Anda di halaman 1dari 91

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.

com | 1

Mewujudkan Pernikahan Islami Mewujudkan Pernikahan Islami Mewujudkan Pernikahan Islami Mewujudkan Pernikahan Islami
Redaksi Majalah Asy-Syariah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memaknakan dalam haditsnya, menikah adalah
menyempurnakan setengah dari agamanya. Ungkapan ini menegaskan betapa pernikahan
menduduki posisi yang mulia dalam Islam. Ia bukan sekadar lembaga untuk menghalalkan
aktivitas ranjang. Namun lebih dari itu. Menikah merupakan babak baru dari seorang individu
muslim menjadi sebentuk keluarga di mana ia akan menegakkan syariat agama ini bukan hanya
untuk dirinya sendiri namun juga terhadap pasangan hidupnya, anak-anaknya, dst.
Nilai kemuliaan atau kesakralan pernikahan dalam Islam juga tecermin dari prosesi
pendahuluan yang juga beradab. Islam hanya mengenal proses taaruf. Bukan praktik iseng atau
coba-coba layaknya pacaran. Namun dilambari niatan yang tulus untuk berumah tangga sebagai
bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala diringi dengan kesiapan untuk menerima
segala kelebihan dan kekurangan dari pasangan hidupnya. Bukan niatan-niatan duniawi seperti
mengejar materi, menutup aib, mengubur rasa malu, atau sekadar pelarian dari patah hati.
Islam juga mengatur proses walimah atau resepsi pernikahan yang menonjolkan nuansa
kesederhanaan dengan diliputi tuntunan syariat. Bukan mengukuhi adat, tidak pula kental dengan
tradisi Barat. Walimah dalam Islam, bukanlah hajatan yang sarat gengsi sehingga menuntut
sahibul hajat untuk menyelenggarakan di luar kemampuannya.
Walimah nikah juga tidaklah dimaknai sebagai acara jual beli yang memperhitungkan untung
rugi atau minimalnya balik modal, sebagaimana hal ini tecermin dalam budaya amplop.
Sehingga yang diundang tidak dibedakan antara yang beramplop tebal, tipis, atau bahkan
yang tidak beramplop sama sekali. Alhasil, tidak berlaku kaidah yang penting bukan
orangnya yang datang (untuk mendoakan), namun amplopnya. Bahkan sebagaimana disitir
dalam hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut makanan dari walimatul urs
yang hanya mengundang orang-orang kaya sebagai sejelek-jelek makanan.
Lebih-lebih jika itu semua dibumbui acara-acara yang tidak memiliki makna secara Islam seperti
(dalam adat Jawa) siraman, ngerik, midodareni, jual dawet, panggih, balang suruh, nginjak telur,
dan sebagainya. Atau yang sok kebarat-baratan (baca: latah) dengan standing party (pesta
berdiri), tukar cincin, lempar bunga, berciuman di depan tamu undangan, dansa, atau yang
sekadar menyuguhkan hiburan berupa musik (organ tunggal).
Namun demikian, soal kemungkaran dalam proses menikah ini tidak hanya terjadi dalam dunia
awam. Di kalangan aktivis atau pergerakan Islam juga tak sepi dari kemungkaran. Dalam niat,
tak sedikit dari mereka yang meniatkan menikah karena ingin lari dari masa lalu, semata
menghindari orangtua yang dianggap jauh dari nilai- nilai Islam, dan sebagainya. Dalam tataran
praktik ada yang mengawali proses nikah dengan pacaran Islami, saling tukar foto, biro jodoh

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 2

Islami, hingga menikah tanpa wali.
Sebaliknya, ada pula kelompok sempalan Islam yang justru mengajarkan untuk hidup
membujang atau selibat sebagaimana ini telah dilakoni para pastor, frater, bruder, suster,
biksu/biksuni, biarawan/biarawati, rahib, dan sejenisnya. Itulah salah satu inti ajaran Sufi.
Membiaklah dari gaya hidup menyimpang ala rohaniwan-rohaniwan ini, beragam kelainan
seperti homoseks, pedofilia, incest (hubungan seks sedarah), dan lainnya.
Tak kalah kacau balau, adalah apa yang menjadi amalan ibadahnya orang-orang Syiah
Rafidhah, yakni nikah mutah. Model pernikahan yang umum disebut dengan kawin kontrak ini
praktiknya justru menjadi pintu perzinaan yang dikemas legal. Tak heran, jika ada orang-orang
yang diulamakan atau ditokohkan tertangkap basah melakukan perzinaan, alasan nikah mutah
kerap mengemuka.
Begitulah ketika fitrah agama ini dilanggar. Perzinaan semakin subur, perilaku seksual
menyimpang kian meluas, dan kerusakan masyarakat pun menjadi bom waktu. Maka sudah
masanya bagi kita untuk menghidupkan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala, mewujudkan
pernikahan Islami di tengah masyarakat kita!















e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 3

Daftar Isi Daftar Isi Daftar Isi Daftar Isi

Pengantar Redaksi 1
Daftar Isi 3
Nikah dalam Lingkaran Fitnah 4
Menikah dengan Aturan Islam 11
Proses Syar'i Sebuah Pernikahan 19
Rukun dan Syarat Akad Nikah 32
Mahar dalam Pandangan Syariat 39
Pernikahan dalam Mawaddah dan Rahmah 44
Tawaran kepada Orang Shalih 49
Tidak ada Pacaran Islami 54
Membujang Ala Sufi 62
Penyimpangan-Penyimpangan dalam Masalah Nikah 68
Hafalan Al Qur'an Menjadi Mahar dalam Pernikahan 72
Meniti Keluarga Sakinah dengan Akhlak Terpuji 83













e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 4

NIKAH DALAM LINGKARAN FITNAH
Penulis: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafrudin
Menikah Dalam Kacamata Islam
Menikah, sebagaimana praktik ibadah lainnya dalam Islam, juga terkepung oleh pelbagai
penyimpangan. Bagaimana sesungguhnya menikah dalam kacamata Islam?
Imran bin Hiththan bin Zhabyan, seorang tabiin. Sebelum badai fitnah menghantam, ia seorang
yang masyhur dengan menuntut ilmu dan hadits. Lantas, petaka pun tiba. Berawal dari dorongan
hasratnya untuk menyadarkan putri pamannya, Hamnah, dari kungkungan paham Khawarij yang
menyelimutinya. Ia pun beranjak coba merajut angan. Ia melangkah, mengikat tali kasih dengan
putri berparas ayu Kharijiyah. Namun, angan tinggal angan. Citanya semula yang hendak
menyadarkan Hamnah dari pemahaman Khawarij, ternyata sirna. Dirinya terfitnah. Pemahaman
Khawarij sang istri justru menggerus benaknya. Lunturlah pemahaman Ahlus Sunnah yang lekat
padanya. Jadilah ia seorang Khawarij. Ibnu Zhabyan As-Sadusi Al-Bashri, semula termasuk
orang yang dijuluki mata para ulama, akan tetapi kini ia berubah menjadi seorang tokoh papan
atas Khawarij. (Lihat Siyar Alamin Nubala`, Adz-Dzahabi, 4/114- 115, Tahdzibut Tahdzib,
Ibnu Hajar Al-Asqalani, 3/317-318)
Sesungguhnya hati manusia semuanya ada di antara dua jari jemari Ar-Rahman. Jika
menghendaki, Allah Subhanahu wa Ta'ala bisa memalingkan setiap hati manusia sesuai yang Dia
kehendaki. Hendaknya setiap manusia merasa dirinya tidak aman dari fitnah. Ketergelinciran
hati manusia bisa disebabkan dari arah manapun. Inilah yang harus diwaspadai. Tak menutup
kemungkinan pula ketergelinciran hati seseorang disebabkan karena pernikahan. Berapa banyak
orang yang terjatuh pada kesyirikan, lantaran pernikahan dan prosesi yang menyertainya. Berapa
banyak pula, disadari atau tidak, mereka terjatuh pada kemaksiatan. Menyadari hati yang bisa
berubah-ubah, lemah, mudah terwarnai keadaan dan perlu tiang pancang nan kokoh, hendaknya
seorang yang beriman kembali pada apa yang telah dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Berdasar hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, ia pernah
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- , - = - ' - - = ' _ -' - - , - - , - ' + ' ' - - , ' - , =
' - , . '- ,'= - _'- - , - ' ` : ' - -, ' - , ' - ' - - + ''
= - =' = _ ' =
Sesungguhnya hati Bani Adam semuanya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahman,
seperti hati satu orang, Dia palingkan kemana Dia kehendaki. Kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah
hati-hati kami pada ketaatan kepada-Mu. (HR. Muslim, no. 2654)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 5

Demikianlah yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Memohon diberi
ketetapan hati untuk senantiasa kokoh ada dalam ketaatan pada-Nya. Taat dalam setiap keadaan,
termasuk saat menginjak ke pelaminan. Hingga dengan pernikahan tersebut, seseorang bisa
menjadikannya sebagai wasilah (perantara) untuk meraup keteguhan iman. Pernikahan tersebut
benar-benar menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena, nikah itu adalah sepenggal bentuk ibadah, yang merupakan bentuk pengamalan Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
- - , ' - - - = - = - ' - -' -
Dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan
termasuk golonganku. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 5063 dan Muslim dalam
Shahih-nya no. 1401, penggalan dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Becerminlah dari Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha, seorang shahabiyah yang mulia. Ia
menjadikan pernikahannya mampu mengantarkan kebaikan bagi dirinya, suaminya, kehidupan
rumah tangganya, dan dakwah secara umum. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bertutur:
- . - , ' - - - ' - ' ' - ' ' ' - + - , - ' - - - ' , ' - = ' = , - - = ' =
- '' - ' + - = = : = - = - - - ' - ' - - ' - - - . ' - + - , - ' - - - ' ' - '
Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Yang menjadi mahar bagi pernikahan keduanya adalah
Islam. Ummu Sulaim memeluk Islam sebelum Abu Thalhah. Maka, Abu Thalhah pun lantas
melamar Ummu Sulaim. Kata Ummu Sulaim, Sungguh aku telah memeluk Islam. Jika engkau
hendak menikahiku, engkau harus memeluk Islam terlebih dulu. Kemudian Abu Thalhah pun
memeluk Islam. Keislamannya itu menjadi mahar (dalam pernikahan) keduanya. (HR. An-
Nasa`i dalam Sunan-nya, no. 3340. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
rahimahullah menshahihkan hadits ini)
Dalam riwayat lain dari Tsabit, dari Anas, dia berkata: Abu Thalhah telah melamar Ummu
Sulaim. Maka, Ummu Sulaim berkata, Demi Allah, orang yang sepertimu, wahai Abu Thalhah,
tidak layak ditolak. Tetapi engkau lelaki kafir, sedangkan aku seorang muslimah. Tak halal
bagiku untuk menikah denganmu. Jika engkau mau memeluk Islam, maka (keislamanmu) itu
sebagai maharku. Aku tidak meminta yang selainnya. Lantas Abu Thalhah pun memeluk Islam
dan itulah yang menjadi maharnya. Tsabit berkata: Tidak pernah aku mendengar sama sekali
tentang mahar yang lebih mulia dari yang diberikan kepada Ummu Sulaim, yakni Islam.
(Sunan An- Nasa`i, no. hadits 3341 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)
Asy-Syaikh Abu Munir Abdullah bin Muhammad Utsman Adz-Dzammari hafizhahullah (salah
seorang ulama terkemuka di Yaman), terkait kisah hadits di atas, memberikan nasihat yang laik
dicamkan benar-benar oleh kaum muslimin. Kata beliau hafizhahullah, Begitulah yang

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 6

semestinya diucapkan seorang muslimah. Dia tidak tertipu dengan harta kekayaan yang dimiliki
pihak lelaki. Padahal, Abu Thalhah tergolong orang Anshar yang kaya harta. (Namun demikian)
Ummu Sulaim tidak meminta harta kekayaan yang banyak dari Abu Thalhah. Tidak meminta
perhiasan emas, tidak juga yang lainnya. Yang diminta hanyalah dia (Abu Thalhah) memeluk
Islam karena Allah Rabbul alamin, sekaligus dijadikan mahar baginya. Abu Thalhah pun
memeluk Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikannya seorang laki-laki beriman,
shalih dan membantu (perjuangan) agama hingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mewafatkannya
dalam Islam. Dengan (kecerdasan) akal seorang wanita beriman ini dan dengan keimanannya
(Ummu Sulaim), ia menjadi pria tangguh, kokoh, dan berserah diri. (Nimatuz Zawaj wa
Shalahuz Zaujaini, Abu Munir Abdullah bin Muhammad Utsman Adz-Dzammari, hal. 9)
Adapun larangan seorang muslimah dinikahkan dengan seorang laki-laki musyrik telah nyata
dalilnya. Terkait masalah ini, Asy-Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili menyatakan bahwa
pengharaman menikahkan muslimah dengan laki-laki musyrik, sama saja baik laki-laki tersebut
mubtadi (melakukan bidah yang menjadikan dia musyrik, pen.) atau selainnya, maka hujjah
dalam masalah ini jelas berdasar Al-Kitab dan ijma (kesepakatan) umat. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
, - -, , _ - = , - - ' , = - - `
Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita beriman)
sebelum mereka beriman. (Al-Baqarah: 221)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
' - -, - , - - - ' = ' + ' , ' = , ` + ' . = ` '- ' _ ' , = - `
Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu
kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi
orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak pula halal bagi mereka. (Al-
Mumtahanah: 10)
Maka, sungguh telah nyata kedua ayat di atas mengharamkan pernikahan muslimah terhadap
orang kafir dan musyrik secara mutlak. Sama saja, baik dia seorang ahli kitab atau paganis
(penyembah berhala) yang tidak memiliki kitab (bukan ahli kitab), tetap haram. (Mauqif Ahlis
Sunnah wal Jamaah min Ahlil Ahwa` wal Bida, hal. 377)
Sedangkan pengharaman seorang muslim menikah dengan wanita kafir musyrikah, berdasar
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
- - = = , ' - - - , = - -, - - ' ' -, , _ - = ' - - ' , = - - `

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 7

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik
hatimu. (Al-Baqarah: 221)
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
, ' - - , - - - `
Dan janganlah kamu tetap berpegang kepada tali (pernikahan) dengan perempuan- perempuan
kafir. (Al-Mumtahanah: 10)
Dua ayat tersebut menjadi dalil atas pengharaman menikahi wanita musyrikah secara umum oleh
kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengecualikan yang demikian terhadap wanita-
wanita ahli kitab, berdasar firman-Nya:
+ ' . = -' = ' . = ' - ' , - , - ' ' = ' - , =' ' . = , , '
' - - ' - ' , - , - ' - ' - - = - ' ' - -, - ' - ' - - = - '
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang
diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan
menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan
wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum
kamu. (Al-Ma`idah: 5)
Maka, selama Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan keringanan dalam masalah menikahi para
wanita ahli kitab, hal itu menjadi boleh. Adapun selain mereka, dari kalangan wanita-wanita
musyrikah, larangan menikahi mereka tetap berlaku berdasar keumumannya. Seperti, (larangan
menikahi) wanita-wanita penyembah berhala, patung-patung, bintang-bintang, dan api.
Termasuk dalam hal ini, menghukumi mereka dari kalangan wanita-wanita pelaku kesyirikan
dari kalangan ahli bidah, dihukumi karena kekafiran mereka. Hal ini jika mengaitkan para
wanita tersebut kepada Islam. (Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaah min Ahlil Ahwa` wal Bida,
hal. 374)
Diungkapkan pula oleh Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah, atsar yang dinukil dari
para imam salaf menunjukkan keharaman menikahi ahli bidah yang telah sampai batas ambang
kekafiran. Seperti, Jahmiyah dan Qadariyah. Maka tidak boleh menikahkan mereka kepada para
wanita Ahlus Sunnah disebabkan kekufurannya. Apabila telah telanjur menikahkannya, maka
wajib fasakh (membatalkan) pernikahannya ketika itu juga.
Terkait Syiah Rafidhah, beliau hafizhahullah menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullahu (dalam Majmu Fatawa, 32/61) saat menjawab pertanyaan tentang hukum

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 8

menikah dengan Rafidhi (penganut paham Rafidhah, ed.) dan orang yang mengatakan tidak
wajib shalat lima waktu. Kata Syaikhul Islam: Tidak boleh seseorang menikahkan wanita yang
di bawah perwaliannya kepada seorang Rafidhi dan yang meninggalkan shalat. (Bila) saat
menikahkannya atas dasar (pengetahuan) sesungguhnya dia seorang Sunni, menunaikan shalat
lima waktu, kemudian diketahui bahwa dia seorang Rafidhi dan meninggalkan shalat, maka
mereka harus mem-fasakh pernikahan tersebut. (Ibid, hal. 380).
Dalam masalah pernikahan, Syiah menganut pemahaman membolehkan nikah mutah. Terjadi
nikah mutah manakala seorang lelaki menikahi wanita dalam jangka waktu tertentu. Jika jangka
waktu tertentu itu habis, maka selesailah ikatan pernikahan tersebut. Tidak membutuhkan talak.
Tidak ada nafkah bagi wanita itu. Tidak ada beban tanggung jawab pada laki-laki terhadap anak-
anak yang dilahirkan wanita tersebut (karena hubungan keduanya). Tidak pula mewarisi (harta)
dari laki-laki tersebut. Ini model pernikahan jahiliah. (Tashilul Ilmam bi Fiqhil Ahadits min
Bulughil Maram, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Kitabun Nikah, hal.
340).
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengharamkan mutah pada perang Khaibar, yaitu tahun
ketujuh dari hijrah. Setelah perjanjian Hudaibiyyah, sebelum Fathu Makkah. Kemudian saat
perang Authas (nama tempat dekat kota Tha`if), disebut juga perang Hunain, tahun kedelapan
hijrah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan mutah selama tiga hari sebagai bentuk
rukhshah (keringanan). At- Tarkhish (rukhshah) artinya dibolehkan sesuatu yang asalnya
terlarang dengan disertai adanya sebab yang membahayakan. Telah menjadi ijma (kesepakatan)
di kalangan ulama bahwa nikah mutah adalah batil. Dibolehkan saat diberlakukan rukhshah
(pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, pen.) dan setelah itu rukhshah itu dihapus. Yang
masih memberlakukan nikah mutah ini hingga sekarang adalah Syiah Rafidhah. (Tashilul
Ilmam, hal. 340-341)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah secara tegas melarang nikah mutah. Dari Salamah
bin Al-Akwa radhiyallahu 'anhu, berkata:
= ' = '- ,'= - _'- - , - = ' + - = _ + - ` ' `' ' ` - - ' '
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi rukhshah (keringanan) pada tahun
Authas dalam masalah mutah selama tiga hari, lalu melarangnya. (HR. Muslim dalam
Shahih-nya, no. 1405)
Diriwayatkan dari Ali Radhiallahu'anhu, dia berkata:
, = ' . = - , = , , ' - -' - - = _ + - '- ,'= - _'- - , -
, - - ' ' - = '

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 9

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang mutah pada hari Khaibar. Beliau
juga melarang makan daging keledai jinak pada hari itu. (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya,
no. 4216, dan Muslim dalam Shahih-nya, no. 1407)
Pernikahan dalam Adat Jawa
Pernikahan bagi masyarakat Jawa diyakini sebagai sesuatu yang sakral. Masyarakat Jawa
meyakini bahwa saat peralihan dari tingkat sosial yang satu ke yang lain, merupakan saat-saat
berbahaya. Karenanya, untuk mendapatkan keselamatan hidup, dilakukan upacara-upacara.
Menjadi manten (pengantin) merupakan bagian dari peralihan itu sendiri. Tradisi yang
berlangsung biasanya berupa petung, prosesi, dan sesaji.
Petung adalah musyawarah untuk memutuskan suatu acara penting dalam keluarga. Petung dina
lazim dilakukan untuk menentukan hari baik pada acara hajatan, seperti hari penikahan. Selain
melihat calon mempelai dari kriteria bibit (keturunan), bobot (berat, yakni dilihat dari harta
bendanya), bebet (kedudukan sosialnya: priayi, rakyat biasa, atau status sosial lainnya), juga
ditentukan melalui pasatoan salaki rabi. Pasatoan salaki rabi adalah pedoman menentukan jodoh
berdasar nama, hari kelahiran, dan neptu (jumlah nilai hari kelahiran dan nilai pasarannya:
Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage). Melalui perhitungan-perhitungan yang didasarkan
Primbon Betaljemur Adammakna, maka kedua mempelai akan ditentukan baik buruknya
perjodohan.
Selain itu, dalam kehidupan sebagian masyarakat Jawa masih meyakini peristiwa kejugrugan
gunung. Yaitu peristiwa kematian atau kecelakaan salah satu anggota keluarga dekat mempelai
pengantin. Peristiwa itu diyakini sebagai isyarat buruk dari pernikahan yang akan dilakukan.
Termasuk kepercayaan baik-buruk dalam masalah pernikahan, dalam tradisi masyarakat Jawa
masih ada yang meyakini bulan-bulan baik untuk pernikahan yaitu Rejeb dan Besar. Bulan-bulan
buruk yaitu Jumadil Awal, Pasa, Sura, dan Sapar. (Lihat Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, Dr.
Purwadi, dkk, Kejawen, Jurnal Kebudayaan Jawa, Vol. I, No. 2)
Bagaimana pandangan syariat terhadap keyakinan-keyakinan seperti di atas?
Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam, menyebutkan bahwa umat tertimpa
malapetaka dengan tathayyur sejak menyimpang dari beribadah kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Tathayyur adalah (anggapan) kesialan. Sungguh, orang-orang sesat telah sampai kepada
masalah penetapan kesialan hingga taraf yang membahayakan. Pada sebagian orang, nasib sial
ditentukan karena waktu, hari-hari, bulan-bulan, atau tahun-tahun. Sebagian lagi menentukannya
dengan angka-angka, misal angka 13. Ada lagi yang menentukan nasib sial dengan burung,
seperti dengan burung hantu, gagak, dan lainnya. Ketahuilah, tathayyur (menentukan sial
tidaknya sesuatu) adalah termasuk macam kesyirikan (perbuatan menyekutukan) Allah
Subhanahu wa Ta'ala (Irsyadun Nazhir ila Marifati Alamatis Sahir, hal. 85).

