Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS I. Identitas Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat : Tn.

W : 40 tahun : Laki-Laki : Pedagang : Junti

II.

Anamnesis (Alloanamnesis) Keluhan Utama Keluhan Tambahan : Nyeri perut kanan bawah : Nyeri epigastrium

Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 5 hari SMRS pasien mengeluh sakit yang terus menerus pada perut kanan bawah, sakit bertambah berat bila berjalan. Mual muntah (-), BAK dan BAB normal. Nyeri pertama kali dirasakan pertama kali pada ulu hati dan menjalar ke kanan bawah. Pasien mengaku sempat diurut perutnya.

Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat penyakit kuning (+) Riwayat penyakit paru,jantung,(-) Riwayat penyakit DM (-) Riwayat penyakit batu ginjal (+) Riwayat Trauma (-)

Riwayat Penyakit keluarga : Di keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang sama

III.

Pemeriksaan Fisik STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital : TD N S R Kepala : Normocephal Mata : Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/Pupil bulat, isokor Refleks pupil +/+ Leher : Tiroid tidak teraba membesar KGB tidak teraba membesar Thoraks Cor : : Sakit Sedang : Kompos mentis : 110/70 mmHg : 86 x/menit : 36oC : 24 x/ menit

I : iktus cordis tidak terlihat P : iktus cordis teraba pada ICS V garis midclavikula P : batas jantung mudah dinilai A : BJ I-II reguler, murmur(-), gallop(-)

Pulmo I : pergerakan torak simetris dalam keadaan statis dan dinamis P : vokal fremitus hemitoraks kanan dan kiri sama P : sonor pada kedua lapangan paru A : vesikular, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen I A P P : datar supel, simetris : Bising usus (+) normal : timpani pada seluruh lapang pandang, shifting dullness (-) : lembut, nyeri tekan (+) pada reg,inguinal dextra, hepar teraba 8 cm, licin, tajam, permukaan rata, tes rovsing (+), nyeri tekan (+) nyeri lepas (+). Defans muscular (-). Tes Psoas obturator (+).

Ekstremitas

Superior kanan kiri Inferior kanan kiri

: udem (-) , akral hangat : udem (-) , akral hangat

Pemeriksan Penunjang Laboratorium

LAB WBC LYM MON GRANUL LYM % MON% GRANUL% RBC HGB HCT MCV MCH MCHC ROW PLT MPV PCT POW

RESULT 17,3 1.6 0.8 14,0 11 6.6 85,1 4.58 13.8 42.2 92.1 30.1 32.7 11.5 323 6.0 0.220 13.6 H H L

FLAGS

UNIT 10^3/ 10^3/ 10^3/ 10^3/ % % % 10^6/ g/dl %

NORMAL 4.0-12.0 1.0-5.0 0.1-1.0 2.0-8.0 25.0-50.0 2.0-10.0 50.0-80.0 4.0-6.20 11.0-17.0 35.0-55.0 80.0-100.0

Pg g/dl % 10^3/

26.0-34.0 31.0-35.0 10.0-16.0 150.0-400.0 7.0-11.0

% %

0.200-0.50 10.0-18.0

KGDS : 90 mg/dL

LAB Kimia klinik (Fungsi ginjal) Ureum Kreatinin

RESULT

FLAGS

Method

NORMAL

29,6 0,82 L

Urease UV Liquid Jaffe Compt STA

10-50 0.6-1.38

IV.

Saran Pemeriksaan : USG abdomen

V.

Diagnosis banding Abses apendikular Abdominal abses Iskemia mesentrika Pelvic inflammatory disease

VI.

Diagnosis kerja Abses apendikular

VII.

Penatalaksanaan Medikamentosa :

Infus RL 10 tetes per menit Dolac 3x1 Evalin 3x1

Terapi operasi : Laparotomy dengan apendiktomi

VIII.

