Anda di halaman 1dari 6

BAB 1 PEMBAHASAN

A. Akar Gerakan Humanistik Teori belajar dan pendidikan humanistik diawali oleh munculnya gerakan mahasiswa pada tahun 1960an karena mereka tidak menyukai terhadap proses dan hasil pendidikan di Amerika Serikat yang telah mereka peroleh.Gerakan yang diasmapaikan itu karena respon ketidak puasan atas kopetisi,tekanan,kehidupan yang selalu diawasi,dan ketidak sesuaian antara apa yang telah mereka pelajari dengan apa yang telah mereka amati ketika mereka belajar di sekolah.Gerakan itu dipelopori oleh Neill,John Holt,Jonathan Kozol, dan Paul Goodman.Praktik pendidikan yang dilawan oloeh para tokoh adalah pendidikan sekolah yang selalu diarahkan oleh pendidik (direct instruction).Pendidikan yang mengutamakan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.Dalam pendidikan Humanistik fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif,belajar tentang cara-cara belajar (learning how to learn),dan peningkatan kreatifitas dan semua potensi peserta didik.Seseorang pelopor pendidikan progresif melawan orang-orang yang berpegang teguh pada waktu,menolak gagasan psokologi modern dan penggunaan latihan (drill) sebagai metode pembelajaran karena tidak memiliki manfaat dan nilai dekoratif. Para pakar humanistik percaya bahwa setiap individu memiliki sifat-sifat kebajikan yang berasal dalam diri dan bersifat realistik.sehingga anak-anak berkembang sepanjang mereka mampu mengembangkanya.Hasil belajar dalam pandangan

humanistik adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri (self directing)dan mandiri (independent).Pendekatan humanistik juag

memandang pentingnya pendekatan pendekatan pendidikan di biidang kreativitas,minat terhadap seni,dan hasrat ingin tahu.Oleh karena itu pendekatan humanistik kurang menekankan pada kurikulum standar,perencanaan pembelajaran,ujian,sertifikasi

pendidikan,dan kewajiaban hadir disekolah.Dalam praktik pembelajaran,pendekatan humanistik mengombinasikan metode pembelajaran individual dan kelompok

kecil.Namun pendekatan ini mempersyaratkan perubahan ststus pendidik dari individu yang lebih mengetahui dan terampil segala sesuatu menjadi individu yang memilikistatus kesetaraan dengan pesertan didik.Pemilihan materi merupakan hak peserta didik atau perancang kurikulum.Pendekatan humanistik selalu memelihara kebebasan peserta didik

untuk tumbuh dan memelihara peserta didik untuk tumbuh dan melindungi peserta didik dari tekanan keluarga dan masyarakat. Dan jika pendekatan ini dapat terjadi, maka peserta didik akan menjadi pembelajaran swa arah (selfdirected learners) dan proses belajar akan menjadi sangat bermakna bagi peserta didik.Penggunaan metode humanistik dalam pendidikan akan memungkinkan peserta didik menjadi individu beraktualisasi diri (self actualized persons).Kreativitas individu yang beraktualisasi diri,telah melekat pada diri anak,tidak memerlukan bakat dan kemampuan tertentu.Lingkungan juga saangat

berpengaruh,lingkungan yang mendukung yang mampu mengungkapkan sifat-sifat perseptif,spontan,ekspresif,tidak bersifat pura-pura,menyenangkan dan tidak

menakutkan.Pendidik yang berhasil menciptakan suasanapendidikan seperti itu akan mampu mendorong peserta didik untuk menampilkan prilaku yang memiliki karakteristik tersebut.Namun demikian hasil belajar dalam pendekatan humanistik itu sulit untuk dispesifikasi dalam bentuk prilaku atau sukar diukur,sebab pendekatan humanistik kurang menekankan pengetahuan dan keterampilan,sebaliknya lebih menekankan pada hasil belajar yang lebih profeisional. B. Pandangan Abraham Maslow Abraham Amerika.Kontribusi Maslow yang adalah diberikan tokoh Maslow gerakan adalah psikologi humanistik di

motivasi,aktualisasi

diri,dan

pengalaman puncak yang memiliki dampak trehadap kegiatan belajar. Maslow menyampaikan teori motivasi berdasarkan heiararki kebutuhan,yaitu: 1. Kebutuhan fisik (psysiological needs) 2. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs) 3. Kebutuhan menjadi milik dan dicintai (sense of belongingness and love) 4. Kebutuhan penghargaan (esteem needs) 5. Kebutuhan aktulisasi diri (self actualization needs) Kesimpulan dari hasil penelitian Maslow tentang orang-orang terkanal bahwa aktualisasi diri hanya mungkin dicapai oleh orang-orang yang sudah dewasa.Individu yang beraktualisasi diri menampilkan karakteristik sebagai berikut: a. Berorientasi secara realistik b. Menerima diri sendiri,orang lain,dan dunia alamiah sebagaimana adanya c. Bersifat spontan dalam berfikir,beremosi,dan berprilaku.

