Anda di halaman 1dari 92

GAMBARAN PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI PADA MASYARAKAT DI RW 04 KELURAHAN DAGO KECAMATAN COBLONG KOTA BANDUNG

DESCRIPTION OF SELF-MEDICATION BEHAVIOUR BY PEOPLES AT RW 04 DAGO VILLAGE DISTRICT COBLONG BANDUNG

SKRIPSI

DiajukanUntukMenempuhUjianSarjana FakultasKeperawatanUniversitasPadjadjaran

SANTI PURWANTI 220110060047

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEPERAWATAN BANDUNG 2011 1

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Santi Purwanti NPM : 220110060047 Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Gambaran Perilaku Pengobatan Sendiri pada Masyarakat di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung, beserta seluruh isinya adalah benar-benar hasil karya saya dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku. Atas pernyataan tersebut diatas, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini.

Bandung, Februari 2012

santi purwanti

ABSTRAK

Dalam pengobatan sakit, seseorang dapat memilih satu sampai lima sumber pengobatan, tetapi tindakan pertama yang paling banyak dilakukan adalah pengobatan sendiri. Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit ringan ( minor illnesses), tanpa resep atau intervensi dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling, dengan jumlah sampel 278 responden. Data diperoleh melalui pengisian kuisioner yang disebar kepada responden. Dari hasil penelitian diketahui bahwa perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung berada pada kategori benar sebesar 52.2%, sedangkan 47.8% lainnya berada pada kategori tidak benar. Peneliti menyarankan adanya upaya dari perawat untuk meningkatkan dan mengarahkan perilaku pengobatan sendiri agar lebih aman, tepat, dan rasional. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan pemberian informasi mengenai pengobatan sendiri yang aman, tepat, dan rasional melalui penyuluhan, penyebaran leaflet, pemasangan poster, FGD, dan pelatihanpelatihan mengenai pengobatan sendiri

Kata kunci : pengobatan sendiri, swamedikasi

ABSTRACT

Self-medication is the use of drugs by the public for the purpose of treatment of minor Illnesses, without a doctor's prescription or intervention. Self-medication in this study is limited to treatment with chemical drugs. This study aims to get a description of self-medications behavior by peoples in RW 04, Dago Village, District Coblong, Bandung. The type of the research was descriptive quantitative. Sampling was carried out by accidental sampling technique, which 278 respondents for the sample. Data were obtained using a questionnaire. From the survey results revealed that the behavior of self-medication by peoples in RW 04, Dago Village, District Coblong, Bandung was appropriate that is equal to 52.2%, while 47.8% were improper. Researchers suggest the efforts for stakeholders concerned to enhance and direct the behavior of self-medication to be more safe, appropriate, and rational. These efforts can be done by providing information about self-medication through counseling, distributing leaflets, posters, FGD, and trainings.

Key words: self-medication

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta segala karunia-Nya kepada peneliti hingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul : Gambaran Perilaku Pengobatan Sendiri yang Aman, Tepat, dan Rasional pada Masyarakat di RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong Bandung, yang disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Bandung. Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan orang lain, yang mana telah memberikan sumbangan pemikiran, bimbingan, pengarahan, maupun dukungan secara moral maupun materi dalam proses penyusunannya. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada : 1. Bapak Mamat Lukman, S.KM., S.Kp., M.Si. selaku dekan Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran. 2. Bapak Ahmad Yamin S.Kp., M Kes., Sp.Kom. selaku pembimbing utama serta Ibu Raini Diah Susanti S.Kp., Ners., MN. selaku pembimbing pendamping yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi. 3. Bapak dan Ibu dosen, serta semua staf pegawai Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran yang telah membantu penulis dalam kelancaran penyusunan skripsi. 4. Kepala BKPPM Kota Bandung beserta staf, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung beserta staf, Kepala UPT Puter beserta seluruh stafnya di puskesmas jejaring, yang

telah memberikan izin untuk melakukan penelitian dan pengambilan data di wilayah kerja Puskesmas Dago. 5. Kepala RW 04 Kelurahan Dago beserta staf serta ibu-ibu kader posyandu RW 04 juga semua warga RW 04 yang bersedia menjadi responden, dimana telah membantu peneliti selama melakukan penelitian. 6. Ungkapan terima kasih dan penghargaan khusus penulis haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat kepada kedua orang tua penulis, yang dengan segala pengorbanannya tak akan pernah penulis lupakan atas jasa-jasa mereka. 7. Tidak lupa untuk sahabat dan teman terdekat, yang selalu memberikan dukungan baik materi maupun non materi yang sangat berarti bagi penulis selama menjalani pendidikan hingga menyelesaikan penyusunan skripsi. Akhir kata, peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki banyak kelemahan. Namun mudah-mudahan penelitian ini dapat memberikan manfaat serta dorongan untuk melakukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan perilaku pengobatan sendiri.

Bandung, Februari 2012 Wasalam

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... LEMBAR PERNYATAAN......................................................................... ABSTRAK .................................................................................................... ABSTRACT ................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ DAFTAR TABEL ........................................................................................ DAFTAR BAGAN ....................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 1.4 Kegunaan Penelitian .................................................................. 1.5 Kerangka Pemikiran ................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Penggolongan, dan Penggunaan Obat..................... 2.2 Pengobatan Sendiri .................................................................... 2.3 Perilaku Kesehatan .....................................................................

i ii iii iv v vii ix x xi xii

1 8 8 8 9

11 19 28

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ............................................................... 3.2 Variabel Penelitian ................................................................... 3.3 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional ......................... 3.4 Populasi dan Sampel................................................................. 3.5 Instrumen Pengumpul Data ...................................................... 3.6 Prosedur Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data ................ 3.7 Uji Instrumen Penelitian ........................................................... 3.8 Pengolahan dan Analisa Data ................................................... 3.9 Tahapan Penelitian ................................................................... 3.10 Etika Penelitian ....................................................................... 3.11 Waktu dan Lokasi Penelitian .................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ......................................................................... 4.2 Pembahasan .............................................................................. 4.3 Keterbatasan Penelitian ............................................................ BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ................................................................................... 5.2 Saran ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. LAMPIRAN ................................................................................................. 52 52 54 x 44 47 51 31 31 32 34 35 36 37 40 42 43 43

10

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Umur, Pekerjaan, dan Pendidikan ..... 44

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Kategori Perilaku Pengobatan sendiri 45

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Tempat Membeli Obat ...................... 45

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Biaya untuk Membeli Obat ............... Tabel 4.5 Keluhan Kesehatan yang dialami oleh Responden ..................... 45 45

11

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1

Kerangka Konsep Perilaku Pengobatan Sendiri .......................

12

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8

: Kisi-kisi instrumen : Lembar Informed-Consent : Daftar pertanyaan wawancara (kuisioner) : Hasil uji validitas dan reliabilitas : Hasil penelitian : Surat izin penelitian : Kartu bimbingan skripsi : Daftar riwayat hidup

13

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun

social yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social maupun ekonomis (UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan). Menurut WHO sehat dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (Potter & Perry, 2005). Sesuai dengan visi departemen kesehatan yaitu masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, dan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat maka diselenggarakan upaya kesehatan dengan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, serta diselenggarakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya kesehatan harus dilakukan secara integral oleh seluruh komponen, baik pemerintah, tenaga kesehatan maupun masyarakat. Oleh karena itu masyarakat harus berperan aktif dalam mengupayakan kesehatannya sendiri. Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi (Depkes, 2006). Swamedikasi adalah bagian dari self-care. Swamedikasi didefinisikan sebagai pemilihan dan penggunaan obat obatan (termasuk produk herbal dan tradisional) oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri (WHO,

14

1998). International Pharmaceutical Federation & The World Self-Medication Industry, (1999), swamedikasi juga didefinisikan sebagai penggunaan obat obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri. Menurut Kalangie (1984, dalam Supardi dan Notosiswoyo, 2005), sumber pengobatan di Indonesia mencakup tiga sektor yang saling berhubungan, yaitu pengobatan rumah tangga (pengobatan sendiri), pengobatan tradisional, dan pengobatan medis profesional. Dalam pengobatan sakit, seseorang dapat memilih satu sampai lima sumber pengobatan, tetapi tindakan pertama yang paling banyak dilakukan adalah pengobatan sendiri. Lelo dkk (1997, dalam Dharmasari, 2003), menyebutkan bahwa sebagian masyarakat pernah mengobati diri sendiri sebelum mengunjungi puskesmas dan dokter. Menurut Amoako, E.P., et all (2003), menyebutkan bahwa pengguna jasa kesehatan empat kali lebih sering mengobati masalah kesehatannya sendiri daripada pergi ke dokter. Menurut hasil penelitian Crooks dan Christopher (1979) dalam Supardi, dkk (2001) jenis kelamin wanita lebih sering melakukan pengobatan sendiri. Leibowitz (1989) menyebutkan bahwa, jenis kelamin wanita lebih banyak menggunakan obat beresep dan obat bebas daripada pria. Wanita adalah pelaku dengan modalitas lebih tinggi dibandingkan pria, dalam melakukan pengobatan sendiri baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya (Rinukti & Widayati, 2005). Diduga penduduk yang berlokasi di kota jaraknya lebih dekat untuk menjangkau sumber penjualan obat bebas sehingga lebih mudah mendapatkan obat daripada penduduk di desa (Supardi dkk, 2001). Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2001 menunjukkan bahwa perilaku pencarian pengobatan yang dilakukan oleh penduduk Indonesia yang mengeluh sakit, persentase terbesar adalah melakukan pengobatan sendiri (57,7%), terutama dengan

15

menggunakan obat (82,7%) dan sisanya menggunakan obat tradisional dan atau cara tradisional (Depkes, 2002). Dari hasil Riset Kesehatan Dasar khusus kota Bandung pada tahun 2007, persentase rumah tangga di Kota Bandung yang melakukan pengobatan sendiri sebanyak 0,2% (Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2008). Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai peraturan perundangan. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes No.2380/1983). Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pakai, dan pernyataan lain yang diperlukan (SK Menkes No.917/1993). Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda peringatan apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter (SK Menkes No.386/1994). Jadi simpulannya adalah, bahwa pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan adalah penggunaan obat bebas atau obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang wajib tercantum pada kemasannya (Depkes RI, 2006). Suryawati (1997, dalam Kristina dkk, 2008) menyebutkan bahwa, bila digunakan secara benar obat bebas dan obat bebas terbatas seharusnya bisa sangat membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri secara aman dan efektif. Namun sayangnya, seringkali dijumpai bahwa pengobatan sendiri menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau malah bisa berbahaya misalnya karena penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan pakai. Bagaimanapun obat bebas dan bebas terbatas bukan berarti bebas efek samping, sehingga pemakaiannya pun harus sesuai dengan indikasi, lama pemakaian yang benar, disertai dengan pengetahuan pengguna tentang risiko efek samping dan kontraindikasinya.

