Anda di halaman 1dari 17

Ayat-Ayat Perdamaian Abraham (Comparative Study of Sacred Texts)

Disusun untuk tugas mata kuliah Study Al Quran dan Hadits: Perbandingan dengan Teks Suci Agama Lain oleh Prof. Dr. H. Djamannuri, MA

Disusun oleh: Abaz Zahrotin 1320512095

STUDY AGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK PRODI AGAMA DAN FILSAFAT PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Ayat-Ayat Perdamaian Abraham (Comparative Study of Sacred Texts)

A. Abstraksi Belas kasih itu penting karena perbedaan agama seharusnya menjadi dasar untuk membangun komunitas global dimana semua orang bisa hidup bersama dengan saling menghargai dan tidak menjadi alasan bagi pihak yang berkuasa untuk menyakiti mereka yang lemah. Bila belas kasih ini bisa tercapai, bukan tak mungkin kita mewariskan dunia yang jauh lebih layak kepada generasi berikutnya. Ideologi apapun-religius maupun sekular-yang menumbuhkan kebencian dan pelecehan antarsesama adalah ujian untuk kita semua saat ini. Karen Amstrong, menuliskannya dalam buku Twelve Steps to a Compassionate Life medio 2010 lalu. Sebagai seorang peneliti agama-agama besar di dunia, Amstrong memiliki cara pandang yang khas yang lebih mengambil sisi belas kasih dalam ajaran agama-agama besar1. Kesimpulannya, bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan mencintai kedamaian. Hanya saja, eklusifitas para penganut agama, terkadang menutup diri untuk mengekspresikan belas kasihnya terhadap penganut agama lain. Sangat wajar ketika pada akhirnya, Amstrong sangat merindukan adanya sebuah komunal kolektif dengan latar belakang yang berbeda, dengan ajaran yang berbeda dan keyakinan tentang keagamaan yang beragam menjadi satu masyarakat dunia yang ideal.

B. Latar Belakang Dalam mengkaji ajaran agama, acapkali para pemeluknya mempelajari hanya pada sebagian isi. Mayoritas penganut agama mengenal agama tidak secara keseluruhan isi ajaran. Dan yang paling diutamakan lebih pada pengenalan ritus
1

Karen Amstrong, Twelve Steps to A Compassionate Life, Mizan, Bandung, 2010

beragama. Ritus tentang tata cara menyembah Tuhan dalam versi agama masingmasing. Sebagian besar penganut agama itu pula, mengenal agama hanya sebagai the way of Gods, hanya pada sisi tentang bagaimana menyembah Tuhan. Namun pada sisi lainnya, acapkali tidak didalami dengan serius. Pemahaman bahwa ajaran agama lebih pada pendalaman mengenai tata cara peribadatan seringkali juga menjadi penyebab konstruksi pemikiran ekslusif dalam beragama. Ditengah pendalaman yang terbatas itu, pengetahuan tentang ajaran agama lain juga mengalami keterbatasan. Apalagi dengan penekanan ekslusifitas beragama. Bahkan, pandangan vis a vis terhadap agama lain menjadi tahapan selanjutnya dari penekanan ekslufitas. Pemahaman yang ekslusif tersebut, juga terkadang menjadi pemicu munculnya ketegangan antar agama. Ketegangan yang kemudian menjadi konflik hingga melebar. Kecurigaan yang tinggi terhadap agama lain terus terjadi, bahkan mengakar sampai pada tingkat terbawah dalam strata beragama. Kejadian 11 September 2001, tentang pengeboman WTC di Amerika Serikat yang bermula dari aksi terorisme, kemudian melebar menjadi konflik agama dan semacam perang dunia di Timur Tengah hingga saat ini. Adalah contoh besar dari penerapan cara pandang agama yang ekslusif dipadu dengan kekuatan militer dan politik. Terjadinya konflik tersebut tidak lepas dari para penganut agama di dunia yang kurang begitu mendalami sisi humanisme, konsepsi perdamaian dan hubungan antar agama yang sebenarnya terdapat pada masing-masing ajaran agama itu sendiri. Konflik tersebut bermula dari adanya mainstream pengenalan agama sebagai ritus ketuhanan dan mengesampingkan faktor humanisme.

