Anda di halaman 1dari 12

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

FENOMENA RESURJENSI PADA PENGGUNAAN INSEKTISIDA IMIDOKLOPRID 350SC PADA HAMA WERENG COKLAT M. Sudjak Saenong Balai Penelitian Tanaman Serealia Abstrak. Fenomena resurjensi penggunaan insektisida berbahan aktif imidokloprid 350SC pada hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal) yang dicobakan pada pengujian di Laboratorium, Loka Penelitian Penyakit Tungro, Lanrang Sidrap, Sulawesi Selatan yang dilaksanakan dari bulan Agustus sampai Nopember 2007. menunjukkan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC pada semua dosis tidak menimbulkan gejala resurjensi pada wereng coklat pada generasi pertama, kedua dan ketiga di laboratorium. Sedangkan pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat (nilaparvata lugens stal.) dan wereng punggung putih (sogotella furcifera horvath) oleh insektisida imidokloprid 350SC pada tanaman padi sawah menunjukkan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha tidak menimbulkan gejala resurjensi dan gejala kecenderungan resurjensi wereng coklat, dan wereng punggung putih, dengan wk-wp berkisar -99 sampai -825 untuk wereng coklat dan -63 sampai -437 untuk wereng punggung putih. Aplikasi insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis, tidak memperlihatkan pengaruh negatif terhadap musuh alami laba-laba Lycosa pseudoannula, Cythorinus lipidipennis dan Paederus tamulus. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala fitotoksisitas pada tanaman padi. Kata kunci : Resurjensi, insektisida Imidokloprid 350 SC, wereng coklat, laboratorium. PENDAHULUAN Sampai saat ini wereng coklat masih dianggap sebagai hama utama pada tanaman padi. Hama tersebut dapat mengakibatkan kerusakan langsung pada tanaman padi dengan cara mengisap cairan tanaman sehingga tanaman akan mengalami hopperburn. Lebih dari setengah juta ha tanaman padi dari tahun 1976-1987 telah terserang oleh hama ini dengan tingkat serangan yang cukup berat. Kehilangan hasil yang diakibatkan ditaksir setara dengan 350.000 ton beras (Ruchiyat dan Sukmaraganda, 1992). Hama wereng coklat mempunyai potensi untuk mengalami peledakan populasi sewaktu-waktu diakibatkan oleh banyaknya petani yang menanam varietas rentan terhadap serangga hama wereng coklat. Di samping itu serangga wereng coklat mempunyai kemampuan melakukan adaptasi yang cukup tinggi terhadap varietas-varietas yang di introduksikan. Di Sulawesi Selatan misalnya, proses adaptasi serangga dapat dipetahankan dengan melakukan pola pergiliran varietas berdasarkan tetua tahan.Upayaupaya pengendalian wereng coklat telah banyak dilakukan, salah satunya dengan menggunakan varietas tahan (Syamsuddin, 2002). Pengendalian lain yang banyak digunakan yaitu dengan menggunakan insektisida. Agar supaya insektisida dapat digunakan oleh petani, maka perlu diteliti terlebih dahulu mengenai apakah tidak menimbulkan efek resurjensi. Efek resurjensi dari insektisida yang paling banyak diketahui pada tanaman padi adalah wereng coklat

