Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL SEDIAAN KRIM ASAM SALISILAT FUNGIKILL

OLEH : GOLONGAN I KELOMPOK IV Kalih Sindu Budari Ngk. Gd Wahyu Indrayana Ni Luh Putu Risna Dewi Ni Luh Gde Vera Yanti Ni Komang Wika Mirawati (1008505003) (1008505014) (1008505015) (1008505017) (1008505026)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2012

FORMULASI SEDIAAN KRIM ASAM SALISILAT BAB I TUJUAN DAN DASAR TEORI

1.1 LATAR BELAKANG Kebutuhan akan sediaan topikal antijamur sampai saat ini masih menempati peringkat atas, terutama bila dikaitkan dengan timbulnya gejala resistensi senyawa-senyawa yang berkhasiat sebagai anti jamur. Infeksi jamur pada kulit atau mikosis banyak diderita penduduk khususnya yang tinggal di daerah tropis. iklim panas dan lembab merupakan salah satu penyebab tingginya insiden tersebut. selain itu mikosis pada kulit dipredisposisi hygiene yang kurang sehat, adanya sumber penularan, pemakaian antibiotika dan penyakit kronis (Nurtjahja dkk.,2006). Sediaan topikal adalah sediaan yang penggunaannya pada kulit dengan tujuan untuk menghasilkan efek lokal, seperti lotio, salep, dan krim. Rute pemberian obat secara transdermal merupakan suatu alternatif untuk menghindari variabilitas ketersediaan hayati obat pada penggunaan per oral, menghindari kontak langsung obat dengan mukosa lambung sehingga mengurangi efek samping obat tertentu, juga untuk memperoleh konsentrasi obat terlokalisir pada tempat kerjanya. Pemilihan bentuk obat kulit topikal dipengaruhi jenis kerusakan kulit, daya kerja yng dikehendaki, kondisi penderita, dan daerah kulit yang diobati. Obat kulit topikal mengandung obat yang bekerja secara lokal. Tapi pada beberapa keadaan, dapat juga bekerja pada lapisan kulit yang lebih dalam, misalnya pada pengobatan penyakit kulit kronik. Salah satu obat yang diberikan melalui topikal adalah krim.

1.2 TUJUAN 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Mengetahui dan membuat formulasi sediaan krim asam salisilat Mengetahui cara pembuatan krim asam salisilat Mengevaluasi sediaan krim asam slisilat 2

1.3 DASAR TEORI 1.3.1 Krim Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asamasam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air (Anonim,2010). Selain itu, Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada dua yaitu: 1. Krim tipe air - minyak (A/M) contohnya sabun polivalen, span, adeps lanae, kolesterol dan cera. 2. Krim tipe minyak - air (M/A) contohnya sabun monovalen seperti triethanolaminum stearat, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat (Anief, 2005). Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktansurfaktan anionic, kationik dan nonionik (Anief, 2005). Keuntungan penggunaan krim adalah umumnya mudah menyebar rata pada permukaan kulit serta mudah dicuci dengan air (Ansel, 2005). Krim dapat digunakan pada luka yang basah, karena bahan pembawa minyak di dalam air cenderung untuk menyerap cairan yang dikeluarkan luka tersebut. Basis yang dapat dicuci dengan air akan membentuk suatu lapisan tipis yang semipermeabel, setelah air menguap pada tempat yang digunakan. Tetapi emulsi air di dalam minyak dari sediaan semipadat cenderung membentuk suatu lapisan hidrofobik pada kulit (Lachman, 2008). Prinsip pembuatan krim adalah berdasarkan proses penyabunan (safonifikasi) dari suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa dan dikerjakan

dalam suasana panas yaitu temperatur 700- 800C. (Dirjen POM,1995). Krim merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian kulit badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut, kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut defenisi tersebut yang termasuk obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat tetes telinga, obat wasir dan sebagainya. ( Anief, 1999 ). Dalam pembuatan krim diperlukan suatu bahan dasar. Bahan dasar yang digunakan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Kualitas dasar krim yang diharapkan adalah sebagai berikut : a. Stabil b. Lunak c. Mudah dipakai d. Dasar krim yang cocok e. Terdistribusi merata Fungsi krim adalah: a. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit b. Sebagai bahan pelumas bagi kulit c. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak langsung dengan zat-zat berbahaya. (Anief,1999) Stabilitas krim akan menjadi rusak, jika terganggu oleh sistem campurannya terutama disebabkan perubahan suhu, perubahan komposisi dan disebabkan juga oleh penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptis. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan. Dalam penandaan sediaan krim, pada etiket harus tertera Obat Luar dan pada penyimpanannya harus dalam wadah tertutup baik atau tube dan disimpan di tempat sejuk (Depkes RI, 1979). 1.3.2 Kulit Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Kulit berfungsi sebagai

