Anda di halaman 1dari 5

1.

1 Antibiotik

2.2.1. Defenisi Antibiotik
Antibiotik adalah zat kimiawi dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai
kemampuan dalam lautan encer untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh
mikroorganisme lain (Dorland, 2002). Obat yang digunakan untuk membasmi mikroorganisme
penyebab inIeksi pada manusia, ditentukan harus memiliki siIat toksisitas selektiI yang tinggi
bagi mikroorganisme tetapi realatiI tidak toksik untuk hospes (Setiabudy, 2007).
Antibiotik yang digolongkan berdasarkan kemampuan mematikan disebut bakterisidal,
virusidal atau hanya menghambat pertumbuhan mikroba dikenal sebagai bakteriostatik. Kadar
minimal antimikroba yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan mikroba atau untuk
membunuhnya, masing masing dikenal sebagai Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar
Bunuh Minimal (KBM) (Brooks et al., 2005).
Menurut Widayati (2004) pemilihan antibiotik perlu dipertimbangkan tiga Iaktor utama, yaitu :
a. Kuman penyebab. Hal ini tergantung dari gejala gejala klinis yang dikenali dan
diperkuat oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Seringkali pemilihan antibiotik hanya
didasarkan pada diagnosis klinis saja, namun dengan pengalamn klinis dan pengetahuan
tentang pemilihan obat yang tepat memudahkan dokter untuk memilih jenis antibiotic
yang sesuai untuk setiap kasus inIeksi.
b. Faktor inIeksi. Faktor Iaktor tersebut mencakup beratnya inIeksi, status kekebalan
tubuh, riwayat penyakit, status alergi, Iaktor Iaramakokinetik, dan bahkan adanya siIat
genetik tertentu akan sangat mempengaruhi terapi yang akan diberikan.
c. Faktor antibiotik. Mencakup spektrum kepekaan kuman, ada tidaknya interaksi obat, dan
eIek samping yang berat, serta dosis maupun rute pemberiannya .

1.2.2 Mekanisme kerja antibiotik
Obat antibiotik mempunyai susunan kimiawi dan cara kerja yang berbeda antara obat
yang satu dengan obat yang lainnya. Beberapa mekanisme kerja obat antibiotik diantaranya:
1) Penghambatan sintesa dinding sel
Dalam sel berisi polimer 'mucopeptida komplek (peptodoglikan) yang secara kimia
berisi polisakarida dan campuran rantai polipeptida yang tinggi menyebabkan dinding sel
menjadi keras. Trauma pada dinsing sel (missal, oleh lisozim) atau penghambatan
pembentukannya, menimbulkan lisis pada sel (Brooks et al., 2005). Oleh karena tekanan osmotik
dalam sel lebih tinggi daripada di luar sel maka kerusakan dinding sel kuman akan menyebabkan
terjadinya lisis yang merupakan dasar eIek bakterisidal pada kuman yang peka (Setiabudy,
2007). Antibiotik yang termasuk dalam penghambatan dinding sel adalah antibiotic golongan -
Laktam (penicillin, cephalosporin I, II, III, carbapenem, monobactam), vancomicyne, bacitracin,
clavulanic acid, sulbactam, ta:obactam (Mycek, 2001).
2) Hambatan Iungsi membran sel
Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh membrane sitoplasma yang berperan sebagai
barier permeabilitas selektiI, membawa Iungsi transport aktiIdan kemudian mengontrol
komposisi internal sel. Jika Iungsi integritas membran sitoplasma dirusak, menyebabkan
kebocoran senyawa senyawa intraselular, makromolekul dan ion keluar dari sel, kemudian sel
rusak atau terjadi kematian (Brooks et al., 2005; Chambers, 2008). Antibiotik yang termasuk
dalam penghambatan Iungsi membrane sel adalah amIoterycin b, azoles, polien dan polymicyn.
3) Hambatan sintesis protein
Bakteri mempunyai 70 S ribosom. Subunit masing-masing mempunyai komposisi kimia
dan spesiIikasi Iungsi yang berbeda. Pada sintesa protein mikrobia normal, mRNA secara
simultan 'membaca beberapa ribosom berjalan sepanjang untaian mRNA (Brooks et al., 2005).
Senyawa yang mempengaruhi subunit 30 S atau 50 S sehingga menyebabkna penghambatan
sintesis yang reversible (Chambers, 2008). Antibiotic penghambat sintesis protein adalah
golongan tetracycline, golongan aminoglycoside, golongan macrolide, golongan clindamycin,
chloramphenicol (Mycek, 2001).
4) Hambatan asam nukleat
Antimikroba ini dapat berkerja dengan cara mengahambat sintesis mRNA pada proses
transkripsi misalnya riIampisin atau menghambat DNA pada proses pembelahan sel (Chambers,
2008). Antibiotic penghambat sintesa asam nukleat adalah golongan quinolone, golongan
sulIonamide, trimethropim, riIampin (Jawetz, 1994).

