Anda di halaman 1dari 7

Lampiran 6 : DESKRIPSI PENELITIAN Judul penelitian: DINAMIKA INTERLEUKIN 8 DAN INTERLEUKIN 10

PADA RINOSINUSITIS KRONIS DI RS Dr WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR


Latar be a!an" Rinosinusitis merupakan penyakit inflamasi dan infeksi mukosa hidung dan sinus paranasal. Rinosinusitis dapat disebabkan karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi dapat disebabkan oleh fraktur dan tumor . Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak terobati secara tuntas. #Man"$n!$%$m&' S&et(ipt&')00*+ Rinosinusitis mempengaruhi sekitar 35 juta orang per tahun di merika dan jumlah yang mengunjugi rumah sakit mendekati !" juta orang #enurut National Ambulatory Medical Care Survey $% #&S', kurang lebih dilaporkan !( ) penderita de*asa mengalami rinosinusitis yang bersifat episode per tahunnya dan seperlimanya sebagian besar didiagnosis dengan pemberian antibiotik. +nsiden rinosinusitis pada penderita de*asa yang berkunjung di ,ivisi Rinologi ,epartemen -.- RS &ipto #angunkusumo, selama Januari/ gustus 0115 adalah (35 pasien. ,i #akassar sendiri, terutama di rumah sakit pendidikan selama tahun 0113/0112, terdapat (!,5) penderita rinosinusitis dari seluruh kasus ra*at inap di 3agian -.-. ,i #akassar, dari 3 rumah sakit pendidikan periode tahun 011340112 dilaporkan sebanyak !150 kunjungan atau (!,5 ) dari jumlah kunjungan kasus rinologi #Ra,mi' P$na"i )008+. Rinosinusitis kronik dapat mengakibatkan komplikasi serius karena letaknya yang berdekatan mata dan otak. Rinosinusitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat dan bermakna sehingga menjadi beban perekonomian masyarakat, oleh karenanya diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan #Ne- eri&n' 1...+ 6enatalaksanaan standar rinosinusitis kronis pada orang de*asa saat ini yang direkomendasikan oleh kelompok studi Rinologi 67R. -+489 meliputi pemberian antibiotik lini kedua seperti moksisilin : sam 8lavulanat, &efalosporin golongan kedua dan #akrolid. ,apat dikombinasikan dengan terapi tambahan berupa dekongestan oral, kortikosteroid oral atau topikal, mukolitik dan irigasi hidung. #S&et(ipt& D/ )00*+ Henri! H' 0a-&bi 1!! #1..8+' meneliti hubungan antara +94; pada air bilasan hidung dan aktivasi lokal dari eosinofil dan netrofil setelah tes provokasi pada pasien rinitis alergi. Setelah tes provokasi level eosinophil cationic protein (ECP) sebagai petanda eosinofil dan myeloperoksidase (MPO) sebagai marker neutrofil dibandingkan dengan kadar +94; pada air bilasan hidung. .asilnya menunjukkan terjadi peningkatan 7&6 dan #6< setelah tes provokasi dan bila dibandingkan dengan +9 ; pada air bilasan hidung, tidak terdapat hubungan antara eosinofil dan +9 ;, sebaliknya netrofil memiliki hubungan yang signifikan dengan +9 ;. .al ini sejalan dengan hipotesis sebelumnya bah*a +9 ; merupakan aktivasi kemokin yang menyebabkab pelepasan netrofil pada fase lambat reaksi alergi inflamasi.