16

Penggunasalahan obat (drugs misuse) yang dilakukan oleh masyarakat mengakibatkan ketidakcocokan dan ketidakefektifan. Obat menjadi tidak berguna atau bahkan membahayakan. Informasi obat yang benar kepada masyarakat menjadi sangat dibutuhkan. Kekurangan atau kesalahan informasi mengenai produk dan mutu obat bisa mengakibatkan konsumen salah mengonsumsi obat (Dharmasari, 2003). Penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas yang sesuai dengan aturan dan kondisi penderita akan mendukung upaya penggunaan obat yang rasional. Kerasionalan penggunaan obat menurut Cipolle, et. al., (1998) terdiri dari beberapa aspek di antaranya : ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada tidaknya kontraindikasi, ada tidaknya efek samping, interaksi dengan obat dan makanan, serta ada tidaknya polifarmasi (penggunaan lebih dari dua obat untuk indikasi penyakit yang sama). Dalam hal ini perawat sebagai bagian dari praktisi kesehatan dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drug misuse). Masyarakat cenderung hanya mengetahui merek dagang tanpa mengetahui zat yang berkhasiatnya (Depkes, 2006). Perawatan di komunitas difokuskan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan, pendidikan, dan manajemen, serta mengoordinasikan dan melanjutkan perawatan restoratif di dalam lingkungan komunitas klien. Perawat komunitas mengkaji kebutuhan kesehatan individu, keluarga, dan komunitas, serta membantu klien berupaya melawan penyakit dan masalah kesehatan (Potter & Perry, 2005). Sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat memiliki peran sebagai advokat atau pelindung, dimana perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien (masyarakat) dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan

17

dan melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan (Potter & Perry, 2005). Dalam swamedikasi perawat dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan

penggunasalahan obat (drug misuse). Sebab masyarakat cenderung hanya mengetahui merek dagang tanpa mengetahui zat yang berkhasiatnya (Depkes, 2006). Informasi yang benar mengenai swamedikasi, seperti yang telah dibahas sebelumnya dapat perawat berikan salah satunya melalui penyuluhan dan pelatihan mengenai swamedikasi yang benar. Menurut Potter & Perry (2005), sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemonstrasikan prosedur, menilai pemahaman klien tentang apa yang dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pempelajaran. Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien serta melibatkan sumber-sumber lain yang diperlukan untuk pembelajaran.Sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat memiliki peran sebagai advokat atau pelindung, dimana perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien (masyarakat) dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan. Perawat dapat memberikan informasi tambahan bagi masyarakat yang sedang berusaha memutuskan tindakan yang terbaik untuk dilakukan (Potter & Perry, 2005). Berdasarkan profil kesehatan kota Bandung didapatkan data kunjungan rawat jalan ke Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Puskesmas Puter di Kecamatan Coblong adalah yang tertinggi yaitu sebesar 134.424 kunjungan selama periode Januari-Desember 2009

18

(Dinkes Kota Bandung, 2009). Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Puter, dimana peneliti melakukan wawancara tentang pengobatan sendiri kepada 20 pengunjung puskesmas. diketahui bahwa 18 dari 20 pengunjung melakukan pengobatan sendiri sebelum datang ke puskesmas. Lima belas pengunjung melakukan pengobatan sendiri dengan menggunakan obat kimia (modern) dan 3 pengujung lainnya menggunakan obat atau cara tradisional. Sepuluh orang pengunjung mengetahui bahwa pengobatan sendiri tidak boleh dilakukan menggunakan sembarang obat, tetapi hanya 2 orang yang mengetahui bahwa pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat bebas dan bebas terbatas. Hampir seluruh pengguna obat kimia (14 orang) menyatakan menggunakan obat yang sudah biasa digunakan maupun yang disarankan oleh keluarga atau orang terdekatnya. Dalam melaksanakan kegiatan UPT Puskesmas Puter dibantu oleh tiga puskesmas jejaring yaitu Puskesmas Sekeloa, Puskesmas Cikutra Lama, dan Puskesmas Dago. Dari hasil rekapitulasi data pendaftaran kunjungan rawat jalan di UPT Puter dan tiga jejaringnya selama 3 bulan terakhir (Oktober-Desember 2010) didapat angka kunjungan rawat jalan yang terbanyak di Kelurahan Dago yaitu sebanyak 4087 kunjungan. Dengan 10 penyakit terbanyak adalah pilek (659), sakit gigi (440), hipertensi (265), demam (262), laringitis-trakeitis (205), nyeri otot (193), influenza (182), gastroduodenitis (176), penyakit kulit (172), dan diare (144). Dari penghitungan lebih lanjut diketahui bahwa RW 04 memiliki angka kunjungan rawat jalan yang terbanyak yaitu sebesar 518 kunjungan selama 3 bulan terakhir (UPT Puskesmas Puter, 2010). Dari observasi lebih lanjut yang dilakukan di RW 04 diketahui bahwa RW 04 merupakan RW dengan jumlah warga terbanyak yaitu 3442 jiwa yang terdiri dari 873

19

kepala keluarga yang terbagi dalam 7 RT. Fasilitas kesehatan yang terdapat di RW 4 sendiri hanya sebuah posyandu. Sedangkan untuk kelurahan Dago sendiri terdapat 3 rumah bersalin,10 dokter praktik, 1 puskesmas, 3 balai pengobatan, 2 apotik, 1 toko obat, dan 22 posyandu (Kelurahan Dago, 2010). Selain itu, di Kecamatan Coblong diketahui bahwa baik di apotik maupun di toko obat, warga dapat mengakses jenis obat apapun yang mereka inginkan. Dan tidak sedikit di antara mereka yang membeli obat golongan keras untuk melakukan swamedikasi. Namun tidak ada data pasti dari apotik yang menunjukan obat apa saja yang banyak dibeli. Dengan pertimbangan bahwa RW 04 merupakan RW dengan jumlah penduduk terbanyak, merupakan RW dengan keadaan sosial dan ekonomi yang beragam, dan merupakan RW dengan kunjungan rawat jalan di puskesmas yang terbanyak, serta menurut data yang didapat dari UPT Puter dan 3 jejaringnya di wilayah Dago belum pernah diadakan penelitian mengenai perilaku pengobatan sendiri, maka RW 04 dipilih menjadi menjadi tempat penelitian.

1.2

Identifikasi Masalah Rumusan masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah

gambaran perilaku pengobatan sendiri pada masyarakat di RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

1.3

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran perilaku pengobatan

sendiri pada masyarakat di RW 04 Kelurahan Dago, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung

20

1.4

Kegunaan Penelitian

1.4.1 Bagi Perawat Komunitas Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan informasi bagi perawat, khususnya di Puskesmas Dago yang berperan sebagai advokat dan penyuluh masyarakat, dalam melakukan intervensi keperawatan terkait dengan tindakan pengobatan sendiri. 1.4.2 Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang pengobatan sendiri. 1.5 Kerangka Pemikiran Perilaku kesehatan merupakan perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap dan mempersepsi penyakit atau rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya), maupun aktif (tindakan yang dilakukan sehubungan dengan penyakit atau sakit tersebut). Perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan seperti usaha-usaha mengobati sendiri penyakit yang diderita merupakan salah satu tingkatan respon terhadap sakit dan penyakit yang disebut sebagai perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour). Perilaku pencarian pelayanan kesehatan menurut Notoatmodjo (2007) yang merupakan respon seseorang apabila sakit yang dapat berupa : Tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa Tindakan mengobati sendiri (self-treatment) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional Mencari pengobatan dengan membeli obat sendiri ke apotik

21

Mencari pengobatan ke fasilitas- pengobatan modern (puskesmas, dokter) Teori perilaku yang dikembangkan oleh Green (1980) menganalisa, bahwa

perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : 1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. 2) Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat steril dan sebagainya. 3) Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Seperti yang telah disebutkan di atas maka sesuai dengan teori dari Green (1980), factor-faktor perilaku di atas akan mempengaruhi perilaku pencarian pelayanan kesehatan, salah satunya dapat berupa pengobatan sendiri dengan obat yang dibeli sendiri. Pengobatan sendiri yang dilakukan masyarakat dapat menghasilkan output berupa perilaku yang benar dan tidak benar Bagan 1.1 Kerangka Konsep Perilaku Pengobatan Sendiri.
Predisposing factor : sikap, pengetahuan, keyakinan, nilai dan kepercayaan, serta fasilitas atau motivasi diri untuk berubah

Enabling factor: keterbatasan fasilitas, keterbatasan sumber daya, tingkat penghasilan, atau peraturan/kebijakan yang membatasi Reinforcing factor: timbal balik dari orang lain (tokoh, keluarga, orang terdekat, dll)

Seseorang mengalami keluhan kesehatan

pengobatan sendiri

benar tidak benar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Pengertian, Penggolongan, dan Penggunaan Obat Pengertian Obat Obat menurut WHO adalah senyawa kimia yang dapat mempengaruhi

organisme hidup dan yang dipergunakan untuk keperluan diagnosis, pencegahan, dan pengobatan suatu penyakit. Sedangkan menurut UU no.36 tahun 2009 tentang kesehatan, obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Definisi lain menurut Tan dan Rahardja (2007) obat adalah semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit atau gejala-gejalanya. Sedangkan menurut Widjajanti (2009), obat adalah semua zat baik kimia maupun tumbuh-tumbuhan yang dalam dosis yang layak mampu mempengaruhi organ-organ tubuh yang normal. 2.1.2 Penggolongan Obat Secara Internasional dikenal ada 3 penamaan obat yang berlaku saat ini (Tan & Rahardja, 2007), yaitu: 1) Nama kimia, adalah nama zat tunggal maupun campuran dari kandungan obat 2) Nama generic, merupakan nama resmi atau official name

22

23

3) Nama dagang (nama paten) adalah nama khas obat milik perusahaan yang dilindungi oleh hukum, yaitu merek terdaftar. Penggolongan obat menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995) adalah berdasarkan pada bentuk sediaan obat yaitu bentuk obat sesuai dengan proses pembuatan obat tersebut dalam bentuk seperti yang akan digunakan. Semua obat yang beredar juga digolongkan secara farmakologis berdasarkan penggunaannya. Seperti penggolongan obat berdasarkan waktu pemakaiannya, yaitu : 1) Golongan obat yang harus diminum sebelum makan 2) Golongan obat yang harus diminum sesudah makan 3) Golongan obat yang harus diminum sewaktu makan 4) Golongan obat yang sebaiknya diminum pagi hari 5) Golongan obat yang sebaiknya diminum malam hari (Widjajanti, 2009). Selain itu untuk distribusi dan keamanan pemakaiannya, obat juga diklasifikasi menurut cara perolehannya. Pengaturan mengenai obat mana yang dijual di apotik dan obat mana yang dapat dijual di tempat lain sudah baku menurut kategori obat yang ada. Pengkategotian obat tersebut dilakukan untuk meningkatkan keamanan, ketepatan penggunaan dan pengamanan distribusi obat (Anief, 1996). Sesuai Permenkes no 917/MENKES/PER/X/1993 tentang Wajib Daftar Obat Jadi bahwa yang dimaksud dengan golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, psikotropika, dan narkotika. Dalam pedoman penggunaan obat bebas dan

24

obat bebas terbatas (Depkes RI, 2006), obat dibagi kedalam beberapa kategori, yaitu : a. Obat Bebas, adalah obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter dan dapat dibeli di apotik, toko obat, maupun warung kecil. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan berwarna hijau (SK Menkes no. 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan bebas terbatas) seperti pada gambar 2.1. Isi dalam kemasan obat disertakan etiket yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis dan aturan pakai, nomor batch, nomor registrasi, nama dan alamat pabrik, serta cara penyimpanannya. Contoh : Paracetamol, Mylanta, Oralit, Panadol, dll. b. Obat Bebas Terbatas, yaitu obat yang digunakan untuk mengobati penyakit ringan yang dapat dikenali oleh penderita sendiri. Definisi Obat bebas terbatas termasuk obat keras dimana pada setiap takaran yang digunakan diberi batas, obat bebas terbatas dapat diperjualbelikan secara bebas dengan syarat hanya dalam jumlah yang talah ditentukan. Kemasan obat bebas terbatas ditandai dengan lingkaran hitam mengelilingi bulatan berwarna biru (SK Menkes no. 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk obat bebas dan bebas terbatas) seperti pada gambar 2.2. Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 6355/Dirjen/SK/69 tanggal 5 November 1975 pada setiap kemasan obat bebas terbatas terdapat tanda peringatan P. No 1 sampai P. No 6 dan harus disertai dengan etiket atau brosur yang menyebutkan nama obat yang bersangkutan, daftar bahan berkhasiat serta jumlah yang digunakan, nomor batch, tanggal kadaluarsa, nomor registrasi, nama dan alamat produsen, petunjuk penggunaan, indikasi, cara pemakaian, peringatan serta kontra

25

indikasi. Sehingga obat bebas terbatas harus selalu dijual dalam satuan bungkus terkecil yang masih memiliki informasi lengkap tentang obat yang telah disebutkan diatas. Tidak boleh dijual secara eceran yang lebih kecil dari satuan bungkus terkecilnya, seperti per pil, per tablet, perkaplet dan sebagainya. Contoh : Promag, Dulcolax, Methicol dll. c. Obat Keras, adalah obat yang hanya boleh diserahkan dengan resep dokter, dan untuk mendapatkannya hanya di apotik. Pada bungkus luarnya diberi tanda bulatan dengan lingkaran hitam dengan dasar merah yang didalamnya terdapat huruf K yang menyentuh garis tepi (SK Menkes no. 2396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus obat keras) seperti pada gambar 2.3. Obat yang masuk ke dalam golongan obat keras ini adalah obat yang dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral, baik dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek jaringan, obat baru yang belum tercantum dalam kompendial/farmakope terbaru yang berlaku di Indonesia serta obat-obat yang ditetapkan sebagai obat keras melalui keputusan Menkes RI. Contoh : amoksisilin, Captopril, Erithromycin, Dexamethasone, dll. d. Obat Narkotika dan Psikotropika. Definisi menurut Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan. Contoh obat narkotik yaitu Morphin, Codein, Etilmorfin. dsb. Definisi Psikotropika adalah

26

zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh obat psikotropika yaitu Diazepam, Alprazolam, Phenobarbital, dsb. Psikotropika termasuk dalam golongan obat keras, sehingga memiliki tanda yang sama dengan obat keras. Sedangkan obat narkotika memiliki tanda berupa lambang medali berwarna merah seperti pada gambar 2.4.

