Anda di halaman 1dari 24

PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM KEANEKARAGAMAN ORGANISME

Kelompok 3 1. Afifah Nurharyani 2. Ningtyas Yuniar Respati 3. Dwi Nurhayati 4. Kharirotul Munawiroh 13308141019 13308141026 13308141031 13308141039

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap individu memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda sehingga menunjukkan adanya keanekaragaman makhluk hidup. Tingginya tingkat keanekaragaman makhluk hidup sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup umat manusia. Keanekaragaman hidup yang ada disebut sebagai keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati dapat terbentuk karena adanya keseragaman dan keanekaragaman untuk sifat atau ciri mahluk hidup. Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah, yang merupakan dasar kehidupan di bumi. Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan. Keanekaragaman hayati dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman gen (genetic diversity) merujuk kepada berbagai macam informasi genetik yang terkandung di dalam individu tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang mendiami bumi. Keanekaragaman jenis (species diversity) merujuk kepada

keanekaragaman

organisme hidup di bumi. Keanekaragaman ekosistem (ecosystem proses

diversity) berkaitan dengan keanekaragaman habitat, komunitas biotik, dan

ekologi di biosfer. Di dalam keanekaragaman jenis, spesies atau jenis memiliki pengertian, individu yang mempunyai persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan sesamanya (interhibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan generasinya. Kumpulan makhluk hidup satu spesies atau satu jenis inilah yang disebut dengan populasi. Keanekaragamn hayati telah banyak dipelajari oleh manusia sejak zaman dahulu. Hal tersebut dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan juga untuk keperluan kesehatan dan pengobatan suatu penyakit, mengetahui kekerabatan antar makhluk hidup serta mengetahui manfaat keanekaragaman dalam mendukung kelangsungan hidup manusia. Contohnya seperti pohon Jati, tanaman Sawo Manila, tanaman Jambu Biji Merah dan tanaman Jambu Bangkok. Untuk itu, dalam praktikum

kali ini kami akan membahas tentang keanekaragaman dalam satu spesies dan keanekaragaman antar spesies yang memiliki ciri-ciri khusus yang beranekaragam. B. Tujuan 1. Menjelaskan ciri atau karakter pohon Jati, tanaman Sawo Manila, tumbuhan Jambu Air, dan tumbuhan Jambu Semarang. 2. Membandingkan ciri atau karakter pohon Jati dengan tanaman Sawo Manila. 3. Membandingkan ciri atau karakter tumbuhan Jambu Biji Merah dengan tumbuhan Jambu Bangkok.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tata nama Jati dengan nama ilmiah T. grandis L.f. termasuk ke dalam famili Verbenaceae. Jati dikenal pula dengan nama daerah sebagai berikut: deleg, dodokan, jate, jatos, kiati dan kulidawa. Di berbagai negara, jati lebih dikenal dengan nama gianti (Venezuela), teak (USA, Jerman), kyun (Birma), sagwan (India), mai sak (Thailand), teek (Perancis) dan teca (Brazil) (Martawijaya et al., 1981). Sifat-sifat umum kayu Jati (T. grandis L.f.) merupakan kayu bobot-sedang yang agak lunak dan mempunyai suatu penampilan yang sangat khas. Kayu teras sering berwarna kekuningan kusam jika baru dipotong, tetapi berubah menjadi cokelat keemasan atau kadang cokelat keabuan tua setelah terkena udara. Sedangkan kayu gubalnya berwarna putih kekuningan atau cokelat kekuningan pucat. Jika diraba kayu terasa berminyak dan mempunyai bau seperti bahan penyamak yang mudah hilang. Lingkaran tumbuh nampak jelas, baik pada bidang transversal maupun radial serta seringkali menimbulkan gambar atau corak yang indah (Lemmens dan Soerienegara, 2002). Daun jati memiliki beberapa khasiat antara lain sebagai obat radang tenggorokan, sakit sendi, dan memiliki beberapa kandungan kimia seperti flavonoid, saponin, tanin galatin, tanin katekat, kuinon dan steroid/triterpenoid. Flavonoid yang banyak terkandung dalam tanaman jati adalah quersetin dengan kadar 0,023% ( Duta, 2011 dan Hartati, 2007 ). Kondisi iklim di Indonesia yang merupakan iklim tropis ini sangat cocok dengan iklim pertumbuhan tanaman jati sehingga tanaman jati dapat berkembang baik di Indonesia. Penelitian dan pengembangan tanaman jati sering dilakukan karena kegunaannya, terutama untuk menghasilkan tanaman jati dengan kualitas kayu yang baik. Saat ini jati lokal dan jati dari luar Indonesia sudah mengalami proses-proses adaptasi morfologi dengan kondisi geografi di Indonesia sehingga karakter morfologi yang muncul sebagai bentuk ekspresi genetis sudah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Chasani, 2006). Menurut Sunardi (2008), kandungan yang terdapat dalam Sawo antara lain lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, potassium, dan sodium. Getah buah daun Achras zapota L berkhasiat sebagai obat mencret, disamping itu getahnya dapat digunakan sebagai campuran gula-gula. Untuk obat mencret dipakai lebih kurang

