Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN VI PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIDIARE

Tanggal Praktikum : Rabu, 1 Mei 2013

A. TUJUAN Selain menyelesaikan percobaan ini, mahasiswa diharapkan : 1. Mempunyai keterampilan dalam melakukan percobaan antidiare. 2. Memahami pengaruh laksan terhadap saluran pencernaan dan mengetahui sejauh mana obat antidiare dapat menghambat diare yang ditimbulkan oleh laksan.

B. DASAR TEORI 1. Etiologi Diare adalah suatu gejala dimana frekuensi pengeluaran feses meningkat melebihi frekuensi normal dan konsistensi feses menjadi cair. Pada keadaan diare, terjadi ketidakseimbangan antara absorpsi dan sekresi air dan elektrolit dalam usus, dimana absorpsi berkurang atau sekresi bertambah diluar normal. Diare bisa disebabkan terutama karena terhambatnya absorpsi ion, rangsangan sekresi ion, retensi air dalam lumen usus, dan gangguan dalam motilitas usus. Secara klinis, penyebab diare dapat dibagi menjadi: a. Infeksi: Virus, contoh: Rotavirus, Adenovirus, Coronavirus, Calcinovirus, dll. Bakteri, contoh: E. coli, Salmonella spp., Vibrio cholerae, dll. Parasit, contoh: Protozoa (Entamoeba histolitica, Giardia lamblia), Cacing (Ascaris, Trichuris), Jamur (Candida albicans) b. Malabsorpsi: Karbohidrat, Protein, Lemak

c. Keracunan oleh makanan yang mengandung bahan kimia atau alergi karena zat yang terkandung dalam makanan tersebut, seperti dalam sayur-sayuran, ikan, dll. d. Defisiensi imun terutama SIGA (secretory imunol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida. e. Sebab-sebab lain, misalnya karena faktor psikologis seperti takut atau cemas.

2. Klasifikasi Berdasarkan penyebabnya diare dapat dibedakan menjadi 6 yaitu sebagai berikut : a. Diare akibat virus Misalnya influenza perut dan travellers diarrhea yang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel-sel mukosa usus, yang menjadi rusak sehingga kapasitas kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air dan elektrolit memegang peranan. Diare yang terjadi bertahan terus sampai beberapa hari sesudah virus lenyap dengan sendirinya, atau dalam waktu 3 -6 hari. Di Negara-negara barat, jenis diare ini paling sering terjadi,lebih kurang 60 %. b. Diare Bakterial (invasif) Agak sering terjadi tetapi mulai berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat higiene masyarakat. Bakteri tertentu pada keadaan tertentu misalnya: bahan makanan yang terinfeksi oleh banyak kuman, menjadi invasif dan menyerbu kedalam mukosa. Disini, bakteri-bakteri tersebut memperbanyak diri dan membentuk toksin-toksin yang dapat diresorpsi kedalam darah dan menimbulkan gejala hebat, seperti demam tinggi, nyeri kepala dan kejangkejang di samping mencret berdarah dan berlendir. Penyebab terkenal dari jenis diare ini adalah bakteri Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan jenis coli tertentu. Diare disebabkan infeksi bakteri terbagi dua, yaitu : i) Bakteri noninvasif (enterotoksigenik) Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada mukosa usus halus, namun tidak merusak mukosa. Toksin meningkatkan kadar siklik AMP di dalam sel, menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus

