Anda di halaman 1dari 22

SISTEM TELEMETRI UNTUK SIMULASI MITIGASI BENCANA KEGEMPAAN DAN DETEKSI PENINGKATAN KADAR KONDUKTIVITAS BELERANG PADA AKTIVITAS

GUNUNG BERAPI BERBASIS WIRELESS 802.15.4 Yuhananisa P.; Lailatul K.; Rahil L.; Wahyu Siami P.; Ria O.

Abstrak Indonesia merupakan negara yang memiliki kepulauan dan dikelilingi oleh 2 sirkum yaitu pasifik dan mediterania. Keadaan ini sering menyebabkan Indonesia mengalami proses pergeseran lempeng. Selain itu pada pegunungan sering mengalami letusan gunung berapi. Lemahnya sistem informasi dini kebencanaan mendorong penelitian ini menuju solusi berbasis teknologi. Penelitian yang dilakukan adalah dengan mendeteksi peningkatan kadar konduktivitas belerang maupun mendeteksi getaran-getaran yang dihasilkan oleh aktivitas gunung berapi tersebut. Instrumentasi yang diciptakan adalah menggunakan elektroda untuk mengetahui kadar konduktivitas belerang dalam suatu perairan di lingkungan gunung dan juga menggunakan vibration sensor untuk proses pendeteksian gempa. Masing-masing sensor dihubungkan menjadi bagian yang mana terintegrasi ke dalam sebuah modul wireless Xbee Pro 802.15.4 yang terdapat pada masing-masing sensor dan berikut dapat dikomunikasikan dan dikirimkan datanya menuju server untuk dapat dipantau aktivitas gunung tersebut. Teknik pengambilan datanya adalah dengan cara mengirimkan data sensor secara otomatis menuju server dan pada tingkatan diatas ambang batas maka terdapat sebuah sensor untuk memberi tanda peringatan lebih awal dan cepat. Selain itu dari kedua sensor ini dapat diprediksi tentang bagaimana keberadaan aktivitas gunung tersebut guna untuk memberikan status kesiagaan.
Kata Kunci : Xbee pro, Wireless 802.15.4, Mitigasi Bencana, Kegempaan, Konduktivitas

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia menempati zona tektonik yang sangat aktif karena tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya saling bertemu di wilayah Indonesia (Gambar 1) dan membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang kompleks (Bird, 2003). Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng ini menempatkan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi (Milson et al., 1992). Tingginya aktivitas kegempaan ini terlihat dari hasil pencatatan dimana dalam rentang waktu 1897-2009 terdapat lebih dari 14.000 kejadian gempa dengan magnituda M > 5.0. Kejadian gempa-gempa utama (main shocks) dalam rentang waktu tersebut dapat dilihat dalam Gambar 2. Dalam enam tahun terakhir telah tercatat berbagai aktifitas gempa besar di Indonesia, yaitu Gempa Aceh disertai tsunami tahun 2004 (Mw = 9,2), Gempa Nias tahun 2005 (Mw = 8,7), Gempa Jogya tahun 2006 (Mw = 6,3), Gempa Tasik tahun 2009 (Mw = 7,4) dan terakhir Gempa Padang tahun 2009 (Mw = 7,6). Gempa-gempa tersebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur dan bangunan, serta dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Piranti telekomunikasi yang semakin bervariasi tentunya menjadikan pilihan bagi kita untuk menyusun instrumen-instrumen instrumentasi maupun instrumentasi lainnya untuk memanfaatkan sistem telekomunikasi yang efisien. Banyak di pasaran pilihan berbagai modul telekomunikasi yang dapat dikombinasikan dengan berbagai instrumentasi apapun. Dengan mengutamakan efisiensi dan keterjangkauan, maka telekomunikasi nirkabel menjadi salah satu solusi untuk berbagai instrumentasi. Beberapa contohnya adalah modul nirkabel radio frekuensi misalnya wireless, bluetooth, radio AM, FM dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas maka peneliti akan melakukan penelitian fisika dengan judul: Sistem Telemetri Untuk Simulasi Mitigasi Bencana Kegempaan Dan Deteksi Peningkatan Kadar Konduktivitas Belerang Pada Aktivitas Gunung Berapi Berbasis Wireless 802.15.4. Dalam

