Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum 8 Mata Kuliah : Wisata Budaya dan Spiritual

Selasa, 12 November 2013

IDENTIFIKASI DINAMIKA DAN PERILAKU SPIRITUAL PADA MASYARAKAT PERKOTAAN


(Studi Kasus : Kota Semarang, Jawa Tengah)

Oleh Kelompok VI/P1 TRM Habib Arrasyid Tia Chaierunnisa Rully Ahmad Awalludin Dosen Dr. Ir. Tutut Sunarminto, M.Si Rini Utari, S.Hut, M.Si Helianthi Dewi, S.Hut, M.Si Asisten Rima Pratiwi Batubara, S.Hut J3B112004 J3B112022 J3B112023

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Spiritualitas masyarakat erat hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Indonesia kaya akan aspek elemen spiritual pada masyarakatnya disebabkan oleh beragamnya agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia dan juga sajarah bangsa Indonesia yang memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme sehingga banyak kepercayaan-kepercayaan yang menimbulkan hal-hal yang dipercayai memiliki kekuatan. Kawasan perkotaan sebagai pusat pemerintahan memiliki mobilitas tinggi terhadap berbagai pengaruh yang didatangkan dari luar. Pengaru inilah yang kemudian menyebabkan berbagai perubahan dalam segala aspek di kawasan perkotaan tidak terkevuali dengan masalah dinamika spiritual. Dinamika spiritual merupakan suatu pergeseran baik pemikiran ataupun aktivitas terhadap spiritual manusia. Dalam pergeseran berskala kecil dapat dilihat dari adanya perbedaan penggunaan warna pakaian ibadah, tata cara yang digunakan dalam prosesi ibadah agama masyakat dikawasan tersebut. Dengan adanya berbagai beragam warna tersebut, maka dibutuhkan suatu identifikasi dalam bidang spiritual untuk mengetahui sejauh mana pergesera spiritual tersebut mempengaruhi perilaku kepercayaan atau spiritualitas kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

B. Tujuan Pratikum Tujuan dari praktikum Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan terdiri dari : a. Mengenali, mempelajari dan mengidentifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan Kota Semarang, Jawa Tengah. b. Terampil mengidentifikasi berbagai Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan Kota Semarang, Jawa Tengah.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Adapun tinjauan pustaka dalam Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual pada Masyarakat Perkotaan yang terdiri dari materi yang terpisah. Materi tersebut diantaranya mencakup spiritual dan kawasan perkotaan : A. Spiritual Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta, tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu. Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek : 1) Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam kehidupan, 2) Menemukan arti dan tujuan hidup, 3) Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, 4) Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha tinggi. Mempunyai kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan, Kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, sesuatu perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan sepenuhnya (action), harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, dan perkembangan, dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai suatu prestasi dan berorientasi kedepan. Agama adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang terorganisir atu teratur. Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungan) dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Adapun unsur-unsur spiritualitas meliputi kesehatan spiritual, kebutuhan spiritual, dan kesadaran spiritual. Dimensi spiritual merupakan suatu penggabungan yang menjadi satu kesatuan antara unsur psikologikal, fisiologikal, atau fisik, sosiologikal dan spiritual

B. Kawasan Perkotaan Definisi kawasan perkotaan menurut Rapoport dalam Zahnd (1999; 4) adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat dan permanen, terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial. Dari definisi di atas, perkmukiman/kota digambarkan sebagai objek yang mempunyai elemen-elemen (aspek sosial) yang mempengaruhi kegiatan yang ada dan mungkin ada pada pembangunan selanjutnya. Kota sebagai tempat terpusatnya kegiatan masyarakat terus berkembang dengan semakin kompleksnya kegiatan-kegiatan dalam kota, kota tidak lagi mempunyai fungsi tunggal (single use-pemenuhan kebutuhan masyarakatkota) namun memiliki kecenderungan multi fungsi (mixed use) dengan fungsi kegiatan yang berorientasi pada kepentingan pasar (wilayah) dan kepentingan publik. Sehingga kota dapat diartikan sebagai suatu lokasi dengan konsentrasi penduduk/permukiman, kegiatan sosial ekonomi yang heterogen dan intensif (bukan ekstraktif atau pertanian), pemusatan, koleksi dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan sosial ekonomi yang ditetapkan secara administratif.

III.

KONDISI UMUM

A. Kota Semarang Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Purwodadi Grobogan) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke 4, setelah Jabodetabek (Jakarta), Bandung Raya dan Gerbangkertosusilo (Surabaya).

Gambar 1. Kota Semarang Sumber. http://ritahen.ifastnet.com, 2013 Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin parah. Kota Semarang dipimpin oleh wali kota Hendrar Prihadi, S.E, M.M. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 624 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara).[2] Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat. Luas Kota Semarang adalah 373.67 km2.

