Anda di halaman 1dari 14

PERSAMAAN DIFFERENSIAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Matematika




Disusun oleh:
Audrey Devina B 1211041005
Irul Maulidia 1211041007
Andhy Ramadhan 1211041021
Azhar Fuadi P 1211041025
Murni Mardiatus S 1211041029









SEKOLAH TINGGI KESEHATAN WIDYA CIPTA HUSADA
MALANG
2012



Matematika doc. Page 2

DAFTAR ISI

Daftar Isi ...............................................................................................................................2
Pengertian Persamaan Diferensial ....................................................................................3
1. Persamaan Diferensial Eksponen ...............................................................................5
2. Persamaan Diferensial Logaritma ..............................................................................6
3. Persamaan Diferensial Trigonometri .........................................................................8
Daftar Pustaka .....................................................................................................................13
Pembagian Tugas .................................................................................................................14


Matematika doc. Page 3

PERSAMAAN DIFERENSIAL

A. Pengertian persamaan diferensial

Persamaan differensial adalah persamaan matematika untuk suatu fungsi tak diketahui
dari satu atau beberapa peubah yang menghubungkan nilai dari fungsi tersebut dengan
turunannya sendiri pada berbagai derajat turunan (Ledder, 2005,p16). Suatu persamaan
differensial disebut persamaan differensial biasa, jika semua turunannya berkaitan dengan
satu peubah saja, dan disebut persamaan differensial parsial, jika turunannya berkaitan
dengan dua atau lebih peubah. Orde dari persamaan differensial adalah derajat tertinggi dari
turunan dalam persamaan yang bersangkutan. Himpunan dari n persamaan differensial orde-
satu dengan n menyatakan banyaknya persamaan yang tidak diketahui disebut sistem
persamaan differensial orde-satu; n adalah dimensi dari sistem yang bersangkutan.
pengertian lain yang perlu diketahui adalah persamaan differensial otonom. Suatu
persamaan differensial biasa atau suatu sistem persamaan differensial biasa disebut
otonom jika peubah bebasnya tidak tampak secara eksplisit dalam persamaannya
(Ledder, 2005, p16).
Persamaan diferensial dapat dibedakan menjadi 2 macam, yang tergantung pada jumlah
variabel bebas. Apabila persamaan tersebut mengandung hanya satu variabel bebas,
persamaan disebut dangan persamaan diferensial biasa, dan jika mengandung lebih dari satu
variabel bebas disebut persamaan diferensial parsial. Derajad (order) dari persamaan
diferensial ditentukan oleh derajad tertinggi dari turunannya.

1. Persamaan diferensial biasa (PDB) adalah persamaan diferensial di mana fungsi yang
tidak diketahui (variabel terikat) adalah fungsi dari variabel bebas tunggal. Dalam bentuk
paling sederhana fungsi yang tidak diketahui ini adalah fungsi riil atau fungsi kompleks,
namun secara umum bisa juga berupa fungsi vektor maupun matriks. Lebih jauh lagi,
persamaan diferensial biasa digolongkan berdasarkan orde tertinggi dari turunan terhadap
variabel terikat yang muncul dalam persamaan tersebut.
2. Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan diferensial di mana fungsi yang
tidak diketahui adalah fungsi dari banyak variabel bebas, dan persamaan tersebut juga
melibatkan turunan parsial. Orde persamaan didefinisikan seperti pada persamaan diferensial
biasa, namun klasifikasi lebih jauh ke dalam persamaan eliptik, hiperbolik, dan parabolik,
Matematika doc. Page 4

terutama untuk persamaan diferensial linear orde dua, sangatlah penting. Beberapa pesamaan
diferensial parsial tidak dapat digolongkan dalam kategori-kategori tadi, dan dinamakan
sebagai jenis campuran.
Baik persamaan diferensial biasa maupun parsial dapat digolongkan sebagai linier atau
nonlinier. Sebuah persamaan diferensial disebut linier apabila fungsi yang tidak diketahui dan
turunannya muncul dalam pangkat satu (hasilkali tidak dibolehkan). Bila tidak memenuhi
syarat ini, persamaan tersebut adalah nonlinier.
Sebagai contoh persamaan diferensial biasa dibawah ini :

orde 1




orde 2

Persamaan diferensial biasa dengan ordo n, merupakan persamaan dengan satu perubah (
variabel) yang dapat dituliskan dalam bentuk :




dengan y = f(x)
Penyelesaian persamaan differensial ordo satu dapat lebih dari satu, sehingga untuk
mencari penyelesaian yang unik atau khusus memerlukan informasi tambahan berupa harga
awal.