15 tetes getah buah Achras zapota L, diseduh dengan gelas air matang panas. Hasil seduhan diminum sekaligus (Sugati dan Johnny, 1991). Jambu biji (Psidium guajava L.) berasal dari daerah Amerika Tropikantara Mexico sampai dengan Peru,menyebar ke daerah Asia olehpedagang Spanyol dan Portugis(Verheij and Coronel, 1999). Tinggi tanaman dapat mencapai10 m (Heyne, 1987), mulai berbuah antara umur 2 sampai dengan 4 tahun dan umur tanaman produktif 30 40 tahun (Burkill, 1935, Verheij danCoronel, 1999). Kultivar jambu bijiyang dikenal dan beredar di masyarakat, pedagang buah dan bunga bermacam-macam diantaranya jambu krikil, jambu biasa, jambu mawar, jambu sukun dan jambu Bangkok. Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya, karena daunnya diketahui mengandung senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat. Daun jambu biji mempunyai khasiat sebagai antidiare, astringen, sariawan dan menghentikan pendarahan (Depkes,1989). Menurut Seshadri dan Vasishta dalam Depkes (1989) telah diteliti bahwa ekstrak etanol dari daun jambu biji mengandung quersetin, 3- arabinosapiranosida, guayaverin dan leukosin dengan kadar quersetin sampai 0,02%. Perbedaan kadar tersebut dapat disebabkan karena tipe atau varietas yang berbeda. Tanin dan quersetin, keduanya termasuk dalam golongan fenol.Tanin banyak terdapat didalam tumbuhan berpembuluh, khususnya dalan jaringan kayu, selain itu banyak terdapat pada bagian daunnya. Tumbuhan yang banyak mengandung tanin pada umumnya dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan, karena senyawa ini mempunyai rasa sepat dan dianggap sebagai penolak hewan (Harborne, 1987).

BAB III MATERI A. Alat dan Bahan 1. Buku Catatan 2. Pensil 3. Bolpoin 4. Kamera

C. Prosedur Kerja Menentukan dua tumbuhan yang termasuk dalam species yang berbeda dan dua tumbuhan yang termasuk dalam spesies yang sama.

Menginventarisasi parameter parameter pada individu tersebut, misalnya bentuk daun, lebar daun, bentuk batang, dan ukuran batang.

Mengamati atau mengukur parameter parameter dari setiap individu tersebut.

Memasukkan hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan.

PROSEDUR KERJA Menentukan dua tumbuhan yang termasuk dalam species yang berbeda dan dua tumbuhan yang termasuk dalam spesies yang sama.

Menginventarisasi parameter parameter pada individu tersebut

Mengamati atau mengukur parameter parameter dari setiap individu

Memasukkan hasil pengamatan ke dalam tabel pengamatan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Tabulasi Data

Jenis

Struktur

Tectona grandis (Pohon Jati)

Achras sapota L (Sawo Manila)

Keanekaragaman Morfologi Bentuk Daun

Lebar seperti kipas ( Kecil ( lebih kecil dari elips ) daun pohon Jati )

Antar Spesies

Lebar Daun

Panjang 40 cm untuk Panjang 10 cm untuk daun dewasa daun dewasa

Lebar 30 cm untuk Lebar 5 cm untuk daun dewasa Batang Batang pohon daun dewasa Jati Batang Sawo Manila

memiliki diameter yang memiliki diameter yang lebih besar dari pada lebih kecil dari batang batang Sawo Manila pohon Jati. Kira- kira diameternya 2x lebih kecil dari pohon Jati Jenis Struktur
Psidium guajava Linn ( Jambu Biji Merah)

Jambu Biji Bangkok

Keanekaragaman Morfologi Ukuran Batang

Diameter

batangnya Diameter

batangnya

sedikit lebih besar dari sedikit lebih kecil dari pada batang Jambu Biji pada batang Jambu Biji Satu Spesies Bentuk Daun Bangkok Lonjong agak bulat memanjang Permukaan Batang Licin Merah Lonjong agak bulat memanjang Licin

B. Hasil dan Pembahasan

1. Pohon Jati ( Tectona grandis L. )

1.1. Klasifikasi Pohon Jati Klasifikasi dari pohon jati adalah sebagai berikut: Kingdom Divisi Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dycotyledoneae : Verbenales : Verbenaceae : Tectona : Tectona grandis L.