383

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Beberapa jenis insektisida antara lain Deltametrin dan Fentoat telah menimbulkan resurjensi terhadap wereng coklat (Bhudhasaman et al., 1992, Baco dan Yasin, 1983; Yasin dan Baco, 1996). Berdasarkan hal tersebut dan berbagai pertimbangan lainnya maka melalui Inpres No. 3, 1996 sebanyak 57 jenis insektisida dilarang digunakan pada tanaman padi. Kriteria suatu insektisida untuk dapat digunakan harus efektif terhadap hama sasaran dan aman terhadap lingkungan, seperti tidak menimbulkan resurjensi hama bukan sasaran atau tidak mempengaruhi musuh alami. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan pengujian lapangan efikasi dan resurjensi wereng coklat, Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Horvath. oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi. ASPEK RESUGENSI YANG TERLIHAT DILAPANGAN Pengujian resurjensi wereng coklat (Nilaparvata lugens) akibat Insektisida Imidokloprid 350SC Hasil pengamatan terhadap perkembangan wereng coklat di laboratorium menunjukkan bahwa padat populasi generasi pertama pada pot yang diaplikasi insektisida imidokloprid 350 SC dan insektisida pembanding confidor 5 WP dosis 400 g/ha lebih rendah dibandingkan padat populasi pada pot kontrol. Padat populasi pada pot yang diaplikasi insektisida imidokloprid 350 SC dan insektisida pembanding confidor 5 WP berkisar 1680 ekor sampai 1819 ekor sedangkan pada pot kontrol mencapai 2105 ekor (Tabel 1). Pada Tabel 1 juga terlihat bahwa perlakuan insektisida imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha sangat efektif mengendalikan wereng coklat. Pada perlakuan tersebut hanya mempunyai padat populasi 1680 ekor sedangkan pada kontrol mencapai 2105 ekor. Pada generasi kedua terlihat bahwa adanya kecenderungan penurunan populasi pada semua pot perlakuan baik pada pot yang diperlakukan insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis maupun pada pot kontrol. Pada generasi kedua tampak juga bahwa perlakuan insektisida imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala resurjensi, hal ini terlihat dari padat populasi pada pot yang diaplikasi imidokloprid 350 SC semua dosis lebih rendah dan berbeda nyata pada taraf 10% dan 20% uji LSD. Keadaan populasi ini cenderung sama dengan keadaan populasi pada generasi ketiga. Tabel 1. Padat populasi wereng coklat generasi 1, 2, dan 3 pada pengujian resurjensi akibat insektisida imidokloprid 350SC, Sidrap, MT. 2007. Perlakuan Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Confidor 5 WP Kontrol KK (%) Dosis ml/g/ha 37,5 75 112,5 150 400 Pengamatan G2 1713a 1640a 1628b 1583b 1610b 1733a 5,10

G1 1790b 1744b 1803b 1680b 1819b 2105a 6,10

G3 1935a 1580b 1524b 1420b 1486b 1960a 6,40

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 10% uji LSD G1 = Generasi pertama wereng coklat G2 = Generasi kedua wereng coklat G3 = Generasi ketiga wereng coklat Sumber : Yasin dan Masmawati (2007a)

384

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 2. Perubahan populasi wereng coklat (wp-wk) akibat perlakuan Imidokloprid 350SC terhadap wereng coklat, N. lugens generasi 1, 2 dan 3 padapengujian laboratorium, Lolit Tungro, Lanrang, Sidrap, Sulawesi Selatan MT. 2007. Perlakuan Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Confidor 5 WP Kontrol P = 0,10 P = 0,20 Dosis ml/g/ha 37,5 75 112,5 150 400 Pengamatan G2 G3 - 20 - 25 - 93 - 380 -105 - 436 -150 - 540 -123 - 474 29,76 91,67 22,88 70,48 Resurjensi LSD 10 LSD 20 TR TCR TR TCR TR TCR TR TCR TR TCR -

G1 - 310 - 361 - 302 - 402 - 286 95,32 73,28

G1 = Generasi pertama G2 = Generasi kedua G3 = Generasi ketiga wk = Populasi wereng coklat pada pot perlakuan wp = Populasi wereng coklat pada pot kontrol TR = Tidak resurjensi TCR = Tidak cenderung resurjensi Sumber : Yasin dan Masmawati (2007a)