C. Batasan Kajian Di dunia ini, jumlah agama mencapai ratusan, bahkan bisa lebih dari angka tersebut. Masing-masing antara satu dan yang lain memiliki ciri khas yang berbedabeda. Meskipun pada dasarnya sama, yakni memenuhi kebutuhan spiritual.
2

Banyaknya agama dengan ragam ajaran yang ada juga akan menjadi kesulitan ketika satu agama dengan agama yang lain dilakukan study komparatif. Sehingga, pembatasan pada objek kajian sangat dipentingkan. Tentunya juga dengan melihat kelas penganutnya dan unsur historisitas dan historikalitasnya. Terkait dalam study perdamaian yang diangkat dalam kajian ini, juga dilakukan pembatasan objek sehingga akan lebih fokus dan terarah. Pembatasan sendiri dilakukan terhadap agama-agama yang pada unsur historisitas dan historikalitas memiliki keterikatan satu sama lainnya. Objek khusus yang akan dikaji adalah agama-agama yang berada dalam keluarga Abraham/Ibrahim. Yakni yang disebut oleh Karen Amstrong sebagai agama samawi. Secara lebih spesifik lagi, tiga agama yang akan diulas dalam teori kedamaian, masing-masing pada kitab suci agama Islam, Kristen dan Yahudi. Ketiga agama tersebut memiliki hubungan kuat pada sisi sejarah yang bertemu pada pangkal ajaran. Ketiganya memiliki tuhan yang sama, Allah, dengan unsur keterikatan sejarah yang kental. Pada ketiga teks suci masing-masing agama tersebut juga terdapat banyak kesamaan ajaran, meskipun pada praktik teori peribadatannya berbeda. Pembatasan dengan memilih kajian agama dalam keluarga Abraham juga mempertimbangkan bahwa ketiga agama ini merupakan agama mayoritas di dunia. Dimana sebagian besar penduduk bumi menganut tiga ajaran ini. Dengan demikian, kajian ini akan lebih dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan oleh lebih banyak orang dibanding dengan memilih ajaran agama yang wilayah penganutnya sedikit.

D. Landasan Teori Dalam hal perbandingan agama, agama dalam keluarga Abraham menjadi agama yang paling banyak dikaji oleh para peneliti. Ribuan kajian dalam bentuk buku atau karya ilmiah lainnya telah diorbitkan dan menjadi rujukan dari penggalian unsur dasar dari ketiga agama tersebut.

