Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum bisa dimusnahkan. Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap tahunnya, dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan ndonesia adalah negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak di dunia, setelah Cina dan ndia. !ulitnya memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri "ycobacterium tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. #iantaranya adalah munculnya bakteri yang resisten terhadap obat yang digunakan. $arena itu, upaya penemuan obat baru terus dilakukan.% Berbagai kemajuan telah dicapai, antara lain program #&T! dimana ndonesia hampir mencapai target '()*+, artinya sedikitnya *+, diantaranya berhasil disembuhkan. #i ndonesia juga diperkenalkan beberapa program seperti -#. (-ospital #&T! .inkage) yang melakukan program #&T! di /!, 000 (public pri1ate partnership) atau 00" (public pri1ate mi2) yang melibatkan sektor pri1ate dalam penanggulangan TB di negara kita, juga akan dilakukan program #&T! plus untuk menangani "#/ TB.2 !ekitar * juta kasus baru terjadi setiap tahun di seluruh dunia dan diperkirakan sepertiga penduduk dunia terinfeksi "ycobacterium tuberculosis secara laten. $emampuan untuk mendeteksi secara akurat infeksi ". Tuberculosis menjadi sangat penting untuk mengendalikan epidemi tersebut. Cara yang cepat untuk mendeteksi infeksi ". Tuberculosis akan membantu mempercepat diagnosis dini pada pasien yang secara klinis tersangka tuberkulosis dan segera diikuti penatalaksanaa yang tepat. 0emeriksaa in 1itro saat ini telah diteliti sebagai alternatif terhadap uji tuberkulin berupa pemeriksaan interferon gamma ( 345).2 !etelah ditemukan basil TB, /obert $och mengambil konsentrat steril dari biakan cair yang sudah mati disebut dengan nama tuberculin. 6ji tuberkulin adalah salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis infeksi TB. ni sering digunakan untuk skrining indi1idu dari infeksi laten dan menilai rata5rata

infeksi TB pada populasi tertentu. 6ji tuberkulin dilakukan untuk melihat kekebalan seseorang terhadap basil TB, sehingga sangat baik untuk mendeteksi infeksi TB. Tetapi uji tuberkulin ini tidak dapat untuk menentukan ".tb tersebut aktif atau tidak aktif (latent). &leh sebab itu harus dikonfirmasi dengan ada tidaknya gejala dan lesi pada foto thorak untuk mengetahui seseorang tersebut terdapat infeksi TB atau sakit TB.7

B. Tujuan Penulisan I. "emahami dan mempelajari lebih dalam tentang pengertian, etiologi, epidemiologi, patogenesis, komplikasi, penegakan diagnosis, terapi dan pencegahan 0$TB. II. "engetahui dan memahami uji tuberkulin sebagai salah satu pemeriksaan pada tuberculosis, beserta imunologi, cara pembacaan dan pembacaan, serta interpretasi uji tuberkulin. III. "emenuhi sebagian tugas untuk program pendidikan profesi di bagian lmu $esehatan 8nak, /!6# $&T8"8#98 !8.8T :8.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. TUBERCUL SIS


A. DE!INISI 0enyakit Tuberkulosis; adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB ("ycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang 0aru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. nfeksi TB; infeksi pada orang yang terpapar "ycobacterium tuberculosis tanpa adanya gejala penyakit, juga disebut infeksi laten TB. 6mumnya didiagnosis dengan tes tuberkulin kulit. 0enyakit TB; infeksi TB dengan gejala penyakit, juga disebut sebagai TB aktif. < B. EPIDE"I L #I Tuberkulosis, terutama TB paru, merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju. "enurut perkiraan =-& tahun %>>(, jumlah kasus TB baru di ndonesia adalah +*7.((( orang per tahun dan menyebabkan kematian anak dan orang de?asa. $ematian akibat TB lebih banyak daripada kematian akibat malaria dan 8 #!. Jumlaj seluruh kasus TB anak dari ' /umah !akit 0usat 0endidikan di ndonesia selama + tahun (%>>*5 2((2) adalah %(*@ penderita TB dengan angka kematian yang ber1ariasi dari (,5 %<,%,. $elompok usia terbanyak adalah %25@( bulan (<2,>,) sedangkan untuk bayi kurang dari %2 bulan didapatkan %@,+,.+,@ $uman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pe?arnaan. &leh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan 8sam (BT8), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. #alam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.%

Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi TB maupun timbulnya penyakit TB pada anak. 3aktor5faktor tersebut dibagi menjadi faktor risiko infeksi dan faktor risiko progresi infeksi menjadi penyakit (risiko penyakit).+,@ %. /isiko nfeksi TB 3aktor risiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah sebagai berikut ; anak yang memiliki kontak dengan orang de?asa dengan TB aktif, daerah endemis, penggunaan obat intra1ena, kemiskinan, serta lingkungan yang tidak sehat (tempat penampungan atau panti pera?atan). 3aktor risiko yang terpenting adalah pajanan terhadap orang de?asa yang infeksius. 0asien TB anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang de?asa di sekitarnya. -al ini disebabkan karena kuman TB sangat jarang ditemukan dalam sekret endobrokial, dan jarang terdapat batuk.',* 2. /isiko 0enyakit TB &rang yang telah terinfeksi TB, tidak selalu akan mengalami sakit TB. Berikut ini adalah faktor5faktor yang dapat menyebabkan progresi infeksi TB menjadi sakit TB.',* 3aktor risiko yang pertama adalah usia. 8nak A+ tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi infeksi menjadi sakit TB, mungkin karena imunitas selularnya belum berkembang sempurna (imatur). 4amun, risiko sakit TB ini akan berkurang secara bertahap seiring pertambahan usia. 3aktor risiko yang lain adalah kon1ersi tes tuberkulin dalam %52 tahun terakhir, malnutrisi, keadaan imunokompromais (misalnya pada infeksi - B, keganasan, transplantasi organ, pengobatan imunosupresi), diabetes melitus, gagal ginjal kronik, dan silikosis. 3aktor yang tidak kalah penting pada epidemiologi TB adalah status sosioekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan hunian, pengangguran, dan pendidikan yang rendah. ',*,> C. PAT #ENESIS nfeksi 0rimer nfeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. #roplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat mele?ati sistem

<

pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di al1eolus dan menetap disana. nfeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan memba?a kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. =aktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah <5@ minggu. >,%(,%% 8danya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. $elanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). 0ada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. "eskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). $adang5kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis.%2 Tuberkulosis 0asca 0rimer (0ost 0rimary TB) ; Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi - B atau status giCi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya ka1itas atau efusi pleura.% 0erjalanan 8lamiah TB yang Tidak #iobati Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, +( , dari penderita TB akan meninggal, 2+ , akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 2+ , sebagai kasus kronik yang tetap menular (=-& %>>@). %2,%7 D. DIA#N SIS #iagnosis pasti TB ditegakkan dengan ditemukannya ". Tuberculosis pada pemeriksaan sputum atau bilasan lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura, atau pada biopsi jaringan. 0ada anak, kesulitan menegakkan diagnosis pasti disebabkan oleh 2 hal, yaitu sedikitnya jumlah kuman (paucibacillary) dan sulitnya pengambilan spesimen (sputum). Jumlah kuman TB di sekret bronkus pasien anak lebih sedikit daripada de?asa karena lokasi kerusakan jaringan TB

paru primer terletak di kelenjar limfe halus dan parenkim paru bagian perifer. !elain itu, tingkat kerusakan parenkim paru tidak seberat pada de?asa. $uman BT8 baru dapat dilihat dengan mikroskop bila jumlahnya paling sedikit +.((( kuman dalam % ml dahak. %2,%7,%< $esulitan kedua, pengambilan specimen)sputum sulit dilakukan. 0ada anak, ?alaupun batuknya berdahak, biasanya dahak akan ditelan sehingga diperlukan bilasan lambung yang diambil melalui nasogastrik tube (4:T) dan harus dilakukan oleh petugas berpengalaman. Cara ini tidak menyenangkan bagi pasien. #ahak yang representati1e untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis adalah dahak yang kental dan purulen, ber?arna hijau kekuningan dengan 1olume 75+ ml. %2 $arena berbagai alasan di atas, diagnosis TB anak bergantung pada penemuan klinis dan radiologis, yang keduanya sering kali tidak spesifik. $adang5 kadang, TB anak ditemukan karena ditemukannya TB de?asa di sekitarnya. #iagnosis TB anak ditentukan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang seperti uji tuberkulin, pemeriksaan laboratorium, dan foto rontgen dada. 8danya ri?ayat kontak dengan pasien TB de?asa BT8 positif, uji tuberkulin positif, dan foto paru yang mengarah pada TB (sugestif TB) merupakan bukti kuat yang menyatakan anak telah sakit TB. %< E. "ANI!ESTASI KLINIK $arena patogenesis TB sangat kompleks, manifestasi klinis TB sangat ber1ariasi dan bergantung pada beberapa factor. 3aktor yang berperan adalah kuman TB, pejamu, serta interaksi antara keduanya. 3aktor kuman bergantung pada jumlah kuman dan 1irulensi, sedangkan factor pejamu bergantung pada usia dan kompetensi imun serta kerentanan pejamu pada a?al terjadinya infeksi. 8nak kecil seringkali menunjukkan gejala ?alaupun pada foto roentgen sudah tampak pembesaran kelenjar hilus.%@,%' "ani$estasi Siste%ik !ebagian besar anak dengan TB tidak memperlihatkan gejala dan tanda selama beberapa ?aktu. !esuai dengan sifat kuman TB yang lambat membelah, manifestasi klinis TB umumnya berlangsung bertahap dan perlahan, kecuali TB

