Anda di halaman 1dari 40

PRESENTASI KASUS

PSIKOSOMATIS

Disusun Oleh: R.A. Wita Ferani Kartika, S.Ked 110.2009.229

Pembimbing: dr. Didiet Pratignyo, SpPD-FINASIM

DISUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI SALAH SATU PERSYARATAN TUGAS KEPANITERAAN DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA CILEGON 2013

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEGON FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Topik Penyusun

: Psikosomatis : R.A. Wita Ferani Kartika

I. Identitas Pasien Nama Usia Pekerjaan Agama Alamat No. CM Pembiayaan Tanggal Berobat Ruangan : Ny. E : 43 tahun : Ibu Rumah Tangga : Islam : Jombang, Cilegon : 326xxx : Jamkesmas : 11 Oktober 2013 : Nusa Indah RSUD Cilegon

II. Anamnesa Dilakukan secara auto-anamnesa pada tanggal 14 Oktober 2013 di Ruang Nusa Indah RSUD Cilegon pukul 08.00 WIB Keluhan Utama : Nyeri perut yang dirasakan sering muncul sejak menjalani operasi pengangkatan rahim 3 tahun yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Cilegon dengan keluhan nyeri perut yang sering muncul dan menghilang sejak pasien menjalani operasi pengangkatan rahim 3 tahun yang lalu. Keluhan nyeri perut muncul disertai keluhan mual, lemas, mencret, dan mulut terasa kering. Mual tidak disertai muntah. Mencret baru satu kali, seperti bubur berwarna kuning. Keluhan demam, pusing, batuk, pilek, sesak, nyeri pinggang, dan gangguan BAK disangkal. Pasien merasa sangat kesakitan sehingga diputuskan

untuk dirawat di bangsal untuk mendapat terapi lebih lanjut. Pasien selalu bertanyatanya mengapa ia selalu kesakitan seperti ini dan sampai menangis ketika diwawancara. Saat pemeriksaan di ruangan, pasien mengaku sudah tidak mencret dan belum BAB lagi sejak terakhir mencret saat berobat ke Poliklinik, tetapi masih mengeluh nyeri perut dan mual tidak kunjung hilang meskipun sudah diberikan obat-obatan. Pasien mengaku sedang berobat di psikiatri RSCM atas saran dokter yang merawatnya sebelumnya dikarenakan kecemasannya dan pasien sering sulit tidur. Pasien mengaku keluhan seperti ini sering sekali dirasakan dan susah hilang jika sudah kambuh. Keluhan sampai menganggu aktivitas. Pasien mengaku sejak menjalani operasi angkat rahim, muncul masalah keluarga yang menganggu pikirannya. Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah dioperasi pengangkatan rahim (histerektomi) 3 tahun karena mioma uteri. Sejak saat itu pasien tidak menstruasi dan sering merasakan nyeri perut. Pasien sudah dirawat 4 kali karena keluhan yang sama. Pasien sering bolak-balik ke dokter hingga ke RSCM Jakarta dan pernah menjalani endoskopi, kolonoskopi, dan MRI tahun 2012 karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Dari hasil endoskopi didapatkan gastritis erosif ringan, kolonoskopi normal, MRI terdapat penekanan protrusio diskus intervertebralis lumbal. Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan tidak sebanding dengan keluhan yang dirasakan pasien. Riwayat penyakit kencing manis disangkal. Riwayat pengobatan paru-paru sebelumnya disangkal. Riwayat penyakit hipertensi disangkal. Riwayat penyakit jantung disangkal. Riwayat asma dan alergi disangkal Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang mengeluh keluhan yang sama dengan pasien Riwayat DM pada keluarga disangkal Riwayat TB paru pada keluarga disangkal Riwayat asma dan alergi pada keluarga disangkal Riwayat penyakit hipertensi pada keluarga disangkal Riwayat penyakit jantung pada keluarga disangkal

Anamnesis Sistem (tanggal 14 Oktober 2013) Tanda checklist (+) menandakan keluhan pada sistem tersebut. Tanda strip (-) menandakan keluhan di sistem tersebut disangkal oleh pasien.

Kulit (-) (-) Bisul Kuku (-) (-) Rambut Ikterus (-) (-) (-) Keringat malam Sianosis Lain-lain

Kepala (-) (-) Trauma Sinkop (-) (-) Nyeri kepala Nyeri sinus

Mata (-) (-) (-) Nyeri Radang Sklera Ikterus (-) (-) (-) Sekret Gangguan penglihatan Penurunan ketajaman penglihatan

Telinga (-) (-) Nyeri Sekret (-) (-) (-) Tinitus Gangguan pendengaran Kehilangan pendengaran

Hidung (-) (-) (-) (-) Trauma Nyeri Sekret Epistaksis (-) (-) (-) Gejala penyumbatan Gangguan penciuman Pilek

Mulut (-) (-) (-) Bibir Gusi Selaput (-) (-) (-) Lidah Gangguan pengecapan Stomatitis
4

Tenggorokan (-) Nyeri tenggorok (-) Perubahan suara

Leher (-) Benjolan/ massa (-) Nyeri leher

Jantung/ Paru (-) (-) (-) Nyeri dada Berdebar-debar Ortopnoe (-) (-) (-) Sesak nafas Batuk darah Batuk

Abdomen (Lambung / Usus) (-) Rasa kembung (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Perut membesar Wasir Mencret Melena Tinja berwarna dempul Tinja berwarna ter Benjolan

(+) Mual (-) (-) (-) Muntah Muntah darah Sukar menelan

(+) Nyeri perut

Saluran Kemih / Alat Kelamin (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Disuria Stranguri Poliuria Polakisuria Hematuria Batu ginjal Ngompol (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Kencing nanah Kolik Oliguria Anuria Retensi urin Kencing menetes Kencing seperti air teh

Katamenis (-) (-) Leukore Lain-lain (-) ( ) Perdarahan

Haid (-) (-) (-) Hari terakhir Teratur Gangguan menstruasi (-) (-) (+) Jumlah dan lamanya Nyeri Paska menopause (-) (-) Menarche Gejala Klimakterium

Otot dan Syaraf (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Anestesi Parestesi Otot lemah Kejang Afasia Amnesis Lain-lain (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Sukar menggigit Ataksia Hipo/hiper-estesi Pingsan / syncope Kedutan (tick) Pusing (Vertigo) Gangguan bicara (disartri)

Ekstremitas (-) (-) Bengkak Nyeri sendi (-) (-) Deformitas Sianosis

III. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal 14 Oktober pukul 07.30 WIB VITAL SIGNS: Kesadaran : Compos mentis

Keadaan Umum : Lemah Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu BB/TB : 100/70 mmHg kiri : 84 kali/menit, reguler : 20x kali/menit : 370C : 65kg/155cm
6

STATUS GENERALIS: Kulit : Berwarna coklat muda, tidak terdapat kelainan warna kulit, tidak ikterik, suhu normal, dan turgor kulit baik. Kepala : Bentuk oval, simetris, ekspresi wajah terlihat kesakitan. Rambut : Berwana pirang karena dicat, lurus dan lebat. Mata : Tidak exopthalmus, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat dan isokor, tidak terdapat benda asing, pergerakan bola mata baik. Hidung : Tidak terdapat nafas cuping hidung, tidak deviasi septum, tidak ada sekret, dan tidak hiperemis. Telinga : Bentuk normal, liang telinga luas, tidak ada sekret, tidak ada darah, tidak ada tanda radang, membran timpani intak. Mulut : Bibir tidak sianosis, gigi geligi lengkap, gusi tidak hipertropi, lidah tidak kotor, mukosa mulut basah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis. Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada submentalis, subklavikula, pre-aurikula, post-aurikula, oksipital, sternokleido-

mastoideus, dan supraklavikula. Tidak terdapat pembesaran tiroid, trakea tidak deviasi, dan Jugular Venous Pressure bernilai 5 + 2 cm H2O. Thoraks : Normal, Simetris kiri dan kanan perbandingan transversal : antero posterior = 2:1, tidak ditemukan kelainan kulit, tidak terlihat adanya massa. Paru-paru Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri pada saat statis dan dinamis, tidak terdapat retraksi dan pelebaran sela iga. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas, tidak terdengar adanya krepitasi, fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri. Perkusi : Sonor pada seluruh lapangan paru dan terdapat peranjakan paru hati pada sela iga VI. Auskultasi : Suara napas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Jantung Inspeksi Palpasi : Iktus kordis tidak terlihat : Iktus kordis teraba di 2cm lateral ICS IV linea midklavikula sinistra, dan tidak terdapat thrill

Perkusi

: Batas jantung kanan pada ICS V linea para sternalis dextra, batas jantung kiri pada ICS V linea midklavikula sinistra.

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular, tidak terdapat murmur dan gallop Abdomen Inspeksi : Tampak simetris, agak membuncit, tidak terlihat massa, tidak pelebaran vena, tampak ada striae pada abdomen bawah, tambak sikatriks bekas operasi di linea mediana abdomen Auskultasi : Bising usus (+) normal Palpasi : Supel, turgor baik, terdapat nyeri tekan terutama di daerah epigastrium, nyeri lepas (-), tidak teraba massa, hepatomegali (-) splenomegali (-), Ballotement (-). Perkusi : Suara timpani di semua lapang abdomen, tidak terdapat nyeri ketuk, shifting dullness (-). Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan Ekstremitas : Akral hangat, tidak ada edema, kekuatan otot 5 di seluruh ekstremitas Refleks fisiologis dan patologis : tidak dilakukan pemeriksaan.

