Anda di halaman 1dari 19

USULAN PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM MIKROENKAPSULI KOMBINASI EKSTRAK SAMBILOTO (Andrographis Paniculata) DAN SIRSAK (Annona

Muricata) SEBAGAI INHIBITOR ENZIM -GLIKOSIDASE SECARA IN-VITRO

BIDANG KEGIATAN : PKM PENELITIAN Diusulkan oleh : Eka Hardiyanti (N11110287) Angkatan 2010 Nurul Mutmainnah (N11110905) Angkatan2010 Ridha Sari Marsuki (N11110129) Angkatan2010 Husni Awaliah M (N11111 ) Angkatan 2011 Afdil Viqar Viqhi (N11112904) Angkatan 2012

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

JudulKegiatan : Mikroenkapsulasi Kombinasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata) dan Sirsak (Annona muricata) Sebagai Inhibitor Enzim -glikosidase Secara Invitro 1. BidangKegiatan 2. BidangIlmu : PKM-P :()Kesehatan ( )MIPA ( )SosialEkonomi ( )Pendidikan 3. KetuaPelaksanaKegiatan a. NamaLengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/Institut/Politeknik e. AlamatRumah dan No Tel./HP f. Alamat email 4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis 5. DosenPendamping a. NamaLengkapdanGelar b. NIP c. AlamatRumahdan No Tel./HP 6. BiayaKegiatan Total a. Dikti b. Sumber lain 7. Jangka Waktu Pelaksanaan ( )Pertanian ( )TeknologidanRekayasa ( )Humaniora

: Eka Hardianti : N11110287 : Farmasi : UniversitasHasanuddin : Jl. Bonto Duri 6 lr.8 no.25b 08991878378 : ekahardiyanti08@yahoo.co.id : 5 orang : Dr.Hj.Sartini.,M.Si,Apt : 196111111987032001 : Jl. Sunu Kompleks Unhas Baraya BX3 Makassar/08124213426 : : :: 4 bulan Makassar, Maret 2013

Menyetujui Wakil Dekan III Fakultas Farmasi Bidang Kemahasiswaan

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Drs.Abd.Muzakkir Rewa,M.Si,Apt) NIP. 19510807 198103 1 003 Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin

( Eka Hardiyanti NIM. N11110287 Dosen Pembimbing

( Ir.Nasaruddin Salam,M.T NIP. 19591220 198601 1 001

( Dr.Hj.Sartini.,M.Si,Apt ) NIP. 196111111987032001

A. JUDUL Mikroenkapsulasi Kombinasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata) dan Sirsak (Annona muricata) Sebagai Inhibitor Enzim -glikosidase Secara Invitro B. LATAR BELAKANG MASALAH Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit kronis akibat adanya kekacauan dalam sistem metabolisme yang dikarakterisasi karena bawaan (DM tipe 1) atau yang diperoleh dari ketidakmampuan untuk mentransfer glukosa kedalam sel aliran darah (DM tipe 2) (Puteri & Kawabata 2010). Kondisi ini terjadi dengan adanya peningkatan glukosa dalam darah (hiperglikemia). Penyakit diabetes melitus merupakan empat besar penyakit penyebab kematian terbanyak setelah kanker, jantung, dan paru-paru di Indonesia. Sebanyak 25.8 juta orang di Amerika Serikat terkena diabetes dan terdiagnosis sekitar 18.8 juta orang. Sisanya yang tidak terdiagnosis sebanyak 7 juta orang (CDC 2011). Menurut data dari World Health Organization (WHO) sekitar 346 juta penduduk dunia terkena diabetes pada tahun 2010 dan 21.3 juta orang merupakan penderita dari Indonesia. Sebanyak 80% kasus kematian diabetes terjadi di negara miskin dan berkembang (WHO 2010). Kini telah banyak dikembangkan formulasi sediaan obat herbal diakibatkan karena dampak negatif yang dominan yang dapat dihasilkan oleh obat-obatan sintetis terutama obat-obat yang penggunaannya secara jangka panjang. Indonesia yang kaya akan beragam tanaman obat terutama yang memiliki efek sebagai antidiabetes seperti tanaman sambiloto dan sirsak. Adanya efek antidiabetes dari herba sambiloto telah ditunjukkan baik pada kelinci maupun penderita diabetes. Sedangkan ekstrak daun sirsak sendiri dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa ekstrak daun sirsak mampu menjadi agen antidiabetes secara in vivo.(Adewole et al. 2006; Adeyemi et al. 2009). Kelemahan penggunaan tanaman obat adalah rasanya yang pahit dengan bau aromatik yang tajam. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan penyalutan dalam bentuk mikroenkapsulasi. Dalam bidang farmasi pembuatan obat dalam bentuk mikroenkapsulasi bertujuan mengubah bentuk zat aktif, dan usaha melindungi, menutupi rasa, melepaskan partikel zat aktif secara terkendali, serta untuk meningkatkan potensinya disbanding ekstrak biasa. Salah satu cara dalam menurunkan kadar glukosa dalam darah dapat dilakukan dengan cara menghambat pembentukan glukosa itu sendiri dengan cara menghambat aktivitas pengubahnya yakni enzim -glukosidase. Berdasarkan dari penelitian terdahulu telah diketahui bahwa ekstrak sambiloto dan daun sirsak memiliki efek antidiabetes dalam menghambat aktivitas enzim -glukosidase. Pada penelitian ini, formulasi gabungan ekstrak sambiloto dan daun sirsak diproses menjadi mikroenkapsulasi. Formulasi ekstrak diharapkan setelah menjadi mikropartikel akan meningkatkan potensinya dibanding ekstrak biasa. C. PERUMUSAN MASALAH Sambiloto maupun daun sirsak merupakan tanaman yang berpotensi sebagai obat herbal pengganti obat-obat sintetik yang dapat memberikan pengaruh lebih buruk