6enelitian pada pasien rinosinusitis kronis dengan memeriksa sel epitel nasal pasien rinosinusitis dan dibandingkan dengan sel epitel dari konka inferior orang sehat dilakukan oleh 3obic S. ,idapatkan level +94; ternyata sama pada kedua kelompok tersebut dan pemberian deksametasone dapat menghambat pelepasan +9 ;. $2&bi- S' at a )010+ A11i P0' 1!! #)01)+, ,alam penelitian ini, produksi +9 !1 meningkat dalam hati tikus selama infeksi sampai pengobatan berakhir. ,engan tidak adanya +9 !1 pada tikus menunjukkan peningkatan sitokin proinflamasi dan jumlah sel mononuklear dan infiltrasi limfosit di hati selama infeksi, sehingga +9 !1 dapat menyebabkan kerusakan hati dan tidak terjadi pemberantasan virus. Jadi fungsi dari +94!1 ini memberikan perlindungan dari kerusakan karena adanya respon inflamasi yang disebabkan oleh sitomegalovirus. 6eningkatan jumlah infiltrasi sel inflamasi dan penurunan atau gangguan fungsi sel -reg. #eskipun tidak ada perbedaan dalam jumlah -reg yang diamati antara subyek &RS dengan polip hidung $&RS*%6' dan tanpa polip hidung $&RSs%6'. -ingkat lebih tinggi dari sitokin +94!1 dan -=>4! dan tingkat yang lebih rendah dari sitokin pro4inflamasi $-%> dan +94"' yang ditemukan pada subyek &RS dibandingkan dengan kontrol. $S,arma S' 1!!' )01)+ 6eneliti tentang profil biomarker hidung pada sinusitis akut dan kronik telah dilakukan oleh 9iu dkk. -erlepas dari manifestasi klinis, semua biomarker dinilai meningkat pada pasien rinosinusitis bila dibandingkan dengan kontrol. +ni juga berkorelasi positif dengan +94(, +94!1 dan +94!3, yang memainkan peran penting dalam resolusi infeksi. $Li$' at a ' )00.+ 6ada penelitian yang dilakukan oleh Savitri, 7, 0115, tentang ekspresi +9 ;. +9 !1, viral load 7bstein43arr sebagai indikator prognostik kanker nasofaring bah*a rasio +9 ; dan +9 !1 digunakan untuk menilai prognosti8 8%>. #Sa3itri' E' )00.+ Sobol S7, dkk $0115', melakukan penelitian untuk menentukan apakah pasien dengan cronic sinusitis $&S' memiliki sel radang dan sitokin yang berbeda dari pasien lainnya dengan cystic fibrosis $&>'. Jumlah yang lebih tinggi dari neutrofil, makrofag, dan sel4sel mengekspresikan mR% untuk +>%? dan +9 ; pada pasien dengan &> dibandingkan pada pasien dengan &S atau kontrol. Jumlah eosinofil dan sel mengekspresikan mR% untuk +9 (, +9 5, dan9 !1 lebih tinggi pada pasien dengan &S dibandingkan pada mereka dengan &> dan kontrol. $S&b& SE' at a ' )004+ ,alam penelitian lain, 8edua +9 ; dan +9 !1 yang terpengaruh oleh pengobatan, perbaikan klinis pada psoriasis dengan pengotan &alcipotrien didahului oleh peningkatan +9 !1 dan penurunan +9 ;, 6erubahan tingkat kedua sitokin memberikan bukti lebih lanjut untuk perubahan imunologi sebagai bagian penting dari mekanisme kerja calcipotriene pada psoriasis. #Kan"' S' 1..8+ Saat ini interleukin ;, banyak diaplikasikan pada berbagai subspesialis medik untuk diagnosis cepat atau sebagai alat prediksi prognosis suatu penyakit. amir Shah@ad dkk, menyimpulkan dari berbagai penelitian yang menunjukkan bah*a +9 ; bisa digunakan sebagai biomarker yang sangat berguna.

+nterleukin !1 merupakan sitokin yang menghambat presentasi antigen dan pro4inflamasi, diusulkan sebagai terapi anti4inflamasi pada penyakit. +9 !1 terlibat dalam pengaturan respon inflamasi dan kekebalan tubuh. 6enggunaan +9 !1 dan +9 !1 yang berhubungan dengan sitokin akan memberikan *a*asan baru pada pengobatan berbasis sel dan gen. 6enelitian4penelitian sebelumnya tentang peranan +94; dan +94!1 pada berbagai penyakit baik infeksi, non infeksi, alergi, tumor menunjukkan +l4; dan +94!1 bisa dijadikan penanda biologis. <leh karena ,dengan harapan hasil yang didapatkan nanti bisa membantu dalam penatalaksanaan rinosinusitis kronis, peneliti tertarik meneliti dengan judul 5DINAMIKA INTERLEUKIN 8 DAN INTERLEUKIN 10 PADA RINOSINUSITIS KRONIS DI RS Dr WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

