Anda di halaman 1dari 9

POROSITAS BATUAN RESERVOIR

Porositas merupakan hal yang sangat penting untuk mengukur ruang kosong yang tersedia bagi tempat menyimpan fluida hidrokarbon. Porositas () adalah kemampuan suatu batuan untuk menyimpan fluida. Porositas adalah perbandingan ruang kosong atau pori-pori dalam batuan dengan keseluruhan volume batuan dikali 100 (untuk menyatakan persen). Porositas dibagi 2 berdasarkan asal usulnya : 1. Original (Primary) Porosity Porositas yang terbentuk ketika proses pengendapan batuan (deposisi) tanpa ada faktor lain. Pada umumnya terjadi pada porositas antar butiran pada batupasir, antar Kristal pada batukapur, atau porositas oolitic pada batukapur. 2. Induced (Secondary) Porosity Porositas yang terbentuk setelah proses deposisi batuan karena beberapa proses geologi yang terjadi pada batuan tersebut, seperti proses intrusi, fault, retakan, dan sebagainya. Proses tersebut akan mengakibatkan lapisan menjadi yang sebelumnya non-

porosity/permeabelitas

lapisan

berporositas.

Contohnya

retakan pada shale dan batukapur, dan vugs atau lubang-lubang akibat pelarutan pada batukapur. Batuan yang berporositas original lebih seragam dalam karakteristik batuannya daripada porositas induced. Porositas berdasarkan kualitas : Intergranuler : Pori-pori terdapat di antara butir. Interkristalin : Pori-pori terdapat di antara kristal. Celah dan rekah : Pori- pori terdapat di antara celah/rekahan. Pin-point porosity : Pori-pori merupakan bintik-bintik terpisah-pisah, tanpa terlihat bersambungan. Tight : Butir-butir berdekatan dan kompak sehingga pori-pori kecil sekali dan hampir tidak ada porositas.

Dense : Batuan sangat kecil sehingga hampir tidak ada porositas. Vugular : Rongga-rongga besar yang berdiameter beberapa mili dan kelihatan sekali bentuk-bentuknya tidak beraturan, sehingga

porositas besar. Cavernous : Rongga-rongga besar sekali yang merupakan gua-gua, sehingga porositasnya besar.

B. Jenis Porositas Total Porosity / Absolute Porosity adalah perbandingan ruang kosong/ pori-pori dalam batuan dengan bulk volume batuan (dinyatakan dalam persen). Effective Porosity adalah perbandingan ruang kosong/ pori-pori yang saling berhubungan dalam batuan dengan bulk volume batuan (dinyatakan dalam persen). Porositas Residual adalah porositas yang besarnya merupakan perbandingan antara volume pori yang tidak berhubungan dengan volume bulk batuan (dinyatakan dalam persen). Para reservoir engineering menginginkan nilai effective point yang besar karena berhubungan dengan kelancaran laju alir fluida dalam batuan. Untuk batuan dengan penyemenan yang buruk hingga pertengahan, porositas total kira-kira hampir sama dengan effective porosity. Sedangkan penyemenan yang sangat tinggi dan batukapur, kemungkinan terjadi perbedaan yang signifikan antara porositas total dengan effective porosity. Susunan pori sangatlah kompleks, tetapi relatif terdistribusi merata. Kekompleksan susunan pori meningkat dari interaksi berbagai faktor dalam lingkungan geologi, yaitu pengepakan butir dan distribusi ukuran butir dari kerangka pecahan, tipe material yang mengisi bagian kosong, dan tipe kadar penyemenan. Induced porosity seperti batuan karbonat memiliki tingkat susunan pori yang lebih kompleks. Terkadang terdapat dua atau lebih sistem pori pada batuan. Materi dasar batuan

biasanya kristal sebagai matriks. Matriks mengandung pori-pori kecil terbuka yang terdiri dari 1 sistem pori. Sistem ini berasal dari struktur kristal dari dalam batuan. Sistem pori dapat juga berasal dari fracturing/ retakan, lepasan dari batuan utama, atau pelarutan.

C. Perhitungan Porositas Beberapa batuan secara umum dapat menyerap fluida, seperti air, minyak, atau gas atau kombinasinya. Reservoir engineering memusatkan objeknya pada jumlah fluida yang terkandung dalam batuan tersebut, pergerakan fluida ke batuan, atau sifat yang berhubungan lainnya. Sifat-sifat ini bergantung pada batuan dan sifat fluida terhadap batuan tersebut. Ada porositas (pengukuran ruang kosong dalam batuan), permeabilitas (pengukuran perpindahan fluida dalam batuan), Saturasi fluida (pengukuran distribusi kasar fluida dalam batuan), dan electrical conductivity of fluid-saturated rocks (pengukuran konduktivitas batuan termasuk fluidanya terhadap arus listrik). Sifat-sifat diatas merupakan parameter dasar untuk mendeskripsikan batuan. 1. Porositas Dalam reservoir minyak, porositas mengambarkan persentase dari total ruang yang tersedia untuk ditempati oleh suatu cairan atau gas. Porositas dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara volume total pori-pori batuan dengan volume total batuan per satuan volume tertentu, yang jika dirumuskan :

Gambar 1.1 Rumus Porositas

Dimana : = Porositas absolute (total), fraksi (%)

Vp Vb Vgr

= Volume pori-pori, cc = Volume batuan (total), cc = Volume butiran, cc

Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: a. Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori total terhadap volume batuan total yang dinyatakan dalam persen, atau secara matematik dapat ditulis sesuai persamaan sebagai berikut :

Gambar 1.2 Rumus Porositas Absolut

b. Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap volume batuan total (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen.