thermostat dalam mempertahankan suhu tubuh, melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme, sinar ultraviolet, dan berperan pula mengatur tekanan darah. Secara anatomi kulit terdiri dari banyak lapisan jaringan, tetapi pada umumnya kulit dibagi dalam tiga lapisan jaringan : epidermis, dermis dan lapisan lemak dibawah kulit (Lachman, et al., 2008). Epidermis terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung selmelanosit, langerhans dan merkel. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5% dari seluruhketebalan kulit. Terjadi regenerasi sel kulit pada epidermis setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) yaitu: 1. Stratum Korneum, terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. 2. Stratum Lusidum, berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis. 3. Stratum Granulosum, ditandai oleh 3 - 5 lapis sel poligonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granulakeratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. 4. Stratum Spinosum, terdapat berkas - berkas filamen yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen - filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril 5. Stratum Basal (Stratum Germinativum), terdapat aktivitas mitosis yang hebatdan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Stratum basal dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usiadan faktor lain. Stratum germinativum merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit (Lachman, et al., 2008).

1.3.3

Asam Salisilat Salah satu sediaan semisolid yang memiliki efek anti fungi adalah krim

asam salisilat. Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik dimana akan mengurangi ketebalan interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan desintegrasi dan pengelupasana kulit (Anief, 1997). Asam salisilat berkasiat fungisid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Disamping itu zat ini berkasiat bakteriostatis lemah dan berdaya keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. Asam salisilat banyak digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi jamur ringan. Asam salisilat juga digunakan sebagai obat ampuh terhadap kutil kulit yang berciri penebalan epidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi virus vapova (Tjay, 2007).

BAB II PRAFORMULASI

3.1 Farmakologi Bahan Obat 3.1.1 Indikasi Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik yaitu akan mengurangi ketebalan interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan desintegrasi dan

pengelupasana kulit (Anief, 1997). Asam salisilat berkasiat fungisid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Disamping itu zat ini berkasiat bakteriostatis lemah dan berdaya keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. Asam salisilat banyak digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi jamur ringan. Asam salisilat juga digunakan sebagai obat ampuh terhadap kutil kulit yang berciri penebalan epidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi virus vapova(Tjay, 2007).

3.1.2 Farmakokinetik Asam salisilat adalah asam organik sederhana dengan pKa 3,0.Aspirin (asam asetilsalisilat, ASA) memilikipKa 3,5. Natrium salisilat dan aspirin sama-sama efektif antiinflamasiobat-obatan, meskipun aspirin mungkin lebih efektif sebagai analgesik. Salisilatcepatdiserap dari perut dan usus kecil bagian atas, menghasilkan tingkat plasma puncak salisilatdalam waktu 1-2 jam. Aspirin diserap seperti dan cepat dihidrolisis (serum setengah-hidup 15menit) menjadi asam asetat dan salisilat oleh aster dalam jaringan dan darah. Seiring dengan meningkatnya aspirin, eliminasi salisilat meningkat dari 3-5 jam (untuk 600 mg/d dosis) hingga 12-16 jam (dosis> 3,6 g/d).Alkalinisasi urin meningkatkan laju ekskresi salisilat bebas dan yang larut dalam airkonjugasi (Bruntan, 2008).Sering kali asam salisilat ini

dikombinasi dengan asam benzoat (salep whitfield) dan belerang (sulfur precipitatum) yang keduanya punya kerja fungistatis maupun bakteriostatis. Bila dikombinasi dengan obat lain misalnya kortikosteroid, asam salisilat meningkat penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat dikombinasi dengan sengoksida karena akan terbentuk garam seng salisilat yang tidak aktif (Tjay, 2007).

