Anda di halaman 1dari 12

Makalah BIOKIMIA Dosen : dr.

Saifuddin Sirajuddin, Ms

PROTEINURIA atau ALBUMINURIA

Disusun oleh

MEYLHAN PURNAMA YULIA UTAMI (K11112043) KESMAS B

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR
Bismillahir Rahmanir Rahim
Puji syukur kita panjatkan atas kenikmatan yang ALLAH SWT. Telah berikan kepada kita, nikmat udara yang tidak perlu dibeli, nikmat kesehatan, kesempatan, yang tidak seorangpun bisa memberikannya kepada kita kecuali ALLAH SWT. Shalawat serta salam kita hanturkan kepada nabi agung kita yang merupakan suri tauladan bagi seluruh manusia yaitu baginda MUHAMMAD SAW. Sahabat, istri, serta orang-orang muslim yang senantiasa istiqomah di jalannya. Sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah BIOMEDIK (BIOKIMIA) yaang berjudul PROTEINURIA atau ALBUMINURIA tepat pada waktunya. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari dukungan orang-orang disekitar kami. Hanya ucapan terimaksihlah yang bisa kami berikan kepada mereka, yang senantiasa mendukung kami dalam terselesaikannya makalah ini. Ucapan terimakasih juga kami tuturkan kepada dosen mata kuliah BIOMEDIK (BIOKIMIA) yang telah memberikan arahan dalam pembuatan makalah ini. Kami tahu bahwa makalah ini tidak akan terlepas dari kesalahan., karena yang membuatnya hanyalah orang-orang biasa yang tidak luput dari kesalahan, oleh karena itu kami memohon maaf apabila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini, serta kami meminta kritik dan saran yang membangun agar kedepannya dapat menjadi sebuah senjata bagi kami untuk menjadi lebih baik.

DAFTAR ISI

Sampul.................................................................................................... Kata Pengantar....................................................................................... Daftar isi................................................................................................

1 2 3

1. BAB I PENDAHULUAN........................................................ 1.1 Latar Belakang.............................................................. 1.2 Rumusan Masalah......................................................... 1.3 Tujuan Penulisan...........................................................

4 4 5 6

2. BAB II PEMBAHASAN......................................................... 2.1 Pengertian Prteinuria....................................................... 2.2 Gejala proteinuria........................................................... 2.3 Penyebab proteinuria ...................................................... 2.4 Komplikasia proteinuria................................................. 2.5 Pemeriksaan Albumin Urin............................................ 2.6 Penanganan Protenuria..................................................

7 7 7 8 8 8 9

3. BAB III PENUTUP................................................................. 3.1 Kesimpulan................................................................... 10 3.2 Saran ..............................................................................

10

11

BAB 1 PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Penyakit ginjal kronik (PGK) tahap akhir merupakan masalah yang besar oleh karena

insidensinya yang semakin meningkat di seluruh dunia juga di Indonesia. Penderita Diabetes Mellitus (DM) memiliki resiko yang cukup besar untuk mendapatkan penyakit ginjal. Diperkirakan 7 kali lebih besar dari orang yang bukan DM. Menurut data dari United State Renal Data System (USRDS) 2006 Diabetes Mellitus merupakan penyebab utama gagal ginjal tahap akhir di dunia Barat maupun di Asia. Sebanyak 25-40% DM tipe 1 dan 5-10% DM tipe 2 akan menjadi penyakit ginjal tahap akhir melalui Nefropati Diabetik (ND). Prevalensi ND di negara Barat sekitar 16%. Di Thailand ND dilaporkan sekitar 29,4%, di Filipina sebesar 20,8%, sedangkan di Hongkong sekitar 13,1%. Di Indonesia prevalensi ND tahun 1983 hanya 8,3% dan tahun 1990 meningkat 2 kali lipat, bahkan tahun 2000 sudah menduduki urutan kedua sebagai penyebab terjadinya PGK setelah glomerulonefritis. Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup USRDS memperkirakan pada tahun 2030 lebih dari 2,2 juta individu akan mengalami PGK tahap akhir sehingga dibutuhkan identifikasi awal untuk memperlambat progresivitas penyakit ginjal terhadap pasien yang memiliki resiko untuk terjadinya PGK. Tes urin dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit-penyakit pada manusia. Ini membuktikan bahwa urin merupakan suatu media tes yang ideal bagi para dokter, karena tes ini non invasive, dan hasil dari pemeriksaan dapat diperoleh beberapa menit. Proteinuria dan albuminuria merupakan faktor utama penentu terjadinya perburukan fungsi ginjal yang telah dibuktikan dengan beberapa penelitian. Remuzzi G menyatakan reabsorbsi protein oleh sel tubulus proksimal yang amat meningkat menimbulkan inflamasi interstisial dan reaksi fibrogenik yang menimbulkan jaringan ikat, sehingga kemampuan reabsorbsi menjadi berkurang Pemeriksaan tes protein urin dengan semi kuantitatif memberikan hasil positif bila ekskresi protein urin sudah sangat besar. Proteinuria akibat kerusakan glomerulus, ditandai oleh adanya protein dengan berat molekul tinggi dalam urin. Menurut Carrie dan Myers hal ini dapat terjadi karena adanya kerusakan luas membrana basalis glomerulus yang mengakibatkan glomerulus tidak mampu melakukan filtrasi selektif berdasarkan ukuran, muatan listrik dan konfigurasi bentuk molekul protein. Dalam keadaan normal, sejumlah kecil albumin difiltrasi oleh glomerulus dan hampir seluruh albumin direabsorbsi oleh tubulus
4

