Anda di halaman 1dari 81

Chapter 1

Meskipun hari sudah menjelang malam, jalan-jalan di Chinatown San Francisco masih terang-benderang. Kebanyakan toko dan restoran buka sampai larut malam, dan penduduk setempat beserta turis-turis masih memadati kaki lima yang sempit. Chinatown adalah sebuah kota dalam kota di mana atap-atap rumah melengkung seperti kelenteng kuno, lampu jalanan yang dibuat seperti naga-naga kuningan berjejer di tepi jalan, dan neon reklame mewarnai malam dalam dua bahasa, Cina dan Inggris. Pada malam yang istimewa ini, suara genderang dan gembrengan bertalu-talu dalam irama yang tiada henti, dan kembang api menyala seperti bintang-bintang yang berwarna emas putih menerangi malam. Festival naga berhembus melalui jalan-jalan di sana. Penari terdepan mengangkat tinggi-tinggi topeng kepala naga yang berukuran sangat besar di tangannya: mata perak, dahi yang lebar dengan bulubulu putih di pinggirannya. Di belakangnya para penari mengular dengan membawa badan naga yang panjang dan bersisik biru. Semakin cepat irama gendang, semakin cepat kepala naga itu berputar-putar dan meloncat-loncat seperti hendak terbang. Ketika hampir semua orang sudah mulai terhanyut ke dalam festival itu, seorang kelihatan sama sekali tidak peduli. Ia yang mempunyai urusan yang lebih penting dari itu,pikirnya. Dengan tergesa-gesa ia menjauhi keramaian dan terang benderangnya jalan itu. Malam itu adalah suatu malam September yang dingin, dan napas pemuda itu membentuk kabut di mukanya. Meskipun cuca

dingin, ia hanya mengenakan jaket tipis yang membaluti kemeja dan celana jeans-nya. Ia berjalan dengan cepat dan berzigzag melalui jalan utama, melewati para penjual buah, pasar, dan restoran-restoran. Akhirnya ia membelok ke dalam sebuah jalan kecil. Ia menahan dirinya untuk tidak berlari. Itu akan membuatnya panik, akan membuatnya kelihatan mencolok. Tapi ia tetap tidak dapat memperlambat langkahnya ketika ia memasuki sebuah gang sempit. Serentetan bunyi petasan seperti suara tembakan senjata api terdengar tidak jauh di belakangnya. Ia melompat sambil menutupi telinganya. Ia berbalik menatap ke belakangnya, ke arah seberang gang itu. Empat remaja berdiri di sana, tertawa histeris. Tentu saja mereka yang memasang petasan itu. Dan ia ia kaget dengan mudahnya seperti seekor kelinci. Ia berpikir dengan jijik. Dan lagi malam ini ia mempunyai perjanjian besar bersama dengan binatangbinatang yang telah menjadi mangsanya. Ia memeriksa lagi, tidak seorang pun yang membuntutinya. Tapi ia terlalu gemetar untuk tetap bersikap tenang. Ia berbalik dan langsung lari. Ia kembali ketakutan ketika hampir menabrak sesosok tubuh yang melangkah keluar dari belakang tangga darurat kebakaran. Sosok itu menjulang tinggi melebihinya, paling sedikit tujuh kaki tingginya, dengan wajah yang panjang dan mata juling. Pria muda itu hampir berteriak ketakutan, lalu ia menyadari itu adalah salah satu badut pada festival ituseseorang yang berdiri di atas sebuah jangkungan, wajahnya ditutupi sebuah topeng. Pemuda itu berteriak marah, lalu mendorong badut yang besar itu ke samping karena menghalangi jalannya. Kemudian ia meneruskan larinya. Ia melintasi gang dan berlari menaiki tangga belakang bangunan batu bata merah yang tidak terpelihara. Tangga kayu tua berderak-derak di setiap langkahnya. Ia bernapas dengan berat. Ia

merasa putus asa ketika berada di jalanan. Ia tahu, di sana ia gampang untuk diserang. Akhirnya ia sampai ke lantai yang ditujunya dan merasakan jantungnya mulai berdetak normal kembali. Napasnya mulai terasa ringan. Ia sudah berada di rumah sekarang, tidak terjadi apa-apa. Lalu ia melihat sesuatu yang tidak beres. Huruf-huruf Cina mencoreng pintunya dalam warna putih berkilau. Putih adalah warna berkabung. Seperti warna huruf-huruf itu ia tidak ingin mempercayainya, mempercayai bahwa itu mungkin benar. Ia menyentuh dan meraih pintu itu. Tangannya gemetar karena ketakutan. Cat itu masih basah, meninggalkan bekas melintang di jarinya. Kesegaran cat itu menakutkannya melebihi sebuah pesan. Siapa pun yang mengecat itu baru saja berada di sini. Lagi-lagi ia berbalik dan melihat ke belakangnya. Kecuali anjing yang sedang menggonggong, gang itu kosong. Dengan perlahan ia membuka pintu apartemennya. Di dalam masih gelap. Satu-satunya cahaya yang ada adalah bayangan berkabut dari lampu-lampu jalan yang menerobos melalui jendela. Bergerak tanpa suara, ia melangkah ke dalam. Tiba-tiba sebuah lampu menyala, dengan kasar langsung menyorot tertuju ke dalam matanya, membutakannya, membuatnya tak mungkin untuk mengenali siapa yang memegang lampu itu. Orang asing itu mengatakan sesuatu dalam bahasa Canton, bahasa kampung halaman mereka. "Kau tahu aturannya, sekarang kau harus bayar." "Aku sudah bilang padamu bahwa aku mau keluar," kata pemuda itu menjawab, mengangkat tangannya melindungi matanya. "Kau yang memulai, kau yang mengakhirinya," yang lain menjawab.

Pemuda itu melihat kilatan cahaya logam. Orang yang memegang lampu itu menarik sebuah pisau. Tapi pemuda itu merasa masih mempunyai sedikit harapan. Sebuah pisau lipat terbuka di tangannya. Dengan sabetan yang sangat cepat, ia mengiris sosok tubuh yang berada di depannya, mencoba mengiris dada orang itu dan membuatnya berguling ke belakang sambil melepaskan lampu itu. Pemuda itu menarik napasnya, bertanya-tanya apakah ia sudah berhasil membunuh penyerangnya. Jantungnya berdegup dengan keras, aliran darah dalam tubuhnya terasa sangat ccpat. Ia tidak pernah ingin berkelahi, yang diinginkannya hanyalah melarikan diri dari sini. Ia menarik napas lagi dengan berat lalu merasakan tubuhnya bergetar dengan hebat. Penyerangnya tidak sendirian di dalam apartemennya ini. Tiga sosok tubuh bertopeng berdiri dalam bayang-bayang. Mereka mengenakan jubah panjang yang sangat hitam sehingga hampir membuat mereka seperti tak terlihat di kegelapan apartemen. Tapi wajah mereka diterangi oleh cahaya putih yang misterius. Pemuda itu pernah melihat wajah-wajah ini sebelumnya di buku tua ayahnya. Wajah mereka adalah wajah setan Cina kuno dan sekarang mereka datang untuknya. ***************** Penjaga malam itu duduk dengan mesin permainan elektronik blackjack di tangannya sambil mengerutkan dahinya. Umurnya akhir dua puluhan, tinggi dan kuat, kepalanya hampir tercukur gundul. Ia mengenakan kemeja putih bermerek, dasi angkatan laut dan celana berstrip di samping, seragam penjaga keamanan sewaan. Ia tidak begitu mempedulikan tempat yang sedang dijaganya itu, rumah pemakaman Bayside. Ia dengan sengaja tidak menghiraukan sebuah peti mati yang terbuka di depan kapel, hanya beberapa yard dari tempatnya. Ia tidak ingin melihat mayat itu, tidak ingin melihat pada

tiga lampion kertas yang tergantung di atas peti mati itu, atau bahkan pada bunga yang mengelilingi jenazah itu. Ini adalah pekerjaan barunya. Pagi hari tadi adiknya menggoda bagaimana menakutkannya bekerja di dalam sebuah rumah pemakaman. Dalam beberapa detik penjaga itu kembali membayangkan apa yang telah diceritakan oleh adiknya itu: salah satunya tentang mayat yang bangkit duduk di dalam peti matinya sambil meneriakkan nama pembunuhnya; cerita lain adalah mengenai hantu yang bergentayangan di kamar mayat. Baiklah, ia tidak akan membiarkan dirinya ketakutan. Tiba-tiba ia mendengar suara berisik dari bagian lain rumah pemakaman itu. Aneh sekali, ia tahu bahwa ia berada di sana sendirian. Ia menunggu beberapa saat sambil bertanya-tanya dalam hati apakah ia sedang berkhayal. Tidak, itu terjadi lagi. Suara seretanseperti suara sesuatu yang diseret di lantai. Jantungnya berdegup kencang. Penjaga itu mematikan mainannya, lalu berdiri. Kemudian mengambil lampu senter serbagunanya. Dengan perlahan ia berjalan ke dalam kapel yang kosong dan gelap. Ini adalah kali pertama sejak ia mulai bekerja di sebuah perusahaan penjaga keamanan, terjadi sesuatu pada saat gilirannya bertugas jaga. Ia dapat merasakan adrenalinnya bangkit, seluruh panca indranya memuncak dan waspada. Sewaktu ia bergerak memasuki pintu masuk yang melengkung, tiba-tiba ada bunyi lainnya yang terdengarsesuatu yang berat sedang dipindahkan atau ditutup. Penjaga malam itu berputar, lalu menyorotkan senternya di sepanjang dinding salah ruang penerima tamu. Tidak ada apa-apa. Ia terus berjalan sambil menyorotkan senternya di sepanjang lorong dan ke dalam ruangan yang menyimpan contoh mayat yang dipajang.

Lalu ia benar-benar terhenti ketika ia mendengar gumamam pelan. Bukan, katanya pada dirinya sendiri, tidak mungkin. Ketika ia berjalan melewati lorong itu menuju ke arah sumber suara tadi, ia yakin itu semua hanya khayalannya. Sampai ia membuka pintu bercat merah yang menuju ke ruangan krematorium, perutnya langsung terasa mual ketika menyadari bahwa suara itu bukanlah khayalannya. "Apakah ada seseorang di sini?" teriaknya. Suaranya bergetar ketika ia menyorotkan senternya ke arah celah oven. Tertangkap dalam cahaya senternya, tiga sosok tubuh yang mengenakan jubah hitam. Wajah mereka bercat putih mengenakan topeng Cina. Begitu cahaya senter menerangi mereka secepat itu pula mereka pergi menghilang ke dalam kegelapan, seolah-olah mereka tidak pernah berada di sana. Apakah ini hanya khayalanku? tanya penjaga malam itu kepada dirinya sendiri. Ia merasakan seluruh tubuhnya menegang ketika menyadari cahaya senternya bukanlah satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan itu Ada cahaya oranye yang aneh menyala di dalam kegelapan. Dan suara yang perlahan terdengar datang dari dalam krematorium seperti sesuatuatau seseorangberada di dalamnya. Itu tidak mungkin! "Ya, Tuhan..." ia berbisik dengan perlahan sambil menatap ke arah oven. Suara itu semakin keras. Ia berjalan dengan lebih cepat menuju ke lingkaran cahaya oranye. Lalu ia mencondongkan badannya ke depan, mengintip ke dalam lubang kaca pengintip pada pintu oven. Ia merasa ketakutan pada apa yang dilihatnya. Krematorium itu diterangi oleh tarian cahaya lidah api yang berwarna oranye. Penjaga malam itu melihat lebih dekat, memandang ke dalam cahaya api yang menyilaukan. Dan apa yang dilihatnya membuatnya mual.

Seorang Cina muda sedang menatap balik ke arahnya. Wajahnya bekerut-kerut karena kesakitan. Jeritan kematiannya menembus ketebalan dinding oven dan gemuruh suara lidah api.

Chapter 2

Di dalam sebuah ruangan pembalseman mayat, Dana Scully, Agen Khusus FBI, berdiri di bawah lampu sorot pijar, menatap sesosok wajah gosong seorang pemuda Cina. Menurut polisi, seorang penjaga keamanan rumah kematian yang sedang berada dalam keadaan panik telah mematikan semprotan gas secepatnya setelah ia mengetahui cara kerja alat itu. Tapi sayang, ia tidak cukup cepat. Meskipun tanpa autopsi penuh, sangat jelas bagi Scully bahwa api krematoriumlah yang menjadi sebab kematiannya. Sisa pakaiannya yang hangus dan meleleh masih menempel dengan ketat di kulit mayat yang menghitam itu. Ia melihat ke arah si korban, lalu ia menatap pada rekannya, Fox Mulder. "Lebih baik kita pergi saja," katanya sambil menggelengkan kepalanya. Scully menarik sebelah sarung tangan karet dan menyodorkannya kepada Letnan Neary, polisi San Francisco berpakaian preman, yang sedang menemani mereka. Neary, lelaki setengah umur yang berambut botak, kelihatan seperti tidak tidur berhari-hari. Scully mencatat bahwa Neary selalu menjaga jarak antara ia dengan mayat itu. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah Neary adalah termasuk orang yang merasa takut bila berada dekat dengan mayat, atau ada sesuatu yang khusus pada mayat itu yang sangat mengganggunya. "Apakah kau sudah melihat modus operandinya, Detektif?" tanya Scully. "Seorang laki-laki dibakar secara hidup-hidup?" "Iya," jawab Neary dengan susah payah. "Yang ketiga kalinya untuk tahun ini."

"Sebenarnya sudah yang kesebelas," kata Mulder. "Ada tiga di Seattle, tiga di Los Angeles, dan dua di Boston. Semuanya orang Cina yang berusia antara dua puluh sampai empat puluh tahun, semuanya imigran yang baru masuk." Lalu kenapa kita berada di sini, pikir Scully. Fox Mulder bukanlah salah seorang agen FBI yang suka melakukan penyelidikan rutin. Mulder mempunyai daerah kepentingan yang sangat khusus, penyelidikan terhadap apa yang disebut oleh FBI sebagai X-files, kasus-kasus yang berhubungan dengan dunia yang aneh dan paranormal. Rentetan kematian yang disebabkan oleh hal yang aneh dan ganjil adalah hal yang mengusik perhatian Mulder. Letnan polisi itu memandang dengan malu pada Mulder, malu karena pengetahuan Mulder. "Kita tidak dapat menemukan hubungannya sampai sekarang," Neary menjelaskan, terdengar lebih bersifat sebuah permohonan maaf. "Tubuh kedua mengalami luka bakar yang lebih parah. Kita masih untung terhadap yang satu ini." "Untung," Mulder menirukan sambil menatap ke arah mayat itu. "Itu adalah kata-kata yang menarik untuknya." Scully memeriksa mayat itu secara sepintas. Autopsi akan dilakukan kemudian. Autopsi adalah suatu hal yang rutin baginya. Ia telah dididik sebagai dokter ahli medis dan ahli kesehatan sebelum bergabung dengan FBI. Bertahun-tahun yang lalu di sekolah kedokteran, ia tumbuh dan terbiasa dengan lumuran darah, bahkan dengan hal-hal yang aneh sekali pun. Darah tidak menakutkannya, tidak juga pembusukan mayat yang alami. Tapi apa yang dilihatnya ketika ia membuka salah satu kelopak mata korban yang gosong itu, memusingkan kepalanya. Tidak mungkin, katanya pada dirinya sendiri. Si korban sudah terbakar sama sekali untuk memungkinkan hal ini secara fisik terjadi. Salah satu bola mata si korban yang berwarna cokelat gelap tidak rusak karena api, sedang menatapnya.

