Anda di halaman 1dari 0

i

ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN KALA III PADA Ny. E


UMUR 26 TAHUN G
1
P
0
A
0
DENGAN RETENSIO PLASENTA
DI RSU ASSALAM GEMOLONG SRAGEN
TAHUN 2012

KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat Tugas Akhir
Pendidikan Diploma III Kebidanan












Disusun Oleh :
RIKA NURMAYANTI
NIM. B09.103




PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2012
iv

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi robbil aalamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul :
Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Kala III pada Ny. E Umur 26 Tahun G
1
P
0
A
0
dengan
Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen .
Karya tulis ilmiah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas akhir
sebagai salah satu syarat kelulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kusuma Husada
Surakarta.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan pengarahan dari berbagai pihak,
karya tulis ilmiah ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Kusuma Husada Surakarta;
2. Ibu Dheny Rohmatika, S.SiT, selaku Ka. Prodi D III Kebidanan Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Kusuma Husada Surakarta;
3. Ibu Aprilia Dyah Rahmawati, S.ST, selaku Dosen Pembimbing yang telah
meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk dan bimbingan kepada penulis;
4. Ibu dr. Wiwiek Irawati, M.Kes, selaku Direktu RSU Assalam Gemolong Sragen,
yang telah bersedia memberikan ijin pada penulis dalam pengambilan data dan
penggunaan lahan untuk uji penelitian;
v

5. Bapak Ir. Budi Sulihanto, M.Si, selaku Kepala BAPPEDA Kab. Sragen KABID.
Statistik Pengendalian dan Evaluasi yang telah bersedia memberi ijin pada
penulis dalam pelaksanaan survey di wilayah Kabupaten Sragen;
6. Seluruh dosen dan staff Prodi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Kusuma Husada Surakarta atas segala bantuan yang diberikan;
7. Bagian perpustakaan yang telah membantu penulis dalam memperoleh referensi
dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini;
8. Semua teman-teman Prodi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Kusuma Husada Surakarta angkatan tahun 2009;
9. Semua pihak yang telah banyak menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam
penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Semoga dengan kekurangan ini akan menjadikan pembelajaran yang
berguna bagi masa yang akan datang dan tak lupa penulis mohon kritik dan saran
yang membangun, oleh karena itu penulis membuka saran demi kemajuan penelitian
selanjutnya untuk penyusunan karya tulis ilmiah. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak. Amin

Surakarta, Juli 2012

Penulis
vi
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kusuma Husada Prodi DIII Kebidanan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2012
Rika Nurmayanti
09.103
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN KALA III PADA Ny. E
UMUR 26 TAHUN G
1
P
0
A
0
DENGAN RETENSIO PLASENTA
DI RSU ASSALAM GEMOLONG SREGEN
TAHUN 2012
xiv + 98 halaman, + 12 lampiran+ 1 tabel, + 2 gambar
INTISARI
Latar Belakang : Angka kematian ibu di Indonesia adalah 226 per 100.000
kelahiran hidup. Sekitar 20 persen dari ibu melahirkan perlu penanganan khusus
karena mengalami perdarahan .salah satu diantaranya adalah retensio plasenta
yaitu belum lahirnya plasenta setelah setengah jam bayi lahir, sehingga
memerlukan adanya pengawasan yang intensif dan penanganan yang tepat untuk
mengurangi terjadinya perdarahan terutama karena retensio plasenta.
Tujuan : Mampu melaksanakan asuhan kebidanan ibu bersalin kala III dengan
retensio plasenta dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan
Varney.
Metode : Jenis observasional deskriptif, subyek yang diambil Ny. E dengan
retensio plasenta, lokasi pengambilan kasus di RSU Assalam Gemolong Sragen,
waktu pelaksanaan 17 Juni 19 Juni 2012, instrumen yang digunakan adalah
format asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan manajemen kebidanan
7 langkah Varney dan observasi kala IV, teknik pengumpulan data dengan cara
wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan studi
kepustakaan.
Hasil : Setelah dilakukan asuhan kebidanan secara tepat dengan tindakan manual
plasenta, pemberian uterotonika, antibiotik, perbaikan laserasi, medika mentosa
dan pemberian KIE sesuai kebutuhan, hasil yang dicapai Ny. E dalam keadaan
baik, vital sign normal, plasenta lahir lengkap, kontraksi uterus keras, TFU 2 jari
dibawah pusat, PPV 30 cc, Hb 11,6 gr% dan diagnosa potensial tidak terjadi.
Kesimpulan : Pada penanganan kasus Ny. E dengan retensio plasenta ada
kesenjangan antara teori yang ada dengan praktik dilapangan yaitu dalam
pemberian antibiotik. Antibiotik yang digunakan adalah ceftriaxone sementara
dalam teori menggunakan ampicillin, tetapi penggunaan antibiotik ini juga
memmiliki indikasi yang sama yaitu perlindungan dari infeksi setelah tindakan
operasi. Selain itu juga terdapat perbedaan dalam tindakan asuhan tetapi asuhan
yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ibu.


Kata Kunci : Asuhan kebidanan, Ibu bersalin, Retensio plasenta.
Kepustakaan : 34 literatur (2002-2011)
vii

MOTTO
[ Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan
pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusuhan dan
penghianatan
(Johan Wolfgang Goethe)
[ Teman sejati adalah dia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda
(Heather Pryor)
[ Apa pun tugas hidup anda lakukan dengan baik, seseorang semestinya
melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih
hidup, yang sudah mati, dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya
lebih baik lagi
(Martin Luther King)








viii

PERSEMBAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini penulis persembahkan kepada :
Ibuku tersayang, yang senantiasa memberi doa dan cinta kasih untukku.
Bapak, meski kita terpisah dan tak ada lagi tanya sapamu untukku, tapi aku
yakin di dasar lubuk hatimu ada doa yang indah untukku.
Kakakku dan kakak iparku (Mas Yanto dan Mbak Winda) yang selalu
menyemangatiku dan tebarkan keceriaan dalam hidupku.
Bu Ajeng Putriningrum selaku pembimbing akademik, yang sudah
memberikan beratus-ratus ACC askebku untuk mendapatkan golden ticket
menuju tugas akhirku.
Bu Aprilia Dyah Rahmawati selaku dosen pembimbing, yang sudah baik
hati meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dalam pembuatan
karya tulis ilmiah ini.
Kekasihku (Mas Kukuh), yang selalu memberikan motivasi untukku.
Sahabat-sahabatku (Arizal Nurrohman, Luwis Megawati, Susanti Ekasari,
AstikaUmi Rahayu, Fefi Putri Novianty, Nur Rahmawati, Rina Dwi Pratiwi,
Rini Susilowati, Nia Evi Danaryati) Trimakasih untuk dukungan dan
kerjasama kalian.
Almamater yang aku banggakan selalu.

ix

CURICULUM VITAE


Nama : Rika Nurmayanti
Tempat / Tanggal Lahir : Ponorogo, 1 September 1989
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Anggrek XV Indrapuri Kecamatan Tapung
Kabupaten Kampar Pekanbaru
RiwayatPendidikan :
1. SD 029 Gading Sari LULUS TAHUN 2002
2. SMP 085 Latersia LULUS TAHUN 2005
3. SMAN 1 Tapung LULUS TAHUN 2008
4. Prodi D III Kebidanan STIKes Kusuma Husada Angkatan Tahun 2011/2012


x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iv
INTISARI ....................................................................................................... vi
MOTTO ......................................................................................................... vii
PERSEMBAHAN .......................................................................................... viii
CURICULUM VITAE ................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................. x
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv
BABIPENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Perumusan Masalah ....................................................................... 3
C. Tujuan Studi Kasus ........................................................................ 3
D. Manfaat Studi Kasus ...................................................................... 5
E. Keaslian Studi Kasus ..................................................................... 6
F. Sistematika Penulisan .................................................................... 7


xi
BABII TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Medis ................................................................................... 9
1. Persalinan .............................................................................. 9
2. Perdarahan Postpartum ........................................................... 15
3. Retensio Plasenta ................................................................... 20
B. Teori Manajemen Kebidanan ........................................................ 32
C. Landasan Hukum .......................................................................... 53
BABIIIMETODOLOGI
A. Jenis Studi Kasus ........................................................................... 55
B. Lokasi Studi Kasus ........................................................................ 55
C. Subyek Studi Kasus ....................................................................... 55
D. Waktu Studi Kasus ........................................................................ 56
E. Instrumen Studi Kasus ................................................................... 56
F. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 56
G. Alat dan Bahan .............................................................................. 59
BAB IV TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan Kasus ................................................................................... 61
B. Pembahasan ........................................................................................ 87
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 96
B. Saran ................................................................................................... 98
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 2.1 Gambaran dan Dugaan Penyebab Retensio Plasenta .......... 22


xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 2.1 Penatalaksanaan Perdarahan Postpartum ......................... 19
Gambar 2.2 Penatalaksanaan Retensio Plasenta ................................. 31


xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Studi Kasus KTI
Lampiran 2. Surat Permohonan Ijin Pengambilan Data Awal di RSU Assalam
Gemolong Sragen
Lampiran 3. Surat Balasan dari RSU Assalam Gemolong Sragen
Lampiran 4. Surat Permohonan Ijin Pengambilan Data Awal di DKK Sragen
Lampiran 5. Surat Rekomendasi Survey dari Kepala Badan Kesbang Polinmas
Kabupaten Sragen
Lampiran 6. Surat Permohonan Ijin Penggunaan Lahan untuk Pengambilan
Studi Kasus di RSU Assalam Gemolong Sragen
Lampiran 7. Surat Balasan dari RSU Assalam Gemolong Sragen
Lampiran 8. Lembar Persetujuan Pasien
Lampiran 9. Lembar Satuan Acara Penyuluhan Tanda Bahaya Nifas
Lampiran 10. Lembar Satuan Acara Penyuluhan Perawatan Bayi Baru Lahir
Sehari-hari
Lampiran 11. Lembar Observasi Kala IV
Lampiran 12. Lembar Observasi Tetesan Infus
Lampiran 13. Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah



1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) adalah salah satu indikator
keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia. AKI di Indonesia
tergolong tinggi di dunia, pada tahun 2008 di antara kawasan Association of
South East Asian Nations (ASEAN) dan South East Asia Region (SEARO),
Indonesia berada diperingkat ke-11 dari 18 negara dikawasan tersebut, yaitu
sebesar 240 per 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2011 AKI di Indonesia sebesar 226 per 100.000 kelahiran hidup, sebagian
besar penyebab kematian ibu saat persalinan adalah akibat dari buruknya
infrastruktur transportasi dan kesehatan lingkungan yang diperparah dengan
rendahnya tingkat kesehatan ibu yang bersangkutan. Sekitar 20 persen dari
ibu melahirkan perlu penanganan khusus karena mengalami perdarahan,
sehingga dibutuhkan kerja keras untuk mewujudkan tercapainya target AKI
yang di tetapkan dalam Millenium Development goals (MDGs) yaitu sebesar
102 per 100.000 kelahiran hidup untuk tahun 2015 (Depkes RI, 2011).
AKI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 sebanyak 117,02 per 100.000
kelahiran hidup, dengan penyebab kematian maternal antara lain perdarahan
(22,42%), eklamsi (28,76%), infeksi (3,54%), dan penyebab lain (45,28%)
(Dinkes Jawa Tengah, 2010).
2

Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota AKI Provinsi Jawa Tengah
tahun 2011 yaitu sebesar 116,01/100.000 kelahiran hidup, mengalami
peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2010 sebesar
104,97/100.000 kelahiran hidup (Dinkes Jawa Tengah, 2012).
Jumlah kematian ibu di wilayah kota Sragen tahun 2011 tercatat ada
18 orang dari 15.778 jumlah kelahiran hidup. Penyebab kematian maternal
tersebut diantaranya yaitu perdarahan postpartum 1 kasus, preeklamsi berat 1
kasus, penyakit jantung 5 kasus, kario karsinoma 2 kasus, peritonitis 1 kasus,
sepsis 1 kasus dan penyebab lain ada 7 kasus (DKK Sragen, 2011).
Studi pendahuluan yang dilakukan penulis di RSU Assalam bulan
Januari sampai Desember 2011, terdapat 753 persalinan dengan persalinan
normal sebanyak 313 persalian dan persalinan dengan komplikasi sebanyak
440 persalinan. Komplikasi tersebut adalah preeklamsi sebesar 70 kasus,
retensio plasenta dan sisa plasenta sebesar 67 kasus, infeksi sebesar 23 kasus,
dan penyebab lain sebesar 280 kasus (RM RSU Assalam, 2011).
Persalinan kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Tujuan manajemen aktif kala III adalah
untuk menghasilkan kontaksi uterus yang efektif sehingga dapat
mempersingkat waktu kala III, mencegah perdarahan dan mengurangi
kehilangan darah pada kala III persalinan (Rohani dkk., 2011).
Sebagian besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia
disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan dimana sebagian besar
disebabkan oleh atonia uteri dan retensio plasenta yang sebenarnya dapat
dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala III (Kemenkes RI, 2009).
3

Angka kematian ibu di Indonesia akibat perdarahan masih cukup tinggi,
salah satu diantaranya adalah retensio plasenta yaitu belum lahirnya plasenta
setelah setengah jam bayi lahir, sehingga memerlukan adanya pengawasan
yang intensif dan penanganan yang tepat untuk mengurangi terjadinya
perdarahan terutama karena retensio plasenta.
Dari masalah tersebut penulis tertarik untuk mengambil studi kasus
dengan judul Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Kala III pada Ny. E umur 26
tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen
dengan pendekatan Manajemen Kebidanan Varney.

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam studi kasus ini adalah Bagaimanakah
penatalaksanaan Asuhan kebidanan Ibu Bersalin Kala III pada Ny. E umur
26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong
Sragen melalui Pendekatan Manajemen Varney?.

C. Tujuan Studi Kasus
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin Kala III pada Ny.E
umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam
Gemolong Sragen dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan Varney.


4

2. Tujuan Khusus
Penulis mampu :
a. Melakukan pengkajian secara lengkap dengan mengumpulkan semua
data yang meliputi data subyektif dan obyektif terhadap ibu bersalin
kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di
RSU Assalam Gemolong Sragen.
b. Melakukan interpretasi data yang meliputi diagnosa kebidanan, masalah
dan kebutuhan ibu bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0

dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.
c. Menentukan diagnosa potensial ibu bersalin kala III pada Ny. E umur
26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong
Sragen.
d. Melakukan antisipasi atau tindakan segera pada Ny. E umur 26 tahun
G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.
e. Merencanakan asuhan yang menyeluruh sesuai dengan pengkajian ibu
bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio
Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.
f. Melaksanakan perencanaan secara efisiensi asuhan kebidanan ibu
bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio
Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.
g. Mengevaluasi hasil tindakan asuhan kebidanan ibu bersalin kala III
pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio Plasenta di RSU
Assalam Gemolong Sragen.
5

h. Menganalisis kesenjangan antara teori dan kasus nyata di lapangan
termasuk faktor pendukung dan penghambat asuhan kebidanan ibu
bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan Retensio
Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.
i. Alternatif pemecahan masalah, antara kesenjangan teori dan praktik
yang ada dilapangan.