3.1.3 Mekanisme kerja Asam salisilat diserap dengan cepat dari kulit terutama ketika diterapkan dalam linimenta berminyakatau salep.Volume distribusi dosis biasa rata-rata aspirin adalah 170 mL/kg berat badan, padadosis terapi yang tinggi, volume ini meningkat menjadi 500 mL/kg karena ikatan jenuh pada protein plasma. Aspirin dapat dideteksi dalam plasma hanya untuk waktu yang singkat sebagai akibat darihidrolisis dalam plasma, hati, dan eritrosit.Sekitar 80-90% dari salisilat dalam plasma terikat dengan protein terutama albumin, pada konsentasi klinis, proporsi dari total yang terikat menurun seiring dengan menigkatnya konsentrasi plasma (Bruntan, 2008).

3.1.4 Peringatan dan Perhatian Sediaan asam salisilat harus tidak digunakan untuk pengobatan bayi kecil atau kulit terkelupas yang luas karena dapat terjadi absorbsi perkutan dan mengakibatkan salisilisme (Arvin, 2000). Asam salisilat dapat menimbulkan gangguan saraf tepi, pada pasien diabetes rentan terhadap ulkus neuropati, hindari kontak dengan mata, mulut, area kelamin dan anus, dan selaput lendir, hindari penggunaan pada area yang luas. Asam salisilat dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mukosa serta menghancurkan selsel epitel (Bruntan, 2008).

3.1.5

Efek Samping Dapat menyebabkan iritasi, rasa panas pada kulit.

3.1.6

Kontra Indikasi Jangan digunakan pada luka eksim, dan luka pada mata.

3.1.7 Interaksi Obat Tidak ditemukan interaksi obat yang signifikan namun dihindari penggunaan bersama obat topikal lainnya. 3.1.8 Penyimpanan Disimpan dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1979).

3.2 Sifat Fisika Kimia Bahan Obat dan Bahan Tambahan 3.2.1 Bahan Obat 3.2.1.1 Asam Salisilat

Gambar 1. Struktur Kimia Asam Salisilat Asam salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0% C7H6O3 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemeriaan : Hablur putih; biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus putih; rasa agak manis, tajam dan stabil diudara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip mentol. Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam benzena; mudah larut dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam kloroform. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik 9

Kegunaan

: Bahan aktif, anti fungi (Depkes RI, 1979)

3.2.2 Bahan Tambahan 3.2.2.1 Asam Stearat

Gambar 2. Struktur Kimia Asam Stearat (Rowe, et al., 2009). Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak, sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C18H36O2 dan asam heksadekanoat C16H32O2. Pemerian : Zat padat keras mengkilat susunan hablur; putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P. Suhu lebur Penyimpanan Khasiat Stabilitas : Tidak kurang dari 54. : Dalam wadah tertutup baik. : Zat tambahan(emulgator) (Depkes RI, 1979). :Asam stearat merupakan bahan stabil ; antioksi dan juga dapat ditambahkan kedalamnya. Inkompatibilitas: Asam stearat tidak kompatibel dengan logam hidroksida dan mungkin tidak kompatibel dengan basa, bahan pereduksi, danoksidator.

(Rowe et al, 2003)

10

3.2.2.2 Gliserin (C3H8O3)

Gambar 3. Struktur Kimia Glycerin (Rowe, et al., 2009). Gliserin mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari 101,0 % C3H8O3. BM : 92,10. Pemerian : Cairan seperti sirup; jernih; tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti rasa hangat. Higroskopis. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk masa hablur tidak berwarna dan tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20oC. Kelarutan : Dapat campur dengan air dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P dalam eter P dan dalam minyak lemak. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik. : Zat tambahan (pelembab) (Depkes RI, 1979)

3.2.2.3 Purified water (Air suling) Air suling dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum. BM Pemerian : 18,02 : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Kegunaan : sebagai fase air (Depkes RI, 1979)

11

3.2.2.4 Metylparaben (C8H8O3)

Gambar 4. Struktur Kimia Methyl Paraben (Rowe, et al., 2009).

Pemerian

: Hablur kecil, tidak berwarna, atau serbuk hablur putih, tidak berbauatau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa yang terbakar.

Kelarutan

: Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon terklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter.