Ia mengelupasi kelopak mata yang memerah dan melepuh itu lebih dalam lagi. Menggunakan alat penjepit untuk menarik lidah, dengan sangat hati-hati ia menyentuh bola mata itu. Ia mendesah saat menyadari apa yang dilihatnya: Mata itu terbuat dari kaca. Mulder dan Scully mengikuti Neary menuju ke rumah pemakaman dan krematorium untuk melihat lokasi tempat kematian. Beberapa detektif lainnya masih berada di tempat kejadian. Salah seorang mencari jejak sidik jari. Yang lainnya sedang mewawancarai pemilik rumah pemakaman itu. "Penjaga malam mengatakan bahwa ia melihat tiga orang di sini tepat sebelum ia menemukan si korban," lapor Neary. "Katanya ketiga orang itu mengenakan beberapa macam topengseperti topeng Cina." Mulder mengintip ke dalam oven yang panjang dan sempit itu. Lantainya ditutupi oleh debu yang berwarna abu-abu. "Apakah kamu mempunyai petunjuk-petunjuk dalam kasus ini, Detektif?" tanyanya "Semacam pendapat ataupun ide?" Neary mengangkat bahunya. "Beberapa tahun terakhir ini, kami menerima gelombang masuk imigran Cina yang besar dari Hong Kong. Orang-orang yang ingin pergi dari Hong Kong sebelum Cina mengambil alih Hong Kong." Hal itu tidak mengagetkan Mulder. Sejak beberapa ratus tahun yang lalu, imigran Cina mengalir masuk ke Amerika Serikat. Gelombang yang terjadi baru-baru ini yang ditunjukkan Neary berakar dari tahun 1898. Tahun itu di Cina, pemerintahan monarkinya, menandatangani perjanjian dengan Inggris untuk menyewakan Hong Kong kepada Inggris. Lalu pemerintahan Cina berganti menjadi Republik Rakyat Cina. Meskipun sebagian besar negara itu diatur di bawah pemerintahan komunis, rakyat republik mendapat kehormatan dari perjanjian lama tersebut. Inggris memerintah Hong Kong dan menjadikannya Pelabuhan Internasional yang berkembang dengan sangat pesat. Mulder mengetahui bahwa pada beberapa dekade

terakhir, ribuan penduduk Hong Kong melarikan diri dari Cina, takut akan apa yang mungkin terjadi pada kehidupan mereka nantinya setelah pemerintahan komunis mengambil alih Hong Kong pada 1 Juli 1997, tanggal di mana perjanjian tersebut berakhir. Kebanyakan imigran itu akhirnya tiba di kota-kota pelabuhan di Amerika; New York, San Francisco, Boston, dan Seattle. "Banyak dari imigran Cina itu masuk secara legal," lanjut Neary. "Dan banyak juga tidak. Dalam beberapa kasus kami mendapatkan tiga puluh ribu orang yang dikumpulkan bersama di suatu tempat yang relatif kecil. Kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Oleh karena itu, mendapatkan pekerjaan adalah suatu perjuangan yang sangat berat. Mendapatkan apartemen yang layak adalah suatu hal yang lebih mustahil. Kalian tidak akan percaya berapa banyak milik mereka yang diserahkan hanya untuk dapat keluar dari Cina. Artinya adalah kemiskinan yang serius. Banyak dari orang-orang ini sangat putus asa." "Ini jelas merupakan kondisi akibat meningkatnya aktivitas geng di dalam berbagai masyarakat," kata Scully. Neary mengangguk. "Chinatown tidak berbeda. Tapi sejauh ini kami tidak bisa mengaitkan kematian ini kepada seseorang atau sesuatu apa pun." Mulder bersandar pada oven, membungkuk untuk memeriksa atapnya. Ia tidak terlalu berharap untuk menemukan sesuatu di sana, tapi dari dulu ia belajar untuk tidak melupakan detail. Matanya melebar lalu ia berdiri lagi, dengan sikap mengundang rasa ingin tahu atas apa yang telah ditemukannya. Ia menoleh ke Neary. "Bisa kau temukan seseorang yang dapat membaca atau berbicara bahasa Cina?" "Yeah, Glen Chao," jawab Neary. "Ia berada di sana. Kenapa?" "Tolong panggil dia?" pinta Mulder. Ia menunjukkan pada Neary apa yang telah dilihatnya: Goresan yang menggunakan jelaga

pada langit-langit oven adalah huruf Cina. "Aku ingin tahu apakah ia dapat membacakan ini untukku." "Tentu," kata Neary. Ia memberikan isyarat kepada salah seorang detektif. Ia berpostur bagus, seorang pemuda tampan, menggunakan badge polisi di seragamnya, melangkah maju. Neary memperkenalkannya: "Glen Chao, Agen Mulder." "Hai," kata Chao. "Apa yang kau temukan?" Meskipun ia jelas-jelas keturunan Cina, Chao berbicara Inggris tanpa aksen Cina sedikit pun. Mulder menyorotkan senternya ke arah huruf Cina itu lagi. "Ada sesuatu yang tertulis di langit-langit," katanya kepada Chao. "Aku ingin tahu apakah kau dapat membacanya." Chao membungkuk ke dalam. "Yeah," katanya, suaranya pelan karena kaget. "Aku ingin tahu apa maksudnya," kata Mulder kepadanya. "Tertulis di sana, gui. Artinya 'hantu.'" "Hantu?" ulang Mulder. "Apakah itu ada artinya bagimu?" tanya Neary kepada agen FBI itu. "Yah, aku tidak tahu," kata Mulder sambil berpikir. "Tapi itu aneh untuk ditulis oleh seorang yang sedang terbakar hiduphidup.Bagaimana menurutmu?" "Mungkin ada hubungan dengan ketiga orang bertopeng itu?" tanya Neary. "Mungkin," kata Mulder. Sekali lagi ia memandang ke dalam sekeliling oven itu. Ia membungkuk lebih jauh, menatap ke sudut krematorium, tempat yang tidak secara langsung terkena api. Pada tumpukan abu,ia menemukan sepotong kecil kertas segi tiga. Iamengambilnya, dan memegangnya lebih dekat untuk diamati. "Apa ini?" tanyanya. "Adakah yang mengenali ini? Sepertinya semacam mata uang asing."

Chao menjawab. "Itu disebut `uang neraka`. Itu biasa digunakan sebagai sebuah persembahan dan dikubur sewaktu Festival Hantuhantu Lapar Cina." Mulder memberikan potongan kertas itu. "Apakah ini ada harganya?" tanyanya, mencoba untuk mengerti. "Ini bukan uang, secara harafiah," Chao menjelaskan. "Ini persembahan simbolik kepada roh jahat dan hantu-hantu. Untuk keberuntungan dan untuk menjaga roh-roh itu agar tetap tenang." "Menenangkan?" ulang Neary. "Kalian tahu bagaimana orang-orang Mesir kuno biasanya menguburkan orang mati dengan segala barang berharga yang mereka butuhkan untuk kehidupan setelah kematian?" kata Chao. "Yah, orang-orang Cina menguburkan hal yang hampir sama. Pada dinastidinasti awal, para raja dan ratu membunuh pelayan untuk menemani mereka. Lalu mereka mulai membuat model penggantinya. Kembali ke abad ketiga sebelum masehi, Kaisar pertama dikubur bersama patung keramik tentaranya yang berukuran sebenarnya. Uang neraka adalah hal yang dibuat setelah itu. Kalian mengirim uang untuk orang mati supaya mereka dapat mencukupi kebutuhan mereka pada kehidupan setelah kematian dan agar hantu-hantu yang marah itu tidak kembali dan mengganggumu." Mulder bertukar pandang dengan Neary. "Di mana aku bisa mendapatkan uang neraka ini?" "Kita dapat mencetaknya sendiri di Chinatown," jawab Chao. Mulder memberikan potongan kecil kertas itu kepada Chao. "Mungkin kita baru menemukan jalan untuk mengindentifikasi mayat itu," katanya.

Chapter 3

"Nama korban itu adalah Johnny Lo," kata Scully pada pagi berikutnya, sambil melihat catatan yang didapatkannya dari unit Detektif Neary. Ia berhenti membaca sebentar, dan melihat ke sekelilingnya. Ia dan Mulder berada di sebuah gang sempit yang dibatasi oleh bangunan batu bata yang tinggi. Hanya beberapa blok jauhnya dari jalan utama Chinatown yang telah ramai dengan kesibukan pagi, gang itu sepi, tertutup. Sobekan kardus-kardus karton dan sampah kalengkaleng yang terbuka menumpuk di dekat tembok. Kotak kecil kembang api yang berwarna merah bersinar di tanah. Bangunan ini sepertinya sebuah bangunan industri, tebak Scullygudang dan pabrik. Tapi melihat korden yang digulung di jendela-jendela di lantai atas, sepertinya bangunan-bangunan itu telah diubah menjadi apartemen, dengan penyewa yang bersembunyi dari sinar, suara, dan bau dari kota di bawahnya. Scully melihat lagi pada catatannya dan melanjutkan dengan apa yang ditemukannya di sana. "Ia datang ke sini enam bulan yang lalu dari Canton." "Secara legal?" tanya Mulder. "Ya," jawab Scully. "Ia masih dalam proses permohonan INS. Ia bekerja sebagai pencuci piring pada salah satu restoran Cina di sini." "Berapa banyak piring yang kau pecahkan sebelum bosmu melemparkanmu ke dalam sebuah oven." Mulder berpikir dengan keras.

"Aku rasa cukup jelas bahwa ini adalah semacam cara pemujaan yang mengerikan atau pembunuhan balas dendam antar geng," kata Scully. Mulder menanyakan pertanyaan yang mengganggunya sejak kemarin malam. "Yah, kenapa si korban menuliskan huruf hantu pada bagian dalam oven krematorium itu." "Aku tidak tahu." Scully mengakui. "Penjaga menggambarkan tiga sosok. Katanya mereka seperti menghilang tanpa jejak." "Lalu menurutmu sekarang kita sedang memburu hantu?" tanya Scully. "Who ya gonna call?" canda Mulder, mengutip slogan Ghostbusters. Ketika Scully tidak menanggapi, Mulder melanjutkan. "Hantu atau keturunan nenek moyang roh-roh merupakan pusat kehidupan keagamaan orang-orang Cina selama berabad-abad," katanya dengan cukup serius. "Chao benar. Orang-orang Cina percaya bahwa jika kau tidak menghormati nenek moyangmu dengan pantas, mereka akan menjadi hantu-hantu yang marah yang akan membayangimu. Segala macam kemalangan dan bencana adalah halhal yang menyertai kemurkaan roh para leluhur." Scully bahkan tidak mau bersusah-susah untuk menyembunyikan keragu-raguannya. "Katamu roh para leluhur itu yang mendorong Johnny ke dalam oven dan menghidupkan gas?" "Yah, itu memberi ide baru untuk menghormati para leluhurmu, bukan?" tanya Mulder, mencoba untuk menggodanya lagi. Scully menghela napas. Ia benar-benar terkejut jika Mulder mengira bahwa hantu-hantulah yang bertanggung jawab atas kematian si korban. Mulder mungkin satu-satunya agen dalam sejarah FBI yang mempunyai poster yang bertuliskan "Aku ingin Percaya." Dan pada

waktu mereka mulai bekerja bersama, ia memintanya untuk mempercayai banyak teori aneh. Mereka melangkah ke atas tangga kayu menuju apartemen Johnny Lo. Pintunya terbuka sedikit. Glen Chao berdiri di depannya, menunggu mereka. "Saya telah memeriksa semua bangunan tetangga," lapor Chao. "Tak seorang pun mendengar sesuatu. Tidak mengejutkan. Festival berlangsung tadi malam. Hampir semua orang berada di jalan, menyaksikan tarian naga.Semua orang mendengarkan suara gendang dan petasan." Mulder menunjuk ke arah coretan lebar berupa huruf Cina yang dicat di pintu kamar Johnny Lo. "Apa artinya ini?" tanyanya. "Aku tidak mengenalinya," jawab Chao. dapat saja berarti uhsemacam ungkapan. Semacam kode." Scully menyentuh cat itu dengan jarinya. "Masih terasa lembab," katanya. "Seseorang mengecat ini baru-baru ini." Mulder menoleh ke arah Chao. "Dapatkah kau membuatkan salinannya untukku?" pintanya. "Yeah, tentu." Chao mengambil buku catatan dan mulai membuat salinan huruf-huruf sewaktu kedua agen itu melangkah masuk ke dalam apartemen itu. "Omong-omong soal cat basah..." Mulder berbisik. Johnny Lo tidak mempunyai cukup banyak uang. Apartemen ini dilengkapi dengan perabot rumah yang murah. Mebel-mebel usang ini dapat ditemukan di toko-toko loak. Kertas dinding yang menguning sudah mulai mengelupas dari dinding. Selembar plastik berdebu menutupi jendela yang rusak, dan pintu lemari di dapur sudah melengkung karena tua dan lapuk. Mulder berjalan menuju lemari dan membukanya. Tempat itu kosong, seperti keadaan dalam lemari esnya.

Scully memeriksa permukaan sebuah meja formika. Selapis tipis debu menutupi garis bentuk sebuah lingkaran dan sebuah bentuk persegi yang bersih. "Lihat ini," katanya, menunjuk ke arah meja itu. "Seseorang telah berada di sini. Tempat ini sudah dibersihkan." Mulder mengendus udara di situ. "Bau apa ini?" "Mungkin itu bau karpet baru," kata Scully. "Yeah. Sepertinya itu," Chao menyetujuinya, tidak melihat bahwa hal itu sangat penting. Mulder melihat ke bawah, ke arah karpet yang bersih tak ternoda. Tiba-tiba ia menyadari betapa berbedanya itu dari semua barang lain yang ada di sana. Tidak mungkin Johnny Lo mampu mempunyai karpet bermerek yang baru. Scully memikirkan hal yang sama. Induk semang mana yang mau menggelar karpet mahal di tempat yang jorok, seperti ini. Mulder berjalan menuju sudut ruangan dan menarik ujung karpet. "Lihat! Mereka tampaknya berhemat karena tidak mau susahsusah mengganti lapisan lamanya," katanya. Scully meneruskan pemeriksaan apartemen itu. Ia melewati Chao, masuk ke dalam ruangan kecil, membuka laci di sebuah meja kecil. Ia tidak menemukan apa pun di situ sampai ia menemukan laci yang berisi beberapa paket kertas dengan huruf Cina merah tertulis di atasnya. Ia mengangkatnya ke atas. "Apa ini?" "Obat-obatan tradisional Cina," jawab Chao. "Dan ini apa?" ia mengeluarkan mangkuk berisi sesuatu yang kecil dan kering, yang berwarna cokelat. Chao membaliknya dengan bolpennya. "Itu lok kering," katanya. "Kadang-kadang digunakan sebagai jimat. Untuk kesehatan dan kemakmuransebuah perlindungan." "Kelihatannya Mr. Lo dapat menggunakan keduanya sedikit," kata Mulder dengan nada suram. Masih berlutut di ujung karpet, ia

menarik dan membalik karpet itu dan menemukan darah yang menghitam di lapisan lama. "Mari kita tes darah ini," katanya. "Menurutmu apakah darah itu darah Johnny Lo?" tanya Chao. Mulder mengangguk lalu berdiri. "Darahnya atau darah pembunuhnya."

Chapter 4

Hari kerjanya yang panjang sudah berlalu. Shuyang Hsin memasuki apartemennya dan menaruh sebuah bungkusan putih di atas meja dapur. Seperti yang dilakukannya di setiap sore, ia membuka jaketnya dan menggantungkannya pada cantelan di ruangan keluarga. Lambang yang tertera di belakang jaket berbunyi AHLI KARPET BAY AREA. Hsin berumur empat puluhan. Ia adalah seorang pria ramping dengan rambut pendek hitam dan kelihatan ramah. Matanya awas. Dengan menggunakan ruangan itu, gerakannya terlatih bagi seseorang yang tahu bagaimana bergerak dengan anggun di tempat yang sempit. Ia kembali ke dapur, mengisi ceret teh logam dengan air, dan menyalakan api kompor gas. Malam membuat apartemen itu kelihatan lebih kecil dari sebenarnya. Ketika malam tiba, ruangan-ruangannya kelihatan mengerut dengan sendirinya, berselubung dalam bayangbayang di mana lampu-lampu bahkan tidak dapat menghalaunya. Apartemen itu bukanlah tempat yang menyenangkan, tercermin pada Hsin, terutama bagi seseorang yang tidak dapat meninggalkannya. Ia membuka bungkusan putih, mengambil dua buah bola-bola pasta buncis goreng. Dengan hati-hati ia memotong tiap-tiap pucuknya dengan sebilah bagian gunting, dan menyusunnya di atas piring. Ia menaruh piring itu bersama dengan poci teh porselen yang sering dipakai di sebuah nampan dan membawanya ke ruangan yang paling besar di apartemen berkamar dua itu. Putri Hsin yang berumur tujuh belas tahun, Kim, berbaring di tempat tidur. Melalui lampu baca di tempat tidur yang bersinar redup Hsin memperhatikannya, mencari dengan sia-sia tanda-tanda bahwa ia

mulai membaik. Ia terlalu jujur untuk mengelabui dirinya sendiri. Hari ini sama dengan kemarin dan kemarin dulu. Ada lingkaran hitam di bagian bawah mata Kim. Wajahnya pucat dan lesu. Ia sangat kurus dan merana. Kelihatannya setiap hari ia sedikit demi sedikit menuju kematiannya. Ia duduk di sampingnya dan menuangkan segelas teh. Mata Kim terbuka. Ia memberinya senyum yang lemah, lalu mengangkat tubuhnya dari bantal. "Apa yang telah Ayah beli?" tanyanya sambil mengangguk ke arah nampan itu. Meskipun Kim dapat berbahasa Cina dan Inggris, ia tahu bahasa Cina lebih mudah bagi ayahnya dan mereka selalu menggunakannya sewaktu bercakap-cakap. "Itu untukmu," jawab Hsin, menaruh nampan itu di pangkuannya. "Makanlah," ia meyuruhnya. Ia menyibakkan rambut hitam panjang itu dari mukanya, menyelipkannya ke belakang telinganya. Rupa makanan itu membuatnya muak. Sudah lebih dari satu bulan ia kehilang selera makannya. Bagaimanapun, ia ingin menyenangkan ayahnya. Dan ia menyadari bahwa sudah cukup lama sejak mereka benar-benar bercakap-cakap. "Tinggallah dan temani aku minum teh," katanya. Ayahnya menghindari pandangan matanya. "Aku harus keluar." "Ke mana?" "Menemui seseorang." "Selalu menemui orang-orang," gerutu Kim. "Orang-orang macam apa?" "Aku ada urusan," kata ayahnya. "Untuk mendapatkan uang. Agar kau dapat sembuh." "Ayah bisa pergi besok," kata Kim. Ia tahu seharusnya tidak berdebat, dan ia tidak bermaksud untuk tidak menghormati ayahnya.

