Anda di halaman 1dari 15

Religion and Legitimation Violence In Indonesia Perkembangan Organisasi Keagamaan Radikal di Jawa Tengah

Disusun untuk tugas mata kuliah Filsafat Agama dan Perdamaian Yang diampu Prof. Dr. H. Amin Abdullah

Disusun Oleh: ABAZ ZAHROTIEN 1320512095

STUDI AGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK PRODI AGAMA DAN FILSAFAT PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Religion and Legitimation Violence In Indonesia Perkembangan Organisasi Keagamaan Radikal di Jawa Tengah

A. Abstraksi The Indonesian governments failure to take decisive action to protect religious minorities from threats and violence is undermining its claims to being a rights-respecting democracy, (Brad Adams, Asia Director at Human Rights Watch)1

B. Pendahuluan Indonesia dibentuk atas kesadaran bersama antar varian yang ada didalamnya untuk membentuk satu kesatuan sistem bernegara.

Didalamnya, bergabung banyak suku, agama, ras, budaya sampai pada sistem sosial yang memiliki tatanan yang berbeda satu sama lain. Multikulturalisme pada satu sisi adalah kekayaan keragaman yang dimiliki oleh Indonesia, namun pada sisi yang lain, ia dapat menjadi pemicu terjadinya konflik antar satu varian dengan varian yang lainnya, termasuk didalamnya varian agama. Sekedar memberikan gambaran, salah satu negara di Balkan yang cukup terkenal di eranya, Yugoslavia, merupakan sebuah negara yang gabungan antara Serbia, Kroasia, Slovenia, Montenegro, Bosnia-Herzegovina dan Republik Makedonia serta dua daerah otonom bagian Serbia, Kosovo dan Vojvoadina.

Human Right Reports 2013, In Religions Name: Abuses against Religious Minorities in Indonesia,, 28 Februari 2013.

Ia menjadi negara besar, dan bahkan menjadi salah satu negara pengusung KTT Non-Blok bersama Indonesia pada zaman Presiden Soekarno setelah lepas dari Uni Soviet pada 1948. Josip Broz Tito yang menjadi presiden seumur hidup di negara ini mampu menjaga keragaman yang ada, namun setelah ia meninggal, perpecahan mulai timbul. Pertarungan antar kelompok dan etnis yang dipayungi oleh politik. Peperangan panjang terus terjadi antar etnis sepanjang sejarah, dan bahkan tercatat pada perang sipil terbesar pada era Perang Dunia II. Peperangan berakhir pada 2003 setelah akhirnya Yugoslavia pecah menjadi 7 negara yakni, Slovenia, Kroasia, makedonia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Serbia dan Kosovo. Pertanyaan serupa juga dapat diajukan untuk Indonesia. Keragaman yang dimiliki oleh Indonesia selama lebih dari 60 tahun sebagai negara merupakan satu kekayaaan. Namun, kenyataan seperti Yugoslavia tidak dapat dipungkiri apabila kekerasan, apalagi atas nama SARA, terus terjadi. Timor Leste sudah menjadi contoh desintegrasi bangsa. Bibit-bibit tersebut telah mulai tumbuh dan menjamur di Indonesia. Adanya NII sebagai upaya mendirikan negara Islam sejak zaman Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo sampai gerakan-gerakan terorisme dan bentukan organisasi yang mencitakan prinsip syariah di Indonesia. Perkembangan tersebut tidak hanya pada tingkat nasional, melainkan telah sampai ke daerah-daerah dengan pola hirarki kelembagaan yang terstruktur. Termasuk Jawa Tengah, provinsi ini seolah paling

bertanggungjawab dalam kekerasan agama dalam beberapa dekade terakhir yang merupakan wilayah tempat lahirnya Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan beberapa tokoh radikal nasional yang berasal dari titik sentral pulau Jawa ini. Di Jawa Tengah sendiri, organisasi keagamaan yang dianggap radikal cukup banyak. Diantaranya antara lain MMI, HTI, FPI serta gerakan-

gerakan radikal underground dibuktikan dengan banyaknya penangkapa teroris di Jawa Tengah. Dalam sistem negara demokrasi, tumbuhnya organisasi adalah sebuah keniscayaan, perkembangan sebuah organisasi sebagai bentuk lembaga sosial adalah hal yang wajar. Namun apabila arah gerak organisasi tersebut melenceng dari tujuan negara, maka hal tersebut dianggap tidak wajar.