Kegunaan

: Pengawet (konsentrasi untuk sediaan topikal adalah 0,02-0,3%)

(Rowe, et al., 2003) 3.2.2.5 Setil alcohol

Gambar 5. Struktur Kimia Cetyl Alcohol (Rowe, et al., 2009). Pemerian : Berupa serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak, memiliki bau dan rasa yang khas. Kelarutan : Mudah larut dalam etanol 95% dan eter, kelarutannya meningkat dengan peningkatan suhu, tidak larut dalam air. HLB setil alkohol yaitu 15. 12

Kegunaan

: Sebagai emulsifying agent, stiffening agent, dan coating agent. Dalam sediaan losio, krim, dan salep biasa digunakan sebagai emolien dan

emulsifyingagent dengan konsentrasi antara 2-5%. Setil alkohol dapat meningkatkan konsistensi emulsi W/O dengan konsentrasi 2-10%, dan meningkatkan stabilitas semisolid.

3.2.2.6 Trietanolamina (TEA)

Gambar 6. Struktur Kimia Triethanolamin (Rowe, et al., 2009). Pemerian : Cairan agak higroskopis, kental, tidak berwarna sampai kuning muda; bau amoniak. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol; larut dalam kloroform. Kegunaan : pengatur pH, surfaktan.

3.2.2.7 Propil paraben

Gambar 7. Struktur Kimia Propyl Paraben (Rowe, et al., 2009). Pemerian : Serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna

13

Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol, dan dalam eter; sukar larut dalam air mendidih.

Kegunaan

: zat pengawet

3.3 Bentuk Sediaan, Dosis, dan Cara Pemakaian Bentuk sediaan yang akan di buat adalah krim (cream). Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (Depker RI, 1995). Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar (Anief, 1997). Asam salisilat merupakan agen keratolitik yang efektif dan dapat dicampurkan ke dalam berbagai zat pembawa dalam konsentrasi sampai 6% untuk digunakan dua sampai tiga kali sehari (Arvin, 2000). Krim merupakan obat luar sehingga penggunaannya tanpa menggunakan dosis tertentu. Cara pemakaiannya adalah dengan cara dioleskan pada permukaan kulit yang akan diobati.

14

BAB III FORMULA KERJA

3.1 Formula yang digunakan No. A.1 2 3 B.4 5 6 7 8 Ingredients Salicylic acid Stearic acid Cetyl alcohol Glycerin Trietanolamin (TEA) Propyl paraben Methyl paraben Purified water Total Quantity 6.00 15.00 0.50 5.00 1.00 0.05 0.10 73.25 100.00

3.2 Penimbangan Bahan Sediaan krim akan dibuat sebanyak 50 gr dan 100 gr, jadi jumlah masing-masing bahan yang diambil adalah: Untuk massa krim yang dibuat Massa asam salisilat Massa asam stearat Massa setil alcohol Massa gliserin Massa trietanolamin Massa propel paraben Massa metal paraben Air suling = 50 gr = = = = = = = = r r r r r r r r r r r r r r r r = 36,625 mL

15

Untuk massa krim yang dibuat Massa asam salisilat Massa asam stearat Massa setil alcohol Massa gliserin Massa trietanolamin Massa propel paraben Massa metal paraben Air suling

= 100 gr = = = = = = = = r r r r r r r r r r r r r r r r = 73,25 mL

16

BAB IV ALAT DAN BAHAN

4.1 Alat Beaker glass pyrex Gelas ukur pyrex Sendok tanduk Sudip Pot cream Penangas air Cawan petri Batang pengaduk Timbangan analitik merck Adam Avanta Termometer Kertas perkamen Mortar dan stamper

4.2 Bahan Asam salisilat Asam stearat Gliserin Propil paraben Metal paraben Trietanolamin (TEA) Setil alkohol Air suling

17

BAB V PROSEDUR KERJA

5.1 Pembuatan Krim Asam Salisilat Asam salisilat, setil alcohol, asam stearat, gliserin, propel paraben, metal paraben, trietanolamin dan purified water Ditimbang masing-masing sesuai dengan

formula yang diajukan Asam stearat dan setil alcohol (fase minyak) Dicampur dalam cawan porselen, dilebur bersama diatas penangas air pada suhu 700 C Leburan fase minyak

Gliserin, trietanolamin dan akuades (fase air)

Dicampur, dipanaskan pada suhu 700 C Fase air

Ditambahkan perlahan kedalam fase minyak, dilakukan pengadukan yang konstan Basis krim

18

Asam salisilat (zat aktif) Ditambahkan sedikit demi desikit ke basis, diaduk konstan ad homogen Campuran homogen (basis dan zat aktif)