III.

METODE PRATIKUM

Metode praktikum Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan, mencakup tiga hal yang meliputi lokasi dan waktu, alat dan bahan dan tahapan kerja. A. Lokasi dan Waktu Penugasan praktikum Identifikasi Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan, diberikan pada hari Selasa, 22 Oktober 2013, pukul 10.30 WIB di Kampus Diploma IPB Cilibende Ruang CA K08. B. Alat dan Bahan Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan terdiri dari Modem, buku panduan. dan laptop untuk mencari bahan membuat laporan pratikum. C. Tahapan Kerja Metode yang dilakukan dalam praktikum Dinamika dan Perilaku Spiritual Pada Masyarakat Perkotaan adalah menggunakan identifikasi dan analisa data. Langkah-langkah dalam mengerjakan praktikum adalah sebagai berikut : a. Menentukan lokasi yang akan menjadi sasaran kajian per-kelompok pratikum (masing-masing kelompok tidak boleh sama). b. Melakukan studi literatur terkait dengan kawasan yang dijadikan sasaran kajian pratikum. c. Mengidentifikasi dinamika dan perilaku spiritual yang terjadi pada studi literatur yang telah dijadikan sasaran kajian praktikum. d. Menginventarisasi setiap dinamika dan perilaku spiritual di masyarakat Kota Semarang, Jawa Tengah. e. Mendiskusikan materi bersama dengan kelompok, kemudian mendeskripsikan masing-masing pembahasan berdasarkan data yang diperoleh sebelumnya. f. Membagi materi yang dibahas menjadi su-bab yang kemudian dibahas secara perorangan setiap anggota kelompok. g. Membuat laporan hasil praktik. h. Mempersentasikan hasil laporan dengan Power Point. i. Mengumpulkan laporan.

Laporan Praktikum 8 Mata Kuliah : Wisata Budaya dan Spiritual

Selasa, 12 November 2013

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Dari beberapa hasil Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual.di Kawasan Perkotaan Kota Semarang, Jawa Tengah ditemukan beberapa hasil studi literature tentang Dinamika dan Perilaku Spiritual di Kawasan Perkotaan Kota Semarang, Jawa Tengah. Untuk hasil dapat dilihat pada Tally Sheet. (Tabel 1) Tabel 1. Tallysheet Identifikasi Dinamika dan Perilaku Spiritual.di Kawasan Perkotaan Kota Semarang, Jawa Tengah.
No 1. Spiritual Pola Upacara a. Upacara Dugderan Deskripsi Awal Perubahan Waktu Pemicu Bentuk Dilakukan secara iringiringan, menganti bunyi meriam dengan karbit dan balon. Pengunaan spanduk dan peserta iring-iringan upacara Potensi Wisata Souvenir khas di pasar rakyat Sumber http://wisatasemara ng.wordpress.com

Sebuah upacara yang menandai bahwa bulan puasa telah datang Sesaji Rewanda" merupakan upacara ritual tradisional yang diselenggarakan di Wisata Alam Goa Kreo

1881

Dijadikan sebagai acara tahunan Meningkatnya kunjungan wisatawan baik asing maupun lokal ke WA goa kreo yang ingin menyaksikan upacara Rewanda. Adanya pengaruh dari kesultanan Demak dan perkembangan teknologi

b. Upacara Sesaji Rewanda

Setiap 3 Syawal

Peningkatan wisatawan tempat wisata Goa Kreo.

http://kotawisataind onesia.com

2.

Atribut Spiritual a. pakaian keagamaan Penggunaan Warna Putih Gamis untuk laki-laki dan Perempuan Motif, warna dan model dari pakaian semakin beragam. Souvenir untuk Kawasan Masjid Agung Semarang http://djangki.word press.com

No

Spiritual b. Sesajen

Deskripsi Awal

Perubahan Waktu Pemicu Bentuk

Untuk mengucap syukur atau sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan / leluhur. merupakan upacara pertemuan kedua kekasih dalam alam bawah sadar.

Zaman Kerajaan HinduBuddha -

Perkembangan zaman dan penyebarluasan perdagangan upacara pertemuan antara sulasih dan raden sulandono

Keragaman dari sesajen yang dihidangkan

Potensi Wisata Penataan sesajen dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Sumber http://sosbud.komp asiana.com

3.

Pemaknaan

a. Tari sintren

Perkembangan jaman, dijadikan hiburan

Hanya sekedar tarian dalam sebuah festifal atau pentas spiritual.

www.wipedia.co m

b. Dugderan

Dugeran ini merupakan upacara penyambutan bulan ramadan

1860-1887

Saat bulan terlihat maka di tabuh gendang dan meriam salvo sebanyak 3 kali dan dilakukan di dalam mesjid

Meriam yang tidak digunakan lagi dan banyaknya orang yang mengenal tradisi tersebut.