1.2.3 Resistensi kuman terhadap antibiotik
Kuman-kuman patogen penyebab ISK pada dekade terakhir ini berkembang resistensinya
terhadap satu atau lebih antibiotik (Achmad, 2005). Kuman yang telah resisten menyebabkan
inIeksi yang sulit ditangani dan biaya mahal untuk penyembuhannya. Todd dan BenIield (2002)
menyatakan bahwa sebagian besar antibiotic lini pertama telah mengalami resistensi, tidak
terkecuali antibiotik golongan -Laktam. Hal ini terjadi karena antibiotik golongan ini cukup
murah sehingga banyak diapakai dalam pengobatan. Akibatnya, resistensi kuman patogen
terhadap antibiotik semakin meningkat. Untuk mengatasi masalah ini, harus diadakan
pembatasan penggunaan antibiotic -Laktam.
Resistensi bakteri terhadap senyawa antimikroba terjadi karena obat tidak mencapai
target, obat tidak aktiI atau target berubah (Chambers, 2008). Resistensi antibiotik dapat
diklasiIikasikan menjadi dua kelompok yaitu resistensi alami dan resistensi yang di dapat.
Resistensi alami merupakan siIat dari antibiotik tersebut yang memang kurang atau tidak aktiI
terhadap suatu kuman, resistensi yang di dapat yaitu apaila kuman tersebut sebelumnya sensitive
terhadap siuatu antibiotik kemudian berubah menjadi resisten (Hadi, 2006).
Berikut beberapa mekanisme resistensi pada mikroorganisme terhadap obat :
a. Mikroorganisme mengahsilkan enzim dan merusak obat yang aktiI.
b. Mikroorganisme merubah permeabilitasnya terhadap obat.
c. Mikroorganisme merubah struktur target untuk obat.
d. Mikroorganisme mengembangkan jalur metabolisme baru yang menghindari jalur luar bisa
yang biasa dihambat oleh obat.
e. Mikroorganisme mengembangkan enzim yang baru yang masih dapat melakukan Iungsi
metaboliknya tapi sedikit diperngaruhi oleh obat (Brooks et al, 2005).

1.2.4 Metode penentuan kepekaan antibiotik
InIormasi mengenai pola kepekaan miroorganisme penginIeksi penting untuk seleksi obat
yang sesuai (Chambers, 2008). Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antibiotik dapat
dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu:
1) Metode Dilusi
Sejumlah zat antimikroba dimasukkan ke dalam medium padat atau cair. Biasanya
digunakan pengenceran dua kali lipat zat antimikroba kemudian medium diinokulasi dengan
bakteri uji dan diinkubasi. Tujuan akhirnya adalah untuk mengetahui seberapa banyak jumlah zat
antimikroba yang diperlukan untuj menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri yang
diuji. Uji kerentanan dilusi agar membutuhkan waktu yang banyak dan kegunaannya terbatas
pada keadaan tertentu.
Metode pengenceran kaldu dianggap merupakan metode rujukan untuk uji kepekaan
antimikroba. Keunggulannya adalah bahwa metode ini dapat mengukur konsentrasi hambat
minimum minimum inhibitory concetration (MIC)) maupun konsentrasi bakterisidal minimum
(minimum bacterisidal concentration (MBC)), dan dapat diminiaturisasi dan diotomatisisasikan
(Sacher dan McPherson, 2004).
Uji konsentrasi penghambatan minimum (MIC) dengan tepat mengukur konsentrasi
antibiotika yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan suatu inokulum terstandarisasi di
bawah kondisi yang ditentukan. Konsentrasi hambat minimum suatu obat antimikroba adalah
konsentrasi terendah obat tersebut yang masih mampu menghambat pertumbuhan organism dan
dapat diklasiIikasikan menjadi sensitive (S), intermediate (I), dan resisten (R).
Metode mikrotiter semiotomatis digunakan dengan sejumlah tertentu obat obatan
dilarutkan dalam suatu volume kaldu yang kecil dan diinokulasikan dengan sejumlah
mikroorganisme terstandarisasi. Sasaran terakhir, atau konsentrasi penghambat minimum
diperkirakan yang lebih baik untuk pertumbuhan in vivo dengan demikian dapat membantu
menguku besarnya dosis diperlukan bagi pasien.


2) Metode DiIusi
Metode yang paling sering digunakan adalah uji diIusi cakram. Metode cakram Kirby
Bauer (uji diIusi cakram agar) merupakan salah satu cara untuk menentukan sensitivitas
antibiotic terhadap bakteri. Sensitivitas suatu bakteri terhadap antibiotic ditentukan oleh diameter
zona hambat yang terbentuk. Semakin besar diameternya maka semakin terhambat
pertumbuhannya, sehingga diperlukan standard acuan untuk menentukan apakah bakteri itu
resisten atau peka terhadap antibiotic (Sacher dan McPherson, 2004). Ukuran zona penghambat
pertumbuhan bervariasi sesuai dengan ciri khas molekuler dari berbagai obat. Dengan demikian
ukuran suatu obat tidak dapat dibandingkan dengan ukuran zona obat yang lain yang beraksi
terhadap organism yang sama (Brooks et al., 2007).
Suatu cakram yang mengandung antimikroba yang sudah terstandarisasi ditempatkan
pada bakteri yang telah diinokulasi pada agar Muller Hinton, kemudian diinkubasi selama 16
18 jam pada suhu 35
0
C. Selama inkubasi biakan uji, obat antimikroba berdiIusi ke dalam agar,
sehingga tercipta suatu gradient konsentrasi obat antimikroba dan peningkatan jumlah bakteri
dipermukaan agar menentukan ukuran akhir zona inhibisi diukur dan dibandingkan dengan
siuatu bagan reIerensi. Bagan reIerensi mencantumkan titik ambang garis tengah zona yang
menerjemahkan aktivitas antimikroba menjadi kategori rentan (S), intermediate (I), atau resisten
(R) (Sacher dan McPherson, 2004).
Uji kepekaan ini lazim dilakukan, hanya diperlihatkan satu anggota dari setiap kelas
utama antibiotika. Pilihan obat yang dimasukkan ke dalam uji kepekaan rutin harus didasarkan
pada pola kepekaan isolate di laboratorium, jenis inIeksi dan dianalisis kesembuhan biaya bagi
populasi.