Anda di halaman 1dari 6

Pergulatan Politik Koalisi

Kontroversi tentang rencana pergantian menteri dalam jajaran kabinet Indonesia Bersatu Jilid II di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terjawab sudah lewat penjelasan SBY pada 10 Maret 2011 lalu. Walaupun sebetulnya masalah reshuffle kabinet memang merupakan hak prerogatif presiden, tapi dengan melihat kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini terutama dengan munculnya berbagai masalah mulai dari kemiskinan dan pengangguran, aksi terorisme, kasus narkoba yang beredar baik di luar maupun dalam lingkungan lapas, masalah kerusuhan yang bernuansa SARA, maraknya unjuk rasa yang dilakukan oleh kaum pekerja karena merasa tidak mendapat upah dengan wajar dan proporsional, tindak kekerasan terhadap TKI/TKW yang hampir tidak kunjung reda, kasus penggusuran bangunan secara paksa oleh aparat pemerintah dengan dengan alasan untuk pelebaran jalan dan penataan kebersihan lingkungan, masalah skandal Bank Century dan angket mafia pajak serta setumpuk lagi persoalan lain yang berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM yang sampai sekarang masih terus menggantung dan tidak jelas penyelesaiannya. Nampaknya, ada suatu anggapan umum yang berkembang kalau bongkar pasang menteri akan mengatasi semua persoalan yang ada. Padahal, sesungguhnya strategi seperti itu bukanlah satu-satunya solusi yang dapat memecahkan masalah. Sebab faktanya, sekalipun terjadi reshuffle (perombakan) di sana sini susunan kabinet namun nasib rakyat kecil sepertinya tetap juga tidak banyak mengalami perubahan. Meskipun begitu, banyak orang yang kemudian mengaitkan antara reshuffle kabinet dengan timbulnya pergulatan kepentingan di antara parpol setgab koalisi yang ramai diwacanakan belakangan ini. Sebagaiman diketahui, terbentuknya sekber/setgab koalisi parpol diawali di saat SBY bertemu dengan sejumlah tokoh partai mitra koalisinya di Puri Cikeas pada 6 Mei 2010 yang mana kehadiran forum ini telah mengundang sejumlah tanggapan pro kontra di tengah masyarakat. Umpamanya, ada yang melihat keberadaan setgab koalisi diharapkan dapat membuat suatu kebijakan yang pro terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat selain mengurangi potensi konflik antara lembaga legislatif dengan eksekutif sehingga proses pemerintahan dapat berjalan secara efektif. Namun, tidak sedikit pula di antara mereka justru memandang kalau keberadaan wadah ini sebagai media yang dapat membentengi program dan misi pemerintah terhadap serangan kritik kelompok kaum oposisi. Entah pandanagan mana yang paling benar, tapi jelasnya munculnya perbedaan persepsi di kalangan 6 parpol setgab koalisi (Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PPP, dan PKB)