d. Terpusat pada masalah (problem centered) dan bukan terpusat pada diri sendiri (self centered) e. Memiliki kebutuhan privasi dan berupaya memperolehnya,jika memiliki

kesemptan,serta memiliki waktu berkonsentrasi untuk memperoleh sesuatu yang menarik bagi dirinya. f. Bersifat otonomi,independen, dan mampu mempertahankan kebenaran ketika menghadapi perlawanan. g. Kadang-kadang memiliki pengalaman mistiik yang tidak berkaitan dengan

pengalaman keagamaan. h. Merasa dengan manusia secara keseluruhan berkenaan bukan saja dengan keluarga,melainkan juga kesejahteraan dunia secara keseluruhan. i. j. Memiliki hubungan dekat dan secara emosional dengan orang-orang yang dicintai. Memiliki struktur karakter demokratis berkanaan dengan penilaian individu dan mampu bersahabat bukan didasarkan berdasarkan ras,status,agama. k. Memiliki etika yang berkembang terus. l. Memiliki selera humor tingggi.

m. Memiliki selera kreativitas tinggi. n. Menolak keseragaman kebudayaan. Tujuan pendidikan menurut Maslow adalah aktulisasi diri,atau membantu individu menjadi yang terbaik sehingga mereka mampu menjadi yang terbaik.Maslow juga disebut sebagai bapak spiritual psikologi humanistik di Amerika,juga bertanggung jawab dalam menyampaikan pandangan manusia sebagai peserta didik aktualisasi diri (self actualizing learner). C. Pandangan Karl Rogers Dalam teori diri sendiri ada 3 unsur pokok,yaitu: 1. Organisme : yaituorang secara penuh 2. Medan fenomena : yaitu totalitas pengalaman 3. Diri sendiri : yaitu bagian dari medan yang terdeferensiasi Rogers mendeskripsikan proses belajar yang terdiri atas dorongan kearah aktualisasidiri secara penuh.Ada kontinum makna yang terdapat didalam belajar yang bertentangan dari hafalan yang tidak ada artinya dan tidak bermakna sampai pada belajar eksperiental,bermakna dan signifikan.

Rogers menggambarkan kualitas belajar eksperiental dalam mengembangkan individu yang berfungsi secara penuh yaitu: a. Keterlibaatan personal :yakni aspek-aspek kognitif dan afektif individu harus terlibat di dalam peristiwa belajar. b. Prakarsa diri :yakni menemukan kebutuhan yang berasal dari dalam diri c. Pervasif : yaitu belajar memiliki dampak terhadap prilaku,sikap atau kepribadian diri. d. Evaluasi diri : yakni individu dapat mengevaluasi diri jika pengalamanya memenuhi kebutuhanya. e. Esensi : adalah makna, yakni apabila terjadi belajar eksperiental,maknanya menjadi terpadu dengan pengalamnya secara total. Kelompok merupakan mekanisme yang dikembanngkan oleh Rogers dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan individu.sebagaimana dalam terapi yang terpusat pada klien,dimana individu dapat tumbuh melalui penggantian penahan diri yang bersifat artifisial (kepura-puraan)sehingga kelompok dapat mendorong anggotanya untuk mengungkapkan pengalaman dan untuk memilih,kreatif,meniali,dan aktualisasi

diri.Rogers memperkenalkan pandanganya tentang penggunaan proses kelompok untuk memperlancarkan kematangan emosi dan psikologis.Kelompok, yakni kelompok pelatih. D. Prinsip-prinssip Belajar Ada beberapa asumsi yang mendasari pendekatan humanistik dalam pendidikan yang mendasari pendekatan humanistik dalam pendidikan,yaitu: 1. Swa Arah (Self Direction) Pesertan dididk mempelajari apa yang mereka butuhkan dan ingin

ketahuai.Prinsip belajar swa arah ini sangat penting bagi pendekatan humanistik.Peserta didik hendaknya diberikan kesempatan untuk mengarahkan belajarnya.Oleh karena itu anak akan belajar denngan motivasi tinggi apabila mereka memiliki beberapa pilihan bahan belajar yang akan mereka pelajari.Tugas fasilitator dalam mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar swa arah adalah sebagai berikut: a. Mendorong peserta didik untuk memenuhi kompetensi baru b. Membantu memperjelas aspirasinya guna meningkatkan kompetensinya. c. Membantu mendiagnosis kesenjangan antara aspirasi dengan kinerja sekarang. d. Membantu mengidentifikasi masalah-masalah kehidupan yang mereka alami