proksimal. Oleh karena itu kadar albumin urin sangat rendah dan tidak terdeteksi dengan test protein urin secara konvensional maupun secara dipstik. Proteinuria memiliki peranan penting pada PGK karena berbagai alasan diantaranya dapat digunakan sebagai petanda kerusakan ginjal, clue terhadap tipe atau diagnosis dari PGK, faktor resiko untuk terjadinya hasil akhir sampingan sehingga proteinuria dapat digunakan untuk memprediksi kecepatan progresivitas PGK, peningkatan resiko penyakit jantung koroner, menilai efek modifikasi terhadap intervensi yang dilakukan, marker surrogate dan target terhadap terapi. Pada banyak kasus proteinuria seperti Nefropati Diabetik maupun Nefropati Non Diabetik para klinisi tidak cukup puas dengan pemeriksaan proteinuria kwalitatif. Karena protein yang dikemihkan setiap saat sepanjang 24 jam tidak selalu sama bahkan bisa bervariasi sangat jauh. Mereka ingin lebih tahu jumlah total protein yang dikeluarkan selama 24 jam agar dapat mengetahui sejauh mana tingkat kerusakan ginjal yang terjadi. Sampai saat ini pemeriksaan Protein Urin 24 jam masih merupakan gold standard untuk mengetahui jumlah total protein yang diekskresikan. Sayangnya pemeriksaan Protein Urin 24 jam ini tidak menyenangkan buat pasien terutama pada pasien rawat jalan, karena harus menampung urinnya setiap kali berkemih dan tentunya menyulitkan bagi pasien-pasien yang bekerja seharian. Selain itu penampungan urin 24 jam sering terjadi kesalahan (error) karena inadequate ataupun kelebihan dalam pengumpulan urin. Belakangan ini muncul laporan pemeriksaan Protein to Creatinine Ratio (PCR) yaitu membandingkan kadar protein urin dengan kreatinin urin. Pemeriksaan PCR dilakukan pada sampel urin spot sehingga lebih mudah tingkat kepatuhan pasien dan kesalahan (error) sampel hampir tidak ada. Pemeriksaan PCR mulai banyak diuji para ahli pada berbagai penyakit yang menimbulkan proteinuria dengan harapan dapat menjadi pengganti pemeriksaan Protein Urin 24 jam. Oleh karena itu penelitian ini ingin mengetahui apakah ada korelasi antara PCR dengan Protein Urin 24 jam pada pasien Nefropati Diabetik. National Kidney Foundation Kidney Disease Outcome Quality Initiative (NKF-K/DOQI) menyarankan pemeriksaan penunjang ratio protein terhadap kreatinin dengan urin pertama pada pagi hari atau urin sewaktu pada semua pasien PGK. Roger A. Rodby,MD dkk dari George Washington University, Washington, DC tahun 1995 melakukan penelitian, bahwa pengukuran PCR dapat digunakan untuk memprediksi proteinuria pada pasien ND. Ayman M. Wahbeh dkk dari University of Jordan tahun 2009 telah membuktikan adanya korelasi yang baik antara PCR dan ekskresi protein urin 24 jam pada pasien ND.
5

Derhaschnig dkk tahun 2002 melakukan penelitian terhadap pasien hipertensi, ditemukan PCR dengan sensitivitas 87.8%, spesifisitas 89.3%, positif prediktif value (PPV) 29.3% dan negatif prediktif value (NPV) 96.2%.

