Anda di halaman 1dari 117

PRESENTASI

LAPORAN AKHIR
PRK PENGEMBANGAN KORIDOR MRT JAKARTA

METODOLOGI KERJA

ZONA

KLASIFIKASI

UDGL
U1 R U1 U1

BUNDARAN HI

LOKASI
+ 1049M

DUKUH ATAS

CBD1
SETIA BUDI

+ 923M + 766 M
BENDUNGAN HILIR

UDGL PRINSIP
U1 U1 U2

+ 1.641 M
ISTORA

KARAKTER LINGKUNGAN
CBD2 Garden City

DAYA DUKUNG

+ 731 M
SENAYAN

+ 957 M
SISNGAMANGARAJA

South ern Down town

VS
R

U2

U2

VS
U1

+ 556 M

BLOK M

+ 1.264 M + 2.534 2 534 M + 1.300 M

BLOK A

HAJI NAWI U2 CIPETE FATMAWATI LEBAK BULUS

+ 1.631 M +2.202 M

Gateway

UDGL TOD 13 TITIK STASIUN

KAJIAN NORMATIF DAN SURVEY


APA ?
ELEMEN PERANCANGAN KOTA
GUNA LAHAN SIRKULASI TRANSPORTASI INTENSITAS RUANG TERBUKA TATA BANGUNAN MORFOLOGI KETERSEDIAAN LAHAN

LOKASI

1. St. Bundaran HI 2. St. Dukuh Atas 3. St. Setiabudi 4. St. Bendungan Hilir 5. St. Istora 6 St. 6. St Senayan 7. St. Sisingamangaraja 8. St. Blok M 9. St. Blok A 10. St. H. Nawi

11. St. Cipete

13. St. Lebak Lubus

12. St. Fatmawati

KAJIAN NORMATIF DAN SURVEY


DIMANA ?
AREA PEYANGGA

AREA INTI PERGERAKAN

AREA CORE STASIUN

R : 350M

R : 700M

LUASAN DAERAH PERENCANAAN


LUASAN DP 2 (R - 350M) : 38.5 HA DAERAH PERENCANAAN

KAJIAN PERGERAKAN MAKRO KAWASAN

TATA GUNA LAHAN

UNDERGROUND

ELEVATED

DOWNTOWN

NEIGHBORHOOD

70% : 30%
KOMERSIAL > RESIDENTIAL

30% : 70%
KOMERSIAL < RESIDENTIAL

TATA GUNA LAHAN


LEBAK BULUS
GATEWAY ZONE
REGIONAL

KOMERSIAL >> RESIDENTIAL 70% : 30% KERAGAMAN (MIXED-USE) SANGAT S G TINGGI GG

BUNDARAN HI
SUDIRMAN CBD ZONE

U-1
URBAN CENTER

KOMERSIAL > RESIDENTIAL 60% : 40% KERAGAMAN (MIXED-USE) (MIXED USE) TINGGI

HAJI NAWI
SOUTHERN DOWNTOWN ZONE
NEIGHBORHOOD G O OO CENTER KERAGAMAN (MIXED-USE) TINGGI - SEDANG

U-2

KOMERSIAL > RESIDENTIAL 40% : 60%

SIRKULASI

UNDERGROUND

ELEVATED

DOWNTOWN
ARTERI PRIMER

NEIGHBORHOOD
ARTERI SEKUNDER - ARTERI PRIMER

43 M 62 M

13 M 55 M

SIRKULASI
HIRARKI JALAN Apakah A k h diperlukan di l k adanya d peningkatan kelas hirarki jalan

20 meter

Kesiapan dimensi ruang jalan terhadap struktur bangunan stasiun

13 meter

Lebar jalan : Ruang stasiun 13 meter < 20 meter


LINGKUNGAN

LOKAL/

Ketimpangan p g konektivitas antara jalan arteri sekunder (koridor utama) dengan jalan lokal (blok hunian)

ARTERI SEKUNDER

ARTERI SEKUNDER

TRANSPORTASI

TRANSPORTASI
DUKUH ATAS -

(R)

BLOK M - (R)

POTENSI TITIK TRANSIT

AKTIVITAS PERPINDAHAN MODA

KESESUAIAN KELAS PELAYANAN KLASIFIKASI


FATMAWATI - (U1) LEBAK BULUS - (R)

KEBUTUHAN RUANG PERPINDAHAN MODA

STRUKTUR MORFOLOGI KAWASAN


UNDERGROUND

ELEVATED

DOWNTOWN
POLA GRID
DOMINASI

NEIGHBORHOOD
POLA ORGANIK
DOMINASI

STRUKTUR MORFOLOGI KAWASAN


Karakter besaran blok
BUNDARAN HI (U-1)

Tipologi pengembangan linier layer 1 dualisme layer 2 kampung kota, kantung permukiman Perbaikan struktur kawasan redevelopment, pengembangan CIPETE (U-2) tipologi hunian

INTENSITAS

DOWNTOWN KLB : 3,0 4,0

NEIGHBORHOOD KLB : 1,2 2

INTENSITAS
BLOK M
GARDEN CITY ZONE
REGIONAL

BLOK A
SOUTHERN DOWNTOWN ZONE
NEIGHBORHOOD CENTER

U-2

LEBAK BULUS
GATEWAY ZONE
REGIONAL

RUANG TERBUKA DAN TATA HIJAU


2.16% 3.62% 7.39% 9.76%

1.08%

2.59%

1.58%

3.14%

9.55%

1.52%

3.13%

0.95%

2.09%

RUANG TERBUKA DAN TATA HIJAU


DUKUH ATAS

SUDIRMAN KOMPOSISI HIJAU RENCANA : 9.55% CBD ZONE


ISTORA -

LEBAR PEDESTRIAN :

5M

KESESUAIAN JALUR PEDESTRIAN DENGAN HIRARKI JALAN, BEBAN REGIONAL PERGERAKAN PEJALAN KAKI

(U1)

ISTORA
LEBAR PEDESTRIAN :