D. Manfaat Studi Kasus
1. Bagi Diri Sendiri
Menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam asuhan kebidanan
pada ibu bersalin dengan retensio plasenta agar dapat memberikan
pelayanan yang bermutu tinggi.
2. Bagi Profesi
Mampu mengenali tanda-tanda retensio plasenta dan memberikan
pertolongan pertama, termasuk manual plasenta dan penangan perdarahan
sesuai dengan indiasi. Sehingga didapati hasilnya berupa penurunan
kejadian perdarahan akibat retensio plasenta.
3. Bagi Institusi
a. Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dalam melaksanakan asuhan kebidanan ibu
bersalin dengan retensio plasenta untuk meningkatkan mutu pelayanan
di Rumah Sakit khususnya RSU Assalam Gemolong Sragen.


6

b. Pendidikan
Sebagai bahan referensi sehingga dapat memberikan wawasan yang
luas mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin dengan retensio plasenta.
4. Bagi Pasien dan Keluarga
Agar pasien dan keluarga mengetahui tanda-tanda perdarahan akibat
retensio plasenta.

E. Keaslian Studi kasus
Studi kasus yang serupa pernah dilakukan oleh :
1. Dian Mustika Fibriani (2007) dengan judul Asuhan Kebidanan Ibu Nifas
pada Ny. K dengan Retensio Sisa Plasenta di Bangsal Melati RSUD
Wonogiri. Asuhan yang diberikan : Manual plasenta dengan terapi infus
drip oksitosin dan antibiotik, setelah diberikan asuhan selama 3 hari
keadaan umum pasien baik, kontraksi keras dan tidak terjadi perdarahan.
2. Tri Rahayuninsih (2009) dengan judul Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin
Kala III pada Ny. M dengan Perdarahan karena Retensio Plasenta di RB
Raharjo Sukoharjo. Asuhan yang diberikan : Manual plasenta infus drip
oksitosin, pemberian antibiotik dan massase uterus, intervensi selama 3
hari keadaan umum pasien baik, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi
uterus keras dan PPV 20 ml.
3. Sumarsih (2011) dengan judul Assuhan Kebidanan Ibu Bersalin pada
Ny. T dengan Retensio Plasenta di RB Raharja Tawang Weru Sukoharjo.
Asuhan yang diberikan : Manual plasenta, infus RL drip oksitosin,
penjahitan perineum, dan pemberian antibiotik, vitamin A dan B, setelah
7

diberikan asuhan selama 3 hari keadaan umum ibu baik, kontraksi uterus
keras, TFU 2 jari dibawah pusat, dan PPV 25 ml.
Berdasarkan peninjauan studi kasus serupa yang pernah dilakukan
dengan studi kasus ini terdapat beberapa perbedaan diantaranya yaitu lokasi
studi kasus, waktu studi kasus, subyek studi kasus dan asuhan yang diberikan
berbeda disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam Karya Tulis Ilmiah ini sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, perumusan masalah,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, keaslian penulisan, dan
sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tentang teori medis tentang persalinan,
perdarahan post partum, retensio plasenta, teori manajemen
kebidanan Varney, data perkembangan SOAP, dan landasan
hukum.
BAB III METODOLOGI PENULISAN
Bab ini menjelaskan tentang jenis studi kasus, lokasi studi kasus,
subyek studi kasus, waktu studi kasus, instrument studi kasus,
tehnik pengumpulan data, dan alat-alat yang digunakan.


8

BAB IV TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
Bab ini menyajikan kasus pada ibu bersalin dengan retensio
plasenta sesuai dengan manajemen kebidanan mulai dari
pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, antisipasi,
rencana tindakan, pelaksanaan, evaluasi dan metode SOAP.
Sedangkan pembahasan menjelaskan tentang kesenjangan antara
teori dan praktik selama melakukan asuhan kebidanan pada ibu
bersalin disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan kasus.
BAB V PENUTUP
Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran. Kesimpulan ini
dirumuskan untuk menanggapi butir-butir kesehatan yang berupa
kesenjangan pemecahan masalah dan tanggapan bersifat
operasional yang artinya saran dapat dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
9
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Teori Medis
1. Persalinan
a. Pengertian
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin,
air ketuban, plasenta dan selaput ketuban) dari rahim ibu melalui jalan
lahir atau dengan jalan lain, yang kemudian janin dapat hidup di dunia
luar (Rohani dkk., 2011).
b. Macam Macam Persalinan
1) Menurut Baety (2011), persalinan dapat dibedakan menjadi
3 berdasarkan cara pengeluarannya:
a) Persalinan spontan atau partus biasa (normal)
Proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala melalui jalan
lahir yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri tanpa bantuan
alat-alat dan tidak melukai ibu maupun bayinya, umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam.
b) Persalinan buatan atau partus luar biasa (abnormal)
Persalinan pervaginam atau persalinan melalui dinding perut ibu
dengan bantuan alat-alat dan tenaga dari luar, misalnya sectio
caesarea (SC), forcep, dan vakum.

10

c) Persalinan anjuran
Persalinan dengan kekuatan yang diperlukan ditimbulkan dari
luar dengan pemberian obat-obatan atau rangsangan baik desertai
pemecahan ketuban atau tanpa pemecahan ketuban.
2) Menurut Baety (2011), persalinan berdasarkan umur kehamilan
dapat dibedakan menjadi 5 diantaranya:
a) Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi (janin) sebelum dapat
hidup (viable), pada umur kehamilan < 20 minggu.
b) Persalinan imaturadalah keluarnya hasil konsepsi pada umur
kehamilan 21-27 minggu.
c) Partusprematurus adalah keluarnya hasil konsepsi setelah janin
dapat hidup, tetapi belum cukup bulan dengan berat janin antara
1000-2500 gr pada umur kehamilan 28-36 minggu.
d) Partusmatur /aterm( cukup bulan ) adalah keluarnya hasil
konsepsi setelah janin cukup bulan dengan berat badan diatas
2500 gram pada umur kehamilan 37-42 minggu.
e) Partuspostmaturus(serotinus) adalah keluarnya hasil konsepsi
yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir
yaitu umur kehamilan > 42 minggu, janin disebut postmatur.
3) Menurut Rohani dkk.(2011), persalinan dibedakan menjadi 2
diantaranya:
a) Partuspersipitatus adalah partus yang berlangsung cepat,mungkin
dikamar mandi, diatas kendaraan, dan sebagainya 3 jam.
11

b) Partus percobaan adalah suatu peniaian kemajuan persalian untuk
memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya
Cephalo Pelvix Disproportion (CPD).
c. Tahapan persalinan
1) Menurut Oxorn dan Forte (2010), tahapan dibedakan menjadi 4
antara lain
a) Kala I
Dimulaisejak persalinan sungguhan sampai pembukaan
lengkap.Pada primigravida lamanya 6 sampai 18 jam dan pada
multipara 2 sampai 10 jam.
Menurut Baety (2011), kala I dibagi menjadi 2 fase antara lain:
(1) Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan
penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap,
berlangsung lambat dari pembukaan 1-3 cm, lama 7-8 jam.
(2) Fase aktif
Terjadi penurunan bagian bawah janin, frekuensi dan
lama kontraksi uterus meningkat (kontraksi uterus dianggap
adekuat bila terjadi 3kali atau lebih dalam 10 menit lama 40
detik atau lebih). Fase aktif dibagi menjadi 3 tahap
diantaranya:
(a) Periode akselerasi (pembukaan 3-4 cm, lama 2 jam)
(b) Periode dilatasi maksimal (pembukaan 4-9 cm, lama
2jam)
(c) Periode deselerasi (pembukaan 9-10 cm, lama 2 jam)
12

b) Kala II
Fase yang dari pembukaan lengkap sampai lahirnya
bayi.Pada primigravida lamanya 30 menit sampai 3 jam, dan pada
multipara 5 sampai 30 menit.Median lamanya persalinan kala II
pada multipara sedikit berkurang dari 20 menit dan pada
primigravida sedikit kurang dari 50 menit.
Menurut Baety (2011), tanda gejala kala II dapat ditandaidengan:
(1) Doronganmeneran (doran)
(2) Tekanan pada anus(teknus)
(3) Perineummenonjol (perjol)
(4) Vulva, vagina,dan spinterani membuka
(5) Peningkatan pengeluaran lendir darah
(6) Tanda pasti ( pembukaan lengkap, terlihat kepala di
introitusvagina, kepala tampak di vulvadengan diameter 5-6
cm disebut crowning).
c) Kala III
Disebut juga kala uri, dimulai dari lahirnya bayi hingga
pengeluaran plasentadan selaput ketubanyang lamanya 5-30
menit, biasanyaprimigravidadan multigravidaberlangsung 6-15
menit (Baety, 2011).
(1) Mekanisme pelepasan plasenta
Pemisahan plasentaditimbulkan dari kontraksi dan
retraksi miometrium sehingga mempertebal dinding uterus
dan mengurangi ukuran area plasenta. Area plasenta menjadi
13

lebih kecil sehingga plasenta mulai memisahkan diri dari
dinding uterus karena plasenta tidak elastis seperti uterus dan
tidak dapat berkontrasi atau beretraksi.Pada area pemisahan,
bekuan darah retroplasenta terbentuk.Bekuan darah ini
manambah tekanan pada plasenta dan selanjutnya membantu
pemisahan. Kontraksi uterus yang selanjutnya akan
melepaskan keseluruhan plasenta dari uterus dan mendorong
plasenta keluar vagina disertai dengan pengeluaran selaput
ketuban dan bekuan darah retroplasenta (Rohani dkk., 2011).
(2) Metode pelepasan plasenta
(a) Schultze
Metode yang paling sering terjadi (80%), lepasnya
seperti menutup payung, biasanya perdarahan tidak ada
sebelum plasenta lahir dan banyak setelah plasenta lahir
yaitu dimulai dari bagian tengah terlebih dahulu yang
terlepas, kemudian diikuti bagian lain yang terlepas
(Rohani dkk., 2011).
(b) Duncan
Lepasnya plasenta dimulai dari bagian pinggir
plasenta, diikuti bagian tengah sampai lahir keseluruhan,
kemudian darah akan mengalir keluar antara selaput
ketuban (Rohani dkk., 2011).

14

(3) Tehnik memastikan pelepasan plasenta
Menurut Rohani dkk. (2011), untuk memastikan
plasenta sudah lepas dapat dilakukan pemeriksaan dengan
3 tehnik yaitu :
(a) Kustner
Yaitu dengan meletakkan tangan disertai tekanan
diatas simfisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat
masuk berati plasenta belum lepas, tetapi bila diam atau
maju berarti plasenta sudah lepas.
(b) Klien
Yaitu sewaktu ada his, rahim didorong sedikit, bila
tali pusat kembali berarti plasenta belum lepas, tetapi bila
diam atau turun berarti plasenta sudah lepas.
(c) Strassman
Yaitu dengan menegangkan tali pusat dan ketok
pada fundus, bila tali pusat bergetar berarti plasenta
belum lepas, tetapi bila tidak bergetar beratiplasenta
sudah lepas.
(4) Tanda pelepasan plasenta
Menurut Rohani dkk. (2011), tanda pelepasan
plasentadibedakan menjadi:
(a) Uterusglobuler dan perubahan tinggi fundus
(b) Tali pusat bertambah panjang
(c) Semburan darah tiba-tiba
15


(5) Manajemen aktif kala III
Tujuannya untuk mempersingkat kala III, mengurangi
jumlah kehilangan darah, dan mengurangi kejadian
retensioplasentadengan pemberian suntikan oksitosin 1 menit
pertama setelah bayi lahir, melakukan penegangan tali pusat
terkendali, dan masasefundusuteri(Rohani dkk., 2011).
d) Kala IV
Kalayang dimulai dari keluarnya plasenta sampai keadaan
ibu postpartum menjadi stabil.Pemantauan kala IV dilakukan
secara menyeluruh mulai dari pemantauan tekanan darah, suhu,
tonusuterus dan kontraksi, tinggi fundusuteri, kandung kemih,
serta perdarahan pervaginam yang dilakukan setiap 15 menit pada
satu jam pertama postpartumdan dilanjutkan dengan setiap 30
menit setelah jam kedua pascapersalinan (Rohani dkk., 2011).

2. Perdarahan postpartum
a. Pengertian
Perdarahan adalahperistiwa keluarnya darah dalam jumlah
banyak dari vagina atau keluarnya darah sebagai akibat pecahnya
pembuluh darah. Perdarahan postpartum adalah semua perdarahan yang
terjadi setelah kelahiran bayi yaitu sebelum, selama dan sesudah
keluarnya plasenta dengan hilangnya darah lebih dari 500 ml
(Oxorn dan Forte, 2010).

16

b. Klafikasi
Menurut Achadiat (2004),perdarahan postpartum dapat dibagi
menjadi 2 antara lain :
1) Perdarahanpostpartum primer (early postpartum hemorrhage)
Adalah perdarahan lebih dari 500 cc pada 24 jam pertama setelah
lahirnya bayi.
2) Perdarahan postpartum sekunder ( late postpartum hemorrhage)
Perdarahan yang terjadi pada masa nifas, tidak termasuk 24 jam
pertama setelah bayi lahir, biasanya diantara hari ke 5 sampai hari ke
15 postpartum.
c. Faktor predisposisi
Menurut Manuaba (2004), faktor predisposisi perdarahan
postpartum antara lain:
1) Dugaan sebelum hamil:
a) Riwayat perdarahan postpartum berulang
b) Grandemultipara
c) Terdapat mioma uteri
d) Penyakit darah (idiopatik trombositopenia purpura, gangguan
pembekuan darah dan leukemia)
2) Kemungkinan perdarahan postpartum setelah hamil
a) Ibu hamil dengan anemia
b) Grandemultipara
c) Regangan uterus yang berlebihan (hidramnion, hamil ganda)
17

d) Perdarahan pada kehamilan tua (plasenta previa dan solusio
plasenta)
e) Gangguan jalan persalinan (prolong dan neglected labour)
f) Persalinan operatif (akibat anastesi, persalinan per vaginam
dengan tindakan transabdominal)
g) Kesalahan tatalaksana kala III
h) Gangguan pembekuan darah akut (emboli air ketuban)
i) Infeksi (khorioamnionitis)
d. Etiologi
Menurut Oxorn dan Forte (2010), penyabab perdarahan
postpartum antara lain :
1) Penyebab perdarahan postpartum primer adalah :
a) Atonia uteri adalah suatu kondisi miometrium tidak dapat
berkontraksi
b) Retensio plasenta / sisa plasenta
c) Trauma persalinan
d) Kelainan pembekuan darah
2) Penyebab perdarahan postpartum sekunder adalah :
a) Sisaplasenta
b) Terlepasnya jaringan mati atau nekrotik, pada serviks, vagina,
vesikaurinaria atau rectum
c) Trauma persalinan.
d) Subinvolusio uteri.
18

e. Diagnosis perdarahan postpartum
Menurut Manuaba (2004),diagnosis perdarahan antara lain:
1) Perdarahan melebihi 500 cc per 24 jam atau 25% volume darah.
2) Menimbulkan gejala klinis seperti gangguan kardiovaskuler,
kesadaran menurun, syok-kematian (tensi rendah, nadi cepat dan
lemah, dan ekstremitas dingin).
3) Evaluasi penyebab perdarahan
Menurut Achadiat (2004), evaluasi dilakukan dengan pemeriksaan
obstetri diantaranya:
a) Bila ada atonia atau hipertonia uteri: uterus teraba lembek dan
membesar.
b) Bila kontraksi uterus baik, kemungkinan telah terjadi perlukaan
jalan lahir.
f. Penatalaksanaan perdarahan postpartum
Menurut Manuaba (2004), penatalaksanaan perdarahan
postpartum antara lain:
1) Penanganan umum
a) Perbaikan dengan keadaan umum dengan pemasangan infus,
tranfusi darah, pemberian antibiotika dan pemberian uterotonika.
b) Pada keadaan gawat dilakukan referral ke rumah sakit
2) Pada robekan serviks vagina dan perineum, perdarahan diatasi
dengan jalan jahit kembali.
3) Penanganan khusus
a) Atonia uteri
b) Retensio plasenta
19





















Gambar 2.1 Penatalaksanaan perdarahan postpartum
Sumber : Manuaba, (2004).




