Anda di halaman 1dari 3

Kebangkitan Gus Dur Jilid Selanjutnya Fakta bahwa Gus Dur telah tiada tidak dapat dipungkiri, bahwa

secara fisik, eksistensinya sudah tidak nampak adalah realita. Namun, banyak hal yang masih menandai keberadaannya ditengah keberadaan dzahirnya yang sudah dimakamkan. Sedikit melenceng, Socrates dengan beragam konsepsi filsafatnya masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan ketika dia meninggal. urid sekaligus sahabatnya, !lato, men"adi generasi penerus yang melan"utkan pencarian "awaban-"awaban atas pertanyaan yang belum ter"awab Socrates, dengan #ersi dan sudut pandangnya. Demikian "uga dengan $ristoteles yang melan"utkan tradisi penemuan "awaban Socrates dan !lato atas pertanyaan-pertanyaan yang bahkan sampai sekarang belum ter"awab sepenuhnya. Ditarik ke ranah Gus Dur, fakta demikian "uga ter"adi. Saat meninggal dunia, masih banyak pertanyaan-pertanyaan dan impiannya yang belum terealisasi. %entang penge"awantahan dari konsepsi, yang belakangan disebut, sembilan nilai dasar Gusdurian. Namun siapa yang berperan men"adi !lato dan $ristoteleslah yang sebenarnya harus dirumuskan. en"adi Gus Dur itu sangat tidak mungkin, dalam arti yang nyata. Namun men"adi Gus Dur untuk edisi selan"utnya adalah peluang yang dapat direalisasikan. Seperti upaya penemuan "awaban !lato atas keraguan Socrates. &ntuk men"adi Gus Dur dalam "ilid selan"utnya, tahapan pertama yang harus dilewati adalah mengubah pola pikir dan pola kesadaran. !erubahan pola, memin"am istilah penghayat adzhab Frankfurt, dari kesadaran na'f men"adi kesadaran kritis. engarahkan dari pola pikir what to think men"adi how to think yang banyak disebut !aulo Freire sebagai conscientization. !entingnya meletakkan kesadaran dan pola pikir pada titik paling awal karena segala sesuatu itu didasari pada pondasi yang kuat. Dan Gus Dur dengan segala sepak ter"ang diberbagai bidang berlandaskan pada pola pikir dan kesadaran itu sendiri, yang tentunya telah terbangun se"ak awal. emin"am pisau analisis ala %aylor, untuk membangun kesadaran tersebut, setidaknya ada tiga tahapan yang harus dilewati, yakni naming, reflecting dan acting. %iga tahapan ini harus dilakukan secara berurutan sehingga tidak mengacaukan metode yang diambil yang merupakan deri#asi dari filsafat praksis. %ahapan awal, naming, adalah step untuk menanyakan sesuatu, atau memberi istilah terhadap sesuatu, what is the problem?. %ahapan ini berlaku untuk mempertanyakan suatu persoalan pada dataran teks, realitas maupun bidang lainnya yang terkait.

