Anda di halaman 1dari 11

Menurut data terakhir Badan Kesehatan Dunia atau WHO, maka angka kematian karena kanker payudara di Indonesia

mencapai 20,052 atau sebanyak 1,41% dari seluruh kematian. Atau angka kematian disesuaikan dengan usia adalah 20.25 per 100.000 penduduk. Indonesia menempati rangking 45 dari urutan negara didunia dalam hal kematian karena kanker payudara.

Faktor Resiko

Usia dan jenis kelamin Semakin meningkatnya usia, maka semakin besar kemungkinan terjadi kanker payudara. Umumnya kanker payudara dengan stadium lebih lanjut ditemukan pada wanita berusia diatas 50 tahun. Wanita adalah 100 kali lebih rentan terkena kanker payudara dibandingkan dengan kaum pria. Kaum pria juga bisa menderita kanker payudara, hanya dengan presentase yang kecil.

Latar Belakang Kanker payudara merupakan gangguan payudara yang paling ditakuti perempuan. Salah satu penyebabnya karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium lanjut. Padahal, jika dideteksi secara dini, penyakit ini sebetulnya bisa diobati sampai sembuh. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui. Penyebab yang ada hanya merupakan dugaan-dugaan, biasa disebut sebagai faktor-faktor resiko terkena kanker payudara (Boyles, 2008). Pada memperkirakan tahun angka 2010 WHO (World Health Organization) payudara

kejadian

yang

terkena

kanker

terdapat 11 juta dan tahun 2030 akan bertambah menjadi 27 juta kematian akibat kanker (Yohannes, 2008). Menurut data Pathology Based Cancer Registry yang dilakukan oleh ikatan patologi anatomi Indonesia yang bekerja sama dengan yayasan kanker Indonesia, kanker payudara di Indonesia menduduki

peringkat kedua dari semua jenis kanker yang sering diderita. Karenanya, perkembangannya harus dicermati. Sementara itu, di Amerika Serikat beberapa Negara maju lainnya, kanker payudara menduduki peringkat pertama (Luwia, 2009). Laporan terbaru dari International Agency for Research on Cancer (IARC) mengeksplorasi beban kanker secara global, yang diperkirakan akan menjadi penyebab kematian utama pada tahun 2010.Laporan ini memperkirakan bahwa pada tahun 2030, 27 juta kasus kanker baru dan 17 juta kematian akibat kanker akan terjadi tiap tahunnya diseluruh dunia. Berdasarkan angka diagnosis kanker kemungkinan akan meningkat 1% tiap tahunnya, begitu pula kematian akibat penyakit ini. China, Rusia, dan India diperkirakan akan memiiki peningkatan kanker dan kematian akibat kanker (Boyles, 2008). Data dari yayasan kanker Indonesia pada lima tahun terakhir menyebutkan kejadian kanker payudara menempati urutan pertama 32%, dari total jumlah kasus kanker. Total penderita kanker payudara 40% berobat pada stadium awal dan 30% dari total jumlah penderita kanker terdeteksi stadium lanjut lokal, dan 30% dengan metastasis

(Haryono 2007). Peningkatan kanker payudara yang paling signifikan seperti yang didapat dari Data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2009 menujukkan, kejadian kanker payudara mencapai 21,69%, lebih tinggi dari kanker leher rahim. Di rumah sakit kanker Darmis palembang, jumlah kasus baru juga terus meningkat. tahun 2008 hanya ada 657 kasus tahun 2009 menjadi