bagi kesehatan hati terutama dalam penggunaan yang jangka panjang. Diabetes mellitus merupakan penyakit yang sampai kini masih perlu penelitian dalam mengembangkan obat yang dapat menyembuhkan atau bahkan dapat memberikan efek samping minimal dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasiennya. Sambiloto dan daun sirsak yang telah diketahui dapat memberikan efek menghambat enzim alfaglikosidase sebagai salah satu bentuk mekanisme pengobatan penyakit diabetes melitus sangat cocok digunakan. Rasa keduanya yang pahit dapat mengurangi minat dari para pasien untuk menggunakan obat herbal sebagai pilihan utama dalam pengobatan penyakit diabetes. Sehingga perlu adanya teknologi formulasi untuk membuat sediaan dalam bentuk yang mudah dikonsumsi seperti mikrokapsul yang selain dapat menjaga kestabilan senyawa juga dapat menutupi rasanya. Kombinasi keduanya dalam suatu formulasi diharapkan tetap dapat memberikan efek sebagai penghambat alfa-glikosidase atau bahkan dapat meningkatkan aktivitasnya. D. TUJUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan sediaan mikroenkapsulasi ekstrak daun sambiloto dan daun sirsak dalam menghambat enzim alfa-glikosidase secara in vitro. E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Diperoleh produk obat dalam bentuk sediaan mikrokapsul dari ekstrak daun sambiloto dan daun sirsak yang efektif dalam mengobati penyakit diabetes mellitus tipe 2. F. KEGUNAAN a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teori ilmiah tentang manfaat daun sambiloto dan daun sirsak yang efektif mengobati penyakit diabetes mellitus melalui penghambatan enzim alfa-glikosidase b. Aplikasi berupa pembuatan mikrokapsul dengan teknologi farmasi modern yang mengandung ekstrak daun sambiloto dan daun sirsak. c. Sebagai landasan selanjutnya untuk pengembangan produk farmasi dari bahan alam terutama sebagai anti kanker, antioksidan dan kolesterol. G. TINJAUAN PUSTAKA Sambiloto (Andrographis paniculata) Herba sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan salah satu bahan obat tradisional yang banyak digunakan dan telah dikenal sejak abad ke-18. Sambiloto banyak dijumpai hampir di seluruh kepulauan nusantara. Secara taksonomi, sambiloto diklasifikasikan ke dalam (Dalimunthe 2009). Kingdom : Plantae

Divisi Subdivisi Kelas Subkelas Ordo Famili Subfamili Genus Spesies

: Spermathophyta : Angiospermae : Dycotyledonae : Gamopetalae : Personales : Acanthaceae : Acanthoidae : Andrographis : Andrographis paniculata

Sambiloto mengandung andrografolida, suatu diterpena lakton kristalin, tak berwarna, dan memiliki rasa pahit (Ahmad et al. 2006). Andrografolida merupakan bahan aktif utama di samping komponen lainnya seperti 14-deoksi-11,12didehidroandrografolida, dan 14-deoksiandrogrofolida. Menurut penelitian yang telah dilakukan, dilaporkan bahwa sambiloto memiliki aktivitas hipotensif yang aktivitasnya berkorelasi kuat terhadap keberadaan senyawa andrografolida (14deoksi-11,12-didehidroandrografolida dan 14-deoksiandrogrofolida). Aktivitas antitrombotik, antikanker, dan antioksidan dari sambiloto juga telah dilaporkan (Subramanian et al. 2008). Sirsak (Annona muricata L.) Sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman yang berasal dari negara Amerika Selatan, yaitu Meksiko. Keberadaan tanaman tersebut diduga dibawa oleh orang Belanda semasa zaman penjajahan. Tanaman ini telah menyebar di seluruh pelosok Indonesia, walaupun masih ditanam di pekarangan rumah. (Sunarjono 2005) Tanaman sirsak diklasifikasikan berasal dari Kingdom : Plantae Superdivisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Magnoliidae Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Genus : Annona Spesies : Annona muricata. Menurut Asprey & Thornton (2000), daun sirsak mengandung flavonoid, alkaloid, asam lemak, fitosterol, mirisil alkohol dan anonol. Senyawa pada daun sirsak yang diduga memiliki khasiat antidiabetes adalah senyawa alkaloid dan flavonoid. Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan flavonoid berada di dalam tumbuh-tumbuhan kecuali alga. Penyebaran jenis flavonoid pada golongan tumbuhan yaitu pada Angiospermae, klorofita, fungi, briofita (Markham 1988).