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 10

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
, - ' , ` ` ' - - - = -' = ' - - `
Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Araf: 131)
Diriwayatkan dari Ibnu Masud radhiyallahu 'anhu secara marfu:
. , -'' - - - , - ' ' ' ' - - '- - , =' - , =' - , ='
Thiyarah adalah syirik. Thiyarah adalah syirik. Thiyarah adalah syirik. Dan tak seorangpun di
antara kita kecuali (sungguh telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari itu), akan tetapi Allah
telah menghilangkannya dengan tawakal (kepada-Nya). (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya,
no. 3910, dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdulwahhab menyatakan (terkait
hadits di atas) bahwa hal ini menjadi penjelas perihal pengharaman thiyarah. Karena hal itu
termasuk syirik, terkait dengan menggantungkan hati kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dikatakan dalam Syarhus Sunnah, bahwa thiyarah dikategorikan sebagai syirik karena mereka
meyakini, sesungguhnya thiyarah bisa mendatangkan manfaat dan menolak mudarat pada
mereka, jika mereka telah mengamalkan apa yang diharuskan. Maka, hal ini seperti mereka
menyekutukan (sesuatu) bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Imam Ahmad rahimahullahu
meriwayatkan hadits dari Ibnu Amr, (bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
yang artinya): Barangsiapa yang mengurungkan keperluannya karena thiyarah, maka dia telah
melakukan kesyirikan. Para sahabat bertanya, Maka, apa kaffarah (tebusan) untuk hal itu?
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
, = ' ` , = ` , = ` , = ` , = ` + ''
Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tidak ada kesialan kecuali kesialan
dari Engkau, dan tidak ada ilah (sesembahan yang berhak diibadahi) kecuali Engkau. (Lihat
Fathul Majid, hal. 287)
Mudah-mudahan dengan menjaga prosesi pernikahan dari segala bentuk kesyirikan, kebidahan,
dan kemaksiatan, pernikahan pun jadi diberkahi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Biduk rumah
tangga pun siap melaju dengan diiringi keikhlasan, kesabaran, dan tawakal kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Wallahu alam. Walhamdulillah Rabbil alamin.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 11

MENIKAH DENGAN ATURAN ISLAM
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
Pengertian Nikah
Sebagai salah satu ibadah yang mulia kedudukannya, menikah berikut prosesi yang mendahului
ataupun setelahnya juga memiliki rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Nikah sebagai kata
serapan dari bahasa Arab bila ditinjau dari sisi bahasa maknanya menghimpun atau
mengumpulkan. Kata ini bisa dimutlakkan pada dua perkara yaitu akad dan jima (hubungan
suami istri).
Adapun pengertian nikah secara syari adalah seorang pria mengadakan akad dengan seorang
wanita dengan tujuan agar ia dapat istimta (bernikmat-nikmat) dengan si wanita, dapat beroleh
keturunan, dan tujuan lain yang merupakan maslahat nikah.
Akad nikah merupakan mitsaq (perjanjian) di antara sepasang suami istri. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
' =, ' = ' ' `, - - - - =
Dan mereka (para istri) telah mengambil dari kalian (para suami) perjanjian yang kuat. (An-
Nisa`: 21)
Akad ini mengharuskan masing-masing dari suami dan istri memenuhi apa yang dikandung
dalam perjanjian tersebut, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
, - '' - , , - - , - ' ' + , ' ,
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (perjanjian-perjanjian) kalian. (Al-
Ma`idah: 1)
[Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/175-176, Fathul Bari, 9/130, Adz-Dzakhirah, 4/188-
189, At-Tarifat Lil Jurjani, hal. 237, Asy-Syarhul Mumti, 12/5, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi,
2/274]
Pensyariatan Nikah dan Maslahatnya
Pensyariatan nikah ditunjukkan dalam Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma (kesepakatan ulama).
Dari Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
' - -' - ' ' = ' - , = -'

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 12

Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang kalian senangi. (An-Nisa`: 3)
- - + - , - , -, , -'- ' - = - , = '' -' - - _ -' , ` , = -
' -
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendiri (belum menikah) di antara kalian, demikian
pula orang-orang yang shalih dari kalangan budak laki-laki dan budak perempuan kalian. Bila
mereka dalam keadaan fakir maka Allah akan mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-
Nya. (An-Nur: 32)
Dari As-Sunnah, sangat banyak kita dapatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, ataupun taqrir (persetujuan). Di antaranya yang
bisa kita sebutkan adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para pemuda:
- , ' ' - ' - - ' = - - - ' - -' - - ' ,...
Wahai sekalian para pemuda! Siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah maka
hendaknya ia menikah. (HR. Al-Bukhari no. 5060 dan Muslim no. 3384 dari Ibnu Masud
radhiyallahu 'anhu)
Adapun dari ijma maka telah dinukilkan oleh Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu dalam
kitabnya Al-Mughni, kitab An-Nikah, fashl Al-Ashl fi Masyruiyatin Nikah Al- Kitabu was-
Sunnah wal Ijma.
Penetapan syariat banyak memberikan hasungan untuk melangsungkan pernikahan. Karena
dalam pernikahan banyak diperoleh maslahat yang agung yang kembalinya pada pasangan
suami-istri, anak-anak yang dilahirkan, masyarakat dan agama. Begitu pula dengan pernikahan
akan tertolak sekian banyak mafsadat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda memberi hasungan:
- ' ' - `' - - ' , ' , ' , ' , = -
Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena (pada hari kiamat nanti)
aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain. (HR. Abu
Dawud no. 2050 dari Maqil bin Yasar radhiyallahu 'anhu, dishahihkan oleh guru kami Asy-
Syaikh Muqbil Al-Wadii rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/189)
Para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun tidak ketinggalan dalam memberi
hasungan untuk menikah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah berkata kepada Said bin
Jubair rahimahullahu: Apakah engkau telah menikah? Belum, jawab Said. Ibnu Abbas
berkata, Menikahlah! Karena sebaik-baik umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 13

(HR. Al-Bukhari no. 5069)
Ibnu Masud radhiyallahu 'anhu berkata, Seandainya tidak tersisa umurku kecuali hanya
semalam, niscaya aku menyenangi bila aku memiliki seorang istri pada malam tersebut.
(Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 4/128)
Di antara faedah dan manfaat yang besar dari pernikahan yang dapat kita sebutkan adalah
sebagai berikut:
1. Dengan pernikahan akan terjaga kemaluan lelaki dan perempuan, akan menundukkan
pandangan keduanya dari melihat apa yang tidak halal dan menjaga diri dari istimta (berlezat-
lezat) dengan sesuatu yang haram, yang dengan ini akan merusak masyarakat manusia.
2. Menjaga kelestarian umat manusia di muka bumi karena dengan menikah akan lahir generasi-
generasi penerus bagi pendahulunya.
3. Memperbanyak umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan keturunan yang lahir
dalam pernikahan sehingga menambah hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala yang beriman,
yang dengannya dapat mewujudkan keinginan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
membanggakan banyaknya umat beliau. Tentunya hal ini akan membuat marah orang-orang
kafir dengan lahirnya para mujahidin fi sabilillah yang akan membela agamanya. Di samping
juga akan ada saling membantu dalam melakukan pekerjaan dan memakmurkan alam ini.
4. Menjaga nasab, mengikat kekerabatan dan hubungan rahim sebagian mereka dengan sebagian
yang lain. Seandainya tidak ada akad nikah dan menjaga kemaluan dengan pernikahan, niscaya
akan tersia-siakan nasab dan keturunan manusia. Akibatnya kehidupan di dunia ini menjadi
kacau tiada beraturan. Tidak ada saling mewarisi, tidak ada hak dan kewajiban, tidak ada ushul
(asal muasal keturunan seseorang), dan tidak ada furu (anak keturunan seseorang).
5. Pernikahan akan menumbuhkan kedekatan hati, mawaddah dan rahmah di antara suami istri.
Karena yang namanya manusia pasti membutuhkan teman dalam hidupnya yang bisa
menyertainya dalam suka duka dan bahagianya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan hal
ini dalam firman-Nya:
- = , - - , - . = ' + , ' ,- - - ' ' = - - - - ' ' = -' ,' -
- - , , - ' ' ,' ' = '
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis
kalian sendiri agar kalian merasa tenang dengannya dan Dia menjadikan mawaddah dan
rahmah di antara kalian. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-
orang yang mau berpikir. (Ar-Rum: 21)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 14

Cinta dan kasih sayang di antara suami-istri ini tidak dapat disamai dengan cinta dan kasih
sayang di antara dua orang yang berteman atau dua orang yang dekat hubungannya. Karenanya,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
' -' . ` - , -' = - - ' ' , '
Tidak terlihat hubungan yang demikian dekat di antara dua orang yang saling mencintai yang
bisa menyamai hubungan yang terjalin karena pernikahan. (HR. Ibnu Majah no. 1848, hadits
ini dikuatkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dengan jalan yang lain, lihat Ash-
Shahihah no. 624)
6. Dengan terjalinnya hubungan pernikahan, akan berkumpul dua insan guna bersama membina
rumah tangga dan keluarga, di mana keluarga merupakan inti tegaknya masyarakat dan kebaikan
bagi masyarakat. Si suami menjaga, mengarahkan dan membimbing istri serta anak-anaknya, dan
ia bekerja untuk menafkahi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
+ ' , - - , - - - ' - - - _ ' = + - - - . - ' - - ' - -' _ ' = , -, ' = '
Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita dikarenakan Allah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) di atas sebagain yang lain (wanita) dan juga karena kaum laki-laki telah
menginfakkan sebagian dari harta-harta mereka. (An-Nisa`: 34)
Sementara si istri mengatur rumahnya, mendidik anak-anaknya dan mengurusi perkara mereka.
Dengan semua ini akan luruslah keadaan dan teraturlah segala urusan. (Al-Mulakhkhash Al-
Fiqhi, 2/274, Taudhihul Ahkam, 5/210)
Hukum Nikah
Fuqaha menyebutkan bahwa pada nikah diberlakukan hukum yang lima. Sehingga bisa jadi
dalam satu keadaan hukumnya wajib, pada keadaan lain hukumnya mustahab/sunnah atau hanya
mubah, bahkan terkadang makruh atau haram.
Adapun hukum asal menikah adalah sunnah menurut pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii,
dan riwayat yang masyhur dari mazhab Al-Imam Ahmad. Sebagaimana hal ini merupakan
pendapat mayoritas ulama, menyelisihi pendapat mazhab Zhahiriyyah yang mengatakan wajib.
Nikah ini merupakan sunnah para rasul, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
, ' = + ' ' - ' = = ' - - ` - ' - ' - - - '
Sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelummu dan Kami jadikan untuk mereka istri-istri
dan anak turunan. (Ar-Rad: 38)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 15

Utsman bin Mazhun radhiyallahu 'anhu, seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, berkata, Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan kami, niscaya
kami akan mengebiri diri kami (agar tidak memiliki syahwat terhadap wanita sehingga tidak ada
kebutuhan untuk menikah, pent.). Akan tetapi beliau melarang kami dari hidup membujang
(tidak menikah). (HR. Al-Bukhari no. 5073 dan Muslim no. 3390)
Bagi seseorang yang mengkhawatirkan dirinya akan jatuh dalam perbuatan zina bila tidak
menikah, maka hukum nikah baginya beralih menjadi wajib karena syahwatnya yang kuat.
Ditambah lagi bila di negerinya bebas melakukan hubungan zina. Hukum nikah baginya menjadi
wajib untuk menolak mafsadat tersebut. Karena meninggalkan zina hukumnya wajib, dan
kewajiban tersebut tidak akan sempurna penunaiannya kecuali dengan nikah.
Hukumnya mubah bagi orang yang tidak bersyahwat namun ia memiliki kecukupan harta.
Mubah baginya karena tidak ada sebab-sebab yang mewajibkannya.
Adapun orang yang tidak bersyahwat dan ia fakir, nikah dimakruhkan baginya. Karena ia tidak
punya kebutuhan untuk menikah dan ia akan menanggung beban yang berat. Namun terkadang
pada orang yang lemah syahwat atau tidak memiliki syahwat ini, karena usia tua atau karena
impoten misalnya, diberlakukan hukum makruh tanpa membedakan ia punya harta atau tidak.
Karena ia tidak dapat memberikan nafkah batin kepada istrinya, sehingga pada akhirnya dapat
memudaratkan si istri.
Dan haram hukumnya bila orang itu benar-benar tidak dapat menunaikan perkara- perkara yang
berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Karena, menikah disyariatkan semata-mata untuk
memberikan maslahat. Kalau ada tindakan aniaya seperti ini, akan hilanglah maslahat yang
diharapkan, terlebih lagi jika dia berbuat dosa dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan.
Haram pula bagi seseorang yang sudah memiliki istri, kemudian ia ingin menikah lagi namun
dikhawatirkan tidak dapat berlaku adil di antara istri-istrinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
- = , , ' - - ` - - = '
Maka apabila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil (bila memiliki lebih dari satu istri)
maka menikahlah dengan seorang wanita saja. (An-Nisa`: 3)
[Bada`iush Shana`i, 3/331-335, Al-Ikmal 4/524, Al-Majmu, 17/204-205, Al-Mughni, kitab
An-Nikah, fashl Al-Ashl fi Masyruiyatin Nikah Al-Kitabu was-Sunnah wal Ijma, Al-
Ahkamusy Syariyyah fil Ahwalisy Syakhshiyyah, 1/36, Asy-Syarhul Mumti, 12/6-9)
Berikut ini ucapan sejumlah ulama dari lima mazhab [Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafiiyyah,
Hanabilah, dan Zhahiriyyah] tentang hukum nikah:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 16

Ibnu Abidin Al-Hanafi rahimahullahu dalam Hasyiyah-nya menyatakan, nikah lebih utama
daripada menyibukkan diri dengan belajar dan mengajar, dan lebih utama daripada
mengkhususkan diri untuk mengerjakan ibadah-ibadah nafilah/sunnah. (Raddul Mukhtar Alad
Durril Mukhtar Syarhu Tanwiril Abshar, 4/65)
Al-Qarafi Al-Maliki rahimahullahu berkata, Nikah tanpa melihat keadaan orang- orang
yang menikah hukumnya mandub (sunnah). Menurut mazhab kami (Maliki) dan menurut
pendapat Asy-Syafii, meninggalkan nikah karena ingin mengerjakan ibadah-ibadah nafilah bagi
orang yang jiwanya tidak condong kepada nikah adalah afdhal. Adapun menurut Abu Hanifah
dan Ahmad bin Hambal, nikah lebih afdhal, karena ulama berbeda pendapat tentang
kewajibannya. Minimal keadaannya adalah nikah lebih dikedepankan karena dengan nikah akan
menjaga kehormatan diri sepasang suami istri, akan melahirkan anak-anak yang mentauhidkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dapat membanggakan
banyaknya umat beliau. Dengan demikian nikah bisa meraih maslahat-maslahat yang besar.
Orang yang bisa memberikan kemanfaatan/kebaikan kepada orang lain adalah lebih utama/afdhal
daripada orang yang membatasi kemanfaatan untuk dirinya sendiri. Juga, Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam mengedepankan nikah daripada puasa sebagaimana dalam hadits:
: - , ' ' - ' - - ' = - - - ' - -' - - ' ,
Wahai sekalian para pemuda! Siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah maka
hendaknya ia menikah. (HR. Al-Bukhari no. 5060 dan Muslim no. 3384 dari Ibnu Masud
radhiyallahu 'anhu) (Adz-Dzakhirah, 4/190)
Asy-Syairazi Asy-Syafii rahimahullahu berkata, Siapa yang dibolehkan untuk menikah dan
jiwanya sangat berkeinginan untuk melangsungkannya sementara ia mampu memberikan mahar
dan nafkah kepada wanita yang dinikahinya maka mustahab baginya untuk menikah,
berdasarkan hadits Abdullah. Juga, karena dengan menikah lebih menjaga kemaluannya dan
lebih menyelamatkan agamanya. Namun hukum nikah tidak sampai diwajibkan atasnya. (Al-
Muhadzdzab dengan Al-Majmu 17/203)
Ibnu Qudamah Al-Hanbali rahimahullahu berkata, Kaum muslimin sepakat bahwa nikah
disyariatkan. Orang-orang dalam mazhab kami berbeda pendapat tentang hukum wajibnya.
Namun yang masyhur dalam mazhab ini, hukumnya tidaklah wajib kecuali bila seseorang
mengkhawatirkan dirinya jatuh ke dalam perkara yang dilarang bila ia meninggalkan nikah,
maka wajib baginya menjaga kehormatan dirinya. Ini merupakan pendapat mayoritas fuqaha.
(Al-Mughni, kitab An-Nikah, fashl Al-Ashl fi Masyruiyatin Nikah Al-Kitabu was-Sunnah wal
Ijma)
Ibnu Hazm Azh-Zhahiri rahimahullahu berkata, Diwajibkan kepada setiap orang yang
mampu untuk jima bila ia mendapatkan jalan untuk menikah atau mendapatkan budak agar

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 17

melakukan salah satunya, dan ini suatu keharusan. Namun bila ia tidak bisa mendapatkan jalan
untuk menikah atau mendapatkan budak, hendaklah ia memperbanyak puasa. (Al-Muhalla bil
Atsar, 9/3)
Tujuan Menikah
Orang yang menikah sepantasnya tidak hanya bertujuan untuk menunaikan syahwatnya semata,
sebagaimana tujuan kebanyakan manusia pada hari ini. Namun hendaknya ia menikah karena
tujuan-tujuan berikut ini:
1. Melaksanakan anjuran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:
- , ' ' - ' - - ' = - - - ' - -' - - ' ,...
Wahai sekalian para pemuda! Siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah maka
hendaknya ia menikah.
2. Memperbanyak keturunan umat ini, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- ' ' - `' - - ' , ' , ' , ' , = -
Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena (pada hari kiamat nanti)
aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.
3. Menjaga kemaluannya dan kemaluan istrinya, menundukkan pandangannya dan pandangan
istrinya dari yang haram. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan:
= ' + = , = - = , ' - - - , - , , - -, - ' ' . ' - - , - = - + ' _
, - - , . + = = - = , ' - - - - - , ' - -, - ' ' .
Katakanlah (ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih
suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan
katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian
pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. (An-Nur: 30-31)
Dalam surah yang lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji orang-orang beriman yang salah satu
sifat mereka adalah menjaga kemaluan mereka kecuali kepada apa yang dihalalkan:
, = ' = + = - ' , - ' . , = + - ' + -' - , - ' - ' - + = _ ' = `
, -, ' -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 18

Dan orang-orang yang menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau
budak perempuan yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
(Al-Mu`minun: 5-6)
Dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
- ' ' - = - - ' ' = - '
Karena dengan nikah akan lebih menundukkan pandangan (dari melihat yang haram) dan
lebih menjaga kemaluan (dari melakukan zina), juga terkandung tujuan nikah.

















e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 19

PROSES SYAR'I SEBUAH PERNIKAHAN
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
Mengenal Calon Pasangan Hidup
Proses mencari jodoh dalam Islam bukanlah membeli kucing dalam karung sebagaimana
sering dituduhkan. Namun justru diliputi oleh perkara yang penuh adab. Bukan coba dulu baru
beli kemudian habis manis sepah dibuang, sebagaimana jamaknya pacaran kawula muda di
masa sekarang.
Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tatacara ataupun proses sebuah pernikahan
yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Berikut ini kami bawakan
perinciannya:
Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, tentunya ia harus mengenal
terlebih dahulu siapa wanita yang hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si wanita tahu
siapa lelaki yang berhasrat menikahinya. Tentunya proses kenal-mengenal ini tidak seperti yang
dijalani orang-orang yang tidak paham agama, sehingga mereka menghalalkan pacaran atau
pertunangan dalam rangka penjajakan calon pasangan hidup, kata mereka. Pacaran dan
pertunangan haram hukumnya tanpa kita sangsikan.
Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa namanya,
asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang memang
dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari kerabat si
lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.
Yang perlu menjadi perhatian, hendaknya hal-hal yang bisa menjatuhkan kepada fitnah (godaan
setan) dihindari kedua belah pihak seperti bermudah-mudahan melakukan hubungan telepon,
sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin taaruf (kenal-mengenal) dengan calon suami/istri.
Jangankan baru taaruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari fitnah.
Karenanya, ketika Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah ditanya
tentang pembicaraan melalui telepon antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah
dipinangnya, beliau menjawab, Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan
wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah diterima dan pembicaraan yang
dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah.
Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara wali si wanita maka lebih baik lagi dan lebih jauh
dari keraguan/fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara
pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung pelamaran di antara mereka, namun tujuannya
untuk saling mengenal, sebagaimana yang mereka istilahkan, maka ini mungkar, haram, bisa
mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 20

- = - ` ' - `, ' - - ' -' _ - = , , - '' -
Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara sehingga berkeinginan
jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan ucapkanlah ucapan yang maruf. (Al-Ahzab:
32)
Seorang wanita tidak sepantasnya berbicara dengan laki-laki ajnabi kecuali bila ada kebutuhan
dengan mengucapkan perkataan yang maruf, tidak ada fitnah di dalamnya dan tidak ada
keraguan (yang membuatnya dituduh macam-macam). (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy
Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/163-164)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
Ada beberapa hal yang disenangi bagi laki-laki untuk memerhatikannya:
Wanita itu shalihah, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- ' ' ' - -' _ - - : - , - - - , -' - - - =' ' + - , - ' ' + ' - = ' ' + - - = ' ' + '' - '
Wanita itu (menurut kebiasaan yang ada, pent.) dinikahi karena empat perkara, bisa jadi
karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka
pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka. (HR. Al-Bukhari no.
5090 dan Muslim no. 3620 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Wanita itu subur rahimnya. Tentunya bisa diketahui dengan melihat ibu atau saudara
perempuannya yang telah menikah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
- `' - - ' , ' , ' , ' , = -
Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena aku berbangga- bangga di
hadapan umat yang lain pada kiamat dengan banyaknya jumlah kalian. (HR. An-Nasa`i no.
3227, Abu Dawud no. 1789, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul
Ghalil no. 1784)
Wanita tersebut masih gadis, yang dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma ketika memberitakan kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bahwa ia telah menikah dengan seorang janda, beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
= - = ` - ' + - = ` - , ' = ` +

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 21

Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa mengajaknya bermain dan
dia bisa mengajakmu bermain?! Namun ketika Jabir mengemukakan alasannya, bahwa ia
memiliki banyak saudara perempuan yang masih belia, sehingga ia enggan mendatangkan di
tengah mereka perempuan yang sama mudanya dengan mereka sehingga tak bisa mengurusi
mereka, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memujinya, Benar apa yang engkau lakukan.
(HR. Al-Bukhari no. 5080, 4052 dan Muslim no. 3622, 3624)
Namun bukan berarti janda terlarang baginya, karena dari keterangan di atas Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam memperkenankan Jabir radhiyallahu 'anhu memperistri seorang
janda. Juga, semua istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dinikahi dalam keadaan janda,
kecuali Aisyah Radhiallahu'anha.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- - ' , - = + - ' ' - ' '' - , ' = , - , '' - _ - ' -' =
Hendaklah kalian menikah dengan para gadis karena mereka lebih segar mulutnya, lebih
banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit. (HR. Ibnu Majah no. 1861, dihasankan
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 623)
Nazhar (Melihat Calon Pasangan Hidup)
Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
menghibahkan dirinya. Si wanita berkata:
- - - = ' - - - = - , - ', . - , - ' + , ' = - - - '- ,'= - _'-
- '- ,'= - _'- - , - ' =' = ` - , - ' + , = -'
Wahai Rasulullah! Aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pun melihat ke arah wanita tersebut. Beliau mengangkat dan menurunkan
pandangannya kepada si wanita. Kemudian beliau menundukkan kepalanya. (HR. Al-Bukhari
no. 5087 dan Muslim no. 3472)
Hadits ini menunjukkan bila seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita maka dituntunkan
baginya untuk terlebih dahulu melihat calonnya tersebut dan mengamatinya. (Al-Minhaj
Syarhu Shahih Muslim, 9/215-216)
Oleh karena itu, ketika seorang sahabat ingin menikahi wanita Anshar, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menasihatinya:
-' - , ' - , - ' - - ' ' , = ' ' + , ' = -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 22

