Anda di halaman 1dari 6

Naskah Akademis Sampah

Pendahuluan
Naskah akademis suatu rancangan peraturan perundang-undangan adalah langkah paling awal dalam suatu perumusan undang-undang. Naskah akademis biasanya hanya memuat latar belakang mengapa suatu undang-undang diperlukan dan hal-hal penting apa yang harus diatur dalam undang-undang tersebut. Oleh karena itu, dalam naskah akademis biasanya tidak memuat secara detail tentang pasal-pasal yang harus diatur oleh suatu undang-undang. Dalam mengomentari Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan Pengelolaan Sampah yang disiapkan oleh !enteri Negara "ingkungan #idup dan $%&A ini, saya ingin membaginya dalam beberapa bagian, mulai dari hal yang umum sampai dengan masalah yang lebih teknis hukum sebagai berikut'

Lex Specialis
(( Pengelolaan Sampah ini harus dilihat sebagai (( khusus, atau merupakan lex specialis dari UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sebagai (( khusus, maka aturan-aturan yang terkandung didalamnya harus se)alan dan tidak boleh bertentangan dengan spirit *semangat+ (( induknya. #al ini penting untuk diteliti secara cermat oleh perancang (ndang-(ndang nantinya, karena )ika ada pertentangan maka akan menimbulkan permasalahan dalam penegakan-nya. Sebagai (( khusus, maka rancangan (( Pengelolaan Sampah ini harus lebih detail, dan harus dibuat untuk mengisi kekosongan perundangan-undangan yang telah ada, baik pada tingkat nasional maupun daerah. Oleh karena itu, masalah konsistensi dan ketelitian merupakan hal yang harus diperhatikan secara cermat karena akan sangat berpengaruh dalam penegakannya nanti. #al ini S,-A"% "A.% perlu saya ingatkan karena sangat banyak ketentuan peraturan perundang-undangan di %ndonesia yang bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga menimbulkan problem besar dalam penegakannya.

Sisi-sisi Positive Naskah Akademis UU Pengelolaan Sampah


Dari pengamatan yang terbatas, saya bisa melihat beberapa poin penting yang merupakan sisi positi/e dari Naskah Akedemis ini sebagai berikut' Naskah akademis ini dibuat dengan perbandingan yang cukup komprehensi/e dengan (( se)enis di negara-negara lain, walaupun rele/ansinya mungkin kurang sesuai dengan kondisi %ndonesia. Naskah akademis ini cukup serius memperhatikan semua (( Nasional yang memiliki kaitan yang erat dengan masalah persampahan, sebagaimana dapat dilihat pada da0tar ketentuan perundang-undangan yang terlihat pada halaman *12+ Naskah Akedemis, tapi sayang kurang memperhatikan ketentuan perundangan-undangan dibawahnya dan se)umlah peraturan sektoral lainnya.

Asas-asas pengelolaan persampahan yang termuat dalam halaman 33-34 Naskah Akademis ini sangat !A$(, bahkan lebih ma)u dibanding asas pengelolaan persampahan di Australia. Asas-asas yang termuat dalam Naskah Akademis ini )uga lebih ma)u dibanding (( No. 5671882. Sebagai contoh, asas precautionary principle yang diter)emahkan men)adi asas kehati-hatian a al, belum pernah masuk dalam hukum nasional %ndonesia, )uga di Australia dan banyak negara lain. Asas kehati-hatian awal dibanyak negara masih merupakan wacana dan masih diperdebatkan secara serius. Oleh karena itu, kalau 9ancangan (( Pengelolaan Sampah ini bisa memasukan asas tersebut, maka dapat dianggap sebagai terobosan yang PA"%N. P,N:%N. dalam se)arah hukum %ndonesia. Asas-asas lain *pengelolaan mulai dari sumber, penghasil sampah membayar *polluter pay principle+ produk ramah lingkungan, internalisasi biaya pengelolaan sampah, pembangunan berkelan)utan, dst+ yang dibahas dalam Naskah Akademis ini )uga sangat penting untuk men)adi dasar (( Pengelolaan Sampah nantinya. Semoga sa)a, asas-asas tersebut bisa tercermin dalam pasal-pasal (( Pengelolaan Sampah ini nantinya. Atau sekurangkurangnya bisa dimasukan dalam konsideran *menimbang + (( ini nantinya.