879 kasus. Sayangnya 60-70% pasien datang pada stadium lanjut, III atau IV, sehingga hampir setengah dari angka kejadian kanker payudara berakhir dengan kematian (Farhan, 2009). Survei yang dilakukan yayasan kesehatan payudara Jakarta tahun 2009 menunjukkan 80% masyarakat tidak mengerti pentingnya pemeriksaan dini payudara. Hanya 11,5% yang paham, ini masih ditambah dengan ketakutan payudara diangkat sampai keharusan membayar biaya berobat yang mahal sehingga banyak pasien menunda kedatangannya ke tempat pelayanan kesehatan dengan memilih mencari pengobatan alternatif (Yohanes, 2008). Angka kejadian kanker payudara di Sulawesi Selatan menempati peringkat kedua setelah kanker rahim. Berdasarkan data dari rekam medik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar jumlah pasien yang dirawat sepanjang tahun 2008 ditemukan 58 kasus kanker payudara, pada tahun 2009 ditemukan 72 kasus kanker payudara, dan pada terjadi peningkatan menjadi 132 kasus kanker payudara. Meningkatnya kejadian kanker payudara disebabkan kurangnya keinginan melakukan deteksi secara dini. Upaya untuk mengajak masyarakat melakukan deteksi dini masih banyak berasal dari kelompokkelompok yang peduli, umumnya lembaga swadaya masyarakat, lembaga penelitian atau perorangan. Mereka datang kesuatu tempat dan kemudian memberikan penyuluhan yang diikut dengan tawaran program deteksi dini (Boyles, 2008). tahun 2010

Angka kejadian kanker payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia. Kanker payudara sebelum 20 tahun merupakan perkucilan dan jarang sebelum umur 30 tahun. Tetapi sesudah itu kejadiannya meningkat secara berangsur-angsur, dan terbanyak pada usia 35-50 tahun (Moore, 2008). Wanita yang mengalami menstruasi pertama (menarche) yang usianya <12 tahun resikonya 1,7 hingga 3,4 kali lebih tinggi dari pada wanita yang menarche yang datang pada usia normal atau usia >12 tahun. sedangkan ada 28 pria yang memiliki resiko terhadap kanker payudara. Kanker payudara pada pria tidak biasa dan tidak diperhatikan oleh media, populasi umum dan komunitas pelayanan kesehatan. Perawatan dalam segala tempat perlu untuk meningkatkan kesadaran pada kanker payudara pria diantara pria sebagaimana perempuan, terutama pria yang berada pada risiko tinggi penyakit. Mesikpun pria yang menderita kanker payudara jumlahnya kurang dari 1% dari kasus kanker payudara namun pria yang berusia antara 60 hingga 70 tahun sangat rentan terhadap penyakit. (Hawari, 2008). Pada umumnya wanita yang belum menikah mengalami aktivitas hormon reproduksi yang tinggi, salah satunya adalah hormon estrogen. Kadar hormone yang tinggi dapat beresiko terjadinya kanker. Pada wanita yang belum pernah mempunyai anak resikonya 2-4 kali lebih tinggi dari pada wanita yang mempunyai anak, hal itu disebabkan karena wanita yang belum mempunyai anak hormonnya hanya itu-itu saja, yaitu

estrogen. Sedangkan wanita yang sudah memiliki anak, bermacammacam hormon akan bermunculan di tubuhnya dan bertindak sebagai buffer (penyeimbang) dalam tubuh (Samuel, 2009). Beberapa kanker payudara berhubungan dengan suatu mutasi genetik yang khas. Wanita dengan mutasi gen ini memiliki peluang sebesar 80-90% untuk menderita kanker payudara. Pada penderita kanker payudara dampak yang bisa muncul yaitu kehilangan payudara karena operasi pengangkatan payudara. Selain itu, sel kanker ini juga bisa menyebar ke organ yang lainnya (Mustika, 2010). Adapun alasan peneliti untuk melakukan penelitian di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit rujukan utama sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan yang merupakan rumah sakit tipe A, dimana rumah sakit tersebut memiliki sarana dan prasarana yang memadai serta angka kejadian atau prevelensi kanker payudara dirumah sakit tersebut cukup tinggi. Hal inilah yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian tentang gambaran kejadian kanker payudara di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar karena setiap tahunnya mengalami peningkatan kanker payudara.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan urain latar belakang masalah, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran kejadian kanker payudara berdasarkan umur di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2011? 2. Bagaimana gambaran kejadian Kanker Payudara berdasarkan paritas di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2011? 3. Bagaimana gambaran kejadian Kanker Payudara berdasarkan jenis kelamin di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2011? 4. Bagaimana gambaran kejadian kanker payudara berdasarkan status perkawinan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar 2011? 5. Bagaimana gambaran kejadian Kanker Payudara berdasarkan menarche di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2011? Tahun

