Anda di halaman 1dari 13

DILEMA ETIK KEPERAWATAN

PEYAKIT TERMINAL

Tugas Mata Ajar : ETIKA DAN HUKUM KEPERAWATAN Dosen Pengampu : Sri Agustiana

Disusun #$ %$ ($ +$ 0$ Resa Yuan Asmita M$I&"'anu! Ha&im E!)in*a Marta ,a&- .au/Her!in

!e" : 1$ 2$ 3$ 4$ Apri!ia .itriana Nora'ati Sie!)ia E&a W$H Yustin Mi5ta&"u! 6$

PR 7RAM S# KEPERAWATAN SEK LAH TIN77I ILMU KESEHATAN HUTAMA A8DI HUSADA TULUN7A7UN7 %9#(:%9#+

Kata Pengantar

Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan karuniaNYa sehingga kami dapat menyeklesaikan tugas kelompok mata kuliah Etik dan Hukum. Pada makalah ini kami akan membahas kasus yang ditugaskan dengan masalah dilema etik. Pada makalah ini kami akan membahas kasus tentang seorang pasien yang menginginkan dilakukan tindakan euthanasia pada dirinya. Pasien mengalami kebutaan akibat Diabetes yang kronis dan juga menjalani dialisis. Keluarga juga menginginkan hal yang sama terhadap pasien. Sementara itu pihak umah Sakit tidak dapat memenuhi keinginan pasien dan keluarga. Hal ini menimbulkan dilema etis dimana pasien tidak mendapatkan hak!nya" sementara umah Sakit menyatakan bah#a kehidupan harus dipertahankan. Kami menyadari masih terdapat kekurangan pada makalah ini. $ntuk itu kami mengharapkan saran yang bersi%at membangun demi kesempurnaan makalah.

Tulungagung && oktober &'()

8A8 I PENDAHULUAN

Latar 8e!a&ang Kepera#atan merupakan suatu bentuk asuhan yang ditujukan untuk kehidupan orang lain sehingga semua aspek kepera#atan mempunyai komponen etika. Pelayanan kepera#atan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan" maka permasalahan etika kesehatan menjadi permasalahan etika kepera#atan pula. Saat ini masalah yang berkaitan dengan etika *ethi+al dilemmas, telah menjadi masalah utama disamping masalah hukum" baik bagi pasien" masyarakat maupun pemberi asuhan kesehatan. Masalah etika menjadi semakin kompleks karena adanya kemajuan ilmu dan tehnologi yang se+ara dramatis dapat mempertahankan atau memperpanjang hidup manusia. Pada saat yang bersamaan pembaharuan nilai sosial dan pengetahuan masyarakat menyebabkan masyarakat semakin memahami hak!hak indi-idu" kebebasan dan tanggungja#ab dalam melindungi hak yag dimiliki. .danya berbagai %aktor tersebut sering sekali membuat tenaga kesehatan menghadapi berbagai dilema. Setiap dilema membutuhkan ja#aban dimana dinyatakan bah#a sesuatu hal itu baik dikerjakan untuk pasien atau baik untuk keluarga atau benar sesuai kaidah etik. /erbagai permasalahan etik yang dihadapi oleh pera#at telah menimbulkan kon%lik antara kebutuhan pasien *terpenuhi hak, dengan harapan pera#at dan %alsa%ah kepera#atan. 0ontoh nyata yang sering dijumpai dalam praktek kepera#atan adalah euthanasia" penolakan tindakan trans%usi darah" dan

penolakan transplantasi organ. Menghadapi dilema sema+am ini diperlukan penanganan yang melibatkan seluruh komponen yang berpengaruh dan menjadi support system bagi pasien. Makalah ini akan membahas se+ara khusus dilema etik yang berkaitan dengan kasus euthanasia dan penyelesaiannya dengan pendekatan proses kepera#atan.

Tujuan Tujuan $mum: Mampu menganalisa peme+ahan masalah dilema etik kasus eutanasia

Tujuan Khusus: (. Dapat mengidenti%ikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus eutanasia &. Dapat mengidenti%ikasi mun+ulnya kon%lik akibat situasi pada kasus eutanasia ). Dapat menentukan tindakan alternati% yang diren+anakan dari konsekuensi tindakan eutanasia 1. Dapat menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat pada kasus eutanasia 2. Dapat menjelaskan ke#ajiban pera#at menghadapi kasus eutanasia 3. Dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan kasus eutanasia

8A8 II TIN6AUAN TE RI

Di!ema Eti& Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternati% yang memuaskan atau suatu situasi dimana alternati% yang memuaskan dan tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah. $ntuk membuat keputusan yang etis seseorang harus tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional *Thomson 4 Thomson" (562,. Kerangka peme+ahan dilema etik pada dasarnya menggunakan kerangka proses kepera#atan7 peme+ahan masalah se+ara scientific.