Beberapa telaah kritis:


Pada bagian ini saya ingin mengomentari bebarapa hal yang saya anggap perlu disempurnakan atau setidaknya perlu diwaspadai agar tidak menimbulkan ekses setelah 9ancangan (( Pengelolaan Sampah ini diundangkan dan dilaksanakan. Agar lebih sistematis, telaah kritis ini dibuat berdasarkan sistematika Naskah Akademis yang telah disiapkan. #al-hal yang tidak dikomentari, saya anggap cukup !aik untuk dipertahankan atau saya tidak "e"iliki pengetahuan yang cukup untuk "engo"entarinya. Nama Nama yang disiapkan oleh Naskah Akademis ini rasanya kurang baik, atau secara teknis tidak benar, karena berbunyi Peraturan Perundang-(ndangan Pengelolaan Sampah yang bersi0at )amak. -ata peraturan perundang-undangan berarti se)umlah ketentuan perundangan-undangan tentang pengelolaan sampah. $adi seharusnya, (ndang-(ndang Pengelolaan Sampah . Nama ini bisa berubah sesuai kebutuhan dan cakupan (( yang akan dibuat nanti. Namanya dapat pula di0ormulasi men)adi lebih khusus seperti (( Pengelolaan Sampah Padat untuk membedakannya dengan ketentuan perundanganundangan lain yang mengatur limbah cair dan semacamnya, atau nama lain yang lebih sesuai dan cocok. Sistem Kelembagaan Sistem kelembagaan yang mengurus atau yang bertanggung )awab bagi pengelolaan sampah di %ndonesia harus dicermati secara khusus karena lembaga tersebutlah yang akan mengaplikasikan (( ini dimasa mendatang. Pada Pemerintah Daerah7-ota tertentu kadang belum memiliki lembaga yang khusus yang bertanggung )awab atas masalah sampah, atau pengurusan sampah. Naskah ini belum men)elaskan secara ideal bagaimana sistem kelembagaan-nya, baik pada tingkat Nasional dan Daerah7-ota. #al ini penting,

karena saling tumpang tindih kewenangan itu merupakan salah satu sumber keruwetan penegakan hukum di %ndonesia. Sebagai contoh' ;agaimana hubungan antara ;AP,DA"DA sebagai lembaga pemantau masalah sampah dengan P,!DA yang bertindak sebagai pengelola persampahan. Padahal kita tahu bahwa sekarang ini ;AP,DA"DA merupakan bagian dari P,!DA sendiri. $adi antara pengawas dan yang diawasi kurang )elas hubungannya. #ubungan antara instansi teknis yang satu dengan yang lain )uga tidak )elas diatur. #al-hal kelembagaan semacam ini biasa menimbulkan -,9(<,:AN D% %NDON,S%A. $adi sebaiknya dirumuskan secara )elas. Sistem Bembia aan #al yang paling -9(S%A" dari Naskah Akademis ini adalah adanya kalimat bahwa sumber dana pengelolaan persampahan kota berasal dari' *1+ Pembayaran iuran layanan kebersihan= *5+ 9etribusi kebersihan= dan *6+ Anggaran Pendapatan ;elan)a Daerah *AP;D+. Dilihat dari urutan-nya sa)a sudah )elas keanehannya, karena seharusnya, Pemerintah yang menyiapkan dana kebersihan7pengelolaan sampah, karena Pemerintah merupakan penanggung )awab utama. ;iaya tersebut, bukan hanya ada pada AP;D, tapi )uga pada AP;N pada tingkat nasional. !engapa harus pemerintah bertanggung )awab> -arena rakyat telah membayar pa)ak-pa)ak lain. Disamping itu, pemerintah bertanggung )awab untuk menyediakan lingkungan hidup yang sehat dan bersih bagi masyarakat, sebagaimana semangat (( ini dan (( No. 5671882. *"ihat Pasal ?*1+ (( No. 5671882 yang mengatakan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat +. Apakah dibenarkan untuk meminta retribusi dari rakyat bagi pengelolaan sampah> $awabnya bisa, tapi harus diatur dengan P,9DA. Namun harus diingat bahwa 9,:9%;(S% tersebut hanya ber0ungsi sebagai pelengkap AP;N7AP;D )adi )umlahnya tidak boleh tinggi atau sampai membebani masyarakat. -,AN,#AN "A%N, Naskah Akademis ini mencantumkan P,!;A@A9AN %(9AN "A@ANAN -,;,9S%#AN dan 9,:9%;(S% -,;,9S%#AN. :idak ada pen)elasan yang memadai tentang kedua hal tersebut. *#alaman ? Naskah Akademis+. -etika kita melihat de0inisi atau istilah dan pengertian-pengertian yang tercantum dalam -,:,N:(AN (!(! *#alaman 3A s7d 36 Naskah Akademis+, de0inisi kedua hal tersebut tidak ada. @ang ada malah pengertian :A.%#AN $ASA -,;,9S%#AN dan :A9%B $ASA P,"A@ANAN -,;,9S%#AN, yang de0inisinya bisa dilihat pada halaman 36 Naskah Akademis. #al ini perlu dicermati, karena )angan sampai masyarakat membayar dua kali untuk hal yang sama. :ata cara pembayaran restribusi tersebut )uga perlu diperhatikan, siapa pengumpulnya, bagaimana mekanisme pengumpulannya dan bagaimana penyimpanan serta peman0aatnnya. Naskah Akademis ini seharusnya dapat memberikan pilihan yang lebih baik agar aman dari segi --N. #al lain yang perlu diperhatikan, adalah apakah uang yang terkumpul dari masyarakat tersebut, memang digunakan sesuai tu)uannya atau tidak> Dan bagaimana mekanisme pengawasan uang tersebut )uga tidak )elas dalam Naskah akademis ini.

