Anda di halaman 1dari 10

(bahan kuliah_01)

DASAR-DASAR PERANCANGAN PENELITIAN KEDOKTERAN

Untuk dapat memahami rangcangan penelitian (research design) kedokteran, seorang peneliti perlu mengetahui berbagai jenis penelitian. Oleh karenanya, sebelum diuraikan perihal rancangan penelitian, akan diuraikan secara garis besar jenis penelitian kedokteran.

Jenis Penelitian Kedokteran


Dikenal bermacam-macam pembagian penelitian kedokteran, tergantung dari pendekatan mana yang digunakan. Namun untuk kepentingan pemahaman rancangan penelitian, yang diperlukan ialah pengetahuan tentang berbagai jenis penelitian yang dibagi berdasar proses atau mekanisme suatu penelitian mengeksplorasi fenomena yang dikehendaki peneliti. Berdasar atas proses bagaimana fenomena penelitian dieksplorasi, penelitian kedokteran dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu penelitian observasional dan penelitian eksperimental. Ciri pokok yang membedakan kedua jenis penelitian tersebut ialah menyangkut ada-tidaknya intervensi peneliti terhadap subjek penelitian, atau adatidaknya unsur "manipulasi" yang dilakukan peneliti. Penelitian observasional adalah penelitian yang dilakukan tanpa mengadakan manipulasi atau intervensi terhadap subjek penelitian. Penelitian observasional mengeksplorasi fenomena penelitian menurut apa adanya (in nature). Peneliti mempelajari fenomena kedokteran bukan dengan memberikan perlakuan atau manipulasi, melainkan dengan cara mengorganisasi "cara pengamatan" sedemikian rupa sehingga dinamika hubungan dan pengaruh antar fenomena penelitian dapat diketahui. Sebagai contoh misalnya, pada penelitian Kasus Kelola (case control) peneliti mempelajari dulu fenomena terpengaruh (efek), baru kemudian secara retrospektif mempelajari bagaimana status fenomena pengaruh (faktor risiko, penyebab). Pada penelitian Potong Silang (cross sectional), fenomena terpengaruh maupun fenomena pengaruh diamati pada saat yang sama menurut status waktu pengamatan dilakukan. Sedangkan pada penelitian Kohort, yang dipelajari (diamati) dulu ialah fenomena pengaruh, kemudian diikuti secara prospektif bagaimana kejadian (status) fenomena

terpengaruh pada subjek penelitian. Padan kata lain yang sering digunakan untuk penelitian observasional ialah penelitian non-eksperimental. Penelitian eksperimental ialah penelitian yang mengeksplorasi pengaruh atau efek yang diberikan peneliti pada subjek penelitian. Pada penelitian ini, peneliti melakukan manipulasi atau perlakuan tarhadap subjek, dan yang diobservasi adalah efek manipulasi tersebut pada sejumlah ciri subjek penelitian. Istilah manipulasi, intervensi, dan perlakuan secara bergantian digunakan untuk maksud yang sama, yaitu setiap tindakan yang dilakukan peneliti terhadap subjek penelitian, yang dengan tindakan tersebut menimbulkan efek, dan efek inilah yang kemudian dipelajari. Dengan demikian tidak setiap tindakan penelitian, sampai pun seberat tindakan pembedahan misalnya, merupakan penelitan eksperimental, kalau tindakan itu bukan untuk dipelajari efeknya. Sebagai contoh misalnya, suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui jenis batu kandung kencing, yang dalam pelaksanaannya dilakukan pembedahan (sectio alta), bukanlah suatu penelitian eksperimental, karena pada penelitian ini bukan merupakan efek tindakan peneliti (pembedahan) yang dipelajari, tetapi jenis batunya. Lain halnya kalau yang dipelajari efek kesembuhan luka operasi, dengan membandingkan model insisi supra pubik yang horisontal atau vertikal pada pembedahan tersebut misalnya, jenis penelitian ini termasuk eksperimental.