R$m$%an ma%a a, 3erdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut pakah terdapat perubahan kadar interleukin ; dan +nterleukin !1 pada pasien rinosinusitis kronis selama menjalani terapi medikamentosa A. T$($an pene itian T$($an Um$m Bntuk melihat dinamika kadar interleukin ; dan interleukin !1 selama terapi medikamentosa pada pasien rinosinusitis kronis. T$($an K,$%$% !. #enghitung kadar +9 ; dan +9 !1 sebelum mendapat terapi pada pasien rinosinusitis kronis non alergi dan alergi 0. #enghitung kadar +9 ; dan +9 !1 setelah terapi ! minggu pada pasien rinosinusitis kronis non alergi dan alergi 3. #enghitung kadar +9 ; dan +9 !1 setelah terapi 0 minggu pada pasien rinosinusitis kronis non alergi dan alergi (. #embandingkan kadar +9 ; dan +9 !1 sebelum terapi antara pasien rinosinusitis kronis nonalergi dan alergi. 5. #embandingkan kadar +9 ; dan +9 !1 selama terapi antara pasien rinosinusitis kronis nonalergi dan alergi ". #embandingkan kadar +9 ; dan +9 !1 setelah terapi antara pasien rinosinusitis kronis nonalergi dan alergi 2. #elihat perubahan kadar +9 ; dan +9 !1 yang terjadi selama terapi 0 minggu pada pasien rinosinusitis kronis non alergi ;. #elihat perubahan kadar +9 ; dan +9 !1 yang terjadi selama terapi 0 minggu pada pasien rinosinusitis kronis alergi.

Man6aat Pene itian !. ,alam bidang pelayanan kesehatan, dengan mengetahui adanya perubahan kadar +9 ; dan +9 !1 selama terapi medikamentosa pada pasien rinosinusinitis kronis dapat diketahui lama terapi medikamentosa yang efektif dan efisien. 0. ,alam bidang akademik dapat menambah pengetahuan tentang perubahan +9 ; dan +9 !1 selama terapi medikamentosa pada pasien rinosinusitis kronis, 3. ,apat menjadi bahan acuan selanjutnya untuk penelitian tentang sitokin pada pasien rinosinusitis kronis

0eni% 1an 1e%ain pene itian: ,esain penelitian yang digunakan adalah study kohort prospektif

Sampel penelitian
Sampel penelitian adalah seluruh populasi yang memenuhi kriteria penelitian. Subjek penelitian diperoleh berdasarkan urutan masuknya di poliklinik (consecutive samplin )! Tempat 1an Wa!t$ Pene itian 6enelitian ini dilakukan di bagian -.- RS Cahidin Sudirohusodo, #akassar . dan di laboatorium RS 6endidikan Bnhas. 6enelitian ini dilakukan mulai bulan #ei 01!3 hingga <ktober 01!3.

Sampe Pene itian 1an 7ara Pen"ambi an Sampe Sampel penelitian ini adalah populasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian. Jumlah sampel ditetapkan dengan rumus : n! D n 0 D 0 $$ Ea : Eb'S,'0 F G!4G0'0 Pr&%e1$r Pene itian S8arat in! $%i %ampe a. 6enderita Rinosinusiitis 8ronis b. 6asien berusia !1 tahun keatas c. 6asien bersedia ikut penelitian dan memberikan persetujuan secara tertulis (informed Consent) dan menanda4tangani surat persetujuan tindakan medis.

d. -idak sedang minum obat kortikosteroid minimal selama terakhir e. -idak dibatasi ras,suku dan jenis kelamin. S8arat e!%! $%i %ampe a. 6enderita sedang menggunakan obat kortikosteroid. b. #enderita polip atau tumor sinonasal 8riteria 6engunduran diri : a.

