Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapakan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ilmiah yang berjudul Logam Berat Fe dan Mn yang merupakan tugas mata kuliah kimia logam berat. Dalam makalah ilmiah ini penulis membahas mengenai logam berat besi dan mangan, serta keberadaan di alam dan toksisitas besi dan mangan. Dalam menyelesaikan makalah ilmiah ini, penulis telah mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada bantuan dan masukan dari orang-orang yang telah bersedia membantu penulis untuk menyelasaikan makalah ilmiah ini. Penulis telah berusaha untuk menyusun makalah ini dengan sebaikbaiknya. Namun, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ilmiah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan. Semoga makalah ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Pekanbaru, Oktober 2013

Tim Penulis

Daftar Isi
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1 Daftar Isi ................................................................................................................. 2 BAB I ...................................................................................................................... 3 PENDAHULUAN .................................................................................................. 3 2.1 2.2 2.3 Latar Belakang Masalah ........................................................................... 3 Rumusan Masalah .................................................................................... 4 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 4

BAB II ..................................................................................................................... 5 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 5 2.1 2.2 Pengertian Logam Berat ........................................................................... 5 Logam Mangan ........................................................................................ 6

2.1.1 Keberadaan Mangan .............................................................................. 6 2.1.2 Toksikologi Mangan .............................................................................. 8 2.1.3 2.2 Kasus Toksisitas Mangan ............................................................... 10

Logam Besi ............................................................................................ 11

2.2.1 Keberadaan Besi .................................................................................. 11 2.2.2 Toksitas Besi ........................................................................................ 12 BAB III ................................................................................................................. 17 PENUTUP............................................................................................................. 17 1. 2. Kesimpulan ................................................................................................ 17 Saran .......................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang Masalah Dalam kimia, sebuah logam (bahasaYunani: Metallon) adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation) dan memiliki ikatan logam, dan kadang kala dikatakan bahwa ia mirip dengan kation di awan elektron. Metal adalah salah satu dari tiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan, bersama dengan metaloid dan nonlogam. Dalam tabel periodik, garis diagonal digambar dari boron (B) ke polonium (Po) membedakan logam dari nonlogam.Unsur dalam garis ini adalah metaloid, kadang kala disebut semilogam; unsur di kiri bawah adalah logam; unsur kekanan atas adalah nonlogam. Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7. Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya.Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya. Logam berat masih termasuk golongan logam-logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam yang lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk kedalam tubuh organisme hidup. Sebagai contoh, bila unsur logam besi (Fe) masuk dalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen. Sedangkan unsur logam berat baik itu logam berat beracun yang dipentingkan seperti tembaga (Cu), bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologis tubuh.

2.2 Rumusan Masalah 1. Apa itu logam berat besi dan logam berat mangan? 2. Bagaimana keberadaan logam berat besi dan mangan di alam? 3. Bagaimana toksisitas pada logam berat besi dan mangan?

2.3 Tujuan Penulisan 1. Mengetahui logam berat besi dan mangan 2. Mengetahui keberadaan logam besi dan mangan di alam 3. Mengetahui toksisitas pada logam berat besi dan mangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Logam Berat Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan penyusuapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup. Laju akumulasi logam-logam berat ini di dalam tubuh pada banyak kasus lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk membuangnya. Akibatnya keberadaannya di dalam tubuh semakin tinggi, dan dari waktu ke waktu memberikan dampak yang makin merusak. Beberapa definisi terkait logam berat telah diusulkan oleh para ahli, ada yang mendasarkan pada densitas, ada yang mendasarkan pada nomor

atom atau berat atom, dan definisi yang lain lagi menggolongkan logam berat ini berdasarkan sifat toxic nya. Definisi yang umum digunakan saat ini menggolongkan logam berat sebagai golongan logam yang memiliki densitas melebihi 5,000 kg/m3. Pada dasarnya mahluk hidup juga memerlukan logam berat dengan jumlah takaran yang bervariasi. Manusia misalnya membutuhkan iron, cobalt, copper,

manganese, molybdenum, dan zinc pada jumlah tertentu. Akan tetapi, pada jumlah berlebih, keberadaan logam berat tersebut mengakibatkan dampak yang merusak pada organ tubuh. Saat ini para ahli mulai mengklasifikasikan jenis-jenis logam berat terutama yang perlu menjadi fokus perhatian paling tinggi untuk dikendalikan keberadaannya di lingkungan. Logam-logam berat tersebut diantaranya adalah Ag, As, Cd, Co, Cr, Cu, Hg, Mn, Mo, Ni, Pb, Sn, dan Ti. Beberapa dari logam berat ini , pada takaran jumlah yang sedikit, sebenarnya berguna bagi mahluk hidup (Co, Cu, Cr, Ni) dan beberapa yang lain bersifat karsinogen (penyebab

cancer) atau beracun/ berefek negatif pada organ-organ tertentu, seperti pada sistem saraf pusat (Hg, Pb, As), organ ginjal atau liver (Hg, Pb, Cd, Cu), serta kulit, tulang, atau gigi (Ni, Cd, Cu, Cr). Dalam bahasan kali ini, akan diurai tiga polutan utama logam berat di lingkungan yaitu Lead (Pb), Mercury (Hg) dan Cadmium (Cd)

