Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

PEMBAHASAN

IV.1. Mekanisme Kerja Hormon Insulin di dalam Tubuh


Mekanisme kerja dari hormon insulin dimulai ketika hormon insulin terdapat di suatu reseptor glikoprotein yang spesifik pada permukaan sel sasaran. Efek dari hormon insulin yang sangat beragam yang dapat terjadi dalam waktu beberapa detik atau beberapa menit (pengangkutan, fosforilasi protein, aktivasi dan inhibisi enzim, sintesis RNA) atau sesudah beberapa jam (sintesis protein serta DNA dan pertumbuhan sel). (1) Ada suatu konsep yang menarik bahwa hormon insulin mempunyai kerja tunggal yang mendasari semua efek yang berbeda atas metabolisme dari semua bahan dasar pangan. Akan tetapi sebelum hormon insulin dapat bekerja, hormon insulin harus mengikat reseptor hormon insulin yang ada di dalam membran sel dahulu sebelumnya.
(2)

Reseptor hormon insulin adalah suatu protein kompleks dengan berat molekul sekitar 340.000. reseptor hormon insulin dapat dijumpai di berbagai jenis sel yang berada di dalam tubuh, termasuk sel di mana insulin tidak menyebabkan peningkatan ambilan glukosa di dalam tubuh. Reseptor tersebut adalah suatu tetramer dari subunit glikoprotein 2 dan 2 , yang semuanya disintesis pada satu mRNA dan kemudian mengalami pemisahan secara proteolitis lalu berikatan satu sama lain dengan ikatan disulfida.
(3)

Sewaktu hormon insulin berikatan dengan reseptor hormon insulin, hormon insulin menggumpal dalam bercak dan dimakan oleh sel melalui proses endositosis yang diperantarai reseptor. Kemudian, suatu kompleks hormon insulin dengan reseptor masuk ke dalam lisosom, di mana reseptor diperkirakan terurai atau didaur ulang.
(3)

Jumlah atau afinitas dari reseptor hormon insulin, dipengaruhi oleh hormon insulin itu sendiri dan hormon lainnya, olah raga, makan dan faktor lain. Pajanan ke hormon insulin dalam jumlah yang meningkat akan menurunkan konsentrasi reseptor, dan pajanan ke hormon insulin dalam jumlah menurun akan meningkatkan afinitas reseptor. Jumlah reseptor per sel meningkat pada saat manusia sedang puasa atau pada saat kelaparan dan menurun pada saat obesitas atau akromegali. Afinitas reseptor meningkat pada insufisiensi adrenal dan menurun karena kelebihan glukokortikoid. (3)

IV.2. Efek Hormon Insulin terhadap Proses Pemecahan Glukosa Darah dalam Tubuh
Hormon insulin memiliki efek penting pada metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Hormon insulin menurunkan kadar glukosa darah, asam lemak, dan asam amino darah serta mendorong penyimpanan bahan tersebut. Sewaktu molekul nutrien ini masuk ke dalam darah selama keadaan absortif, hormon insulin mendorong penyerapan bahan ini oleh sel dan pengubahannya menjadi glikogen, trigliserida, dan protein. Hormon insulin melaksanakan banyak fungsinya dengan mempengaruhi transpor nutrien darah spesifik masuk ke dalam sel atau mengubah aktifitas enzim yang berperan dalam jalur metabolik tertentu. (4) Setelah karbohidrat masuk ke dalam tubuh, glukosa yang diabsorbir ke dalam darah menyebabkan sekresi hormon insulin yang cepat. Sebaliknya, hormon insulin menyebabkan pengambilan, penyimpanan dan penggunaan glukosa yang cepat oleh hampir semua jaringan tubuh, terutama oleh hepar, otot dan jaringan lemak.
(5)

Proses penguraian glukosa menjadi piruvat, alkohol, laktat atau karbon dioksida dan air dapat berlangsung melalui beberapa jalan metabolisme, tergantung dari keadaan lingkungan, keadaan dalam sel, atau dari jenis jasadnya. Satu jenis jasad hidup dapat melakukan satu atau lebih jalur metabolisme penguraian glukosa tergantung pada diperlukan atau tidaknya proses penguraian glukosa tersebut.
(6)