!ekanisme pen elesaian kon"lik !ekanisme menyelesaian kon0lik yang diatur dalam Naskah Akademis ini harus diganti dengan istilah penyelesaian sengketa , sebagaimana yang dianut oleh semua ketentuan perundang-undangan di %ndonesia. #al ini perlu dilakukan untuk men)aga konsistensi dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. #al-hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian sengketa yang ditulis dalam Naskah Akademis ini adalah mengenai penyelesaian melalui pengadilan dan di luar pengadilan atau biasa )uga dikenal dengan #lternati$e %ispute &esolution *AD9+. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses mediasi, sebagaimana tertulis pada point 5 *halaman ?1 Naskah Akademis+ yang mengatakan bahwa !ediasi oleh pihak ketiga dengan melibatkan pemerintah pro/insi dan7atau pemerintah pusat . Perlu diingat bahwa, dalam proses mediasi, yang bertindak sebagai mediator tidak selalu pemerintah, bisa )uga oleh mediator yang disepakati oleh para pihak yang bersengketa, atau oleh mediator yang berasal dari lembaga mediasi yang pro0essional. $adi kewa)iban harus adanya pihak pemerintah harus kembali diperhatikan. Sebagai bahan bandingan, lihat Pasal 65 (( No. 5671882. *"ihat )uga pasal 6A, 61 dan 66+. -etentuan yang paling perlu kembali dicermati adalah poin 3 *#al ?1+ yang mengatakan bahwa Dalam hal penyelesaian perselisihan antar daerah, terdapat salah satu pihak yang tidak menerima keputusan Pemerintah, pihak tersebut dapat menga)ukan penyelesaian ke !ahkamah Agung . #al ini menarik, karena merupakan hal baru di %ndonesia dan saya yakin akan banyak menimbulkan masalah dan tantangan dari kalangan hukum. !enurut kebiasaan, pihak yang bersengketa pergi dulu ke Pengadilan yang lebih rendah, dan terakhir ke !ahkamah Agung apabila mereka tidak puas dengan putusan pengadilan yang lebih rendah. Perlu diingat bahwa !ahkamah Agung hanya memeriksa soal penerapan hukum atas suatu kasus, bukan 0akta dari suatu kasus. !ahkamah Agung hanya mengadili putusan pengadilan di bawahnya. Plus 0ungsi lain seperti $udicial 9e/iew , tapi masih belum )elas di %ndonesia. $adi hal ini perlu kembali di pertimbangkan, sebelum masuk men)adi 9ancangan (ndang-(ndang dan dibahas di DP9. #ak dan Ke$a%iban Pemerintah& Pelaku Usaha dan !as arakat #ak dan kewa)iban pemerintah sebagaimana tertulis dalam *halaman ?3-?? Naskah Akademis+ lebih ditekankan pada 0ungsi regulasi seperti pembuatan peraturan dan standar pengelolaan sampah pada tingkat nasional, tapi lupa bahwa kewa)iban utamanya harus menyiapkan )uga budget khusus bagi pengelolaan sampah secara nasional.:ermasuk mengkoordinasikan pengelolaan sampah secara nasional, agar tidak ter)adi tumpang tindih kewenangan antar departemen dan lain-lain. -husus mengenai kewa)iban pemerintah Daerah, yang paling penting untuk lebih ditekankan adalah penyiapan budget yang cukup bagi pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. ;udget ini harus tergambar )elas dalam setiap AP;D, sehingga peruntukannya bisa dipantau oleh masyarakat. Pemerintah )uga berkewa)iban mengelola sampah secara teratur dan ter)adwal, sehingga masyarakat bisa memantau kiner)a mereka.

