Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG IMUNISASI DPT, CAMPAK DENGAN KECEMASAN IBU TERHADAP EFEK SAMPING IMUNISASI

THE RELATIONSHIP BETWEEN THE KNOWLEDGE OF BABYS MOTHER ABOUT IMMUNIZATION DPT, MEASLES AND MOTHERS ANXIETY TO WORD THE SIDE IMPACT OF IMMUNIZATION
Susanti Tria Jaya Akademi Kebidanan Pamenang, Pare, Kediri ABSTRAK Imunisasi merupakan cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu antigen, bayi harus mendapatkan imunisasi wajib terhadap penyakit utama antara lain hepatitis, TBC, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak. Sebanyak 121.000 bayi meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Tetapi masih ada 3,1 % penurunan cakupan dari DPTI ke DPT2 hal ini karena masih ada 80 % ibu mengatakan cemas terhadap efek samping imunisasi , salah satu penyebabnya adalah kurang pengetahuan ibu sehingga timbul kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui Hubungan Pengetahuan Ibu bayi tentang Imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan Ibu dalam Menghadapi Efek samping di Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri . Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. populasi adalah semua Ibu bayi di Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri sebesar 79 orang. Jumlah sampelsebesar 79 ibu bayi dengan teknik total sampling. Pengumpulan data tanggal 9-14 Januari 2012. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui kuesioner . Selain itu juga menggunakan data skunder. Data diolah dengan uji spearman rho untuk menyatakan ada hubungan atau tidak. Hasil penelitian didapatkan Diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang Imunisasi dengan kategori kurang yaitu sebanyak 36 responden (45,5%), sebagian besar responden memiliki kecemasan dalam menghadapi efek samping imunisasi tingkat sedang yaitu sebanyak 59 responden (74,7%), didapatkan ada hubungan pengetahuan dengan kecemasan ibu dalam menghadapi efek samping imunisasi di Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasrii Kabupaten Kediri Tahun 2012. P /(Sig.(2-tailed) sebesar 0,00 < 0,01(nilai ), maka Ho ditolak. Dari uraian diatas diharapkan pada petugas kesehatan yang menangani Program imunisasi untuk memberikan pengarahan dan penyuluhan tentang imunisasi, efek sampingnya dan informasi berkaitan tentang imunisasi. Kata Kunci : pengetahuan, imunisai, kecemasan ABSTRACT Immunization is as the way to increase the immunity of the body actively toward an antigen, the baby should get obliged immunization toward the main diseases such as, hepatitis, TBC, diphtheria, pertussis, tetanus, polio, and measles. There are 121.000 babies died every year because of the diseases that actually can be avoided by giving immunization. There are still 3.1% the decreasing of scope of DPT1 to DPT2 ,it is because there are still 80% of the mothers say worry toward the side impact of ommunization, one of the causes is the lack of knowledge of immunization so the anxiety appears. The intention of this research is to know the relationship between the knowledge of babys mother about immunization and mothers anxiety toward the side impact of immunization in Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. The design of research that was used was analytic research by using cross sectional approach. Population was all mothers in Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri consisted of 79 persons. The number of sample was 79 mothers by using stratified total sampling technique. Accumulating data lasted from 9 th to 14th January 2012. The Data that was used was primary data which

was got through the questioners. Besides primary data the writer also used secondary data. The data was processed using spearman rho test to know there was a relationship or not. The result of observation could be known that the most respondents had the knowledge about immunization with low category that was 36 respondents ( 45.5%), most respondents had anxiety in facing with medium category that was 59 respondents ( 74.7%),the writer found that there was a the relationship between the knowledge of babys mother about immunization and mothers anxiety toward the side impact of immunization in Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. P/(Sig.(2-tailed) 0.00 < 0.01 (value ),so Ho is refused. From the explanation above it is hoped to the health official in handing immunization to give explanation and counseling about immunization, side impact and information related to immunization. Key Words: knowledge, immunization, anxiety

