Anda di halaman 1dari 8

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PENERAPAN MENGGUNAKAN PARTOGRAF DALAM PERSALINAN

BIDAN

DESCRIPTION OF KNOWLEDGE AND APPLICATION OF MIDWIFE USING PARTOGRAF DURING LABOR


Endah Ernawati Akademi Kebidanan Pamenang, Pare, Kediri ABSTRAK Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik. Dengan adanya partograf ini dapat dengan tepat merujuk pasien ketingkat pelayanan yang lebih lebih tinggi. Dengan menggunakan partograf WHO. Diharapkan kejadian patus kasep dapat dihindari sebanyak mungkin untuk menurunkan angka kematian, kesakitan material dan perintah menuju konsep well born baby dan well health mother, serta memungkinkan bidan untuk membuat keputusan tentang perawatan ibu pada waktu yang tepat dan memungkinkan rujukan dini jika diperlukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan penerapan bidan menggunakan partograf dalam persalinan. Desain penelitian termasuk penelitian deskriptif. Populasinya seluruh bidan di wilayah kerja puskesmas Berbek sampelnya yaitu 18 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Dengan instrument kuesioner dan checklist. Hasil penelitian diperoleh pengetahuan baik 14 responden (77, 8%) dan 4 responden (22,2%) berpengetahuan cukup sedangkan untuk penerapannya 6 responden (33,3%) yang menerapkan partograf dalam persalinan. Kesimpulannya bahwa pengetahuan tentang Partograf dalam kategori baik hal ini di pengaruhi karena Partograf memang sudah merupakan alat bantu bidan menolong persalinan, untuk itu rata-rata semua bidan sudah tahu. Tapi untuk penerapannya kurang, faktor yang mempengaruhi adalah karena kebiasaan, dan kurangnya kesadaran bidan untuk menerapkannya saat persalinan. Kata kunci : Pengetahuan, Penerapan, Bidan, Penggunaan partograf ABSTRACT Partograf is a tool to monitor the progress of the first stage of labor and information to make clinical decisions. With the partograf can appropriately refer patients to the level of services more higher. By using partograf WHO. Expected events can be avoided patus kasep much as possible to reduce mortality, morbidity materials and orders to the concept of well born baby and mother health well, and allows midwives to make decisions about maternal care in a timely manner and allow early referral if needed. The purpose of this study to describe the knowledge and application of use partograf midwife in labor. The study design included a descriptive study. Entire population in the region of midwives clinic Berbek sample is 18 respondents with sampling technique using total sampling. With the instrument questionnaire and checklist. The result showed a good knowledge of 14 respondents (77, 8%), and 4 respondents (22.2%) knowledgeable enough to implement, while 6 respondents (33.3%) applying partograf in childbirth. Conclusion that knowledge of Partograf in both categories because it is influenced Partograf already is a tool to help midwife birth, for that the average of all midwives already know. But for less application, is due to factors that affect habits, and lack of awareness of midwives to apply during childbirth. Keywords : Knowledge, Application, Midwives, using partograf

PENDAHULUAN Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala satu persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik, tetapi kenyataannya sampai sekarang partograf belum memasyarakat di Indonesia. Alasannya antara lain, para pembuat

keputusan dan pimpinan profesi kurang yakin akan manfaat partograf dan terlalu banyak partograf yang dipakai. Untuk selanjutnya dalam perkembangannya partograf yang dipergunakan di Indonesia adalah partograf WHO yang merupakan hasil sintesis dari beberapa partograf yang telah disederhanakan (Depkes, 2007 : 55).