diseminata yang dapat berlangsung dengan cepat dan progresif. !eringkali, orangtua tidak dapat menyebutkan secara pasti kapan berbagai gejala dan tanda klinis tersebut mulai timbul. Tuberkulosis yang mengenai organ manapun dapat memberikan gejala dan tanda klinik yang tidak khas, terkait dengan organ yang terkena. $eluhan sistemik ini diduga berkaitan dengan peningkatan tumour necrosis factor (T43 ).%7 0ada sebagian kasus TB paru pada anak, tidak ada manifestasi respiratorik yang menonjol. Batuk kronik merupakan gejala tersering pada TB paru de?asa, sedangkan pada anak, gejala batuk kronik lebih sering disebabkan oleh asma. 3okus primer TB paru pada anak umumnya terdapat di daerah parenkim yang tidak mempunyai reseptor batuk. :ejala batuk kronik pada TB anak dapat timbul bila limfadenitis regional menekan bronkus sehingga merangsang reseptor batuk secara kronik. Batuk berulang dapat timbul karena anak dengan TB mengalami penurunan imunitas tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi respiratorik akut ( /8) berulang. :ejala sesak nafas jarang dijumpai,kecuali pada keadaan sakit berat yang berlangsung akut, misalnya pada TB milier dan efusi pleura.%2 !ecara ringkas, gejala umum atau nonspesifik pada TB anak adalah sebagai berikut;+ %. 2. 7. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam % bulan dengan penanganan giCi 4afsu makan tidak ada dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik dengan adekuat (failure to thri1e) #emam lama (D2 minggu) dan ) berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria dan lain5lain), yang dapat disertai keringat malam. #emam pada umumnya tidak tinggi. <. +. @. 0embesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multipel. Batuk lama lebih dari 7 minggu, dan sebab lain telah disingkirkan. #iare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.

"ani$estasi S&esi$ik

'

"anifestasi klinis yang spesifik bergantung pada organ yang terkena, misalnya kelenjar limfe, susunan saraf pusat, tulang, dan kulit. :ejala spesifik sesuai organ yang terkena adalah sebagai berikut ; %. TB kelenjar $elenjar limfe superfisialis TB sering dijumpai, kelenjar yang sering terkena adalah kelenjar limfe kolli anterior atau posterior, juga dapat terjadi di aksila, inguinal, submandibula, dan suprakla1ikula. !ecara klinis, kelenjar yang terkena biasanya multipel,unilateral, tidak nyeri tekan, tidak panas pada perabaan, dan dapat saling melekat (confluence) satu sama lain. 0erlekatan ini terjadi akibat adanya inflamasi pada kapsul kelenjar limfe.< 2. TB otak dan saraf 5 "eningitis TB. "eningitis TB terjadi akibat penyebaran langsung kuman TB ke jaringan selaput saraf pada tipe penyebaran acute generaliCed hematogenic. =alaupun jarang, meningitis TB dapat juga terjadi pada protacted hematogenic spread akibat pecahnya suatu fokus TB lama ke dalam saluran 1askular. "ekanisme lain adalah pecahnya fokus lama di selaput meningeal yang terbentuk pada masa occult hematogenic spread ke dalam ruang subarakhnoid, yang merupakan bentuk lain reakti1asi TB. 0roses patologi biasanya terbatas di basal otak. :ejala biasanya berhubungan dengan gangguan saraf kranial, nyeri kepala, penurunan kesadaran, kaku kuduk, dan kejang.%7 5 Tuberkuloma otak Bentuk TB saraf pusat yang lain adalah tuberkuloma, yang manifestasi klinisnya lebih samar daripada meningitis TB. "anifestasi klinisnya sesuai dengan lesi fokal otak (proses desak ruang) yang tumbuh secara lambat, misalnya nyeri kepala, muntah.< 7. TB tulang dan sendi 5 5 Tulang punggung (spondilitis); gibbus Tulang panggul (koksitis); pincang

5 5 5

Tulang lutut (gonitis); pincang dan) bengkak Tulang kaki dan tangan !pina 1entosa (daktilitis)

#engan gejala berupa pembengkakan sendi, gibbus, pincang, lumpuh, sulit membungkuk. <. +. TB kulit ; skrofuloderma TB mata 5 5 @. konjungti1itis fliktenularis Tuberkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)

TB organ5organ lainnya, misalnya peritonitis TB, TB ginjal, dll.

!. PE"ERIKSAAN PENUNJAN# 1. Uji tu'erkulin (. Ra)i*l*gi1+ TB lebih dari >+, terjadi di parenkim paru, hingga foto toraks posteroanterior dan lateral selalu dilakukan. :ambaran rontgen paru pada TB tidak khas. !ecara umum gambaran radiologis yang sugestif TB adalah sebagai berikut ; 0embesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan)tanpa infiltrat $onsolidasi segmental)lobar "ilier $alsifikasi 8telektasis $a1itas Efusi pleura 0ada anak, terutama anak kecil, sulit mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan basil TB. $arena sulitnya, maka dicari pemeriksaan alternatif yang mudah pelaksanaanya yaitu pemeriksaan serologi (imunitas humoral). 4amun sampai saat ini belum ada satupun pemeriksaan serologis yang dapat memenuhi

,. Ser*l*gis1-

>

harapan tersebut. 9ang akhir5akhir ini diteliti adalah deteksi anti5interferon5 gamma autoantibody. 0emeriksaan in 1itro ini a?alnya diteliti di peternakan sapi, berdasarkan inkubasi darah dengan purified protein deri1ate selanjutnya dilakukan pemeriksaan imunologi 34g yang dilepaskan sel T sebagai reaksi terhadap 00#. Black meneliti hubungan antara kadar 34g dalam darah dengan hasil uji tuberkulin pada ++< orang sehat. Terdapat hubungan yang kuat (pF(,((%) antara median 34g dengan respon #T-. Baku emas untuk infeksi TB laten belum ada maka sulit untuk menilai secara langsung apakah uji yang baru lebih baik daripada uji tuberkulin. .. Pat*l*gi Anat*%ik1+ 0emeriksaan patologi anatomik dapat menunjukkan gambaran granuloma yang ukurannya kecil, terbentuk dari agregasi sel epitelod yang dikelilingi oleh limfosit. :ranuloma tersebut mempunyai karakteristik perkejuan atau rea nekrosis atau kaseosa di tengah granuloma. :ambaran khas lainnya adalah ditemukannya multinucleated giant cell. #iagnostik histopatologik dapat ditegakkan dengan menemukan perkejuan, sel epiteloid, limfosit dan sel datia langhans. !pesimen yang paling mudah dan paling sering ditemukan adalah limfadenopati kolli, dengan pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus. 0emeriksaan ini mempunyai perancu yaitu infeksi ". 8tipik dan limfadenopati BC: yang secara histopatologis sulit dibedakan dengan TB. /. Bakteri*l*gis1+ 0emeriksaan mikrobiologis yang dilakukan terdiri dari 2 macam yaitu pemeriksaan mikroskopis hapusan langsung untuk menemukan BT8 dan pemeriksaan biakan ".tuberculosis. 0emeriksaan tersebut pada anak sukar dilakukan karena sulitnya mendapat spesimen, sehingga biasanya dilakukan bilas lambung 7 hari berturut5turut. -asil pemeriksaan mikroskopis pada anak sebagian besar negatif. !edangkan hasil biakan ".tuberculosis memerlukan ?aktu yang lama sekitar @5* minggu. !aat ini ada pemeriksaan biakan yang hasilnya bisa diperoleh lebih cepat (%57 minggu), yaitu pemeriksaan Bactec, tetapi biayanya mahal dan secara tehnologi lebih rumit. Penegakan Diagn*sis (,

%(

0ada uraian di atas terlihat bah?a tidak ada satupun data klinis maupun penunjang selain pemeriksaan bakteriologis yang dapat memastikan diagnosis TB. &leh karena itu, dalam penegakan diagnosis TB perlu analisis kritis terhadap sebanyak mungkin fakta. $arena sulitnya menegakkan TB pada anak, banyak usaha membuat pedoman diagnosis dengan sistem skoring dan alur diagnostik. "isalnya pedoman yang dibuat oleh =-&, !tegen and Jones, dan 6$$ 0ulmonologi 00 #8 .+ 6ntuk mendiagnosis TB di sarna yang memadai, sistem skoring digunakan sebagai uji tapis. !etelah itu dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti bilasan lambung (BT8 dan kultur ", tuberculosis), patologi anatomik,pungsi pleura,pungsi lumbal, CT5!can, funduskopi, serta foto rontgen tulang dan sendi.@ Ta'el 1. Siste% sk*ring )iagn*sis tu'erkul*sis anak 0arameter $ontak TB ( % 2 7 tidak jelas laporan keluarga,BT8 ka1itas (G) BT8 BT8 (G) (5) atau tidak tahu tidak jelas positif (D%( 6ji tuberkulin negatif mm)D+mm pada keadaan imunosupresi Berat badan) BB)TB F>(,) BB)6 klinis giCi buruk) $eadaan giCi F*(, BB)TBF'(, atau BB)6 F@(, #emam tanpa D 2 minggu !ebab jelas Batuk 0embesaran klj limf kolli,aksila. inguinal 0embengkakan tlg)sendi panggul, lutut,falang 3oto rontgen normal) toraks tdk jelas D 7 minggu D %cm, jml H%, Tidak nyeri ada pembengkakan

5 infiltrat 5 pembsrn klnj 5 konsolidasi sgmen tal)lobar

5 kalsifikasi G infiltrat 5 pbesaran klnj G infiltrat

%%

5 atelektasis Catatan; #iagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter Jika dijumpai skrofuloderma, langsung didiagnosis tuberkulosis Berat badan dinilai saat datang (moment opname) #emam dan batuk tidak ada respon sesuai baku 3oto rontgen bukan alat diagnostik utama pada TB anak !emua anak dengan reaksi cepat BC: harus die1aluasi dengan sistem skoring TB anak #idiagnosis TB jika jumlah skor D@ (skor maksimal %<). Cut off point ini masis bersifat tentatif)sementara, nilai definitif menunggu hasil penelitian yang sedang dilaksanakan. Bagan Alg*rit%a Diagn*sis )an Rujukan TB &a)a Anak Hal01al 2ang %en3urigakan TBC 4 %. "empunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BT8 positif. 2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 75' hari) setelah imunisasi dengan BC:. 7. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam % bulan meskipun sudah dengan penanganan giCi yang baik (failure to thri1e). <. !akit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas, +. Batuk5batuk lebih dari 7 minggu. @. 0embesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik. '. skrofuloderma. *. $onjungti1itis fliktenularis. >. Tes tuberkulin yang positif (H %( mm). %(. :ambaran foto rIntgen sugestif TBC.