Perdarahan postpartum
Diagnosis perdarahan postpartum:
1. Perdarahan melebihi 500 cc / 24 jam
atau 25% volume darah
2. Menimbulkan gejala klinis:
a. Gangguan kardiovaskuler
b. Kesadaran menurun
c. Syok-kematian
3. Evaluasi penyebab perdarahan
postpartum
Atonia uteri
1. Kontraksi lembek
2. Penanganan khusus
Retensio plasenta
1. Persiapan tak lahir
lebih dari jam
2. Plasenta inkarserata
3. Tindakan plasenta
manual
Trauma persalinan:
1. Kontraksi rahim baik
2. Perdarahan baru
3. Evaluasi penyebabnya
dari uterus sampai
perineum
4. Terapi legasi arteri
hipogistrik
1. Persiapan tindakan khusus dari
perbaikan keadaan umum:
a. Persiapan infus dan transfusi
b. Antibiotika
c. Observasi keadaan umum
2. Persiapan tindakan lokal
20

3. RetensioPlasenta
a. Definisi
Retensioplasentaadalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta
hingga atau waktu setengah jam setelah bayi lahir (Saifuddin, 2006).
b. Jenis plasenta
Menurut Rohani dkk. (2011), jenis plasenta menurut perlekatanya
ada 5 macam antara lain:
1) Plasentaadhesiva
Adalah implantasi yang kuat dari jonjot korionplasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
2) Plasentaakreta
Adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau
memasuki sebagian lapisan miometrium.
3) Plasentainkreta
Adalah implantasi jonjot korionplasenta hingga mencapai atau
memasuki miometrium.
4) Plasenta perkreta
Adalah implantasi jonjot korionplasenta yang menembus lapisan otot
hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
5) Plasentainkarserata
Adalah tertahannya plasenta didalam kavumuteri, disebabkan oleh
kontriksi ostiumuteri.

21

c. Predisposisi
Menurut Manuaba (2007), faktor predisposisi retensio plasenta
antara lain:
1) Grandemultipara.
2) Kehamilan ganda, sehingga memerlukan implantasi plasenta yang
luas.
3) Kasus infertilitas, karena lapisan endometriumnya tipis.
4) Plasenta previa, karena dibagian isthmus, pembuluh darah sedikit,
sehingga perlu lebih masuk kedalam perlekatannya.
5) Bekas operasi uterus.
d. Etiologi
Menurut Manuaba (2004), sebab-sebab terjadinya retensio
plasenta antara lain:
1) Fungsional
a) His kurang kuat (penyebab terpenting)
b) Plasenta sukar terlepas (plasenta adhesiva) karena tempatnya
(insersi disudut tuba); bentuknya (plasenta membranasea, plasenta
anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil).
2) Patologi-anatomi
a) Plasenta akreta
b) Plasenta inkreta
c) Plasenta perkreta
d) Plasenta inkraserata
22

e. Gambaran Klinis
Tabel 2.1 gambaran dan dugaan penyebab retensio plasenta

No Gejala Akreta parsial Plasenta
inkarserata
Plasenta akreta
1 Konsistensi
uterus
Kenyal Keras Cukup
2 Tinggi
fundus
Sepusat 2 jari dibawah
pusat
Sepusat
3 Bentuk uterus Diskoid Agak globuler Diskoid
4 Perdarahan Sedang-banyak Sedang Sedikit/tidak ada
5 Tali pusat Terjulur
sebagian
Terjulur Tidak terjulur
6 Ostium uteri Terbuka Kontriksi Terbuka
7 Separasi
plasenta
Lepas sebagian Sudah lepas Melekat seluruhnya
8 Syok Sering Jarang Jarang, kecuali akibat
inversio oleh tarikan
kuat pada tali pusat
Sumber : Rohani dkk., (2011).
f. Penatalaksanaan retensio plasenta
Menurut Rohani dkk. (2011), penatalaksanaan retensio plasenta
disesuaikan dengan jenis retensio yang terjadi :
1) Retensio plasenta dengan separasi parsial
a) Penilaian keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi
uterus dan perdarahan (Manuaba, 2007).
b) Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan yaitu dilakukan
manual plasenta untuk melepaskan plasenta secara manual
(menggunakan tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian
melahirkannya keluar dari kavum uteri (Rohani dkk., 2011).
c) Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan
tindakan yang akan diambil.
23

d) Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk meneran. Bila
ekspulsi tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.
e) Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40
tetes per menit. Bila perlu, kombinasikan dengan misopostrol 400
mg rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena
kontraksi tonik yang timbul dapat mengakibatkan plasenta
terperangkap dalam kavum uteri).
f) Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan
manual plasenta secara hati-hati dan halus (melahirkan plasenta
yang melekat erat secara paksa dapat menyebabkan perdarahan
atau perforasi).
(1) Indikasi manual plasenta
Menurut Manuaba (2007), indikasi dilakukannya manual
plasenta antara lain:
(a) Perdarahan mendadak sekitar 400-500 cc
(b) Riwayat haemorhagie postpartum habitualis
(c) Post operasi (transvaginal dan transabdominal)
(d) Penderita dalam keadaan narkosa atau anastesi umum
(2) Prosedur manual plasenta
Menurut Rohani dkk., (2011), prosedur manual plasenta
dijabarkan sebagai berikut :
(a) Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong.
(b) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari
vulva, tegangkan dengansatu tangan sejajar lantai.
24

(c) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung
tangan menghadap ke bawah) ke dalam vagina
menyusuri sisi bawah tali pusat.
(d) Setelah mencapai permukaan serviks, minta seorang
asisten/penolong untuk memegang klem tali pusat
kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan fundus
uteri.
(e) Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam
sampai kavum uteri sehingga mencapai tempat
implantasi plasenta.
(f) Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti
member salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-
jari lain saling merapat).
(g) Tentukan implantasi plasenta, temuan tepi plasenta yang
paling bawah.
(h) Perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser
tangan kanan kekanan dan kekiri sambil digeser keatas
(kranial ibu) hingga semua perlengketan plasenta
terlepas dari dinding uterus.
(i) Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri,
lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang
tertinggal.
25

(j) Pindah kan tangan luar dari fundus ke suprasimfisis
(tahan segmen bawah rahim) kemudian intruksikan
asistesten/penolong untuk menarik tali pusat sambil
tangan dalam membawa plasenta keluar (hindarkan
terjadinya percikan darah).
(k) Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan
suprasimfisis) uterus kearah dorso kranial setelah
plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta didalam
wadah yang telah disediakan.
(l) Perlu diperhatikan bila tepi plasenta tidak teraba atau
plasenta berada pada dataran yang sama dengan dinding
uterus, maka hentikan upaya manual plasenta karena hal
ini menunjukkan plasenta inkreta. Bila hanya sebagian
dari implantasi plasenta yang dapat dilepas dan bagian
lainnya melekat erat, maka hentikan pula manual
plasenta karena hal ini adalah plasenta akreta. Untuk
keadaan ini sebaiknya ibu diberi uterotonika tambahan
(misoprostol 600 mcg per rektal) sebelum dirujuk ke
fasilitas kesehatan rujukan.
(3) Pemantauan pascatindakan:
(a) Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
(b) Lakukan transfusi darah bila diperlukan .
26

(c) Berikan antibiotik profilaksis (ampicillin 2 g IV/peroral +
metronidazole 1 g peroral).
(d) Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat,
infeksi, dan syok neurogenik.
(4) Komplikasi manual plasenta
Menurut Manuaba (2007), komplikasi dari tindakan
manual plasenta antara lain:
(a) Perforasi, karena tipisnya tempat implantasi plasenta.
(b) Meningkatnya kejadian infeksi asenden.
(c) Tidak berhasil karena plasenta melekat erat, dapat
menimbulkan perdarahan yang sulit terhenti
(d) Manual plasenta pada plasenta yang tanpa perdarahan
harus hati-hati.
2) Plasenta inkarserata
Menurut Rohani dkk. (2011), penatalaksanaan penanganan
retensioplasenta berdasarkanpatofisiologiplasenta antara lain:
a) Tentukan diagnosis kerja melalui anamnesis, gejala klinik, dan
pemeriksaan.
b) Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk
menghilangkan konstriksi serviks dan melahirkan plasenta.
c) Pilih fluothane atau eteruntuk kontriksi serviks yang kuat, tetapi
siapkan infus oksitosin 20 IU dalam 500 ml NS/RL dengan
tetesan 40 permenit untuk mengatisipasi gangguan kontraksi yang
disebabkan bahan anastesi tersebut.
27

d) Bila prosedur anastesi tidak tersedia, tetapi serviks dapat dilalui
oleh cunam ovum, lakukan maneuver skrup untuk melahirkan
plasenta. Untuk prosedur tersebut, berikan analgetik (tramadol
100 mg IV dan pethidine 50 mg IV) dan sedatif (diazepam5 mg
IV) pada tabung terpisah. Teknik dalam melakukan
maneuverskrup diantaranya :
(1) Pasang spekulum sims sehingga ostium dan sebagian
plasentatampak dengan jelas.
(2) Jepit portiodengan klem ovum pada 12, 4, dan 8 kemudian
lepaskan spekulum.
(3) Tarik ketiga klem ovumagar tali pusat dan plasenta terlihat
jelas.
(4) Tarik tali pusat kearah lateral sehingga menampakkan
plasenta disisi berlawanan agar dapat dijepit sebanyak
mungkin. Minta asisten memegang klem tersebut.
(5) Lakukan hal yang sama pada plasentapada sisi yang
berlawanan.
(6) Satukan kedua klem tersebut sambil diputar searah jarum
jam, tarik plasentaperlahan-lahan melalui pembukaan ostium.
e) Pengamatan dan perawatan lanjutan meliputi pemantauan tanda
vital, kontraksi uterus, tinggi fundusuteri, dan perdarahan
pascatindakan. Tambahan pemantauan adalah pemantauan efek
samping atau komplikasi dari bahan-bahan sedativa, analgetik,
atau anastesi umum ( mual dan muntah, cegah aspirasi bahan
muntahan, halusinasi, pusing, mengantuk dan lain-lain).
28

3) Plasenta akreta
Plasenta akreta merupakan perlekatan plasenta yang abnormal,
baik seluruhnya maupun sebagian, pada dinding rahim yang ada
dibawahnya villi plasenta melekat memasuki dan menembus
miometrium.Dalam keadaan normal, desidua basalis terletak diantara
miometrium dan plasenta.Lempeng pembelahan bagi pemisahan
plasenta berada dalam lapisan desidua basalis yang mirip spon, pada
plasenta akreta tidak ada desidua basalis sebagian atau seluruhya
sehingga plasenta melekat langsung pada miometrium.Villi tersebut
bisa tetap superfisial pada otot uterus atau dapat menembus lebih
dalam. Keadaan ini bukan terjadi karena sifat invasif trofoblas yang
abnormal. Melainkan karena adanya defak pada desidua.Pada daerah
superfisial miometrium tumbuh sejumlah besar saluran vena
dibawah plasenta.Ruptur sinus-sinus ini yang terjadi ketika plasenta
dikeluarkan secara paksa dan menimbulkan perdarahan dalam
jumlah yang banyak (Oxorn dan Forte, 2010).
Tanda penting untuk didiagnosis pada pemeriksaan luar adalah
ikutan fundus atau korpus apabila tali pusat ditarik.Pada pemeriksaan
dalam sulit ditentukan tepi plasentakarena implantasi yang dalam.
Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas pelayanan dasar adalah
menentukan diagnosis, stabilisasi pasien, dan rujuk ke rumah sakit
rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif yaitu
histerektomi (Rohani dkk., 2010).
29

Menurut Oxorn dan Forte (2010), Indikasi dilakukan
histerektomi antara lain :
(1) Kehamilan selanjutnya tidak dikehendaki
(2) Perdarahan tidak terkendalikan
(3) Penanganan secara konservatif tidak berhasil
(4) Suppurasiintrauteri
(5) Plasenta previa akreta
g. Komplikasi
Menurut Manuaba (2008), plasenta harus dikeluarkan karena
dapat menimbulkan bahaya diantaranya:
1) Perdarahan
Bila retensio plasenta terdapat sedikit perlepasan hingga kontraksi
terus memompa darahtetapi bagian yang melekat membuat luka
tidak menutup.
2) Infeksi
Benda mati yang tertinggal di dalam rahim meningkatkan
pertumbuhan bakteri.
3) Dapat terjadi plasenta inkarserata
Dimana plasenta melekat terus sedangkan kontraksi pada ostium
baik sehingga plasenta tertahan dalam uterus.
4) Terjadi polip plasenta
Sebagai massa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan
nekrosis.
30

5) Terjadi degenerasi (keganasan) koriokarsinoma
Dengan masuknya mutagen, perlukaan yang semula fisiologik dapat
berubah menjadi patologik dan akhirnya menjadi karsinoma invasif.
Sekali menjadi mikro invasif atau invasif, proses keganasan akan
berjalan terus.Sel ini tampak abnormal tetapi tidak ganas.Para
ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel ini
merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan
lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan
kanker.Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan
prekanker, yang bisa berubah menjadi kanker.













31























Gambar 2.2 Penatalaksanaan retensio plasenta
Sumber : Manuaba, (2004); Manuaba, (2007); danNugraheny (2010) dengan
modifikasi

Retensio plasenta
Manual plasenta

1. Uterotonika IM-IV
2. Masase uterus untuk
mempercepat
kontraksi
3. Perhatikan apakah
plasenta yang sudah
keluar lengkap
Sebabnya :
1. Plasenta adhesive
2. Plsenta akreta
3. Plasenta inkreta
4. Plasenta perketa
Konservatif
1. Antibiotika
2. Vit/Fe
3. Uterotonika

Sebabnya :
1. Akreta
2. Inkreta
3. Perkreta
Terdapat sisa plasenta
1. Histerektomi
2. Ligasi arteri
hipogastrika
interna
3. Perawatan
postoperasi yang
baik
Tindakannya:
1. Kuretase tumpul
2. Masase
3. Utero tonika dengan
bolus IM-IV
4. KP tamponade

Komplikasi:

1. Perdarahan terus
2. Tampon basah /
tampon gagal
3. Atonia uteri
Gambaran retensio plasenta:
Plasenta belum lahir lebih
dari 30 menit setelah bayi
lahir
Perdarahan
normal
Berhasil dengan baik
Retensio plasenta
tanpa perdarahan
Tindakan
berhasil
32

B. Teori Asuhan Kebidanan
Konsep dasar manajemen kebidanan menurut varney :
1. Pengertian
Manajemen kebidanan adalah bentuk pendekatan yang digunakan
bidan dalam memberikan alur pikir bidan, pemecahan masalah atau
pengambilan keputusan klinis. Asuhan yang dilakukan harus dicatat secara
benar, sederhana, jelas, logis sehingga perlu sesuatu metode
pendokumentasian. (Varney, 2008).
2. Langkah-langkah dalam manjemen kebidanan
Agar proses manajemen kebidanan pada ibu dapat dilaksanakan
dengan baik maka diperlukan langkah-langkah sistematis.Adapun langkah-
langkah yang harus dilaksanankan menurut Varney (2008), adalah sebagai
berikut:
a. Langkah I : Pengkajian Data
Pengkajian adalah tahap awal yang dipakai dalam menerapkan
asuhan kebidanan pada pasien dan merupakan suatu proses
pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien
(Nursalam, 2009).
1) Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai
suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian, informasi
tersebut tidak dapat ditemukan oleh tim kesehatan secara independen
tetapi melalui suatu interaksi atau komunikasi (Nursalam,2009).