Prognosis Ad Vitam Ad Functionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI APPENDIX Appendix adalah suatu pipa tertutup yang sempit yang melekat pada secum (bagian awal dari colon). Bentuknya seperti cacing putih. Secara anatomi appendix sering disebut juga dengan appendix vermiformis atau umbai cacing. Appendix terletak di bagian kanan bawah dari abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli. Muara appendix berada di sebelah postero-medial secum.

Gambar 1. Appendix vermicularis4) Vaskularisasi Appendix berasal dari percabangan A. ileocolica. Gambaran histologis Appendix menunjukkan adanya sejumlah folikel limfoid pada

submukosanya. Pada usia 15 tahun didapatkan sekitar 200 atau lebih nodul limfoid. Lumen Appendix biasanya mengalami obliterasi pada orang dewasa. 1,3

Gambar 2. Potongan transversa Appendix 5 Panjang Appendix pada orang dewasa bervariasi antara 2-22 cm, dengan rata-rata panjang 6-9 cm. Meskipun dasar Appendix berhubungan dengan Taenia caealis pada dasar Caecum, ujung Appendix memiliki variasi lokasi seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Variasi lokasi ini yang akan mempengaruhi lokasi nyeri perut yang terjadi apabila Appendix mengalami peradangan. 1,2

Gambar 3. Variasi lokasi Appendix vermicularis1 Awalnya, Appendix dianggap tidak memiliki fungsi. Namun akhir-akhir ini, Appendix dikatakan sebagai organ imunologi yang secara aktif mensekresikan Imunoglobulin terutama Imunoglobulin A (IgA). Walaupun Appendix merupakan komponen integral dari sistem Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT), fungsinya tidak penting dan Appendectomy tidak akan menjadi suatu predisposisi sepsis atau penyakit imunodefisiensi lainnya.2

Penentuan letak pangkal dan ujung appendix yang normal adalah sebagai berikut : Menurut garis Monroe Pichter

Garis yang menghubungkan SIAS dan umbilicus. Pangkal appendix terletak pada 1/3 lateral dari garis ini (titik Mc Burney). Menurut garis Lanz

Diukur dari SIAS dextra sampai SIAS sinistra. Ujung appendix adalah pada titik 1/6 lateral dextra. Seperti halnya pada bagian usus yang lain, appendix juga mempunyai mesenterium. Mesenterium ini berupa selapis membran yang melekatkan appendix pada struktur lain pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan appendix dapat bergerak. Selanjutnya ukuran appendix dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan appendix yang panjang menyebabkan appendix bergerak masuk ke pelvis (antara organ-organ pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan appendix bergerak ke belakang colon yang disebut appendix retrocolic. Appendix dipersarafi oleh saraf parasimpatis dan simpatis. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. vagus yang mengikuti a. mesenterica superior dan a. appendicularis. Sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. thoracalis X. Karena itu nyeri viseral pada appendicitis bermula disekitar umbilicus.Vaskularisasinya berasal dari a.appendicularis cabang dari a.ileocolica, cabang dari a. mesenterica superior. FISIOLOGI APPENDIX Fungsi appendix pada manusia belum diketahui secara pasti. Diduga berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Lapisan dalam appendix menghasilkan lendir. Lendir ini secara normal dialirkan ke appendix dan secum. Hambatan aliran

lendir di muara appendix berperan pada patogenesis appendicitis. Appendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase, erepsin dan musin. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks. Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks, ialah Ig A. Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.

Apendisitis
Definisi Apendiks adalah ujung seperti jari-jari yang kecil panjangnya kira-kira 10cm (4 inci), melekat pada sekum tepat dibawah katup ilosekal (Smeltzer dan Bare, 2002). Apendisitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer dkk., 2000). Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, dan bedah abdomen darurat (Smeltzer dan Bare, 2002).