B .8 H 7 0&! T 3

#ianggap TBC

%2

Beri &8T &bser1asi 2 bulan

TBC
"embaik &8T diteruskan

Bukan TBC "emburuk)Tetap

TBC $ebal &bat ("#/)

/ujuk $e /!

0E/-8T 84 ; Bila terdapat tanda5tanda bahaya seperti $ejang $esadaran menurun $aku kuduk Benjolan dipunggung #an kega?atan lain

Segera rujuk ke Ru%a1 Sakit

0emeriksaan lanjutan di /! ; 5 :ejala klinis 5 6ji tuberkulin 5 3oto rontgen paru 5 0emeriksaan mikrobiologi dan serologi 5 0emeriksaan patologi anatomi 0rosedur diagnostik dan tata laksana sesuai dengan prosedur di /! yang

#. TATALAKSANA(, Tatalaksana TB pada anak merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan antara pemberian medikamentosa, penataan giCi, dan lingkungan sekitarnya. 0emberian medikamentosa tidak terlepas dari penyuluhan kesehatan kepada masyarakat atau kepada orang tua penderita tentang pentingnya minum obat secara teratur dalam jangka ?aktu yang cukup lama, serta penga?asan terhadap jad?al pemberian obat, keyakinan bah?a obat diminum, dsb. "e)ika%ent*sa(, 'at TB 2ang )igunakan &bat5obat yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu &8T primer dan &8T sekunder. &8T primer adalah isoniaCid,rifampisin, ethambutol, pyraCinamide, streptomisin. #engan &8T primer tersebut kebanyakan penderita tuberkulosis dapat disembuhkan. Bila dengan &8T primer timbul resistensi, maka yang resisten itu digantikan dengan paling sedikit 257 macam &8T sekunder yang belum resisten,sehingga penderita menerima + atau @ macam obat sekaligus. &8T sekunder adalah asam para5 aminosalisilat, ethionamide, thioacetaCone, fluorokinolon, aminoglikosid,

%7

capreomycin, cycloserine, penghambat betalaktam, clarithromycin, lineColid dan lain5lain. !eperti kita ketahui, pengobatan TB mempunyai 2 tujuan utama, efekti1itas penyembuhan yang maksimal dan mencegah terjadinya resitensi. 0engobatan juga harus mampu mencegah seminimal mungkin terjadinya kekambuhan, sehingga harus mampu membunuh semua kuman TB. 0rinsip dasar obat antituberkulosis harus dapat menembus berbagai jaringan termasuk selaput otak. 3armakokinetik obat anti tuberkulosis pada anak berbeda daripada orang de?asa. 0engobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. Berbeda dengan orang de?asa, &8T pada anak diberikan setiap hari, bukan 2 atau 7 kali dalam seminggu. -al ini bertujuan mengurangi ketidakteraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak diminum setiap hari. E1aluasi hasil pengobatan dilakukan setelah 2 bulan. /esistensi harus dipikirkan jika ditemukan tanda5tanda berikut;

0ada kasus sumber yang dicurigai resisten $ontak dengan kasus yang resisten $asus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya tetap positif setelah 7 bulan pengobatan /i?ayat pengobatan TB sebelumnya /i?ayat terhentinya pengobatan TB 0ada anak yang dicurigai resisten $ontak dengan kasus yang resisten Tidak adanya respon terhadap pengobatan TB $embalinya TB setelah pengobatan patuh

AT PRI"ER(, Is*nia5i) soniaCid ( 4-) adalah obat antituberkulosis yang sangat efektif saat ini, bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang dan bersifat bakteriostatik terhadap kuman yang diam. 4- diberikan secara oral. #osis harian yang biasa

%<

diberikan (+5%+ mg)kg)hari), maksimal 7(( mg)hari. 4- mempunyai dua efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan neuritis perifer, tetapi keduanya jarang terjadi pada anak, tetapi frekuensinya meningkat dengan bertambahnya usia. -epatotoksik akan meningkat apabila diberikan bersama rifampisin dan 0J8. 4- tidak dilanjutkan pemberiannya pada keadaan kadar transaminase serum naik lebih dari 7 kali harga normal atau terjadi manifestasi klinik hepatitis, berupa mual, muntah, nyeri perut dan kuning. soniaCid harus diberikan piridoksin,%( mg per %(( mg isoniaCid untuk mencegah neuritis. 8da sumber lain yang menyebutkan klasifikasi lain dalam hal jenis &8T ; 8. &8T jalur % 4- ( soniaCid), /ifampisin, 0yraCinamyde, !treptomisin, dan Ethambutol B. &8T jalur 2 Etionamide, 08!, !ikloserin, $anamisin)8mikasin)Capreomisin C. &8T Eksperimental $uinolon, #eri1at /ifampisin, "akrolid, K .aktam, K .aktamase !, Cephalosporin. 8nak5anak atau de?asa muda yang tes kulit tuberkulinnya berubah dari negatif ke positif mungkin dapat diberikan 4-, +5%(mg)kg)hari (maksimum 7(( mg)hari), selama % tahun sebagai pofilaksi terhadap +5%+, risiko meningitis atau penyebaran milier. 6ntuk profilaksi, 4- diberikan sebagai obat tunggal. #isamping bagi yang mengalami kon1ersi tes kulit tanpa penyakit aktif, 4profilaktik juga dianjurkan untuk anggota keluarga atau orang lain yang berkontak sangat erat (terutama anak5anak, tetapi juga penghuni rumah pera?atan) ke kasus aktif yang baru dikenalL dan pada orang dengan tes kulit positif yang menjalani kemoterapi imunosupresif atau anti kanker dan yang pada masa lalu belum menerima pengobatan antimikobakterium yang adekuat. Ri$a%&isin /ifampisin bersifat bakteriosid pada intrasel dan ekstrasel, dapat memasuki semua jaringan, dapat membunuh kuman semi5dormand yang tidak dapat dibunuh oleh 4-. !aat ini rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan

%+

dosis %(52( mg)kgbb)hari, dosis maksimal @(( mg)hari, dengan dosis satu kali pemberian. Efek samping rifampisin adalah gangguan gastrointestinal (mual dan muntah) dan hepatotoksisitas (ikterus)hepatitis) yang biasanya ditandai oleh peningkatan kadar transaminase serum yang asimtomatik. Jika rifampisin diberikan bersama 4-, terdapat peningkatan risiko hepatotoksisitas, yang dapat diperkecil dengan cara menurunkan dosis harian 4- menjadi maksimal %( mg)kg)hari. /ifampisin tidak boleh diracik dalam satu puyer dengan &8T lain karena dapat mengganggu bioa1ailabilitas rifampisin. Pira5ina%i) 0iraCinamid adalah deri1at nikotinamid, berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh termasuk !!0, cairan serebrospinal, bakterisid hanya pada cairan intrasel pada suasana asam, diresorbsi baik pada saluran pencernaan. 0emberian 0J8 secara oral dengan dosis %+57( mg)kg)hari dengan dosis maksimal 2 gram)hari. 0enggunaan 0J8 aman pada anak. 0J8 diberikan pada fase intensif karena 0J8 sangat baik diberikan pada saat suasana asam yang timbul akibat jumlah kuman masih sangat banyak. Eta%'ut*l Etambutol (E"B) jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada mata. #osis E"B %+52( mg)kg)hari, maksimal %,2+ gram)hari, dengan dosis tunggal. "emiliki akti1itas bakteriostatik, dan berdasarkan pengalaman, dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat lain. $emungkinan toksisitas utama adalah neuritis optik dan buta ?arna merah5hijau. Stre&t*%isin !treptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik kuman ekstraseluler pada keadaan basal atau netral, jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. !aat ini, streptomisin jarang digunakan dalam pengobatan TB, tetapi penggunaannya penting dalam pengobatan yang resisten5obat. Toksisitas utama streptomisin terjadi pada ner1us kranial B yang mengganggu keseimbangan dan pendengaran berupa telinga berdengung (tinismus) dan pusing. AT SEKUNDER(, PAS 6Asa% Para0a%in* Salisilat7