KONDISI FISIK DAN VISUAL YANG MEMBERIKAN KENYAMANAN BAGI PEDESTRIAN 1.2M USULAN PENGEMBANGAN URBAN KOEFISIEN HIJAU DAN CENTER RUANG TERBUKA PUBLIK SEBAGAI PUSAT ORIENTASI

KOMPOSISI HIJAU RENCANA :

SENAYAN 7 39% 7.39% CBD ZONE


(R)

U-1

DUKUH ATAS-

LEBAK BULUS

GATEWAY KOMPOSISI HIJAU RENCANA : 2.09% ZONE


LEBAK BULUS-

LEBAR PEDESTRIAN :

1.2M

REGIONAL

(R)

TATA BANGUNAN
40 lt

60 lt

Stasiun Setiabudi TATA BANGUNAN

BUNDARAN HI
40 lt

Imbas konstruksi stasiun d dan rel l MRT pada d bangunan tepi koridor SUDIRMAN arahan penataan URBAN CBD ZONE CENTER Perubahan tipologi hunian

U-1

ISTORA
60 lt

AREA CBD bangunan lebih rapat, terkoneksi, kemudahan pergerakan, SENAYAN kenyamanan pada iklim URBAN CBD ZONE tropis i CENTER

U-1

CIPETE

Arahan pasar tipologi komersial , hunian sesuai konteks kawasan SOUTHERN DOWNTOWN ZONE
NEIGHBORHOOD CENTER

U-2

LAND AVAILABILITY

ARAHAN PENGEMBANGAN AREA TRANSIT


4
PANDUAN PENATAAN / PENGEMBANGAN AREA TRANSIT
urban sub urban

R
REGIONAL URBAN CORE
arahan h pengembangan b
Karakteristik PUSAT KEGIATAN apa yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

U-1
URBAN CENTER
PUSAT AKTIVITAS KOTA
dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan konteks lingkungan KOTA

U-2
URBAN NEIGHBORHOOD
DISTRIK HUNIAN KOTA
dengan dominasi HUNIAN dengan konteks lingkungan KOTA

SU-1
SUB URBAN CENTER
PUSAT AKTIVITAS SUB URBAN
dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan konteks lingkungan SUB URBAN setempat

SU-2
SUB URBAN NEIGHBORHOOD
DISTRIK HUNIAN SUB URBAN
dengan dominasi HUNIAN dengan konteks lingkungan SUB URBAN setempat

PUSAT PRIMER PENTING


dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan lingkup kegiatan REGIONAL

lingkup layanan
Sejauh apa skala layanan FUNGSI KEGIATAN yang ada /akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

skala layanan REGIONAL

skala layanan PUSAT KOTA / URBAN CENTER

skala layanan LINGKUNGAN KOTA / URBAN NEIGHBORHOOD

skala layanan PUSAT SUB URBAN / SUB URBAN CENTER

skala layanan LINGKUNGAN SUB URBAN / SUB URBAN NEIGHBORHOOD

jenis keragaman tata guna lahan

dominasi penggunaan fleksibel

dominasi penggunaan hunian

mixed use
KERAGAMAN PALING TINGGI
Bagaimana keragaman dan kepadatan TATA GUNA LAHAN yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini? campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya, serta pusat pemerintahan (civic center) atau pusat bisnis bergengsi

single use
KERAGAMAN TINGGI
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya

KERAGAMAN TINGGI-SEDANG
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya yang dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial berskala lingkungan

KERAGAMAN SEDANG
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya

KERAGAMAN RENDAH
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya yang dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial berskala lingkungan

tata guna lahan

komposisi fungsi kegiatan

working

>>

living

working

>

living

working

<

living

working

<<

living

working

<<<

living

working
Bagaimana komposisi DOMINASI FUNGSI KEGIATAN antara hunian dan non hunian yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

working living g

working living

working living g

working living

living

70% : 30%
P ADAT

60% : 40%

40% : 60%

30% : 70%

20% : 80%

arahan kepadatan

K UR ANG P ADAT T IDAK P ADAT


PADAT PADAT - KURANG PADAT KURANG PADAT KURANG PADAT - TIDAK PADAT TIDAK PADAT

intensitas
Bagaimana arahan KEPADATAN / PSL (Pola Sifat Lingkungan) di sekitar Area Transit ini yang diatur dalam RTRW 2030?

HIGHEST density

HIGH density

HIGH-MEDIUM density

MEDIUM density

LOW density

ARAHAN PENGEMBANGAN AREA TRANSIT


urban sub urban

R
REGIONAL URBAN CORE

U-1
URBAN CENTER

U-2
URBAN NEIGHBORHOOD

SU-1
SUB URBAN CENTER

SU-2
SUB URBAN NEIGHBORHOOD

struktur kawasan pola dominasi POLA GRID


(efisiensi)

dominasi POLA ORGANIK


(kontekstual dg alam)

sifat permeabilitas blok

SANGAT TINGGI menembus blok/bangunan LABIRIN, SUMBU, VISTA bangunan DERET


(attached)

TINGGI menembus blok/bangunan

TINGGI - SEDANG melewati jalur pedestrian

SEDANG melewati jalur pedestrian

RENDAH melewati jalur pedestrian RUANG TERBUKA, LANDMARK, VISTA bangunan TUNGGAL
(detached)

pengalaman ruang

tipologi bangunan

fungsi retail lantai dasar aksesibilitas konektifitas antar blok

ATURAN WAJIB

ATURAN WAJIB

ATURAN ANJURAN UTAMA

ATURAN ANJURAN UTAMA

ATURAN ANJURAN

TINGGI seluruh lantai bangunan


(besmen, lantai dasar, & lantai atas)

RENDAH lantai dasar / muka tanah

pembatasan area parkir

S ANG AT K E T AT

K E T AT

MO DE R AT

L O NG G AR

S ANG AT L O NG G AR

menejemen parkir

lokasi parkir

DOMINASI BESMEN TERPADU (dedicated area) peraturan pembatasan parkir dalam UDGL insentif pengaturan parkir WAJIB WAJIB ANJURAN UTAMA ANJURAN UTAMA