Umur Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita paling sering terserang kanker payudara adalah usia di atas 40 tahun. Wanita berumur di bawah 40 tahun juga dapat terserang kanker payudara, namun risikonya lebih rendah dibandingkan wanita di atas 40 tahun. Penelitian Azamris tahun 2006 di RS M. Djamil Padang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko kelompok usia 50 tahun terkena kanker payudara 1,35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita usia < 50 tahun (OR=1,35).

Epidemiologi Kanker Payudara Bag.II Determinan Kanker Payudara


Sampai saat ini belum ada penyebab spesifik timbulnya kanker payudara yang diketahui, diperkirakan multifaktorial. Namun timbulnya kanker payudara dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Faktor risiko ini penting untuk mengembangkan program-program pencegahan. Faktor risiko timbulnya kanker payudara terdiri dari faktor risiko yang tidak dapat diubah (unchangeable) dan dapat diubah (changeable) yaitu: a. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah (Unchangeable) 1) Umur Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita paling sering terserang kanker payudara adalah usia di atas 40 tahun. Wanita berumur di bawah 40 tahun juga dapat terserang kanker payudara, namun risikonya lebih rendah dibandingkan wanita di atas 40 tahun. Penelitian Azamris tahun 2006 di RS M. Djamil Padang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko kelompok usia 50 tahun terkena kanker payudara 1,35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita usia < 50 tahun (OR=1,35). 2) Menarche Usia Dini Risiko terjadinya kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi pertama sebelum umur 12 tahun. Umur menstruasi yang lebih awal berhubungan dengan lamanya paparan hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang berpengaruh terhadap proses proliferasi jaringan termasuk jaringan payudara. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menarche pada umur 12 tahun terkena kanker payudara 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita yang menarche pada umur >12 tahun (OR=3,6). 3) Menopause Usia Lanjut Menopause setelah usia 55 tahun meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis. Penelitian Azamris tahun 2006 di RS M. Djamil Padang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko wanita yang menopause setelah usia 55 tahun terkena kanker payudara 1,86 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita yang menopause sebelum usia 55 tahun (OR=1,86).

4) Riwayat Keluarga Terdapat peningkatan risiko menderita kanker payudara pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1 (Breast Cancer 1) dan BRCA 2 (Breast Cancer 2), yaitu suatu gen kerentanan terhadap kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. 10% kanker payudara bersifat familial. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki anggota keluarga penderita kanker payudara terkena kanker payudara 3,94 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anggota keluarga penderita kanker payudara (OR=3,94). 5) Riwayat Penyakit Payudara Jinak Wanita yang menderita kelainan ploriferatif pada payudara memiliki peningkatan risiko untuk mengalami kanker payudara. Menurut penelitian Brinton (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, wanita yang mempunyai tumor payudara (adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis) mempunyai risiko 2,0 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker payudara (RR=2,0). Wanita dengan hiperplasia tipikal mempunyai risiko 4,0 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara (RR=4,0). Wanita dengan hiperplasia atipikal mempunyai risiko 5,0 kali lebih besar untuk terkena kanker payudara (RR=5,0) Faktor Risiko yang Dapat Diubah / Dicegah (Changeable) 1) Riwayat Kehamilan Usia maternal lanjut saat melahirkan anak pertama meningkatkan risiko mengalami kanker payudara. Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, wanita yang kehamilan pertama setelah 35 tahun mempunyai risiko 3,6 kali lebih besar dibandingkan wanita yang kehamilan pertama sebelum 35 tahun untuk terkena kanker payudara (RR=3,6). Wanita yang nullipara atau belum pernah melahirkan mempunyai risiko 4,0 kali lebih besar dibandingkan wanita yang multipara atau sudah lebih dari sekali melahirkan untuk terkena kanker payudara (RR=4,0). 2) Obesitas dan Konsumsi Lemak Tinggi Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Penelitian Norsaadah tahun 2005 di Malaysia dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 25 untuk terkena kanker payudara 2,1 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25 (OR=2,1). Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, lakilaki yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 25 mempunyai risiko 1,79 kali