33

a) Biodata yang menyangkut identitas pasien (Ambarwati,2008)
(1) Nama
Nama jelas dan lengkap bila perlu nama panggilan sehari-hari
agar tidak keliru dalam memberikan pelayanan.
(2) Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang,
mental dan psikisnya belum siap sedangkan umur lebih dari
35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan masa nifas.
(3) Agama
Untuk mengetahui pasien tersebut dalam membimbing atau
mengarahkan pasien dalam berdoa.
(4) Suku Bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.
(5) Pendidikan
Berpengaruh pada tindakan kebidanan dan mengetahui sejauh
mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.
(6) Pekerjaan pasien
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut.

34

(7) Alamat
Ditanyakan karena mungkin memiliki nama yang sama
dengan alamat yang berbeda (Manuaba, 2007).
b) Keluhan utama
Keluhan yang terjadi pada ibu nifas dengan retensio plasenta
adalah mengalami perdarahan yang lebih banyak, pasien
mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil,
(Saifuddin,2006).
c) Riwayat menstruasi
Umur menarche, siklus, lamanya haid, banyaknya darah, haid
teratur atau tidak, sifat darah (cair atau ada bekuan, warnanya),
adanya dismenorhoe (Rohani dkk., 2011).
d) Riwayat perkawinan
Perlu dikaji tentang berapa kali menikah, status menikah syah
atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan
berkaitan dengan psikologinya, sehingga akan mempungaruhi
proses nifas (Ambarwati, 2008).
e) Riwayat kehamilan, persalian dan nifas yang lalu
(Manuaba, 2008)
(1) Kehamilan salah satu penyebab perdarahan postpartum
adalah grandemultipara.


35

(2) Persalinan
Riwayat persalinan perlu dikaji karena faktor penyebab
perdarahan postpartum adalah persalinan yang dilakukan
dengan tindakan : Pertolongan kala uri sebelum waktunya,
persalinan oleh dukun, persalinan dengan tindakan,
persalinan dengan narkosa.
(3) Nifas
Apakah terjadi perdarahan, infeksi dan bagaimana laktasinya.
(4) Anak
Jenis kelamin, berat badan waktu lahir, hidup atau meninggal,
kalau meninggal pada usia berapa, dan sebab meninggal.
Jarak yang terlalu pendek, kurang dari 2 tahun juga
merupakan penyebab perdarahan postpartum.
f) Riwayat kehamilan sekarang
Menurut Rohani dkk. (2011), data subyektif dari riwayat
kehamilan antara lain :
(1) Haid pertama dan haid terakhir merupakan data dasar yang
diperlukan untuk menentukan usia kehamilan, apakah cukup
bulan atau prematur.
(2) Kapan bayi lahir (menurut taksiran ibu) merupakan data
dasar untuk menentukan usia kehamilan menurut taksiran
atau perkiraan ibu.

36

(3) Tafsiran persalinan.
(4) Keluhan pada waktu trimester I, II, dan III.
(5) Apakah ibu pernah memeriksakan kehamilannya dan dimana
ibu memeriksakan kehamilannya. Hal ini diperlukan untuk
mengidentifikasi masalah potensial yang dapat terjadi pada
persalinan kali ini.
g) Imunisasi TT
Sudah pernah diimunisasi TT atau belum, berapa kali, dimana,
teratur atau tidak (Winkjosastro, 2008).
h) Riwayat keluarga berencana
Jenis kontrasepsi yang pernah dipakai, efek samping, alasan
berhentinya penggunaan alat kontrasepsi, dan lama penggunaan
alat kontrasepsi (Rohani dkk., 2011).
i) Riwayat penyakit
(1) Riwayat penyakit sekarang
Untuk mendeteksi adanya komplikasi pada persalinan
dan kehamilan, dengan menanyakan apakah ibu mengalami
sakit kepala hebat, pandangan berkunang-kunang, atau nyeri
epigastrium, sehingga dapat mempersiapkan bila terjadi
kegawatan dalam persalinan (Rohani dkk., 2011).
(2) Riwayat penyakit sistemik
Riwayat penyakit sistemik yang perlu ditanyakan
adalah apakah ibu mempunyai penyakit yang berbahaya
seperti jantung, paru-paru, pernapasan, atau perkemihan. Hal
37

ini digunakan untuk mendeteksi adanya komplikasi pada
persalinan dan kehamilan, serta berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan janin (Rohani dkk., 2011).
(3) Riwayat penyakit keluarga dan keturunan kembar
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang
menderita penyakit menular, penyakit keturunan ataupun
keturunan kembar (Priharjo, 2007).
j) Riwayat operasi
Untuk mengetahui apakah ibu pernah mempunyai penyakit
kelamin, tumor atau kanker system reproduksi , pernah operasi
(pembedahan uterus) , curetase, dan pernah operasi ginekologis
(endometritis) merupakan fakto-faktor penyabab retensio plasenta
(Oxorn dan Forte, 2010).
k) Pola kebiasaan sehari-hari :
(1) Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makanan dan minum, frekuensi
banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan (Ambarwati,
2008).
(2) Eliminasi
BAB harus ada dalam 3 hari postpartum dan BAK harus
sudah dilakukan spontan dalam 6 jam post partum
(Wiknjosastro, 2008).

38

(3) Pola istirahat
Istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan,
tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur (Saifuddin,
2006).
l) Keadaan psikososial
Menurut Priharjo (2007),untuk mengetahui tentang perasaan ibu
sekarang, apakah ibu takut, cemas atau bingung.
m) Riwayat sosial budaya
Menurut Varney (2004), riwayat sosial budaya meliputi :
(1) Dukungan keluarga
Untuk mengetahui apakah keluarganya mendukung ibu atau
tidak.
(2) Keluarga lain yang tinggal serumah
Untuk mengetahui apakah ibu tinggal dengan keluarga lain
atau tidak.
(3) Pantangan makanan
Untuk mengetahui apakah dikeluarganya ada pantangan
makanan untuk ibu atau tidak.
(4) Kebiasaan adat istiadat
Untuk mengetahui apakah ada kebiasaan adat-istiadat
didalam keluarga ibu dan anak.


39

(5) Penggunaan obat-obatan dan rokok
Menurut Winkjosastro (2008), harus dikaji apakah ibu
perokok dan pemakai obat-obatan atau jamu-jamuan selama
hamil atau tidak. Jamu-jamuan dapat menyebabkan
perlekatan plasenta semakin kuat sehingga memicu tejadinya
retensio plasenta.
2) Data obyektif
Data obyektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur
oleh tenaga kesehatan (Nursalam, 2009).
a) Keadaan umum
Keadaan umum ini meliputi : Baik, sedang, atau jelek. Pada
pasienretensioplasenta keadaanumumnyasedang
(Manuaba, 2008).
b) Kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan individu mengadakan hubungan
dengan lingkungannya, serta dengan dirinya sendiri melalui panca
indranya dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya
serta terhadap dirinya sendiri melalui perhatian (Sunaryo, 2004).
Menurut Sunaryo (2004), tingkatan menurunnya kesadaran
dibedakan menjadi 6 diantaranya :
(1) Composmentis, suatu bentu kesadaran normal yang ditandai
individu sadar tentang diri dan lingkunganya sehingga aya
ingat, perhatian dan orientasinya mencakup ruang, waktu, dan
dalam keadaan baik.
40

(2) Amnesia, menurunnya kesadaran ditandai dengan hilangnya
ingatan atau lupa tentang suatu kejadian tertentu.
(3) Apatis, menurunnya kesadaran ditandai dengan acuh tak acuh
terhadap stimulus yang masuk (mulai mengantuk).
(4) Samnolensi, menurunnya kesadaran ditandai dengan
mengantuk (rasa malas dan ingin tidur).
(5) Spoor, menurunnya kesadaran ditandai dengan hilangnya
ingatan, orientasi, dan pertimbangan.
(6) Sub koma dan koma, menurunnya kesadaran ditandai dengan
tidak ada respon terhadap rangsangan yang keras.
Perdarahan postpartum yang hebat menyebabkan kehilangan
kesadaran sampai dengan kematian (Rohani dkk., 2011).
c) Pemeriksaan fisik
Untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi serta tingkat
kenyamanan fisik ibu bersalin serta mendeteksi dini adanya
komplikasi, informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesa
digunakan dalam menentukan diagnosa, mengembangkan
rencana,dan pemberianasuhanyang sesuai
(Hidayat dan Sujiyatini, 2010).
(1) Tanda-tanda vital :
(a) Tekanan darah
Pada pasien dengan perdarahan postpartum karena
retensio plasenta terjadi hipotensi (Saifuddin, 2006).
41

(b) Suhu
Suhu badan wanita inpartu tidak melebihi 37
2 0
C
umumnya sesudah partus dapat naik + 0,5
0
C dari
keadaan normal, pasien dengan retensio plasenta suhu
tubuh meningkat tidak melebihi 38
0
C, sedangkan suhu
normal adalah 36-37
0
C (Marmi dkk., 2011).
(c) Nadi
Pasien dengan retensio plasenta bisa terjadi bradikardi
bila banyak kehilangan darah (Saifuddin, 2006).
(2) Tinggi badan
Untuk mengetahui tinggibadan ibu. Tinggi badan yang
kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena
kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar
(Rohani dkk., 2011).
(3) Berat badan
Pada perdarahan lanjut dapat menurunkan berat badan sampai
cachexia (Manuaba, 2008).
(4) Lila
Untuk mengetahui status gizi (Varney, 2004).
d) Inspeksi
Menurut Nursalam (2009), inspeksi adalah proses observasi
secara sistematis yang dilakukan dengan menggunakan indra
penglihatan, pendengaran, dan penciuman sebagai alat
42

menggumpulkan data untuk menentukan ukuran tubuh, bentuk
tubuh, warna kulit, dan kesimetrisan posisi.
Menurut Priharjo (2007) :
(1) Kepala
Untuk mengetahui kebersihan rambut, rontok atau tidak.
(2) Muka
Untuk mengetahui tampak pucat atau tidak.Pada pasien
dengan retensio plasenta, muka pasien terlihat pucat karena
perdarahan yang dialaminya.
(3) Mata
Untuk mengetahui conjungtiva pucat atau tidak.Sklera ikterik
atau tidak.Pada pasien dengan retensio plasenta, konjungtiva
terlihat pucat karena perdarahan yang dialaminya.
(4) Mulut dan gigi
Untuk mengetahui ada karies gigi atau tidak, lidah bersih atau
kotor, ada stomatitis atau tidak.
(5) Kelenjar tyroid
Untuk mengetahui ada pembesaran kelenjar tyroid atau tidak.
(6) Kelenjar getah bening
Untuk mengetahui ada pembesaran kelenjar getah bening
atau tidak.
(7) Dada
Untuk mengetahui retraksi dada kanan-kiri saat bernafas
sama atau tidak.
43

(8) Payudara
Untuk mengetahui simetris atau tidak, areola berpigmentasi
atau tidak, puting susu menonjol atau tidak, kolostrum sudah
keluar atau belum.
(9) Perut
Untuk mengetahui ada bekas operasi atau tidak, ada strie atau
tidak, ada linea atau tidak.
(10) Vulva
Untuk mengetahui ada oedema atau tidak, adavarices atau
tidak, laserasi atau tidak, dan pada retensio plasenta untuk
menilai pengeluaran pervaginam ada perdarahan atau tidak,
darah banyak atau tidak, ada perubahan panjang tali pusat
tidak.
(11) Anus
Untuk mengetahui ada haemoroid atau tidak.
(12) Ekstremitas
Untuk mengetahui ada oedema atau tidak, ada varices atau
tidak, hofmansign atau mengetahui tanda tromboflebitis.
e) Palpasi
Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan indra
peraba untuk mengumpulkan data tentang suhu, turgor, bentuk,
kelembapan, variasi dan ukuran (Nursalam, 2009).

44

(1) Leher
Untuk mengetahui adanya pembengkakan pada kelenjar
getah bening atau tidak (Priharjo, 2007).
(2) Dada
Untuk mengetahui bentuk dan ukuran payudara, puting susu
menonjol atau tidak, adanya retraksi, masa dan pembesaran
pembuluh limfe (Marmi dkk., 2011).
(3) Perut
Untuk mengetahui ukuran, bentuk uterus, dan TFU.Pada
pasien retensio plasenta dengan uterus yang kenyal pada
plasenta inkreta parsial, uterus yang keras pada plasenta
Inkarserata dan uterus yang cukup pada plasenta
akreta(Rohani dkk., 2011).
f) Auskultasi
Auskultasi merupakan teknik pemeriksaan dengan
menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi yang
dihasilkan oleh tubuhmeliputi auskultasi jantung dan napas,
apakah ada bunyi rales, ronchi,wheezing dan pleuralfrictionrub
(Nursalam, 2009).
g) Perkusi
Pada kasus ibu bersalin dengan perdarahan karena retensio
plasenta dilakukan pemeriksaan perkusi dengan cara Strassman
yaitu dengan menegangkan tali pusat kemudian ketok pada
fundus, untuk mengetahui plasenta sudah lepas atau belum
(Rohani dkk.,2011).
45

h) Data pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dengan sampel darah diambil
dan diperiksa untuk mengetahui golongan darah kadar
hemoglobin (Hb), dan pembekuan darah (Saifuddin, 2006).
i) Data penunjang
USG untuk mengetahui apakah ada massa atau sisa plasenta
di dalam uterus dan dengan USG dapat diketahui jenis perlekatan
plasenta (Wiknjosastro, 2008).
b. Langkah II : Interpretasi Data
Interpretasi data adalah langkah yang kedua bergerak dari data
interpretasi menjadi masalah atau diagnosa yang teridentifikasi secara
spesifik. Interpretasi data ini meliputi :
1) Diagnosa
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan
dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur diagnosa kebidanan (Varney, 2004).
Diagnosapada ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah
sebagai berikut :
Nyumurtahun GPA inpartu kala III dengan retensio
plasenta.
Data Dasar :
DS :
a) Ibu mengeluh lemah, limbung dan berkeringat dingin
(Saifuddin,2006).
46

b) Ibu mengatakan plasenta belum lahir setelah setengahjam bayi
lahir.
DO :
a) Keadaan umum ibu sedang
b) Tanda-tanda vital (tekanan darah menurun, tetapi nadi, respirasi,
dan suhu meningkat)
c) Kontraksi uterus keras pada plasenta adhesiva atau lemah pada
plasenta inkarserata
d) Plasenta masih melekat atau sudah terlepas tapi tertahan.
e) Perdarahan lebih dari 500 cc
f) Tali pusat tidak bertambah panjang atau menjulur sebagian.
g) TFU setinggi pusat padaplasenta adhesiva dan 2jari dibawah
pusat pada plasenta inkarserata (Rohani dkk., 2011).
2) Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman
klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai
diagnosa (Varney,2004). Masalah yang muncul pada ibu dengan
perdarahan postpartum dalam kecemasan terhadap keadaan yang
dialami pasien berupa perdarahan (Matondang,2003).
3) Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum
teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah didapatkan dengan
analisa data (Varney, 2004).
47