C. Permasalahan Dalam kajian ini, lebih akan difokuskan pada pembahasan mengenai tumbuh kembang radikalisme beragama di Jawa Tengah. Tetapi hal tersebut juga dirasa terlalu luas dan tidak terfokus pada satu tema. Pembahasan tersebut akan kembali dikerucutkan lebih spesifik pada perkembangan FPI di Jawa Tengah. Pertimbangan memilih FPI diantaranya karena FPI merupakan organisasi Islam yang dianggap radikal paling berpengaruh di Jawa Tengah. Spekulasinya dalam beberapa tahun terakhir memunculkan konflik sosial yang disorot secara nasional, bahkan dunia internasional. D. Kerangka Teori Kekerasan adalah kata yang biasa diterjemahkan dari violence, yang dalam bahasa latin disebut violentia. Violence erat berkaitan dengan gabungan kata latin vis (daya, kekuatan) dan latus yang berasal dari ferre (membawa) yang kemudian berarti membawa kekuatan.2 R. Audi merumuskan violence sebagai serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang, atau serangan, penghancuran,

Johan Galtung, Kekuasaan dan kekerasan menurut Johan Galtung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992,cet .1, h. 62

perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang.3 Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, kekerasan adalah perihal atau sifat keras,paksaan, perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain.4 Menurut WHO (1999), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau

kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma atau perampasan hak.5 Menurut Erich Fromm, kekerasan muncul akibat terhalangnya seluruh kehidupan, terhambatnya spontanitas, tersumbatnya pertumbuhan dan ungkapan kemampuan-kemampuan inderawi emosional dan intelektual manusia. Ketika sebagian orang dilarang untuk mengeluarkan pendapat mereka, untuk mencari nafkah, mencari kehidupan, pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, pendidikan dan kesehatan dari sinilah akan muncul penolakan dan percikan-percikan yang akan melahirkan kekerasan yang acapkali berujung perkelahian bahkan kematian. Lebih jauh lagi Erich Fromm mengatakan bahwa pembentukan karakter individu ditentukan oleh pengaruh yang kuat dari pengalaman hidup yang memancar dari kebudayaan terutama pada temperamen dan perlengkapan fisik. Analisis teori konflik menemukan alasan kekerasan pada berbagai bentuk perbedaan kepentingan kelompok-kelompok masyarakat sehingga

kelompok yang satu ingin menguasai bahkan mencaplok kelompok


3

Ibid, hal 63 4Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ( Jakarta : Balai Pustaka, 1988. h. 758. 5 Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, Pemetaan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)melalui kerangka alur kerja analisis gender dan anak sebagai data pembuka : laporan penelitian, Pemprop DKIJakarta dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, ( Jakarta : 2004), h. 21

lainnya. Analisisfungsionalisme structural berpendapat bahwa hampir semua kerusuhan berdarah di Indonesia disebabkan oleh disfungsi sejumlah institusi sosial, terutama lembaga politik. Dalam hal ini negara gagal menerapkan sebuah politikyang menunjang integritas Indonesia sebagai satu bangsa.