Gambar 2.1 2.1.3

Gambar 2.2

Gambar 2.3

Gambar 2.4

Penggunaan Obat Pada hampir semua obat memiliki lebih dari satu macam khasiat,

disamping itu semua obat mempunyai kerja ikutan yang tidak diinginkan. Dalam dosis yang sesuai kerja ikutan tersebut tidak membahayakan. Widjajanti (2009) mengemukakan beberapa pengaruh buruk dari obat yang perlu dipahami oleh masyarakat umum, yaitu: 1) Efek samping obat, selain khasiat obat yang menyembuhkan penyakit, obat dapat memiliki pengaruh negatif yang dapat timbul saat pemakaian 2) Keracunan obat, yaitu gejala-gejala yang ditimbulkan oleh obat apabila dipakai dalam dosis yang terlalu tinggi atau dalam waktu yang terlalu lama atau meminum obat yang salah 3) Alergi obat, adalah reaksi yang timbul terhadap suatu obat karena kepekaan seseorang terhadap obat tersebut

27

4) Pengaruh negatif bila dua macam obat atau lebih dipakai secara bersama Menurut Widjajanti (2009), dalam pemakaian obat terdapat beberapa factor yang memodifikasi aksi obat yang harus diperhatikan yaitu : 1) Berat badan, dosis obat ditentukan dalam mg/kg per berat badan orang yang meminumnya, sehingga dosis obat pada orang dengan berat badan yang rendah akan lebih kecil. 2) Umur, pada bayi atau neonates ada beberapa hal yang mempengaruhi proses absopsi, distribusi, metabolisme dan eksresi obat. 3) Jenis kelamin, jenis kelamin dapat memberikan kepekaan tertentu 4) Kondisi patogenik 5) Idiosinkrasi 6) Rute pemberian obat Lebih lanjut dalam pemberian obat, Anief (1996) menjelaskan bahwa umumnya obat mempunyai efek atau aksi yang lebih dari satu, yaitu berupa : 1. Efek terapi yaitu efek yang merupakan fungsi/efek yang diinginkan untuk pengobatan. Ada tiga macam bentuk terapi, yaitu : - Terapi kausal, yaitu obat untuk meniadakan penyakit - Terapi simtomatik, yaitu obat untuk menghilangkan atau meringankan gejala penyakit - Terapi substitusi, yaitu obat untuk menggantikan zat-zat tubuh yang hilang selama sakit 2. Efek samping yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi dan tidak ikut dalam kegunaan terapi

28

3. Efek teratogen, yaitu efek obat pada dosis terapeutik pada ibu hamil yang menyebabkan cacat pada janin 4. Efek toksik, yaitu efek tambahan pada obat yang lebih berat dari efek samping dan merupakan efek yang tidak diinginkan 5. Idiosinkrasi, yaitu efek obat yang secara kualitatif berlainan dengan efek terapi nomalnya 6. Fotosistesis, yaitu efek kepekaan yang berlebihan terhadap cahaya yang timbul akibat penggunaan obat. Menggunakan obat secara bersama-sama (campuran) juga memiliki efekefek yang harus diperhatikan menurut Anief (1996), antara lain : 1) Adisi, yaitu campuran obat yang diberikan bersama-sama dapat menimbulkan efek yang merupakan jumlah dari masing-masing obat, bila diberikan secara terpisah 2) Sinergis, yaitu campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama dengan aksi yang sama, yang menimbulkan efek yang lebih besar dari jumlah efek masing-masing obat bila diberikan secara terpisah. 3) Potensiasi, yaitu campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama dengan aksi yang tidak sama, yang menimbulkan efek lebih besar dari jumlah efek masing-masing obat bila diberikan secara terpisah. 4) Antagonis, yaitu campuran obat atau obat yang diberikan bersama-sama yang menimbulkan efek yang berlawanan aksi dari salah satu obat, sehingga mengurangi efek kerja obat lain.

29

5) Interaksi obat, yaitu efek suatu obat yang dimodifikasi oleh obat lain yang memiliki efek yang sama maupun yang tidak sama, yang diberikan baik sebelum maupun secara bersama-sama. Pengulangan atau penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama memiliki efek-efek sebagai berikut (Anief, 1996) : a. Reaksi hipersensitif, yaitu suatu reaksi alergi yang merupakan respon abnormal terhadap obat atau zat tertentu, dimana tubuh seseorang sudah memiliki antibody untuk zat atau obat tersebut, karena telah mengalami kontak sebelumnya. b. Kumulasi, yaitu suatu fenomena pengumpulan obat dalam tubuh akibat dari pengulangan dalam penggunaan obat, dimana obat akan disekresikan lebih lambat daripada absorpsinya. c. Toleransi, yaitu berkurangnya respon obat pada tubuh dalam dosis yang sama, sehingga untuk mendapatkan respon yang sama dosis perlu diperbesar. Ada tiga macam tipe toleransi, diantaranya : Toleransi primer, merupakan toleransi bawaan yang ada pada sebagian orang Toleransi sekunder, merupakan toleransi yang didapatkan dari penggunaan obat yang sering diulang Toleransi silang, merupakan toleransi akibat dari penggunaan obat yang memiliki struktur kimia yang serupa atau akibat zat-zat yang berlainan d. Takhifilaksis, yaitu berkurangnya kecepatan respon terhadap aksi obat pada pengulangan penggunaan obat pada dosis yang sama. Respon semula tidak akan didapatkan walaupun dosis diperbesar

30

e. Habituasi, suatu gejala ketergantungan psikologi terhadap suatu obat f. Adiksi, suatu gejala ketergantungan baik fisik maupun psikologi

2.2

Pengobatan Sendiri yang Aman, Tepat, dan Rasional Perilaku kesehatan merupakan perilaku seseorang terhadap sakit dan

penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui, bersikap dan mempersepsi penyakit atau rasa sakit yang ada pada dirinya dan diluar dirinya), maupun aktif (tindakan yang dilakukan sehubungan dengan penyakit atau sakit tersebut). Perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan seperti usaha-usaha mengobati sendiri penyakit yang diderita merupakan salah satu tingkatan respon terhadap sakit dan penyakit yang disebut sebagai perilaku pencarian penngobatan (health seeking behaviour). Organization (WHO) tahun 1998, mendefinisikan swamedikasi (selfmedications) sebagai pemilihan dan penggunaan obat obatan (termasuk produk herbal dan tradisional) oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri (the selection and use of medicines (include herbal and tradisional product) by individuals to treat self-recognised illnesses or symptoms). Swamedikasi juga didefinisikan sebagai penggunaan obat obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri (FIP & WSMI, 1999). Swamedikasi adalah mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang dibeli di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa resep dokter (Tjay dan Raharja, 1993). Menurut Shankar, et al.(2002, dalam Kristina dkk, 2008), pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit ringan (minor illnesses), tanpa resep atau intervensi

31

dokter. Pengobatan sendiri dalam hal ini dibatasi hanya untuk obat-obat modern, yaitu obat bebas dan obat bebas terbatas. Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai peraturan perundangan. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes No.2380/1983). Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pakai, dan pernyataan lain yang diperlukan (SK Menkes No.917/1993). Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda peringatan apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter (SK Menkes No.386/1994). Jadi simpulannya adalah, bahwa pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan adalah penggunaan obat bebas atau obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang wajib tercantum pada kemasannya (Depkes RI, 2006). Menurut Depkes (2008), untuk dapat melakukan pengobatan sendiri secara tepat masyarakat harus mampu : 1. Mengetahui jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya. 2. Mengetahui kegunaan dari setiap obat yang digunakan, sehingga dapat mengevaluasi sendiri perkembanganan kondisi sakitnya. 3. Menggunakan obat dengan benar (cara, aturan, waktu pemakaian) dan tahu batas kapan harus menghentikan proses swamedikasi dan segera meminta pertolongan pada petugas kesehatan. 4. Mengetahui siapa saja yang tidak boleh menggunakan obat yang akan digunakan.

32

5. Mengetahui

efek

samping

obat

yang

digunakan

sehingga

dapat

memperkirakan apabila suatu keluhan timbul merupakan efek samping obat atau merupakan suatu penyakit baru. Pengobatan sendiri yang rasional menurut definisi dari WHO (1985) mengharuskan adanya kesesuaian antara pengobatan yang dilakukan dengan kebutuhan klien, dosis yang tepat sesuai dengan ketentuannya, lama pemberian yang sesuai dengan penggunaannya, dan harga obat yang terjangkau. Kerasionalan penggunaan obat menurut Cipolle, et. al., (1998, dalam Kristina 2008) terdiri dari beberapa aspek, di antaranya: ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada tidaknya kontraindikasi, ada tidaknya efek samping dan interaksi dengan obat dan makanan, serta ada tidaknya polifarmasi (penggunaan lebih dari dua obat untuk indikasi penyakit yang sama). Menurut Muktiningsih dan Azis (1997) biaya pengobatan untuk membeli obat juga harus rasional, yaitu sesuai antara biaya yang dikeluarkan dengan pilihan kebutuhan obat sehingga tidak mahal (Dhamasari, 2003). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat menurut Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas (2006) antara lain : a) Penggunaan obat tidak untuk pemakaian yang terus-menerus b) Menggunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur c) Menghindari penggunaan obat orang lain walaupun gejala penyakitnya sama d) Menghentikan pemakaian obat apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan e) Untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap, tanyakan pada apoteker atau petugas kesehatan.

33

Dalam pengobatan yang rasional, cara pemberian obat dalam pengobatan sendiri adalah sama pentingnya dengan pemberian terapi yang tepat (Djamhuri, 1995). Dalam Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas (2006) dijelaskan bahwa cara pemakaian obat yang tepat adalah penggunaan obat yang sesuai dengan petunjuk penggunaan, pada saat yang tepat, dalam jangka waktu terapi sesuai dengan yang dianjurkan. Meminum obat sesuai dengan waktunya. Bila dalam kondisi hamil atau menyusui tanyakan obat yang sesuai. Menggunakan obat sesuai dengan cara penggunaannya, dan meminum obat sampai habis. Lebih jauh dalam Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas (2006), dijelaskan bahwa cara pemakaian obat oral antara lain : a) Meminum obat dengan segelas air putih b) Mengikuti petunjuk dari profesi pelayanan kesehatan (saat makan atau saat perut kosong), seperti : minum obat sebelum makan, minum obat setelah makan, dll c) Untuk obat dengan kerja yang diperlama (tablet salut) harus ditelan seluruhnya, tudak boleh dipecah atau dikunyah d) Pada obat dengan sediaan cair, gunakanlah sendok obat atau alat lain yang telah diberi ukuran untuk ketepatan dosis. Jangan menggunakan sendok rumah e) Jika penderita sulit menelan sediaan obat, lakukan konsultasi dengan petugas kesehatan/dokter untuk meminta pilihan sediaan dalam bentuk lain f) Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takar dalam kemasannya