Eutanasia Eutanasia berasal dari bahasa Yunani" eu *mudah" bahagia" baik, dan thanatos *meninggal dunia, sehingga diartikan meninggal dunia dengan baik atau bahagia. Menurut Oxfort English Dictionary eutanasia berarti tindakan untuk mempermudah mati dengan tenang dan mudah. Dilihat dari aspek bioetis" eutanasia terdiri atas eutanasia -olunter" in-olunter" akti% dan pasi%. Pada kasus eutanasia -olunter klien se+ara suka rela dan bebas memilih untuk meninggal dunia. Pada eutanasia in-olunter" tindakan yang menyebabkan kematian dilakukan bukan atas dasar persetujuan dari klien dan sering kali melanggar keinginan klien. Eutanasia akti% merupakan suatu tindakan yang disengaja yang menyebabkan klien meninggal misalnya pemberian

injeksi obat letal. Eutanasia pasi% dilakukan dengan menghentikan pengobatan atau pera#atan suporti% yang mempertahankan hidup *misalnya antibiotika" nutrisi" +airan" respirator yang tidak diperlukan lagi oleh klien. Eutanasia pasi% sering disebut sebagai eutanasia negati% dapat dikerjakan sesuai dengan keputusan 8D8. Di 8ndonesia tindakan eutanasia tidak dibenarkan menurut undang!undang" tujuan dari eutanasia akti% adalah mempermudah kematian klien. Sedangkan eutanasia pasi% bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan klien namun membiarkannya dapat berdampak pada kondisi klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk memper+epat kematian. /atas kedua hal tersebut kabur bahkan sering kali merupakan hal yang membingungkan bagi pengambil keputusan tindakan kepera#atan *Priharjo" (552,.Eutanasia akti% merupakan tindakan yang melanggar hukum dan dinyatakan dalam KUHP pasa! ((3; ((4; (+0 *an (04$

Hak 8ndi-idu yang akan meninggal9 (. Hak diperlakukan sebagaimana manusia hidup sampai ajal tiba &. Hak untuk mempertahankan harapananya" tidak peduli apapun perubahan yang terjadi ). Hak untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang sedang dihadapinya sesuai dengan keper+ayaannya. 1. Hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pera#atannya

2. hak untuk memperoleh perhatian dalam pengobatan dan pera#atan se+ara berkesinambunagn #alaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyama. 3. Hak untuk tidak meninggal dalam kesendirian :. Hal untuk bebas dari rasa sakit 6. Hak untuk memperoleh ja#aban atas pertanyaannya se+ara jujur 5. Hak untuk memperoleh bantuan dari pera#at atau medis untuk keluarga yang ditinggal agar dapat menerima kematiannya ('. Hak untuk meninggal dalam keadaan damai dan bermartabat ((. Hak untuk tetap dalam keper+ayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang bertentang dengan keper+ayaan yang dianutnya (&. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan keper+ayaannya" apapun artinya bagi orang lain (). Hak untuk mengharapkan bah#a kesu+ian raga manusia akan dihormati setelah yang bersangkutan meninggal.

/ab 888 Pembahasan Kasus Kasus Scribd.com ,Jember 20 desember 2009 kum ulan berbagai kasus lingku ke era!atan Sumadi 1' tahun. Seeorang yang menginginkan untuk dapat mengakhiri hidupnya *Memilih untuk mati. Sumadi mengalami kebutaan"diabetes yang parah dan menjalani dialisis,. Ketika Sumadi mengalami henti jantung" dilakukan resusitasi untuk mempertahankan hidupnya. Hal ini dilakukan oleh pihak rumah sakit karena sesuai dengan prosedur dan kebijakan dalam penanganan pasien di rumah sakit tersebut. Peraturan rumah sakit menyatakan bah#a kehidupan harus disokong. Namun keluarga menuntut atas tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut untuk kepentingan hak meninggal klien. Saat ini klien mengalami koma. umah sakit akhirnya menyerahkan kepada pengadilan untuk kasus hak meninggal klien tersebut. Tiga orang pera#at mendiskusikan kejadian tersebut dengan memperhatikan antara keinginan7hak meninggal Sumadi dengan moral dan tugas legal untuk mempertahankan kehidupan setiap pasien yang diterapkan dirumah sakit. Hendro mendukung dan menghormati keputusan Sumadi yang memilih untuk mati. /agus menyatakan bah#a semua anggota7sta% yang berada dirumah sakit tidak mempunyai hak menjadi seorang pembunuh. .dli mengatakan bah#a yang berhak untuk memutuskan adalah dokter. $ntuk kasus yang diatas pera#at manakah yang benar dan apa landasan moralnya;

Peme<a"an &asus *i!ema etis Mengidenti%ikasi dan mengembangkan data dasar Mengidenti%ikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus eutanasia meliputi orang yang terlibat klien" keluarga klien" dokter" dan tiga orang pera#at dengan pendapat yang berbeda yaitu pera#at ." / dan 0. Tindakan yang diusulkan yaitu pera#at . mendukung keputusan tuan 0 memilih untuk mati dengan maksud mengurangi penderitaan tuan 0" pera#at / tidak menyetujui untuk melakukan eutanasia karena tidak sesui dengan kebijakan rumah sakit. Dan pera#at 0 mengatakan yang berhak memutuskan adalah dokter.