Antar-hubungan Masalah, Kerangka Teoritik, Hipotesis, dan Rancangan Penelitian


Kegiatan penelitian merupakan suatu rangkaian tindakan metodologik yang berkesinambungan. Bagaimana masalah penelitian diidentifikasi dan dirumuskan, bagaimana landasan teoretik dikembangkan dalam rangka merumuskan hipotesis dan operasionalisasinya, bagaimana subjek-subjek penelitian ditetapkan dan dipilih sampelnya, serta bagaimana peng-ukuran dilakukan dengan memperhatikan validitas dan reliabilitasnya. Dengan menjalankan rangkaian kegiatan metodologis tersebut, penelitian belum dapat dilakukan, oleh karena masih ada satu hal lagi yang perlu disiapkan peneliti, yaitu rancangan penelitian. Diibaratkan membangun suatu gedung, rancangan penelitian dapat diumpamakan sebagai gambar bangunan tersebut. Rancangan penelitian (research designs, "model penelitian") memang merupakan sesuatu yang penting dalam penelitian kedokteran. Sebagaimana disinggung dalam bab pertama, salah satu peran penting rancangan penelitian ialah memungkinkan dilakukannya pengandalian terhadap berbagai fenomena penelitian yang tidak dikehendaki berpengaruh pada fenomena penelitian yang dihadapi. Untuk dapat memahami apa yang

dimaksud dengan rancangan penelitian, maka perlu dikaji pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah sebenarnya hakekat penelitian itu? Mengapa penelitian perlu dirancang? Apakah esensi atau fungsi rancangan penelitian? Hakekat suatu penelitian, termasuk di dalamnya penelitian kedokteran, ialah konfirmasi kebenaran hipotesis dalam rangka menjawab permasalahan yang ada. Dari permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan teori, fakta yang diperoleh pada penelitian terdahulu, dan asumsi peneliti, dikembangkan kerangka teoritik yang mendasari perumusan hipotesis. Pada "jalur" konkrit, dari permasalahan tersebut dilakukan observasi empirik atas fenomena-fenomena penelitian sehingga dihasilkan data. Keberhasilan penelitian ditentukan dengan mempertanyakan seberapa jauh data yang diperoleh tersebut bergayut (relevan) dengan jawaban yang dikehendaki. Pengertian di atas dapat dilukiskan dengan skema pada gambar berikut.

teori/fakta + asumsi hipotesis


(jalur abstrak)

masalah penelitian

observasi empirik
(jalur konkret)

fenomena penelitian

Apakah relevan untuk: menguji hipotesis? menjawab masalah?

DATA

Dari skema tersebut diketahui bahwa sifat relevansi data dengan jawaban yang akurat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu (a) apakah kerangka teoritik yang dikembangkan untuk menyusun hipotesis cukup kuat sehingga hipotesis yang diajukan benar-benar menjawab

secara adekuat permasalahan yang ada, dan (b) apakah operasionalisasi hipotesis menjadi variebel-variabel penelitian (fenomena yang diobservasi) dilakukan secara tepat.

Mengapa penelitian memerlukan rancangan? Di atas telah diungkapkan bahwa ketiadaan rancangan dalam penelitian sama halnya dengan ketiadaan gambar dalam membangun suatu gedung. Namun untuk menjawab pertanyaan di atas secara lebih dalam lagi, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sebagaimana telah dikaji di atas, ialah masalah relevansi data yang diperoleh. Hal yang kedua ialah bahwa untuk mendapatkan data yang relevan tersebut dapat ditempuh lebih dari satu jalan, sehingga persoalannya ialah: Jalan manakah yang menjamin data tersebut diperoleh secara objektif dan memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas? Jalan manakah yang secara teknis lebih efektif atau efisien? Dengan uraian tersebut diketahui ada lima kriteria yang melatarbelakangi mengapa suatu penelitian perlu dirancang. Kelima kriteria tersebut ialah: (1) relevansi data, (2) objektivitas, (3) validitas, (4) reliabilitas, dan (5) teknis pelaksanaan yang ekonomis (efektif dan efisien). Dalam praktek tidak mungkin suatu penelitian dapat memenuhi kelima kriteria tersebut sekaligus secara penuh, karena adanya faktor-faktor metodologik dan teknis yang membatasinya. Dengan demikian upaya seorang peneliti ialah mengusahakan agar seoptimal mungkin kelima kriteria tersebut dipenuhi. Dalam kaitan dengan upaya pengoptimalan tersebut, perlu diingatkan bahwa kelima kriteria tersebut tidak sama bobot keharusan pemenuhannya. Kriterium relevansi data merupakan keharusan yang mutlak sifatnya, sementara kriteria objektivitas, validitas dan reliabilitas, sepanjang dimungkinkan secara metodologik, juga harus dipenuhi. Kriterium kelima baru dipertimbangkan setelah keempat kriteria sebelumnya relatif terpenuhi.

