Anda di halaman 1dari 0

54

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
IV.1.1 Lokasi Penelitian
Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Jakarta yang terletak di Jalan Diponegoro No. 71
Jakarta Pusat.
IV.1.2 Visi dan Misi
1. Visi
Menjadi Rumah Sakit pendidikan yang mandiri dan
terkemuka di Asia Pasifik tahun 2011
2. Misi
a. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan
bermutu serta terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
b. Menjadi tempat pendidikan dan penelitian tenaga
kesehatan
c. Tempat penelitian dan pengembangan dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui
manajemen yang mandiri.
IV.2 Hasil Penelitian
Berikut ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Ruang
Rawat Inap Lantai 2 Gedung A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta untuk mengetahui hubungan antara faktor usia dan paritas terhadap
kejadian preeklampsia berat dengan menggunakan analisis univariat yang
kemudian dilanjutkan analisis bivariat.



54
55

IV.2.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Subyek pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin dengan
preeklampsia berat yang di rawat di Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Data dalam penelitian ini diambil melalui buku register pasien yang
dirawat di Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A Periode Juli Desember
2010 dengan jumlah 827 persalinan yang terdiri dari berbagai macam
kasus di antaranya kasus preeklampsia berat sebanyak 84 pasien, kasus
persalinan normal 95 pasien, sisanya adalah kasus persalinan dengan
tindakan forsep, vakum, sectio secarea dan komplikasi lain. Peneliti hanya
memfokuskan pada pasien dengan preeklampsia berat dengan jumlah 84
kasus. Hal ini dilakukan agar data yang diperoleh lengkap sesuai dengan
variabel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah
ditentukan serta memudahkan dalam pengolahan dan analisis data.
Peneliti mengambil data pasien preeklampsia berat dengan teknik
sampling jenuh sehingga jumlah sampel kelompok kasus sebesar 84
pasien, sedangkan untuk kelompok kontrol peneliti mengambil kasus
persalinan normal dari 95 kasus yang ada peneliti menggunakan teknik
consecutive sampling, yaitu mengambil data secara berurut mulai dari n1
hingga diperoleh sejumlah n sesuai dengan kelompok kasus, sehingga
jumlah sampel kelompok kontrol 84 pasien karena pada penelitian ini
menggunakan perbandingan 1:1. Selanjutnya data akan disajikan dalam
tabel berikut:
Tabel 3: Frekuensi Kejadian Preeklampsia Berat di Ruang Rawat
Inap Lantai 2 Gedung A RSCM Jakarta Periode Juli Desember
2010
Kasus PEB Jumlah %
Ya 84 10.1
Tidak 743 89.9
Jumlah 827 100

56

Berdasarkan tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa frekuensi kejadian
preeklampsia berat di Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A Rumah Sakit
Cipto Mangunkusumo Periode Juli Desember 2010 sebesar 84 kasus
(10.1%).
Selanjutnya akan disajikan secara rinci (kejadian preeklampsia
berat setiap bulan) pada tabel 4.
Tabel 4: Gambaran Angka Kejadian Preeklampsia Berat di Ruang
Rawat Inap Lantai 2 Gedung A RSCM Jakarta Periode Juli
Desember 2010.









Berdasarkan tabel 4 insidensi preeklampsia berat tertinggi terjadi
pada bulan Oktober yaitu sebanyak 25 kasus. Insidensi preeklampsia berat
terendah terjadi pada bulan Desember yaitu sebanyak 8 kasus.