Dilakukan di jalanan, sehari sebelum puasa dan mengunakan karbit sebagai pengganti meriam

http://www.suara karyaonline.com/news. html?id=234051

Laporan Praktikum 8 Mata Kuliah : Wisata Budaya dan Spiritual

Selasa, 12 November 2013

B.

Pembahasan

1. Pola Upacara (Rully Ahmad Awalludin, J3B112023 ) a. Upacara Dugderan Upacara ini merupakan upacara yang dijadikan acara tahunan untuk menyambut datangnya builan suci Ramadhan. Dinamika yang terjadi pada upacara dugderan ini yaitu pada tempat dan pelaksanaannya. Pada zaman dahulu upacara ini dilakukan di Mesjid Agung Semarang, dan ditandai dengan tabuhan Beduk dan letusan merian namun pada saat ini dilakukan pada sehari sebelum puasa dan tidak terpusat pada suatu tempat melainkan dengan arak-arakan. Selain itu upacara ini memiliki maskot yang disebut dengan Warak Ngendog yaitu sosok patung binatang berbentuk campuran aneka binatang. Kepalanya mirip naga, bisa juga mirip kuda, namun bertaring tajam.

Gambar 2. Upacara Dugderan Sumber. Google, 2013

b. Upacara Rewanda Upacara ini merupakan upacara yang dilangsungkan di Goa kreo, untuk memperingati hari 3 syawal dan meminta berkah pada penunggu goa agar mendapatkan rejeki dan berkah yang melimpah setelah bulan suci Ramadhan selesai. Dinamika yang terjadi yaitu pada atribut yang digunakan pada upacara Rewanda yaitu penggunaan spanduk sebagai simbolisasi bahwa acara tersebut sedang berlangsung, dan melibatkan pengunjung sebagai peserta iring-iringan karena pada zaman dahulu yang mengiring upacara ini adalah warga sekitar dan para sesepuh. z

Gambar 3. Upacara Rewanda

Sumber. Google, 2013

2. Atribut Spiritual (TRM Habib Arasyid, J3B112004) a. Pakaian keagamaan Pakaian keagamaan merupakan pakaian yang dikhususkan untuk para santri di kawasan mesjid Agung Semarang. Dinamika yang terjadi yaitu adanya motif atau stile dan warna baru pada pakaian tersebut. Sehingga lebih modern dan trendy. Contohnya pengunaan gamis pada santri perempuan digantikan dengan baju muslim.

Gambar 4. Busana Muslim Sumber. Google, 2013

b. Sesajen Sesajen adalah warisan dari zaman Kerajaan Hindu-Buddha tetapi orangorang yang masih memegang budaya Jawa dengan erat tetap membuat sesajen pada saat-saat spesial. Sesajen dibuat untuk mengucap syukur atau sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan / leluhur. Karena kaitannya dengan hal-hal paranormal/ghaib, dan fungsinya untuk berdoa kepada leluhur, banyak yang mengatakan bahwa penggunaan sesajen adalah hal yang musrik atau menantang nilai-nilai agama.

Gambar 5. Macam Sesajen Sumber. Google, 2013

Ada beberapa makna dari sesajen yang di berikan yaitu: 1. Beras/nasi/padi: biasanya dibentuk seperti gunungan (tumpeng) melambangkan kesempurnaan, ke-total-an, ketuntasan. Sebagai manusia, jika melakukan sesuatu, harus dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah, selesaikan apa yang kau mulai. Tumpeng, adalah singkatan dari "tumungkulo sing mempeng" yang berarti, "jika ingin selamat, rajinlah beribadah."