yang diikuti air, ion karbonat, kation natrium dan kalium. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah Vibrio cholerae, Enterotoksigenik E.coli (ETEC), C.perfringers, S.aureus dan vibrio- non aglutinabel. Secara klinis dapat ditemukan diare berupa air seperti cucian beras dan meninggalkan dubur secara deras dan banyak (voluminous). Keadaan ini disebut diare sekretorik isotonik voluminal. ii) Bakteri Enteroinvasif Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi dan bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. Bakteri yang termasuk golongan ini adalah Enteroinvasif E.coli (EIEC). Penyebab diare lainnya, seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa ulkus besar (Entamoeba histolytica), kerusakan vili yang penting untuk penyerapan air, elektrolit dan zat makanan (Giardia lambia). Patofisiologi kandida menyebabkan diare belum jelas, mungkin karena super infeksi dengan jasad renik lain dan keadaan seperti diabetes mellitus. Secara klinis diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan. Pertama koleriform dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. Kedua disentriform pada diare ini didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah. c. Diare Parasiter Seperti protozoa entamoeba histolytica, Giardia liambia, Cryptosporidium, dan Cyclospora, yang terutama terjadi di daerah (sub) tropis. Diare akibat parasitparasit ini biasanya bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan lebih dari 1 minggu. Gejala lainnya dapat berupa nyeri perut, demam , anorexia, nausea, muntah-muntah, dan rasa letih umum (malaise). d. Diare akibat Enterotoksin Diare jenis ini lebih jarang terjadi, tetapi lebih dari 50 % wisatawan di Negaranegara berkembang dihinggapi diare ini. Penyebabnya adalah kuman -kuman yang membentuk enterotoksin, yang terpenting adalah E. coli dan vibrio cholerae. Toksin melekat pada sel-sel mukosa dan merusaknya. Diare jenis ini bersifat selflimiting artinya akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan

dalam wktu 5 hari, setelah sel-sel yang rusak diganti dengan sel-sel mukosa baru. e. Diare akibat alergi Diare akibat alergi makanan dan intoleransi, gangguan gizi, dan kekurangan enzim tertentu. Dapat juga disebabkan oleh pengaruh Psikis seperti keadaan terkejut dan ketakutan. f. Penyebab lain Terdapat sejumlah penyakit yang dapat pula mengakibatkan diare sebagai salah satu gejalanya, seperti kanker usus besar dan beberapa penyakit cacing ( misalnya : Cacing pita dan cacing gelang). Ada pula obat yang dapat menimbulkan diare sebagai efek samping misalnya : antibiotika berspektrum luas, (ampisillin, tetrasiklin), sitostatika, reserpin, kinidin, dsb, juga penyinaran denga sinar X (Radioterapi).

Berdasarkan waktu kejadiannya diare dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu : a. Diare Kronik Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedangkan pada bayi dan anak ditetapkan batas waktu dua minggu. Diare kronik ditetapkan berdasarkan kesepakatan, yaitu diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Ketentuan ini berlaku bagi orang dewasa, sedangkan pada bayi dan anak-anak ditetapkan natas waktu dua minggu. Diare kronik memiliki penyebab yang bervariasi dan tidak seluruhnya diketahui. Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu konsistensi feses dan motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh keduanya. Gangguan proses mekanik dan enzimatik, disertai gangguan mukosa, akan mempengaruhi pertukaran air dan elektrolit sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang terbentuk. Peristaltik saluran cerna yang teratur akan mengakibatkan proses cerna secara enzimatik berjalan baik. Sedangkan peningkatan motilitas berakibat terganggunya proses cerna secara enzimatik, yang akan mempengaruhi pola defekasi.

Diare kronik dibagi tiga, yaitu : i) Diare Osmotik Dijelaskan dengan adanya faktor malabsorpsi akibat adanya gangguan absorpsi karbohidrat, lemak atau protein dan tersering adalah malabsorpsi lemak. ii) Diare sekretorik Terdapat gangguan transfor akibat adanya perbedaan osmotik intralumen dengan mukosa yang besar sehingga terjadi penarikan cairan dan elektrolit kedalam lumen usus dalam jumlah besar. Feses seperti air, diare sekresi terbagi dua berdasarkan pengaruh puasa terhadap diare. Pertama Diare Sekresi yang dipengaruhi keadaan puasa berhubungan dengan proses intralumen dan diakibatkan oleh : a. Bahan-bahan yang tidak dapat diabsorpsi (seperti obat-obatan dengan unsur magnesium tinggi, contohnya antacid, multivitamin dan mineral, serta obat-obat yang bersifat laksatif). b. Malabsorpsi karbohidrat. Proses metabolisme karbohidrat oleh bakteri usus akan menghasilkan gas H2 dan CO2 sehingga timbul kembung dan flatus berlebihan serta nyeri perut dalam bentuk kram. c. Defisiensi laktosa yang mengakibatkan intoleransi laktosa. Diare sekresi yang dipengaruhi keadaan puasa sering dijumpai pada sindrom kolon iritatif, yang gejala klinisnya adalah diare tanpa nyeri dan banyak disebabkan factor psikososial sehingga disebut sebagai diare fungsional. Kedua Diare Cair yang tidak dipengaruhi keadaan puasa terdapat pada karsinoid, VIP(vasoactive intestinal polypeptide), karsinoma tiroid medular, adenoma vilosa dan diare diabetic. Diare yang disebabkan penyakit tersebut dihubungkan dengan proses hormonal dan neurogen yang berpengaruh terhadap motilitas.