menyebabkan SBY beberapa waktu lalu merasa perlu untuk menata ulang format koalisi lantaran mereka yang kontra terhadap kebijakan pemerintah dianggap melanggar code of conduct yang tertuang dalam 11 butir kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya oleh para ketua umum parpol koalisi. Sebetulnya, apa yang diperjuangkan oleh parpol koalisi (Golkar, PKS, dan PPP) dalam mengawal pansus angket skandal Bank Century pada tanggal 3 Maret 2010 dan usulan hak angket mafia pajak (Golkae dan PKS) di DPR pada 22 Februari 2011 sepatutnya mendapat apresiasi publik. Masalahnya, dua kasus besar ini sudah banyak menggerogoti uang hasil keringat rakyat sehingga tanpa adanya keseriusan dalam menanganinya akan berdampak pada tergerusnya kepercayaan masyarakat terhadap elite politik. Terlebih lagi, untuk kasus Century misalnya telah didukung oleh laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan yang menyebut adanya sejumlah rekayasa proses, potensi korupsi dan ketiadaan dasar hukum dalam penggunaan dana talangan Bank Century. Dan ini, hampir senada dengan pendapat sebanyak 325 wakil rakyat yang memilih opsi C dalam pansus angket Century yang menyatakan bahwa kebijakan pemerintah FPJP (Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek), PMS (Penyertaan Modal Sementara), akuisisi merger serta tahap aliran dana yang menyebabkan bailout Century dinilai bermasalah dengan melibatkan pejabat otoritas moneter dan fikal. Hanya sayangnya, justru sikap kritis parpol koalisi seperti Golkar dan PKS yang berseberangan dengan pandangan partai pemerintah dalam menyikapi usulan angket mafia pajak rupanya menjadi pemicu ketidak harmonisan hubungan diantara parpol koalisi meski akhirnya Golkat tetap bertahan dalam parpol koalisi setelah sebelumnya terjadi komunikasi politik antara SBY dan Aburizal Bakri. Tapi walaupun begitu, tentu pertanyaan yang kemudian muncul dibenak kita adalah apakah memang benar jika terbentuknya setgab parpol koalisi sengaja dirancang untuk merumuskan suatu kebijakan yang dapat merespon semua kebutuhan rakyat? Ataukah sebaliknya hanya sekedar untuk berbagi kekuasaan. Jawabnya, sudah pasti bagi rakyat kecil yang penting bukan terletak pada ada atau tidaknya setgab koalisi parpol melainkan yang paling utama adalah bagaimana agar supaya berbagai kebutuhan pokok termasuk didalamnya kebutuhan akan pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat terpenuhi selain tersedianya lapangan kerja serta berkurangnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin. Logikanya, masyarakat jauh lebih menginginkan terjadinya perubahan yang nyata kea rah kehidupan yang semakin sejahtera dengan cara mengimplementasikan seluruh program pemerintah dalam memberdayakan keluarga miskin daripada larut dalam mitos pembangunan, retorika, dan slogan politik yang tidak jarang menjadi lip service elite politik tertentu dan menyita cukup banyak waktu serta tenaga. Pendek kata, masyarakat ingin bukti dan bukan janji

politik. Terlebih lagi, sudah bukan rahasia lagi kalau media massa biasa merilis berita tentang kasus bunuh diri yang dilakukan oleh orang yang mengalami tekanan ekonomi yang sangat berat. Oleh sebab itu, kalaupun sekiranya eksistensi setgab koalisi parpol masih diperlukan, maka yang sangat dibutuhkan adalah adanya aturan main yang transparan dan kemudian disampaikan ke publik lewat media massa sebagai alat kontrol sosial sehingga masyarakat pun dapat mengevaluasi dam memilih partai mana yang memang pro kepada kepentingan rakyat dan yang mana hanya berambisi untuk memburu kekuasaan semata. Semntara itu dalam kaitannya dengan reshuffle kabinet, sekalipun SBY sendiri sudah membantah isu adanya pergantian sejumlah menteri, namun perlu pula untuk dipahami jika melebarnya isu itu tidak lepas dari terakumulasinya kekecewaan, frustasi sosial dan ketidakpuasan publik terutama bagi mereka yang bergerak dalam sektor tertentu yang merasa resah dalam menghadapi tantangan kehidupan sosial ekonomi yang semakin berat sehingga terbentuk suatu opini publik yang menilai gerakan dan kinerja sejumlah menteri dirasa memang belum menyentuh kepentingan rakyat. Asumsi publik ini lebih diperkuat lagi dengan hasil penilaian yang dilakukan secara berkala oleh UKP4 (Unit Kerja Presidan Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) yang memberi nilai merah (kurang baik) pada kementerian tertentu dengan menggunakan indikator tersendiri. Akibatnya, lalu muncullah gugatan publik yang menghendaki agar dilakukannya reposisi terhadap sejumlah menteri yang dinilai tidak mampu memberi kontribusi bagi kemajuan departemen dan institusi yang dipimpinnya dalam menjawab kepentingan rakyat. Oleh sebab itu, kalaupun timbul silang pendapat tentang perlu tidaknya dilakukan reshuffle kabinet tentu harus dipikirkan urgensi dan implikasinya. Yang sering kali menjadi masalah adalah apabila ternyata orang yang direkrut untuk duduk dalam kabinet adalah mereka yang dipilih karena politik balas jasa sehingga tidak menutup kemungkinan jabatan kabinet menjadi medan konflik kepentingan antar partai, kelompok dan faksi tertentu yang dapat membias pada masyarakat.