Tapi ia merasa aneh saat menyadari bahwa ayahnya selalu pergi ke pertemuan misterius yang tidak pernah dibicarakan dengannya. "Uang dapat untuk membayar dokter," ayahnya mengingatkannya. "Tidak ada pertemuan yang akan memberi kita cukup banyak uang," Kim berkata kepadanya dengan cemas. "Kata dokter prosesnya menghabiskan biaya beribu-ribu dolar." Ayahnya berdiri. "Jangan bicara seperti itu! Jangan sekali-kali!" hardiknya. Sebelum ia dapat meminta maaf, ayahnya telah meninggalkan ruangan, dan menutup pintu di belakangnya. Meninggalkan Kim sendiri lagi. Itu adalah bagian terburuk dari sakitnya, pikirnya, bahkan lebih buruk daripada sakit dan lemas ini. Menjadi sakit berarti ia tinggal sendiri selama berjam-jam di dalam apartemen yang sempit dan gelap ini, tidak pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan orang lain kecuali ayahnya. Berada sendirian lebih menakutkannya daripada penyakit itu sendiri. Itu membuatnya merasa dikucilkan oleh semua orang, seakan-akan ia dibiarkan untuk mati. ******************* Di salah satu gang Chinatown yang gelap, sebuah bola lampu tunggal menyala menerangi reklame di sebuah pintu yang bertuliskan: PRIBADI: RESTORAN LAYANAN ANTARAN. Hsin menuju pintu dan mengetuk dengan keras. Setelah beberapa waktu kemudian seorang pria tinggi membuka pintu, membukanya dengan hanya berupa celah. Keduanya bertukar kode, percakapan yang terpotong-potong sebelum pintu dibuka dan Hsin diterima. Dada Hsin menegang karena ketakutan yang tidak asing lagi ketika ia berjalan melewati restoran dan menaiki tangga yang panjang dan sempit, menuju ke lantai atas.

Langkah Hsin tampak bimbang ketika ia memasuki ruangan permainan. Berjalan masuk selalu saja berat dan ia harus melakukan itu. Lama sebelum itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali lagi dan lagi. Sampai ia menang. Seperti biasanya, asap rokok yang tebal membubung di langitlangit yang suram, ruangan yang hiruk pikuk. Semua yang hadir di sana adalah laki-laki. Para pria yang duduk di meja atau di barisan kursi lipat, semuanya berbicara dalam bahasa Cina. Seperti Hsin, kebanyakan dari mereka adalah kelas buruh, menggunakan jaket dan baju kerja. Dan seperti Hsin, mereka semua merasakan ketegangan di dalam ruangan itu. Hiruk pikuk itu tiba-tiba menjadi sunyi ketika pintu yang berada di bagian depan ruangan terbuka dan tiga orang pria yang mengenakan setelan pakaian berjahitan rapi masuk. Orang pertama, kelihatan seperti orang terhormat dengan wajah tampan tapi keras, dengan tangan kosong. Orang kedua, Mr. Lau, botak dan mengenakan kacamata berbingkai emas yang gemerlap. Ia membawa dua buah jambangan batu jade berwarna hijau pucat, yang satu berukuran kecil, yang lainnya besar. Orang ketiga, Mr. Wong, berjenggot abu-abu dan memegang sebuah kotak kayu ukiran tangan. Dalam arak-arakan yang khidmat, mereka berjalan melalui kerumunan, menuju meja jati yang mengilap, yang terletak di atas panggung di bagian depan ruangan itu. Dengan tenang dan dengan gerakan yang terlatih, Lau meletakkan jambangan yang kecil di atas meja dan memberikan yang besar kepada orang yang memimpin arak-arakan itu. Namanya adalah Mr. Tam, Hsin ingat itu. Tam mulai mengedarkan jambangan besar itu ke sekeliling ruangan. Ia memperhatikan dengan cermat ketika setiap orang memasukkan sepotong alat permainan seperti alat permainan mahjong atau gaple ke dalamnya, lalu memberikan jambangan itu kepada orang

di sebelahnya. Hsin memandang keping yang dipegang tangannya, berharap agar malam ini membawa keberuntungan. Di meja jati, Wong membuka penutup kotak kayu dan memegangnya tinggi-tinggi. Dengungan kegembiraan menjalar di dalam ruangan itu seperti kabel yang bergetar. Kotak itu berisi tumpukan tebal uang ratusan dolar. Orang yang berada di samping Hsin mengangguk dan menunjuk ke arah kotak itu, tapi mata Hsin tetap pada jambangan besar. Jambangan itu berjalan cepat menuju ke arahnya. Teriakan yang membesarkan hati bergema ketika setiap orang memasukkan keping yang memuat namanya ke dalam jambangan. Akhirnya jambangan batu jade itu sampai kepada Hsin. Dengan perlahan, hampir dengan takzim, ia menjatuhkan keping permainannya ke dalam jambangan itu, mendengarkan suara dentingnya ketika menyentuh batu jade. Mata Hsin lalu menatap ke arah meja jati, di mana Lau menggosok keping permainan yang berbentuk segi tiga dengan kain cokelat gelap. Satu demi satu, ia menggosok sebuah keping lalu menjatuhkannya ke dalam jambangan yang kecil. Sebuah keping permainan yang berwarna merah, lalu kepingan merah lainnya, setiap keping menghilang ke dalam dinding batu jade yang transparan. Akhirnya ia mengambil satu keping permainan yang berwarna putih, yang dilingkari oleh kayu. Ia menggosoknya dengan kain, lalu menaruhnya ke dalam. Tam membawa jambangan batu jade kembali ke atas meja. Keheningan melanda ruangan ketika Lau berdiri dan tangannya meraih ke dalam jambangan terbesar. Hsin merasakan dirinya mulai berkeringat ketika Lau mengaduk keping-keping permainan itu dengan tangannya, lalu dengan perlahan mengambil satu potong. Ia membaca nama yang tertera di situ dengan lantang: "Li Oi Huan!"

Keheningan ruangan itu pecah dan Hsin memejamkan matanya gelisah dan lega. Lau mengangkat ke atas jambangan batu jade yang kecil. Teriakan-teriakan di dalam ruangan terdengar ketika ia mengacungkan keping permainan yang berwarna putih itu tinggi-tinggi lalu menjatuhkannya ke dalam jambangan. Sekarang jambangan yang terkecil itu mulai berpindah dari tangan ke tangan. Jambangan itu mencapai tujuannya ke tangan seorang kurus dan liat yang mengenakan jaket cokelat muda. Hsin mengenalinya sebelumnya. Li mempunyai mata seputih susu dan kelihatan ketakutan sejak dari awal mula acara. Sekarang tangan Li gemetar ketika memegang jambangan itu di atas kepalanya lalu mengguncang-guncangnya dua kali. Teriakanteriakan yang menyemangati menjadi hening tatkala Li meraih ke dalam jambangan itu dan mengangkat tangannya yang memegang sebuah keping permainan. Ia menarik keluar sebuah kepingan merah dan membacanya dengan cepat. Ekspresi kesakitan melintasi wajahnya. Ia menggenggam kepingan itu dengan erat di dalam kepalan tangannya. Mr. Tam telah berada di samping Li itu. Dengan hati-hati dibukanya kepalan tangan lelaki kurus itu, dan mengambil keping itu dari tangannya, dan membacanya dengan lantang. "Xin!" Kata itu menyebabkan ruangan menjadi hiruk pikuk. Orangorang berdiri dengan serentak ketika Mr. Tam menggandeng tangan Li dan mengawalnya dengan ketat dari tempat duduknya. Kedua orang yang duduk di meja jati terlihat tanpa ekspresi ketika Li dibawa melalui pintu di ruangan depan dan pintu itu menutup di belakangnya. Mr. Wong mengelus jenggotnya dan berdiri. Dengan khidmat ditutupnya kotak kayu ukiran itu. Di sebelahnya Mr. Lau mengangkat

kedua jambangan batu jade. Lalu mereka juga meninggalkan ruangan, keluar melalui pintu yang sama dengan yang dilewati Li. Hsin memandang sesaat ketika orang-orang di sekelilingnya duduk kembali ke kursi mereka dan mengangkat gelasnya dengan lega. Lalu ia berdiri dan langsung keluar ruangan. Permainan sudah berakhir. Paling tidak untuk malam ini.

Chapter 5

Scully menatap ke dalam kendi besar di dalam tempat gelas. Kendi itu terisi penuh oleh cairan bening. Di dalamnya tampak mengambang sesuatu seperti akar-akaran yang besar. Ia berpindah ke kendi berikutnya. Sama juga, berisi suatu objek organik yang tidak dikenalinya. "Aku tidak dapat menjelaskan satu pun pada kalian apa bendabenda ini," kata Scully kepada Mulder dan Chao. Ketiga petugas itu melakukan kunjungan malam ke salah satu dari banyak toko obat yang sejajar di sepanjang jalan Chinatown. Nama yang satu ini tercetak di atas paket yang ditemukan Scully di apartemen Johnny Lo. "Yah, itu pastilah akar-akaran," Chao menjelaskan. "Ginseng, turmeric, astragalus, ephedra. Lalu kalian akan mendapatkan barangbarang exotis kalian. Empedu beruang, ular, sirip hiu...sering kali para dokter menulis resep campuran dari tumbuh-tumbuhan obat lalu pasien memasaknya menjadi teh." "Lalu apa yang telah digunakan oleh si korban?" tanya Mulder. Glen Chao menaruh bungkusan jamu kering yang mereka temukan di apartemen Johnny Lo di atas meja pajangan. Si ahli obat sedang sibuk menimbang potongan halus akar di dalam timbangan tangan dari kuningan yang sudah kuno. Sebuah sipoa terletak di meja pajangan di sebelahnya. Setelah menimbang akar itu, ia menghitung dengan cepat, lalu menambahkan sesuatu seperti jamur ke dalam timbangan. Ia adalah seorang wanita setengah umur, yang menggunakan pakaian mandarin kerah tinggi dengan kalung manik-

manik merah yang cemerlang. Karena sibuk bekerja, ia tampaknya tidak menyadari kedatangan ketiga petugas itu. Ia melihat ketika Chao menanyainya tentang jamu. Ia membuka bungkusan itu, lalu mengintip ke dalamnya, dan menjawab dalam bahasa Canton yang cepat. "Ia bilang ini adalah akar tengkorak dan angelica Cina," Chao menjelaskannya kepada kedua agen FBI itu. "Biasanya digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit." "Untuk sakit macam apa?" tanya Scully. "Sakit kepala dan sakit gigi, seringkali," jawab Chao. "Apakah ia ingat Johnny Lo?" tanya Scully. "Atau ingat menjual itu kepadanya?" Chao menerjemahkan pertanyaan itu. Ahli obat itu mengangguk. "Tanya ia apakah ia tahu tentang kematiannya," kata Mulder. Chao melakukan sesuai yang diminta oleh Mulder, dan si wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tanya ia apakah ia tahu huruf yang dicat di pintu Lo," kata Mulder. Chao mengambil buku catatannya dan nenyodorkannya sehingga ahli obat dapat membaca simbol yang disalinnya. Untuk pertama kalinya wanita itu menjadi waspada. Ia menjawab pertanyaan Chao dengan bahasa Cina yang keras dan cepat, lalu ia pergi menjauhi mereka, menganggap wawancara mereka telah selesai. "Ada apa?" tanya Scully bingung. "Ia bilang rumah itu telah ditandai sebagai tsang fangsebuah rumah hantu," jawab Chao. "Berhantu?" ulang Mulder. "Maksudmu oleh hantu-hantu?" Chao mengangguk. "Susah untuk memberikan terjemahan persisnya, tapi itu adalah seperti yang telah kukatakan padamu

sebelumnyaapa yang orang Cina sebut sebagai Yu Lan Hui. Festival Hantu-Hantu Lapar." "Mereka mencetak uang neraka untuk festival yang sama," kata Mulder. Chao melanjutkan penjelasannya. "Kalian lihat, hari ketujuh belas di bulan ketujuh pada penanggalan Cina, dipercayai sebagai waktu terbukanya pintu gerbang neraka, dan hantu-hantu yang rohnya tidak diterima, bergentayangan di bumi, dan hanya kembali pada hari terakhir bulan itu. "Dipercayai bahwa setelah kematian, orang dilahirkan kembali ke salah satu dari enam dunia," lanjut Chao. "Yang terburuk dari dunia-dunia ini adalah neraka. Setelah itu alam dari hantu-hantu kelaparanroh-roh yang dikutuk untuk terus-menerus kelaparan dan kehausan. Mereka selalu kelaparan dan sangat kehausan. Mereka mengembara dalam kesengsaraan yang terus-menerus, dapat melihat air tapi tidak bisa meneguknya. Resah dan tergoda dengan keinginan, mereka sering berbalik mengganggu yang hidup." "Selama Yu Lan Hui, penganut kepercayaan melindungi diri mereka dengan meletakkan makanan dan uang neraka di luar rumah untuk menyenangkan hantu-hantu ituuntuk tetap menjaga agar mereka tidak masuk ke dalam dan membuat kesulitan. Hanya pada waktu itu saja selera para hantu-hantu lapar itu dapat dipenuhi." "Festival itu mirip dengan yang lain," kata Mulder. "O Bon di Jepang, bangsa Celtic dengan Samhain, Mexico dengan hari kematiannya. Semua itu merayakan suatu waktu mana selubung antara dunia orang-orang hidup dan dunia orang-orang mati lenyap, dan yang telah mati kembali bergentayangan di bumi. Pada masing-masing kebiasaan, orang-orang hidup memberikan persembahan untuk yang telah mati." "Aku tidak tahu tentang orang-orang Celtic," kata Chao,"Tapi orang-orang Jepang dan Mexico keduanya mempunyai hubungan