Etiologi Pada penelitian, ligasi (obstruksi) apendiks menyebabkan peningkatan mencolok tekanan intralumen, yang dengan cepat melebihi tekanan darah sistolik.Pada awalnya kongesti darah vena menjelek menjadi trombosis, nekrosis dan perforata.Secara klinis, obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Obstruksi ini disebabkan oleh pengerasan bahan tinja (fekolit).CFekalit merupakan

10

penyebab tersering dari obstruksi apendiks. Bahan yang mengeras ini bisa mengapur, terlihat dalam foto rontgen sebagai apendikolit (15-20%). Obstruksi akibat dari edema mukosa dapat disertai dengan infeksi virus atau bakteri (Yersinia, Salmonella, Shigella) sistemik. Mukus yang tidak normal terkesan sebagai penyebab meningkatnya insidens apendisitis pada anak dengan kistik fibrosis. Tumor karsinoid, benda asing, dan ascaris jarang menjadi penyebab apendisitis (Hartman, 2000). Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. Histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya

pertumbuhankuman flora kolon biasa. Semuanya akan mempermudah terjadinya apendisits akut (Pieter, 2005). Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya apendisitis yaitu : a. Faktor keturunan seperti adanya malformasi dari apendix yang menyebabkan kurangnya vaskularisasi pada apendiks atau apendiks yang terlalu panjang b. Faktor ras dan gaya hidup seperti orang kulit putih yang terbiasa mengkonsumsi makanan yang rendah serat memiliki faktor yang lebih besar terserang apendisitis

Patofisiologi Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur pada fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma (Mansjoer dkk., 2000). Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimal.Selanjutnya, terjadi peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang distensi secara terus menerus karena multiplikasi cepat dari bakteri.Obstruksi iga menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung.semakin lama, mukus tersebut semakin banyak. Namun, elastisitas dinding apendiks terbatas sehingga
11

meningkatkan tekanan intralumen. Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml (Schwartz, 2000). Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia, hambatan aliran limfe, ulserasi mukosa, dan invasi bakteri. Infeksi memperberat pembengkakan apendiks (edema).Trombosis pada pembuluh darah intramural (dinding apendiks) menyebabkan iskemik. Pada saat ini, terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium (Mansjoer dkk., 2000). Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang meluas dan mengenai peritoneum setempat menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut denganapendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforata. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang (Mansjoer dkk., 2000). Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai di mukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Ini merupakan usaha pertahanan tubuh yang membatasi proses radang melalui penutupan apendiks dengan omentum, usus halus, atau adneksa. Akibatnya, terbentuk massa periapendikular. Di dalamnya, dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforata. Jika tidakterbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang, dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat (Pieter, 2005). Pada anak-anak, perforata mudah terjadi karena omentum lebih pendek, apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis, dan daya tahan tubuh yang masih kurang. Pada orang tua, perforata mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer dkk., 2000).

12

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi membentuk jaringan parut dan menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitar. Perlengketan ini menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah.Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut (Pieter, 2005).

Manifestasi klinis Pada permulaan timbulnya penyakit, belum ada keluhan abdomen yang menetap.Keluhan apendisitis akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam, nyeri beralih ke kuadran kanan, menetap, dan diperberat saat berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia,malaise, demam yang tidak terlalu tinggi, konstipasi, kadangkadang diare, mual dan muntah. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif (Mansjoer dkk., 2000). Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak apendiks yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritoneum lokal.Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Di sini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan somatik setempat.Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar.Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa

mempermudah terjadinya perforata.Bila terdapat perangsangan peritoneum biasanya pasien mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk. Bila letak apendiks retrosekal di luar rongga perut, karena letaknya terlindung sekum maka tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada rangsangan peritoneal.Rasa nyeri lebih ke arah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan, karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal (Pieter, 2005). Apendiks yang terletak di rongga pelvis, bila meradang, dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsangan sigmoid atau rektum sehingga peristaltik meningkat,
13

pengosongan rektum akanmenjadi lebih cepat dan berulang-ulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing, karena rangsangan dindingnya (Pieter, 2005). Penjelekan sejak mulainya gejala sampai perforata biasanya terjadi setelah 36-48 jam.Jika diagnosis terlambat setelah 36-48 jam, angka perforata menjadi 65% (Hartman, 2000). Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi.Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik.Gejala awalnya sering hanyarewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntah-muntah dan anak akan menjadi lemah dan letargik. Karena gejala yang tidak khas tadi, sering apendisitis diketahui setelah perforata.Pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforata (Pieter, 2005).