penelitian ini, peneliti melakukan kajian transmisi data melalui gelombang elektromagnetik menggunakan modul Radio Frekuensi Xbee Pro 24-Aci-001 untuk mengirimkan data-data dari sensor yang bersifat realtime demi pengawasan dan atau lebih disebut sebagai mitigasi bencana. 1.2. Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dalam penelitian ini diajukan dua masalah penelitian, yaitu: 1. 2. Bagaimanakah pengiriman data kegempaan melalui sistem telemetri? Bagaimanakah deteksi peningkatan kadar konduktivitas belerang dalam aktifitas gunung berapi? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan dua masalah penelitian tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: 1. Mendiskripsikan proses pengiriman data kegempaan melalui system telemetri. 2. Mendiskripsikan proses deteksi peningkatan kadar konduktivitas belerang dalam aktifitas gunung berapi. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti memberikan kontribusi penting baik untuk masyarakat umum, Industri, ilmuan dan lingkungan pelajar maupun untuk sivitas akademik di lingkungan Unesa. Pemahaman tentang proses data kegempaan melalui sistem telemetri dan juga data peningkatan kadar konduktivitas belerang dalam kebencanaan merupaka solusi atas lemahnya sistem mitigasi bencana Indonesia atau informasi dini kebencanaan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat di antisipasi berbagai gejala aktivitas gunung berapi dan dapat diprediksi lebih dini tentang waktu terjadinya bencana. Selain itu penelitian selanjutnya adalah adalah untuk pengembangan dalam sistem informasi dini kebencanaan baik di dalam gunung maupun lautan sebagaimana contohnya adalah tsunami.

BAB II DASAR TEORI

2.1. Aktivitas Gunung Berapi di Indonesia Letak daratan Indonesia yang berbatasan langsung dengan 3 lempeng aktif dunia sehingga negara Indonesia mendapat julukan ring of fire, ketiga lempeng aktif dunia itu menyebabkan banyaknya jebakan

aktivitas magmatis salah satunya berupa gunung berapi. Kira-kira 179 gunung api yang terdapat di negeri ini dan 129 diantaranya masih aktif sampai sekarang. Karena hal inilah maka hampir setiap tahun paling sedikit satu gunung api melakukan erupsinya. Aktivitas gunung merupakan pencerminan dari aktivitas magma yang terdapat di dalam bumi. Berikut adalah peta persebaran gunung berapi di Indonesia.

Gambar 2.1.1 Peta Cincin Api untuk kawasan Indonesia

Gambar 2.1.2 Peta Persebaran Gunung Berapi Di Indonesia 4

Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yangaktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya dari suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah mati. Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:

Aliran lava. Letusan gunung berapi. Aliran lumpur. Abu. Kebakaran hutan. Gas beracun. Gelombang tsunami. Gempa bumi. Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia

Status

Makna Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana Peningkatan intensif kegiatan seismik

Tindakan Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan Koordinasi dilakukan secara harian Piket penuh

AWAS

SIAGA

Sosialisasi di wilayah terancam Penyiapan sarana darurat Koordinasi harian Piket penuh

Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia

Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu Ada aktivitas apa pun bentuknya Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma Level aktivitas dasar

Penyuluhan/sosialisasi Penilaian bahaya Pengecekan sarana Pelaksanaan piket terbatas

WASPADA

NORMAL

Pengamatan rutin Survei dan penyelidikan

2.2. Mitigasi Bencana Mitigasi bencana adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk pada tindakan untuk mengurangi dampak dari suatu bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana itu terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Dalam UU No. 24 Tahun 2007, usaha mitigasi dapat berupa prabencana, saat bencana dan pasca bencana. Prabencana berupa kesiapsiagaan atau upaya memberikan pemahaman pada penduduk untuk mengantisipasi bencana, melalui pemberian informasi, peningkatan kesiagaan kalau terjadi bencana ada langkah-langkah untuk memperkecil resiko bencana. Penanganan bencana harus dengan strategi proaktif, tidak semata-mata bertindak pascabencana, tetapi melakukan berbagai kegiatan persiapan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana. Berbagai tindakan yang dilakukan untuk mengantisipasi datangnya bencana dengan membentuk sistem peringatan dini, identifikasi kebutuhan dan sumber-sumber yang tersedia, penyiapan anggaran dan alternatif tindakan, sampai koordinasi dengan pihak-pihak yang memantau perubahan alam. 6

Dalam mitigasi dilakukan upaya-upaya untuk meminimalkan dampak dari bencana yang akan terjadi yaitu program untuk mengurangi pengaruh suatu bencana terhadap

masyarakat atau komunitas dilakukan melalui perencanaan tata ruang, pengaturan tata guna lahan,penyusunan peta kerentanan bencana, penyusunan data base, pemantauan dan

