Anda di halaman 1dari 4

Penegakan Diagnosis Anamnesis Saat mengevaluasi pasien dengan nafas yang pendek, satu hal yang harus ditentukan

pertama kali adalah berapa lama hal tersebut telah termanifestasi. Pasien yang sebelumnya dalam keadaan baik dan kemudian mengalami sesak nafas akut (selama beberapa jam sampai hari) dapat saja memiliki jenis penyakit akut yang mengenai:

Saluran pernafasan (serangan akut asma), Parenkim paru (acute pulmonary edema atau proses infeksi akut seperti bakterial pneumonia),

Rongga pleura (pneumotoraks) Vaskularisasi paru (emboli paru)

Presentasi dari subakut (selama beberapa hari hingga minggu) dapat memberi kesan yakni:

Eksaserbasi penyakit saluran nafas yang ada sebelumnya (asma atau chronic bronchitis)

Infeksi parenkimal yang berjalan lambat (Pneumocystis carinii, pneumonia pada pasien AIDS, mycobacterial or fungal pneumonia) Proses inflamasi non-infeksi yang berjalan relatif lambat (Wegeners granulomatosis, eosinophilic pneumonia, bronchiolitis obliterans with organizing pneumonia, dll)

Penyakit neuro muskular (Guillain-Barre syndrome, myasthenia gravis), Penyakit pleura (efusi pleura dengan berbagai penyebab atau penyakit jantung kronik)

Sebuah presentasi kronik (selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun) sering diindikasikan sebagai penyakit paru obstruksi kronik, penyakit paru interstisial kronik, atau penyakit jantung kronik.

Pasien seharusnya ditanya penggambaran dari ketidaknyamanannya seperti efek dari posisi mereka, infeksi, dan stimulus lingkungan pada dyspnea, contohnya adalah:

Orthopnea, yakni Dispnea yang terjadi pada posisi berbaring. Pada umumnya merupakan indikator dari CHF, perusakan mekanikal dari diafragma diasosiasikan dengan obesitas, atau asma dipicu reflux esofageal dan paralisis diafragma bilateral.

Platipneu, yaitu Dispnea yang terjadi pada posisi tegak dan akan membaik jika penderita dalam posisi berbaring. Keadaan ini terjadi pada abnormalitas vaskularisasi paru seperti pada COPD berat.

Trepopneu, yakni Jika dengan posisi bertumpu pada sebuah sisi, penderita dispnea dapat bernafas lebih enak. Hal ini dapat ditemui pada penyakit jantung.

Exertional Dispnea, yakni dispnea yang disebabkan karena melakukan aktivitas. Intensitas aktivitas dapat dijadikan ukuran beratnya gangguan nafas.

Nocturnal dyspnea, yakni sesak nafas pada malam hari, biasnaya pasien akan terbangun tengah malam. Hal ini mengindikasikan CHF atau asma.

Intermittent episodes of dyspnea, yakni menunjukkan episode dari iskemi miokard, bronkospasme, atau embolisme pulmonary. Keluhan sesak nafas juga dapat disebabkan oleh keadaan psikologis. Jika

seseorang mengeluh sesak nafas tetapi dalam exercise tidak timbul maka dapat dipastikan keluhan sesak nafasnya disebabkan oleh keadaan psikologis. Jangan lupa untuk menanyakan kebiasaan merokok, minuman keras, penggunaan jarum suntik pada pasien, riwayat penyakit dahulu, dan apakah pasien dalam waktu-waktu dekat ini pergi daerah yang terdapat penyakit endemik paru.

Gejala yang menyertai:

Nyeri dada disertai sesak mungkin karena emboli paru, infark miokard atau penyakit pleura

Batuk sputum purulen dengan sesak disebabkan infeksi atau radang kronikseperti bronkitis atau radang mukosa saluran napas

Demam menggigil, tanda-tanda infeksi Hemoptosis, ruptur kapiler misal karena emboli paru, tumor, atau radang saluran napas

Terpajan Keadaan lingkungan atau zat tertentu:

Alergen; seperti serbuk, jamur, atau zat kimia yang mengakibatkan sesak.

Debu, asap, bahan kimia sehingga mengiritasi jalan napas kemudian terjadi bronkospasme.