34

Dalam

Surat

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

925/MENKES/PER/X/1993 tentang Daftar Perubahan Golongan Obat dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 919/MENKES/PER/X/1993 tentang Kriteria Obat Yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep disebutkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri untuk mengatasi masalah kesehatan maka peningkatan sarana dan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri dilakukan sekaligus dengan menjamin peningkatan penggunaan obat secara aman, tepat, dan rasional (Dhamasari, 2003) Indikasi penggunaan obat tidak rasional dalam praktik sehari-hari dapat terjadi karena (Dhamasari, 2003) : 1) Penggunaan obat pada pasien yang tidak memerlukan terapi obat 2) Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit 3) Penggunaan obat yang tidak sesuai aturan 4) Penggunaan obat yang memiliki potensi menimbulkan keracunan 5) Penggunaan obat yang belum teruji secara ilmiah 6) Penggunaan obat yang mahal 7) Penggunaan obat yang menimbulkan persepsi yang keliru atau ketergantungan Bila digunakan dengan cara yang benar, obat bebas dan obat bebas terbatas seharusnya bisa sangat membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri secara aman dan efektif. Namun sayangnya, seringkali dijumpai bahwa pengobatan sendiri menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat-obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau malah bisa berbahaya misalnya karena penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan pakai. Bagaimanapun, obat bebas dan bebas terbatas bukan berarti bebas efek samping, sehingga pemakaiannya pun

35

harus sesuai dengan indikasi, lama pemakaian yang benar, disertai dengan pengetahuan pengguna tentang risiko efek samping dan kontraindikasinya (Suryawati, 1997). Pengobatan sendiri memiliki resiko yang dapat terjadi apabila: 1. Tidak mengenali keseriusan gangguan yaitu, keseriusan keluhan yang dinilai salah atau yang mungkin tidak dikenali, sehingga pengobatan sendiri dilakukan terlalu lama. Akibatnya gangguan menjadi semakin parah sehingga konsultasi yang dilakukan kemudian menjadi terlambat. 2. Penggunaan obat yang kurang tepat yaitu, obat digunakan secara salah, terlalu lama digunakan atau dalam takaran yang terlalu besar (Tan & Raharja, 2007) Oleh karena itu, dalam melakukan pengobatan sendiri diperlukan ketepatan dalam mengenali gejala sakit. Sangat penting untuk mengetahui keluhan-keluhan mana yang dapat diobati sendiri dan mana yang tidak. Pada umumnya keluhan-keluhan agak ringan yang biasanya sembuh dengan sendirinya seperti : salesma, gatal karena jamur, flu, sakit kepala, dan tenggorokan, nyeri lambung, nyeri otot yang tidak terus menerus layak untuk diswamedikasi. Gejala berbahaya yang tidak boleh diobati sendiri (Tan dan Raharja, 2007). Dosis merupakan aturan pemakaian yang menunjukkan jumlah gram atau volume dan frekuensi pemberian obat yang harus sesuai dengan umur dan berat badan. Maka dalam penggunaan obat harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, 2006): a. Gunakan obat tepat waktu sesuai aturan pemakaian, contoh : tiga kali sehari berarti obat diminum setiap 8 jam sekali, obat diminum sebelum atau sesudah makan, jika menggunakan oat-obat bebas, ikuti petunjuk pada kemasan atau brosur/leaflet

36

b. Bila terlupa meminum obat minumlah dosis yang terlupa segera setelah ingat, tetapi jika hampir mendekati dosis berikutnya, maka abaikan dosis yang terlupa dan kembali ke jadwal selanjutnya sesuai aturan. c. Jangan menggunakan dua dosis sekaligus atau dalam waktu yang berdekatan Kesesuaian dosis dengan umur dan berat badan akan mempengaruhi kesembuhan, ketidaksesuaian justru akan membahayakan. Ketidaksesuaian obat dengan jenis penyakit atau tingkat keparahannya, tidak akan menghilangkan gejala sakit atau menyembuhkan penyakit, justru akan terjadi penumpukan obat yang tidak berguna di dalam tubuh (Widjajanti, 2009). Dalam Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas disebutkan bahwa, sebelum menggunakan obat, diharuskan untuk membaca sifat dan cara pemakaian obat pada etiket, brosur atau kemasan obat agar penggunaannya tepat dan aman. Pada setiap brosur atau kemasan obat selalu dicantumkan nama obat, komposisi, indikasi, informasi cara kerja obat, aturan pakai, peringatan (khusus untuk obat bebas terbatas), perhatian, nama produsen, nomor batch/lot, nomor registrasi, dan tanggal kadaluarsa. Nomor registrasi dicantumkan sebagai tanda izin edar absah yang diberikan oleh pemerintah pada setiap kemasan obat (Depkes RI, 2006). Penggunaan obat yang aman dapat diperoleh pada pelayanan obat berizin yaitu apotik dan toko obat berizin, namun pada perkembangannya obat-obatan bisa didapatkan di toko obat/kosmetik (tidak berizin), kios obat, maupun warungwarung. Untuk keamanan dalam pengobatan, hendaknya obat dibeli pada jalur resminya sehingga dapat dihindari kemungkinan obat palsu atau obat yang tidak sesuai dengan standar (Dhamasari, 2003).

37

Pemerintah mengatur criteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep, dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 919/MENKES/PER/X/1993 tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep, yaitu : 1) Tidak dikontradiksikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak dibawah usia 2 tahun, dan orang tua diatas 65 tahun 2) Pengobatan sendiri dengan obat yang tidak memberikan resiko pada kelanjutan penyakit 3) Penggunaannya tidak memerlukan cara /alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan 4) Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi 5) Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri (perbandingan relative keuntungan dan bahaya dari mengonsumsi obat) Cara penyimpanan obat yang sesuai dengan Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas (Depkes RI, 2006), adalah : 1. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tetutup rapat 2. Simpan obat dalam suhu kamar dan terhindar dari sinar matahari langsung 3. Simpan obat pada tempat yang tidak panas atau tidak lembab karena dapat menimbulkan kerusakan 4. Simpan obat bentuk cair dalam lemari pendingin 5. Jangan menyimpan obat yang telah kadaluarsa atau rusak 6. Jauhkan dari jangkauan anak-anak Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat yang aman adalah tanggal kadaluarsa (expired date) dari masa berlakunya obat. Penyimpanan obat

38

atau penggunaan wadah yang tidak sesuai dapat menurunkan mutu obat atau merusak obat. Wadah bukan sekedar pembungkus saja melainkan pelengkap yang mampu menjaga dan menjamin mutu bahan sediaan (Aritonang, 1996). Berdasarkan Permenkes RI no. 949/Menkes/Per/VI/2000 tentang registrsi obat jadi, yang dimaksud dengan obat palsu adalah obat yang di prosuksi oleh yang tidak berhak berdasarkan undang-undang yang berlaku atau obat dengan penandaan yang meniru identitas obat lain yang telah memiliki izin edar. Badan POM RI telah mengeluarkan public warning kepada masyarakat melalui media massa agar masyarakat tidak membeli obat keras di sarana tidak resmi. Untuk keamanan, disarankan membeli obat pada jalur resmi seperti pada apotik. Obat palsu sangat membahayakan kesehatan. Obat palsu dan asli sangat sulit dibedakan dari obat yang asli. Bentuk, warna dan kemasan obat palsu mirip dengan obat asli. Obat palsu hanya dapat dideteksi melalui uji laboratorium (Dwiraswati, 2008). Penggunaan obat yang aman hendaknya juga memperhatikan kualitas obat, hindari penggunaan obat yang diragukan keamanannya. Sesuai dengan peraturan pemerintah, maka obat jadi yang sudah teruji khasiat, keamanan dan mutunya terdaftar pada Badan POM (Dhamasari, 2003).

2.3 2.3.1

Perilaku Kesehatan Konsep Perilaku Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku

merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon) dan respons. Secara lebih operasional Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa

39

perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. Respons ini berbentuk 2 macam, yakni : a. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, seperti berpikir, tanggapan atau sikap batin, dan pengetahuan. Oleh sebab itu perilaku ini masih terselubung (covert behaviour). b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Oleh karena perilaku ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut overt behaviour. Robert Kwick (1974, dalam Notoatmodjo, 2003) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Dengan demikian, arti perilaku dalam hal ini adalah tindak lanjut dari suatu pengetahuan, sikap, maupun niat dari diri seseorang terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu. Meskipun perilaku adalah bentuk respon terhadap stimulus dari luar, namun dalam memberikan respon tergantung pada factor-faktor tertentu yang disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1. Factor internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan (given) 2. Factor eksternal, yaitu lingkungan baik fisik, social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor ini merupakan factor yang dominan mempengaruhi perilaku (Notoatmodjo, 2003)

40

2.3.2

Perilaku Kesehatan Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku kesehatan pada dasarnya adalah

suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : 1. Perilaku pemeliharaan kesehatan, merupakan perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha-usaha untuk menyembuhkan bilamana sakit 2. Perilaku pencarian pelayanan kesehatan, menurut Notoatmodjo (2007), respon seseorang apabila sakit antara lain : Tidak bertindak atau tidak melakukan apa-apa Tindakan mengobati sendiri (self-treatment) Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional Mencari pengobatan dengan membeli obat sendiri ke apotik Mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern (puskesmas, dokter) 3. Perilaku kesehatan lingkungan, bagaimana seseorang merespon lingkungan baik lingkungan fisik maupun social budaya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya 2.3.2 Model Perilaku Kesehatan Teori perilaku yang dikembangkan oleh Green (1980) menganalisa, bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor perilaku (behavioral factor) dan faktor non perilaku (non-behavioral factor).

41

Dasar penelitian pada perilaku kesehatan didefinisikan dalam tiga kelompok faktor yang berpotensi untuk memberikan kontribusi terhadap perilaku kesehatan yaitu: 1. Faktor predisposisi (predisposing factor), merupakan faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku. Factor penguat merupakan sikap, pengetahuan, keyakinan, nilai, serta fasilitas atau motivasi diri untuk berubah. 2. Faktor pemungkin (enabling factor), merupakan faktor-faktor yang

memungkinkan atau memfasilitasi terjadinya suar tindakan. Faktor pemungkin merupakan pertimbangan yang dapat menghambat atau memungkinkan suatu hal dapat terwujud, seperti keterbatasan fasilitas, keterbatasan sumber daya, tingkat penghasilan, atau peraturan/kebijakan yang membatasi 3. Faktor penguat (reinforcing factor), merupakan faktor-faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Faktor penguat berhubungan dengan timbal balik yang dari orang lain. Pemisahan dan pengkategorian menurut pengelompokan diatas hanyalah penyebutan saja atau list dari faktor-faktor yang nampaknya berhubungan dengan perilaku kesehatan. Perencana atau peneliti dapat memilih daftar (list) untuk disesuaikan dengan program/penelitian (Green, 1980).

42

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian

deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variable yang satu dengan variable yang lainnya (Sugiyono, 2010). Penelitian ini menggunakan metode survei dan merupakan penelitian kuantitatif.

3.2

Variable Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian dari

suatu penelitian (Arikunto, 2006). Variabel dalam penelitian ini adalah perilaku pengobatan sendiri. Perilaku pengobatan sendiri diukur dengan menggunakan indicator benar obat, benar waktu, benar pengguna, benar cara, benar dosis, informasi yang benar, cara penyimpanan obat yang benar, dan tindak lanjut yang benar . Benar obat meliputi kesesuaian pemilihan obat dengan gejala yang dialami, obat tidak melewati tanggal kadaluarsa, kemasan/wadah obat terjaga dan tidak rusak, serta obat yang telah terdaftar pada Departemen Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan. Benar waktu merupakan ketepatan dalam jarak waktu minum obat. Benar pengguna adalah tidak adanya kondisi kontraindikasi terhadap obat pada tubuh penggunanya. Benar cara meliputi cara pemberian obat yang sesuai dengan aturannya seperti dikocok dahulu, diminum

43

sebelum/sesudah makan, dan juga menggunakan sendok yang memiliki ukuran saat meminum obat (sendok takar obat). Benar dosis meliputi lama penggunaan obat yang sesuai dengan aturan, pemakaian obat tidak berlebihan (polifarmasi), dan pemberian obat sesuai antara umur dengan berat badan (sesuai takaran). Informasi yang benar didapatkan apabila obat dibeli dalam satuan bungkus terkecilnya yang memiliki informasi penting mengenai obat. Cara penyimpanan yang benar apabila obat disimpan sesuai dengan aturan pada kemasan obat. Tindak lanjut yang benar adalah apabila tindak lanjut dilakukan sesuai dengan petunjuk yang ada dalam kemasan obat.