IV. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (tanggal 11 Oktober 2013) GDS: 126 mg/dl SGOT: 22 u/l SGPT: 16 u/l Ureum: 21 mg/dl Kreatinin: 0,9 Na: 138,8 mmol/l K: 3,99 mmol/l Cl: 107,3 mmol/l Hb: 13,9 g/dl Leukosit: 8780 /uL Ht: 42,4 % Trombosit; 250.000 /uL

IV. Diagnosis Diagnosis Kerja : Dispepsia, Gangguan Psikosomatis Dasar diagnosis : Anamnesis Keluhan nyeri perut sering muncul dan menghilang sejak pasien menjalani operasi pengangkatan rahim 3 tahun yang lalu. Keluhan nyeri perut muncul disertai keluhan mual, lemas, mencret satu kali seperti bubur warna kuning, dan mulut terasa kering. Mual tidak disertai muntah. Keluhan demam, pusing, batuk, pilek, sesak, nyeri pinggang, dan gangguan BAK disangkal. Pasien merasa sangat kesakitan dan selalu bertanya-tanya mengapa ia selalu kesakitan seperti ini dan sampai menangis ketika diwawancara. Pasien mengaku sedang berobat di psikiatri RSCM atas saran dokter yang merawatnya sebelumnya dikarenakan kecemasannya dan pasien sering sulit tidur. Pasien mengaku keluhan seperti ini sering sekali dirasakan dan susah hilang jika sudah kambuh. Keluhan sampai menganggu aktivitas. Pasien mengaku sejak menjalani operasi angkat rahim, muncul masalah keluarga yang menganggu pikirannya. Pasien sudah dirawat 4 kali karena keluhan yang sama. Pasien sering bolak-balik ke dokter hingga ke RSCM Jakarta dan pernah menjalani endoskopi, kolonoskopi, dan MRI tahun 2012 karena ingin mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Dari hasil endoskopi didapatkan gastritis erosif ringan, kolonoskopi normal, MRI terdapat penekanan protrusio diskus intervertebralis lumbal. Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan tidak sebanding dengan keluhan yang dirasakan pasien. Pemeriksaan fisik : Palpasi abdomen terdapat nyeri tekan terutama di daerah epigastrium, tidak ditemukan kelainan pada organ lain Pemeriksaan lab : Semua dalam batas normal

V. Diagnosis Banding Kelainan organik berat

VI. Terapi yang diberikan IVFD RL + Ondansetron 8 mg 20 tpm Cefriaxone 1x2 gr drip NS 100
9

Ranitidin inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Diaform p.o. 3x1 tab Lorazepam p.o. 2x1

Anjuran terapi selain obat-obatan: Yakinkan pasien bahwa penyakit tak separah yang diperkirakan Psikoterapi: o Hubungan yang baik dokter pasien o Ventilasi: kesempatan utarakan konfliknya mengurangi ketegangan o Reedukasi: meluruskan pendapat pasien yang salah, beri keyakinan, pengertian tentang penyebab penyakit o Komitmen agama & pengamalannya Pendukung: o Perbaiki kondisi sosial ekonomi, rumah tangga, pekerjaan o Tunjukkan jalan keluar permasalahan o Psikoterapi terhadap orang di sekitarnya

IX. Prognosis Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

X. Follow-up
15 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB sejak 3 hari yang lalu, gangguan BAK (-) O/ : KU : Lemah, Kesadaran : Compos mentis TD : 120/80 mmHg, N: 76 x/menit, RR : 20x/menit, S: 36,4C Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-)

10

Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD RL 20 tpm Cefriaxone 1x2 gr drip NS 100 Ondansetron inj 3x4 mg Ranitidin inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 16 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), BAB banyak 1 kali seperti bubur berwana kuning, gangguan BAK (-) O/ : KU : Lemah, Kesadaran : Compos mentis TD : 110/80 mmHg, N: 82 x/menit RR : 20x/menit, S: 36,5C Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 17 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+) terasa berpindah-pindah nyerinya, mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), seperti ingin BAB tetapi sulit, belum BAB, gangguan BAK (-) O/ : KU : Lemah, Kesadaran : Compos mentis TD : 90/60 mmHg, N: 82 x/menit RR : 20x/menit, S: 37C

11

Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 18 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB, gangguan BAK (-) O/ : KU : Lemah, Kesadaran : Compos mentis TD : 100/60 mmHg, N: 80 x/menit, RR : 20x/menit, S: 37C Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 19 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), perut mulas seperti ingin BAB tetapi sulit, mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB sejak 2 hari

12

yang lalu, gangguan BAK (-) O/ : KU : Sakit sedang, Kesadaran : Compos mentis TD : 110/70 mmHg, N: 80 x/menit, RR : 20x/menit, S: 36C Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 20 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB sejak 3 hari yang lalu, gangguan BAK (-) O/ : KU : Sakit sedang, Kesadaran : Compos mentis TD : 90/60 mmHg, N: 80 x/menit, RR : 20x/menit, S: 36C A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 21 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB sejak 4 hari yang lalu, gangguan BAK (-) O/ : KU : Sakit sedang, Kesadaran : Compos mentis TD : 100/60 mmHg, N: 80 x/menit, RR : 20x/menit, S: 37C Kepala : Normocephale

13

Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis P/ : IVFD D5% 20 tpm Ranitidin inj 2x1 amp Ketorolac inj 2x1 amp Antacyd p.o. 2xC1 Lorazepam p.o. 2x1 22 Oktober 2013 S/ : Nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), demam (-), sesak (-), belum BAB, gangguan BAK (-), pasien minta pulang O/ : KU : Sakit sedang, Kesadaran : Compos mentis TD : 100/60 mmHg, N: 80 x/menit, RR : 20x/menit, S: 37C Kepala : Normocephale Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ THT : dbn Thoraks : Simetris Cor : BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo : SN Vesikular, ronki-/- wheezing -/Abd : BU (+) normal, super, nyeri tekan epigastrium (+) Eks : Hangat, Tidak edema A/ : Dispepsia, Psikosomatis Ansietas P/ : Alprazolam p.o. 2x1 Braxidin p.o. 3x1 Lansoprazol p.o. 2x1 Pasien Rawat Jalan

14

TINJAUAN PUSTAKA GANGGUAN PSIKOSOMATIK

I.

DEFINISI

Hubungan antara psikis (jiwa) dan soma (badan) telah menjadi perhatian para ahli dan para peneliti sejak dahulu. Keduanya (psikis dan soma) saling terkait secara erat dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kedua aspek saling mempengaruhi yang selanjutnya tercermin dengan jelas dalam ilmu kedokteran psikosomatik. 1 Di masa prasejarah masyarakat percaya bahwa penyakit disebabkan oleh kekuatan roh jahat/setan. Oleh karena itu pengobatannya harus dilakukan dengan mantera-mantera. Di masa peradaban kuno kemudian dipercaya bahwa pikiran memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi badan, sehingga gangguan pada badan tidak bisa disembuhkan tanpa mengobati kepalanya (pikiran).1 Dalam perkembangannya tidak hanya aspek fisis dan psikis saja yang menjadi titik perhatian, tetapi juga aspek spiritual (agama) dan lingkungan merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai keadaan kesehatan yang optimal. Hal ini sesuai dengan definisi WHO tentang pengertian sehat yang meliputi kesehatan fisis, psikologis, sosial, dan spiritual. Jadi mempunyai 4 dimensi yaitu bio-psiko-sosio-spiritual.1 Dalam pengertian kedokteran psikosomatik secara luas, aspek bio-psiko-sosiospiritual tersebut sangat perlu dipahami untuk melakukan pendekatan dan pengobatan terhadap pasien secara holistic (menyeluruh) dan ekliktik (rinci) yaitu pendekatan psikosomatik.1 Gangguan psikosomatik ialah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut. Ada juga yang memberikan batasan bahwa gangguan psikosomatik merupakan suatu kelainan fungsional suatu alat atau sistem organ yang dapat dinyatakan secara obyektif, misalnya adanya spasme, hipo atau hipersekresi, perubahan konduksi saraf dan lain-lain. Keadaan ini dapat disertai adanya organik/struktural sebagai akibat gangguan fungsional yang sudah berlangsung lama.1 Menurut JC. Heinroth yang dimaksud dengan gangguan psikosomatik ialah adanya gangguan psikis dan somatik yang menonjol dan tumpang tindih. Berdasarkan pengertian dan kenyataan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan gangguan
15