Sebagian besar diantaranya mencari kesamaan dan titik pangkal ajaran agama Abraham dan sebagian kecil lainnya mencari perbedaan diantara ketiganya. Kajian secara tematik juga telah banyak dilakukan. Kajian tematik ini menjadi hal yang cukup diminati mengingat perbandingan agama yang ada lebih mendasarkan pada kebutuhan tematik dibanding kajian dalam sisi historis dan historikalitas. Dalam kajian ini, penulis lebih akan mendalami secara tematik tentang perbandingan tiga agama yang ada, yakni terkait perdamian yang ada dalam kitab suci ketiga agama tersebut. Titus Livius (59 SM- 17 M), seorang sejarawan Romawi, namanya memang tidak terlalu dikenal oleh publik, tetapi ucapnnya yang dikenal banyak orang pada beberapa abad terakhir patut dijadikan rujukan. Ia dikenal sebagai pencipta adagium klasik tentang perang, dalam sebuah ucapannya, ia menyebut si vis pacem, para bellum, yang kurang lebih diartikan sebagai jika engkau menginginkan perdamaian, maka siapkanlah perang2. Adagium klasik tersebut oleh kalangan tertentu dianggap sebagai sebuah resolusi konflik yang disajikan untuk mengatasi berbagai konflik yang muncul. Namun, ia terkesan kejam dalam penyelesaian masalahnya. Tetapi faktanya memang demikian, banyak konflik yang terjadi, untuk mencapai perdamaian, harus dilewati dengan perang. Untuk contoh konkrit aktualnya, bisa dilihat perang yang terjadi di Timur Tengah dalam beberapa dasawarsa terakhir, yang atas nama perdamaian dunia, perang terus berkecamuk. Prof. Dr. Amin Abdullah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, juga memiliki cara pandang yang cukup baik untuk dirujuk. Menurutnya, praktik pendidikan agama pada umumnya masih menggunakan paradigma Konflik dan Independensi. Hubungan antara agama, dalam hal ini Ulumul al-din (ilmu-ilmu agamaI Islam) dan ilmu kealaman, sosial maupun budaya meniscayakan corak hubungan yang bersifat dialogis integratif-interkonektif. Corak hubungan antara disiplin ilmu keagamaan dan disiplin ilmu alam, sosial dan budaya di era modern dan post-modern adalah semipermeable, intersubjective, testability dan creative imaginations.
2

Robert B Baowollo (eds), Menggugat Tanggung Jawab Agama-Agama Abrahamik dalam Perdamaian Dunia, Kanisius, Yogyakarta, 2010, hal. 16.

Liniearitas ilmu dan pendekatan monodisiplin dalam rumpun ilmu-ilmu agama akan mengakibatkan pemahaman dan penafsiran agama kehilangan kontak dan relevansi dengan kehidupan sekitar. Budaya berpikir baru yang secara mandiri mampu mendialogkan sisi subyective, objective dan intersubjective dari keilmuan dan keberagaman menjadi niscaya dalam kehidupan dan keberagaman era multikultural kontemporer. Kesemuanya ini akan mengantarkan perlunya upaya yang lebih sungguh-sungguh untuk melakukan rekonstruksi metodologi studi keilmuan dan metodologi keilmuan agama di tanah air sejak dari hulu, yakni filsafat ilmu keagamaan sampai ke hilir, yaitu proses dan implementasinya dalam praksis pendidikan. Paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan adalah niscaya untuk keilmuan agama dimasa sekarang, apalagi masa yang akan datang. Jika tidak, maka implikasi dan konsekwensinya akan jauh lebih rumit baik dalam tatanan sosial, budaya, lebihlebih politik, baik politik nasional, regional, nasional maupun global. Linearitas ilmu agama akan mengatur peserta didik berpandangan myopic dalam melihat realitas hidup bermasyarakat dan beragama yang semakin hari bukannya semakin sederhana tetapi semakin kompleks, sekompleks kehidupan itu sendiri3.

E. Bible Tentang Perdamaian Kristen bagi masyarakat di dunia menjadi agama mayoritas. Agama ini merupakan agama keluarga Ibrahimi yang titik pangkalnya pada Yesus (Isa). Kristen bukan merupakan agama tertua dalam keluarga Abraham, ia menjadi agama yang lahir kedua sebelum terakhir dalam renteng sejarah agama Abraham. Ajaran tentang kasih sayang dan perdamaian bagi agama ini tampak menonjol. Simbol-simbol keagamaan selain salib, acapkali membawa pesan damai. Sebagai tokoh sentral, Yesus selain dikenal sebagai juru selamat, pada wajah lain dikenal sebagai Raja Damai karena sifatnya yang anti terhadap kekerasan. Bible sebagai kitab suci agama ini, tidak ditemukan adanya ajakan atau ajaran Yesus tentang ajakan perang, apalagi perang atas nama agama. Ia justru menempatkan
3

Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, pada studium general Integrasi Interkoneksi dalam Masyarakat Multikultural Indonesia: Dari Gontor ke Turki bali neng Jogja, 20 September 2013 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

diri sebagai pihak yang selalu mengajak untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Melawan kekerasan dengan tanpa kekerasan bukan berarti menyerah dan pasrah, tetapi mencari jalan lain untuk mengatasi kekerasan itu sendiri. Dalam hal perdamaian, Bible banyak menyebut tentang larangan tindak kekerasan, konflik dan peperangan. Pembunuhan bagi agama ini adalah larangan yang secara tersurat disebutkan dalam Kitab Keluran (20:13) dengan perintah Jangan Membunuh. Bible juga menyuruh untuk melakukan tindakan mengakhiri konflik dengan berbagai cara. Tentunya dengan menghindari kekerasan dalam penyelesaiannya itu sendiri. Yesaya (14:7) menggambarkan tentang perdamaian yang indah, Segenap bumi sudah aman dan tentram; orang bergembira dengan sorak sorai. Berikut beberapa petikan ayat dalam bible yang menyebut tentang perdamaian, resolusi konflik dan hubungan antar umat beragama.

No 1

Kitab Matius (5:9)

Isi Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.

Yesaya (2:4)

Yesaya (32:17)

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

Daniel (9:9) Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

Yohanes 4:16

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman,

karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. 6 Imamat 19:17-18 (18) Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. (19) Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah

kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan. 7 Lukas 6 : Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: 27 Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu 8 Matius 12 9 6: (12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? (22) Yesus berkata kepadanya: Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. 10 Matius 5 : (38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi 38-39 ganti gigi. (39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 11 Lukas 6:35 (35) Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anakanak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 12 Lukas 6:37 (37) Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. 13 Imamat 19:33 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu,
7

Matius 18 : (21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: 21-22

19:33-34

janganlah kamu menindas dia. 19:34 Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

14

Lukas 6 : Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan 37 dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Terlalu banyak dalam bible tentang ajaran mengenai pengutamaan kasih dan perdamaian. Banyaknya ayat yang menyebut hal itu menyebabkan tidak seluruhnya dapat terangkum dalam kajian ini. Ayat-ayat yang tercantum diatas hanya sebagai contoh dari bahwa bible mengajarkan tentang perdamaian. Bible berbicara tentang keadilan, pentingnya pemberian maaf serta mengasihi sekalipun terhadap musuh dan lain sebagainya. Yesus sebagai pembawa pesan damai juga memberikan teladan kepada umatnya bagaimana konsep tentang perdamaian itu dipraktekkan dalam kehidupan. Satu-satunya cerita yang menceritakan bahwa Yesus marah adalah ketika Yesus mengambil cambuk dari tali dan mengusir pedagang-pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah. Tindakan ini tentu saja sama sekali tidak membahayakan siapapun kecuali nyawanya sendiri, karena semenjak peristiwa tersebut para pejabat Yahudi sepakat untuk menghukum mati Yesus. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang Yesus dalam mengajarkan perdamaian dimana hal tersebut membuat umat kristiani terinspirasi untuk senantiasa membawa membawa misi perdamaian di muka bumi.

F. Yahudi dan Ajaran Perdamaian Yahudi merupakan agama yang paling disorot selain Islam dalam hal konflik antar umat beragama di dunia. Sejak berdirinya negara Israel dengan membawa bendera Yahudi, agama ini terus menerus terjadi konflik yang ditarik pada ranah politik dengan Palestina. Yang pada akhirnya melebar ke Timur Tengah secara umum.
8