3.3 3.3.1

Definisi Konseptual dan Definisi Operasional Definisi Konseptual

3.3.1.1 Pengobatan Sendiri Organization (WHO) tahun 1998, mendefinisikan swamedikasi (selfmedications) sebagai pemilihan dan penggunaan obat obatan (termasuk produk herbal dan tradisional) oleh individu untuk mengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri (the selection and use of medicines (include herbal and tradisional product) by individuals to treat self-recognised illnesses or symptoms). Swamedikasi juga didefinisikan sebagai penggunaan obat obatan tanpa resep dokter oleh masyarakat atas inisiatif mereka sendiri (FIP & WSMI, 1999). Menurut Shankar, et al (2002, dalam Kristina dkk, 2008), pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit ringan (minor illnesses), tanpa resep atau intervensi dokter. Pengobatan sendiri dalam hal ini dibatasi hanya untuk obat-obat modern, yaitu obat bebas dan obat bebas terbatas.

44

3.3.1.2 Perilaku Menurut Skiner (Notoatmodjo, 2003) dalam teori S-O-R, perilaku merupakan respons atau reaksi organisme/individu terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku sendiri oleh Notoatmodjo dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya), untuk memberi respon terhadap situasi dari luar subjek tersebut. Respon dapat bersifat pasif dan dapat pula bersifat aktif. Perilaku pasif atau covert behavior merupakan respon internal yang terjadi dari seseorang dan secara tidak langsung dapat dilihat orang lain (berfikir, tanggapan, sikap, batin, atau pengetahuan). Sedangkan perilaku aktif atau overt behavior yaitu perilaku yang jelas dapat diamati/diobservasi secara langsung perilaku ini sudah terlihat dalam tindakan nyata. Robert Kwick (1974, dalam Notoatmodjo, 2003) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Dhamasari (2003) menyebutkan bahwa perilaku merupakan tindak lanjut dari suatu pengetahuan, sikap, maupun niat pada diri seseorang terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu. 3.3.2 Definisi Operasional : Perilaku pengobatan sendiri : Tindakan mengobati keluhan kesehatan pada diri sendiri yang dilakukan oleh masyarakat, bukan oleh tenaga kesehatan dengan menggunakan obat (kimia) atas inisiatif sendiri tanpa melalui resep dokter Cara ukur/Alat ukur : kuisioner

Variabel Definisi operasional

45

Skala ukur Hasil ukur

: Interval : Pengukuran perilaku pengobatan sendiri dilakukan dengan menjumlahkan skor responden yang kemudian dianalisa menggunakan skor T sehingga menghasilkan kategori : benar apabila skor T 50 50

tidak benar apabila skor T

3.4 3.4.1

Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang terdapat di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong yang berjumlah 3442 jiwa yang terdiri dari 873 kepala keluarga. 3.4.2 Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2010). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah keluarga, yang melakukan pengobatan sendiri. Dengan diwakili oleh ibu sebagai respondennya. Menurut Friedman (1998) keluarga merupakan komponen utama bagi kesehatan, konsep-konsep penyakit, serta perilaku sehat. Dalam hal tertentu keluarga cenderung terlibat dalam pembuatan keputusan dan proses terapeutik pada setiap tahap sehat dan sakit para anggota keluarga, mulai dari keadaan sehat (ketika mulai diajarkan pengenalan kesehatan dan strategi-strategi kesehatan) hingga diagnosa, tindakan, dan penyembuhan.

46

Hasil penelitian Crooks dan Christopher (1979, dalam Supardi, dkk (2001) jenis kelamin wanita lebih sering melakukan pengobatan sendiri. Leibowitz (1989) menyebutkan bahwa, jenis kelamin wanita lebih banyak menggunakan obat resep dan obat bebas daripada pria. (Supardi dkk, 2001). Jenis kelamin wanita lebih banyak melakukan pengobatan sendiri (Supardi, 2001; Dhamasari, 2003; Kristina dkk, 2008). Wanita adalah pelaku dengan modalitas lebih tinggi dibandingkan pria baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. (Rinukti & Widayati, 2005). Penentuan sampel menggunakan rumus (Arikunto, 2006) :

Keterangan: N = Besar populasi n = Besar sampel d = Tingkat signifikansi (0,05) Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh jumlah sampel minimal 276 responden. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan accidental sampling.

3.5

Instrumen Pengumpulan Data Dalam penelitian ini digunakan instrument yang berbentuk kuisioner yang

menggunakan skala likert yang meminta responden untuk memberikan pernyataan selalu (SL), sering (SR), jarang (J), dan tidak pernah (TP) terhadap pernyataan dalam item pada kuisioner. Adapun skoring yang dilakukan untuk pernyataan diatas adalah untuk pernyataan positif : SL =4, SR =3, J =2, dan TP =1 untuk pernyataan negative : SL =1, SR =2, J =3, dan TP =4

47

Dalam penelitian ini digunakan instrument dari Dhamasari (2003) dengan melakukan beberapa penyesuaian. Penelitian yang dilakukan oleh Dhamasari (2003) sendiri mengenai factor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pengobatan sendiri. Dimana instrumennya berisi tentang item-item yang mengukur perilaku pengobatan sendiri dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pengobatan sendiri. Oleh karena itu peneliti hanya mengambil item-item pertanyaan untuk mengukur perilaku pengobatan sendiri saja untuk penelitian ini. Adapun modifikasi lain yang dilakukan peneliti antara lain menambahkan pertanyaan mengenai jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat. Item pertanyaan mengenai pemilihan obat untuk menangani keluhan kesehatan diubah, yang semula terdapat 4 item diubah menjadi satu item. Item pertanyaan mengenai aturan jarak waktu minum obat diubah, yang semula hanya satu item diubah menjadi 2 item. Item pertanyaan mengenai dosis obat diubah yang semula hanya satu item diubah menjadi 2 item. Adapun kisi-kisi instrument yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada lampiran.

3.6

Prosedur Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk memperoleh informasi

dari responden adalah berbentuk kuisioner. Jenis kuisioner yang digunakan adalah kuisioner tertutup dengan skala Likert. Kuisioner tertutup merupakan kuisioner yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawabannya saja (Arikunto, 1998). Dalam proses pengumpulan data, peneliti memandu responden untuk mengisi kuisioner dengan mewawancarakannya dan membantu mengisikan tanda ceklist pada kuisioner. Data perilaku pengobatan sendiri didapat dari data primer yang diperoleh langsung dari ibu rumah tangga

48

dengan menggunakan instrument penelitian yang sudah disusun. Dalam penelitian ini digunakan teknik accidental sampling. Menurut Sugiyono (2004) accidental sampling adalah teknik mengambil responden sebagai sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Teknik pengumpulan data dimulai dengan menyebarkan kuesioner yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada seluruh itemnya. Kemudian kuesioner diberikan kepada keluarga di RW 04 kelurahan Dago, yang menjadi sampel penelitian. Sebelum dilakukan pengumpulan data, peneliti terlebih dahulu memberikan lembar informed consent kepada keluarga responden. Kemudian keluarga yang bersedia menjadi responden dipandu mengisi kuisioner dengan mewawancarakan isi kuisionernya dan membantu memberikan tanda cecklist pada kolom yang sesuai dengan jawaban responden.

3.7 3.7.1

Uji Instrumen Penelitian Uji Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana relevansi pertanyaan terhadap apa

yang ditanyakan atau apa yang ingin diukur dalam penelitian. Tingkat validitas kuesioner diukur berdasarkan koefisien validitas yang dalam hal ini menggunakan koefisien korelasi item-total yang terkoreksi (Kaplan & Saccuzzo, 1993). Pada setiap instrument baik yang berbentuk test maupun non-test terdapat item-item yang berisi pertanyan maupun pernyataan. Untuk menguji validitas item instrument dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya instrumenr diujicobakan dan kemudian dianalisis dengan analisis item (Sugiyono, 2010).

49

Dalam penelitian ini setiap item dalam instrument dikonsultasikan kepada dosen mata kuliah Keperawatan Komunitas. Uji coba instrument kepada masyarakat akan dilakukan sebelum penelitian dengan cara menyebarkan instrumen yang diujicobakan kepada 20 orang yang bukan anggota dari sampel penelitian. Uji validitas dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor tiap-tiap item dengan total skor item (item total correlation). Pengujian validitas kuisioner gambaran perilaku pengobatan sendiri dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment Pearson dengan melihat item total correlation menggunakan program statistical packages for social sciences (SPSS) versi 17.0. Menurut Kaplan & Saccuzzo (1993) suatu pertanyaan dikatakan valid dan dapat mengukur variabel penelitian yang dimaksud jika nilai koefisien validitasnya lebih dari atau sama dengan 0,3 . Adapun rumus korelasi product moment dari Pearson adalah s.b.b :

dengan keterangan : rxy = koefisien korelasi n X Y = jumlah responden uji coba = skor tiap item = skor seluruh item responden uji coba Pada uji coba pertama yang dilakukan di Kelurahan Dago dengan sampel 15 orang, didapatkan hasil dari 23 item yang diujicoba terdapat 11 item pernyataan yang tidak valid. Dari hasil tersebut peneliti melakukan perbaikan

50

pada kuisioner dan melakukan uji validitas yang kedua dengan jumlah sampel 20 orang. Hasilnya didapatkan 20 item valid dan 3 item tidak valid. Tiga item pertanyaan yang tidak valid tersebut dikeluarkan dari instrument karena tidak mampu mengukur variabel yang akan diukur, sehingga menghasilkan 20 item pertanyaan yang semuanya valid. Korelasi skor total pada item-item yang valid bergerak antara 0.318 sampai dengan 0.662. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas artinya adalah tingkat keterpercayaan hasil suatu pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi, yaitu pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya (reliabel). Reliabilitas merupakan salah satu ciri atau karakter utama intrumen pengukuran yang baik (Sugiyono, 2010). Reliabilitas menunjukkan sejauh mana tingkat konsistensi pengukuran dari suatu responden ke responden yang lain atau dengan kata lain sejauh mana pertanyaan dapat dipahami sehingga tidak menyebabkan beda interpretasi dalam pemahaman pertanyaan tersebut (Kaplan & Saccuzzo, 1993). Uji reliabilitas dilakukan untuk melihat konsistensi skor alat tes. Uji reliabilitas kuisioner gambaran perilaku pengobatan sendiri pada penelitian ini menggunakan koefisien alpha cronbach dengan menggunakan program SPSS versi 17.0. Adapun rumus alpha cronbach adalah sebagai berikut :

dengan keterangan : rtt M Vx = koefisien alpha = jumlah butir = varian butir (faktor)

51

Vt

= varian total Hasilnya diketahui bahwa koefisien reliabilitas pada uji coba pertama

sebesar 0.782 dan pada uji coba kedua sebesar 0.875 (>0.7). Menurut Kaplan & Saccuzzo (1993), koefisien realiabilitas yang berkisar antara 0.7-0.8 cukup baik untuk melakukan penelitian dasar.

3.8 3.8.1

Pengolahan dan Analisa Data Pengolahan data Pemeriksaan data (editing). Pada tahap ini peneliti memeriksa setiap

lembar kuisioner yang telah terkumpul, untuk memastikan semua item telah terisi. Apabila ada yang terlewat, dilengkapi segera setelah wawancara. Pemberian kode (coding). Transformasi jawaban responden (data) yang berbentuk huruf menjadi berbentuk bilangan/angka, sehingga lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan untuk keperluan analisis. Memasukan data (data entry). Data telah melewati tahap editing dan coding, dimasukan (entry) kedalam komputer untuk dilakukan analisis. Pembersihan data (data cleaning). Melakukan pengecekan data yang sudah dimasukan kedalam komputer apakah terdapat kesalahan masukan atau tidak. Apabila terdapat kesalahan masukan, maka akan diperbaiki untuk kemudian dilakukan analisis data.