Lihatlah wanita tersebut, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu. Yang beliau
maksudkan adalah mata mereka kecil. (HR. Muslim no. 3470 dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu)
Demikian pula ketika Al-Mughirah bin Syubah radhiyallahu 'anhu meminang seorang wanita,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya, Apakah engkau telah melihat
wanita yang kau pinang tersebut? Belum, jawab Al-Mughirah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
' - - , - , , = - ' ' + , ' = -
Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan
hubungan di antara kalian berdua (kelak). (HR. An-Nasa`i no. 3235, At-Tirmidzi no.1087.
Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash- Shahihah no. 96)
Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata, Dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam kepada Al-Mughirah radhiyallahu 'anhu: Apakah engkau telah melihat wanita yang kau
pinang tersebut? ada dalil bahwa sunnah hukumnya ia melihat si wanita sebelum khitbah
(pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia membatalkan khitbahnya
karena setelah nazhar ternyata ia tidak menyenangi si wanita. (Syarhus Sunnah, 9/18)
Bila nazhar dilakukan setelah khitbah, bisa jadi dengan khitbah tersebut si wanita merasa si
lelaki pasti akan menikahinya. Padahal mungkin ketika si lelaki melihatnya ternyata tidak
menarik hatinya lalu membatalkan lamarannya, hingga akhirnya si wanita kecewa dan sakit hati.
(Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214)
Sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu berkata, Aku meminang seorang wanita,
maka aku bersembunyi untuk mengintainya hingga aku dapat melihatnya di sebuah pohon
kurmanya. Maka ada yang bertanya kepada Muhammad, Apakah engkau melakukan hal
seperti ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Kata
Muhammad, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- ' - _ - ' ' + , ' = - , ' - ` - - = = -
Apabila Allah melemparkan di hati seorang lelaki (niat) untuk meminang seorang wanita maka
tidak apa-apa baginya melihat wanita tersebut. (HR. Ibnu Majah no. 1864, dishahihkan Al-
Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibni Majah dan Ash-Shahihah no. 98)
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, Boleh melihat wanita yang ingin dinikahi walaupun
si wanita tidak mengetahuinya ataupun tidak menyadarinya. Dalil dari hal ini sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 23

= ' ' + , ' = - , ' - - ' ' + , ' = - , , ' = ' - = ` - - = - = = - - =
' - ` - -'
Apabila seorang dari kalian ingin meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa baginya
melihat si wanita apabila memang tujuan melihatnya untuk meminangnya, walaupun si wanita
tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat). (HR. Ath-Thahawi, Ahmad 5/424 dan Ath-
Thabarani dalam Al-Mujamul Ausath, 1/52/1/898, dengan sanad yang shahih, lihat Ash-
Shahihah, 1/200)
Pembolehan melihat wanita yang hendak dilamar walaupun tanpa sepengetahuan dan tanpa
seizinnya ini merupakan pendapat yang dipegangi jumhur ulama.
Adapun Al-Imam Malik rahimahullahu dalam satu riwayat darinya menyatakan, Aku tidak
menyukai bila si wanita dilihat dalam keadaan ia tidak tahu karena khawatir pandangan kepada si
wanita terarah kepada aurat. Dan dinukilkan dari sekelompok ahlul ilmi bahwasanya tidak
boleh melihat wanita yang dipinang sebelum dilangsungkannya akad karena si wanita masih
belum jadi istrinya. (Al-Hawil Kabir 9/35, Syarhul Maanil Atsar 2/372, Al-Minhaj Syarhu
Shahih Muslim 9/214, Fathul Bari 9/158)
Haramnya berduaan dan bersepi-sepi tanpa mahram ketika nazhar
Sebagai catatan yang harus menjadi perhatian bahwa ketika nazhar tidak boleh lelaki tersebut
berduaan saja dan bersepi-sepi tanpa mahram (berkhalwat) dengan si wanita. Karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
= - _ - ` -' - . = , ' =, `
Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu
bersama mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)
Karenanya si wanita harus ditemani oleh salah seorang mahramnya, baik saudara laki- laki atau
ayahnya. (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj, hal. 28)
Bila sekiranya tidak memungkinkan baginya melihat wanita yang ingin dipinang, boleh ia
mengutus seorang wanita yang tepercaya guna melihat/mengamati wanita yang ingin dipinang
untuk kemudian disampaikan kepadanya. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar bi Hassatil Bashar,
Ibnul Qaththan Al-Fasi hal. 394, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214, Al-
Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/280)
Batasan yang boleh dilihat dari seorang wanita
Ketika nazhar, boleh melihat si wanita pada bagian tubuh yang biasa tampak di depan

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 24

mahramnya. Bagian ini biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya, seperti
wajah, dua telapak tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki dan semisalnya. Karena
adanya hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
. - , ' ' + =' - _' -, =- , ' - ' = - , ' = - - ' - ' -= - = =
Bila seorang dari kalian meminang seorang wanita, lalu ia mampu melihat dari si wanita apa
yang mendorongnya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya. (HR. Abu Dawud
no. 2082 dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 99)
Di samping itu, dilihat dari adat kebiasaan masyarakat, melihat bagian-bagian itu bukanlah
sesuatu yang dianggap memberatkan atau aib. Juga dilihat dari pengamalan yang ada pada para
sahabat. Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma ketika melamar seorang perempuan, ia
pun bersembunyi untuk melihatnya hingga ia dapat melihat apa yang mendorongnya untuk
menikahi si gadis, karena mengamalkan hadits tersebut. Demikian juga Muhammad bin
Maslamah radhiyallahu 'anhu sebagaimana telah disinggung di atas. Sehingga cukuplah hadits-
hadits ini dan pemahaman sahabat sebagai hujjah untuk membolehkan seorang lelaki untuk
melihat lebih dari sekadar wajah dan dua telapak tangan.
Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata, Sisi kebolehan melihat bagian tubuh si wanita
yang biasa tampak adalah ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan melihat wanita
yang hendak dipinang dengan tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian diketahui bahwa
beliau mengizinkan melihat bagian tubuh si wanita yang memang biasa terlihat karena tidak
mungkin yang dibolehkan hanya melihat wajah saja padahal ketika itu tampak pula bagian
tubuhnya yang lain, tidak hanya wajahnya. Karena bagian tubuh tersebut memang biasa terlihat.
Dengan demikian dibolehkan melihatnya sebagaimana dibolehkan melihat wajah. Dan juga
karena si wanita boleh dilihat dengan perintah penetap syariat berarti dibolehkan melihat bagian
tubuhnya sebagaimana yang dibolehkan kepada mahram-mahram si wanita. (Al-Mughni, fashl
Ibahatun Nazhar Ila Wajhil Makhthubah)
Memang dalam masalah batasan yang boleh dilihat ketika nazhar ini didapatkan adanya
perselisihan pendapat di kalangan ulama. Bahkan Al-Imam Ahmad rahimahullahu sampai
memiliki beberapa riwayat dalam masalah ini, di antaranya:
Pertama: Yang boleh dilihat hanya wajah si wanita saja.
Kedua: Wajah dan dua telapak tangan. Sebagaimana pendapat ini juga dipegangi oleh
Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafiiyyah.
Ketiga: Boleh dilihat bagian tubuhnya yang biasa tampak di depan mahramnya dan bagian ini
biasa tampak dari si wanita ketika ia sedang bekerja di rumahnya seperti wajah, dua telapak
tangan, leher, kepala, dua betis, dua telapak kaki, dan semisalnya. Tidak boleh dilihat bagian

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 25

tubuhnya yang biasanya tertutup seperti bagian dada, punggung, dan semisal keduanya.
Keempat: Seluruh tubuhnya boleh dilihat, selain dua kemaluannya. Dinukilkan pendapat ini dari
Dawud Azh-Zhahiri.
Kelima: Boleh melihat seluruh tubuhnya tanpa pengecualian. Pendapat ini dipegangi pula oleh
Ibnu Hazm dan dicondongi oleh Ibnu Baththal serta dinukilkan juga dari Dawud Azh-Zhahiri.
PERHATIAN: Tentang pendapat Dawud Azh-Zhahiri di atas, Al-Imam An-Nawawi berkata
bahwa pendapat tersebut adalah suatu kesalahan yang nyata, yang menyelisihi prinsip Ahlus
Sunnah. Ibnul Qaththan menyatakan: Ada pun sau`atan (yakni qubul dan dubur) tidak perlu
dikaji lagi bahwa keduanya tidak boleh dilihat. Apa yang disebutkan bahwa Dawud
membolehkan melihat kemaluan, saya sendiri tidak pernah melihat pendapatnya secara langsung
dalam buku murid-muridnya. Itu hanya sekedar nukilan dari Abu Hamid Al-Isfirayini. Dan telah
saya kemukakan dalil-dalil yang melarang melihat aurat.
Sulaiman At-Taimi berkata: Bila engkau mengambil rukhshah (pendapat yang ringan) dari
setiap orang alim, akan terkumpul pada dirimu seluruh kejelekan.
Ibnu Abdilbarr berkata mengomentari ucapan Sulaiman At-Taimi di atas: Ini adalah ijma
(kesepakatan ulama), aku tidak mengetahui adanya perbedaan dalam hal ini. (Shahih Jami
Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, hal. 359)
Selain itu ada pula pendapat berikutnya yang bukan merupakan pendapat Al-Imam Ahmad:
Keenam: Boleh melihat wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kaki si wanita, demikian
pendapat Abu Hanifah dalam satu riwayat darinya.
Ketujuh: Boleh dilihat dari si wanita sampai ke tempat-tempat daging pada tubuhnya, demikian
kata Al-Auzai. (An-Nazhar fi Ahkamin Nazhar hal. 392,393, Fiqhun Nazhar hal. 77,78)
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyatakan bahwa riwayat yang ketiga lebih mendekati zahir
hadits dan mencocoki apa yang dilakukan oleh para sahabat. (Ash-Shahihah, membahas hadits
no. 99)
Khithbah (Peminangan)
Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya
meminang wanita tersebut kepada walinya.
Apabila seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah terlebih dahulu
dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram baginya meminang wanita
tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 26

- , _ - , _ - = , = - = = _ '= . = ' - = = , `
Tidak boleh seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga
saudaranya itu menikahi si wanita atau meninggalkannya (membatalkan pinangannya). (HR.
Al-Bukhari no. 5144)
Dalam riwayat Muslim (no. 3449) disebutkan:
- = = _ ' = - = = , ` , = _ , - _' = ' - - , -, - ' ' . = , ` -, - ' , = -, - '
- , _ - = , =
Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Maka tidaklah halal baginya
menawar barang yang telah dibeli oleh saudaranya dan tidak halal pula baginya meminang
wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya meninggalkan pinangannya
(membatalkan).
Perkara ini merugikan peminang yang pertama, di mana bisa jadi pihak wanita meminta
pembatalan pinangannya disebabkan si wanita lebih menyukai peminang kedua. Akibatnya,
terjadi permusuhan di antara sesama muslim dan pelanggaran hak. Bila peminang pertama
ternyata ditolak atau peminang pertama mengizinkan peminang kedua untuk melamar si wanita,
atau peminang pertama membatalkan pinangannya maka boleh bagi peminang kedua untuk
maju. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/282)
Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan
dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan
berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga
janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz
Zawaj, hal. 28)
Jangankan duduk bicara berduaan, bahkan ditemani mahram si wanita pun masih dapat
mendatangkan fitnah. Karenanya, ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai
fatwa tentang seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita, kemudian di hari-hari setelah
peminangan, ia biasa bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya dengan
didampingi mahram si wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syari.
Berbincanglah si lelaki dengan si wanita. Namun pembicaraan mereka tidak keluar dari
pembahasan agama ataupun bacaan Al- Qur`an. Lalu apa jawaban Syaikh rahimahullahu? Beliau
ternyata berfatwa, Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena, perasaan pria bahwa
wanita yang duduk bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat.
Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah
haram. Sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, hukumnya haram pula. (Fatawa Asy-
Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 27

Yang perlu diperhatikan oleh wali
Ketika wali si wanita didatangi oleh lelaki yang hendak meminang si wanita atau ia hendak
menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, seharusnya ia memerhatikan perkara berikut
ini:
Memilihkan suami yang shalih dan bertakwa. Bila yang datang kepadanya lelaki yang
demikian dan si wanita yang di bawah perwaliannya juga menyetujui maka hendaknya ia
menikahkannya karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
` - - - , ' - - ` -, = - ' = - , , - - - , ' - = =
, = ' -
Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya
(untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan
wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan
kerusakan yang besar. (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al- Imam Al-Albani
rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak boleh memaksanya.
Persetujuan seorang gadis adalah dengan diamnya karena biasanya ia malu. Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu berkata menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
' - - - _ - = - ' _ - - ` -' - - - _ - = , ' ' _ - - ` . , '' : - , - , - ' ,
' ' + - : - - -
Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat dan
tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya. Mereka bertanya, Wahai
Rasulullah! Bagaimana izinnya seorang gadis? Izinnya dengan ia diam, jawab beliau. (HR.
Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458)
Akad Nikah
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan
pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.
Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak
kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: Saya nikahkan anak
saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: Saya terima nikahnya

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 28

anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
Sebelum dilangsungkannya akad nikah, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah yang dikenal
dengan khutbatun nikah atau khutbatul hajah. Lafadznya sebagai berikut:
- - - - -' - , - , ' , - - - - - - - - , - - - - - - = - ' ' - - = ' ' - -
' ` - + - ' ' ' ' . ' - , - ' . - - ` - - - + , - ' - '' - = ' - , - `
', - - - - = - - = - - + - ' = , - ` - - = -.
, - ' - - - - ` -, - - ` -' -- = - , - - , - -' , - ' ' + , ' , ) . -= ' : 102 )
- , - - ' -' ' + , ' , ' - + - - - - ' + = ' + - - ' = - = - - - - ' = - '
' -, , ' = ' - ' = ' ' - , ' ' - - - ' - , - - ' - - , ` `' = .
) '--' : 1 )
- -' , - ' ' + , ' , -, - - `, , ', - , - - , . -, - ' - , '' - = ' _ ' - ,
' -, = = , ' - - ', - - _ =, - ) . =` : 70 - 71 )
Walimatul Urs
Melangsungkan walimah urs hukumnya sunnah menurut sebagian besar ahlul ilmi, menyelisihi
pendapat sebagian mereka yang mengatakan wajib, karena adanya perintah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu ketika
mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya telah menikah:
' - - , ' '
Selenggarakanlah walimah walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing. (HR. Al-
Bukhari no. 5167 dan Muslim no. 3475)
Bagi orang yang punya kelapangan tentunya, sehingga jangan dipahami bahwa walimah harus
dengan memotong kambing. Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. (Syarhus Sunnah
9/135)
Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam walimah atas pernikahannya dengan Shafiyyah, yang
terhidang hanyalah makanan yang terbuat dari tepung dicampur dengan minyak samin dan keju
(HR. Al-Bukhari no. 5169).
Sehingga hal ini menunjukkan boleh walimah tanpa memotong sembelihan.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 29

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menyelenggarakan walimah ketika menikahi
istri-istrinya seperti dalam hadits Anas radhiyallahu 'anhu disebutkan:
' - - ' - - , _' = ' ' - -' - - - - _' = '- ,'= - _'- - -' ' ' -
Tidaklah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika menikahi istri-
istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan Zainab. Beliau
menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab. (HR. Al-Bukhari no. 5168 dan
Muslim no. 3489)
Walimah bisa dilakukan kapan saja. Bisa setelah dilangsungkannya akad nikah dan bisa pula
ditunda beberapa waktu sampai berakhirnya hari-hari pengantin baru. Namun disenangi tiga hari
setelah dukhul, karena demikian yang dinukilkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Anas
bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menikah dengan
Shafiyyah radhiyallahu 'anha dan beliau jadikan kemerdekaan Shafiyyah sebagai maharnya.
Beliau mengadakan walimah tiga hari kemudian. (Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata
dalam Adabuz Zafaf hal. 74: Diriwayatkan Abu Yala dengan sanad yang hasan sebagaimana
dalam Fathul Bari (9/199) dan ada dalam Shahih Al-Bukhari secara makna.)
Hendaklah yang diundang dalam acara walimah tersebut orang-orang yang shalih, tanpa
memandang dia orang kaya atau orang miskin. Karena kalau yang dipentingkan hanya orang
kaya sementara orang miskinnya tidak diundang, maka makanan walimah tersebut teranggap
sejelek-jelek makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- ' - , ' , - = ` ' + , ' _ =- , - , ' , ' ' = ' =' - , ' -
Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana yang diundang dalam walimah
tersebut hanya orang-orang kaya sementara orang-orang miskin tidak diundang. (HR. Al-
Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 3507)
Pada hari pernikahan ini disunnahkan menabuh duff (sejenis rebana kecil, tanpa keping logam di
sekelilingnya -yang menimbulkan suara gemerincing-, ed.) dalam rangka mengumumkan kepada
khalayak akan adanya pernikahan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
, - ' - . - ' -' , -' -' = ' `= '
Pemisah antara apa yang halal dan yang haram adalah duff dan shaut (suara) dalam
pernikahan. (HR. An-Nasa`i no. 3369, Ibnu Majah no. 1896. Dihasankan Al-Imam Al- Albani
rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1994)
Adapun makna shaut di sini adalah pengumuman pernikahan, lantangnya suara dan
penyebutan/pembicaraan tentang pernikahan tersebut di tengah manusia. (Syarhus Sunnah 9/47,

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 30

48)
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menyebutkan satu bab dalam Shahih-nya, Menabuh duff
dalam acara pernikahan dan walimah dan membawakan hadits Ar- Rubayyi bintu Muawwidz
radhiyallahu 'anha yang mengisahkan kehadiran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
pernikahannya. Ketika itu anak-anak perempuan memukul duff sembari merangkai kata-kata
menyenandungkan pujian untuk bapak- bapak mereka yang terbunuh dalam perang Badr,
sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengarkannya. (HR. Al-Bukhari no.
5148)
Dalam acara pernikahan ini tidak boleh memutar nyanyian-nyanyian atau memainkan alat-alat
musik, karena semua itu hukumnya haram.
Disunnahkan bagi yang menghadiri sebuah pernikahan untuk mendoakan kedua mempelai
dengan dalil hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
' - ' - - ` ' ' '- ,'= - _'- - -' :
Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bila mendoakan seseorang yang menikah, beliau
mengatakan:
' - - , - _ - = = , ' = ' - = ' - ' - , =
Semoga Allah memberkahi untukmu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kalian
berdua dalam kebaikan. (HR. At-Tirmidzi no. 1091, dishahihkan Al-Imam Al- Albani
rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Setelah Akad
Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita, lalu ia ingin masuk
menemui istrinya maka disenangi baginya untuk melakukan beberapa perkara berikut ini:
Pertama: Bersiwak terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya karena dikhawatirkan
tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya. Demikian pula si istri, hendaknya melakukan
yang sama. Hal ini lebih mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara
keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersiwak
bila hendak masuk rumah menemui istrinya, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu 'anha
(HR. Muslim no. 590).
Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya sebagaimana akan
disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal memberinya segelas minuman

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 31

ataupun yang semisalnya berdasarkan hadits Asma` bintu Yazid bin As- Sakan radhiyallahu
'anha, ia berkata, Aku mendandani Aisyah radhiyallahu 'anha untuk dipertemukan dengan
suaminya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah selesai aku memanggil Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di samping
Aisyah. Lalu didatangkan kepada beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian
memberikannya kepada Aisyah yang menunduk malu. Asma` pun menegur Aisyah, Ambillah
gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aisyah pun mengambilnya dan
meminum sedikit dari susu tersebut. (HR. Ahmad, 6/438, 452, 458 secara panjang dan secara
ringkas dengan dua sanad yang saling menguatkan, lihat Adabuz Zafaf, hal. 20)
Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya) sembari
mendoakannya, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
- , ' .= = - - , ' ' + - , -' - - - =' , ' ' - ' = - - - - = -
. - , ' - '' - : ' - - = - , = , ' = ' + - ' - = ' - , = ' , = - = ' ' - - +''
, ' = ' + - ' - = ' - -
Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak maka
hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala,
mendoakan keberkahan dan mengatakan: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari kebaikannya
dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-
Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya. (HR.
Abu Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi
Dawud)
Kelima: Ahlul ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan mendoakan istrinya
disenangi baginya untuk shalat dua rakaat bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Said
maula Abu Usaid Malik bin Rabiah Al-Anshari. Ia berkata: Aku menikah dalam keadaan aku
berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antara
mereka ada Ibnu Masud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu 'anhum. Lalu ditegakkan shalat,
majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju.
Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang seharusnya demikian.
Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan
mengatakan, Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya.
Seterusnya, urusanmu dengan istrimu. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf,
demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf
hal. 23, Sanadnya shahih sampai ke Abu Said).
Wallahu taala alam bish-shawab.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 32

RUKUN DAN SYARAT AKAD NIKAH
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
Rukun Nikah
Akad nikah mempunyai beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rukun dan syarat
menentukan hukum suatu perbuatan, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya
perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal
bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan. Dalam pernikahan misalnya, rukun
dan syaratnya tidak boleh tertinggal. Artinya, pernikahan tidak sah bila keduanya tidak ada atau
tidak lengkap.
Perbedaan rukun dan syarat adalah kalau rukun itu harus ada dalam satu amalan dan ia
merupakan bagian yang hakiki dari amalan tersebut. Sementara syarat adalah sesuatu yang harus
ada dalam satu amalan namun ia bukan bagian dari amalan tersebut. Sebagai misal adalah ruku
termasuk rukun shalat. Ia harus ada dalam ibadah shalat dan merupakan bagian dari amalan/tata
cara shalat. Adapun wudhu merupakan syarat shalat, ia harus dilakukan bila seseorang hendak
shalat namun ia bukan bagian dari amalan/tata cara shalat.
Dalam masalah rukun dan syarat pernikahan ini kita dapati para ulama berselisih pandang ketika
menempatkan mana yang rukun dan mana yang syarat. (Raddul Mukhtar, 4/68, Al-Hawil
Kabir, 9/57-59, 152, Al-Mutamad fi Fiqhil Imam Ahmad, 2/154)
Akan tetapi karena perselisihan yang ada panjang dan lebar, sementara ruang yang ada terbatas,
kita langsung pada kesimpulan akhir dalam permasalahan rukun dan syarat ini.
Rukun nikah adalah sebagai berikut:
1. Adanya calon suami dan istri yang tidak terhalang dan terlarang secara syari untuk menikah.
Di antara perkara syari yang menghalangi keabsahan suatu pernikahan misalnya si wanita yang
akan dinikahi termasuk orang yang haram dinikahi oleh si lelaki karena adanya hubungan nasab
atau hubungan penyusuan. Atau, si wanita sedang dalam masa iddahnya dan selainnya.
Penghalang lainnya misalnya si lelaki adalah orang kafir, sementara wanita yang akan
dinikahinya seorang muslimah.
2. Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali.
Misalnya dengan si wali mengatakan, Zawwajtuka Fulanah (Aku nikahkan engkau dengan si
Fulanah) atau Ankahtuka Fulanah (Aku nikahkan engkau dengan Fulanah).
3. Adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya, dengan
menyatakan, Qabiltu Hadzan Nikah atau Qabiltu Hadzat Tazwij (Aku terima pernikahan
ini) atau Qabiltuha.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 33