Transpor glukosa melalui membran sel tidak terjadi melawan gradien konsentrasi. Yaitu, sekali konsentrasi glukosa di dalam sel meningkat sampai setinggi konsentrasi glukosa di bagian luar, glukosa tidak akan ditranspor ke dalam sel. Oleh karena itu, proses transpor glukosa merupakan difusi yang dipermudah, yang berarti dengan mudah glukosa berdifusi melalui membran dengan cara dipermudah dengan mekanisme reseptor. Hormon insulin meningkatkan transpor glukosa ke dalam sel dengan merangsang proses yang dipermudah ini. Pada keadaan dimana hormon insulin tidak ada sama sekali, mekanisme reseptor bekerja sangat buruk sekali, sedangkan pada keadaan dimana hormon insulin ada mekanisme ini dapat meningkat beberapa kali. Hormon insulin meningkatkan transpor glukosa dalam beberapa detik sampai beberapa menit, menunjukkan kerja langsung hormon insulin pada membran sel. (5) Memelihara homeostatis glukosa darah merupakan salah satu fungsi penting dari pankreas. Konsentrasi glukosa dalam darah ditentukan oleh keseimbangan antara proses berikut ini (Gambar IV.1): penyerapan glukosa dari saluran cerna, pemindahan glukosa ke dalam sel, produksi glukosa oleh hepar, dan secara abnormal melalui ekskresi glukosa di urin. (4)

Gambar IV.1. Faktor yang mempengaruhi konsentrasi glukosa darah (4)

Hormon insulin memiliki empat efek yang menurunkan kadar glukosa darah dan mendorong penyimpanan karbohidrat: IV.2.a. Hormon insulin mempermudah transpor glukosa ke dalam sebagian besar sel. Molekul glukosa tidak mudah menembus membran sel tanpa adanya hormon insulin. Hormon insulin meningkatkan mekanisme difusi terfasilitasi glukosa ke dalam sel tergantung hormon insulin melalui fenomena transporter recruitment. Glukosa dapat masuk ke dalam sel hanya melalui pembawa di membran plasma yang dikenal sebagai glukosa transporter. Beberapa jaringan tidak tergantung hormon insulin, yaitu otak, otot yang aktif, dan hepar. Hormon insulin meningkatkan metabolisme glukosa di hepar dengan merangsang langkah pertama metabolisme yaitu fosforilasi glukosa menjadi glukosa 6 fosfat. Fosforilase glukosa pada saat molekul ini memasuki sel menyebabkan konsentrasi

intrasel glukosa tetap rendah sehingga terdapat gradien konsentrasi yang mempermudah difusi terfasilitasi glukosa kedalam sel. (7) IV.2.b. Hormon insulin merangsang proses glikogenesis, pembentukan glikogen dari glukosa baik di otot maupun di hepar. (7) IV.2.c. Hormon insulin menghambat glikogenolisis, penguraian glikogen menjadi glukosa. Dengan menghambat penguraian glikogen, hormon insulin meningkatkan penyimpanan karbohidrat dan menurunkan penguraian glukosa oleh hepar. (7) IV.2.d. Hormon insulin menurunkan pengeluaran glukosa oleh hepar dengan cara menghambat glukoneogenesis,perubahan asam amino menjadi glukosa di hepar, dengan cara menurunkan asam amino didalam darah dan menghambat enzim pembentukan glukoneogenesis.(7) Oleh karena itu, hormon insulin mengurangi konsentrasi glukosa darah dengan mendorong penyerapan glukosa oleh sel dari darah untuk digunakan dan disimpan, dan secara bersamaan menghambat dua mekanisme pembebasan glukosa oleh hepar ke dalam darah (glikogenolisis dan glukoneogenesis). Hormon insulin adalah hormone satu-satunya hormone yang ada di dalam tubuh yang mampu menurunkan kadar glukosa darah. Hormon insulin mendorong penyerapan glukosa oleh sebagian besar sel melalui rekruitmen pengangkut glukosa. (4)