3.8.2

Analisa data Hasil kuesioner akan diolah dan setiap responden memperoleh nilai sesuai

pedoman kuesioner selalu, sering, jarang, dan tidak pernah. Untuk setiap jawaban

52

pada pernyataan positif, diberikan skor 1 untuk jawaban tidak pernah, skor 2 untuk jawaban jarang, skor 3 untuk jawaban sering, dan skor 4 untuk jawaban selalu. Sedangkan untuk pernyataan negatif, diberikan skor 4 untuk jawaban tidak pernah, skor 3 untuk jawaban jarang, skor 2 untuk jawaban sering, dan skor 1 untuk jawaban selalu. Pelaksanaan tindakan pengobatan sendiri yang dilakukan responden dikategorikan dalam kategori benar atau tidak benar. Langkah analisis yang akan digunakan adalah dengan menggunakan skor T:

Keterangan: T x = skor standar yang digunakan dalam slaka Likert = skor responden yang hendak diubah menjadi skor T = mean skor kelompok SD = deviasi standar skor kelompok (Azwar, 2004)

Skor kelompok diperoleh melalui penjumlah skor dari item pertanyaan untuk perilaku pengobatan sendiri. Dari analisa data akan didapatkan gambaran perilaku pengobatan sendiri yang terdiri dari benar dan tidak benar. Dikatakan benar jika hasil perhitungan T perhitungan T 50 (Azwar, 2004). 50, dan dikatakan tidak benar jika hasil

Selanjutnya setiap kategori akan dihitung frekuensi dan proporsinya untuk seluruh responden dengan rumus proporsi sebagai berikut:

Keterangan: p = proporsi dalam persen

53

f = jumlah responden pada yang masuk dalam kriteria n = jumlah total responden Selanjutnya persentase skor responden dari setiap kategori tersebut

diinterpretasikan ke dalam kriteria, sebagai berikut (Nursalam, 2008) : 0% 1 25% : Tak seorang pun responden : Sebagian kecil responden

26 49% : Kurang dari setengah responden 50% : Setengah responden

51 75% : Lebih dari setengah responden 76 99% : Sebagian besar responden 100 % : Seluruh responden

3.9

Tahapan Penelitian Pra Persiapan. Tahap pra persiapan pada penelitian ini terdiri dari: 1)

menentukan masalah penelitian; 2) melakukan studi pustaka; 3) memilih tempat penelitian; 4) permohonan izin studi pendahuluan dan penelitian; 5) melakukan studi pendahuluan; 6) menyusun proposal; 7) bimbingan; 8) seminar proposal penelitian. Persiapan. Tahap persiapan pada penelitian ini terdiri dari: 1) perbaikan hasil seminar proposal dan pengadaan instrument; 2) melakukan uji validitas dan reliabilitas; 3) bimbingan; Pelaksanaan. Tahap pelaksanaan pada penelitian ini terdiri dari: 1) mengumpulkan data; 2) mengecek kelengkapan data; 3) menganalisis data dan menarik kesimpulan; 4) bimbingan

54

Akhir. Tahap akhir dalam penelitian terdiri dari: 1) penyusun laporan akhir; 2) penyajian hasil penelitian/sidang skripsi; 3) perbaikan hasil sidang

3.10

Etika Penelitian Berkaitan dengan etika penelitian, peneliti menjamin hak-hak setiap

responden dengan cara menjamin kerahasiaan identitas responden (anonimity) dan data-data yang diperoleh diluar keperluan penelitian (confidentiality) serta peneliti memberikan penjelasan tujuan dan manfaat penelitian, kemudian memberikan hak untuk menolak dijadikan sebagai responden (informed concent).

3.11

Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 s.d 28 Februari 2011 di RW 04

Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan selama hampir satu bulan, dimulai tanggal 1 s.d. 28 Februari 2011 di RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung. Metode pengambilan sampel dengan cara accidental sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 278 keluarga dengan ibu sebagai respondennya. Karakteristik semua responden akan tergambar pada tabel 4.1. Sedangkan hasil penelitian tergambar pada tabel 4.2, tabel 4.3, tabel 4.4 serta table 4.5. Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Umur, Pekerjaan, dan Pendidikan
Karakteristik Umur 18-24 tahun 25-65 tahun > 65 tahun Total Pekerjaan IRT PNS Swasta Wiraswata Total Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total Frequency 31 245 2 278 247 9 7 15 278 42 83 143 10 278 Persentase 11.2 88.1 0.7 100.0 88.8 3.2 2.5 5.4 100.0 15.1 29.9 51.4 3.6 100.0

55

56

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa berdasarkan kategori umur, sebagian besar responden (86,3%) termasuk kedalam rentang usia 2665 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan, lebih dari setengah responden berpendidikan SMA (51,4%),. Berdasarkan jenis pekerjaan, sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga (88.8%).

4.1

Hasil Penelitian Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago

Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Perilaku Pengobatan Sendiri kategori Benar Tidak benar total frekuensi 145 133 278 Persentase 52.2 47.8 100

Tabel 4.2 menunjukan bahwa lebih dari setengah responden (52.2%) termasuk kedalam kategori benar dalam melakukan pengobatan sendiri. Sedangkan kurang dari setengah responden (47.8%) termasuk kedalam kategori tidak benar dalam melakukan pengobatan sendiri. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Tempat Membeli Obat
Tempat Membeli Obat Apotik Toko Obat Berizin Swalayan/Minimarket Warung/kios/kedai total Frequency 68 12 39 159 278 Persentase 24.5 4.3 14 57.2 100

57

Dari table 4.3 diketahui bahwa lebih dari setengah responden membeli obatnya di warung/kios/kedai pada saat melakukan pengobatan sendiri, sedangkan sebagian kecil lainnya di apotik (24.8%), toko obat berizin (4.3%), dan swalayan/minimarket (14%). Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Biaya untuk Membeli Obat (saat melakukan pengobatan sendiri)
Jumlah Biaya Rp 1.000 Rp 2.000 Rp 2.001 Rp 5.000 Rp 5.001 Rp 10.000 >Rp 10.000 total Frequency 123 97 43 15 278 Persentase 44,2 34,9 15,5 5,4 100

Tabel 4.4 menunjukan bahwa sebagian responden mengeluarkan biaya antara Rp1000,- s.d. Rp2.000,- (44.2%) dan Rp2.000,- s.d. Rp5.000,- (34.9%) untuk membeli obat saat melakukan pengobatan sendiri, dan sisanya mengeluarkan biaya lebih dari Rp5.000,-. Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden di RW 04 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota Bandung Berdasarkan Keluhan Kesehatan yang dialami
Keluhan Kesehatan Influenza Batuk Sakit kepala Demam Nyeri otot Diare Sakit gigi Maag Gatal-gatal/alergi total Frequency 56 36 50 44 28 33 22 6 3 278 Persentase 20 13 18 16 10 12 8 2 1 100

58

Dari diagram 4.1 diketahui bahwa keluhan yang paling banyak dialami oleh responden adalah influenza sebanyak 56 responden, sebagian kecil lainnya mengalami batuk 36 responden, sakit kepala 50 responden, demam 44 responden, nyeri otot 28 responden, diare 33 responden, sakit gigi 22 responden, maag 6 responden, dan gatal/alergi 3 orang.

4.2

Pembahasan Dari tabel 4.2 diketahui bahwa sebanyak 145 orang termasuk dalam

kategori benar. Hal ini berarti lebih dari setengah responden (52.2%) telah melakukan pengobatan sendiri dengan benar. Selain itu diketahui juga bahwa sebanyak 133 orang termasuk kedalam kategori tidak benar. Hal ini berarti kurang dari setengah responden (47.8%) masih melakukan pengobatan sendiri dengan tidak benar. Hal ini menunjukan bahwa masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh responden saat melakukan pengobatan sendiri. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya informasi yang diketahui masyarakat tentang pengobatan sendiri yang benar. Setiap ketidaksesuaian saat melakukan pengobatan sendiri, akan mengakibatkan tidak efektifnya tindakan pengobatan sendiri yang dilakukan. Takaran dosis yang tidak sesuai, tidak akan mendatangkan kesembuhan bahkan dapat membahayakan. Begitu pula dengan frekuensi yang tidak tepat dalam meminum obat, hal ini dapat menyebabkan kadar obat di dalam tubuh tidak stabil, sehingga efek terapi tidak konstan. Penyimpaan obat yang salah dapat mengurangi mutu obat, dimana apabila suatu obat rusak maka khasiatnya pun pasti akan menurun. Membeli obat di tempat yang tidak berizin beresiko akan dijualnya obat palsu dan tidak terstandar, dimana mutunya tidak terjamin begitu pula khasiatnya.

59

Menggunakan obat secara bersama-sama (campuran) memiliki efek-efek yang harus diperhatikan, juga pengulangan atau penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama yang dapat menyebabkan efek yang tidak menguntungkan. Pembelian obat dalam satuan terkecilnya sangat penting, mengingat dalam kemasan obat terdapat informasi penting obat, hanya dalam satuan bungkus terkecilnya saja informasi tersebut dapat didapatkan secara lengkap. Jadi apabila obat dibeli hanya sebagian (seperlunya) maka kemasannya pun akan ikut terbagi, sehingga informasi yang diperoleh tidak akan lengkap. Selain itu diketahui juga dari table 4.4 bahwa sebagian besar responden paling sering mendatangi tempat yang tidak memiliki izin resmi dalam membeli obat untuk melakukan pengobatan sendiri. Hal ini dapat memungkinkan terjadinya kesalahan informasi, dimana di warung/kios/kedai tidak ada apoteker atau petugas kesehatan yang siap memberikan informasi yang tepat mengenai obat dan cara penggunaannya. Pengobatan sendiri memiliki resiko yang dapat terjadi apabila tidak mengenali keseriusan gangguan yaitu, keseriusan keluhan yang dinilai salah atau yang mungkin tidak dikenali, sehingga pengobatan sendiri dilakukan terlalu lama. Akibatnya gangguan menjadi semakin parah sehingga konsultasi yang dilakukan kemudian menjadi terlambat. Penggunaan obat yang kurang tepat yaitu, obat-obat digunakan secara salah, terlalu lama digunakan atau dalam takaran yang terlalu besar (Tan & Raharja, 2007). Apabila digunakan dengan cara yang benar, obat bebas dan obat bebas terbatas seharusnya bisa sangat membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri secara aman dan efektif. Namun sayangnya, seringkali dijumpai bahwa

60

pengobatan sendiri menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat-obat yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau malah bisa berbahaya misalnya karena penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan pakai. Bagaimanapun, obat bebas dan bebas terbatas bukan berarti bebas efek samping, sehingga pemakaiannya pun harus sesuai dengan indikasi, lama pemakaian yang benar, disertai dengan pengetahuan pengguna tentang risiko efek samping dan kontraindikasinya (Suryawati, 1997). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi perilaku pengobatan sendiri. Hasil penelitian Dhamasari (2003) menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan dengan pengobatan sendiri yang Aman, Tepat, dan Rasional. Begitu pula hasil penelitian Kristina, dkk (2008) dan Supardi, dkk (2002) yang menyatakan bahwa pengetahuan berhubungan dengan perilaku pengobatan sendiri yang rasional. Dhamasari (2003) berpendapat bahwa penggunasalahan obat (drugs misuse) yang dilakukan oleh masyarakat mengakibatkan ketidakcocokan dan ketidakefektifan. Obat menjadi tidak berguna atau bahkan membahayakan. Informasi obat yang benar kepada masyarakat menjadi sangat dibutuhkan. Kekurangan atau kesalahan informasi mengenai produk dan mutu obat bisa mengakibatkan konsumen salah mengonsumsi obat. Ketepatan informasi tentang obat yang diterima oleh masyarakat sangat dibutuhkan untuk menghindari penggunasalahan obat (drug misuse), yang akan mengakibatkan ketidakcocokan dan ketidakefektifan pengobatan. Perawatan di komunitas difokuskan untuk meningkatkan dan

mempertahankan kesehatan, pendidikan, dan manajemen, serta mengoordinasikan

61

dan melanjutkan perawatan restoratif di dalam lingkungan komunitas klien. Perawat komunitas mengkaji kebutuhan kesehatan individu, keluarga, dan komunitas, serta membantu klien berupaya melawan penyakit dan masalah kesehatan (Potter & Perry, 2005). Sebagai salah satu tenaga kesehatan, perawat memiliki peran sebagai advokat atau pelindung, dimana perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien (masyarakat) dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostik atau pengobatan (Potter & Perry, 2005). Dalam swamedikasi perawat dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari

penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drug misuse). Sebab masyarakat cenderung hanya mengetahui merek dagang tanpa mengetahui zat yang berkhasiatnya (Depkes, 2006). Informasi yang benar mengenai swamedikasi dapat perawat berikan melalui penyuluhan dan pelatihan mengenai swamedikasi yang benar. Menurut Potter & Perry (2005), sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemonstrasikan prosedur, menilai pemahaman klien tentang apa yang dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pempelajaran. Perawat menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien serta melibatkan sumber-sumber lain yang diperlukan untuk pembelajaran.