Kebutuhan yang muncul pada ibu dengan perdarahan
postpartum (Varney, 2004) adalah :
a) Informasi tentang keadaan ibu.
b) Informasi tentang tindakan yang akan dilakukan oleh bidan.
c) Dorongan moril dari keluarga dan tenaga kesehatan.
d) Pemenuhan kebutuhan cairan.
c. Langkah III : Diagnosa Potensial
Diagnosa potensial adalah suatu hal untuk antisipasi, pencegahan
jika mungkin, penantian dengan pengawasan penuh dan persiapan
untuk kejadian apapun (Varney, 2004).
Diagnosa potensial
1) Potensi terjadinya infeksi puerpurieum : Pada tindakan manual
plasenta (Saifuddin, 2006).
2) Potensial terjadi syok haemorhagie : Karena adanya perdarahan
postpartum (Sastrowinata, 2004).
3) Retensio sisa plasenta (Oxorn dan Forte, 2010)
4) Inversio uteri akibat penarikan tali pusat yang kuat pada plasenta
akreta (Rohani dkk., 2011).
d. Langkah IV : Antisipasi
Tindakan yang dilakukan berdasarkan data baru yang diperoleh
secara terus-menerus dan dievaluasi supaya bidan dapat melakukan
tindakan segera dengan tujuan agar dapat mengatisipasi masalah yang
mungkin muncul sehubungan dengan keadaan yang dialami ibu
(Varney, 2004).
48

Dalam kasus perdarahan postpartum karena retensio plasenta,
antisipasi yang dilakukan adalah pemeriksaan keadaan umum ibu,
tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu), kontraksi
uterus, dan perdarahan,kemudian dilakukan pemberian oksitosin 20 unit
dalam 500cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes permenit pemberian
antibiotik profilaksis (ampicilin 2 gram IV/oral + metronidazol 1 gram
per oral) serta dilakukan manual plasenta (Rohani dkk.,2011).
e. Langkah V : Rencana Tindakan
Sebuah perluasan dari mengidentifikasi masalah dan diagnosa
yang telah diantisipasi (Varney, 2004). Pada langkah ini meliputi hal-
hal yang diindikasikan oleh kondisi pasien dan masalah lain yang
berkaitan dan berdasarkan kerangka pedoman antisipasi terhadap
pasien, seperti apa yang akan dilakukan lebih lanjut, apakah kolaborasi
atau tidak dan disetujui oleh kedua belah pihak, baik dari pihak
keluarga maupun petugas kesehatan.
Pada langkah ini seorang bidan merumuskan rencana tindakan
yang sebelumnya telah didiskusikan dengan pasien dan kemudian
membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya. Semua
keputusan berdasarkan pengetahuan dan prosedur yang telah ditetapkan
dengan pertimbngan : Apakah hal ini perlu dilakukan atau tidak.
Menurut Rohani dkk.(2011), dalam membuat rencana tindakan
diusahakan untuk memberikan kenyamanan pada ibu dan disisi lain
bidan dapat melakukan observasi dan pengobatan sebagai berikut :
1) Penilaian keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi
uterus dan perdarahan (Manuaba, 2007).
49

2) Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan yaitu dilakukan
manual plasenta untuk melepaskan plasenta secara manual
(menggunakan tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian
melahirkannya keluar dari kavum uteri (Rohani dkk., 2011).
3) Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan
tindakan yang akan diambil.
4) Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk meneran. Bila
ekspulsi tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.
5) Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetes
per menit. Bila perlu, kombinasikan dengan misopostrol 400 mg
rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi
tonik yang timbul dapat mengakibatkan plasenta terperangkap
dalam kavum uteri).
6) Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan
manual plasenta dengan cara :
a) Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong.
b) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva,
tegangkan dengansatu tangan sejajar lantai.
c) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan
menghadap ke bawah) ke dalam vagina menyusuri sisi bawah
tali pusat.
d) Setelah mencapai permukaan serviks, minta seorang
asisten/penolong untuk memegang klem tali pusat kemudian
pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri.
50

e) Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam sampai
kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.
f) Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti member
salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling
merapat).
g) Tentukan implantasi plasenta, temuan tepi plasenta yang paling
bawah.
h) Perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan
kanan kekanan dan kekiri sambil digeser keatas (kranial ibu)
hingga semua perlengketan plasenta terlepas dari dinding uterus.
i) Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri, lakukan
eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang tertinggal.
j) Pindah kan tangan luar dari fundus ke suprasimfisis (tahan
segmen bawah rahim) kemudian intruksikan asistesten/penolong
untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa
plasenta keluar (hindarkan terjadinya percikan darah).
k) Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan
suprasimfisis) uterus kearah dorso kranial setelah plasenta
dilahirkan dan tempatkan plasenta didalam wadah yang telah
disediakan.
l) Yang perlu diperhatikan bila tepi plasenta tidak teraba atau
plasenta berada pada dataran yang sama dengan dinding uterus,
maka hentikan upaya manual plasenta karena hal ini
menunjukkan plasenta inkreta. Bila hanya sebagian dari
51

implantasi plasenta yang dapat dilepas dan bagian lainnya
melekat erat, maka hentikan pula manual plasenta karena hal ini
adalah plasenta akreta. Untuk keadaan ini sebaiknya ibu diberi
uterotonika tambahan (misoprostol 600 mcg per rektal) sebelum
dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
7) Pemantauan pascatindakan:
(a) Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
(b) Lakukan transfusi darah bila diperlukan.
(c) Berikan antibiotik profilaksis (ampicillin 2 g IV/peroral +
metronidazole 1 g peroral).
(d) Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi,
dan syok neurogenik.
f. Langkah VI : Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pelaksanaan semua asuhan menyeluruh
seperti pada langkah perencanaan (Varney, 2004). Langkah ini dapat
dilakukan pada wanita yang bersangkutan, bidan atau tim kesehatan
lain.
g. Langkah VII : Evaluasi
Merupakan salah satu pemeriksaan dari rencana perawatan,
apakah kebutuhan yang terindentifikasi dalam masalah dan diagnosa
sudah terpenuhi atau belum.
Didalam evaluasi diharapkan mendapat hasil (Saifuddin,2006) :
1) Keadaan umum ibu baik.
2) Tanda-tanda vital kembali normal.
52

3) Plasenta dapat dikeluarkan dengan lengkap.
4) Perdarahan dapat teratasi.
5) Syok haemorhagie tidak terjadi.
6) Kontraksi uterus kuat.
7) Ibu merasa nyaman.
3. Metode yang digunakan dalam pendokumentasian data perkembangan
asuhan kebidanan ini adalah SOAP :
a. S : Subyektif
Data dari pasien didapat dari anamnesa yang merupakan langkah I
Varney.
b. O : Obyektif
Hasil pemeriksaan fisik beserta pemeriksaan diagnostik dan pendukung
lain untuk mendukung asuhan.
c. A : Assesment
Kesimpulan apa yang dibuat dari data subyektif dan obyektif tersebut
merupakan langkah II, III, IV Varney :
1) Diagnosa;
2) Antisipasi diagnosa atau masalah potensial;
3) Perlunya tindakan segera.
d. P : Plan
Menggambarkan pelaksanaan dari tindakan dan evaluasi perencanaan
berdasarkan assessment sebagai langkah V, VI, VII Varney.

53

C. Landasan Hukum
1. Permenkes No. 1464/Menkes/Per/X/2010
a. Sesuai dengan Permenkes No. 1464/Menkes/Per/X/2010 yang menjadi
landasan hukum pada asuhan kebidanan ibu bersalin kala III pada Ny. E
umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan RetensioPlasenta adalah :
a. BAB III pasal 9 huruf a
Bidan dalam menjalanan praktik, berwenang untuk memberikan
pelayanan kesehatan ibu.
b. BAB III Pasal 10 ayat 1
Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana pasal 9 huruf a diberikan pada :
masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa
menyusui dan masa antara dua kehamilan.
c. BAB III Pasal 10 ayat 2 huruf c
Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimasud pada ayat 1 yaitu
pelayanan persalinan normal.
d. BAB III pasal 3
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud
pada ayat 2 berwenang melakukan :
1) Huruf a : Episiotomi;
2) Huruf b : Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II;
3) Huruf c : Penanganan kegawatdaruratan dilanjutkan perujukan;
4) Huruf g : Pemberian uterotonika pada MAK III dan post partum.

54

2. KepMenKes RI No 900/MENKES/SK/VII/2002
b. Sesuai dengan KepMenKes RI No 900/MENKES/SK/VII/2002yang
menjadi landasan hukum pada asuhan kebidanan ibu bersalin kala III
pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan RetensioPlasenta adalah
BAB V tentang praktik bidan yang meliputi:
a) Pasal 16 ayat (1)
Pelayanan kebidanan kepada ibu meliputi :
(1) Huruf f : Pertolongan persalinan normal, yang mencakup letak
sungsang, partus macet kepala didasar panggul, ketuban pecah dini
(KPD) tanpa infeksi, perdarahan postpartum, laserasi jalan lahir,
distosia karena inersia uteri primer, post term dan pre term;
(2) Huruf h :Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio
plasenta, renjatan dan infeksi ringan.
b) Pasal 18
Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 16 berwenang untuk :
(1) Huruf b : Memberikan suntikan pada penyulit kehamilan,
persalinan dan nifas;
(2) Huruf c : Pengeluaran plasenta secara manual;
(3) Huruf i : Pemberian infuse;
(4) Huruf j : Pemberian suntikan intramuskuler uterotonika,
antibiotika dan sedativa.
(Sofyan dkk., 2006)
55


BAB III
METODOLOGI

A. Jenis Studi Kasus
Jenis observasional deskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu
dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui studi suatu kasus
yang terdiri dari unit tunggal dengan tujuan utama untuk membuat gambaran
atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif (Notoatmodjo, 2005).
Studi kasus ini menggunakan manajemen kebidanan 7 langkah Varney
dan data perkembangan dengan menggunakan SOAP (subyektif, obyektif,
assesment, planning) ibu bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0

dengan Retensio Plasenta di RSU Assalam Gemolong Sragen.

B. Lokasi Studi Kasus
Lokasi merupakan tempat atau lokasi pengambilan studi kasus
(Budiarto, 2003). Lokasi pengambilan kasus ini dilakasanakan di RSU
Assalam Gemolong Sragen.

C. Subyek Studi Kasus
Subyek studi kasus adalah penderita yang memenuhi inklusi dan
bersedia mengikuti protokol asuhan yang diberikan ( Budiarto, 2003). Subyek
studi kasus ini adalah Ibu Bersalin Kala III pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0

dengan Retensio Plasenta.

55
56


D. Waktu Studi Kasus
Waktu studi kasus adalah jangka waktu yang dibutuhkan penulis
untuk memperoleh data penelitian yang dilaksanakan (Budiarto, 2003). Studi
kasus ini dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2012.

E. Instrumen Studi Kasus
Menurut Notoatmodjo (2005), instrumen adalah alat-alat yang akan
digunakan untuk pengumpulan data. Instrument yang dipakai dalam
pengambilan data untuk ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah
menggunakan format Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin dengan
manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan data perkembangan dengan
menggunakan SOAP.

F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data metode yang digunakan penulis adalah :
1. Data Primer
Cara mendapatkan data primer yaitu dengan :
a. Wawancara
Menurut Notoatmodjo (2005), wawancara adalah suatu metode
yang digunakan untuk mengumpulkan data dimana peneliti
mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang
sasaran peneliti (respon) atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan
orang tersebut. Wawancara pada kasus Ibu Bersalin dengan Retensio
Plasenta dilakukan pada tenaga kesehatan, Ny. E, suami Ny.E,
57


keluarga, teman dan orang terdekat dari Ny. E yang dapat memberikan
informasi yang dibutuhkan.
b. Observasi
Menurut Notoatmojo (2005), observasi adalah teknik
pengumpulan data yang berencana, antara lain meliputi : melihat,
mencatat jumlah dan taraf aktivitas tertentu yang ada hubungnya
dengan masalah yang diteliti. Obsrvasi direncanakan setiap hari dan
pada waktu tertentu, dimulai dari ibu datang dengan keluhan sampai ibu
pulang. Format yang digunakan adalah format ibu bersalin, dan
observasi kala IV.
c. Pemeriksaan Fisik
Menurut Nursalam (2009), pemeiksaan fisik adalah Pengkajian
dipergunakan untuk memperoleh data obyektif dari klien untuk
menentukan status kesehatan klien, mengidentifikasi masalah
kesehatan, dan memperoleh data dasar guna menyusun rencana asuhan.
Ketrampilan dasar yang diutamakan selama pemeriksaan fisik pada ibu
bersalin dengan retensio plasenta yaitu:
1) Inspeksi
Menurut Nursalam (2009), inspeksi adalah suatu proses
observasi secara sistematis yang dilakukan dengan menggunakan
indra penglihatan, pendengaran, dan penciuman sebagai alat
menggumpulkan data untuk menentukan ukuran tubuh, bentuk
tubuh, warna kulit, dan kesimetrisan posisi. Inspeksi dalam kasus ini
dilaksanakan pemeriksaan untuk melihat adanya perdarahan atau
58


semburan darah secara tiba-tiba, pertambahan panjang tali pusat, dan
keadaan umum ibu.
2) Palpasi
Menurut Nursalam (2009), palpasi adalah teknik pemeriksaan
yang menggunakan indra peraba untuk mengumpulkan data tentang
suhu, turgor, bentuk, kelembapan, variasi dan ukuran. Palpasi
dilakukan untuk menguatkan hasil inspeksi, dalam kasus ibu bersalin
dengan retensio plasenta dilakukan untuk mengetahui TFU dan
kontraksi uterus.
3) Auskultasi
Menurut Nursalam (2009), Auskultasi merupakan teknik
pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop untuk mendengarkan
bunyi yang dihasilkan oleh tubuh meliputi auskultasi jantung dan
napas, apakah ada bunyi rales, ronchi, wheezing dan pleural friction
rub.
2. Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh dari lingkungan studi kasus, yang
melipti:
a) Menurut Notoatmodjo (2005), studi dokumentasi adalah semua bentuk
sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen, baik dokumen
resmi maupun dokumen tidak resmi, misalnya laporan, catatan-catatan
didalam kartu klinik, sedangkan tidak resmi adalah segala bentuk
dokumen dibawah tanggung jawab instansi, tidak resmi seperti
biografi, catatan harian. Pada studi kasus ini menggunakan catatan
59


medik pasien yang ada di RSU Assalam Gemolong Sragen, laporan
harian, laporan persalinan dan buku KIA ibu.
b) Menurut Notoatmodjo (2005), studi kepustakaan adalah memperoleh
berbagai informasi baik berupa teori-teori, generasilisasi maupun
konsep yang dikembangkan oleh berbagai ahli dari buku-buku sumber
yang ada. Pada studi kasus ini menggunakan studi kepustakaan dari
tahun 2002-2011 yang berhubungan dengan retensio plasenta.