%@

#itemukan tahun %><(, dahulu merupakan &8T garis pertama yang digunakan bersama dengan isoniaCid dan streptomycinL kemudian kedudukannya digantikan oleh ethambutol. 08! memperlihatkan efek bakteriostatik terhadap " tuberculosis dengan menghambat secara kompetitif pembentukan asam folat dari asam para5amino benCoat. 0enggunaan 08! sering disertai efek samping yang mencakup keluhan saluran cerna, reaksi hipersensitifitas (%(, penderita), hipotiroid, trombositopeni, dan malabsorbsi. Et1i*na%i)e !etelah penemuan isoniaCid beberapa turunan pyridine lainnya telah diuji dan ditemukan ethionamide dan prthionamide memperlihatkan aktifitas antimikobakteri. "ekanisme kerjanya sama seperti isonoaCid, yaitu menghambat sintesis asam mikolat. n51iro kedua turunan pyridine ini bersifat bakterisid, tetapi resistensi mudah terjadi. #osis harian adalah +((5%(((mg, terbagi dua dosis. Efek samping utama adalah gangguan saluran cerna, hepatotoksisitas (<,7, penderita)L ethionamide memperlihatkan kekerapan efek samping yang sedikit lebih rendah dari efek samping prothiamide. Efek samping yang lain adalah neuritis, kejang, pusing, dan ginekomastia. 6ntungnya, basil yang sudah resisten terhadap isoniaCid masih entan dengan ethionameride, ?alaupun keduanya berasal dari senya?aan induk yang sama yaitu asam nikotinat. 8ntara ethionamide dan prothionamide terjadi resistensi silang. T1i*a3eta5*ne !ecara in 1iro dan in 1i1o diperlihatkan mempunyai khasiat bakteriostatik terhadap ". Tuberculosis. /esistensi silang sering terlihat antara thioacetaCone dengan isoniaCid dan ethionamide. $arena kerap menimbulkan reaksi hipersensiti1itas berat (sindroma !te1en Johnson), thioacetaCone tidak dianjurkan untuk digunakan pada penderita dengan - B7. !lu*r*kin*l*n 3luorokinolon menghambat tropoisomerase (#48 gyrase), dan tropoisomerase B tetapi enCim ini tidak ada pada mikobakteri. !ifat penting fluorokinolon adalah kemampuannya untuk masuk ke dalam makrofag dan memperlihatkan efek mikobakterisidnya di dalam sel itu. 9ang diakui berkhasiat sebagai &8T adalah ciproflo2acin, oflo2acin, dan le1oflo2acin. Belakangan ini

%'

bah?a le1oflo2acin lebih unggul khasiatnya oflo2acin yang dicakupkan ke dalam pengobatan penderita "#/ TB. Efek samping yang berkaitan dengan penggunaan fluorokinolon mencakup gangguan saluran cerna, efek neurologik, artopathy dan fotosensiti1itas. 0ercobaan in 1itro dengan fluorokinolon baru yakni gatiflo2acin dan mo2iflo2acin, memperlihatkan akti1itas anti mikibakteri yang lebih baik dari le1oflo2acin. A%in*glik*si) )an Ca&re*%23in $elompok obat suntik ini mempunyai mekanisme kerja mengikat ribosom di subunit 7(! yang selanjutnya berakibat penghambatan sintesis protein. 0ada p- rendah yaitu di dalam ka1itas dan abses, penetrasi obat mele?ati dinding sel mikobakteri terhalang, dan ini dapat menerangkan kekurangmajuran glikosida sebagai obat antituberkulosis. 8minoglikosid berkhasiat bakterisid terhadap mikobakteri yang sedang membelah. &leh karena itu, aminoglikosid hanya bermanfaat pada fase induksi. Pa)uan 'at TB1, 0rinsip dasat pengobatan TB adalah minimal 2 macam obat dan diberikan dalam ?aktu relatif lama (@5%2 bulan). 0engobatan TB dibagi dalam 2 fase yaitu fase intensif (2 bulan pertama) dan sisanya sebagai fase lanjutan. 0emberian obat jangka panjang selain untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya relaps. !i8e) D*se C*%'inati*n 6!DC)%7 !alah satu masalah dalam terapi TB adalah kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang relatif lama dengan jumlah obat yang banyak. 6ntuk mengatasi hal tersebut maka dibuat suatu sediaan obat kombinasi dalam dosis yang telah ditentukan. $euntungan penggunaan 3#C dalam pengobatan TB adalah sebagai berikut ; "enyederhanakan pengobatan dan mengurangi kesalahan penulisan resep "eningkatkan penerimaan dan kepatuhan pasien

%*

"emungkinkan petugas kesehatan memberikan pengobatan standar dengan tepat "empermudah pengelolaan obat (mempermudah proses pengadaan, penyimpanan, dan distribusi obat pada setiap tingkat pengelola program pemberantasan TB)

"engurangi kesalahan penggunaan obat TB (monoterapi) sehingga mengurangi resistensi terhadap obat TB 0aduan 3#C mengurangi kemungkinan kegagaln pengobatan dan terjadinya kekambuhan "empermudah penentuan dosis berdasarkan berat badan.

Regi%en Peng*'atan 'er)asar kateg*ri 'eserta alternati$n2a /egimen $ategori 0asien TB 3ase nitial (tiap hari atau 3ase $ontinu 0engobatan TB 72)minggu) $asus baru ; BT8 (G), TB paru BT8 (5) lesi luas !akit berat TB ekstraparu berat BT8 (G) relaps :agal terapi 0ernah minum obat sebulan)H BT8 (5), /o mendukung Ekstraparu ringan B TB kronik 2 /-EJ (/!-J) 2 /-EJ (/-!J) 2 /-EJ (/-!J) @ -E < -/ < -7/7

2 /-EJ!)%/-EJ 2 /-EJ!)%/-EJ 2 /-J 2 /-J 2 /-J 4ot applicable

+ -7/7E7 + -/E @ -E < -/ < -7/7

E$ek Sa%&ing &B8T !&4 8J # /E8$! !E/ 4: $8#84: -epatitis

AT

J8/84: $ejang

%>

/eaksi kulit 4europati perifer

4euritis optik :ejala mental 8nemia hemolitik 8nemia aplastik 8granulositosis /eaksi lupoid :inekomastia 8/3 !yok 8nemia hemolitik

/ 38"0 ! 4

-epatitis /eaksi kulit :ejala : T 0urpura trombositopenia 3ebris 3lu like syndromes

-epatitis 8noreksia Bomiting 0 /8J 48" # 4ausea 8rthralgia 3lushing /eaksi kulit ET-8"B6T&. /eaksi kulit !T/E0T&" ! 4 Tinnitus Baal 4euritis retrobulbar 8rthralgia Bertigo 8taksia $etulian

8nemia sideroblastik 3otosensitifitas /eaksi kulit -epatitis 4europati perifer $erusakan ginjal 8nemia aplastik 8granulositosis 'at anti Tu'erkul*sis 0enatalaksanaan Teruskan &8T, cek dosis. &bat diberikan malam sebelum tidur 8spirin 0iridoksin %(( mg 0enyuluhan

Penatalaksanaan E$ek Sa%&ing Efek !amping "inor 5 8noreksia, nausea, abdominal pain 5 4yeri sendi 5 /asa terbakar di kaki 5 6rine orange)merah "ayor 5 :atal, skin rash $emungkinan obat penyebab /ifampisin 0iraCinamid soniaCid /ifampisin

TiaoacetaCon, streptomisin !top &8T, setelah timbul gatal beri terapi simptomatik dan teruskan obat, bila kemudian timbul skin rash,

2(

stop &8T 5 $etulian 5 #iCCiness (1ertigo dan nystagmus) 5 Jaundice !treptomisin !treptomisin !top streptomisin, ganti ethambutol !top streptomisin, ganti ethambutol

$ebanyakan &8T (terutama !top &8T, singkirkan etiologi 4-, /ifampisin, lain, bila klinis (G) 0iraCinamid) (ikterik,mual,muntah) stop &8T, bila klinis (5), periksa ; 5 bilirubin H 2 &8T stop 5 trasaminaseH+2&8T stop 5 trasaminaseH72,gejala (G) &8T stop 5 transaminase F+2,gejala (5) &8T diteruskan &bser1asi ketat $ebanyakan &8T Ethambutol /ifampisin !top &8T !top Ethambutol !top /ifampisin

5 "untah dan confuse (drug induced acute failure) 5 :angguan penglihatan 5 !yok purpura, gagal ginjal akut

N*n "e)ika%ent*sa1, Pen)ekatan D TS1, -al yang paling penting pada tatalaksana tuberkulosis adalah perbaikan beberapa minggu setelah pengobatan sehingga merasa telah sembuh dan tidak melanjutkan pengobatan. $epatuhan pasien ini menjamin keberhasilan pengobatan dan mencegah resistensi. !alah satu upaya untuk meningkatkan kepatuhan pasien adalah dengan melakukan penga?asan langsung terhadap pengobatan (directly obser1ed treatment). !esuai dengan rekomendasi =-&, strategi #&T! terdiri atas + komponen,yaitu sebagai berikut ; %. komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana 2. #iagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.

2%

7. 0engobatan dengan paduan &8T jangka pendek dengan penga?asan langsung &bat (0"&) <. $esinambungan persediaan &8T jangka pendek dengan mutu terjamin +. 0encatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan e1aluasi program penanggulangan TBC. #&T! adalah strategi yang telah direkomendasi oleh =-& dalam pelaksanaan program penanggulangan tuberkulosis. !alah satu komponen #&T! adalah pengobatan paduan &8T jangka pendek dengan penga?asan langsung, yaitu mengharuskan adanya seseorang yang bertanggungja?ab menga?asi pasien menelan obat disebut sebagai penga?as menelan obat (0"&). &rang yang dapat menjadi 0"& adalah petugas kesehatan, keluarga pasien, kader, pasien yang sudah sembuh, tokoh masyarakat serta guru sekolah ata petugas unit kesehatan sekolah yang sudah dilatih strategi baru penanggulangan TB. !ayangnya, ternyata hasil dari strategi #&T! masih kurang dari yang diharapkan. Tahun %>>+5%>>*, cakupan pasien TB dengan strategi #&T! baru mencapai mencapai sekitar %(,. &leh karena itu, untuk lebih meningkatkan keteraturan minum obat, &8T dibuat dalam bentuk kombipak (kombinasi &8T dalam satu paket) dan fi2ed dose combination (3#C). Su%'er Penularan )an Case !in)ing 8pabila kita menemukan seorang anak dengan TB, maka harus dicari sumber penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular TB. !umber penularan adalah orang de?asa yang menderita TB aktf dan melakukan kontak erat dengan anak tersebut. 0elacakan dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BT8 sputum. As&ek S*sial Ek*n*%i 0engobatan TB memerlukan memerlukan kesinambungan pengobatan dalam jangka ?aktu yang cukup lama maka memerlukan biaya yang cukup besar. !elain itu diperlukan penanganan giCi yang baik. Edukasi ditujukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui tentang tuberkulosis. 0asien TB anak tidak oleh 0enga?as "enelan

22

perlu diisolasi karena sebagian besar TB pada anak tidak menularkan kepada anak lain.

