Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Dijaman yang serba canggih dan modern ini banyak sekali permasalahan

yang muncul terutama permasalahan (konflik) yang mengatasnamakan agama. Hal yang menyebabkan terhambatnya Tujuan Ilmu Perbandingan Agama adalah karena adanya fanatisme agama, adanya materilaisme, minimnya spiritualisme, adanya mayoritas dan minoritas dalam beragama, dan terjadinya intimidasi. Sehingga perlunya pembelajaran terhadap perbandingan agama karena dinilai penting. Sebab perbandingan agama bukan membanding-bandingkan agama akan tetapi mengenal agama orang lain agar terjadi toleransi, saling menghormati, menghargai dan sebagainya. Pada dasarnya ketika semua orang memahami semua agama dengan baik pasti konflik antar umat beragama dapat diminimalisir. Karena dengan sedikitnya pengetahuan akan agama orang lain maka akan muncul persepsi yang kurang benar dan bahkan menjelekan ajaran agama tersebut. Dalam kesempatan ini penulis akan menggali tentang Agama Hindu. Agar agama lain dapat memahami dengan benar tentang ajaran Hindu dan menumbuhkan toleransi antar umat beragama. Sehingga kerukunan antar umat beragama dapat terjadi serta tujuan agama dan negara dapat tercapai.

BAB II PEMBAHASAN

A. ASAL AGAMA HINDU Agama Hindu adalah agama yang paling tua di dunia. Para rsi jaman dahulu menyanyikan lagu yang suci di hutan dan juga tepian sungai India, jauh ribuan tahun sebelum Moses, Buddha atau Kristus. Nama asli dari Agama Hindu adalah Sanatana Dharma (Kebenaran universal atau abadi). Walaupun bagaimana pun asal usul Hindu juga kontroversial, para cendekiawan setuju bahwa agama Hindu ada sejak awal 500 S.M, orang Persia memanggil orang India yang tinggal di tepian sungai Indus (dikenal dengan nama Sindhu dalam bahasa Sanskerta) sebagai Sindhus. Dalam Bahasa Persia, kata Sindhu menjadi Hindu dan orang yang tinggal di India dikenal dengan nama Hindu. Tidak seperti agama lain di dunia, agama Hindu tidak berasal dari seorang pendiri atau sebuah kitab, atau dimulai pada titik waktu tertentu. Sangat tidak mungkin untuk menentukan waktu dan tempat asalnya. Dalam buku-buku biasanya dikatakan bahwa Agama Hindu kira-kira terbentuk 1500 SM, yang didasarkan pada Teori Invasi Arya yang sekarang tidak dipergunakan lagi. Menurut teori ini bangsa Arya pada jaman Veda datang dari India Tengah, yang menyerbu India sekitar 1500 SM, menghancurkan peradaban yang lebih maju yaitu Peradaban Harappan, dan menyebarkan budaya Veda di India. Berdasarkan bukti arkeologi dan kesusastraan, cendekiawan modern telah menyebutkan bahwa tidak ada invasi Arya dan orang-orang jaman Rg Weda yang menyebutkan diri mereka Aryan (kata Arya dalam bahasa Sanskerta berarti kebijaksanaan), merupakan penduduk asli India dan merupakan salah satu etnik grup sejak 6500 SM atau bahkan lebih awal lagi.

Kronologi Berikut ini adalah garis besar dari perkembangan agama dan tradisi Hindu. Harus disadari bahwa perbedaan waktu yang mendekati 500 Sebelum Masehi yang menandai beberapa peristiwa-peristiwa.

Jaman Rg Veda (6500 atau awal 2000 Sebelum Masehi) Ini adalah jaman dimana Nyanyian dalam Rg Veda, kitab yang paling tua, berkembang. Jaman Brahmana dan Periode Aranyaka (2000-1500 Sebelum Masehi) Para Brahmana (yang berhak menggunakan Lagu Veda dalam upacara), Aranyaka (interpretasi filsafat dalam lagu-lagu pujian), jaman awal dari Upanisad (Filsafat Veda) yang ditambahkan dalam kumpulan lagu-lagu pujian dalam Veda. Pada jaman ini pemikiran Hindu berkembang dari pemujaan dari semua kekuatan alami beralih pada sebuah konsep tunggal, yang menekankan pada jiwa Universal, yang disebut dengan Brahmana oleh para peneliti Upanisad. Jaman Sutra (1500-500 Sebelum Masehi) Dalam periode ini, Upanisad disusun dan Mimamsa, Nyaya, Sankhya, dan Brahma Sutra (aphorisme pada Upanisad) dicatat. Tulisan ini kemudian mengarahkan pada perkembangan enam filsafat Hindu (Sad Darsana). Perkembangan Budhisme dan Jainisme yang juga terjadi pada jaman ini. Jaman Epos (700 Sebelum Masehi 300 Setelah Masehi) Dikembangkan ceritanya pada periode ini. Ramayana, yang kemudian ditulis sebagai puisi oleh Rsi Walmiki saat periode ini dikembangkan lagi beberapa waktu kemudian. Bhagavad Gita (bagian dari Mahabharata), Hukum dari Manu (peraturan tingkah laku dalam agama Hindu), beberapa dari Purana yang telah dibuat lebih awal (Kesusastraan mitologi), Sutra tentang filsafat, dan ajaran yang lebih tinggi tentang Upanisad yang dibuat memungkinkan bagi orang awam untuk mengerti dengan terjemahan yang telah disederhanakan. Jaman Purana (300-1500 Setelah Masehi) Pada jaman ini Purana dan kesusastraan Tantra dikembangkan. Sutra filasafat untuk 6 bagian dari filsafat Hindu juga diinterpretasikan. Periode Darsana (750-1000 Setelah Masehi) Pada periode dari filsafat Sankara Advaita Vedanta dan penurunan pengaruh Budhisme di India adalah dua tanda kepentingan pada periode ini. Periode ini juga merupakan awal dari pergerakan pemujaan yang berkembang dengan 12 puisi di India Selatan yang dikenal dengan Alvars.

Gerakan Bhakti (1000-1800 Setelah Masehi) Periode ini terjadi peningkatan pemujaan yang dikembangkan oleh para Alvars, Nayanars, Tulsidas, Kabir, Surdas, Tukaram, Ramprasad, Ramanuja, Ramananda, Guru Nanak, Mira Bai, Vallabha, Caitanya, dan banyak guru agama yang lain juga orang-orang suci. Renaisance Hindu Modern Sejarah ini, tidaklah terlalu memihak orang-orang Hindu dan agamanya di India. Dominasi dari luar yang brutal dan panjang serta pengaruh dari misionaris asing telah membawa tantangan dalam bertahannya agama Hindu di India. Pada saat yang sama, India telah memiliki kesempatan yang baik untuk menghasilkan beberapa para pemimpin Hindu yang religius dan pemimpin yang merevolusikan agama Hindu dengan melawan beberapa pergerakan sosial yang tidak manusiawi, termasuk sistem kasta dan ritualisme yang terlalu di perluas. Terdapat banyak pemimpin dari Renaisance Hindu modern, termasuk Ram Mohan Roy, Swami Dayananda Saraswati, Paramahamsa Ramakrsba, Swami Vivekananda, Sri Aurobindo Ghose, Ramana Maharsi, dan Mahatma Gandhi.

B. APAKAH AGAMA HINDU ITU? Agama Hindu dikatakan seperti pohon besar dengan cabangnya yang sangat banyak yang melambangkan berbagai pemikiran keagamaan. Pohon ini berakar dalam tanah Weda dan Upanisad yang subur. Weda melambangkan tradisi keagamaan, sedangkan Upanisad melambangkan filsafat dimana tradisi itu didasarkan. Beberapa orang mengatakan bahwa Hindu adalah lautan yang menyerap semua aliran sungai dari pemikiran yang berbeda, betapa lurus atau berbeloknya sungai itu. Agama Hindu dasarnya adalah persahabatan bagi mereka yang mempercayai kesucian seseorang, kesadaran eksperensial tentang tuhan melalui praktek spiritual dan disiplin moral (yang tidak tertengahi oleh otoritas, dogma, atau kepercayaan) pemeliharaan dan penyebaran dharma (kebenaran), kebebasan pemikiran yang total, keselarasan dalam agama (sarva dharma samabhava), tanpa kekerasan (ahimsa) dalam kata-kata, perbuatan, dan pemikiran, menghormati

semua bentuk kehidupan, dalam hukum karma Apa yang engkau tanam itulah yang akan engkau tuai.

Adanya Kenyataan Orang yang beragama Hindu percaya bahwa hanya ada satu kenyataan atau kebenaran yang tidak dapat dibatasi dengan nama apapun, bentuk, atau sifat. Kenyataan itu adalah bagian dari semua benda dan mahkluk dunia yang kemudian menurun dalam diri mereka. Ini adalah sumber mutlak atau asal dari keberadaan. Hal ini memiliki dua aspek, yang transendental (impersonal) dan immanen (personal). Dalam aspek transendentalnya, kenyataan itu disebut dengan berbagai nama, seperti Yang Kuasa atau kesadaran Kosmis, Maha Kuasa, Kenyataan Mutlak, Jiwa Universal dan Nirguna Brahman. Dalam aspek impersonal ini, kenyataan ini tidaklah berbentuk, tidak memiliki atribut, tidak berpindah, tidak terbatas dan tidak dapat didekati oleh pemikiran manusia. Seperti itulah, Kenyataan ini tidak dapat disebut dengan Pencipta, karena ada terlebih dahulu dari semua bentuk termasuk Sang Pencipta. Yang dapat kita katakan tentang aspek yang transendental ini adalah kenyataan bahwa alam adalah keberadaan mutlak yang alami, pengetahuan mutlak, dan kebahagiaan mutlak (Sat-citananda). Ini adalah aspek immanen, kenyataan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan dari semua agama. Dilihat dari aspek personal, Hindu menyebut kenyataan dengan berbagai nama, seperti Saguna Brahman, Isvara, Paramatma, dan Ibu Mulia. Dalam aspek ini, kenyataan ini adalah pencipta yang maha pengampun, pemelihara, dan pengendali dari jagat raya. Dalam pandangan Weda, tidak ada satu Dewa atau Dewi untuk semua manusia. Hindu memuja aspek personal dari kenyataan dalam berbagai nama dan bentuk, baik pria maupun wanita, ,menurut pilihan dari pemuja.

Kesucian Individu Kata Sanskrta atman, berarti Tuhan dalam diri kita, biasanya diterjemahkan sebagai kesadaran, atau jiwa. Seorang individu, menurut pandangan Hindu, adalah atman yang berada dalam tubuh manusia. Hindu

menyatakan bahwa atman adalah abadi dan mulia. Sedangkan tubuh fisik kita mengalami kematian, dimana atman tidak bisa. Dari wujud manusia yang sempurna sampai dengan cacing yang paling rendah terdapat atman, tetapi dalam derajat manifestasi tubuh fisik tertentu seperti listrik yang berfungsi dalam berbagai organisasi, bertgantung pada jenis dan konstruksi dari tubuh Tingkat dari manifestasi atman yang tertinggi terdapat dalam tubuh manusia. Dinyatakan bahwa atman itu maha kuat dan ada dimana- mana. Bagaimana pun juga, ketika kita berhubungan dengan tubuh manusia tertentu, ini akan menimbulkan pikiran, kecerdasan dan ego. Yang merupakan maya, ketidakperdulian, atman telah menyatukan dirinya dengan tubuh, pikiran dan kecerdasan. Hal inilah yang menyebabkan keterikatan atman dengan keberadaan material, penderita dari rasa sakit di dunia. Menurut pandangan Hindu, kebebasan (moksa atau pembebasan diri dari keterikatan duniawi) adalah tujuan dari kehidupan manusia. fisik.