yang lebih bersahabat dengan orang-orang mereka yang sudah mati daripada orang Cina. Pada festival-festival mereka, kalian diminta untuk menari dengan orang mati. Festival hantu-hantu lapar lebih gelap. Persembahan kami kepada orang mati tidak selalu cukup." "Apa maksudmu?" tanya Scully. "Pada beberapa roh, hantu lebih menakutkan rakyat kami. Mereka tidak bisa dibeli: Preta, hantu kuno dari orang yang mati terbunuh yang bergentayangan di muka bumi, selalu mencoba membalas dendam kepada orang yang hidup. Atau Wu Chang Kuei, yang mengumpulkan jiwa orang-orang yang menemui ajalnya dan membawa mereka turun ke Ti Yu,"lanjut Chao,"ke Neraka Orang Cina." "Lalu," kata Mulder, mencoba untuk menerima penjelasan Chao pada kasus itu, "Johnny Lo tidak mempunyai uang neraka yang cukup untuk persembahannya, lalu hantu-hantu datang padanya. Apakah itu yang kau coba jelaskan kepada kami?" Chao mengangkat bahu ketika mereka meninggalkan toko obat itu. "Aku seorang polisi. Aku tidak biasa menjadikan hantu sebagai tersangka." "Tapi menurutmu pembunuhan ini dapat saja ada hubungannya dengan Yu Lan Hui?" Mulder mencoba memaksa. "Yah, itu rasanya akan membuatnya menjadi aneh," kata Chao. "Tahun ini festival itu baru saja selesai." "Bagaimana dengan kau, Detektif?" tanya Scully. "Apakah kau percaya pada Yu Lan Hui?" Untuk pertama kalinya Chao tersenyum, meskipun senyuman itu sebuah senyum sinis. "Aku rasa sulit untuk berdebat dengan keyakinan Cina yang sudah berumur dua ribu tahunhal-hal yang dipercayai oleh orang

tuaku dan para kakek nenekku. Tapi yang sebenarnya adalah," tambahnya,"aku lebih dihantui oleh besarnya pembayaran hipotikku." bklws.blgspt.cm **************** Oi-Huan Li duduk di kursi kayu di ruangan yang gelap dan berkabut. Ia sedang minum dari cangkir porselen. Ia memeganginya dengan kedua tangannya, mencoba menahan dirinya dari gemetar ketika menelan cairan panas. Rasanya agak pahit. Meskipun minuman itu hangat, ia merasakannya dingin di dalam. Kali ini berbeda dari yang dulu. Ia tidak pernah merasa begitu ketakutan, merasa begitu kesepian. Lalu ia merasa tidak lagi sendiri. Sesosok manusia kuno muncul dari kegelapan. Penampilannya terlihat tembus pandang. Jubah yang digunakannya berasal dari seabad yang lalu. Dan di belakangnya berdiri para leluhur yang lainnya. Lebih tua, lebih lemah. Dan bahkan lebih menyeramkan... Li gemetar tanpa henti ketika teh itu mulai bereaksi. Sesosok hantu lainnyaseorang wanita dalam pakaian compang-camping muncul, diikuti oleh yang ketiga dan keempat. Hantu-hantu kuno itu mendekati Li, menuju ke arahnya. Terpesona, Li menatap tangan hantu itu dengan salah satu matanya yang masih berfungsi. Kulitnya berkerut-kerut dan sepucat kertas. Tangan hantu itu datang mendekat dan lebih dekat. Sampai ia menyentuh dada Li lalu menghilang. Li merasakan es di dalam dadanya. Dan tiba-tiba terasa sakit yang sangat nyeri. Tangan leluhur itu tiba-tiba ditariksepertinya ia mengambil sesuatu dari dirinya.

Mata Li yang masih baik membelalak, tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Di tangan hantu itu adalah jantung manusia. Masih berlumuran darah, jantung manusia itu masih berdenyut. Li mencoba meraba dadanya, tapi obat itu menghalanginya. Ia tidak dapat menggerakkan tangannya sama sekali. Matanya terpejam, tubuhnya melemah. Seorang pria yang menggunakan sarung tangan medis memasuki ruangan dan mengambil cangkir kosong dari tangannya. Pria itu mengangkat dagu Li, membuka kelopak matanya, melihat pupil mata Li yang membesar, lalu mengangguk.

Chapter 6

Tengah malam yang menakutkan, waktu sepi di Taman Pemakaman Highland Park. Kabut datang dari teluk, membuat malam yang dingin dan lembab itu bertambah kelihatan buram. Sebuah mobil truk patroli bergerak di sepanjang jalan masuk bagian dalam pemakaman, lampunya menyapu melintasi batu nisan dan tanda-tanda. Petugas patroli itu memperlambat kendaraan ketika lampu besarnya menyinari gundukan yang tinggi di sisi sebuah kuburan yang terbukadan ada sesuatu yang bergerak di dalam sinar itu. Tunggu sebentar, batinnya, menginjak rem. Sejauh yang diketahuinya, ia hanya satu-satunya orang yang seharusnya berada di sini pada malam ini. Penggali kuburan dan petugas administrasi sudah pulang sebelum gelap. Bahkan pengurus pun sudah pulang. Petugas patroli itu melihat pemandangan yang diterangi oleh sinar lampu besar. Ia merasakan darahnya menjadi dingin. Dua sosok tubuh berdiri di samping kuburan yang terbuka. Mereka berdiri seperti patung. Seperti patung di pemakaman itu, yang sudah berada di sana untuk beberapa turunan. Seperti mereka sedang menunggunya. Setiap sosok tubuh itu ditutupi oleh jubah hitam yang panjang. Wajah mereka bercat putih, masing-masing seperti iblis yang aneh sekali.

Petugas patroli itu merasakan jantungnya berdentam ketika sosok bertopeng ketiga bangkit perlahan dari kedalaman kuburan yang terbuka. Mencoba melawan ketakutannya, ia mengatakan pada dirinya sendiri, ini pastilah hanya olok-olok. Sekelompok remaja yang sedang bosan bermain di sebuah pemakaman dengan semacam kenekatan yang menggila. Baiklah, mereka tidak akan mengira ini adalah ide yang menarik bila ia telah selesai dengan mereka. Dengan marah ia keluar dari truknya. "Hei!" teriaknya. "Apa yang kalian lakukan?" Dengan memegang lampu senter di depannya, penjaga malam itu mulai mendekati sosok-sosok itu. Tapi tiba-tiba mereka hilang ditelan kegelapan. Seperti ilmu sihir. ***************** Mulder baru saja mendengar ketukan di pintu hotelnya. Ia sedang duduk di meja, berkonsentrasi pada layar laptopnya. "Apa?" tanyanya. "Mulder, apakah kau masih terjaga?" Hampir dengan enggan, ia bangkit dan membuka pintu itu. "Ada apa?" tanyanya. "Aku tidak tahu apakah ini bisa membantu," kata Scully, "Tapi aku telah menelepon seorang teman lama, seorang neurolog yang belajar di Cina dan memasukkan obat-obatan Cina ke dalam prakteknya. Tampaknya ini adalah suatu sistem yang sangat rumit. Apa yang telah dijelaskannya padaku adalah bahwa orang-orang Cina kuno memandang manusia sebagai ekosistem yang kecil. Mereka percaya kesatuan itu bekerja pada bumiseperti angin, panas, dan embun juga bekerja pada diri kita. Menurut pengobatan Cina, semua yang ada pada tubuh manusia dan respon jiwa berhubungan dengan unsur-unsur alam dan energinya.

"Sebagai contoh, jika seseorang menderita bronkitis, ahli fisik Cina tidak akan melihatnya sebagai peradangan dari tenggorokan, tapi berhubungan dengan kesedihan, dengan kedinginan, dan dengan ketidakseimbangan dari unsur-unsur logam. Tujuan perawatan oleh para praktisi Cina untuk mencegah penyakit adalah dengan menyeimbangkan unsur-unsur dan energi di tubuh." Mulder menyeringai padanya. "Apakah aku mendeteksi suatu keputusasaan?" Scully menggeleng. "Akupunktur telah membuktikan secara efektif dalam penanggulangan kesakitan dan kecanduan. Dan neurolog yang telah berbicara denganku ini adalah kelas satu. Ia tidak akan menggunakan obat-obatan Cina dalam prakteknya bila ia tidak melihat bukti empiris bahwa itu dapat bekerja. Ia mengatakan padaku bahwa ia mengalami satu masalah dalam perawatan pasiennya yang memegang kepercayaan tradisional pada leluhur dan roh-roh mereka." "Apa itu?" tanya Mulder. "Beberapa pasien Cinanya yang sudah tua menolak operasi yang diperlukan. Mereka bilang bahwa tubuh mereka adalah pemberian dari para leluhur, dan karena itu bila ada bagian yang dipotong atau dipindahkan maka akan tidak menghargai arwah para leluhur." Scully memandang dinding itu, tiba-tiba ia kelihatan seperti sangat lelah. "Tidak ada satu pun dari ini semua yang mengatakan kepada kita secara gamblang tentang kematian Johnny Lo." "Tidak, tapi mungkin berguna. Sebenarnya."Mulder melepaskan kacamatanya dan menggosok matanya"Aku tidak tahu mana yang akan berguna pada kasus ini. Aku hanya melakukan penelitian lebih banyak. Apakah kamu tahu, kata 'hantu' dan 'iblis' dalam bahasa Cina adalah sama. Dan hantu-hantu lapr yang digambarkan oleh Chao pastilah yang muncul di kompleks pemakaman dan"

Telepon genggam Scully memutus kata-kata Mulder. "Scully di sini," katanya, setelah membukanya. Ia mendengarkan beberapa saat lalu berpaling kepada Mulder. "Neary," katanya. "Ia meminta kita untuk menemuinya di Taman Pemakaman Highland Park." ******************** Mulder dan Scully menemukan pemakaman itu diterangi oleh kilatan lampu sorot merah dan biru dari lampu mobil-mobil polisi. Glen Chao, yang mereka lihat, parkir beberapa kaki jauhnya dan baru saja keluar dari mobilnya. Letnan Neary menyambut mereka dengan anggukan pendek, lalu membawa mereka melalui batu nisan. "Petugas patroli malam menggambarkan tiga orang mengenakan topeng yang sama dengan yang diidentifikasi di krematorium," ia menjelaskannya. "Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya Scully. "Kami tidak tahu pasti," Neary mengakui "Mereka muncul di sekitar kuburan yang terbuka di sebelah sini, tapi kami tidak bisa mengira apa persisnya yang telah mereka lakukan di sini." "Apakah ini baru digali?" tanya Mulder, melihat ke arah tumpukan tanah yang masih baru. "Yeah," jawab Neary. "Mereka akan melakukan pelayanan penguburan besok siang." "Orang-orang Cina?" tebak Mulder. "Aku tidak tahu," kata Neary. "Kita bisa mengeceknya. Hei, Chao"ia memberi isyarat kepada detektif itu"Cari tahu apakah kamu bisa mendapatkan nama penghuni barunya." Scully mengerutkan dahinya. "Aku masih tidak melihat apa yang diinginkan orang pada sebuah kuburan kosong," katanya.

Scully dan Chao, keduanya saling berpandangan dengan bingung ketika Mulder tanpa peringatan, melompat ke dalam lubang itu. "Apa yang dilakukannya?" tanya Neary, menyorotkan senternya ke dalam kuburan itu. "Sesuatu terpikir olehku," kata Mulder, berkonsentrasi pada tanah basah di bawah kakinya. Ia berlutut dan menggali beberapa inci, lalu berhenti ketika ia merasakan sesuatu menyentuh jari tangannya. Sesuatu yang dingin dan halus, hampir elastis. Ia memaksa dirinya untuk tetap menggali. Sampai ia menyapu setumpuk tanah yang menutupi wajah seorang manusia. "Apa yang kau temukan?" panggil Scully. Mulder melanjutkan kerjanya sampai ia menemukan wajah dari seorang Cina yang kurus. Kali ini, pikirnya, mereka tidak capek-capek dengan krematorium. "Mulder?" kata Scully. Jawaban Mulder pendek. "Sepertinya besok mereka akan membuat dua kuburan."

Chapter 7

Hampir pukul tiga siang ketika Scully dan Mulder tiba di kantor forensik di kantor pusat Polisi. Scully sangat kelelahan. Tapi ia adalah salah satu yang memutuskan hal ini tidak bisa ditunda lagi. Penemuan mereka di kuburan terbuka langsung dibawa ke sini. Ia mengikat rambutnya ke belakang, mengenakan jas medis dan sarung tangan karet, lalu masuk ke ruangan autopsi. Mereka semua mirip, pikirnya dengan letih. Dinding logam lemari pendingin ditarik, setiap laci menyimpan sebuah mayat. Mayat-mayat lainnya terbaring di atas kereta dorong logam, diselubungi oleh lembaran plastik tipis. Counter logam steril, lemari kaca berisi pisau bedah, penyemprot, dan gunting tang. Pijaran lampu-lampu, bau alkohol dan obat steril. Ruangan ini didesain untuk memeriksa orang mati. Ia memikirkan penjelasan yang telah dikatakan oleh Chao pada mereka. Apa, pikirnya, akankah suatu budaya yang mempercayai kehidupan setelah kematian membuat tempat seperti ini. Scully mulai mencatat tanpa mengeluarkan suara sebelum memulai pemeriksaan mayat itu. Pakaian anak muda itu telah dibuka, tapi masih ada tanah dari kuburan di tubuhnya yang tidak tertutup.

Umurnya sekitar dua puluhan, dari apa yang dapat dikatakan Scully, hidup orang ini tidaklah mudah. Sejauh ini ia tidak suka akan apa yang dilihatnya. Di antara ratusan autopsi yang telah dilakukan, inilah yang paling mengganggunya. Ia menengok ketika Mulder berjalan masuk. "Apa yang kamu temukan?" tanyanya. "Banyak," kata Scully dengan suara yang suram. "Dan aku bahkan belum menyelesaikan pemeriksaan pendahuluanku secara visual. Lihat ini." Ia menarik lembaran plastik yang menutupi mayat itu. Wajah anak muda itu memar dan di tubuhnya yang kurus terdapat bekas irisan melintang lipatan daging pucat berwarna merah. Sangat nyata, irisan ke bawah tulang dada tampak seperti tali, benang operasi masih tampak menyilang. "Tubuh orang ini tampak seperti teka-teki silang," kata Scully kepada Mulder. "Semua ini adalah irisan pembedahan, dan meneliti warna bekas luka ini, dapat kukatakan bahwa ini semua dibuat pada tahun lalu." "Ada apa dengan orang ini?" tanya Mulder. "Jika kau tanyakan padaku," jawab Scully, "tidak ada." "Tidak ada? Apa maksudmu?" "Apa kau tahu bahwa tubuh manusia itu berharga, Mulder?" tanyanya. "Tergantung pada tubuh itu," canda Mulder. Lalu ia menjadi lebih serius ketika melihat ekspresi Scully. "Aku tidak tahu... beberapa dolar... berapa?" "Harganya bisa membuat kaya raya," kata Scully kepadanya. "Menurutmu, orang ini menjual bagian tubuhnya untuk uang?" Scully menunjuk pada bermacam-macam bekas luka di mayat itu. "Sebuah ginjal, sebagian hati, kornea, sumsum tulang... seseorang

dapat kehilangan ini dan tetap hidup untuk menguangkan cek jaminan sosialnya." "Ia tidak akan menguangkan jaminan sosial apa pun nanti," kata Mulder. "Tidak," Scully setuju, sambil menaruh pelindung mata plastiknya. "Tapi jika aku benar, ia adalah satu-satunya orang yang meninggalkan hatinya di San Francisco." Dengan tekun ia mulai membuka jahitan di sekitar bekas luka yang masih segar di dada laki-laki itu. "Teknologi kedokteran kita telah mencapai titik di mana organ tubuh transplantasi dapat terus hidup dalam pilihan berbagai kondisi jantung, hati, kerusakan ginjal, bahkan beberapa macam kebutaan. Masalahnya, tidak banyak organ yang tersedia di seluruh dunia. Orang-orang masuk dalam daftar antri, dan bila mereka tidak beruntung, penantian itu akan membunuh mereka. Untuk saat ini, etika medis telah memperingatkan kita tentang kemungkinan adanya pasar gelap bagian-bagian tubuh yang sedang berkembang di sini. Mereka telah ada di beberapa negara lainnya." "Scully, bahkan bila kau benar, ini tidak menjelaskan," kata Mulder. "Tidak ada bisnis jangka panjang yang menyangkut kematian. Dan apa hubungan hal ini dengan kematian di krematorium?" "Aku belum tahu," jawab Scully. "Tapi sejauh ini yang dapat kukatakan adalah: Satu-satunya yang tidak terbakar dari tubuh Johnny Lo yang kering dan rapuh itu adalah mata kacanya." Ingin tahu apakah teorinya benar, untuk tahu apakah jantung si korban sudah diambil, Scully kembali pada pekerjaan sebelumnya menggunting silang dada si korban. Ia melangkah mundur, waspada, begitu jahitan di dada laki-laki itu mulai terlihat naik turun. Seperti ada sesuatu yang berdenyut di dalamnya. Ia seperti bernapas. Ini tidak mungkin, kata Scully pada dirinya sendiri.