e. Melibatkan peserta didik dalam proses merumuskan tujuan belajar dengan mempertahankan kebutuhan peserta didik yang telah didiagnosis. 2. Belajar Tentang Cara-cara Belajar (learning how to learn) Prinsip kedua adalah bahwa sekolah hendaknya menghasilkan anak-anak yang secara terus menerus menumbuhkan keinginannya untuk belajar dan mengetahui caracara belajar.Tugas sekolah adalah membuat anak ingin belajar dengan tujuan yang eksplisit.Apabila peserta didik dihadapakan dengan tantangan baru,mereka akan mudah menyesuaikan diri.Tugas fasilitator dalam membantu peserta didik mengetahui cara-cara belajar adalah sebagai berikut: a. Memotivasi peserta didik mempelajari tugas-tugas belajar yang telah dirancang bersama. b. Membantu merancang pengalaman belajar,memilih bahan belajar,dan metode belajar dan melibatkan peserta didik dalam pembuatan keputusan bersama.

3. Evaluasi Diri (Self Evaluation) Evaluasi yang dilakukan oleh peserta didik sendiri adalah sangat bermanfaat dari pekerjaanya.peserta didik tidak dieevalusi dengnancara membandingkan dengan peserta didik lain atau dengan standart yang telah ditetapkan oleh pendidik,melainkan sebaliknya dievaluasi dengan menggunakan standar peserta didik itu sendiri,dan tanpa ada grading.Tugas fasilitator di dalam kegiatan evaluasi diri pada peserta didik adaalah sebagai berikut: a. Melibatkan peserta didik dalam mengembangkan kriteria kinerja,dan metode dalam mengukur kemajuan tujuan belajarnya, b. Membantu mengembangkan dan menerapkan prosedur evaluasi kemajuan belajar.

4. Pentingnya Perasaan (Important of Feelings) Perasaan adalah sama pentingnya dengan fakta dan belajar merasakan adalah sama pentingnya dengan belajar cara-cara berfikir.Pendekatan humanistik tidak membedakan domain kognitif dan afektif dalam belajar,dalam arti kedua domain artinya tidak dapat dipisah-pisahkan.Dalam praktik pembelajaran ada kecenderungan pendidik lebih terkonsentrasi pada domain kognitif dan melupakan domain afektif.Dalam

pandangan humanistik,domain afektif adalah sama pentingnya dengan domain kognitif,sehingga keduanya tidak boleh dipisahkan. Tugas fasilitator dalam mengembangkan perasaan positif peserta didik pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Membantu peserta didik menggunakan pengalamanya sendiri sebagai sumber belajar dengan menggunakan teknik seperti diskusi,permainan peran,studi kasus dan sejenisnya. b. Menyampaikan isi pembelajaran berdasarkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan tingkat pengalamanpeserta didik. c. Membantu menerapkan hasil belajar ke dalam dunia nyata (transfer of learning).Hal ini akan membuat belajar lebih bermakna dan terpadu. 5. Bebas dari Ancaman (Freedom of Threat) Belajar akan terjadi apabila peserta didik tidak merasakan adanya ancaman.Dan belajar akan menjadi mudah,lebih bermkana,dan lebih diperkuat dengan tanpa adanya ancaman.Pendidikan yang berlangsung selama ini dipandang oleh para pakar humanistik sebagai tempat yang tidak menghargai peserta didik,menjijikan,membuat malu peserta didik dan mengancam identitas sosial peserta didik.Persoalan utamanya adalah peserta didik selalu dikendalikan dan dievaluasi oleh sekolah dan pendidik ,mereka tidak memiliki pilihan untuk memilih bahan belajar ,dan tidak ada kesempatan memilih kegiatan belajar dengan gaya belajarnya sendiri.Berbagai persoalan itu akan menjadi ancaman pembelajar yang pada giliranya akan mengganggu belajarnya. Tugas fasilitator dalam menciptakan iklim belajar yang bebas dari ancaman adalah sebagai berikut: a. Menciptakan kondisi fisik yang menyenangkan,seperti tempat duduk,ventilasi lampu,dan kondusif untuk terciptanya interaksi antar peserta didik. b. Memandang bahwa setiap peserta dididk merupakan pribadi yang bermanfaat dan menghormati perasaan dan gagasan-gagasanya. c. Membanngun hubungan saling membantu antar peserta didik dengan terhadap

mengembangkan kegiatan-kegiatan yang bersifat kooperatif dan mencegah adanya persaingan dan saling memberikan penilaian.