Anda di halaman 1dari 7

STUDI KASUS MEMBANGUN NILAI KEWIRAUSAHAAN (SOCIAL ENTREPRENEUR) MELALUI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN

PENDAHULUAN Seperti yang kita ketahui salah satu masalah pembangunan ekonomi di Indonesia adalah mengenai angka pengangguran yang setiap tahunnya selalu bertambah. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut. Diantaranya adalah dengan melaksanakan program pendidikan kesetaraan dasar dan lanjutan yang terintegrasi dengan pendidikan kecakapan hidup, program tersebut diantaranya adalah program Kewirausahaan Usaha Mandiri untuk Keaksaraan Fungsional, program Kewirausahaan Desa dan Kewirausahaan Perkotaan untuk Kejar paket B dan C dan lain sebagainya. Tujuannya adalah agar warga belajar disamping mendapatkan ijazah pendidikan yang setara dengan pendidikan formal baik untuk tingkat SD, SLTP maupun SLTA, namun juga mendapatkan dukungan keterampilan yang diharapkan dapat dijadikan bekal bagi peserta didik di masyarakat setelah mereka menyelesaikan program pendidikan tersebut. Hal itu dilakukan mengingat bahwa secara umum dapat diasumsikan bahwa karakteristik pribadi dan keterampilan pengusaha dapat dikembangkan melalui pendidikan. Sehingga diharapkan dengan adanya pendidikan dan pelatihan di bidang kewirausahaan masyarakat Indonesia dapat dengan mandiri menjadi seorang yang berjiwa wirausaha. Bahkan beberapa studi telah menyarankan bahwa perilaku kewirausahaan dapat dirangsang melalui jalur formal program pendidikan (Bechard & Toulouse, 1998; Gorman, Hanlon & Raja, 1997, dalam Linan et all., 2008). Ditambah pendapat yang dikemukakan oleh Potter (2008) yang menyatakan bahwa secara khusus peran pendidikan kewirausahaan merupakan salah satu instrumen kunci untuk meningkatkan sikap kewirausahaan seseorang (dalam Linan et all., 2010). Dengan demikian, pendidikan telah dianggap sebagai suatu upaya yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan pasokan pengusaha potensial (artinya, membuat lebih banyak orang sadar dan tertarik pada pilihan karir wirausaha ini) dan pengusaha yang baru lahir (membuat lebih banyak orang mencoba untuk memulai usaha baru). Oleh karena itu pembahasan selanjutnya adalah mengenai nilai dan perilaku kewirausahaan yang dapat dibangun serta proses pendidikan kewirausahaan yang dapat dilakukan. PEMBAHASAN PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN Pengertian kewirausahaan menurut para ahli adalah sebagai berikut (http://ilmuakuntansi.web.id/pengertian-kewirausahaan-menurut-ahli): Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Achmad Sanusi, 1994).
1

Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different). (Drucker, 1959). Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan. (Zimmerer, 1996). Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (star-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth). (Soeharto Prawiro, 1997). Kewirausahaan adalah suatu kemampuan (ability) dalam berfikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak tujuan, siasat kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. (Soeparman Spemahamidjaja, 1977). Kewirausahaan adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. (S. Wijandi, 1988). An entrepreuneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the perpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resourses to capitalize on those opportunuties, artinya kew irausahaan (seorang wirausaha) adalah orang yang menciptakan bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan mengalami pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang dan merakit/menyusun sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan (Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5)) Dari beberapa pernyataan para ahli diatas maka dapat disimpulkan pengertian kewirausahan adalah kemampuan seseorang untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui pikirannya yang kreatif dan tindakannya yang inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Tentunya penciptaan sesuatu yang baru tersebut merupakan suatu proses penambahn nilai sesuatu dan melalui kerja keras serta sumber daya lain yang mendukungnya. Kewirausahaan tersebut dapat diperoleh melalui jalur pendidikan. Tentunya diharpkan melalui pendidikan kewirausahaan dapat menimbulkan nilai dan perilaku kewirausahaan.

NILAI & PERILAKU KEWIRAUSAHAAN Adapun karakteristik kewirausahaan menurut para ahli, diantaranya: Geoffrey G. Meredith, et al. Kewirausahaan: Teori dan Praktik, Ed. 5.h.5-6. (http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=861:karakteristikwirausaha&catid=44:dasar-dasar%20kewirausahaan&Itemid=69) Nilai Perilaku Percaya Diri Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistas, optimisme. Berorientasikan tugas dan hasil Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetic, dan inisiatif.
2

Pengambil risiko Kepemimpinan

Kemampuan mengambil risiko, suka pada tantangan. Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik. Inovatif dan kreatif, fleksibel, punya banyak sumber, serba bisa, mengetahui banyak. Pandangan ke depan, perseptif.