Pada Tabel 2 terlihat perbedaan populasi antara populasi wereng coklat pada perlakuan insektisida Imidokloprid 350 SC dengan populasi pada kontrol. Berdsarkan analisis diketahui bahwa pada generasi I, terlihat bahwa wereng coklat pada pot yang mendapat perlakuan Imidokloprid 350 SC lebih rendah dibandingkan populasi wereng coklat pada kontrol. Perbedaan populasi yaitu berkisar - 286 sampai -402 dengan selisih tertinggi pada perlakuan insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha. Pada generasi II terlihat juga bahwa perbedaan (selisih) antara populasi wereng coklat pada perlakuan insektisida Imidokloprid 350 SC dengan kontrol, selisih tertinggi yaitu pada perlakuan Imidokloprid 350 SC 150 ml/ha. Hal ini tidak berbeda nyata dengan keadaan populasi wereng coklat pada generasi ke II. Berdasarkan kriteria tersebut maka dapat diketahui bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala kecenderungan resurjensi apalagi resurjensi. Dijelaskan bahwa apabila wp-wk > P = 0,10 berarti terjadi resurjensi dan apabila wp-wk > P = 0,20 tetapi < P = 0,10 berarti cenderung terjadi resurjensi. Pengujian Efikasi Dan Resurjensi Wereng Coklat (Nilaparvata Lugens Stal.) Dan Wereng Punggung Putih EFIKASI Wereng Coklat Pengamatan pendahuluan dilakukan pada 1 minggu setelah tanam (MST) menunjukkan bahwa telah ditemukan hama wereng coklat dan punggung putih pada petak pengujian. Aplikasi pertama insektisida Imidokloprid 350 SC dilakukan 2 minggu setelah hama sasaran ditemukan, dan aplikasi insektisida I pada pengujian ini dilakukan pada 3 MST. Sebelum aplikasi pertama dilakukan pengamatan pendahuluan yang dilaksanakan pada 2 MST. Hasil pengamatan sebelum aplikasi pertama (2 MST) terlihat bahwa populasi hama wereng coklat mencapai 193 ekor/70 rumpun dan telah merata pada semua

385

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

petak pengujian. Pada pengamatan 3 MST terlihat bahwa pada petak kontrol terjadi peningkatan populasi akan tetapi pada petak-petak yang mendapat perlakuan insektisida Imidokloprid 350 SC tidak terjadi peningkatan populasi, hal ini juga terjadi pada 4 MST. Pada pengamatan 5 MST terjadi peningkatan pada petak-petak yang diaplikasi insektisida dosis rendah, akan tetapi pada perlakuan Imidokloprid 350 SC dengan dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha tidak terjadi peningkatan populasi wereng coklat. Keadaan populasi wereng coklat cenderung menurun pada perlakuan Imidokloprid 350 SC dosisi 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha saat tanaman berumur 6 MST, 7 MST sampai menjelang panen, sedangkan keadaan populasi pada petak kontrol terus meningkat dan mencapai puncaknya pada pengamatan 7 MST, dimana kepadatan populasi mencapai 958 ekor/70 rumpun (Tabel 3). Berdasarkan hasil pengamatan populasi wereng coklat mulai dari 1 MST sampai 12 MST terlihat bahwa penggunaan insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha efektif mengendalikan wereng coklat. Wereng Punggung Putih Hasil pengamatan wereng punggung putih terlihat bahwa pada pengamatan 2 MST populasi wereng punggung putih mencapai 170 ekor/70 rumpun dan merata pada semua petak-petak penelitian. Aplikasi pertama insektisida dilakukan pada 3 MST. Hasil pengamatan setelah aplikasi pertama insektisida terlihat bahwa padat populasi wereng punggung putih pada petak yang diaplikasi Imidokloprid 350 SC dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha yaitu 54 ekor/70 rumpun dan 129 ml/70 rumpun. Populasi ini jauh lebih rendah dibanding populasi pada petak kontrol yang mencapai 294 ekor/70 rumpun (Tabel 4). Pada pengamatan 4 MST juga terlihat bahwa populasi pada petak kontrol cukup tinggi yaitu mencapai 452 ekor/70 rumpun sedangkan pada petak yang diaplikasi Imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha hanya 151 ekor/70 rumpun. Keadaan populasi yang sama terjadi pada pengamatan-pengamatan selanjutnya sampai menjelang panen. RESURJENSI Wereng Coklat Pada Tabel 5 terlihat bahwa pada 3 MST, populasi wereng coklat pada petak yang mendapat perlakuan Imidokloprid 350 SC semua dosis lebih rendah dibandingkan kontrol, hal ini menunjukkan bahwa insektisida tersebut tidak menimbulkan gejala resurjensi, bahkan dari data tersebut insektisida Imidokloprid 350 SC efektif mengendalikan wereng coklat. Pada pengamatan 4 MST terlihat bahwa populasi pada kontrol jauh lebih tinggi dibandingkan populasi pada petak yang diperlakukan insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis dan juga terlihat bahwa petak yang mendapat perlakuan Imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha, populasi wereng coklat lebih rendah dari perlakuan lain. Keadaan populasi wereng coklat pada pengamatan populasi 4 MST yaitu petak yang mendapat perlakuan Imidokloprid 350 SC selalu lebih rendah dibandingkan kontrol. Dikatakan potensi suatu insektisida yang diuji menimbulkan resurjensi apabila terjadi populasi wereng coklat pada petak yang mendapat aplikasi insektisida lebih tinggi dari petak kontrol. Pada Tabel 6 terlihat perubahan populasi wereng coklat. Pada 3 MST diketahui selisih antara perlakuan Imidokloprid 359 SC dengan kontrol berkisar -139 sampai -173. Pada 4 MST nilai selisih antara perlakuan Imidokloprid 350 SC kontrol mencapai -216. Dan keadaan populasi ini cenderung sama sampai menjelang panen (12 MST). Berdasarkan hasil tesebut maka dapat disimpulkan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC tidak menimbulkan gejala resurjensi dan kecenderungan resurjensi.