2.

Rumusan Masalah Adapun rumusan masalahnya adalah 1. Apa pengertian dari proteinuria atau aibuminuria ? 2. Bagaimana gejala dari penyakit priteinuria ? 3. Apa penyebab penyakit proteinuria ? 4. Kompiliasi penyakit proteinuria 5. Bagaimana pemeriksaan urin aibumin ? 6. Bagaimana penanganan penyakit proteinuria ?

3. Tujuan penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. Baik penulis maupun pembaca dapat mengetahu mengenai penyakit proteinuria 2. Mengetahui gejala-gejala dari penyakit proteinuria 3. Mengetahui penyebab dari penyakit proteinuria 4. Dan mengetahui penanganan yang tepat bagi penderita penyakit protenuria.

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Albuminuria atau Proteinuria Albuminuria atau proteinuria adalah suatu kondisi dimana terlalu banyak protein dalam urin yang dihasilkan dari adanya kerusakan ginjal. Proteinuria pada diabetes biasanya merupakan hasil dari hiperglikemia baik jangka panjang (kadar gula tinggi) atau hipertensi (tekanan darah tinggi). Ketika ginjal bekerja dengan benar , maka menyaring produk limbah keluar dari darah akan tetapi tetap menyimpan unsur penting termasuk albumin. Albumin adalah protein yang membantu dalam mencegah air bocor ke luar dari darah ke jaringan lain. Protein plasma adalah komponen penting dari setiap makhluk hidup , dan ginjal berperan sangat penting dalan retensi protein plasma dengan tubulus ginjal yang berfungis mereabsorbsi protein melewati penghalang filtrasi gromerulus. Ekskresi protein urine normal hingga 150 mg/hari. Oleh karena itu, jika jumlah protein dalam urine menjadi abnormal, maka dianggap sebagai tanda awal penyakit ginjal atau penyakit sistemik yang signifikan. Jika kadar gula darah tinggi selama beberapa tahun kerusakan ginjal, maka kemungkinan akan terlalu banyak albumin akan hilang dari darah. Proteinuria merupakan tanda bahwa ginjal telah rusak.

2. Gejala proteinuria Tanda-tanda proteinuria hanya akan menjadi nyata setelah ginjal sangat rusak dan tinggak protein dalam urine tinggi. Jika ini terjadi , gejala dapat muncul sebagai pembengkakan pergelangan kaki , tangan, perut, atau wajah. Karena gejala hanya terjadi pada tahap kerusakan ginjal , penting bahwa sebagai penderita diabetes dianjurkan untuk memeriksa tanda-tanda penyakit ginjal sekali setahun. Timbulnya oedem (pembengkakan berisi cairan) pada daerah-daerah tertentu. Oedem ini timbul karena kuranganya kadar protein albumin di dalam darah sehingga tekanan osmotik di dalam pembuluh darah semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan cairan yang ada di pembuluh darah akan merembes ke jaringan-jaringan lain di luar pembuluh sehingga timbullah oedem. Skining ini membutuhkan sampel urin yang akan diuji oleh layanan kesehatan untuk setiap tingkat abnormal protein. Untuk melakukan ini , perlu dilakukan perbandingan rasio albumin kreatinin. Rasio kadar albumin terhadap kreatinin sebagai berikut :
7

Pria

: kurang dari atau sama dengan 2,5 mg/mmol

Wanita : kurang dari atau sama dengna 3,5 mg/mmol

3. Penyebab proteinuria Penyakit Albuminuria adalah simtoma terdapatnya sejumlah konsentrasi albumin di dalam urin. Albumin yang mencapai ginjal melalui pembuluh darah pada umumnya akan mengalami filtrasi pada glomerulus dan diserap kembali oleh tubula proksimal menuju sirkulasi darah. Laju albumin yang terlepas dari penyerapan proksimal ke dalam urin, yang melebihi 150 miligram/24 jam telah dianggap secara medis sebagai patologis. Penyebab penyakit albuminuria :

Kurangnya asupan air ke dalam tubuh , jadinya memperberat kerja ginjal Asupan protein, kalsium, dan vitamin C berlebihan membuat glomerulus harus bekerja lebih keras.