pengembangan. Mitigasi bencana merupakan kegiatan yang amat penting dalam penanggulangan bencana karena kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum terjadinya bencana yang dimaksudkan untuk mengantisipasi agar korban jiwa dan kerugian materi yang ditimbulkan dapat dikurangi. Masyarakat yang berada di daerah rawan bencana maupun yang berada di daerah luar sangat besar peranannya, sehingga hal itu perlu ditingkatkan kesadarannya, kepeduliannya dan kecintaannya terhadap alam dan lingkungan hidup serta kedisiplinan terhadap peraturan dan norma-norma yang ada. Istilah program mitigasi bencana mengacu kepada dua tahap perencanaan yaitu: Pertama, perencanaan sebelum kejadian untuk manajemen bencana, mencakup aktivitas-aktivitas mitigasi dan perencanaan bencana. Kedua, perencanaan serta tindakan sesudah kejadian, meliputi peningkatan standar teknis dan bantuan medis serta bantuan keuangan bagi korban. Dalam mitigasi bencana dilakukan tindakan-tindakan antisipatif untuk meminimalkan dampak dari bencana yang terjadi dilakukan melalui perencanaan tata ruang, pengaturan tata guna lahan,penyusunan peta kerentanan bencana, penyusunan data, pemantauan dan pengembangan. Dinegara-negara maju, kesalahan dalam pembangunan diimbangi melalui perencanaan yang matang. Informasi tempat pengungsian saat terjadi bencana alam sangat penting sebab penduduk yang menyelamatkan diri saat terjadinya bencana seharusnya tahu kemana mereka harus menyelamatkan diri. Keberadaan rambu-rambu petunjuk arah penyelamatan seperti yang dilakukan di Jepang mutlak diperlukan agar masyarakat tahu jalur yang akan dilaluinya untuk menyelamatkan diri sebelum terjadi bencana. Dengan demikian akan berkurang kepanikan masyarakat pada saat bencana akan terjadi sehingga masyarakat bisa dengan lebih tenang dalam melakukan upaya mitigasi bencana. Penerapan informasi yang efektif dan program-program pendidikan, masyarakat dapat menggunakan brosur, instruksi satu lembar, uji coba sistem peringatan secara berkala,informasi media cetak dan elektronik dan lainlain. Beberapa informasi ini ditujukan bagi institusi-institusi seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, fasilitas perawatan-pemulihan, dan komunitas yang tidak bisa berbahasa setempat (para wisatawan). Upaya-upaya informasi dan pendidikan ini penting diadakan secara rutin dan komprehensif. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kota ditujukan untuk

mengurangi kerugian dan kerusakan akibat bencana yang sewaktu-waktu dapat melanda kota.Pemerintah pada daerah yang rawan bencana gempa intensif melakukan simulasi upaya evakuasidan penyelamatan terhadap bencana. Demikian juga media membantu dengan

menayangkan program yang memberi informasi upaya penyelamatan terhadap bencana gempa. Dalam hal bencana yang disebabkan oleh gempa bumi di daerah perkotaan, berdasarkan fakta dan hasil penelitian beberapa pakar, menunjukkan bahwa sebagian besar korban terjadi akibat keruntuhan dan kerusakan bangunan, seperti jatuhnya atap, runtuhnya kolom,

hancurnya dinding, dll. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi bencana gempa bumi melalui pengembangan disain rumah tahan gempa sampai saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal lain juga yang menyebabkan korban akibat bencana gempa sangat besar adalah tidak adanyalokasi evakuasi yang mampu memberikan perlindungan bagi warga ketika bencana terjadi yaitu berupa bangunan penyelamatan yang telah dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan dalam keadaan darurat. Mitigasi harus memperhatikan semua tindakan yang diambil untuk mengurangi pengaruh dari bencana dan kondisi yang peka dalam rangka untuk mengurangi bencana yang lebih besar dikemudian hari. Karena itu seluruh aktivitas mitigasi difokuskan pada bencana itu sendiri atau bagian elemen dari ancaman. 2.3 Sistem Telemetri Telemetri (sejenis dengan telematika) adalah sebuah teknologi yang membolehkan pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasi kepada perancang atau operator sistem. Kata telemetri berasal dari akar bahasa Yunani tele = jarak jauh, dan metron = pengukuran.

Bentuk transmisi gelombang elektromagnetik

Bentuk transmisi gelombang elektromagnetik

Handphone Handphone 1 1 Firewall Firewall

Access Access Point Point

Handphone Handphone 2 2

User User 2 2 User User 1 1 Server Server microprocessor microprocessor User User Interface Interface server server

Gambar 2.3.1 Skema Pengambilan Data.