Mikroenkapsulasi Mikroenkapsulasi adalah suatu proses penyalutan secara langsung terhadap zat aktif dalam bentuk partikel halus dari zat padat, tetesan cairan, dan bentuk terdispersi. Dalam bidang farmasi mikroenkapsulasi bertujuan mengubah bentuk zat aktif, melindungi, menutupi rasa dan melepaskan zat aktif secara terkendali. Proses mikroenkapsulasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu metode fisika kimia, metode kimia, dan metode fisika. Evaluasi mikroenkapsulasi in vitro yang harus dilakukan meliputi morfologi mikrokapsul, sifat mikromeritik, kandungan mikrokapsul, faktor perolehan kembali, tebal dinding mikrokapsul dan profil disolusi dari mikrokapsul (Chaerunisaa 2004). Keuntungan dan Kerugian Mikroenkapsulasi (Lachman,1994) Keuntungan : 1. Dengan adanya lapisan dinding polimer, zat inti akan terlindung dari pengaruh lingkungan luar. 2. Dapat mencegah perubahan warna dan bau serta dapat menjaga stabilitas zat inti yang dipertahankan dalam jangka waktu yang lama. 3. Dapat dicampur dengan komponen lain yang berinteraksi dengan zat inti. Kerugian : 1. Biasanya penyalutan bahan inti oleh polimer kurang sempurnah atau tidak merata sehingga akan mempengaruhi pelepasan zat inti dari mikrokapsul. 2. Dibutuhkan tekhnologi mikroenkapsulasi. 3. Harus dilakukan pemilihan polimer penyalut dan pelarut yang sesuai dengan bahan inti agar diperoleh hasil mikrokapsul yang baik. Tujuan Mikroenkapsulasi Tujuan umum: 1. Imobilisasi atau entratment ; untuk membatasi kontak antara senyawa yang dienkapsulasi dengan lingkungan. Contoh; entratment dari flavor (efek wangi yang muncul dari flavor menjadi lebih lama akibat pelepasan senyawa yang dikontrol oleh porositas membran. 2. Proteksi ; beberapa senyawa aktif mudah terurai bila mengalami kontak lansung dengan lingkungan. Contoh; vitamin dan asam lemah tak jenuh sangat mudah bereaksi dengan oksigen.Beberapa senyawa aktif dalam obat dan probiotik dapat terurai ketika berada dalam lambung. 3. Controlled release ; dalam dunia farmasi, ada beberapa jenis obat yang harus terurai dengan jumlah terkontrol, terutama yang berkaitan dengan enzim dan katalis. Dengan mengatur porositas dari mikrokapsul, difusi dari senyawa aktif yang dienkapsulasi dapat dikontrol. 4. Fungsionalisasi ; mikroenkapsulasi dapat digunakan untuk mengembangkan fungsi baru dari mikrokapsul. Contoh; kontrol aktivitas biokatalis melalui pengaturan permeabilitas membrane dengan melalui perubahan pH-nya. Tujuan khusus : 1. Mengubah bentuk cairan menjadi padatan 2. Melindungi inti dari pengaruh lingkungan 3. Memperbaiki aliran serbuk 4. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak

5. Menyatukan zat-zat yang tidak tersatukan secara fisika-kima 6. Menurunkan sifat iritasi zat inti terhadap saluran cernah 7. Mengatur pelepasan bahan inti 8. Memperbaiki stabilitas bahan inti. Dalam bidang farmasi mikroenkapsulasi bertujuan untuk mengubah bentuk zat aktif, perlindungan, penutupan rasa dan pelepasan zat aktif secara terkendali.(Alwiyah dan Nurhasni.2011) Morfologi dari mikrokapsul dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu tipe mononuclear, dimana bahan inti terletak ditengah diselimuti oleh kulit, tipe polinuklear dimana terdapat banyak bahan inti yang diselimuti oleh kulit dan tipe matrix dimana bahan inti terdistribusi secara homogen dalam material pembungkusnya Komponen Mikrokapsul 1. Bahan Inti ; merupakan bahan spesifik yang akan disalut, dapat berupa zat padat, cair, ataupun gas. Komposisi material inti dapat bervariasi, misalnya pada bahan inti cair dapat terdiri dari bahan terdispersi dan bahan terlarut, sedangkan bahan inti padat dapat berupa zat tunggal atau campuran zat aktif dengan bahan pembawa lain seperti stabilisator, pengencer, pengisi, penghambat atau pemacu pelepasan bahan aktif. Selain itu, bahan inti yang digunakan sebaiknya tidak larut atau tidak bereaksi dengan bahan penyalut yang digunakan. 2. Bahan penyalut ; merupakan bahan yang digunakan untuk melapisi inti dengan tujuan tertentu seperti menutupi rasa dan bau yang tidak enak, perlindungan terhadap lingkungan, meningkatkan stabilitas, mencegah penguapan, kesesuaian dengan bahan inti maupun bahan lain yang berhubungan dengan proses penyalutan serta sesuai dengan metode mikroenkapsulasi yang digunakan. Bahan penyalut harus mampu memberikan suatu lapisan tipis yang kohesif dengan bahan inti, dapat bercampur secara kimia, tidak bereaksi dengan inti (bersifat inert), dan mempunyai sifat yang sesuai dengan tujuan penyalutan. Bahan penyalut yang digunakan dapat berupa polimer alam, semisintetik, maupun sintetik. Jumlah penyalut yang digunakan antara 1-70%, dan pada umumnya digunakan 3-30% dengan ketebalan dinding penyalut 0,1-60 m. 3. Pelarut ; bahan yang digunakan untuk melarutkan bahan penyalut dan mendispersikan bahan inti. Pemilihan pelarut berdasarkan sifat kelarutan dari bahan inti atau zat aktif dan bahan penyalut, dimana pelarut yang digunakan tersebut tidak atau hanya sedikit melarutkan bahan inti tetapi dapat melarutkan bahan penyalut. Pelarut polar akan melarutkan polar, dan pelarut nonpolar akan melarutkan pelarut nonpolar. Untuk melarutkan penyalut juga dapat digunakan pelarut tunggal atau pelarut campuran. Penggunaan pelarut campuran seringkali memberikan kesulitan dalam proses penguapan pelarut, misalnya perbedaan kecepatan penguapan antara dua atau lebih pelarut akan mengakibatkan pemisahan komponen pelarut yang terlalu cepat sehingga penyalut menggumpal. Untuk menghindari hal tersebut biasanya digunakan campuran azeptrop, yaitu campuran pelarut dengan komposisi dan titik didih yang tetap dimana selama proses penguapan komposisi campuran tidak berubah.