62

4.3

Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya, dalam

penelitian ini hanya dicari gambaran perilaku yang dilakukan masyarakat, sehingga tidak diketahui factor-faktor apa saja yang dapat berpengaruh pada perilaku yang dilakukan. Karena belum adanya instrument yang baku dalam mengukur perilaku pengobatan sendiri, peneliti kesulitan dalam membuat instrument yang sesuai, sehingga peneliti menggunakan instrument dari peneliti lain dan membuat modifikasi instrument berdasarkan teori dan masalah-masalah yang berkaitan dengan tindakan pengobatan sendiri. Selain itu data primer dari penelitian ini diperoleh dari pengisian kuisioner yang ditanyakan langsung kepada responden. Jawaban yang diberikan bisa sangat subjektif dan kemungkinan terjadi recall bias. Hal ini tidak dapat dihindari karena pengukuran data dalam penelitian ini berdasarkan pada apa diingat responden mengenai pengobatan sendiri yang dilakukan oleh dirinya maupun keluarganya.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan penelitian maka dapat disimpulkan

bahwa perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat RW 04 Kel. Dago Kec. Coblong Kota Bandung, berada dalam kategori benar dengan persentase 52.2%.

5.2 5.2.1

Saran Bagi Perawat Komunitas Hasil dari penelitian ini diharapkan agar perawat yang berada di wilayah

kerja UPT Puter dapat memberikan lebih banyak informasi kepada masyarakat mengenai pengobatan sendiri yang benar. Informasi-informasi tersebut dapat berupa cara penggunaan obat yang benar, jarak waktu pemberian obat yang tepat, dosis obat yang tepat, kondisi-kondisi khusus yang harus dipertimbangkan sebelum menggunakan obat, keamanan dari obat yang digunakan (sumber obat), perlakuan yang benar dalam penyimpanan obat, tindak lanjut yang benar setelah pengobatan sendiri, dan informasi yang tepat mengenai obat seperti indikasi atau zat aktif obat yang digunakan. Perawat diharapkan untuk mensosialisasikan juga aturan yang benar mengenai pengobatan sendiri. Selain informasi yang terkait dengan pengobatan sendiri, perawat juga dapat mengingatkan kembali ibu-ibu untuk memfungsikan kembali TOGA. TOGA dapat digunakan sebagai pengganti obat modern dalam melakukan

63

64

pengobatan sendiri. Upaya-upaya peningkatan dan pengarahan perilaku pengobatan sendiri yang benar tersebut dapat dilakukan dengan pemberian informasi melalui penyuluhan, penyebaran leaflet, pemasangan poster, maupun pelatihan-pelatihan tentang pengobatan sendiri yang benar. FGD

5.2.2

Bagi peneliti selanjutnya Melalui penelitian ini, diharapkan agar hasilnya dapat menjadi tambahan

informasi bagi para peneliti lainnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai perilaku pengobatan sendiri. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyempurnakan instrument yang digunakan dalam indicator perilaku pengobatan sendiri yang aman, tepat, dan rasional. Peneliti selanjutnya juga dapat melakukan penelitian dengan sampel individu untuk menemukan variasi lain yang belum ditemukan dalam penelitian ini, mengingat penelitian ini dilakukan dengan sampel keluarga dan semua respondennya adalah ibu. Selain itu diperlukan penelitian lanjutan untuk mencari faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku pengobatan sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Amoako, E P., et all. 2003. Self-medications with over the counter drugs among elderly adult. Journal of Gerontology Nursing. Vol. 20, hal 10-15 Anief, M. 1996. Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Kegunaannya. Yogyakarta : UGM Press Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta Dharmasari, S., 2003. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pengobatan Sendiri yang Aman, Tepat dan Rasional pada Masyarakat Kota Bandar Lampung. http://www.digilib.ui.ac.id (diakses 12 April 2010) Dinas Kesehatan Kota Bandung. 2008. Data RISKESDAS tahun 2007 (khusus kota Bandung). Bandung: Departemen Kesehatan RI Ditjen.POM. 1997. Kompendia Obat Bebas, Edisi 2. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Ditjen Yanfar dan Alkes. 2002. Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI _______. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Fakultas Keperawatan. 2010. Pedoman Skripsi Tahun 2010. Jatinangor: Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Green, L. W., et all. 2000. Health Promotion Planning An Educational and Environmental Approach, Second Edition. California: Mayfield Publising Company Holt, Gary A. & Edwin L. Hall. 1986. The pros and cons of self-medication. Journal of Pharmacy Technology. September /October: 213-218 Kristina, A S., Prabandari, Y S., Sudjaswadi, R. 2008. Perilaku Pengobatan Sendiri yang Rasional pada Masyarakat Kecamatan Depok dan Cangkringan Kabupaten Sleman. Majalah Farmasi Indonesia 19 (1), hal 32-40 Kaplan, R M. & Saccuzzo, D P. 1993. Phsycological Testing principles, application, and issues. California: Brooks/Cole Publishing Company Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta 65

66

_______. 2005. Promesi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta _______. 2007. Promosi dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Potter, P A., Perry, A G. 2005. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: EGC Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta Supardi, S, dkk, 2002. Penggunaan Obat yang Rasional dalam Pengobatan Sendiri Keluhan Demam, Sakit Kepala, Batuk, Pilek (Hasil Analisis Lanjut Data SKRT 2001), Laporan Penelitian Badan LiTBC Cangkes, Jakarta. Supardi, S., Sampurno, O. D., Notosiswoyo, M., 2002, Pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan pada ibu-ibu di Jawa Barat, dalam Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 30, 11-21 _______, 2005, Pengobatan sendiri sakit kepala, demam, batuk dan pilek pada masyarakat desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. 2, 134-144 Supranto J. 2000. Statistik Teori dan Aplikasi, Jilid 1, Edisi ke 6. Jakarta: Erlangga Tan, Hoan Tjay & Rahardja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek Sampingnya Edisi IV. Jakarta: Elex Media Komputindo UPT Puter. 2009. Laporan Tahunan UPT Puskesmas Puter 2009. Bandung: Dinas Kesehatan Kota Bandung Widayati, A. 2006. Kajian Perilaku Swamedikasi Menggunakan Obat Anti Jamur Vaginal (Keputihan) oleh wanita Pengunjung Apotek di Kota Yogyakarta http://www.usd.ac.id Widjajanti, V N. 2009. Obat-Obatan. Yogyakarta: Kanisius World Self-Medication Industry (WSMI). 1999. Guiding Principles in Self-Medication. Sydney. http//www.wsmi.org. (diakses 12 April 2010)

67

68

KISI-KISI KUISIONER
Variabel Perilaku Pengobatan sendiri Indicator karakteristik biaya asal obat benar obat Deskripsi Karakteristik responden Biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat saat pengobatan sendiri Tempat yang didatangi untuk membeli obat saat melakukan pengobatan sendiri - Kesesuaian pemilihan obat dengan gejala yang dialami - Obat tidak melewati tanggal kadaluarsa - Kemasan /wadah obat terjaga, tidak rusak - Obat yang telah terdaftar pada Departemen Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan benar waktu benar pengguna benar cara Waktu pemberian obat yang sesuai (jarak antara waktu minum obat) Tidak terjadi kontraindikasi obat dengan kondisi pengguna obat Cara pemberian obat yang sesuai yaitu dikocok dahulu, diminum sebelum/sesudah makan, menggunakan sendok yang memiliki ukuran saat meminum obat (sendok takar obat) benar dosis - Lama penggunaan obat sesuai dengan aturan - *Pemakaian obat tidak berlebihan (polifarmasi) - Pemberian obat sesuai antara umur dengan berat badan (sesuai takaran) Informasi yang benar penyimpanan yang benar tindak lanjut yang benar Membeli obat dalam satuan bungkus terkecil yang memiliki informasi penting obat Cara penyimpanan obat yang sesuai dengan aturan - Apabila kondisi tubuh membaik - Apabila kondisi tubuh tidak membaik 23, 24 26, 27 (-) 28 (-), 29, 30 (-) 11 17 (-) 18 (-) 21 20, 22 (-) 19 15 (-), 16, 25 12 14 13 10a, b 9 Item 1 s.d.7 8

Lembar Pengantar Penelitian

Kepada Yth. Ibu/Bapak Responden di RW 04 Kelurahan Dago Dengan Hormat, Saya yang bertandatangan di bawah ini, mahasiswa Fakultas Ilmu Keprawatan UNPAD Bandung: Nama Npm : Santi Purwanti : 220110060047

Alamat : KPAD Pindad Utara blok D2 no 16 Kiaracondong Bandung 40284 sedang menyelesaikan skripsi, melakukan penelitian mengenai Gambaran Perilaku Pengobatan Sendiri Pada Masyarakat RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Saya akan mengumpulkan data penelitian melalui wawancara secara langsung kepada ibu yang berkenan sebagai responden. Oleh karena itu saya mohon bantuan dari Ibu/Bapak untuk memberikan jawaban sesuai dengan apa yang biasa Anda lakukan dalam wawancara yang akan dilakukan. Karena pertanyaan dalam wawancara ini tidak bermaksud untuk menguji atau menilai perilaku Anda. Segala informasi yang berkaitan dengan identitas dan jawaban yang anda berikan dalam wawancara ini, akan dirahasiakan, dan hanya akan digunakan untuk keperluan penelitian saja. Saya sangat menghargai kesediaan Ibu/Bapak untuk meluangkan waktu dalam wawancara ini. Apabila Ibu/Bapak menyetujui, mohon untuk menandatangani lembar persetujuan yang disediakan. Kesediaan dan partisipasi Ibu/Bapak sangat saya harapkan, atas perhatian dan bantuannya saya ucapkan terima kasih. Bandung, Februari 2011 Hormat saya,

santi purwanti

69

70

Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Setelah mendapatakan penjelasan dari peneliti tentang maksud dan tujuan penelitian. Begitu pula mengenai kemungkinan yang terjadi serta hal-hal yang menyangkut atau merugikan dari pelaksanaan penelitian dengan topic Gambaran Perilaku Pengobatan Sendiri pada Masyarakat RW 04 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung maka saya : Nama Alamat : :

Dengan ini menyatakan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Demikian surat ini saya tandatangani secara sukarela, tanpa paksaan dari pihak manapun.

Bandung, Februari 2011 Responden

71

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA (KUISIONER) GAMBARAN PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI PADA MASYARAKAT RW 04 KELURAHAN DAGO KECAMATAN COBLONG KOTA BANDUNG
Dalam penelitian ini pengobatan sendiri dibatasi sebagai pengobatan terhadap segala keluhan kesehatan pada diri sendiri yang dilakukan oleh masyarakat, bukan oleh tenaga kesehatan dengan menggunakan obat-obatan modern, yang didapatkan melalui apotik, toko obat, maupun toko kelontong, warung, kios dll, atas inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter, perawat, bidan, apoteker, atau asisten apoteker. Tidak termasuk dalam penelitian ini adalah pengobatan altrnatif (shinshe, dukun, dll), obat tradisional (jamu racikan, herbal, dll) maupun cara tradisional (pijat, kerikan, dll). Silahkan Ibu menjawab pertanyaan berikut ini dengan apa adanya, jawaban paling benar adalah yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 1. Apakah dalam 1 bulan terakhir keluarga Ibu mempunyai keluhan kesehatan? Tidak Ya Dalam menangani keluhan kesehatan tersebut, apakah Ibu melakukan pengobatan sendiri? Tidak Ya Nama/Identitas lain Alamat Umur Pendidikan terakhir Pekerjaan

2.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

: : : : :

Dimanakah Ibu paling sering membeli obat untuk pengobatan sendiri? Apotek Toko obat berizin Swalayan/minimarket/supermarket Warung/kios/toko kelontong/kedai

9.