!ada fase selan"utnya yang oleh %aylor dinamai reflecting, dituntut untuk menga"ukan pertanyaan-pertanyaan mendasar untuk mencari akar persoalan yang ditanyakan pada tahap pertama. Why is it happening?. !ada tahapan mencari akar persoalan ini menuntut agar membuang pola simplistic dan cenderung menerapkan pola pikir kritis dan reflektif. (ang terakhir, acting, yang sudah menyentuh langsung dataran praktis untuk menyelesaikan problem yang ditemui tadi. Dimana pada tahapan ini dituntut untuk mencari alternatif memecahkan masalah dari hasil fase pertama dan kedua sebelumnya. What can be done to change the situation?. !isau analisis yang ditawarkan %ayor yang ia dikenal sebagai penganut pedagogi dalam adzhab Frankfurt hanya satu contoh dari pisau analisis lainnya yang dapat digunakan, namun secara simple sebenarnya pisau analisis yang ia tawarkan cukup menarik untuk dika"i. encoba menerapkan pola tersebut untuk menganalisis problematika kontemporer saat ini, meru"uk pada hasil apa yang telah Gus Dur lakukan, adalah langkah awal untuk melatih diri men"adi Gus Dur "ilid selan"utnya. )ita memang tidak terlalu dalam dapat memahami fase pertama dan kedua dari apa yang Gus Dur pernah lakukan, yang banyak dilihat adalah fase acting dimana Gus Dur sering memunculkan aksi-aksi yang debatable, bahkan menimbulkan kontro#ersial. Fase pertama dan kedua hanya %uhan dan Gus Dur sendiri yang mengetahui. )unci dasarnya, Gus Dur tidak pernah bertindak tanpa pertimbangan dan tanpa memiliki alasan yang logis. Namnun dengan tidak melihat fase pertama dan kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri telah menga"arkannya melalui banyaknya tulisan di media massa, dalam buku-buku, seminar, serta pidato-pidatonya dalam banyak kesempatan. Dan paling tidak itu men"adi gambaran tentang bagaimana Gus Dur melalui tahapan naming dan reflecting yang dimaksudkan %aylor. Kebangkitan GUSDURian Gus Dur adalah tokoh nasional, selain sebagai presiden keempat republik ini, "uga merupakan tokoh agama, budayawan, dan sekaligus Guru *angsa. encontohkan dalam hubungan antar umat beragama, Gus Dur selalu mengecam aksi-aksi radikal dalam beragama serta mendiskreditkan kaum minoritas. Sebagai tokoh negara, gerakan Gus Dur yang dilakukan se"ak orde baru dapat kita kategorikan sebagai kebangkitan nasional. )ebangkitan pada banyak aspek yang sebelumnya tertidur pulas bahkan menikmati ketertindasan.

%idak perlu dipaparkan pan"ang lebar terkait semua langkahlangkah yang diambilnya. Namun, apabila gerakan Gus Dur tersebut dikategorikan sebagai gerakan )ebangkitan Nasional, maka perlu dilakukan gerakan-gerakan serupa oleh Gus Dur-Gus Dur "ilid selan"utnya sebagai komitmen untuk melan"utkan proyeksi dan temuan-temuan "awaban atas pertanyaan yang Gus Dur belum sempat menemukan "awabannya. G&SD&+ian sebagai punggawa pemikiran dan pelestarian tradisi yang diwariskan Gus Dur adalah kendaraan. Dan para akti#is yang terlibat didalamnya, multi etnis multi agama, adalah sebagai masinisnya. Seberapa "auh lokomotif G&SD&+ian mela"u tergantung dari seberapa besar per"uangan para masinisnya untuk mendorong. +ealitas dan problem social yang dihadapi belakangan ini lebih menyentuh pada problem-problem social keagamaan. ,ontoh dengan banyaknya aksi penutupan gere"a secara sepihak oleh kelompok -slam Garis )eras, penekanan $hmadiyah oleh kelompok yang sama serta problem lintas suku dan agama lainnya. -nilah yang dimaksud dengan pertanyaan yang belum ter"awab oleh Gus Dur. !ertanyaan tidak hanya dalam dataran teks, melainkan telah sampai pada konteks. Dimana cita-cita Gus Dur untuk membentuk keragaman yang harmonis belum sepenuhnya terwu"ud. Dan "awaban atas pertanyaan itu, lagi-lagi, tergantung dari para masinis G&SD&+ian mendorong lokomotif. Diluaran yang tidak terpantau, problem-problem lain tentu masih sangat banyak, baik konflik yang timbul dalam skala nasional, maupun skala local yang tingkat dampaknya tidak terlalu besar. %etapi itu problem yang men"adi tantangan G&SD&+ian mencari "awaban, sebagaimana !lato dan $ristoteles yang mencari "awaban atas pertanyaan Socrates. .aringan G&SD&+ian yang memiliki puluhan komunitas G&SD&+ian di berbagai )abupaten )ota di -ndonesia harus mampu men"adi benteng awal, sekaligus pasukan infanteri untuk menemukan "awaban-"awaban pertanyaan yang dia"ukan Gus Dur, dalam konteks local dan regional. eskipun masih berusia belia, tidak men"adi penghambat bagi gerakan G&SD&+ian untuk eksis dan aktif dengan pondasi yang telah dibangun Gus Dur. (*)