1.2. Morfologi Pohon Jati Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30-45 m dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 1520 cm. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar 4. Daun berbentuk jantung membulat dengan ujung meruncing, berukuran panjang 20-50 cm dan lebar 1540 cm, permukaannya berbulu.Daun muda (petiola) berwarna hijau kecoklatan, sedangkan daun tua berwarna hijau tua keabu-abuan. Tanaman jati tergolong tanaman yang menggugurkan daun pada saat musim kemarau, antara bulan November hingga Januari. Setelah gugur, daun akan tumbuh lagi pada bulan Januari atau Maret. Tumbuhnya daun ini juga secara umum ditentukan oleh kondisi musim.

1.3.Daun Jati Daun biasanya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang amat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, lebih kurang 60-70 cm 80-100 cm , namun pada pohon tua berkurang jadi lebih kurang 15 20 cm. Berbulu halus serta memiliki rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan serta mengeluarkan getah berwarna merah darah jika diremas. Ranting yang muda berpenampang sisi empat, serta berbonggol di buku-bukunya.

1.4.Bunga Pohon Jati Bunga majemuk terdapat di dalam malai besar, 40 cm 40 cm atau semakin besar, diisi beberapa ratus kuntum bunga tersusun didalam anak payung menggarpu serta terdapat di ujung ranting , jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6 hingga 7 buah, warnanya agak keputih-putihan, dan berukuran sekitar 8 mm, berumah satu.

1.5. Buah Pohon Jati Buah berupa bulat agak gepeng, 0, 5 2, 5 cm, memiliki rambut kasar dengan inti tidak tipis, berbiji 2-4, namun biasanya cuma satu yang akan tumbuh. Buah akan tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang bentuknya melembung seperti balon kecil. 1.6.Ciri-ciri Pohon Jati Ketika muda (semai) batang berbentuk segi empat karena termasuk Family Verbenaceae, ciri khusus pohon jati dengan perakaran dalam dengan tipe tunggang, batang monopodial (hanya memiliki satu batang pokok), tipe percabangan arah agak keatas, ciri khusus pohon jati tipe daun tunggal, duduk daun berseling, bentuk daun oblong, tipe buah batu (terdiri dari 3 lapisan), kayu termasuk kualitas awet 1, meranggas saat musim kemarau.

1.7. Kandungan Zat Warna Daun Jati Muda Daun jati muda memiliki kandungan pigmen alami yang terdiri dari pheophiptin, -karoten, pelargonidin 3-glukosida, pelargonidin 3,7-diglukosida, klorofil dan dua pigmen lain yang belum diidentifikasi.

1.8.Kandungan Kimia Pohon Jati - isolat B (flavonoid golongan flavon dengan gugus OH pada 5, 7, 3 dan 4). - terdapat minimal dua asam fenolat dalam bentuk glikosida. - terdapat minimal tiga asam fenolat dalam bentuk ester. - terdapat minimal empat asam fenolat dalam bentuk bebas

1.9.Kandungan Bahan Aktif Pada Tanaman Jati yang Berpotensi sebagai Obat Bahan aktif yang terdapat dalam daun jati, yaitu quercetin, saponin dan tanin dapat bekerja secara bersama-sama untuk menurunkan kadar kolesterol yang terlarut dalam darah. Quercetin berperan untuk meningkatkan aktivitas enzim lipase sehingga metabolisme lipid terjadi secara optimal. Saponin mampu menguraikan plak-plak yang terdapat pada pembuluh darah, yang merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi. Selain itu, saponin berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan memperlancar peredaran darah. Sedangkan tanin, berfungsi untuk menghambat penyerapan nutrisi oleh tubuh sehingga lemak yang terlarut dalam serum darah tidak diserap oleh tubuh dan banyak yang dikeluarkan dalam bentuk feses. Kinerja quercetin, saponin, dan tanin saling mendukung. Oleh karena itu, penggunaan daun jati sebagai salah satu alternatif mengobati dan mencegah hipertensi lebih baik daripada ekstrak dari masing-masing komponen. Quercetin merupakan flavonoid yang terdapat pada daun jati. Quercetin dan tokoferol berfungsi untuk melindungi terjadinya akumulasi lipid dan glikoprotein pada pembuluh darah, terutama pembuluh darah arteri yang menuju ke jantung.