Moksa (Penyatuan dengan Tuhan) Tujuan dari kehidupan keagamaan Hindu adalah untuk mencapai moksa yaitu penyatuan dengan tuhan atau kebebasan dari segala keterbatasan fisik. Penyatuan ini dapat dicapai melalui pengetahuan sejati (jnana), pengabdian (bhakti), dan melakukan kebenaran (karma). Kemurnian, pengendalian, kebenaran, tanpa kekerasan, dan welas asih pada semua bentuk kehidupan adalah kebutuhan yang paling penting dalam jalan spiritual manapun dalam agama Hindu. Agama Hindu menekankan pentingnya guru sejati (ahli spiritual) untuk pencapaian pengetahuan Tuhan (atman-jnana). Pengetahuan Tuhan sangatlah penting bagi kesempurnaan spiritual. Jika kita mengetahui tentang Tuhan dan tidak mengetahui diri kita sendiri, tuhan yang kita ketahui hanyalah konstruksi konseptual, hasilnya dari imajinasi kita. Jika kita benar-benar mengetahui diri kita, kita mengetahui Tuhan.

Keselarasan dalam Agama (Sarva Dharma Samabhava)

Agama Hindu menawarkan sejumlah cara untuk mencari penyatuan dengan Tuhan. Hindu menyatakan bahwa semua agama yang sejati tidak lain adalah jalan yang berbeda-beda dalam Tuhan. Doktrin ini dimasukkan dalam bait berikut ini yang terdapat dalam Rg Weda (R.V.1.164.46) : Ekam sat viprah, bahudha vadanti. Kebenaran itu adalah satu, orang bijaksana yang menyebutnya dengan berbagai nama. Karena kepercayaan tentang keberadaan Tuhan pada semua mahluk hidup, Agama Hindu mengajarkan toleransi dan keselarasan yang universal. Agama Hindu tidak melihat bahwa seorang atheis sebagai orang yang menjijikkan. Menurut Sir Monier Williams (Seorang cendikia Inggris dan Sanskrta, 1819-1899) Karakteristik Agama Hindu adalah sifatnya yang menerima dan lengkap. Agama Hindu dinyatakan sebagai agama Kemanusiaan, mahluk hidup dari seluruh jagat manusia. Tidak menghalangi perkembangan dari sistem lain. Tidak memiliki kesulitan untuk memasukkan agama lain kedalamnya dengan tangan terbuka.

Doktrin dari Inkarnasi Orang-orang Hindu percaya bahwa Tuhan berinkarnasi ke dunia untuk menegakkan kebenaran, ketika nilai kebaikan telah menurun. Ini dinyatakan dalam Bhagavad Gita (BG IV.6, IV.7) : Ketika ada penurunan pada nilai kebenaran dan ketidakbenaran telah merajalela, Aku (Tuhan) dalam wujudku. Untuk melindungi kebaikan dan penghancur oleh orang yang melakukan kejahatan dan untuk menegakkan dharma (kebenaran), aku terlahir dari waktu ke waktu. Orang Hindu percaya bahwa inkarnasi tidak dibatasi dalam agama Hindu saja. Inkarnasi ini muncul dalam bentuk rsi, orang suci dan juga dalam semua tradisi agama untuk membantu menegakkan dharma sesuai dengan kehendak Tuhan.

Hukum Karma dan Kelahiran Kembali

Hindu percaya bahwa, Tuhan mencintai dan mengampuni semua, tidak akan menghukum ataupun memberi hadiah pada siapapun. Kita menciptakan nasib kita sendiri dengan pemikiran dan juga perbuatan kita. Setiap perbuatan seseorang baik dalam pikiran atau perbuatan, akan membawa hasil, apakah itu buruk atau baik, bergantung dari sifat moral dalam tindakan itu, sesuai dengan pepatah, Apa yang engkau tanam, itulah yang akan engkau tuai. Perbuatan manusia tidak terjadi begitu saja tanpa akibat. Konsekuensi moral dari semua tindakan ini terdapat di alam. Jika seseorang hidup dengan bahagia di bumi, ia akan dilahirkan dalam kehidupan yang lebih baik lagi dalam reinkarnasi berikutnya. Contohnya, seorang pendosa yang melakukan kehidupan yang tidak bermoral akan terlahir sebagai manusia miskin dalam kehidupannya pada reinkarnasi berikutnya. Seorang terlahir kembali untuk menikmati hasil tindakannya sendiri. Siklus kelahiran dan kematian sampai seseorang itu mencapai moksa, atau kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian.

Doktrin Ahimsa Ahimsa berarti tanpa kekerasan, tidak melukai atau tidak membunuh. Agama Hindu mengajarkan bahwa semua bentuk kehidupan adalah manifestasi dari Tuhan. Kita tidak boleh membedakan dan menyakiti mahluk lain. Kita harus menyebarkan cinta dan kasih pada semua mahluk hidup. Kita harus menyebarkan cinta kasih dan kerendahan hati pada semua mahluk. Kekerasan karena nafsu untuk memuaskan ketertarikan seseorang dan kurangnya kasih untuk sesama adalah penyebab utama dari segala kejahatan di dunia. Mahatma Gandhi, adalah salah satu pemimpin terkemuka pada jaman kita adalah tokoh ahimsa yang paling termasyur. Sebelum ada ajarannya, praktek penerapan doktrin ini telah dibatasi pada tindakan seseorang, tetapi ia telah meluaskan konsep ahimsa pada tindakan masyarakat dan bangsa.

Tulisan Suci

Agama Hindu tidak berasal dari satu buku. Hindu memiliki banyak tulisan suci yang menjadi sumber dari pemikiran-pemikirannya. Seperti yang telah disebutkan terlebih dahulu, ini adalah agama yang diakumulasikan dari pengalaman kuno, sejarah, demikian juga dengan Rsi-Rsi yang telah modern dan pengamat. Tulisan Hindu yang paling penting diantaranya Veda, Upanisad, Agama, Purana, Ramayana, Mahabharata, dan Bhagavad Gita, dan masih banyak lagi.

Pustaka Weda Tiap agama di dunia ini, memiliki pustaka suci. Pustaka suci sebuah agama menjadi sumber segala sumber ajaran agama tersebut. Aspek-aspek filsafat, aspek ritual maupun etika pelaksanaan ajaran beragama, bersumber dari nilai, kaedah, norma dari pustaka sucinya. Semua ajaran agama ini memiliki kebenaran suci, kekal, dan universal sehingga patut diikuti dan dilaksanakan oleh penganutnya. Sumber ajaran agama Hindu adalah Weda, yaitu Pustaka yang berisi ajaran kesucian yang diturunkan Hyang Widhi melalui para Maha Rsi. Secara Etimologi, kata Weda berasal dari kata Wid, artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna suci dan kekal abadi berasal dari Hyang Widhi. Weda dikenal pula dengan Sruti, artinya Weda yang diterima melalui pendengaran dengan kemekaran intuisi para Maha Rsi. Juga disebut Pustaka mantra karena memuat nyanyian pujaan. Dengan demikian Weda adalah pustaka suci yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi. Sedangkan Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti. Yang didapatkan melalui ingatan oleh Maha Rsi. Kedua pustaka ini tidak boleh diragukan kebenarannya. Manawa Dharmasastra. II.10 menegaskan : Srutistu wedo wijneyo dharma Sastram tu wai smertih Te sarwartheswam immamasye tabhyam Dharmo hi nirbabhau

Sruti adalah Weda, dan Smerti itu adalah dharmasastra, keduanya tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah Pustaka Suci yang menjadi sumber ajaran Hindu Dharma Dari sloka diatas, tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenaranya tidak terbantahkan. Sruti dan Smerti adalah ajaran dasar yang harus dipegang teguh seluruh umat Hindu.

C. Filsafat Timur Hindu ASTIKA (ORTODOK) Sad Darsana (Enam Pandangan Filsafat Hindu). Filsafat merupakan pencarian rasional ke dalam sifat kebenaran atau realitas, yang juga memberikan pemecahan yang jelas dalam mengemukakan permasalahan-permasalahan kehidupan ini, di mana ia juga menunjukkan jalan untuk mendapatkan pembebasan abadi dari penderitaan akibat kelahiran dan kematian. Kata Darsana muncul dan digunakan untuk mengacu kepada pengertian filsafat. Kata Darsana kata Dasgupta di dalam pengertian pengetahuan filsafat penggunaan awalnya ditemukan di dalam Vaisesika-sutra karya Kanada. Tujuan Darsana merupakan realisasi atman. Realisasi atman merupakan tujuan dari setiap darsana. Baik Sruti maupun sistem-sistem filsafat India (Darsana) semuanya menelkankan pada Atman dan Brahman (Tuhan). Klasifikasi Darsana ada enam sistem filsafat Hindu yaitu, enam sistem filsafat orthodok yang merupakan enam cara mencari kebenaran, yaitu : 1.NYAYA Nyaya disebut juga tarkawada yaitu ilmu berdebat. Munculnya akibat perdebatan diantara ahli pikir di dalam mereka berusaha mencari kebenaran dari ayat-ayat suci Weda untuk dijadikan landasan melakukan upacara-upacara korban. Ajaran filsafat nyaya bersifat realistis. Karena mengakui benda-benda sebagai suatu kenyataan atau mengakui keberadaan dunia yang terlepas dari pikiran dan berdiri sendiri.

10

Nyaya juga berarti Theori pemisahan. Pemikiran ini dipelopori oleh Rsi Gautama (bukan Buddha), yang merupakan sistem yang logis dan bukan merupakan sistem praktek keagamaan. Bagaimana pun juga, logis dalam hal ini berarti dilatih untuk tujuan mencapai pembebasan. Pemikiran ini lebih cenderung dalam analisi logika dari dunia dan menggunakan alasan dan inference sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yang sebenarnya. Filsafat Nyaya sangat dihormati oleh Cendekiawan Barat, karena menggambarkan kehalusan dan intricacies pemikiran India. 2. WAISESIKA Waisesika adalah salah satu bagian dari filsafat India atau sad darsana yang usianya lebih tua dari sistem filsafat Nyaya. Yang timbul pada abad 4 SM. Dengan tokohnya adalah Maha Rsi Kanada. Beliau juga dikenal dengan nama Ulaka. Sistem filsafat Waisiseka bersifat metafisik dengan tujuan pokok ajarannya bersifat dharma yaitu tentang kesejahteraan di duniawi dan kelepasan. Sumber dan pokok-pokok ajarannya Sumber ajaran waisesika kitab Waisesika Sutra. Kitab ini terdiri atas 10 adhyayas atau jilid dan setiap jilid terdiri dua ahnikas atau bab. Isi pokok ajaran Waisesika adalah menerangkan tentang dharma. Yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dalam dunia ini dan yang memberikan kelepasan yang menentukan. Yang terpenting dari ajaran waisesika adalah ajaran tentang kategori-kategori dari semua yang ada di dunia ini. Waisesika berarti study tentang kemutlakan tertentu. Pemikiran ini, juga dikenal dengan Pemikiran Agama Hindu Atomiki. Menurut filsafat ini, pembebasan diri menghasilkan pengetahuan yang didapatkan dengan mengingat enam kategori yaitu sifat, tindakan, konsep kelas, jenis dan inherence. 3. MIMAMSA Sistem filasafat Mimamsa terbagi menjadi dua jenis yaitu Purwa Mimamsa, dan Uttara Mimamsa. Mimamsa sering disebut Purwa Mimamsa yang artinya penyelidikan sistematis yang pertama. Yang dimaksud bahwa