E. Analisis FPI Jawa Tengah 1. Sejarah Berdirinya FPI Jawa Tengah Kerusuhan Temanggung 8 Februari 2011 adalah kerusuhan yang berdampak ganda. Satu sisi ia berdampak pada perusakan langsung sejumlah tempat ibadah, kantor pemerintah, kendaraan dan korban luka-luka. Sedikitnya empat gereja dirusak, antara lain Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Betel (Sekolah Shekinah) dan Gereja Pantekosta di Indonesia, Desa Tegowanuh, Kecamatan Kaloran6. Selain itu, satu panti asuhan, Betlehem, juga menjadi sasar amuk massa ini. Berbendera Gerakan Pemuda Kabah (GPK) ratusan orang dibawah komando Ust. Syihabudin melakukan berbagai kerusakan yang menyebabkan Temanggung kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah sebelumnya kasus penangkapan teroris. Namun, sejatinya itu adalah dampak jangka pendek. Hal yang lebih parah dari itu justru terjadi sedikitnya dua tahun setelah tragedi ini. Berkumpulnya pegiat Islam puritan pada event persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Antonius Richmond Bawengan, menimbulkan komunikasi intens yang menciptakan bibit jejaring baru. Yang semula mereka memiliki paham beragama yang keras sendirian, dengan adanya kasus tersebut, mereka kini memiliki banyak relasi.

Data diperoleh dari hasil pengamatan penulis selama prakejadian, kejadian dan pascakejadian.

Pada kerusuhan tersebut, Polda Jawa Tengah menahan puluhan aktivis yang terlibat dalam kerusuhan itu secara langsung. Beberapa dinyatakan bebas bersyarat, sementara yang lainnya dihukum dengan besaran hukuman yang variatif. Ust. Syihabudin yang dinyatakan sebagai provokator dalam kerusuhan ini dijatuhi hukuman tertinggi, 2 tahun. Pascalepas dari statusnya sebagai terpidana dalam kasus ini, Ust. Syihabudin disambut bak pahlawan oleh para aktivis Islam garis keras. Ia dijemput dengan rombongan dan arak-arakan kendaraan bermotor dari Rutan Kelas IIB Temanggung. 12 Mei 2012, Ust Syihabudin yang juga merupakan Ketua GPK Jawa Tengah merayakan Milad GPK di Pondok Pesantren Ridla Allah, Desa Kaloran, Kecamatan Kaloran. Dalam milad tersebut, menghadirkan Ketua DPP FPI, Habib Rizieq Shihab. Salah satu materi dalam pengajian tersebut adalah penguatan gerakan Islam dalam bidang amar makruf nahi mungkar.7 Pada pengajian tersebut pula, Ust. Syihabudin mendapat mandat untuk mendirikan FPI Jawa Tengah dibawah komandonya oleh Habib Rizieq Shihab. Berawal dari titik ini, Ust. Syihabudin mulai mempelajari pola dan sistem keorganisasian FPI. Pada 10 November 2012, FPI Jawa Tengah resmi berdiri. Di Pondok Pesantren Nahdlatut Thulab, Dusun Pandean, Desa Morobongo, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Ust. Syihabudin

membentuk pengurus pertama kali untuk jajaran FPI Jawa Tengah dan FPI Kabupaten Temanggung. Sebagai ketua DPW FPI Temanggung

Data berasal dari pengamatan, wawancara dan pidato yang diperoleh penulis saat kegiatan tersebut.

terpilih M. Lubab, seorang pengasuh pesantren dari Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung.8 Ust. Syihabudin, dipilih menjadi Ketua DPD FPI Jawa Tengah. Pengasuh Pondok Pesantren Al Hadits, Desa Kebonsari, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung ini mengusung program

pemberantasan perjudian, HIV/AIDS, prostitusi, kristenisasi dan minuman keras serta narkoba. 26 Januari 2013, di rumah Kepala Desa Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Ust. Syihabudin melengkapi struktur kepengurusan yang telah ia susun sebelumnya. Ia juga melakukan perubahan terhadap Ketua FPI DPW Temanggung. sejumlah nama saling berganti dan mengisi posisi jabatan strategis dalam kepengurusan. Ketua DPW FPI Temanggung terpilih

sebelumnya, M. Lubab digantikan oleh M. Burhanudin (Kepala Desa Ngadirejo)9. Selanjutnya pada 20 April 2013, di Desa Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo, Ketua DPP FPI, Habib Rizieq Shihab kembali datang ke Kabupaten Temanggung. kedatangannya untuk melantik dan

mendeklarasikan keberadaan FPI di Jawa Tengah. Ia melantik pengurus DPD FPI Jawa Tengah dan DPW FPI Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.10