Dalam kacamata publik, mencari titik perdamaian pada ajaran agama ini cukup sulit. Apalagi jika melihat bahwa Yahudi lebih diidentikkan dengan negara Israel ketimbang digambarkan sebagai suatu ajaran agama. Yahudi disematkan sebagai negara dalam kacamata masyarakat dunia dan meninggalkan keasliannya sebagai sebuah agama keluarga Abraham. Gilad Atzmon, seorang Yahudi tulen sekaligus cucu tokoh sayap kanan organisasi teror Israel yang bernama Irgun, adalah penentang utama penyematan itu. Ia menentang keras adanya penyamaan Israel sebagai Yahudi. Bahkan, sebagai penganut Yahudi, ia menyerukan untuk membubarkan negara Israel dan mengembalikan hak atas wilayah kepada Palestina sebagai pemilik aslinya4. Gilad bukanlah yang pertama dan bukan pula satu-satunya seorang Yahudi yang justru menentang Zionisme. Di barisan Gilad, ada nama Profesor Norman Finkelstein (sejarawan Amerika keturunan Yahudi) yang berkali-kali menulis di media cetak dan muncul di televisi untuk membela Palestina dan bahkan mendukung secara terang-terangan gerakan Hizbullah di Libanon. Finkelstein tak peduli meski sikapnya itu menjadikannya dipecat dari DePaul University, tempat ia mengajar, pada tahun 2007. Ia bahkan tak peduli walau kedua orang tuanya menjadi korban kekejian Hitler (tokoh yang dianggap menghabisi bangsa Yahudi dalam tragedi Holocaust). Ada pula nama Profesor Richard Falk, seorang keturunan Yahudi, yang juga gencar menentang Israel. Tak ketinggalan pula nama Noam Chomsky yang sering disebut sebagai intellectual godfather pemikiran anti-Israel. Serta Michael Lerner, seorang keturunan Yahudi, yang memimpin Majalah Tikkun yang terus memuat fakta kekejaman Israel. Bahkan, ada kelompok yang terdiri dari para Rabi Yahudi Ortodoks yang terus menentang Israel karena bertentangan dengan kitab dan ajaran suci Yahudi. Para penganut Yahudi yang menentang Zionisme-Israel tersebut mendasarkan bahwa Yahudi merupakan sebuah agama dimana didalam ajarannya juga menyuarakan tentang perdamaian. Dimana posisi Yahudi harus dikembalikan dan dibersihkan dengan tidak adanya kekerasan untuk merebut wilayah, apalagi dengan kekerasan.

http://mizan.com/news_det/gilad-atzmon-adalah-musa-era-ini.html, di kutip pada 20 Oktober 2013

Kitab suci Torah, adalah kitab suci agama ini. Pada dasarnya, konsep torah sama dengan bible. Hanya saja terdapat perbedaan yang mendasar diantara penerapan dalam kedua agama tersebut. Materi dan isi dalam Torah, juga sama persis pada Bible yang dijadikan rujukan keagamaan Kristen. Torah mengacu pada Lima Kitab Musa, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Tetapi Torah juga dapat digunakan untuk merujuk kepada seluruh Yahudi Al Kitab. Perbedaan dengan Bible, Torah tidak mengenal Perjanjian Lama. Apa yang disebut sebagai pembedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dianggap sebagai milik Kristen yang tidak dipakai oleh Yahudi. Terkait ayat-ayat tentang perdamaian pada Torah, dapat pula dilihat pada table Bible diatas yang termasuk dalam ajaran Yahudi. Sebagian besar terdapat pada Perjanjian Lama versi Bible yang ditulis oleh Musa.

G. Ayat-Ayat Perdamaian Al Quran Dalam ajaran agama Islam, Al Quran juga tidak sedikit mengajarkan tentang ajaran perdamaian dan pentingnya menyelesaikan konflik tanpa melalui peperangan. Namun dalam sejarah agama yang dibawa oleh Muhammad ini, Islam lebih dikenal sebagai agama yang mengedepankan perang di kalangan masyarakat Barat. Sehingga unsur damai dalam ajaran Islam tidak ditonjolkan. Islam dalam banyak hal, terutama merujuk pada sejarah, merupakan agama yang juga mengenal perang. Bahkan, peperangan juga dilakukan oleh Muhammad sebagai pemimpin agama Abraham terakhir. Bagi kalangan muslim, apa yang dilakukan Muhammad memiliki alasan, peperangan dilakukan untuk menciptakan perdamaian. Tetapi bagi orang yang berpandangan negatif terhadap Islam, Muhammad tidak lebih sebagai seorang penjajah perang dan memperluas tanah jajahan. Dalam beberapa dekade terakhir, cap Islam sebagai agama kekerasan makin menajam. Apalagi setelah terjadinya tragedi WTC, 11 September 2001 silam. Dimana Islam lebih diidentikkan dengan tindak terorisme dan kekerasan dibanding dengan agama yang penuh kasih.