Dalam ijab dan qabul dipakai lafadz inkah dan tazwij karena dua lafadz ini yang datang dalam
Al-Qur`an. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
' + ' - = = ' + - - - , _ - ' - '
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya),
zawwajnakaha (Kami nikahkan engkau dengan Zainab yang telah diceraikan Zaid). (Al-
Ahzab: 37)
Dan firman-Nya:
` ' - -' - ' -' _ - ' - , = - -
Janganlah kalian menikahi (tankihu) wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian
(ibu tiri). (An-Nisa`: 22)
Lafadz tazwij yaitu zawwajtuka dan lafadz inkah yaitu ankahtuka. Namun penyebutan dua lafadz
ini dalam Al-Qur`an bukanlah sebagai pembatasan, yakni harus memakai lafadz ini dan tidak
boleh lafadz yang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu, demikian pula murid
beliau Ibnul Qayyim rahimahullahu, memilih pendapat yang menyatakan akad nikah bisa terjalin
dengan lafadz apa saja yang menunjukkan ke sana, tanpa pembatasan harus dengan lafadz
tertentu. Bahkan bisa dengan menggunakan bahasa apa saja, selama yang diinginkan dengan
lafadz tersebut adalah penetapan akad. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, seperti Malik,
Abu Hanifah, dan salah satu perkataan dari mazhab Ahmad. Akad nikah seorang yang bisu tuli
bisa dilakukan dengan menuliskan ijab qabul atau dengan isyarat yang dapat dipahami. (Al-
Ikhtiyarat, hal. 203, Ilamul Muwaqqiin, 2/4-5, Asy-Syarhul Mumti, 12/38- 44, Al-
Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/283-284)
Syarat Nikah
Adapun syarat nikah adalah sebagai berikut:
Syarat pertama: Kepastian siapa mempelai laki-laki dan siapa mempelai wanita dengan isyarat
(menunjuk) atau menyebutkan nama atau sifatnya yang khusus/khas. Sehingga tidak cukup bila
seorang wali hanya mengatakan, Aku nikahkan engkau dengan putriku, sementara ia memiliki
beberapa orang putri.
Syarat kedua: Keridhaan dari masing-masing pihak, dengan dalil hadits Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu secara marfu:
' - - - _ - = - ' _ - - ` -' - - - _ - = , ` _ - - `

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 34

Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat, dan
tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya. (HR. Al- Bukhari no. 5136 dan
Muslim no. 3458)
Terkecuali bila si wanita masih kecil, belum baligh, maka boleh bagi walinya menikahkannya
tanpa seizinnya.
Syarat ketiga: Adanya wali bagi calon mempelai wanita, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
- ` ' , - ` '
Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i,
dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1839)
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
- = - - ' - , . =' - ' + =' - . =' - ' + =' - . =' - ' + =' - ' + , ' , - , -
Wanita mana saja yang menikah tanpa izin wali-walinya maka nikahnya batil, nikahnya batil,
nikahnya batil. (HR. Abu Dawud no. 2083, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu
dalam Shahih Abi Dawud)
Apabila seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali maka nikahnya batil, tidak
sah. Demikian pula bila ia menikahkan wanita lain. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dan
inilah pendapat yang rajih. Diriwayatkan hal ini dari Umar, Ali, Ibnu Masud, Ibnu Abbas,
Abu Hurairah dan Aisyah radhiyallahu 'anhum. Demikian pula pendapat yang dipegangi oleh
Said ibnul Musayyab, Al-Hasan Al-Bashri, Umar bin Abdil Aziz, Jabir bin Zaid, Ats-Tsauri,
Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubrumah, Ibnul Mubarak, Ubaidullah Al-Anbari, Asy-Syafii, Ahmad,
Ishaq, dan Abu Ubaid rahimahumullah. Al- Imam Malik juga berpendapat seperti ini dalam
riwayat Asyhab. Adapun Abu Hanifah menyelisihi pendapat yang ada, karena beliau
berpandangan boleh bagi seorang wanita menikahkan dirinya sendiri ataupun menikahkan wanita
lain, sebagaimana ia boleh menyerahkan urusan nikahnya kepada selain walinya. (Mausuah
Masa`ilil Jumhur fil Fiqhil Islami, 2/673, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/284-285)
Siapakah Wali dalam Pernikahan? Ulama berbeda pendapat dalam masalah wali bagi wanita
dalam pernikahannya. Adapun jumhur ulama, di antara mereka adalah Al-Imam Malik, Asy-
Syafii, Ahmad, dan selainnya berpandangan bahwa wali nasab seorang wanita dalam
pernikahannya adalah dari kalangan ashabah, yaitu kerabat dari kalangan laki-laki yang
hubungan kekerabatannya dengan si wanita terjalin dengan perantara laki-laki (bukan dari pihak
keluarga perempuan atau keluarga ibu tapi dari pihak keluarga ayah/laki-laki), seperti ayah,
kakek dari pihak ayah, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah, anak laki-laki paman dari pihak

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 35

ayah, dan seterusnya. Adapun bila hubungan kekerabatan itu dari jalur perempuan, maka tidak
dinamakan ashabah. Seperti saudara laki-laki ibu, ia merupakan kerabat kita yang diperantarai
dengan perempuan yaitu ibu. Demikian pula kakek dari pihak ibu. Dengan demikian ayahnya ibu
(kakek), saudara perempuan ibu (paman/khal), saudara laki-laki seibu, dan semisalnya, bukanlah
wali dalam pernikahan, karena mereka bukan ashabah tapi dari kalangan dzawil arham. (Fathul
Bari, 9/235, Al-Mughni, kitab An- Nikah, fashl La Wilayata lighairil Ashabat minal Aqarib)
Di antara sekian wali, maka yang paling berhak untuk menjadi wali si wanita adalah ayahnya,
kemudian kakeknya (bapak dari ayahnya) dan seterusnya ke atas (bapaknya kakek, kakeknya
kakek, dst.) Setelah itu, anak laki-laki si wanita, cucu laki-laki dari anak laki-lakinya, dan terus
ke bawah. Kemudian saudara laki-lakinya yang sekandung atau saudara laki-laki seayah saja.
Setelahnya, anak-anak laki-laki mereka (keponakan dari saudara laki-laki) terus ke bawah.
Setelah itu barulah paman-paman dari pihak ayah, kemudian anak laki-laki paman dan terus ke
bawah. Kemudian paman-paman ayah dari pihak kakek (bapaknya ayah). Setelahnya adalah
maula (orang yang memerdekakannya dari perbudakan), kemudian yang paling dekat ashabah-
nya dengan si maula. Setelah itu barulah sulthan/penguasa. (Al-Mughni kitab An-Nikah,
masalah Wa Ahaqqun Nas bin Binikahil Hurrah Abuha, dan seterusnya). Wallahu taala alam
bish-shawab.
Bila seorang wanita tidak memiliki wali nasab atau walinya enggan menikahkannya, maka
hakim/penguasa memiliki hak perwalian atasnya dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam:
' = ' -'' ' ' ` - '
Maka sulthan (penguasa) adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali. (HR. Abu
Dawud no. 2083, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
Adapun pelaksanaannya di Indonesia, lihat pada salinan yang dinukilkan dari Kompilasi Hukum
Islam di Indonesia, buku pertama tentang pernikahan, pasal 23
Syarat-syarat Wali
Ulama menyebutkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali:
1. Laki-laki
2. Berakal
3. Beragama Islam
4. Baligh

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 36

5. Tidak sedang berihram haji ataupun umrah, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
- = = , ` _ - , ` = - ' _ - , `
Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan tidak
boleh mengkhitbah. (HR. Muslim no. 3432)
Sebagian fuqaha menambahkan syarat wali yang berikutnya adalah memiliki adalah yaitu dia
bukan seorang pendosa, bahkan ia terhindar dari melakukan dosa-dosa besar seperti mencuri,
berzina, minum khamr, membunuh, makan harta anak yatim, dan semisalnya. Di samping itu, dia
tidak terus-menerus tenggelam dalam dosa-dosa kecil dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan
yang tidak sepantasnya. Pensyaratan adalah ini merupakan salah satu dari dua riwayat dalam
mazhab Hanabilah dan merupakan pendapat yang kuat dalam mazhab Syafiiyyah.
Adapun Hanafiyyah memandang seorang yang fasik tidaklah hilang haknya sebagai wali, kecuali
bila kefasikannya tersebut sampai pada batasan ia berani terang-terangan berbuat dosa.
Demikian pula Malikiyyah berpandangan seorang yang fasik tidak hilang haknya sebagai wali.
Adapun adalah hanyalah syarat penyempurna bagi wali, sehingga bila ada dua wali yang sama
derajatnya, yang satu fasik sedangkan yang satu memiliki adalah, seperti seorang wanita yang
tidak lagi memiliki ayah dan ia memiliki dua saudara laki-laki, satunya fasik sedangkan yang
satunya adil, tentunya yang dikedepankan adalah yang memiliki adalah. (Fiqhun Nisa` fil
Khithbah waz Zawaj secara ringkas, hal. 68-70)
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia
Dalam buku I Hukum Pernikahan, Pasal 19, 20, 21, 22 dan 23 berkenaan dengan wali nikah,
disebutkan:
Pasal 19
Wali nikah dalam pernikahan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita
yang bertindak menikahkannya.
Pasal 20
(1) Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum
Islam yakni muslim, aqil, dan baligh.
(2) Wali nikah terdiri dari: a. wali nasab; b. wali hakim


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 37

Pasal 21
(1) Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan; kelompok yang satu
didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erat tidaknya susunan kekerabatan dengan calon
mempelai.
Pertama: kelompok kerabat laki-laki garis lurus ke atas, yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan
seterusnya.
Kedua: kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah, dan keturunan
laki-laki mereka.
Ketiga: kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah, dan
keturunan laki-laki mereka.
Keempat: kelompok saudara laki-laki kandung kakek, saudara laki-laki seayah kakek, dan
keturunan laki-laki mereka.
(2) Apabila dalam satu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang sama-sama berhak
menjadi wali, maka yang paling berhak menjadi wali ialah yang lebih dekat derajat
kekerabatannya dengan calon mempelai wanita.
(3) Apabila dalam satu kelompok sama derajat kekerabatannya, maka yang paling berhak
menjadi wali nikah ialah kerabat kandung dari kerabat yang hanya seayah.
(4) Apabila dalam satu kelompok derajat kekerabatannya sama yakni sama-sama derajat
kandung atau sama-sama derajat kerabat ayah, mereka sama-sama berhak menjadi wali nikah
dengan mengutamakan yang lebih tua dan memenuhi syarat-syarat wali.
Pasal 22
Apabila wali nikah yang paling berhak urutannya tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah atau
oleh karena wali nikah itu menderita tunawicara, tunarungu, atau sudah uzur, maka hak menjadi
wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut derajat berikutnya.
Pasal 23
(1) Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak
mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adhal atau
enggan.
(2) Dalam hal wali adhal atau enggan, maka wali hakim baru bertindak sebagai wali nikah
setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut.
Syarat keempat: Persaksian atas akad nikah tersebut dengan dalil hadits Jabir bin Abdullah

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 38

radhiyallahu 'anhuma secara marfu:
- = - ' - ' , - ` ' - `
Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil. (HR. Al-Khamsah
kecuali An-Nasa`i, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al- Irwa no. 1839,
1858, 1860 dan Shahihul Jami no. 7556, 7557)
Oleh karena itu, tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya dua orang saksi yang adil.
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu mengatakan, Pengamalan hal ini ada di kalangan ahlul
ilmi, baik dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maupun orang- orang setelah
mereka dari kalangan tabiin dan yang lainnya. Mereka mengatakan bahwa tidak sah pernikahan
tanpa adanya saksi-saksi. Tidak seorang pun di antara mereka yang menyelisihi hal ini, kecuali
sekelompok ahlul ilmi dari kalangan mutaakhirin. (Sunan At-Tirmidzi, 2/284)
Dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia disebutkan pula aturan mengenai saksi dalam
pernikahan. Keseluruhan materinya terambil dari kitab fiqih menurut jumhur ulama, terutama
fiqh Syafiiyah, sebagai berikut:
Pasal 24
1. Saksi dalam pernikahan merupakan rukun pelaksanaan akad nikah.
2. Setiap pernikahan harus dipersaksikan oleh dua orang saksi.
Pasal 25
Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang laki-laki muslim, adil, akil
baligh, tidak terganggu ingatan, dan tidak tuna rungu atau tuli.
Pasal 26
Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah serta menandatangani Akta
Nikah pada waktu dan di tempat akad nikah dilangsungkan.







e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 39

MAHAR DALAM PANDANGAN SYARIAT
Penulis: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
Wajibnya Mahar
Dalam pernikahan mahar merupakan pemberian yang wajib dari mempelai lelaki kepada
mempelai wanita. Dengan adanya mahar ini akan terbedakan antara pernikahan dengan
perzinaan. Hal ini tampak dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
, = ' - - , = , - - = - ' , - ' - , - - -
Kalian mencari istri-istri dengan harta kalian untuk dinikahi bukan untuk berzina. (An-
Nisa: 24)
Dalil wajibnya mahar ditunjukkan antara lain dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
' = - + -' - - ' - -' , -'
Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh
kerelaan. (An-Nisa: 4)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
- = ` , = , - - , -' , = - - , ' = '
Dan tidak ada dosa bagi kalian menikahi mereka apabila kalian membayar kepada mereka
mahar-mahar mereka. (Al-Mumtahanah: 10)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membolehkan terjadinya pernikahan tanpa adanya mahar
sama sekali. Hal ini ditunjukkan dengan sangat jelas dalam hadits Sahl bin Sad radhiyallahu
'anhu tentang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, namun beliau tidak menginginkan wanita tersebut. Hingga ada salah seorang lelaki yang
hadir dalam majelis tersebut meminta agar beliau menikahkannya dengan wanita tersebut.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:
' - - - - = . : - , - ' , - ` . '- : . = -' = ' _ ' -
' - , - - = - . ' - _ = ` - - : ' - , - - = ' - - ` . - _'- - , - ' -
'- ,'= : = , ' = - - , - = - '- -' . ' - _ = ` - - : - , - ' , - `
- ' - , - = - '- -' = ` . + - ' : ' ' - - - - ' + ' . '-
'- ,'= - _'- - , - : ' - _ - - - ' - - - - ' + , ' = , ' - - - '

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 40

- - - = , ' = , ' - - - ' . -' ' - ' = - ' = _ - = . = ' ' =
= ' - ' = - - - ' ' , ' , - '- ,'= - _'- - , - ' ' : - = - ' -
' ' - ' : - , - - , - - ' - = - '- : = - ' + = = - -
' : - . ' : ' - ' - = - ' - - ' + - ' - - - -
Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar? Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,
jawabnya. Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu, kata
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali,
Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun, ujarnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: Lihatlah lagi dan carilah walaupun hanya berupa cincin dari besi. Laki-laki
itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak
mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini izar (sarung) saya kata Sahl, Laki-laki itu
tidak memiliki rida (kain penutup tubuh bagian atas) setengahnya untuk wanita yang ingin
kuperistri itu. Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Apa yang dapat kau perbuat
dengan izarmu? Jika engkau memakainya berarti tidak ada sama sekali izar tersebut pada
istrimu. Jika ia memakainya berarti tidak ada sama sekali izar tersebut padamu. Laki- laki itu
pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-
laki tersebut. Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bertanya, Apa yang kau hafal dari Al- Qur`an? Saya hafal surah ini dan surah itu, jawabnya.
Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu? tegas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Iya, jawabnya. Bila demikian, pergilah, sungguh aku telah menikahkan engkau
dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal, kata
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR. Al-Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472)
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengabarkan bahwa ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menikahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan putri beliau Fathimah radhiyallahu
'anha, beliau meminta Ali agar memberikan sesuatu kepada Fathimah sebagai mahar. Ketika Ali
mengatakan, Saya tidak memiliki apa-apa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya,
Mana pakaian besi Al-Huthamiyyah- mu? Ali pun memberikan pakaian besi tersebut sebagai
mahar pernikahannya dengan Fathimah. (HR. Abu Dawud no. 2125, Al-Imam Al-Albani
rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud mengatakan hadits ini hasan shahih)
Hadits di atas menunjukkan disenanginya penyerahan mahar sebelum dukhul.
Tidak Disukai Berlebih-lebihan dalam Mahar
Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 41

' - , - -' , =
Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan. (HR. Abu Dawud no. 2117 dan selainnya.
Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa no. 1924)
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu menasihatkan, Janganlah kalian berlebih- lebihan
dalam menetapkan mahar para wanita, karena kalau mahar itu dianggap sebagai pemuliaan di
dunia atau tanda takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tentunya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam lebih dahulu daripada kalian untuk berbuat demikian. (HR. Abu Dawud no.
2106 dan selainnya. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud mengatakan
hadits ini hasan shahih)
Tidak ada ketentuan mahar harus berupa barang/benda tertentu. Bahkan mengajarkan surah-
surah Al-Qur`an dapat dijadikan mahar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Sahl bin Sad
radhiyallahu 'anhu yang telah disebutkan. Demikian pula memerdekakan istri yang semula
berstatus budak dapat dijadikan mahar sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjadikan kemerdekaan Shafiyyah bintu Huyai radhiyallahu 'anha dari perbudakan sebagai
maharnya seperti tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Anas bin Malik
radhiyallahu 'anhu. Seorang wanita dapat pula menerima keislaman calon suaminya yang semula
kafir sebagai mahar, sebagaimana mahar Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha ketika menikah
dengan Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu. Diriwayatkan haditsnya oleh An-Nasa`i dalam Sunan-
nya no. 3340, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih An-Nasa`i.
Tidak ada pula ketentuan jumlah minimal dan maksimal dari sebuah mahar. Hanya saja tidaklah
disukai bila mahar itu berlebih-lebihan sehingga memberatkan pihak laki- laki dan menghambat
pernikahan. Karena mematok mahar yang tinggi, menjadikan banyak wanita memasuki usia tua
tanpa sempat menikah. Bagaimana tidak, setiap lelaki yang datang ditolak dengan alasan tidak
mampu memberikan mahar yang tinggi, atau lelaki itu yang mundur teratur karena tidak bisa
memenuhi tuntutan yang ada. Wallahul mustaan.
Seharusnya hal ini menjadi perhatian, agar tidak menuntut mahar yang terlalu tinggi. Toh mahar
ini merupakan hak si wanita. Ia yang seharusnya secara pribadi memiliki mahar tersebut. Adapun
ayah atau keluarganya yang lain tidak punya hak.
Wallahu taala alam bish-shawab.
Mahar dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia
Kompilasi Hukum Islam mengatur mahar secara panjang lebar dalam Pasal 30, 31, 32, 33, 34,
35, 36, 37, 38, yang hampir keseluruhannya mengadopsi dari kitab fiqih menurut jumhur ulama.
Lengkapnya adalah sebagai berikut:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 42

Pasal 30
Calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlah,
bentuk, dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak.
Sebenarnya yang wajib membayar mahar itu bukan calon mempelai laki-laki, tetapi mempelai
laki-laki karena kewajiban itu baru ada setelah berlangsung akad nikah. Demikian pula yang
menerima bukan calon mempelai wanita, tetapi mempelai wanita karena dia baru berhak
menerima mahar setelah adanya akad nikah.
Pasal 31
Penentuan mahar berdasarkan asas kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran
Islam.
Pasal 32
Mahar diberikan langsung kepada calon mempelai wanita dan sejak itu menjadi hak pribadinya.
Pasal 33
(1) Penyerahan mahar dilakukan dengan tunai.
(2) Apabila calon mempelai wanita menyetujui, penyerahan mahar boleh ditangguhkan baik
untuk seluruhnya atau untuk sebagian. Mahar yang belum ditunaikan menjadi utang (calon)
mempelai pria.
Pasal 34
(1) Kewajiban penyerahan mahar bukan merupakan rukun dalam pernikahan.
(2) Kelalaian menyebut jenis dan jumlah mahar pada waktu akad nikah, tidak menyebabkan
batalnya pernikahan. Begitu pula halnya dalam keadaan mahar masih terutang, tidak mengurangi
sahnya pernikahan.
Pasal 35
(1) Suami yang menalak istrinya qobla ad-dukhul (yakni sebelum berhubungan, ed.) wajib
membayar setengah mahar yang telah ditentukan dalam akad nikah.
(2) Apabila suami meninggal dunia qobla ad-dukhul seluruh mahar yang telah ditetapkan
menjadi hak penuh istrinya.
(3) Apabila perceraian terjadi qobla ad-dukhul tetapi besarnya mahar belum ditetapkan, maka
suami wajib membayar mahar mitsl.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 43

Pasal 36
Apabila mahar hilang sebelum diserahkan, mahar itu dapat diganti dengan barang lain yang sama
bentuk dan jenisnya atau dengan barang lain yang sama nilainya atau dengan uang yang senilai
dengan harga barang mahar yang hilang.
Pasal 37
Apabila terjadi selisih pendapat mengenai jenis dan nilai mahar yang ditetapkan,
penyelesaiannya diajukan ke Pengadilan Agama.
Pasal 38
(1) Apabila mahar yang diserahkan mengandung cacat atau kurang, tetapi (calon) mempelai
wanita tetap bersedia menerimanya tanpa syarat, penyerahan mahar dianggap lunas.
(2) Apabila istri menolak untuk menerima mahar karena cacat, suami harus menggantinya
dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama penggantinya belum diserahkan, mahar dianggap
masih belum dibayar.
Wallahu alam.














e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 44

PERNIKAHAN DALAM MAWADDAH DAN RAHMAH
Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
, - - - ' ' = - - - - ' ' = -' ,' - - = , - - , - . = ' + , '
- - , , - ' ' ,' ' = '
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum: 21)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
- - - -
Dari jenis kalian. Yakni dari Bani Adam yang menjadi pasangan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir,
Tafsir Al-Baghawi, Fathul Qadir)
' + , ' , - - - '
Agar kamu merasa tenang dan condong kepadanya. Sebab jika dari dua jenis yang berbeda,
tentu tidak mendatangkan ketenangan bersamanya dan hatinya tidak condong kepadanya. (Tafsir
Al-Alusi)
, -
Saling mencintai dan mengasihi. Melalui tali pernikahan, sebagian kalian condong kepada
sebagian lainnya, yang sebelumnya kalian tidak saling mengenal, tidak saling mencintai dan
mengasihi. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud mawaddah adalah kecintaan seorang
suami kepada istrinya. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa beliau menafsirkan mawaddah dengan
makna bersetubuh. (Fathul Qadir karya Asy- Syaukani rahimahullah)
- =
Dan kasih sayang. Adapula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah perasaan kasih
seorang lelaki kepada istrinya dari tertimpa keburukan. Diriwayatkan dari Mujahid
rahimahullahu, beliau mengatakan: Rahmah adalah anak. (Fathul Qadir)
Penjelasan Makna Ayat
Al-Allamah Abdurrahman As-Sadi rahimahullahu berkata: Di antara tanda-tanda kekuasaan