Parameter dalam merancang suatu mikrokapsul yaitu: Sifat fisika dan kimia zat aktif, polimer penyalut, medium mikroenkapsulasi, tahap proses mikroenkapsulasi, dan sifat dinding kapsul. (Alwiyah dan Nurhasni.2011) Proses mikroenkapsulasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu metode fisiko kimia, metode kimia dan metode fisika. Evaluasi Mikrokapsul in vitro yang harus dilakukan meliputi morfologi mikrokapsul, sifat mikromeritik, kandungan mikrokapsul, faktor perolehan kembali, tebal dinding mikrokapsul dan profil disolusi dari mikrokapsul. (Alwiyah dan Nurhasni.2011) Pelepasan obat dari bentuk mikrokapsul dapat melalui berbagai cara yaitu melalui proses difusi melewati lapisan polimer, erosi dari lapisan polimer atau melalui kombinasi melalui erosi dan difusi. Umumnya, obat yang dibuat dengan cara ini lebih banyak dilepaskan melalui difusi membran. Cairan dari saluran pencernaan berdifusi melalui membran ke dalam sel, kemudian obat akan melalui difusi pasif dari larutan konsentrasi tinggi di dalam sel kapsul melalui membran ke tempat berkonsentrasi rendah pada cairan saluran pencernaan. Jadi kecepatan pelepasan obat ditentukan oleh sifat difusi obat pada membran. (Alwiyah dan Nurhasni.2011) Diabetes Mellitus Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit progresif yang ditandai oleh defisiensi insulin dan resistensi insulin atau keduanya (Modi 2007). DM merupakan gangguan metabolik pada metabolisme karbohidrat dan lemak. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan utama yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas serius akibat penyakit kardiovaskular. Penyakit ini juga berhubungan dengan mortalitas yang berkaitan dengan nefropati, neuropati, dan retinopati. Penyakit DM didiagnosis dengan adanya kondisi hiperglikemia (Atalay & Laaksonen 2002). Diabetes mellitus dibagi menjadi dua tipe yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II. DM tipe I didefinisikan sebagai tipe diabetes yang bergantung pada insulin atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), sedangkan DM tipe II didefinisikan sebagai diabetes yang tidak bergantung pada insulin atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Penderita DM tipe I mengalami kerusakan sel pankreas yang menghasilkan insulin, akibatnya sel-sel pankreas tidak dapat mensekresikan insulin atau hanya dapat mensekresikan insulin dalam jumlah sedikit. Kerusakan pada sel-sel pankreas disebabkan oleh peradangan pada pankreas. Akibat sel-sel pankreas tidak dapat membentuk insulin atau insulin hanya ada dalam jumlah sedikit maka penderita diabetes tipe I ini selalu bergantung pada insulin. Pengobatan DM tipe I dilakukan dengan pemberian insulin kepada penderita. Penderita DM tipe II tidak mengalami kerusakan sel-sel pankreas tetapi insulin yang disekresikan jumlahnya menurun. Penurunan tersebut disertai defisiensi insulin hingga resistensi insulin (Murray 2003). DM tipe II umumnya disebabkan oleh obesitas atau kelebihan berat badan. Pengobatan DM tipe II dilakukan dengan pengaturan pola makan dan olah raga, namun dapat pula diobati dengan obat-obat antidiabetes (Matsumono et al. 2002). Menurut Wijayakusuma (2004), selain DM tipe I dan DM tipe II terdapat satu tipe DM lainnya, yaitu DM yang terjadi pada saat kehamilan. Penyakit tersebut umumnya diderita oleh wanita hamil dan akan kembali normal setelah melahirkan. Seorang

