Anda di halaman 1dari 31

M MO OD DU UL L P PR RA AK KT TI IK KU UM M

E EK KO OL LO OG GI I P PE ER RT TA AN NI IA AN N




P Pr ro of f. . D Dr r. . I Ir r. . K Ku ur rn ni ia at tu un n H Ha ai ir ri ia ah h
D Dr r. . I Ir r. . N Nu ur ru ul l A Ai in ni i, , M MS S
D Dr r. . I Ir r. . T To ot to o H Hi im ma aw wa an n, , M MS S
W Wi iw wi in n S Su um mi iy ya a D Dw wi i Y Y, , S SP P. . M MP P















U UN NI IV VE ER RS SI IT TA AS S B BR RA AW WI IJ JA AY YA A
F FA AK KU UL LT TA AS S P PE ER RT TA AN NI IA AN N
M MA AL LA AN NG G
2 20 01 13 3
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 2













JADWAL KEGIATAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN


SEMESTER GENAP 2013 - 2014






No
Kegiatan Lapang
Kegiatan Ruang
SEPT OKTOBER NOP DES
Sasaran

II III IV I II III IV I II III IV I II III IV

1
Brifing persiapan Tanam dan
Simulasi
Briefing

Praktikan


2
Tanam dan simulasi (satu
kelas)
Faktor Abiotik (Suhu
udara, Radiasi Matahari)
& Analisis Vegetasi
Praktikan


3
Perawatan (kelompok) Faktor Abiotik (Tanah)
dan Biotik Tanah
Praktikan


4
Perawatan (kelompok)

Faktor Biotik (Keragaman
Antropoda pada
Agroekosistem)
Praktikan


5
Perlakuan dan Perawatan
(kelompok)

Identifikasi Antropoda di
Laboratorium

Praktikan


6
Perawatan
UTS

Praktikan


8
Perlakuan/pengamatan dan
Perawatan (kelompok) &
Fieltrip (minggu)
Asistensi

Praktikan


9
Perlakuan/pengamatan dan
Perawatan (kelompok) &
Fieltrip (minggu)
Asistensi

Praktikan


10
Panen dan Pengamatan
Akhir
Asistensi

Praktikan


11

Asistensi

Praktikan


12
Presentasi Hasil
Praktikum
Praktikan


13
Ujian Akhir Praktikum
(UAP)
Praktikan

MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 3

PERATURAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN
1. Praktikum Ekologi Pertanian me miliki bobot 1 sks
2. Praktikum Ekologi Pertanian merupakan kegiatan praktikum integrasi dari jurusan
BP, Tanah, dan HPT
3. Nilai praktikum Ekologi Pertanian memberikan kontribusi 25% untuk nilai akhir MK
Ekologi Pertanian
4. Praktikum dimulai tepat waktu yang telah ditentukan. Keterlambatan 15 menit nilai
kehadiran dikurangi 50%
5. Presensi kehadiran peserta praktikum minimal 80% (dilampirkan surat dokter jika
ijin/sakit)
6. Absensi dilakukan 1 kali untuk praktikum kelas, sedangkan pada saat praktikum
lapang absensi dilakukan 2 kali, yaitu: sebelum dan sesudah praktikum
7. Pada waktu pelaksanaan praktikum assisten menilai kemampuan mahasiswa
secara kelompok dan individu
8. Penilaian selama praktikum ada 2 macam, yaitu kelompok dan individu. Unsur-
unsur penilaian meliputi: kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan rincian sbb:
- kehadiran 10%
- penguasaan materi praktikum (pre/post test) 10%
- kerjasama kelompok/individu 10%
- presentasi hasil praktikum 15%
- assistensi 10 %
- tugas 5 %
- laporan 20%
- ujian akhir 20%













MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 4

1. Mengapa anda belajar ekologi pertanian?
Tumbuhan memerlukan sinar matahari, gas asam arang (CO
2
) yang diserap dari
udara serta air dan hara yang diserap dari dalam tanah untuk kelangsungan hidupnya.
Melalui proses fotosintesis, CO
2
di udara diserap oleh tanaman dan diubah menjadi
karbohidrat, kemudian disebarkan keseluruh tubuh tanaman dan akhirnya ditimbun dalam
tubuh tanaman berupa daun, batang, ranting, bunga dan buah. Bagian-bagian tanaman
tersebut akan gugur, masuk ke dalam tanah, dilapuk dan akan menjadi bagian dari tanah.
Tanah akan menyediakan energi bagi organisma baik yang hidup di atas tanah dan di dalam
tanah. Interaksi antar komponen penyusun kehidupan dengan lingkungannya dipelajari
banyak dalam ekologi. Pengetahuan dasar dalam ekologi tersebut sangat bermanfaat untuk
pemahaman lebih lanjut dalam ekologi pertanian. Apa yang dimaksud dengan ekologi
pertanian?
Ekologi pertanian atau Agroekologi merupakan bidang ilmu yang
mengaplikasikan prinsip-prinsip ekologi untuk merancang, mengelola, dan
mengevaluasi sistem pertanian yang produktif dan lestari. Anda diwajibkan mengikuti
praktikum ekologi pertanian untuk mempelajari interaksi antara komponen biofisik,
teknik dan sosioekonomik dalam satu sistem pertanian. Hal tersebut terutama
berhubungan dengan siklus hara, transformasi energi, proses-proses biologi dan
kondisi sosial ekonomi. Jadi ekologi pertanian lebih menekankan pada hubungan
timbal balik antar komponen agro-ekosistem dan dinamika proses-proses ekologi.
---- Apa yang dinamakan Agroekosistem?
Agroekosistem adalah komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan dengan
lingkungannya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah oleh manusia untuk
menghasilkan pangan, pakan, serat, kayu bakar dan produk-produk lainnya yang
dibutuhkan oleh manusia. Jadi fokus utama dari ekologi pertanian adalah
mempertahankan produksi pertanian yang berkelanjutan dengan jalan
mengoptimallkan penggunaan sumber daya lokal untuk meminimalkan dampak yang
merugikan dari sistem pertanian modern.
Sebelum anda mengikuti praktikum cobalah jawab beberapa pertanyaan berikut ini. Coba
cari jawabannya dari pustaka yang tersedia atau dari internet (tulis pula sumber
pustakanya). Apa yang dimaksud dengan: (1) Sistem pertanian yang berkelanjutan
(sustainable agriculture), (2) Sistem pertanian modern, (3) Sistem pertanian tradisional, (4)
Sistem pertanian sehat.
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 5