DOMINASI PARKIR MUKA TANAH (undedicated area) ANJURAN

TINGGI

TINGGI

SEDANG

SEDANG

RENDAH

KAJIAN NORMATIF DAN SURVEY


APA ?
ELEMEN PERANCANGAN KOTA
GUNA LAHAN SIRKULASI TRANSPORTASI INTENSITAS RUANG TERBUKA TATA BANGUNAN MORFOLOGI KETERSEDIAAN LAHAN

LOKASI

1. St. Bundaran HI 2. St. Dukuh Atas 3. St. Setiabudi 4. St. Bendungan Hilir 5. St. Istora 6 St. 6. St Senayan 7. St. Sisingamangaraja 8. St. Blok M 9. St. Blok A 10. St. H. Nawi

11. St. Cipete

13. St. Lebak Lubus

12. St. Fatmawati

KAJIAN NORMATIF DAN SURVEY


DIMANA ?
AREA PEYANGGA

AREA INTI PERGERAKAN

AREA CORE STASIUN

R : 350M

R : 700M

LUASAN DAERAH PERENCANAAN


LUASAN DP 2 (R - 350M) : 38.5 HA DAERAH PERENCANAAN

PRINSIP PERANCANGAN
SIRKULASI dan d KONEKTIFITAS 1
Meningkatkan permeabilitas kawasan dengan jalur-jalur pedestrian d t i menembus b b bangunan d dan k kawasan pada d berbagai layer yaitu lantai basemen, lantai dasar dan lantai atas

Memperbaiki hirarki jalan sebagai pembentuk struktur ruang kota dan mempermudah pergerakan / mobilitas di kawasan

Jalur sirkulasi didesain sehingga jelas dan efisien dengan memperpendek jarak pencapaian dan meningkatkan kenyamanan Jalur pedestrian, jalur sepeda yang menerus dan nyaman dengan g p penataan lansekap py yang g baik

PRINSIP PERANCANGAN
TATA GUNA LAHAN 1
Lantai dasar berfungsi sebagai komersial retail yang berorientasi terhadap kegiatan pedestrian Penggunaan campuran (mixed use) sehingga mempermudah pencapaian dan menciptakan rasa keamanan dengan adanya kegiatan selama 24 jam (hunian-komersial-perkantoran)

Pemanfaatan lantai basemen sebagai kegiatan komersial yang ya g te terpadu padu de dengan ga kegiatan eg ata t transit a s t da dan fungsi u gs kawasan a asa sekitarnya

PRINSIP PERANCANGAN
INTENSITAS 1
Mengoptimalkan nilai KLB pada kawasan sesuai d dengan k karakter kt k kawasan t transit it sehingga hi mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan dan meningkatkan ridership

Menerapkan nilai KDH pada kawasan transit hingga sehingga tetap terjaminnya ketersediaan ruang g terbuka hijau j p pada kawasan transit y yang g padat

ARAHAN PENGEMBANGAN AREA TRANSIT


4
PANDUAN PENATAAN / PENGEMBANGAN AREA TRANSIT
urban sub urban

R
REGIONAL URBAN CORE
arahan h pengembangan b
Karakteristik PUSAT KEGIATAN apa yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

U-1
URBAN CENTER
PUSAT AKTIVITAS KOTA
dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan konteks lingkungan KOTA

U-2
URBAN NEIGHBORHOOD
DISTRIK HUNIAN KOTA
dengan dominasi HUNIAN dengan konteks lingkungan KOTA

SU-1
SUB URBAN CENTER
PUSAT AKTIVITAS SUB URBAN
dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan konteks lingkungan SUB URBAN setempat

SU-2
SUB URBAN NEIGHBORHOOD
DISTRIK HUNIAN SUB URBAN
dengan dominasi HUNIAN dengan konteks lingkungan SUB URBAN setempat

PUSAT PRIMER PENTING


dari kegiatan bisnis, ekonomi perdagangan, dan kebudayaan dengan lingkup kegiatan REGIONAL

lingkup layanan
Sejauh apa skala layanan FUNGSI KEGIATAN yang ada /akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

skala layanan REGIONAL

skala layanan PUSAT KOTA / URBAN CENTER

skala layanan LINGKUNGAN KOTA / URBAN NEIGHBORHOOD

skala layanan PUSAT SUB URBAN / SUB URBAN CENTER

skala layanan LINGKUNGAN SUB URBAN / SUB URBAN NEIGHBORHOOD

jenis keragaman tata guna lahan

dominasi penggunaan fleksibel

dominasi penggunaan hunian

mixed use
KERAGAMAN PALING TINGGI
Bagaimana keragaman dan kepadatan TATA GUNA LAHAN yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini? campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya, serta pusat pemerintahan (civic center) atau pusat bisnis bergengsi

single use
KERAGAMAN TINGGI
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya

KERAGAMAN TINGGI-SEDANG
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya yang dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial berskala lingkungan

KERAGAMAN SEDANG
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya

KERAGAMAN RENDAH
campuran dari hunian hunian, ekonomi/perdagangan, budaya yang dilengkapi dengan fasilitas umum/sosial berskala lingkungan

tata guna lahan

komposisi fungsi kegiatan

working

>>

living

working

>

living

working

<

living

working

<<

living

working

<<<

living

working
Bagaimana komposisi DOMINASI FUNGSI KEGIATAN antara hunian dan non hunian yang ada / akan dikembangkan di sekitar Area Transit ini?

working living g

working living

working living g

working living

living

70% : 30%
P ADAT

60% : 40%

40% : 60%

30% : 70%

20% : 80%

arahan kepadatan

K UR ANG P ADAT T IDAK P ADAT


PADAT PADAT - KURANG PADAT KURANG PADAT KURANG PADAT - TIDAK PADAT TIDAK PADAT

intensitas
Bagaimana arahan KEPADATAN / PSL (Pola Sifat Lingkungan) di sekitar Area Transit ini yang diatur dalam RTRW 2030?