Metode yang digunakan untuk menghambat terjadinya akumulasi lipid dan glikoprotein adalah dengan efek anti-lipid peroksidatif. Efek anti-lipid peroksidatif mampu mereduksi jumlah kolesterol, trigliserida, asam lemak bebas, dan fosfolipid dalam serum darah. Selain itu, quercetin mampu menekan produksi peroksidasi lipid dan meningkatkan aktivitas enzim pemecah lipid di hati. Saponin, sama seperti quercetin merupakan hasil metabolisme sekunder yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan. Saponin berfungsi sebagai anti-inflamatori, melebarkan pembuluh darah, meningkatkan trombosit, mengobati artritis dan aterioskelrosis. Namun, pada ikan dan amfibi, saponin merupakan suatu senyawa yang sangat toksik dan mampu membunuh hewan tersebut. Namun, konsumsi saponin tidak berbahaya bagi manusia. Tanin merupakan salah satu dari hasil metabolit sekunder tumbuhan yang tidak dimanfaatkan oleh tumbuhan. Tanin biasanya digunakan sebagai bentuk pertahanan diri tumbuhan karena konsumsi tanin dapat menghambat penyerapan nutrisi dari makanan oleh tubuh. Tanin berfungsi untuk mereduksi amonia dan NPN (non protein nitrogen) hingga level yang sangat rendah. Konsumsi tanin secara berlebihan dapat mengakibatkan iritasi ginjal, kerusakan liver, iritasi lambung, dan penyakit pencernaan lainnya.

1.10.Budidaya Jati Budidaya Jati Jati telah lama dibudidayakan di Indonesia oleh negara (Perhutani) maupun oleh masyarakat.Pengetahuan dan pengalaman menanam jati sudah banyak diketahui baik secara konvensional (biji) maupun secara terpadu yaitu penerapan silvikultur intensif, penanaman Jati klon unggul, rekayasa genetik dan sebagainya. Secara garis besar, pengadaan bibit jati dapat dilakukan melalui dua cara yaitu secara generatif dan secara vegetatif. Secara generatif, pengadaan bibit jati dilakukan dengan menggunakan biji. Biji jati yang akan digunakan dipilih yang masih baru, karena biji jati yang telah disimpan sangat mudah berkurang daya kecambahnya. Buah jati termasuk jenis buah batu, memiliki kulit yang keras dan persentase perkecambahan rendah dibandingkan dengan species lain. Untuk itu perlakuan-perlakuan tertentu dilaksanakan agar mampu memecah dormansi biji.

2. Sawo Manila ( Acrhras zapota L. ) 2.1. Sistematika Tumbuhan Sistematika tumbuhan sawo adalah sebagai berikut divisi sub divisi kelas bangsa suku marga jenis : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Ebenales : Sapotaceae : Achras : Acrhras zapota L.

2.2. Batang (Caulis) Keras, berkayu, bulat, bercabang, coklat kotor, pada pohon yang sudah tua terdapat banyak lentisel.

2.3. Daun (Folium) Tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 3-14 cm, lebar 3-5 cm. tangkai panjang 1,5 cm, hijau mengkilat.

2.4. Bunga (Flos) Majemuk, di ketiak daun, menggantung, berkelamin dua, karangan bunga tiga sampai delapan, daun kelopak bulat, benang sari enam, putik menjulang ke luar, mahkota bentuk tabung, bertajuk, kuning muda.