Pen3ega1an1,9(, 0 BC# munisasi BC: diberikan pada usia sebelum 2 bulan. Bila BC: diberikan pada usia lebih dari 7 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin lebih dulu. 0 Ke%*&r*$ilaksis $emoprofilaksis primer bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada anak, sedangkan kemoprofilaksi sekunder mencegah aktifnya infeksi sehingga anak tidak sakit. 0ada kemoprofilaksi primer, diberikan 4- dengan dosis +5%( mg)kgbb)hari, dosis tunggal, pada anak yang kontak dengan TB menular, terutama dengan BT8 sputum positif, tetapi belum terinfeksi (uji tuberkulin negatif). &bat dihentikan jika sumber kontak sudah tidak menular lagi dan anak ternyata tetap tidak infeksi (setelah uji tuberkulin ulangan). $emoprofilaksi sekunder diberikan pada anak yang telah terinfeksi, tetapi belum sakit, ditandai dengan uji tuberkulin positif, klinis, dan radiologis normal. 8nak yang mendapat kemoprofilaksi sekunder adalah usia balita, menderita morbili, 1arisela, dan pertusis, mendapat obat imunosupresif yang lama (sitostatik dan kortikosteroid),usia remaja, dan infeksi TB baru, kon1ersi uji tuberkulin dalam ?aktu kurang dari %2 bulan.

(. UJI TUBERKULIN
!egera setelah ditemukan basil TB, /obert $och mengambil konsentrat steril dari biakan cair yang sudah mati disebut dengan nama tuberkulin. 6ji tuberkulin adalah salah satu metode yang digunakan untuk mediagnosis infeksi TB. ni sering digunakan untuk skrening indi1idu dari infeksi laten dan menilai rata5rata infeksi TB pada populasi tertentu. 6ji tuberkulin dilakukan untuk melihat seseorang mempunyai kekebalan terhadap basil TB, sehingga sangat baik untuk mendeteksi infeksi TB. Tetapi uji tuberkulin ini tidak dapat untuk menentukan ". Tuberculosis tersebut aktif atau tidak aktif (laten). &leh sebab itu harus

27

dikonfirmasi dengan ada tidaknya gejala dan lesi pada fotot thorak untuk mengetahui seseorang tersebut terdapat infeksi TB atau sakit TB.2(,2%

a. Tu'erkulin 6ji tuberkulin merupakan salah satu dasar kenyataan bah?a infeksi oleh ". Tuberculosis akan menyebabkan reaksi delayed5type hpersensiti1ity terhadap komponen antigen yang berasal dari ekstrak ". Tb atau tuberkulin. 8da 2 perusahaan yang memproduksi tuberkulin (00#) yaitu 00# dari 6!8 ; 0arke5 #a1is (8plisol) dan Tubersol. 00# (0urified 0rotein #eri1at) yang dipakai ada 2 jenis yaitu 00#5! dibuat oleh !iebert dan :lenn tahun %>7> yang sampai sekarang digunakan sebagai standar internasional. !ebagai dosis standar adalah + Tuberkulin 6nit (T6) 00#5! yang diartikan akti1itas uji tuberkulin ini dapat mengekskresikan (,% mg)(,% ml 00#5!. #osis lain yang pernah dilaporkan adalah dosis % dan 2+( T6, tetapi dosis ini tidak digunakan karena akan menghasilkan reaksi yang kecil dan membutuhkan dosis yang besar. 00# jika diencerkan dapat diabsorbsi oleh gelas dan plastik dalam jumlah yang ber1ariasi, sehingga untuk menghindarinya didalam sediaan tersebut terabsorbsi. !tandar tuberkulin ada 2 yaitu 00#5! dan 00# /T 27, dibuat oleh Biological !tandards !taten, !erum nstitute, Copenhagen, #enmark. #osis satndar + T6 00#5! sama dengan dosis M 6 00# /T 27. =-& merekomendasikan penggunaan % T6 00# /T 27 T?een *( untuk penegakan diagnosis TB guna memisahkan terinfeksi TB dengan sakit TB.2(,2% '. I%un*l*gi /eaksi uji tuberkulin yang dilakukan secara intradermal akan menghasilkan hipersensiti1itas tipe B atau delayed5type hypersensiti1ity (#T-). "asuknya protein TB saat injeksi akan menyebabkan sel T tersensitisasi dan menggerakkan limfosit ke tempat suntikan. .imfosit akan merangsang terbentuknya indurasi penarikan sel inflamasi ke tempat suntikan. 0rotein tuberkulin disuntikkan di kulit, kemudian diproses dan dipresentasikan ke sel dendritik).angerhans ke sel T melalui "-C5 , !itokin yang diproduksi oleh selT, akan membentuk molekul "-C5 , !itokin yang diproduksi oleh sel T, akan

2<

membentuk molekul adhesi endotel. "onosit keluar dai pembuluh darah dan masuk ke tempat suntikan yang berkembang menjadi makrofag. 0rodik sel T dan makrofag. 0roduk sel T dan makrofag menimbulkan edema dan bengkak. Test kulit positif maka akan tampak edema lokal atau infiltrat maksimal <*5'2 jam setelah suntikan.2%

3.

Cara Pe%'erian )an Pe%'a3aan 6ji tuberkulin dilakukan dengan injeksi (,% ml 00# secara intradermal

"et*)e "ant*u8 (dengan metode mantou2) di 1olar)permukaan lengan ba?ah. njeksi tuberkulin menggunakan jarum gauge 2' dan sspuit tuberkulin, saat melakukan injeksi harus membentuk sudut 7(N antara kulit dan jarum. 0enyuntikan dianggap berhasil jika pada saat menyuntikkan didapatkan indurasi diameter @5%(mm. 6ji ini dibaca dalam <*5'2 jam setelaj suntikan. -asil uji tuberkulin dicatat sebagai diameter iindurasi bukan kemerahan dengan cara palpasi. !tandardisasi digunakan diameter indurasi diukur trans1ersal dari panjang a2is lengan ba?ah dicatat dalam milimeter.%(,2(

2+

). Inter&retasi Uji Tu'erkulin 6ntuk menginterpretasikan uji tuberkulin dengan tepat, harus mengetahui sensiti1ity dan spesifitas juga uji ramal positif dan uji ramal negatif. !eperti pada uji diagnostik lain,uji tuberkulin mempunyai sensiti1iti %((, dan spesifitas %((,. 6ji tuberkulin dilaporkan mempunyai uji ramal positif dan negatif %(52+,. 3aktor5faktor yang dapat menyebabkan hasil false positif dan false negatif. 5 3aktor yang berhubungan dengan orang yang dilakukan pemeriksaan 5 5 5 nfeksi 1irus, bakteri, jamur Baksinasi 1irus hidup $etidakseimbangan metabolik seperti C/3 /endahnya status protein &bat

3aktor yang berhubungan dengan tuberkulin yang digunakan Terkontaminasi

3aktor yang berhubungan dengan metode penyuntikan njeksi subcutan 0enyuntikan yang lambat setelah jarum masuk intradermal njeksi bersamaan dengan antigen lain

3aktor yang berhubungan dengan pencatatan dan hasil pembacaan 0embaca yang tidak handal Bias Tuberkulin adalah komponen protein kuman TB yang mempunyai sifat

antigenik yang kuat. 6ji tuberkulin merupakan alat diagnosis TB yang sudah sangat lama dikenal, tetapi hingga kini masih mempunyai nilai diagnostik yang tinggi terutama pada anak sensiti1itas dan spesifitas di atas >(,. 2 -asil uji

2@

tuberkulin yang positif dapat diartikan sebagai seseorang tersebut sedang terinfeksi basil TB. Terpenting disini adalah jika seseorang sedang terinfeksi ". Tb apakah sedang terinfeksi atau sakit TB. !ehingga guideline 8C-8 menyebutkan jika hasil uji tuberkulin positif maka harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan dahak. Jika hasil foto toraks tersebut normal maka dapat dilakukan pemberian terapi TB laten, tetapi jika hasil foto toraks terjadi kelainan dan menunjukkan ke arah TB maka dapat dimasukkan dalam ". Tb aktif. !pesifitas uji tuberkulin dapat berubah menjadi >+5>>, tergantung dari pre1alensi infeksi bukan TB pada suatu populasi. Jika spesifitas turun akan meningkatkan resiko cross5reaction. Curley mendapatkan spesiti1itas tuberkulin meningkat dengan meningkatnya cut off point dengan %+ mm. "anuhutu mendapatkan cut off point antara reactor dan non reactor %2 mm. 0embacaan uji tuberkulin dilakukan dalam ?aktu <*5'2 jam, tetapi dianjurkan untuk '2 jam. -asil yang dilaporkan adalah indurasi lokal (bukan kemerahan) dengan palpasi, diameter trans1ersal dan dicatat dalam milimeter. nterpretasi ukuran diameter uji tuberkulin seperti pada tabel; ndurasi D + mm ndurasi D %( mm ndurasi D %+ mm

2'