IV.2.2 Analisis Univariat
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti.
Analisis univariat yang dilakukan meliputi variabel independen (usia ibu
dan paritas), dan variabel dependen yaitu preeklampsia berat
1. Usia Ibu
Subyek penelitian ini adalah semua ibu bersalin dengan penyulit
preeklampsia berat yang di rawat di Ruang Rawat Inap Lantai 2
Gedung A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta periode Juli
Bulan
Preeklampsia Berat
Ya Tidak Tota
Persalinan N % N %
Juli 12 14.2% 23 27.3% 35
Agustus 11 13.0% 11 13.0% 22
September 11 13.0% 15 17.8% 26
Oktober 25 29.7% 9 10.7% 34
November 17 20.2% 13 15.4% 30
Desember 8 9.5% 13 15.4% 21
Total 84 100 % 84 100 % 168
57

Desember 2011 sebanyak 84 responden ditambah dengan ibu bersalin
yang tidak memiliki penyulit saat bersalin sebanyak 84 responden.
Selanjutnya akan dijelaskan pada tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5: Deskripsi Usia Ibu Saat dilakukan Penelitian di Ruang
Rawat Inap Lantai 2 Gedung A RSCM Jakarta Periode Juli
Desember 2010.




Pada tabel 5 di atas N merupakan penjumlahan dari kelompok
kasus dan kelompok kontrol. Selanjutnya dapat dilihat bahwa rerata
usia pasien dengan preeklampsia berat adalah 30 tahun, usia pasien
termuda adalah 15 tahun sedangkan usia pasien tertua adalah 44 tahun.
Tabel 6: Distribusi Frekuensi Responden Berdasakan Usia di
Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A RSCM Jakarta Periode
Juli Desember 2010.
Kelomp
ok usia
Preeklampsia Berat
P.
Value
OR
(Odds
Ratio)
Ya Tidak Total
N % N % N %
Berisiko
tinggi
27 57.4 20 42.6 47 100
0.302 0.660 Berisiko
rendah
57 47.1 64 52.9 121 100
Jumlah 84 50.0 84 50.0 168 100
Berdasarkan distribusi frekuensi dari usia ibu dengan kejadian
preeklampsia berat didapatkan bahwa jumlah persalinan pada
kelompok berisiko tinggi sebanyak 47 responden, dimana yang di
rawat dengan preeklampsia berat sebanyak 27 responden (57.4 %) dan
yang normal sebanyak 20 responden (42.6%). Responden yang
usianya masuk kriteria berisiko rendah berjumlah 121, yang terdiri dari
57 responden (47.1%) mengalami persalinan dengan preeklampsia
Variabel
(tahun)
N Minimum Maksimum Rata-rata S D
usia 168 15 44 30 6.532
58

berat dan 64 responden (52.9%) yang mengalami persalinan normal.
Hasil penelitian di atas dapat dikatakan bahwa responden yang usianya
termasuk dalam kelompok berisiko tinggi (<20 dan >35 tahun)
mengalami kecenderungan terjadi preekalmpsia berat bila
dibandingkan dengan responden yang termasuk dalam kelompok
beresiko rendah (20-35 tahun).
Setelah menggunakan uji chi square diperoleh nilai p.value =
0.302. berarti kesimpulanya tidak ada perbedaan kejadian
preeklampsia berat antara kelompok usia ibu berisiko tinggi dengan
kelompok usia ibu berisiko rendah. Dengan kata lain dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor usia ibu dengan
kejadian preeklampsia berat. Dikarenakan nilai p>0.05 atau dengan
kata lain hubungan antara usia terhadap preeklampsia berat tidak
bermakna.
2. Paritas Ibu
Dari tabel di bawah, diperoleh dari 53 responden (primipara) yang
mengalami preeklampsia berat sebanyak 18 responden (34,0%) dan
yang tidak mengalami preeklampsia atau kelompok kontrol sebanyak
35 responden (66,0%). Sedangkan pada pasien multipara yang
mengalami preeklampsia berat sebanyak 66 responden (57,4%) dan
yang tidak mengalami preeklampsia berat sebanyak 49 responden
(42,6%).
Tabel 7: Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Paritas di
Ruang Rawat Inap Lantai 2 Gedung A RSCM Jakarta Periode
Juli Desember 2010.
Status
Paritas
Preeklampsia Berat
P.
Value
OR
(Odds
Ratio)
Ya Tidak Total
N % N % N %
Primipara 18 34.0 35 66.0 53 100
0.008 2.619 Multipara 66 57.4 49 42.6 115 100
Jumlah 84 50.0 84 50.0 168 100
59