HIGHEST density

HIGH density

HIGH-MEDIUM density

MEDIUM density

LOW density

ARAHAN PENGEMBANGAN AREA TRANSIT


urban sub urban

R
REGIONAL URBAN CORE

U-1
URBAN CENTER

U-2
URBAN NEIGHBORHOOD

SU-1
SUB URBAN CENTER

SU-2
SUB URBAN NEIGHBORHOOD

struktur kawasan pola dominasi POLA GRID


(efisiensi)

dominasi POLA ORGANIK


(kontekstual dg alam)

sifat permeabilitas blok

SANGAT TINGGI menembus blok/bangunan LABIRIN, SUMBU, VISTA bangunan DERET


(attached)

TINGGI menembus blok/bangunan

TINGGI - SEDANG melewati jalur pedestrian

SEDANG melewati jalur pedestrian

RENDAH melewati jalur pedestrian RUANG TERBUKA, LANDMARK, VISTA bangunan TUNGGAL
(detached)

pengalaman ruang

tipologi bangunan

fungsi retail lantai dasar aksesibilitas konektifitas antar blok

ATURAN WAJIB

ATURAN WAJIB

ATURAN ANJURAN UTAMA

ATURAN ANJURAN UTAMA

ATURAN ANJURAN

TINGGI seluruh lantai bangunan


(besmen, lantai dasar, & lantai atas)

RENDAH lantai dasar / muka tanah

pembatasan area parkir

S ANG AT K E T AT

K E T AT

MO DE R AT

L O NG G AR

S ANG AT L O NG G AR

menejemen parkir

lokasi parkir

DOMINASI BESMEN TERPADU (dedicated area) peraturan pembatasan parkir dalam UDGL insentif pengaturan parkir WAJIB WAJIB ANJURAN UTAMA ANJURAN UTAMA

DOMINASI PARKIR MUKA TANAH (undedicated area) ANJURAN

TINGGI

TINGGI

SEDANG

SEDANG

RENDAH

KEWENANGAN JENIS ATURAN


GUBERNUR KDKI JAKARTA (Keputusan) - Peruntukan lahan umum - KLB - KDB - Ketinggian bangunan - GSB - Jarak Bebas Bangunan - Transfer KLB < 10% di dalam satu blok - Pembatasan rasio penyediaan parkir - Penataan batas kavling - Pengaturan parkir on-street, on-ground, dan parkir bersama antar kavling - Penyediaan akses pedestrian menuju titik transit - Koridor Transit Penghubung Pedestrian Layang dan Besmen - Penyediaan Toilet Publik - Penyelesaian atap taman/hijau - Penyediaan elemen seni publik - Penyediaan arkade menerus - Penyediaan transit plaza dibahas bersama KEPALA DINAS TATA RUANG (Keputusan) TIM PENASEHAT ARSITEKTUR KOTA (Rekomendasi)

WAJIB

- KDH - KTB - Transfer KLB > 10% - Pengaturan integrasi pintu masuk stasiun dengan kavling - Akses pedestrian publik pada lahan privat - Koridor transit penghubung pedestrian menembus blok pada lantai dasar

BONUS INSENTIF

- Peruntukan lantai dasar (retail) dan besmen

- Penyediaan Ruang Terbuka Publik pada lahan '- Penyediaan Ruang Terbuka Publik dalam sendiri bangunan

ANJURAN UTAMA

- Penyediaan Lobi Transit Publik pintu masuk stasiun MRT

- Penyediaan bangunan parkir, parkir besmen, parkir mekanik - Penyediaan ruang untuk sektor informal - Luas lahan - Pemecahan dan penggabungan sub-blok dan g kavling - Pengembangan pengelolaan superblok

memberi saran

REKOMENDASI TINGGI

- Komposisi peruntukan - Penggunaan lahan - Peraturan zonasi atas fungsi - Bentuk massa / tata bangunan - Sirkulasi pejalan kaki mikro - Sirkulasi moda transportasi Kesesuaian dengan PRK Kualitas Fungsional - organisasi fungsi - keterkaitan fungsi Kualitas Visual - estetika - gubahan massa - kinerja arsitektural - tata informasi - bahan/warna bangunan Kualitas Lingkungan - pencahayaan - sirkulasi udara - tata hijau dan ruang terbuka - kepentingan umum - aspek sosial-budaya

ANJURAN

KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN STASIUN BUNDARAN HI STASIUN DUKUH ATAS

STASIUN BUNDARAN HI

STASIUN DUKUH ATAS

STASIUN BUNDARAN HI

KONSEP PERUNTUKAN MAKRO

KONSEP PERUNTUKAN LANTAI DASAR

KONSEP POLA PERGERAKAN MUKA TANAH

KONSEP POLA PERGERAKAN LANTAI BESMEN

KONSEP POLA TATA MASSA BANGUNAN

KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN STASIUN SENAYAN STASIUN ISTORA

KONSEP PERUNTUKAN LAHAN MAKRO

EKSISTING

KONSEP PERUNTUKAN LAHAN LANTAI DASAR

KONSEP PERUNTUKAN LAHAN MAKRO

EKSISTING

KONSEP PERUNTUKAN LAHAN LANTAI DASAR

EKSISTING

KONSEP INTENSITAS LAHAN

NAMA KAVLING G BLOK NOMOR KAPLING


IS_1 IS_2 IS_3 IS_4 _ a b a b c d e f

ACUAN LEGAL
LUAS LAHAN / KAPLING
LRK DKI JAKARTA

RENCANA PENGEMBANGAN
LUAS LANTAI PERUNTUKAN INTENSITAS T/D
Kut Phu Sro Kkt Wkt/Wdg Kkt Mdt Kkt Kkt Kkt Kkt Kpm Kkt T T T T T T T T T T T

INTENSITAS PERUNTUKAN T/D KDB (%)


20 50 40 55 40 40 40 40 40 50 52

LUAS LANTAI TB
32 2 24 35 35 50 29 32 32 16 80

KLB
2,0 0,0 0,1 5,0 30 3,0 5,8 5,8 7,0 6,7 4,4 3,5 8,1

TB (lantai)
32 2 24 8 32 32 29 32 25 16 80

Dasar (m2)
27.058 44.814 16.398 17 041 17.041 8.794 7.354 3.142 3.429 4.702 71.351 16.581