10

Dalam beberapa sekte di Islam, juga terdapat sekte yang mengutamakan kekerasan diatas segalanya demi memperluas dan melebarkan sayap agama ini. Bahkan dalam kepercayaan sekte tersebut, membunuh orang selain Islam adalah ibadah. Penafsiran Islam sebagai agama teror juga memunculkan kebencian orangorang Barat terhadap Islam itu sendiri. Bahkan, perlawanan seringkali muncul untuk menekan laju pertumbuhan Islam di benua Eropa dan Amerika. Penganut Agama Islam dicurigai, apalagi pendatang yang memasuki negara-negara tersebut. Padahal sesungguhnya, Islam merupakan agama cinta damai yang menempatkan peperangan sebagai alterantif terakhir apabila langkah-langkah penyelesaian konflik telah dilakukan dan tidak membuahkan hasil. Peperangan dilakukan untuk menciptakan perdamaian di dunia. Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang mengajarkan tentang perdamaian, kasih sayang dan menghormati antar umat beragama.

No 1

Surat Al-Anbiyaa: 107 Saba: 28

Arti Ayat Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Ali Imran 103

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

At-Taubah:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari

11

128

kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Al-Nisa [4]:90

...Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepadamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangimu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka

membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka. 7 AlMumtahanah [60]:8 Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. 8 Al (5): 8 -Maidah "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." 9 Al Baqoroh Dan perangilah pada jalan Allaah S. W. T. orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah melampaui batas,

(2): 190 - 194

sesungguhnya Allaah S. W. T. tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 10 Al Baqoroh Maka jika mereka berhenti (memerangimu; peny.), maka
12

192

sesungguhnya Allaah S. W. T. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

11

Al-Maidah:32

bahawasanya sesiapa yang membunuh seorang manusia dengan tiada alasan, atau melakukan kerosakan di muka bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia semuanya;

12

Al-Hujurat:10

Sebenarnya orang yang beriman itu bersaudara maka damaikanlah di antara dua saudara kamu itu; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beroleh rahmat.

13

Al-Anfal:46

Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah kamu; sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar.

14

Maryam:96

Sesungguhnya orang yang beriman dan beramal soleh, Allah yang akan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dengan perasaan kasih sayang.

15

Al Imran:110

Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada yang mungkar, serta kamu pula beriman kepada Allah. ...

16

Al-Araf:199

Terimalah apa yang mudah engkau lakukan, dan suruhlah dengan perkara yang baik, serta berpalinglah daripada orang yang jahil.

Apa yang dicantumkan diatas bukan seluruhnya merepresentasikan isi Al Quran yang menyebut tentang ajaran kedamaian dalam Islam. Namun, itu hanya sebagai beberapa petikan ayat saja. Masih terdapat banyak ayat-ayat lain, baik secara tersirat maupun tersurat yang bersumber dari Al Quran.