lebih besar dibandingkan pria yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25 untuk terkena kanker payudara (RR=1,79). 3) Penggunaan Hormon dan Kontrasepsi Oral Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral berisiko tinggi untuk mengalami kanker payudara. Kandungan estrogen dan progesteron pada kontrasepsi oral akan memberikan efek proliferasi berlebih pada kelenjar payudara. Wanita yang menggunakan kontrasepsi oral untuk waktu yang lama mempunyai risiko untuk mengalami kanker payudara sebelum menopause. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menggunakan kontrasepsi oral > 10 tahun untuk terkena kanker payudara 3,10 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang menggunakan kontrasepsi oral 10 tahun (OR=3,10). 4) Konsumsi Rokok Wanita yang merokok meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara daripada wanita yang tidak merokok. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang merokok untuk terkena kanker payudara 2,36 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok (OR=2,36). Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, lakilaki yang merokok mempunyai risiko 1,26 kali lebih besar dibandingkan laki-laki yang tidak merokok untuk terkena kanker payudara (RR=1,26). 5) Riwayat Keterpaparan Radiasi Radiasi diduga meningkatkan risiko kejadian kanker payudara. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun meningkatkan risiko kanker payudara. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang terpapar radiasi lebih dari 1 jam sehari untuk terkena kanker payudara 3,12 kali lebih tinggi (OR=3,12). Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

Pada wanita menopause banyak ditemukan kejadian kanker payudara. Faktor usia sebagai faktor risiko kejadian kanker payudara diperkuat dengan data bahwa 78% kanker payudara terjadi pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dan hanya 6% pada pasien yang kurang

dari 40 tahun. Rata-rata usia pada saat ditemukannya kanker adalah 64 tahun, tetapi wanita yang menopause setelah usia 55 tahun mempunyai dua kali risiko timbulnya kanker payudara dibandingkan wanita yang menopausenya mulai sebelum usia 45 tahun (Sabiston, 1995). Umur responden Banyaknya pasien yang berusia 40 tahun ke atas dikarenakan pada usia ini risiko terkena kanker payudara semakin besar. Kanker payudara mulai berkembang pesat saat umur 40-49 tahun sebelum wanita memasuki usia 50 tahun keatas, sedangkan risiko kanker payudara sendiri berkembang sampai usia 50 tahun dengan perbandingan peluang 1 diantara 50 wanita (Lincoln dan Wilensky,2007) Berdasarkan program Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) yang dilakukan National Cancer Institutte (NCI) insidensi kanker payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia. Diperkirakan 1 dari 8 wanita mengalami perkembangan penyakit kanker payudara sepanjang hidupnya. Kemungkinan terbesar perkembangan penyakit payudara mulai terjadi pada wanita dengan kisaran umur 40-50 tahun (Harianto, Rina, dan Hery, 2005). Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Semakin lama seseorang hidup, semakin tinggi risiko kanker payudara karena tubuh berkurang kesempurnaannya dan mudah menjadi abnormal (Winarto dkk, 2007).Kanker payudara mulai berkembang pesat saat umur 40-49 tahun sebelum wanita memasuki usia 50 tahun ke atas. Risiko kanker payudara berkembang sampai usia 50 tahun dengan perbandingan peluang 1 diantara 50 wanita. Kemungkinan terkena kanker payudara meningkat seiring dengan umur, dan lebih dari 75% kanker payudara terdiagnosa pada wanita berumur 40 tahun keatas. Kanker payudara jarang terjadi pada wanita berusia di bawah 30 tahun

(Lincoln dan Wilensky, 2007).