Setelah menggunakan uji chi square diperoleh nilai p.value=
0.008 berarti kesimpulannya ada perbedaan kejadian preeklampsia
berat antara kelompok paritas primipara dengan kelompok paritas
multipara. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
antara paritas ibu dengan kejadian preeklampsia berat. Dari hasil
analisis diperoleh nilai OR=2.619, yang artinya kelompok primipara
mempunyai peluang 2.619 kali untuk menderita preeklampsia berat
dibandingkan dengan kelompok paritas ibu multipara.
IV.2.3 Analisis Bivariat
Untuk melihat faktor usia ibu dan paritas yang berhubungan dengan
kejadian preeklampsia berat, maka dilakukan analisis bivariat dengan uji
statistik chi square dengan tingkat kemaknaan 5%. Berikut adalah hasil
analisis bivariat antara variabel-variabel bebas (usia dan paritas) dengan
variabel terikat yaitu preeklampsia berat.
Tabel 8: Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Kejadian
Preeklampsia Berat




Dari hasil uji chi square, hubungan antara variabel usia dengan
preeklampsia berat tidak bermakna karena nilai p.value = 0.309 (p>0.05).
Namun berbeda dengan variabel paritas dengan preeklampsia berat
didapatkan nilai p.value = 0.008 (p<0.05) sehingga dapat menerangkan
bahwa variabel paritas bermakna terhadap preeklampsia berat.
Hasil uji statistik chi-square untuk kelompok variabel usia didapatkan
nilai p = 0,309 (nilai p>0.05) sehingga dikatakan tidak berhasil tolak H
0

atau dengan kata lain tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
kelompok usia dengan preeklampsia berat.
Variabel Bebas OR p.value Keterangan
Usia ibu 0.660 0.302 Tdak bermakna
Paritas 2.619 0.008 Bermakna
60

Sebaliknya dengan kelompok variabel paritas didapatkan nilai
p=0.008 (nilai p<0.05) sehingga berhasil tolak Ho atau dengan kata lain
terdapat hubungan yang bermakna antara kelompok paritas dengan
preeklampsia berat. Dari nilai OR dapat disimpulkan bahwa primipara
mempunyai resiko terjadinya preeklampsia berat 2.619 kali dibandingkan
dengan multipara.

IV.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Ruang Rawat
Inap Lantai 2 Gedung A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
periode Juli-Desember 2010 dengan insidensi preeklampsia berat tertinggi
terjadi di bulan Oktober 2010 yaitu sebanyak 25 responden dengan
presentase sebesar 29.7% dan insidensi terendah pada bulan Desember
2010 yaitu 8 kasus atau sebesar 9.5%.

IV.3.1 Hubungan Antara Usia dengan Kejadian Preeklampsia Berat
Pada tabel 5, umur penderita termuda adalah 15 tahun dan usia
tertua adalah 44 tahun, dengan rata-rata umur 29 tahun. Pada tabel
6 terlihat persentase kejadian preeklampsia berat tertinggi terjadi
pada ibu kelompok berisiko rendah sebanyak 57 responden
dengan presentase 67.8% diikuti oleh kelompok berisiko tinggi
sebanyak 27 responden dengan presentas 32.1%
Pada tabel 6 terlihat persentase jumlah kejadian preeklampsia
berat tertinggi terjadi pada ibu yang termasuk dalam kelompok usia
berisiko rendah sebanyak 57 responden dari 84 kejadian. Dan
presentase kejadian terendah pada kelompok usia berisiko tinggi,
lebih banyak yang mengalami preeklampsia yaitu sebanyak 57.4%.
dari nilai OR=0.660, kelompok usia berisiko tinggi memiliki risiko
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia berisiko rendah.
Hasil ini berbeda dengan yang didapatkan oleh Sriyun,(2007)
bahwa pada wanita usia beresiko tinggi memiliki risiko 3.6 kali
61