Apakah esensi atau fungsi suatu rancangan penelitian? Untuk mengkaji pertanyaan ini, dapat diilustrasikan contoh sebagai berikut. Telah ditemukan suatu obat baru, yang secara teoretik (berdasar rumus kimiawinya) dan uji  in vitro dapat membunuh virus penyebab AIDS. Obat tersebut kemudian diujicobakan pada sejumlah penderita AIDS, dan ternyata setelah jangka waktu tertentu sebagian penderita menunjukkan gejala kesembuhan. Ada dua pertanyaan yang perlu dikaji ialah: Pertama, benarkah kesembuhan terjadi karena pengaruh pemberian obat tersebut? Kedua, kalau benar, sejauh manakah penelitian berguna, dengan ungkapan lain, dapatkah terhadap tiap penderita AIDS dilakukan terapi dengan obat tersebut? Benar, bahwa kesembuhan terjadi karena pengaruh obat, apabila kesembuhan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, atau kesembuhan terjadi bukan karena faktor lain. Sebagaimana telah diulas, peneliti dapat menyingkirkan faktor kebetulan dengan menggunakan statistik dalam pengolahan data. Sementara untuk menyingkirkan

kemungkinan pengaruh faktor lain, peneliti perlu menggunakan rancangan penelitian yang adekuat. Adekuatitas di sini berarti berkaitan dengan masalah validitas dalam. Validitas dalam ialah seberapa jauh suatu variabel terpengaruh benar-benar berubah semata-mata oleh karena variabel bebas atau veriabel perlakuan yang direncanakan peneliti, dan bukan berubah karena pengaruh variabel yang tidak dipelajari (variabel luar). Uji coba tersebut berguna, apabila hasilnya dapat dirampatkan (digeneralisasikan) pada populasi. Hal ini dimungkinkan kalau digunakan dengan rancangan penelitian yang adekuat. Adekuatitas di sini berarti berkaitan dengan masalah validitas luar. Validitas luar ialah seberapa jauh hasil suatu penelitian terhadap sampel yang diambil dari suatu populasi dapat dirampatkan (digeneralisasikan) pada populasi induknya. Kalau suatu perlakuan (X) dikenakan pada sampel sehingga subjek-subjek sampel berubah keadaannya menjadi (R) misalnya, maka penelitian dikatakan mempunyai validitas luar yang tinggi kalau terhadap populasi dikenakan perlakuan (X), perubahan subjek-subjek populasi identik atau hampir identik dengan (R). Dengan melihat jawaban-jawaban di atas diketahui bahwa esensi atau fungsi rancangan penelitian ialah mengupayakan optimasi berimbang validitas dalam dan validitas luar suatu penelitian. Istilah berimbang di sini perlu ditekankan, karena diketahui bahwa mengupayakan validitas dalam secara penuh (pada kasus-kasus penelitian tertentu) akan dapat menurun-kan validitas luar, dan sebaliknya. Dengan beranjak dari uraian-uraian tersebut di atas, maka pengertian rancangan penelitian dapat dirumuskan sebagai: "Suatu rencana, struktur, dan strategi penelitian yang dimaksudkan untuk mejawab permasalahan yang dihadapi, dengan mengupayakan optimasi yang berimbang antara validitas dalam dan validitas luar, dengan melakukan pengendalian varians". Rancangan penelitian disebut rencana, karena rancangan tersebut memuat secara sistematis keseluruhan kegiatan yang akan dilakukan peneliti. Rancangan disebut sebagai struktur, karena rancangan penelitian juga berupa upaya strukturasi penelitian. Yang dimaksud dengan strukturasi ialah di dalam rancangan penelitian tergambar model atau paradigma operasionalisasi variabel penelitian, yaitu diidentifikasi jenis dan sifat variabel serta hubungan antar variabel tersebut. Rancangan penelitian merupakan strategi, karena di dalamnya terkandung petunjuk prosedural bagaimana rencana dan strukturasi tersebut dapat dijalankan sehingga permasalahan penelitian secara adekuat terjawab dan varians dapat dikendalikan.