2.5. Akar (Radix) Tunggang, coklat, perakarannya cukup kuat.

2.3. Buah Sawo Manila

Buah berukuran bulat hingga lonjong dengan permukaan kasar dan berwarna kecoklatan. Daging buah lunak, manis berair, dan berbiji hitam kecoklatan sebanyak hingga enam buah. Daging buahnya mempunyai tekstur yang khas, rasanya manis serta aroma yang khas dan segar. Buah sawo banyak dikonsumsi untuk buah segar dan jarang dimakan dalam bentuk awetan. Sawo dipetik dalam kondisi yang benar-benar tua karena buah sawo bersifat nonklimakterik.Akan tetapi, beberapa literature menyebutkan bahwa sawo termasuk buah klimakterik sehingga dapat dipanen ketika masih muda dan dapat diperam hingga matang. Buah sawo yang sudah matang beraroma harum, buahnya menjadi lunak, dan rasanya manis sekali. Buah sawo mengandung banyak gula atau sebesar 14% yang terdiri atas 7,2 %sukrosa, 3,7 % dekstrosa, dan 3,5 % levulose. Buah berasal dari bakal buah. Bunga hanya memiliki satu bakal buah saja. Dalam satu buah terdapat 3-5 biji. Biasanya biji-biji ini berwarna hitam. Dinding buah (pericarpium) tebal berdaging dan dapat dibedakan lapisan-lapisannya, yaitu kulit luar (epicarpium), lapisan paling luar berwarna coklat, tipis, kasar, kaku seperti kulit, dan kulit tengah (mesocarpium), tebal berdaging, bisa dimakan, berair, berwarna coklat muda sampai coklat kemerahan. Jika sudah masak buah tidak pecah. Biji-biji terletak bebas dalam mesocarpium. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa buah Achras zapota merupakan buah sejati, tunggal, dan berdaging.

2.6. Kandungan Kimia Daun dan batang Achras zapota L mengandung flavonoid, disamping itu daun juga mengandung saponin dan batangnya juga mengandung tannin.

2.7. Khasiat Selain menggunakan getahnya, buah muda dari sawo juga dapat digunakan untuk obat diare. Sebagai obat diare dapat digunakan satu buah muda, kemudian diparut, lalu diperas dan disaring. Air hasil saringannya direbus selama 15 menit. Juga bisa untuk membantu mengatasi gangguan pada paru. Air seduhan daun sawo yang sudah agak tua atau semacam teh diminum untuk mengobati batuk, demam, diare, dan disentri. Biji yang sudah dihancurkan memiliki sifat diuretik (peluruh kencing) serta bisa membantu menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kemih. Ekstrak biji ini

di kawasan Yucatan dipakai sebagai penenang atau obat tidur. Bijinya juga bisa dilumatkan dan dioleskan untuk mengatasi gigitan atau sengatan binatang berbisa. Getah buah dan daun Achras zapota berkhasiat sebagai obat mencret, di samping itu getahnya dapat digunakan untuk campuran gula-gula. Untuk obat mencret dipakai lebih kurang 15 teles getah buah muda Achras zapota, diseduh dengan gelas air matang panas. Hasil seduhan diminum sekaligus. Kandungan zat aktif antara lain gula, asam askorbat, karbohidrat, serat.

2.8. Habitat Tanaman sawo mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, daerah yang disenangi adalah dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpl. Tipe tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir yang mengandung banyak bahan organik dengan pH antara 5,5 -7. Curah hujan yang sesuai 1.500-2.500 mm per tahun (beriklim basah). Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan dengan lima bulan musim kemarau. Perakarannya cukup kuat sehingga tanaman sawo baik untuk daerah yang rawan erosi.Tanaman ini mampu tumbuh di tempat yang ternaungi maupun terbuka sehingga sering ditanam di lahan rumah.

2.9. Manfaat Tanaman Manfaat tanaman sawo adalah sebagai makanan buah segar atau bahan makan olahan seperti es krim, selai, sirup atau difermentasi menjadi anggur atau cuka. Selain itu, manfaat lain tanaman sawo dalam kehidupan manusia adalah: 1) Tanaman penghijauan di lahan-lahan kering dan kritis. 2) Tanaman hias dalam pot dan apotik hidup bagi keluarga; 3) Tanaman penghasil buah yang bergizi tinggi; dan dapat dijual di dalam dan luar negeri yang merupakan sumber pendapatan ekonomi bagi keluarga dan negara; 4) Tanaman penghasil getah untuk bahan baku industri permen karet; 5) Tanaman penghasil kayu yang sangat bagus untuk pembuatan perabotan rumah

2.10. Syarat Pertumbuhan

Tanaman sawo mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, daerah yang disenangi adalah dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpl. Tipe tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir yang mengandung banyak bahan organik dengan pH antara 5,5-7. Curah hujan yang sesuai 1.500-2.500 mm per tahun (beriklim basah). Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan dengan lima bulan musim kemarau. Perakarannya cukup kuat sehingga tanaman sawo baik untuk daerah yang rawan erosi. Tanaman ini mampu tumbuh di tempat yang ternaungi maupun terbuka sehingga sering ditanam di lahan rumah.