Mengidenti%ikasi mun+ulnya kon%lik Penderitaan Sumadi dengan kebutaan akibat diabetik" menjalani dialisis dan dalam kondisi koma menyebabkan keluarga juga menyetujui permintaannya untuk dilakukan tindakan eutanasia. Kon%lik yang terjadi adalah pertama" eutanasia akan melanggar peraturan rumah sakit yang menyatakan kehidupan harus disokong" kedua apabila tidak memenuhi keinginan klien maka akan melanggar hak!hak klien dalam menentukan kehidupannya" ketiga adanya perbedaan pendapat antara pera#at Herman"/agus dan .dli

Menentukan tindakan alternati% yang diren+anakan .dapun tindakan alternati% yang diren+anakan dari konsekuensi tindakan eutanasia adalah (. Setuju dengan pera#at Herman untuk mendukung hak otonomi Sumadi tetapi hal inipun harus dipertimbangkan se+ara +ermat konsekuensinya" sebab dokter dan pera#at tidak berhak menjadi pembunuh meskipun klien memintanya. Konsekuensi dari tindakan ini9 hak klien terpenuhi" memper+epat kematian klien" keinginan keluarga terpenuhi dan berkurangnya beban keluarga. Namun pihak rumah sakit menjadi tidak konsisten terhadap peraturan yang telah dibuat. &. Setuju dengan pera#at /agus karena sesuai dengan prinsip moral a-oiding killing. Konsekuensi dari tindakan ini9 klien tetap menderita dan ke+e#a" klien dan keluarga akan menuntut rumah sakit" serta beban keluarga terutama biaya pera#atan meningkat. Dengan demikian rumah sakit konsisten dengan peraturan yang telah dibuat ). Setuju dengan pera#at .dli yang menyerahkan keputusannya pada tim medis atau dokter. Namun konsekuensinya pera#at tidak bertanggung ja#ab dari tugasnya. Selain itu dokter juga merupakan sta% rumah sakit yang tidak berhak memutuskan kematian klien.

Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat Pada kasus tuan Sumadi" yang dapat membuat keputusan adalah manajemen rumah sakit dan keluarga. umah sakit harus menjelaskan seluruh

konsekuensi dari pilihan yang diambil keluarga untuk dapat dipertimbangkan oleh keluarga. Tugas pera#at adalah tetap memberikan asuhan kepera#atan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar klien.

Menjelaskan ke#ajiban pera#at Ke#ajiban pera#at seperti yang dialami oleh Sumadi adalah tetap menerapkan asuhan kepera#atan sebagai berikut9 memenuhi kebutuhan dasar klien sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia" mengupayakan suport sistem yang optimal bagi klien seperti keluarga" teman terdekat" dan eer grou . Selain itu pera#at tetap harus mengin%ormasikan setiap perkembangan dan tindakan yang dilakukan sesuai dengan ke#enangan pera#at. Pera#at tetap mengkomunikasikan kondisi klien dengan tim kesehatan yang terlibat dalam pera#atan klien Sumadi

Mengambil keputusan yang tepat Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki resiko dan konsekuensinya kepada klien. Pera#at dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan menguntungkan untuk klien. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu diupayakan alternati% tindakan yaitu mera#at klien sesuai dengan ke#enangan dan ke#ajiban pera#at. <ika tindakan alternati% ini tidak e%ekti% maka melaksanakan keputusan yang telah diputuskan oleh pihak manajemen rumah sakit bersama keluarga klien *informed consent,.

/./ 8= PEN$T$P Kesimpu!an /erbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan interaksi antara klien dan pera#at. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup dengan kebebasan dalam menentukan kematian" upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya" dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi permasalah klien. Dalam membuat keputusan terhadap masalah dilema etik" pera#at dituntut dapat mengambil keputusan yang menguntungkan pasien dan diri pera#at dan tidak bertentang dengan nilai!nilai yang diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan mutu asuhan kepera#atan dapat dipertahankan. Saran Pera#at harus berusaha meningkatkan kemampuan pro%esional se+ara mandiri atau se+ara bersama!sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan suatu dilema etik.

Da%tar Pustaka Ko>ier" /." Erb ?." /erman" .." 4 Snyder S. <. *&''1,. "undamentalsof #ursing $once ts %rocess and %ractice. *:th ed,. Ne# <erney9 Pearson Edu+ation @ine. Priharjo" . *(552,. %engantar Etika &e era!atan. Yogyakarta9 Kanisius. Suhaemi" M.E. *&''1,. Etika &e era!atan' a likasi ada raktik. <akarta9 E?0 .