Manifestasi klinis apendisitis akut (Pieter, 2005) : tanda awal nyeri mulai di epigastrium atau regio umbilikus disertai mual dan anoreksi nyeri pindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal di titik McBurney : o nyeri tekan o nyeri lepas odefans muskuler nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung o nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing) o nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg) onyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam, berjalan, batuk, mengedan

14

Diagnosis Menurut Kartono (1995), massa apendiks dengan proses radang aktif ditandai dengan: 1. Keadaan umum pasien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi; 2. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tandatanda peritonitis; 3. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri.

Sedangkan, massa apendiks dengan proses radang yang telah reda ditandai dengan: 1. Pasien berumur 5 tahun atau lebih. 2. Keadaan umum telah membaik, sakit, dan suhu tubuh tidak tinggi lagi. 3. Pemeriksaan lokal abdomen tenang, tanpa tanda-tanda peritonitis, dan massa dengan berbatas jelas dengan nyeri tekan ringan. 4. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

Riwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti massa yang nyeri di regio iliaka kanan dan demam, mengarahkan diagnosis pada massa atau abses apendikuler. Diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang.Kesalahan diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding laki-laki.Hal ini terjadi karena perempuan, terutama yang masih muda, sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis akut.Keluhan dapat berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis atau penyakit.Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis yang meragukan dilanjutkan dengan observasi penderita di rumah sakit, dengan pengamatan setiap 1-2 jam (Pieter, 2005).

Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik


15

Demam biasanya ringan, dengan suhu sekitar 37,5-38,5C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah terjadi perforata.Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1C.Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik.Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforata.Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah . Apendisitis yang tidak terobati berlanjut dengan perforata dalam 48-72 jam; karenanya, lamanya gejalanya sangat penting dalammengintepretasi tanda fisik dalam menentukan strategi pengobatan (Pieter, 2005). Pemeriksaan fisik harus dimulai dengan inspeksi tingkah laku anak dan keadaan perutnya.Anak dengan apendisitis sering bergerak perlahan dan terbatas, membungkuk kedepan, dan sering dengan sedikit pincang. Anak tersebut akan memegang kuadran kanan bawah dengan tangan dan enggan untuk naik ke meja periksa. Apendisitis dini perut rata.Perubahan warna dan bekas luka memar harus dipikirkan trauma perut.Perut kembung menunjukkan suatu komplikasi seperti perforata atau obstruksi.Auskultasi bisa menunjukkan suara usus normal atau hiperaktif pada apendisitis dini diganti dengan suara usus hipoaktif ketika menjelek menjadi perforata (Hartman, 2000). Palpasi abdomen harus dilakukan dengan lembut setelah pelaporan dan dibantu dengan selingan pembicaraan atau bantuan orangtua.Kuadran kanan bawah (titik Mcburney) harus dipalpasi terakhir setelah pemeriksa telah mempunyai kesempatan mempertimbangkan respons terhadap pemeriksaan kuadran yang seharusnya tidak nyeri. Titik Mcburney adalah perpotongan lateral dan duapertiga dari garis ysng menghubungkan spina iliaka superior anterior kanan dan umbilikus. Tanda fisik yang paling penting pada apendisitis adalah nyeri tekan menetap pada saat palpasi dan kekakuan lapisan otot rektus.Jika anak takut atau agitasi saat pemeriksaan sebelumnya, maka otot perut mungkin tegang keseluruhan, membuat interpretasi temuan ini tidak dimungkinkan (Hartman, 2000). Pemeriksaan nyeri lepas harus dikerjakan dengan hati-hati supaya bermakna. Palpasi perut yang dalam dan kemudian dilepaskan dengan tiba-tiba akan
16

menyebabkan nyeri dan rasa takut pada semua anak dan hal ini tidak dianjurkan. Perkusi jari dengan lembut pada semua kuadran merupakan pemeriksaan yang lebih baik dari iritasi peritoneum berulang pada semua kelompok umur tetapi terutama pada anak yang takut (Hartman, 2000). Peristalsis usus sering normal, peristalsis dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforata. Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika (Pieter, 2005). Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan, maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks.Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m. psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Bila apendiks yang meradang menempel di m. psoas, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang, pada apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri (Pieter, 2005).