11

sistem ini membicarakan bagian Weda yang pertama yaitu kitab Brahmana. Sedangkan Uttara Mimamsa disebut juga Wedanta yang artinya penyelidikan sistematis yang kedua yaitu kitab Upanisad. Sifat ajarannya adalah pluralistis, dan realistis. Disebut pluralistis karena mengakui adanya banyak jiwa dan penggandaan asas badani yang membenahi alam semesta. Sedangkan disebut realistis karena mengakui obyek-obyek pengamatan adalah nyata. Sumber dan pokok-pokok ajarannya Yang menjadi sumber pokok ajaran Mimamsa adalah Mimamsa Sutra buah karya Maha Rsi Jaimini. Dalam perkembangan selanjutnya timbulah kitab komentar terhadap Mimamsa Sutra yang ditulis Sabaraswammin. Komentar ini diterangkan dengan cara yang berbeda oleh Kumarila Bhatta dan Prabhakara. Oleh karena itu timbullah dua aliran yaitu pengikut Kumarila Bhatta dan pengikut Prabhakara. Pokok-pokok ajaran kedua ini pada prinsipnya sama. Fungsi filsafat Mimamsa adalah membantu praktik keagamaan melalui dua cara yaitu memberi metode interpretasi terhadap Weda dan memberi pertimbangan-pertimbangan yang bersifat filosofis terhadap pelaksanaan upacara keagamaan. Mengenai jiwa dalam sistem Mimamsa dipandang sebagai subtansi. Keadaan berbeda dengan tubuh, indria dan budi. Jiwa itu jumlahnya sangat banyak dan tak terhitung, tiap tubuh ada satu jiwa. Semua jiwa memiliki kesadaran bersifat kekal berada dimana-mana dan meliputi segala sesuatu. 4. SAMKHYA Samkhya terdiri dari dua kata yaitu Sam yang artinya bersama -sama atau dengan dan Khya artinsya bilangan. Jadi Samkhya berarti susunan yang berukuran bilangan. Kata Samkhya juga berarti pengetahuan yang sempurna. Yang dimaksud adalah filsafat tentang sesuatu yang memberi pelajaran untuk mengenal diri sendiri secara metafisik. Ajaran Samkhya disebut realistis, dualistis, dan pluralistis. Disebut realistis karena mengakui realitas dunia ini yang bebas dari roh. Disebut dualistis karena prinsip ajarannya ada dua realitas yang berdiri sendiri

12

yaitu Purusa asas kejiwaan, dan Prakrti yaitu asas kebendaan. Dan disebut pluralistis karena mengajarkan mengajarkan bahwa purusa itu banyak sekali. Menurut Samkhya tentang kebenaran tuhan tidak perlu dibuktikan lagi. Karena itu pula ajarannya disebut Niriswara Samkhya. 5. YOGA Yoga secara etimologi berasal dari bahasa Sanskrta yang diambil dari akar kata Yuj yang artinya berhubungan, penyatuan. Seseorang yang mencari penyatuan ini disebut dengan Yogin atau Yogi. Penyatuan atau berhubungan dimaksudkan adalah pertemuan roh individu (atma/

purusa) dengan roh universal yang tidak berpribadi (Mahapurusa/ paramatman). Maha Rsi Patanjali mengartikan Yoga sebagai Citta Wrtti Nirodha yaitu penghentian gerak pikiran. Ajaran Yoga sangat populer dikalangan umat Hindu dengan tokoh pendirinya adalah Maha Rsi Patanjali. Tulisan pertama tentang ajaran Yoga adalah kitab Yoga Sutra karya Maha Rsi Patanjali. Walupun unsur-unsur ajarannya sudah ada jauh sebelum itu. Kemudian muncullah buku-buku komentar atas ajaran beliau. Seperti Yoga Bhasya atau Wyasabhasya yang ditulis oleh Wyasa. Yoga Maniprabha ditulis oleh Bhojaraja dll. Komentar-komentar ini

menguraikan ajaran Yoga karya Patanjali yang berbentuk Sutra berupa kalimat-kalimat pendek dan padat isinya. Berbeda dengan Samkhya, yoga mengakui adanya Tuhan. Adanya Tuhan dipandang lebih bernilai praktis dari pada bersifat teori dan merupakan tujuan akhir semadi yoga. Dengan demikian maka yoga dikatakan bersifat teori dan praktek dalam hubungan Tuhan. Ajaran yoga juga bersifat teistis dan mengakui kewenangan Weda.

NASTIKA (HETERODOK) Istilah Nawa Darsana sebenarnya adalah penggabungan Sad Darsana dengan Filsafat Nastika yang heterodok. Yang terdiri dari Carwaka, Jaina, dan Buddha.

13

CARWAKA Aliran filsafat Carwaka digolongkan dalam aliran materialisme. Aliran ini hanya bisa percaya kepada apa yang bisa dilihat oleh mata. Aliran Carwaka percaya terhadap Catur Mahabhuta (4 unsur alam yaitu udara, air, api dan tanah). Tokoh aliran Carwaka adalah Watsyayana dengan bukunya Kamasutra. Carwaka tidak percaya kepada surga dan neraka dan terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta. Karena aliran itu bersifat Atheis. JAINA Pendiri dari aliran ini adalah seseorang Mahawira yang namanya Wardkamana (abad ke 6 SM). Aliran filsafat ini bersifat atheis. Percaya bahwa seseorang dapat mencapai kebebasan rohani seperti gurunya. Ada dua golongan Jaina yaitu: A. Digambara yakni golongan yang sangat fanatik dan bahkan telanjang bulat (berpakaian langit) B. Swetambara yaitu golongan yang lebih moderat, menggunakan pakaian serba putih. Kedua golongan ini menekankan ajaran ahimsa (tidak membunuh /menyakiti mahluk lain). Pengikut aliran ini umumnya menggunakan masker (penutup mulut). Jangan sampai salah ucap atau mahluk-mahluk kecil masuk ke mulut atau hidung. Bila bepergian selalu membawa sapu.

BUDDHA Filsafat Buddha didirikan oleh pengikut Sang Buddha Siddharta Gautama dan Dinasti Sakya (600 tahun sebelum masehi) hampir bersamaan dengan filsafat Jaina. Buddhiesme adalah bagian dari Hindu Dharma dan salah satu dari agama besar di dunia, dan dianut oleh sekitar seperlima sampai semperempatdari populasi dunia saat ini. Agama ini berkembang di Bhutan, Bhurma, China, Camboja, Japan, Nepal, Tibet, Thailand, Sikhim, Sri Langka, dan Vietnam. Buddhisme ditemukan pada tahun 520 sebelum masehi oleh Buddha Gautama, ynag

14

terlahir pada 563 Sebelum Masehi dekat dengan Kapilawastu, sekitar seratus mil ke Utara dari kota Benares saat ini sebuah kota di India. Ajaran Filsafat Buddha meliputi : A. Catur Arya Satyani Catur Arya Satyani yaitu empat kebenaran mulia meliputi : 1. Dukha 2. Tresna 3. Nirodha 4. Asta Marga : hidup adalah penderitaan : ada yang menyebabkan penderitaan : ada jalan untuk mengatasinya : jalan itu ada delapan

B. Pratitya Samut Pada Pratitya Samut Pada adalah dua belas hal yang menyebabkan penderitaan yaitu : 1. Awidya 2. Samkara 3. Vijnana 4. Nama rupa 5. Sadayatana 6. Sparsa 7. Vedana 8. Tresna 9. Upadana 10. Bhava 11. Jati : kebodohan : kesan dimasa lalu : kesadaran awal : pikiran dan badan : enam anggapan : kotak hubungan dengan obyek : pengalaman yang lalu : haus akan kenikmatan : perhatian yang lebih : keinginan supaya terjadi : kelahiran

12. Jara Marana : umur tua dan kenikmatan

C. Asta Marga Asta Marga adalah delapan jalan yang benar, yaitu : 1. Samya drsti 2. Samyak sankalpa 3. Samyagvak : berpandangan yang benar : pemecahan masalah dengan benar : berbicara yang benar

4. Samyak karma : berbuat benar

15

5. Samyak jiwa

: hidup yang benar

6. Samyak vayama : berusaha yang benar 7. Samyak smerti : berfikir yang benar 8. Samyak samadi : bermeditasi yang benar

D. Perbedaan Tuhan dengan Dewa Dewa adalah sesuatu yang memancar dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan (Brahman) adalah sumber dari segala sesuatu yang ada didunia ini. Beraneka Dewa itu adalah untuk memudahkan membayangkanNya. Dewa-dewa atau dewata digambarkan dalam berbagai wujud, yang menampakkan diri sebagai yang personal, yang berpribadi dan juga yang tidak berpribadi. Yang Berpribadi dapat kita amati keterangan tentang dewa Indra, Vayu, Surya, Garutman, Angsa yang terbang bebas di angkasa, dan sebagainya. Sedang Yang Tidak Berpribadi, antara lain sebagai Om (Omkara/Pranava), Sat, Tat, dan lain-lain. Dalam kitab suci Rgveda seperti halnya Atharvaveda disebutkan jumlah dewa-dewa itu sebanyak 33 dewa. Bila kita membaca mantram-mantram lainnya dari kitab suci Rgveda ternyata jumlah Dewa-dewa sebanyak 3339.

E. Pengertian Panca Sradha Kata Panca Sradha berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti lima keyakinan. Sradha bersifat filosofi abstrak yang mengarah pada tattwa yaitu tentang itu (abstrak). Panca Sradha terdiri dari : Brahma Tattwa Atma Tattwa Karma Phala Tattwa Punarbhawa Tattwa Moksa Tattwa

1.Brahma Tattwa adalah keyakinan adanya Hyang Widhi. Beberapa sloka dalam Weda menyebutkan : Ekam sad wiprah bahuda vadanti. Agni yamam matarisvanam.

16

Artinya hanya ada satu hakekat dari pada tuhan. Akan tetapi para arif bijaksana menyebutkan dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matariswa dsb. Melihat adanya sloka tersebut diatas. Maka ajaran agama Hindu adalah monotheisme. Namun dalam penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu dipakai gelar sesuai dengan fungsi. Sinar suci dan kekuatan Tuhan itu sendiri. Penamaan atas fungsi sinar suci dan kekuatan itulah disebut Dewa. Berasal dari kata Div yang artinya sinar suci. Dewa ada beribu-ribu tetapi Tuhan tetap tunggal. 2. Atma Tattwa adalah keyakinan adanya Atma sebagai sumber makhluk hidup. Atma bersumber pada Brahman (Tuhan) yang merupakan percikan terkecil / halus yang menghidupkan makhluk hidup. Di dalam badan/ sarira Atman disebut jiwatman. Sesungguhnya tiap mahluk hidup terdiri dari unsur raga dan jiwa atau jiwatman. Bila Atma meninggalkan badan ini disebut mati. Hal ini bagaikan bola lampu tidak akan menyala tanpa ada aliran listrik. Begitu pula aliran listrik tidak terlihat dalam lampu yang menyala. Sifat Atma adalah kekal abadi. Karena merupakan unsur Brahman (Tuhan). Hanya badan raga yang mengalami kematian sedangkan Atma tidak pernah mati. Agama Hindu yakin bahwa setiap makhluk hidup dihidupkan oleh Atman yang sumbernya adalah Brahman. 3. Karma Phala Tattwa adalah keyakinan adanya perbuatan yang akan menerima hasil. Perbuatan baik akan menghasilkan hasil yang baik. Dan begitu juga sebaliknya. Perbuatan yang baik disebut Subha Karma dan perbuatan yang buruk disebut juga Asubha Karma. Karma Phala dibedakan menjadi tiga yakni : o Sancita Karma Phala artinya perbuatan yang terdahulu yang belum habis dinikmati dan sisanya dinikmati pada kehidupan sekarang ini. o Prarabdha Karma Phala artinya hasil dari perbuatan kita masa hidup ini dan langsung kita nikmati tanpa ada sisanya.