lipat mendapatkan preeklampsia berat dibandingkan wanita usia
tidak beresiko.
Usia adalah salah satu faktor risiko terjadinya preeklampsia.
Menurut Bobak (2004), usia yang rentan terkena preeklampsia
adalah usia < 18 atau > 35 tahun. Begitu juga menurut Manuaba
(1998), pada usia < 18 tahun, keadaan alat reproduksi belum siap
untuk menerima kehamilan. Hal ini akan meningkatkan terjadinya
keracunan kehamilan dalam bentuk preeklampsia dan eklampsia.
Sedangkan pada usia 35 tahun atau lebih, menurut Rochjati, P
(2003), rentan terjadinya berbagai penyakit dalam bentuk
hipertensi, dan eklampsia. Hal ini disebabkan karena tenjadinya
perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak
lentur lagi diakibatkan karena tekanan darah yang meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Sehingga pada usia 35 tahun atau
lebih dapat cenderung meningkatkan risiko terjadinya
preeklampsia. Dimungkinkan karena masih banyak faktor yang
mempengaruhi kejadian preeklampsia berat yang tidak diteliti oleh
peneliti maka dari hasil didapatkan perbedaan dalam hasil
penelitian.

IV.3.2 Hubungan Antara Paritas dengan Preeklampsia Bera
Pada tabel 7, sampel yang diambil berjumlah 168 orang yang
terdiri dari kelompok primipara dan multipara dimana masing-
masing kelompok tersebut berjumlah 84 responden dengan rincian
18 pasien primipara yang menderita preeklampsia berat, dan 35
responden primipara yang tidak menderita preeklampsia sedangkan
pada multipara, 66 responden yang menderita preeklampsia berat
dan 49 responden yang tidak menderita preeklampsia berat. Dari
hasil data tersebut menunjukkan bahwa seorang ibu yang
mengalami kehamilan multipara mempunyai kecenderungan untuk
mengalami preeklampsia.
62

Kelompok paritas multipara lebih banyak pada penderita
preeklampsia berat yaitu sebesar 66 responden atau 78.5%. begitu
juga dengan kelompok kontrol sebesar 58.3%. Hasil uji analisis
chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa
ada hubungan yang bermakna (p < 0,05) antara status paritas
dengan preeklampsia berat dengan nilai odds ratio (OR) 2.619. Hal
ini berarti primipara memilik risiko 2,619 kali lebih besar untuk
terkena preeklampsia berat dibanding multipara.
Paritas adalah faktor risiko yang berkaitan dengan timbulnya
preeklampsia. Menurut Wiknjosastro, H. (2002), frekuensinya
lebih tinggi terjadi pada primipara daripada multipara. Berdasarkan
teori immunologik yang disampaikan Sudhaberata, K (2005), hal
ini dikarenakan pada kehamilan pertama terjadi pembentukan
blocking antibodies terhadap antigen tidak sempurna. Selain itu
menurut Angsar, D (2004), pada kehamilan pertama terjadi
pembentukan Human Leucocyte Antigen Protein G (HLA) yang
berperan penting dalam modulasi respon immune, sehingga ibu
menolak hasil konsepsi (plasenta) atau terjadi intoleransi ibu
terhadap plasenta sehingga terjadi preeklampsia.
IV.4 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan mengingat adanya
keterbatasan dalam hal variabel dan jumlah sampel, karena secara teoritis
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kejadian preeklampsia berat
yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti seperti riwayat preeklampsia
sebelumnya dan riwayat hipertensi, usia kehamilan, pengetahuan ibu hamil
tentang pentingnya antenatal care (ANC) selama kehamilan.
Banyak faktor atau variabel yang berhubungan dengan preeklampsia
yang sudah dijelaskan dalam tinjauan pustaka, namun tidak semua faktor
atau variabel yang berhubungan dengan preeklampsia diteliti. Peneliti hanya
memfokuskan pada variabel yang telah ditentukan.