"Ya, Tuhan," bisiknya. Ketika melihat, luka merah menyala terbukadan seekor katak hijau kecil mencoba keluar dari balik kulit, di dalam dada orang mati itu. "Omong-omong tentang seekor kodok di kerongkonganmu," komentar Mulder. ***************** Sekali lagi ruangan permainan yang penuh asap telah penuh sesak dan ramai. Hiruk-pikuk timbul lebih keras ketika jambangan terbesar dari dua jambangan batu jade melintas menuju meja di depan ruangan itu. Seperti sebelumnya, kedua orang yang duduk di belakang meja jati itu memegang kotak kayu ukiran yang berisi uang. Orang yang dipanggil Tam membawa jambangan terbesar. Lau membenahi kacamatanya, lalu berdiri. Ia meraih ke dalam jambangan terbesar dan mengeluarkan salah satu kepingan nama. "Hsin Shuyang!" panggilnya. Ruangan itu mendadak sunyi. Hsin menatap kotak uang itu, urat sarafnya berperang antara kegembiraan dan ketakutan. Ia telah ikut permainan itu berbulan-bulan. Akhirnya ia mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan untuk memenangkan cukup uang untuk meyelamatkan Kim. Dan jika ia tidak memenangkan uang itu... tidak, ia tidak boleh berpikir seperti itu. Lau mengangkat jambangan yang kecil dan kepingan yang berwarna putihkepingan yang dapat menyelamatkan nyawa Kim. Hsin merasakan harapannya tumbuh ketika Lau menjatuhkan kepingan putih itu ke dalam jambangan. Tam membawa jambangan kecil itu melalui kerumunan. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak biasanya. Semua itu tiba-tiba terjadi terlalu cepat. Hsin merasa sebutir keringat jatuh di antara tulang bahunya saat Tam meletakkan jambangan di tangannya. Sebagian dirinya merasa tidak percaya kalau hal ini nyata. Sebagian

lagi sadar bahwa dua nyawa nyawa Kim dan nyawanya tergantung pada apa yang akan terjadi pada detik berikutnya. Hsin baru saja mendengar teriakan yang memberinya semangat dari orang-orang sekelilingnya. Ia memegang jambangan batu jade tinggi-tinggi di atas kepalanya dan mengguncang-guncangnya tiga kali. Ada ukiran naga di sisinya. Ia menyadari, sebuah simbol keberuntungan. Ia menghela napas sebentar, lalu memejamkan matanya, meraih ke dalam, dan mengeluarkan sebuah kepingan. Hsin tidak berani melihatnya. Waktu seakan-akan berhenti berdetak. Ia terus memejamkan matanya, berharap, berdoa agar kepingan yang dipegangnya di dalam genggamannya itu adalah kepingan putih. Di sekelilingnya ia mendengarkan yang lainnya, tidak sabar untuk mengetahui apa yang telah diambilnya. Hsin merasa dirinya tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Harapan dan ketakutan bercampur dan membentuk simpul di tengah-tengah dadanya. Dua pilihan, kepingan itu dapat mengubah seluruh hidupnya. Ia merasa seseorang membuka genggamannya. Semoga itu adalah kepingan yang berwarna putih, semoga aku mendapatkan hadiah uang itu untuk Kim. Ia membuka matanya ketika Tam memegang kepingan merah itu dan mengumumkan nasibnya itu ke seluruh ruangan. "Yenjing!" teriaknya. Ruangan itu meledak karena teriakan-teriakan. Hsin merasa kakinya gemetar dengan hebat. Ia pikir ia tidak akan dapat berjalan. Tiba-tiba semuanya berjalan dengan cepat. Ia dibantu berdiri dari kursinya dan dikawal melalui pintu tunggal di mana Oi-Huan Li terakhir kali terlihat.

Chapter 8

Detektif Glen Chao sedang berada di mejanya, sedang bicara di telepon, ketika sebuah kendi kaca ditaruh di mejanya. Kendi itu berisi seekor katak hijau kecil. Chao, bingung, menatap Scully dan Mulder yang sedang memperhatikannya. Chao dengan cepat menyelesaikan percakapannya, lalu menaruh gagang telepon itu. "Apa ini?" tanyanya sambil mengambil botol itu. "Kami harap kau dapat menerangkannya kepada kami," kata Scully dengan suara yang keras. "Ini ditemukan di dada mayat orang yang dikubur di pemakaman." "Ini?" tanya Chao, menunjuk ke arah kodok itu. "Katamu kodok adalah lambang keberuntungan dan kesejahteraan," Scully mengingatkannya. "Kecuali ini adalah guyonan orang sakit, menurutku ini pasti mempunyai arti yang lain." Chao menggelangkan kepalanya dan meletakkan kendi itu. "Yah, bila itu telah terjadi, aku tidak tahu apa itu. Maksudku, itu bisa

saja semacam... lambang Triad. Sesuatu yang berkaitan dengan organisasi kriminal..." "Yah, mungkin kamu dapat mengatakannya padaku," lanjut Scully. "Pernahkan kamu mendengar sesuatu di jalan tentang pasar gelap penjualan organ-organ tubuh?" "Apa? Di sini, di Chinatown?" tanya detektif itu, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan. "Orang ini dengan kodok di dalam dadanya telah kehilangan sebuah kornea dan sebuah ginjal," kata Scully, kurang yakin ia dapat mengerti maksudnya. "Semuanya itu telah diambil sebelum ia mati. Sebelum pengambilan terakhir jantungnya. Dan aku menemukan sisa es steril di kulitnya di dalam dan di sekeliling irisan bedah di dadanya. Itu adalah zat kimia yang biasa digunakan untuk menyimpan organorgan tubuh manusia untuk transplantasi." Chao menggelengkan kepalanya dan tertawa dengan putus asa. Sepertinya, yang dikatakan Scully padanya adalah sesuatu yang mustahil. "Aku tidak pernah mendengar hal-hal seperti itu," katanya. Mulder berdiri di jendela kantor polisi, dengan tekun diikutinya percakapan mereka, dan melihat Chao semakin menyulitkan waktu demi waktu. "Kami membutuhkan bantuanmu lebih banyak dari itu, Detektif," kata Mulder. Senyum Chao memudar. "Maksudmu aku tidak mencoba membantumu?" "Tidak," kata Mulder, melangkah menuju ke arahnya. Scully tidak sabar menghabiskan waktu untuk diplomasi. Ia berkata dengan datar. "Kesanku adalah kau merasa marah kepada kami karena kami berada di sini atau kau merasa perlu melindungi masyarakat Cina." "Lihat, kalian bahkan tidak tahu kalian berurusan dengan apa," kata Chao perlahan, dengan suara emosi. "Ini bukanlah semacam...

kotak kecil mengkilap yang dapat dengan mudah kalian buka dan menemukan apa yang ada di dalamnya. Kalian mungkin melihat wajah seorang Cina di sini, tapi biar kukatakan pada kalianorangorang di jalan tidak melihat wajah yang sama. Mereka melihat wajah seorang polisi. Orang Cina yang lahir di Amerika. Bagi mereka, aku sama putihnya dengan kalian." Dengan marah ia berdiri dan meraih jaketnya, berhenti mengambil selembar kertas dari mejanya. "Kalian pikir karena aku dapat bicara bahasa mereka, aku dapat menjawab semua pertanyaan kalian. Katakan padaku, apa bagusnya seorang penerjemah bila semua orang berbicara menggunakan bahasa diam?" Chao menempelkan lembaran kertas putih di jaket Mulder ketika ia berjalan melewatinya. "Apa ini?" tanya Mulder. "Itu adalah nama perusahaan yang memasang karpet di apartemen Johnny Lo," jawab Chao dengan marah. "Aku kebetulan saja mendapatkannya ketika aku duduk di sana sambil memutar-mutar jempolku. Kalian ikut denganku tidak?"

Chapter 9

Dua puluh menit kemudian, Chao, Mulder, dan Scully berdiri di gang yang kumuh dan suram di sebuah bangunan apartemen Chinatown. Chao menekan sebuah tombol. Di balik pintu itu, mereka mendengar langkah kaki yang diseret, lalu suara kunci dibuka. Pintu terbuka sedikit dan seseorang mengintip keluar melalui rantai pengaman. Mereka dapat melihat sebagian wajahnyaorang itu setengah umur dengan ekspresi siaga. "Mr. Hsin?" Chao menunjukkan tanda pengenalnya. "Saya Detektif Chao dari Kepolisian San Francisco. Bisakah kami bercakapcakap dengan Anda?" "Saya sudah terlambat bekerja sekarang," jawab Hsin. Ia berbicara dengan perlahan, bahasa Inggris yang hati-hati dari seseorang yang belum terbiasa dengan bahasa itu. "Cuma beberapa menit," Chao meyakinkannya. "Bisakah kami masuk?" Hsin menghela napas sebentar, lalu dengan enggan membuka pasak rantai pengaman dan membiarkan mereka masuk.

Ketika mereka melangkah masuk ke dalam apartemen, Hsin menutup pintu dan para agen itu akhirnya bisa melihatnya. Ia ramping, agak bungkuk dan berumur akhir empat puluhan. Rambut hitamnya mulai berwarna abu-abu. Ia mengenakan baju lengan pendek yang ketat dan celana panjang. Tapi yang paling mencolok darinya adalah balutan tebal yang menutupi salah satu matanya. Scully yang memulai bicara. "Mr. Hsin, dapatkah saya bertanya apa yang terjadi dengan mata Anda?" "Kecelakaan waktu kerja," jawab Hsin dengan kaku. "Paku karpet." Mulder dan Scully bertukar pandang tidak percaya. "Sudah berapa lama Anda tinggal di negara ini, Mr. Hsin?" tanya Mulder. "Tiga tahun," jawab Hsin. "Apakah Anda tinggal sendiri di sini?" tanya Mulder. Sebelum Hsin bisa menjawab, suara seorang wanita muda memanggil dari kamar sebelah,"Apakah ada orang di sana?" Hsin menunjuk ke arah kamar tidur. "Anak perempuan saya," ia menjelaskannya kepada ketiga petugas itu. Ingin tahu, Chao berjalan menuju kamar gadis itu. Scully memulai daftar pertanyaannya. "Mr. Hsin, Anda yang memasang karpet di tempat tinggal seseorang yang bernama Johnny Lo." Mulder berjalan menuju ke dapur, melihat-lihat apartemen itu. Ia mencatat sebuah jaket Ahli Karpet Bay Area tergantung di kaitan; tirai kabut putih menutupi kerai Venesia; Tea set keramik diatur rapi. Jelas bahwa Hsin tidaklah mempunyai banyak uang, dan ia berusaha membuat rumahnya menjadi bagus. Hsin kelihatan bingung oleh pertanyaan Scully tentang Johnny Lo. "Saya tidak tahu namanya," katanya perlahan. "Orang yang menyewa saya hanya memberitahukan alamatnya."

"Baik, kami akan menghubungi orang yang menyewa Anda," kata Scully. "Ia mengatakan ini adalah pekerjaan yang harus Anda ambil. Ia tidak mempunyai catatan pesanannya." Mata Mulder menangkap sesuatu. Di atas lemari kayu ia melihat kotak porselen putih biru dan di sekelilingnya ukiran kotak yang berwarna merah terang. Di antaranya ada sebuah kepingan kecil berwarna merah. Mulder mengambil kepingan itu dan membaliknya. Di satu sisi, sebuah huruf Cina dicat dalam warna emas. Hsin kelihatan bingung oleh pertanyaan Scully. "Siapa nama orang yang tinggal di apartemen itu?" tanyanya kepada Scully. "Namanya adalah Johnny Lo," ulang Scully. Ia tidak bisa mengatakan apakah Hsin sungguh-sungguh kesulitan memahaminya, atau ia berpura-pura. "Ia telah mati sekarang. Terbunuh," kata Scully, ingin membuat Hsin terkesan dengan betapa seriusnya kasus ini. "Dan kami pikir karpet itu dipasang untuk menutupi bukti-bukti pembunuhannya." Hsin mengangkat alis matanya, kelihatan kaget. xxxxxxx Detektif Chao mengulurkan kepalanya ke bagian belakang kamar tidur. Ia melihat bingkai lukisan Cina di dinding, korden kembang-kembang menutupi jendela. Seorang wanita berbaring di tempat tidur, memejamkan matanya. Ia kelihatan demam dan lemah. Ia merasa seperti pernah melihatnya sebelumnyaseseorang yang tidak ada di seluruh dunia ini, seseorang yang menanti antara hidup dan mati. Merasakan kehadiran Chao, ia membuka matanya dan bangkit duduk. Ia berbicara dengannya dalam bahasa Canton: "Di mana ayahku?"

"Ia ada di sini," kata Chao dalam suara yang mencoba meyakinkannya. "Siapa Anda?" tanyanya. Ia cantik, Chao menyadarinya, dan ketakutan. "Aku di sini hanya untuk menanyainya beberapa pertanyaan," jawabnya. Melihat kesulitan di wajahnya, ia cepat-cepat pergi sebelum perempuan itu menanyainya lebih banyak. xxxxxxxxxxx Scully memegang buku catatan. Sampai sejauh ini ia tidak menulis apa pun di atasnya. Hsin masih bingung dengan pertanyaannya atau sudah sampai di ujung bibirnya. Kesabarannya sudah mulai menipis dan semakin habis. Tapi ia masih mendesak. "Apakah Anda masih ingat siapa yang menelepon Anda tentang pekerjaan itu? Siapa yang menyewa Anda untuk melakukan pekerjaan itu?" "Saya rasa saya ingat mengenai pekerjaan ini," Hsin menjawab. "Seorang pria datang pada saya, menawarkan sejumlah uang." "Apakah Anda melihat bekas genangan darah ketika Anda memasang karpet itu?" tanya Scully. "Genangan darah?" Hsin menjawab, menggeleng-gelengkan kepalanya. Detektif Chao dan Mulder kembali dari dapur pada saat yang bersamaan. Mereka menarik perhatian Scully, memberikan gerak isyarat ke arah pintu. "Terima kasih, Mr. Hsin," kata Mulder, mengakhiri wawancara yang tanpa tujuan itu. "Jika kami membutuhkan Anda, kami akan kembali kepada Anda, oke?" Hsin tersenyum, tampak lega, dan mengangguk. Mulder dan Scully meninggalkan apartemen itu, tapi Detektif Chao berbalik kembali, berbicara dalam bahasa Cina pada Hsin. "Ada apa?" Scully bertanya pada rekannya itu.

"Akan kukatakan sebentar lagi," kata Mulder. Ia melihat ke belakang melalui pintu apartemen yang terbuka, pandangannya terfokus pada kedua laki-laki itu. Ia memandang percakapan mereka. Hsin sedikit membungkuk hormat kepada Chao. Scully memandang dengan tangan terlipat. Ia tidak mempunyai petunjuk atas apa yang diperbincangkan mereka, tapi Hsin kelihatan sama sekali berbeda dengan Chao, menepuk-nepuk bahunya hampir seperti mencoba untuk meyakinkannya. Atauada kemungkinan lain yang terjadi pada anak perempuannyaseperti ia mengenal Hsin. Beberapa detik kemudian percakapan itu berakhir dan Chao berjalan ke dalam gang. Hsin menutup pintu di belakangnya. "Mengenai hal apa tadi?" tanya Mulder kepada Chao. "Ia menutup jendela belakang," jawab Chao. "Kukatakan padanya itu mudah terbakar." Mulder mengangguk, lalu ia mengangkat kepingan segi tiga merah yang ditemukannya di apartemen Hsin. "Kau tahu apa ini?" tanya Mulder. Chao mengambilnya dan mempelajarinya. "Tidak." "Kau tahu apa yang tertulis di situ?" "Ini huruf untuk kayu," jawab Chao. "Kayu?" ulang Mulder. "Iya, kenapa? Apa yang kau pikirkan?" tanya Chao. "Pria ini bukan mengalami kecelakaan kerja," tambah Scully. "Kupikir ia kehilangan matanya," kata Mulder. "Dan aku ingin tahu bagaimana ia kehilangan mata itu." "Mungkin kita harus mengawasi setiap gerakan Mr. Hsin usul Scully. "Yah," Mulder setuju. "Dan bagaimanapun aku berani bertaruh ia tidak akan mengunjungi dokter mata."