Obat-obatan/injeksi mengakibatkan sesak

dapat

mengakibatkan

reaksi

hipersensitivitas

yang

Pemeriksaan Fisik Tekanan darah, temperatur, frekuensi nadi, dan frekuensi nafas menentukan tingkat keparahan penyakit. Seorang pasien sesak dengan tanda-tanda vital normal biasanya menderita penyakit kronik atau ringan, sementara pasien yang memperlihatkan perubahan nyata pada tanda-tanda vital biasanya mengalami gangguan akut yang memerlukan evaluasi dan pengobatan segera.

1. Temperatur: <35C atau >41C atau sistolik dibawah 90 mmHg menandakan hal gawat 2. Pulsus Paradoksus: pada fase inspirasi terjadi peningkatan tekanan arteri >10mmHg yang menyebabkan kemungkinan udara terperangkap (air trapping). Contoh pada asma, PPOK eksaserbasi akut. Ketika obstruksi saluran nafas menurun, variasi itu meningkat; dan ketika obstruksi membaik, pulsus paradoksus menurun. 3. Frekuensi Napas: < 5kali/menit menunjukan hipoventilasi; kemungkinan respiratory arrest. Jika frekuensi napas 35 kali/menit, diduga ada gangguan parah. Frekuensi yang lebih cepat dapat terlihat beberapa jam sebelum otot-otot nafas menjaid lelah dan terjadi gagal nafas. Pemeriksaan Umum

Tampilan Umum. Pasien mengantuk dengan napas lambat dan pendek. Bisa disebabkan obat-obatan tertentu, retensi CO2, gangguan SSP(stroke, edema serebral,dan lainnya).

Pasien gelisah dengan napas cepat dan dalam disebabkan hipoksemia berat karena penyakit paru/saluran napas, jantung, serangan cemas (anxiety attack), histerical attack.

Kontraksi otot bantu napas. Otot bantu napas di leher dan otot-otot interkostal akan berkontraksi pada keadaan obstruksi moderat hingga parah. Asimetri gerakan dinding dada/deviasi trakea juga dapat dideteksi. Pada Tension Pneumotorax-suatu

keadaan gawat darurat-sisi yang terkena akan membesar pada tiap inspirasi dan trake terdorong ke sisi sebelahnya.

Tekanan vena jugularis. peninggiannya menandakan adanya peningkatan tekanan atrium kanan.

Palpasi Palpasi dimulai dengan memeriksa telapak tangan dan jari, leher, dada, dan abdomen. Jari tabuh bisa didapatkan pada kanker paru, abses paru, emfisema, serta bronkoelaktasis. Palpasi dada akan memberikan informasi tentang penonjolan di dinding dada, nyeri tekan, gerakan pernafasan yang simetris atau asimetris, derajat ekspansi dada, dan untuk menentuka tactile vocal fremitus. Pemeriksaan tactile vocal fremitus berdasarkan persepsi telapak tangan terhadap vibrasi di dada yang disebabkan oleh adanya transmisi getara suara dari laring ke dinding dada. Tertinggalnya hemitoraks pada lateral bawah rib cage paru menunjukan gangguan perkembangan hemitoraks tersebut. Dapat diakibatkan: obstruski bronkus utama, pneumothorax, atau efusi pleura. Menurunnya fremitus traktil dengan meminta pasien menyebut tujuh tujuh berulang-ulang palpasi pada area atelektasis menunjukan bronkus tersumbat atau efusi pleura. Meningktanya fremitus disebabkan konsolidasi parenkim pada area yang inflamasi.

Perkusi Hipersonor. Terjadi pada hiperinflasi pada serangan asma akut,

emfisema,pneumotoraks.

Redup(dullness). Terjadi akibat konsolidasi paru atau efusi pleura.

Auskultasi Ronki kasar dan nyaring (coarse rales dan wheezing) menunjukan obstruksi parsial atau penyempitan saluran napas. Ronki basah dan halus (fine, moist rales) berarti parenkim paru berisi cairan. Ronki bilateral (bilateral rales) disertai irama gallop menunjukan gagal jantung kongestif Sesak napas dengan sakit dada, kemungkinan friction rub.