Total (m2)
270.584 8.963 204.980 92 952 92.952 127.507 106.639 54.992 57.439 51.718 499.457 259.233

KDB
20 50 40 55 40 40 40 40 40 50 50

KLB
2,0 0,0 0,1 5,0 60 6,0 6,0 0,0 7,0 7,0 7,0 6,0 4,0 8,0

Dasar (m2)
27.058 44.814 16.398 17 041 17.041 8.794 7.354 3.142 3.429 4.702 71.351 15.943

Total (m2)
270.584 8.963 204.980 185 904 185.904 131.904 128.702 54.992 60.011 70.524 570.808 255.088

ISTORA

IS_5

IS_6

IS_7

135.292 66.915 89.627 40.996 30 984 30.984 21.984 3.815 18.386 7.856 8.573 11.754 142.702 31.886

Kut Phu Sro Kkt Wsn Kkt Mdt Kkt Kkt Kkt Kkt Kpm Kkt

T T T T T T T T T T T

TOTAL

610.770

36,13%

2,8

220.664

1.734.464

36,02%

3,18

220.027

1.942.460

EKSISTING

KONSEP INTENSITAS LAHAN

NAMA KAVLING BLOK NOMOR KAPLING


a b c

ACUAN LEGAL
LUAS LAHAN / KAPLING
LRK DKI JAKARTA

RENCANA PENGEMBANGAN
LUAS LANTAI PERUNTUKAN INTENSITAS T/D
Kkt/Kpd Kpm p Kkt/Kpd Kkt/Kpd Kut Kkt/Kpd Kkt/Kpd Kpm Kkt/Kpd Kkt Wkt/Wdg Wkt/Wdg Wsn Wkt/Wdg Wkt/Wdg Wsn Kkt Wsn Spd Wsd/Wbs T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T

INTENSITAS PERUNTUKAN T/D KDB (%)


50 45 45 45 20 40 40 45 45 40 40 40 60 20 20 40 45 40 40 60

LUAS LANTAI TB (lantai) Dasar (m2)


42 24 24 50 40 32 50 8 24 40 16 30 30 45 45 30 24 30 4 2 5.569 19.021 18.590 9.582 7.823 39.841 11.637 4.080 16.817 2.194 2.208 2 418 2.418 3.958 6.159 5.829 8.652 6.215 5.590 2.142 5.447

KLB
6,0 4,0 , 4,0 4,0 2,5 3,0 3,0 2,5 4,0 5,0 3,0 40 4,0 1,2 3,0 5,0 3,5 4,0 3,5 1,6 1,2

TB (lantai)
42 24 24 24 24 32 32 8 24 40 16 24 2 16 16 6 24 6 4 2

Dasar (m2)
5.569 19.021 18.590 9.582 7.823 39.841 11.637 4.080 16.817 2.194 2.208 2 418 2.418 3.958 3.080 2.915 8.652 6.215 5.590 2.142 5.447

Total (m2)
66.822 169.076 165.248 85.172 97.788 298.809 87.276 22.668 149.484 27.420 16.560 24 176 24.176 7.916 46.194 72.865 75.705 55.240 48.909 8.568 10.894

KDB (%)
50 45 45 45 20 40 40 45 45 40 40 40 60 40 40 40 45 40 40 60

KLB
6,0 4,0 , 4,0 7,0 5,0 3,0 7,0 3,0 7,0 5,0 5,0 50 5,0 5,0 6,0 6,0 5,0 4,0 5,0 2,0 1,2

Total (m2)
66.822 169.076 165.248 149.051 195.575 298.809 203.644 27.201 261.597 27.420 27.600 30 220 30.220 32.985 92.388 87.438 108.150 55.240 69.870 10.710 10.894

SN_1 SN_2 SN_3 SN_4

a b a b c d e f g h i a b c

SE ENAYAN

SN_5

SN_6

SN_7

11.137 42.269 41.312 21.293 39.115 99.603 29.092 9.067 37.371 5.484 5.520 6 044 6.044 6.597 15.398 14.573 21.630 13.810 13.974 5.355 9.078

Kkt/Kpd p Kpm Kkt/Kpd Kkt/Kpd Kut Kkt/Kpd Kkt/Kpd Kpm Kkt Kkt Wsn Wsn Wbs Wst Wst Wsn Kkt Wsn Spd Wsd/Wbs

T T T T T T T T T T T T T T T T T T T T

TOTAL

447.722

39,71%

3,4

177.776

1.536.789

4,67

183.771

2.089.938

KONSEP POLA PERGERAKAN MUKA TANAH

KONSEP POLA PERGERAKAN LANTAI BESMEN

KONSEP POLA TATA MASSA BANGUNAN

DEFINISI
Insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan tata ruang Disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang. Merupakan perangkat perangkat atau instrumen-instrumen ekonomi/keuangan, fisik, politik, regulasi/kebijaksanaan, yang dapat mendorong atau menghambat pemanfaatan ruang agar tetap sesuai dengan rencana tata ruang.

Definisi menurut UU No. 24 th. 1992 ps.1 butir b

Landasan L d K Kewenangan d dan Prosedur P d Pengenaan Insentif dan Disinsentif

Hak Penetapan penguasaan dan kepemilikan hak atas tanah. UU no no,5 5 th th. 1960 ttg peraturan pokok agraria agraria, negara meguasai bumi bumi, air dan ruang angkasa (hak membangun dan menerapkan penataan ruang) Police power : Kewenangan pemerintah untuk melakukan pengaturan, pengawasan dan pengendalian di atas lahan maupun kegiatannya Eminent domain : tindakan pengambil alihan atau pencabutan hak atas tanah jika masyarakat menghendaki dan bertujuan untuk kepentingan umum dengan syarat substansi dan prosedural Perpajakan dan Restribusi : beban atau pungutan yang dimaksudkan untuk kepentingan umum dan dilaksanakan secara adil tanpa diskriminasi

