Anda di halaman 1dari 1

BERITA TERKINI

Risperidon sebagai Terapi Tambahan Depresi Mayor


MDD merupakan salah satu penyebab utama
disabilitas, yang hingga kini mempengaruhi kurang lebih 121 juta orang.. Walaupun obatobat golongan SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) merupakan terapi lini utama untuk pasien-pasien dengan depresi, namun terapi tersebut tidak efektif pada 30 40% pasien. Untuk meningkatkan remisi dan memperbaiki respon terapi, direkomendasikan penggantian obat lama dengan obat lain yang masih termasuk satu golongan, pemberian terapi kombinasi, dan pemberian terapi tambahan seperti dengan hormon tiroid atau obat-obat golongan antipsikotik atipikal seperti risperidon. Risperidon bekerja menghambat reseptor serotonin dan dopamin. Di Amerika Serikat risperidon telah disetujui pemberiannya sebagai terapi untuk mengatasi mania bipolar dan skizoferenia. Penelitian tersamar ganda, acak, multisenter oleh dr. Ramy Mahmoud dkk meneliti efek risperidone sebagai terapi tambahan pada pasien MDD. Pasien-pasien dalam penelitian ini telah mendapatkan terapi sebelumnya (n=274; secara acak diterapi dengan plasebo atau risperidon. Terapi risperidon dimulai dengan dosis 0,25 mg sehari dan ditingkatkan menjadi 0,5 mg hingga 1,0 mg. Penelitian berlangsung selama 6 minggu. Pada kasus-kasus tertentu dosis ditingkatkan hingga 2 mg sehari setelah 4 minggu penelitian. Para peneliti menggunakan penilaian HRSD (Hamilton Rating Scale for Depression), CGI-S (the Clinical Global Impression Severity of Illness) dan pemeriksaan lainnya yang berhubungan dengan penilaian kualitas hidup untuk menilai gejala depresi. Hasil penelitian setelah 6 minggu memperlihatkan bahwa gejala depresi lebih ringan pada kelompok terapi risperidon dibandingkan dengan kelompok plasebo Pada minggu ke-4, perbedaan rata-rata derajat beratnya depresi antara kelompok terapi risperidon dengan plasebo adalah -1,9 (p=0,006) dan pada minggu ke-6 adalah -2,8 (p<0,01). Selain itu gejala depresi berkurang lebih banyak pada pasien yang diberi terapi tambahan risperidon dibandingkan dengan yang mendapatkan plasebo. Selain itu proporsi pasien yang responsif terhadap terapi lebih besar pada kelompok terapi risperidon.
Penurunan gejala depresi minggu ke-4 Penurunan gejala depresi minggu ke-6 Proporsi pasien yang berespon terhadap terapi minggu ke-4 Proporsi pasien yang berespon terhadap terapi minggu ke-6
Kelompok Risperidon Kelompok Plasebo Nilai p

13,6% 24,5% 35,6% 46,2%

6,0% 10,7% 18,8% 29,5%

= 0,006 <0,01 = 0,002 = 0,004

Tabel 1. Perbandingan perbaikan gejala depresi serta proporsi pasien yang berespon terhadap terapi antara kelompok risperidon dengan kelompok plasebo.
Kelompok Risperidon

Kelompok Plasebo 14,5% 2% 1%

Sakit kepala Somnolen Mulut kering

8,8% 5% 5%

Dalam penelitian-penelitian ini, risperidon digunakan dalam rentang dosis 0,25 hingga 2 mg/hari. Efek samping yang paling sering ditemukan sehubungan dengan terapi risperidon adalah nyeri kepala, mulut kering dan penurunan nafsu makan. Bukti-bukti klinis memperlihatkan bahwa pemberian risperidon sebagai terapi tambahan pada pasien depresi yang tidak berespon baik terhadap terapi standar dapat memperbaiki respon terapi dan meningkatkan kejadian remisi, memperbaiki respon terhadap terapi, serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Hingga kini efektifitas dan keamanan jangka panjang penggunaan risperidon belum dapat dipastikan dan penelitian lanjutan perlu dilakukan. Selain itu penelitian lanjutan diharapkan dapat menentukan dosis dan lamanya risperidon dapat diberikan sebagai terapi tambahan pada pasienpasien MDD dalam praktik sehari-hari. Simpulan: Pemberian risperidon dosis rendah sebagai terapi tambahan pada pasien dengan MDD yang kurang responsif baik terhadap pengobatan standar secara bermakna memperbaiki gejala dan derajat depresi serta meningkatkan respon terhadap terapi dibandingkan dengan plasebo Pemberian risperidon sebagai terapi tambahan meningkatkan kualitas hidup pasien dan tidak disertai dengan peningkatan efek samping. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menentukan dosis efektif dan lama terapi risperidone sebagai terapi tambahan pada pasien dengan MDD. (YYA)
REFERENSI :
1. Mahmoud RA, Pandina GJ, Turkoz I, Kosik-Gonzales C, Canuso CM, Kujawa MJ, et al. Risperidone for Treatment-Refractory Major Depressive Disorder. Ann Intern Med 2007; 147(9): 593-602. 2. Medscape Cardiology.Risperidone Improves Depression Symptoms in Treatment-Resistant Patients. [cited 2011 January 05]. Available from: http://www.medscape.org/viewarticle/565692

Tabel 2. Perbandingan efek samping antara kelompok risperidon dengan kelompok plasebo.

Selain itu, para peneliti juga mengetakan bahwa kualitas hidup lebih baik pada kelompok terapi risperidon, yang terlihat dari beberapa parameter, di antaranya adalah produktivitas dalam pekerjaan, serta hubungan dengan anggota keluarga dan masyarakat. Efek samping yang teramati relatif ringan pada kedua kelompok penelitian; yang paling menonjol pada kedua kelompok adalah nyeri kepala, sedangkan efek samping lainnya adalah somnolen dan mulut kering. Penelitian lainnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian Ryan K Owenby dkk. atas efektifitas dan keamanan risperidon sebagai terapi tambahan bagi pasien depresi mayor yang tidak berespon adekuat terhadap obat antidepresi tunggal. Penelitian ini melalui pencarian dari MEDLINE antara tahun 1966 hingga Agustus 2010, dan EMBASE dari tahun 1980 - hingga Agustus 2010. Kata yang digunakan dalam pencarian adalah risperidone dan MDD. Sebagai tambahan juga dilakukan pencarian manual terhadap tiap penerbitan yang ditemukan selama pencarian data yang berhubungan. Dalam analisis tersebut juga disertakan 4 penelitian klinik dan satu subanalisis penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian risperidon sebagai terapi tambahan efektif dan aman bila digunakan dalam dosis rendah. Walaupun beberapa melibatkan jumlah pasien yang sedikit, semuanya memperlihatkan perbaikan berbagai skala penilaian gejala depresi.

226

C DK 184/V o l .38 no .3/Ap r il 2011