2. Urap: Selama kita hidup di dunia ini, jadilah orang yang berarti bagi masyarakat sekitar, alam semesta, lingkungan, agama, dan negara. Kalau diartikan dengan mudah - jadilah orang yang berguna, yang baik, yang positif. Berikan kontribusi yang baik. 3. Bubur panca warna: (panca artinya lima/5) - Bubur jagung, ketan putih, bubur kacang hijau, ketan hitam dan bubur beras merah - Mereka diletakkan di semua arah mata angin, yang satu diletakkan di tengah, orang Jawa menyebutnya sebagai "Kiblat Papat Limo Pancer". Menyimbolkan kelima elemen alam yaitu: air, udara, api, tanah dan angkasa. 4. Jajanan pasar: Representasi dari kerukunan, walaupun manusia dan komunitasnya selalu berbeda, hendaknya selalu ada tenggang rasa. 5. Pisang Raja Gandeng: Simbolisasi dari cita-cita yang besar dan luhur. Sebagai manusia, hendaknya kita terus membangun bangsa dan negara. 6. Ayam ingkung: Melambangkan cinta kasih dan pengorbanan. Selama kita hidup, berilah kasih sayang, perhatian, kepedulian, pengorbanan. 7. Ikan bandeng atau ikan asin (yang berduri banyak): Artinya, rejeki berlimpah. Jika memakai ikan teri, yang hidupnya biasa bergerombol, ini melambangkan kerukunan. 8. Telur: Simbol dari asal mula kehidupan yang selalu berada dalam dua sisi yang berbeda seperti laki-laki / perempuan, siang / malam. 9. Air dan bunga: Melambangkan air yang menjadi kebutuhan pokok manusia sehari-hari 10. Kopi pahit: Melambangkan elemen air tetapi juga sebagai simbol kerukunan dan persaudaraan (karena kopi biasanya diminum pada saat pertemuan, acara sosial, perkumpulan. Dinamika yang terjadi yaitu penambahan jumlah sesajen yang digunakan dulu hanya menggunakan 4-3 bahan namun sekarang bisa 7-15 jenis bahan. Serta bertambahnya macam-macam aroma dari kemenyan yang di gunakan. 3. Pemaknaan (Tia Chaerunnisa, J3B112022) a. Tari sintren Kesenian Sintren berasal dari kisah Raden Sulandono dan sulastri, raden sulandono merupakan putra Ki Bahurekso. Kemudian dia menikah dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara dengan sulastri, dan hubungan tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi

Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). Dinamika yang terjadi dalam tari sintren ini yaitu tarian ini dulu merupakan upacara proses bertemunya sulasih dan solandono ketika bertapa dan sulasih atau gadis yang menjadi mengunakan ikat kepala sebagai penutup mata sedangkan di zaman sekarang upacara tersebut menjadi seni tari yang banyak dipertontonkan jadi kesakralan dari tarian ini mulai memudar, serta penari tidak lagi mengunakan ikat kepala melainkan mengunakan kacamata hitam dan penari akan pingsan jika dilempari uang.

Gambar 6. Tari Sintren Sumber. Google, 2013

b. Dugderan Duderan merupakan upacara penyambutan bulan Ramadhan yang di ciptakan oleh Kanjeng Raden Tumenggung Suryokusumo pada tahun 18601887 untuk memberi tahu bahwasanya bulan ramdhan telah tiba. Dinamika pemaknaan yang terjadi yaitu pada zaman dahulu upacara ini dilakukan untuk menandakan datangnnya bulan Ramadhan tetapi pada zaman sekarang dilakukan sebagai upacara hiburan rakyat sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.

Gambar 7. Upacara Dugderan Sumber. Google, 2013

4. Perilaku Spiritual Perilaku budaya masyarakat semarang yaitu prilaku yang mempengaruhi lingkungan terutama pada lingkungan sosial. Hal ini disebabkan pengaruh lingkungan sangat dominan terhadap perkembangan spiritual yang ada. Seperti halnya dinamika yang terjadi. Contohnya dalam penyajian sesajen sangat dipengaruhi kepercayaan yang tidak diketahui asalnya hanya saja pemikiran atau sumber tersebut beredar di masyarakat luas dan dapat di terima ,diturunkan, dan bahkan dipakai.

V.

PENUTUP

A. Kesimpulan Kota Semarang, Jawa Tengah, merupakan kota atau daerah yang dihuni hampir seluruh masyrakatnya memiliki nuansa budaya dan spiritualitas yang sangat kental. Kota yang merupakan Salah satu Kota terbesa di Pulau Jawa adalah salah satu Kota yang memiliki sejarah spiritual yang sangat tinggi dan sempat dinobatkan sebagai salah satu pusat wisata spiritual. Kota Semarang sangat terkenal dengan adat istiadat spiritual yang masih sangat kental. Adat istiadat spirirtual ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan orang Jawa atau Kejawen. Terdapat beberapa Dinamika Spiritual yang ada di Kawasan Kota Semarang yaitu, Upacara Dugderan, Upacara Rewanda, Tarian Sintren, Atribut Spiritual Sesajen, dan busana keagamaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anomim. 2010. Perilaku Budaya . http://dianhusadanuruleka.com/p/konsepperilaku-manusia.html (10 Oktober 2013 16.00). Anomim. 2008. Wisata Kota Semarang. http://jurnalkejawen.com/. (10 Oktober 2013 16.00). Anomim.2009. Dinamika Spiritual. http://budiaman21.wordpress.com/2010/08/20/dinamika/. (10 Oktober 2013 16.00). Anomim.2010. Wisata Spiritual Semarang. http://wisatasemarang.wordpress.com/2010/04/11/. (10 Oktober 2013 16.00).