G. Alat dan Bahan
Dalam pelaksanaan studi kasus dengan judul Asuhan Kebidanan pada Ibu
Bersalin dengan Retensio Plasenta, penulis menggunakan alat-alat sebagai
berikut :
1. Alat wawancara
a. Format pengkajian pada ibu bersalin
b. Buku tulis
c. Alat tulis
2. Alat dan bahan dalam observasi
a. Tensi meter
b. Stetoskop
c. Thermometer
d. Partus set
e. Heating set
f. APD (Alat Perlindungan Diri) dan obat (renxone 1 gr, diazole 500 mg,
supramox, metilat, ferosphat eff)

60


3. Dokumentasi
a. Laporan persalinan
b. Buku laporan harian
c. Buku KIA ibu


61
BAB IV
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. TINJAUAN KASUS
Ruang : VK
Tanggal Masuk : 17 Juni 2012
Pukul : 08.30 WIB
No. Register : 058946
1. PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien: Identitas Suami:
1) Nama : Ny. E Nama Suami : Tn. K
2) Umur : 26 tahun Umur : 27 tahun
3) Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
4) Agama : Islam Agama : Islam
5) Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
6) Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
7) Alamat : Pecing Kerep 17 Ngandul Sumberlawang
b. Anamnese (Data Subyektif) : Tgl 17 Juni 2012 Pukul 08.30 WIB
1) Alasan utama pada waktu masuk
Pasien rujukan dari bidan telah melahirkan anak pertamanya pada
tanggal 17 Juni 2012 pukul 07.00 WIB tetapi ari-arinya belum lahir,
sudah diberikan injeksi oksitosin 10 unit secara IM dosis pertama
pukul 07.01 WIB, dan injeksi oksitosin 10 unit dosis yang kedua
pukul 07.16 WIB
62


2) Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertamanya di bidan tanggal
17 Juni 2012 pukul 07.00 WIB, tapi sampai saat ini ari-ari belum
lahir, ibu juga mengatakan sudah disuntik 2 kali pada paha bagian
atas oleh bidan dan ibu mengatakan perutnya masih terasa mules.
3) Riwayat Menstruasi
a) Menarche : Ibu mengatakan haid pertama umur 14 tahun
b) Siklus : Ibu mengatakan menstruasi setiap sebulan sekali
c) Lama : Ibu mengatakan lama haidnya7 hari
d) Banyaknya : Ibu mengatakan 2-3 kali ganti pembalut per hari
e) Teratur/tidak : Ibu mengatakan menstruasinya teratur.
f) Sifat darah : Ibu mengatakan berwarna merah tua dan encer
g) Dismenorhoe : Ibu mengatakan tidak pernah nyeri saat haid yang
sampai mengganggu aktivitasnya.
4) Riwayat Perkawinan
a) Status perkawinan Syah kawin 1 kali.
b) Kawin umur 24 tahun dengan suami umur 25 tahun, lamanya
2tahun.
5) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
No
Tgl/th
Partus
Tempat
Partus
Umur
Hamil
Jenis
Partus
Peno-
long
Anak Nifas Kead
anak
sekrang
Jenis BB PB Kead laktasi
1.
17/6/2012
Pukul 07.00 WIB
RB
38
minggu
2 hari
Spontan
normal
Bidan P 3000 49 Hidup


63


6) Riwayat Hamil Ini
a) HPHT :23 September 2011
b) HPL :30 Juni 2012
c) Keluhan-keluhan pada
Trimester I : Ibu mengatakan mual dan tidak mengganggu
aktivitasnya sehari-hari, terapi yang diberikan
bidan adalah menganjurkan ibu untuk makan
dalam porsi kecil tetapi sering dan menghindari
makanan yang berbau menyengat.
Trimester II : Ibu mengatakan tidak ada keluhan
Trimester III :Ibu mengatakan sering BAK dan pegel- pegel
daerah punggung, terapi yang diberikan bidan
adalah menganjurkan ibu saat mengangkat benda
jangan membungkuk tetapi jongkok terlebih
dahulu kemudian berdiri, istirahat, kompres
hangat pada daerah yang sakit, jika sering BAK
sebaiknya ibu tidak menahan untuk berkemih.
d) ANC : Ibu mengatakan selama hamil memeriksakan
kehamilannya ke bidan sebanyak 8 kali secara
teratur.
Trimester 1 : 2 kali pada umur kehamilan 2 dan 3 bulan
Trimester 2 :3 kali pada umur kehamilan 4, 5, dan 6 bulan
Trimester 3 :3kali pada umur kehamilan 7, 8, dan 9 bulan

64


e) Penyuluhan yang pernah didapat
Ibu mengatakan pernah mendapat penyuluhan tentang gizi ibu
hamil
f) Imunisasi TT
Ibu mengatakan imunisasi TT 2 kali selama hamil
TT
1
: Pada umur kehamilan 4 bulan
TT
2
: Pada umur kehamilan 7 bulan
7) Riwayat Persalinan Sekarang
a) Tempat persalinan : RB Penolong : Bidan
b) Tanggal / Jam persalinan : 17 Juni 2012 pukul 07.00 WIB
c) Jenis persalinan : Spontan normal
d) Komplikasidalam persalinan : Retensio plasenta
e) Plasenta : Belum lahir
f) Lama persalinan
Kala I : 11 jam
Kala II : 30 menit
Kala III : 1 menit setelah bayi lahir telah diberikan oksitosin
10 IU, dilakukan PTT tidak ada tanda-tanda
pelepasan plasenta, 15 menit plasenta tidak lahir
diberikan oksitosin dosis kedua 10 IU dilakukan
PTT dan tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta,
setelah 30 menit dilakukan pengecekan pelepasan
plasenta, tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta
kemudian dilakukan persiapan rujukan dan pasien
dirujuk ke RS
65


g) Keadaan bayi
Jenis kelamin : Perempuan
BB / PB : 3000 gram / 49 cm
Apgar score : 8 - 9 - 10
Cacat bawaan : Tidak ada cacat bawaan
8) Riwayat Keluarga Berencana
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi jenis
apapun.
9) Riwayat Penyakit
a) Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit apapun
seperti batuk, pilek, demam maupun diare.
b) Riwayat Penyakit sistemik
(1) Jantung :Ibu mengatakan tidak pernah merasa nyeri pada
dada sebelah kiri dan tidak mudah lelah saat
beraktivitas ringan.
(2) Ginjal : Ibu mengatakan tidak pernah sakit pada daerah
pinggang kanan atau kiri dan tdak pernah terasa
nyeri saat buang air kecil.
(3) Asma : Ibu mengatakan tidak pernah sesak napas.
(4) TBC : Ibu mengatakan tidak pernah batuk secara terus-
menerus dalam waktu yang lama atau lebih dari
3 bulan.
66


(5) Hepatitis :Ibu mengatakan tidak pernah terlihat kuning
pada mata, kulit, kuku dan tidak ada
pembesaran di perut atas.
(6) DM : ibu mengatakan tidak pernah mengeluh sering
makan dan minum pada malamhari, tdak cepat
lelah dan tidak sering BAK dimalam hari lebih
dari 6 kali pada malam hari
(7) Hipertensi :Ibu mengatakan hasil tensinya tidak pernah
tinggi lebih dari 140/90 mmHg
(8) Epilepsi : Ibu mengatakan tidak pernah kejang yang
disertai keluar busa dari mulut.
(9) Lain-lain : Ibu mengatakan tidak sedang menderita
penyakit lainnya seperti GO, sifilis, HIV/AIDS.
c) Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan dari pihak keluarganya maupun pihak keluarga
suaminya tiak ada riwayat penyakit menular (seperti asma, TBC,
Hepatitis) dan riwayat penyakit menurun (seperti jantung, DM,
Hipertensi).
d) Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan dari pihak keluarganya maupun pihak keluarga
suaminya tidak ada riwayat keturunan kembar.
e) Riwayat operasi
Ibu mengatakan belum pernah operasi apapun
67


10) Pola kebiasaan sehari-hari
a) Nutrisi
Pola makan dan minum
Sebelum hamil : Ibu mengatakan makan 3x sehari porsi sedang
(jenis nasi, sayur, lauk), dan minum 7-8 gelas
air putih.
Selama hamil : Ibu mengatakan makan 2x sehari porsi sedang
(jenis nasi, sayur, lauk), diselingi makan buah-
buahan, minum 7-8 gelas air putih dan segelas
susu untuk ibu hamil.
Makan terakhir : Ibu mengatakan makan terakhir tanggal 16 Juni
2012 pukul 22.00 WIB dengan porsi sedang
nasi, sayur, lauk dan tanggal 17 Juni 2012 pukul
05.00 WIB ibu makan roti basah 1 bungkus.
Minum terakhir : Ibu mengatakan minum terakhir tanggal 17
Juni 2012 satu gelas teh manis pada pukul
05.00 WIB.
b) Personal hygiene
Sebelum hamil : Ibu mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi
2x sehari, keramas 3x seminggu, dan
mengganti pakaian 2x sehari.
68


Selama hamil : Ibu mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi
2x sehari, keramas 3x seminggu, dan
mengganti pakaian 2x sehari.
Saat pengkajian : Ibu mengatakan mandi terakhir pada tanggal
16 Juni 2012 pukul 16.00 WIB.
c) Pola Eliminasi
Sebelum hamil : Ibu mengatakan BAB 1 x/hari konsistensi
lunak warna kuning , dan BAK 4-5x/hari
warna kuning jernih.
Selama hamil :Ibu mengatakan BAB 1x/hari konsistensi
lunak warna hitam kecoklatan dan BAK 6-
7x/sehari warna kuning jernih.
BAB terahir :Ibu mengatakan BAB terakhir tanggal 16 juni
2012 pukul 06.00 WIB
BAK terakhir : Ibu mengatakan BAK terahir adalah tanggal
17 Juni 2012 pukul 03.30 WIB
d) Istirahat
Sebelum hamil : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam dan tidak
tidur siang
Selama hamil : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam tetapi
sering terbangun dan tidur siang 1 jam
Istirahat terakhir :Ibu mengatakan tdak bisa istirahat sejak
tanggal 17 Juni 2012 pukul 01.00 WIB
69


e) Pola aktivitas
Sebelum hamil : Ibu mengatakan setiap harinya bekerja sebagai
karyawan pabrik mulai pukul 08.00 WIB
sampai pukul 17.00 WIB
Selama hamil : Ibu masih tetap bekerja sebagai karyawan
pabrik dan cuti hamil mulai umur kehamilan 8
bulan 10 hari, kemudian ibu dirumah
mengerjakan pekerjaan rumah dan dibantu oleh
suaminya.
f) Seksualitas
Sebelum hamil : Ibu mengatakan hubungan seksualnya 2 kali
dalam seminggu.
Selama hamil : Ibu mengatakan hubungan seksualnya 1 kali
dalam seminggu.
g) Psikososial Budaya
(1) Perasaan menghadapi persalinan ini
Ibu mengatakan cemas karena ari-ari tidak kunjung lahir
(2) Kehamilan ini direncanakan / tidak
Ibu mengatakan kehamilannya ini direncanakan
(3) Jenis kelamin yang diharapkan
Ibu mengatakan jenis kelamin laki-laki atau perempuan
baginya sama saja

70


(4) Dukungan keluarga terhadap kehamilan ini
Ibu mengatakan seluruh keluarga sangat mendukung
kehamilannya ini
(5) Keluarga lain yang tinggal serumah
Ibu megatakan tinggal bersama suaminya
(6) Pantangan makanan
Ibu mengatakan tidak ada pantangan makanan
(7) Kebiasaan adat-istiadat dalam kehamilan
Ibu mengatakan ada acara mitoni pada saat umur
kehamilannya 7 bulan
h) Penggunaan obat-obatan dan jamu
Ibu mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obat terlarang maupun
jamu-jamuan dan hanya minum vitamin dan obat yang diberikan
oleh bidan.
i) Merokok
Ibu mengatakan tidak pernah merokok tetapi suaminya merokok
c. Pemeriksaan Fisik (Data Obyektif)
1) Status Generalis
a) Keadaan umum : Sedang
b) Kesadaran : Composmentis
c) TTV : TD: 120/80 mmHg R: 24 x/menit
N : 80 x/menit S: 36,8
0
C
d) TB : 157 cm
71


e) BB Sebelum hamil : 55 kg
f) BB Sekarang : 65 kg
g) LILA : Tidak dilakukan
2) Pemeriksaan Sistematis
a) Kepala dan Muka
(1) Rambut : Keadaan bersih tidak berketombe dan
tidak mudah patah
(2) Muka : Simetris, tidak oedema, tidak ada
kloasma gravidarum
(3) Mata
(a) Oedema : Tidak oedema
(b) Conjungtiva : Merah muda
(c) Skera : Putih
(4) Hidung : Simetris, keadaan bersih dan tidak ada
benjolan
(5) Telinga : Simetris kanan/kiri, keadaan bersih, dan
tidak ada serument
(6) Mulut / gigi / gusi : Tidak ada stomatitis, tidak ada caries
gigi dan gusi tidak berdarah.
b) Leher
(1) Kelenjar gondok : Tidak ada pembesaran
kelenjar gondok.
(2) Tumor : Tidak teraba adanya benjolan.
(3) Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada pembesaran
kelenjar limfe.
72


c) Dada dan Axilla
(1) Dada : Simetris, tidak ada tanda sesak napas
(2) Mammae
(a) Membesar : Membesar normal
(b) Tumor : Tidak teraba adanya benjolan
(c) Simetris : Simetris kanan dan kiri
(d) Areola : Hiperpigmentasi
(e) Putting susu : Menonjol kanan dan kiri
(f) Kolostrum : Belum keluar
(3) Axilla
(a) Benjolan :Tidak teraba adanya benjolan
(b) Nyeri :Tidak nyeri tekan
d) Ektremitas
(1) Varices : Tidak ada varices
(2) Oedema : Tidak oedema
(3) Reflek patella : Tidak dilakukan
(4) Betis merah/lembek/keras : Normal
(5) Terpasang infus RL dengan 20 tetes per menit di tangan kiri.
3) Pemeriksaan Khusus Obstetri (Lokalis)
a) Abdomen
(1) Inspeksi
(a) Membesar : Normal
(b) Linea nigra/alba : Linea nigra
(c) Strie albican/livide : Tidak ada strie
(d) Kelainan lain : Tidak ada kelainan
73


(2) Palpasi
(a) Pergerakan janin : Tidak ada pergerakan karna bayi
sudah lahir
(b) Kontraksi : Keras
(c) TFU : Setinggi pusat
(d) Kandung kencing : Penuh
b) Pemeriksaan Panggul
(1) Kesan Panggul : Normal
(2) Distantia Spinarum : Tidak dilakukan
(3) Distantia Kristarum : Tidak dilakukan
(4) Conjugata eksterna (Boudeloque) : Tidak dilakukan
(5) Lingkar panggul : Tidak dilaukukan
c) Anogenital
(1) Vulva vagina
(a) Varices : Tidak ada varices
(b) Luka : Tidak ada bekas luka
(c) Kemerahan : Tidak ada tanda iritasi atau
infeksi
(d) Nyeri : Tidak nyeri tekan
(e) Pengeluaran pervaginam : 125 cc
(f) Tali pusat : Terjulur sebagian 35 cm


74


(2) Perineum
(a) Bekas Luka : Tidak ada bekas luka
(b) Lain-lain : Tidak ada
(3) Anus
(a) Haemorhoid : Tidak ada haemorhoid
(b) Lain-lain : Tidak ada
(4) Inspekulo
(a) Vagina : Tidak dilakukan
(b) Portio : Tidak dilakukan
4) Pemeriksaan laboratorium
No Pemeriksaan Hasil Normal
1 WBC - 4,5 11,0
2 RBC - 4,20 6,20
3 HB - 12,0 18,0
4 HCT - 38,0 54, 0
5 DLT - 150 450
6 DCT - 100 500
7 Gol. Darah - A, B, AB, O
8 HbsAg -/+ -

2. INTERPRETASI DATA
Tanggal 17 Juni 2012 Pukul : 08.35 WIB
a. Diagnosa Kebidanan
Ny.E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
inpartu kala III dengan retensio plasenta




75


Data Dasar :
DS :
1) Ibu mengatakan umurnya 26 tahun.
2) Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertamanya pada tanggal 17
Juni 2012 pukul 07.00 WIB dan belum pernah keguguran
sebelumnya.
3) Ibu mengatakan ari-arinya belum lahir sampai saat ini.
4) Ibu mengatakan sudah dilakukan dua kali penyuntikan di bagian
paha atas oleh bidan
5) Ibu mengatakan perutnya masih terasa mules.
DO :
1) Keadaan umum : Sedang
2) Kesadaran : Composmentis
3) TTV : TD : 120/80 mmHg R : 22 x/menit
N : 82 x/menit S : 36,8 C
4) Ekstermitas : Terpasang infus RL dengan 20 tpm
5) Inspeksi
(a) Tali pusat terjulur sebagian 35 cm
(b) Perdarahan pervaginan 125 cc
6) Palpasi
(a) TFU : Setinggi pusat
(b) Kontraksi uterus : Keras
(c) Kandung kencing : Penuh
76


b. Masalah
Ibu cemas dengan keadaannya karena ari-ari tidak kunjung lahir.
c. Kebutuhan
1) Beri informasi pada ibu tentang keadaannya dan tindakan yang akan
dilakukan.
2) Beri dukungan moril pada ibu dan penuhi kebutuhan cairan ibu.