17

o Kryamana Karma Phala artinya bahwa hasil dari perbuatan kehidupan ini hasilnya belum sempat dinikmati dan akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang. 4. Punarbhawa Tattwa adalah percaya adanya kehidupan yang berulang-ulang atau percaya pada reinkarnasi. Hal ini disebabkan karena Karma seseorang belum habis dinikmati. Sehingga Atma harus mengalami kelahiran kembali. Dari penjelmaan satu ke penjelmaan berikutnya selalu berbeda. Disebabkan dari Karma Wasananya. Bila seorang lebih banyak Subha Karma maka dalam penjelmaan akan lebih baik. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu kelahiran itu disebabkan oleh Karma Wasananya. 5. Moksa Tattwa adalah bebas dari reinkarnasi. Bebas dari kelahirandan ini berarti Moksa adalah apabila Atma menyatu dengan Paramatma/ Tuhan. Moksa dalam arti yang lebih luas adalah kebebasan dari ikatan duniawi. Yakni apabila kita bisa melepaskan segala nafsu duniawi. Hal ini disebut dengan Jiwan Mukti. Orang yang dapat mencapai keadaan seperti itu akan menerima wahyu langsung dari Brahman (Tuhan).

F. Konsep Ketuhanan Hindu (Theologi Hindu) Theologi Hindu atau Brahma Widhya adalah ilmu tentang Tuhan. Theos (bahasa Yunani) berarti Tuhan dan Loghos berarti ilmu. Dalam ajaran Hindu. Ilmu yang mempelajari ketuhanan disebut Brahma Widhya atau Tattwa Jnana. Brahma artinya Tuhan dan Widhya artinya ilmu. Di dalam ilmu Agama khusus dalam bidang theologi dikenal berbagai ajaran (isme) yang menggambarkan hubungan kepercayaan manusia terhadap hakekat Tuhan. Seperti monotheisme, politheisme, animisme, teteisme dan sebagainya. Ditinjau dari berbagai istilah itu. Agama Hindu yang paling banyak menjadi obyek pembicaraan. Yang hasilnya tidak menggambarkan kesatuan pendapat dari para indolog.

Penggambaran yang berbeda-beda itu disebabkan karena melihatnya tidak secara keseluruhan. Untuk melihat sistem ketuhanan Hindu harus dengan melihat secara

18

konsepsional monotheisme.

dan

menyeluruh,Konsep

ketuhanan

dalam

Hindu

adalah

o Monoteisme Konsep monoteisme tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti "tak ada duanya". Selayaknya konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Adwaita Wedanta menganggap bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahmana. o Panteisme Dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah panteisme. Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat dalam setiap benda apapun, ibarat garam pada air laut. Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah Wyapi Wyapaka. Kitab Upanishad dari Agama Hindu mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada setiap ciptaannya. o Ateisme Agama Hindu diduga memiliki konsep ateisme (terdapat dalam ajaran Samkhya) yang dianggap positif oleh para teolog/sarjana dari Barat. Samkhya merupakan ajaran filsafat tertua dalam agama Hindu yang diduga menngandung sifat ateisme. Filsafat Samkhya dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan, melainkan karena pertemuan Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namun tidak memiliki penyebab. Oleh karena itu menurut filsafat Samkhya, Tuhan tidak pernah campur tangan. o Konsep Lainnya Di samping mengenal konsep monoteisme, panteisme, dan ateisme yang terkenal, para sarjana mengungkapkan bahwa terdapat konsep henoteisme, politeisme, dan monisme dalam ajaran agama Hindu yang luas. Ditinjau dari berbagai istilah itu, agama Hindu paling banyak menjadi objek penelitian yang

19

hasilnya tidak menggambarkan kesatuan pendapat para Indolog sebagai akibat berbedanya sumber informasi. Agama Hindu pada umumnya hanya mengakui sebuah konsep saja, yakni monoteisme. Menurut pakar agama Hindu, konsep ketuhanan yang banyak terdapat dalam agama Hindu hanyalah akibat dari sebuah pengamatan yang sama dari para sarjana dan tidak melihat tubuh agama Hindu secara menyeluruh. Seperti misalnya, agama Hindu dianggap memiliki konsep politeisme namun konsep politeisme sangat tidak dianjurkan dalam Agama Hindu Dharma dan bertentangan dengan ajaran dalam Weda.

G. Wujud Tuhan Dalam Hindu Pertanyaan awal yang menarik terkait dengan agama Hindu: Apakah Tuhan Agama Hindu mempunyai wujud? Hal ini terkait dalam sistem pemujaan agama Hindu para pemeluknya membuat bangunan suci, arca (patung-patung), pratima, pralinga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain. Hal ini menimbulkan prasangka dan tuduhan yang bertubi-tubi dengan mengatakan umat Hindu menyembah berhala. Penjelasan lebih lanjut tentang pelukisan Tuhan dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Sebagaimana halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai tingkat madness (tergila-gila) maka bantal guling pun dipeluknya erat-erat, diumpamakan kekasihnya, diapun ingin mengambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan. Begitu pula dalam peribadatan membawa sajen (yang berisi makanan yang lezat dan buah-buahan) ke Pura, apakah berarti Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak? Pura dihias dan diukir sedemikian indah, apakah Tuhan umat Hindu suka dengan seni? Tentu saja tidak. Semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti kepada Tuhan. Brahman/ Tuhan Yang Maha Esa Tuhan dalam agama Hindu sebagaimana yang disebutkan dalam Weda adalah Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan tidak bisa dipikirkan. Dalam bahasa Sanskerta keberadaan ini disebut Acintyarupa yang

20

artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia. Tuhan Yang Maha Esa ini disebut dalam beberapa nama, antara lain: Brahman: asal muasal dari alam semestea dan segala isinya Purushottama atau Maha Purusha Iswara (dalam Weda) Parama Ciwa (dalam Whraspati tatwa) Sanghyang Widi Wasa (dalam lontar Purwabhumi Kemulan) Dhata: yang memegang atau menampilkan segala sesuatu Abjayoni: yang lahir dari bunga teratai Druhina: yang membunuh raksasa Viranci: yang menciptakan Kamalasana: yang duduk di atas bunga teratai Srsta: yang menciptakan Prajapati: raja dari semua makhluk/masyarakat Vedha: ia yang menciptakan Vidhata: yang menjadikan segala sesuatu Visvasrt: ia yang menciptakan dunia Vidhi: yan menciptakan atau yang menentukan atau yang mengadili.

Tuhan Yang Maha Esa ini apapun namaNya digambarkan sebagai: Beliau yang merupakan asal mula. Pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta Wujud kesadaran agung yang merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada Raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan makanan Sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hidup Maha suci tidak ternoda Mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, tiada terucapkan, tiada duanya. Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (swayambhu).

21

Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini, meskipun telah berusaha menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definsi yang tepat untukNya, Neti-Neti (Na + iti, na + iti), bukan ini, bukan ini. Untuk memahami Tuhan, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Sedangkan kitab suci Veda dan temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Brahman memiliki 3 aspek: 1. Sat: sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau. Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuhtumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan. 2. Cit: sebagai Maha Tahu Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu. 3. Ananda Ananda adalah kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan,

22

kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi. Alam semesta ini adalah fragmenNya Tuhan. Brahman memiliki prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman. Jiwa atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bendabenda (materi) di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di dalam tubuh Brahman.

H. Wyapi Wyapaka Wyapi Wyapaka adalah keberadaan Tuhan yang selalu ada dimana - mana, bersifat ringan dan halus yang dalam sifat keagungan asta dala-Nya, Beliau juga dapat merubah diri-Nya menjadi sekecil-kecilnya sehingga dapat meliputi atau meresapi semuanya yang dalam Bhagawad Gita disebutkan, ibarat bunga teratai di dalam air yang tidak basah olehnya. Dalam Widhi Tatwa disebutkan, keberadaan Tuhan yang Wyapi Wyapaka ini, ibarat halnya bintang, Di siang hari, kita tidak dapat melihat bintang. Tidak berarti bintang itu tidak ada atau hanya terlihat ada pada malam saja. Karena penglihatan mata kita terbatas, tidak mampu menembus sinar - sinar matahari itu, Itulah sebabnya kita tidak bisa melihat bintang. Tetapi bintang itu tetap ada walaupun di siang hari.

23

Dengan keberadaan Tuhan selalu ada dimana - mana tersebut melalui lima manifestasi Panca Dewata Beliau yang dalam mantra Panca Sembah dengan sarana kawangen, disebutkan : Om nama dewa adhisthanya sarwa wyapi wai siwya, padmsana eka pratisthya ardhanareswaryai namo namah Yang artinya: Ya Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja. I. Kitab Suci agama Hindu Kitab dalam agama Hindu adalah tulisan keagamaan yang paling tua dan paling terbesar di dunia. Sangatlah sulit untuk mengklasifikasikan dan menyatakan kapan kitab ini ditulis dengan benar karena terdapat banyak penulis yang terlibat dalam kurun waktu ribuan tahun. Dan juga, kebiasaan yang ada pada jaman dahulu bahwa seorang penulis tidak akan pernah menuliskan nama mereka pada hasil karyanya yang juga mempersulit nama mereka pada hasil karyanya yang juga mempersulit masalah ini. Secara umum, Kitab Hindu dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian : (1) Kitab Sruti, dan (2) Kitab Smrti. 1. Kitab Sruti Kitab Sruti termasuk kitab utama dari agama Hindu yaitu Weda. Weda mengajarkan kebenaran tertinggi yang diketahui oleh manusia, dan membentuk sumber yang mutlak dalam Agama Hindu. Kata Veda diambil dari akar kata Vid , yang berarti mengetahui. Sruti dalam bahasa Sanskrta berarti apa yang di dengar. Veda ini adalah kebenaran yang abadi dimana pengamat Veda, yang disebut dengan para Rsi, yang mendengar wahyu ini ketika mereka melakukan meditasi yang mendalam. Veda bukanlah hasil dari pemikiran manusia, tetapi ungkapan apa yang di sadari melalui persepsi intuisi oleh para rsi Veda, yang memiliki kekuatan yang dianggap berasal dari Tuhan. Kebenaran Veda secara oral disebarkan oleh para rsi kepada muridmuridnya selama ribuan tahun. Kemudian kebenaran Veda itu dikumpulkan oleh

24

Rsi Vyasa demi kepentingan generasi mendatang. Ada empat Veda : Rg Veda, Yajur Veda, Sama Veda, dan Atharva Veda. a. Empat Weda Veda sebenarnya adalah tulisan inti dari catatan spiritual dan keagamaan dalam budaya kuno dan ajaran India. Ajaran mereka didasarkan pada adanya kesadaran diri sebagai tujuan kehidupan manusia. Hindu menyebut Veda dengan beberapa nama, seperti apuruseya(yang berarti tidak ditulis oleh purusa, atau manusia) anadi (tanpa awal yang berhubungan dengan waktu) dan nisvasitam (nafas Isvara, Tuhan). Sebagai sebuah budaya dan cara hidup, Weda melambangkan sebuah tradisi yang dapat menerima semua pendekatan yang valid pada kebenaran dan melambangkan prinsip yang universal dan berbeda. Dalam budaya Weda, kesadaran akan Tuhan tidak terbatas pada ajaran seorang penyelamat atau buku suci. Tidak ada pembatasan terhadap kebenaran dalam bentuk, pendekatan, atau kepercayaan tertentu. Setiap individu didorong untuk menemukan kebenaran untuk diri mereka sendiri dan tidak ada pendiktean tentang apa itu kebenaran dan bagaimana seharusnya. Veda menggambarkan tentang upacara dan meditasi untuk dapat mencapai keselarasan dalam kehidupan. Upacara dimaksudkan untuk menjaga agar kegiatan keseharian kita selaras dengan kehendak Tuhan, dan meditasi digambarkan untuk menyadari identitas kita yang sebenarnya. Bagian ritual dari weda disebut Karma Kanda dan bagian meditasi dari Weda disebut dengan Jnana Kanda.

o Rg Veda Rg Veda, diambil dari kata rk, yang berarti memuji, adalah kumpulan dari mantra (misalnya yang diucapkan atau dilagukan). Sebuah mantra adalah ucapan suci yang berisikan kekuatan mistik yang potensial dan kaya. Rg Veda dibagi menjadi sepuluh buku (setiap buku disebut dengan mandala, yang berarti lingkaran), yang kemudian dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi menjadi bab dan bagian-bagian. Termasuk 1.028 lagu, yang terdiri dari 10.589 bait Sanskrta dan lebih dari 150.000 kata. Lagu pujian dalam Rg Weda adalah lagu