iii)

Diare Inflamasi Diare dengan kerusakan dan kematian enterosit disertai peradangan. Feses berdarah, kelompok ini paling sering ditemukan. Terbagi dua yaitu Inflamasi Nonspesifik dan spesifik. Colitis ulseratif dan penyakit Crohn termasuk kelompok inflamasi nonspesifik.

b.

Diare Akut Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam samapai 1 minggu. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam sampai 1 minggu. Infeksi merupakan penyebab utama diare akut, baik oleh bakteri, parasit maupun virus. Penyebab lain yang dapat menimbulkan diare akut adalah toksin dan obat, nutrisi enternal diikuti puasa yang berlangsung lama, kemoterapi atau berbagai kondisi lain (2,6,7). Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung, motilitas lambung, imunitas, juga lingkungan mikroflora usus. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus, serta daya lekat kuman. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare.

3. Patofisiologi Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus utnuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan motilitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga dapat terjadi akibat maksudnya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung. Mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

4. Gejala Klinik Diare yang berat juga dapat menyebabkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium dan klorida. Jika sejumlah besar cairan dan elektrolit hilang, tekanan darah akan turun dan dapat menyebabkan pingsan, denyut jantung tidak normal (aritmia) dan kelainan serius lainnya. Resiko ini terjadi terutama pada anak-anak, orang tua, orang dengan kondisi lemah dan penderita diare yang berat. Hilangnya bikarbonat bisa menyebabkan asidosis, suatu gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah. Selain itu gejala klinik dari diare, diantaranya: Sering buang air besar dgn konsistensi tinja encer. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dgn empedu. Anus dan sekitarnya lecet karena sering terjadi defekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi: turgor kulit jelas (elastisitas menurun), ubun2 dan mata cekung, membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan. Perubahan tanda-tanda vital: nadi dan respirasi cepat, tekanan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria)

Bila terjadi asidosis metabolik, pasien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam.

5. Terapi Terapi diare harus disesuaikan dengan penyebabnya. Pengobatan diare dapat dilakukan dengan terapi dan juga dengan pemberian obat antidiare. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. a. Terapi Diare Non Farmaka Memberikan cairan pengganti cairan tubuh sperti oralit. Memperbanyak minum air putih untuk menjaga agar jangan dehidrasi. Memberikan makanan-makanan yang dapat menambah nutrisi dan garam-garam mineral yang terkeluarkan dari dalam tubuh melalui diare, seperti pisang dan jus jeruk. Hindari dan jangan memakan makanan yang mengandung banyak serat, produk susu dan keju, masakan yang digoreng, makanan pedas, makanan berlemak seperti mentega dan kacang-kacangan. b. Terapi Farmaka Obat diare dibagi menjadi tiga. Pertama, kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare, seperti bakteri atau parasit. Obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan. 1) Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri penyebab diare seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon dan furazolidon. a. Racecordil Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks terapeutik yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan ketergantungan. Racecordil yang pertama kali dipasarkan di Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut.