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 45

yang menunjukkan rahmat dan perhatian-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hikmah-Nya yang
sangat agung dan ilmu-Nya yang luas, adalah Dia menciptakan kalian dari jenis kalian dengan
berpasang-pasangan, yang mereka serasi dengan kalian dan kalianpun serasi dengan mereka.
Sesuai dengan bentuk kalian dan kalian sesuai dengan bentuk tubuh mereka. Agar kalian
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Allah jadikan di antara kalian rasa kasih dan
sayang sebagai buah dari pernikahan tersebut. Dengan adanya istri, seseorang dapat bersenang-
senang dan merasakan kenikmatan, mendapatkan manfaat dengan adanya anak-anak, mendidik
mereka, serta merasakan ketenangan bersamanya. Sehingga kebanyakannya, engkau tidak
mendapati sebuah kasih sayang dan rahmat yang menyerupai apa yang dirasakan antara suami
dan istri. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi kaum yang
berpikir. Yang menggunakan pikirannya dan mentadabburi ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala
serta berpindah dari satu ayat kepada yang lainnya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Al-Allamah Asy-Syinqithi rahimahullahu berkata: Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan
dalam ayat yang mulia ini bahwa Ia memberi anugerah kepada anak cucu Adam berupa anugerah
yang paling agung. Di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka dari jenis dan
bentuk mereka berpasang-pasangan. Kalau sekiranya Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan
pasangan dari jenis lain, tentu tidak akan terjadi kasih sayang, perasaan cinta dan rahmat.
(Adhwa`ul Bayan, 3/213, dalam penafsiran Surat An-Nahl ayat 72)
Mawaddah dalam Rumah Tangga
Ayat ini menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya bahwa di antara hikmah adanya pernikahan
antara seorang pria dengan wanita adalah agar dapat mewujudkan perasaan saling mencintai dan
saling mengasihi di antara mereka. Hal ini baru dapat terwujud ketika seorang pria menikahi
seorang wanita yang pencinta/penyayang terhadap suaminya, serta mewujudkan harapan
suaminya dengan mendapatkan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala berupa keturunan dari
anak-anak yang shalih dan shalihah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
- , = ' - , ` = - - - = , = ' = '' -' ' , ' - ' ' , - -' ' , = ' -, , - - ' ' - ' `
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi
shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(Al-Kahfi: 46)
Dan firman-Nya:
- - ' - -' - = - - - ' , =' -- ' , - - ' ' - -' - , + -' - = ' -' ' ,
' - ` - , - - ' . , = ' ' - ' - = - - - = - ' , - -' ' , = ' ' - - = ' = '
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 46

wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-
binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran: 14)
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan anjuran kepada umatnya
untuk menikahi seorang wanita yang dapat mewujudkan mawaddah dan rahmah dalam rumah
tangganya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata: Adalah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras dari
tabattul (mencegah diri untuk menikah). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
-' , - ' , , ' , - - ` `' - - , ' , ' , ' , = -
Nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud, karena sesungguhnya aku berbangga di
hadapan para nabi dengan jumlah umatku yang banyak pada hari kiamat. (HR. Ahmad, 3/158,
Ibnu Hibban dengan tartib Ibnu Bulban, 9/338, no. 4028, Al-Baihaqi, 7/81, Ath-Thabarani
dalam Al-Ausath, 5/207. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa`, 6/195, no.
1783)
Juga diriwayatkan dari Maqil bin Yasar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Ada seorang lelaki
datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya aku
mendapati seorang wanita yang memiliki kehormatan, kedudukan, dan harta. Hanya saja dia
tidak dapat melahirkan (mandul), apakah boleh aku menikahinya? Maka Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam melarangnya. Lalu ia datang kedua kalinya, dan beliau mengucapkan kalimat
yang sama. Ia mendatanginya pada kali yang ketiga, dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
tetap mengucapkan kalimat yang sama. Lalu Ralulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud, karena sesungguhnya aku berbangga di hadapan
para nabi dengan jumlah umatku yang banyak pada hari kiamat. (HR. Abu Dawud, Kitab An-
Nikah, Bab Fi Tazwij Al-Abkar, no. 2050, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/176, Ibnu
Hibban, 9/363, no. 4056. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abu Dawud)
Yang dimaksud al-wadud adalah seorang wanita yang sangat pecinta/penyayang terhadap
suaminya. Sedangkan makna al-walud adalah wanita yang banyak melahirkan anak. Disebutnya
dua sifat wanita yang dijadikan sebagai istri ini adalah karena seorang wanita yang dapat
melahirkan anak banyak namun tidak memiliki sifat cinta kepada suaminya, tidaklah
menyebabkan kecintaan suaminya terhadapnya. Demikan pula sebaliknya, seorang wanita yang
pecinta terhadap suami namun tidak dapat melahirkan anak, dia tidak pula dapat mewujudkan
keinginan untuk memperbanyak jumlah umat ini dengan banyaknya orang yang melahirkan.
Dua sifat ini dapat diketahui dari seorang perawan dengan melihat kepada kerabatnya. Sebab,
secara umum tabiat mereka saling menyerupai antara satu dengan yang lain. (lihat Aunul
Mabud, 6/33-34)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 47

Diriwayatkan pula dari Kab bin Ujrah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda:
, '' - = ' . - '' = - - = ` : - , - ' , _ ' - . ' : - = ' - -'
-' = , . = ' - = ' ,', - ' - = ' , - -' - = ' -, + -'
, '' - = ' . - -' - - - - = ` - = ' - - ' - -' = : - , - ', _ ' - .
' : - '' - - ' = - - ' = - ' , ' ,' , ' : ' - - = ` - , - - , -' - - -
_ - - _ - =
Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang para lelaki penduduk surga? Mereka
menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Nabi
dalam surga, syahid (yang mati dalam peperangan) dalam surga, shiddiq (yang sangat jujur)
dalam surga, anak yang dilahirkan (meninggal di masa kecilnya) dalam surga, seseorang yang
mengunjungi saudaranya di sebuah kampung dalam surga. Maukah aku kabarkan kalian tentang
wanita ahli surga? Mereka menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Wanita
yang wadud (pecinta kepada suaminya), wanita yang banyak melahirkan anak, (yang suka
kembali kepada suaminya) yang jika dia menzalimi atau dizalimi, maka dia berkata: Diriku ada
dalam genggamanmu, aku tidak merasakan tidur hingga engkau ridha (kepadaku). (HR. Ath-
Thabarani, 19/140, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami, no. 2604)
Kaidah
Apa yang disebutkan di dalam ayat yang mulia tersebut berupa anjuran mencari pasangan hidup
dan menghasilkan keturunan, tidak terlepas dari sebuah kaidah umum yang terdapat dalam
agama ini yang mengatakan:
- '' = - - - - - ' - = ` _ + - , ` = = - '' = - = ' - - ' - - ` -' , ` ' -'
= =
Syariat tidak memerintahkan kecuali kepada sesuatu yang kemaslahatannya murni atau lebih
mendominasi, dan tidak melarang kecuali dari sesuatu yang kerusakannya murni atau lebih
mendominasi.
Kaidah ini dibangun di atas dalil-dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Di antara yang
menunjukkan hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
- '' - -' , - - ' - - ' ' - = - ' = _ + - , _ - - ' ' -, ' - = `
- - ' ' = ,

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 48

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An-Nahl: 90)
Maka tidak ada sesuatupun yang bersifat adil, perbuatan baik, dan menyambung hubungan
dengan yang lain, melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkannya berdasarkan ayat
ini. Juga, tidak satupun perbuatan keji, mungkar yang hubungannya dengan hak-hak Allah
Subhanahu wa Ta'ala, dan perbuatan zalim terhadap makhluk baik terhadap darah, harta, dan
kehormatan mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala melarangnya.
Demikian pula firman-Nya:
' - , -' ' , - ' = - -, = - = - - . - - = , = , -, = - - '' - - - .
, - - -
Katakanlah: Rabbku menyuruh menjalankan keadilan. Dan (katakanlah): Luruskanlah muka
(diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.
Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan
kembali kepadaNya). (Al-Araf: 29)
Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan pokok-pokok (ushul) dari
perintah-perintah-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan pokok-pokok
(ushul) dari hal-hal yang diharamkan dalam firman-Nya:
= ' , - - ' ` ` = - ' - ' + - - + = ' - = , - ' - = ' - - .
, - ' - ` ' - - _ ' = , ', - - ' -'= ' - - - , ' ' - -' - , - -
Katakanlah: Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun
yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
(Al-Araf: 33)
Demikian pula dengan pernikahan, di mana seorang muslim dan muslimah mendapatkan banyak
kemaslahatan darinya, berupa pemeliharaan terhadap kehormatan, mencegah dari perbuatan zina,
memelihara pandangan, melanjutkan generasi, dan berbagai faedah lainnya yang tidak
tersamarkan bagi mereka yang telah melakukannya.
Wallahu alam.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 49

TAWARAN KEPADA ORANG SHALIH
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Kemapanan Calon Suami
Kemapanan adalah alasan yang kerap dikemukakan orangtua atau wali kala menerima atau
menolak pinangan seorang laki-laki terhadap putrinya. Mereka berargumen, kemapanan calon
suami menjadi kunci utama dari kebahagiaan putrinya. Bagaimana dengan keteladanan salafus
shalih dalam hal ini?
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah bersabda:
` - - - , ' - - ` -,= - ' = - , , - - - , ' - = =
, = ' -
Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk
meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita
kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang
besar. (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al- Albani rahimahullahu dalam Al-
Irwa no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
Abu Hatim Al-Muzani radhiyallahu 'anhu juga menyampaikan hadits yang sama namun dengan
lafadz sedikit berbeda:
' - ` - - - , ' - - ` -, = - ' - ' = - , , - - - ' =
Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk
meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila
tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan. (HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits ini
derajatnya hasan dengan dukungan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu di atas)
Ketika para sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kami tetap menerimanya walaupun
pada diri orang tersebut ada sesuatu yang tidak menyenangkan kami? Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan ini dengan kembali mengulangi hadits di atas sampai tiga
kali.
Ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas ditujukan kepada para wali,
"Apabila datang kepada kalian" yakni bila seorang lelaki meminta kepada kalian agar
menikahkannya dengan wanita yang merupakan anak atau kerabat kalian, sementara lelaki
tersebut kalian pandang baik sisi agama dan pergaulannya, maka nikahkanlah dia dengan wanita

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 50

kalian. "Bila tidak," yakni bila kalian tidak menikahkan orang yang kalian ridhai agama dan
akhlaknya tersebut dengan wanita kalian, malah lebih menyukai lelaki yang meminang wanita
kalian adalah orang yang punya kedudukan/kalangan ningrat, memiliki ketampanan ataupun
kekayaan, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar. Karena bila kalian tidak mau
menikahkan wanita kalian kecuali dengan lelaki yang berharta atau punya kedudukan, bisa jadi
banyak dari wanita kalian menjadi perawan tua dan kalangan lelaki kalian menjadi bujang lapuk
(lamarannya selalu ditolak karena tidak berharta dan tidak punya kedudukan). Akibatnya banyak
orang terfitnah untuk berbuat zina dan bisa jadi memberi cela kepada para wali, hingga
berkobarlah fitnah dan kerusakan. Dampak yang timbul kemudian adalah terputusnya nasab,
sedikitnya kebaikan dan sedikit penjagaan terhadap kehormatan dan harga diri. (Tuhfatul
Ahwadzi, kitab An-Nikah, bab Ma Jaa: Idza Jaakum Man Tardhauna Dinahu Fa Zawwijuhu)
Kenapa kita bawakan hadits di atas dalam rubrik ini? Ya, karena tak jarang kita dapati pihak
kerabat dari seorang wanita yang punya hak perwalian terhadapnya mempersulit pernikahan si
wanita. Setiap lelaki yang datang meminang si wanita, mereka tolak bila tidak sesuai dengan
kriteria mereka, walaupun si wanita senang dan mau menikah dengan si pelamar. Kalau lelaki
yang melamar tersebut seorang yang pendosa, terkenal suka bermaksiat, memang sangat bisa
diterima bila wali si wanita menolaknya. Permasalahannya sekarang, orang yang jelas baik sisi
agamanya dan bagus akhlaknya pun ikut ditolak dengan berbagai alasan. Terhadap para wali
yang berlaku demikian, kita hadapkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia
di atas.
Mementingkan Agama
Para pendahulu kita yang shalih, sangat mempermudah urusan pernikahan wanita- wanita yang
di bawah perwalian mereka, karena mereka lebih mementingkan sisi agama dan kemuliaan
akhlak. Bahkan bila lelaki yang shalih belum kunjung datang meminang wanita mereka, tak
segan mereka tawarkan putri atau saudara perempuan mereka kepada seorang yang shalih.
Al-Quran yang mulia telah berkisah tentang tawaran seorang lelaki tua yang shalih di negeri
Madyan kepada Nabi Musa 'alaihissalam agar bersedia menikahi salah seorang putrinya:
- - , - - + - - - = , - - , ' -' - - , ' = - = ,- - ' - ' - '
' - - , _ - = - - - ` ' - '' ' - - = = ' - ' , - _ , - ' -, - ' = . ` ' - + ' _ - -
, - , = - ' - ' - ' - ' - ' - . =' _ ' _ ' , - . - - - ' - - = - ' =
- ' - = = , = , ' , =- , - -'' ' , = - - _ ' = , ' = - ' = ' - ' ' - ' - , -
, - '' =' , - ' - , = - - = - ` ' - - ' . - =' - - - - ' , ' - - = - ''
, - ` , - ' =' - - - , = . - = = = - -, - ' _ ' = , -' - - -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 51

- - = - - = , ' = - -, ' - - - = - - = - - - - ' _ = = -' - ` - =' -
, = '' -' - - ' - . - , - , ' = ` ' - , = - , - - , - = ' ' - ' = - = `
., , - - ' - _ ' =
Dan tatkala Musa sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan
orang yang sedang meminumkan (ternak mereka) dan di belakang orang banyak itu, ia dapati
dua orang wanita yang sedang menghambat (ternak mereka). Musa bertanya, Ada apa dengan
kalian (hingga tidak ikut meminumkan ternak sebagaimana mereka)? Kedua wanita itu berkata,
Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum penggembala-penggembala itu
memulangkan (ternak mereka), sedangkan ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usia.
Maka Musa menolong kedua wanita tersebut dengan memberi minum ternak keduanya.
Setelahnya, ia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat
memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. Kemudian datanglah kepada
Musa salah seorang dari kedua wanita tadi, ia berjalan dengan malu-malu. Ia berkata, Ayahku
memanggilmu untuk membalas (kebaikan)mu memberi minum ternak kami. Tatkala Musa
menemui ayah si wanita dan menceritakan kisah dirinya, ayah si wanita berkata, Janganlah
engkau takut. Engkau telah selamat dari orang- orang yang dzalim itu. Salah seorang dari
kedua wanita itu berkata, Wahai ayahku, ambillah orang itu sebagai orang yang bekerja (pada
kita), karena sebaik-baik orang yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang
kuat lagi dapat dipercaya. Berkatalah ayah si wanita kepada Musa, Sungguh aku bermaksud
menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bekerja
denganku selama delapan tahun dan jika engkau cukupkan sampai sepuluh tahun maka itu
adalah (suatu kebaikan) darimu karena aku tidak ingin memberatkanmu. Dan kamu Insya Allah
akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik. Dia (Musa) berkata: Itulah (perjanjian)
antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka
tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita
ucapkan. (Al- Qashash: 23-28)
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa lelaki ini. Ada beberapa pendapat dalam hal ini.
Salah satunya adalah pendapat yang mengatakan lelaki itu adalah Nabi Syuaib 'alaihissalam
yang diutus Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada penduduk Madyan. Inilah yang masyhur menurut
kebanyakan ulama. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu dan selainnya berpendapat demikian.
Pendapat lain mengatakan bahwa lelaki tersebut adalah saudara Nabi Syuaib. Adapula yang
berpendapat dia adalah lelaki mukmin dari kaum Syuaib. Yang lain mengatakan, Syuaib diutus
pada masa yang jauh dari zaman Musa 'alaihissalam, karena Syuaib berkata kepada kaumnya:
- , - - - - , ' , ' -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 52

Tidaklah kaum Luth berada jauh dari kalian. (Hud: 89)
Sementara masa kebinasaan kaum Luth terjadi di zaman Nabi Ibrahim 'alaihissalam sebagaimana
disebutkan dalam Al-Qur`an. Dan diketahui bahwa jarak antara masa Nabi Ibrahim dengan Nabi
Musa amatlah jauh, lebih dari 400 tahun, sebagaimana disebutkan lebih dari seorang ulama.
Termasuk yang memperkuat pendapat bahwa lelaki itu bukanlah Nabi Syuaib adalah seandainya
benar dia Nabi Syuaib niscaya Al- Qur`an akan menyebut namanya dalam ayat tersebut. (Tafsir
Al-Qur`anil Azhim, 6/110)
Lihat pula apa yang dilakukan seorang sahabat Rasul yang kita tidak menyangsikan kemuliaan
dan kedudukannya, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ketika putrinya Hafshah
radhiyallahu 'anha menjanda karena ditinggal mati suaminya, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi
radhiyallahu 'anhu di Madinah, Umar radhiyallahu 'anhu mendatangi Utsman bin Affan
radhiyallahu 'anhu yang belum lama ditimpa musibah dengan meninggalnya istrinya, Ruqayyah
bintu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, guna menawarkan putrinya kepada Utsman,
sekiranya Utsman berhasrat menikahinya. Namun ternyata Utsman berkata, Saya akan
pertimbangkan urusanku. Umar pun menunggu beberapa hari. Ketika bertemu lagi, Utsman
berkata, Aku putuskan untuk tidak menikah dulu dalam waktu-waktu ini. Karena Utsman
telah memberikan isyarat penolakannya untuk menikah dengan Hafshah, Umar pun menemui
Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan maksud yang sama, Jika engkau mau, aku
akan nikahkan engkau dengan Hafshah bintu Umar, kata Umar. Namun Abu Bakr diam tidak
berucap sepatah kata pun. Sikap Abu Bakr seperti ini membuat Umar marah. Selang beberapa
hari, ternyata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meminang Hafshah. Betapa bahagianya
Umar dengan pinangan tersebut. Ia pun menikahkan Hafshah dengan Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Setelah pernikahan yang diberkahi tersebut, Abu Bakr menjumpai Umar dan
berkata, Mungkin engkau marah kepadaku ketika engkau tawarkan Hafshah kepadaku namun
aku tidak berucap sepatah kata pun? . Iya, jawab Umar. Sebenarnya tidak ada yang
mencegahku untuk menerima tawaranmu. Hanya saja aku tahu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah menyebut-nyebut Hafshah, maka aku tidak suka menyebarkan rahasia Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
jadi meminang Hafshah, aku tentu mau menikahi Hafshah, jawab Abu Bakr menjelaskan. (HR.
Al-Bukhari no. 5122)
Satu kisah yang menghiasi kitab-kitab tarikh (sejarah) juga patut kita bawakan di sini. Kisah
seorang tokoh tabiin, Said ibnul Musayyab rahimahullah, yang menawarkan putrinya kepada
muridnya, Abdullah ibnu Abi Wadaah. Abdullah ini bercerita, Aku biasa duduk di majelis
Said ibnul Musayyab guna mendengarkan ilmu. Namun dalam beberapa hari aku absen dari
majelisnya, hingga Said merasa kehilangan diriku. Hingga suatu hari ketika aku menemuinya, ia
bertanya, Dari mana engkau? Istriku meninggal dunia sehingga aku tersibukkan dengannya,
jawabku. Kenapa engkau tidak memberitahukan kepadaku hingga kami bisa menghadiri
jenasahnya? tanya Said. Setelah beberapa lama berada dalam majelis, aku ingin bangkit untuk

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 53

pulang. Namun Said menodongku dengan pertanyaan, Apakah engkau ingin mencari istri yang
baru? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatimu. Siapa yang mau menikahkan aku
dengan wanitanya, sementara aku tidak memiliki apa-apa kecuali uang sebesar dua atau tiga
dirham? jawabku. Aku orangnya, kata Said. Engkau ingin melakukannya? tanyaku Iya,
jawab Said. Ia pun memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bershalawat kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian menikahkan aku dengan putrinya dengan mahar sebesar
dua atau tiga dirham.
Setelahnya aku bangkit untuk kembali pulang dalam keadaan aku tidak tahu apa yang harus
kuperbuat karena bahagianya. Aku kembali ke rumahku dan mulailah aku berpikir hingga tiba
waktu maghrib. Usai mengerjakan shalat maghrib, aku kembali ke rumahku. Kuhidupkan pelita.
Ketika itu aku sedang puasa, maka aku persiapkan makan malamku berupa roti dan minyak
untuk berbuka. Tiba- tiba pintu rumahku diketuk. Siapa? tanyaku. Said, jawab si pengetuk.
Aku pun berpikir siapa saja orang yang bernama Said, tanpa terlintas di benakku tentang Said
ibnul Musayyab, karena telah lewat waktu 40 tahun ia tak pernah terlihat ke mana-mana kecuali
di antara rumahnya dan masjid [Karena Said memakmurkan hari-harinya untuk memberikan
pengajaran ilmu kepada manusia di rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala]. Aku pun keluar
menemui si pengetuk dan ternyata ia adalah Said ibnul Musayyab. Semula aku menyangka ia
akan membatalkan pernikahanku dengan putrinya. Aku berkata, Wahai Abu Muhammad!
Seandainya engkau mengutus seseorang untuk memanggilku niscaya aku akan mendatangimu.
Oh tidak! Engkau lebih pantas untuk didatangi, ujarnya. Apa yang engkau perintahkan
kepadaku? tanyaku. Engkau tadinya membujang lalu engkau menikah, maka aku tidak suka
engkau melewati malam ini sendirian. Ini istrimu! kata Said menunjuk seorang wanita yang
berdiri tersembunyi di belakangnya. Ia membawa wanita yang telah menjadi istriku itu ke
pintuku lalu menutupnya. Aku pun masuk menemui istriku. Ternyata kudapati ia wanita yang
sangat cantik dan paling hafal terhadap Kitabullah, serta paling tahu tentang Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tentunya paling mengerti tentang hak suami.
Demikian kisah Abdullah ibnu Abi Wadaah yang beruntung mempersunting putri Said ibnul
Musayyab yang shalihah, jelita lagi cendekia. Padahal putri Said ini pernah dipinang oleh
Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk putranya, Al-Walid. Namun Said enggan menikahkan
putrinya dengan putra khalifah. Ia lebih memilih menawarkan putrinya kepada muridnya yang
hidup penuh dengan kesederhanaan, namun sarat dengan ilmu dan keshalihan. (Siyar Alamin
Nubala`, 4/233-234)
Dari kisah-kisah di atas yakinlah kita bahwa menawarkan anak gadis, saudara perempuan atau
keponakan kepada seorang lelaki yang shalih, bukanlah suatu cela. Bahkan hal itu menunjukkan
itikad yang baik dari wali si wanita, yaitu memilihkan orang yang baik untuk wanitanya. Karena,
seorang yang shalih bila mencintai istrinya ia akan memuliakannya. Namun bila tidak mencintai
istrinya, ia tidak akan menghinakannya. Karenanya, janganlah para wali mempersulit urusan
pernikahan wanita mereka dengan seseorang yang baik agama dan akhlaknya! Wallahu alam.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 54

TIDAK ADA PACARAN ISLAMI
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Pacaran Islami para Aktifis Dakwah
Menempelkan label Islami memang mudah. Namun ketika yang dilekati adalah hal-hal yang
menyimpang dari ajaran Islam, maka perkaranya menjadi berat pertanggungjawabannya di
hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur`an yang mulia:
+ ' ' , ' - = - ' - + -, - , ' ' -' - , - - - ' - - = - ' - ' ' - - ' + =
, = ,
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar
Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, mudahan-mudahan
mereka mau kembali ke jalan yang benar. (Ar-Rum: 41)
Ala`uddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi rahimahullahu yang masyhur dengan
sebutan Al-Khazin menyatakan dalam tafsirnya terhadap ayat di atas. Telah tampak kerusakan
di darat dan di laut, karena kesyirikan dan maksiat tampaklah kekurangan hujan (kemarau) dan
sedikitnya tanaman yang tumbuh di daratan, di lembah, di padang sahara yang tandus dan di
tanah yang kosong. Kurangnya hujan ini selain berpengaruh pada daratan juga membawa
pengaruh pada lautan, di mana hasil laut berupa mutiara menjadi berkurang. (Tafsir Al-Khazin,
3/393)
Kerusakan banyak terjadi di darat dan di laut, berupa rusak dan kurangnya
penghidupan/pencaharian manusia, tertimpanya mereka dengan berbagai penyakit dan wabah
serta perkara lainnya karena perbuatan-perbuatan rusak/jelek yang mereka lakukan. Semua itu
ditimpakan kepada mereka agar mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
membalas apa yang mereka perbuat. Diharapkan dengan semua itu mereka mau bertaubat dari
perbuatan jelek mereka. Demikian kata Asy- Syaikh Abdurrahman As-Sadi rahimahullahu
dalam Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 634.
Demikianlah, kerusakan dapat kita jumpai di mana-mana. Jangankan di kota besar, bahkan di
pedesaan sekalipun. Belum lagi musibah yang terjadi hampir di seluruh negeri. Semua itu tidak
lain penyebabnya karena dosa anak manusia.
Abul Aliyah rahimahullahu berkata, Siapa yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
di muka bumi maka sungguh ia telah membuat kerusakan di bumi. Karena kebaikan di bumi dan
di langit diperoleh dengan ketaatan. (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 6/179)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 55