Dalam sistem elektromagnetik yang dimaksud sistem komunikasi radio terrestrial adalah sistem komunikasi yang hanya menggunakan titik-titik di bumi sebagai stasiun pemancar maupun penerima. Competitor utama sistem kounikasi radio terrestrial adalah sistem komunikasi satelit (Saunders,2007:105). Sistem komunikasi satelit adalah sistem komunikasi yang menggunakan satelit sebagai media pemantul gelombang komunikasi yang ada di bumi sedemikian sehingga stasiun pemancar yang ada di bumi dapat mengirimkan gelombang komunikasi menuju stasiun penerima yang berada di belahan bumi lain (Saunders,2007:139140). Kelebihan sistem radio terrestrial adalah waktu pengiriman data yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan sistem komunikasi satelit. Kekurangan dari sistem radio terrestrial adalah sangat terpengaruh oleh kondisi geografis dan bentuk permukaan bumi. Selain itu, di dalam sistem komunikasi radio terrestrial jarak antar hop dibatasi oleh suatu jarak tertentu, hal itu disebabkan oleh bentuk permukaan bumi yang melengkung. Namun kekurangan tersebut dapat mudah diatasi dengan melakukan perencanaan jaringan yang matang dan teliti (Saunders,1999:101-102). Sjistem komunikasi radio terrestrial sangat erat kaitannya dengan bentuk relief permukaan bumi. Sebagian besar permukaan bumi adalah tidak rata, ada lembah, ada bukit, ada pegunungan ada pula daerah yang ditutupi pohon (Saunders,1999:101) Macam- macam propagasi gelombang yaitu (1) Free space loss Dalam propagasi gelombang free space loss, diasumsikan ada satu sinyal langsung antara pengirim dan penerima. Propagasi gelombang free space loss hanya dapat terjadi ketika pengirim dan penerima dalam keadaan Line Of Sight (LOS). Yang dimaksud dengan kondisi LOS adalah keadaan dimana tidak ada obstacle di daerah Fressnel 1 diantara pengirim dan penerima. Kondisi LOS adalah keadaan dimana tidak ada obstacle di daerah Fressnel 1 diantara pengirim dan penerima. Daerah fressnel 1 didefinisikan dengan formula R1 adalah daerah fressnel 1 (dalam m). Sedangkan d adalah jarak antara pengirim dan penerima (dalam Km). d1 adalah jarak antara pengirim dan penghalang (dalam Km). d2 adalah jarak antara penerima dan penghalang (dalam Km). f adalah frekuensi transmisi (dalam

MHz). Pada kondisi LOS, redaman propagasi hanya di sebabkan oleh redaman free space (Saunders,1999:93-96); (2) Reflection pada kondisi ini, sinyal yang datang menuju penerima telah mengalami pantulan terhadap suatu object. Refleksi dapat terjadi jika sinyal mengenai obyek yang memiliki dimensi lebih besar dari panjang gelombang sinyal tersebut. Pantulan tersebut menyebabkan perubahan fasa dan menimbulkan delay (Saunders,1999:38-40); (3) Diffraction merupakan difraksi yang terjadi ketika sinyal melewati suatu obyek yang mempunyai bentuk yang tajam sehingga seolah-olah menghasilkan sumber sekunder

(Saunders,1999:45-46). Contoh peristiwa difraksi adalah ketika gelombang mengenai puncak bukit atau atap rumah. Redaman difraksi dapat diperoleh dengan mencari nilai v sesuai kondisi yang terjadi. Setelah itu kemudian menghitung nilai redaman sesuai dengan nilai v yang diperoleh; (4) Scattering terjadi ketika sinyal melewati suatu obyek yang kasar atau memiliki bentuk yang tajam. Peristiwa Scattering menyebabkan dihamburkan dan terpecah-pecah menjadi beberapa sinyal. Hal itu menyebabkan level daya sinyal menjadi lebih kecil (Saunders,1999:40-41). Dalam proses pengiriman data diperlukan beberapa instrumentasi yang mendukung proses pengiriman informasi. Pada penelitian ini menggunakan beberapa instrumen baik sebagai pemroses data maupun sebagai modulator untuk sistem propagasi. Menurut Bisyri (2012) proses pengiriman data melalu gelombang elegtromagnetik pada penelitian kali ini memanfaatkan sebuah modul yang mana sudah terintegrasi kedalam rangkaian elektronik yang cukup cerdas yang lebih efisien dan praktis. Modul ini menggunakan sistem wireless dengan protokol 802.15.4. Xbee-Pro yang merupakan serial interface tanpa kabel yang berfungsi menghubungkan mikrokontroler satu dengan lainya melalui medium udara dengan jarak komunikasi serial ini bisa mencapai 1,6 kilometer diluar ruangan. Kelebihan utama yang menjadikan Xbee-pro dipilih sebagai komunikasi serial nirkabel karena Xbee-Pro memiliki konsumsi daya yang rendah yaitu hanya 3,3 Volt. Modul ini beroperasi pada rentang frekuensi 2.4 GHz.

