Anda di halaman 1dari 3

Plus-Minus Redenominasi

http://www.hif.co.id/en/tentang-kami/manajemen/4736-plus-minus-redenominasi
Sebenarnya, redenominasi rupiahyaitu penyederhanaan satuan rupiah dengan cara menghilangkan tiga angka nolbukanlah kebijakan yang berurgensi tinggi. Dalam kondisi sekarang, ketika rupiah terbebani banyak angka nol pun, perekonomian Indonesia masih tumbuh 6,3 persen, inflasi ,3 persen, suku bunga acuan !,"! persen, kredit bank berekspansi #3 persen, serta cadangan de$isa %%# miliar dollar &S. 'emang masih ada berbagai masalah, misalnya fiskal (&)*+, yang terbebani subsidi energi -p 3.6 triliun, defisit neraca perdagangan %,! miliar dollar &S, dan defisit transaksi berjalan #. miliar dollar &S. +amun, secara keseluruhan, perekonomian Indonesia terhitung baik/baik saja. 0arena itu, redenominasi tidak mendesak. Dua cara +amun, jika harus memilih, apakah rupiah dibiarkan seperti sekarang atau diredenominasi, saya memilih rupiah yang lebih sedikit mengandung angka nol. 1ebih mudah menuliskannya, hemat pencatatan secara akuntansi, serta lebih gampang mengon$ersikannya ke dalam mata uang asing. *erdasarkan pengalaman, ketika berbincang dengan orang asing, saya sering kesulitan mengon$ersikan bilangan bertriliun/triliun rupiah menjadi satuan dollar &S, euro, atau yen. 'eski dalam nada canda, saya cukup risih apabila ada ka2an asing mengatakan, 3ntuk menjadi juta2an di Indonesia ternyata tidak sulit. Ia benar, karena uang jutaan rupiah bisa dikantongi atau ditenteng ke mana/mana. )adahal, di luar negeri, juta2an adalah frase yang merujuk orang kaya. +amun, di Indonesia, memiliki uang jutaan rupiah tidak berarti kaya. 4rang kaya adalah para miliarder atau bahkan triliuner. Dengan pengalaman pergaulan internasional seperti itu, kadang tebersit pikiran, kapan kurs rupiah menjadi sederhana, misalnya % dollar &S ekui$alen -p %. atau bahkan -p %5 *isakah dan kapan itu bisa dilakukan5 &da dua cara. )ertama, kita terus memperbaiki kinerja perekonomian, antara lain memperbesar surplus perdagangan, surplus transaksi berjalan, dan menarik banyak modal asing sehingga berujung penguatan cadangan de$isa. *ila ini dilakukan berkelanjutan, rupiah pun akan menguat melalui mekanisme pasar. 'asalahnya, berapa lama itu bisa kita lakukan5 &pakah menunggu sampai cadangan de$isa menembus % triliun dollar &S, atau bahkan seperti 6hina yang kini cadangan de$isanya hampir 3,3 triliun &S5 )asti makan 2aktu amat panjang. 6ara kedua, redenominasi, yakni memaksa penghapusan beberapa nol (sesuai kebutuhan dan kelayakan, sehingga kurs rupiah lebih ramping. 'elakukan ini tentu tak bisa sembarangan. +amun, jelas jauh lebih ringan daripada harus memupuk cadangan de$isa hingga % triliun dollar &S.