Chapter 10

Hsin menghela napas ketika ia menutup pintu di belakang ketiga tamunya itu. Tapi ia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Ia bisa mendengarkan omongan si wanita. Apakah si wanita itu mempercayainya? Ia berbalik ketika mendengar suara perlahan anak perempuannya. "Ayah?" Ia berdiri dengan gaun malamnya di pintu yang menuju ke kamar tidur. "Apakah Ayah mendapat kesulitan?" tanyanya dengan nada cemas. "Apa yang kau lakukan?" Hs in menghardik, gelisah melihat ia bangun. "Kembali ke tempat tidurkau seharusnya berbaring di tempat tidur! Sekarang!" Keadaannya benar-benar memburuk. Ia kelihatan sangat pucat hampir seperti mayat. Hsin berjalan mendekati anaknya, memastikan ia kembali ke tempat tidur. Tapi anaknya menolak mengalihkan pembicaraan. "Apa yang terjadi pada mata Ayah?" tanyanya. "Tidak ada, aku mengalami kecelakaan."

"Kecelakaan apa?" "Kecelakaan kerja, itu saja." "Tidak mungkin," kata Kim. Tubuhnya mungkin lemah, tapi pikirannya masih tajam seperti biasanya. Ayahnya dalam bahaya, dan ia tidak akan bersikap pura-pura tidak mengetahuinya. "Semalam ketika ayah pulang kerja, tidak ada yang tidak beres. Ayah terluka setelah itu" Ia berpaling menghadapnya. "Ini bukan urusanmu. Kau mengerti?" "Tidak, aku tidak mengerti," jawab Kim, suaranya pelan tapi pasti. Keras kepala seperti ibunya dulu, pikir Hsin. Hsin telah melihat istrinya meninggal karena kanker. Ia tidak mau kehilangan anaknya juga. "Bagaimana kau bisa sembuh?" tanyanya pada anaknya, sebuah keputusasaan dalam suaranya. "Bagaimana kau bisa sembuh jika kita tidak mempunyai uang untuk ke dokter?" "Apa yang akan kulakukan jika sesuatu terjadi pada Ayah?" Kim membalas. Suaranya menjadi perlahan. "Aku hanya mengkhawatirkan Ayah" "Aku bangun setiap hari dengan kecemasan!" Hsin berkata. Ketakutan yang menggelutinya berbulan-bulan, yang dijaganya dengan hati-hati dari anaknya, mengalir keluar dengan nada sedih yang mendalam. "Pernahkah aku membuat kesalahan? Apakah aku telah berbuat bodoh? Apakah aku telah membuat kesalahan dengan pindah ke negara ini? Apakah para leluhur telah mengutuk kita karena meninggalkan kampung halaman? Apakah karena itu kau menjadi sakit sekarang?" "Ayah tidak bisa disalahkan," kata Kim kepadanya. Ia meraih tangan ayahnya sebentar, lalu memeluknya. "Siapa yang patut disalahkan?" tanyanya, suaranya bergetar. "Jika kau tidak tertolong, lalu siapa yang patut disalahkan selain aku?"

Hsin mendekap anaknya. Air mata mengalir dari luka di matanya, mengalir merah ke gaun malam Kim. ********************* Sudah lewat pukul delapan malam ketika mobil Chao sampai di depan rumahnya di area Richmond San Francisco. Chao telah menabung lima tahun untuk membeli tempat ini. Bahkan sekarang, setiap sen yang didapatkannya untuk ini. Ia baru saja mengecat ulang bagian luar dan kaca atap baru dipasang di dapur dan kamar tidur. Real estate di San Francisco sangat mahal dan rumah itu didapatkannya dengan tidak mudah, dan itu sangat berharga baginya. Setelah bertahun-tahun ia terkungkung di apartemen Chinatown di mana ia tumbuh, rumah itu adalah bukti bahwa Chao telah berhasil. Ia tidak pernah menyesal. Ia merasa terus diingatkan akan kesuksesannya setiap kali pulang ke rumah itu, ke kamar-kamar yang berlangit-langit tinggi dengan lantai kayu Oak yang mengilap. Sekarang ia mematikan mesin mobil dan lampu depannya. Ia melangkah keluar dan mulai berjalan. Langkahnya dipercepat tatkala melihat sesuatu di depan pintu depannya. Cat putih murni dioleskan dengan kasar, huruf-huruf berwarna merah terang. Tsang fang. Rumah hantu. Huruf-huruf yang sama dengan yang ditemukannya di pintu rumah Johnny Lo. Dengan gugup Chao menyentuh cat itu. Masih segar, basah, masih lembab. Ia menatap sekeliling, mencari apakah si pelaku masih terlihat. Tapi tidak ada gerakan di jalan, tidak ada tanda dari siapa pun. Chao gagal memasukkan kunci di pintunya. Ia mengumpat tanpa suara. Tangannya gemetar. Ia melangkahi pintu yang terbuka itu. Untuk sesaat, ia berdiri terdiam. Ia tidak merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Ia bisa mendengar lemari es berdengung di dapur. Jam berdetak di ruang

keluarga, di rak di atas tungku perapian. Jantungnya berdebar. Tidak ada orang di sini, hanya ada dia. Bergerak dengan tanpa suara, ia menutup pintu di belakangnya dan memasukkan rantai pengaman. Ia menghidupkan lampu lorong. Pancaran sinarnya cukup untuk sampai ke dalam ruang tamu agar Chao dapat melihat bahwa rumah itu tidaklah kosong sama sekali. Ia mendapat tamu. Tiga setan bertopeng, wajah mereka muncul dari kegelapan, hampir seperti tanpa wujud. Persis layaknya hantu. Chao merasa gelombang ketakutan menyapu dirinya. Kali ini, mereka datang padanya.

Chapter 11

Chinatown di waktu malam tidak pernah benar-benar gelap. Selalu saja ada sinar lampu neon di sana, sinar lampu sorot, sinar lampu jalan, dan sinar layar televisi terlihat lewat jendela apartemen, sinar-sinar dari beberapa toko, dan restoran yang buka sepanjang malam. Di luar bangunan rumah Hsin, sebungkus petasan meledak. Para pelaku muda yang menghidupkannya tidak peduli pada mobil sewaan yang diparkir di sana. Mobil di mana Mulder duduk, menunggu. Mulder memeriksa jam tangannya lalu melihat ke arah apartemen Hsin. Ia dapat melihat lampu-lampu di dalam apartemen Hsin. Korden telah diturunkan. Sejauh ini, mengikuti Shuyang Hsin tidak membuat mereka pergi ke mana-mana. Sejak mereka mulai mengawasi apartemen itu, Hsin tetap tinggal di dalam. Mulder menggosok matanya, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang. Ia langsung meluruskan tubuhnya dengan cepat, ketika sebuah tangan membuka pintu tempat penumpang. "Kau kelihatan seperti baru saja melihat hantu," kata Scully, meluncur masuk ke dalam kursi penumpang dan menutup pintu itu.

"Aku agak capek," Mulder mengakui. "Dan gelisah. Serangkaian petasan baru saja mati, dan aku ingin keluar dari mobil ini dan menembak seseorang." Scully melihat ke atas, ke arah jendela yang terbuka. "Ia belum meninggalkan apartemennya, bukan?" "Belum," jawab Mulder. "Aku senang kau sudah di sini. Aku baru saja ingin pergi ke atas dan bertanya pada Mr. Hsin kalau-kalau boleh aku menggunakan kamar mandinya." "Yah, kau dapat menggunakan yang ada di Rumah Sakit St. Francis," kata Scully sambil memasang sabuk pengaman. "Apa maksudmu?" "Detektif Chao diserang di rumahnya malam ini. Aku baru saja berbicara dengan Letnan Neary. Ia bilang Chao tertusuk cukup parah." "Siapa yang menusuknya?" tanya Mulder. "Aku tidak tahu," kata Scully. "Tapi kita seharusnya menyelidikinya." Ketika Mulder dan Scully bersiap hendak berangkat ke Rumah Sakit, seorang pria berjalan menuju apartemen Hsin. Seorang pria dengan rambut abu-abu dan ekspresi keras di matanya. Orang yang sama yang mendekati Oi-Huan Li sesaat sebelum ia kehilangan kesadarannya untuk yang terakhir kali. Hsin duduk di meja dapur, sedang makan malam, ketika ia mendengar bel pintu berdering. "Siapa itu?" teriaknya melalui pintu yang masih tertutup. "Kau tahu siapa ini," suara itu menjawab. Hsin mengenali suara itu. Itu adalah si Dokter, orang yang menyelenggarakan permainan itu. Ia tidak pernah mucul di tempat permainan, tapi semua orang tahu ia yang mengontrolnya. Rasa sakit terasa melanda Hsin ketika ia menyadari sesuatu yang lain. Pada malam sebelumnya, setelah ia diberi semacam teh untuk diminum, semuanya kelihatan seperti berkabut. Sulit untuk

mengingat apa yang telah terjadi. Tapi ia hampir pasti bahwa si dokter itulah yang memegang pisau bedah. Dokter yang mengambil matanya. Bertahun-tahun yang lalu, Dokter itu datang ke negeri ini tanpa bisa berbahasa Inggris. Meskipun ia telah mendapat gelar dokter medis di Cina, ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Ia mengikuti permainan itu dan memenangkan ratusan ribu dolar. Itu yang membuatnya menjadi orang kaya. Hsin ragu-ragu sejenak, lalu membuka pintu. Dokter itu tidak ingin membuang-buang waktu dengan basabasi. "Aku belum menerima pembayaranmu," katanya. Hsin teringat percakapan terakhirnya dengan Kim, dan ia tahu apa yang harus dikatakannya. "Aku mau keluar." "Kau mau keluar dari permainan itu?" Tidak percaya dengan pemberitahuan ini, si Dokter mengeluarkan sebutir buah plum dari sakunya dan mulai memakannya. "Aku berhenti," Hsin berkata padanya, gugup tapi tegas. "Tidak lagi." "Kau lebih beruntung dari yang lainnya," kata si Dokter. "Selama ini dan hanya sekali sial. Kebanyakan orang akan senang untuk bertukar tempat denganmu. Guci itu sekarang hampir dua juta dolar. Satu tarikan, Mr. Hsin. Satu tarikan dan mungkin kau akan memenangkan lebih dari yang pernah kudapat." "Tapi mungkin aku tidak seberuntung itu," Hsin membantah. "Uang itu dapat membantu menyelamatkan hidup putrimu," pria itu mengingatkannya. "Mungkin aku tidak seberuntung itu," ulang Hsin. Akhirnya ia mengatakan ketakutannya dengan keras. "Mungkin putriku akan mati tanpa ayah di sisinya. Sendirian di tengah orangorang asing." "Kau seharusnya memikirkan ini sebelum masuk ke permainan itu, Hsin. Kau harus tetap terus bermain. Kau tahu aturannya. Tak

seorang pun yang membicarakan tentang permainan ini..tak seorang pun yang meninggalkan permainan ini." Kim mendengar suara di dapur itu. Ingin tahu, ia bangkit dari tempat tidur dan mendengarkan dari pintu. Ia tidak mengenali suara tamu itu. Itu pasti bukan pria muda tampan yang menengoknya kemarin. Siapa orang as ing yang sedang berdebat dengan ayahnya itu? "Tapi putriku!" Hsin berkeras. "Itu adalah aturannya," si Dokter berkata padanya dengan dingin. "Aturan itu tidak boleh dilanggar, atau nanti api Ti Yu akan memakanmu." Hsin sekarang memohon, kedua tangannya menutup di depannya. "Tolonglah! Aku mohon padamu!" "Itu bukan pilihanku," kata si Dokter. Ia membuka pintu dan pergi, meninggalkan Hsin yang menderita dalam kurungan masalahnya. Di belakang pintu, Kim mendekap mulutnya, berjuang menahan godaan untuk mengatakan pada ayahnya apa yang telah didengarnya. Ia tidak tahu siapa orang asing itu, apa yang dibicarakannya, atau hal apa yang ayahnya ingin keluar. Hanya satu yang jelas. Nyawa ayahnya dalam bahaya.

Chapter 12

Mulder dan Scully berjalan melewati sepasang pintu yang membawa mereka ke tempat Glen Chao dirawat. Letnan Neary berdiri di ujung ruangan, sedang berbicara dengan beberapa orang petugas yang tidak berseragam. Ia memutus percakapannya ketika melihat kedua agen FBI itu. "Bagaimana keadaannya?" tanya Scully. "Ia telah pergi," kata Neary dengan tegang. "Ketika aku sampai di sini untuk menjenguknya, ia tidak berada di tempat tidurnya." "Apakah ada yang melihatnya pergi?" tanya Mulder. "Yah, perawat bilang setelah mereka selesai menjahit lukanya, ia bangkit dan pergi ke kamar mandi. Itulah terakhir kali orang melihatnya." "Mengapa ia pergi begitu saja?" kata Scully dengan keras. Neary menggelengkan kepalanya, bingung. "Dapatkah aku melihat catatan pengobatannya?" tanya Mulder. "Catatan pengobatannya?" ulang Neary, terkejut. "Tentu." Scully ingin tahu arah mana yang akan dituju Mulder dengan itu. Ketika Neary pergi meminta catatan pengobatan Chao, ia bertanya kepada rekannya itu: "kau ingin melihat di mana cederanya?"

"Bukan," jawab Mulder. "Aku ingin melihat golongan darahnya." "Golongan darahnya?" "Kenapa ia lari, Scully?" tanya Mulder. "Kau pikir Chao terlibat?" tanggap Scully. "Mungkin ia mencoba mengalihkan perhatian dan cerita mengenai hantu-hantu itu adalah sebuah tipu muslihat," kata Mulder. "Apa golongan darah yang kita temukan di lapisan karpet?" Scully mengeluarkan buku catatannya dan membukanya ketika Neary kembali dengan catatan pengobatan itu. "O negatif," kata Scully. Itu adalah salah satu golongan darah yang langka. Mulder mengambil catatan medis itu dari Neary, lalu membacanya keras-keras," 'Glen Chao. O Negatif.' " Ia mengulurkan catatan medis itu ke Scully dan berpaling ke arah Neary, lalu berkata,"Yah, itu adalah suatu kebetulan." "Sekarang, tunggu sebentar," kata Neary. "Apa maksudmu?" "Darah yang kita temukan pada lapisan karpet di apartemen si korban adalah darah Detektif Chao. " "Dan aku ingin bertaruh bahwa ia adalah orang yang memerintahkan pemasangan karpet baru itu," tambah Mulder. Scully berpaling dari catatan kesehatan itu, menyadari akibat dari kata-kata Mulder. "Mr. Hsin," katanya. Mulder mengangguk. "Yeah, kupikir percakapan mereka itu bukan mengenai sesuatu yang gampang terbakar." Lima belas menit kemudian Mulder dan Scully berdiri di gang di luar apartemen Hsin, menunggunya menjawab ketukan mereka. Pintu terbuka dengan perlahan. Kali ini bukan Hsin, tapi putrinya yang menatap kedua agen itu. Ia mengenakan mantel mandi berwarna putih, dan ada lingkaran merah di sekeliling matanya. "Ya?" kata gadis itu dengan gelisah.

"Hai," sapa Scully. "Kami mencari Mr. Hsin. Apakah ia ada di rumah?" "Tidak, maaf." Mulder dan Scully bertukar pandang. Tak satu pun dari mereka yang mempercayainya. Mereka telah mengawasi apartemen Hsin sepanjang hari, dan sepanjang hari Hsin berada di dalam. Begitu mereka berhenti mengawasinya, ia pergi. "Apakah kau putrinya?" tanya Scully, tidak bersedia menyerah. "Ya," jawab gadis itu. "Namaku Kim." "Boleh kami bicara denganmu?" tanya Scully. Kim memandang mereka dengan ragu-ragu, lalu menutup pintu untuk membuka rantai pengaman. Mulder dan Scully mengikuti wanita muda itu menuju ruang keluarga, tempat ia duduk di sebuah kursi. Scully melihat gadis itu dengan penuh perhatian. Ia mempunyai kesan yang jelas bahwa Kim duduk di situ karena alasan sederhana saja. Ia membutuhkan perjuangan yang besar untuk berdiri. "Ayahmu terlibat dalam masalah apa, Kim?" tanya Mulder. Pada mulanya Kim tidak menjawab. "Aku tidak tahu," akhirnya ia berkata. "Kemarin seorang asing mengunjunginya. Dan ia sering keluar. Aku tahu ia melakukannya untukku. Karena aku." "Aku telah didiagnosis mengidap leukemia kelenjar getah bening yang akut enam bulan yang lalu," kata gadis itu. "Tapi itu adalah bentuk lain dari kanker," kata Scully. "Biasanya pengobatan dilakukan melalui transplantasi sumsum tulang belakang." "Tapi mereka sebelumnya harus memberiku kemoterapi," kata Kim. "Kami tidak mempunyai uang atau asuransi. Kami tidak bisa mengusahakan perawatan itu. Sekarang aku takut ayahku mungkin melakukan sesuatu yang ilegal. Ia telah melakukan sesuatu yang salah dan sesuatu yang buruk telah datang."