Tujuan Penerapan Insentif dan Disinsentif pada P Pengembangan b K Kawasan MRT


Mewujudkan kawasan stasiun yang terintegrasi dan nyaman bagi penggunanya Mendorong kelancaran pergerakan /perpindahan orang dengan kemudaan akses-akses publik dan ruang ruang orientasi pada kawasan Mencegah terjadinya degradasi pada ruang kota akibat tingginya dan beragamnya aktivitas pada kawasan transit Mendorong partisipasi masyarakat dalam terwujudnya ruang kota yang nyaman Merangsang pembangunan kawasan sekitar stasiun untuk melakukan pembangunan baru, revitalisasi maupun pengembangan infill Mewujudkan ruang ruang publik yang berkualitas sehingga menciptakan image kawasan stasiun dan ruang kota yang baik Menciptakan berbagai aktivitas publik sehingga terciptanya integrasi ruang sosial M Menciptakan i t k ruang kota k t yang nyaman, manusiawi i i dan d berkelanjutan b k l j t

Prinsip Insentif dan Disinsentif pada Pengembangan Kawasan MRT


Adanya dampak-dampak yangmempengaruhi tata ruang (eksternalitas ( k t lit positif itif / negatif) tif) Adanya Good Governance yang baik Adanya kegiatan pemanfaatan ruang dalam anggaran gg p pembangunan g / Program g kegiatan g pemanfaatan ruang yang jelas Perangkat hukum / opsional sebagai antisipasi terhadap keterbatasan dan kendala penegakan hukum dalam penataan ruang Nilai besaran elemen insentif dan insentif ruang kota yang tepat Mekanisme yang tepat sehingga tidak terjadi penyalahgunaan penggunaan fasilitas publik tersebut setelah masa pemakaian

Perangkat hukum
Saat ini instrumen instrumen insentif dan disinsentif yang telah dipakai secara resmi masih terbatas pada peruntukan intensitas bangunan (KDB, KLB, dan ketinggian bangunan) dikaitkan dengan besarnya restribusi pembangunan pembangunan. SK Gubernur KDKI Jakarta No.25 Th. 1990 tentang Prosedur Pelaksanaan Pedoman Operasional p Pelayanan y terhadap p Pengarahan Pola Intesitas Bangunan , Daerah Perencanaan, KDB, KLB dab Ketinggian Bangunan di Wilayah DKI Jakarta. SK Gubernur KDKI Jakarta No No. 678 Th Th. 1994 tentang Peningkatan Intensitas Pembangunan di Wilayah DKI Jakarta

Perangkat hukum
Bab X. X Psl. Psl 187 (2) (2) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas: a. arahan peraturan zonasi; b. arahan perizinan; c. arahan pemberian insentif dan disinsentif; dan d. arahan sanksi administrasi. Pasal 198 Pemberian insentif dan disinsentif dalam penataan ruang diselenggarakan untuk: a. meningkatkan upaya pengendalian pemanfaatan ruang dalam rangka mewujudkan tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang; b. memfasilitasi kegiatan pemanfaatan ruang agar sejalan dengan rencana tata ruang; dan c. meningkatkan kemitraan semua pemangku kepentingan dalam rangka pemanfaatan ruang yang sejalan j l d dengan rencana tata ruang. Pasal 200 (1) Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana struktur ruang, rencana e ca a po pola a ruang, ua g, da dan ketentuan ete tua u umum u pe peraturan atu a zonasi o as ya yang gd diatur atu da dalam a Peraturan e atu a Daerah ini. (2) Prioritas pemberian insentif diarahkan pada penyediaan dan penambahan RTH, penanggulangan banjir, upaya mengatasi masalah kemacetan lalu lintas serta upaya pelestarian bangunan cagar budaya. (3) Insentif diberikan dengan tetap menghormati hak orang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 201 (1) Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. (2) Prioritas pengenaan disinsentif diarahkan pada kegiatan pembangunan yang merubah bentang alam yang berdampak negatif pada lingkungan di sekitarnya, meningkatkan bangkitan lalu lintas di atas kapasitas jaringan jalan. Pasal 202 (1) Insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 200 dapat berupa insentif fiskal dan/atau insentif non fiskal. (2) Insentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. pemberian keringanan pajak; dan/atau b. pengurangan retribusi. (3) Insentif non fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. pemberian kompensasi; b. subsidi silang; c. kemudahan perizinan; d. imbalan; e. sewa ruang; f. urun saham; g. penyediaan prasarana dan sarana; h. penghargaan; dan/atau i publikasi atau promosi i. promosi.

Pasal 203 (2) Insentif dari Pemerintah Daerah kepada masyarakat dapat berupa: a. pemberian keringanan pajak; b. pemberian kompensasi; c. pengurangan retribusi; d. imbalan; e. sewa ruang; f. urun saham; g. penyediaan prasarana dan sarana; dan/atau h. kemudahan perizinan. Pasal 204 (1) Disinsentif diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan yang dibatasi pengembangannya. (2) Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberikan dengan tetap menghormati hak orang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang perundang-undangan. undangan (3) Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa a; disinsentif fiskal; dan b. disinsentif non fiskal. (4) Disinsentif fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berupa pengenaan pajak yang tinggi. (5) Disinsentif non fiskal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, berupa: a. kewajiban memberi kompensasi; b. pensyaratan khusus dalam perizinan; c kewajiban memberi imbalan; dan/atau c. d. pembatasan penyediaan prasarana dan sarana.

Pasal 205 (2) Disinsentif dari Pemerintah Daerah kepada masyarakat dapat berupa: a. kewajiban memberi kompensasi; b. pensyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah daerah; c kewajiban memberi imbalan; dan c. d. pembatasan penyediaan sarana dan prasarana.