Matematika doc. Page 5

Metode Euler adalah salah satu dari metode satu langkah yang paling sederhana
dibandingkan dengan beberapa metode lainnya, metode ini paling kurang teliti.
Persamaan Metode Euler dapat dituliskan sebagai berikut :
y
n
= y
n-1
+ h . f ( x
n -1
,y
n- 1
) ; n = 1,2, 3,


dengan : x
n
= nilai x yang ditanya nilai fungsinya
x
0
= nilai x awal.
n = bilangan bulat



B Macam macam Persamaan Deferensial
1. Persamaan deferensial eksponen
Persmaan deferensial eksponen adalah persamaan deferensial yang didalamnya terdapat
pangkat yang berbentuk fungsi dalam x(x sebagai pengubah). Berikut ini adalah rumus yang
terkait dengan persamaan deferensial eksponen
No. y = f(x)
dx
dy
= f (x)
1 k, k adalah konstanta 0
2 x
n
nx
n-1
, n e Riil

3 e
x
e
x

4 e
kx
ke
kx

5 a
x
a
x
ln(a)

Sifat-sifat turunan.
Jika f(x) dan g(x) adalah dua fungsi yang mempunyai turunan yaitu f (x) dan g (x)
maka berlaku :
1. (k f) (x) = k f (x)
2. (f + g) (x) = f (x) + g (x)
3. (f g) (x) = f (x) g (x)
Matematika doc. Page 6

4. (f . g) (x) = f (x) . g(x) + f (x) . g (x)
5. ( )
| |
2
' '
'
) (
) ( ). ( ) ( ). (
x g
x g x f x g x f
x
g
f
=
|
|
.
|

\
|
, g(x) 0

untuk dua sifat (rumus) terakhir dapat diringkaskan agar memudahkan kita untuk
menghafalnya, yaitu dengan cara memisalkan u = f(x) maka u = f (x) dan v = g(x) maka v
= g (x). sehingga dua rumus terakhir dapat dituliskan sebagai berikut :
(u . v) (x) = u . v + u . v dan
2
' '
'
. .
) (
v
v u v u
x
v
u
=
|
.
|

\
|
, v 0.
Selanjutnya, contoh-contoh berikut akan menjelaskan bagaimana daftar (rumus) dasar
turunan dan sifatnya dapat digunakan dalam menyelesaikan persoalan turunan untuk fungsi
sederhana..

Contoh :
Tentukan turunan dari fungsi y = x
4
+ 5x
3
4x
2
+ 7x 2.
Penyelesaian
y = x
4
+ 5x
3
4x
2
+ 7x 2, berdasarkan rumus no.1 dan 2 pada daftar maka
dx
dy
= 4x
4-1
+ 5 (3x
3-1
) 4 (2x
2-1
) + 7 (x
1-1
) 0
= 4x
3
+ 15x
2
- 8x + 7.
2. Logaritma
Sebelum mencari turunan logaritma natural maka kita harus mengingat bilangan natural e
Bilangan natural bisa didefinisikan sebagai berikut

Nah, sekarang kita akan menurunkan fungsi f(x) = ln x,maka




Matematika doc. Page 7








sekarang misalkan y = h/x misal h = xy atau 1/h = 1/(xy). Karena h ->0 maka y -> 0 Jadi










Jadi turunan dari f(x) = ln x adalah


Aturan rantai bisa dipakai pada logaritma natural ini, jadi


Matematika doc. Page 8


Contoh 1 :
Tentukan turunan pertama dari y = ln (8x +1)
Jawab :



Contoh 2 :
Tentukan turunan pertama dari y = ln 9x adalah ....
Jawab :
Cara I :