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Pada darah lengkap didapatkan leukosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana.Lebih dari 13.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforata.Tidak adanya leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis.Hitung jenis leukosit terdapat pergeseran kekiri.Pada pemeriksaan urin, sedimen dapat normal atau terdapat leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika (Kartono, 1995).

17

Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan pencitraan yang mungkin membantu dalam mengevaluasi anak dengan kecurigaan apendisitis adalah foto polos perut atau dada, ultrasonogram, enema barium, dan kadang-kadang CT scan.Temuan apendisitis pada foto perut meliputi apendikolit yang mengalami kalsifikasi, usus halus yang distensi atau obstruksi, dan efek massa jaringan lunak (Hartman, 2000) Menurut Darmawan Kartono, 1995 foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesa atau pemeriksaan fisik meragukan. Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat ileal atau caecal ileus (gambaran garis permukaan air-udara disekum atau ileum). Foto polos pada apendisitis perforata: 1. gambaran perselubungan lebih jelas dan dapat tidak terbatas di kuadran kanan bawah 2. penebalan dinding usus disekitar letak apendiks, sperti sekum dan ileum. 3. Garis lemak pra peritoneal menghilang 4. Skoliosis ke kanan 5. Tanda-tanda obstruksi usus seperti garis-garis permukaan cairan-cairan akibat paralisis usus-usus lokal di daerah proses infeksi.

CT scan telah menjadi modalitas pilihan untuk mendiagnosis usus buntu pada anak-anak.CT scan telah terbukti memiliki akurasi 97% dalam mendiagnosis apendisitis.Keuntungan lainnya adalah kemampuan untuk mengevaluasi seluruh perut dan menemukan abses dan phlegmon, kurangnya ketergantungan pada keterampilan operator, dan keakraban dokter dengan membaca CT scan. Kerugian meliputi paparan radiasi tersebut, kebutuhan akan kontras oral dan intravena dan kerugian yang terkait, dan kebutuhan pasien untuk diam, yang sering sulit untuk anak-anak kecil. Karena keuntungan CT scan, 62% dari dokter bedah anak yang disurvei di

18

Amerika Utara lebih suka untuk evaluasi usus buntu.CT scan paling disukai, dengan 51-58% pasien dengan apendisitis diduga menjalani CT scan.Namun, walaupun sekarang penggunaan luas CT scan untukevaluasi apendisitis dengan sensitivitas dan spesifisitas unggul, tingkat usus buntu negatif pada anak-anak belum menunjukkan penurunan signifikan secara statistik (Katz, 2009). Temuan pada barium enema adalah temuan pengaruh massa pada sekum karena proses radang dan lumen apendiks tidak terisi atau terisi sebagian (Hartman, 2000).

Penatalaksanaan Menurut Mansjoer dkk. (2000), penatalaksanaan apendisitis terdiri dari:

a. Sebelum operasi 1. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi 2. Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin 3. Rehidrasi 4. Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena 5. Obat obatan penurun panas, phenergan sebagai anti mengigil, largaktil untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai 6. Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi

b. Operasi 1. Apendiktomi 2. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforata bebas, maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika 3. Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massa mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.