Level Aturan Fungsi Guna Lahan

Kewajiban

Insentif

***** *** ***** ***** ***** *** **

Mengadakan fungsi komersial retail di lantai dasar pada sisi bangunan yang berhadapan dengan stasiun dan jalan utama kawasan sebagai jalur kegiatan pedestrian utama Mengadakan fungsi campuran (mixed -used ) antara berbagai fungsi yang ditata secara terpadu

Luas lantainya tidak diperhitungkan sebagai nilai KLB Memberikan bonus peningkatan KLB

Aksesibilitas dan Linkage Pedestrian


Membuka akses publik bagi lahan dan bangunan privat yang menghubungkan stasiun selama tidak kurang dari 20 jam, yaitu sejak jam 4 dini hari hingga jam 12 malam hari Menyediakan akses pedestrian pada lantai dasar, lantai basemen, dan lantai atas yang menghubungkan stasiun dan antar bangunan ke bangunan dengan jembatan maupun koridor pedestrian Mendedikasikan sebagian lahan privat sebagai ruang pedestrian, jalur sepeda dan ruang transit (pintu masuk) yang terbuka bagi publik Menyediakan ruang - ruang sirkulasi terbuka sebagai aktifitas pedestrian seperti p p p pedestrian mall y yang g berada di antara bangunan g sebagai jalur tembus dan sekaligus sebagai ruang aktivitas retail yang menarik Mendedikasikan lahan untuk memperlebar ruang pedestrian dengan penataan lansekap dan furniture Luas lantainya tidak diperhitungkan sebagai nilai KLB jembatan lebar minimum 4 meter, koridor 5 meter tidak diperhitungkan dalam KLB Luas yang terpakai sbg fasilitas publik tidak diperhitungkan Luas y yang g didedikasikan sebagaoi g pedestrian mall tidak dihitung dalam KLB Luas yang didedikasikan tidak dihitung sebagai nilai KLB

Parkir bersama dengan akses menembus bangunan

***
Catatan:

Menyediakan parkir dalam struktur bangunan atau basemen yang digunakan secara bersamaan dengan akses kendaraan yang menembus antar bangunan atau basemen sehingga mempermudah pencapaian

Luas lantai parkir yang digunakan secara bersama tidak diperhitungkan sebagai nilai KLB selama tidak melebihi 20% dari luas total lantai

** *** *****

Sebagai anjuran utama Sebagai aturan wajib Sebagai aturan wajib utama

Level Aturan Ruang Terbuka Publik

Kewajiban

Insentif

**** **

Menyediakan ruang-ruang terbuka publik berupa plaza, pocket park, atrium dll. sebagai kontak sosial, ruang orientasi, ruang berkumpul yang berada pada lahan privat maupun di dalam bangunan y ruang g terbuka p publik sebagai g ruang g ekspresi p seni seperti p Menyediakan teater terbuka, ruang pameran, dan lain sebagainya yang berada di ruang privat maunpun di antara bangunan

tinggi lantai bangunan diperkenankan mencapai maksimal 10 meter

Memberikan bonus peningkatan KLB

Fasilitas Transit

*****

Menyediakan ruang transit yang berupa halte, ruang terbuka, maupun bangunan sebagai tempat pergantian moda maupun feeder bagi pengguna publik transport

Memberikan bonus peningkatan KLB

Mitigasi Bencana

***** *****

Menyediakan ruang mitigasi bencana sesuai dengan standart yang ditentukan di dalam bangunan guna kepentingan keselamatan publik Menyediakan signage yang jelas khususnya yangberkaitan dengan keselamatan publik pada saat terjadi bencana

Memberikan bonus peningkatan KLB Memberikan bonus peningkatan KLB

Ruang Terbuka Hijau


Menyediakan ruang terbuka hijau pada berbagai layer sebagai area resapan air, sirkulasi udara, yang berada pada lahan privat maupun lahan antar bangunan berupa taman halaman, taman antar bangunan, taman di atap bangunan yang tidak saja bersifat pasif namun dapat pula bersifat aktif Menyediakan elemen lansekap publik yang menarik seperti air mancur, taman gantung, dsb sebagai salah satu ruang terbuka publik yang menarik yang berada pada lahan privat maupun lahan antar bangunan

*****

Memberikan bonus peningkatan KLB

**

Memberikan bonus peningkatan KLB

Level Aturan

Kewajiban Sektor Informal Kaki Lima

Insentif

*** ***** *** ** **

Menyediakan tempat sebagai ruang bagi sektor informal kaki lima yang dapat diintegrasikan pada bangunan maupun berada pada ruang luar

Memberikan bonus peningkatan KLB

Hunian Vertikal
Membangun rumah susun menengah - atas dengan kualitas arsitektural dan keterpaduan penataan dengan kawasan sekitarnya Membangun rumah susun sederhana dengan kualitas arsitektural dan keterpaduan penataan dengan kawasan sekitarnya Memberikan bonus peningkatan KLB Memberikan bonus peningkatan KLB

Tata Bangunan
Membangun arcade pada kawasan jalur pedestrian utama khususnya pada jalur retail yang berhadapan dengan stasiun maupun jalur utama Memberikan kontribusi pada desain arsitektur bangunan maupun ruang luar yang menarik namun masih sesuai dan harmonis dengan lingkungan sekitarnya dan telah melalui sidang TPAK sehingga mampu berperan untuk meningkatkan nilai visual dan ekonomi kawasan

Memberikan bonus peningkatan KLB

Memberikan penghargaan dan kemudahan ijin dan administrasi

Sustainability bl

*** ***

Mengedepankan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan dalam hal penggunaan material dan penggunaan energi. Menyediakan fasilitas publik seperti toilet umum, umum ruang beribadah, beribadah dan pusat informasi publik untuk menunjang kenyamanan aktivitas pada kawasan

Memberikan bonus peningkatan KLB, penghargaan dan kemudahan ijin dan administrasi

Memberikan bonus peningkatan KLB

TERIMA KASIH

JAKARTA MASS TRANSIT SYSTEM 2015

TOD DI INDONESIA

JAKARTA MASS TRANSIT SYSTEM 2015

Berorientasi pada titik-titik transit Angkutan umum massal menjadi tulang punggung pergerakan manusia dan mendukung pergerakan angkutan kota eksisting Zonasi berbasis bangkitan pergerakan setiap fungsi dan jangkauan yang bisa dicapai pejalan-kaki Fasilitas umum dan fungsi komersial retail diletakkan lebih dekat titik transit
100

Jalur Angkutan Kota saat ini

PRINSIP TOD
Integrasi fungsi transit dengan kawasan sekitarnya Fungsi hunian, ruang terbuka, komersial, perkantoran harus dapat diakses dengan mudah dari titik transit kawasan (Stasiun) Penciptaan jalur pejalan pejalan-kaki kaki yang nyaman dan terpadu dengan pengembangan TOUD Menyediakan hunian yang bervariasi Penciptaan ruang terbuka publik sebagai salah satu pengikat antar massa bangunan Melakukan pengembangan baru di sepanjang jalur transit yang dipadukan dengan bangunan eksisting

TRANSIT-ORIENTED URBAN DEVELOPMENT: PENGALAMAN JAPAN RAIL

UMUM VS KHUSUS
(Conventional)Public Transportation

vs.