Pergaulan anak muda yang rusak merupakan salah satu penyebab kerusakan tersebut. Hubungan
pra nikah dianggap sah. Pacaran boleh-boleh saja, bahkan dianggap suatu kewajaran dan tanda
kewajaran anak muda.
Di lembar ini, bukan hubungan mereka (baca: yang awam) yang ingin kita bicarakan, karena
telah demikian jelas penyimpangan dan kerusakannya! Para pemuda pemudi yang katanya punya
ghirah terhadap Islam, yang aktif dalam organisasi Islam, training- training pembinaan keimanan
dan kegiatan-kegiatan Islami lah yang hendak kita tuju. Mungkin karena kedangkalan terhadap
ilmu-ilmu Islam atau terlalu mendominasinya hawa nafsu, mereka memunculkan istilah pacaran
Islami dalam pergaulan mereka. Bagaimana pacaran Islami yang mereka maukan? Jelas karena
diberi embel-embel Islam, mereka hendak berbeda dengan pacaran orang awam/jahil. Tidak ada
saling sentuhan, tidak ada pegang-pegangan, tidak ada kata-kata kotor dan keji. Masing- masing
menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah
tentang Islam, tentang dakwah, tentang umat, saling mengingatkan untuk beramal, berdzikir
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengingatkan negeri akhirat, tentang surga dan neraka.
Begitu katanya!
Pacaran yang dilakukan hanyalah sebagai tahap penjajakan. Kalau cocok, diteruskan sampai ke
jenjang pernikahan. Kalau tidak, diakhiri dengan cara baik-baik. Dulu penulis pernah mendengar
ucapan salah seorang aktivis mereka dalam suatu kajian keIslaman untuk mengalihkan anak-
anak muda Islam dari merayakan Valentine Day, Daripada pemuda Islam, ikhwan sekalian,
pacaran dengan wanita-wanita di luar, yang tidak berjilbab, tidak shalihah, lebih baik
berpasangan dengan seorang muslimah yang shalihah.
Darimanakah mereka mendapatkan pembenaran atas perbuatan mereka? Benarkah mereka telah
menjaga diri dari perkara yang haram atau malah mereka terjerembab ke dalamnya dengan sadar
ataupun tidak? Ya, setanlah yang menghias-hiasi kebatilan perbuatan mereka sehingga tampak
sebagai kebenaran. Mereka memang katanya tidak bersentuhan, tidak pegangan tangan, tidak
ini dan tidak itu Sehingga jauh dan jauh mereka dari keinginan berbuat nista (baca: zina),
sebagaimana pacarannya para pemuda-pemudi awam/jahil yang pada akhirnya menyeret mereka
untuk berzina dengan pasangannya. Naudzubillah!!! Namun tahukah mereka (anak-anak muda
yang katanya punya kecintaan kepada Islam ini) bahwa hati mereka tidaklah selamat, hati
mereka telah terjerat dalam fitnah dan hati mereka telah berzina? Demikian pula mata mereka,
telinga mereka?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:
- _ ' = - - - ' - = -' , ' ' - '' = - ` = ' ' - ' - = = '
- - , = ' - - , - ' +- - - _ - - - - -' = - - ' ' - ''
Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina. Dia akan

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 56

mendapatkannya, tidak bisa tidak. Maka, zinanya mata adalah dengan memandang (yang
haram) dan zinanya lisan adalah dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan
berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya. (HR.
Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Dalam lafadz lain disebutkan:
= -' ' - ' - ' - , '' '' = - ` = ' - - _ - ' - - , - - ' - _ ' = - -
' ' - . = ' = - ' ' ' - - , ' ` ' -' - ' - '' ' - - - ' ' ' -' - ' - ' '
' ' = = ' - - , - ' = ' - - , _ -- - , , + , - ' -
Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak bisa tidak.
Kedua mata itu berzina, dan zinanya dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu
berzina, dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina, dan zinanya
dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina, dan zinanya dengan memegang. Kaki
itu berzina, dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara, hati itu
berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau
mendustakannya. (HR. Muslim no. 2657)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: Makna dari hadits di atas adalah anak Adam itu
ditetapkan bagiannya dari zina. Maka di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki
dengan memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram (untuk dimasuki karena
bukan pasangan hidupnya yang sah, pent.). Dan di antara mereka ada yang zinanya secara majazi
(kiasan) dengan memandang yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang
mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang
bukan mahramnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina,
atau untuk melihat zina, atau untuk menyentuh wanita non mahram atau untuk melakukan
pembicaraan yang haram dengan wanita non mahram dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam
hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi. Sementara kemaluannya membenarkan
semua itu atau mendustakannya. Maknanya, terkadang ia merealisasikan zina tersebut dengan
kemaluannya, dan terkadang ia tidak merealisasikannya dengan tidak memasukkan kemaluannya
ke dalam kemaluan yang haram, sekalipun dekat dengannya. (Syarhu Shahih Muslim, 16/206)
Yakni yang namanya zina itu tidak hanya diistilahkan dengan apa yang diperbuat oleh kemaluan,
bahkan memandang apa yang haram dipandang dan selainnya juga diistilahkan zina. (Fathul
Bari, 11/28)
Dengan pacaran yang mereka beri embel-embel Islam, adakah mereka dapat menjaga pandangan
mata mereka dari melihat yang haram? Sementara memandang wanita ajnabiyyah (non mahram)
atau laki-laki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 57

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan:
' - - , - = - + ' _ = ' += , = - = , ' - - - , - , , - -, - ' ' .
, - - , . + = = - = , ' - - - - - , ' - -, - ' ' .
Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan
sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih
suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan
katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan sebagian
pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka. (An-Nur: 30-31)
Tidakkah mereka tahu bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki?
Sebagaimana dinyatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:
' - -' - ' = ' _ ' = - - - - - - - ' -
Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada
fitnahnya wanita. (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)
Kerusakan Pacaran Islami
Dengan pacaran Islami ala mereka, mereka tentu tidak akan lepas dari yang namanya khalwat
(berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan
tanpa adanya hijab/tabir penghalang).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
= - _ - ` -' - . = , ' =, `
Sekali-kali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu
bersama mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata, Wanita adalah fitnah, sehingga laki-laki ajnabi dilarang
bersepi-sepi dengannya. Karena jiwa-jiwa manusia diciptakan punya kecenderungan/syahwat
terhadap wanita, dan setan akan menguasai mereka dengan perantaraan para wanita.
Beliau juga mengatakan bahwa wanita adalah aurat yang sangat urgen untuk dijaga dan
dipelihara. Dan mahramnya sebagai orang yang memiliki kecemburuan terhadapnyalah yang
akan melindungi dan menjaganya. (Al-Ikmal, 4/448)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan, Adapun bila seorang laki-laki ajnabi berdua-
duaan dengan wanita ajnabiyah tanpa ada orang ketiga bersama keduanya, maka hukumnya

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 58

haram menurut kesepakatan ulama. Demikian pula bila bersama keduanya hanya ada seseorang
yang biasanya orang tidak sungkan/tidak merasa malu berbuat sesuatu di hadapannya karena
usianya yang masih kecil, seperti anak laki-laki yang baru berumur dua atau tiga tahun dan yang
semisalnya. Karena keberadaan orang seperti ini sama saja seperti tidak adanya. (Al-Minhaj,
9/113)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
' = , -' ' - + ` '' ` ' ` -' - .= , ' = , `
Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita melainkan yang
ketiganya adalah setan. (HR. At-Tirmidzi no. 1171, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani
rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Karena bahayanya fitnah wanita dan bersepi-sepi dengan wanita, Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam sampai memperingatkan:
' - -' _ ' = , = -' ' , . ' - ' - - ` - . = : , - = ' - , - , - ' ,
' : , - ' , - = '
Hati-hati kalian masuk ke tempat para wanita! Berkatalah seseorang dari kalangan Anshar,
Wahai Rasulullah! Apa pendapat anda dengan ipar? Beliau menjawab, Ipar adalah maut.
(HR. Al-Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 5638)
Ipar di sini adalah kerabat suami selain ayah dan anak laki-lakinya. Makna Ipar adalah maut,
kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, bahwa kekhawatiran terhadap ipar lebih besar
daripada orang selainnya. Kejelekan bisa terjadi darinya dan fitnahnya lebih besar. Karena
biasanya ia bisa masuk dengan leluasa menemui wanita yang merupakan istri saudaranya atau
istri keponakannya, serta memungkinkan baginya berdua-duaan dengan si wanita tanpa ada
pengingkaran, karena dianggap keluarga sendiri. Beda halnya kalau yang melakukan hal itu laki-
laki ajnabi yang tidak ada hubungan keluarga dengan si wanita. (Al-Minhaj, 14/ 378)
Ketika Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya tentang
hubungan kasih antara laki-laki dan perempuan yang terjalin sebelum zawaj, beliau menjawab,
Bila yang dimaukan penanya, sebelum zawaj adalah sebelum dukhul (jima) setelah
dilangsungkannya akad nikah, maka tidak ada dosa tentunya. Karena dengan adanya akad berarti
si wanita telah menjadi istrinya walaupun belum dukhul. Namun bila yang dimaksud sebelum
zawaj adalah sebelum akad nikah, baru pelamaran atau belum sama sekali, maka yang ini haram.
Tidak boleh dilakukan. Tidak diperkenankan seorang lelaki bernikmat-nikmat dengan seorang
wanita ajnabiyah, baik dalam ucapan, pandangan, maupun khalwat. (Fatawa Al-Mar`ah Al-
Muslimah, 2/600)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 59

Seorang laki-laki yang telah resmi melamar seorang wanita sekalipun, ia tetap harus menjaga
jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterimanya pinangannya tidak berarti ia bisa bebas
berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas
telepon, bebas sms, bebas chatting, ngobrol apa saja. Karena hubungan keduanya belum resmi, si
wanita masih tetap ajnabiyah baginya. Lalu apatah lagi orang yang baru sekadar pacaran belum
ada peminangan, walaupun diembel-embeli kata Islami?
Ada seorang lelaki meminang seorang wanita. Di hari-hari setelah peminangan, ia biasa
bertandang ke rumah si wanita, duduk sebentar bersamanya dengan didampingi mahram si
wanita dalam keadaan si wanita memakai hijab yang syari. Berbincanglah si lelaki dengan si
wanita, namun pembicaraan mereka tidak keluar dari pembahasan agama ataupun bacaan Al-
Qur`an. Ketika Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu dimintai fatwa tentang hal ini, beliau
menjawab, Hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan. Karena perasaan si lelaki bahwa wanita
yang duduk bersamanya telah dipinangnya secara umum akan membangkitkan syahwat.
Sementara bangkitnya syahwat kepada selain istri dan budak perempuan yang dimiliki adalah
sesuatu yang haram. Dan sesuatu yang mengantarkan kepada keharaman, haram pula
hukumnya. (Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/748)
Permasalahan senada ditanya kepada Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al- Fauzan
hafizhahullah, hanya saja pembicaraan si lelaki dengan si wanita yang telah dipinangnya tidak
secara langsung namun lewat telepon. Beliau pun memberikan jawaban, Tidak apa-apa seorang
laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang
pinangannya telah diterima dan pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman
sebatas kebutuhan yang ada, tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara
wali si wanita, maka itu lebih baik dan lebih jauh dari keraguan/fitnah.
Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki dengan wanita, antara pemuda dan pemudi,
padahal belum berlangsung lamaran di antara mereka, namun hanya bertujuan untuk saling
mengenal sebagaimana yang mereka istilahkan maka ini mungkar, haram. Bisa mengarah
kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
' - - ' - ' _ - = , , - '' - - = - ' ' ' - `,
Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara sehingga berkeinginan
jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan ucapkanlah ucapan yang maruf. (Al-Ahzab:
32)
Seorang wanita tidak sepantasnya berbicara dengan laki-laki ajnabi kecuali bila ada kebutuhan,
dengan mengucapkan perkataan yang maruf, tidak ada fitnah di dalamnya dan tidak ada
keraguan (yang membuatnya dituduh macam-macam).

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 60

Ulama telah menyebutkan bahwa wanita yang sedang berihram melakukan talbiyah tanpa
mengeraskan suaranya. Dan di dalam hadits disebutkan:
' - -' - - - ' ' = ' _ - - - ' - ` - - ' -
Apabila datang pada kalian sesuatu dalam shalat kalian, maka laki-laki hendaklah bertasbih
dan wanita hendaknya memukul tangannya.
Hadits di atas termasuk dalil yang menunjukkan bahwa wanita tidak semestinya
memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya, kecuali dalam keadaan-
keadaan yang dibutuhkan sehingga ia terpaksa berbicara dengan laki-laki dengan disertai rasa
malu. Wallahu alam. (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan,
3/163,164)
Kita baru menyinggung pembicaraan via telepon ataupun secara langsung. Lalu bagaimana bila
pemuda-pemudi berhubungan lewat surat? Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman dalam
Fatawa Al-Mar`ah (hal. 58) ditanya, Bila seorang lelaki melakukan surat-menyurat dengan
seorang wanita ajnabiyah, hingga pada akhirnya keduanya saling jatuh cinta, apakah perbuatan
ini teranggap haram? Beliau menjawab, Perbuatan seperti itu tidak boleh dilakukan, karena
dapat membangkitkan syahwat di antara dua insan. Dan syahwat tersebut mendorong keduanya
untuk saling bertemu dan terus berhubungan. Kebanyakan surat-menyurat seperti itu
menimbulkan fitnah dan menumbuhkan kecintaan kepada zina di dalam hati. Di mana hal ini
termasuk perkara yang menjatuhkan seorang hamba ke dalam perbuatan keji, atau menjadi sebab
yang mengantarkan kepada perbuatan nista. Karenanya, kami memberikan nasihat kepada orang
yang ingin memperbaiki dan menjaga jiwanya agar tidak melakukan surat-menyurat yang seperti
itu dan menjaga diri dari pembicaraan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Semuanya
dalam rangka menjaga agama dan kehormatannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala-lah yang
memberi taufik.
Bila ada yang berdalih bahwa isi surat-menyurat mereka jauh dari kata-kata keji, tidak ada kata-
kata gombal dan rayuan cinta di dalamnya, apatah lagi dalam surat menyurat tersebut dikutip
ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dijawab oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, Tidak boleh bagi seorang lelaki, siapapun dia, untuk surat-
menyurat dengan wanita ajnabiyah. Karena hal itu akan menimbulkan fitnah. Terkadang orang
yang melakukan perbuatan demikian menyangka bahwa tidak ada fitnah yang timbul. Akan
tetapi setan terus menerus menyertainya, hingga membuatnya terpikat dengan si wanita dan si
wanita terpikat dengannya.
Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, Dalam surat-menyurat antara pemuda dan pemudi ada
fitnah dan bahaya yang besar, sehingga wajib untuk menjauh dari perbuatan tersebut, walaupun
penanya mengatakan dalam surat menyurat tersebut tidak ada kata-kata keji dan rayuan cinta.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 61

(Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, 2/898)
Demikianlah Lalu, masihkah ada orang-orang yang memakai label Islam untuk membenarkan
perbuatan yang menyimpang dari kebenaran? Wallahul mustaan.





























e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 62

MEMBUJANG ALA SUFI
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Keutamaan Menikah
Sufi, adalah salah satu kelompok sempalan tempat beragam penyimpangan dari ajaran syariat ini
berhuni. Salah satu ajaran menyimpang yang menonjol adalah tabattul (hidup membujang).
Diyakini oleh penganut sufi, dengan cara beragama seperti ini, mereka lebih bisa mendekatkan
diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Benarkah?
Di antara nikmat dan tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah disyariatkannya nikah,
yang mana mendatangkan banyak maslahat dan manfaat bagi setiap individu dan masyarakatnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
- - - - ' ' = -' ,' - - = , - - , - . = ' + , ' , - - - ' ' =
- - , , - ' ' ,' ' = '
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari
jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-
Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Ar-Rum: 21)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sadi rahimahullahu berkata: Nikah termasuk nikmat Allah
Subhanahu wa Ta'ala yang agung. Allah Subhanahu wa Ta'ala syariatkan bagi hamba-Nya dan
menjadikannya sebagai sarana serta jalan menuju kemaslahatan dan manfaat yang tak terhingga.
(Dinukil dari Taudhihul Ahkam, 4/331)
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutnya dengan lafadz perintah dalam beberapa ayat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
' - ` ` _ - ` - ' - -' - ' ' = ' - , = -' _ -' - , ' , = - - - ` - - =
= ' , ', - ` _ - = ' -' - , - '- ' - - = , , ' - - ` - -
Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua,
tiga, atau empat. Namun jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah)
seorang saja, atau budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada
tidak berbuat aniaya. (An-Nisa`: 3)
- - + - , - , -, , -' - ' - = - , = '' -' - - _-' , ` , = -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 63

, ' = _ - - ' -
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak
(menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang lelaki dan hamba-hamba sahaya yang
perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan
karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An-Nur: 32)
Diriwayatkan dari Ibnu Masud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata:
' - -' - - ' , ! - = - - ' ' = - ' - , ' ' - ' - - ' = - - -
' = ' - ' , -'' - , ' _ = - - , ' - - ' '
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu untuk menikah hendaknya
menikah, karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa
yang tidak mampu, hendaknya berpuasa karena itu adalah pemutus syahwatnya.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata kepada Said bin Jubair rahimahullahu: Menikahlah,
karena orang terbaik di umat ini adalah yang paling banyak istrinya. (Dibawakan oleh Al-
Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya)
Bahkan para ulama menyatakan, seorang yang khawatir terjatuh dalam zina maka dia wajib
menikah. Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata: Nikah menjadi wajib atas seorang yang
khawatir terjatuh dalam zina jika meninggalkannya. Karena, itu adalah jalan bagi dia untuk
menjaga diri dari perbuatan haram. Dalam keadaan seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullahu berkata: Jika seseorang telah perlu menikah dan khawatir terjatuh dalam
kenistaan jika meninggalkannya, maka harus dia dahulukan dari amalan haji yang wajib.
(Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/258)
Seorang yang menikah dengan niat menjaga kehormatan dijamin oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam berkata:
+ -, = . = = - _ ' = = ` ` ` : -' ` -, , - ' - -' - ' -, , - ' _ '
- ., - - - ' = - ' ' - '
Tiga golongan yang Allah akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya,
seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya, dan seorang yang berjihad di jalan
Allah. (HR. An-Nasa`i, Kitabun Nikah, Bab Maunatullah An-Nakih Al- Ladzi Yuridul Afaf,
no. 3166)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 64

Janganlah seseorang meninggalkan pernikahan karena mengikuti bisikan setan, dengan
dibayangi kesulitan ekonomi, padahal dia telah sangat ingin menikah serta takut terjatuh dalam
maksiat. Bertawakallah dengan disertai ikhtiar, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala menjamin
orang yang benar-benar bertawakal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
- - = , + - _ ' = . , - , -
Barangsiapa yang bertawakal kepada-Nya pasti Dia akan menjadi Pencukupnya. (Ath-
Thalaq: 3)
Tabattul ala Shufiyah (Sufi)
Tabattul adalah meninggalkan wanita dan pernikahan dengan dalih untuk fokus beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tabattul adalah keyakinan Shufiyah yang menyelisihi
prinsip Islam.
Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: Hidup menyendiri bukanlah termasuk ajaran Islam.
Beliau juga berkata: Barangsiapa yang mengajak untuk tidak menikah, maka dia telah menyeru
kepada selain Islam. Jika seorang telah menikah, maka telah sempurna keislamannya. (lihat
ucapan beliau dalam Al-Mughni karya Ibnu Qudamah rahimahullahu)
Apa yang beliau sebutkan didasari banyak dalil. Di antaranya, ketika ada tiga orang datang ke
rumah sebagian istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bertanya tentang ibadah beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika kembali, sebagian mereka menyatakan: Aku akan puasa
terus menerus dan tidak akan berbuka. Yang lain berkata: Aku akan shalat malam, tidak akan
tidur. Dan sebagian lagi berkata: Aku tak akan menikah dengan wanita. Ketika sampai
ucapan ketiga orang ini kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata:
, '' , ' - ' - : - - ! ' - -' - = , - ' - ' - - '
- - , ' - - - = - = -
Kenapa ada orang-orang yang berkata ini dan itu?! Aku shalat malam tapi juga tidur, aku
puasa tapi juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, dia
tidak di atas jalanku. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam rahimahullahu berkata: Berpaling dari istri dan anak (tidak mau menikah, pen.)
bukanlah perkara yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul- Nya. Bahkan bukan
agama para nabi dan rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
, ' = + ' ' - ' = = ' - - ` - ' - ' - - - '

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 65

Kami telah utus para rasul sebelum engkau dan kami berikan kepada mereka istri dan
keturunan. (Ar-Rad: 38) [Ucapan Ibnu Taimiyah rahimahullahu dinukil dari Taudhihul
Ahkam]
Sehingga Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullahu menyatakan bahwa meninggalkan nikah dengan
niat sebagai ibadah termasuk bidah (yakni bidah tarkiyah). (Lihat Al-Itisham karya Al-Imam
Asy-Syathibi rahimahullahu)
Dalil-dalil yang Melarang Tabattul
Bahkan telah ada nash-nash khusus melarang tabattul. Dalam Ash-Shahihain, diriwayatkan
bahwa Sad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu berkata:
' , ' . - - -' , = - - '- ` = _ ' = '- ,'= - _'- - , -
' - , - - =' '
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menolak permintaan Utsman bin Mazhun untuk terus
membujang. Kalau beliau mengizinkannya, niscaya kami akan mengebiri diri kami. (HR. Al-
Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
, - , -, - - ' , + - . - - -' = _ + - , ' - '' - -' , '- ,'= - _'- - , - ' :
, = - -' , - ' , , ' , - - ` `' - - , ' , ' , '
Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami bertabattul. Beliau
berkata: Nikahilah oleh kalian wanita yang subur (calon banyak anak), karena aku akan
berbangga kepada para nabi di hari kiamat dengan banyaknya kalian. (Hadits shahih riwayat
Ahmad)
Bidah Tabattul Menjerumuskan Shufiyah ke dalam Kubangan
Maksiat
Pemikiran bidah yang ada pada Shufiyah ini menjerumuskan mereka kepada perkara- perkara
yang menghinakan. Kami akan sampaikan apa yang telah diterangkan Asy- Syaikh Muqbil
rahimahullahu ketika menjelaskan kejelekan-kejelekan Shufiyah. Beliau rahimahullahu berkata:
Di antara khurafat Shufiyah adalah mereka mengharamkan atas diri mereka apa yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala halalkan berupa menikah padahal menikah merupakan sunnah para rasul
. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab- Nya:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 66