Adapun kewa)iban pelaku usaha yang lupa disebut adalah internalisasi biaya pengelolaan sampah, padahal dicantumkan dalam pembahasan mengenai asas-asal pengelolaan. #al itu perlu secara tegas dicantumkan, agar setiap pelaku usaha memasukan budget khusus dalam setiap kegiatan usaha mereka. (ndang-undang ini bisa )uga mengklasi0ikasi )enis usaha berdasarkan )umlah sampah yang dihasilkan dengan )umlah budget yang disiapkan oleh perusahaannya. Khusus men angkut ke$a%iban dan hak mas arakat' ;agian ini senga)a dipisah secara khusus, karena hak masyarakat dan "S! yang utama menyangkut upaya penegakan hukum (( ini tidak disinggung sama sekali. (( Pengelolaan Sampah harus mengakui adanya legal standing *hak gugat+ masyarakat dan "S! apabila mereka ingin menggugat pencemar atau pemerintah yang gagal men)alankan 0ungsi pengelolaan sampah. "S! harus )uga diberi hak atau di)amin haknya oleh (( Pengelolaan Sampah untuk menggugat dengan menggunakan prosedur 'lass #ction. #ak ini merupakan hak 0undamental dari setiap (( yang mengatur masalah lingkungan. -eberadaan hak ini sangat penting, agar pemerintah dan pencemar terpacu untuk men)alankan kewa)iban mereka sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang. Sebagai bahan perbandingan, lihat Pasal 62 s7d 68 (( No. 5671882. Sanksi -etentuan tentang sanksi dalam Naskah Akademis ini harus disempurnakan, karena tidak membedakan antara sanksi yang dilakukan oleh orang sebagai indi/idu dan orang sebagai badan hukum . #al ini sangat penting, karena (( lingkungan hidup kita telah mengenal adanya 'orporate Lia!ility, )adi tidak sa)a berlaku bagi orang perorangan. Pembedaan ini sangat penting, agar pelaku usaha tidak berlindung dibalik usaha mereka, dengan berdalih bahwa itu kebi)akan perusahaan. Dengan adanya ketentuan Ccorporate lia!ilityD maka penanggung )awab usaha atau sta0nya akan tetap bertanggung )awab atas kesalahan perusahaannya. Pemisahan ini )uga penting bagi perhitungan penentuan sanksi pidana. Sebagai bahan perbandingan, tolong cermati pasal 3? (( No. 5671882 yang mengatakan bahwa $ika tindak pidanaE..dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiganya . *"ihat )uga Pasal 34 dan 32 (( yang sama+.

