberikan respon yang lebih banyak di bandingkan dengan kelinci kontrol. Kelinci yang akan dilakukan pengujian seharusnya dipuasakan terlebih dahulu,namun pada praktikum ini kelinci uji langsung di beli dari supplier sehingga prosedur yang seharusnya di jalankan tidak

11

12

kita lakukan,kelinci uji ini kemungkinan terlalu banyak atau sering di berikan makanan sehingga faeces yang dia keluarkan lebih banyak dan terjadi secara terus menerus dimulai dari menit ke 36 setelah pemberian oleum ricini. Sedang pada kelinci control dia sama sekali tidak memberikan respon yang signifikan,hanya mengeluarkan faeces 1x dalam konsistensi yang normal pada menit ke 106 karena kelinci control tersebut sudah dipuasakan sehingga kemungkinan besar sisa makanan yang ada di dalam perutnya sudah tidak ada.

BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan data yang sudah diperoleh dapat disimpulkan bahwa Oleum Ricini dapat menyebabkan diare dengan cara menstimulasi peristaltik usus. Loperamid Hcl yang seharusnya bersifat sebagai antidiare dalam percobaan ini tidak terbukti mengurangi peristaltic usus yang disebabkan oleh pemberian oleum ricini sehingga frekuensi defekasi pada kelinci uji tidak berkurang.

13

BAB VII DAFTAR PUSTAKA 1. Ansel, Howard C.2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Edisi Keempat. Jakarta: University of Indonesia Press.Ditjen POM, 1995. 2. Farmakope Indonesia, ed. 4, Depkes RI, 896. 3. Guyton, A.C., 1990,Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, terjemahan P.Andrianto, ed 3. Jakarta: BCG. 4. Katzung,B.G.2002.Farmakologi Dasar dan Klinik. Buku 2, Edisi VIII . Jakarta : Penerbit Salemba Medika. 5. Muscthler, E., 1991. Dinamika Obat. terjemahan M. B. Widianto dan A. S. Ranti,Bandung: ITB. 6. T j a y , T a n H o a n dan Kirana Rahardja.2007.Obat-Obat

P e n t i n g : K h a s i a t , Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi Keenam, Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

iii

LAMPIRAN

iv