PENDAHULUAN Imunisasi merupakan cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu antigen. Setidaknya bayi harus mendapatkan imunisasi wajib terhadap penyakit utama antara lain defteri, batuk rejan, tetanus (Markum, 2002) Penduduk Indonesia pada tahun 2010 telah mencapai 200 juta dengan jumlah anak dibawah 18 tahun sebanyak 77.808.000 (37,05%) dan anak balita sebanyak 21.987.000 (10,4%). Dengan komposisi penduduk demikian ternyata sebanyak 121.000 bayi meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satu penyebabnya adalah bayi belum mendapatkan imunisasi secara lengkap (Endah, 2004). Oleh karena itu bayi sebaiknya diberikan imunisasi sedini mungkin segera setelah lahir dan diusahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi berusia 1 tahun (Depkes R.I., 2003). Jenis imunisasi mencakup vaksinasi terhadap tujuh penyakit utama yaitu vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin), DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus), polio, campak, dan hepatitis B (Markum, dkk., 2003). Vaksin BCG diberikan 1 kali pada bayi usia 0-11 bulan, campak pada usia 9-11 bulan, DPT pada usia 2-11 bulan sebanyak 3 kali dengan interval minimal 4 minggu, vaksin hepatitis B pada usia 0-11 bulan sebanyak 3 kali dengan interval minimal 4 minggu, vaksin polio diberikan 4 kali dengan interval minimal 2 minggu (Setiaji, 2005). Fakta menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dasar secara lengkap pada bayi sebelum usia 1 tahun di Indonesia baru

tercapai 80% (Markum, 2002). Di Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri tahun 2010 cakupan Imunisasi dasar Hb0 94,1 %, BCG 102,1 %, Polio1 103,2 %, DPT1 103,5%, Polio2 102,5 %, DPT2 100.4 %, Polio3 103,3 %, DPT 3 99,7 % Polio4 102,3 %, Campak 100,5 %. Demikian juga pencapaian imunisasi di Puskemas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri tahun 2010 yaitu: Hb0 91,7 %, BCG 90,4 %, Polio1 94,6 %, DPT1 101,8 %, Polio2 103,1 %, DPT2 89.8 %, Polio3 88,2 %, DPT 3 90,4 % Polio4 90,8 %, Campak 91,1 %. masih ada yang belum memenuhi target . Berdasarkan Studi pendahuluan di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri berdasarkan hasil wawancara kepada 10 ibu sebagai ibu didapatkan ada 2 ibu (20%) yang mengatakan tidak cemas dengan efek samping yang terjadi pada bayi setelah mendatkan imunisasi , selebihnya sebanyak 8 ibu (80%) mengatakan cemas. Hal ini menunjukkan banyak ibu balita merasakan kecemasan meskipun dalam survey ini belum dilakukan identifikasi tingkat kecemasannya (kategori cemas ringan, sedang, berat atau panik). Kurang terpenuhinya kelengkapan imunisasi akan berdampak pada kesehatan dan rentan terhadap tujuh penyakit utama yaitu vaksin BCG (Bacillus CalmetteGuerin), DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus), polio, campak, dan hepatitis B (Markum, dkk., 2003 : 15). Kurang terpenuhi cakupan iminisasi secara lengkap dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti adanya efek samping dari pemberian imunisasi misalnya anak sakit parah, waktu atau jadwal imunisasi yang tidak tepat, kecemasan orang

tua terhadap efek imunisasi, ketidaktahuan orang tua terhadap jadwal imunisasi yang ditentukan, lokasi atau tempat tinggal ibu yang jauh dan ibu bekerja (Markum, 2003). Faktor efek samping yang sering terjadi akibat imunisasi tersebut adalah panas yang akhirnya memberikan dampak pada persepsi yang salah pada orang tua sehingga akan timbul kecemasan serta penolakan untuk dilakukan imunisasi dan menyebabkan ketidakaktifan dalam mengikuti jadwal imunisasi yang ditentukan. Sebagai solusi adalah perlu adanya penyampaian informasi secara jelas dari petugas kesehatan mengenai imunisasi dan berbagai kemungkinan yang timbul sehingga pengetahuan orang tua menjadi positif tentang imunisasi bagi setiap bayi . Penyampaian informasi dapat disampaikan melalui penyuluhan individu, kelompok maupun masyarakat dengan berbagai metode penyuluhan. Perlu pula ada bantuan perangkat desa untuk menggerakkan
Variabel dan definisi opersional penelitian