Penggunaan lahan pertanian yang beragam berpengaruh terhadap kondisi
lingkungan, karena jenis tanaman yang ditanam berbeda dan jumlah serta pengaturan
tanamnyapun berbeda. Kondisi tersebut akan mengubah kondisi iklim mikro, kandungan
bahan organik tanah, dan kehidupan organisma tanah maupun di atas tanah. Organisma
mempunyai fungsi penting di dalam ekosistem dan kehidupan. Diagram alur hubungan
manusia dalam menggunakan lahan dengan tanaman dan tanah ditunjukkan pada Gambar
1.










Gambar 1. Diagram alur hubungan manusia dalam menggunakan lahan dengan tanaman
dan tanah
2. Tempat dan waktu praktikum
Lokasi praktikum yand dipilih ada pewakil dari zona ekologi pegunungan dan
dataran, yaitu Kebun Percobaan UB di Cangar (pegunungan) dan kebun Jatikerto (dataran).
Praktikum dimulai pada awal Bulan September 2011. Guna mengefisiensikan waktu dan
biaya pelaksanaan setiap praktikum lapangan dilakukan DUA KALI PENGAMATAN
LAPANG.
Ada dua macam sistem pertanian yang akan dipelajari :
Berbasis Pepohonan
a. Monokultur
b. Agroforestri
Berbasis Non Pohon (Tanaman Semusim)
a. Monokultur
b. Tumpangsari

MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 6

3. Macam Kegiatan Praktikum
Guna meningkatkan pemahaman mahasiswa akan hubungan antara organisme
dengan lingkungan dalam sistem pertanian, maka ada 2 topik kegiatan yang dipilih:
Topik Praktikum 1. Studi kondisi lingkungan mikro pada sistem pertanian
Topik Praktikum 2. Studi asosiasi serangga, makro arthropoda dan tumbuhan liar
Topik praktikum 1: Studi kondisi Lingkungan Mikro pada sistem pertanian
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan
kondisi di 3 jenis lahan yang diuji, yaitu:
1. Ada berapa jenis tanaman yang ditanam pada masing-masing lahan yang diuji?
Berapa luas lahan yang akan anda amati?
2. Berapa jumlah masing-masing jenis tanaman per lahan? Dan apa manfaatnya bagi
petani?
3. Berapa luasan lahan yang tertutup oleh tanaman?
4. Berapa biomasa pohon yang tumbuh pada lahan agroforestri dan perkebunan?
5. Seberapa tebal lapisan seresah yang terdapat di permukaan tanah? Coba perhatikan
keragaman jenis dan ukuran seresah. Bagaimana warna, kegemburan dan
kelembaban tanahnya? Mengapa kondisi tanah tersebut berbeda pada antar lahan?
6. Berapa suhu udara dan suhu tanah dari masing-masing lahan dan berapa suhu pada
lahan terbuka? Pada lokasi yang manakah yang lebih panas? Jelaskan mengapa?

Box 1. Alat-alat yang dibutuhkan untuk praktikum
a. Pita ukur (meteran) berukuran panjang 50 m
b. Tali rafia berukuran panjang 100 m dan 20 m atau 20 m dan 5 m tergantung
ukuran plot yang akan dibuat
c. Tongkat kayu/bambu sepanjang 2.5 m untuk mengukur lebar SUB PLOT ke
sebelah kiri dan kanan dari garis tengah, atau 10 m untuk PLOT BESAR
d. Tongkat kayu/bambu sepanjang 1.3 m untuk memberi tanda pada pohon yang
akan diukur diameternya
e. Tongkat kayu sepanjang 1 m untuk tanda apabila plot tersebut akan dijadikan
plot permanen.
f. Pita ukur (meteran) berukuran minimal 5 m untuk mengukur lilit batang atau
atau jangka sorong untuk mengukur diameter pohon ukuran kecil.
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 7

g. Parang atau gunting tanaman
h. Spidol warna biru atau hitam
i. Blangko pengamatan

Pelaksanaan Praktikum
1. Bagilah peserta praktikan ke dalam kelompok-kelompok kecil
2. Kunjungilah masing-masing lahan yang akan diuji
3. Siapkanlah blangko pengamatan yang tersedia dan mulailah dengan pengukuran yang
relevan dengan pertanyaan yang dibuat

Langkah 1
Ada berapa jenis tanaman yang ditanam pada masing-masing lahan yang diuji?
Berapa jumlah masing-masing jenis tanaman per lahan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut anda harus membuat plot contoh pengukuran dengan
luasan tertentu, plot tersebut akan digunakan untuk semua pengukuran.
Membuat plot contoh pengukuran
Buatlah plot contoh pengukuran pada setiap hektar sistem penggunaan lahan yang dipilih,
dengan langkah sebagai berikut:
a. Untuk lahan hutan, buatlah plot berukuran 5 m x 40 m = 200 m
2
(disebut SUB
PLOT). Untuk sistem agroforestri atau perkebunan yang memiliki jarak tanam
antar pohon cukup lebar, buatlah SUB PLOT BESAR ukuran 20 m x 100 m =
2000 m
2
(lihat Gambar 1).
b. Perbesar ukuran SUB PLOT bila dalam lahan yang diamati terdapat pohon besar
(diameter batang > 30 cm) menjadi 20 m x 100 m = 2000 m
2
(disebut PLOT
BESAR).
c. Pilihlah SUB PLOT pada lokasi yang kondisi vegetasinya seragam. Hindari
tempat-tempat yang terlalu rapat atau terlalu jarang vegetasinya.





MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 8









Gambar 2. SUB-PLOT contoh untuk pengukuran biomasa dan nekromasa
d. Buatlah SUB PLOT lebih dari satu bila kondisi lahan tidak seragam (misalnya
kondisi vegetasi dan tanahnya beragam), satu SUB PLOT mewakili satu kondisi.
- Buatlah SUB PLOT lebih dari satu bila kondisi tanahnya berlereng, buatlah
satu SUB PLOT di setiap bagian lereng (atas, tengah dan lereng bawah).
- Beri tanda dengan tali dan ikatkan pada patok pada keempat sudut SUB
PLOT
e. Amatilah ada berapa jenis pohon yang tumbuh dalam satu satu plot, dan berapa
jumlahnya. Catat dalam lembar yang disediakan.

Langkah 2
- Seberapa tebal lapisan seresah yang terdapat di permukaan tanah?
- Coba perhatikan keragaman jenis dan ukuran seresah.
- Bagaimana warna, kegemburan dan kelembaban tanahnya?
- Mengapa kondisi tanah tersebut berbeda pada tutupan lahan yang berbeda?
Mengukur ketebalan seresah
- Tentukan 10 titik contoh pada SUB-PLOT (Gambar 1)
- Tekan seresah yang ada, tancapkan ujung penggaris hingga menyentuh permukaan
tanah. Catatlah ketebalan seresah, dan karakteristik seresahnya

Langkah 3
Berapa suhu udara dan suhu tanah dari masing-masing lahan dan berapa suhu pada lahan
terbuka? Pada lokasi yang manakah yang lebih panas? Jelaskan mengapa?

Pohon berdiameter > 30 cm
Pohon berdiameter antara 5-30 cm
Tumbuhan bawah(understorey) dan serasah
20 m x 100 m PLOT BESAR
5 m x 40 m (SUB PLOT)
0.5 m x 0.5 m (TITIK CONTOH)
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 9

Mengukur suhu udara dan suhu tanah
a. Ukurlah suhu udara di bawah tanaman sekitar pukul 11.00-12.00. Ukur pula di tempat
terbuka
b. Ukurlah suhu tanah di setiap lahan pada kedalaman tanah 0-5 cm. Singkirkan seresah
dari permukaan tanah, tancapkan ujung termometer perlahan-lahan ke dalam tanah.
Lakukan pengukuran sekitar pukul 11.00-12.00. Ukur pula di tempat terbuka. Catat
dan bandingkan hasilnya dengan hasil pengukuran di bawah tegakan tanaman.

Pembahasan
a. Mengapa kondisi tanah berbeda antar lahan?
b. Mengapa suhu dan kelembaban tanah berbeda antar lahan?
c. Lahan yang mana yang berpotensi besar terjadi erosi, mengatasinya?

Langkah 4.
Cari tahu biota apa saja yang ada di dalam tanah dengan menggunakan metode
identifikasi mengambil sampel tanah dengan membuat petak 30 cm x 30 cm dan gali
dengan kedalaman 20 cm. Amati biota apa saja yang berada di permukaan tanah dan yang
berada di dalam tanah dalam petak tersebut, kemudian catat dan hitung jumlah per masing-
masing biota. Lakukan pada lahan tanaman Monokulture dan Agroforestry. Bandingkan
kedua lahan tersebut !
2. KOMPONEN EKOSISTEM

Pendahuluan
Ekosistem ialah interaksi antara faktor biotik dan abiotik. Komponen penyusun
ekosistem terdiri dari faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik terdiri dari suhu, air,
kelembapan, cahaya, angin, ketinggian tempat, tanah dll, sedangkan faktor biotik adalah
makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi,
komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang
menunjukkan kesatuan.

FAKTOR ABIOTIK
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik
yang mempengaruhi ekosistem antara lain sebagai berikut.
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 10


Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan tanaman
Faktor Air
Air adalah faktor yang paling penting dalam produksi tanaman dibandingkan
dengan factor lingkungan lainnya. Hal ini dikarenakan air merupakan reagen yang penting
dalam proses-proses fotosintesis dan dalam proses-proses hidrolik. Air merupakan pelarut
dari garam-garam, gas-gas dan material-material yang bergerak ke dalam tumbuh
tumbuhan, melalui dinding sel dan jaringan esensial untuk menjamin adanya turgiditas,
pertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses membuka dan menutupnya stomata serta
kelangsungan gerak struktur tumbuh-tumbuhan. Kekurangan air akan mengganggu aktifitas
fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan, bahkan
defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan irreversibel (tidak dapat
balik) yang menyebabkan kematian pada tanaman. Sebaliknya jika pemberian air berlebih
pada tanaman, maka akan terjadi perubahan berbagai proses kimia dan biologis yang
membatasi jumlah oksigen dan meningkatkan pembentukan senyawa yang berbahaya bagi
akar tanaman.
Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda menurut jenis dan umur
tanaman. Berdasarkan respon tanaman terhadap air, tanaman dibedakan menjadi 3 macam,
yaitu tanaman aquatic, tanaman semi aquatic dan tanaman tanah kering. Kebutuhan air
tanaman sedikit pada masa awal tanam dan meningkat pada fase pembungaan dan
pembuahan selanjutnya berkurang kembali pada fase pemasakan buah. Faktor-faktor lain
yang juga berkaitan dengan kebutuhan air pada saat pengairan yaitu kondisi lingkungan
sekitar tanaman, jenis media tanam dan musim. Oleh karena itu system pengairan pada
tanaman harus diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman.
Salah satu metode yang digunakan untuk menghitung kebutuhan air tanaman
adalah melalui perhitungan kebutuhan air konsumtif. Makna dari kebutuhan air konsumtif
adalah bahwa setiap tanaman akan memiliki kebutuhan tertentu terhadap air sehingga
antara tanaman satu dengan yang lainnya akan memiliki kebutuhan yang berbeda dalam
menggunakan air. Dengan menggunakan standar yang sudah ada, maka besarnya
kebutuhan air konsumtif dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Etc = Eto x kc
Keterangan : Etc = kebutuhan air konsumtif (mm/hari)
Eto = evapotranspirasi (mm/hari)
kc = koefisien tanaman
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 11