Prinsip-prinsip Pengembangan Rancangan Penelitian


Bagaimana menyusun rancangan penelitian yang adekuat? Untuk dapat menyusun rancangan penelitian yang baik, seorang peneliti perlu mengingat pengertian rancangan penelitian sebagaimana telah dikemukakan di atas. Secara operasional, suatu rancangan

penelitian disebut adekuat apabila penelitian yang dilakukan atas dasar rancangan tersebut dapat menjawab persoalan penelitian yang dihadapi atau secara adekuat dapat menguji kebenaran hipotesis. Dikenal tiga macam pertimbangan yang harus dilakukan peneliti dalam rangka melakukan upaya mengembangkan rancangan penelitian yang adekuat, yaitu: (1) maksimasi varians penelitian, (2) kontrol variabel luar, dan (3) minimasi varians kesalahan. Untuk lebih memudahkan ingatan, pe-ngendalian varians dilakukan dengan prinsip "mako-min", yaitu maksimasi, kontrol, dan minimasi. Prinsip "makomin" ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Maksimasi Varians Penelitian Varians penelitian ialah variabilitas nilai variabel tergantung yang terjadi akibat pengaruh variabel bebas, atau variabel perlakuan. Maksimasi varians penelitian, dengan demikian, berarti mengupayakan agar variabilitas perubahan yang terjadi pada variabel tergantung tersebut sebesar mungkin. Hal ini dapat dicapai apabila variasi variabel bebas atau variabel perlakuan yang digunakan juga besar (lihat skema).

A-1

B-n

A-2

B-2

A-n

B-1
(Skema upaya maksimasi varians penelitian)

Misalkan akan dikaji pengaruh variabel A terhadap variabel B; maka agar variabilitas nilai variabel B (rentang B-1 sampai B-n) besar, berarti variabilitas nilai variabel A (rentang A-1 sampai A-n) yang dikenakan juga harus besar. Besar varians penelitian (variabilitas nilai variabel B) ini amat bermanfaat untuk menilai pengaruh variabel bebas yang tidak begitu nyata.

Contoh konkrit misalnya, dalam suatu penelitian eksperimental untuk menguji besar dosis suatu obat terhadap kecepatan kesembuhan suatu penyakit, maka variasi dosis yang digunakan diupayakan seluas mungkin (dalam batas-batas terapetik), sehingga kalau memang besar dosis itu berpe-ngaruh akan tampak pada kecepatan kesembuhan penyakit. Contoh lain, dalam survei analitik untuk mengetahui pe-ngaruh tingkat pendidikan individu terhadap akseptabilitas metode keluarga berencana tertentu, maka subjek-subjek penelitian yang dipilih hendaknya cukup besar variasi pendidikannya (sejak dari tidak sekolah sampai dengan pascasarjana, misalnya). Sehingga kalau memang tingkat pendidikan berpengaruh, akan tampak pada akseptabilitas metode keluarga berencana. Sebaliknya, kalau tidak ada perbedaan akseptabilitas juga jelas. Bila perbedaan akseptabilitas tidak jelas (hanya sedikit), sementara subjek yang digunakan hanya dibatasi tingkat SMTP dan SMTA saja, maka tidak dapat dipastikan apakah tingkat pendidikan tersebut berpengaruh atau tidak. Hal yang sama juga terjadi pada contoh dosis obat tersebut di atas; kalau perbedaan kecepatan kesembuhan tidak begitu nyata, sementara variasi dosis hanya kecil, tidak dapat diinterpretasi apakah perbedaan dosis mempengaruhi kecepatan penyembuhan atau tidak. Kontrol Variabel Luar Apa yang dimaksud dengan variabel luar telah disinggung pada bab pertama. Variabel luar ialah variabel-variabel yang berpengaruh terhadap (a) variabel tergantung atau (b) terhadap bekerjanya variabel bebas pada variabel tergantung, yang dalam penelitian tidak dikehendaki kemunculan pengaruh tersebut.