wanita hamil membutuhkan lebih banyak insulin untuk mempertahankan metabolisme karbohidrat. Pengobatan Diabetes Mellitus Tujuan utama pengobatan diabetes mellitus adalah menghilangkan keluhan, mencegah timbulnya komplikasi, menurunkan angka kematian, dan meningkatkan kualitas hidup (BPOM 2009). Pengobatan penyakit DM dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pengendalian berat badan, olah raga, dan diet (Atalay & Laaksonen 2002). Hal ini senada dengan pernyataan BPOM (2009) tentang kerangka utama penatalaksanaan DM, yang meliputi diet, latihan jasmani secara teratur, dan pemberian obat antidiabetik. Pengobatan DM tipe 1 dilakukan dengan terapi insulin. Insulin merupakan obat utama DM tipe 1 (BPOM 2009). Insulin diperlukan dalam penyerapan glukosa dari darah ke dalam sel. Penderita DM tipe 1 mengalami kerusakan pada sel-sel pankreasnya, sehingga tidak mampu lagi memproduksi insulin atau hanya mampu memproduksi dalam jumlah sedikit. Insulin menjadi mutlak diperlukan oleh penderita DM tipe 1. Pengobatan DM tipe 2 harus memperhatikan terapi untuk kondisi yang berkaitan dengan DM tipe 2, seperti obesitas, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Penderita DM tipe 2 dengan obesitas dapat melakukan latihan secara teratur untuk mengendalikan berat badannya. Sebagian penderita DM merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Pengobatan biasanya dilakukan melalui pemberian obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per oral. Akan tetapi pemberian obat-obat antidiabetik oral dapat menimbulkan efek samping (Lau & Harper 2007). Enzim -Glukosidase Salah satu cara mengendalikan kadar gula dalam darah penderita DM adalah menghambat aktivitas enzim -glukosidase (Suarsana et al. 2008). Enzim ini berperan sebagai kunci pada akhir pemecahan karbohidrat. Enzim -glukosidase merupakan jenis enzim hidrolase yang mengatalisis reaksi hidrolisis terminal non pereduksi dari substrat menghasilkan -glukosa (Nashiru et al. 2001). Enzim glukosidase (E.C.3.2.1.20) berperan dalam metabolisme pati dan glikogen pada jaringan tumbuhan dan hewan yang dicirikan oleh berbagai substrat yang mengenalinya yaitu maltosa, glukosamilosa, sukrosa, dan sebagainya (Chen et al. 2004). Inhibisi terhadap enzim -glukosidase menyebabkan penghambatan absorpsi glukosa. Senyawa yang dapat menghambat enzim -glukosidase disebut inhibitor glukosidase (IAG). Senyawa IAG banyak digunakan untuk pengobatan pada pasien diabetes tipe 2 (Floris et al. 2005). Obat ini bekerja secara kompetitif di dalam saluran pencernaan yang dapat memperlambat penyerapan glukosa sehingga dapat menurunkan hiperglikemia setelah makan. Terdapat banyak inhibitor enzim glukosidase yang efektif, seperti akarbosa dan voglibosa yang dihasilkan mikrob (Liu et al.2006). Suatu penelitian menyebutkan bahwa konsumsi 100 mg akarbosa sebanyak tiga kali sehari mampu mengurangi 26% progresi pasien diabetes pada masa Impaired Glucose Tolerance, yaitu kondisi metabolisme antara keadaan darah normal dan diabetes (Chiassonet al. 2002).

Akarbosa mengikat enzim secara reversibel dan kompetitif. Prinsip kerja akarbosa adalah menghambat kerja enzim yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam usus halus. Akarbosa tidak merangsang sekresi insulin oleh sel-sel pankreas, sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia kecuali jika diberikan bersama-sama dengan obat hipoglikemia oral (OHO) yang lain atau dengan insulin (Liu et al. 2006; Misnadiarly 2006). Pengujian aktivitas daya hambat terhadap -glukosidase dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro. Uji in vitro menggunakan metode spektrofotometri dengan substrat p-nitrofenil- -D-glukopiranosida (p-NPG). Setelah terhidrolisis substrat akan menjadi - D-glukosa dan p-nitrofenol yang berwarna kuning. Warna kuning yang dihasilkan menjadi indikator kemampuan inhibitor untuk menghambat reaksi yang terjadi. Semakin besar kemampuan inhibitor menghambat kerja -glukosidase, maka warna kuning larutan yang dihasilkan akan lebih pudar dibandingkan larutan tanpa inhibitor (Sugiwati 2005). Reaksi tersebut akan menghasilkan glukosa dan pnitrofenol yang berwarna kuning dan dapat dideteksi pada panjang gelombang sekitar 400 nm (Gambar 3) yang diukur intensitasnya dengan metode spektrofotometri (Sugiwati et al. 2009). Kontrol positif dapat menggunakan akarbosa. METODE PELAKASANAAN 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas : Mikroenkapsulasi, akarbose b. Variabel terikat : Ekstrak daun sambiloto dan daun sirsak, aktivitas inhibitor enzim -glukosidase 2. Model yang digunakan Metode penelitian adalah metode eksperimental meliputi teknologi farmasi pembuatan sediaan mikrokapsul dan pengujian secara in vitro 3. Rancangan penelitian Alat dan bahan: 1. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari peralatan untuk ekstraksi herba sambiloto dan daun sirsak, aluminium voil, batang pengaduk, corong, gelas beker, gelas ukur, kompor listrik, sendok tanduk, cawan porselin, rotavapor, oven, penggiling, penangas air, kertas saring, neraca analitik. spektrofotometer UV-VIS, pipet mikro, pipet volumetrik, pipet tetes, labu Erlenmeyer, tabung reaksi, gelas piala, gelas ukur, bulb, batang pengaduk, sudip, microplate, microplate reader, corong gelas, kapas, stopwatch, dan sentrifus. 2. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun sirsak, akuades, etanol 70%, enzim glukosidase, p-nitrofenil--D-glukopiranosida (p-NPG), larutan bufer fosfat pH 7, serum bovine albumin, akarbosa, dimetilsulfoksida (DMSO), HCl 2N, dan Na2CO3. Bahan-bahan yang dipakai untuk uji fitokimia adalah kloroform, amoniak, larutan H2SO4 2M, pereaksi-pereaksi (Dragendorf, Mayer, dan Wagner), etanol 30%, asam asetat anhidrat, H2SO4 pekat, FeCl3 1%, dan etanol 30%.