25

pujian dan pemujaan yang ditujukan pada dewi Weda, seperti Indra (250 lagu), Agni Surya. Lebih sedikit lagu-lagu yang ditujukan kepada dewa-dewa seperti Varuna, Aswin, dan Dewi Usa, Aditi dan Saraswati tetapi lagu lagu ini sangat penting. o Yajur Veda Yajur Veda, terdiri dari 3.988 bait: yang merupakan kumpulan dari mantra dan cara yang digunakan oleh para pendeta dalam melakukan upacara Veda dan pengorbanan. o Sama Veda Sama Veda, adalah kumpulan dari 1.540 bait yang dibuat menjadi musik oleh orang jaman Veda untuk mengulangi mantra itu pada saat upacara. Penggunaan musik ini kemudian memunculkan musik Karnatik India, musik klasik India yang asli. Musik Karnatik berhubungan dengan lagu pengabdian pada para Dewa dan didasarkan atas tujuh suara : Sa, Re, Ga, Ma, Pa, Dha dan Ni. Kombinasi dan permutasi dari tujuh suara ini digunakan untuk menciptakan irama yang dikenal dengan raga. o Atharva Veda Atharva, adalah kumpulan unik yang terdiri dari 5.077 bait, yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Kumpulan ini terdiri dari bait yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dalam bidang pertanian, perdagangan, progeni, kesehatan dan kepentingan umum. Bait yang lain berhubungan dengan cinta kasih dan pengertian dalam berhubungan, seperti antara suami dan istri, ayah dan anak, dan guru dan murid. Sedangkan beberapa bait yang lain dirancang sesuatu yang berhubungan dengan obat-obatan dan bertarung dengan musuh.

Bentuk dari Veda Setiap Veda terdiri dari empat bagian : Samhita atau Mantra, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. Samhita atau Mantra Kata Samhita secara literal berarti menyatukan. Samhita (atau mantra) merupakan teks dasar yang terdiri dari lagu doa dan pemujaan, yang disatukan

26

untuk memuja para Dewa-dewi yang melambangkan kekuatan natural dan phenomena. Lagu ini dinyanyikan pada saat memuja dan berkorban, yang menimbulkan ritualisme dari jaman periode Veda. Brahmana Brahmana menekankan dan membahas upacara pengorbanan dan teknik yang benar dalam pelaksanaannya. Termasuk penjelasan dalam menggunakan mantra dalam upacara dan menimbulakan kekuatan mistik dari pengorbanan itu. Bagian ini disebut sebagai Brahmana kerena mereka membahas tugas dari para Brahmin (pendeta) yang melakukan pada saat upacara pengorbanan. Aranyaka Aranyaka ( kitab yang berasal dari hutan; yaitu buku yang dihasilkan dengan bermeditasi di hutan yang sepi ) yang menandai transisi dari pengorbanan Brahmanikal menuju filsafat dan spekulasi metafisika, yang kemudian dimuat dalam Upanisad. Aranyaka terdiri dari interpretasi mistik dari mantra dan upacara, yang disatukan pada saat mengasingkan diri di hutan, yang menimbulakan kedisiplinan. Pengetahuan yang didapat oleh para ascetis ini dianggap sebagai wahyu. Upanisad Upanisad adalah wahyu suci yang diterima oleh para orang suci dan para rsi. Upanisad melambangkan intisari dari Veda, kebenaran dalam Agama Hindu yang paling mulia yang diketahui oleh manusia. Upanisad adalah filsafat yang dapat didiskusikan dan filasafat yang dapat diteliti. Upanisad adalah kitab pertama yang mengakui adanya adanya penyatuan semua, kesatuan individu dan kenyataan. Ajaran dasar dari upanisad adalah intisari dari semua benda dan semua mahluk dari sebatang rumput ilalang sampai pada manusia sempurna adalah Tuhan, yang disebut dengan Brahman. Hanya ada satu mahluk, satu kenyataan, dan pada kata-kata yang terdapat dalam Upanisad disebutkan : Tat Tvam Asi, Yang berarti Semuanya adalah dirimu. Kata Upanisad terdiri dari tiga bagian : Upa (dekat), Ni (turun), dan Sad (duduk). Jadi Upanisad berarti , Duduk didekat seorang yang suci dan menerima ajaran yang suci. Bebas dari theology dan Dogma, Upanisad adalah sumber

27

inspirasi inti dan bimbingan bagi jutaan umat Hindu dan orang-orang Non Hindu yang memiliki pemikiran yang hampir sama. Upanisad telah mempengaruhio banyak pemikir Hindu, termasuk Von Goetho, Arthur Schopenhauer, dan Ralph Waldo Emerson. Upanisad adalah bagian pelengkap Veda yang terfokus pada pertanyaan filasafat seperti tujuan dari kehidupan,asal mula dari jagat raya , konsep waktu, ruang dan masalah demikian juga dengan konsep Atman, Brahman, Maya, keabadian, kelahiran kembali, karma, dan dunia. Menurut Max Muller Konsep dunia berasal dari Veda , dan Khususnya dari Upanisad yang sangat menabjubkan. Tidak ada yang tahu dengan jelas berapa Upanisad yang ada siapa yang menulisnya, dan kapan Upanisad itu ditulis. 108 Upanisad telah dilestarikan. Beberapa diantaranya dalam bentuk puisi, beberapa dalam bentuk prosa, dan susunan kata-kata yang terdiri dari ratusan sampai ribuan kata. Upanisad ini bukanlah filsafat yang terorganisir, karena rsi dan orang suci nyang menciptakannya bukan pendeta yang mengetahui sistem filsafat. Dari 108 Upanisad yang ada, dua belas diantaranya dianggapnya dianggap sebagai Upanisad yang penting : Katha Upanisad Upanisad ini adalah dialog antara Nachiketa, seorang murid yang bijaksana dan tulus yang ingin mengetahui Kebenaran, dengan Raja Kematian. Dalam bahasa puisi, Upanisad ini mengungkapkan tentang rahasia pengetahuan Tuhan : Sangatlah mulia ia yang membicarakannya (tuhan): cerdaslah ia yang mempelajarinya; terberkahilah mereka, yang diajar oleh seorang Guru, yang dapat mengerti hal ini, Juga dijelaskan tentang proses dari Yoga untuk kesadaran Tuhan. Isa Upanisad Hanya dengan 18 bait, Isa Upanisad adalah Upanisad yang singkat. Upanisad ini memiliki penjelasan tambahan tentang Tuhan, yang mengajarkan jalan yang benar, dan peringatan bagi para pencari kebenaran yang mengambil jalan menyimpang. Upanisad ini menyatakan : Terkutuklah bagi bmereka yang hanya bermeditasi atau bekerja saja. Bagi mereka yang mengabdikab

28

kehidupannya pada dunia dan meditasi, dengan hidup dan meditasi, dengan hidup di dunia mereka mengatasi kematian, dan dengan meditasi mereka mencapai keabadian. Kena Upanisad Yang tidak dapat di dengar oleh telinga, tapi yang mana telinga dapat mendengar, disebut dengan Brahman. Yang tidak dapat dilihat oleh mata, tapi yang membuat mata bisa melihat, disebut dengan Brahman. Menurut Upanisad ini, Brahman adalah intisari dari semua benda dan mahluk di dunia ini. Brahman adalah diluar jangkauan dari pikiran dan kecerdasan: Menurut Upanisad ini, Seseorang yang berfikir bahwa mereka mengetahui Brahman, tidak mengetahui apapun. Prasna Upanisad Upanisad ini adalah dialog antara Rsi Pippalada dan banyak murid lainnya seperti Sukhesa, Satyakama, Gargya, Kousalya, Bhargava, dan Kabhandhi. Dalam dialog sang rsi menjawab banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh muridnya, termasuk yang berikut ini : Bagaimana mahluk hidup ada ? Kekuatan apa yang menyatukan tubuh menjadi satu? Bagaimana kekuatan hidup itu masuk dan keluar dari tubuh kita? Ketika seseorang itu bermimpi atau tidur, siapakah yang berada dalam tubuh manusia yang sedang tidur dan bermimpi itu? Mundaka Upanisad Menurut Upanisad, pengetahuan itu ada dua, yang tinggi dan yang rendah . Pengetahuan yang lebih tinggi dimana seseorang menyadari Kenyataan yang mutlak (Brahman). Pengetahuan yang lebih rendah menyinggung tentang upacara, pengorbanan, perayaan, etimologi, dan astronomi, diantara yang lainnya. Ini adalah Upanisad yang menyatakan bahwa Brahman melihat semuanya, mengetahui segalanya ; ia adalah pengetahuan itu sendiri. Dari Brahman terlahir nafas, pikiran, organ indera, dang angkasa, udara, air, api dan bumi (panca mahabhutha). Ia mengetahui hal itu bukan dengan mempelajari kitab, atau dengan kecerdasan alam bawah, atau melalui belajar tetapi hanya mereka yang merindukan Nya ia dapat diketahui.

29

Mandukya Upanisad Ini adalah Upanisad yang paling singkat dari kedua belas Upanisad, tetapi dianggap sebagai Upanisad yangpaling penting. Menurut Upanisad ini, Tuhan itu (Atman yang ada dalam tubuh) biasanya melewati tiga kesadaran: terjaga, bermimpi, dan tidur nyenyak. Pada saat terjaga, Tuhan menikmati impresi alam bawah yang tertinggal kerena tindakan yang telah dilakukan. Dalam tidur nyenyak impresi alam bawah sadar dari pikiran hilang dan atman mengalami kebahagiaan. Selain ketiga keadaan yang dialami oleh orang biasa terdapat keberadaan yang keempat: ini terdapat dalam semua indera, pengertian, dan ekspresi. Dalam keadaan yang keempat inilah, yang dikenal dengan keadaan turiya, dimana dunia dualisme hilang dan atman dapat disadari kebera-daannya. Taittiriya Upanisad Upanisad ini menyatakan bahwa jagat raya ini berasal dari Brahman dalam urutan sebagai berikut : Dari Brahman muncul akasa (energi gravitasi); dari akasa muncul vayu (energi kinetik); dari vayu muncul teja (penyinaran); dari teja muncul apah (energi listrik) dan dari apah muncullah prthivi (magnet). Bagi para wanita dan pria, Upanisad ini memberikan pesan berikut ini: bicarakanlah kebenaran; ikutilah jalan kebenaran; jangan pernah menunda kewajiban. Dalam pernikahan lahirkanlah generasi yang lebih mulia; jangan pernah mengabaikan kenyataan duniawi dan spiritual; terampillah dan dinamis. Belajarlah dan bagilah kebijaksanaanmu dengan orang lain dan bersyukurlah pada Dewa-Dewi, para leluhurmu, dan juga orang tuamu. Aitareya Upanisad Upanisad ini menyatakan bahwa Brahman adalah sumber, substansi, dan akhir dari jagat raya. Tampanya mata tidak dapat melihat, telinga tidak dapat mendengar, kulit tidak dapat merasakan, lidah tidak lam keadaan dapat berbicara, dan pikiran tidak dapat berfikir. Ia adalah yang terjaga dalam keadaan terjaga, pemimpi dalam mimpi, dan seorang yang tidur nyenyak dalam tidur tanpa mimpi; tapi ia transendental dalam semua keadaan. Alamnya yang sejati adalah kesadaran yang murni.