Data survei demografi menyatakan, angka kematian ibu (AKI) mencapai 334 per 100.000 kelahiran hidup setiap tahunnya. Diharapkan pada tahun 2010 AKI menurun menjadi 225 per 100.000 kelahiran hidup. (www.co.id suara karya, 2000). Kematian maternal dapat terjadi pada saat pertama pertolongan persalinan. Salah satu penyebab kematian maternal dan perinatal adalah masih terdapat kelemahan dalam hal sistem rujukan, sedangkan rujukan itu harus segera dilakukan pada kasus resiko tinggi, karena kematian dapat terjadi dalam waktu singkat. Jadi dengan metode yang baik dapat diketahui lebih awal adanya persalinan yang abnormal dan dapat dicegah terjadinya partus lama. Dengan dasar inilah WHO menciptakan sistem partograf yang telah digunakan oleh banyak negara karena harganya tidak mahal dan dapat dipakai pada pelayanan yang lebih rendah. (Prawirohardjo, 2002 : 25) Penelitian yang dilakukan di rumah sakit dr. Hasan Sadikin Bandung tentang penggunaan partograf WHO secara prospektif pada 70 pasien yang bersalin didapatkan 25 pasien (35,71 %) melewati garis tindakan, dan 2 kasus (2,86 %) diantaranya dengan persalinan tindakan yaitu dengan ekstrasi vakum atas indikasi waktu. Dari sini dapat disimpulkan partograf WHO dapat menghindari kejadian partus lama dan menurunkan cara persalinan dengan tindakan (www.mfmunpad.organisasi.com) . Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dari Bulan Januari 2011 tentang penggunaan partograf dalam persalinan didapatkan hasil sebagai berikut 3 Bidan (15,7%) selalu menggunakan partograf dalam menolong persalinan, 2 Bidan (10,5%) menyatakan kadang-kadang saja
HASIL PENELITIAN

menggunakan partograf dalam menolong persalinan dan 4 Bidan (21,0%) menyatakan tidak pernah menggunakan partograf dalam menolong persalinan. Dengan penerapan partograf WHO diharapkan bahwa angka kematian maternal dan perinatal dapat diturunkan dengan bermakna sehingga mampu menunjang sistem kesehatan nasional menuju tingkat kesejahteraan masyarakat serta memastikan bahwa ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman adekuat dan tepat waktu serta membantu terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka. Serta memungkinkan bidan untuk membuat keputusan tentang perawatan ibu pada waktu yang tepat dan memungkinkan rujukan dini jika diperlukan. Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul gambaran pengetahuan dan penerapan bidan menggunakan partograf dalam persalinan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dimana peneliti menggambarkan bagaimana pengetahuan dan penerapan bidan menggunakan partograf. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan ceklist. Cara pengumpulan data sewaktu ada persalinan, kita dipanggil bidan untuk membantunya. Secara tidak langsung kita juga menilai penerapan bidan menggunakan partograf saat persalinan. Setelah persalinan selesai kita bagikan kuesioner kepada responden untuk mengisinya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan di wilayah kerja Puskesmas Puncu yakni sebanyak 18 orang, pengambilan sample menggunakan teknik Total sampling.

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Tentang Pengertian Partograf di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12-21 Mei 2011

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Tentang Komponen-komponen Dalam Partograf di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12 21 Mei 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 12 5 1 0 18

Prosentase 66,7% 27,7% 5,6% 0% 100%

Tabel 4.6 Karakteristik Responden Tentang Kontraindiasi Penggunaan Partograf WHOdi Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12 21 Mei 2011 Pengetahuan Frekuensi Prosentase Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

14 4 0 0 18

77,8% 22,2% 0% 0% 100%

Tabel 4.7 Karakteristik Responden Tentang Tujuan Penggunaan Partograf di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12-21 Mei 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 17 1 0 0 18

Prosentase 94,4% 5,6% 0% 0% 100%

Tabel 4.8 Karakteristik Responden Tentang Keuntungan Penggunaan Partograf di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12-21 Mei 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 13 5 0 0 18

Prosentase 72,2% 27,8% 0% 0% 100%

Tabel 4.9 Karakteristik Responden Tentang Petunjuk Pengisian Partograf di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12-21 Mei 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 12 6 0 0 18

Prosentase 66,7% 33,3% 0% 0% 100%

Tabel 4.10

Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Bidan Menggunakan Partograf dalam Persalinan di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12-21 Mei 2011 Pengetahuan Baik Cukup Kurang Tidak Baik TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 14 4 0 0 18

Prosentase 77,8% 22,2% 0% 0% 100%

Tabel 4.11

Karakteristik Responden Berdasarkan Penerapan Bidan Menggunakan Partograf dalam Persalinan di Puskesmas Puncu Kabupaten Kediri pada Tanggal 12 21 Mei 2011 Penerapan Menerapkan Tidak Menerapkan TOTAL
Sumber : Data Primer, Mei 2011