10
Gambar 2.3.2 Modul Xbee Pro (datasheet XBee Pro)

Bisiry (2012) mengatakan Pada dasarnya, XBee Pro merupakan modul komunikasi dengan menggunakan komunikasi serial. Akan tetapi apabila mode API digunakan dibutuhkan pemaketan data RF. Untuk itu data akan di-buffer terlebih dahulu sebelum dikirim atau diterima. Flow data serial menjadi paket RF. Pada XBee apabila ada data input (DI), data akan masuk ke DI buffer. Setelah itu, input data akan diteruskan ke RF TX buffer, kemudian untuk mentransmisikan input data, posisi RF switch menjadi transmitter. Begitu juga sebaliknya, apabila ada data yang diterima, posisi RF switch menjadi 4 receiver lalu data akan masuk RF RX buffer, kemudian data diteruskan ke DO buffer lalu menjadi data output (DO), kemudian DO diteruskan dari XBee ke host. Device yang memiliki interface UART dapat terhubung langsung pada pin modul RF. Sistem data flow diagram pada UART dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 2.3.2 Ilustrasi prinsip kerja modul Xbee Pro (Datasheet Xbee Pro)

Pada mode operasi XBee Application Programming Interface (API), data yang masuk diurutkan pada frame sesuai dengan urutan yang telah ditentukan. Data frame yang berurutan ini akan membantu dalam proses command, command response dan status pengiriman. Pada penelitian kali ini maka akan digunakan mikrokontroler ATxmega 128A1 yang memiliki banyak fitur diantaranya adalah tentang Analog/Digital konverter yang mana mampu mengubah bentuk sinyal dari analog menuju sinyal digital, begitu juga sebaliknya. Dengan adanya fitur ini maka akan dapat menunjang pengguna untuk lebih mudah mengolah sinyal baik analog maupun digital tanpa harus menggunakan tambahan perangkat elektronika tambahan seperti ADC (Analog Digital Converter) ataupun DAC (Digital Analog 11 membedakan

Converter). Selanjutnya fitur dalam microcontroler ini adalah mendukung untuk proses timer dan counter dengan beberapa fasilitas sebanyak 8 bit. Selain itu juga terdapat menu RTC (Real Time Clock) yaitu bentuk detak timer yang dapat dimanfaatkan sebagai IC (Integrated Cyrcuite) waktu atau bisa dikatakan berfungsi sebagai perangkat jam internal. Berikut adalah bentuk fisik dari ATxmega 128A1 yang memiliki 100 pin. Fitur selanjutnya adalah Port untuk komunikasi yaitu SPI (Serial Pheriperal Interface). Komunikasi ini memanfaatkan master dan slave. Dimana bisa menggunakan banyak sekali slave dan dengan sistem menyamakan clock. Berikut adalah Bagan dari komunikasi Slave yang digunakan

2.4

Sistem Deteksi Kadar Konduktivitas Perairan Daya Hantar Listrik (DHL) menunjukkan kemampuan air untuk

menghantarkan aliran listrik. Konduktivitas air tergantung dari konsentrasi ion dan suhu air, oleh karena itu kenaikan padatan terlarut akan mempengaruhi kenaikan DHL. DHL adalah bilangan yang menyatakan kemampuan larutan cair untuk menghantarkan arus listrik. Kemampuan ini tergantung keberadaan ion, total konsentrasi ion, valensi konsentrasi relatif ion dan suhu saat pengukuran. Biasanya makin tinggi konduktivitas dalam air, maka air akan terasa payau sampai asin. Walaupun dalam baku mutu air tidak ada batasnya, tetapi untuk nilainilai yang ekstrim perlu diwaspadai. Konduktivitas air ditetapkan dengan mengukur tahanan listrik antara dua elektroda dan membandingkan tahanan ini dengan tahanan suatu larutan potasium klorida pada suhu 25C. Bagi kebanyakan air, konsentrasi bahan padat terlarut dalam miligram per liter sama dengan 0,55 sampai 0,7 kali hantaran dalam mikroumhos per sentimeter pada suhu 25C. Nilai yang pasti dari koefisien ini tergantung pada jenis garam yang ada didalam air. PH merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. PH juga merupakan satu cara untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Dalam penyediaan air, pH merupakan satu faktor yang harus dipertimbangkan mengingat bahwa derajat keasaman dari air akan sangat mempengaruhi aktivitas pengolahan yang akan dilakukan, misalnya dalam melakukan koagulasi kimiawi, pelunakan air (water softening) dan pencegahan