30

Chandogya Upanisad Ini adalah salah satu Upanisad yang paling terkenal dan terpanjang. Melalui cerita, parable, dan dialog, Upanisad ini menggambarkan segalanya yang dapat dan tidak dapat dilihat yang berasal dari Brahman. Ini menyatakan bahwa jagat raya terlahir dari Keberadaan (Brahman) dan tidak dari ketidakberadaan (kehampaan atau kekosongan), seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Bagaimana keberadaan itu dapat terlahir dari ketidakberadaan? tanya Upanisad. Chandogya Upanisad melukiskan tentang sebuah cerita yang menarik dimana kebenaran ditekankan sebagai kebajikan yang tertinggi: seorang anak laki-laki pergi pada seorang rsi untuk mendapatkan petunjuk spiritual. Untuk menguji anak itu sebelum menerimanya, Rsi itu bertanya nama dari ayahnya. Anak itu menjawab bahwa ia tidak tahu nama ayahnya, karena ibunya telah menjalani kehidupan yang tidak bermoral dan tidak tahu siapa ayahnya. Rsi itu dengan segera menerima anak laki-laki itu karena ia telah menyatakan yang sebenarnya, satu-satunya syarat untuk mendapatkan pengetahuan yang tertinggi. 2. Kitab Smrti Smrti berarti Yang diingat. Kitab Smrti berasal dari Veda dan dianggap berasal dari Veda dan dianggap berasal dari manusia dan bukan dari Tuhan. Smrti ditulis untuk menjelaskan Veda, membuat Veda dapat dimengerti dan lebih berarti bagi manusia pada umumnya. Semua sumber tuliasan selain Veda dan Bhagavad Gita secara kolektif disebut dengan Smrti. a. Dharma Sastra Tulisan ini menggambarkan tentang peraturan dalam tingkah laku manusia yang benar, kesehatan pribadi, administrasi sosial, etika dan kewajiban moral. Dharma Sastra yang paling terkenal adalah Manu Smrti atau Kode Manu, yang terdiri dari 2.694 stanza dalam 12 Bab. Manu, nenek moyang ke-65 (inkarnasi dari Tuhan dalam bentuk manusia) Rama, yang menggambarkan tingkah laku dasr untuk mengendalikan diri, tidak melukai, penuh kasih dan tidak terikat, yang ditekankan sebagi syarat untuk membentuk masyarakat yang baik. Manu Smrti, adalah kode hukum untuk hidup dengan benar, yang secara terus menerus mendominasi kehidupan etika orang Hindu.

31

Karya lain yang penting yang memiliki kategori yang sama adalah Yajnavalkya Smrti dan Gautama Smrti, yang ditulis oleh rsi Yajnavalkya dan Gautama.

b. Nibandha Nibandha adalah bacaan, pedoman, dan ensiklopedia Hukum Veda yang menyinggung tentang tingkah laku manusia, pemujaan, dan ritual. Nibandha juga membahas tentang topik seperti pemberian hadiah, tempat penziarahan suci, dan menjaga tubuh manusia.

c. Purana Purana membentuk sebagian besar dari kerangka kesusastraan Smrti. Purana ini muncul dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, dan menjelaskan ajaran bawah sadar dari Veda melalui cerita dan legenda raja jaman dahulu, pahlawan, dan sifat-sifat kedewataan. Purana adalah epos kedua yang merupakan alat yang sangat terkenal untuk mengajarkan ajaran agama. Terdapat 18 Purana utama; enam diantaranya ditujukan pada Dewa Visnu, enam diantaranya kepada Dewa Brahma, dan enam lagi kepada Dewa Siva. Penulis purana adalah Rsi Vyasa yang juga menulis Mahabharata.

d. Itihasa/ Epos (Cerita Kuno) Dua epos (itihasa) yang paling terkenal dalam ajaran Agama Hindu adalah Ramayana dan Mahabharata. Epos ini adalah cerita yang paling terkenal diantara orang Hindu. Ramayana ditulis oleh Rsi Valmiki. Cerita ini menggambarkan bagaimana Dewa Visnu muncul di bumi sebagai Bhagavan Rama dan membunuh Ravana, yang telah menindas kerajaannya melalui nafsunya untuk mendapatkan kekuatan. Epos ini menggambarkan kehidupan ideal dari seorang individu, sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Ini juga menggambarkan ide persaudaraan, persahabatan, dan kesucian bagi pria dan wanita.

32

Rsi Vyasa adalah penulis Mahabharata, yang terkadang disebut dengan Veda yang kelima kerena pengaruhnya sangat dalam pada orang-orang Hindu dan semua jalan kehidupan. Mahabharata adalah cerita hebat tentangpeperangan yang terjadi antara Kurava dan Pandava untuk memperebutkan kerajaan Kuruksetra. Di satu pihak adalah lima Pandava bersaudara dan disisi lain adalah sepupu mereka, seratus Kaurava bersaudara. Dalam medan perang itu Sri Krsna adalah kusir Arjuna, salah satu dari Pandava bersaudara. Dalam medan perang itu Sri Krsna adalah kusir Arjuna, salah satu dari Pandava bersaudara. Melihat teman dan keluarganya pada sisi medan perang, Arjuna berkata pada Krsna bahwa ia tidak siap untuk membunuh teman dan keluarganya sendiri demi kepentingan kerajaan. Ini mengarahkan pada dialog yangabadi antara Krsna dan Arjuna, yang terkenal dengan Bhagavad Gita, yang disebut dengan Injil Hindu. Pesan dari Bhagavad Gita adalah universal dan termasuk didalamnya kepercayaan mendasar dari agama Hindu .

J.Maha Rsi Hindu Penghimpun Veda 1.Maha RsiGrtsamada Maha Rsi Grtsamada adalah maha rsi yang dihubungkan dengan turunnya sloka-slokaVeda, terutama Rg Veda, Mandala II. Dari beberapa cukilan diketahui bahwa beliau adalah keturunan dari Sunahotra dan keluarga Angira. Beliau dikatakan putra Senaka, salah seorang Maha Rsi terkenal pula pada zaman itu. Bahkan di dalam Pustaka Mahabharata terdapat cerita yang menyebutkan Maha Rsi Senaka merupakan Maha Rsi terhormat dalam sejarah Hindu. 2. Maha Rsi Visvamitra Dari catatan yang ada beliau menerima wahyu kemudian dihimpun dalam Veda di dalam Mandala III Pustaka Mandala III ini terdiri atas 58 Sukta, dan terdiri atas beberapa pasal. Diataranya pasal-pasal itu diturunkan melalui Kusika, putra dari Maha Rsi Isiratha.

33

3. Maha Rsi Wamadewa Maha Rsi Wamadewa dihubungkan dengan sloka Mandala IV pada Rg Veda. Hampir semua mantra-mantra yang terdapat di Mandala IV dikatakan diterima oleh Wamadewa. Hanya dinyatakan, salah satu dari mantra terpenting yaitu Gayatri, tidak terdapat di dalam mandala IV tetapi diletakkan di Mandala III. 4. Maha Rsi Atri Maha Rsi Atri banyak dihubung dengan turunnya sloka yang dihimpun dalam Mandala V. Nama Atri juga dihubungkan dengan keluarga Angira. Nama-nama yang banyak disebutkan dalam Mandala ini adalah Dharuna, Prabhuwasu, Samwarana, Ghaurawiti, Putra Sakti, dan Samwarana, putra Prajapati. Di dalam Mandala ini terdapat 87 Sukta. Dari 87 ini 14 Sukta diturunkan melalui Atri sedangkan lainnya diturunkan melalui keluarga Atri. Ada 36 anggota keluarga Atri sebagai penerima Wahyu. 5. Maha Rsi Bharadwaja Mandala VI tergolong himpunan yang turunkan melalui Maha Rsi Bharadwaja. Pustaka ini memuat 75 sukta. Berdasarkan otensitasnya tampak lebih tua dari Pustaka yang ke V, tetapi dalam urutan ditetapkan sesudah Pustaka ke V. Hampir seluruh isi mandala VI ini dikatakan kumpulan dari Bharadwaja. Bharadwaja adalah putra Brhaspati. 6. Maha Rsi Wasistha Seluruh Pustaka ke VII dianggap merupakan himpunan yang diturunkan melalui Maha Rsi Wasistha atau keluarga yaitu Putra dari Maha Rsi Wasistha bernama Sakti. Seperempatnya dari mandala VII, diturunkan melalui putranya. Di dalam Mahabharata, nama Wasistha sama terkenalnya dengan Wiswamitra. Maha Rsi Wasistha tinggal di hutan Kamyaka di tepi sungai Saraswati. 7. Maha Rsi Kanwa Maha Rsi sebagai penerima wahyu lalu dihimpun menjadi Pustaka ke VII yang isinya bermacam-macam. Pustaka kedelapan ini sebagian

34

besar memuat sloka yang diturunkan melalui keluarga Kanwa, sedangkan Maha Rsi Kanwa sendiri menerima sebagian kecil saja.

K.Bhagavadgita Bhagavadgita (Pancama Veda) Bhagavad gita, Nyanyian Tuhan, (bhagavad = Tuhan dan gita = Nyanyian). Berisikan ajaran langsung sabda Hyang Widhi mengambil wujud Krsna berdialog dengan Arjuna muridnya. Karena ajaran yang langsung diwahyukan ke dunia ini, maka pustaka ini dimasukkan kedalam kelompok ke 5 Weda Sruti, yang disebut Pancama Veda. Bhagavad gita sesuai namanya berbentuk sloka nyanyian, sehingga dinamakan Pustaka Nyayian suci atau nyanyian Tuhan. Slokanya disusun sangat indah penuh filsafat yang dalam, terdiri dari 18 Bab, 741sloka, tentang ilmu pengetahuan, budhi pekerti, kebenaran yang hakiki, disiplin kerja, kebhaktian kepada tuhan dan disiplin pengabdian kepada Tuhan atau Hyang Widhi. L.Purana Purana membentuk sebagian besar dari kerangka kesusastraan Smrti. Purana ini muncul dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, dan menjelaskan ajaran bawah sadar dari Veda melalui cerita dan legenda raja jaman dahulu, pahlawan, dan sifat-sifat kedewataan. Purana adalah epos kedua yang merupakan alat yang sangat terkenal untuk mengajarkan ajaran agama. Terdapat 18 Purana utama; enam diantaranya ditujukan pada Dewa Visnu, enam diantaranya kepada Dewa Brahma, dan enam lagi kepada Dewa Siva. Penulis purana adalah Rsi Vyasa yang juga menulis Mahabharata.

Manfaat purana dalam mempelajari Veda adalah sebagai mikroskop sebelum mkempelajari Veda. Dengan mempelajari kitab-kitab inilah akan memudahkan memahami hakekat pemikiran agung Veda itu sendiri. Oleh karena itu untuk mempelajari Veda, hendaknya terlebih dahulu

35

mempelajari Itihasa dan Purana. Seperti yang tertuang dalam Sarasamuccaya disebutkan sebagai berikut:

"Ndan Sang Hyang Veda, paripurnakena sira makasadhana sanghyang itihasa, sanghyang purana, apan atakut sanghyang Veda ring akedik ajinya..."

Artinya:

Veda itu hendaklah dipelajari dengan sempurna dengan jalan mempelajari Itihasa dan Purana, sebab Veda itu merasa takut akan orangorang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya wahai tuan-tuan, janganlah tuan-tuan datang kepadaku demikian konon sabdanya, karena takut (Kajeng, 2010 : 34).