3.

Jambu Biji Merah

3.1. Definisi Jambu Biji Merah


Nama ilmiah jambu biji adalah psidium guajava. Psidium berasaldari bahasa yunani yaitu psidium yang berarti delima, guajava berasaldari nama yang diberikan oleh orang Spanyol. Adapun taksonomi tanaman jambu biji diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Family Genus Spesies : Plantae (tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Myrtales : Myrtaceae : Psidium : Psidium guajava Linn.

Jambu biji merah merupakan tanaman perdu bercabang banyak, tingginya dapat mencapai 3 10 m. Umumnya umur tanaman jambu biji hingga sekitar 30 40 tahun. Tanaman yang berasal dari biji relatife berumur lebih panjang dibandingkan hasil cangkokan atau okulasi. Namun, tanaman yang berasal dari okulasi memiliki postur lebih pendek dan bercabang lebih banyak. Tanaman ini sudah mampu berbuah saat berumur sekitar 2-3 bulan meskipun ditanam dari biji.

3.1. Akar (Radix)

Adalah bagian pokok yang nomor tiga setelah batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormos dan pada jambu biji ini, sistem perakarannya adalah sistem akar tunggang, karena akar lembaganya terus tumbuh menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil dan akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar. Tunggang (radik primaria). Di lihat dari percabangannya dan bentuknya, jambu biji memiliki akar tunggang yang bercabang (ramosus) yang bentuknya kerucut panjang, tumbuh lurus kebawah,bercabang cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang lagi.sehingga memberi kekuatan yang lebih besar pada batang, dan juga daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.

3.2. Batang Tumbuhan biji belah pada umumnya mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih besar dan keujung semakin mengecil, jadi batangnya dapat di pandang sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang dan mempunyai percabangan. Bentuk cabang pada jambu biji yaitu berkayu dan permukaannya licin dan terlihat lepasnya kerak (bagian kulit yang mati), arah tumbuh batangnya tegak lurus (erectus), jambu biji memiliki cabang sirung pendek (virgula atau virgula sucre scens) yaitu cabangcabang kecil dengan ruasruas yang pendek yang selain daun juga merupakan pendukung bunga dan buah.

3.3.Daun (folium) Merupakan suatu bagian yang penting, yang berfungsi sebagai alat pengambilan zatzat makanan (reabsorbsi), asimilasi transpirasi dan respirasi. Daun jambu biji tergolong daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian saja disebut daun bertangkai. Sifat sifat daun yang di miliki oleh jambu adalah sebagai berikut : 3.3.1. Bangun daun (Circumscription). Dilihat dari letak bagian terlebarnya jambu biji bagian terlebar daunya berada di tengah tengah dan memiliki bangun jorong karena perbandingan panjang : lebarnya adalah 2 : 1.

3.3.2. Ujung (epex). Jambu biji memiliki ujung yang tumpul tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju kesuatu titik pertemuan membentuk sudut 900. 3.3.3. Pangkal (basis folii). Karena tepi daunnya tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh pangkal ibu tulang / ujung tangkai daun, maka pangkal dari daun jambu biji ini, adalah tumpul (obtusus). 3.3.4. Susunan tulangtulang daun (nervation atau vanation). Daun jambu biji memiliki pertumbuhan daun yang menyirip (penninervis) yang mana daun ini memiliki satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun dari ibu tulang kesamping, keluar tulangtulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan siripsirip pada ikan. 3.3.5. Tepi daun (margo). Jambu biji memiliki tepi daun yang rata (integer) 3.3.6. Daging daun (intervinium)