12

korosi. PH air dimanfaatkan untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat keasaman atau kebasaan air, terutama oksidasi sulfur dan nitrogen pada proses pengasaman dan oksidasi kalsium dan magnesium pada proses pembasaan. Angka indeks yang umum digunakan 0 sampai 14 dan merupakan angka logaritmik negatif dari konsentrasi ion hydrogen di dalam air. Angka pH 7 adalah netral, sedangkan angka pH lebih besar dari 7 menunjukkan air bersifat basa dan terjadi ketika ion-ion karbonat dominan, dan pH lebih kecil dari 7 menunjukkan air bersifat asam. Nilai pH air biasanya didapat dengan potensiometer yang mengukur potensial listrik yang dibangkitkan oleh ion-ion H+ atau dengan bahan celup penunjuk warna, misalnya methyl orange atau phenolphthalein. Pengukuran pH juga dapat menggunakan pH meter, kertas lakmus dan kalorimeter. PH meter pada dasarnya menentukan kegiatan ion hidrogen menggunakan elektroda yang sangat sensitif terhadap kegiatan ion merubah signal arus listrik. Cara ini praktis, teliti dan dapat digunakan di lokasi sampling. Sistem yang dipakai adalah tertera pada gambar berikut. Yang mana pada masing-masing elektroda dihubungkan kedalam sitem yang dapat kita atur berapa tegangan yang dapat diberikan dalam system terhadap lingkungan serta inverter yang mampu menjadikan system dapat dikenali oleh mikrokontroller yang kemudian nanti datanya dapat diolah dan kemudian dapat ditransmisikan menuju server untuk dapat diketahui aktivitas gunung apakah meningkat ataupumn cenderung konstan.

Gambar 2.4.1 Bagan Cara mengukur konduktivitas.

2.5

Sistem Deteksi Kegempaan Permasalahan utama dari peristiwa-peristiwa gempa (Masyhur Irsyam,

2010) adalah: 1) sangat potensial mengakibatkan kerugian yang besar, 2)

13

merupakan kejadian alam yang belum dapat diperhitungkan dan diperkirakan secara akurat baik kapan dan dimana terjadinya serta magnitudanya, dan 3)

gempa tidak dapat dicegah. Karena tidak dapat dicegah dan tidak dapat diperkirakan secara akurat, usaha-usaha yang biasa dilakukan adalah: a) menghindari wilayah dimana terdapat fault rupture, kemungkinan tsunami, dan landslide, serta b) bangunan sipil harus direncanakan dan dibangun tahan gempa. Pengalaman telah membuktikan bahwa sebagian besar korban dan kerugian yang terjadi akibat gempa disebabkan oleh kerusakan dan kegagalan infrastruktur. Kerusakan akibat gempa dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu: 1) kerusakan tidak langsung pada tanah yang menyebabkan terjadinya likuifaksi, cyclic mobility, lateral spreading, kelongsoran lereng, keretakan tanah, subsidence, dan deformasi yang berlebihan, serta 2) kerusakan struktur sebagai akibat langsung dari gaya inersia yang diterima bangunan selama goncangan. Pencegahan kerusakan struktur sebagai akibat langsung dari gaya inersia akibat gerakan tanah dapat dilakukan melalui proses perencanaan dengan memperhitungkan suatu tingkat beban gempa rencana. Oleh karena itu, dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa, analisis dan pemilihan parameter pergerakan tanah mutlak diperlukan untuk mendapatkan beban gempa rencana. Secara umum, dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa, terdapat beberapa jenis metoda analisis dengan tingkat kesulitan dan akurasi yang bervariasi. Sesuai dengan metoda analisis yang digunakan, parameter pergerakan tanah yang diperlukan untuk perhitungan dapat diwakili oleh: 1) percepatan tanah maksimum, 2) respon spektra gempa, dan 3) riwayat waktu percepatan gempa (time histories). Percepatan tanah maksimum hanya memberikan informasi kekuatan puncak gempa. Respon spektra gempa memberikan informasi tambahan mengenai frekuensi gempa dan kemungkinan efek amplifikasinya. Riwayat waktu percepatan gempa memberikan informasi terlengkap 4 yaitu berupa variasi besarnya beban gempa untuk setiap waktu selama durasi gempa. Dalam analisis gempa, semakin sederhana suatu metoda analisis berarti semakin sedikit parameter gempa yang diperlukan. Akan tetapi, semakin banyak parameter yang diperlukan umumnya akan menghasilkan perkiraan hasil yang semakin akurat.