2.2 Logam Mangan Mangan (Mn, nomor atom = 25, massa atom relatif = 54,938) adalah unsur yang termasuk ke dalam golongan VIIB dalam susunan tabel periodik unsur .Dalam bentuk unsur bebas mangan berwarna putih keabuan, rapuh, dan termasuk ke dalam logam yang reaktif. Titik lebur mangan adalah 12440C dan titik didihnya 19620C. Mangan adalah golongan logam transisi yang paling banyak ditemukan setelah besi dan titanium (WHO, 1981).

2.1.1 Keberadaan Mangan Mangan dapat ditemukan dalam bentuk teroksidasi, yaitu dalam bentuk +2, +3, dan +7. Bentuk +2 dapat membentuk banyak jenis senyawa kompleks. Sedangnkan bentuk +3 sering ditemukan dalam bentuk kompleksnya, yaitu K3Mn(Cn)6. Mangan juga dapat membentuk beberapa senyawa organometallic seperti Mn2(CO)10, NaMn(CO)5, dan (C5H5)2Mn. Mangan dalam bentuk methylcyclopentadienyl sering digunakan dalam jumlah besar sebagai peningkat nilai oktan dalam bahan bakar (octane booster), pencegah asap, dan biasanya ditambahkan ke dalam tetraethyllead. Mn2+ adalah bentuk mangan berupa garam dan memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, kecuali bentuk fosfat dan carbonatnya. Umumnya bentuk Mn2+ ditemukan berikatan dengan senyawa lain, misalnya MnF2, MnCl2, MnBr2, dan MnI2. Jika berikatan dengan ion OH- akan membentuk Mn(OH)2, yaitu gelatin berwarna putih. Sering juga ditemukan dalam bentuk MnO dan MnS. Mn2+ memiliki sifat yang mirip dengan Mg2+ dan berperan dalam beberapa molekul biologi tubuh manusia.

Ion Mn3+ adalah bentuk ion dari mangan (III) yang sangat mudah untuk terhidrolisis larutan asam lemah membentuk ion Mn2+ dan mangan dioksida (MnO2). MnO2 ditemukan secara alami dalam bentuk pyrolusite yang tidak larut dalam air dan larutan asam. Sementara itu informasi mengenai mangan (IV) masih sangat sedikit dan ionnya ditemukan dalam proses blue hypomangamates. Mangan (III) dan (IV) memiliki peran yang penting dalam proses fotosistesis bagi tumbuhan hijau. Mangan (VII) sangat mudah ditemukan dalam bentuk ion, yaitu ion permanganate (MnO4- dan MnO2). Ion permanganate terbentuk dari hasil pemecahan ion mangan hijau (MnO4-). Permanganate adalah oksidan yang baik dalam bentuk dasar dan dapat direduksi menjadi bentuk Mn2+ dalam larutan yang bersifat asam. Mangan adalah salah satu unsur yang jumlahnya melimpah di dalam kerak bumi. Banyak ditemukan di tanah, batuan, sedimentasi, air, dan material-material biologi penyusun makhluk hidup. Sumber pencemar utama dari mangan adalah industri, khusunya industri logam, alloy, besi, dan pertambangan. Sumber lainnya berasal dari bidang pertanian dan perkebunan, yaitu sebagai bahan dalam pupuk dan fungisida. Dalam jumlah yang kecil namun tetap dapat meningkatkan pencemaran mangan adalah bahan bakar yang menggunakan zat aditif berupa organomanganese. Mangan terdapat dalam bentuk kompleks dengan bikarbonat, mineral dan organik. Mn(OH)2 dan MnCO3 relatif sulit larut didalam air, tetapi untuk senyawa seperti garam MnSO4, MnCl2 dan Mn(NO3)2 mempunyai kelarutan yang besar dalam air Konsentrasi mangan dalam tanah, air, dan udara beragam. Di dalam tanah, konsentrasi rata-rata mangan berkisar antara 500-900 mg/kg. Air permukaan memiliki konsentrasi rata-rata mangan 1-500 g/liter, sedangkan air minum berkisar antara 5-25 g/liter. Di dalam bahan makanan, konsentrasi mangan umumnya di bawah 5 mg/kg. Namun jumlahnya bisa meningkat hingga 30 mg/kg untuk bahan makanan berupa kacang-kacangan dan serealia serta beberapa ratus mg/kg untuk daun teh. Untuk konsentrasi mangan di udara bebas yang belum mengalami polusi atau udara di pedesaan berkisar antara 0,01-0,07 g/m3.