Scully tidak mempunyai jawaban untuk itu. Ia tahu berapa besar uang muka untuk perawatan medis di Amerika. Sering kali orang yang bisa mengusahakannya terbatas. Perawatan rumah sakit mulai seribu empat ratus dolar sehari, dan itu hanya untuk tempat tidurnya. Kemoterapi; proses untuk menemukan donor yang tepat; pengambilan lalu transplantasi sumsum tulang belakang si donor ke tubuh Kim semuanya itu dapat menghabiskan biaya ratusan ribu dolar. Situasinya menjadi sangat pelik oleh fakta bahwa donor yang tepat untuk kaum minoritas sangat jarang. Alasannya sederhana saja. Karena kelompok pendonor sangat kecil. Tanpa asuransi atau tabungan yang cukup, perawatan medis yang dibutuhkan Kim adalah mustahil. Bahkan bila ayahnya dapat membayar asuransi, beberapa perusahaan asuransi tidak akan menerima seseorang yang diketahui telah mengidap leukemia kelenjar getah bening yang akut. Dan tentu saja, jika Hsin masuk ke negeri ini secara ilegal, keadaannya akan semakin buruk. Lalu Kim tidak akan pernah bisa masuk ke dalam daftar penerima donor. "Siapa pria yang mengunjungi ayahmu?" tanya Mulder. "Saya tidak mengenalnya," kata Kim. "Aku hanya mendengar bahwa ayahku ingin keluar ia ingin keluar. Tapi mengenai apa, aku tidak tahu." Aku berani bertaruh ini adalah sesuatu yang menjelaskan kenapa ia mengenakan pembalut yang menutupi matanya, pikir Scully. Mulder meraih ke dalam sakunya dan mengeluarkan kepingan segi tiga berwarna merah yang ditemukannya sewaktu terakhir kali berada di apartemen Hsin. "Kau tahu ini apa, Kim?" tanya Mulder. Kim mengambil kepingan itu dan menelitinya. "Tidak." "Itu tadinya terletak di atas lemari. Apa kau tahu apa yang tertulis di situ?"

"Itu adalah lambang untuk kayu," kata Kim, sesuai dengan apa yang dikatakan Chao pada mereka. "Dalam pengobatan Cina itu juga berhubungan dengan mata. Seperti api yang berhubungan dengan jantung, dan tanah dengan daging." Ia mengulurkan kepingan itu kepada Mulder. Mulder menatap Scully. Ini semua adalah permulaan dari jalan yang tidak disukainya. Scully mengambil selembar kertas dari ujung meja di sampingnya. Denyut jantungnya menjadi cepat ketika ia mengenali singkatan-singkatan dan simbol-simbol yang tidak asing lagi. "Ini adalah cetakan leukosit manusia," katanya, menunjukkan kertas itu kepada Kim. "Apakah ayahmu telah ditolak sebagai pendonor sumsum tulang?" "Ya," kata gadis itu. "Beberapa bulan yang lalu. Jika ia mendonorkan sumsumnya, salah satu kemungkinan tubuhku akan menolaknya, atau sel tubuhnya akan menyerang tubuhku dan menyebabkan penyakit lever." Scully meneruskan membaca laporan itu, ingin tahu berapa banyak yang tidak dikatakan Hsin pada putrinya. Lalu ia mengenali sesuatu yang tidak tertangkap olehnya pertama kali tadi: tanggal di atas halaman itu. "Laporan ini dari Organisasi Pengumpul Organ Tubuh," katanya. "Tanggalnya baru sebulan yang lalu. Ayahmu menderita HLA (Human Leukocyte Antigen), tapi ia memeriksa ginjalnya, dan juga hatinya..." Mulder mendengarkan, merasa sesuatu kegembiraan yang tidak asing lagi ketika potongan-potongan kasus itu akhirnya mulai bersatu. Hsin menemui Organisasi Pengumpul Organ Tubuh bukan untuk memberikan Kim sumsum tulangnya. Bukan, organ-organ yang terdaftar di situ dimaksudkan untuk seseorangatau sesuatulain. Sesuatu yang berhubungan dengan mata kaca Johnny Lo dan mayat yang mereka temukan di kompleks pemakaman.

Mulder membalik kepingan merah yang halus itu, menambahkan apa yang telah dikatakan Kim pada mereka. Dan akhirnya memahaminya. Ia merinding ketika mengatakan,"Mereka menjalankan suatu permainan." Chapter 13

Hsin merasa ketakutannya bertambah ketika ia memasuki ruangan permainan. Ia secara sadar selalu tahu akan risikonya, tapi tidak sampai terakhir kali. Risiko itu telah menjadi nyata. Menjadi risikonya. Belum terlalu lama, ia merasakan harapan ketika memasuki ruangan ini. Sekarang ia merasa seperti orang yang berjalan menuju tempat eksekusinya sendiri. Seperti biasanya, asap memenuhi udara, dan ruangan permainan itu dipenuhi dengungan suara. Hsin berjalan melalui kerumunan menuju ke sebuah kursi, lalu menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan debaran jantungnya. Ia melihat dengan takut pada ujung meja, tempat pria beruban membuka kunci kotak kayu ukiran. Butir-butir keringat membasahi keningnya. Hsin menatap tumpukan lembaran ratusan dolar, seolah bila ia menatapnya cukup lama, maka ia akan bisa memilikinya. Permainan ini untuk mendapatkan itu, katanya kepada dirinya sendiri. Apa yang kubutuhkan hanyalah satu tarikan keberuntungan, dan Kim akan dapat disembuhkan dan permasalahan kami akan berakhir. *****************

Tidak ada seorang pun di lorong putih dan dingin di Organisasi Pengumpul Organ Tubuh di tengah kota San Francisco. Saat itu sudah lewat jam kerja normal, dan sekeliling kantor itu telah gelap dan sepi. "Kelihatannya semua sudah pulang," kata Mulder. "Tidak," kata Scully, "Seharusnya ada seseorang yang berada di sini sepanjang waktu, menunggui telepon dan komputer. Waktu sangat kritis untuk transplantasi. Sebuah organisasi seperti ini haruslah dapat segera memberi tahu rumah sakit secepatnya setelah organ tersedia." Scully mengetuk pintu kaca. Tulisan di situ ditulis dalam bahasa Inggris dan Cina. Akhirnya seorang petugas wanita dengan rambut cokelat panjang melangkah keluar dari belakang kantor untuk melihat siapa yang menimbulkan keributan itu. Ia datang menuju pintu kaca dan dengan kasar membukanya sedikit. "Agen Mulder dan Scully," kata Scully, menunjukkan tanda pengenalnya. "Terima kasih," kata Scully ketika ia dan Mulder melangkah masuk. "Kami memerlukan beberapa informasi dan kami membutuhkannya secepat mungkin." "Informasi macam apa?" tanya wanita itu. "Kalian telah kedatangan seseorang yang bernama Shuyang Hsin. Ia memiliki cetakan HLA dan beberapa" "Aku rasa aku mungkin tahu mengenai hal itu," potong wanita itu. "Apa?" tanya Mulder. "Yah, kami telah melihat beberapa orang Asia datang untuk menulis dan mencetak antigen, tapi ketika kami menemukan penerima donor yang cocok dengan mereka, dokter mereka berkata bahwa mereka telah meninggalkan tempat mereka atau menghilang." "Apakah Anda mempunyai nama atau nomor telepon dokter tersebut?" tanya Mulder.

***************** Hsin menahan napasnya ketika ia menjatuhkan kepingan yang memuat namanya ke dalam kendi batu jade yang terbesar. Tam, orang termuda dari ketiga orang itu, meneruskan mengedarkan kendi ke sekeliling ruangan, meyakinkan bahwa tidak seorang pun menolak memasukkan nama. Lalu dengan perlahan, hampir dengan khidmat, ia membawa kendi itu kembali ke atas meja di depan ruangan. Lau, orang yang mengenakan kacamata kawat yang mengilap, berdiri. Dengan perlahan ia memasukkan tangannya ke dalam jambangan yang paling besar dan mengambil sebuah kepingan. Ia mengangkatnya untuk membaca nama di situ. Tidak mungkin terjadi lagi, kata Hsin pada dirinya sendiri. Sangat aneh bila ia sampai terpilih dua kali. Gelombang kesakitan menggulungnya ketika laki-laki itu membaca keras-keras, "Hsin Shuyang!" Tidak mungkin! Bagaimana ia bisa terpilih lagi? Hsin menatap, membeku, ketika jambangan yang paling kecil melintas dari tangan ke tangan, terus menuju kepadanya. Semua tergantung pada pilihannya. Ia menajamkan matanya pada kotak uang itu. Semua. ***************** Mulder telah berada di muka kemudi mobil sewaan ketika mobil itu keluar dari area parkir Organisasi Pengumpul Organ Tubuh. Ia berbelok ke salah satu jalan San Francisco yang sempit. Untuk pertama kali, tidak ada rambu lalu lintas. Ia menambah kecepatan, berharap mereka belum terlalu terlambat. Di sampingnya, Scully mendengarkan dengan tekun ponselnya. "Ya, terima kasih," katanya pada pesawat penerima. Ia berpaling kepada Mulder. "Perusahaan telepon memberiku alamat dari nomor telepon dokter itu," katanya kepada Mulder. Ia kembali

memperhatikan ponselnya. "Tiga satu satu Washington," katanya. "Baik. Terima kasih." Mulder parkir di depan restoran dengan pagoda merah kecil di muka pintu depannya. Tanda di depan pintu itu tertulis TUTUP. Di dalam restoran itu gelap. Lampu neon di atas pintu menerangi bangunan itu dalam cahaya yang merah suram. Mulder menatap bangunan itu dan tampak bingung. Itu seharusnya bukan restoran. "Tiga sebelas Washington, benar?" tanyanya pada Scully. "Yeah," kata Scully, bersuara dengan sama terkejutnya. "Ini adalah tempat di mana telepon dokter itu terdaftar." "Seperti klinik," gumam Mulder. Matanya menyipit seperti tidak asing lagi. Seorang bertubuh kurus dan kuat mendekat. "Hei, Scully, lihat siapa yang berada di sini." Glen Chao berjalan mendekati restoran yang tertutup itu, memeriksa jalan sekelilingnya dengan tidak peduli, lalu membuka kunci pintu dan masuk ke dalam bangunan itu. Mulder iersenyum. "Ini pastilah tempat itu." ***************** Hsin memegang jambangan jade kecil di atas kepalanya dan mencoba menahan gemetar tangannya. Ia memandang lagi kotak ukiran naga di sisi kendi dan berharap naga itu akan membawa keberuntungan baginya. Kerumunan orang di sekelilingnya menjadi riuh rendah ketika ia mengocok jambangan itu sekali, dua kali, tiga kali. Lalu mereka menjadi hening, menunggu Hsin mengambil sebuah kepingan. Hsin berdoa untuk keberuntungannya, lalu ia memasukkan tangannya ke dalam jambangan. Tangannya menggenggam sebuah kepingan segi tiga kayu. Ia tidak melihat pada kepingan yang diambilnya, tapi tetap menggenggamnya dengan erat di dalam kepalannya.

Tam berjalan menuju ke tempat Hsin dan membuka kepalannya. Kepalannya terbuka dan kepingan segi tiga diambil. Hsin tetap tidak berani melihat. Lalu ia mendengar Tam mengumumkan dengan suara yang lantang, "Xin!" Ruangan seakan meledak karena kata itu. Hsin berbalik, mencoba lari, tapi dinding manusia mengelilinginya. Menutupinya. Ia ditangkap seperti kelinci yang kena perangkap para pemburu. Tam menangkap Hsin dengan kasar dan menariknya menuju ke depan ruangan. "Kau tahu aturannya," katanya. Hsin memejamkan matanya yang masih normal. Ya, aku tahu aturannya, jawabnya tanpa suara. Dan sekarang aku akan mati untuk mereka. Semua mata mengikuti ketika Shuyang Hsin digiring menuju ke depan ruangan. Tidak seorang pun yang mengetahui seorang Cina muda yang menyelinap di belakang. Tanpa suara, Chao melihat ketika Hsin diseretuntuk membayar harga kesialannya.

Chapter 14

Mulder mencoba pintu yang dilalui oleh Chao tadi. "Pintu lain yang terkunci," gerutunya kepada Scully. "Kau tidak mengatakan padaku bahwa kau ingin menyerah sekarang, lalu pulang?" tanyanya dengan khawatir. "Tidak," kata Mulder, meraih ke dalam saku bagian dalam pakaiannya dan mengeluarkan sebuah alat logam yang tipis. Mencoba untuk terlihat seakan mereka sedang berdiri santai di jalan, Scully menutupi Mulder dari para pejalan kaki ketika ia sedang bekerja dengan capit itu. Beberapa menit kemudian kunci itu terbuka. Di dalam, semuanya tampak sunyi, ruang makan gelap dan sepi. Satu-satunya cahaya datang dari neon-neon merah di luar. Huruf-huruf Cina dilukis di jendela-jendela restoran, membentuk bayangan merah panjang melintang di lantai. Untuk beberapa saat Mulder berdiri terdiam, membiarkan matanya untuk menyesuaikan dengan kegelapan. Ia dapat melihat kursi-kursi yang terbalik di atas meja. Gelas-gelas, alat-alat makan dari perak, dan lipatan kain-kain serbet di atas meja dorong logam. Tidak ada tanda-tanda Glen Chao. Setelah yakin bahwa Chao tidak berada di dalam ruangan itu lagi, kedua agen itu menghidupkan senter mereka dan melangkah

lebih jauh ke dalam ruangan yang gelap itu. Ke mana perginya Chao? pikir Mulder. Dan mengapa seorang dokter bekerja di sebuah restoran? Mereka berjalan tanpa suara dari ruang makan menuju ke dapur. Sinar senter Scully memantul di meja logam. Kompor-kompor besar dan bak-bak cuci, tumpukan panci dan panci logam Cina, serta alatalat perabot rumah tangga bergelantungan di kaitan. Mulder berhenti, mencium udara. "Pastilah bukan masakan Cina yang kucium ini," katanya. Scully berjalan di belakangnya. Ia melihat sesuatu yang mengilap di lantai dekat kaki merekadan sebuah genangan di keramik lantai yang berwarna merah. Mulder membungkuk dan menyentuh cairan itu. "Baunya seperti alkohol gosok," katanya. "Atau es steril," saran Scully. Sumber cairan itu, yang dilihat Mulder, adalah sebuah lemari es stainlees steel yang besar. Logam itu bersinar ketika senter Mulder menyorotinya. Berjalan dengan cepat, Mulder menuju ke lemari es. Ia mengeluarkan bungkus demi bungkus makanan beku: telur, daging ayam, saus, sup... Scully mulai ingin tahu apakah pencarian itu hanya sia-sia ketika Mulder bertanya,"Scully, apa ini?" Senternya menerangi sebuah kotak plastik bening persegi panjang yang berisi es. Mulder mengambil kotak plastik itu dan mengeluarkannya dari lemari es, lalu membukanya. Stoples kecil bulat terkubur di dalam es itu. Mulder menyapu es itu sehingga ia bisa melihat ada apa di dalamnya. Rasa mual melanda dirinya ketika ia menyadari apa yang dipegangnya. Tapi ia tahu tanpa ragu lagi, bahwa mereka berada di tempat yang benar.