Propil paraben dan metal paraben (pengawet) Ditambahkan pada campuran setelah suhu 400 C, diaduk hingga homogen Krim asam salisilat Dimasukkan kedalam pot, diberi etiket dan brosur sekunder Krim asam salisilat dalam kemasan sekunder dimasukkan kedalam kemasan

5.2 Evaluasi Sediaan Krim Asam Salisilat 6.2.1 Uji Organoleptis Krim asam salisilat Diamati warna krim, Diamati bentuk dan tekstur krim, serta baunya Data uji organoleptis

19

6.2.2 Uji Homogenitas Krim asam salisilat Diambil sedikit, dioleskan pada gelas obyek

Krim asam salisilat dalam gels obyek

Diamati

dibawah

mikroskop,

diamati

homogenitasnya (bentuk yang terlihat di mikroskop Data uji homogenitas

6.2.3 Uji Daya Rekat 0,25 gram krim asam salisilat Diletakkan diatas 3 obyek gelas, masingmasing diberi beban 5 kg, dibiarkan selama 5 menit Krim asam salisilat dalam obyek gelas Dipasangkan pada alat uji

Krim asam salisilat pada alat uji Diberi beban 80 kg, dicatat waktu (daya

pelepasannya dari gelas obyek rekatnya) Data uji daya rekat

20

6.2.4 Uji Daya Sebar 0,5gram krim asam salisilat Diletakkan dengan hati-hati diatas kertas grafik yang dilapisi kaca transparan, tutup dengan kaca kembali , dibiarkan sesaat ( 15 detik) Sebaran krim 1 Dihitung luas daerah sebar Ditutup dengan kaca transparan Ditambahkan beban tertentu (1, 2 dan 5 g) Dibiarkan selama 60 detik Sebaran krim 2

Dihitung pertambahan luas daerah sebar krim Data uji daya sebar

21

BAB VI HASIL PRAKTIKUM 6.1 Hasil Pengamatan 6.1.1 Uji Organoleptis

Batch 1

Bau Tengik

Warna Putih

Bentuk/tekstur Lembut

6.1.2 Uji Homogenitas (Data Terlampir) 6.1.3 Uji Daya Lekat Batch 1 Beban 80 gram Waktu I 2 detik Waktu II 1 detik Waktu III 1 detik

6.1.4 Uji Daya Sebar Batch Beban Diameter I Diameter II Diameter III 1 1 mg 2 mg 5 mg 5 cm 5,3 cm 5,5 cm 5,8 cm 5 cm 5,3 cm 5,5 cm 5,6 cm 5,5 cm 5,7 cm 5,9 cm 6,0 cm D rata 5,16 cm 5,43 cm 5,63 cm 5,8 cm rata-

6.1.5 Pengukuran pH Batch 1 pH 6,73

22

BAB VII PEMBAHASAN HASIL

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan membuat formulasi sediaan krim asam salisilat, cara pembuatan sediaan krim asam salisilat serta melakukan evaluasi terhadap krim asam salisilat tersebut. Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Keuntungan penggunaan krim adalah umumnya mudah menyebar rata pada permukaan kulit serta mudah dicuci dengan air (Ansel, 2005). Pada praktikum kali ini, dibuat tiga buah sediaan farmasi dalam bentuk krim, dua sediaan krim dibuat sebanyak 50 gram untuk dikumpul dan tiga sediaan lainnya dibuat sebanyak 100 gram untuk diuji. Bahan yang digunakan dalam formulasi krim asam salisilat ini adalah asam salisilat, asam stearat, setil alkohol, Gliserin, Propyl Paraben, Methyl Paraben, Triethanolamine, dan aquadest. Asam salisilat yang berfungsi sebagai zat aktif dalam sediaan krim ini memiliki efek keratolitik dan digunakan secara topikal untuk pengobatan penyakit kulit. Asam salisilat memiliki sifat fungisida dan digunakan secara topikal pada pengobatan infeksi jamur kulit. Asam salisilat digunakan sebanyak 6% pada formulasi ini karena krim yang akan dibuat diindikasikan sebagai antifungi. Asam stearat dan setil alkohol berfungsi sebagai pengemulsi. Dalam sediaan krim ini asam stearat dan setil alkohol digunakan sebagai basis krim (fase minyak). Penggunaan setil alkohol sebagai agen pengemulsi adalah 2-5 % (Anggraini, 2008). Gliserin berfungsi sebagai emolien, solven atau kosolven dalam emulsi krim. Penggunaan gliserin dalam sediaan topikal sebagai emolien ataupun humektan adalah % (Rowe, et

al., 2003). Trietanolamin (TEA) juga berfungsi sebagai pengemulsi. Metil paraben dan propil paraben digunakan sebagai bahan pengawet untuk mencegah tumbuhnya mikroba dalam sediaan krim. Bahan pengawet antara metil paraben dan propil paraben dikombinasikan karena aktivitas antimikroba propil paraben dapat meningkat bila dikombinasikan dengan golongan paraben lainnya (Rowe, et