psikosomatik adalah gangguan atau penyakit yang ditandai oleh keluhan-keluhan psikis dan somatik yang dapat merupakan kelainan fungsional suatu organ dengan ataupun tanpa gejala objektif dan dapat pula bersamaan dengan kelainan organik/ struktural yang berkaitan dengan stressor atau peristiwa psikososial tertentu.1 Gangguan fungsional yang ditemukan bersamaan dengan gangguan struktural organis dapat berhubungan sebagai berikut: Gangguan fungsional yang lama dapat menyebabkan atau mempengaruhi timbulnya gangguan struktural seperti asma bronchial, hipertensi, penyakit jantung koroner, arthritis rheumatoid dan lain-lain Gangguan atau kelainan struktural dapat menyebabkan gangguan psikis dan menimbulkan gejala-gejala gangguan fungsional seperti pada pasien penyakit jantung, penyakit kanker, gagal ginjal dan lain-lain. Gangguan fungsional dan struktural organik berada bersamaan oleh sebab yang berbeda.1 Dalam kenyataannya, di klinik jarang sekali faktor psikis/emosi seperti frustasi, konflik, ketegangan dan sebagainya dikemukakan sebagai keluhan utama oleh pasien. Justru keluhan-keluhan fisis yang beraneka ragam yang selalu ditonjolkan oleh pasien. Keluhankeluhan yang dirasakan pasien umumnya terletak di bidang penyakit dalam seperti keluhan sitem kardiovaskuler, sistem pernapasan, saluran cerna, saluran urogenital, dan sebagainya. Keluhan-keluhan tersebut adalah manifestasi adanya ketidakseimbangan sistem saraf otonom vegetatif, seperti sakit kepala, pusing, serasa mabuk, cenderung untuk pingsan, banyak keringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, gangguan pada lambung, dan usus, diare, anoreksia, kaki dan tangan dingin, kesemutan, merasa panas atau dingin seluruh tubuh dan banyak lagi gejala lainnya.1 Terdapat multiaxial evaluation system pada psikosomatik. Dikenal 5 aksis yang ada: Aksis 1. Faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi malfungsi atau kondisi fisis, sindrom klinis. Aksis 2. Gangguan personality (kepribadian) dan derajat beratnya gangguan tersebut. Aksis 3. Gangguan penyakit fisik. Aksis 4. Stresor psikososial dan derajat beratnya. Aksis 5. Sosio-kultural, kemampuan fungsi adaptasi yang tertinggi, didapatkan dalam satu tahun terakhir.

16

Dengan mempergunakan evaluasi multiaksis ini pada setiap pasien psikosomatik dapat dipandang secara luas dari berbagai aspek, yaitu aspek psikologis, sosial, fisik, dan beratnya faktor stresor dan derajat fungsi adaptasinya.

II. PATOFISIOLOGI

STRES, STRESOR DAN GANGGUAN PSIKOSOMATIK Stres menurut Hans Selye adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. Jadi merupakan respon autonomik tubuh bersifat adaptif pada tiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisik optimal suatu organisme. Reaksi fisiologis ini disebut general adaptation syndrome. Respons tubuh terhadap perubahan dibagi menjadi 3 fase : 1. Alarm reaction (reaksi peringatan) Tubuh dapat mengatasi stresor (perubahan) dengan baik 2. The stage of resistance (reaksi pertahanan) Reaksi terhadap stresor sudah melampaui kemampuan tubuh, timbul gejala psikis dan somatik. 3. Stage of exhaustion (reaksi kelelahan) Gejala psikosomatik tampak jelas Dari sudut pandang psikologis, stress didefinisikan sebagai keadaan internal yang disebabkan oleh kebutuhan psikologis tubuh, atau oleh situasi lingkungan sosial yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbulkan perubahan-perubahan atau memerlukan pertahanan seseorang. Dalam keadaan stress dapat terjadi perubahan psikis, fisiologis, biokemis dan lain-lain reaksi tubuh di samping adanya proses adaptasi. Stresor psikososial adalah keadaan/peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang. Karena adanya stresor terpaksa seseorang menyesuaikan diri untuk menanggulangi stres yang timbul. Stresor ialah keadaan yang menimbulkan stres, contohnya masalah perkawinan, keluarga, hubungan interpersonal, pekerjaan, lingkungan hidup, hukum, keuangan, perkembangan, penyakit fisik, dan lain-lain. Pembagian lain yaitu stresor fisis, stresor sosial, stresor psikis.

17

DASAR PSIKOFISIOLOGI DAN PSIKOPATOLOGI Patofisiologi timbulnya kelainan fisis yang berhubungan dengan gangguan psikis/emosi belum seluruhnya dapat diterangkan namun sudah terdapat banyak bukti dari hasil penelitian para ahli yang dapat dijadikan pegangan. Gangguan psikis/konflik emosi yang menimbulkan gangguan psikosomatik ternyata diikuti oleh perubahan-perubahan fisiologis dan biokimia pada tubuh seseorang. Perubahan fisiologi ini berkaitan erat dengan adanya gangguan pada sistem saraf autonom vegetatif, sistem endokrin dan sistem imun.1 Patofisiologi gangguan psikosomatik dapat diterangkan melalui beberapa teori sebagai berikut: a. Gangguan Keseimbangan Saraf Autonom Vegetatif Dua komponen pengatur yang saling berlawanan pada sistem vegetatif: Sistem simpatik ergotrop untuk melakukan effort, prestasi dengan mempergunakan dan melepaskan energi Sistem parasimpatik trofotrop untuk istirahat dan pemulihan kembali cadangan energi di badan. Dengan kerja sama kedua sistem ini terpeliharalah keseimbangan yang dinamik, suatu keseimbangan vegetatif, yang secara optimal dapat menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan kebutuhan setiap saat. Pada keadaan ini konflik emosi yang timbul diteruskan melalui korteks serebri ke sistem limbik kemudian hipotalamus dan akhirnya ke sistem saraf autonom vegetatif. Gejala klinis yang timbul dapat berupa hipertoni parasimpatik, ataksi vegetatif yaitu bila koordinasi antara simpatik dan parasimpatik sudah tidak ada lagi dan amfotoni bila gejala hipertoni simpatik dan parasimpatik terjadi silih berganti.1 b. Gangguan Konduksi Impuls Melalui Neurotransmitter Gangguan konduksi ini disebabkan adanya kelebihan atau kekurangan neurotransmitter di presinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor-reseptor postsinaps. Beberapa neurotransmitter yang telah diketahui berupa amin biogenik antara lain noradrenalin, dopamine, dan serotonin.1 c. Hiperalgesia Alat Viseral Meyer dan Gebhart (1994) mengemukakan konsep dasar terjadinya gangguan fungsional pada organ visceral yaitu adanya visceral hyperalgesia. Keadaan ini mengakibatkan respon reflex yang berlebihan pada beberapa bagian alat visceral tadi.

18

Konsep ini telah dibuktikan pada kasus-kasus non-cardiac chest pain, non-ulcer dyspepsia dan irritable bowel syndrome.1 d. Gangguan Sistem Endokrin/Hormonal Perubahan-perubahan fisiologi tubuh yang disebabkan adanya stress dapat terjadi akibat gangguan sistem hormonal. Perubahan tersebut terjadi melalui hypothalamicpitutary-adrenal axis (jalur hipotalamus-pituitari-adrenal). Hormone yang berperan pada jalur ini antara lain: hormon pertumbuhan (growth hormone), prolactin, ACTH, katekolamin.1 e. Perubahan dalam Sistem Imun Perubahan tingkah laku dan stress selain dapat mengaktifkan sistem endokrin melalui hypothalamus-pituitary axis (HPA) juga dapat mempengaruhi imunitas seseorang sehingga mempermudah timbulnya nfeksi dan penyakit neoplastik. Fungsi imun menjadi terganggu karena sel-sel imunitas merupakan immunotransmitter mengalami berbagai perubahan.1 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi imunitas adalah sebagai berikut: Kualitas dan kuantitas stress yang timbul Kamampuan individu dalam mengatasi suatu stress secara efektif Kualitas dan kuantitas rangsang imunitas Lamanya stress Latar belakang lingkungan sosio-kultural pasien Faktor pasien sendiri (umur, jenis kelamin, status gizi)1

III. KLASIFIKASI Berdasarkan ada tidaknya patologi sistem organ, gangguan psikosomatik dibagi menjadi:1 a. Gangguan psikosomatik fungsional (malfungsi fisiologis) atau gangguan psikosomatik primer b. Gangguan psikosomatik struktural (malfungsi fisiopatologis) atau gangguan

psikosomatik sekunder Kasus-kasus psikosomatik di bagian penyakit dalam dapat dibedakan beberapa kelompok, yaitu: Tanpa dijumpai kelainan organik (kasus psikosomatik murni)
19

Terdapat kelainan organik disebabkan karena gangguan psikosomatiknya sudah berlangsung lama. Misalnya dispepsia non ulkus menjadi ulkus peptikum Kelainan organik terjadi bersama-sama gangguan psikosomatiknya dan tidak saling berhubungan (koinsidensi). Dalam hal ini keluhan-keluhan pasien tidak sesuai dengan kelainan yang ditemukan. Mereka terlampau banyak mempunyai keluhan yang tak cocok dengan keluhan organiknya

Kelainan organik yang ada baru disadarkan oleh orang atau dokternya. Misalnya kelainan jantung bawaan, tuberkulosis, tumor ganas, infark miokard, dan sebagainya.