Prosedur kerja: Pembuatan Mikrokapsul a) HPMC dilarutkan dengan sejumlah air dalam wadah pencampuran (tangki stainlees steel). b) Ekstrak daun sambiloto dan daun sirsak yang sudah kering didispersikan ke dalam larutan HPMC dan diemulsikan dalam sejumlah paraffin liquidum yang mengandung 2% Tween 80. c) Emulsi diaduk dalam homogeneser dengan kecepatan 3000 rpm pada temperatur ruang. d) Mikrokapsul dikumpulkan melalui dekantasi dan dicuci dua kali dengan nheksan untuk menghilangkan paraffin liquidum yang melekat. Setelah itu disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 400C selama 2 jam. Teknik Pengumpulan data dan analsis data Pengumpulan data dilakukan berdasarkan metode pembuatan sediaan mikrokapsul serta pengujian penghambatan aktivitas enzim -glikosidase terhadap sediaan yang terbentuk. Cara penafsiran dan Penyimpulan Hasil Analisis Sediaan mikrokapsul yang dibuat kemudian dilakukan pengujian hambatan terhadap aktivitas enzim -glikosidase secara in-vitro. JADWAL KEGIATAN Bulan I Persiapan Pelaksanaan Penyusunan laporan (bulanke-1) Ekstraksi sampel sambiloto (herba) dan sirsak (daun), pengeringan ekstrak, pengujian fitokimia. (bulan ke-2 dan bulan ke-3) Pembuatan sediaan mikrokapsul dan pemilihan bahan tambahan yang ideal, dan pengujian hambatan aktivitas enzim -glikosidase secara in-vitro. (bulan ke-4) Penyimpulan hasil akhir dengan menggunakan data-data yang diperoleh H. RANCANGAN BIAYA Bahan habis pakai Aquadest 20 liter @ Rp 2.000/L Rp 40.000 herba sambiloto 2 kg @ Rp 25.000/kg Rp 50.000 Daun sirsak 2 kg @ Rp 15.000/kg Rp 30.000 Etil asetat 10 liter @ Rp 18.000/L Rp 180.000 HPMC 20 g @ Rp 10.000/g Rp 200.000 Parafin cair 2 liter @ Rp 35.000/L Rp 70.000 Tween 80 2 liter @ Rp 32.000/L Rp 64.000 n-heksan 2 liter @ Rp 18.000/L Rp 36.000 Bulan II Bulan III Bulan IV

Etanol 70% 5 liter enzimglikosidase p-nitrofenil--Dglukopiranosida (p-NPG) DMSO serum bovine albumin

@ Rp 25.000/L

Rp 125.000

Peralatan penunjang PKM Wadah 10 buah mikrokapsul Kertas perkamen 1 pcs Aluminium foil 1 pcs Cawan porselin 4 buah Pipet skala 5 buah Pipet tetes 5 buah Batang pengaduk 4 buah Beker 250 ml 4 buah Beker 500 ml 2 buah Erlenmeyer 4 buah 250 ml Sendok tanduk 4 buah Gelas Arloji 4 buah Gelas ukur 10 ml 2 buah Gelas ukur 25 ml 2 buah Gelas ukur 50 ml 2 buah corong 2 buah Sewa laboratorium 3 bulan Perjalanan transportasi 3 orang Lain-lain Tinta printer 2 box Kertas A4 1 rim Penjilidan 3 bundel Penulusuran 4 jam pustaka di internet Jumlah total

@ Rp 5.000/buah @ Rp 7.000 @ Rp 25.000 @ Rp 18.000 @ Rp. 1500 @ Rp. 1500 @ Rp. 5000 @ Rp. 35.000 @ Rp.45.000 @ Rp. 41.500 @ Rp. 3.000 @ Rp. 8.500 @ Rp. 20.000 @ Rp. 27.000 @ Rp.60.000 @ Rp.19.500 @ Rp. 750.000/Bulan @ Rp 100.000 @ Rp 25.000 @ Rp 32.000 @ Rp 10.000 @ Rp 5.000

Rp 50.000 Rp 7.000 Rp 25.000 Rp 72.000 Rp 7.500 Rp. 7.500 Rp. 20.000 Rp. 140.000 Rp. 90.000 Rp. 166.000 Rp. 12.000 Rp. 34.000 Rp. 40.000 Rp. 54.000 Rp. 120.000 Rp. 39.000 Rp. 2.250.000 Rp 300.000 Rp 50.000 Rp 32.000 Rp 30.000 Rp 20.000 Rp 4.361.000