23

al., 2009). Selain itu penambahan metil paraben dapat meningkatkan kepolaran propel paraben, sehingga zat pengawet dapat bercampur ke dalam krim yang bertipe o/w. Praktikum diawali dengan penimbangan dan pengukuran bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan krim asam salisilat. Selanjutnya fase minyak yang terdiri dari setil alkohol dan asam stearat di dalam cawan petri serta fase air yang terdiri dari TEA, air dan gliserin di dalam gelas beker dilebur secara bersamaan diatas penangas air dengan suhu 70oC. Selanjutnya diaduk konstan dengan magnetic stirrer hingga terbentuk fase air dan fase minyak yang homogen. Pengadukan konstan bertujuan agar campuran dapat tercampur homogen. Setelah fase minyak melebur sempurna, kemudian dituangkan ke dalam mortir. Kemudian fase air ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam fase minyak yang telah diletakkan di dalam mortir. Selanjutnya diaduk secara konstan hingga terbentuk emulsi. Ketika suhu campuran kira-kira sudah mencapai 40oC, selanjutnya asam salisilat sebagai zat aktif yang sebelumnya sudah digerus dimasukkan secara perlahan-lahan ke dalam campuran fase minyak dan fase air dengan metode lavigasi setelah konsistensi krim mulai mengeras atau memadat. Kemudian diaduk konstan hingga membentuk emulsi yang stabil. Penambahan asam salisilat dilakukan dengan metode levigasi karena asam salisilat sukar larut dalam air, sehingga dengan metode ini diharapkan dapat melarutkan asam salisilat dalam basis krim yang bertipe o/w. Namun saat penambahan asam salisilat dalam praktikum ini basis yang terbentuk pecah kembali menjadi fase minyak dan fase air, sehingga gagal membentuk krim. Hal ini bisa disebabkan karena kurang tepatnya metode levigasi yang dilakukan. Metode levigasi harus dilakukan dengan penambahan zat sedikit demi sedikit dengan pengadukan yang konstan. Selain itu, pada formula zat pengemulsi triethanolamin yang digunakan terlalu sedikit yaitu 1%, padahal menurut teori jumlah triethanolamin yang biasanya digunakan dalam emulsifikasi adalah 2- 4% v/v triethanolamin (Rowe, et al., 2009). Dalam pembuatan krim tipe o/w ini tentunya pengemulsi fase air sangat memiliki peranan penting dalam pembentukan basis yang baik.

24

Hal ini terjadi sebanyak 2 kali. Hal inilah yang menyebabkan praktikan tidak bisa membuat dua sediaan lainnya yang akan digunakan untuk pengujian. Pada pembuatan yang ketiga praktikan memanaskan fase minyak dan fase air secara bersamaan, dengan suhu dan tempat yang sama. Setelah fase minyak dan fase air tercampur, kemudian diaduk secara cepat dan konstan hingga terbentuk emulsi, dijaga agar campuran tidak terlalu dingin, selanjutnya asam salisilat dimasukkan ke dalam campuran secara perlahan-lahan. Hingga akhirnya terbentuk emulsi yang stabil. Setelah zat aktif terdispersi dalam basis krim, kemudian ditambahkan zat pengawet berupa propil paraben dan metil paraben sedikit demi sedikit pada suhu 40oC sambil diaduk hingga homogen. Krim asam salisilat kemudian dimasukkan ke dalam tempat krim, diberi etiket dan dimasukkan ke dalam kemasan kotak. Krim harus disimpan pada tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari. karena suhu, kelembaban dan tempat penyimpanan krim akan mempengaruhi sifat fisikokimia zat yang terkandung dalam krim dan dapat menyebabkan krim menjadi tidak stabil. Sediaan krim dapat menjadi rusak bila sistem campurannya Setelah zat aktif terdispersi dalam basis krim, kemudian ditambahkan zat pengawet berupa propil paraben dan metil paraben sedikit demi sedikit pada suhu 40oC sambil diaduk hingga homogen. Krim asam salisilat kemudian dimasukkan kedalam wadah pot, diberi etiket dan dimasukkan dalam kemasan kotak. Krim harus disimpan pada tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari karena tingginya suhu akan mempengaruhi sifat fisikokimia zat yang terkandung dalam krim dan menyebabkan krim menjadi tidak stabil. Sediaan krim dapat menjadi rusak bila sistem campurannya terganggu (Anief, 1997). Selanjutnya dilakukan evaluasi sediaan krim. Evaluasi yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya sebar, uji daya lekat dan uji pH. Uji viskositas pada sediaan krim tidak dilakukan karena keterbatasan waktu praktikum. Uji organoleptis menunjukkan bahwa satu batch krim yang diuji memiliki organoleptis yaitu berwarna putih, berbentuk semisolid (lembut) dan baunya sedikit tengik. Bau tengik ini disebabkan karena konsentrasi pengawet yang sedikit dan kurang homogen saat pengadukan. Selain itu dapat pula