D
C

G H
(Skema bekerjanya variabel luar)

Upaya pengontrolan atau pengendalian variabel luar berarti secara metodologik meniadakan pengaruh variabel luar tersebut (lihat skema di atas). Kalau yang akan dipelajari adalah pengaruh variabel (A) terhadap variabel (B), maka usahakan bahwa dalam penelitian tersebut variabel-variabel (C, D, E, F, G, H, I, dst) tidak berpengaruh. Untuk dapat mengendalikan variabel luar ini, dapat dilakukan beberapa cara: memilih subjek-subjek yang sama, pengelompokan subjek secara random, melakukan penyepadanan subjek atas sejumlah variable (matching), menggunakan rancangan sama subjek. Penyamaan subjek dalam variabel-variabel tertentu yang dikendalikan (variabel luar) secara teoritik amat baik, tapi dalam praktek sulit dilakukan, karena kondisi subjek yang keadaan variabelnya benar-benar sama atau homogen, secara praktis sulit dijumpai atau didapatkan. Di samping itu kalau peneliti benar-benar akan menyamakannya, akan mengalami keterbatasan jumlah subjek maupun keterbatasan generalisasi hasil penelitian.Dengan demikian, dalam praktek, cara pertama (memilih subjek yang sama) jarang dipakai. Teknik yang paling baik, terutama untuk rancangan eksperimental ialah melakukan randomisasi subjek. Randomisasi di sini berbeda dengan pengertian randomisasi sebagai metode pemilihan sampel. Randomisasi yang dimaksud ialah membagi subjek penelitian

(yang telah dipilih sebagai sampel) dalam kelompok-kelompok penelitian dengan teknik random (random assignment, random alocation). Dalam praktek, terutama pada penelitian klinik atau penelitian dengan subjek penderita (manusia), sering teknik pengelompokan subjek secara random ini sukar dilakukan, baik atas pertimbangan teknik maupun pertimbangan etik. Untuk ini, seorang peneliti dapat melakukan pengelompokan subjek dengan teknik matching, yaitu menyamakan kondisi subjek atas variabel (variabel-variabel) tertentu, antara satu kelompok dengan kelompok lain. Teknik matching ini dilakukan pada penelitian case control dan penelitian cohort. Cara keempat amat berguna untuk melakukan pengendalian terhadap variabel luar yang berasal dari subjek sendiri (variabel endogen, atribut). Cara ini juga hanya dapat dilakukan pada penelitian eksperimental, yaitu dengan menggunakan subjek perlakuan sekaligus sebagai subjek kontrol. Contoh yang amat populer ialah "rancangan penelitian silang" (cross over design). Minimasi Varians Kesalahan Varians kesalahan atau varians error ialah variabilitas hasil pengukuran yang terjadi oleh karena fluktuasi random dari variabel yang diukur. Secara lebih operasional, yang dimaksud dengan varians kesalahan adalah variasi nilai dari data yang terjadi akibat kesalahan pengukuran. Upaya minimasi varians kesalahan ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, mengurangi sejauh mungkin kasalahan pengukuran melalui pengendalian terhadap kondisi atau lingkungan saat dilakukan pengukuran. Dengan kata lain, berarti peneliti mengupayakan pengendalian terhadap kesalahan sistematik pengukuran. Kedua, meningkatkan reliabilitas pengukuran. Mengingat pengertian dan cara penyusunan rancangan penelitian sebagaimana dikupas di atas, maka dalam praktek penyusunan rancangan penelitian ada beberapa bahan yang perlu diperhatikan dan dirumuskan oleh peneliti. Hal-hal yang dimaksud adalah: Permasalahan dan tujuan penelitian Kerangka teoritik Hipotesis dan operasionalisasi hipotesis Subjek penelitian, yang meliputi: o batas dan cakupan populasi, o teknik sampling, o dan besar sample Pengelompokan subjek Pengaruh lingkungan pengelitian Instrumentasi dan pengukuran, termasuk masalah validitas dan reliabilitasnya Rancangan pengolahan data.

Dari satu permasalahan penelitian, dengan sendirinya dapat dikembangkan lebih dari satu rancangan penelitian. Namun rancangan penelitian mana yang dipilih peneliti, akan tergantung pada berbagai pertimbangan. Pertimbangan yang mesti diperhatikan peneliti (sebagai pertimbangan pokok) ialah, bahwa rancangan penelitian hendaknya: (a) memenuhi lima kriteria seperti telah dikemukakan di atas, dan (b) cukup adekuat, dalam pengertian ada optimasi yang berimbang antara validitas dalam dan validitas luar. Dua pertimbangan pokok inilah yang digunakan oleh peneliti untuk menilai dan memilih rancangan penelitian mana yang akan dikerjakan, apabila terhadap suatu permasalahan penelitian tersedia (dapat disusun) lebih dari satu rancangan.

10