Keorisinilan Berorientasi ke masa depan

Bygrave, karakteristik kewirausahaan adalah (http://titybelajar.blogspot.com/2012/03/karakteristik-kewirausahaan-menurut.html): Dream = Seorang pemimpi yang bisa mengimplementasikan mimpinya Decisiveness = Membuat keputusan dengan cepat dan tidak menunda nunda pekerjaan Doers = Cepat bertindak untuk mengimplementasikan keputusannya Determination = Tidak mudah menyerah Dedication = Memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap usahanya. Devotion = Mencintai bisnisnya Details = Memiliki perhatian ke detail yang sangat tinggi Destiny = Merasa dapat menentukan nasibnya sendiri Dollars = Memandang uang bukanlah sebagai motivasi utama, tetapi keberhasilan yang jadi ukuran Distribute = Membagi kepemilikan usahanya kepada karyawan karyawan yang berperan besar Arthur Kuriloff dan J Mmempi (1993) mengemukakan karakteristik kewirausahaan dalam bentuk nilai-nilai dan perilaku kewirausahaan adalah sebagai berikut (http://www.entrepreneurmuda.com/index.php?option=com_content&view=section&la yout=blog&id=8&Itemid=70&limitstart=54): NILAI PERILAKU

Commitment Moderate risk

Staying with a task until finished


(menyelesaikan tugas sampai tuntas)

Not gambling, cut choosing a middle course


(tidak melakukan spekulasi, melainkan memotong untuk mencari jalan tengah/hasil analisa)

Seeing opportunities

And grasping them


(dan memanfaatkan baiknya) peluang sebaik-

Objectivity

Observing reality clearly


(mengamati kenyataan dengan seksama demi keakuratan)
3

Feedback

Analyzing timely performance data to guide activity.


(menganalisis data kinerja waktu untuk memandu kegiatan)

Optimism

Showing confidence in novel situations.


(menunjukkan kepercayaan diri walaupun berbeda)

Money

Seeing it as resource and not an end in itself.


(melihat uang sebagai sumberdaya, bukan sebagai tujuan akhir)

Proactive management

Managing through reality based on forward planning.


(mengelola berdasarkan perencanaan masa depan)

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN Pendidikan kewirausahaan menurut Linan (2004, p.17 (Linan et all., 2008)) menyatakan bahwa the whole set of education and training activities -within the

educational system or not- try to develop in the participants the intention to perform entrepreneurial behaviours, or some of the elements that affect that intention, such as entrepreneurial knowledge, desirability of the entrepreneurial activity, or its feasibility ,
artinya bahwa pendiidkan kewirausahaan merupakan seluruh rangkaian kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik dalam sistem pendidikan atau tidak, yang mencoba mengembangkan pada peserta niat untuk melakukan perilaku kewirausahaan, atau beberapa unsur yang mempengaruhi niat itu, seperti pengetahuan kewirausahaan, keinginan dari kegiatan kewirausahaan, atau kelayakannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan kewirausahaan berhubungan dengan sikap, niat dan proses penciptaan suatu perusahaan/usaha (atau wirausaha). Pada akhirnya pendidikan kewirausahaan telah diklasifikasikan menurut tujuan dari pendidikan kewirausahaan itu sendiri. Gambar 1 merupakan hubungan antara pendidikan kewirausahaan dan tujuan yang ingin dicapainya.

Berikut adalah keterangan gambar diatas (Linan et all., 2008): Awareness educations : Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah orang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang usaha kecil, wirausaha dan kewirausahaan, sehingga mereka menganggap bahwa kewirausaan sebagai pilihan alternatif yang rasional dan layak. Dengan demikian, kategori pendidikan ini akan mengejar bagaimnaa menciptakan lebih banyak lagi akan pengusaha potensial, terlepas dari apakah mereka benar-benar akan membuat perusahaan mereka setelah pelatihan. Salah satu contoh dari pendidikan ini adalah program yang disampaikan di SMA dan universitas. Ini biasanya program opsional dalam bisnis atau kegiatan lain yang serupa. Pengajar tidak benar-benar mencoba untuk mengubah siswa menjadi pengusaha, tetapi hanya memungkinkan mereka untuk membuat pilihan karir profesional untuk masa depan mereka dengan perspektif yang lebih besar (Garavan dan Cinnide, 1994a). Start-up educations : pendidikan ini terdiri dari persiapan untuk menjalankan usaha kecil konvensional, yang membentuk mayoritas dari semua perusahaan baru. Pendidikan ini berpusat pada praktek aspek-aspek tertentu terkait dengan fase membuka usaha, seperti: bagaimana untuk mendapatkan pembiayaan, peraturan hukum, perpajakan, dan sebagainya (Curran dan Stanworth, 1989). Peserta dalam jenis program ini biasanya sangat termotivasi mengenai pendidikan ini. Sehingga, mereka cenderung menunjukkan ketertarikannya. Dalam prakteknya, kursus/pendidikan ini sudah memilih orang-orang yang menunjukkan tingkat niat/itikad yang tinggi sebelumnya (mereka sudah akan menjadi pengusaha potensial) dan berkonsentrasi pada pertanyaan praktis untuk membuka usaha. Peserta idealnya akan menjadi pengusaha baru yang lahir selama atau (segera) setelah melakukan kursus/pendidikan ini . Continuing educations : kategori pendidikan ini terdiri dari pendidikan pelatihan berkelanjutan bagi pemilik usaha kecil. Ini merupakan versi khusus dari pendidikan orang dewasa yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan pengusaha yang sudah ada (Weinrauch, 1984), sehingga membantu mereka menjadi pengusaha yang dinamis. Namun, sulit untuk menarik pengusaha yang sudah aktif terhadap jenis
5