386

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Wereng Punggung Putih Pada saat 3 MST, atau setelah aplikasi I insektisida terlihat pengaruh perlakuan insektisida Imidokloprid 350 SC terhadap wereng punggung putih. Dari semua dosis insektisida Imidokloprid 350 SC yang diuji tidak ada yang memperlihatkan kecenderungan resurjensi apalagi gejala resurjensi. Populasi wereng punggung putih pada petak yang diaplikasi insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha berkisar 129 ekor/70 rumpun, sedangkan pada kontrol mencapai 294 ekor/70 rumpun, hal yang sama juga terjadi pada pengamatan 4 MST, 5 MST, 6 MST sampai 12 MST (Tabel 7) yaitu padat populasi pada petak yang diaplikasi insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis lebih rendah dan berbeda nyata dengan padat populasi wereng punggung putih pada petak kontrol. Pada pengujian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC tidak menimbulkan gejala resurjensi. Suatu insektisida dikatakan menimbulkan gejala resurjensi apabila suatu insektisida yang diuji menimbulkan gejala perubahan populasi yang lebih tinggi setelah mendapat perlakuan insektisida. Pada Tabel 8 terlihat perbedaan populasi antara petak yang diaplikasi insektisida Imidokloprid 350 SC dengan petak kontrol. Selisih perbedaan antara petak kontrol dengan petak yang mendapat perlakuan Imidokloprid 350 SC yang mencapai -185 pada 3 MST. Pada 4 MST terdapat selisih sampai -301. Dan hal ini terjadi sampai pengamatan 12 MST. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diartikan bahwa insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala resurjensi dan gejala kecenderungan resurjensi.

387

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 3. Padat populasi wereng coklat/70 rumpun pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal.dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Dosis formulasi ml/g/ha 37,5 75 112,5 150 400 Pengamatan (MST) 2 193tn 190 189 192 190 185 5,90 3* 194b 192b 186b 160c 180b 333a 6,70 4 198b 195b 180bc 158d 170c 374a 6,30 5* 235b 225b 210bc 157d 190c 334a 9,20 6 7* 8 9* 10 11 173b 165b 155d 96d 126c 323a 6,10 12 159b 155b 131e 104d 131c 309a 5,10

Perlakuan Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Confidor 5 WP Kontrol KK (%)

487b 577b 467b 272b 210b 378b 366c 183c 167c 192c 106c 154d 140c 158c 149d 100c 133e 120e 90e 130d 110c 153d 138d 136d 136d 627a 958a 884a 634a 460a 17,6 12,5 13,6 13,1 19,20 0 0 0 0 Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji beda Duncan taraf 5%. MST = Minggu setelah tanam tn = tidak nyata = Aplikasi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

388

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 4. Padat populasi wereng punggung putih/70 rumpun pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Dosis formulas i ml/g/ha 37,5 75 112,5 150 400 Pengamatan (MST) 6 7* 8 326b 225c 186cd 138d 159d 491a 15,50 163b 148b 134b 120b 136b 298a 5,20 151b 117c 107c 84c 96c 279a 18,30

Perlakuan Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Imidokloprid 350 SC Confidor 5 WP Kontrol KK (%)

2 156tn 164 160 158 170 166 9,60

3* 161b 158b 154b 129b 134b 294a 14,80

4 389b 181c 173c 151c 158c 452a 20,30

5* 475b 217c 183cd 131d 213c 568a 17,00

9* 143b 134b 127bc 118c 122bc 270a 6,0

10 117b 108b 105b 92b

11 113b 103b 108b 90b

12 98b 100b 99b 68c 85b 270a 12,70

95b 97b 300a 264a 16,3 17,80 0 Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji beda Duncan taraf 5%. MST = Minggu setelah tanam tn = tidak berbeda nyata * = Aplikasi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