M. Itihasa/ Epos (Cerita Kuno) Dua epos (itihasa) yang paling terkenal dalam ajaran Agama Hindu adalah Ramayana dan Mahabharata. Epos ini adalah cerita yang paling terkenal diantara orang Hindu. Ramayana ditulis oleh Rsi Valmiki. Cerita ini menggambarkan bagaimana Dewa Visnu muncul di bumi sebagai Bhagavan Rama dan membunuh Ravana, yang telah menindas kerajaannya melalui nafsunya untuk mendapatkan kekuatan. Epos ini menggambarkan kehidupan ideal dari seorang individu, sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Ini juga menggambarkan ide persaudaraan, persahabatan, dan kesucian bagi pria dan wanita. Rsi Vyasa adalah penulis Mahabharata, yang terkadang disebut dengan Veda yang kelima kerena pengaruhnya sangat dalam pada orang-orang Hindu dan semua jalan kehidupan. Mahabharata adalah cerita hebat tentang peperangan yang terjadi antara Kurava dan Pandava untuk memperebutkan kerajaan Kuruksetra. Di satu pihak adalah lima Pandava bersaudara dan disisi lain adalah sepupu mereka, seratus Kaurava bersaudara. Dalam medan perang itu Sri Krsna adalah kusir Arjuna, salah satu dari Pandava bersaudara. Dalam medan perang itu Sri Krsna adalah kusir Arjuna,

36

salah satu dari Pandava bersaudara. Melihat teman dan keluarganya pada sisi medan perang, Arjuna berkata pada Krsna bahwa ia tidak siap untuk membunuh teman dan keluarganya sendiri demi kepentingan kerajaan. Ini mengarahkan pada dialog yangabadi antara Krsna dan Arjuna, yang terkenal dengan Bhagavad Gita, yang disebut dengan Injil Hindu. Pesan dari Bhagavad Gita adalah universal dan termasuk didalamnya kepercayaan mendasar dari agama Hindu .

N. Catur Warna Kata Catur Warna berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata catur berarti empat dan kata warna yang berasal dari urat kata Wr (baca: wri) artinya memilih. Catur Warna berarti empat pilihan hidup berdasarkan Guna dan Karma. Empat profesi dalam kehidupan bermasyarakat adalah Brahmana, Ksatrya, Waisya, dan Sudra. Catur Warna membagi manusia menjadi empat golongan Profesional yang bersifat paralel horizontal. Catur Warna tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia atas dasar asal-usul keturunannya. Catur Warna sering dikaburkan sebagai Catur Wangsa. Wangsa artinya keturunan. Sistem Wangsa adalah sistem pengelompokan umat Hindu. Berdasarkan kesamaan keturunan untuk tujuan pemujaan roh suci leluhur atau Dewa Pitara. Menurut Sarasamuccaya 250 orang yang tekun dan sungguhsungguh memuja leluhurnya akan mendapatkan pahala yaitu: Kirti, Bala, Yusa, dan Yasa. Jadi, tujuan utama dari pengelompokan berdasarkan kesamaan wangsa bukan untuk menentukan Warna, tetapi untuk menyatukan umat seketurunan dalam pemujaan leluhur atau Dewa Pitara.

1. Swadharma Catur Warna a. Brahmana Disimbolkan dengan warna putih, adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitik beratkan pengabdian dalam swadharmanya di bidang ilmu pengetahuan dan kerohanian keagamaan.

37

b. Ksatrya Disimbolkan dengan warna merah adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian dan swadharmanya di bidang kepemimpinan, keperwiraan,melindungi negara. c. Waisya Disimbolkan dengan warna kuning adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan pengabdian di bidang kesejahteraan masyarakat (perekonomian, perindustrian, dan lain-lain). d. Sudra Disimbolkan dengan warna hitam adalah golongan fungsional di dalam masyarakat yang setiap orangnya menitikberatkan

pengabdiannya di bidang ketenagakerjaan.

O. Yadnya 1. Pengertian Yajna Kata Yajna berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata Yaj berarti memuja atau memberi penghormatan. Juga diartikan mempersembahkan atau bertindak sebagai perantara. Dari kata Yaj timbul kata Yaja (kata-kata dalam pemujaan), Yajata (layak memperoleh penghormatan), Yajus (sakral, ritus, agama) dan Yajna (pemujaan, doa persembahan). Yajna dapat pula diartikan memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat kebajikan, memberi, dan penyerahan tulus ikhlas berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan, kesempurnaan hidup bersama, dan kemahamuliaan Hyang Widhi. Itu berarti bahwa yajna mengandung nilai-nilai : a. Rasa tulus ikhlas dan kesucian b. Rasa Bhakti dan memuja Hyang Widhi, Dewa, Bhatara, Leluhur, negara bangsa, dan kemanusiaan.

38

c. Pelaksanaan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing menurut tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra); d. Suatu ajaran dari Catur Weda sebagai pengetahuan suci dan kebenaran abadi. sumber ilmu

Pustaka suci menjelaskan bahwa upacara yajna adalah kewajiban umat Hindu, ke hadapan Hyang Widhi, dengan penuh sujud dan rasa Bhaktidengan mengadakan pemujaan dan persembahan yang dilakukan secara tulus ikhlas. Patram puspam phalam toyam Yo me bhaktya prayachchati Tad aham bhaktypahritam Asnami prayatatmanah (Bhagavad gita IX.26) Siapapun yang sujud bhakti kepadaKu, mempersembahkan setangkai daun, bunga, air dan buah-buahan. Dan hal ini hanyalah bersifat simbolik belaka. Intinya ialah berlandaskan hati suci, pikiran terfokus dan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada Hyang Widhi. 2. Pelaksanaan Yajna Yajna sebagai pengamalan ajaran Weda dilakukan secara bertingkat sesuai dengan kemampuan umat. Pembedaan itu berdasarkan tingkat pelaksanaan, jenis yajna, waktu pelaksanaan, cara

menjalankannya. Disamping itu dikenal dasar pelaksanaan yajna. a. Sradha dan Bhakti berupa pemujaan kepada Hyang Widhi melalui Dewa-Dewa sebagai manifestasi-Nya atas dasar niat tulus ikhlas untuk menguatkan jati diri. b. Asih, yaitu melakukan pemeliharaan dan perlindungan kepada alam dan sarwa prani dengan penuh asih sebagai yajna. Bertujuan menanamkan nilai spiritual melalui ritual sakral religius dari lubuk hati sanubari umat Hindu agar peduli pada pelestarian alam dan lingkungannya secara nyata.

39

c. Punia artinya yajna pada sesama berupa pelayanan agar umat Hindu termotivasi secara spiritual melayani (Swanam) dengan Ikhlsas. Panca Yajna adalah lima jenis persembahan suci umat Hindu dalam usaha mencapai kesempurnaan hidup. Panca Yajna terdiri atas : Dewa Yajna ialah persembahan suci kehadapan Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa-Dewa. Contohnya sembahyang Tri Sandhya, sembahyang Purnama dan Tilem dan masih banyak lagi. Pitra Yajna ialah persembahan suci kepada roh leluhur yang lebih mencapai Dewa Pitara. Pitra Yajna kepada anggota keluarga meninggal, menyelenggarakan upacara kematian (Sawa Wedana) yakni pembakaran badan kasar sebagai tahap pertama

pengembalian Panca Maha Bhuta. Selanjutnya disebut Atma Wedana, atau Nyekah sebagai pembakaran badan halus. Tujuannya untuk meningkatkan status roh jadi Dewa Hyang. Hakikat Pitra Yajna adalah pengabdian dan bhakti yang tulus ikhlas guna mengangkat dan menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam sorga. Manusa Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada manusia untuk kesempurnaan hidup mereka sebagai generasi penerus. Manusia Yajna pada hakekatnya bertujuan untuk memanusiakan manusia agar aspek kemanusiaan atau humanitasnya tersebut semakin eksis. Misalnya upacara selamatan untuk menyambut bayi baru lahir, upacara tiga bulan, upacara otonan, upacara potong gigi dan terakhir upacara perkawinan. Rsi Yajna ialah upacara ini korban suci yang ditujukan kepada Maha Rsi, orang suci, Rsi , Pandita, Pinandita, Guru. Pelaksanaam Rsi Yajna dapat diwujudkan dalam bentuk : a. Upacara Rsi Bojana, yakni upacara penghormatan kepada sulinggih dalam menyuguhkan makanan, daksina yaitu penghormatan dalam wujud upacara dan benda atau uang yang dihaturkan secara ikhlas kepada

40

pendeta saat memimpin upacara, mengamalkan ajaran Weda, dan mendalami ajaran weda. Bhuta Yajna ialahadalah korban suci kepada para Bhuta yaitu roh halus yang mengganggu ketentraman manusia. Upacara bhuta yajna berupa segehan, mecaru atau tawur agung bertujuan untuk keseimbangan hubungan manusia dengan jagat raya.

P. Rg Weda (R.V.1.164.46) : Ekam sat viprah, bahudha vadanti. Kebenaran itu adalah satu, orang bijaksana yang menyebutnya dengan berbagai nama. Karena kepercayaan tentang keberadaan Tuhan pada semua mahluk hidup, Agama Hindu mengajarkan toleransi dan keselarasan yang universal. Agama Hindu tidak melihat bahwa seorang atheis sebagai orang yang menjijikkan.

Q. Sloka Bhagavadgita

IX.29

Samo ham sarva-bhutesu Na me dvesyo sti na priyah Ye bhajanti tu mam bhaktya Mayi te tesu capy aham Aku bersikap sama pada semua makhluk, tidak Ada yang Aku benci dan tidak ada yang aku kasihi. Akan Tetapi, mereka yang memuja-Ku dengan penuh rasa Bhakti, maka dia akan selalu bersama-Ku dan Aku ada pada dirinya.

Analisis sloka : Maksud sloka disini adalah Tuhan itu tidak membeda-bedakan pemujanya. Karena pada dasarnya laksana matahari yang tidak memilih-milih yang ia sinari. Dengan rasa Bhakti pada Tuhan, maka tuhan senantiasa dekat dengan pemujanya.

41

Bhagavadgita IV.II Yam sannyasam iti prahur Yogam tam viddhi pandava Na hy asannyasta-sankalpo Yogi bhavati kascana Wahai Putra Pandu, ketahuilah bahwa yang dikatakan sebagai Sannyasi (melepaskan diri dari ikatan duniawi) adalah sama dengan Yoga (jalan keinsyafan diri). Sebab, tanpa melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi tidak akan ada orang yang bisa menjadi seorang Yogi. Analisi Sloka : maksud sloka ini adalah dengan melepaskan diri dari ikatan duniawi adalah sama dengan Yoga. Karena tanpa itu orang sulit sekali menjadi Yogi. Bhagavadgita mengajarkan agar kita menjadi seorang Yogi agar sebagai manusia tidak terikat dengan duniawi. Karena duniawi itu sifatnya tidak nyata (maya).

R. Mahatma Gandhi Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukumhukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan nonkekerasan. Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran. Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah

42

seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara. Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai "jalan yang benar" atau "jalan menuju kebenaran", telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa). Berikut adalah kumpulan kata bijak Mahatma Gandhi yang terkenal selama hidupnya: Kata Bijak Mahatma GandhiKekuatan tidak berasal dari kapasitas fisik. Kekuatan berasal dari kemauan yang gigih Kemurnian hidup adalah seni termurni dan tertinggi Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan Jadilah anda manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya anda sendiri yang tersenyum Karena saat kita kaya bukan berarti kita bisa mengaku bahwa hati nurani kita benar tanpa menjalani disiplin apapun sehingga banyak ketidakjujuran terjadi di dunia yang membingungkan ini Suka cita terletak pada perjuangan, usaha, termasuk dalam penderitaan, bukan pada kemerdekaan itu sendiri Saya telah belajar dari pengalaman yang lebih pahit sebagai sebuah pelajaran paling penting; menyimpan amarah; dan ketika panasnya tersimpan, diubah menjadi energi, dengan demikian amarah yang terkendali dapat diubah menjadi kekuatan yang dapat menggerakkan dunia