Evapotranspirasi dapat dihitung menggunakan metode Penmen sedangkan koefisien
tanaman dapat melihat panduan dari FAO yang ada dalam standar irigasi.
Metode lain yang digunakan untuk menentukan kebutuhan air tanaman adalah
melalui penghitungan kapasitas lapang. Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang
cukup lembab yang menunjukan air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya
tarik gravitasi. Air yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus diserap oleh akar
tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama makin mengering. Pada suatu saat akar
tanaman tidak mampu lagi menyerap air tersebut sehingga tanaman menjadi layu (titik layu
permanen).
Rumus yang digunakan untuk pengukuran kapasitas lapang (KL) adalah:
KL = (b c / c a) x 100
Keterangan : a = berat cawan
b = berat cawan + sampel tanah sebelum dioven
c = berat cawan + sampel tanah setelah dioven

Cahaya
Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis, sedangkan
fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci berlangsungnya proses metabolisme di
dalam tanaman. Pengaruh cahaya berbeda pada setiap jenis tanaman. Tanaman C4, C3
dan CAM memiliki reaksi fisiologi yang berbeda terhadap intensitas, kualitas dan lama
penyinaran oleh cahaya matahari. Perbedaan respon tumbuhan terhadap lama penyinaran
atau disebut juga fotoperiodisme, menjadikan tanaman dikelompokkan menjadi tanaman
hari netral, tanaman hari panjang dan tanaman hari pendek. Kekurangan cahaya matahari
akan mengganggu proses fotosintesis dan pertumbuhan, jika hal ini terjadi saaat
perkembangan berlangsung maka akan menimbulkan gejala etiolasi, dumana batang
kecambah akan tumbuh lebih cepat namun lemah dan daunnya berukuran kecil, tipis dan
berwarna pucat (tidak hijau). Selain itu cahaya juga dapat bersifat sebagai penghambat
(inhibitor) pada proses pertumbuhan, hal ini terjadi karena cahaya dapat memacu difusi
auksin untuk penunjang sel-sel tumbuhan. Akibatnya, tanaman yang tumbuh di tempat
terang menyebabkan tanaman tumbuh lebih lambat dengan kondisi relatif pendek, lebih
lebar, lebih hijau, tampak lebih segar dan batang kecambah lebih kokoh.

Suhu
Suhu yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman dikenal
sebagai suhu cardinal yaitu meliputi suhu optimum, suhu minimum dan suhu maksimum.
Beberapa proses fisiologis tanaman yang dipengaruhi suhu yaitu membuka dan
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 12

menutupnya stomata, transpirasi, penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, respirasi, kinerja
enzim, cita rasa tanaman serta pembentukan primordia bunga. Peningkatan sampai suhu
optimum menyebabkan peningkatan reaksi proses-proses tersebut dan setelah melewati titik
optimum proses tersebut mulai dihambat akibat menurunnya aktivitas enzim (degradasi
enzim). Suhu yang berada dibawah minimum berpengaruh terhadap penghambatan proses
pembungaan. Selain itu, beberapa proses lain seperti absorbsi unsur hara, respirasi,
perkecambahan benih juga akan terganggu pada suhu dibawah minimum.

Salinitas
Salinitas ialah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air. Tingkat
salinitas yang tinggi di dalam tanah akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan,
produktivitas tanaman serta fungsi-fungsi fisiologis tanaman seperti menghambat
pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein dan penambahan biomassa tanaman.
Respon tanaman dalam kondisi stress garam umumnya tidak dalam bentuk kerusakan
langsung, tetapi dalam bentuk perubahan pertumbuhan secara perlahan. Kandungan garam
yang tinggi mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui keracunan akibat penyerapan
unsur hara yang berlebihan, penurunan penyerapan air dan penurunan penyerapan unsur-
unsur hara yang penting bagi tanaman. Pada tingkat cekaman yang tinggi, beberapa gejala
seperti adanya kerak berwarna putih di permukaan tanah dan bagian ujung daun seperti
terbakar.

Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda
menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan
unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena
ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam
penyebaran biji tumbuhan tertentu.


MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 13



Topik praktikum : Pengaruh lingkungan pada pertumbuhan tanaman
Tujuan praktikum : Mengetahui pengaruh faktor lingkungan pada pertumbuhan tanaman
Tempat dan metode praktikum :
Praktikum dilaksanakan di kebun percobaan Ngijo, Karangploso
Pengamatan dilakukan pada empat faktor lingkungan, yaitu:
1. Faktor Air
- Percobaan dilakukan pada dua jenis tanaman yaitu pakchoi dan kangkung
- Perlakuan meliputi cekaman air yang terdiri dari 25% KL, 50% KL, 75% KL dan
100% KL.
- Faktor yang diamati yaitu jumlah daun, perubahan morfologi (disertai gambar), bobot
basah tanaman (disertai foto perakaran).
2. Faktor Cahaya dan Suhu
- Percobaan dilakukan pada empat jenis tanaman yaitu jagung, kedelai, pakchoi dan
kangkung.
- Perlakuan berupa pengaturan cahaya dan suhu meliputi pemberian naungan dan
tanpa naungan.
- Faktor yang diamati yaitu intensitas cahaya dan suhu, tinggi tanaman (disertai
gambar), jumlah daun, bobot basah dan bobot kering tanaman.
3. Faktor Salinitas
- Percobaan dilakukan pada tiga jenis tanaman yaitu tomat, kedelai dan jagung
- Perlakuan berupa cekaman salinitas pada beberapa taraf yaitu 0 ppm, 500 ppm,
1000 ppm, 1500 ppm dan 2000 ppm.
- Faktor yang diamati yaitu gejala nekrosis (disertai foto), bobot basah dan bobot
kering tanaman.
Pembahasan
1. Bandingkan pengaruh masing-masing faktor lingkungan pada tanaman!
2. Apakah pengaruh cekaman lingkungan sama setiap jenis tanaman? Jelaskan!
3. Jelaskan kondisi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan setiap jenis tanaman yang
digunakan dalam percobaan!

FAKTOR BIOTIK
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik
tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan
berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 14



Tujuan
Mengetahui faktor abiotik pada 4 agroekosistem.

Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Kebun Percobaan Canggar dan Kebun Percobaan Jatikerto.
Pengamatan dilakukan pada empat sistem pertanian, yaitu:
1. Berbasis Pepohonan
a. Monokultur
b. Agroforestri
2. Berbasis Non Pohon (Tanaman Semusim)
a. Monokultur
b. Tumpangsari

Pelaksanaan
Peralatan yang digunakan ialah lightmeter dan thermohigrograf. Praktikum dilaksanakan
dengan mengamati faktor abiotik pada 2 sistem agroekosistem.
Pengamatan
a. Ketinggian tempat (menggunakan GPS atau altimeter)
b. Suhu udara (thermometer udara)
c. Intensitas radiasi matahari (tanpa naungan dan di bawah tajuk tanaman)
d. Kelembaban udara (tanpa naungan dan di bawah tajuk tanaman)
Pembahasan
Bandingkan faktor lingkungan pada masing masing sistem? Apakah sama? Jika tidak
sama apa penyebabnya?



MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 15



3. ANALISA VEGETASI

PENDAHULUAN

Salah satu kondisi yang berpengaruh pada suatu ekosistem adalah tutupan lahan
oleh vegetasi yang merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dalam penanganan
pengelolaan baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Dalam
pengelolaan agroekosistem, data vegetasi meliputi tanaman budidaya maupun tumbuhan
yang tumbuh di ekosistem. Peranan vegetasi dalam ekosistem tidak saja berkaitan dengan
nilai ekologis kawasan namun juga sangat berhubungan dengan nilai sosial maupun nilai
ekonomi masyarakat yang mendiami kawasan tersebut. Oleh karena itu, pengambilan data
vegetasi kawasan ekosistem harus memperhatikan faktor ekonomi, sosial dan ekologinya
termasuk teknologi yang menunjang sistem budidayanya.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi ekosistem yang
luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup
menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili ekosistem. Dalam sampling ini ada
tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan
teknik analisa vegetasi yang digunakan. Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus
cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi
harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa
duplikasi atau pengabaian.
Cara peletakan petak contoh ada dua, yaitu cara acak (random sampling) dan cara
sistematik (systematic sampling). Random samping hanya mungkin digunakan jika vegetasi
homogen, misalnya tanaman budidaya atau padang rumput (artinya, kita bebas
menempatkan petak contoh dimana saja, karena peluang menemukan jenis berbeda tiap
petak contoh relatif kecil). Sedangkan untuk penelitian dianjurkan untuk menggunakan
sistematik sampling, karena lebih mudah dalam pelaksanaannya dan data yang dihasilkan
dapat bersifat representative.
Untuk data vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu
sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Selain
tanaman di plot utama, komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi yang dapat
diambil di plot pendukung umumnya terdiri dari :
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 16




1. Belukar (Shrub)
Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi
menjadi banyak sub tangkai.
2. Epifit (Epiphyte)
Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma),
epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.
3. Paku-pakuan (Fern)
Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan
berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.
4. Palma (Palm)
Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi, tidak
bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya
terbagi dalam banyak anak daun.
5. Pemanjat (Climber)
Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat
atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.
6. Terna (Herb)
Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak
panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari
2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.
7. Pohon (Tree)
Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai
utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengenal dan
memahami analisis vegetasi pada suatu agroekosistem.

METODE

Pelaksana praktikum
Peserta praktikum adalah semua kelompok dari masing-masing kelas, yaitu: setiap
kelas dibagi menjadi 4 kelompok atau terdiri dari 10 mahasiswa
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 17

Alat dan Bahan
Alat : penggaris, gunting, meteran, camera.
Bahan : vegetasi, plastik 1 kg, tali rafia, buku flora, blangko pengamatan.
Metode pelaksanaan
Metode praktikum ekologi pertanian adalah pengamatan lapangan (survei lahan)
Untuk pelaksanaan praktikum kriteria dan indikator tutupan lahan (tumbuhan) pada
agroekosistem dilakukan urutan pekerjaan sebagai berikut:
1. Lakukan pengamatan cepat, apakah tapak bersifat monokultur atau polikultur.
Untuk area monokultur (plot utama) ditentukan petak percontohan dengan
luasan 5x5m
2
, sedangkan di plot pendukung dibuat petak pengamatan berupa
kotak dengan ukuran 1x1 m
2
. Kotak pengamatan dibuat dengan tali rafia dan
kayu penahan disetiap pojokan dengan pengulangan lima kali untuk di plot
pendukung (plot utama tidak ada pengulangan).