389

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 5. Padat populasi wereng coklat/70 rumpun pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Dosis formulasi ml/g/ha 37,5 75 112,5 150 400 Pengamatan (MST) 3* 4 5* 6 7* 8 9* 10 11 173b 165b 155b 96c 126b 323a 6,10 12 159b 155b 131c 104d 131c 309a 5,10

Perlakuan

Imidokloprid 350 SC 194b 198b 235b 487b 577b 467b 272b 210b Imidokloprid 350 SC 192b 195b 225b 378b 366c 183c 167c 192c Imidokloprid 350 SC 186b 180b 210b 106c 154d 140d 158d 149b Imidokloprid 350 SC 160b 158d 157d 100c 133e 120e 90f 130d Confidor 5 WP 180b 170c 190b 110c 153d 138d 136e 136d Kontrol 333a 374a 334a 627a 958a 884a 634a 460a KK (%) 5,90 6,70 6,30 9,20 17,60 12,0 13,60 13,10 Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata taraf 10% uji LSD. MST = Minggu setelah tanam * = Aplikasi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

390

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 6. Perubahan populasi wereng coklat (wk-wp) pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Pengamatan (MST) Resurjensi Perlakuan 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 LSD LSD 20 10 Imidokloprid 350 SC -139 -176 -99 -140 -381 -417 -362 -250 -150 -150 TR TCR Imidokloprid 350 SC -141 -179 -109 -249 -592 -701 -465 -264 -158 -154 TR TCR Imidokloprid 350 SC -147 -194 -124 -521 -804 -744 -476 -311 -168 -178 TR TCR Imidokloprid 350 SC -173 -216 -177 -521 -825 -764 -544 -330 -227 -205 TR TCR Confidor 5 WP -153 -204 -144 -517 -805 -746 -498 -324 -197 -178 TR TCR Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 P=0,10 10,22 10,66 16,77 39,22 7,07 8,53 5,96 32,97 8,96 7,24 P=0,20 7,85 8,20 13,00 30,16 5,44 6,56 4,60 25,36 689 5,57 P = 0,10 dan P = 0,20 uji LSD MST = Minggu setelah tanam TR = Tidak resurjensi TCR = Tidak cenderung resurjensi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

391

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 7. Padat populasi wereng punggung putih/70 rumpun pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Dosis Pengamatan (MST) Perlakuan formulasi 2 3* 4 5* 6 7* 8 9* 10 11 12 ml/g/ha Imidokloprid 37,5 156tn 161b 389b 475b 326b 163b 151b 143b 117b 113b 98b 350 SC Imidokloprid 75 164 158c 181c 217c 225c 148b 117c 134b 108b 103b 100b 350 SC Imidokloprid 112,5 160 154b 173c 183c 186d 134b 107c 127b 105b 108b 99b 350 SC Imidokloprid 150 158 129b 151c 131d 138e 120d 84d 118b 92b 90b 68b 350 SC Confidor 5 400 170 134b 158c 213c 159e 136b 96b 122b 95b 97b 85b WP Kontrol 166 294a 452a 568a 491a 298a 279a 270a 300a 264a 270a KK (%) 8,30 12,40 16,10 18,00 10,20 14,00 13,20 14,70 17,20 16,10 10,30 MST = Minggu setelah tanam tn = tidak berbeda nyata pada taraf 10% uji LSD. * = Aplikasi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