25

disebabkan karena suhu tempat penyimpanan yang kurang sejuk sehingga menyebabkan krim kurang stabil. Uji homogenitas dilakukan secara mikroskopik menggunakan mikroskop cahaya. Uji homogenitas ini menunjukkan bahwa sediaan krim yang dibuat tidak homogen, karena masih terlihat ada gelembung-gelembung air dan udara serta sedikit partikel. Ketidakhomogenan ini terjadi akibat proses pengadukan yang kurang konstan. Selanjutnya dilakukan uji daya sebar. Uji daya sebar ini dilakukan dengan meletakkan 0,5 gram krim diatas kertas grafik yang dilapisi oleh kaca bening. Kertas grafik ini berfungsi untuk mempermudah dalam pengukuran diameter krim yang tersebar. Dalam uji daya sebar, dilakukan 3 kali agar dapat dilihat presisi dari hasil yang diperoleh. Dari hasil uji dapat dilihat penambahan diameter sebar rata-rata pada batch 1 setelah penambahan beban sebesar 1 gram adalah 5,3 cm dengan penambahan beban 2 gram adalah 5,5 cm sedangkan dengan beban 5 gram adalah 5,8 cm. Dari hasil tersebut diketahui bahwa pada batch 1 penambahan diameter sebar terbesar diperoleh dari penambahan beban seberat 5 gram. Perbedaan hasil ini dapat terjadi karena pengukuran diameter dilakukan secara manual dengan menggunakan penggaris, sehingga diperlukan ketelitian untuk memperoleh hasil yang baik. Secara umum semakin bertambahnya beban maka diameter sebarnya akan semakin besar. Pada uji daya sebar ini diketahui bahwa krim yang diberikan beban 1 mg memiliki daya sebar paling rendah. Hal ini dilihat dari kecilnya penambahan diameter yang terjadi. Uji daya lekat dilakukan dengan meletakkan 0,25 gram krim pada 2 buah kaca objek. Diberi beban 1 kg selama 5 menit agar krim dapat menempel pada kaca objek. Kemudian beban diangkat. Lempeng kaca yang berisi krim dipasangkan pada alat uji. Diberi beban 80 gram. Dicatat waktu pelepasan krim pada gelas objek. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Waktu rata-rata yang diperoleh pada pengujian pertama adalah 2 detik, pada pengujian kedua adalah 1 detik dan pada penguyjian ketiga adalah 1 detik. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa krim pada pengujian pertama memiliki daya lekat paling tinggi. Semakin tinggi daya lekat maka waktu pelepasan krim dari kaca akan semakin lama. Uji

26

evaluasi yang terakhir adalah uji pengukuran pH. Uji pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Hasil uji menunjukkan bahwa krim yang dibuat memiliki pH 6,73. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan krim yang dibuat dapat diaplikasikan sebagai sediaan topikal, karena masih dalam rentang pH normal yang sesuai untuk kulit.