keaktifan masyarakat dalam mengikuti imunisasi Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Pengetahuan Ibu bayi tentang Imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan terhadap Efek samping Imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri MATERI DAN METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian seksional silang (cross sectional) yaitu suatu penelitian yang mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dan efek dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Notoatmodjo, 2002 ). Berdasarkan tujuan penelitian, termasuk penelitian korelasi karena bertujuan mengetahui hubungan timbal balik antara satu variabel dengan variabel lain.

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 9 14 April 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Ibu bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. Besar sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik total sampling yaitu semua populasi dijadikan sampel yaitu sebesar 79 Responden. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian ini berupa Kuesioner dan formulir. Bentuk atau jenis pertanyaan untuk kuesioner adalah pertanyaan tertutup sehingga responden tinggal memilih diantara pilihan jawaban yang disediakan. Bagian pertanyaan meliputi pertanyaan pendahuluan terdiri dari data demografi (usia, pendidikan, pekerjaan,) dan pertanyaan inti terdiri dari data khusus yaitu pengetahuan (manfaat dan efek samping imunisasi). dan kecemasan ibu bayi Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner yang diberikan pada responden yang diteliti. Dengan cara peneliti menyiapkan kuesioner untuk menilai Pengetahuan dan kecemasan orang tua tentang imunisasi, kemudian memberikan kuesioner tersebut kepada responden dengan mengunjungi rumah responden satu persatu dan melaksanakan studi dokumentasi mengenai kelengkapan imunisasi yang ada di Kartu Menuju Sehat (KMS). Hasil kuesioner dicatat dalam lembar pencatatan hasil, editing dan coding, tabulasi data. Setelah dilakukan skoring pengetahuan ibu tentang imunisasi dapat dikategorikan menjadi beberapa tingkat. Menurut Nursalam, 2003 pengetahuan kategorikan menjadi : 1) Baik jika mendapat skor 76100% dari skor maksimum. 2) Cukup jika mendapat skor 56-75% dari skor maksimum. 3) Kurang jika mendapat skor < 56% dari skor Selanjutnya interpretasi terhadap skor individual dalam skala rating yang

dijumlahkan adalah dengan membandingkannya dengan harga rata-rata atau mean skor kelompok dimana subyek itu berada. Sedangkan penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dari item 114 dengan hasil : 1). Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan. 2). Skor 7 14 = kecemasan ringan. 3). Skor 15 27 = kecemasan sedang. 4). Skor lebih dari 27 = kecemasan berat. Kemudian peneliti melakukan penyusunan data agar mudah dijumlah, disusun dan didata untuk disajikan dalam bentuk tabel. Setelah data terkumpul untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu bayi tentang imunisasi dengan kecemasan dianalisis dengan uji statistik dengan jenis uji korelasi Spearman. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN

Tabel 4.1 Distribusi Umur responden di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri 9 - 14 April 2012

Tabel 4.2 Distribusi responden menurut Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten 914 April 2012

Tabel 4.3 Distribusi responden menurut pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten 914 April 2012

Tabel 4.4 Distribusi responden menurut anak di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten 9- 14 April 2012

Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Periode 9 14 April 2012

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Informasi tentang Imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasi Kabupaten Kediri 9-14 April 2012

Tabel 4.10 Hasil Analisis Uji Korelasi Spearman Hubungan Pengetahuan tentang Imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan ibu dalam Menghadapi Efek Samping imunisasi di wilayah kerja Puskesmas sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Tahun 2012

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Sumber Informasi tentang Imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Periode 9 14 April 2012

Tabel 4.7 Pengetahuan responden tentang Imunisasi DPT, Campak di Wilayah Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Periode 9 14 April 2012