Kadar glukosa darah tinggi selama bertahun-tahun. Tekanan darah tinggi juga mengakibatkan perkembangan kerusakan ginjal.

4. Komplikasi proteinuria Edema paru karena overload cairan Gagal ginjal akut akibat penipisan intravaskular Peningkatan resiko infeksi bakteri, termasuk bakteri peritoritis Peningkatan rsdiko trombosis arteri dan vena, termasuk trombosis vena ginjal Peningkatan resiko penyakit kardiovaskular

5. Pemeriksaan albumin urin Dua metode yang umum digunakan untuk mendeteksi albumin yaitu metode dipstick dan menggunakan presipitat asam sulfosalisilat. Metode dipstick didasarkan pada kemampuan protein untuk mengubah warna tertentu dengan indikator asam-basa seperti, tetrabromophenol blue tanpa mengubah pH. Ketika berwarna buffer pada Ph 3 itu adalah kuning, penambahan peningkatan konsentrasi protein merubah warna manjadi hijau dan kemudian menjadi biru. Perubahan awarna dibandingkan dengan bagan warnan dimana konsentrasi protein dinilai dari tanda batas sampai 4+, sesuai dengan konsentrasi dari 1 sampai 10 mg/dl ke lebih besar dari 500 mg/dl.

Sebuah tes dipstick rutin dilakukan untuk melihat apakah molekul protein yang besar dipertahankan dalam darah dan hanya kotoran yang lebih kecil disaring oleh ginjal. Kadang-kadang protein dapat muncul dalam urin karena kadar protein yang tinggi dalam darah, oleh karena itu, penting untuk memeriksa tingkat protein dalam darah juga. Jika ginjal rusak, albumin urine akan tinggi bahkan jika tingkat darah normal. Sejauh pengobatan albuminuria yang bersangkutan, penyebab yang mendasari harus dirawat. Jika seseorang menderita diabetes dan hipertensi, sangat penting bahwa kadar glukosa dikendalikan. Mereka yang menderita diabetes dan tekanan darah tinggi mungkin perlu angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor atau angiotensin receptor blocker (ARB) untuk melindungi fungsi ginjal. Dokter mungkin juga meresepkan diuretik tertentu untuk menyingkirkan kelebihan cairan dari tubuh.

6. Penanganan proteinuria Dasar penanganan proteinuria adalah : Pengobatan non-spesifik, yaitu pengoobatan di uar dari penyakit yang mendasari, dengan asumsi pasien tidak memiliki kontraindikasi terhadap terapi Penobatan spesifik yaitu pengobatan yang tergantung pada penyebab ginjal/renal atau non-renal.

B. Karakteristik albuminuria pada penderita DMT2 Berdasarkan klasikasi albuminuria dari 69 penderita DMT2 dengan kreatinin serum 1,4 mg/dl didapatkan 39 (56,5%) penderita DMT2 dengan normoalbuminuria, 23 (33,3%) penderita DMT2 dengan mikroalbuminuria dan 7 (10,2%) penderita DMT2 dengan makroalbuminuria. Rerata normoalbuminuria 7,9 (SD 6,5) g/mg kreat dengan rentang 1 . 25 g/mg kreat. Rerata mikroalbuminuria 107,9 (SD 68,6) g/mg kreat dengan rentang 36 . 250 g/mg kreat, sedangkan rerata makroalbuminuria 837,6 (SD 422,3) g/mg kreat dengan rentang 442 . 1388 g/mg kreat.
1. Karakteristik penderita DMT2 berdasarkan penggolongan albuminuria

Berdasarkan penggolongan albuminuria (normo, mikro dan makroalbuminuria), tidak ada perbedaan pada usia subyek, BMI, tekanan darah diastole, lama menderita DM, GDP, Hb, kreatinin serum, albumin plasma, ALT, AST, kolesterol total dan kadar HDL pada kelompok albuminuria. Namun Tekanan darah sistole, kadar HbA1C, kadar LDL dan kadar TG lebih tinggi pada penderita DMT2 makroalbuminuria dibanding kelompok normo, dan
9

mikroalbuminuria Dari tabel 2 di atas, bila dinyatakan dalambentuk grak, terdapat kecenderungan / peningkatan derajat albuminuria seiring dengan peningkatan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kadar HbA1C, kadar kolesterol total, kadar LDL dan kadar TG. Kecenderungan yang sama peningkatan albuminuria, juga dijumpai seiring dengan peningkatan kreatinin serum. Namun trend peningkatan derajat albuminuria didapatkan pada penurunan kadar HDL gambar