27

BAB VIII KESIMPULAN

8.1 Formulasi yang digunakan untuk membuat krim asam salisilat pada praktikum ini adalah : No. A.1 2 3 B.4 5 6 7 8 Ingredients Salicylic acid Stearic acid Cetyl alcohol Glycerin Trietanolamin (TEA) Propyl paraben Methyl paraben Purified water Total Quantity 6.00 15.00 0.50 5.00 1.00 0.05 0.10 73.25 100.00

8.2 Krim dibuat dengan melebur fase minyak yang terdiri dari setil alkohol dan asam stearat di dalam cawan petri serta fase air yang terdiri dari TEA, air dan gliserin di dalam gelas beker dilebur secara bersamaan diatas penangas air dengan suhu 70oC. Kemudian fase air ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam fase minyak yang telah diletakkan di dalam mortir. Selanjutnya diaduk secara konstan hingga terbentuk emulsi. Ketika suhu campuran kira-kira sudah mencapai 40oC, selanjutnya asam salisilat sebagai zat aktif yang sebelumnya sudah digerus dimasukkan secara perlahan-lahan hingga terbentuk emulsi yang stabil. 8.3 Krim asam salisilat yang dihasilkan memiliki organoleptis yaitu tidak berbau, berwarna putih, berbentuk semisolid, berbau agak tengik serta kurang homogen. Pada uji daya sebar pada diketahui bahwa penambahan diameter sebar terbesar diperoleh dari penambahan beban seberat 5 gram. Hal ini dilihat dari besarnya penambahan diameter yang terjadi. Dari uji daya lekat diketahui

28

bahwa pada pengujian pertama sediaan krim memiliki daya lekat paling tinggi. Dan pH krim yang diperoleh adalah 6,73.

29

DAFTAR PUSTAKA Anggraini, C.A. 2008. Pengaruh Bentuk Sediaan Krim, Gel dan Salep terhadap Penetrasi Aminofilin sebagai Anti Selulit secara In Vitro Menggunakan Sel Difusi Franz. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia : Depok Anief, Moh. 2005. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Anonim. 2010. Tinjauan Pustaka. Available at: http://repository.usu. ac.id/ bitstre am/123456789/26573/4/Chapter%20II.pdf (Last opened: 18 Oktober 2012) Ansel C. Howard. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta. UI Press. Arvin, B.K. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Ed.5 Vol.3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Bruntan, Laurence, Keith P, dkk. 2008. Goodman and Gillmans Manual of Pharmacology and Therapeutic. New York: Mc Graw Hill Medical Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Lachman,L., Herbert A.L., and Joseph L.K, 1994, Teori dan Praktek Farmasi Industri ed. 3, UI Press, Jakarta McEvoy, G.K. 2002. AHFS Drug Information. American Society of HealthSystem Pharmacistsm,Inc: USA Nurtjahja, Kiki., Dwi Suryanto dan Lavarina Winda. 2006. Identifikasi Jenis dan Jumlah Bakteri Pada Pasien Mikosis Kulit vol.1, No 1, hlm.1-2 ISSN 1907-5537. Medan: Departemen Biologi, FMIPA Universitas Sumatera Utara Padmadisastra, Yudi dkk. 2007. Formulasi Sediaan Krim Antikeloidal yang Mengandung Ekstrak Terfasilitasi Panas Microwave dari Herba Pegagan (Centella asiatica (l.) urban). Cited 2010 September 30. Available at http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/06/makalah_formulasi _sed_salep_akeloidal_mic_oven_2007.pdf

30

Purushothamrao K, Khaliq K., Sagare P., Patil S. K., Kharat S. S., Alpana.K. 2010. Formulation and evaluation of vanishing cream for scalp psoriasis. Cited 2010 September 2010. Available at http://www.ijpst.com/files/IJPST-Vol-4,I-Art-3--2010.pdf Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2003. Handbook of Pharmaceutical Exipients. London: Pharmaceutical Press Tjay, T.H. 2007. Obat-obat Penting Edisi ke Enam. Jakarta: Elex Media Komputindo Voigt, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. UGM Press: Yogyakarta

31

LAMPIRAN

Etiket Kemasan Sediaan Krim

Kemasan Sekunder

32

Brosur

Fungikill
Netto 50 gram mengandung 3 gram asam salisilat

Komposisi : Dalam 30 gram mengandung Asam salisilat 3 gram Mekanisme kerja: Asam Salisilat diserap dengan cepat dari kulit terutama ketika diterapkan dalam linimenta berminyakatau salep. Sekitar 8090% dari salisilat dalam plasma terikat dengan protein terutama albumin, pada konsentasi klinis, proporsi dari total yang terikat menurun seiring dengan menigkatnya konsentrasi plasma. Indikasi:

33

Asam salisilat digunakan sebagai anti fungi, dermatofitosis dan mikosis pada kulit.