Gambar 1.3 Rumus Porositas Efektif

Dimana e g b f

: = Porositas efektif, fraksi (%) = Densitas butiran, gr/cc = Densitas total, gr/cc = Densitas formasi, gr/cc

Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : a. Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang bersamaan dengan proses pengendapan berlangsung. b. Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah proses pengendapan. Besar kecilnya porositas

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran butir, susunan butir, sudut kemiringan dan komposisi mineral pembentuk batuan.

Tabel Ukur Porositas dan Kuantitas Porositas (%) ( 0% 5 %) (5% 10%) (10%- 15%) (15%- 20%) (20%- 25%) (>25%) Kuantitas Dapat diabaikan (negligible) Buruk (poor) Cukup baik (fair) Baik (good) Sangat baik (very good) Istimewa (excellent)

Faktor-faktor yang mempengaruhi porositas antara lain : 1. Ukuran butir atau grain size, semakin kecil ukuran butir maka rongga yang terbentuk akan semakin kecil puladan sebaliknya jika ukuran butir besar maka rongga yang terbentuk jugasemakin besar. 2. Bentuk butir atau sphericity Batuan dengan bentuk butir jelek akan memiliki porositas yang besar,sedangkan kalau bentuk butir baik maka akan memiliki porositas yang kecil.

3. Susunan butir a. Porositas pada susunan cubic packing

Vbulk

= 2r 2r 2r = 8r3 = (4/3) r3

Vgrain = 8(1/8) (4/3) r3 = (Vbulk Vgrain)/ Vbulk = (8r3 (4/3) r3)/ 8r3 = 0.4764 = 47.64% Volume bulk batuan diilustrasikan sebagai volume kotak, sedangkan volume grain batuan adalah jumlah butir yang ada dalam pada packing. Pada setiap packing terdapat 8 buah butir, tiap butirnya 1/8 dari volume bola. Porositas adalah

perbandingan volume pori-pori dengan volume bulk batuan dinyatakan dalam persen. Volume pori-pori di dapat dari Vbulk dikurangi Vgrain. Jadi, kita dapatkan porositas cubic packing sebesar 47.67%. Porositas ini merupakan nilai paling besar dari susunan packing apapun. Apabila ditemukan nilai porositas yang lebih besar dari 47.67% maka sudah jelas perhitungannya salah.

b. Porositas pada susunan rhombohedral packing

Vbulk

= alastinggilebar = 2r2r sin 4502r = 4(2)1/2 r3

Vgrain = (4/3) r3 = (Vbulk Vgrain)/ Vbulk = (4(2)1/2 r3 (4/3) r3)/ 4(2)1/2 r3 = 0.2596 = 25.96% Rhombohedral sendiri memiliki bentuk seperti 3d nya jajar genjang yang memiliki kemiringan sebesar 45 0. Volume bulk batuan digambarkan sebagai sebuah volume kotak yang dimiringkan 450, sedangkan volume grain batuan adalah jumlah butir yang ada dalam pada packing dengan jumlah sama dengan 1 buah bola. Porositas dinyatakan dengan

perbandingan antara volume pori-pori dengan volume bulk batuan dan dinyatakan dalam persen. Volume pori-pori didapat dari Vbulk dikurangi Vgrain. Sehingga, dari perhitungan didapat porositas rhombohedral packing sebesar 25.96%. Porositas rhombohedral packing lebih kecil daripada cubic packing.

c. Porositas pada susunan hexagonal packing

Vbulk

= alastinggilebar = 2r2r sin 6002r = 4(3)1/2 r3 = (Vbulk Vgrain)/ Vbulk = (4(3)1/2 r3 (4/3) r3)/ 4(3)1/2r3 = 0.3954 = 39.54% Hexagonal packing memiliki bentuk jajar genjang dengan

Vgrain = (4/3) r3

kemiringan 600. Volume bulk batuan diperlihatkan sebagai sebuah volume kotak yang dimiringkan 450, sedangkan volume grain batuan adalah jumlah butir yang ada dalam pada packing dengan total volume sama dengan volume 1 buah bola. Porositas dinyatakan sebagai perbandingan antara volume pori-pori dengan volume bulk batuan lalu dinyatakan dalam persen. Volume pori-pori dapat kita peroleh dari Vbulk dikurangi Vgrain. Melalui perhitungan di atas kita dapatkan porositas hexagonal packing sebesar 39.54%. Porositas hexagonal packing memiliki porositas lebih besar dari porositas

rhombohedral packing dan lebih kecil dari porositas cubic packing. Apabila ukuran butirnya sama maka susunan butir sama dengan bentuk kubusdan mempunyai porositas yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk rhombohedral.

4. Pemilahan Apabila butiran baik maka ada keseragaman sehingga porositasnya akan baik pula. Pemilahan yang jelek menyebabkan butiran yang berukuran kecil akanmenempati rongga diantara butiran yang lebih besar akibatnya porositasnyarendah. 5. Komposisi mineral Apabila penyusun batuan terdiri dari mineralmineral yang mudah larut sepertigolongan karbonat maka porositasnya akan baik karena rongga-rongga akibatproses pelarutan dari batuan tersebut. 6. Sementasi material semen pada dasarnya akan mengurangi harga porositas. Material yangdapat berwujud semen adalah silika, oksida besi dan mineral lempung. 7. Kompaksi dan pemampatan Adanya kompaksi dan pemampatan akan mengurangi harga porositas. Apabilabatuan terkubur semakin dalam maka porositasnya akan semakin kecil yangdiakibatkan karena adanya penambahan beban.Gambar dibawah menunjukkan foto dari batuan yang memiliki porositas.