#al-hal umum lainn a


Perlu diperhatikan bahwa suatu Naskah Akademis baru merupakan suatu tahap awal perancangan suatu ((. Naskah akademis ini selan)utnya akan di0ormulasi dalam bentuk 9ancangan Perundangan-(ndangan *9((+ oleh pemerintah atau oleh :im khusus DP9 *kalau DP9 ingin menggunakan hak inisiati0 mereka+. 9(( tersebut selan)utnya akan dibahas di DP9 dan disempurnakan men)adi (ndang-(ndang. Dalam dua proses yang tersisa, kita masih bisa memasukan ide-ide kita bagi penyempurnaan Naskah Akademis ini, bahkan kadang diseminarkan. Saya pernah terlibat dalam 3 proyek pembahasan 9(( dalam tahapan Naskah Akedemis, tapi hasil akhirnya selalu mengecewakan saya, karena semua usulan baik dalam proses penyempurnaan-nya tidak diabaikan, dalam tingkat pembahasan 9(( di Pemerintah dan di DP9.

Saya pikir suasana sekarang sudah lebih kondusi0 untuk mengikuti setiap proses pembahasan, agar hasil akhir (( Pengelolaan Sampah ini seperti yang kita kehendaki semua. -alau seandainya %bu @uyun %smawati , diberi kesempatan untuk mengikuti tahap-tahap pembahasan selan)utnya, silahkan ikuti, karena orang-orang di Pemerintah dan DP9 tidak mengerti substansi (( yang akan dibuat. :api kita )uga harus hati-hati, karena kadang akibat pesanan tertentu pasal-pasal ((-nya senga)a dibentrokan dengan (( lainnya, sehingga pada tahap pelaksanaan-nya mengalami kesusahan untuk di)alankan. (ntuk itu, orang yang mengerti hukum lingkungan dan teknis legal dra(ting, perlu menemani %bu @uyun. Saya pikir, teman-teman di %&," bisa dia)ak kolaborasi kalau dibutuhkan. Naskah Akedemis ini kelihatannya diker)akan oleh :eam yang gemar melakukan study banding ke luar negeri sebagaimana terlihat dari se)umlah re0erensi negara yang tercantum dalam Naskah Akademis ini, tapi sayang analisis hukumnya sangat dangkal. Naskah Akademis ini, )uga gagal mengidenti0ikasi se)umlah peraturan sektoral di bawah (( yang mengatur masalah sampah, padahal sangat penting untuk di)adikan patokan dan pertimbangan. Saya )uga menduga bahwa team ini kurang memperhatikan pola pengelolaan sampah di se)umlah wilayah %ndonesia, karena tidak pernah disebut-sebut. Padahal se)umlah daerah tertentu, bisa di)adikan contoh keberhasilan. #al lain yang )uga kelihatan indah dalam kata-kata, tapi sukar untuk dilaksanakan dalam kondisi %ndonesia bahkan oleh negara ma)u, seperti rumusan tentang kewa)iban pelaku usaha ' *1+ menerapkan konsep recycle, teknologi ramah lingkungan dan N%9 "%!;A# dalam berproduksi= *5+ membayar biaya kompensasi pengolahan kemasan yang tidak dapat didaur ulang dengan teknologi yang berkembang saat ini. -edua poin di atas, kelihatannya sangat baik, tapi kata N%9 "%!;A#, hampir i"possi!le untuk dicapai. :u)uan paragra0 ini saya tulis untuk di)adikan pertimbangan bahwa, (( yang baik adalah (( yang bisa ditegakan. (ndang-undang yang tidak dapat ditegakan hanya menciptakan ketidakberwibawaan hukum. Oleh karena itu, (( Pengelolaan Sampah nantinya diharapkan dapat men)awab kebutuhan masyarakat, sekaligus realistis dalam perumusannya. Akhirnya saya berharap bahwa semua poin-poin baik dalam Naskah Akademis ini bisa tercermin dalam pasal-pasal (( Pengelolaan Sampah nantinya dan )!u *uyun and the gank bisa menyempurnakan semua kelemahannya. <assalam, Sydney, ? $uly 5AA6 Laode !' S ari" *9abul -alamin 62 9owley Street &amperdown S dne NS< 5A?A. Australia. Phone' F41-5-8??2 8554 *#+, 86?1 A5G2 *O+ F41-351 24A 6A8 *!+ ,mail' muhamadsHkeller.law.usyd.edu.au