, ' = + ' ' - ' = = ' - - ` - ' - ' - - - '
Kami telah utus para rasul sebelum engkau serta kami berikan kepada mereka istri dan
keturunan. (Ar-Rad: 38)
Nabi kita Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
' ' -' - , = . = -, =' ' - -' ' , - -' - ' - - =
Dibuat cinta kepadaku dari dunia kalian minyak wangi dan wanita, serta dijadikan penyejuk
mataku adalah shalat.
Datang tiga orang kepada istri Nabi, bertanya tentang ibadah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ketika diberi kabar sepertinya mereka menganggap sedikit, maka sebagian mereka berkata:
Adapun saya, akan shalat malam dan tak akan tidur. Yang lain berkata: Aku akan puasa dan
tak akan berbuka. Yang lainnya lagi berkata: Aku tak akan menikahi wanita. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam datang dan diberi tahu tentang ucapan mereka ini. Beliaupun berkata:
, - - ' ' ' - - ' ' ' - = ' ' - - ' - - - - ' , - ' - - =
, ' - - - = - = - ' - -' - - ' - - -
Kalian yang berkata demikian dan demikian, ketahuilah aku adalah orang yang paling takut di
antara kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan paling bertakwa. Akan tetapi aku shalat
malam dan tidur, aku berpuasa serta berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang
membenci sunnahku maka dia bukan berada di atas jalanku.
Rabbul Izzah berfirman:
- = , ` - - - - ` ' - . = ' - ' - , = , - = - ` , - -' , - ' ' + , ' ,
, - - - '
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Ma`idah: 87)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur`an:
- = , ' ' - , - - ` , - - , ' - = - - . - - = - -, - = ' - -' ,
, - - '

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 67

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap shalat, makan dan minumlah, dan
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berlebih-
lebihan. (Al-Araf: 31)
Mereka menahan diri mereka dari wanita (tidak mau menikah, pen.). Siapakah yang mereka
ikuti? (Mereka) mengikuti tokoh-tokoh Nashrani dan abid (para ahli ibadah) dari kalangan
Yahudi.
Akan tetapi, ketika mereka enggan kepada wanita, apa yang mereka lakukan? Mereka terfitnah
oleh amrad (laki-laki yang wajahnya mirip wanita). Sampai pernah terjadi, seorang (Shufi)
kasmaran kepada seorang amrad (sebagaimana dalam kitab Talbis Iblis). Ketika keduanya
dipisah, dia berusaha untuk masuk menemuinya dan membunuhnya. Kemudian dia menangis di
sisinya serta mengaku bahwa dialah yang membunuhnya. Ketika bapak si anak tersebut datang,
diapun berkata: Aku yang membunuhnya, aku minta kepadamu dengan nama Allah Subhanahu
wa Ta'ala untuk meng-qishash-ku. Tapi bapak si anak ini memaafkannya. Maka orang ini
kemudian melakukan haji dan menadzarkan pahala hajinya bagi anak tersebut.
Dan yang lebih menjijikkan dari ini adalah ada seorang (dari kalangan Shufiyah, pen.)
melakukan perbuatan nista (yakni liwath/homoseksual) dengan seorang anak kecil. Kemudian
dia naik ke atap rumah kebetulan rumahnya di atas laut dan dia lemparkan dirinya (bunuh diri)
seraya membaca ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala:
, - - - - , ' - ' - ' - _ ' , -
Maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. (Al-Baqarah:
54)
Demikianlah keadaan Shufiyah. Masih banyak lagi kenistaan dan kebobrokan mereka, yakni
dalam masalah wanita... (Al-Musharaah, hal. 378-379, dengan sedikit perubahan)
Hendaknya seorang muslim menjaga agamanya dan mendasari setiap amalnya dengan Al-Qur`an
dan As-Sunnah. Janganlah seseorang beramal hanya berdasarkan akal dan perasaan semata.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
- - , ' - ' - , - -
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb kalian. (Al-Araf: 3)
Ketahuilah, di antara sebab kesesatan manusia adalah ketika bersandar kepada akal dan
perasaannya semata dalam beragama, seperti apa yang menimpa kaum Shufiyah. Mudah-
mudahan kita senantiasa mendapatkan taufiq sampai akhir hayat kita.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 68

PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN DALAM MASALAH NIKAH
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Minta Jodoh dan Anak Kepada Selain Allah Subhanahu wa Ta'ala
Alangkah baiknya kita mengetahui juga masalah-masalah lain yang merupakan penyimpangan
yang ada di sekitar kita. Perkara yang akan merusak dan mengotori aqidah kita.
Ketahuilah perbuatan syirik besar itu menggugurkan tauhid seseorang. Kebidahan menghalangi
kesempurnaan tauhid seseorang. Sedangkan perbuatan maksiat yang lain akan mengotori dan
menghalangi buah dari tauhid.
Banyak keyakinan, pemikiran, dan amalan sebagian muslimin yang berkaitan dengan masalah
pernikahan telah menyimpang dari tuntunan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara pemikiran dan amalan menyimpang tersebut adalah
minta jodoh dan anak kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala
Sebagian mereka ketika sulit mendapatkan jodoh atau anak, pergi ke kuburan atau tempat yang
dianggap keramat untuk minta jodoh atau anak. Atau mereka pergi ke dukun. Padahal Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:
' - ' , ' = -'
Berdoa adalah ibadah. (HR. At-Tirmidzi, Kitab Tafsiril Qur`an an Rasulillah Shallallahu
'alaihi wa sallam, Bab Wa Min Suratil Baqarah, no. 2895)
Tidak boleh berdoa minta diberi jodoh, anak kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena
berdoa adalah ibadah, barangsiapa yang berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala berarti
telah terjatuh dalam perbuatan syirik. Tidak boleh pula minta bantuan dukun atau yang disebut
orang pintar. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:
` - ' . - - - ' - = ' ' - ' = _ - - ' , ' , -
Barangsiapa yang mendatangi arraf (dukun, ahli nujum, tukang ramal dan sejenisnya),
kemudian bertanya sesuatu kepadanya, tak akan diterima shalatnya selama empatpuluh hari.
(HR. Muslim, Kitabus Salam, Bab Tahrimul Kahanah wa Ityanil Kuhhan, no. 4137)
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata juga:
,'= - _'- - - = - _ ' = - ' - - - - - , - , ' - - - - ' = ' - ' _ - -
'-

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 69

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau arraf, kemudian membenarkan ucapannya, berarti
dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. (HR. Ahmad dan lainnya)
Lihatlah bahaya mendatangi dukun! Semata mendatangi dan bertanya kepada dukun akan
mengakibatkan tidak diterimanya shalat selama 40 hari. Jika membenarkannya, berarti telah
mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Tathayyur
Di antara penyelisihan aqidah dalam masalah menikah adalah melarang melakukan acara
pernikahan di bulan atau hari tertentu (karena takut sial, ed.). Amalan seperti ini disebut
tathayyur. Tathayyur adalah beranggapan sial pada semua yang dilihat, didengar, serta
beranggapan sial pada tempat dan waktu tertentu.
Keyakinan sebagian orang bahwa bulan Shafar atau bulan Suro tidak boleh ada pernikahan
karena akan ada bencana bagi yang menikah di bulan tersebut adalah keyakinan yang batil.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
- - ` -' ` , = ` - = `
Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah/tathayyur, tidak ada
pengaruh burung hantu, dan tidak ada (sial karena bulan) shafar. (HR. Al-Bukhari, Kitab
Ath-Thib, Bab La Hamah, no. 5316)
Ditafsirkan bahwa shafar adalah bulan Shafar, karena orang-orang jahiliah menganggap sial
menikah di bulan Shafar. (Lihat Fathul Majid)
Tasyabbuh (Meniru Orang Kafir)
Tasyabbuh (meniru) orang kafir adalah amalan yang haram dalam masalah pernikahan ataupun
lainnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
- - , + , - - - - - - +
Barangsiapa yang menyerupai satu kaum maka termasuk golongan mereka. (HR. Abu
Dawud, Kitabul Libas, Bab fi Lubsi Asy-Syuhrah, no. 3512)
Di antara perkara tasyabbuh yang ada dalam pernikahan adalah apa yang disebut dablah (tukar
cincin/ pertunangan, -ed). Jika sampai ada keyakinan bahwa selama cincin tersebut masih di
tangan kedua mempelai maka akan tetap rukun rumah tangga keduanya, berarti telah terjatuh
dalam kesyirikan. Jika seseorang memakainya tanpa ada keyakinan seperti itu, dia tetap terjatuh
dalam tasyabbuh. Apalagi jika cincin tersebut dari emas, maka pengantin pria terjatuh dalam

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 70

keharaman lainnya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
+ `' - ' ' . = - - , _ ' = = , -
Sesungguhnya dua benda ini (yakni emas dan sutera, pen.) haram atas laki-laki umatku dan
halal bagi kaum wanitanya. (HR. Ibnu Majah, Kitabul Libas, bab Labsil Harir wadz Dzahab
lin Nisa`, no. 3585)
Menikah dengan Orang yang Berbeda Agama
Ketahuilah, seorang mukmin dan mukminah, bagaimanapun keadaannya, mereka tetap lebih baik
daripada orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
` - - = = , ' - - - , = - -, - - ' ' -, , _ - = ' - - ' , = - - `
- - ' , = - - , =- , = - ' - = = , ' - - - , = -, - - - ' , - -, , _ - = ,
- - , + ' ' ' -' ' -' ,' , - , - ' - - - ' - = ' _ ' , =- , - ' -' _ '
Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia
menarik hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-
wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari
orang musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin- Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
(perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah:
221)
Sangat disayangkan, banyak orangtua mengorbankan putrinya untuk mendapatkan dunia semata,
menikahkan putrinya dengan orang kafir yang tidak halal bagi mereka. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
+ -' - , ' - ' = - , - = - -' =' + - ' - -, - ' ' = , - -' , - ' ' + , ' , '
= , ` + ' . = ` ' - ' _ ' , = - ` ' - -, - , - - - ' = + ' , '
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan- perempuan
yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah Subhanahu wa Ta'alaebih
mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar)
beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang
kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula
bagi mereka. (Al- Mumtahanah: 10)

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 71

Orang kafir walaupun ahlul kitab tidaklah halal bagi seorang wanita muslimah.
Tiwalah
Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat dengan keyakinan bisa membuat suami cinta kepada istrinya
atau istri kepada suaminya. Inipun satu amalan yang terlarang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata:
- ' , -' -' - -' _ '
Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Inilah sebagian kecil masalah aqidah yang dilanggar sebagian kaum muslimin dalam hal
pernikahan. Masih banyak lagi penyimpangan yang terjadi dalam acara pernikahan seperti:
sesajen, sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan lainnya. Hendaknya setiap
muslim berhati-hati, jangan sampai keyakinan dan amalannya terkotori syirik atau kebidahan.
Sehingga dia bisa meninggal di atas tauhid dan di atas Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
Walhamdulillah.














e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 72

HAFALAN AL QUR'AN MENJADI MAHAR DALAM PERNIKAHAN
Penulis: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
Sebuah Hadits Nabi Shallallahu'alaihi wasallam
' - ' - = - ' - - ' + - = -
Dari Sahl bin Sad As-Saidi radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
telah bersabda: Aku nikahkan kamu dengan dia dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-
Qur`an.
Hadits ini diriwayatkan oleh:
Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. hadits 21733, 21783;
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Wakalah no. hadits 2310, Kitab Fadhailul
Qur`an no. hadits 5029, no. hadits 5030, Kitabun Nikah no. hadits 5087, 5121, 5126, 5135, 5141,
5149, 5150;
Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1425;
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah an Rasulillah no. hadits 1023;
Al-Imam An-Nasa`i rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 3228, 3306;
Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1806;
Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 1879;
Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 968;
Al-Imam Ad-Darimi rahimahullahu dalam Kitabun Nikah no. hadits 2104.
Adapun kelengkapan hadits di atas dalam Shahih Al-Bukhari Kitabun Nikah no. 5149:
, - , - =' -' - - - . + - = : '- ,'= - _'- - , - - - = , - ' -' -
- - -' - '' - : = , ' +, = ' ' + - - - - - - ' + - - , - ' , . ' + - = , '
- '' - - -' ` ' - , - : = , ' +, = ' ' + - - - - - - ' + - - , - ' , . ' + - = , '
` ' - , - - '' - ` '' `' - -' : ' - . = ' - = , ' +, = ' ' + - - - - - - ' + - : ' ,
' +, - = - - , - . ' : ' - - - - = . : ` . ' : ' - -' = , ' - ' =' -
-, - = - . - ' - ' = ` - ' = - : -, - = - ' - -' = ` ' - , - - = ' - . ' - : .
' - ' - ' - = - : - , - - , - - . ' : ' - - ' + - = - - - -
' - ' - = -
Dari Sahl bin Said As-Saidi, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata:

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 73

Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia,
bagaimana menurutmu. [1] Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian
berdirilah wanita itu dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan
dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu. Beliaupun diam dan tidak
menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata:
Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana
menurutmu. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Ya Rasulullah, nikahkanlah
saya dengannya. Beliaupun menjawab: Apakah kamu memiliki sesuatu? Ia berkata: Tidak.
Kemudian beliaupun berkata: Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.
Kemudian iapun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
sambil berkata: Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi. Maka
Rasulullah bersabda: Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an? Ia berkata: Ada, saya
hafal surat ini dan itu. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Pergilah,
telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al- Qur`an yang ada padamu.
Jalur Periwayatan Hadits
Hadits ini bermuara pada Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-Araj Al-Madani. Adapun para rawi
yang meriwayatkan dari beliau yaitu Sufyan bin Uyainah, Malik bin Anas, Yaqub bin
Abdurrahman, Hammad bin Zaid, Abdul Aziz bin Muhammad Ad- Darawardi, Za`idah bin
Qudamah Abu Ash-Shalt, Abdul Aziz bin Abi Hazim Abu Tamam, Abu Ghassan Al-Madani
Muhammad bin Mutharrif, dan Fudhail bin Sulaiman An-Numairi.
Makna Hadits
Kalimat:
- - -' '- ,'= - _'- - , - - - = , - ' - ' -
Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
tiba-tiba berdirilah seorang wanita.
Pada riwayat Fudhail bin Sulaiman terdapat lafadz:
- - ' = ' -, ' = '- ,'= - _'- - -' - - = ' -
Tatkala kami duduk-duduk di sisi Rasulullah, datanglah kepada beliau seorang wanita.

_____________________________________________________________________________________________
Footnote
[1] Dalam riwayat Malik: Sesungguhnya saya menghibahkan diri saya untukmu. Namun di sini menggunakan kata
ganti orang ketiga dia. Ini disebut dengan uslub iltifat. (lihat Al-Fath, 9/206) -ed

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 74

Pada riwayat Hisyam bin Sad dengan lafadz:
- , ' - - '- ,'= - _'- - -' - - = = - ' - - , -
Tatkala kami berada di sisi Nabi Shallallahu'alaihi wasallam, datanglah kepada beliau
seorang wanita.
Dan demikianlah keumuman riwayat menggunakan lafadz Telah datang seorang wanita kepada
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Apabila dilihat secara zhahir, riwayat ini bertentangan dengan riwayat dari jalan Sufyan bin
Uyainah yang menggunakan lafadz:
- - -'
Ketika berdiri seorang wanita.
Yang mana, kemungkinan makna "berhenti berdiri menghadap maksudnya adalah dia datang
hingga berhenti berdiri di tengah-tengah mereka, bukan sebelumnya duduk di majelis kemudian
berdiri.
Dan pada riwayat Sufyan Ats-Tsauri yang diriwayatkan oleh Al-Ismaili disebutkan:
- = - - ' , '- ,'= - _'- - -' _ ' - ' =
Telah datang seorang wanita kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau sedang
berada di masjid.
Riwayat ini menerangkan tempat kejadian kisah ini, yaitu di masjid.
Adapun nama wanita dalam kisah ini, Al-Hafizh rahimahullahu berkata: Saya belum
menemukan siapa namanya. Disebutkan dalam kitab Al-Ahkam karya Ibnu Al-Qasha, wanita
itu bernama Khaulah bintu Hakim atau Ummu Syarik radhiyallahu 'anha. Jika demikian, nama
ini diperoleh dari penukilan wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam yang tersebut dalam tafsir surat Al-Ahzab ayat 50:
- -, - - - -' ' ' + - - - - -
Dan perempuan beriman yang menghibahkan dirinya kepada Nabi.
Dalam Kitab Tafsir, hadits no. 4788, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyebutkan: Yang
nampak, wanita yang menghibahkan (menawarkan diri) itu lebih dari satu orang. Namun beliau
memastikan bahwa wanita yang menawarkan diri dalam hadits Aisyah radhiyallahu 'anha adalah

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 75

Khaulah bintu Hakim radhiyallahu 'anha, meskipun ada yang mengatakan ia adalah Ummu
Syarik atau Fathimah bintu Syuraih. Ada juga yang mengatakan bahwa dia adalah Laila bintu
Hathim atau Zainab bintu Khuzaimah, dan dalam riwayat yang lain Maimunah bintul Harits.
(Fathul Bari 8/646 dan 9/250)
Kalimat:
= ' ' + - - - - - - ' + - - , - ' , - '' -
Ia berkata: Sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu.
Dalam riwayat lain terdapat lafadz:
- '' - : - - - = ' - - - = - , - ' ,
Ia berkata: Ya Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: Diamnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam perkara ini menjadi dalil atas bolehnya seorang wanita menghibahkan dirinya sebagai
ganti atas mahar dalam pernikahan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
- -, - - - = ' - '' = ' + = - - - , - -' - -' ' ' + - - - - -
, - -, - '
Dan perempuan beriman yang menyerahkan dirinya kepada Nabi, kalau Nabi mau
menikahinya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang beriman. (Al-Ahzab:
50)
Para sahabat kami (yakni pengikut mazhab Syafiiyah) berkata bahwa ayat dan hadits ini
menjadi dalil dalam masalah tersebut (penghibahan diri seorang wanita). Maka, apabila seorang
wanita telah menghibahkan dirinya untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian
beliau menikahinya tanpa mahar, yang demikian itu halal (sah) untuk beliau. Tidak ada
kewajiban sama sekali atas beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah itu untuk membayar
maharnya. Berbeda dengan selain beliau, karena pernikahannya tetap diwajibkan untuk
membayar mahar sebagaimana telah disebutkan.
Tentang perihal keabsahan akad nikah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan lafadz hibah
terdapat dua pendapat:
- Ada yang mengatakan sah sesuai dengan ayat dan hadits di atas.
- Ada yang berpendapat tidak sah, bahkan akad nikah tidak sah kecuali dengan lafadz tazwij atau

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 76

inkah. Tidaklah sah akad nikah, kecuali dengan salah satu dari dua kalimat tersebut. (Al-Minhaj,
9/215)
Al-Hafizh rahimahullahu berkata: Pada lafadz penghibahan terdapat dalil bahwasanya
menghibahkan diri dalam pernikahan merupakan kekhususan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Hal ini berdasarkan ucapan para sahabat ketika ingin menikahi wanita yang telah
menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengatakan:
Nikahkanlah saya dengannya. Mereka tidak mengatakan: Hibahkanlah dia untuk saya. Juga
berdasarkan ucapan wanita tersebut: Aku telah menghibahkan diriku untukmu. Dan beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberikan komentar atas perkara itu. Hal ini menjadi bukti
tentang bolehnya perkara ini khusus bagi beliau. Juga didukung dengan ayat:
, - -, - ' - = ' - '' =
"Sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang beriman." (Al-Ahzab: 50) [Fathul
Bari, 9/254-255]
Lafadz:
' - , - ' + - = , '
Dan beliau tidak memberi jawaban sesuatupun.
Pada riwayat Mamar, Ats-Tsauri, dan Za`idah menggunakan lafadz:
- - -
Beliau diam.
Adapun pada riwayat Yaqub, Ibnu Abi Hazim, dan Hisyam bin Sad dengan lafadz:
- , - ' +, = -' - -
Beliau melihat bagian atas dan bawahnya.
An-Nawawi rahimahullahu berkata: "fasho'ada bermakna rofa'a artinya menengadahkan
pandangan (melihat bagian atas). Adapun showwabahu bermakna khofadho artinya
menundukkan (melihat bagian bawah). Setelah itu beliau menundukkan kepala, terdiam, dan
tidak memberikan jawaban. Dalam hal ini terdapat dalil bolehnya melihat seorang wanita yang
akan dinikahi, walaupun dengan memerhatikan keadaan dirinya secara saksama.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 77

Lafadz:
' - . = ' - : ' +, - = - - , - ' ,
Lalu berdiri seorang laki-laki dan berkata: Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.
Pada riwayat Fudhail bin Sulaiman terdapat tambahan dari sahabat Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam.
Al-Hafizh rahimahullahu berkata: Saya tidak mengetahui siapa nama sahabat tersebut. Namun
dalam riwayat Mamar dan Ats-Tsauri yang diriwayatkan Al-Imam Ath- Thabarani
rahimahullahu disebutkan: Berdirilah seorang laki-laki, saya kira dia dari kaum Anshar.
Adapun pada riwayat Za`idah: Telah berdiri seorang laki-laki dari kaum Anshar dan ia berkata:
Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.
Pada riwayat Malik rahimahullahu dengan lafadz:
' +, - = =' = ' + - = ' - '
Nikahkanlah saya dengannya jika engkau tidak berkeinginan terhadapnya.
Lafadz:
' : - - - - = .
Beliau berkata: Apakah engkau memiliki sesuatu?.
Dalam riwayat Malik terdapat tambahan: Sesuatu yang dapat kamu (berikan) kepadanya
sebagai mahar? Iapun menjawab: Tidak.
Dalam riwayat Yaqub dan Ibnu Abi Hazim: Ia menjawab: Tidak, demi Allah, wahai
Rasulullah.
Sedangkan pada riwayat Hisyam bin Sad dengan lafadz: Rasulullah berkata: Harus ada
sesuatu (mahar) untuknya.
Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata:
Jika seorang wanita ridha dengan saya, nikahkanlah saya dengannya. Maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya: Apa maharnya? Ia menjawab: Saya tidak punya
sesuatupun. Beliau berkata: Carilah mahar untuknya, sedikit atau banyak. Ia berkata: Demi
Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak punya apa-apa.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 78

Lafadz:
- = - ' - -' = , ' - ' =' - -,
Pergi dan carilah, walaupun sebuah cincin dari besi.
An-Nawawi rahimahullahu berkata: Di sini terdapat dalil bahwa nikah tidak sah kecuali dengan
adanya mahar. Karena hal ini merupakan jalan keluar dari perselisihan, lebih bermanfaat bagi
wanita dari sisi andaikata terjadi perceraian sebelum ia menggaulinya, wajib atasnya separuh dari
mahar yang telah disebutkan. Kalaupun dilakukan akad nikah tanpa mahar, maka sah nikahnya,
sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
= , ' = ' - = ` -, + ' , - - - , - - - ' ' - ' - -' - - '
Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri- istrimu
sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. (Al-
Baqarah: 236)
Pada lafadz ini terdapat dalil tentang bolehnya mahar itu sedikit atau banyak dari sesuatu yang
berupa harta jika terjadi keridhaan pada kedua belah pihak. Karena cincin besi menunjukkan
harta yang paling sedikit. Dan inilah pendapat mayoritas ulama dahulu dan sekarang,
sebagaimana dinyatakan oleh Rabiah, Abu Zinad, Ibnu Abi Zaid, Yahya bin Said, Laits bin
Sad, Ats-Tsauri, Al-Auzai, Muslim bin Khalid Az- Zanji, Ibnu Abi Laila, Dawud, dan ahli fiqih
dari kalangan ahlul hadits serta Ibnu Wahab.
Al-Qadhi rahimahullahu berkata: Inilah mazhab atau pendapat seluruh ulama penduduk Hijaz,
Bashrah, Kufah, Syam dan selain mereka, bahwa boleh bentuk mahar apapun selama dengannya
terjadi keridhaan dari kedua belah pihak, walaupun sedikit. Seperti cambuk/cemeti, sandal,
cincin besi, dan semisalnya.
Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: Paling sedikit seperempat dinar seperti batasan
hukuman bagi orang yang mencuri. Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: Pendapat ini
termasuk pendapat yang Al-Imam Malik rahimahullahu menyendiri padanya.
Abu Hanifah rahimahullahu dan pengikutnya berkata: Sedikitnya sepuluh dirham. Ibnu
Syubrumah rahimahullahu berkata: Paling sedikit lima dirham, seperti batasan dipotongnya
tangan bagi seorang yang mencuri.
Dalam perkara pernikahan, An-Nakhai rahimahullahu tidak menyukai mahar yang kurang dari
42 dirham. Terkadang beliau mengatakan kurang dari sepuluh (dirham).
Semua pendapat ini selain pendapat jumhur, merupakan pendapat yang menyelisihi As-Sunnah.
Pendapat mereka terbantah dengan hadits yang shahih serta jelas ini.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 79