Berdasarkan tabel 4.10 diatas didapatkan nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000 < 0,01 (nilai ), maka Ho ditolak. Hal ini berarti ada hubungan pengetahuan tentang imunisasi DPT, Campak dengan kecemasan ibu dalam menghadapi efek samping Imunisasi di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Tahun 2012. PEMBAHASAN 1. Pengetahuan tentang Imunisasi Berdasarkan tabel 4.7 diatas diketahui sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang imunisasi DPT, Campak dengan kategori kurang yaitu sebanyak 36 responden (45,5%) dari total 79 responden. Menurut Notoatmodjo, 2003 mengatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu. Sedangkan efek samping imunisasi antara lain rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. demam ,. Hal ini mengingat pada dasarnya pengetahuan seseorang dipengaruhi banyak faktor baik faktor internal (Seperti umur maupun intelegensi),

Tabel 4.8 Kecemasan responden dalam Menghadapi Efek Samping Imunisasi DPT, Campak di Wilayah Kerja Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Periode 9 14 April 2012

Tabel 4.9 Hubungan Pengetahuan tentang imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan dalam Menghadapi Efek Samping Imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Sumberjo

dan faktor eksternal (Seperti pendidikan, pengalaman, informasi, lingkungan) yang tidak sama antara satu orang dengan lainnya. Pendapat peneliti mengenai hasil penelitian diatas adalah, jika didapatkannya sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang efek samping imunisasi DPT, Campak dengan kategori kurang, maka hal ini juga dapat dipengaruhi berbagai faktor yang berbeda dari masing-masing individu baik faktor internal (Umur maupun intelegensi), maupun faktor eksternal (Pendidikan, pengalaman, informasi dan lingkungan) yang tidak sama antara satu individu dengan individu lainnya. Dilihat dari faktor umur, sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu sebanyak 43 responden (54,4%) dari total 79 responden. Jika dikaitkan dengan pengetahuan, seharusnya pada umur ini belum banyak mengalami gangguan panca indera baik indera penglihatan, indera pendengaran maupun daya ingat. Seharusnya responden masih mudah untuk membaca sehinga mudah pula untuk mendapatkan informasi sebagai sumber pengetahuan. Namun demikian kenyataannya lain yakni sebagian besar responden memiliki pengetahuan tentang efek samping imunisasi dengan kategori kurang. Dengan demikian masih ada faktor lain yang cukup dominan pengaruhnya terhadap pengetahuan disamping umur tersebut. Faktor dimaksud adalah faktor pendidikan responden. Seesuai dengan hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berpendidikan SD yaitu sebanyak 38 responden (48,1%) dari total 79 responden. Tingkat pendidikan tersebut menurut pendapat peneliti masih termasuk pendidikan rendah. Dengan pendidikan yang rendah ini maka responden memiliki keterbatasan di dalam menerima dan memahami informasi termasuk informasi mengenai efek samping imunisasi DPT, Campak. Dengan pendidikan rendah tersebut pada umumnya responden juga tidak memiliki kebiasaan untuk membaca berbagai media informasi seperti majalah, koran atau bahkan internet. Berbagai kondisi ini pada akhirnya menghambat untuk mendapatkan sumber pengetahuan.