Frekuensi 6 12 18

Prosentase 33,3% 66,7% 100%

PEMBAHASAN 1. Pengertian Partograf Pada hasil penelitian tabel 4.4 didapatkan hasil 17 responden (94,4%) berpengetahuan baik dan 1 responden (5,6%) berpengetahuan cukup. Hal ini dapat dipengaruhi dari faktor usia, pendidikan, informasi dan pengalaman. Pada penelitian ini didapatkan hasil hampir semua bidan tahu tentang pengertian partograf yaitu 17 responden berpengetahuan baik, tetapi pada penelitian ini masih didapatkan 1 responden yang berpengetahuan cukup. Dalam hal ini

partograf sendiri adalah suatu alat bantu untuk memantau proses persalinan, berbentuk kertas grafik yang berisi data ibu, janin dan proses persalinan. (Endjun, 2002 : 33) Berdasarkan fakta dan teori diatas pengetahuan bidan tentang pengertian partograf baik. Selain dipengaruhi oleh umur, pendidikan, informasi dan pengalaman, juga disebabkan faktor lain yaitu karena partograf memang sudah dikenal sebelumnya oleh semua bidan. Untuk itu setiap menolong persalinan diharuskan menggunakan partograf untuk mengurangi angka kematian maternal dan perinatal.

2. Komponen-komponen Partograf Pada hasil penelitian tabel 4.5 didapatkan hasil 12 responden (66,7%) berpengetahuan baik, 5 responden (27,7%) bepengetahuan cukup dan 1 responden (5,6%) berpengetahuan kurang. Pada penelitian ini didapatkan 12 responden berpengetahuan baik tentang komponen partograf, tetapi ada 5 responden berpengetahuan cukup dan 1 responden berpengetahaun kurang. Komponen pada partograf itu sendiri terdiri dari komponen pada ibu dan janin. Komponen pada ibu meliputi frekuensi dan lamanya kontraksi uterus, nadi, pembukaan servik, tekanan darah, temperatur tubuh, prodekusi urin, aseton dan protein. Sedangkan komponen pada janin meliputi denyut jantung, warna dan adanya air ketuban, penyusupan (molase) tulang kepala janin (Depkes, 2007 : 64). Berdasarkan fakta dan teori diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi oleh umur, pendidikan, informasi dan pengalaman. Berdasarkan pengetahuan tentang komponen penggunaan partograf didapatkan kategori baik. Bidan diharapkan dapat mengetahui semua komponen yang ada dalam partograf, sehingga dapat menilai semua aspek yang ada didalam partograf. Untuk itu saat ada persalinan, bidan diharapkan mempergunakan partograf sehingga dapat menilai kondisi ibu dan janin. 3. Kontraindikasi Penggunaan Partograf WHO Pada hasil penelitian tabel 4.6 didapatkan hasil 14 responden (77,8%) berpengetahuan baik dan 4 responden (22,2%) berpengetahuan cukup. Pada penelitian didapat bahwa pengetahuan tentang kontraindikasi penggunaan partograf WHO dengan kategori baik yaitu 14 responden dan ada 4 responden berpengetahuan cukup. Yang di maksud kontra indikasi dalam partograf pada penelitian ini antara lain : wanita hamil dengan tinggi kurang dari 145 cm, perdarahan antepartum, preeklamsi berat,

persalinan preamatur, kelainan letak, keadaan gawat janin, persalinan dengan induksi dan lain-lain. (Manuaba, 2007:54) Berdasarkan fakta dan teori diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang kontraindikasi penggunaan partograf WHO baik, dengan mengetahui kontraindiaksi penggunaan partograf WHO bidan dapat mendeteksi secara dini komplikasi yang akan terjadi sehingga bisa mengurangi terjadinya kasus yang bertambah berat. 4. Tujuan Penggunaan Partograf Pada hasil penelitian tabel 4.7 didapatkan hasil 17 responden (94,4%) berpengetahuan baik dan 1 responden (5,6%) berpengetahuan cukup. Pada hasil penelitian didapatkan 17 responden berpengetahuan baik tentang tujuan penggunaan Partograf dan 1 responden berpengetahuan cukup. Untuk tujuan partograf itu sendiri antara lain mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal, dengan demikian juga dapat mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya Partus lama. (Depkes, 2007 : 55). Berdasarkan fakta dan teori di atas dapat di simpulkan bahwa pengetahuan tentang tujuan penggunaan Partograf baik. Dengan mengetahui tujuan penggunaan Partograf bidan dapat mengetahui apakah proses persalinan berjalan lancar atau tidak, sehingga bila di ketahui persalinan tidak berjalan lancar maka dapat segera dirujuk ketempat pelayanan yang mempunyai fasilitas lebih lengkap. 5. Keuntungan Penggunaan Partograf Pada hasil penelitian tabel 4.8 didapatkan hasil 13 responden (72,2%) berpengetahuan cukup dan 5 responden (27,8%) berpengetahuan cukupPada hasil penelitian didapatkan 13 responden berpengetahuan baik tentang keuntungan penggunaan Partograf dan 5 responden berpengetahuan cukup. Salah satu keuntungan Partograf adalah tersedia cukup waktu untuk melakukan rujukan (sekitar 4 jam) setelah perjalanan persalinan melewati garis waspada. (Depkes, 2004 : 51)