3.4. Bunga Pada tumbuhan biji bunga merupakan alat perkembangan generatif, yang mana pada bunga inilah terdapat bagian yang setelah terjadi peristiwa yang disebut persarian (penyerbukan) dan pembuahan akan menghasilkan bagian tumbuhan yang di sebut dengan buah. Bunga pada jambu biji terdiri dari kelopak dua mahkota yang masingmasing terdiri atas 45 daun berkelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama, dan tidak merapat memiliki benang sari yang banyak dan berkelopak, berhadapan dengan daundaun mahkota memiliki tangkai sari dengan warna yang cerah bakal buah tenggelam dan mempunyai satu tangkai putik. Bunga tunggal terletak di ketiak daun, bertangkai. Perbungaan terdiri 1 sampai 3 bunga. Panjang gagang perbungaan 2 cm sampai 4 cm. Bunga banci dengan hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota bunga, aktinomorf/zigomorf, berbilangan 4. Daun mahkota bulat telur terbalik, panjang 1,5-2 cm, putih, segera rontok. Benang sari pada tonjolan dasar bunga yang berbulu, putih, pipih dan lebar, seperti halnya tangkai putik berwarna seperti mentega. Tabung kelopak berbentuk lonceng atau bentuk corong, panjang 0,5 cm. pinggiran tidak rontok (1 cm panjangnya). Tabung kelopak tidak atau sedikit sekali diperpanjang di atas bakal buah, tepik kelopak sebelum mekar berlekatan menjadi bentuk

cawan, kemudian membelah menjadi 2-5 taju yang tidaksama. Bulat telur, warna hijau kekuningan. Bakal buah tenggelam, dengan 1-8 bakal biji tiap ruang.

3.5. Buah Jambu biji memiliki buah sejati tunggal artinya, buah ini terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah saja dan memiliki lebih dari satu biji. Jambu biji termasuk dalam buah sejati tunggal yang berdaging (curnosus) dan bentuk buahnya bulat. Jambu Biji (Psidium guajava) banyak tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia, sampai Asia Selatan, India dan Srilangka. Jambu biji termasuk tanaman perdu dan memiliki banyak cabang dan ranting, batang pohonnya keras. Permukaan kulit luar pohon jambu biji berwarna coklat dan licin. Apabila kulit kayu jambu biji tersebut dikelupas, akan terlihat permukaan batang kayunya basah. Bentuk daunnya umumnya bercorak bulat telur dengan ukuran yang agak besar. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan muncul dari balik ketiak daun. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai pada ketinggian 1200 meterdiatas permukaan laut. Pada umur 2-3 tahun jambu biji sudah mulai berbuah. Bijinya banyak dan terdapat pada daging buahnya. Jambu biji ini akrab juga dengan nama Psidium guajava (Inggris/Belanda), Jambu klutuk, Bayawas, tetokal, Tokal (Jawa), Jambu klutuk, Jambu Batu (Sunda), Jambu bender (Madura).

3.6. Anatomi Jambu Biji Baik akar maupun batang mempunyai kambium, hingga akar maupun batangnya memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Pada akar sifat radial berkas pengangkutnya hanya nyata pada akar yang belum mengadakan pertumbuhan menebal. Pada batang, berkas pengangkutan tersusun dalam lingkaran dengan xilem di sebelah dalam dan floem disebelah luar, di antaranya terdapat kambium, jadi berkas pengangkutan bersifat kolaterral terbuka kadangkadang bikolateral.Anatomi yang khas adalah tedapatnya floem dalam kayu (floem intraxiler).

3.7. Khasiat Jambu Biji

Pada jambu biji mengandung tannin, yang menimbulkan rasa sepat pada buah yang berfungsi untuk memperlancar sistem pencernaan, sirkulasi darah, dan berguna untuk menyerang virus. Jambu biji juga mengandung kalium yang berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat-zat gizi lainnya ke sel-sel tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan pada jaringan dan sel tubuh serta menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah, serta menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Dengan memakan jambu biji 0,5 1 kg /hari selama 4 minggu resiko terkena penyakit jantung dapat berkurang sebesar 16 %. Dalam jambu biji juga ditemukan likopen yaitu karatenoid (pigmen penting dalam tanaman) yang terdapat dalam darah (0,5 mol per liter darah) serta memiliki aktivitas anti oksidan. Riset-riset epidemologis likopen pada studi yang dilakukan peneliti Itali, mencakup 2.706 kasus kanker rongga mulut, tekek, kerongkongan, lambung, usus besar dan dubur, jika mengkonsumsi likopen yang meningkat, khususnya pada jambu biji yang daging buahnya berwarna merah, berbiji banyak dan berasa manis mempunyai efek memberikan perlindungan pada tubuh dari beberapa jenis kanker.