Sub plot 1


Sub plot 2

Sub plot 3

Sub plot 4

Sub plot 5


Gambar. 3. Petak SDR

2. Identifikasi/inventarisasi vegetasi yang masuk dalam kotak pengamatan. Amati
vegetasi di dalam kotak pengamatan yang terdiri dari spesies, jumlah individu
dan luas bidang dasar.
3. Dari setiap spesies dibuat herbarium. Bila terdapat spesies yang belum dikenali,
herbarium dapat digunakan untuk membandingkan dengan sumber informasi
lain seperti buku, website internet dan sumber lainnya.
4. Hitung SDR sesuai dengan rumus dan masukkan dalam tabel.
4 m
4 m
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 18

5. Buat laporan ringkas hasil temuan di lapang dengan dilengkapi foto dan gambar
pendukung.

Cara Menghitung SDR
a. Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada setiap petak
contoh.

Kerapatan Mutlak (KM) =


Kerapatan Nisbi (KN) =


b. Frekuensi menunjukkan berapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat
jenis tumbuhan (spesies) tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat.
Frekuensi Mutlak (FM) =


Frekuensi Nisbi (FN) =


c. Dominansi ialah parameter yang digunakan untuk menunjukkan luas suatu area
yang ditumbuhi suatu spesies (jenis tumbuhan) atau kemampuan suatu jenis
tumbuhan dalam hal bersaing terhadap jenis lainnya.
Luas Basal Area (LBA) =
t
2
4
2 1

d d

d1 = diameter terpanjang suatu spesies
d2 = diameter spesies yang tegak lurus dengan d1


Dominansi Mutlak (DM) =


Dominansi Nisbi (DN) =



d. Nilai Penting (Importance Value = IV)
Merupakan jumlah nilai nisbi dari dua atau tiga parameter yang dibuat.
Importance Value (IV) = KN + FN + DN
e. Menentukan Summed Dominance Ratio (SDR)
Perbandingan Nilai Penting ("Summed Dominance Ration = SDR"), menunjukkan
nilai jumlah penting dibagi jumlah besaran dan nilainya tidak pernah lebih dari 100%.
Summed Dominance Ratio (SDR)=
3
IV

Jumlah spesies tersebut
Jumlah plot
KM spesies tersebut
Jumlah KM seluruh spesies
X 100 %
FM spesies tersebut
Jumlah FM seluruh spesies
X 100 %
Plot yang terdapat spesies tersebut
Jumlah semua plot
LBA spesies tersebut
Luas seluruh area
DM spesies tersebut
Jumlah DM seluruh spesies
X 100 %
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 19



TABEL IDENTIFIKASI TANAMAN
Lokasi : Cangar / Jatikerto
No NAMA VEGETASI JUMLAH GAMBAR (FOTO)
1

2

3

4

5

6

MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 20

7

MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 21

FORM PENGAMATAN POS BUDIDAYA PERTANIAN
Lokasi : Cangar / Jatikerto
Luas Plot :
a. Tabel Analisis Vegetasi
No Spesies
D1
(cm)
D2
(cm)
Petak contoh ke-
1 2 3 4 5













b. Tabel Pengamatan suhu udara, kelembaban, dan radiasi matahari
No Lokasi Suhu (
0
C) RH (%) RM (Lux)






c. Tabel Perhitungan SDR
No Spesies
Kerapatan
Frekuensi
LBA
Dominansi
IV
(%)
SDR
(%)
Mutlak
Nisbi
(%)
Mutlak
Nisbi
(%)
Mutlak
Nisbi
(%)




































MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 22

4. Keragaman Arthropoda

PENDAHULUAN
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
orgnisme dengan lingkungannya, baik lingkungan organik maupun lingkungan
anorganiknya. Ekologi tumbuh secara bertahap dan sebetulnya manusia sudah sejak
dahulu telah mengetahui adanya hubunan antara organism dengan lingkungannya. Oleh
sebab itu, dalam praktikum ekologi pertanian juga akan dibahas mengenai hubungan
serangga dan peranan serangga tersebut dalam bidang pertanian.
Di permukaan bumi sekian banyak spesies hewan yang ada, ternyata sekitar
bagian adalah serangga. Dari jumlah tersebut, lebih dari 750.000 spesies telah diketahui
dan diberi nama. Jumlah tersebut merupakan kurang lebih 80% dari anggota filum
arthropoda. Dalam pengamatan kita , mungkin penampilan umum serangga yang satu
mempunyai kesamaan dengan serangga lainnya, akan tetapi mereka menunjukkan
keragaman yang sangat besar dalam bentuknya.
Dari kerajaan animalia dibagi menjadi dua subkingdom yaitu invertebrata dan
vertebrata. Serangga merupakan kelas dari subkingdom invertebrata dan masuk filum
arthropoda dengan struktur klasifikasi sebagai berikut:














Karena dari kelas insekta ini memiliki jenis yang paling banyak maka akan
dipelajari lebih dalam lagi dalam pengelompokannya. Dalam kelas insekta terdiri dari
beberapa suku yang sangat penting dan terdapat paling banyak di alam, diantaranya
yaitu:
Animalia
Vertebrata
Invertebrata
Chordata
Nematoda
Mollusca
Antrhopoda
Hexapoda (insekta)
Chilopoda
Diplopoda
Arachnida
Crustacea
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 23