! minggu

Sampel tidak mengikuti prosedur tes alergi $bagi yang diduga alergi'

b. Sampel tidak mengikuti prosedur bilasan hidung samapi lengkap $3H' Per%iapan 6enelusuran kepustakaan Survey pendahuluan Pr&%e1$r Pen"ambi an Sampe !. #elakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis pasien rinosinusitis kronis 0. 6enderita rinosinusitisitis kronis yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan sebagai sampel dalam penelitian ini dan pasien diberi penjelasan $informed consent) serta memberi persetujuan bersedia ikut dalam penelitian. 3. #elakukan pemeriksaan skin prick tes pada pasien rinitis kronis untuk menentukan pasien rinitis alergi atau nonalergi (. #engambil air bilasan hidung pasien rinosinusitis kronis sebelum terapi ' satu minggu selama terapi, dan setelah terapi selesai. 6engambilan air bilasan hidung sebanyak 3 kali karena akan melihat dinamika kadar +9 ; dan +9 !1 selama terapi. 6rosedur ini tidak akan mengganggu karena prosedur bilasan hidung bagian dari terapi.dan dilakukan setiap pasien dating controlFlanjut obat. 5. &ara pengambilan air bilasan hidung I posisikan pasien pada posisi yang nyaman di depan bakF*adah penampung, &ondongkan kepala agak kedepan ba*ah, tempatkan spoit berisi larutan %a&l tepat didepan nostril. 3erikan tekanan lembut pada spoit sehingga air bilasan keluar dari nostril sisi sebelah. ". ir bilasan ini kemudian di periksa di laboratorium RS6 lantai " dengan pemeriksaan metode 79+S Pen"$mp$ an Data ,ata4data dari hasil anamnesis, pemeriksaan tes alergi dan hasil laboratorium $air bilasan hidung' dicatat dan ditabulasi. Ana i%a Data ,ata yang terkumpul diolah dengan program SPSS for "indo"s. ,ata disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Bji hipotesis dilakukan dengan uji yang sesuai berdasarkan skala ukur dan tujuan penelitian.

S!ema Pr&%e1$r Pene itian

Anamsesis Pemeriksaan fisis C% Scan

R+%<S+%BS+-+S 8R<%+S

Informed Concent

Skin prick test

Rinosinusitis kronis alergi

Rinosinusitis kronis non alergi

Air bilasan hidun

Sebelum terapi 1 minggu terapi 2 minggu selesai terapi

IL-8 IL-10

#etode E#$SA

IL-8 IL-10

nalisa ,ata

6erkiraan *aktu penelitian yang diperlukan untuk satu subyek: anamnesis dan pemeriksaan fisis -.- selama !5 menit, +nformed consent !1 menit, pemeriksaanFtes alergi 01 menit, bilasFdrainage hidung !5 menit, penjelasan hasil pemeriksaan !1 menit. Caktu penelitian: dilakukan mulai bulan Juli 01!3 / ,esember 01!3

.ubungan antara peneliti dengan subyek : tidak ada 6emberian informasi secara perorangan 8eamanan dan 8erahasiaan data +dentitas dari subyek penelitian akan ditulis dengan inisial. 3ila data akan dipublikasikan identitas tidak ditampilkan atau disamarkan sehingga kerahasiaan tetap akan dijaga. Semua data baik dalam bentuk soft maupun hard copies disimpan dengan aman yang hanya bisa dibuka oleh peneliti dan 8768. 8erahasiaan data pribadi subyek juga tetap dijaga baik pada saat penelitian maupun pada saat pelaporan hasil penelitian. spek 7tik !. 6enelitian ini bersifat sukarela dan memeriksa untuk melihat ada tidaknya kelainan. Subyek berhak menolak ikut serta atau menja*ab pertanyaan tanpa resiko kehilangan hak pelayanan kesehatan yang harus diterima. #engundurkan diri dari penelitian tanpa resiko kehilangan hak pelayanan kesehatan yang harus diterima. 0. 6enelitian ini dilakukan pemeriksaan -.- serta pemeriksaanFtes alergi dan pengambilan air bilasan hidung dan pemeriksaan laboratorium di mana hasilnya akan dijelaskan. ,ata yang kami peroleh dari penelitian ini akan bermanfaat untuk mengetahui dinamika interleukin ; pada rinosinusitis kronis sehingga tindakan terapi yang dilakukan cepat dan tepat. 3. -es alergi dan bilasanFdrainage hidung ini tidak mempunyai efek samping yang berbahaya. Semua pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan yang biasa dilakukan bidang -.- dan tidak diketahui adanya bahaya sehubungan dengan prosedur pemeriksaan. (. Semua biaya pemeriksaan adalah tanggungan kami sepenuhnya serta hasil pemeriksaan yang didapatkan akan kami jamin kerahasiaannya.

Anda mungkin juga menyukai