Faktor lain yang mempengaruhi pengetahuan responden menjadi kurang adalah pekerjaan. Jika sebagian besar responden status pekerjaannya sebagai petani yaitu sebanyak 40 responden (50,6%) dari total 79 responden, maka ada kemungkinan responden terlalu sibuk urus sawah dan jarang mendapatkan informasi mengenai efek samping imunisasi . Ditinjau dari jumlah anak adalah sebagian besar jumlah anak 2 sebesar 36 responden (45 %). Hal ini dengan ibu dengan 1 anak cenderung lebih dapat memperhatkan dirinya karena mereka tidak terlalu direpotkan dengan kegiatan mengurus anak seperti yang terjadi ibu lebih dari 1 anak sebaliknya dengan jumlah anak 2 ibu bayi direpotkan untuk mengurus anak sehingga kesempatan untuk memperoleh informasi tambahan pengetahuan tentang imunisasi kurang Ditinjau dari faktor informasi didapatkan sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi tentang imunisai DPT, Campak yaitu ada 48 responden (60,8 %) dari total 79 responden. Dengan mendapatkan informasi tersebut maka akan bertambah tingkat pengetahuannya tentang imunisasi akan tetapi karena sebagian besar sumber informasi tentang imunisasi berasal dari orang lain yaitu ada 18 responden (22,8 %) dari total 49 responden yang mendapatkan informasi kurang begitu akurat. Dengan mendapatkan informasi dari orang lain, pada umumnya informasinya disajikan belum tentu benar dan biasanya informasi cenderung ditambah tambahi. Oleh karena itu wajar pula jika hampir seluruh ibu bayi mempunyai pengetahuan kurang . 2. Kecemasan responden dalam Menghadapi Efek Samping Imunisasi DPT, Campak Berdasarkan tabel 4.8 diketahui sebagian besar responden memiliki kecemasan dalam menghadapi efek samping imunisasi DPT, Campak tingkat sedang yaitu sebanyak 59 responden (74,7%) dari total 79 responden. Menurut Stuart and Sundeen (2003) kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.

Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi ini dialami secara subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Kecemasan berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Kecemasan ini merupakan respons emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat kecemasan yang parah tidak sejalan dengan kehidupan. Sedangkan menurut Maramis (2005) kecemasan tidak terikat pada suatu benda atau keadaan akan tetapi mengambang bebas. Faktor predisposisi kecemasan menurut kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk membantu mengatur kecemasan.. Selain itu dibuktikan kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor (Stuart and Sundeen, 2003 ). Adapun stresor kecemasan menurut Stuart and Sundeen (2003 ) mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stresor kecemasan dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari dan ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi. Didapatkannya sebagian besar responden memiliki kecemasan dalam menghadapi efek samping imunisasi DPT, Campak tingkat sedang dapat dipengaruhi oleh faktor adanya efek samping imunisasi seperti demam dan kejang Kondisi ini secara biologis direspon oleh otak karena otak mengandung reseptor khusus untuk membantu mengatur kecemasan. Selain itu efek samping imunisasi tersebut dipersepsi sebagai penurunan kesehatan pada seseorang sehingga timbul perasaan takut, khawatir yang tidak terlalu jelas sehingga persaaan demikian inilah yang dikatakan seseorang mengalami kecemasan.

Sebenarnya hal ini tidak akan timbul jika seseorang sudah tahu jika imunisasi memiliki efek samping demikian yang tentunya tidak terlalu berbahaya pada kondisi kesehatannya. Akibat tidak memiliki pengetahuan yang memadai maka timbul salah persepsi sehingga timbul kekhawatiran akan kondisi fisiknya. Timbulnya pengetahuan yang kurang juga akibat pendidikan ibu yang sebagian besar SD dan pekerjaanya sebagian besar petani sehingga kurang informasi mengenai efek samping imunisasi. Kurangnya informasi pada akhirnya juga menjadi penyebab kurangnya pengetahuan termasuk pengetahuan tentang efek samping imunisasi. 3. Hubungan Pengetahuan tentang imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan Menghadapi Efek Samping Imunisasi Berdasarkan tabel 4.10 diatas didapatkan ada hubungan pengetahuan dengan kecemasan ibu dalam menghadapi efek samping imunisasi di Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasrii Kabupaten Kediri Tahun 2012 (Sig.(2-tailed) sebesar 0,00 < 0,01(nilai ), maka Ho ditolak. Sama dengan teori yang telah dikemukakan diatas dimana menurut Maramis (2005 ) kecemasan tidak terikat pada suatu benda atau keadaan akan tetapi mengambang bebas. Faktor predisposisi kecemasan menurut kajian biologis adalah otak mengandung reseptor khusus untuk membantu mengatur kecemasan. Selain itu dibuktikan kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor (Stuart and Sundeen, 2003). Adapun stresor kecemasan mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stresor kecemasan dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari dan ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat

membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi. Didapatkannya ada hubungan pengetahuan dengan kecemasan ibudalam menghadapi efek samping imunisasi menunjukkan dengan kurangnya pengetahuan tentang efek samping dari sebagian besar responden, maka sebagian besar responden merespons efek samping imunisasi sebagai suatu ancaman terhadap sistem dirinya yang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi osial yang terintegrasi sebagai akibat penurunan kesehatannya. Pada akhirnya otak memberikan respons negatif berupa rasa cemas dengan dasar persepsi ancaman terhadap kondisi fisiknya tersebut. Dengan demikian semakin kurang pengetahuan seseorang mengenai efek samping imunisasi maka semakin salah persepsi sehingga semakin cemas dalam menghadapi efek samping imunisasi. Kondisi ini didukung dengan sebagian besar responden berumur 20-35 tahun yaitu sebanyak 43 responden (54,4%) dari total 79 responden. Dengan umur yang relatif muda ini maka responden masih memikirkan kondisi kesehatannya secara maksimal. Jika sampai terjadi efek samping yang menyakitkan tentu hal ini sangat mengkhawatirkan. Dengan demikian akan semakin menambah kecemasannya.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2002 ). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Cetakan kesebelas. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 24. _________________, (2003). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Cetakan keduabelas. Jakarta. : Rineka Cipta. Hal: 94,118-119. Ditjen PPM & PLP Depkes R.I (2003). Modul Latihan Petugas Imunisasi. Jakarta : Depkes R.I. Hal : 13. Ditjen PPM & PLP Depkes R.I (2005). Modul Pelatihan Pengelolaan Rantai Vaksin Program Imunisasi. Jakarta : Depkes R.I. Hal : 7. Endah. (2004). Jangan Mengabaikan Jadwal Imunisasi. www.google.com Machfoedz, Ircham, Marianingsih, Maryono, Wahyuningsih. (2005 : 99). Metode Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, dan Kebidanan. Edisi kedua. Yogyakarta : Fitramaya. Hal : 99. Markum. (2003). Imunisasi. Edisi kedua. Jakarta : FKUI. Hal : vii, 9, 15, 17, 20, 21. Maramis. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press Murti, B. (2010). Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan.Yogyakarta:Gajah Mada University Press. Hal 52 Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi kedua. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 48, 70, 145-146. ___________________,. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 127. Nursalam, (2003). Konsep dan penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika. __________,(2005). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan (Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen

KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dan analisa yang telah disampaikan dalam bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: Pengetahuan tentang Imunisasi dengan kategori kurang yaitu sebanyak 36 responden (45,5%). Sebagian besar responden memiliki kecemasan dalam menghadapi efek samping imunisasi DPT, Campak tingkat sedang yaitu sebanyak 59 responden (74,7%). Diketahui ada hubungan Hubungan antara Pengetahuan Ibu bayi tentang Imunisasi DPT, Campak dengan Kecemasan Ibu terhadap Efek samping Imunisasi di Puskesmas Sumberjo Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri Tahun 2012 (Sig.(2-tailed) sebesar 0,00 < 0,01(nilai ).

Penelitian Keperawatan). Surabaya : Salemba Medika. Hal : 96, 97, 106, 128. Ranuh. I.G.N, Hariyono Soeyitno, Hadinegoro Sri Rejeki. (2001). Buku Imunisasi di Indonesia. Jakarta : Satgas ImunisasiIkatan Dokter Anak Indonesia, hal : 3. Sanusi dkk,(2004). Kamus bahasa indonesia dan sastra .Jakarta: Erlangga

Sugiyono.(2004). Statistik untuk Penelitian. Cetakan kesebela.Bandung : Alfabeta. . ________. (2007). Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfa Beta. Hal : 78. Sulaiman, Wahid.(2003). Statistik NonParametrik (Contoh Kasus dan Pemecahannya dengan SPSS). Yogyakarta : Andi. Hal : 147. Wahap, A.Samik dan Madarina Julia. (2002). Sistem Imun, Imunisasi, & Penyakit Imun. Jakarta : Widya Merdeka. Hal : 38.

Setiaji, (2005) . Imunisasi Efektif dan Praktis bagi Bayi www.depkes.go.id