3. DIAGNOSA POTENSIAL
a. Syok haemoragie
b. Infeksi
4. KOLABORASI DAN ANTISIPASI AKAN TINDAKAN SEGERA
a. Periksa keadaan umum ibu, kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi
uterus dan perdarahan.
b. Kolaborasi dengan dokter SpOG : Pemberian oksitosin 20 unit dalam
500 cc RL dengan 40 tetes per menit, pemberian antibiotik ( Renxone
1 gr dan Diazole 500 mg ) dan manual plasenta.

5. RENCANA TINDAKAN
Tanggal 17 Juni 2012 Pukul : 08.36 WIB
a. Beritahu ibu tentang keadaannya saat ini.
b. Beritahu pada ibu dan keluarga tindakan yang akan dilakukan yaitu
melepaskan perlekatan ari-ari dengan menggunakan tangan dan
kemudian melahirkan ari-ari keluar dari rahim ibu.
c. Berikan inform consent pada suami dengan persetujuan ibu.

77


d. Kosongkan kandung kencing dengan kateterisasi.
e. Kolaborasi dengan dr SpOG :
1) Ganti infus ibu dengan infus baru drip oksitosin 20 unit dalam 500
cc RL dengan 40 tetes per menit.
2) Lakukan traksi terkontrol.
3) Lakukan manual plasenta.
4) Lakukan penjahitan jika ada laserasi.
5) Berikan terapi obat (Renxone 1 gr dan Diazole 500 mg)
f. Perikasa keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, kontraksi uterus, TFU
dan perdarahan.
g. Ajarkan dan anjurkan ibu untuk memasase perut ibu agar kontraksi
rahim tetap baik.
h. Bersihkan badan ibu dan rapikan ibu.

6. PELAKSANAAN
Tanggal 17 Juni 2012
a. Pukul 08. 37 WIB memberitahu ibu tentang keadaannya saat ini bahwa
ari-ari masih belum bisa lahir dan harus segera dilahirkan dengan
tindakan.
b. Pukul 08.37 WIB memberitahu pada ibu dan keluarga tindakan yang
akan dilakukan yaitu dengan segera melepaskan ari-ari dari
perlekatanya dengan menggunakan tangan dan melahirkan ari-ari dari
rahim ibu untuk mencegah terjadinya perdarahan dan infeksi.
78


c. Pukul 08.38 WIB memberikan inform consent kepada suami ibu dengan
persetujuan dari ibu.
d. Pukul 08.39 WIB mengosongkan kandung kencing dengan
menggunakan kateter nelaton.
e. Pukul 08.40 WIB melakukan kolaborasi dengan dr SpOG yaitu:
1) Pukul 08.40 WIB mengganti infus dengan drip oksitosin 20 unit
dalam 500 cc RL dengan 40 tetes per menit.
2) Pukul 08.41 WIB melakukan traksi terkontrol dengan tehnik
Kustner dan Duncan.
3) Pukul 08.44 WIB melakukan manual plasenta yaitu :
(a) Mendekatkan klem tali pusat di depan vulva, menegangkan tali
pusat sejajar lantai.
(b) Memasukkan tangan kanan secara obtetrik kedalam vagina,
menelusuri tali pusat.
(c) Memindahkan tangan kiri untuk menahan fundus uteri.
(d) Memasukkan tangan kanan sampai kavum uteri dan mencapai
tempat implantasi sambil tangan luar menahan fundus uteri.
(e) Mencari tepi plasenta yang sudah terlepas dan melakukan
penyisiran dengan sisi ulnar sampai seluruh plasenta terlepas.
(f) Memindahkan tangan kiri dari fundus ke suprasimfisis untuk
menahan segmen bawah rahim sambil tangan kanan membawa
plasenta keluar.
(g) Memasase uterus dan menilai kelengkapan plasenta.
(h) Menempatkan plasenta pada tempat yang disediakan
79


4) Pukul 08.52 WIB melakukan penjahitan laserasi perineum derajat
II dijahit jelujur dengan menggunakan benang cromic no. 2/0
5) Pukul 08.53 WIB melakukan skin test Renxone secara IC
f. Pukul 09.00 WIB melakukan pemeriksaan keadaan umum ibu, tanda-
tanda vital, Kontraksi uterus, TFU dan perdarahan.
g. Pukul 09.00 WIB mengajarkan dan mengajurkan ibu untuk memasase
perut ibu dengan cara mengosok uterus pada perut ibu dengan gerakan
melingkar searah jarum jam untuk menjaga rahim tetap keras,
berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan.
h. Pukul 09. 03 WIB membersihkan badan ibu dengan menggunakan air
DTT, memasangkan pembalut pada ibu, mengganti pakain ibu dan
member selimut pada ibu.

7. EVALUASI
Tanggal 17 Juni 2012 Pukul : 09.05 WIB

a. Ibu merasa lebih tenang, mengerti tentang keadaannya dan menyetujui
tindakan yang akan dilakukan yaitu segera melahirkan ari-arinya
dengan menandatangani inform consent yang diwakilkan oleh
suaminya sebagai penanggung jawab.
b. Ibu masih terpasang Infus dengan drip oksitosin 20 IU dalam 500 cc
dengan 40 tetes per menit.
c. Plasenta lahir Pukul 08.50 WIB secara manual, insersi tali pusat
sentralis, kesan lengkap, panjang tali pusat 50 cm dan PPV 75 cc.
d. Terapi obat belum diberikan
80


e. Telah dilakukan penilain kondisi ibu dengan hasil :
1) Keadaan umum : Baik
2) Kesadaran : Composmentis
3) TTV : TD : 120/80 mmHg R : 20 x/menit
N : 80 x/menit S : 36,7 C
4) TFU : 2 jari dibawah pusat
5) Kontraksi uterus : Keras
6) Kandung kencing : Kosong
7) PPV : Lochea rubra pembalut
f. Ibu sudah mengerti dan telah melakukan masase pada perutnya.
g. Ibu sudah dalam keadaan bersih dan nyaman.












81


DATA PERKEMBANGAN I
(KALA IV)
Tanggal 17 Juni 2012 Pukul : 09.05 WIB
S : 1. Ibu mengatakan ari-arinya sudah lahir
2. Ibu mengatakan sudah tidak cemas lagi tetapi ibu merasa lelah
3. Ibu mengatakan perdarahanya tidak sur-suran
4. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mules dan nyeri pada luka jahitan
O : 1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Composmentis
3. TTV : TD : 120/80 mmHg R : 20 x/menit
N : 80 x/menit S : 36,7 C
4. Kolostrum : Belum keluar
5. TFU : 2 jari dibawah pusat
6. Kontraksi : Keras
7. Kandung kencing : Kosong
8. PPV : Lochea rubra, pembalut
9. Luka perineum : Masih basah
10. Ekstermitas : Terpasang infus drip oksitosin 20 unit dalam 500 cc
RL dengan 40 tetes per menit.
11. Hasil skin test : Negatif (-)



82



























83


12. Hasil lab.
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Ny. E
No Pemeriksaan Hasil Normal
1 WBC 19,7 H 10
3
/mm
3
4,5 11,0
2 RBC 3,90 L 10
6
/mm
3
4,20 6,20
3 HB 11,6 gr/dl 12,0 18,0
4 HCT 37,2 L % 38,0 54, 0
5 DLT 237 10
3
/mm
3
150 450
6 DCT 189 % 100 500
7 Gol. Darah A+ A, B, AB, O
8 HbsAg (Ibu) + -
9 HbsAg (Bayi) - -
Sumber: Status Pasien
A : Ny. E umur 26 tahun P
1
A
0
inpartu kala IV dengan riwayat retensio plasenta
P : Tanggal 17 Juni 2012
1. Pukul 09.07 WIB melanjutkan terapi obat:
Injeksi Renxone 1 gr IV
Infus Diazole 500 mg IV
2. Pukul 09.15 WIB mengobservasi jumlah tetesan infus dan mengganti jika
infus sudah habis.
3. Pukul 09.20 WIB melakukan observasi KU, TTV, kontraksi uterus, dan
PPV ibu setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit
selama jam kedua postpartum.
4. Pukul 09.25 WIB memberitahu ibu tentang rasa mules yang dirasakan
adalah keadaan yang normal dan merupakan proses kembalinya bentuk
uterus seperti sebelum hamil dan menganjurkan ibu untuk BAK karena
kandung kencing yang penuh menghambat kontraksi uterus yang baik.
5. Pukul 09.27 WIB memberitahu ibu bahwa nyeri pada luka jahitan adalah
normal dan menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan daerah luka
dengan membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air, menjaga
84


agar tetap kering, mengganti pembalut minimal 2x sehari atau jika sudah
terasa penuh, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah
menyentuh daerah kelamin.
6. Pukul 09.29 WIB menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk
mencegah kelelahan.
7. Pukul 09.30 WIB menganjurkan ibu dan keluarga untuk penuhi
kebutuhan nutrisi ibu dengan makan dan minum dan tidak ada pantangan.
8. Pukul 09.32 WIB menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini mulai dari
miring kanan atau kiri, duduk dan seterusnya.
9. Pukul 09.34 WIB menganjurkan ibu untuk menjaga kontraksi uterus tetap
keras dengan melakukan masase pada perutnya.
10. Pukul 09.35 WIB memberitahu ibu tentang tanda bahaya nifas yang
meliputi perdarahan, keluar cairan yang berbau busuk, sakit perut bagian
bawah atau punggung, sakit kepala, nyeri ulu hati, bengkak pada
ekstermitas, demam, muntah, payudara nyeri dan panas, kehilangan
nafsu makan, nyeri dan panas pada betis, perasaan sedih tidak mampu
mengurus bayinya dan keletihan.
11. Melakukan kolaborasi dengan dr SpOG yaitu :
a. Pukul 10.25 WIB memberikan terapi oral pada ibu sesuai advis dokter:
Supramox 3 x 500 mg (20 tablet)
Metilat 3 x1 tablet (10 tablet)
Ferosphat eff 2 x 1 tablet(10 tablet)
b. Pukul 10.30 WIB melakukan USG
85


12. Pukul 10.40 WIB memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu sebaiknya
tidak menyusui bayinya sampai usia bayi 1 bulan karena hasil
pemeriksaan lab. HbsAg (+) dan HbsAg bayinya (-). Ibu dapat penuhi
nutrisi bayinya dengan memberi susu formula 30 ml 8 kali/ hari atau
setiap 2-3 jam tanpa jadwal sesuai dengan keinginan bayi dan sebaiknya
dalam pemberian susu menggunakan sendok.
13. Pukul 10.42 WIB memberitahu ibu dan keluarga cara perawatan bayi
sehari-hari yaitu perawatan tali pusat, memandikan bayi, mencegah bayi
kedinginan, dan tanda-tanda bahaya pada bayi.
14. Pukul 10.52 WIB memindah ibu ke ruang nifas
Evaluasi
Tanggal 17 Juni 2012 Pukul : 11.00 WIB
a. Keadaan umum : Baik
Kesaaran : Composmentis
TTV : TD : 120/80 mmHg R : 20 x/menit
N : 80 x/menit S : 36,5 C
Ekstermitas : Terpasang infus RL dengan 20 tpm di lengan
kiri, tidak oudema, tidak kemerahan, cairan
mengalir dengan lancar tidak ada sumbatan.
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus : Keras
PPV : Lochea rubra 1 pembalut tidak penuh 30 cc
Luka jahitan : Masih basah
86

























87


BAB / BAK : Ibu sudah BAK 1 kali dan belum BAB
ASI : Belum keluar
Hasil USG : Uterus dalam keadaan bersih tidak ada
plasenta maupun sisa selaput ketuban yang
tertinggal.
b. Ibu sudah mengerti bahwa rasa mules yang dirasakanya adalah hal
normal.
c. Ibu mengatakan sudah mengerti bahwa nyeri pada luka jahitan
adalah normal dan ibu bersedia untuk melakukan perawatan pada
bekas luka jahitan.
d. Ibu mengatakan belum bisa tidur
e. Ibu mengatakan sudah minum1gelas teh manis
f. Ibu mengatakan sudah bisa miring kanan/kiri
g. Ibu telah melakukan masase pada perutnya.
h. Ibu sudah mengetahui apa saja tanda bahaya nifas dan ibu bersedia
untuk menghubungi bidan jika terjadi salah satu tanda bahaya
tersebut.
i. Ibu belum minum obat yang diberikan dan akan minum obat setelah
makan siang.
j. Ibu mengerti dan bersedia untuk tidak menyusui bayinya sampai usia
1 bulan dan bersedia penuhi nutrisi bayinya dengan susu formula
30 ml 8 kali/hari atau setiap 2-3 jam tanpa jadwal.
88


k. bu sudah mengerti cara perawatan bayinya sehari-hari dan ibu
bersedia untuk mempraktikkannya dirumah, ibu juga bersedia
membawa bayinya ke tenaga kesehatan jika tejadisalah satu tanda
bahaya pada bayinya
l. Ibu sudah dipindah kebangsal Muhtazzam/02



















89


B. PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan menguraikan mengenai pembahasan kasus
yang telah diambil tentang kesenjangan-kesenjangan yang terjadi pada praktik
yang dilakukan di lahan dengan teori yang ada, dengan menggunakan
pendekatan menajemen kebidanan menurut Varney mulai dari pengkajian
sampai evaluasi. Pembahasan ini dimaksudkan agar dapat diambil suatu
kesimpulan dan pemecahan masalah dari kesenjangan-kesenjangan yang terjadi
sehingga dapat digunakan sebagai tindak lanjut dalam penerapan asuhan
kebidanan yang efektif dan efisien khususnya pada pasien ibu bersalin dengan
retensio plasenta.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal yang dipakai dalam menerapkan
asuhan kebidanan pada pasien dan merupakan suatu proses pengumpulan
data yang sistematis dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2009).
Dari pengkajian didapatkan data subyektif Ny. E dengan retensio
plasent ibu mengeluh cemas karena ari-ari belum juga lahir lebih dari
setengah jam setelah bayi lahir. Data obyektif pada Ny. E keadaan umum
sedang, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu 36,8 C,
pernafasan 22 x/menit, kontraksi uterus kuat, TFU setinggi pusat, tali pusat
terjulur sebagian 35 cm, dan perdarahan pervaginam 125 cc.
Menurut Saifuddin (2006), retensio plasenta adalah tertahannya atau
belum lahirnya plasenta hingga waktu setengah jam setelah bayi lahir.
Menurut Rohani dkk. (2011), gambaran klinis dari retensio plasenta adalah
90