5 Close contact dengan 5 #atang indi1idu diketahui)suspek 5 !uspek radiologis 5 Terinfeksi - B 5 ndi1idu perubahan TB 5 ndi1idu yang transplantasi organ dan imunocompromised dengan radiologis 5 TB yang TB 5 aktif dengan tinggi TB

dari

daerah 5 Bukan risiko tinggi tertular TB 5 $on1ersi uji

pre1alensi

dalam ?aktu 2 tahun dengan bukti klinis dan

ndi1idu dengan - B negatif tetapi pengguna 480J8

tuberkulin menjadi H %+ mm setelah 2

5 $on1ersi uji tuberkulin menjadi %( mm dalam 2 tahun ndi1idu kondisi #" "alabsorbsi C/3 Tumor kepala .eukemia, lymphoma !ilikosis leher dan klinis dengan yang tahun

berupa fibrotik, tanda

merupakan resiko TB ;

#iameter indurasi D%( mm dinyatakan positif tanpa melihat status BC: pasien. 0ada anak balita yang telah mendapat BC:, diameter %(5%+ masih mungkin disebabkan oleh BC:nya selain oleh infeksi TB alamiah. !edangkan bila ukuran indurasi D%+ mm hasil positif ini lebih mungkin karena infeksi TB alamiah dibandingkan karena BC:nya. 0engaruh BC: terhadap reaksi positif paling lama bertahan hingga + tahun setelah penyuntikan. 0ada anak, kontak erat dengan pasien TB de?asa aktif dan BT8 positif, atau anak dengan imunokompromais misalnya giCi buruk, keganasan dan lain5lain, diameter D+ mm harus dicurigai telah terinfeksi TB.2(,2% 6ji tuberculin positif dapat dijumpai pada keadaan sebagai berikut

2*

%.

nfeksi TB alamiah a. b. nfeksi TB tanpa sakit nfeksi TB dan sakit TB

c. 0asca terapi TB 2. 7. munisasi BC: nfeksi "ikobakterium atipik)". .eprae

6ji tuberculin negati1e pada 7 kemungkinan keadaan berikut ; %. Tidak ada infeksi TB 2. #alam masa inkubasi infeksi TB 7. 8nergi ; kedaan penekanan system imun oleh berbagai keadaan sehingga tubuh tidak memberikan reaksi terhadap tuberculin ?alaupun sebenarnya sudah terinfeksi TB. 0ada saat ini, telah ditemukan pemeriksaan imunitas seluler dengan cara lain, yaitu enCyme5linked immunospot interferon gamma untuk tuberculosis (E. !pot TB) yang mempunyai sensiti1itas dan spesifitas yang tinggi. 0emeriksaan ini dapat membedakan antara hasil positif yang disebabkan oleh infeksi ". tb, BC:, dan oleh infeksi ". atipik. 4amun, pemeriksaan ini belum dapat membedakan antara infeksi TB dan sakit TB. !aat ini, E. !pot TB belum dapat digunakan dalam praktek klinis mengingat harganya masih mahal dan belum tersedia di ndonesia.2% "et*)e Tine(. 6ji tuberculin tine digunakan untuk menentukan apakah seseorang telah terinfeksi bakteri yang menyebabkan tuberculosis. 4amun tes ini jarang dilakukan, karena tes lain lebih akurat. Tes ini menggunakan tombol OkecilO yang terdiri +5@ jarum pendek yang dilapisi dengan TB antigen (tuberkulin). Jarum yang ditekan ke dalam kulit (biasanya di bagian dalam lengan ba?ah), memasukkan antigen ke dalam kulit.

2>

Cara &engujian Test ini menggunakan alat yang berduri kecil untuk menyuntikkan sejumlah kecil antigen tuberculosis di ba?ah kulit. 0aling sering dilakukan di lengan ba?ah. Biasanya, ?ilayah ini ditandai dengan tinta pena sehingga dapat diperiksa setiap kemerahan dan bengkak di lain ?aktu, biasanya dalam 2 5 7 hari. Tes ini membantu menentukan apakah sudah pernah terkena, atau terinfeksi TB. Jika sudah pernah terinfeksi TB, sistem kekebalan tubuh menghasilkan substansi yang disebut T5sel untuk membantu memerangi penyakit. T5sel ini tinggal di dalam tubuh. $etika tes ini dilakukan, T5sel terhadap TBC akan menghasilkan hasil tes positif. Hasil n*r%al Jika memiliki hasil tes negatif, bagian tersebut mungkin menjadi merah kecil, tapi tidak akan membengkak dan tidak seperti gigitan nyamuk. ni berarti tidak terinfeksi dengan bakteri yang menyebabkan tuberkulosis. Hasil A'n*r%al Jika telah terinfeksi TB, daerah itu bisa menjadi merah dan bengkak seperti gigitan nyamuk dalam <*5'2 jam. -al ini dianggap sebagai hasil tes positif. ni berarti sistem kekebalan tubuh mendeteksi Cat disuntikkan di ba?ah kulit 8nda. !ebuah tes tine TB positif ?aktu lalu. 25ray dada dapat diambil untuk menentukan apakah telah mengalami TB aktif. !akt*r Resik* /isiko efek samping yang berat sangat rendah. /eaksi umum berupa gatal5 gatal. $adang5kadang, bagian tersebut mungkin melepuh. Jarang, daerah pembengkakan dapat menjadi sangat besar. tidak berarti bah?a memiliki TB aktif. "ungkin saja ini hanya berarti penderita telah terpapar dan terinfeksi beberapa

7(

Perti%'angan -asil tes mungkin salah (negatif palsu). -al ini lebih mungkin terjadi pada orang tua dan pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti; %. 0asien 8 #! 2. 0asien kanker yang menerima kemoterapi 7. "ereka yang menerima transplantasi organ <. !iapapun yang mengambil steroid dosis tinggi

BAB III PE"BAHASAN


Per'an)ingan "ant*u8 test )an Tine test &a)a anak 2ang )i:aksinasi BC# untuk &enegakan )iagn*sis Tu'er3ul*sis Pen)a1uluan T!T merupakan metode screening jangka panjang mengenai indeksi tuberculosis yang mendeteksi respon yang berhubungan dengan sel pada inokulasi campuran antigen "ycobacterium tuberculosis, beberapa diantaranya umum pada Basil Calmette5:uerin (BC:) dan mikrobakteria non5tuberculosis. !ecara tradisional, T!T juga membentuk bagian alur pembuatan keputusan untuk mendiagnosis penyakit TB pada anak. 0ada tahun belakangan, terdapat penelitian yang terus menerus mengenai diagnosis infeksi TB laten dengan

7%

mengkuantitatifkan :/8, yang bisa memberikan perputaran yang cepat dan spesifisitas yang lebih besar. &toritas pada beberapa 4egara berkembang merekomendasikan bah?a T!T digantikan dengan :/8, meskipun bukti yang mendukung penggunaan :/8 untuk mendiagnosis penyakit TB aktif pada anak kecil kurang memadai. "eskipun begitu, :/8 belum digunakan dalam program control TB di 4egara maju dimana sensiti1itas :/8 dapat menjadi rendah, dan dimana sumber daya pusat kesehatan dan kapasitas laboratorium sangat terbatas. -al ini memberikan bukti untuk mengarahkan penggunaan dan interpretasi T!T yang masih rele1an bagi dokter dan program kesehatan public di 4egara tersebut. Tes "antou2 intramedial diadopsi sebagai strandar de facto pada pengobatan di berbagai 4egara berkembang, berdasarkan pada tingginya tingkat hasil negati1e palsu dalam penelitian yang menggunakan metode percutaneous multipuncture Tine selama tahun %>'(an dan %>*(an. "isalnya, .unn dan Johnson melaporkan untuk British Thoracic 8ssociation bah?a tes Tine tidak sesuai untuk menggunaan epidemiologis, karena tingginya proporsi hasil yang negati1e pada subyek dengan mantou2 positif. "eskipun penemuan ini menghasilkan kontro1ersi dan dikontradiksikan dengan beberapa penelitian sejak tahun %>@+, yang merekomendasikan tes Tine untuk penggunaan dalam setting yang terbatas pada sumber daya, metode T!T multipuncture berada dalam kondisi yang tidak mempunyai reputasi. -al ini menjadi suatu ketidakberuntungan, karena peralatan Tine yang tidak terpakai memberikan keuntungan yang potensial daripada metode "antou2, meliputi aplikasi yang luas, sampah yang sedikit, biaya unit yang lebih rendah, dan tingkat ketrampilan operator yang lebih rendah. $euntungan potensial ini diseimbangkan dengan tidak konsistennya pengiriman tuberculin oleh peralatan Tine multipuncture, "antou2 memberikan ukuran yang lebih bernilai. "eskipun demikian, keuntungan pengukuran yang berbobot pada indurasi "antou2 tidak memungkinkan dijadikan pedoman ketika hasil tes dikategorikan dengan positif atau negati1e, sehingga hal ini dapat diinterpretasikan dan dilakukan oleh ahli klinis. 4ilai acuan + mm, %( mm dan %+ mm semuanya telah digunakan oleh 8T!, C#C, !outh 8!frican 4ational Tuberculosis Control 0rogramme, dan =-& untuk interpretasi kategoris pada hasil "antou2 dalam berbagai kategori resiko TB dam setting pre1alensi TB.