4. Jambu Bangkok Struktur morfologi tumbuhan Jambu Biji Bangkok hampir sama seperti morfologi tumbuhan Jambu Biji Merah, mulai dari daun, batang,tetapi yang membedakan adalah buahnya. Jambu Bangkok merupakan sebutan untuk jambu biji dengan buah berukuran besar. Jambu bangkok berasal dari Bangkok, Thailand. Keunggulannya terletak pada ukuran, rasa, dan warnanya. Ukurannya tergolong besar gemuk dengan panjang 6-7 cm dan diameter sekitar 5 cm. Rasanya sangat manis dengan kandungan air sedikit sehingga teksturnya agak keras. Buah muda berwarna hijau kekuningan, sedangkan yang tua merah bergaris hijau kekuningan. Produksi buahnya sangat banyak sehingga dalam satu pohon buahnya tampak menutupi daun. Jenis ini memiliki biji lebih besar dari jenis lainnya.

KESIMPULAN

A. Kesimpulan Individu antarspesies memiliki stuktur yang sangat kontras berbeda dari segi struktur batang, daun, bunga dan akar serta memiliki kandungan kimia dan khasiat yang berbeda seperti pada Pohon Jati dengan Sawo Manila. Sedangkan individu dalam satu spesies memiliki struktur yang hampir sama tetapi tetap ada perbedaannya, misal pada tumbuhan Jambu Biji Merah dengan Jambu Biji Bangkok dari segi daun,akar, dan batang sama tetapi buahnya berbeda. Jadi keanekaragaman terjadi antarspesies dan juga terjadi dalam satu spesies.

B. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah biologi umum ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA Al-Khairi, 2008, Keragaman Genetik Jati Rakyat Di Jawa Berdasarkan Penanda Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD): Jurnal , http://iirc.ipb.ac.id /jspui /bitstream/ 123456789/11 615/2/E08alk .pdf , Diakses pada tanggal 1 Oktober 2013. Adisoemarto, S., Suhardjono, Y.R. 1997, Arah Pengembangan Biosistematika di Indonesia , 3(1): 48-53 Anonimous, 2001. Keuntungan Investasi Budi Daya Hutan Jati. Satu Pilihan Investasi Bijaksana. http://www.reforeste.com Chasani, A.R., 2006, Variasi Morfologi dan Hubungan Fenetik Tiga Jenis Jati Di Pulau Jawa: Laporan Penelitian, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Deherba. 2011. Kandungan Sarang Semut. www.deherba.com. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Direktorat Jenderal (Ditjen) Kehutanan.1976. Vademeccum Kehutanan Indonesia. Departemen Pertanian : Jakarta Divisiflora. 2007. Jati. http://divisiflora.files.wordpress.com/2007/03/foto-jati.jpg.Tanggal akses 1 Oktober 2013 Djauzi,S. 2008. Obat Tradisional untuk Hipertensi.http://cetak.kompas.com. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Duta. 2011. Jati.http://www.duta.com/jati.pdf. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Hartati R., A.Gana, dan K. Ruslan. 2005. Detail Penelitian Obat Bahan Alam.http://bahan-alam. fa.itb.ac.id/detail.php?id=104. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Hyene,K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III.Jakarta.Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan Gedung Manggala Wahana Bakti blok 1 Indonet . 2007. Obat - Obatan dengan Efek Samping Teraneh. www.indo.net.com. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Irwanto, 2006, Usaha Pengembangan Jati (Tectona grandis L.F ): Jurnal , http://save forest.webs.com/jati.pdf

Lemmens, R.H.M.J. dan I.Soerianegara. 2002. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara No.5(1) Pohon Penghasil Kayu Perdagangan Utama. PT Balai Pustaka Prosesa Indonesia : Bogor Lenny,S. 2006. Senyawa Flavonoida,Fenilpropanoida dan Alkaloida.Medan.USU repository Mahfudz et al, 2003. Sekilas Jati. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.Purwobinangun. Yogyakarta Martawijaya, A. , I. Kartasujana, K. Kadir dan S.A.Prawira. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I. Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan : Bogor Medicastore. 2009. Artikel. http://www.medicastore.com. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Plantamor. 2011. Jati (Tectona Grandis). http://plantamor.com. Tanggal akses 1 Oktober 2013 Sumarna, Y. 2003. Budidaya Jati. PT. Penebar Swadaya. Jakarta Sunardi. 2008. Nabi Saja Suka Buah. Aqwamedia, Solo http://bahan-alam.fa.itb.ac.id http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku1/1-007.pdf http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/sawo.pdf http://wartabepe.staff.ub.ac.id/files/2013/01/Kandungan-Gizi-Sawo-Manila.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22112/4/Chapter%20II.pdf