b. Loperamide Loperamide merupakan golongan opioid yang bekerja dengan cara memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang sering dijumpai adalah kolik abdomen (luka di bagian perut), sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi. c. Nifuroxazide Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal pada saluran pencernaan. Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus, kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk anak-anak maupun dewasa. d. Dioctahedral smectite Dioctahedral smectite (DS), suatu aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in vitro telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan menyerap toksin, bakteri, serta rotavirus. Smectite mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan mukolisis yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat memulihkan integritas mukosa usus seperti yang terlihat dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak dengan diare akut. 2) Obstipansia untuk terapi simtomatis (menghilangkan gejala) yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara: a. Zat penekan peristaltik, sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus seperti derivat petidin (difenoksilatdan loperamida), antokolinergik (atropine, ekstrak belladonna) b. Adstringensia yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak (tannin) dan tannalbumin, garam-garam bismuth dan alumunium. c. Adsorbensia, misalnya karbo adsorben yang pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau

yang adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan). Termasuk di sini adalah juga musilago zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir usus dan lukalukanya dengan suatu lapisan pelindung seperti kaolin, pektin (suatu karbohidrat yang terdapat antara lain sdalam buah apel) dan garam -garam bismuth serta alumunium. 3) Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain papaverin dan oksifenonium.

6. Loperamid Loperamid merupakan derivat difenoksilat dengan khasiat obstipasi yang dua sampai tiga kali lebih kuat tetapi tanpa khasiat terhadap susunan saraf pusat sehingga tidak menimbulkan ketergantungan. Zat ini mampu menormalkan keseimbangan resorpsisekresi dari sel-sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang berada dalam keadaan hipersekresi ke keadaan resorpsi normal kembali. Loperamid tidak diserap dengan baik melalui pemberian oral dan penetrasinya ke dalam otak tidak baik, sifat-sifat ini menunjang selektifitas kerjanya. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 4 jam sesudah minum obat. Masa laten yang lama ini disebabkan oleh penghambatan motilitas saluran cerna dan karena obat mengalami sirkulasi enterohepatik. Loperamid memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinalis usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Waktu paruh 7-14 jam. Kurang dari 2% dieliminasi renal tanpa diubah, 30% dieliminasi fekal tanpa diubah dan sisanya dieliminasi setelah mengalami metabolisme dalam hati sebagai glukoroid ke dalam empedu.

7. Oleum Ricini Oleum ricini (minyak jarak) merupakan trigliserida yang berkhasiat sebagai laksansia. Di dalam usus halus, minyak ini mengalami hidrolisis dan menghasilkan asam risinoleat yang merangsang mukosa usus, sehingga mempercepat gerak peristaltiknya dan mengakibatkan pengeluaran isi usus dengan cepat. Dosis oleum ricini adalah 2 sampai 3

sendok makan (15 sampai 30 ml), diberikan sewaktu perut kosong. Efeknya timbul 1 sampai 6 jam setelah pemberian, berupa pengeluaran buang air besar berbentuk encer. Pengeluaran isi usus dipengaruhi oleh zat-zat yang mengiritasi saluran pencernaan, seperti oleum ricini atau makanan pedas. Iritasi tersebut menstimulasi pleksus saraf myenterik dalam usus sehingga gerakan peristaltik usus akan meningkat, sehingga mempercepat pengeluaran isi usus dan mengubah konsistensi feses menjadi lebih lembek bahkan cair, karena adanya hambatan pada proses absorpsi air di usus besar. Adapun metode pengujian antidiare dengan penggunaan paraffin cair. Parafin cair obat adalah mineral putih yang sangat halus minyak yang sangat digunakan dalam kosmetik dan untuk tujuan medis, dan istilah mungkin memiliki kegunaan yang berbeda di negara lain. Parafin cair, dianggap memiliki kegunaan yang terbatas sebagai pencahar sesekali, tetapi tidak cocok untuk digunakan rutin karena bisa merembes dari anus dan menyebabkan iritasi, dapat mengganggu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, bisa diserap ke dalam dinding usus dan dapat menyebabkan tubuh granulomatous reaksi-asing, jika memasuki paru-paru bisa menyebabkan lipoid, pneumonia. Minyak mineral seperti paraffin ini tidak mempengaruhi kontraksi usus secara langsung, melainkan kerja sebagai pelincir yaitu memperlancar pengeluaran isi usus.