IV.2.1. Efek hipoglikemik dari hormon insulin Glukosa masuk ke dalam semua sel melalui difusi fasilitasi, tetapi dalam otot, lemak dan berbagai jaringan lainnya, hormon insulin memudahkan

masuknya glukosa ke dalam sel dengan meningkatkan jumlah transporter glukosa di membran sel. Dalam beberapa jaringan, kecepatan fosforilasi glukosa setelah masuk ke dalam sel akan diatur oleh hormon lain. Hormon pertumbuhan dan kortisol menghambat fosforilasi dalam jaringan tertentu. Tetapi proses fosforilasi glukosa secara fisiologis yang terjadi sangat cepat sehingga menjadi langkah yang membatasi kecepatan reaksi pada metabolisme glukosa jika kecepatan masuknya glukosa ke dalam tubuh cukup banyak. (3) IV.2.2. Efek hiperglikemik dari hormon insulin Hiperglikemia dapat menimbulkan gejala yang terjadi akibat hiperosmolalitas darah. Selain itu, terjadi glikosuria karena kapasitas ginjal menyerap kembali glukosa sudah melebihi kapasitas. Ekskresi molekul glukosa yang aktif secara osmotis menyebabkan hilangnya sejumlah besar air. Dehidrasi yang terjadi mengaktifkan mekanisme yang mengatur asupan air sehingga menimbulkan polydipsia. Sehingga terjadi pengeluaran Na+ dan K+ melalui urin yang cukup banyak. Untuk setiap gram glukosa yang dikeluarkan, tubuh kehilangan 4,1 kkal. Peningkatan asupan kalori untuk menutupi pengeluaran ini akan menyebabkan peningkatan glukosa plasma lebih lanjut dan memperparah glikosuria, sehingga mobilisasi protein endogen, simpanan lemak dan penurunan berat badan tidak terhambat. (3)

IV.2.3. Efek hormon insulin terhadap produksi glukosa Kerja hormon insulin terhadap pengangkutan glukosa, proses glikolisis dan proses glikogenesis terjadi dalam waktu beberapa detik atau beberapa menit, karena semua proses ini melibatkan aktivasi atau inaktivasi enzim lewat reaksi fosforilasi atau defosforilasi. Efek yang berlangsung lebih lama terhadap glukosa plasma meliputi inhibisi glukoneogenesis oleh hormon insulin. Pembentukan glukosa dari prekursor nonkarbohidrat melibatkan serangkaian tahap enzimatik yang banyak diantaranya dirangsang oleh glukagon, oleh hormon glukokortikoid. (1) IV.2.4. Efek hormon insulin terhadap penggunaan glukosa, cadangan gliko glikogen pada jaringan ekstrahepatik Tanpa adanya hormon insulin sebagian besar jaringan tubuh (selain otak) harus bergantung pada substrat metabolik lain untuk energinya. Sebaliknya, dengan adanya hormon insulin yang berlebihan, glukosa yang masuk ke dalam sel sangat banyak sekali. Akan tetapi, jumlah glukosa yang digunakan untuk energi ditentukan oleh faktor lain. Misalnya, oleh kecepatan dimana ADP (Adenosine Diphospat) tersedia untuk menerima energi. Kelebihan glukosa (melebihi yang digunakan untuk energi) disimpan dalam sel dalam dua bentuk, yaitu glikogen atau lemak.(8) Bila terdapat kelebihan hormon insulin dan glukosa, cadangan glikogen dalam otot rangka akan meningkat. Itu juga diikuti dengan peningkatan cadangan glikogen dalam kulit, kelenjar dan beberapa jaringan lainnya. Meningkatnya cadangan glikogen ini akibat dari beberapa efek, yaitu:

IV.2.4.1. Banyaknya glukosa yang masuk ke dalam sel. (8) IV.2.4.2.Penghambatan beberapa enzim glikolitik, yang

memperlambat penggunaaan glukosa dalam lintasan proses glikolisis. Hal ini diakibatkan oleh penghambatan fosfofruktokinase oleh ion sitrat dan ATP (Adenosine Triphospat), kedua zatttersebut terdapat banyak dalam sel bila terdapat pasokan energi yang berlebihan pada sel.(8) IV.2.4.3. Pengaktifan glikogen sintetase yaitu suatu enzim yang dibutuhkan untuk sintesis glikogen.(8) IV.2.4.4. Inaktivasi fosforilase yaitu suatu enzim yang dibutuhkan untuk pemecahan glikogen.(8) IV.2.5. Efek hormon insulin pada metabolisme glukosa dalam hepar Hepar memegang banyak peranan khusus dalam metabolisme glukosa, tetapi ada dua hal yang paling penting yaitu: IV.2.5.1. Bila konsentrasi glukosa darah berlebih di dalam tubuh,dengan bantuan dari hormon insulin hepar mengambil glukosa dari darah dalam jumlah yang besar.(8) IV.2.5.2. Sedangkan bila konsentrasi glukosa darah dalam tubuh berkurang, hepar akan memberikan glukosa kembali ke dalam darah.(8)

Jadi, hepar berperan sebagai pengontrol konsentrasi glukosa dalam darah yang sangat penting karena membantu mempertahankan konsentrasi glukosa darah dari peningkatan yang terlalu tinggi atau dari penurunan yang terlalu rendah.(8) IV.3. Pengambilan Glukosa oleh Hepar Bila konsentrasi glukosa dalam darah berlebihan maka glukosa darah dalam jumlah yang sangat besar akan diiambil oleh hepar. Akan tetapi, mekanisme efek hormon insulin pada sel hhepar berbeda dengan sel yang lainnya karena ormon insulin tidak meningkatkan transpor glukosa melalui membran sel hepar. Sebenarnya, membran sel hepar sangat permiabel terhadap difusi glukosa. Sebaliknya, peningkatan pengambilan glukosa akibat dari fungsi enzim khusus glukokinase di dalam sel hepar yang tidak terdapat pada sel yang lainnnya. Enzim glukokinase menyebabkan fosforilasi glukosa yang membuat glukosa di dalam sel hepar tidak bisa keluar. Intinya sekali masuk ke dalam sel hepar glukosa tersebut tidak akan bisa keluar lagi melalui membran.(8) Hormon insulin mempunyai efek khusus meningkatkan konsentrasi glukokinase dalam sel hepar beberapa kali, peningkatan dimulai dalam 1 jam sampai 2 jam dan menjadi maksimal 12 jam kemudian atau lebih, maka pengambilan glukosa terus meningkat.(8)

Pada saat yang sama dimana terdapat peningkatan glukosa dalam sel hepar, pada hakekatnya terdapat pengaktifan pada semua sistem intrahepatik untuk penggunaan

glukosa dan peningkatan jumlah sel dan peningkatan jumlah setelah beberapa jam. Khususnya yang paling penting adalah peningkatan enzim glukokinase, yang menyebabkan hepar menggunakan glukosa untuk mensuplai energi untuk mengurangi penggunaan lemak dan protein untuk energi. Selain itu, konsentrasi glukosa darah dalam jumlah besar diendapkan sebagai glikogen serta diubah menjadi lemak.(8) Dengan adanya hormon insulin, glikogen dalam jumlah besar akan diendapkan di dalam hepar. Pengendapan glikogen ini adalah akibat dari dua perubahan pada enzim sel. Yang pertama, peningkatan glikogen sintetase yang menyebabkan sintesis glikogen. Dan yang kedua, pengurangan fosforilase, yang menyebabkan pemecahan glikogen. Jadi, hormon yang dibentuk lebih banyak dan lebih sedikit yang dipecahkan. Bila jumlah glikogen cadangan 5% sampai 6% dari massa hepar, glikogen kemudian akan menghambat enzim glikogen sintetase sehingga tidak ada glikogen yang diendapkan lagi. Kemudian kelebihan glukosa yang tersisa akan seluruhnya diubah menjadi lemak. (8) Pembentukan lemak ada dibawah pengaru hormon insulin bila terdapat glukosa yang berlebihan dalam darah, sebagian besar glukosa yang masuk tubuh diubah oleh sel hepar menjadi lemak. Hal ini dikarenakan akibat dari tiga efek.