Di dalam kendi kaca, sebuah bola mata manusia beku menatapnya. ****************** Hsin duduk di kursi bersandaran keras itu. Kursi yang didudukinya sebelum ia kehilangan mata. Kursi yang diduduki Li sebelum ia kehilangan nyawanya. Hsin meminum teh yang diberikan kepadanya. Rasa gemetarnya telah berhenti. Ia juga sudah tidak sadar ketika dokter membuka matanya dan melihat pada kelopak matanya yang masih tersisa. Dokter itu memberi isyarat kepada asistennya, seorang pria yang berpakaian sama dengannya pakaian hijau muda, topeng bedah, dan sarung tangan karet. Bersama-sama mereka mengangkat tubuh kurus Hsin dari kursi dan membawanya ke meja operasi... Untuk malam itu permainan telah berakhir, ruangan permainan secara berangsur-angsur kosong. Mr. Lau membawa jambangan batu jade kecil menuju ke meja. Ia berhenti ketika Glen Chao mendekat dengan satu tangannya memegang pergelangan tangan Lau. Lau menaruh jambangan itu di atas meja lalu berbalik berhadapan dengan Chao. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya marah. "Aku tidak bisa membiarkan kau melakukan ini," jawab Chao. Lau menatap tajam tanda pengenal detektif itu. "Kau telah diperingatkan sekali, Chao," katanya. "Tidak akan ada peringatan lagi." Kali ini Chao tidak membiarkan dirinya menjadi takut. "Lepaskan Hsin," katanya. "Putrinya sedang sekarat. Kalian akan membunuh dua orang, bukan satu." "Itulah permainan, Mr. Chao. Itu adalah risiko-risikonya. Dan kau juga merupakan bagian dari itu seperti aku. Kami membayarmu banyak untuk melindungi permainan ini dari orang asing."

Chao mengangguk, seperti mengakui kebenaran kata-kata Lau. "Dan permainan ini," katanya perlahan, dan tanpa disangka-sangka suaranya meninggi menjadi sebuah teriakan, "Telah berakhir!" Sebelum ada yang bisa mencegahnya, Chao menuju meja di mana jambangan dan kotak uang terletak. Dengan cepat, dengan penuh kekuatan, ia memegang ujung meja dan membaliknya, menyebabkan kotak dan jambangan batu jade melayang. Kotak uang itu pecah berkeping-keping ketika menghantam lantai, membuat lembaran-lembaran ratusan dolar berserakan. Kedua jambangan batu jade pecah menjadi kepingan-kepingan bergerigi hijau. Chao memegang kaki meja itu, melihat apa yang telah dilakukannya. Matanya terpaku pada sisa pecahan jambangan batu jade yang kecil. Di antara pecahan batu jade itu terdapat lusinan kepingan merah. Semua kepingan itu berwarna merah. Tidak ada satu pun yang berwarna putih. "Itu sama semua," kata Chao, terpesona. Untuk pertama kalinya ia baru benar-benar mengerti bahwa undian itu sangat berbahaya. Itu adalah setan. Suaranya meninggi menjadi sebuah teriakan. "Permainan ini curang." Kata-katanya menimbulkan reaksi yang cepat. Para pemain yang masih tertinggal memaksa maju untuk melihat dan membuktikannya sendiri. Malam demi malam mereka duduk di ruangan ini, terperangkap dalam ketakutan dan keputusasaan. Sekarang gelombang kemarahan menyapu ruangan permainan itu, kemarahan itu menulari setiap orang. "Itu semua bohong!" teriak seseorang. "Permainan ini tidak ada pemenangnya!" teriak yang lain. Kerusuhan pecah di ruangan itu ketika para pemain mulai mengambil alih. Sekelompok orang menerjang ke meja kayu jati yang terjungkir dan menyerbu uang yang ada di lantai. Yang lainnya tidak tertarik pada uang itu. Yang mereka inginkan hanyalah balas dendam.

Mereka membanting meja-meja dan kursi-kursi. Pecahan-pecahannya dijadikan senjata. Lalu mereka mendatangi Lau dan Wong. ********************* Dalam kegelapan dapur Mulder dan Scully membeku. Mereka mendengar suara gaduhsuara orang marah dan sesuatu seperti perabotan jatuh ke lantai. "Apa itu?" tanya Scully. "Aku tidak tahu," kata Mulder, "Tapi sepertinya itu datang dari atas." ************************** Hsin berbaring terlentang di atas sebuah meja operasi darurat, tangan dan kakinya terikat selembar kulit tebal. Kemeja dan kaos dalamnya telah dilepaskan dari tubuhnya. Ia bernapas dengan ringan, napas lemah orang yang tidak sadar. Scully menyorotkan senternya ke belakang dapur. "Lewat sini," katanya, melihat sebuah pintu yang bertuliskan tanda KELUAR di atasnya. Kedua agen itu berlari menaiki tangga yang gelap, dengan pistol di tangan. Suara gaduh itu bertambah keras ketika mereka hampir mencapai lantai dua. Mulder mendorong pintu merah yang menuju ke ruangan permainan, lalu mereka berdiri terpaku. Scully dan Mulder seperti melangkah ke tengah-tengah kerusuhanhanya ia tidak tahu apakah mereka sedang berkelahi atau apa. Orang-orang berteriak, dorongmendorong. Yang lainnya mencoba melarikan dirinya secepat mungkin. Di tengah hiruk pikuk, seorang pria berusia setengah umur dengan kacamata bingkai kawat dan seorang dengan rambut beruban sedang gemetar di bawah serbuan pukulan yang tiada henti. Tanpa berkata-kata, Mulder dan Scully menonton adegan di sekeliling mereka. Ketika matanya mengamati kerumunan itu, Mulder

melihat seorang laki-laki yang sedang berjalan keluar menuju pintu belakang. Seorang yang mereka kenali sebagai Chao.

Chapter 15

Hsin bergerak dengan perlahan di dalam air yang gelap. Ia berada bermil-mil di bawah laut yang tak berujung. Ia mencoba berenang ke permukaan. Tapi lebih mudah membiarkan air membawanya, hanyut ke dalam arus deras yang hangat, yang berputar ke bawah menuju ke kedalaman. Tubuhnya terasa berat. Setiap gerakannya lambat, tubuhnya sakit. Bagaimanapun penting baginya untuk mencapai permukaan. Ada sesuatu di sana yang harus dilihatnya. Dan ia tahu bahwa jika ia membiarkan dirinya terseret menuju ke kedalaman laut, ia tidak akan pernah dapat mencapai permukaan lagi. Di ruang operasi darurat di belakang ruang permainan itu, sebuah meja berisi sekumpulan alat perlengkapan bedah: pisau bedah, pembalut, jarum suntik, dan sebuah kotak besar berisi es steril, menunggu organ tubuh. Di atas meja itu juga ada sesuatu yang bukan alat standar: beberapa botol kaca, yang masing-masing berisi kodok hidup. Hsin berbaring di meja operasi, secercah sinar terang menyorotinya. Teh itu sudah mulai bekerja. Ia benar-benar terdiam, tidak sadar, ketika asisten dokter itu menggunakan lap bedah untuk mengoleskan larutan betadin oranye ke atas kulit dadanya. Dokter itu menyobek gulungan plastik bedah yang panjang. Ia tidak melihat mata Hsin yang tersisa itu terbuka.

Hsin tidak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum ia mencapai permukaan. Yang ia tahu hanyalah akhirnya ia berhasil melalui air yang gelap itu. Arus air yang hangat menjadi lebih kuat. Ia tahu tidak akan dapat mencapai permukaan untuk waktu yang lama. Secepatnya ia akan memulai perjalanan panjang ke bawah. Tapi sekarang ia menarik napas dari udara yang manis, udara dingin dan sadar kalau kegelapan itu hanya di air itu. Untuk sesaat ia dapat melihat. Apa yang dilihatnya adalah hantu anaknya, Kim. Ia berjalan menuju Hsin, matanya penuh duka cita. Ia tidak mencoba bicara, tapi Hsin tahu pasti, Kim meratapinya. Ia ingin menghiburnya seperti sewaktu Kim masih seorang gadis kecil. Memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Air mata mengalir di pipinya, tapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk bergerak. Kim memegang tangannya dan tersenyum, seakan ia hendak mengajak Hsin mengikutinya. Ia tahu itu tidak mungkin. Ia tidak akan pernah mengikutinya lagi. "Maafkan aku," bisiknya kepada khayalannya itu. "Aku mohon kepadamu untuk mengampuniku." Lalu Hsin melihat Dokter itu melangkah menuju kegelapan. Ia mengenakan jubah dan topeng, seperti dokter-dokter di rumah sakit di mana Kim menjalani pemeriksaan. Hsin berjuang mencari bayangan putrinya. Ke mana ia pergi? Apakah ia mendengarkannya? "Ampuni aku," katanya lagi. Asisten itu mengulurkan sebuah pisau bedah stainless steel kepada Dokter itu. Suara Dokter itu keras dan sinis ketika menjawab permohonan Hsin yang putus asa itu, "Mereka memaafkanmu." Dengan mantap ia memegang pisau bedah itu, menurunkannya ke atas dada Hsin dan mulai membuat irisan di atas kulit bernoda oranye itu.

Dokter itu baru saja memulai kerjanya ketika pintu terbuka dengan keras dan Chao menyerbu ke dalam ruangan. Pistolnya digenggam dengan kedua tangannya. "Mundur!" perintah Chao. "Kau sudah sangat terlambat," jawab Dokter itu, meneruskan irisan itu. "Kubilang, mundur!" teriak Chao. "Chao, jangan bertindak bodoh," jawab Dokter itu. Chao tidak mempedulikan peringatan itu. Ia membidik, lalu menarik picu. Peluru mengenai kaki si Dokter, sampai terpelanting. Ia jatuh ke belakang dan mendarat dengan keras di lantai. Tiba-tiba di belakang Chao, suara Mulder terdengar dari seberang ruangan. "Chao, angkat tangan!" perintahnya. "Angkat tangan!" Dengan perlahan Chao mengangkat tangannya, dan menjatuhkan senjatanya ke lantai. Scully berjalan ke dalam ruangan itu, mengarahkan pistolnya ke arah asisten dokter. Ia menyentuh leher Hsin dengan jarinya, mencari denyut jantung. Ujung jarinya merasakan denyutan lemah tapi tidak terputus-putus di urat nadinya. "Ia masih hidup," katanya. Mulder tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Ia mendorong Chao menghadap ke tembok dan memborgolnya. Chao tidak memperhatikan borgol itu. Perhatiannya pada pria yang terluka di lantai. Mulder mengikuti pandangan Chao. Meskipun ia telah tertembak di bahunya, ketenangannya mengganggu, menatap Chao dengan pandangan mata yang dingin. "Kau seharusnya membunuhku," katanya kepada Chao dalam bahasa Cina. Mulder memandang dari Chao lalu ke Dokter itu,"Apa yang dikatakannya?"

Chao kelihatannya terkejut, seperti seorang yang tahu kalau ia kena kutukan. Matanya tidak pernah beralih dari Dokter itu ketika ia menerjemahkannya kepada Mulder, meskipun tidak secara harafiah, tapi cukup tepat: "Ia bilang bahwa permainan itu belum selesai." Chapter 16

Pada pukul sepuluh pagi esok harinya, Scully berdiri di salah satu ruangan interogasi kantor polisi San Francisco. Ruangan itu bersinar suram, penghematan dengan lampu di atas meja di tengah ruangan, di mana dokter yang bernama Yip, duduk. Sebuah kain menahan lengannya yang terluka akibat tembakan Chao. Ia tidak merasa terganggu karena cidera ataupun berada di dalam tahanan polisi. Dengan santai ia merokok sebatang sigaret. Ia bicara dengan tenang, berbunga-bunga, seperti sedang menceritakan sebuah dokumentasi cerita rakyat Cina. "Orang-orang kami hidup bersama hantu-hantu. Hantu-hantu ayah kamidan hantuhantu ayah dari ayah kami." Scully mendengarkan, tidak terkesan. "Mereka memanggil kami dari kenangan yang jauh," lanjutnya. "Menunjukkan kami jalannya." Scully tidak tahan lagi dengan sandiwaranya itu. "Tidak ada hantu-hantu yang memanggil orang-orang itu," katanya kepada Yip. "Kau yang melakukannya, dengan memangsa mereka yang tanpa harapan dan putus asa." "Ya, mereka telah putus asa," ia mengakuinya. "Sama seperti keputusasaanku ketika aku pertama kali datang ke negara initapi aku telah bertekad untuk tidak melakukan kejahatan."

Suara Scully meninggi. "Kau tipu orang-orang itu dengan menjanjikan kemakmuran kepada mereka, sedangkan satu-satunya kemungkinan hadiah hanyalah kematian." "Dalam keyakinanku, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti itu hanyalah suatu tingkatan dari suatu peralihan. Tapi hidup tanpa harapansekarang, adalah hidup di neraka. Maka harapan adalah hadiahku kepada orang-orang ini." Ia melihat ekspresi menghina dari Scully. "Aku tidak mengharapkan kau akan mengerti." "Aku mengerti hal ini," kata Scully. "Kau akan di penjara untuk waktu yang sangat lama." Lalu pintu di belakang Yip terbuka, dan Mulder menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan. "Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?" tanyanya kepada Scully. Scully kembali memandang Yip untuk terakhir kali, lalu ia mengikuti Mulder ke dalam lorong. Ia melihat Letnan Neary masih bersama Mulder. Mulder menutup pintu di belakang mereka lalu berbalik menghadap ke arah Scully. "Aku baru saja kembali dari Rumah Sakit St. Francis," kata Mulder. "Hsin masih dalam perawatan intensif. Ia telah diberi semacam obat yang membuatnya tidak sadar; mereka tidak tahu apa obat itu, tapi ia sudah sadar sekarang. Mereka hanya ingin melihat ia sebentar." "Bagaimana dengan putrinya?" tanya Scully. "Aku telah memeriksa Organisasi Pengumpul Organ Tubuh," kata Mulder. "Ia telah dimasukkan ke dalam daftar penerima donor." "Hebat," kata Scully. Lalu, merasa ada sesuatu yang belum dikatakan, ia bertanya, "Ada apa?" Neary dan Scully saling memandang.

"Kasus kita melawan pria ini," kata Neary, mengangguk ke arah ruangan interogasi itu. "Kami telah menugaskan pasukan kami untuk mewancarai setiap orang yang kami tangkap di ruangan permainan itu tadi malam." "Dan?" tanya Scully. "Mereka semua tutup mulut," kata Mulder. "Mereka semua mengakui bahwa mereka adalah anggota suatu klub sosial, dan mereka tidak melihat apa pun." "Yah, bagaimana dengan Chao?" tanya Scully, tidak sabar dengan semua pembicaraan mengenai hantu-hantu. "Kesaksiannya sendiri akan cukup untuk menahan orang itu." Neary menatap lantai. "Kami tidak dapat menemukannya." "Chao harus bersaksi di depan Dewan Juri pagi ini," Mulder menjelaskan. "Ketika ia tidak muncul, polisi pergi ke rumahnya. Ia telah menghilang."

Chapter 17

Glen Chao terbangun ketika mendengar sebuah tombol ditekan. Perlahan-lahan ia mulai sadar. Ia berbaring terlentang datar di suatu ruangan yang sempit, dindingnya menutupi sekelilingnya dan atapnya begitu rendah sehingga ia tidak bisa duduk. Kepalanya sakit dan otaknya terasa kebas. Ia tidak dapat mengingat kenapa tertidur. Ia tidak tahu di mana ia berada. Tidak ada sesuatu pun yang dikenalinya. Kecuali setitik api biru yang kelihatan di sudut matanya. Lalu ia mendengar suarasuara gas yang berdesis keluar terus menerus dari lusinan lubang kecil, diikuti oleh munculnya suara yang menyakitkan ketika pancaran gas itu mulai hidup Dan ia tahu persis di mana ia berada. Di dalam krematorium. Sudah panas, panas yang tak tertahankan. Ia dapat merasakan dan mencium bau rambut dan pakaiannya yang mulai terbakar. Chao melakukan satu-satunya hal yang dapat dilakukannya. Ia meraih ke dalam sakunya dan mengeluarkan setumpuk kunci. Dengan putus asa, ia menggunakan kunci itu untuk menggores permukaan atap ovenpesan terakhir untuk ditemukan orangnama orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.

Hanya memerlukan waktu sebentar. Selesai, Chao menatap kerjanya dengan pandangan puas. Lambang yang sama dengan yang telah digoreskan oleh johnny Lo di dalam oven yang sangat mirip. Lalu sebuah suara mendesing memenuhi ruangan itu dan tabir api yang besar memenuhi krematorium. Dengan cepat yang tertinggal dari Detektif Chao hanyalah setumpuk abu. Dan pada atap oven, sebuah simbol dalam huruf Cina untuk Hantu.