Dalam hadits ini juga terdapat dalil atas pendapat yang menyatakan bolehnya memakai cincin
dari besi walaupun di dalamnya terdapat perselisihan di kalangan ulama salaf, sebagaimana yang
dihikayatkan oleh Al-Qadhi rahimahullahu. Di kalangan Syafiiyah ada dua pendapat, dan yang
paling benar dari keduanya adalah pendapat yang membolehkan, karena hadits yang melarang
dalam hal ini lemah.
Juga disunnahkan untuk menyegerakan dalam menyerahkan mahar kepada calon istri.
Lafadz:
' - ' - ' - = - . : - , - - , - -
Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an? Ia berkata: Ada, saya hafal surat ini dan
itu.
Dalam riwayat Sunan Abu Dawud dan An-Nasa`i dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
disebutkan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: Apa yang kamu hafal dari Al-
Qur`an? Sahabat itu pun menjawab: Surat Al-Baqarah dan yang berikutnya.
Dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan lafadz: Aku nikahkan dia denganmu
dengan engkau ajarkan kepadanya empat atau lima surat dari Kitabullah (sebagai maharnya).
Lafadz:
' - ' - = - ' - - ' + - = - - - -
Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar apa yang ada padamu dari Al-
Qur`an.
Pada riwayat dari jalan Al-Imam Malik rahimahullahu terdapat lafadz:
' - ' - = - ' - - ' + - = -
Sungguh aku nikahkan engkau dengannya dengan (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.
Demikian pula pada riwayat Ats-Tsauri yang diriwayatkan Ibnu Majah rahimahullahu dengan
lafadz:
' - ' - = - ' - _ ' = ' + - = -
Sungguh aku nikahkan engkau dengannya atas (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.
Pada riwayat Ats-Tsauri dan Mamar yang diriwayatkan Ath-Thabarani rahimahullahu dengan

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 80

lafadz:
' - ' - = - ' - - ' + - ' - -
Sungguh aku jadikan engkau memilikinya dengan (mahar) Al-Qur`an yang ada padamu.
Sebagian ulama (Abu Bakr Ar-Razi dari kalangan Hanafiyah dan Ar-Rafii dari kalangan
Syafiiyah) menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa barangsiapa yang berkata: Nikahkanlah
aku dengan fulanah, kemudian dikatakan kepadanya:
- - ' + - =
Telah aku nikahkan engkau dengannya dengan mahar demikian dan demikian. Maka telah
cukup yang demikian itu dan calon suami tidak butuh untuk mengatakan:
- ' -
(Aku terima).
Sebagian yang lain menjadikan dalil bolehnya menikahkan dan sah dengan lafadz selain tazwij
atau inkah berdasarkan lafadz hadits
' + - ' -.
Al-Hafizh rahimahullahu berkata: Meski terdapat sekian lafadz, namun yang nampak bahwa
yang diucapkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah salah satu dari yang ada. Maka
yang benar dalam masalah yang seperti ini adalah memandang kepada yang terkuat. Dan telah
dinukil dari Al-Imam Ad-Daraquthni rahimahullahu, bahwa yang benar adalah riwayat yang
menyebutkan dengan lafadz:
' + - =
karena mereka lebih banyak dan lebih kuat hafalannya.
Ibnul Jauzi rahimahullahu mengkritik bahwa riwayat Abu Ghassan dengan lafadz
' + - = -
dan riwayat yang lainnya dengan lafadz
' + - =

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 81

tidaklah diriwayatkan kecuali dari tiga orang saja. Mereka adalah Mamar, Yaqub, dan Ibnu Abi
Hazim. Beliau berkata: Mamar banyak kesalahan dan dua yang lainnya (Yaqub dan Ibnu Abi
Hazim) bukanlah orang yang kuat hafalannya.
Berkata Al-Hafizh rahimahullahu: Apa yang dituturkan Ibnul Jauzi rahimahullahu berupa
kritikan atas tiga orang rawi tadi terbantah. Lebih-lebih Abdul Aziz bin Abi Hazim, riwayatnya
dikuatkan karena beliau meriwayatkan dari orangtuanya. Seseorang yang meriwayatkan dari
keluarganya, lebih tahu tentang riwayat tersebut dibandingkan orang lain. Kami telah memilih
orang-orang yang meriwayatkan dengan lafadz
_, -
dibandingkan yang meriwayatkan dengan lafadz selain tadi. Lebih-lebih di dalamnya terdapat
riwayat para hafizh seperti Al-Imam Malik rahimahullahu, Sufyan bin Uyainah rahimahullahu,
dan yang semisal mereka, dengan lafadz
' + - = - .
Ibnu Tin rahimahullahu berkata: Ahlul hadits telah sepakat bahwa yang benar dalam hal ini
adalah riwayat yang menggunakan lafadz
' + - = .
Adapun riwayat yang menggunakan lafadz
' + - ' -
adalah meragukan atau bimbang

Faidah Hadits
Di antara faedah lain yang dapat diambil dari hadits di atas:
Bolehnya seorang wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki yang shalih agar ia (laki-
laki itu) menikahinya.
Disunnahkan bagi seorang wanita yang meminta dari seorang laki-laki (untuk menikahinya)
namun tidak memungkinkan bagi laki-laki tersebut untuk memenuhinya, hendaknya seorang
wanita dapat menahan diri (diam) dengan diam yang dapat dipahami oleh seorang yang dimintai
hajat. Janganlah membuat laki-laki tersebut malu dari menolak. Tidak sepantasnya dalam

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 82

meminta disertai dengan terus-menerus mendesak. Termasuk dalam hal ini yaitu meminta dalam
urusan dunia dan agama dari seorang ahli ilmu. (Seperti seseorang bertanya kepada ulama
setelah selesai menuturkan soal kemudian ulama tersebut diam, maka tidak sepantasnya untuk
meminta dengan terus mendesak agar diberikan jawaban, -pen)
Tidak ada batasan dalam mahar tentang sedikit atau banyaknya.
Bolehnya menjadikan hafalan Al-Qur`an sebagai mahar dengan cara mengajarkan kepada
istrinya.
Sekufu dalam pernikahan adalah dalam hal status diri apakah ia budak atau merdeka, dalam
agama, nasab, dan bukan dalam hal harta. Karena dalam hadits di atas, laki-laki tadi tidak
memiliki harta yang ia jadikan sebagai mahar kecuali hafalan Al- Qur`an yang ada padanya.
(lihat Fathul Bari, 8/250-262, Al-Minhaj, 9/215-217)
Sebaik-baik mahar dalam pernikahan ialah yang sedikit bebannya kepada suami berdasarkan
hadits Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu:
- - , ' -' , =
Sebaik-baik nikah ialah yang paling mudah (maharnya). (Shahih Abu Dawud, no. 2117,
Taudhihul Ahkam, 5/311)
Wallahu alam.












e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 83

MENITI KELUARGA SAKINAH DENGAN AKHLAK TERPUJI
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Suratan Takdir
Menjadi keluarga sakinah, adalah hal yang diidamkan setiap pasangan yang hendak membangun
rumah tangga. Sesuatu yang tidak mudah, namun tak mustahil untuk diwujudkan. Apa kuncinya?
Bahtera rumah tangga membutuhkan nakhoda yang mengerti tujuan dan arah berlayar, diikuti
para awak yang memiliki kesabaran yang tangguh dan teruji, yang siap diatur oleh sang nakhoda.
Sebagaimana bahtera yang mengarungi samudra yang luas akan menghadapi arus dan
gelombang yang menggunung, begitu pula bahtera berumah tangga. Akan banyak ujian dan
cobaan di dalamnya. Banyak kerikil-kerikil tajam dan duri-duri yang menusuk peraduan.
Dahsyatnya ujian tersebut menyebabkan banyak bahtera rumah tangga yang kandas dan tidak
bisa berlabuh lagi, bahkan hancur berkeping-keping. Sang istri ditelantarkan dengan tidak
dididik, bahkan tidak diberikan nafkah. Sehingga muncul awak-awak bahtera yang tidak taat
kepada nakhoda. Awak yang tidak mengerti tugas dan kewajibannya, berjalan sendiri dan
mencari kesenangan masing-masing. Inilah pertanda kecelakaan dan kehancuran. Sang anak
dibiarkan seakan-akan tidak memiliki ayah, sebagai seorang pemandu dan pembela yang akan
mengarahkan dan melindungi. Seakan-akan tidak memiliki ibu, yang akan memberikan luapan
kasih sayang dan perhatian yang dalam. Masing-masing berjalan pada keinginan dan
kehendaknya, tidak merasa adanya keterikatan dengan yang lain. Sang nakhoda berjalan di atas
dunianya, sang istri dan sang anak di atas dunia yang lain. Saling tuduh dan saling vonis serta
saling mencurigai akan terus berkecamuk, berujung dengan perpisahan. Akankah gambaran
keluarga tersebut mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan? Bahkan itulah
pertanda malapetaka yang besar dan dahsyat.
Memang problem dalam berumah tangga adalah sebuah suratan taqdir yang mesti ada dan
terjadi. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta'ala telah menurunkan syariat-Nya untuk
membimbing ke jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Jalan yang akan mengakhiri problem
tersebut. Sebuah suratan yang tidak akan berubah dan tidak akan dipengaruhi oleh keadaan
apapun. Mungkin kita akan menyangka, suratan taqdir tersebut tidak akan menimpa orang-orang
yang taat beribadah dan orang-orang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Tentu tidak
demikian keadaannya. Nabi Nuh 'alaihissalam berseberangan dengan istri dan anaknya. Nabi
Luth 'alaihissalam dengan istrinya yang jelas-jelas mendukung perbuatan keji dan kotor: laki-laki
mendatangi laki-laki. Hal ini telah diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam
firman-Nya:
- = - = - ' - -' , ' - , - - - , - ' ' ` ` - - - ' - ' - = - , -
, ' = -' _ - ' -' ` = ., ' - , - - - ' - + - = ' , - , ' ' - ' - -' = , = '' -

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 84

Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.
Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba
Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu
tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya):
Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam). (At-Tahrim:
10)
Ujian dalam berumah tangga tentu akan lebih besar dibanding ujian yang menimpa individu. Hal
ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya ketika menjelaskan tujuan
ilmu sihir dipelajari dan diajarkan:
= - ' , - - , - , ' - '- + - - , - ' - ,
Maka mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dengan sihir itu, mereka dapat mencerai-
beraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. (Al-Baqarah: 102)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
- - + - = = ' - - - - ' - ' -' , - - - , ` ' - ' _ ' = - = _ - , , ' -
, - , - = = , : - - - ' . , - , : ' - , - - - - ' - . ' : - = = , `
, - , : - - , - - , - - _ - = - - ' - . ' : , - , - - , -- , : - - - . '
- = ` : ' - : - - ' ,
Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengutus bala
tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya.
Datang kepadanya seorang tentaranya lalu berkata: Aku telah berbuat demikian-demikian.
Iblis berkata: Engkau belum berbuat sesuatu. Dan kemudian salah seorang dari mereka
datang lalu berkata: Aku tidak meninggalkan orang tersebut bersama istrinya melainkan aku
pecah belah keduanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: Lalu iblis mendekatkan
prajurit itu kepadanya dan berkata: Sebaik-baik pasukan adalah kamu. Al-Amasy berkata:
Aku kira, (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata: Lalu iblis memeluknya. (HR. Muslim
no. 5302)
Bila iblis telah berhasil menghancurkannya, kemana sang anak mencari kasih sayang? Hidup
akan terkatung-katung. Yang satu ingin mengayominya, yang lain tidak merestuinya. Alangkah
malang nasibmu, engkau adalah bagian dari korban Iblis dan bala tentaranya.
Kalau demikian keras rencana busuk Iblis terhadap keluarga orang-orang yang beriman, kita
semestinya berusaha mencari jalan keluar dari jeratan dan jaring yang dipasang oleh Iblis, yaitu
dengan belajar ilmu agama.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 85

Bahkan keluarga terbaik, mulia dan dibangun oleh seorang terbaik, imam para nabi dan rasul,
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama Ummahatul Mukminin, juga tak lepas dari
duri-duri dalam berumah tangga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah marah kepada
istri beliau Aisyah dan Hafshah, sampai beliau memberikan takhyir (pilihan) kepada keduanya
dan kepada istri-istri beliau yang lain: apakah tetap bersama beliau ataukah memilih dunia.
Kemudian seluruh istri beliau lebih memilih bersama beliau. (lihat secara detail kisahnya dalam
riwayat Al-Imam Al- Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)
Cerita menantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu
bersama putri beliau Fathimah radhiyallahu 'anha dan kita mengetahui kedudukan beliau berdua
di dalam agama ini juga tidak terlepas dari kerikil-kerikil berumah tangga.
Telah diceritakan oleh Sahl bin Sad As-Saidi radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Nama yang
paling disukai oleh Ali adalah Abu Turab. Dia senang sekali dengan nama yang diberikan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Suatu hari, Ali marah kepada Fathimah, lalu dia
keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di dalamnya. Bertepatan dengan kejadian
tersebut Rasulullah datang ke rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan Ali
di rumah. Mana anak pamanmu itu?, tanya beliau. Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia,
dan dia marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku, jawab Fathimah.
Rasulullah berkata kepada seseorang: Lihatlah di mana Ali. Orang yang disuruh tersebut
datang dan mengabarkan: Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur. Rasulullah
mendatanginya, yang ketika itu Ali sedang berbaring dan beliau dapatkan rida`-nya (kain
pakaian bagian atas) telah jatuh dari punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir dari
punggungnya seraya berkata: Duduklah wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab. (HR.
Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Teladan dalam
Berumah Tangga
Meniti jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan berumah tangga adalah
sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga.
Hal ini masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala di dalam Al-Qur`an:
= , - - , - ' ' - - ' - =` , , ' - , = , ' - ' - -
, `
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah." (Al-Ahzab: 21)
Allah Subhanahu wa ta'ala telah bersumpah tentang keagungan akhlak Rasulullah Shallallahu

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 86

'alaihi wa sallam di dalam firman-Nya:
, = = ' = _ ' ' = -
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam: 4)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
' ' = ` ' - - - ' ' - ` - ' - - . - , - ' ' = ` _ '' - - - ' ' - ` - ' - -
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia. Dan di dalam
sebuah riwayat-: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebagusan akhlak. (HR.
Al-Imam Ahmad di dalam Musnad (2/318) dan Al-Imam Al- Bukhari di dalam Al-Adab no.
273 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
, - ' ' - ' = ' -' - = -
Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya. (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan
Muslim no. 659 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata kepada saudaranya tatkala datang berita diutusnya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: Pergilah engkau ke lembah itu dan dengar apa
ucapannya. Kemudian dia kembali lalu menyampaikan:
' ' = ` ' - - -' , - ,
Aku melihat dia memerintahkan kepada budi pekerti yang baik. (HR. Al-Bukhari no. 3861 dan
Muslim no. 2474)
Seseorang tidak akan menemukan kekecewaan bila dia menjadikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam sebagai suri teladan dalam semua tatanaan kehidupannya. Baik ketika dia seorang diri,
berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dia akan berbahagia di saat banyak
orang dirundung kesedihan. Dia akan tentram di saat orang-orang dirundung kegelisahan. Dia
akan terbimbing di saat semua orang tersesat jalannya. Dia akan tabah dan sabar di saat orang
lain gundah gulana.
- - + - -, , = -
Dan jika menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk. (An-Nur: 54)
Hisyam bin Amir berkata kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: Wahai Ummul Mukminin,
beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah? Beliau menjawab: Tidakkah kamu membaca

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 87

Al-Qur`an? Hisyam bin Amir berkata: Iya. Aisyah berkata:
' - ' - - - ' = '
Akhlak Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur`an. (HR. Muslim no. 746)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Keluarga Beliau
Sungguh amat sangat menarik bila dikaji kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersama istri-istri beliau. Sebuah kehidupan indah, yang mestinya ditulis dengan tinta emas, dan
telah diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala hingga hari kiamat. Sehingga setiap umat beliau
yang kembali ke jalan As-Sunnah akan mengetahui hal itu. Indahnya hidup bersama Sunnah
Rasulullah, itulah ucapan yang akan keluar dari orang yang telah mencium aroma As-Sunnah
walaupun sedikit. Mari kita menelaah beberapa riwayat tentang indahnya hidup Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama keluarga beliau, yang semuanya itu merupakan buah dari
akhlak yang mulia dan agung.
Telah disebutkan di dalam kitab-kitab As-Sunnah seperti kitab Shahih Al-Imam Al- Bukhari,
Shahih Al-Imam Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa`i dan
selain mereka. Lihat nukilan beberapa riwayat dalam kitab Ash-Shahihul Musnad Min
Syama`il Muhammadiyyah. (1/384-420, karya Ummu Abdullah Al-Wadiiyyah)
1. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kelembutan beliau bersama istri-istrinya.
Beliau tidur satu selimut, beliau mandi berduaan dan mencium istrinya sekalipun dalam keadaan
berpuasa, serta bercumbu rayu sekalipun dalam keadaan haid, sebagaimana hadits dari Ummu
Salamah radhiyallahu 'anha dalam riwayat Al-Imam Al- Bukhari dan Muslim.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 1807) dari Hafshah radhiyallahu 'anha dan datang pula
dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 1928) dan
Muslim (no. 1851):
-' - , . - - , - , - '
Rasulullah mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa.
Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 322 dan Muslim 444)
bercerita kepada Zainab putrinya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menciumnya
dalam keadaan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa, dan beliau radhiyallahu 'anha
pernah mandi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari sebuah bejana dalam
keadaan junub.
2. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan sesuatu yang bukan merupakan maksiat kepada

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 88

Allah Subhanahu wa ta'ala.
Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha: Aku melihat Rasulullah menutupi aku
dengan selendangnya, dan aku melihat kepada anak-anak Habasyah yang sedang bermain di
masjid hingga akulah yang bosan. (HR. Al-Bukhari)
3. Berbincang-bincang bila memiliki kesempatan.
Sebagaimana dalam riwayat dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha: Rasulullah shalat dalam
keadaan duduk dan membaca dalam keadaan duduk. Dan bila masih tersisa dalam bacaannya
sekitar 30 atau 40 ayat, beliau berdiri dan membacanya dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau
ruku dan sujud. Dan beliau lakukan hal itu pada rakaat kedua bila beliau menunaikan shalatnya.
Jika aku bangun, beliau berbincang- bincang denganku dan bila aku tidur beliau juga tidur.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berlomba lari dengan istrinya.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
- '' - - '- ,'= - _'- - -' _ - - -' ' + - : ' = _ ' = - - - - - - -' -
' - - - - - - -' - = '' - ' - = ' - ' : - - -' = ' - - - -
Tatkala dia bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan, dia berkata:
Aku berlomba lari dengan beliau dan aku memenangkannya. Tatkala aku gemuk, aku berlomba
(lagi) dengan beliau dan beliau memenangkannya. Beliau berkata: Kemenangan ini sebagai
balasan atas kemenanganmu yang lalu. (HR. Abu Dawud, 7/423 dan Ahmad, 6/39)
5. Khidmat (pelayanan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam rumah tangga
Diriwayatkan dari Aswad, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha: Apa
yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumahnya? Dia berkata:
Beliau selalu membantu keluarganya, dan bila datang panggilan shalat beliau keluar menuju
shalat. (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363 dan Ahmad, 6/49)
6. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersenda gurau dengan istrinya, dengan menyebutkan
satu sifat yang ada pada diri sang istri, sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR.
Al-Bukhari no. 5228 dan Muslim no. 4469)
7. Rasulullah menyenangkan istrinya dengan cara minum dari bekas mulut istrinya dan makan
dari bekas tempat makan istrinya, sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha. (HR.
Muslim no. 300)
8. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam cemburu melebihi kecemburuan para sahabat beliau.

e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 89

- - - ' ' - = : _ - - - , = - , -'' - - - - ' - - _ - ` = - , , ' . = ' _ ' -
' - '- ,= - _'- - -' : - - , = - - - , = ' - ' ' - - , = - , - = -
Sad bin Ubadah berkata: Jika aku menjumpai seseorang bersama istriku niscaya aku akan
memenggalnya dengan pedang pada sisi yang tajam. Sampailah ucapan itu kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: Apakah kalian heran dengan kecemburuan
Sad? Sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku. (HR. Al-Bukhari
no. 6846 dan Muslim no. 2754)
Beberapa contoh yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas
adalah sebagai aplikasi dari wujud taqarrub kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, bukan semata-
mata kebahagiaan dunia. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu berkata: Apabila seseorang
mempergauli istrinya dengan cara yang baik, janganlah semata-mata hanya untuk mendapatkan
kebahagiaan dunia semata. Bahkan hendaknya dia berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa ta'ala dengan melaksanakan apa yang diwajibkan atasnya. Masalah ini terlalaikan
dari banyak orang. Dia berniat hanya melanggengkan pergaulannya semata dan dia tidak berniat
untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka hendaklah setiap orang
mengetahui bahwa dia sedang melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala: Dan
pergaulilah mereka dengan cara yang baik. (Asy-Syarhul Mumti, 5/357)
Beberapa Akhlak Menuju Keluarga Sakinah
Setiap orang muslim meyakini tentang kedudukan akhlak dalam kehidupan individu,
berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Di sini, ada beberapa akhlak dan adab yang harus ada
pada suami-istri, yakni berupa hak di antara keduanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
ta'ala:
= + , ' = ' = ' ' - '' - + , ' = - ' . ` - + '
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
maruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. (Al-
Baqarah: 228)
1. Keduanya memiliki sifat amanah.
Jangan sekali-kali salah satu dari keduanya mengkhianati yang lain, karena mereka berdua tak
ubahnya dua orang yang sedang berserikat, sehingga dibutuhkan amanah, menerima nasihat,
jujur dan ikhlas di antara keduanya dalam segala kondisi.


e-book compiled by Abu Hanifah As Salafy @ irsyadulbariyah.blogspot.com | 90

2. Memiliki kasih sayang di antara keduanya.
Sang istri menyayangi suami dan begitu juga sebaliknya, sang suami menyayangi istrinya. Ini
merupakan perwujudan firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
- = , - - , - . = ' + , ' ,- - - ' ' = - - - - ' ' = -' ,' -
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. (Ar-Rum: 21)
3. Menumbuhkan rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jangan sekali-kali terkotori
dengan keraguan terhadap kejujuran, amanah, dan keikhlasannya.
4. Lemah lembut, wajah yang selalu ceria, ucapan yang baik dan penuh penghargaan. Hal ini
masuk dalam keumuman firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
- '' - -' =
Bergaullah dengan mereka secara patut. (An-Nisa`: 19)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
, = ' - -'' - , -, - -
Inginkan dan lakukan kebaikan untuk kaum wanita. (Lihat Minhajul Muslim, 1/102).
Wallahu alam.