EJAAN YANG SALAH

NO 1

KESALAHAN Jilid 11

PEMBENARAN Jilid II

ALASAN Angka yang ditulis seharusnya angka romawi. Angka yang tertulis pada artikel berupa angka. Sehingga yang terbaca bukan kedua melainkan sebelas. Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Pada imbuhan, termasuk akhiran yang mengalami perubahan bentuk dan partikel yang biasanya ditulis dengan cara imbuhan dan partikel dipisahkan dahulu dari kata dasarnya, kemudian kata dasar dipisahkan sesuai dengan kaidah. Kata tak merupakan kata tidak baku. Kata yang seharusnya ditulis adalah kata tidak. Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Pada imbuhan, termasuk akhiran yang mengalami perubahan bentuk dan partikel yang biasanya ditulis dengan cara imbuhan dan partikel dipisahkan dahulu dari kata dasarnya, kemudian kata dasar dipisahkan sesuai dengan kaidah. Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum

pres- iden

Pre-si-den

lingkun-gan

ling-kung-an

Tak

tidak

ban-gunan

ba-ngun-an

seran-gan

se-rang-an

pemer-intah

pe-me-rin-tah

konsonan tersebut. 8 sepat-utnya se-pa-tut-nya Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Pada imbuhan, termasuk akhiran yang mengalami perubahan bentuk dan partikel yang biasanya ditulis dengan cara imbuhan dan partikel dipisahkan dahulu dari kata dasarnya, kemudian kata dasar dipisahkan sesuai dengan kaidah. Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Pada imbuhan, termasuk akhiran atau awalan yang mengalami perubahan bentuk dan partikel yang biasanya ditulis dengan cara imbuhan dan partikel dipisahkan dahulu dari kata dasarnya, kemudian kata dasar dipisahkan sesuai dengan kaidah. Gabungan kata ditulis terpisah bagianbagiannya. Kalau salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri dan hanya muncul dalam bentuk kombinasi, penulisannya harus diserangkaikan. Kata depam di terpisah dari kata yang mengikutinya apabila diikuti kata benda yang fungsinya menunjukkan tempat atau arah Kata merespons merupakan kata yang tidak baku. Kata baku yang seharusnya ditulis adalah merespon. Kata ketimbang merupakan kata yang tidak baku, harusnya diganti dengan kata daripada. Agar kalimatnya lebih

talan-gan

ta-lang-an

10

den-gan

de-ngan

11

berseberan-gan

ber-se-be-rang-an

12

ketidak harmonisan

ketidakharmonisan

13

Diantara

di antara

14

Merespons

Merespon

15

Ketimbang

daripada

16

dis-ampaikan

di-sam-pa-i-kan

17

ketidak puasan

Ketidakpuasan

efisien. Apabila di tengah kata terdapat konsonan di antara dua vokal, pemisahan dilakukan sebelum konsonan tersebut. Gabungan kata ditulis terpisah bagianbagiannya. Kalau salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri dan hanya muncul dalam bentuk kombinasi, penulisannya harus diserangkaikan Apabila di tengah kata terdapat dua konsonan berurutan, pemisahan dilakukan di antara kedua konsonan tersebut. Huruf B pada kata bersatu seharusnya menggunakan huruf kapital, karena Indonesia Bersatu merupakan nama resmi.

20

kepent-ingan

ke-pen-ting-an

21

Indonesia bersatu

Indonesia Bersatu