72

"eskipun nilai acuan ini dapat dipilih dengan menggunakan bukti yang tersedia, hal ini harus diketahui bah?a nilai actual dapat mempunyai arti biologis yang sedikit. "asalah ini diseimbangkan dengan fakta dimana nilai acuan tradisional secara umum disertai dengan preferensi angka, yang dapat dihasilkan dari kesalahan misklasifikasi. -al ini juga dapat diterima dimana metode "antou2 dan Tine dapat menjadi subyek pada factor yang menyebabkan hasil positif atau negati1e yang salah, meliputi 1aksinasi BC:, timbulnya 4T", malnutrisi dan infeksi - B. Beberapa penelitian dibuat untuk mengidentifikasikan factor5faktor yang disertai dengan kepositi1an T!T untuk mengoptimalkan strategi penelusuran kontak, tetapi mayoritas penelitian mempunyai skala yang kecil, atau dilakukan pada remaja dan de?asa, di 4egara berkembang dengan pre1alensi TB yang rendah, hanya menggunakan metode "antou2. Beberapa studi yang luas meliputi anak kecil, dengan resiko penyakit TB yang tertinggi, khususnya pada ?ilayah yang mempunyai pre1alensi tinggi di penduduk 8frika !ub !ahara, dan tidak ada penelitian yang secara langsung membandingkan metode "antou2 intramedial dan Tine multipuncture percutaneous pada populasi anak5anak yang sama. ni merupakan hipotesis primer kami dimana metode "antou2 dan Tine akan menunjukkan kesesuaian yang moderat pada beberapa populasi studi. $edua, kami mempostulatkan bah?a hasil yang positif untuk kedua tes akan disertai dengan proksimitas peningkatan pada kontak TB, dan dengan fitur mikrobiologis dan dan radiologis pada penyakit TB. $ami menunjukkan perbandingan langsung pada tes "antou2 intramedial dan Tine multipuncture percutaneous, dimana factor resiko iendependen untuk positi1itas tes diuji dalam kelompok tunggal pada anak yang di1aksinasi BC:, di komunitas 8frika !elatan dengan insiden TB yang sangat tinggi. Diskusi $ami telah menunjukkan dalam penelitian yang luas ini pada anak kecil yang terjangkit tuberculosis dimana terdapat kesesuaian yang substansial antara metode "antou2 dan Tine, keduanya untuk perbandingan biner dan kategori hierarki pada peningkatan reakti1itas tes kulit. Tingkat kesesuaian ini terjadi pada

77

adanya bukti pilihan angka pembaca untuk nilai "antou2 yang terjadi pada + mm inter1al acuan dan penemuan yang sama yang diperoleh dalam analisis sensiti1itas yang menggunakan nilai acuan alternati1e untuk tes positif. !elanjutnya, meskipun acuan tes positif yang tinggi ditentukan, 7', pada semua anak dan +>, pada anak dengan kultur positif, dan memiliki hasil T!T yang positif pada paling sedikit satu metode. !ebaliknya pada beberapa penelitian sebelumnya, proporsi anak dengan Tine positif secara signifikan lebih besar daripada proporsi dengan "antou2 positif, dan Tine mempunyai tingkat reaktif minimal)uji unreacti1e yang lebih rendah daripada metode "antou2. 0enemuan ini juga sejalan dengan sub kelompok anak dengan kultur ". Tuberculosis yang positif. Tidak ada penelitian yang menjelaskan perbandingan langsung pada hasil mantou2 dan Tine dalam dua decade terakhir, antara anak5anak atau de?asa, meskipun penelitian pada orang de?asa sebelumnya melaporkan bah?a tingkat hasil Tine negati1e palsu ada pada partisipan dengan mantou2 positif. "isalnya, penelitian yang sangat berpengaruh oleh .unn dan Johnson pada 7' sis?a menunjukkan tingkat positif "antou2 +>,, dibandingkan dengan tingkat positif Tine 7.>,, dengan <(, pada semua bacaan negati1e Tine dan positif "antou2. Jelasnya, kesesuaian kategoris dan tingkat tes yang positif tidak mengukur keakuratan tes, dalam ketidakhadiran standar tetap untuk infeksi tuberculosis laten, sebuah T!T positif dapat merefleksikan munculnya BC: atau 4T". 4emun, penemuan kami pada anak kultur positif ". Tuberculosis mengimplikasikan bah?a tes Tine dapat memiliki tingkata deteksi yang sama atau mempunyai tingkat deteksi yang lebih tinggi untuk munculnya antigen microbakteria pada anak kecil yang di1aksinasi BC: dalam populasi ini. !ehingga, potensial sa1ing yang ada dalam kemampuan mengkonsumsi, sisa, dan ?aktu operasi sama halnya dengan rendahnya tingkat ketrampilan yang diperlukan, hal ini akan menjadi masuk akal untuk merekomendasikan Tine multipuncture sebagai suatu alat screening untuk TB anak5anak di ?ilayah maju dengan dana, peralatan yang terbatas dan keterbatasan personel pada pusat kesehatan. $ami menunjukkan dalam analisis multi1ariate bah?a hasil mantou2 positif pada anak yang terjangkiti TB meningkat jika radiograf dada bersifat

7<

sugestif pada penyakit TB pulmonaris dan jika ". Tuberculosis dikulturasikan dari cairan la1age gastric atau dari sputum yang dimasukkan. -al ini diharapkan pada anak dengan infeksi TB sebelumnya yang menjadi penyakit aktif, dan mendukung inklusi hasil tes mantou2 pada alur pengambilan keputusan diagnostic untuk TB anak5anak, bahkan dalam area pre1alensi TB yang tinggi. $etiga kategori kontak TB merupakan factor resiko yang independen untuk "antou2 positif, dengan pembesaran pada peningkatan asosiasi proporsi menjadi proksimitas kontak, dan dengan kontak maternal yang menjadi factor resiko terkuat. 0enemuan ini konsisten dengan perluasan rumah tangga yang meningkatkan kontak TB keluarga pada anak kecil yang menghabiskan mayoritas ?aktunya dengan ibu mereka. #ata tersebut juga menekankan pentingnya penelusuran kontak dan propilaksis .TB untuk kontak rumah tangga pada orang de?asa yang positif dalam program control TB nasional. Banyak factor resiko untuk tes "antou2 positif yang umum untuk tes Tine, meliputi radiograf dada yang bersifat sugestif, kultur ". tuberculosis, dan tiga kategori yang sama pada kontak TB. $ehadiran demam dan infeksi - B secara independen diasosiasikan dengan tes tine 4egatif, meskipun 1ariable ini tidak memasuki model regresi "antou2 final. - B yang menginfeksi anak5anak dapat diharapkan mempunyai reakti1itas kulit yang rendah pada dasar supresi imun. 4amun, penemuan kami mengenai asosiasi negati1e antara infeksi - B dan hasil tes Tine berkebalikan dengan studi di 6!8 dan 6ganda. #emam merupakan sebuah fitur penyakit TB, tetapi nyatanya demam diasosiasikan dengan tes Tine negati1e dapat dijelaskan jika demam pada anak yang diin1estigasi secara primer didasarkan pada infeksi lain daripada TB, atau jika anak dengan demam tersebut menderita sakit keras. $ami menunjukkan bah?a timbangan skor J antara 5% dan nol bersifat protektif mela?an mantou2 positif dan tes Tine, dibandingkan dengan skor J yang lebih rendah, meskipun lainnya melaporkan tidak ada hubungan yang saling terkait antara hasil T!T dan status nutrisi. -al ini mungkin bah?a dalam penelitian kami, timbangan skore J yang lebih rendah dapat diasosiasikan dengan T!T positif dalam setting penyakit TB aktif.

7+

Beberapa factor demografis yang diasosiasikan dengan mantou2 positif dan tes Tine dalam analisis uni1ariat seperti kesukuan, gender dan umur dikeluarkan dari model regresi multi1ariate sebagai co51ariabel independen, menunjukkan bah?a positi1itas T!T terkait dengan perluasan TB dariapda demografi. nterpretasi literature dirumitkan dengan fakta bah?a penelitian factor resiko positi1itas T!T dilakukan pada populasi dengan demografi yang sangat berbeda, kesehatan umum, dan karakteristik klinis. misalnya, dalam penelitian kami tidak ada asoasiasi independen antara hasil T!T dan ukuran yang mengacaukan, meskipun acuannya relati1e luas, sejalan dengan penemuan di 68E dan 6ganda, tetapi berkebalikan dengan penelitian di BraCil. !tudi ini memiliki keterbatasan. !emua anak di1aksinasi BC: dan hidup pada area yang sama dengan pre1alensi TB yang tinggi, sehingga kami tidak dapat menguji asosiasi yang potensial antara factor5faktor ini dengan positi1itas TB. !ama halnya, penemuan tersebut hanya diaplikasikan pada anak5anak diba?ah umur lima tahun, yang membentuk kelompok umur dengan luas penyakit TB yang relati1e luas. -al ini juga tidak mungkin untuk menilai kinerja T!T pada anak tersebut dengan diagnosis klinis mengenai TB dengan ". Tuberculosis yang tidak dapat dikulturasi, karena hasil T!T membentuk bagian algoritma diagnostic ini. #efinisi per protocol mengenai positi1itas TB didesain untuk membantu diagnosis penyakit TB pada anak yang di1aksinasi TB, sejalan dengan panduan nasional dan internasional yang ada. Tingkat acuan ini lebih tinggi daripada yang diajukan oleh beberapa otoritas, meskipun saat ini ditunjukkan bah?a acuan optimal untuk mantou2 positif pada bayi yang di1aksinasi BC: dapat menjadi lebih besar. -al ini juga diutarakan bah?a penggunaan acuan untuk mengdikotomi tes positif dan negati1e mengabaikan nilai ukuran kuantitatif yang diberikan oleh metode mantou2, yang dihasilkan dalam bias pada tes Tine semi kuantitatif. 4amun, kami menunjukkan bah?a praktik klinis cermin pendekatan ini, dalam keputusan manajemen klinis mungkin dibuat pada dasar hasil T!T positif atau negati1e. -al ini benar bah?a banyak kompleksitas inheren pada ukuran precise dihilangkan ketika hasil tes "antou2 dikategorisasikan sebagai negati1e atau positif untuk tujuan klinis. nilai acuan + mm, %(mm, dan %+mm semuanya digunakan oleh 8T!, C#C, !outh 8frican 4ational Tuberculosis