MassRapidTransit(MRT)Transportation

OnGround Elevated Track

OnGround

vs.

Elevated Underground

Track

Transit T itOriented O i t dDevelopment D l t TOD (innewdevelopmentarea)

vs.

T Transit itOriented O i t dREDevelopment RED l t TOrD TO D (indevelopedarea/ indevelopingarea) Multi&MixedUseZone

SingleUseZone

vs.

TOD
TRANSIT-ORIENTED REDEVELOPMENT DEVELOPMENT

(( TOrD TOD))
PROPERTY MARKET TRANSPORT system

SOCIAL,EKONOMI URBAN REdevelopment GAYAHIDUP

Kepadatan (DENSITY) Kepadatan kawasan pengembangan yang terkait dengan radius pelayanan titik transit Keragaman (DIVERSITY) beragamnya fungsi di kawasan (mixed-use mixed use) Desain (DESIGN) Desain kawasan g terpadu yang dengan kawasan lainnya

MENGKATEGORISASIKAN AREA TOD DI JAKARTA

FRAMEWORKOFTHINKING
JMTS 2015
TOTAL MODES OF TRANSPORTATION for each Transit Nodes TYPES OF TODs DEVELOPMENTS for each MRT Stations Areas

MAP OF TOD AREAS IN JAKARTA

ARAHAN LAYANAN TRANSPORTASI Setiap Titik Transit

URBAN TRANSIT ZONE MAP

DEVELOPMENT ZONE for each MRT Stations Areas

(TRANSPORTATION DEVELOPMENT POLICY)

MAP OF THE LOCATIONS OF 12 MRT STATIONS

Location of 12 stations

RTRW DKI JAKARTA 2030

Spatial Planning Regulation

ARAHAN PENGEMBANGAN DAERAH Setiap Titik Transit


(LAND DEVELOPMENT POLICY)

EXISTING CONDITION

Land Availability

PELUANG PENGEMBANGAN Setiap Titik Transit


(DEVELOPMENT OPPORTUNITY)

KETERSEDIAAN LAHAN KOSONG (LAND AVAILABILITY)

KONDISI KEJENUHAN AREA (SATURATION EVALUATION)

KARAKTER TIAP KATEGORI AREA TOD

PESEBARAN TOD DI DKI JAKARTA

Sumber: PT. MRT JAKARTA

ZONASI TOD

Sumber: PT. MRT JAKARTA

BUNDARAN HI

+ 1049M
U1 DUKUH ATAS

CBD1
R U1 BENDUNGAN HILIR U1 U1 ISTORA SETIA BUDI

+ 923M + 766 M + 1.641 M + 731 M


SENAYAN

CBD2
U1 U2

Garden City

+ 957 M
SISNGAMANGARAJA

R BLOK M

+ 556 M

U2

+ 1.264 M South ern Down town


U2 CIPETE FATMAWATI BLOK A U2

+ 2.534 2 534 M
HAJI NAWI

+ 1.300 M + 1.631 M +2.202 M

Gateway
R U1 LEBAK BULUS

PENILAIAN KATEGORISASI AREA TOD TIAP TITIK

KATEGORISASI PENGEMBANGAN AREA TOD

KARAKTER TIAP KATEGORI AREA TOD


urban sub urban

R
REGIONAL URBAN CORE
MODA TRANSPORTASI

U-1
URBAN CENTER
dilalui commuter

U-2
URBAN NEIGHBORHOOD

SU-1
SUB URBAN CENTER

SU-2
SUB URBAN NEIGHBORHOOD

dilalui non-commuter

dilalui non-commuter

minibus / mikrolet
( kopaja / metromini / angkot )

bis kota BRT


commuter
short-distance

( Trans Jakarta )

LRT / monorel

MRT

mid-distance

KRL bis antar kota


( antar kota / antar propinsi )

noncommuter
long-distance

kereta api
( antar kota / antar propinsi )

KARAKTER TIAP KATEGORI AREA TOD

KEPADATAN PENDUDUK
STASIUN BUNDARAN HI - Arahan: Padat
Luasan Hunian Hunian Apartemen Perkantoran Komersial Fasum 53,539.20 58,065.75 641,767.13

U1
Standar Okupansi 10 20 12 5 10 Total orang 5,353.92 2,903.29 53,480.59

Total Penghuni Total penghuni siang Total penghuni malam

61,737.80 57,609.20 8 257 21 8,257.21

1609 jiwa/ha tinggi


STASIUN LEBAK BULUS Arahan: Kurang Padat (LRK)
Luasan Hunian Hunian Apartemen Perkantoran Komersial Fasum 65,385.30 68,551.88 74 313 90 74,313.90 51,881.86 Total Penghuni Total penghuni siang Total penghuni malam

R
10 20 12 5 10 Total orang 6,539 3,428 6 193 6,193 5,188 21,347 16,364 9,966

Standar Okupansi

457 jiwa/ha menengah tinggi

KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN STASIUN BLOK A STASIUN HAJI NAWI STASIUN CIPETE

KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN STASIUN SETIABUDI STASIUN BENDUNGAN HILIR

KONSEP PERANCANGAN DI KAWASAN STASIUN FATMAWATI STASIUN LEBAK BULUS