392

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 8. Perubahan populasi wereng punggung putih/70 rumpun pada pengujian efikasi dan resurjensi wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan wereng punggung putih Sogotella furcifera Harvath oleh insektisida Imidokloprid 350 SC pada tanaman padi, Pinrang, Sulsel, MT. 2007. Pengamatan (MST) Resurjensi Perlakuan 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 LSD 10 LSD 20 Imidokloprid 350 -133 -63 -95 -75 -135 -128 -127 -183 -151 -172 TR TCR SC Imidokloprid 350 -136 -271 -351 -266 -150 -162 -136 -193 -161 -170 TR TCR SC Imidokloprid 350 -140 -279 -385 -305 -164 -172 -143 -195 -156 -171 TR TCR SC Imidokloprid 350 -165 -301 -437 -353 -178 -195 -152 -208 -174 -202 TR TCR SC Confidor 5 WP -160 -294 -355 -332 -162 -183 -148 -205 -167 -185 TR TCR Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 P=0,10 6,82 43,15 36,1 30,3 7,21 31,8 7,46 18,8 19,1 12,56 4 4 0 4 P=0,20 5,27 33,19 27,7 23,38 5,54 24,4 5,74 14,4 14,8 9,67 8 9 6 2 P = 0,10 dan P = 0,20 uji LSD MST = Minggu setelah tanam TR = Tidak resurjensi TCR = Tidak cenderung resurjensi Sumber : Yasin dan A.Rugaya (2007b)

393

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

KESIMPULAN Insektisida Imidokloprid 350 SC belum menimbulkan resurjensi pada wereng coklat sampai pada generasi ketiga. Insektisida Imidokloprid 350 SC dosis 112,5 ml/ha dan 150 ml/ha efektif mengendalikan wereng coklat, punggung putih dan wereng hijau selama pengujian berlangsung. Insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala resurjensi dan gejala kecenderungan resurjensi dengan nilai wp-wk bervariasi dari -99 sampai 825 untuk wereng coklat dan -63 dampai -437 untuk wereng punggung putih. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aplikasi insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis tidak memperlihatkan pengaruh negatif terhadap musuh alami laba-laba Lycosa pseudoannulata, Cythorinus lipidepennis dan Paederus tamulus. Insektisida Imidokloprid 350 SC semua dosis tidak menimbulkan gejala fitotoksisitas pada tanaman padi selama pengujian berlangsung. Produktivitas (t/ha) pada perlakuan Imidokloprid 350 SC dosis 150 ml/ha mencapai 4,23 t/ha sedangkan pada kontrol hanya 0,85 t/ha. DAFTAR PUSTAKA
Baco dan Yasin 1983. Biologi Wereng Coklat, Nilaparvata lugens Stal dan Wereng Punggung Putih Sogatella furcifera Horvath serta Intraksi antara Keduanya pada Tanaman Padi. Disertasi pada Fakultas Pascasarjana IPB. 150 pp. Baco, D dan M. Yasin. 1993. Pengaruh insektisida bensultaf terhadap wereng coklat Nilaparvata lugens Stal. dan musuh alaminya pada tanaman padi. Hasil Penelitian Padi No. 4. 1993. Balittan Maros. Budhasaman, P. Sitaposoru dan C. Showtip. Effect of foliar spray insecticides on brown plant hopper (BPH) resurqence in rice International Rice Research News Letter, No. 17 IRRI. Philippines pp. 2021. Ruchiyat dan Sukmaraganda, 1992. National Integrated Pest Management Indonesia, Its Success and Challangers. Proc. Conference on IPM in Asia Pacific Region Kuala Lumpur. Malaysia pp. 329-342. Syamsuddin, M. 2002. Bagaimana teknologi penelitian ketahanan varietas terhadap hama wereng coklat sepuluh tahun silam. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan tahun XV, PEI, PFI dan HPTI Cab. Makassar. Yasin, dan D. Baco. 1996. Efikasi dan resurjensi wereng coklat oleh insektisida Confidor 5 WP pada tanaman padi. Hasil Penelitian Hama dan penyakit Balittan Maros, Pp. 119-128. Yasin, M. dan A. Rugaya. 2003. Pengujian laboratorium insektisida Imidokloprid 50 SC terhadap Wereng Coklat Nilaparvata lugens pada Tanaman Padi.Laporan Hasil Pengujian Lapang Yasin, M dan Masmawati. 2007a. Pengujian Resurjensi Wereng Coklat ( Nilaparvata Lugens Stal) Oleh Insektisida Imidokloprid 350sc (B.A: Imidokloprid 350 G/L) Di Laboratorium. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007 Yasin, M dan A. Rugaya. 2007b. Pengujian Efikasi Dan Resurjensi Wereng Coklat (Nilaparvata Lugens Stal.) Dan Wereng Punggung Putih (Sogotella Furcifera Horvath) Oleh Insektisida Imidokloprid 350 Sc (B.A:Imidokloprid 350 G/L) Pada Tanaman Padi Sawah. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007

394