1. Coleoptera, bersayap keras (perisai)
2. Dipteral, sayap belakang dimodifikasi menjadi halter
3. Homoptera, sayap depan dan belakang tersusun sama
4. Hemptera, sayap depan sebagian membraneus
5. Hymenoptera, sayap mirip seperti selaput
6. Lepidoptera, sayap dilapisi bulu atau sisik
7. Tysanoptera, sayap berumbai
8. Othoptera, bersayap lurus
9. Isopteran, bentuk dan ukuran sayap depan dan belakang sama
10. Odonata, sayap membraneus

Peranan arthropoda dalam mempengaruhi ekosistem di alam ada 3 macam,
antara lain :
1. Hama
Hama adalah binatang atau sekelompok binatang yang pada tingkat
populasi tertentu menyerang tanaman budidaya sehingga dapat menurunkan
produksi baik secara kualitas maupun kuantitas dan secara ekonomis
merugikan. Contoh: serangga tikus pada tanaman padi yang menyebabkan
gagalnya panen, serangan Crocidomolia binotalis yang menyerang pucuk
tanaman kubis-kubisan.
2. Predator
Predator merupakan organism yang hidup bebas dengan memakan
atau memangsa binatang lainnya. Contohnya: Menochilus sexmaculatus yang
memangsa Aphid sp.
3. Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang memarasit serangga atau binatang
arthropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasa dan
pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Contoh:
Diadegma insulare yang merupakan parasitoid telur dari Plutella xylostela.
Apabila telur yang terparasit sudah menetas maka D. insulare akan muncul
dan hidup bebas dengan memakan nektar.

Teknik Umum
Banyak Metode maupun teknik yang diterapkan ketika akan mengamati serangga, berikut
beberapa teknik dasar yang umum digunakan dalam pengamatan serangga,
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 24

1. Direct Sweeping

Teknik ini merupakan yang paling umum dan sering dilakukan oleh para kolektor
untuk mencari dan mengumpulkan serangga. Peralatan yang digunakan sederhana.
Selain peralatan dasar, peralatan tambahan ayng digunakan cukup dengan
menggunakan jaring serangga. Pengumplan serangga dilakukan dengan cara
menangkap langsung serangga-serangga dengan bantuan jaring. Metode pengamatan
yang dilakukan mencakup metode transek baik mengikuti jalur maupun transek garis.
Namun lebih sering digunakan metode transek jalur karena menyesuaikan dengan
serangga yang memiliki mobilitas tinggi.
2. Teknik Jebakan (Trapping)
Jebakan merupakan sebuah metode yang mampu menghalangi dan
menghentikan pergerakan organisme. Metode jebakan sangat sering digunakan secara
intensif dalam entomologi dengan menggunakan perangkat peralatan tertentu baik
dengan umpan ataupun tidak maupun dengan atraktan. Bentuk maupun mekanisme
jebakan bergantung dari pengetahuan kita tentang perilaku, makanan, maupun habitat
serangga. Beberapa modifikasi banyak dilakukan oleh kolektor mengacu pada
pertimbangan dasar ini. Hanya sedikit dari sekian banyak jenis-jenis metode jebakan
yang dijelaskan disini termasuk perangkat yang digunakannya.
Ketinggian tempat perangkat jebakan diletakkan terhadap permukaan tanah
sangat penting diperhatikan karena dapt mempengaruhi performa perangkat jebakan
tersebut, terutama untuk perangkap cahaya (Light Traps). Ketinggian optimum yang
dikehendaki masih belum diketahui pastinya dan masih menjadi perdebatan para ahli
sampai saat ini karena sangat variabel dipengaruhi oleh serangga target, karkteristik
habitat spesifik, ukuran dan warna dari jebakan yang mempengaruhi performanya.
a. Pittfall Trap
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 25


Jenis perangkat yang cukup sederhana namun efektif dan sangat berguna untuk
menjerat serangga. Terdiri dari piring atau baskom kecil, kaleng atau bak kecil. Perangkat
jebakan dibenamkan di dalam tanah dimana permukaan tanah sejajar dengan ujung atas
bibir kaleng/bak yang berisi cairan alkohol atau etilen glikol sebagai agen pembunuh.
Etilon glikol lebih banyak digunakan oleh kolektor karena tidak menguap seperti alkohol.
bagian atas perangkat jebakan harus ditutup dengan sebuah cover atau pelindung lainnya
untuk mencegah masuknya air hujan maupun vertebrata kecil jatuh ke sumur jebakan.

Gambar. Pittfall Trap

Pitfall Trap juga dapat dimodifikasi dengan menambahkan umpan atau atraktan lainnya.
jenis umpan atau atraktan disesuaikan dengan jenis serangga apa yang akan dijerat oleh
kolektor. Pembahasan lebih jauh mengenai jenis-jenis umpan dan atraktan serta
kegunaannya masing-masing akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain. Serangga-
serangga tertarik terhadap warna lalu jatuh ke air. Jebakan ini akan lebih efektif apabila
ditambah sedikit deterjen pada air untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga
serangga-serangga dapat segera tenggelam dan tidak dapat naik kembali ke permukaan

a. Light Traps
Light Trap atau perangkap cahaya pada dasarnya digunakan berdasarkan perilaku
kebanyakan serangga yang tertarik akan sumber cahaya. Dapat digunakan pada
berbagai panjang gelombang cahaya sebagai agen atraktan. Jenis-jenis variasi perangkat
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 26

jebakan ini dapat dilengkapi dengan menggunakan corong yang mengarahkan pada bak
pengumpulan koleksi. Kabel dan koneksi listrik harus disediakan untuk
penggunaan outdoor. Corong atau bak penampng dapat dibuat dari metal, plastik, kayu
atau Hard paper. Perangkat jebakan dapat dipasang dengan atau tanpa pelindung.
Namun, jika digunakan untuk beberapa hari pelindung diperlukan untuk mencegah air
hujan masuk. Pelindung bisa menggunakan bahan apa saja yang kuat dan kedap air.