Yang pertama, kelebihan asetil-KoA yang dibentuk pada sel hepar sebagai hasil akhir proses glikolisis. Yang kedua, kelebihan ion sitrat yang terbentuk oleh siklus asam sitrat bila asetil-KoA berlebihan masuk siklus ini (ion ini mempunyaik efek

langsung mengaktifkan asetil-KoA karboksilase, enzim yang dibutuhkan untuk memulai stadium pertama lipogenesis. Dan yang terakhir, terbentuk -gliserofosfat dalam jumlah besar yang menyediakan inti gliserol yang dibutuhkan untuk berikatan dengan asam lemak selama pembentukan trigliserida. Pada manusia, hepar merupakan sumber dari sebagian besar lemak yang disimpan dalam jaringan adiposa.(8) Proses mempertahankan kadar glukosa darah yang stabil di dalam darah merupakan suatu mekanisme homeostatis yang diatur paling halus dan juga menjadi salah satu mekanisme dimana hepar, jaringan ekstrahepatik serta beberapa hormon turut mengambil bagian. Sel hepar terlihat dapat dilewati glukosa dengan bebas, sedangkan sel lainnya pada jaringan ekstrahepatik relatif tidak permiabel. Akibatnya, perlintasan lewat membrane sel menjadi tahapan pembatas kecepatan dalam proses pengambilan glukosa di dalam jaringan ekstrahepatik, dan glukosa mengalami fosforilasi dengan cepat oleh enzim heksokinase pada saat masuk ke dalam sel. Sebaliknya, aktivitas dari beberapa enzim tertentu dan konsentrasi beberapa senyawa yang penting mungkin memberikan pengaruh yang jauh lebih cepat dibandingkan pengambilan atau

pengeluaran glukosa oleh hepar. Walaupun begitu, konsentrasi glukosa di dalam darah merupakan faktor yang sangat penting untuk mengendalikan kecepatan pengambilan glukosa baik di dalam hepar maupun jaringan ekstrahepatik. (1) Enzim glukokinase merupakan enzim yang sangat penting untuk pengaturan glukosa darah sesudah makan. Sedangkan hormon insulin mempunyai peranan

pokok dalam pengaturan glukosa darah, Di samping pengaruh langsung hiperglikemia dalam hepar maupun jaringan perifer, hormon insulin juga mempunyai peranan pokok dalam pengaturan kadar glukosa darah. Kadar hormon insulin di dalam darah harus seimbang dengan kadar glukosa di dalam darah. Secara tidak langsung hormon insulin meningkatkan pengambilan glukosa oleh hepar sebagai hasil kerjanya terhadap enzim yang mengendalikan proses glikolisis dan proses glikogenesis.(1) Ringkasnya, hormon insulin sangat penting untuk transpor glukosa ke dalam sel bagian jaringan tubuh. Pengecualian adalah otak karena transpor glukosa pada otak mungkin lebih tergantung pada difusi sederhana melalui pembuluh darah di otak.(8)

DAFTAR PUSTAKA

1. Murray R K, et.al. 1995. Biokimia Harper. Edisi 22. Alih Bahasa: Andry H. EGC. Jakarta. Hal: 225-655. 2. Ganong W F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 14. Alih Bahasa: Petrus Andrianto. EGC. Jakarta. Hal: 324.

3. Ganong W F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. Alih Bahasa: M. Djauhari Widjajakusumah, dkk. EGC. Jakarta. Hal: 331-336. 4. Sherwood L. 2011. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi 6. Alih Bahasa: Brahm U P. EGC. Jakarta. Hal: 781. 5. Guyton A C. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Edisi 3. Alih Bahasa: Petrus Andrianto. EGC. Jakarta. Hal: 699-701. 6. Wirahadikusumah M. 1985. Biokimia: Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid. Penerbit ITB. Bandung. Hal: 35. 7. Putri R, dkk. 2012. Diabetes Mellitus.
http://www.scribd.com/doc/87693452/SKENARIO-1-B6. Diakses tanggal 21

Feb 2013. Pukul 07.31 WIB. 8. Guyton, A C. 1983. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Alih Bahasa: Adji Dharma dan P.lukmanto. EGC. Jakarta. Hal: 489-490.