Cara II
y = ln 9x = ln 9 + ln x, maka

(ln 9 adalah konstanta, jadi turunannya = 0)

3 Trigonometri
Trigonometri atau yang juga dikenal sebagai ilmu ukur segitiga adalah salah satu dari
cabang ilmu matematika yang sangat terkenal dan telah digunakan sejak ribuan tahun yang
lalu. Mungkin banyak diantara kita yang tidak mengetahui bahwa Trigonometri telah banyak
digunakan untuk mengungkap banyak misteri alam yang pada akhirnya banyak membantu
manusia dalam bidang sains dan teknologi.
Turunan Sinus dan Kosinus
Pada dasarnya turunan sinus dan kosinus mengacu pada definisi turunan, namun hasilnya
telah diringkaskan pada teorema berikut :
Teorima 1
Fungsi-fungsi f(x) = sin x dan g(x) = cos x, keduanya mempunyai turunan (dapat
didiferensialkan) yaitu turunan sin x adalah f (x) = cos x dan turunan cos x adalah g (x) = -
sin x.
Matematika doc. Page 9

Dengan menggunakan teorema diatas dan rumus turunan hasil kali serta turunan hasil
bagi, maka dapat di tentukan rumus turunan fungsi trigonometri lainnya yang dinyatakan
pada teorema berikut.
Contoh :
Tentukan turunan dari fungsi y = 3 sin x 2 cos x.
Penyelesaian.
y = 3 sin x 2 cos x, maka
dx
dy
= 3 ) (sin x
dx
d
- 2 ) (cosx
dx
d

= 3 cos x - 2 (- sin x) = 3 cos x + 2 sin x.
Teorima 2
Jika ) (sin x
dx
d
= cos x dan ) (cosx
dx
d
= sin x, maka :
1. ) (tanx
dx
d
= sec
2
x.
2. ) (cotanx
dx
d
= - cosec
2
x.
3. ) (secx
dx
d
= sec x . tan x.
4. ) (cosecx
dx
d
= - cosec x . cotan x.
Contoh :
Tentukan turunan dari fungsi y = 3 sin 2x.
Penyelesaian.
Untuk menentukan
dx
dy
terlebih dahulu kita uraikan fungsi sin 2x dengan menggunakan
kesamaan trigonometri yaitu sin 2x = 2 sin x . cos x. Dan dengan menggunakan rumus
turunan hasil kali, maka
dx
dy
= ) 2 sin 3 ( x
dx
d
= )] cos . sin 2 ( 3 [ x x
dx
d

= ) cos . sin 6 ( x x
dx
d

= 6 |
.
|

\
|
+ ) (cos sin cos ). (sin x
dx
d
x x x
dx
d

Matematika doc. Page 10

dx
dy
= 6[cos x . cos x + sin x . (- sin x)]
= 6 cos
2
x sin
2
x = 6 cos 2x.
Aplikasi
Persamaan Deferensial dapat diterapkan pada bidang radiologi salah satunyayaitu
peluruhan radioaktif. Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah
inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan
terjadi pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah
proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom.
Satuan internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel
(Bq). Jika sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan tiap 1 detik,
maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena biasanya sebuah sampel
material radiaktif mengandung banyak atom,1 becquerel akan tampak sebagai tingkat
aktivitas yang rendah; satuan yang biasa digunakan adalah dalam orde gigabecquerels.
Laju peluruhan, atau aktivitas, dari material radioaktif ditentukan oleh:
1. Konstanta:
- Waktu paruh - simbol t
1 / 2
- waktu yang diperlukan sebuah material radioaktif untuk
meluruh menjadi setengah bagian dari sebelumnya.
- Rerata waktu hidup - simbol - rerata waktu hidup (umur hidup) sebuah material
radioaktif.
- Konstanta peluruhan - simbol - konstanta peluruhan berbanding terbalik dengan
waktu hidup (umur hidup).
- (Perlu dicatat meskipun konstanta, mereka terkait dengan perilaku yang secara
statistik acak, dan prediksi menggunakan kontanta ini menjadi berkurang
keakuratannya untuk material dalam jumlah kecil. Tetapi, peluruhan radioaktif yang
digunakan dalam teknik penanggalan sangat handal. Teknik ini merupakan salah satu
pertaruhan yang aman dalam ilmu pengetahuan.
2. Variabel:
- Aktivitas total - simbol A - jumlah peluruhan tiap detik.
- Aktivitas khusus - simbol S
A
- jumlah peluruhan tiap detik per jumlah substansi. "Jumlah
substansi" dapat berupa satuan massa atau volume.)
Half-life (waktu paruh) adalah periode waktu yang diperlukan suatu zat untuk meluruh
menjadi separuh. Nama ini pada awalnya dipakai untuk karakteristik atom yang tidak stabil
Matematika doc. Page 11

