Anda di halaman 1dari 3

1.

Hukum udara adalah seluruh norma-norma hukum yang khusus mengenai penerbangan , pesawat-pesawat terbang dan ruang udara dalam peranannya sebagai unsur yang perlu bagi penerbangan (otto riese dan jean T. Lacour). Hukum udara dapat ditafsirkan sebagai segala peraturan hukum yang mengatur obyek tertentu, yaitu udara. Dengan tafsiran ini maka pengertian hukum udara akan menjadi sangat luas, karena akan meliputi hukum public nasional dan internasional mengenai udara. (http://terusmaju-asthok.blogspot.com/2013/09/hukum-internasional-hukum-udaradan.html yang diakses pada tanggal 25 September jam 8.30)

Hukum Angkasa adalah keseluruhan ketentuan-ketentuan atau norma-norma yang berlaku di ruang angkasa dan memiliki prinsip bebas untuk pemanfaatan dan eksplorasi di ruang angkasa. (http://rephoyt.blogspot.com/2011/09/hukum-angkasa-sebuah-pengertian.html yang diakses pada tanggal 25 September jam 8.30)

Perbedaan Hukum Udara dengan Hukum Angkasa : Hukum Udara Hukum Udara, yaitu hukum yang meliputi : - Ruang yang ada partikel udaranya. - Selama pesawat udara bisa terbang oleh karena gaya angkat dari udara. Ruang Udara itu berada di kedaulatan negara tertentu

Hukum Angkasa Ruang Angkasa, meliputi : - Ruang hampa udara. - Mengatur kegiatan manusia di ruang angkasa. Ruang Angkasa tidak berada di kedaulatan negara tertentu.

(http://hairunisamanda.blogspot.com/2010/12/tugas-mata-kuliah-hukum-udara-nasional.html
yang diakses pada tanggal 25 September jam 8.30)

Persamaan Hukum Udara dan Hukum Angkasa yaitu merupakan salah satu cabang hukum internasional.
(http://sumber-informasi-kita.blogspot.com/2013/01/contoh-makalah-hukum-udara-danangkasa.html yang diakses pada tanggal 25 September jam 9.23)

Kita tidak boleh mempelajari Hukum angkasa saja, karena..

2. Sumber hukum udara Nasional dan Internasional Multilateral Convention/ perjanjian international Chicago convention 1944 hampir semua Negara ikut Tokyo convention 1963 mengatur mengenai kejahatan di pesawat udara.

Bilateral Agreement/ persetujuan bilateral Non schedule flight yang bisa dimintakan ijin langsung. Schedule flight : membuat bilateral agreement dengan negara-negara yang akan dilewati. Ada beberapa kebebasan berkenaan dengan bilateral agreement ini, misal : Fly over = hanya melintas lewat. Boleh menurunkan penumpang/ kargo tapi tidak boleh menaikkan penumpang / kargo. Turun/mendarat hanya untuk mengisi bahan bakar. UU No. 15 tahun 1992 tentang Penerbangan (Angkutan Udara). Undangundang ini merupakan ratifikasi perjanjian internasional tentang hukum udara. Mengatur mengenai asuransi, tanggung jawab pengangkut (misalkan jika seseorang terluka akibat fasilitas yang tidak layak dari suatu penerbangan, maka ia bisa menuntut).

National law masing-masing negara. Contracts between States & Airlines Companies (kontrak antar Negara dengan perusahaan penerbangan). Contracts between Airlines Company, misal : PT Garuda Indonesia masuk aliansi perusahaan penerbangan lalu membuat kebijakan-kebijakan, seperti frequent flier,

yaitu jika dalam satu (1) bulan melakukan beberapa kali penerbangan maka akan dapat bonus, seperti reservasi yang bisa didahulukan. General Principle of International Law (prinsip-prinsip Umum Hukum Internasional). Air pollution (polusi udara) diluar ruang lingkup hukum udara tapi diatur dalam konvensi-konvensi lingkungan hidup. (dari pdf bukan link)

Sumber Hukum Angkasa Setelah terbentuk dan berlakunya Outer Space Treaty 1967, terbentuk pula beberapa perjanjian lainnya yang mengatur ruang angkasa, antara lain (i) Perjanjian yang mengatur tentang pertolongan terhadap astronot dan pesawat antariksa (Rescue Agreement 1968), (ii) Perjanjian yang mengatur tentang tanggung jawab Negara terhadap kegiatannya di ruang angkasa (Liability Convention 1972), (iii) Perjanjian tentang pendaftaran pesawat angkasa yang diluncurkan ke ruang angkasa (Registration Covention 1975), (iv) Perjanjian tentang pengaturan bulan (Moon Agreement 1980). Seiring dengan perkembangan teknologi ruang angkasa, maka terbentuk pula beberapa perjanjian lainnya yang mengatur tentang pemanfaatan ruang angkasa, khususnya untuk telekomunikasi dan penginderaan melalui satelit. Perjanjianperjanjian tersebut telah secara lengkap disebutkan dalam pembahasan tentang sumber-sumber hukum angkasa. (http://akbarkurnia.blogspot.com/2011/06/hukum-udara-dan-angkasa-internasional.html
yang diakses pada tanggal 25 September jam 9.40)

3. The judge went on to say, In my view, air and space are not susceptible of ownership and fall in the category of res omnium communis (space as the common heritage of mankind), which does not mean that the owner of the soil is deprived of the right of using his land for plantations and constructions or in any way which is not prohibited by law or against the public interest. (http://www.hba.org.my/articles/bhag_singh/page02/owning.htm)