Berdasarkan fakta dan teori di atas dapar di simpulkan bahwa pengetahuan tentang keuntungan penggunaan Partograf dalam kriteria baik. Dengan mengetahui keuntungan penggunaan Partograf di harapkan bidan bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menangani persalinan, sehingga dengan adanya Partograf akan mempermudah tenaga kesehatan khususnya bidan dalam merujuk kasus-kasus yang beresiko. 6. Petunjuk Pengisian Partograf Pada hasil penelitian tabel 4.9 didapatkan hasil 12 responden (66,7%) berpengetahuan baik dan 6 responden (33,3%) berpengetahuan cukup tentang petunjuk pengisisan Partograf. Adapun petunjuk pengisisan Partograf yaitu dengan memperhatikan garis waspada dan garis tindakan sebagai titik tolak evaluasi pertolongan persalinan di harapkan partus terlantar dan partus kasep semakin berkurang. (Musbir, 2003: 42) Berdasarkan fakta dan teori di atas dapat di simpulkan bahwa pengetahuan bidan tentang petunjuk pengisisan Partograf berada dalam kriteria baik. Dengan mengetahui petunjuk pengisian Partograf maka diharapkan bidan bisa mempergunakan Partograf dalam setiap pertolongan persalinan, sehingga Partograf bisa berfungsi secar maksimal dalam mendeteksi secara dini kasus persalinan yang melebihi batas. 7. Pengetahuan Bidan Penggunaan Partograf Tentang

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada bidan tentang penggunaan partograf dalam persalinan di Puskesmas Papar menunjukkan bahwa 14 responden (77,8%) berpengetahuan baik, 4 responden (22,2%) berpengetahuan cukup. Berdasarkan data survei demografi angka kematian ibu mencapai 334 per 100.000 kelahiran hidup setiap tahunnya. Penyebab kematian tersebut salah satunya kelemahan dalam hal sistem rujukan. Untuk menurunkan angka kematian tersebut harus mengembangkan suatu sistem atau metode yang tepat yaitu penggunaan

partograf WHO. (www.suarakarya.co.id, 2000) Dalam penelitian pengetahuan tentang penggunaan partograf didapatkan 14 responden tahu tentang penggunaan partograf. Hal ini ditunjang dari faktor usia, pendidikan, informasi dan pengalaman. Telah disebutkan bahwa semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. (Nursalam dan Siti Pariani, 2001 : 133). Selain itu faktor pendididikan semakin tinggi pendidikan maka akan lebih baik pula tingkat pengetahuan seseorang. Dari faktor informasi telah dikatakan bahwa informasi yang diperoleh dari berbagai sumber bisa mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang jika seseorang mendapat banyak informasi cenderung akan memiliki pengetahuan yang lebih luas (Notoatmodjo, 2002 : 9). Selain itu juga disebabkan karena faktor pengalaman. Dimana faktor pengalaman disebutkan bahwa pengalaman merupakan cara memperoleh kebenaran pengetahuan yaitu dengan mengulangi kembali pengalaman yang dihadapi masa lalu (Notoatmodjo, 2001). Tetapi ada 4 responden berpengetahuan cukup, berdasarkan kuesioner penelitian faktor yang menyebabkannya adalah pendidikan, informasi dan pengalaman yang kurang. Dengan faktor tesebut dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang menguasai dan memahami tentang partograf untuk menurunkan angka kematian maternal dan parinatal, partograf sendiri merupakan alat bantu untuk membuiat keputusan klinik, mematau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan dan kewajiban untuk menggunakannya secara rutin setiap persalinan, untuk itu bidan sebagai ujung tombak dalam pemberian pelayanan kesehatan harus benar-benar mengetahui tentang partograf tersebut. 8. Penerapan Bidan Menggunakan Partograf dalam Persalinan Berdasarkan analisa data terdapat 6 bidan (33,3%) menerapkan partograf dalam persalinan dan 12 bidan (66,7%) tidak menerapkan partograf dalam persalinan. Hal