K. DAFTAR PUSTAKA Howard C. Ansel.2008. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat. Jakarta UI press. Leon Lachman, dkk.2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri.Edisi ketiga. Jakarta UI Press. Syarif, Auliyah Nur, Hasan, Nurhasni. 2011. Micro-Encapsulating Manufacture.Makassar : UNHAS Putri MDPTG, Kawataba J. 2010. Novel -glucosidase inhibitors from Macaranga tanarius leaves. Food Chemisrty 123: 384-389. [CDC] Centres for Diasease Control and Prevention. 2011. National diabetes fact and sheet: national estimates dand general information on diabetes and prediabetes in the United States 2011. Atlanta: Departement of Health and Human Services. [WHO] World Health Organization. 2010. Definition, diagnosis, and classification of diabetes mellitus and its complications. Geneva: WHO Publishing Adewole SO, Ezkiel A, Martins C. 2006. Morphological changes and hypoglycemic effects of Annona muricata linn. (Annonaceae) leaf aqueous extract on pancreatic -cells of streptozotocin-treated diabetic rats. African Journal of Biomedical Research 9: 173-187. Adeyemi et al. 2009. Antihyperglycemic activities of Annona muricata (linn) . Afr. J. Trad. CAM 6: 62-69. Sunarjono H. 2005. Sirsak dan Srikaya : Budi Daya untuk Menghasilkan Buah Prima. Bogor: Penebar Swadaya. Asprey GF, Thornton P. 2000. Medical plants of Jamaica Part 1-11. West Indian Journal 2. Markham KR. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoida. Bandung: ITB Atalay M, Laaksonen DE. 2002. Diabetes, oxidative stress and physical exercise. Journal of Sports Science and Medicine 1: 1-14. Matsumono K et al. 2002. A novel method for the assay of -glucosidase inhibitory activity using a multi-channel oxygen sensor. J Anal Sci 18: 13151319. Murray KR. 2003. Harpers Illustrated Biochemistry. Ed ke-26. London: Longe Medical Pub. Wijayakusuma H. 2004. Atasi Diabetes Mellitus dengan Tanaman Obat. Jakarta: Puspa Sehat.Youngson R. 2005. Antioksidan: Manfaat Vitamin C dan E Bagi Kesehatan. Susi purwoko, penerjemah. Jakarta: Arcan. Terjemahan dari: Antioksidan:Vitamin C & E for Health. Lau A, Harper W. 2007. Thiazolidinediones and their effect on bone metabolism: a review. Canadian journal of diabetes 31(4): 378-383. [BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 1 Juli 2009. Diabetes mellitus. Informasi Produk terapetik: 1, 5-8, 12. Chen et al. 2004. A new methode for screening a glucosidase inhobitors and 14 applications to marine microorganisms. Pharmaceutical Biology 42: 416-421.

Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus : Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal Gejala, 15 Menanggulangi, dan Mencegah Komplikasi. Jakarta : Pustaka Populer Obor. Sugiwati S. 2005. Aktivitas antihiperglikemik dari ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) sebagai inhibitor -glukosidase in vitro dan in vivo pada tikus putih [tesis]. Bogor: Program Pasca sarjana Institut Pertanian Bogor. Sugiwati S, Setiasih S, Afifah E. 2009. Antihyperglycemic activity of the mahkota dewa [Phaleria macrocarpa (scheff.) boerl.] leaf extracts as an alphaglucosidase inhibitor. Makara kesehatan 13 (2): 74-78.

L. LAMPIRAN 1.) BIODATA KETUA serta ANGGOTA KELOMPOK a. Ketua Nama Lengkap : Eka Hardiyanti Jenis Kelamin : Perempuan NIM : N11110287 Fakultas/Jurusan : Farmasi/Farmasi Angkatan : 2010 Perguruan tinggi : Universitas Hasanuddin Alamat : Jl. Bonto Duri 6 lr.8 no.25b Telpon/Hp : 08991878378 Alamat email : ekahardiyanti08@yahoo.co.id Tempat/Tanggal lahir : Ujung Pandang/03 Mei 1993 Kewarganegaraan : Indonesia Status : Belum menikah Pekerjaan : Mahasiswa Makassar, Maret 2013 Peneliti,

Eka Hardianti b. Anggota 1 Nama Lengkap Jenis Kelamin NIM Fakultas/Jurusan Angkatan Perguruan tinggi Alamat Telpon/Hp Alamat email Tempat/Tanggal lahir Kewarganegaraan Status Pekerjaan

: Nurul Mutmainnah : Perempuan : N11110905 : Farmasi/Farmasi : 2010 : Universitas Hasanuddin : Perumnas Tumalia Blok E/89 Maros : 082347737409 : inna_luph_mamah@yahoo.com : Ujung Pandang/24 Maret 1993 : Indonesia : Belum menikah : Mahasiswa Makassar, Maret 2013 Peneliti,

Nurul Mutmainnah

c. Anggota 2 Nama Lengkap Jenis Kelamin NIM Fakultas/Jurusan Angkatan Perguruan tinggi Alamat Telpon/Hp Alamat email Tempat/Tanggal lahir Kewarganegaraan Status Pekerjaan