C. BAHAN, ALAT DAN HEWAN 1. Bahan NaCL fisiologis Oleum ricini/ Paraffin cair Loperamid HCL Kertas saring

2. Hewan Mencit putih jantan/ betina degan bobot antara 25-30 gram

3. Alat Toples untuk pengamatan Kertas saring (telah ditimbang) Alat suntik

Sonde oral mencit Timbangan mencit Timbangan elektrik Stop watch

D. PROSEDUR KERJA
Dua jam sebelum percobaan dimulai, mencit dipuasakan Pengelompokkan mencit

Kelompok 1 Diberi NaCL Fisiologis

Kelompok 2 Diberi NaCL Fisiologis

Kelompok 3 Diberi Loperamid Dosis I

Kelompok 4 Diberi Loperamid Dosis II Setelah 30 menit

Setelah 30 menit Diberi air (Oral)

Diberi Ol.Ricini / paraffin (Oral)

Hewan uji di masukkan ke dalam toples yang diberi alas kertas saring yang sudah ditimbang beratnya

Diamati : Waktu tibulnya feses Frekuensi defekasi Jumlah/ berat feses Konsistensi feses (dinyatakan dalam bentuk skor)* Lamanya diare dicatat setiap selang waktu 30 menit selama 2 jam

Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis

Keterangan : * Symbol N LN L LC C Konsistensi Normal Lembek normal Lembek Lembek cair Cair Skor 0 1 2 3 4

E. HASIL PENGAMATAN 1. Perhitungan Dosis Dosis Oleum ricini 120 mL/70 kg BB Dosis Mencit = D. Manusia x = 120 0,0026 = 0,321 /20

Dosis Loperamid 4 mg/ 70 Kg BB Dosis Mencit = D. Manusia x = 4 0,0026 = 0,0104 / 20 = 0,00052 / = 0,5 / = 0,0104 = 0,0208 / 0,5

Volume pemberian a. Mencit 1 = b. Mencit 2 = . = c. Mencit 3 = 24,95 0,5 = 0,62 20 24,95 0,312 = 0,389 20 22,14 0,5 = 0,55 20 22,14 0,312 = 0,345 20 27,13 0,5 = 0,68 20

. =

2. Data Pengamatan Sekelas

Mencit

Mencit 1

Mencit 2

Mencit3

Konsistensi feses No Mencit Mulai Diare Lama Diare 0-30 30-60 60-90 90-120 1 Menit ke-57 0 2 Menit ke-5 0 0 3 4 5 x Menit ke- 12,4 0 0 0 1 Menit ke-4 116 menit 0 1 3 4 2 3 x Menit ke-1.3 38,67 menit 0 0.33 1 1.33 4 5 Menit ke -80 40 menit 1 2 x Menit ke-40 20 menit 0.5 1 1 Menit ke-52 68 0 3 3 2 Menit ke-1 119 0 0 3 x Menit Ke-17,67 62.33 0 0 1 1 4 5 x

Bobot feses (gram) 0-30 30-60 60-90 90-120 0.02 0.1 0.02 0.02 0.004 0.004 0.04 0.13 0.5 0.05 0.01 0.04 0.17 0.02 0.11 0.09 0.06 0.05 0.15 0.71 0.08 0.04 0.01 0.05 0.24 0.03

Frekuensi Defekasi 0-30 30-60 60-90 90-120 1 3 1 0.6 0.2 0.2 1 2 3 1 0.33 0.67 1 0.33 5 1 2.5 0.5 1 3 1 2 4 0.67 0.33 1 1.67

F. PEMBAHASAN Pada praktikum pengujian aktivitas anti diare yang bertujuan untuk mengamati pengaruh laksan (oleum ricini atau paraffin) terhadap saluran pencernaan dam memahami sejauh mana obat antidiare dapat menghambat diare yang ditimbulkan laksan tersebut. Pada praktikum ini digunakan mencit sebagai hewan percobaan, mencit tersebut di bagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan mencit kontrol negatif dimana mencit diberikan tragakan 2% dan air secara oral, sedangkan kelompok kedua adalah kontrol positif dimana mencit diberikan tragakan 2% kemudian diberikan oleum ricini atau paraffin (oral), pada kelompok ketiga mencit diberikan loperamid dosis 1 kemudian diberi oleum ricini atau paraffin (oral). Pada mencit kontrol negative (kelompok 1) yang diberi tragakan 2% kemudian diberi air secara oral. Kontrol negatif ini berfungsi untuk melihat proses defekasi pada mencit yang normal. Dilihat dari data di atas mencit kontrol negatif, waktu timbul diare pada menit ke- 12,4 maksudnya bukan mengalami diare tapi defekasi normalnya timbul pada menit ke 12,4. Konsistensi fesesnya memiliki skor 0, hal tersebut menunjukan