JENIS GANGGUAN PSIKOSOMATIK Untuk klasifikasi jenis gangguan psikosomatik, maka jenis gangguan dibagi menurut organ yang paling sering terkena, yaitu gangguan gastrointestinal, gangguan kardiovaskular, gangguan pernapasan, gangguan endokrin, gangguan kulit, gangguan muskuloskeletal, psiko-onkologi. 1. Gangguan Gastrointestinal a. Dispepsia Fungsional Merupakan perasaan tidak enak dan sakit pada daerah epigastrium, sering disebabkan karena kelainan fungsi lambung: sekresi asam lambung yang berlebihan, motilitas dan tonus yang meninggi pada otot-otot dinding lambung.2 Legarde dan Spiro (1984) mengatakan bahwa keluhan tidak enak pada perut bagian atas yang bersifat intermitten sedangkan pada pemeriksaan tidak didapatkan kelainan organis. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan pasien berupa rasa penuh pada ulu hati sesudah makan, kembung, sering bersendawa, cepat kenyang, anoreksia, nausea, vomitus, rasa terbakar pada daerah ulu hati dan regurgitasi.3 Peran faktor psikososial pada dispepsia fungsional sangat penting karena dapat menyebabkan hal-hal di bawah ini: Menimbulkan perubahan fisiologi saluran cerna Perubahan penyesuaian terhadap gejala-gejala yang timbul Mempengaruhi karakter dan perjalanan penyakitnya Mempengaruhi prognosis Rangsangan psikis/emosi sendiri secara fisiologi dapat mempengaruhi lambung dengan dua cara:

20

Jalur Neurogen: rangsangan konflik emosi pada korteks serebri mempengaruhi kerja hipotalamus anterior dan selanjutnya ke nucleus vagus, dan kemudian ke lambung

Jalur Neurohormonal: rangsangan pada korteks serebri diteruskan ke hipotalamus anterior selanjutnya ke hipofisis anterior yang mengeluarkan kortikotropin. Hormon ini merangsang korteks adrenal dan kemudian menghasilkan hormon adrenal yang selanjutnya merangsang produksi asam lambung.3 Pengobatan melalui pendekatan psikosomatis yaitu dengan memperhatikan

aspek-aspek fisik, psikososial, dan lingkungan. Terhadap keluhan-keluhan dispepsia dapat diberikan pengobatan simptomatis seperti antasida, obat-obat H2 antagonis seperti Cimetidin, ranitidine. Obat inhibitor pompa proton seperti omeprazole, lansoprazole. Yang tidak kalah pentingnya ialah melakukan psikoterapi dengan beberapa edukasi dan saran agar dapat mengatasi atau mengurangi stress dan konflik psikososial.3 b. Konstipasi Psikogenik Buang air besar biasanya terjadi setelah timbul rangsangan di hipotalamus yang diteruskan ke kolon dan sfingter ani melalui susunan saraf autonom. Pada waktu tertentu kemungkinan rangsangan tersebut tidak timbul. Hal ini dapat terjadi pada seseorang yang sedang murung, kecewa, putus asa, dan gangguan jiwa lain. Pasien sering mempunyai keluhan tidak dapat atau mengalami kesulitan buang air besar. Akibat kelainan tersebut, rangsangan di hipotalamus ikut menurun sampai tidak ada, sehingga rangsangan di usus besar pun sangat berkurang. Bila berlangsung terusmenerus akan terjadi atoni kolon dan konstipasi kronik yang selanjutnya disebut konstipasi psikogenik. 4 Pengelolaan pasien konstipasi psikogenik lebih menitikberatkan pada

psikoterapi. Perlu pendekatan psikomatik dengan memperdulikan faktor-faktor psikis sebagai penyebabnya. 4 c. Diare Psikogenik Seseorang yang sedang mengalami ketegangan jiwa, sedang emosi, atau sedang dalam keadaan stress , hidupnya tidak teratur. Keadaan demikian akan menyebabkan terangsangnya hipotalamus terus-menerus secara tidak teratur. Rangsangan di hipotalamus ini akan diteruskan ke susunan saraf autonom. Susunan saraf yang
21

berulang kali terangsang ini akan menyebabkan timbulnya hiperperistaltik kolon, sehingga bolus makanan terlalu cepat dikeluarkan karena hiperperistaltik tersebut, reabsorpsi air di kolon terganggu, dan timbullah diare. Bila terjadi berulang kali, timbul diare kronik. Keadaan demikian disebut diare psikogenik kronik. 4 Sifat diare psikogenik pada umumnya memperlihatkan sering buang air besar yang bersifat lembek, hampir tidak pernah bersifat cair, jarang disertai lender dan darah, dan tidak pernah disertai demam. Diare yang timbul biasanya berlangsung beberapa hari, selama masih ada gangguan psikis.4 d. Obesitas Pada obesitas yang hebat sering didapati faktor psikologik. Tidak dapat diterangkan secara memuaskan dengan teori: efisiensi otot-otot yang tinggi, respiratory quotient yang rendah, specific dynamic action dari makanan atau penyimpanan yang abnormal oleh orang gemuk itu. 2 Faktor psikologik, mulai dari ketegangan yang ringan sampai dengan suatu nerosa yang hebat dapat menyebabkan makan berlebihan. Kadang-kadang orang yang merasa tidak bahagia mencari kesenangan dalam makanan. Mungkin bila ia mengalami banyak kekecewaan dalam pekerjaan atau kehidupan seksual, makanan bukan saja daoat merupakan pembelaan atau hiburan, tetapi juga dapat merupakan substitusi. 2 Pengobatan ialah meyakinkan penderita bahwa berat badan itu perlu diturunkan, mengatur tabiat makanan, diet yang pantas, dan psikoterapi bila terdapat konflik; dapat juga diberikan obat-obat untuk menekan nafsu makan beserta vitamin supaya tidak kekurangan bila makan berkurang. 2 2. Gangguan Kardiovaskular a. Hipertensi Hipertensi oleh banyak peneliti dianggap sebagai suatu penyakit yang multifaktorial. Selain faktor psikis yang menstimulasi efek simpatikotonik, pengaruh lingkungan sekitar dan sosio-kultural juga ikut berperan. Faktor-faktor psikis stuasional yang menyebabkan kenaikan tekanan darah, merupakan model outlet yang aman sebagai reaksi normal fisiologis. 5 Menurut Groen, mekanisme utama perkembanghan menjadi hipertensi yaitu perubahan suatu reaksi fisiologis yang dihubungkan dengan behavior readiness, oleh suatu reaksi neuroviseral; sebagai ganti aktivitas neuromuscular yang kuat dan
22

volume semenit jantung yang meningkat, serta resistensi pembuluh darah yang meningkat pula.5 Karena sifat etiologi yang multifaktorial, kebanyakan pasien membutuhkan terapi kombinasi. Terapi dengan obat seringkali perlu diberikan, namun efek samping harus diperhatikan. Reserpine, misalnya, juga mempunyai efek samping depresif. Latihan autogen (autogenic training) sebagai latihan rileks pada hakikatnya sangat baik, namun seringkali menambah rasa takut dan kegelisahan, karena aktivitas defense yang menutup-nutupi rasa takut dihilangka, sehingga konflik internal malah dialami lebih jelas. 5 b. Gangguan Irama Jantung Mekanisme regulasi jantung mudah bereaksi terhadap rangsangan psikis dan penilaiannya dalam hal khayalan dan pengalaman merupakan faktor-faktor yang menentukan dalam terjadinya penyakit. Faktor-faktor emosional dapat bekerja dengan 3 cara: a. Afek seperti rasa takut, sedih, gembira atau ketegangan jiwa mempengaruhi fungsi somatik secara tidak khas. Emosi agresif mempercepat frekuensi jantung. Pengalaman depresif menekan dan memperlambatnya. b. Bila dalam keadaan normal, jantung berdenyut teratur, maka persepsi gangguan irama dapat menimbulkan kecemasan atau ketidakseimbangan vegetatif.5 Faktor-faktor psikis berpengaruh pada timbulnya gangguan frekuensi denyut dan disaritmia jantung. Pada gangguan frekuensi jantung, pengaruh fisis, toksik, infeksi dan degenerasi, juga faktor piskis.5 Aritmia psikogenik tanpa adanya gangguan struktural pada umumnya tidak akan menyebabkan kematian, namun dapat memberikan impilkasi yang buruk terhadap kondisi psikis pasien. Maka psikoterapi suportif dan pemberian ansiolitik dapat mencegah perburukan kondisi psikis dan menghilangkan ritma.5 3. Gangguan Pernapasan a. Sindrom Hiperventilasi Sindrom hiperventilasi didefinisikan sebagai suatu keadaan ventilasi berlebihan yang menyebabkan perubahan hemodinamik dan kimia sehingga menimbulkan berbagai gejala. Mekanisme yang mendasari hingga terjadi sindrom hiperventilasi belim jelas diketahui.6