pendidikan ini, karena mereka cenderung untuk mempertimbangkan kegiatan ini dan menganggap bahwa pendidikan ini terlalu umum untuk kebutuhan khusus bagi perusahaan mereka. Entrepreneurial dynamism : Tujuan dari kategori ini tidak hanya akan meningkatkan niat untuk menjadi seorang pengusaha, tetapi juga untuk mengembangkan perilaku kewirausahaan dinamis setelah bisnis sudah beroperasi. Namun, bentuk pendidikan konvensional tidak memungkinkan untuk pengembangan kualitas kewirausahaan, sehingga penggunaan model pendidikan alternatif diperlukan (Garavan & O'Cinneide , 1994).

STUDI KASUS SOCIAL ENTREPRENEUR PADA PEDAGANG BAKSO Social entrepreneur adalah individu yeng memiliki solusi inovatif untuk menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Mereka sangat ambisius dan pantang menyerah, menangani masalah sosial yang besar dan menawarkan ide-ide baru untuk membawa perubahan yang lebih luas. Seorang social entrepreneur tidak melihat laba atau untung rugi dalam usahanya etrsebut, tetapi justru dia memberikan sesuatu baik itu materi, pengetahuan, atau pelatihan kepada orang lain sehingga orang lain tersebut memiliki nilai tambah. Sikap social entrepreneur yang dilakukan pada kasus pedagang bakso salah satunya adalah dengan memberikan ilmu resep meracik bakso kepada keluarga, kerabat atau karyawannya sehingga si penerima ilmu tersebut memiliki nilai tambah berupa pengetahuan membuat bakso dan dapat membuka lapangan pekerjaan baru yaitu dengan berjualan bakso. Perilaku yang diharapkan dari penerima ilmu adalah perilaku memanfaatkan peluang sebaik-baiknya (seeing opportunities). Maksudnya adalah ini merupakan peluang bagi mereka ketika menerima ilmu /pelatihan tersebut untuk meningkatkan kehidupan social mereka, misalnya mereka menjadi memiliki pekerjaan yaitu berdagang bakso. Adapun bila dikaitkan dengan kategori pendidikan kewirausahaan, social entrepreneur pada studi kasus ini termasuk ke dalam kategori awareness educations dan start-up educations. Dikatakan awareness educations karena dengan pendidikan ini akan meningkatkan jumlah orang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang usaha kecil, wirausaha dan kewirausahaan, sehingga mereka mempunyai pilihan alternatif dalam berwirausaha dan mereka bisa menjadi pengusaha yang potensial. Dan dikatakan sebagai kategori start-up educations karena dengan pendidikan memberikan persiapan bagi mereka (keluarga, kerabat/karyawan) dalam membentuk usaha baru. Dimana keluarga/kerabat/karyawan tersebut sudah memiliki niat/itikad untuk membuka usaha baru sehingga mereka akan menjadi pengusaha baru setelah melakukan pelatihan ini.

DAFTAR PUSTAKA Linan, F. (2007). The Role of Entrepreneurship Education in the Entrepreneurial Process. In A. FAYOLLE (Ed.), Handbook of Research in Entrepreneurship Education (Vol. 1, pp. 230247). Cheltenham, UK: Edward Elgar Publishing Lian, F., Moriano, J.A. & Zarnowska, A. (2008). Stimulating Entrepreneurial Intentions Through Education. In J.A. Moriano, M. Gorgievski & M. Lukes (Eds.), Teaching Psychology of Entrepreneurship (pp.45-68). Madrid. Universidad Nacional de Educacin a Distancia (UNED) Haryanto, S.Pd. Pengertian Kewirausahaan Menurut Ahli. Tersedia : http://ilmuakuntansi.web.id/pengertian-kewirausahaan-menurut-ahli noname. Karakteristik Wirausaha. Tersedia :
http://ilerning.com/index.php?option=com_content&view= article&id=861:karakteristik wirausaha&catid=44:dasar-dasar%20kewirausahaan&Itemid=69

noname. Teori-Teori Kewirausahaan . Tersedia :


http://www.entrepreneurmuda.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blo g&id=8&Itemid=70&limitstart=54

TDR. Karakteristik Kewirausahaan Menurut Bygrave. Tersedia: http://titybelajar.blogspot.com/2012/03/karakteristik-kewirausahaan-menurut.html