*erdasarkan pengalaman sebelumnya, memang tak pernah ada negara yang mirip Indonesia yang melakukannya sehingga tak mudah mengadopsinya begitu saja. 3mumnya negara yang pernah melakukannya adalah negara yang relatif kecil, baik dari ukuran ekonomi, jumlah penduduk, maupun luas dan persebaran 2ilayah. 6ontoh kisah sukses adalah 7urki dan beberapa negara &merika 1atin. &da argumentasi bah2a umumnya negara yang melakukan redenominasi adalah mereka yang bermasalah dengan inflasi tinggi, bahkan hiperinflasi (inflasi di atas !. persen per bulan,, seperti dialami &rgentina (%89./an,, *rasil (%89./an dan %88./an,, :imbab2e (#.%.,. Sementara di Indonesia inflasi sekarang justru rendah ( ,3 persen,. 'enurut saya, kedua kondisi ini tak bertolak belakang. *agi negara yang inflasinya tinggi, masalah yang dihadapi adalah lemahnya mata uang, misalnya 7urki mengalami % dollar &S ekui$alen %,6 juta lira (%88 ,, sedangkan bagi Indonesia, meski inflasi rendah, kurs rupiah lemah dengan beban angka nol banyak. Di &sia 7enggara, hanya mata uang ;ietnam (dong, yang lebih lemah daripada rupiah, yakni % dollar &S ekui$alen #..... dong. <adi, negara yang inflasinya besar ataupun kecil bisa saja melakukan redenominasi, sejauh punya kepentingan sama= ingin menyederhanakan tampilan angka nol pada mata uangnya. Inflasi kita kini memang rendah, tetapi jangan lupa, kita pernah menderita inflasi besar, "9 persen (saat krisis %889, dan %" persen (saat harga **' naik #..!,. &kibatnya, rupiah dari -p #.... per dollar &S (%886, pernah merosot jadi -p %".... (<anuari %889, dan kini -p 8.".. per dollar &S. Empat persoalan besar 0ita menyadari, redenominasi tidaklah bisa digulirkan dengan mudah. Setidaknya ada empat persoalan besar. )ertama, sosialisasi harus dilakukan secara luas dan memakan 2aktu lama. 0etika mata uang euro dilahirkan %888, >ona euro (%" negara, butuh 2aktu transisi sekitar lima tahun. Dalam kasus Indonesia, medan/nya tentu lebih sulit karena faktor le$el pendapatan, pendidikan, dan geografis. *isa dibayangkan masa transisi yang kita perlukan bakal lebih panjang. *ank Indonesia dan 0ementerian 0euangan menetapkan masa transisi (#.%3/#.%!,, penarikan rupiah lama (#.%6/#.%9,, dan penggunaan rupiah baru (#.%8/#.##,. Saya sarankan, bila perlu, digeser menjadi lama. 1ebih baik agak lama, tetapi aman, daripada tergopoh/gopoh, tetapi menimbulkan gejolak. 0edua, kebijakan redenominasi baru akan efektif jika mendapat dukungan penuh para pemangku kepentingan. Saat ini saya mencium gelagat dukungan yang kurang kuat dari 0omite ?konomi +asional (0?+,. *I dan 0emkeu harus lebih dulu memegang 0?+, juga dunia usaha, perguruan tinggi, dan lapisan masyarakat lain agar redenominasi berjalan efektif. )residen, 2akil presiden, dan jajaran kabinet juga harus dikerahkan untuk mendukung upaya ini. 7anpa dukungan kehendak kuat dari para pemangku kepentingan, jad2al redenominasi bisa lebih panjang lagi.

0etiga, seperti sudah banyak diingatkan, redenominasi ra2an inflasi. *isa diduga akan selalu ada pengusaha nakal yang tak disiplin mengon$ersikan harga lama ke harga baru. 'isalnya harga lama -p ##..... dikon$ersikan ke harga baru -p #!, padahal mestinya -p ##. @ubernur *I Darmin +asution menyatakan ada semacam operasi pasar untuk menertibkannya. Di luar itu, menurut saya, mengedukasi penjual dan pembeli yang dilakukan dengan masa transisi yang cukup akan menjadi kunci sukses. Saya masih yakin hal ini bisa diamankan. 0eempat, bisa/tidaknya redenominasi dijalankan tergantung kredibilitas dan kinerja perekonomian Indonesia. <ika pemerintah dan *I gagal mengendalikan $ariabel ekonomi makro utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, suku bunga, &)*+ yang sehat dan berkelanjutan, redenominasi bakal terancam. ?kspresi para pelaku ekonomi terhadap rendahnya kredibilitas bisa ditunjukkan dengan memindah kekayaannya ke mata uang asing, alias terjadi pemborongan $aluta asing. Selanjutnya, jika cadangan de$isa merosot, rupiah pun akan terdepresiasi. <adi, kuncinya adalah bagaimana pemerintah meningkatkan kinerja perekonomian. <ika ini terjadi dan kemudian disertai penambahan cadangan de$isa secara berkelanjutan, bisa menjadi jaminan keberhasilan redenominasi. 0ebijakan redenominasi, dengan syarat/syarat di atas, tetap layak dilakukan, tentunya dengan menempuh perjuangan yang tidak ringan. )emerintah dan *I, selamat bekerja menga2al proses panjang ini. 7iada kata jera dalam perjuangan. A Tony Prasetiantono Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik, UGM ( kps)