23

Menurut Arautigam (1973) secara psikologis penyebab yang mencetuskan penyakit ini ialah perubahan pernapasan, yang ia namakan sindrom pernapasan nervous yang biasanya disebabkan oleh faktor emosional/stress psikis. Terdapat 2 jenis pernapasan yang dapat ditemukan, yaitu: 6 Pernapasan yang tidak teratur yang dianggap sebagai pengutaraan rasa takut yang khas. Pernapasan yang dangkal yang diselingi dengan penarikan napas dalam sebagai pengutaraan situasi pribadi yang bersifat keletihan dan pasrah, yaitu pertanda tujuan tidak dapat dicapai kendati sudah diusahakan. Gejala klinis yang dapat ditemukan pada pasien adalah napas sesak, napas pendek, dada tertekan, nyeri pada epigastrium, pusing, sakit kepala,mulut dan tenggorokan kering, disfagi, dan rasa penuh pada lambung.penyebab paling sering untuk hiperventilasi ialah emosi rasa takut dan kegelisahan. 6 Terapi untuk pasien dengan sindrom hiperventilasi: Pasien bernapas (inspirasi dan ekspirasi) ke dalam sungkup kantong plastic bila didapatkan tanda alkalosis agar PCO2 dalam darah naik. Suntikkan 10 cc larutan kalsium glukonas 10% intravena mempunyai efek placebo. Pasien merasa hangat dan enak, tetapi kadar ion kalsium tidak akan naik. Belajar bernapas torako-abdominal dengan menggerakkan diafragma. Psikoterapi: membantu menyelesaikan problem-problem emosional pada pasien, termasuk melakukan terapi pelaku (Cogntive Behavioral Teraphy) Karena hiperventilasi sering merupakan bagian dari serangan panik (panic disorder), maka pemberian obat yang tepat adalah golongan benzodizepin atau golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) b. Asma Bronkial Asma merupakan suatu gangguan karena hiperaktivitas yang diikuti

bronkokontriksi yang reversible serta adanya reaksi inflamasi kronik serta kerusakan epitel. Dalam perkembangannya, pathogenesis asma dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor genetik (atopi dan hiperaktivitas bronkus pada keluarga), faktor lingkungan, allergen seperti debu rumah, serbuk sari bunga, virus dan bakteri, polusi udara; faktor individu, adanya stressor dan kemampuan untuk mengatasi asma.7

24

Beberapa keadaan yang merupakan stressor psikososial, sebagai berikut: Pengalaman luar biasa: permulaan masuk sekolah, ujian, pertama masuk kerja, menderita penyakit, berpisah dengan orang tua, dll Kejadian-kejadian traumatik: perkelahian/pertentangan dengan orang tua, permusuhan, kejengkelan dalam kerja. Pengalaman yang menyedihkan: kematian orang tua, atau anak, kehilangan harta benda, dan musibah lainnya7 Terhadap gejala asma secara fisik diberikan pengobatan standar yang sudah baku sesuai dengan tingkat beratnya penyakit (bronkodilator, kortikosteroid). Sedangkan untuk gangguan psikosomatik seperti adanya anxietas atau depresi secara bersamaan dilakukan psikoterapi dan psikoedukasi serta psiokfarmaka yang sesuai. Pada gangguan anxietas yang menyertai atau mencetuskan asma dapat diberikan golongan benzodiazepine seperti alprazolam, klobazam. Bila dijumpai adanya presi, maka dapat diberikan antidepresan yang aman misalnya golongan SRI seperti sertraline, fluoksetin.7 Cara pengobatan psikosomatik yang khusus pada asma memang belum ada standar, namun pada umumnya pengobatan meliputi psikoterapi superfisial, edukasi, instruksi. Psikoterapi individual dan psikoterapi kelompok. Mereka diberikan edukasi mengenai perjalanan penyakit asma, mekanisme timbul, faktor resiko, pengobatan dan pencegahan. Psikoterapi ini diberikan untuk meningkatkan daya adaptasi dan kemampuan untuk menyelesaikan atau menghilangkan stressor psikososial yang dialami pasien.2,7 Instruksi tentang penatalaksanaan mandiri dengan monitoring PEFR (Peak Expiratory Flow Rate) di rumah. Autogrnic training yaitu latihan untuk dapat bersantai dengan memahami bahwa faktor psikis dapat menimbulkan reaksi bronkospasme. Cara sugestif yaitu mengalihkan atau mencurahkan perhatian diri sendiri kepada hal-hal yang bermanfaat. Psikoterapi analisis yang sederhana.7

4. Gangguan Endokrin a. Kelainan Tiroid


25

Pasien tirotoksikosis umumnya datang dengan keluhan yang dianggap bersifat psiksi belaka. Misalnya rasa cemas, mudah marah, paranoid, rasa seperti leher tercekik atau terikat, rasa takut tanpa sebab yang jelas, insomnia dengan mimpi buruk, dan gugup. Keluhan ini sering diikuti dengan hiperaktivitas saraf otonom seperti keringat banyak, mulut kering, pupil lebar, kulit pucat, nadi cepat, dan sebagainya.8 Pengobatan ialah usaha untuk mengendalikan metabolism dengan obat-obat dan bila perlu dioperasi. Transquilaizer dapat sangat membantu. Psikoterapi perlu, terutama pada penderita dengan konflik yang mendalam dan yang tidak dapat menyesuaikan diri.2 b. Diabetes Melitus Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit meabolik yang ditandai dengan adanya defek pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hipetglikemia kronik pada pasien diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau kegagalan berbagai organ seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah serta mempengaruhi kondisi psikis. Gangguan psikis yang biasa terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah depresi. 9 Depresi terjadi akibat faktor psikologis dan psikososial yang berhubungan dengan penyakit atau terapinya. Depresi pada diabetes terjadi akibat meningkatnya tekanan pasien yaitu:9 a. Pandangan terhadap penyakit yang diderita. b. Dukungan sosial yang kurang baik c. Coping strategy, mencegah pikiran untuk lari dari kenyataan dan adaptasi psikologis menjadi lebih baik sehingga mengurangi kemungkinan gejala depresi. Pengobatan depresi dan diabetes dilakukan bersama-sama dengan psikoterapi, psikoedukasi, psikofarmaka secara serentak. Cognitive Behavioral Theraphy (CBT) sangat bermanfaat diberikan pada pasien depresi dengan diabetes mellitus dan dikombinasikan dengan edukasi diabetes. Teknik CBT tersebut adalah:9 a. Merubah perilaku dengan mengembalikan aktuvitas fisik dan kehidupan sosial yang menyenangkan pasien. b. Upaya pemecahan masalah atau stress yang dihadapi.
26

yang dialami

dari penyakitnya

yang kronik. Hubungan

ketidakmampuan adaptasi dengan gejala depresi ditentukan oleh beberapa faktor,

c. Teknik kognitif dengan mengidentifikasi adanya maldaptasi dan menggantinya dengan pandangan yang akurat, adaptif dan akurat. Beberapa golongan obat antidepresan yang biasa diberikan untuk penderita diabetes melitus adalah golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) dapat mengurangi resistensi insulin sehingga gula darah dapat lebih terkontrol. Beberapa golongan obat SSRI seperti fluoksetin memiliki efek menurunkan berat badan sehingga baik diberikan pada penderita diabetes yang gemuk. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya hipoglikemia, disfungsi seksual dan pasien yang disertai gangguan ginjal.9 5. Gangguan Muskuloskeletal Arthritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi kronik dengan pathogenesis autoimun dan etiologi yang multikompleks. Berbagai faktor yang dapat berperan penting seperti immunogenetik, kelamin, umur dan stress. Hubungan stress dengan AR masih belum jelas, meskipun pada berbagai penelitian terdapat perkembangan bahwa faktor stressor lingkungan, psikologis, dan biologis menjadi faktor predisposisi.10 Sebelum timbulnya penyakit AR, pasien menunjukkan ciri-ciri psikodinamik dan kepribadian yang khas, yaitu: Ketelitian yang berlebihan, perfeksionisme, kepatuhan, dengan kecenderungan menekan semua dorongan agresi dan permusuhan. Ciri mesokistis-depresif dengan tendensi pengorbanan diri, sifat menolong yang berlebihan, bermoral tinggi dan cenderung depresif. Kebutuhan aktivitas badaniah seperti olahraga, kerja di rumah dan berkebun sebagai penyaluran agresi.2,10 Kepribadian, stressor psikologis, ancaman terserang AR, kemampuan

menanggulangi nyeri dan menanggulagi ketidakmampuan serta dukungan sosial telah terbukti berhubungan dengan derajat nyeri, disabilitas dn aktivitas penyakit AR. Faktor psikososial seperti stress psikologis, penyesuaian, depresi, keyakinan dalam kemampuan menanggulangi penyakit dan dukungan sosial berperan pada keadaan sakit dengan mempengaruhi pelepasan hormone stress, yang selanjutnya berpengaruh pada mekanisme dalam tubuh termasuk kerentanan dan kekambuhan penyakit AR.10 6. Gangguan Urologi Irritable bladder, yang bukan disebabkan oleh kelainan organik terutama pada wanita hingga klimakterium, jarang pada pria. Secara psikofisiologis yang mendasari
27

terjadinya irritable bladder ialah sensibilitas fungsi kandung kemih yang berlebihan atau ambang rangsang yang rendah yang bersifat psikovegetatif, yang dapat ditemukan dengan pengukuran tegangan intravesikal. Dengan demikian perubahan-perubahan pengisian kandung kemih yang berlebihan. Secara psikodinamik hal ini dapat terjadi pada situasi konflik seksual, rasa malu dan takut pada percobaan koitus, rasa segan terhadap pasangan.11 Beberapa contoh lain gangguan psikosomatik saluran kemih: Fobia mengenai buang air kecil yang tak diinginkan Polakisuria tanpa ada kelainan organ Retensio urin tidak organik yang sepintas lalu atau residivans Bercampur aduknya fungsi berkemih dengan fungsi seksual11