ini dipengaruhi karena pengetahuan bidan yang baik yaitu 77,8 % tentang partograf itu sendiri dan juga telah disebutkan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif maka perilaku itu akan bersifar langgeng. (Notoatmodjo, 2003 : 128) Tetapi masih ada 12 responden tidak menerapkan partograf selama persalinan. Hal ini dipengaruhi kebiasaan bidan itu sendiri yang selalu menggunakannya setalah persalinan selesai atau disebabkan kurangnya kesadaran tentang pentingnya partograf dalam persalinan. Seperti yang telah disebutkan bahwa prilaku yang tidak didasari oleh kesadaran maka prilaku pun tidak akan berlangsung lama. (Notoatmodjo, 2003 : 128) Selain itu dipengaruhi faktor lingkungan fisik yaitu kesibukan bidan yang memberikan pelayanan KIA. Dengan kesibukan itu membuat bidan terbiasa tidak menggunakan partograf selama persalinan. Dari teori dan fakta diatas dapat diketahui bahwa penerapan bidan menggunakan partograf dalam persalinan itu kurang. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dari bidan itu sendiri tentang partograf atau bahkan menganggap partograf itu sesuatu yang tidak penting karena hanya lembar kertas berisi grafik saja, sehingga kebanyakan bidan itu menggunakannya setelah persalinan selesai, padahal partograf itu merupakan suatu kepatuhan yang harus dilakukan oleh semua bidan saat menolong persalinan. Untuk dapat menerapkan kembali penggunaan pertograf itu bidan harus meningkatkan kesadarannya dan mengingat bahwa partograf itu penting maka harus mulai membiasakan diri setiap menolong persalinan harus mencatat dalam partograf. Dengan mengikuti kepatuhan tersebut maka dapat membantu menurunkan angka kematian maternal dan perinatal di Indonesia. KESIMPULAN 1. Pengetahuan bidan tentang pengertian Partograf baik sebanyak (94,4%) 2. Pengetahuan bidan tentang komponenkomponen Partograf baik sebanyak (66,7%)

3. Pengetahuan bidan tentang kontra indikasi penggunaan Partograf WHO baik sebanyak (77,8%) 4. Pengetahuan bidan tentang tujuan penggunaan Partograf baik sebanyak (94,4%) 5. Pengetahuan bidan tentang keuntungan penggunaan Partograf baik sebanyak (72, 2%) 6. Pengetahuan bidan tentang petunjuk pengisian Partograf baik sebanyak (66,7%) 7. Pengetahuan bidan menggunakan Partograf dalam persalinan baik sebanyak (77,8%) 8. Yang menerapkan Partograf selama persalinan sebanyak (33,3%) SARAN 1. Bagi petugas kesehatan khususnya bidan Menambah wawasan pentingnya penggunaan Partograf dengan cara menerapkannya saat ada persalinan dengan cara membiasakan diri setiap menolong persalinan selalu mengisi Partograf untuk lembar observasinya 2. Bagi instansi kesehatan Menambah kedisiplinan dan kepatuhan bidan dalam menggunakan Partograf dengan melakukan supervisi kesetiap bidan yang ada di wilayah Puskemas Puncu. 3. Bagi tempat penelitian Peneliti berharap semoga dimasa yang akan datang pemenfaatan Partograf sebagai alat bantu, memantau mengevaluasi dan menata laksana persalinan dan kelahiran dapat di pergunakan secara rutin oleh semua bidan DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. (1998 ). Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Aziz, A. (2002). Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika. Azwar ,saifudin. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jogyakarta : Pustaka Pelajar

Depkes RI. (2004). Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta. ________.( 2007). Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta Endjun, JJ. (2002). Mempersiapkan Persalinan Sehat. Jakarta : Puspa Swara Farrer, Helen. (2001). Perawatan Maternitas. Jakarta : EGC Masirfan. (2007). Aspek Legal Pelayanan Kebidanan. www.Masirfan_Mulhply.com Manuaba, Ida Bagus Gde. (2007). Ilmu kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC Musbir, W.( 2003). Standar Profesi Kebidnaan. Jakarta : Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia. _________. (2003). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta : Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia. Notoatmodjo, S.( 2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta

_____________. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta _____________. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Asdi Mahasatya Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Sripsi, Tesis dan Instrumen Penilaian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. Nursalam dan Siti Pariani. (2001). Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto Prawirohardjo, S.( 2002). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan. Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Riyanto, Y.( 2001). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : SLC Saifuddin, AB.( 2002). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sugiyono, Prof. Dr. (2006). Stastistika untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta www.google.co.id.suarakarya

Anda mungkin juga menyukai