: Ridha Sari Marsuki : Perempuan : N11110129 : Farmasi/Farmasi : 2010 : Universitas Hasanuddin : Jl. Borong Raya Baru III No.23 : 08991302327 : Rhida_rsm@yahoo.com : Makassar/02 Oktober 1992 : Indonesia : Belum menikah : Mahasiswa Makassar, Maret 2013 Peneliti,

Ridha Sari Marsuki d. Anggota 3 Nama Lengkap Jenis Kelamin NIM Fakultas/Jurusan Angkatan Perguruan tinggi Alamat Telpon/Hp Alamat email Tempat/Tanggal lahir Kewarganegaraan Status Pekerjaan : Husni Awaliah Mustamin : Perempuan : N11111 : Farmasi/Farmasi : 2011 : Universitas Hasanuddin : : : @yahoo.com : : Indonesia : Belum menikah : Mahasiswa Makassar, Maret 2013 Peneliti,

Husni Awaliah Mustamin e. Anggota 4 Nama Lengkap Jenis Kelamin NIM Fakultas/Jurusan : Afdil Viqar Viqhi : Laki-laki : N11112904 : Farmasi/Farmasi

Angkatan Perguruan tinggi Alamat Telpon/Hp Alamat email Tempat/Tanggal lahir Kewarganegaraan Status Pekerjaan

: 2012 : Universitas Hasanuddin : Asrama Mahasiswa UNHAS unit I Blok B : 082333000953 : afdilv@yahoo.com : Bone/05 Maret 1994 : Indonesia : Belum menikah : Mahasiswa Makassar, Maret 2013 Peneliti,

Afdil viqar viqhi

2.) Biodata Dosen Pembimbing Nama : Dr. Hj. Sartini, M.Si., Apt. Tempat/Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 11 November 1961 Jenis Kelamin : Perempuan NIP : 196111111987032001 Fakultas/Jurusan : Farmasi / Farmasi Universitas : Hasanuddin Alamat : Jl. Sunu Kompleks Unhas Baraya BX3 Makassar No.HP : 08124213426 Pekerjaan : Dosen tetap Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin Riwayat Pendidikan : No. 1 2 3 Jenjang S1 Profesi S2 Nama Pendidikan FMIPA UNHAS Apoteker FMIPA UNHAS PLH / Pencemaran dan Kesehatan Lingkungan Pascasarjana Universitas Hasanuddin Ilmu Kimia Pascasarjana Universitas Hasanuddin Tahun Tamat 1986 1987 1993 Tempat Makassar Makassar Makassar

S3

2011

Makassar

Pekerjaan

: - Dosen FMIPA Universitas Hasanuddin 1987-2006 - Dosen tetap Fakultas Farmasi 2006- sekarang

Publikasi lima tahun terakhir 1. Djide,M.N, dan Sartini. 2008. Isolasi, identifikasi bakteri Asam laktat dari Kol ( brassica oleracea L. ) dan Potensinya Sebagai Antagonis Vibrioharveyii. Torani, J. Ilmu kelautan dan Perikanan, 3(18),211-216 2. Djide, M.N dan Sartini. 2008. Antibacterial Activity of Infusion of Curcuma xanthorrhizae., Poster Presentase in First International Symposium of temulawak ( Curcuma xanthorriza ), IPB Bogor, 27 29 Mei 2008 3. Sartini, Djide, M.N, dan Alam .G. 2008. Effect of Cocoa Pondusk Extracts on Prevention of Hypercholesteromia in Albino rats ( Rattus novergicus ). Majalah farmasi dan farmakologi. 4. Djide,M.N dan Sartini. 2008. Effect fermentation on Antioxidant and Antibacterial Activity of Cocoa Bean.J. bioma 5. Sartini, Djide Natsir, Usmar, Siselia Bulu Ode. Soil Actinomycetes of podor Coastal in larantuka, east flores.: Isolation and primary Screening For Antimicrobial Activities. Poster Presented in Makassar International Symposium on Pharmaceutical Science ( MIPS), 19-20 march 2009 6. Sartini, Djide, M. N. Alam,G.2009. Ekstraksi Kompenen Bioaktif dari limbah kakao dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Antioksidan dan Antikroba, majalah Obat tadidional .ISSN 14-1410-5918 7. Sartini dan hasnah natsir.2010. penapisan Fungi Endofit dari Buah kakao Sebagai Penghasil Enzim Polifenol Oksidase . majalah ilmu alam dan lingkungan. ISSN I : 2086- 4604 8. Rahman Latifah, Sartini, manggau matianti.2010. Efek Konsentrasi Etanol Sebagai cairan Penyari Angkak Terhadap peningkatan Trombosit darah Kelinci. Majalah farmasi dan farmaklologi. ISSN 1410-7031 9. Sartini, ABd. Rauf patong, Tjodi harlim, Pirman.2010. isolation and Screening Endophytic Fungus From Cocoa Pod huskas Source of Polyphenol Oxidase Producer.J. Akta Kimia Indonesia. ISSN 2085-014X

10. Sartini, Abd.rauf patong, Tjodi harlim, Pirman.2011. Pengaruh pemberian Penambahan tembaga Sulfat terhadap produksi Enzim polyphenol Oksidese Dari fungi Endofit kulit Buah Kakao. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 15 : 1,1-62. Makassar, Maret 2013 Pendamping,

Dr. Hj. Sartini, M.Si., Apt