13

H. Kajian Komparatif Melihat dari kacamata historis ketiga ajaran agama tersebut diatas, salah satu titik kunci adalah Abraham. Ia menjadi titik pangkal dari berdirinya ketiga agama itu. Dua agama, yakni Yahudi dan Kristen berasal dari keturunan Bani Israel dan Islam merupakan keturunan Abraham yang tidak termasuk Bani Israel. Sebagai agama Abraham yang bertuhan Allah, ketiga ajaran agama ini memiliki latar belakang gambaran umum tentang perdamaian dan keadilan yang nyaris sama. Perbedaan pada hanya sisi penafsiran dan praktik penerapannya. Ketiganya dalam membahas terkait perdamaian juga mengarahkan manusia untuk berada pada jalur yang tepat, yakni membawa rahmat bagi alam semesta. Rahmat yang diberikan tidak hanya pada internal agama itu sendiri,melainkan kepada seluruh umat manusia. Ayat-ayat yang disajikan, baik versi Kristen, Yahudi maupun Islam menyebut tentang perdamaian secara tersurat. Bunyi ayat langsung melakukan larangan, tindakan pencegahan atau antisipasi. Pada bagian lain, ketiganya juga membawa kisah-kisah klasik tentang riwayat kenabian sebelum mereka yang menyiratkan perdamaian dan anti kekerasan. Pola yang sama ditemui pada ketiga dasar ajaran agama tersebut. Ketiganya mengarahkan seluruh manusia untuk lebih memilih jalur perdamaian dibanding mengutamakan kekerasan dan tindak mengutamakan keselamatan kolektif. Damai dalam pandangan agama kristiani merujuk pada kata eirene dalam bahasa Yunani atau syallom di dalam bahasa Ibrani yang kemudian diterjemahkan menjadi damai sejahtera. Damai tidak hanya berarti bahwa tidak ada perang, pertikaian atau kekacauan, tetapi suasana hati dan lingkungan masyarakat di mana hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan diri sendiri tenang, bahagia dan terbuka kepada sang pemberi damai. Dalam Islam, damai bahkan menjadi greeting pada perjumpaan dan mengawali pembicaraan. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

(Keselamatan semoga ada atas diri kalian dan kasih sayang Allah serta Barokah-Nya).
14

Saling memberi pesan keselamatan dan mendoakan satu sama lain diwujudkan dalam ritus yang berlangsung sampai saat ini, bahkan dalam forum resmi di Indonesia dan beberapa negara lainnya. Perdamaian tidak dapat terjadi tanpa keadilan, hormat kepada martabat dan hak perorangan. Tanpa keadilan baik dalam hubungan pribadi, sosial maupun internasional akan menyebabkan kekacauan dan kekacauan akan menyebabkan kekerasan di bumi. Keadilan juga harus dilengkapi dengan cinta. Dengan cinta, maka sesama manusia akan menjadi saudara, sehingga akan terjadi hubungan untuk saling berbagi baik dalam kesengsaraan maupun kegembiraan. Cinta juga akan membuat manusia untuk sanggup mengampuni dan memaafkan karena pengampunan adalah salah satu faktor yang penting dalam memulihkan perdamaian setelah pecah pertikaian. Baik kebenaran, keadilan maupun cinta itu mengandaikan adalanya kemerdekaan sebagai salah satu sifat hakiki yang dimiliki dengan manusia. Kemerdekaan akan memungkinkan manusia untuk bertindak berdasarkan akalnya dan memikul tanggungjawab atas segala tindakannya sendiri, karena manusia secara pribadi akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan atas segala tindakannya

I. Penutup Demikian papper ini disajikan sebagai bahan dasar kajian, tentunya masih terdapat banyak hal yang perlu dikaji lebih jauh sehingga lebih bermanfaat. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan pada penulisan ataupun kekeliruan materi kajian.

15

DAFTAR PUSTAKA

Karen Amstrong, Twelve Steps to A Compassionate Life, Mizan, Bandung, 2010 Robert B Baowollo (eds), Menggugat Tanggung Jawab Agama-Agama Abrahamik dalam Perdamaian Dunia, Kanisius, Yogyakarta, 2010 Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, pada studium general Integrasi Interkoneksi dalam Masyarakat Multikultural Indonesia: Dari Gontor ke Turki bali neng Jogja, 20 September 2013 Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam http://mizan.com/news_det/gilad-atzmon-adalah-musa-era-ini.html, di kutip pada 20 Oktober 2013

16