14

Dalam pengukuran dan pendeteksian gempa maka akan kita gunakan sensor getaran yang dapat mengubah getaran menjadi bentuk Voltase yang mana datanya nati akan dimasukkan kedalam mikrolkontroler yang dapat diolah menjadi sebuah informasi. Informasi tersebut akan menjadikan valid jika terdapat beberapa system kecerdasan di dalamnya. Sensor Getaran ini diintegrasikan dengan mikrokontroler ATxmega 128 1A yang kemudian datanya akan dikirimkan melalui system telemetri. Dalam penelitian ini kita menggunakan modul RF Xbee Pro ACI-24-001 yang termasuk dalam kelas wireless. Penggunaan sensor ini adalah untuk mengetahui aktivitas pegunungan berupa gerakan ataupun goncangan yang diakibatkan dari aktivitas gunung tersebut.

Gambar 2.5.1 Sensor Getaran

15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tahap-tahap Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pembuatan instrumentasi penelitian terlebih dahulu dan selanjutnya dilakukan proses simulasi untuk memberikan pelatihan tanggap dalam menghadapi bencana serta mengambil tindakan real dan cepat ketika terjadi kegempaan.

Pengolahan data dari Sensor konduktivitas dan sensor Getaran

Mulai
Kalibrasi Sensor konduktivitas dan sensor getaran

Pengiriman Data ke Server

Forwarding Data & sending Report

Proses Penyimpanan Data

Scaning server hardware & Pairing


No

Analisis aktivitas Gunung berapi dari data-data yang masuk

Success Pairing?

Report data Sensor

Penyimpanan Laporan Pairing Device pada Memory External Mengulangi dengan penghalang yang berbeda

Yes Proses Penyimpanan Data

Laporan Pengiriman

Aktivitas gunung meningkat?

Ya

Alaram penanda gempa dan peningkatan kadar Belerang

Tidak Penyimpanan Laporan Pairing Device pada Memory External Menyimpan Seluruh Data hasil Aktivitas Gunung Berapi

Selesai

Gambar 3.1. Diagram alir metodologi penelitian.

16

3.2 Metode Pengukuran Pada penelitian kali ini prosedur yang akan dilakukan adalah penelitian secara bertahap dari persiapan hingga finishing (proses simulasi). Adapun tahapan yang pertama dilakukan adalah perancangan kemudian diikuti dengan pembuatan alat dan selanjutnya diikuti dengan proses pengambilan data serta analisis data. 3.3 Instrumentasi Penelitian Tahap Perancangan dan pembuatan alat dimulai dengan pembuatan rangkaian elektronika yaitu merancang pada software Eagle untuk pembuatan PCB dengan mendesain sebanyak tiga buah desain alat yaitu dua diantaranya sebagai client dan satu sebagai server. Instrumen penelitian yang akan dibuat nantinya adalah terdapat 2 sistem klien yang mana klien pertama adalah sensor konduktivitas yang terintegrasi ke dalam sebuah sistem mikrokontroler dan selanjutnya akan dihubungkan kedalam pemancar Xbee pro dan dikirimkan datanya menuju server. Selanjutnya datadari sensor getar adalah data yang digunakan untuk memperoleh getaran yang mana ketika data diperoleh dari sensor getaran selanjutnya akan di masukkan kedalam sistem mikrokontroler untuk diolah danselanjutnya dikirimkan melui pemancar menuju server untuk dapat diketahui apakah terdapat peningkatan aktivitas gunung. Dalam hal ini maka tentunya server berfungsi untuk mengolah data yang diperoleh dari hasil pengiriman sensor baik konduktivitas maupun sensor getar yang pada kali ini akandi olah datanya untuk dapat diterjemahklan menjadi sebuah peringatan ketika aktivitas mulai naik. Dalam penelitian ini yang akan kita lakukan adalah mberikan alaram baik buzer maupun alaram berupa lampu untuk memberikan kode peningkatan aktivitas gunung berapi.
Diagram Block Intrumen Penelitian

Power Suplay DC 5V dan 3.3 V

Modul RF Xbee Pro


24-ACI-001

Mikrokontroler
Atxmega 128 A1

Display
(LCD Nokia 3310)

Memory
(MicroSD)

Sensor getar / konduktivitas

Gambar 3.3.1.1 Diagram Blok instrumen penelitian.

17

3.3.1 Software CodeVision AVR 2.05 Disini kita memanfaatkan Software bantu atau kerap dikenal dengan sebutan compiler yaitu Code Vision AVR. Compiler ini cukup membantu dalam