Gambar. Light Trap
b. Color Traps (Yellow Trap)
Objek-objek berwarna cerah juga dapat menjadi daya tarik bagi serangga. Kuning
merupakan pilihan warna yang terbaik untuk dijadikan daya tarik. Yellow trap yaitu
perangkap yang berwarna kuning sehingga dapat menarik serangga dan menjeratnya
karena telah diolesi dengan lem. Hama yang dapat diperangkap dengan hama ini antara
lain Kutu loncat, trips, kutu daun, dan semua golongan serangga yang tertarik dengan
gelombang yang dipancarkan benda yang berwarna kuning. Penggunaan yellow trap
sangat cocok untung mengurangi penggunaan pestisida sehingga sangat aman bagi
lingkungan.

MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 27

Gambar. Color Traps (Yellow Trap)

Tujuan dari praktikum
Mengetahui keragaman arthropoda pada suatu areal
a. Mengetahui peranan serangga di alam
b. Mengetahui beberapa pengelompokan serangga

Alat dan Bahan Praktikum
Alat : swept net, fial film warna putih, gelas air mineral, cawan petri, obyek glass,
kuas, mikroskop, kaca pembesar (lup), pinset.
Bahan: detergen, alkohol 70% atau klorofom, tisue, plastik ukuran 1 kg.

Cara kerja di lapang
1. Pemasangan pitfall traps satu hari sebelum pelaksanaan praktikum lapang pada
masing-masing lahan yang akan diamati. Pemasangan dilakukan dengan metode
pengambilan contoh secara sistematis pada garis diagonal.
2. Hunting serangga dengan swept net dengan ayunan ganda.
3. Serangga yang terperangkap pada pitfall diambil dan dimasukkan pada fial film
kemudian diberi alkohol 70% atau klorofom. Sedangkan serangga yang
terperangkap pada swept net dimasukkan pada plastik dan diberi alkohol 70%
atau klorofom.
4. Menyimpan serangga pada lemari pendingin hingga waktu identifikasi
laboratorium.

Cara kerja di laboratorium
1. Serangga yang telah diperoleh saat praktikum di lapang dibawa ke laboratorium
untuk diidentifikasi.
2. Serangga diambil dan fial film dan dari plasti kemudian diletakkan pada cawan
petri ataupun pada obyek glass.
3. Pengamatan serangga dilakukan dibawah mikroskop cahaya atau dengan
menggunakan kaca pembesar.
4. Serangga yang diamati kemudin digambar.
5. Dari hasil pengamatan serangga kemudian dilakukan pengelompokan
berdasarkan ordo dengan menggunakan buku identifikasi serangga dan
mengelompokkan serangga- serangga tersebut sesuai dengan peranannya di
lapangan.
MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 28

Tujuan dari praktikum
A. mengetahui keragaman arthropoda pada suatu areal
B. Mengetahui peranan serangga di alam
C. Mengetahui beberapa pengelompokan serangga

Alat dan Bahan Praktikum
Alat : swept net, fial film warna putih, gelas air mineral, cawan petri, obyek glass,
kuas, mikroskop, kaca pembesar (lup), pinset.
Bahan: detergen, alkohol 70% atau klorofom, tisue, plastik ukuran 1 kg.

Cara kerja di lapang
A. Pemasangan pitfall traps satu hari sebelum pelaksanaan praktikum lapang
pada masing-masing lahan yang akan diamati. Pemasangan dilakukan dengan
metode pengambilan contoh secara sistematis pada garis diagonal.
B. Hunting serangga dengan swept net dengan ayunan ganda.
C. Serangga yang terperangkap pada pitfall diambil dan dimasukkan pada fial film
kemudian diberi alkohol 70% atau klorofom. Sedangkan serangga yang
terperangkap pada swept net dimasukkan pada plastik dan diberi alkohol 70%
atau klorofom.
D. Menyimpan serangga pada lemari pendingin hingga waktu identifikasi
laboratorium.

Cara kerja di laboratorium
A. Serangga yang telah diperoleh saat praktikum di lapang dibawa ke
laboratorium untuk diidentifikasi.
B. Serangga diambil dan fial film dan dari plasti kemudian diletakkan pada cawan
petri ataupun pada obyek glass.
C. Pengamatan serangga dilakukan dibawah mikroskop cahaya atau dengan
menggunakan kaca pembesar.
D. Serangga yang diamati kemudin digambar.
E. Dari hasil pengamatan serangga kemudian dilakukan pengelompokan
berdasarkan ordo dengan menggunakan buku identifikasi serangga dan
mengelompokkan serangga- serangga tersebut sesuai dengan peranannya di
lapangan.


MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 29

Hasil Praktikum
Nama Lokasi : Cangar / Jatikerto
Jenis Penggunaan Lahan/ Pola Tanam :Semusim (monokultur,
tumpangsari)/Tahunan/Agroforestri
Tanggal/Bulan/Tahun :
Ukuran Plot :
NO. SPESIES SERANGGA JUMLAH ORDO
PERANAN DALAM
EKOSISTEM











Pembahasan
a. Bagaimana keragaman spesies serangga di lokasi yang anda amati?
b. Jelaskan pengaruh keragaman spesies serangga dalam ekosistem !
c. Bandingkan hasil praktikum anda dengan kelompok lain (pilih yang pola
tanamnya berbeda). Jelaskan !
Kesimpulan
Apa kesimpulan anda berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan ?
Daftar Pustaka






MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 30

Gambar Hasil Pengamatan Serangga
N0. Gambar (manual) Struktur Klasifikasi



MODUL PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN 2013 Page 31