bahwa fesesnya dalam keadaan normal. Bobot fesesnya berada dalam berat yang normal yaitu 0,02 gram dan 0,004 gram. Frekuensi defekasinya jarang, masih berada dalam frekuensi normal karena defekasinya tidak melebihi 3 kali. Pada mencit kontrol fositif (Kelompok 2), mencit diberi tragakan 2% kemudian di beri oleum ricini secara oral. Kontrol positif ini bertujuan untuk melihat proses defekasi pada mencit yang diinduksi dengan pencahar. Oleum ricini (minyak jarak) merupakan trigliserida yang berkhasiat sebagai laksatif. Di dalam usus halus, minyak ini mengalami hidrolisis dan menghasilkan asam risinoleat yang merangsang mukosa usus, sehingga mempercepat gerak peristaltiknya dan mengakibatkan proses defekasi berlangsung dengan cepat sehingga frekuensi defekasi akan meningkat. Karena proses defekasi yang berlangsung cepat, maka waktu absorbsi air juga akan berkurang, sehingga air yang seharusnya diabsorbsi tubuh akan ikut terbuang dalam feses, yang mengakibatkan konsistensi feses yang lembek. Pada data di atas pada mencit dengan kontrol positif yang diberi oleum ricini mengalami peningkatan waktu mulai diarenya yaitu pada menit ke 1,3, lama diare yang ditimbulkan oleh oleum ricini yaitu 38,67 menit. Konsistensi fesesnya pun meningkat dari menit ke 30 sampai dengan menit ke 120, semakin lama konsistensi fesesnya semakin lembek. Bobot fesesnya dan frekuensi defekasinya meningkat dari menit ke menit, jika dibandingkan dengan mencit normal (mencit control negative) bobot feses dan frekuensi defekasinya meningkat dari normal. Pada mencit control fositif (kelompok 2), mencit diberi tragakan 2% kemudian diberi paraffin secara oral. Paraffin ini digunakan sebagai pelincir sehingga memudahkan untuk pengeluaran isi usus. Pada data di atas untuk kelompok 2 yang diberi paraffin yaitu mulai diarenya pada menit ke-40, bila dibandingkan dengan yang diberi oleum ricini maka lebih cepat yang diberi oleum ricini. Hal tersebut dapat dilihat dari fungsinya yaitu oleum ricini sebagai pencahar sedangkan paraffin digunakan untuk pelincir saja. Lamanya diare 20 menit, konsistensi feses meningkat dari menit ke 60-120 dengan konsistensi feses yang lembek tapi normal. Bobot fesesnya pada menit ke 60-120 yaitu 0,06 gram dan 0,05 gram. Sedangkan untuk frekuensi defekasinya lebih sering pada menit ke 60-90 kemungkinan pada menit ini parafin nya bekerja. Pada mencit kelompok ke tiga, mencit diberikan loperamid dosis 1(4 mg/ 70 Kg BB) kemudian diberikan oleum ricini secara oral. Loperamid merupakan obat antidiare yang cara kerjanya memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinalis usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga

diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamid dengan reseptor tersebut. Pada data di atas menunjukkan ada perubahan mulai timbulnya diare pada mencit yang diberikan obat loperamid. Untuk lamanya diare bila dibandingkan dengan mencit control positif yang diberikan oleum ricini ini lebih lama waktu diarenya yaitu 62,33 menit. Konsistensi fesesnya ada sedikit perubahan jika dibandingkan dengan mencit kelompok 2 yang diberi oleum ricini pada menit ke 90-120 yaitu asalnya skor 1,33 menjadi 1 atau dapat dikatakan bahwa konsistensi fesesnya menjadi lembek tapi normal. Bobot fesesnya tidak ada perubahan antara mencit control 2 dengan mencit kelompok 3 yang sudah diberi obat. Untuk frekuensi defekasinya lebih sering yang diberi obat kemungkinan obat yang diberikan belum dapat bekerja dengan baik sehingga belum memberikan efek antidiare. Pada mencit kelompok 3, mencit diberikan loperamid dosis 1 (4 mg/ 70 Kg BB) kemudian diberikan paraffin secara oral. Pada data di atas mencit tidak mengalami defekasi. Hal ini menunjukkan bahwa obat loperamid tersebut sudah bekerja pada mencit yang diberikan paraffin. Jika dibandingkan antara yang diberikan oleum ricini dan paraffin maka loperamid lebih cepat menghentikan diare yang disebabkan oleh paraffin. Jika dilihat dari fungsinya paraffin tersebut digunakan untuk pelincir saja dan paraffin tersebut tidak mempengaruhi kontraksi usus secara langsung sehingga loperamid lebih mudah menghentikan diare yang disebabkan oleh paraffin tersebut.

G. KESIMPULAN Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Oleum ricini (minyak jarak) merupakan trigliserida yang berkhasiat sebagai laksatif. Di dalam usus halus, minyak ini mengalami hidrolisis dan menghasilkan asam risinoleat yang merangsang mukosa usus, sehingga mempercepat gerak peristaltiknya dan mengakibatkan proses defekasi berlangsung dengan cepat sehingga frekuensi defekasi akan meningkat. 2. Paraffin bekerja kerja sebagai pelincir yaitu memperlancar pengeluaran isi usus dan paraffin ini tidak mempengaruhi kontraksi usus secara langsung. 3. Loperamid HCL dengan dosis 4 mg/ 70 Kg BB dapat menurunkan waktu timbulnya diare dan dapat meningkatkan konsistensi feses yang ditimbulkan oleh oleum ricini.

4. Loperamid HCL dengan dosis 4 mg/ 70 Kg BB dapat menurunkan aktivitas diare yang ditimbulkan oleh paraffin sehingga diare tidak terjadi.

H. PERTANYAAN 1. Terangkan mekanisme terjadinya diare yang disebabkan oleh oleum ricini! 2. Terangkan kemungkinan mekanisme terjadinya obat antidiare sehingga dapat menghambat diare yang disebabkan oleh oleum ricini! Jawaban : 1. Pengeluaran isi usus dipengaruhi oleh zat-zat yang mengiritasi saluran pencernaan, seperti oleum ricini atau makanan pedas. Iritasi tersebut menstimulasi pleksus saraf myenterik dalam usus sehingga gerakan peristaltik usus akan meningkat, sehingga mempercepat pengeluaran isi usus dan mengubah konsistensi feses menjadi lebih lembek bahkan cair, karena adanya hambatan pada proses absorpsi air di usus besar.

2. Kerja obat anti diare tersebut dapat bersifat absorben karena dapat menyerap zat -zat beracun (oleum ricini) yang ada di dalam usus, sedangkan untuk obat yang menekan peristaltic usus yaitu untuk memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus.

DAFTAR PUSTAKA

DiPiro, Joseph T., Talbert, Robert L., dkk., 1996, Pharmacotherapy: A Patophysiologic Approach, 3rd Ed., Appleton & Lange, Stamford, Connecticut

ISFI, 2000, ISO Indonesia, Edisi Farmakoterapi, Volume XXXIII. Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Terjemahan M.B Widianto dan A.S. Ranti. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Price, S.A.., Wilson, L.M., 1995, Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-proses Penyakit), Edisi Keempat, Buku 2, Penerjemah : Peter Anugrah, Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Rahardja Winata, (1978) , Obat-obat Penting Edisi ke V, Jakarta : Penerbit Elekmedia Komputindo.

Tim Farmakologi, 2001, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Jakarta: Penerbit Fakultas FMIPA , Jurusan Farmakologi UI.

Tim Dosen. 2013. Modul Praktikum Farmakologi. Jurusan farmasi; Universitas Garut.

Wiryani, NGP Cilik, Wibawa, I Dewa Nyoman, 2007, Pendekatan Diagnostik dan Terapi Diare Kronis, J Peny Dalam, Volume 8 Nomor 1 Januari 2007, Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/RS Sanglah, Denpasar