IV. DIAGNOSIS

Menegakkan diagnosis pasien dengan gangguan psikosomatik tidak berbeda dengan menegakkan diagnosis penyakit lain pada umumnya yaitu dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan. Pada umumnya pasien dengan gangguan psikosomatik datang ke dokter dengan keluhan somatiknya. Jarang sekali keluhan psikis atau konfliknya dikeluhkan secara spontan. Keluhan psikis yang menjadi stressornya baru akan muncul setelah dilakukan anamnesis yang baik dan mendalam. Keluhan somatisnya sangat beraneka ragam dan sering berpindah-pindah dari satu sistem organ ke organ lain.1 Gangguan psikosomatik pada orang yang tidak stabil, dapat disebabkan bukan saja oleh stress yang luar biasa, tetapi juga oleh kejadian-kejadian dan keadaan sehari-hari, umpamanya rumah tangga yang sibuk, terlalu banyak orang di dalam satu rumah, suami atau isteri yang tidak dapat menyesuaikan diri atau tidak mengindahkan keinginan satu sama lain.2 Untuk itu, penting ditanyakan beberapa pertanyaan berikut dalam proses anamnesis: Faktor sosial dan ekonomi: kepuasan dalam pekerjaan; kesukaran ekonomi; pekerjaan yang tidak tentu; hubungan dengan keluarga dan orang lain; minatnya; pekerjaan yang terburu-buru; kurang terbiasa

28

Faktor perkawinan: perselisihan, perceraian, dan kekecewaan dalam hubungan sexual; anak-anak yang nakal dan menyusahkan. Faktor kesehatan: penyakit-penyakit yang menahun; pernah masuk rumah sakit; pernah dioperasi; adiksi terhadap obat-obatan, tembakau, dan lain-lain Faktor psikologik: stress psikologik; keadaan jiwa waktu operasi; status dalam keluarga.2 Untuk menentukan gangguan fungsional, maka anmanesa penting sekali. Bila kita

sudah menentukan bahwa penderita itu mempunyai gangguan fungsional, maka selanjutnya kita harus menetapkan apakah sebabnya itu gangguan psikogenik atau non-psikogenik. Apabila kita sudah menduga bahwa hal itu merupakan gangguan psikogenik, sebaiknya harus dicari juga korelasi antara gejala-gejala dan stress psikologik.2 Untuk mempertajam diagnosis dan untuk membatasi dari gangguan psikiatris nyata (misalnya psikosis), gangguan psikosomatik memiliki ciri-ciri dan kriteria klinis sebagai berikut: Tidak didapatkan kelainan psikiatris (distorsi realita, waham, dan sebagainya) Keluhan yang timbul selalu berhubungan dengan emosi tertentu Keluhan berganti-ganti dari satu sistem ke sistem lain Ditemukan adanya ketidakseimbangan vegetatif Riwayat hidup pasien penuh dengan konflik atau stress Terdapat perasaan negatif (cemas, sedih, dongkol, cemburu, dan sebagainya) Adanya faktor predisposisi (biologis atau perkembangan kejiwaan) Terdapat faktor presitipasi/pencetus (fisis ataupun psikis)

Tidak semua kriteria harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria yang sesuai sudah merupakan indikasi ke arah gangguan psikosomatik.1 Selain itu, Lewis memberikan beberapa kriteria untuk diagnosa gangguan psikomatik: 2 1. Gejala-gejala yang didapat mempunyai permulaan, akibat, manifestasi dan jalannya yang sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik 2. Dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium tidak didapati penyakit organik yang dapat menyebabkan gejala-gejala (atau sebagian gejala-gejala) 3. Adanya suatu stress atau konflik yang menyukarkan penderita

29

4. Reaksi penderita terhadap stress ini banyak hubungannya dengan gejala-gejala yang dikeluhkannya, yaitu bahwa gejala-gejala itu secara psikosomatik merupakan manifestasi badaniah dari konflik atau penyelesaian masalah yang tidak memuaskan 5. Terjadinya stress itu harus mempunyai korelasi antara waktu dan timbulnya keluhan, bertambah beratnya atau/dan menahunnya penyakit yang ada.

V.

PENATALAKSANAAN

Di Amerika Serikat 1/3 penderita yang datang berobat pada dokter umum tidak mempunyai gangguan organik, 1/3 yang lain mempunyai gangguan organik tetapi keluhannya berlebihan.2 Dengan kesabaran dan simpati banyak penderita dengan gangguan psikosomatik dapat ditolong. Kita dapat menerangkan kepada penderita tidak dapat sesuatu dalam tubuhnya yang rusak atau yang kurang, tidak terdapat infeksi dan kanker, hanya anggota tubuhnya bekerja tidak teratur. Untuk menerangkan bagaimana emosi dapat mengganggu tubuh dapat diambil contoh sehari-hari seperti orang yang malu mukanya akan menjadi merah, orang yang takut menjadi bergemetar dan pucat. Dapat dipakai perumpamaan menurut pendidikan dan pengetahuan penderita.2 Setelah dibuat diagnosis gangguan psikosomatis, terdapat 3 fase terapi yaitu: 2 Fase 1 : ialah fase pemeriksaan dan pemberian ketenangan, penderita dan dokter bersamasama berusaha dan saling membantu melalui anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik yang teliti dan tes laboratorium bila perlu. Diusahakan membuktikan bahwa tidak terdapat penyakit organik dan dijelaskan kepada penderita tentang mekanisme fisiologik serta keterangan tentang gejala-gejala. Berikan kesempatan kepada penderita untuk bertanya. Fase 2 : merupakan fase pendidikan, fase ini dokter lebih banyak bicara. Untuk memberi keterangan tentang keluhan, meyakinkan serta menenangkan pasien, dapat dikatakan antara lain : Bahwa gejala-gejalanya benar ada, dapat dimengerti kalau ia mengeluh dan menderita Bahwa gejala-gejalanya sering terdapat juga pada orang lain yang sudah kita obati Bahwa tidak ada kanker atau penyakit berbahaya lain Bahwa gejala-gejala itu timbul karena ketegangan sehari-hari dan gangguan emosional

30

Bahwa gejala itu tidak akan segera hilang, diperlukan beberapa waktu, tetapi akan hilang atau berkurang bila diobati dengan baik Bahwa kita semua mengalami ketegangan, kekecewaan, godaan dan kecemasan Bahwa kelelahan fisik atau jiwa dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga timbul gejala Bahwa kita apabila terlalu terburu-buru akan timbul ketegangan jiwa Bahwa tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan yang terlalu berat. Sering gejala merupakan pekerjaan alat tubuh yang bekerja berlebihan Bahwa ini akan lebih baik bila pasien mengerti akan penyebab gejala.

Fase 3 : ialah fase keinsafan intelektual dan emosional. Pada fase ini pasien yang lebih banyak bicara. Terjadi pengakuan, katarsis dan wawancara psikiatrik. Hal ini harus berjalan sangat pribadi, rahasia, tanpa sering terganggu dan dalam suasana penuh kepercayaaan dan pengertian. Dokter menjelaskan saja agar pembicaraan berjalan dengan baik, tidak terlalu menyimpang dari pokok pembicaraan. Tujuan terapi adalah kesembuhan, maksudnya adalah resolusi gangguan, reorganisasi gangguan, rerganisasi kepribadian, adaptasi yang lebih matang, meningkatkan kapasitas fisik dan okupasi serta proses penyembuhan, perbaikan penyakit, mengurangi secondary gain terhadap kondisi medisnya, serta menjadi patuh dengan pengobatan.14 1. Aspek Psikiatrik Terapi gangguan psikosomatik dari pandangan psikiatrik merupakan suatu tugas yang sulit. Psikiater harus memusatkan terapi pada pemahaman motivasi dan mekanisme fungsi yang terganggu serta membantu pasien menyadari sifat penyakit mereka serta kaitan pola adaptif yang merugikan tersebut. Tilikan ini harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.15 Pasien dengan gangguan psikosomatik biasanya lebih enggan menghadapi masalah emosional daripada pasien dengan masalah psikiatrik lain. Pasien psikosomatik mencoba menghindari tanggung jawab untuk penyakitnya dengan mengisolasi organ yang sakit serta datang ke dokter untuk didiagnosis dan disembuhkan. Mereka mungkin memuaskan kebutuhan infantil untuk dirawat secara pasif, sambil menyangkal kalau mereka dewasa, dengan semua stres dan konflik yang ada.15