pembuatan software dan juga melakukn enkripsi data dari bahasa tingkat tinggi ke bahasa mesin atau yang dikenal dengan bahasa mesin asembli. Compiler yang digunakan adalah versi ke 2.05. Pembuatan software dibedakan menjadi 2 bagian yaitu untuk server dan untuk client. Untuk client menggunakan sitem awal dan akhir sitem. Maksudnya adalah client berperan sebagai pengirim dan penerima saja. Yang selanjutnya adalah server yaitu menggunkan sistem forwader atau lebih dikenal dengan sistem penyalur data dan tempat terminal data dari clent. Bahasa yang digunakan adalah bahasa C dimana pada pemrograman dengan menggunakan Bahasa C ini merupakan bahasa tingkat tinggi. Yang cukup mudah untuk di kenal manusia. Selanjutnya ketika program sudah jadi maka untuk memasukkan ke dalam peralatan peneltian menggunakan alat bantu yang disebut dengan downloader yang berfungsi memindahkan data dari komputer menuju mikrokontroler pada rangkaian tersebut. 3.4 Rancangan Percobaan Langkah awal dalam pengambilan data adalah mempersiapkan berbagai instrumentasi yang telah dirangkai sebelumnya. Serta mempersiapkan berbagai peralatan bantu pada untuk membantu proses pengambilan data. Yang harus dilakukan pertama kali adalah memasitikan bahwa semua peralatan memiliki sumber energi yang cukup yang pada penelitian kali ini di dapat dari baterei dan power suply untuk instrument server. Selanjutnya langkah yang harus dilakukan adalah mulai menghidupakn semua instrumentasi baik pada client 1, client 2 maupun pada server. Pada masing-masing instrumen akan melakukan proses kalibrasi sensor secara otomatis. Setelah proses tersebut dilakukan secara otomatis oleh masing-masing instrumen maka selanjutnya adalah mengambil data secara otomatis oleh sensor tersebut yang akan digunakan oleh server sebagai bahan kajian data untuk menentukan status gunung tersebut. Klien 1 adalah sensor konduktivitas yang mana akan mengambil data konduktivitas dari suatu cairan di dekat gunung yang nantinya akan dapat kita simpulkan ketika terdapat perubahan

18

konsentrasi larutan. Perubahan konsentrasi inilah yang akan kita kita gunakan sebagai bahan acuan untuk menentukan peningkatan kadar belerang. Setelah mengetahui kadar konduktivitas airnya maka akan dikirimkan sebuah data yang mana data tersebut sudah berupa dana numerik yang telah diolah dan

diterjemahkan mikrokontroler untuk selanjutnya diambil datanya dan selanjutnya dikirim menuju server. Hal yang sama dilakukan oleh klien dua, hanya saja pada klien dua ini didapatkan harga nilai numerik yang diperoleh dari sensor getar. Yang selanjutnya juga akan ditransmisikan menuju server untuk diketahui aktivitas getaran gunung sebagaimana seperti sebuah seismograp.

c b a e b

Pengiriman data menuju Server

Gambar 3.4.1 Teknik pengambilan data.

19

BAB IV JADWAL PENELITIAN

Rencana Kegiatan Pembuatan proposal penelitian Perencanaan kegiatan Pencarian alat dan bahan pendukung Pembuatan Instrumentasi Penelitian Pengambilan data Analisis data dengan Ms. Excel Penyusunan laporan akhir penelitian Penyerahan laporan

Bulan ke1 2 3 4 5 6 7 8

20

BAB V REKAPITULASI ANGGARAN

5.5 Rekapitulasi Angaran Biaya yang diusulkan 2,000,000.00 1,000,000.00 1,250,000.00 750,000.00 Jumlah 5,000,000.00

No. 1 2 3 4

Jenis Pengeluaran Peralatan dan Bahan Biaya Perjalanan Honor Tim Lain-lain

21

DAFTAR PUSTAKA

Barnett, R. H., Cox, S., & O'Cull, L. (2007). Embedded C Programming and the Atmel AVR. Canada: The Thomson Learning Inc. Bisiry, K. A. (2012). Rancang Bangun Komunikasi Data Wireless Mikrokontroler Menggunakan Modul Xbee Zigbee (IEEE 802.15.4). Jurnal Ilmiah, 30. Collin, R. E. (1985). Antennas And Radios Waves Propagation. Singapore: Singapore National Printers (Pte) Ltd. Gosling, W. (2004). Radios Antennas And Propagation. Oxford: A division of Reed Educational and Professional Publishing Ltd . Griffiths, D. J. (1999). Introduction To Electrodynamics (3rd ed.). (A. Reeves, Ed.) New Jersey: Prentice Hall. http://id.wikipedia.org/wiki/Telemetri http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/07/beberapa-parameter-kualitas-fisikadan.html Irsyam, M. (2010). Ringkasan Hasil Study Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010., (p. 44). Bandung. Saunders, S. R., & N -Zavala, A. A. (2007). Antennas And Propgation For Wireless Communication System. Chichester, West Sussex: John Wiley & Sons Ltd. Supriyanto. (2007). Perambatan Gelombang Elegtromagnetik. Departemen Fisika FMIPA Universitas Indonesia. Jakarta:

22