(radioaktif) namun dapat juga dipakai untuk kuantitas apapun yang mengikuti peluruhan
berderet, seperti pertumbuhan bakteri.

Pertumbuhan dan peluruhan
Jika N menunjukkan jumlah, kuantitas atau kualitas sesuatu dalam waktu t, maka
perubahan (bertambah = pertumbuhan atau berkurang = peluruhan) yang disimbolkan
berbanding lurus dengan kuantitas N, dengan kata lain
dN/dt = rN pertumbuhan dan dN/dt = - rN pertumbuhan
Peluruhan Radioaktif
Zat radioaktif meluruh dengan memancarkan radiasi secara spontan. Jika N
t
adalah
massa zat yang tersisa pada saat t, N
0
adalah massa awal zat, maka laju peluruhan relative
terhadap massanya bernilai konstan, yaitu
(dN/dt)/N= -r peluruhan
r= konstanta
Oleh karena itu laju perubahan massa zat m terhadap waktu t dapat dinyatakan dengan


Persamaan diferensial ini dapat dituliskan pula sebagai :





ln N= -r t + C
Pada saat awal (t = 0) massa zat adalah N
0
, sehingga ln N
0
=C. Jika disubstitusikan pada hasil
pengintegralan diperoleh
ln N= -rt + C
ln N= -rt + ln N
0


=
N
t
= N
0
e
-rt

Matematika doc. Page 12


Kuantitas subyek yang mengalami peluruhan eksponensial biasanya diberi lambang N. Nilai
N pada waktu t ditentukan dengan rumus
N
t
= N
0
e
-rt



Ketika t=0, eksponensialnya setara dengan 1, sedangkan N(t) setara dengan N
0
. Ketika t
mendekati tak terbatas, eksponensialnya mendekati nol. Secara khusus, terdapat waktu t
1/2

sehingga
N(t
1/2
)=N
0

Mengganti rumus di atas, akan didapatkan:
e
-rt(1/2)
=1/2

-r t
1/2
= ln = - ln 2

t
1/2
= ln2/-r




Matematika doc. Page 13

DAFTAR PUSTAKA

http://srimawarni.files.wordpress.com/2009/06/bab-3-turunan.doc/ diakses tanggal 14
desember 2012
http://web-matematika.blogspot.com/2012/09/turunan-logaritma-natural/ diakses tanggal 16
desember 2012
http://web-matematika.blogspot.com/2012/09/turunan-logaritma-natural-2/ diakses tanggal
16 desember 2012
http://www.meetmath.com/18563-materi-turunan-fungsi-trigonometri/ diakses tanggal 14
desember 2012

http://zakylubismy.blogspot.com/2011/12/aplikasi-persamaan-diferensial-tentang-peluruhan/
diakses pada 14 desember 2012

http://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_diferensial diakses tanggal 14 desember 2012

http://thesis.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2011-1-00591-mtif%202.pdf diakses 14
desember 2012















Matematika doc. Page 14

PEMBAGIAN TUGAS

Pengumpulan bahan : semua anggota kelompok
Pemilahan bahan : Azhar Fuadi dan Andi Ramadhan
Editing:
- Pengertian persamaan deferensial dan daftar isi : Murni M. S.
- Diferensial eksponen, logaritma, trigonometri, dan daftar pustaka : Audrey devina B.
dan Irul Maulidia
Kirim email tugas : Irul Maulidia
Print dan jilid : semua anggota kelompok