31

2. Aspek Medis Terapi internis gangguan psikosomatik harus mengikuti peraturan

pengelolaan medis yang telah ditegakkan. Umumnya, internis harus menghabiskan sebanyak mungkin waktu dengan pasien dan mendengarkan banyak keluhan dengan simpatik; mereka harus bersikap menenangkan dan suportif. Sebelum melakukan prosedur yang memanipulasi fisikterutama jika menyakitkan, seperti kolonoskopiinternis harus menjelaskan pada pasien apa yang akan dihadapi. Penjelasan akan menghilangkan ansietas pasien, membuat pasien lebih kooperatif, dan akhirnya memudahkan pemeriksaan. 15 Sikap pasien terhadap minum obat juga dapat memengaruhi hasil terapi psikosomatik. Contohnya, pasien dengan diabetes yang tidak menerima penyakitnya dan memiliki -impuls merusak diri yang tidak mereka sadari dapat dengan sengaja tidak mengendalikan diet mereka, akibatnya akan mengalami koma hiperglikemik. Pasien lain menggunakan penyakit mereka sebagai hukuman untuk rasa bersalah atau sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab. Terapi pada kasus seperti ini hams berusaha membantu pasien meminimalkan rasa takut mereka dan berfokus pada perawatan diri sendiri serta pembentukan kembali citra tubuh yang sehat. 15 3. Perubahan Perilaku Peran penting psikiater dan dokter lain yang bekerja dengan pasien psikosomatik adalah memobilisasi pasien untuk mengubah perilaku dengan cara yang mengoptimalkan proses penyembuhan. Hal ini memerlukan perubahan umum gaya hidup (cth., berlibur) atau perubahan perilaku spesifik (cth., berhenti merokok). Terjadi atau tidaknya ini bergantung pada ukuran besar kualitas hubungan antara dokter dan pasien. Kegagalan dokter menciptakart rapport yang baik menyebabkan ketidakefektivan untuk membuat pasien berubah. 15 Rapport adalah perasaan disadari dan spontan mengenai responsivitas yang harmonis antara pasien dan dokter. Rapport mengesankan pengertian dan kepercayaan di antara keduanya. Dengan rapport, pasien merasa diterima, meskipun mereka dapat berpikir aset mereka melebihi kewajiban mereka. Yang sering, dokter adalah orang yang dapat diajak bicara oleh pasien mengenai hal-hal yang tidak dapat ia bicarakan dengan orang lain. Sebagian besar pasien merasa bahwa mereka dapat percaya pada dokter, terutama psikiater untuk menyimpan rahasia. Kepercayaan ini tidak boleh dikhianati. Perasaan yang diketahui, dimengerti seseorang, dan menerimanya adalah sumber kekuatan yang dapat

32

memungkinkan pasien memulai perilaku yang sehat, seperti mengikuti Alcoholics Anonymous (AA) atau mengubah kebiasaan makan. 15 4. Terapi Spesifik Sistem kardiovaskular. Pada penyakit arteri koroner, untuk menghilangkan ketegangan psikis yang berhubungan dengan penyakit, klinisi menggunakan obat psikotropika, contohnya diazepam. Terapi yang digunakan untuk membantu melindungi terhadap aritmia akibat emosi adalah psikotropika dan obat penghambat Beta seperti propanolol. Pengobatan psikofarmaka ditujukan bila terdapat gejala yang menonjol pada penyakit jantung psikogenik. Obat antiansietas dapat digunakan bila kecemasan yang timbul berat. Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas, dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Sebagai antiansietas, klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat diperlukan, suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian. Dosis diazepam adalah 2-20 mg sehari; pemberian suntikan dapat diulang tiap 3-4 jam. Klorazepam diberikan secara oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi. Klordiazepoksid tersedia sebagai tablet 5 dan 10 mg. Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. Diazepam tersedia sebagai larutan untuk pemberian rektal pada anak dengan kejang demam.16 Terapi medis harus suportif dan menentramkan, dengan suatu penekanan psikologis untuk menghilangkan stres psikis, kompulsivitas dan ketegangan. Psikoterapi supotif dan dan teknik perilaku (biofeedback, meditasi, terapi relaksasi) telah dilaporkan berguna dalam pengobatan. Sistem Pernapasan. Pasien asmatik harus diterapi dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain menghilangkan stres, penyesuaian diri, menghilangkan alergi serta mengatur kerja sistem saraf vegetatif dengan obat-obatan. Pada penderita tuberkulosis, faktor psikologis mempengaruhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi daya tahan pasien terhadap penyakit. Psikoterapi suportif adalah berguna karena peranan stres dan situasi psikososial yang rumit. Sistem gastrointestinal. Pada penyakit Crohn terapi mencakup penggunaan agen antibiotik, obat imunosupresan, dan kortikosteroid. Penggunaan obat psikotropika umum dalam pengobatan berbagai gangguan GI. Pengobatan pada pasien dengan penyakit GI dipersulit oleh gangguan motilitas lambung dan penyerapan, dan metabolisme berkaitan dengan gangguan GI yang mendasarinya. Efek GI pada obat psikotropika dapat digunakan
33

untuk efek terapi dengan gangguan GI fungsional. Sebuah contoh dari efek samping menguntungkan dari penggunaan TCA untuk mengurangi motilitas lambung pada IBS dengan diare. Psikotropika efek samping GI, bagaimanapun, dapat memperburuk gangguan GI. Sebuah contoh dari efek samping potensial yang merugikan akan meresepkan sebuah TCA untuk mengobati pasien depresi dengan refluks gastroesophageal.

Terapi obat psikotropika yang rumit oleh penyakit hati akut dan kronis. Sebagian besar agen psikotropika dimetabolisme oleh hati. Banyak dari agen dapat dikaitkan dengan hepatotoksisitas. Ketika perubahan akut pada tes fungsi hati terjadi dengan TCA, carbamazepine, atau antipsikotik, mungkin perlu untuk menghentikan obat. Selama periode penghentian, lorazepam atau lithium dapat digunakan, karena mereka diekskresikan oleh ginjal. Terapi electroconvulsive (ECT) juga dapat digunakan pada pasien dengan penyakit hati, meskipun ahli anestesi perlu hati-hati memilih agen anestesi dengan risiko minimal untuk hepatotoksisitas.17 Psikoterapi bisa menjadi komponen kunci dalam pendekatan melangkah perawatan untuk pengobatan IBS dan gangguan GI fungsional. Beberapa model yang berbeda dari psikoterapi telah digunakan. Ini termasuk jangka pendek, berorientasi dinamis, psikoterapi individu, psikoterapi suportif, hipnoterapi, teknik relaksasi, dan terapi kognitif.17 Sistem neurologis. Migrain dan cluster headache paling baik diterapi selama periode prodromal dengan ergotamine tartrate (Cafergot) dan analgesik. Pemberian propranolol atau verapamil (Isoptin) profilaktik berguna jika sakit kepala sering terjadi. Sumatriptan (Imitrex) diindikasikan untuk terapi jangka pendek migrain dan dapat menghentikan serangan. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) juga berguna untuk profilaksis. Psikoterapi untuk menghilangkan efek konflik dan stres serta teknik perilaku tertentu (cth., biofeedback) telah dilaporkan berguna. 15 5. Psikofarmaka Terapi penyakit psikosomatik pada dasarnya harus dilakukan dengan beberapa cara. Komponen-komponen yang harus dibedakan, ialah: a. Terapi somatik Hanya bersifat somanya saja dan pengobatan ini bersifat simtomatik. b. Psikoterapi dan sosioterapi Pengobatan dengan memperhatikan faktor psikisnya atau kepribadian secara keseluruhan.

34

c. Psikofarmakoterapi Pengobatan psikosomatik dengan menggunakan obat-obat psikotrop yang bekerja pada sistem saraf sentral. Efek samping yang timbul dari penggunaan obat-obat psikofarmaka: 13 Mudah terjadi ketergantungan psikologis dan fisis, mungkin terjadi ketergantungan obat. Depresi atau kehilangan sifat menahan diri dapat terjadi, yang akhirnya dapat menimbulkan kekacauan pikir. Semua depresan sistem saraf sentral merupakan kontraindikasi pada payah paru (asma, emfisema, dispnea oleh sebab-sebab lain). Gangguan psikomotorik Lekas marah, kegelisahan dan ansietas serinng terjadi bila obat dihentikan.