2. Dasar, Sistem dan Pola Gerak FPI Jawa Tengah Menurut hasil wawancara dan resume pidato yang disampaikan oleh Ketua DPP FPI, Habib Rizieq Shihab, FPI merupakan organisasi sosial keagamaan yang berlandaskan Ahlussunah wal jamaah. Dimana
8 9

Data diperoleh saat penulis menghadiri kegiatan pembentukan pengurus. Data diperoleh saat penulis menghadiri kegiatan reorganisasi personil pengurus. 10 Data diperoleh penulis saat menghadiri, mewawancarai dan mengikuti proses kegiatan pelantikan.

anggotanya tersebar di kelompok Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan kelompok lainnya. Secara kultural, FPI dikatakan lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama dengan prinsip ahlussunnah wal jamaah tersebut.11 Pola ahlussunnah wal jamaah yang diterpkan oleh FPI menurut Habib Rizieq Shihab sama dengan yang diterapkan oleh Nahdlatul Ulama. Namun ia lebih mengedepankan faktor amar makruf nahi mungkar (berbuat kebajikan dan mencegah kejahatan). Pola ini lebih dipilih karena sejauh ini menurut FPI banyaknya organisasi keagamaan yang ada tidak fokus pada hal tersebut. Tingginya tingkat kemaksiatan yang terjadi tidak diimbangi dengan langkah konkrit yang dilakukan oleh ormas Islam yang sudah ada untuk melakukan gerakan untuk mencegah dan menertibkannya. Selain itu, pemerintah yang paling bertanggungjawab atas merebaknya kemaksiatan juga merupakan salah satu alasan paling tepat. Polisi dan Satpol PP yang bertanggungjawab atas keamanan dan ketertiban tidak pernah melakukan tindakan tegas terhadap prostitusi, narkoba, miras dan tindak maksiat lainnya. Penerapan sistem ahlussunnah wal jamaah dilakukan secara seimbang. Satu sisi organisasi ini menerapkan sistem yang lembut kepada masyarakat, namun pada sisi yang lain ia bergerak tegas dalam menindak segala bentuk kemaksiatan. Dalam hal ini, FPI mengambil sikap lemah lembut kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap para sahabat-sahabatnya. Memberikan petuah, nasehat, pengajian dan membantu secara materi.

11

Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Habib Rizieq dan pidato Habib Rizieq saat kegiatan tersebut.

Ia juga meniru Nabi Muhammad yang dalam klaim FPI merupakan orang yang sangat tegas dalam memberikan punishment terhadap pelaku tindak kejahatan, baik kejahatan komunal maupun kejahatan individual. Dalam pola berorganisasinya, FPI juga menerapkan sistem

keorganisasian yang sama dengan Nahdlatul Ulama, tentunya dengan istilah yang berbeda. Untuk tingkat pusat diistilahkan dengan Dewan Pengurus Pusat, selanjutnya ditingkat provinsi Dewan Pengurus Daerah (DPD) dan ditingkat Kabupaten dengan istilah Dewan Pengurus Wilayah (DPW). Untuk tingkat kecamatan disebut Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan tingkat desa disebut Dewan Pengurus Ranting (DPR). Yang dimaksud sama dengan Nahdlatul Ulama adalah pada penentuan formasi struktural. Ia menempatkan Dewan Syuriah disamping Dewan Tanfidziyah. Ketua Dewan Syuriyah berfungsi untuk mengontrol pola gerak dan kerja Dewan Tanfidziyah. Penempatan pola ini berlaku dari tingkat DPP sampai tingkat Ranting. Selanjutnya dalam hasil wawancara terhadap Ketua DPD FPI Jawa Tengah, Ust. Syihabudin12, menyebutkan, FPI Jawa Tengah lebih akan melakukan gerakan terhadap beberapa bidang utama yang disisir. Beberapa bidang yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. Prostitusi Pertimbangannya di Jawa Tengah tersebar banyak tempat prostitusi besar dan kecil seperti Bandungan (Kab. Semarang), Sunan Kuning (Kota Semarang), Gang Sadar (Baturraden, Kab. Banyumas), Alas Karet/Alaska (Kab. Kendal) dan tempat prostitusi kecil yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. b. Kristenisasi
12

Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Ust. Syihabudin.

Program ini marak terjadi di pedesaan dengan tingkat warga miskin tinggi. Menurut hasil survey yang dilakukan FPI, kristenisasi dilakukan dengan memberikan sumbangan secara kontinyu terhadap masyarakat miskin selanjutnya diminta untuk berpindah agama dari agama Islam ke agama Kristen. c. Tempat Ibadah tidak Berizin FPI Jawa Tengah mengklaim telah memiliki data-data seluruh gereja, vihara, pura dan tempat peribadatan lainnya yang tidak memiliki izin resmi dari pemerintah setempat. Tempat-tempat tersebut akan dilakukan penindakan dan penertiban oleh FPI. d. Narkoba dan Miras Narkoba dan minuman keras dinilai oleh FPI sebagai titik awal terjadinya kejahatan dan kemaksiatan. Dengan narkoba dan miras akan timbul berbagai macam jenis kemaksiatan lainnya seperti zina dan perkelahian. e. HIV/AIDS Salah satu faktor pertimbangannya adalah, Kabupaten

Temanggung yang merupakan induk FPI Jawa Tengah merupakan daerah dengan tingkat pengidap HIV/AIDS tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Kabupaten Semarang. Hal ini dinilai perlu dilakukan penertiban dengan aktif merazia pelacuran-pelacuran tepi jalan yang rawan penyebab penularan HIV/AIDS.

3. Sejarah Konflik Sosial FPI Jawa Tengah Dilihat dari proses kelahirannya, FPI Jawa Tengah merupakan organisasi yang belum lama berdiri. Ia terbilang baru untuk sebuah organisasi ditingkat Jawa Tengah. Namun meskipun baru, ia telah memiliki nama yang besar dan disorot secara nasional dan internasional. Adapun beberapa konflik yang pernah terjadi adalah sebagai berikut:

a. Doa bersama dan Tuntutan Penutupan Gereja Kejadian ini terjadi pada perayaan Malam Natal di salah satu gereja di Ungaran, Kabupaten Semarang yang dinilai oleh FPI belum memiliki izin namun telah menyelenggarakan peribadatan. b. Aksi Unjuk Rasa Dilakukan di Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Kabupaten Magelang menuntut agar tindak korupsi dibersihkan dari Kabupaten Magelang yang melibatkan tokoh-tokoh lokal. c. Razia Tempat Prostitusi Dilakukan selama bulan ramadhan 2013 di tempat wisata Bandungan, Kabupaten Semarang. Razia ini sempat dilakukan penolakan oleh scurity dari tempat hiburan yang ada di wilayah ini. d. Razia warung makan Dilakukan pada saat bulan ramadhan 2013 di wilayah wisata bandungan, Kabupaten Semarang pada siang harinya. Warungwarung yang buka pada siang hari dan tidak menjajakan makanan secara terbuka ditertibkan. e. Razia tempat Prostitusi 17 Juli 2013, FPI Jawa Tengah melakukan penertiban terhadap tempat prostitusi Alaska di Sukorejo, Kendal. Pada kejadian ini sempat mendapat penolakan dari warga, namun tidak menimbulkan bentrok. f. Bentrok dengan Warga 18 Juli 2013, FPI kembali melakukan razia warung makan dan tempat prostitusi, terjadi insiden tabrak lari oleh anggota FPI dan menyebabkan bentrokan dengan warga sekitar. Selain kejadian tersebut diatas, terdapat kejadian-kejadian lain dan yang bernuansa konflik yang tidak terpantau.