43

Kebebasan individu dan kesaling-tergantungan keduanya penting dalam hidup bermasyarakat Adalah dibawah martabat manusia jika seseorang kehilangan kepribadiannya dan menjadi tidak lebih daripada sebuah roda gigi pada mesin Satu-satunya penguasa yang saya akui di dunia ini adalah suara hening kecil di dalam hati Semuanya berjalan baik meskipun segala sesuatu tampaknya salah sama sekali jika anda jujur terhadap anda sendiri. Sebaliknya, semuanya tidak baik bagi anda walaupun segala sesuatu kelihatan benar, jika anda tidak jujur terhadap anda sendiri Bukankah sejarah dunia menunjukkan bahwa tidak ada romantika kehidupan jika tidak ada resiko? Sasaran pernah menjauh dari kita. Semakin besar kemajuan, semakin besar pengakuan atas ketidaklayakan kita. Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha penuh adalah kemenangan penuh Pengetahuan sejati memberi kedudukan moral dan kekuatan moral Musik kehidupan terancam hilang dalam musik suara Dibutuhkan iman yang luar biasa, iman dan penyerahan yang murni dari segala yang ada di hadapan kita Menyebut perempuan sebagai jenis kelami yang lebih lemah adalah fitnah. Itu merupakan ketidakadilan laki laki terhadap perempuan Semua beasiswa anda, semua studi anda mengenai Shakespeare dan Wordswordth akan sia sia jika pada saat bersamaan anda tidak membangun karakter Anda dan mencapai keahlian mencapai pemikiran dan tindakan anda Istri bukan merupakan budak suami, merupakan pendamping dan teman penolong suami serta mitra sejajar dalam suka dan duka, bebas memilih jalannya sendiri sebebas sang suami Lupa bagaimana menggali dan merawat tanah adalah lupa akan diri sendiri Seorang laki laki tidak dapat berbuat benar di salah satu bagian kehidupan sedangkan ina berbuat salah di bagian lainnya. Hidup adalah keseluruhan yang tidak dapat dibagi

44

Tuhan sendiri adalah hakim kebesaran sejati karena Ia mengetahui isi hati manusia Karakteristik istimewa peradaban modern adalah tak terbatasnya bermacam macam keinginan manusia. Karakteristik peradaban kuno adalah larangan keras dan aturan tegas atas keinginan keinginan itu Kehidupan membaca dan menulis merupakan salah satu dari banyak cara untuk mengembangkan intelektual, tetapi di masa lampau kita mempunyai raksasa raksasa intelektual yang tidak dapat membaca Kehidupan lebih besar daripada segala seni. Saya bahkan akan melangkah lebih jauh dan mengumumkan bahwa orang yang hidupnya mendekati sempurna adalah seniman terbesar, karena apalah artinya seni tanpa dasar yang pasti dan kerangka hidup mulia?.

S. HINDU DHARMA Singkatan dari : Harmoni adalah paduan keselarasan, perpaduan antara keyakinan dan tingkah laku, menghormati, menyayangi apa yang ada, merangkum,

mensinerjikan dan menyelaraskan segala macam perbedaan secara ikhlas dan alamiah. Dengan harmoni akan tercipta sebuah enerji yang merangkum tatanan kehidupan sosial yang indah dan teratur. Harmoni bukan keterpaksaan, tetapi ada sistim dan aturan yang menjadi kesepakatan bersama yang semua komponen berusaha menjaganya karena menyangkut kepentingan bersama. Harmoni dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, nasional, tatanan internasional, bahkan alam semesta. Dengan harmoni, semua akan menjadi indah, enak dibayangkan, dilihat, dirasakan, dan dinikmati. Inkarnasi adalah pembuahan dan kelahiran makhluk yang merupakan manifestasi dari suatu tuhan/dewa, atau kekuatan yang imaterial. Contoh inkarnasi pada agama-agama adalah: Krishna, dari Hinduisme Yesus, dari Kristen Kali, dari Hinduisme Durga, dari Hinduisme Parvati, dari Hinduisme

45

Non Violence adalah non kekerasan. Jadi agama Hindu adalah agama yang cinta damai (love peace). Karena menjalankan Tri Hita Karana yang berarti hubungan yang harmonis. Yang pertama hubungan yang harmonis kepada Tuhan, yang kedua hubungan yang harmonis kepada sesama manusia dan yang ketiga hubungan yang harmonis pada alam semesta. Doktrin Karma yaitu Karma berasal dari bahasa Sansekerta dari urat kata Kr yang berarti membuat atau berbuat, maka dapat disimpulkan bahwa karmapala berarti Perbuatan atau tingkah laku. Doktrin ini bersifat mengikat bagi setiap manusia, karena setiap perbutan akan ada hasil yang akan didapatkan. Unity of Eksistensi adalah kesatuan eksistensi yang berarti kesatuan dari keberadaan. Bahwa hindu adalah ajaran kebenaran yang selalu ada pada setiap zaman dan tidak akan pernah punah/ hilang. Dalam Rg Weda (R.V.1.164.46) : Ekam sat viprah, bahudha vadanti. Kebenaran itu adalah satu, orang bijaksana yang menyebutnya dengan berbagai nama. Selama masih ada kebenaran didunia ini maka Hindu akan tetap ada dan selalu jaya. Karena ajaran Hindu bersifat Anandi ananta tanpa awal dan tanpa akhir. Dharma Karma adalah perbuatan yang dilakukan sesuai kebenaran. Jadi Hindu mengajarkan bertindak sesuai dengan dharma. kata dharma dapat pula berarti kodrat. Sedangkan dalam kehidupan manusia, dharma dapat berarti ajaran, kewajiban atau peraturan- peraturan suci yang memelihara dan menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang luhur. Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalahmasalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu.

46

Humanisme

modern

dibagi

kepada

dua

aliran.

Humanisme

keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia. Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat. Atma adalah jiwa yang menjadi sumber hidup mahluk. Jadi, atma merupakan percikan-percikan kecil dari ParamaAtma/Hyang Widhi yang berada dalam setiap mahluk hidup. Atma merupakan bagian dari Brahman/Hyang Widhi yang memberikan energi hidup pada badan jasmani segala mahluk sesuai dengan hukum yang ditentukan oleh Hyang Widhi. Atma sering disebut dengan Swatman atau Jiwatman yaitu roh yang memberikan tenaga untuk hidup. Karena Atma merupakan bagian dari Brahman/Hyang Widhi maka sifatnya gaib seperti halnya Hyang Widhi, tidak pernah mengalami kelahiran dan kematian (Na jayate naha niyamane). Beberapa sifat-sifat atma menurut Bhagawad Gita adalah : Achodya (tidak terluka oleh senjata) Adahya (tidak terbakar oleh api) Akledya (tidak terkeringkan oleh angin) Acesyah (tidak terbasahkan oleh air) Nitya (kekal abadi) Sarwagatah (ada dimana-mana) Sthanu (tidak berpindah-pindah) Acala (tidak bergerak) Sanatana (selalu sama) Awyakta (tidak dilahirkan) Achintya (tidak terpikirkan)

47

Awikara (tidak berubah) Atma juga tidak laki-laki maupun perempuan, sempurna seperti halnya Brahman/Hyang Widhi. Namun, setelah atma memasuki badan wadah mahluk dipengaruhi oleh sifat-sifat kemayaan/keduniawian dan kegelapan (awidya), sehingga tidak lagi menyadari asal dan sifat aslinya Brahman. Adakalanya mengalami pasang surut sifat kemayaan sehingga atma sifatnya dapat semakin menjauhi sifat Brahman. http://biotalaut-biotalaut.blogspot.com/2010/08/atma-sradha.html Reality adalah realitas, bahwa Hindu mengajarkan untuk mencapai kenyataan. Karena pada dasarnya manusia hidup didunia ini adalah dipengaruhi maya

(ketidaknyataan). Misalnya lahir, hidup, dan mati. Tujuan realitas Hindu adalah menyatunya Atman dengan Brahman (tuhan). Semua realita di luar Brahman (Tuhan) dipandang sebagai ilusi belaka (maya). Moksa yaitu berasal dari bahasa sansekreta dari akar kata "MUC" yang artinya bebas atau membebaskan. Moksa dapat juga disebut dengan Mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagian rohani yang langgeng. Jagaditha dapat juga disebut dengan Bukti artinya membina kebahagiaan, kemakmuran kehidupan masyarakat dan negara. Jadi Moksa adalah suatu kepercayaan adanya kebebasan yaitu bersatunya antara atman dengan brahman. Kalau orang sudah mengalami moksa dia akan bebas dari ikatan keduniawian, bebas dari hukum karma dan bebas dari penjelmaan kembali (reinkarnasi) dan akan mengalami Sat, Cit, Ananda (kebenaran, kesadaran, kebahagian). Dalam kehidupan kita saat ini juga dapat untuk mencapai moksa yang disebut dengan Jiwan Mukti (Moksa semasih hidup), bukan berarti moksa hanya dapat dicapai dan dirasakan setelah meninggal dunia, dalam kehidupan sekarangpun kita dapat merasakan moksa yaitu kebebesan asal persyaratan2 moksa dilakukan, jadi kita mencapai moksa tidak menunggu waktu sampai meninggal.

48

Authority atau sumber adalah maksudnya bahwa Hindu memliki sumber ajaran Hindu yang sangat banyak dan bersifat universal. Sumber-sumber ajaran Hindu berasal dari Veda, Upanisad, Brahma Sutra, Agama dan Bhagavad Gita.

49

KESIMPULAN Agama Hindu dikatakan seperti pohon besar dengan cabangnya yang sangat banyak yang melambangkan berbagai pemikiran keagamaan. Pohon ini berakar dalam tanah Weda dan Upanisad yang subur. Weda melambangkan tradisi keagamaan, sedangkan Upanisad melambangkan filsafat dimana tradisi itu didasarkan. Beberapa orang mengatakan bahwa Hindu adalah lautan yang menyerap semua aliran sungai dari pemikiran yang berbeda, betapa lurus atau berbeloknya sungai itu. Agama Hindu dasarnya adalah persahabatan bagi mereka yang mempercayai kesucian seseorang, kesadaran eksperensial tentang tuhan melalui praktek spiritual dan disiplin moral (yang tidak tertengahi oleh otoritas, dogma, atau kepercayaan) pemeliharaan dan penyebaran dharma (kebenaran), kebebasan pemikiran yang total, keselarasan dalam agama (sarva dharma samabhava), tanpa kekerasan (ahimsa) dalam kata-kata, perbuatan, dan pemikiran, menghormati semua bentuk kehidupan, dalam hukum karma Apa yang engkau tanam itulah yang akan engkau tuai. Adanya Kenyataan Orang yang beragama Hindu percaya bahwa hanya ada satu kenyataan atau kebenaran yang tidak dapat dibatasi dengan nama apapun, bentuk, atau sifat. Kenyataan itu adalah bagian dari semua benda dan mahkluk dunia yang kemudian menurun dalam diri mereka. Ini adalah sumber mutlak atau asal dari keberadaan. Hal ini memiliki dua aspek, yang transendental (impersonal) dan immanen (personal). Dalam aspek transendentalnya, kenyataan itu disebut dengan berbagai nama, seperti Yang Kuasa atau kesadaran Kosmis, Maha Kuasa, Kenyataan Mutlak, Jiwa Universal dan Nirguna Brahman. Dalam aspek impersonal ini, kenyataan ini tidaklah berbentuk, tidak memiliki atribut, tidak berpindah, tidak terbatas dan tidak dapat didekati oleh pemikiran manusia. Seperti itulah, Kenyataan ini tidak dapat disebut dengan Pencipta, karena ada terlebih dahulu dari semua bentuk termasuk Sang Pencipta. Yang dapat kita katakan tentang

50

aspek yang transendental ini adalah kenyataan bahwa alam adalah keberadaan mutlak yang alami, pengetahuan mutlak, dan kebahagiaan mutlak (Sat-citananda). Ini adalah aspek immanen, kenyataan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan dari semua agama. Dilihat dari aspek personal, Hindu menyebut kenyataan dengan berbagai nama, seperti Saguna Brahman, Isvara, Paramatma, dan Ibu Mulia. Dalam aspek ini, kenyataan ini adalah pencipta yang maha pengampun, pemelihara, dan pengendali dari jagat raya. Dalam pandangan Weda, tidak ada satu Dewa atau Dewi untuk semua manusia. Hindu memuja aspek personal dari kenyataan dalam berbagai nama dan bentuk, baik pria maupun wanita, ,menurut pilihan dari pemuja.

51