BAB III PENUTUP 2. Kesimpulan Albuminuria merupakan penyakit yang disebabkan terlalu banyaknya kadar protein dalam urin. Kondisi ini terkadang disebut juga sebagai mikroalbuminuria yang menunjukkan tingkat yang sedikit lebih tinggi protein dalam urin. Proteinuria yang terbuka atau makroalbuminuria menunjukkan lebih dari 300mg albumin dalam urin per hari. Albuminuria yang terus menerus terjadi menunjukkan bahwa ginjal mengalami kerusakan dan mulai mengeluarkan albumin atau protein ke dalam urin. Bila dalam beberapa minggu terdapat dua kali tes yang menyatakan bahwa urin positif mengandung albumin berarti Anda didindikasikan mengalami albuminuria tetap yakni tanda awal penyakit ginjal diabetes. Penyebab albuminuria lainnya adalah tekanan darah tinggi, gagal jantung kongesti, sindrom metabolik, atau kerusakan ginjal dari sindrom nefrotik. Meskipun
10

tidak mengalami penyakit ini, urin yang mengandung albumin lebih tinggi dari normal berisiko menyebabkan penyakit jantung. Pada pasien dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis lainnya kemungkinan besar dapat mengembangkan albuminuria yang lebih cepat dari penyakit ginjal kronis dan kemungkinan besar bahwa mengalami gagal ginjal. Sekitar 8 persen orang dewasa memiliki mikroalbuminuria (yaitu ekskresi 30 sampai 300 mg albumin per 24 jam) dan 1 persen memiliki makroalbuminuria (yaitu ekskresi lebih dari 300 mg albumin per 24 jam). Albuminuria terdeteksi pada satu dari setiap tiga orang dengan diabetes, satu dari setiap tujuh orang dengan tekanan darah tinggi yang tidak menderita diabetes, dan satu dari setiap enam orang yang lebih tua dari 60 tahun. Semua orang dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang berusia antara 12 hingga 70 tahun harus menjalani tes urin untuk albuminuria setidaknya sekali setahun. Saat ini skrining albuminuria disarankan bagi pasien yang memiliki risiko penyakit ginjal kronis, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit sistemik, yang berusia lebih dari 60 tahun, dan memiliki riwayat keluarga penyakit ginjal kronis. Jika hasilnya positif maka harus dipastikan dengan tes urin kedua. Beberapa kondisi lain seperti tekanan darah tinggi juga bisa menyebabkan albuminuria. Tes juga akan menunjukkan hasil yang positif bila dilakukan selama menderita penyakit, olahraga berat, infeksi saluran kemih. Orang yang memiliki kebiasaan merokok juga dapat memiliki tes positif.

3. Saran Adapun saran yang dapat saya berikan selaku penyusun dari makalah ini adalah sebaiknya kita memerhatikan makanan yang kita konsumsi, jangan sampai berlebih atau bahkan kekurangan. Dalam hal ini perhatikan kandungan gizi dalam makanan. Protein merupakan zazt gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita. Jadi, mengkomsumsi makanan yang mengandung sangat diperlukan tetapi jangan sampai berlebih karena sesuatu yang berlebih memiliki dampak negatif, seperti penyakit-penyaikit ginjal. Dan kekurangan protein dapat mengakibatkan marasmus, kwasiorkor, hongeroedem.

11

DAFTAR PUSTAKA

www. Jurnal/proteinuria_albuminuria.com www. Artikel Kedokteran, Blog, Social Media, Tutorial dan Berita.com www.jurnal kesehatan2010.com/protein.com Profill Albuminuria dan Kadar sVCAM-1 pada Penderita Diabetees Melitus Tipe 2 Wibisono C, Fajar A, Tjokroprawiro A, Soetjahjo A, Pranoto A, Adi S, Murtiwi S JOURNAL OF INSURANCE MEDICINE Copyright Q 2004 Journal of Insurance Medicine J Insur Med 2004;36:262266

12