Berapa biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan sendiri? Rp.______________

10. Obat apa yang Ibu gunakan untuk menangani keluhan kesehatan yang dialami dalam 1 bulan terakhir? Keluhan kesehatan Nama obat/merek dagang (10)

72

Dalam melakukan pengobatan sendiri apa sajakah yang Bapak/Ibu lakukan? Keterangan 11. Membeli obat dalam satuan bungkus terkecil yang memiliki informasi penting obat (1 papan/ 1 strip) 12. Memperhatikan tanggal kadaluarsa obat 13. Memperhatikan izin/registrasi obat di Depkes / BPOM 14. Memperhatikan keadaan kemasan/bungkus/wadah/botol obat, apakah ada kerusakan atau tidak (tersegel/utuh/rapat/robek/tergores/dll) 15. Apabila pada aturan jarak waktu meminum obat tertulis 3xsehari maka obat diminum setiap 6 jam 16. Apabila pada aturan jarak waktu meminum obat tertulis 3xsehari maka obat diminum setiap 8 jam 17. Meminum obat melebihi waktu yang tertera pada aturan pakai obat (dalam kemasan) 18. Menggunakan lebih dari satu obat apabila ada beberapa keluhan yang dirasakan secara bersamaan 19. Memperhatikan kondisi-kondisi khusus (wanita hamil, menyusui, penderita maag, diabetes, ginjal, lever, dll) 20. Menggunakan obat sesuai aturan cara pakai (sebelum makan, setelah makan, dikocok dulu, dikunyah, dll) 21. Menggunakan obat sesuai dengan usia dan dosis/takaran 22. Menggunakan sendok rumah saat meminum obat cair/syrup 23. Menyimpan obat cair/syrup yang sudah dibuka di lemari pendingin/kulkas atau sesuai aturan pada kemasan tidak pernah jarang sering selalu

73

24. Menyimpan

obat

tablet/kaplet/kapsul/pil

yang

sudah

digunakan dalam tempat khusus obat yang kering, sejuk, dan terlindung dari sinar matahari 25. Apabila lupa minum obat, obat diminum segera setelah teringat (sebelum mendekati jadwal selanjutnya) Apa yang ibu lakukan dengan sisa obat yang ada apabila kondisi tubuh mulai membaik setelah melakukan pengobatan sendiri? Keterangan 26. Menghabiskan sisa obat 27. Berhenti minum obat kemudian menyimpan sisa obat untuk disarankan pada anggota keluarga apabila memiliki keluhan kesehatan yang sama Apa yang ibu lakukan apabila kondisi kesehatan tidak membaik atau menimbulkan gejala-gejala baru setelah melakukan pengobatan sendiri? Keterangan 28. Mengganti obat (merek dagang) dengan yang lain 29. Pergi ke dokter/puskesmas apabila tidak sembuh setelah mengobati sendiri 30. Pergi ke tempat pengobatan tradisional/alternative apabila tidak sembuh setelah mengobati sendiri tidak pernah jarang sering selalu tidak pernah jarang sering selalu

74

RELIABILITY /VARIABLES=soal2 soal3 soal4 soal5 soal6 soal7 soal8 soal9 soal11 soal12 soal13 soal14 soal15 spal16 soal17 soal18 soal20 soal21 s oal22 soal23 /SCALE('ALL VARIABLES') ALL /MODEL=ALPHA /STATISTICS=DESCRIPTIVE SCALE /SUMMARY=TOTAL.

Reliability [DataSet1] F:\kitty mklo\SPSS\uji valid kedua.sav


Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total 20 0 20 % 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Item Statistics Mean soal2 soal3 soal4 soal5 soal6 soal7 soal8 soal9 soal11 soal12 soal13 soal14 soal15 spal16 soal17 soal18 soal20 soal21 soal22 soal23 2.90 3.20 3.00 3.30 2.25 1.85 1.85 2.70 3.10 3.50 3.25 2.80 2.05 1.85 2.80 2.45 2.30 2.15 3.00 1.70 Std. Deviation 1.165 1.152 1.170 1.031 1.070 .988 1.089 1.261 1.071 .889 1.020 1.005 1.191 1.226 1.361 1.432 1.174 1.182 1.257 1.031 N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .875 N of Items 20

75

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted soal2 soal3 soal4 soal5 soal6 soal7 soal8 soal9 soal11 soal12 soal13 soal14 soal15 spal16 soal17 soal18 soal20 soal21 soal22 soal23 49.10 48.80 49.00 48.70 49.75 50.15 50.15 49.30 48.90 48.50 48.75 49.20 49.95 50.15 49.20 49.55 49.70 49.85 49.00 50.30 Scale Statistics Mean 52.00 Variance 155.368 Std. Deviation 12.465 N of Items 20 145.042 141.747 145.053 141.695 138.303 146.766 145.503 140.432 144.726 142.579 145.039 138.695 138.471 139.818 136.274 134.261 138.853 142.871 136.526 140.221 Corrected ItemTotal Correlation .320 .448 .318 .514 .633 .319 .330 .447 .368 .566 .378 .662 .552 .485 .543 .574 .547 .393 .588 .577 Cronbach's Alpha if Item Deleted .874 .870 .875 .868 .864 .874 .874 .870 .873 .867 .872 .864 .866 .869 .867 .865 .867 .872 .865 .866

76

obat (merek dagang) yang digunakan untuk melakukan pengobatan sendiri


Keterangan : : obat bebas : obat bebas terbatas : obat keras : tidak sesuai dengan keluhan : sesuai dengan keluhan 1. Influenza Nama obat Amoxilin Biogesik Bodrex Bodrex Flu & Batuk Decolgen Decolsin Flutamol Inza Mixagrip Neozep Forte OBH Panadol Panadol Flu dan Batuk Panadol Extra Procold Sanaflu Stopcold Ultraflu Total Batuk Nama obat Biogesik Bisolvon Bodrex Flu & Batuk Ikadril Komix Konidin Laserin Mextrill Mixagrip OBH Panadol Flu dan Batuk Stopcold Ultraflu Vicks Formula 44 total jumlah 1 1 1 5 3 1 1 1 11 7 1 2 5 1 2 4 1 8 56 % 1.8 1.8 1.8 8.9 5.4 1.8 1.8 1.8 19.6 12.5 1.8 3.6 8.9 1.8 3.6 7.1 1.8 14.3 100 3. Sakit kepala Nama obat Asam Mefenamat Biogesik Bodrex Inza Oskadon Panadol Panadol Flu dan Batuk Panadol Extra Paracetamol Paramex Pol & Mig Sanmol Saridon total Demam Nama obat Biogesik Bodrex Inza Konidin Neozep Forte Oskadon Panadol Panadol Flu dan Batuk Paracetamol Paramex Procold Sanmol Ultraflu total Sakit gigi Nama obat amoxilin asam mefenamat 36 100

jumlah 3 1 4 2 5 6 1 7 4 11 3 1 2 50

% 6 2 8 4 10 12 2 14 8 22 6 2 4 100

4.

2.

jumlah 1 1 2 1 5 3 5 2 1 9 2 1 1 2

% 2.8 2.8 5.6 2.8 13.9 8.3 13.9 5.6 2.8 25 5.6 2.8 2.8 5.6

jumlah 1 2 1 1 3 2 12 1 14 3 1 2 1 44

% 2.3 4.5 2.3 2.3 6.8 4.5 27.2 2.3 31.8 6.8 2.3 4.5 2.3 100

5.

jumlah 13 6

% 59.1 27.3

77

6.

Ponstan Oskadon Nyeri otot Nama obat Amoxilin Asam Mefenamat Dexamethasone Neuralgin Klotaren Oskadon SP Piroxicam Neo Rhemacyl Stanza Obat Gosok Total Diare Nama obat Dialet Diapet New Diatabs Neo Entrostop Micodiar Obat Gosok Total maag Nama obat Gastrucid Ranitidin Mylanta Promag Total gatal/alergi Nama obat Ctm Total

1 2 jumlah 1 1 2 1 2 6 3 8 2 2 28

4.5 9.1 % 3.6 3.6 7.1 3.6 7.1 21.4 10.7 28.6 7.1 7.1 100

total

22

100

7.

jumlah 4 8 12 5 1 3 33

% 12.1 24.2 36.4 15.2 3 9.1 100

8.

jumlah 1 1 2 2 6

% 16.7 16.7 33.3 33.3 100

9.

jumlah 3 3

% 100 100

Dikelompokkan seuai dengan : ISO volume XX, Farmakope Indonesia edisi 4

78

karakteristik responden responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 umur 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 3 = 65 th keatas f = 245 % = 0.72 2 = 25 - 65 th f = 245 % = 88.1 keterangan 1 = 18 - 24 th f = 31 % = 11.2 pendidikan 3 2 3 1 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 1 2 1 3 2 3 2 2 3 3 3 3 3 1 3 2 2 2 3 1 2 2 3 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 4 = PT f = 10 % = 3.6 3 = SMA f = 143 % = 51.4 2 = SMP f = 83 % = 29.9 keterangan 1 = SD f = 42 % = 15.1 pekerjaan 1 1 1 1 1 2 1 4 1 1 1 1 1 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 4 = Wirausaha f = 15 % = 5.4 3 = Swasta f=7 % = 2.5 2 = PNS f=9 % = 3.2 keterangan 1 = IRT f = 247 % = 88.8

79

49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98

2 2 2 3 1 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1

2 1 1 1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 4 3 4 4 3 2 3 3 3 1 1 2 3 3 3 2 2 2

1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 2 1 2 3 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

80

99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1

3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 3 1 2 2 3 1 2 1 3 3 3 1 3 4 3 1 3 3 3 2 1 1 3 3 1 4 3 2 3 2 2 3 3

1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

81

149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198

2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 3 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3 1 2 2 3 1 2 2 3 1 1 2 3 3 3 3 3 2 2 2 1 1 1 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 3 2 2 4 3

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 2 1

82

199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248

1 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2

1 1 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2 1 3 1 2 2 3 1 2 1 3 3 3 3 4 3 1 3 3 3 1 1 3 3 1 4 3 3 2

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 1 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

83

249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278

2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2

2 3 3 1 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 1 2 1 3 2 3 2 3 3 3 3 1 3 2

1 1 1 1 1 1 1 2 1 4 1 1 1 1 1 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 4

84

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama NPM Fakultas Tempat lahir Tanggal lahir Alamat

: Santi Purwanti : 220110060047 : Keperawatan : Bandung : 12 Desember 1988 : KPAD Pindad Utara blok D22 no.16 Kiaracondong Bandung 40284

Riwayat pendidikan formal : SD SMP SMA : SDN Babakan Sentral II : SMPN 30 Bandung : SMAN 8 Bandung

Bandung, Januari 2012

santi purwanti

85

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi Nama Nomor Telepon Email : Santi Purwanti : 081320221310 / 081312214531 / 0227320262 : santipurwanti2013@gmail.com atau santipurwanti2012@gmail.com Alamat : KPAD Pindad Utara D22 No.16, Kiaracondong Bandung 40284 Tempat Lahir / Tanggal Lahir Jenis Kelamin Warga Negara Agama Golongan darah : Bandung, 12 Desember 1988 : Perempuan : Indonesia : Islam :B

II. Riwayat Pendidikan


Periode 2003 2006 2012 2006 2012 2013 Sekolah / Institusi / Universitas SMA Negeri 8 Bandung Universitas Padjadjaran Bandung Universitas Padjadjaran Bandung Jurusan IPA Keperawatan Keperawatan Jenjang SMA S1 Ners IPK 3.08 3.11

86

III. Seminar dan Pelatihan


No 1 2 3 Tahun 2007 2007 2008 Penyelenggara Badan Eksekutif Mahasiswa FIK UNPAD Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD Program Pascasarjana BKU Sport Medicine Fakultas Kedokteran UNPAD Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisian Medik Kemenkes RI & Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD Seminar / Pelatihan Latihan Dasar Kepemimpinan dan Organisasi Advance-1 Level of Quantum Learning Pelatihan Masase Kesehatan

4 5

2009 2013

Seminar Manajemen Laktasi Pelatihan ENIL (Emergency Nursing Intermediate Level)

IV. Riwayat Pengalaman Kerja dan Organisasi Tahun Instansi / Perusahaan Posisi Tahun Instansi Posisi Tahun Instansi Posisi : 2011 : Lembaga Survei Indonesia (LSI) : Surveyor Lapangan : 2008 2009 : Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan UNPAD : Bendahara Himpunan : 2007 2008 : Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas KeperawataN UNPAD : Staff Wirausaha

Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenar-benarnya, semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

(Santi Purwanti)

87

Foto Copi KTP

Sertifikat Quantum Learning

Sertifikat Manajemen Laktasi

88

Sertifikat Pelatihan Masase

89

Sertifikat ENIL

90

TOEFL

91

92