F. Resolusi Konflik dan Antisipasi

Pusat dari gerakan FPI Jawa Tengah adalah di Kabupaten Temanggung. Segala sesuatu yang berkaitan dengan gerakan FPI diidentikkan dengan Kabupaten Temanggung. Tidak ada penjelasan pasti mengapa hal tersebut terjadi, namun analisis penulis, hal ini terjadi karena Ketua FPI berasal dari Kabupaten Temanggung dan semua aktivitas besarnya terpusat di Kabupaten Temanggung. Untuk melakukan upaya pelemahan FPI, sedikitnya ada tiga elemen yang melakukan langkah-langkah antisipasi. Masing-masing Jaringan

GUSDURian Kabupaten Temanggung, GP Ansor Temanggung dan 234SC Temanggung. GP Ansor dalam hal ini berperan aktif dalam melakukan penggalangan terhadap kalangan pemuda yang aktif di FPI namun tidak tahu menahu mengenai organisasi ini. GP Ansor melakukan perekrutan mereka menjadi anggota Banser dan melatihnya. Selanjutnya mereka diberi ruang ekspresif dalam organisasi pemuda sayap Nahdlatul Ulama ini13. 234SC berperan dalam melakukan penggalangan pada para penganut paham Rifaiyyah. Para penganut Rifaiyah dikembalikan pada

organisasinya dan ditampung untuk berekspresi dalam organisasi Angkatan Muda Rifaiyah (AMRI)14. Jaringan GUSDURian mengambil peran ekstra dalam wilayah ini. Satu sisi, ia bergerak untuk mengantisipasi terjadinya penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah yang cukup besar di Kabupaten Temanggung. Langkah yang ditempuh dengan menemukan antara Jemaat Ahmadiyah dan FPI Jawa Tengah dan FPI Temanggung untuk menitipkan agar tidak terjadi konflik antar kedua organisasi ini. Selain itu, ia juga berperan dalam menguatkan hubungan lintas iman. Komunitas dibawah bendera Yayasan Bani Abdurrahman Wahid ini
13 14

Hasil wawancara dengan Ketua GP Ansor Temanggung, Yami Blumut, SP. Hasil wawancara dengan Ketua 234SC Temanggung, Tata Rismantara, S.Pd

melakukan kegiatan dalam skala besar dan rutinan dengan berbagai agama secara bergiliran untuk menguatkan hubungan lintas agama.15

G. Penutup Tentunya tidak semua tentang FPI Jawa Tengah dapat dirangkum dalam papaer ini. Penulis hanya mampu menghadirkannya secara garis besar saja sebagai salah satu bahan kajian study. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf apabila ditemukan kesalahan pada penyusunan.

15

Data diperoleh dari hasil kegiatan yang dilakukan penulis melalui Jaringan GUSDURian.

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Referensi 1. Human Right Reports 2013, In Religions Name: Abuses against Religious Minorities in Indonesia,, 28 Februari 2013. 2. Johan Galtung, Kekuasaan dan kekerasan menurut Johan Galtung, ( Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1992 3. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Jakarta : Balai Pustaka, 1988 4. Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, Pemetaan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)melalui kerangka alur kerja analisis gender dan anak sebagai data pembuka : laporan penelitian, Pemprop DKIJakarta dengan Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, Jakarta : 2004

Hasil Wawancara 1. Habib Rizieq Shihab, Ketua DPP FPI 2. Ust. Syihabudin, Ketua DPD FPI Jawa Tengah 3. Yami Blumut, SP, Ketua GP Ansor Temanggung 4. Tata Rismantara, Ketua 234SC Temanggung