7@

Control 0rogramme, dan =-& untuk interpretasi kategori pada hasil "antou2 dalam berbagai kategori resiko TB dan setting pre1alensi TB, meskipun hal ini dapat diketahui bah?a nilai actual dapat mempunyai arti biologis yang kecil. $etidakakuratan metode mantou2 dapat secara salah dikemukakan oleh fakta bah?a nilai acuan tradisional secara umum diasosiasikan dengan pilihan angka, sebagaimana kami tunjukkan, yang dapat dihasilkan dalam kesalahan misklasifikasi yang suilit untuk memperbaiki pembacaan indi1idu. 4amun, meskipun pilihan digit cenderung untuk menghitung nilai tersebut atas ba?ah pada nilai acuan yang dipilih, hasil praktis pemilihan angka biasanya merupakan misklasifikasi ke dalam kategoti mantou2 yang lebih tinggi. !ehingga, meskipun hal ini mungkin bah?a kesesuaian substansial antara hasil mantou2 kategoris dan Tine kategoris dipengaruhi oleh pemilihan angka dalam beberapa hal, factor ini tidak menjelaskan mengaapa tes Tine menunjukkan tingkat tes positif yang lebih tinggi secara signifikan daripada mantou2, karena ober1asi yang berkebalikan yang diharapkan. $arena kami kekurangan standar diagnostic untuk infeksi tuberculosis laten, kami tidak dapat mengukur keakuratan metode T!T untuk tujuan ini, dan kami mengetahui bah?a tingkat Tine positif yang tinggi dapat merefleksikan eksposur BC: atau 4T". !ensiti1itas yang terbatas pada "antou2 pada anak yang berkultur positif (<>,) dapat terjadi karena kesalahan operator dalam administrasi intramedial tuberculin, sebagaimana efek supresif pada penyakit TB pada imunitas yang dimediasi sel. !ehingga, meskipun kami merekomendasikan Tine sebagai alat screening yang cocok di 4egara berkembang, penelitian perbandingan selanjutnya diperlukan sebelum metode Tine dapat diberikan untuk diagnosis definiti1e pada penyakit TB anak5anak. rekomendasi ini dapat tampak bersifat retrogresif, dengan adanya penelitian saat ini mengenai :/8. 4amun, efek terbatasnya sumber daya pusat kesehatan pada realitas control TB di 4egara padat diilustrasikan dengan fakta bah?a pengujian "antou2 tidak tersedia di beberapa bagian 8frika Timur. -al ini dimungkinkan pada beberapa tahun sebelum :/8 dapat menggantikan tes kulit tuberculin pada ?ilayah yang TB anak5anaknya sangat pre1alen.

7'

/ingkasnya, kami menunjukkan studi yang luas mengenai bayi yang di1aksinasi BC: dan anak yang didiagnosis TB pada area pre1alensi yang tinggi dimana metode Tine mempunyai tingkat tes positif yang tinggi daripada mantou2, semua dan anak yang berkultur positif ". Tuberculosis, dengan kesesuaian subtansial antara T!T untuk perbandingan biner dan hierarki. Tingkat kesesuaian ini terjadi dengan adanya bukti preferensi angka baca dalam pencatatan diameter "antou2. "odel multi1ariate menunjukkan bah?a factor resiko independen untuk tes Tine dan "antou2 meliputi factor penyakit TB, seperti radiograf dada yang bersifat sugestif, dengan kontak TB maternal yang dengan sangat kuat diasosiasikan dengan resiko T!T yang positif. $esukuan, umur, gender dan ukuran kepadatan bukanlah predictor yang independen dalam hasil T!T. !ebaliknya untuk penelitian orang de?asa sebelumnya, data ini menunjukkan bah?a Tine dapat menjadi alternati1e yang masuk akal pada metode "antou2 sebagai alat screening untuk TB anak5anak dalam sumber daya yang terbatas, area yang sangat padat, atau dalam setting dimana kenyamanan dan kemudahan penggunaan merupakan pertimbangan utama.

BAB I; KESI"PULAN
1. 0enyakit Tuberkulosis; adalah penyakit menular langsung yang

disebabkan oleh kuman TB ("ycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang 0aru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. (. 6ji tuberkulin bukan satu5satunya cara dalam penegakan diagnosis penyakit tbc, tetapi juga dilihat dari gejala dan pemeriksaan penunjang lain

7*

seperti foto thorak, tes darah serta uji bakteriologi (sputum) sangat diperlukan. ,. Tidak ada satupun data klinis maupun penunjang selain pemeriksaan bakteriologis yang dapat memastikan diagnosis TB. &leh karena itu, dalam penegakan diagnosis TB perlu analisis kritis terhadap sebanyak mungkin fakta. .. 0emberian pengobatan TB tidak terlepas dari penyuluhan kesehatan kepada masyarakat atau kepada orang tua penderita tentang pentingnya minum obat secara teratur dalam jangka ?aktu yang cukup lama, serta penga?asan terhadap jad?al pemberian obat, keyakinan bah?a obat diminum.

DA!TAR PUSTAKA %. /ahajoe, 4.4., Basir, #., "akmuri, $artasasmita, C.B. (2((+). Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak, 6nit $oordinasi 0ulmonologi katan #okter 8nak ndonesia, Jakarta. 2. !itus /esmi /!0 !! 2((7 P 2((' /umah !akit 0enyakit nfeksi 0rof. #r. !ulianti !aroso, Jakarta

7>

7. Chon, .. #a1id et al. (2(((). Targeted Tuberculin Testing and Treatment of Latent Tuberculosis Infection. #iakses + Januari 2(%( dari http; ))???.cdc.go1)mm?r)pre1ie?)mm?rhtml)rr<>(@a%.htm <. 6nit $erja $oordinasi 0ulmonologi 00 katan #okter 8nak ndonesia. 0edoman 4asional Tuberkulosis 8nak. 2((+. Jakarta +. =idodo, Eddy. (2((7). Tuberkulosis pada Anak : Diagnosis dan Tata Laksana. Pediatrics 6pdate, Jakarta. @'5'@. @. -udoyo, 8hmad dr, !p.0, /usmiati, 8de, dr, !p.0, dkk. (2((@). Jurnal Tuberkulosis ndonesia. Jakarta ; 0erkumpulan 0emberantasan Tuberkulosis ndonesia '. 6nit $erja $oordinasi 0ulmonologi 00 katan #okter 8nak ndonesia. 0edoman 4asional Tuberkulosis 8nak. 2((+. Jakarta *. #r. 8ndi 6tama, 0eneliti 0uslit Bioteknologi5. 0 .???.iptek.com >. 3akultas $edokteran 6ni1ersitas 0adjajaran.htm %(. http;))???.medicastore.com)med)inde2.php. klasifikasi TB %%. Jurnal Tuberkulosis ndonesia.Bol.Q7 4o.Q2 !eptember 2((@. 0erkumpulan 0emberantasan Tuberkulosis ndonesia %2. $ombinasi #osis Tetap; 6paya 8tasi /esistensi TB."ajalah 3armacia Edisi 8pril 2((@ , -alaman; 72 (> hits) %7. 8nonim. (2((7). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke5*, #epartemen $esehatan /epublik ndonesia, Jakarta. %<. 8nonim. (2((+). Tuberculosis. Jakarta; /!0 0rof. #r. !ulianti !aroso. #iakses pada tanggal 22 8gustus 2(%( dari http;))???.infeksi.com %+. 8nonim. (2((@). TB pada anak. #iakses pada tanggal 22 8gustus 2(%( dari http;))???.dinkes5dki.go.id)tbc%.html %@. Batra, Bananda, "#. (2((>). Tuberculosis. #iakses 2< 8gustus 2(%( dari http;))???.emedicine.com)ped)topic272%.htm %'. CatanCano, Tara, "#. (2((+). Lung! Primar" Tuberculosis. http;))???.emedicine.com)radio)topic<%%.htm Uji tuberkulin dan

<(

%*. -udoyo, 8hmad dr, !p.0, /usmiati, 8de, dr, !p.0, dkk. (2((@). #urnal Tuberkulosis Indonesia. Jakarta ; 0erkumpulan 0emberantasan Tuberkulosis ndonesia %>. $homsah. (2((*). Pen"akit Tuberkulosis $TB %. #iakses pada tanggal 2< 8gustus 2(%( dari http;))???.infopenyakit.com 2(. !aiman, .isa. (2((<). Targeted Tuberculin &kin Testing and Treatment of Latent Tuberculosis Infection in 'ildren and Adolescent. #iakses 2< 8gustus 2(%( dari http;))???.pediatrics.org)cgi)content)full)%%)<)!2)%%'+ 2%. /eCnik, "arina and &Cuah, &. 0hilip. (2((@). Tuberculin &kin Testing in 'ildren. . #iakses 2< 8gustus 2(%( dari http;))???.cdc.go1)4cidod)E #)1ol%2no(+)(+5(>*(.html 22. !alaCar, et al.( 2((%). Pulmonar" tuberculosis in c'ildren in de(eloping countr". #iakses 2+ 8gustus 2(%( dari http;))???.ncbi.nlm.nih.go1)pubmed)%%<*7*%< 27. !taf 0engajar lmu $esehatan 8nak 3akultas $edokteran 6ni1ersitas ndonesia. (%>*+). Buku $uliah 2 lmu $esehatan 8nak. Bagian lmu $esehatan 8nak 3akultas $edokteran 6ni1ersitas ndonesia, Jakarta. 2<. Tuberculin Tine Test. #iakses 2< 8gustus 2(%( dari "edline 0lus 2+. =anli 0an et al. (2((>). omparison of )antou* and tine Tuberculin &kin Tests in B +,-accinated 'ildren In(estigated for Tuberculosis. #iakses tanggal %> 8gustus 2(%( dari ???.plosone.org

<%

<2