TFU setinggi pusat, kontraksi uterus keras, tali pusat tidak bertambah
panjang atau menjulur sebagian dan ostium uteri terbuka. Berdasarkan data
subyektif plasenta tidak kunjung lahir setelah setengah jam bayi lahir, dan
dari data obyektif ditemukan TFU setinggi pusat, kontraksi keras, dan tali
pusat menjulur sebagian, sehingga sesuai dengan teori yang ada dan tidak
ada kesenjangan antara praktik dan teori yang ada. Pada tahap ini penulis
tidak mengalami kesulitan, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
kepada ibu, suami, bidan, dan perawat; melakukan observasi; dan studi
dokumentasi dari buku KIA ibu dan status pasien.
2. Interpretasi Data
Pada interpretasi data terdiri dari diagnosa kebidanan, masalah dan
kebutuhan. Pada kasus Ny E diagnosa kebidanannya adalah Ny E umur 26
tahun G1P0A0 inpartu kala III dengan retensio plasenta dengan masalah
yang dialami Ny. E adalah cemas dikarenakan ari-ari tidak segera lahir lebih
dari setengah jam setelah bayi lahir, untuk mengatasi masalah tersebut Ny.E
membutuhkan informasi tentang keadaannya, informasi tentang tindakan
yang akan dilakukan, dorongan moril dan pemenuhan kebutuhan cairan.
Diagnosa yang ditegakkan sudah sesuai dengan teori dan sesuai
dengan data subyektif dan obyektif yang sudah terkumpul. Menurut
Matondang (2003), masalah yang muncul pada ibu dengan perdarahan
postpartum adalah kecemasan terhadap keadaan yang dialami. Kebutuhan
yang muncul pada ibu dengan perdarahan postpartum adalah informasi
tentang keadaannya, informasi tentang tindakan yang akan dilakukan,
dorongan moril dan pemenuhan kebutuhan cairan (Varney, 2004). Pada
kasus ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus.
91


3. Diagnosa Potensial
Diagnosa potensial yang terjadi pada kasus Ny. E umur 26 tahun
G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta adalah syok haemorhagie dan infeksi,
namun pada Ny. E tidak terjadi syok haemorhagie dan infeksi karena
mendapatkan penanganan yang intensif.
Diagnosa potensial adalah suatu hal untuk antisipasi, pencegahan jika
mungkin, penantian dengan pengawasan penuh dan persiapan untuk
kejadian apapun (Varney, 2004).
Diagnosa potensial
1) Potensi terjadinya infeksi puerpurieum : Pada tindakan manual plasenta
(Saifuddin, 2002).
2) Potensial terjadi syok haemorhagie : Karena adanya perdarahan
postpartum (Sastrowinata, 2004).
3) Retensio sisa plasenta (Oxorn dan Forte, 2010).
4) Inversio uteri akibat penarikan tali pusat yang kuat pada plasenta akreta
(Rohani dkk., 2011).
Pada tahap ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan praktik
yang ada dilapangan.
4. Antisipasi
Pada kasus antisipasi ibu bersalin pada Ny. Eumur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta yang dilakukan adalah pemeriksaan keadaan umum
ibu, kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi uterus dan perdarahan dan
dilakukan kolaborasi dengan dokter SpOG untuk mencegah diagnosa
potensial yang ada dengan pemberian oksitosin 20 unit dalam 500 cc RL
92


dengan 40 tetes per menit, pemberian antibiotik ( Renxone 1 gr, Diazole
500 mg ) dan manual plasenta.
Menurut Rohani dkk. (2011), dalam kasus perdarahan postpartum
karena retensio plasenta, antisipasi yang dilakukan adalah pemeriksaan
keadaan umum ibu, kesadaran, tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi,
respirasi, dan suhu), tonus uterus, dan estimasi banyaknya darah yang sudah
telanjur keluar, kemudian dilakukan pemberian oksitosin 20 unit dalam
500 cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes permenit dan pemberian antibiotik
profilaksis (ampicilin 2 gram IV/oral + metronidazol 1 gram per oral) serta
dilakukan plasenta manual.
Pada tahap ini terdapat kesenjangan antara teori dan praktik yaitu
dalam pemberian antibiotik tetapi antibiotik yang diberikan juga merupakan
perlindungan dari infeksi post operasi. Antibiotik yang digunakan adalah
renxone yang berisi ceftriaxone dengan indikasi profilaksis pada infeksi pre
operasi; infeksi kulit, struktur kulit dan jaringan lunak, tulang, sendi, intra-
abdominal; infeksi saluran kemih, meningitis, gonorrhoe tanpa komplikasi
dan infeksi panggul pada wanita.
5. Rencana Tindakan
Pada kasus ibu bersalin pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan
retensio plasenta rencana tindakan sesuai dengan kebutuhan ibu yaitu :
a) Beritahu ibu tentang keadaannya saat ini.
b) Beritahu pada ibu dan keluarga tindakan yang akan dilakukan yaitu
melepaskan perlekatan ari-ari dengan menggunakan tangan dan
kemudian melahirkan ari-ari keluar dari rahim ibu.

93


c) Berikan inform consent pada suami dengan persetujuan ibu.
d) Kosongkan kandung kencing dengan kateterisasi.
e) Kolaborasi dengan dr SpOG :
1) Ganti infus ibu dengan infus baru drip oksitosin 20 unit dalam 500
cc RL dengan 40 tetes per menit.
2) Lakukan traksi terkontrol dengan teknik Kustner dan Duncan
3) Lakukan manual plasenta yaitu dengan cara :
(a) Mendekatkan klem tali pusat di depan vulva, menegangkan tali
pusat sejajar lantai.
(b) Memasukkan tangan kanan secara obtetrik kedalam vagina,
menelusuri tali pusat.
(c) Memindahkan tangan kiri untuk menahan fundus uteri.
(d) Memasukkan tangan kanan sampai kavum uteri dan mencapai
tempat implantasi sambil tangan luar menahan fundus uteri.
(e) Mencari tepi plasenta yang sudah terlepas dan melakukan
penyisiran dengan sisi ulnar sampai seluruh plasenta terlepas.
(f) Memindahkan tangan kiri dari fundus ke suprasimfisis untuk
menahan segmen bawah rahim sambil tangan kanan membawa
plasenta keluar.
(g) Memasase uterus dan menilai kelengkapan plasenta.
(h) Menempatkan plasenta pada tempat yang disediakan
(i) Lakukan penjahitan laserasi perineum derajat II dijahit jelujur
dengan menggunakan benang cromic no. 2/0
(j) Berikan terapi obat (Renxone 1 gr dan Diazole 500 mg)
94


f) Perikasa keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, kontraksi uterus, TFU
dan perdarahan.
g) Ajarkan dan anjurkan ibu untuk memasase perut ibu agar kontraksi
rahim tetap baik.
h) Bersihkan badan ibu dan rapikan ibu.
i) Kolaborasi dokter SpOg untuk memberikan terapi obat oral (supramox
3x1, Metilat 3x1, ferosphat eff 2x1) dan dilakukan USG untuk
memastikan tidak ada sisa plasenta yang tertinggal.
Menurut Rohani dkk. (2011), perencanaan untuk pelaksanaan
tindakan ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah:
1) Penilaian keadaan umum, kesadaran, tanda-tanda vital, kontraksi
uterus dan perdarahan (Manuaba, 2007).
2) Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan yaitu dilakukan
manual plasenta untuk melepaskan plasenta secara manual
(menggunakan tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian
melahirkannya keluar dari kavum uteri.
3) Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan
tindakan yang akan diambil.
4) Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk meneran. Bila
ekspulsi tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat.
5) Pasang infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetes
per menit. Bila perlu, kombinasikan dengan misopostrol 400 mg
rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi
tonik yang timbul dapat mengakibatkan plasenta terperangkap
dalam kavum uteri).
95


6) Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan
manual plasenta dengan cara :
a) Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong.
b) Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva,
tegangkan dengansatu tangan sejajar lantai.
c) Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan
menghadap ke bawah) ke dalam vagina menyusuri sisi bawah
tali pusat.
d) Setelah mencapai permukaan serviks, minta seorang
asisten/penolong untuk memegang klem tali pusat kemudian
pindahkan tangan luar untuk menahan fundus uteri.
e) Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam sampai
kavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi plasenta.
f) Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti member
salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling
merapat).
g) Tentukan implantasi plasenta, temuan tepi plasenta yang paling
bawah.
h) Perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan
kanan kekanan dan kekiri sambil digeser keatas (kranial ibu)
hingga semua perlengketan plasenta terlepas dari dinding uterus.
i) Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri, lakukan
eksplorasi untuk menilai tidak ada plasenta yang tertinggal.
96


j) Pindah kan tangan luar dari fundus ke suprasimfisis (tahan
segmen bawah rahim) kemudian intruksikan asistesten/penolong
untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawa
plasenta keluar (hindarkan terjadinya percikan darah).
k) Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan
suprasimfisis) uterus kearah dorso kranial setelah plasenta
dilahirkan dan tempatkan plasenta didalam wadah yang telah
disediakan.
l) Yang perlu diperhatikan bila tepi plasenta tidak teraba atau
plasenta berada pada dataran yang sama dengan dinding uterus,
maka hentikan upaya manual plasenta karena hal ini
menunjukkan plasenta inkreta. Bila hanya sebagian dari
implantasi plasenta yang dapat dilepas dan bagian lainnya
melekat erat, maka hentikan pula manual plasenta karena hal ini
adalah plasenta akreta. Untuk keadaan ini sebaiknya ibu diberi
uterotonika tambahan (misoprostol 600 mcg per rektal) sebelum
dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.
7) Pemantauan pascatindakan:
(a) Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
(b) Lakukan transfusi darah bila diperlukan.
(c) Berikan antibiotik profilaksis (ampicillin 2 g IV/peroral +
metronidazole 1 g peroral).
(d) Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi,
dan syok neurogenik.
97


Pada langkah ini pada dasarnya prosedur pelaksanaan pada praktik
sudah sesuai dengan teori, hanya ada beberapa perbedaan dalam tindakan
yang disesuaikan dengan keadaan ibu yaitu :
a) Tidak diberikan obat sedativa dan analgetik dikarenakan kondisi ibu
yang tidak buruk, dan tindakan yang dilakukan tidak membutuhkan
waktu yang lama.
b) Dalam tindakan tidak dilakukan eksplorasi dikarenakan plasenta lahir
lengkap dan untuk memastikan tidak ada sisa plasenta atau selaput yang
tertinggal maka dilakukan USG.
6. Pelaksanaan
Pada kasus Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta
pelaksanaannya telah disesuaikan dengan rencana tindakan.
7. Evaluasi
Pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta asuhan
yang diberikan selama 3 jam, dengan hasil antara lain : Keadaan umum
ibu baik, kesadaran composmentis, TTV dalam batas normal, plasenta lahir
lengkap secara manual, TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi keras, PPV :
Lochea rubra 30 cc, Hb 11,6 gr% , dan diagnosa potensial tidak terjadi.
Menurut Saifuddin (2002), di dalam evaluasi diharapkan mendapat
hasil : Keadaan umum ibu baik, tanda-tanda vital kembali normal, plasenta
dapat dikeluarkan dengan lengkap, perdarahan dapat teratasi. syok
haemorhagie tidak terjadi, kontraksi uterus kuat, dan ibu merasa nyaman.
Pada tahap ini tidak terjadi kesenjangan antara teori yang ada dengan
praktik dilapangan.
96
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan studi kasus ibu bersalin kala III pada Ny. E umur26 tahun
G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta yang menggunakan manajemen kebidanan 7
langkah Varney dapat disimpulkan yang meliputi :
1. Pengkajian terhadap ibu bersalin kala III pada Ny. E umur 26 tahun
G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta dilakukan dengan pengumpulan data
subyektif yaitu ibu menyatakan cemas karena ari-ari belum lahir lebih dari
setengah jam setelah bayi lahir, dan data obyektif yaitu kontraksi uterus
keras, TFU setinggi pusat, tali pusat terjulur sebagian 35 cm dan PPV
125 cc.
2. Interpretasi data dilakukan dengan pengumpulan data secara teliti dan
akurat sehingga di dapat diagnose kebidanan Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
inpartu kala III dengan retensio plasenta, disertai masalah yang dialami
oleh Ny. E adalah cemas karena ari-ari tidak lahir lebih dari setengah jam
setelah bayi lahir, sehingga membutuhkan informasi tentang keadaannya,
informasi tentang tindakan yang akan dilakukan, dorongan moril dan
pemenuhan kebutuhan cairan.
3. Diagnosa potensial pada kasus Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan
retensio pasenta akan terjadi syok haemorhagie dan infeksi, namun tidak
terjadi pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta
dikarenakan pasien cepat mendapatkan penanganan yang tepat.
97

4. Antisipasi pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio plasenta
yang dilakukan adalah pemeriksaan keadaan umum ibu, kesadaran, tanda-
tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan dan kolaborasi dengan dokter
SpOG yaitu pemberian oksitosin 20 unit dalam 500 cc RL dengan 40 tetes
per menit, pemberian antibiotik ( Renxone 1 gr dan Diazole 500 mg ) dan
manual plasenta.
5. Rencana tindakan pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan retensio
plasenta adalah sesuai dengan kebutuhan pasien yaitu melakukan manual
plasenta, pemberian oksitosin, pemberian antibiotik, perbaikan laserasi,
medika mentosa dan pemberian KIE sesuai kebutuhan ibu.
6. Pelaksanaan pada ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah
dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan.
7. Evaluasi dari ibu bersalin pada Ny. E umur 26 tahun G
1
P
0
A
0
dengan
retensio plasenta asuhan yang diberikan selama 3 jam, dengan hasil
antara lain : Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, TTV
dalam batas normal, plasenta lahir lengkap secara manual, TFU 2 jari
dibawah pusat, kontraksi uterus keras, PPV : lochea rubra 30 cc, Hb 11,6
gr% , dan diagnose potensial tidak terjadi
8. Pada penanganan kasus dengan retensio plasenta ada kesenjangan dalam
pemberian antibiotik yaitu menggunakan jenis yang berbeda tetapi
penggunaan antibiotik ini juga memmiliki indikasi yang sama yaitu
perlindungan dari infeksi setelah tindakan operasi. Selain itu terdapat
perbedaan dalam tindakan asuhan tetapi asuhan yang diberikan
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ibu.
98

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka disarankan agar akan
memberikan saran, antaralain :
1. Bagi bidan / profesi
Bidan dapat mengambil keputusan dengan tepat sehingga tidak terjadi
keterlambatan dalam penanganan, dan bidan dapat mengantisipasi atau
melakukan tindakan segera, merencanakan asuhan dan pelaksanaan asuhan
pada ibu bersalin dengan retensio plasenta.
2. Bagi rumah sakit
Pelayanan yang diberikan sudah baik, sebaiknya tetap menjaga dan
meningkatkan mutu pelayanan untuk menipiskan kemungkinan terburuk,
termasuk penanganan yang intensif pada perdarahan postpartum karena
retensio plasenta dengan cara melaksanakan asuhan yang sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada.
3. Bagi pendidikan
Sebagai bahan referensi sehingga dapat memberikan wawasan yang luas
mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin dengan retensio plasenta.
4. Bagi pasien dan keluarga
Agar pasien dan keluarga mengetahui tanda-tanda bahaya persalinan
terutama perdarahan karena retensio plasenta.