Tiga golongan senyawa psikofarmaka: 1) Obat tidur (hipnotik) Diberikan dalam jangka waktu pendek 2-4 minggu. Obat yang dianjurkan adalah senyawa benzodiazepine berkhasiat pendek seperti nitrazepam, flurazepam, dan triazolam. Pada insomnia dengan kegelisahan dapat diberikan senyawa fenotiazin seperti tioridazin, prometazin.13 2) Obat penenang minor dan obat penenang mayor (neuroleptik) Obat penenang minor Diazepam merupakan obat yang efektif yang dapat digunakan pada anxietas, agitasi, spasme otot, delirium, epilepsi. Benzodiazepine hanya diberikan pada anxietas hebat maksimal 2 bulan sebelum dicoba dihentikan secara perlahan (tapering off) untuk menghindari toleransi dan adiksi.13 Obat penenang mayor Kegagalan fungsi otak menimbulkan gangguan-gangguan kelakuan berupa rasa takut, penderitaan batin, atau menimbulkan kegelisahan, keluyuran, kegaduhan, agresi hingga kekerasan karena halusinasi dan khayalan. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan sedatif walaupun pemberian sedatif tidak dianjurkan karena sering timbul imobilitas. Yang paling sering digunakan adalah senyawa fenotiazin dan butirofenon seperti clorpromazin, tioridazin dan haloperidol. Diberikan hanya pada kasus gejala agitasi, kegelisahan yang berlebihan, agresi

35

dan kegaduhan.13 3) Antidepresan Gejala-gejala psikosomatik sering ditemukan pada depresi. Depresi sering merupakan komplikasi penyakit fisis. Yang dianjurkan ialah senyawa-senyawa trisiklik dan tetrasiklik, yaitu Amitriptilin (Laroxyl), Imipramin (Tofranil), Mianserin (Tolvon), dan Maprotilin (Ludiomil). Obat-ibat ini harus diberikan dimulai dengan dosis kecil yang kemudian ditingkatkan. Saat ini, golongan trisiklik sudah jarang digunakan karena efek samping yang banyak akibat kerja anti kolinergiknya. Antidepresan baru dengan efek samping yang minimal adalah golongan: SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor): sertalin, paroksetin, fluoksetin, fluvoksamin SSRE (Selective Serotonin Reuptake Enhancer): Tianeptin SNRI (Serotonin Nor Epinephrin Reuptake Inhibitor): Venlafaksin RIMA (Reversible Inhibitory Monoamine Oxidose type A): Moklobemid NaSSA (Nor-adrenalin ang Serotonin Anti Depressant): Mitrazapin Atipik: Trazodon, Nefazodon12 Golongan benzodiazepin umumnya bermanfaat pada gangguan ansietas, yaitu pada ansietas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder - GAD) obat pilihannya ialah Buspiron. Pada ansietas panik, obat pilihannya ialah alprazolam namun ada beberapa penelitian anksietas panik dapat diobati dengan antidepresan golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor).13 Obsessive Compulsive Disorder (OCD) ialah varian gangguan cemas namun obat yang efektif untuk gangguan ini adalah golongan antidepresan misalnya Klomipramin maupun golongan SSRI seperti Sertralin, Paroksetin, Fluoksetin, dan sebagainya.13 Fobia juga varian gangguan cemas dan berespons baik pada pengobatan antidepresan. Misalnya fobia sosial membaik dengan pemberian Moklobemid (golongan RIMA-Reversible Inhibitory Monoamine Oksidase type A). Gangguan campuran ansietas-depresi juga memberikan perbaikan dengan obat-obat

antidepresan. Penggunaan psikofarmaka hendaknya bersama-sama dengan psikoterapi yang efektif sehingga hasilnya akan lebih baik.13
36

6. Jenis Terapi Lain15 Psikoterapi Kelompok dan Terapi Keluarga. Pendekatan kelompok memberikan kontak interpersonal dengan orang lain yang menderita penyakit yang sama dan memberikan dukungan untuk pasien yang takut akan ancaman isolasi dan pengabaian. Terapi keluarga memberikan harapan perubahan hubungan antar anggota keluarga yang sering mengalami stres dan bersikap bermusuhan pada anggota keluarga yang sakit. Teknik Relaksasi. Edmund Jacobson pada tahun 1983 mengembangkan suatu metode yang dinamakan relaksasi otot progresif untuk mengajarkan relaksasi tanpa menggunakan instrumentasi seperti yang digunakan di dalam biofeedback. Pasien diajari untuk merelaksasikan kelompok otot seperti yang terlibat di dalam "tension headache". Ketika mereka menghadapi dan menyadari situasi yang menyebabkan tegangan pada otot mereka, pasien dilatih untuk relaksasi. Metode ini adalah suatu tipe desensitisasi sistematiksuatu tipe terapi perilaku.2 Herbert Benson pada tahun 1975 menggunakan konsep yang dikembangkan dari meditasi transcendental, di sini pasien dipertahankan pada perilaku yang lebih pasif, memungkinkan relaksasi terjadi dengan sendirinya. Benson menciptakan tekniknya dari berbagai praktik dan agama Timur, seperti yoga. Semua teknik ini memiliki kesamaan posisi nyaman, lingkungan yang damai, pendekatan pasif, dan citra mental yang menyenangkan tempat seseorang dapat berkonsentrasi. Hipnosis. Hipnosis efektif untuk menghentikan merokok dan menguatkan perubahan diet. Hipnosis digunakan dalam kombinasi dengan perumpamaan yang tidak disukai (cth., rokok terasa menjijikkan). Beberapa pasien menunjukkan angka relaps yang cukup tinggi dan dapat memerlukan pengulangan program terapi hipnotik (biasanya tiga hingga empat sesi). Biofeedback. Neal Miller pada tahun 1969 mempublikasikan tulisan pelopornya "Learning of Visceral and Glandular Response", yang melaporkan bahwa pada hewan, berbagai respons viseral yang diatur oleh sistem saraf otonom involuntar dapat dimodifikasi dengan pencapaian pembelajaran melalui operant conditioning yang dilakukan di laboratorium. Hal ini membuat manusia mampu mempelajari cara mengendalikan respons fisiologis involuntar tertentu (disebut biofeedback), seperti vasokonstriksi pembuluh darah, irama jantung, dan denyut jantung. Perubahan fisiologis ini tampak memainkan peranan yang bermakna di dalam perkembangan dan terapi atau penyembuhan gangguan

37

psikosomatik tertentu. Studi seperti itu, faktanya, mengonfirmasi bahwa pembelajaran yang disadari dapat mengendalikan denyut jantung dan tekanan sistolik pada manusia. Biofeedback dan teknik-teknik terkait telah berguna pada tension headache, sakit kepala migrain, dan penyakit Raynaud. Meskipun teknik biofeedback awalnya memberikan hasil yang menyokong di dalam menerapi hipertensi esensial, terapi relaksasi telah menghasilkan efek jangka-panjang yang lebih signifikan daripada biofeedback. Acupressure dan Akupuntur. Acupressure dan akupuntur adalah teknik penyembuhan Cina yang disebutkan di dalam teks medis kuno pada tahun 3000 SM. Keyakinan dasar pengobatan Cina adalah keyakinan bahwa energi vital (qi atau chi) mengalir sepanjang jalur khusus (meridian), kira-kira memiliki 350 titik (acupoints), yang manipulasinya memperbaiki ketidakseimbangan dengan merangsang atau membuang hambatan terhadap aliran energi. Konsep fundamental lainnya adalah gagasan mengenai dua medan energi yang berlawanan (yin dan yang), yang harus seimbang untuk mempertahankan kesehatan. Di dalam acupressure, acupoints dimanipulasi dengan jari; di dalam akupuntur, jarum perak atau emas yang steril (berdiameter rambut manusia) dimasukkan ke dalam kulit dengan kedalaman yang bervariasi (0,5 mm hingga 1,5 cm) dan diputar atau ditinggalkan di tempatnya selama berbagai periode waktu untuk memperbaiki setiap ketidakseimbangan qi. Teknik akupuntur telah digunakan pada hampir semua gangguan yang disebutkan di bagian ini dengan hasil yang beragam.15

38

DAFTAR PUSTAKA
1. Mudjaddid, E. Shatri, Hamzah. Gangguan Psikosomatik: Gambaran Umum dan Patofisiologinya. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p896-8 2. Maramis, W.F. Gangguan Psikosomatik. Dalam Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press. p339-72 3. Elvira, Sylvia D., Hadisukanto, Gitayanti. Faktor Psikologik Yang Mempengaruhi Kondisi Medis (d/h Gangguan Psikosomatik). Dalam Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2010.p287-93 4. Mudjaddid, E. Dispepsia Fungsional. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p906 5. Hadi, Sujeno. Psikosomatik Pada Saluran Cerna Bagian Bawah. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p907-9 6. Halim, S. Budi, dkk. Aspek Psikosomatik Hipertensi. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p913-4 7. Putranto, Rudi. Mudjaddid, E. shatri, Hamzah. Sindrom Hiperventilasi. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p920-1 8. Mudjaddid, E. Aspek Psikosomatik pada Asma Brokhial. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p922-3 9. Djokomoeljanto, R. Psikosomatik Pada Kelainan Tirod. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p937-8 10. Mudjaddid, E. Putranto, Rudi. Aspek Pikosomatik Pasien Diabetes Melitus. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p939-40 11. Sukatman, D. Budihalim, S. Putranto, Rudi. Gangguan Psikosomatik Pada Penyakit Reumatik dan Sistem Muskuloskeletal. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p924-5 12. Budihalim, S. Sukatman, D. Mudjaddid, E. Gangguan Psikosomatik Saluran Kemih. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p953

39

13. Mudjaddid, E. Budihalim, S. Sukatman, D. Psikofarmaka dan Psikosomatik. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p901-2 14. Chuang L. Mental disorders secondary to general medical conditions. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/294131-overview#aw2aab6b3. 4 Nov 2013 15. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock: buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.h.387-97. 16. Arozal W., Gan S. Psikotropik. Dalam: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008.h. 169-71. 17. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.h.814-28

40