Anda di halaman 1dari 4

ANISOMETROPIA Definisi Isometropia merupakan keadaan dimana kedua mata memiliki kekuatan refraksi yang sama.

Anisometropia merupakan salah satu gangguan penglihatan, yaitu suatu keadaan dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi. Anisometropria dengan perbedaan antara kedua mata lebih dari atau sama dengan 2,5 dioptri akan menyebabkan perbedaan bayangan sebesar 5% atau lebih. Perbedaan bayangan antara kedua mata sebesar 5% atau lebih pada umumnya akan menimbulkan gejala aniseikonia. Etiologi 1. Kongenital dan anisometropia karena pertumbuhan, yaitu muncul disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan dari kedua bola mata 2. Anisometropia didapat, yaitu mungkin disebabkan oleh aphakia uniokular setelah pengangkatan lensa pada katarak atau disebabkan oleh implantasi lensa intra okuler dengan kekuatan yang salah Anisometropia dapat terjadi apabila: 1. mata yang satu hipermetropia sedangkan yang lain miopia (antimetropia) 2. mata yang satu hipermetropia atau miopia atau astagmatisma sedangkan yang lain emetropia 3. mata yang satu hipermetropia dan yang lain juga hipermetropia, dengan derajat refraksi yang tidak sama 4. mata yang satu miopia dan yang lain juga miopia dengan derajat refraksi yang tidak sama 5. mata yang satu astigmatisma dan yang lain juga astigmatisma dengan derajat yang tidak sama Klasifikasi Anisometropia 1. Simple anisometropia: dimana refraksi satu mata adalah normal (emetropia) dan mata yang lainnya miopia (simple miopia anisometropia) atau hipermetropia (simple miopia anisometropia). 2. Coumpound anisometropia: dimana pada kedua mata hipermetropia (coumpound hipermetropic anisometropia) atau miopia (coumpound miopia anisometropia), tetapi sebelah mata memiliki gangguan refraksi lebih tinggi dari pada mata yang satunya lagi. 3. Mixed anisometropia: dimana satu mata adalah miopia dan yang satu lagi hipermetropia, ini juga disebut antimetropia. 4. Simple astigmmatic anisometropia: dimana satu mata normal dan yang lainnya baik simple miopia atau hipermetropi astigamatisma. 5. Coumpound astigmatismatic anisometropia: dimana kedua mata merupakan astigmatism tetapi berbeda derajatnya. Sloane membagi anisometropia menjadi 3 tingkat yaitu: 1. anisometropia kecil, beda refraksi lebih kecil dari 1,5 D 2. anisometropia sedang, beda refraksi antara 1,5-2,5 D 3. anisometropia besar, beda refraksi lebih besar dari 2,5 D

Gejala Anisometropia Gejala anisometropia sangat bervariasi. Menurut Friedenwald gejala anisometropia muncul apabila terdapat perbedaan bayangan yang diterima pada kedua retina (aniseikonia). Gejala anisometropia pada umumnya sakit kepala, pada kedua mata merasa tidak enak, panas, tegang. Gejala yang spesifik pada anisometropia yaitu pusing, mual-mual, kadangkadang melihat ganda, kesulitan memperkirakan jarak suatu benda, melihat lantai yang bergelombang. Kelainan Klinik akibat Anisometropia 1) akibat perbedaan visus Adanya perbedaan visus kedua mata berakibat gangguan fusi, sehingga orang tersebut akan menggunakan mata yang lebih baik, sedangkan mata yang kurang visusnya akan disupresi. Apabila keadaan ini dibiarkan maka akan dapat terjadi strabismus, dan apabila terjadi pada anak-anak yang masih mengalami perkembangan visus binokular, dapat mengakibatkan ambliopia. 2) akibat perbedaan bayangan Perbedaan bayangan meliputi perbedaan ukuran dan bentuk. Adanya perbedaan bayangan disebut aniseikonia. Pada aniseikonia selalu terjadi gangguan penglihatan binokular. Gangguan penglihatan binokular ini diakibatkan oleh ketidaksamaan rangsangan untuk penglihatan stereoskopik. Secara klinik praktis aniseikonia yang terjadi akibat anisometropia dapat diketahui dari kelainan distorsi dan kelainan stereoskopik yang muncul. Aniseikonia Aniseikonia adalah suatu kelainan penglihatan binokuler dimana bayangan yang terbentuk tidak sama ukuran, bentuk atau keduanya.15 Aniseikonia fisiologis adalah aniseikonia dengan perbedaan besarnya bayangan antara mata yang satu dengan yang lain, masih jatuh pada Panum fusional area. Pada aniseikonia fisiologis belum muncul gejala dan tanda dari gangguan penglihatan binokular. Aniseikonia abnormal (aniseikonia klinik) yang pada akhirnya disebut sebagai aniseikonia. Pada aniseikonia klinik ini terdapat perbedaan bayangan yang diterima oleh kedua mata, sehingga timbul gejala aniseikonia. Gejala aniseikonia pada umumnya diakibatkan oleh karena terganggunya penglihatan binokular yang berupa gangguan steroskopik, distorsi, proses selanjutnya dapat terjadi gangguan fusi yang berupa diplopia yang dapat berlanjut terjadi supresi pada mata yang visusnya kurang baik bahkan akan mengakibatkan ambliopia. Disamping terjadinya ambliopia, supresi dapat mengakibatkan deviasi bola mata atau strabismus.10,15 Sebagian besar penyebab aniseikonia adalah anisometropia. Penyebab lainnya yaitu tersebarnya sel-sel fotoreseptor yang tidak merata pada retina (misal pada miopia degenerative), gangguan fungsi pusat penerimaan pada akhir dari bayangan pada korteks serebri (misal pada epilepsi parsial somato sensori).14,15 Beberapa pemeriksaan aniseikonia antara lain: Pemeriksaan tes aniseikonia (menurut sidarta ilyas) Untuk menilai perbedaan bayangan pada mata kanan dan mata kiri. Penderita dengan penglihatan binokular normal akan dapat membedakan ukuran benda bila bayangan berbeda 0,25% sampai 0,50% Metode pemeriksaan:

Pemeriksa berdiri 2 meter di depan penderita Pemeriksa membentangkan tangannya ke samping Penderita menentukan perbandingan panjang tangan pemeriksaan Pemeriksa memajukan tangannya kedepan dengan jari terbuka Penderita kembali menentukan perbandingan panjang tangan pemeriksa Bila ada aniseikonia horizontal maka tangan pada kedudukan pertama terlihat lebih pendek dan tangan pada kedudukan kedua lebih panjang Pemeriksaan stereopsis dengan menggunakan tes lang two pencil Merupakan suatu uji untuk stereopsis. Pemeriksa memegang pensil vertikal di depan pasien, pasien diminta untuk memegang pensil lain menyentuhkan ujungnya ke ujung pensil pemeriksa, menyentuhkannya dari atas dan dilakukannya dengan cepat, pengujian dikerjakan beberapa kali. Pada pengujian dengan kedua mata terbuka, pasien dapat melakukan tugasnya dengan baik, tetapi apabila salah satu mata ditutup, maka pasien tidak dapat melakukan pengujian tersebut dengan baik. Hal ini menunjukkan adanya steropsis dalam keadaan binokular secara kasar. Pemeriksaan Distorsi Penderita disuruh berjalan dan melihat kebawah dengan menggunakan penglihatan binokular dengan kacamata yang sudah dilakukan koreksi refraksi subjektif monokuler. Apabila penderita merasakan tidak enak menggunakan ukuran kacamatanya atau merasakan pusing maka berarti distorsi (+), apabila setelah dilakukan pengurangan kekuatanlensa secara bertahap dan kacamatanya dirasakan nyaman (tidak pusing) maka distorsi (-). Pemeriksaan Eikonometer Standar Eikonometer standar adalah alat khusus yang dirancang untuk mengukur aniseikonia. Penderita memakai filter floroid didepan matanya untuk melihat proyektor dengan target yang memiliki elemen-elemen tertentu yang terpolarisasi sehingga antara mata yang satu dengan mata yang lain dapat melihat target yang berbeda secara bersamaan. Dengan alat ini dapat diukur aniseikonia vertikal maupun horizontal. Diagnosis Anisometropia Diagnosis anisometropia dapat dibuat setelah pemeriksaan retinoskopi pada pasien yang penglihatannya berkurang.12 Pada pemeriksaan retinoskopi dinilai refleks fundus dan dengan ini bisa diketahui apakah seseorang menderita hipermetropia, miopia atau astigmatisma. Kemudian baru ditentukan berapakah perbedaan kekuatan refraksi antara kedua bola mata dan ditentukan besar kecilnya derajat anisometropia. Penatalaksanaan Anisometropia merupakan salah satu gangguan penglihatan, yaitu suatu keadaan dimana kedua mata terdapat perbedaan kekuatan refraksi, sehingga penatalaksanaan anisometropia adalah memperbaiki kekuatan refraksi kedua mata. Adapun beberapa penatalaksanan baik menggunakan alat maupun tindakan, yaitu: 1. Kaca mata. Kacamata koreksi bisa mentoleransi sampai maksimum perbedaan refraksi kedua mata 4D. lebih dari 4D koreksi dengan menggunakan kacamata dapat menyebabkan munculnya diplopia. 2. Lensa kontak. Lensa kontak disarankan untuk digunakan untuk anisometropia yang tingkatnya lebih berat.

3. 4. a) b)

Kacamata aniseikonia. Hasil kliniknya sering mengecewakan. Modalitas lainnya dari pengobatan, termasuk diantaranya: Implantasi lensa intraokuler untuk aphakia uniokuler Refractive cornea surgery untuk miopia unilateral yang tinggi, astigmata, dan hipermetropia c) Pengangkatan dari lensa kristal jernih untuk miopia unilateral yang sangat tinggi (operasi fucala) Komplikasi Komplikasi pertama yang muncul akibat anisometropia adalah diplopia, ambliopia dan strabismus sebagai kompensasi mata terhadap perbedaan kekuatan refraksi kedua mata dan yang paling ditakuti adalah kebutaan monokular