19

Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan

c. Pasca Operasi 1. Observasi Tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan pernafasan. 2. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah 3. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler 4. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selam pasien dipuasakan 5. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforata, puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. 6. Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak 7. Satu hari pascar operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit 8. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar 9. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang

Apendiktomi harus dilakukan dalam beberapa jam setelah diagnosis ditegakkan (Pieter, 2005). Jika apendiks telah perforata, terutama dengan peritonitis menyeluruh, resusitasi cairan yang cukup dan antibiotik spektrum luas mungkin diperlukan beberapa jam sebelum apendiktomi.Pengisapan nasogastrik harus digunakan jika ada muntah yang berat atau perut kembung.Antibiotik harus mencakup organisme yang sering ditemukan (Bacteroides, Escherichia coli, Klebsiella, dan pseudomonas spesies). Regimen yang sering digunakan secara

20

intravena adalah ampisilin (100 mg/kg/24 jam), gentamisin (5 mg/kg/24 jam), dan klindamisin (40 mg/kg/24 jam), atau metrobnidazole (Flagyl) (30 mg/kg/24 jam). Apendiktomi dilakukan dengan atau tanpa drainase cairan peritoneum, dan antibiotik diteruskan sampai 7-10 hari (Hartman, 2000). Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperforata ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikular yang pendidingannya belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforata diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah.Pada anak, dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforata, akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit (Pieter, 2005). Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja.Pada anak kecil, wanita hamil, dan penderita umur lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya (Pieter, 2005).

Komplikasi Komplikasi apendisitis terjadi pada 25-30% anak dengan apendisitis, terutama komplikasi yang dengan perforata (Hartman, 2000). Menurut Smeltzer dan Bare (2002), komplikasi potensial setelah apendiktomi antara lain: 1. Peritonitis

21

Observasi terhadap nyeri tekan abdomen, demam, muntah, kekakuan abdomen, dan takikardia.Lakukan penghisapan nasogastrik konstan.Perbaiki dehidrasi sesuai program.Berikan preparat antibiotik sesuai program.

2. Abses pelvis atau lumbal Evaluasi adanya anoreksi, menggigil, demam, dan diaforesis.Observasi adanya diare, yang dapat menunjukkan abses pelvis, siapkan pasien untuk pemeriksaan rektal.Siapkan pasien untuk prosedur drainase operatif.

3. Abses Subfrenik (abses dibawah diafragma) Kaji pasien terhadap adanya menggigil, demam, diaforesis.Siapkan untuk pemeriksaan sinar-x.Siapkan drainase bedah terhadap abses.

4. Ileus Kaji bising usus.Lakukan intubasi dan pengisapan nasogastrik.Ganti cairan dan elektrolit dengan rute intravena sesuai program.Siapkan untuk pembedahan, bila diagnosis ileus mekanis ditegakkan.

Prognosis Prognosis baik bila dilakukan diagnosis dini sebelum ruptur, dan diberi antibiotik yang lebih baik. Apendisitis akut tanpa perforata memiliki mortalitas sekitar 0,1%, dan mencapai 15% pada orang tua dengan perforata. Umumnya, mortalitas berhubungan dengan sepsis, emboli paru, ataupun aspirasi (Schwartz, 2000).

22

Daftar Pustaka
1. Artkel berjudul Prosedur Pembedahan Appendektomi by Herry Setya Yudha Utama available at

http://www.dokterbedahherryyudha.com/2013/06/prosedur-pembedahanappendektomi-by.html. 2. Artikel berjudul Digestive Surgery Serie : Appendicitis (Sign, Symptoms, Etiology, Definition, Diagnosis And Management) available at

http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/04/appendicitis-signsymptoms-etiology.html

3. Mansjoer, et al, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Jilid Kedua, Media Aesculapius, FK UI

4. Schwartz, et al, 2000, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Edisi Keenam, EGC, Jakarta

5.

Hartman, G. E., 2000. Apendisitis Akut. In: Nelson, W.E., Behrman, R.E., Kliegman, R.M., and Arvin, A.M., ed. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 2. Edisi 15. Jakarta: EGC, 1364-1366.

6.

Pieter, J., 2005. Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum. In: Sjamsuhidajat, R. and De Jong, W., ed. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC, 639-645.

23