Sedangkan untuk udara perkotaan atau udara di sekitar industri konsentrasi mangan di udara umumnya di atas 0,5 g/m3. Mangan umumnya ditemukan sebagai Suspended Particulate Matter (SPM) di udara bebas (WHO, 1981). Air tanah sering mengandung mangan (Mn) cukup besar, kandungan Mn dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning-coklat setelah beberapa saat kontak dengan udara, disamping dapat mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau yang tidak enak serta menimbulkan warna kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada pakaian.

2.1.2 Toksikologi Mangan Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.416 Tahun 1990 kadar Mangan (Mn) yang diperbolehkan 0,5 mg/lt. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 menetapkan kadar logam mangan di dalam air minum maksimum 0.4 mg/L. Dalam jumlah yang kecil (< 0,4 mg/L), Mn dalam air tidak menimbulkan gangguan kesehatan, melainkan bermanfaat dalam menjaga kesehatan otak dan tulang, berperan dalam pertumbuhan rambut dan kuku, serta membantu menghasilkan enzim untuk metabolisme tubuh untuk mengubah karbohidrat dan protein membentuk energi yang akan digunakan. Mangan tersebar di seluruh jaringan tubuh. Konsentrasi mangan tertinggi terdapat di hati, kelenjar tiroid, pituitari, pankreas, ginjal dan tulang. Kadar minimal yang dibutuhkan sekitar 2,5 hingga 7 mg mangan per hari dapat mencukupi kebutuhan manusia. Tetapi dalam jumlah yang besar (> 0,4 mg/L), Mn dapat menimbulkan racun yang lebih kuat dibanding besi, yaitu menyebabkan gangguan pada tulang, gangguan hati, gangguan ginjal dan perubahan warna rambut. Gejala keracunan mangan dapat dideskripsikan dalam tiga tingkatan. Keracunan ringan mengakibatkan psikosis dan mencakup gejala-gejala berikut: astenia, anoreksia, insomnia,sakit pada otot, kegembiraan, halusinasi, gangguan ingatan, dan perilaku kompulsif. Gejala-gejala keracunan tingkat sedang mencakup gangguan berbicara, bergerak dengan canggung (kikuk), gaya berjalan tidak normal, keseimbangan yang buruk, hiperefleksia pada anggotatubuh bagian

bawah, dan gemetar. Gejala keracunan tingkat berat memiliki kesamaan dengan Parkinson disease. Mekanisme neurotoksisitas mangan terjadi karena degenerasi neuronal pada berbagai area di otak dan kelainan neurotransmitter. Faktor-faktor yang mungkin meningkatkan kerentanan terhadap toksisitas mangan antara lain defisiensi besi, alkoholisme, infeksi penurunan ekskresi. Reduksi toksisitas kronis, dan

mangan,

selain

pengurangan paparan, dapat dibantu dengan penambahan nutrien antagonis. Mangan adalah senyawa yang sangat umum yang dapat ditemukan di mana-mana di bumi. Mangan adalah salah satu dari tiga elemen penting beracun, yang berarti bahwa tidak hanya perlu bagi manusia untuk bertahan hidup, tetapi juga beracun ketika terlalu tinggi konsentrasi hadir dalam tubuh manusia. Pengambilan mangan oleh manusia terutama terjadi melalui makanan, seperti bayam, teh dan rempah-rempah. Bahan makanan yang mengandung konsentrasi tertinggi adalah biji-bijian dan beras, kacang kedelai, telur, kacangkacangan, minyak zaitun, kacang hijau dan tiram. Setelah penyerapan dalam tubuh manusia mangan akan diangkut melalui darah ke hati, ginjal, pankreas dan kelenjar endokrin. Efek mangan terjadi terutama di saluran pernapasan dan di otak. Gejala keracunan mangan adalah halusinasi, pelupa dan kerusakan saraf. Mangan juga dapat menyebabkan Parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis. Ketika orangorang yang terkena mangan untuk jangka waktu lama mereka menjadi impoten. Suatu sindrom yang disebabkan oleh mangan memiliki gejala seperti skizofrenia, kebodohan, lemah otot, sakit kepala dan insomnia. Karena Mangan merupakan elemen penting bagi kesehatan manusia kekurangan mangan juga dapat menyebabkan efek kesehatan. Ini adalah efek berikut: 1. Glukosa intoleransi 2. Darah pembekuan 3. Masalah kulit 4. Menurunkan kadar kolesterol 5. Ganguan Skeleton

6. Kelahiran cacat 7. Perubahan warna rambut 8. Gejala Neurological

2.1.3

Kasus Toksisitas Mangan Laporan mengenai toksisitas mangan secara oral relatif jarang. Toksisitas

mangan lebih sering diakibatkan oleh paparan kronis para pekerja pabrik besi dan baja, penambangan bijih mangan, pengelasan, pabrik kimia, baterai sel kering, dan industri bahan bakar minyak. L a p o r a n pertama

mengenai toksisitas mangan dibuat oleh Couper pada tahun 1 8 3 7 . I a menjelaskan keadaan yang mirip dengan kelumpuhan pada pekerja penggilingan pirolusit. Perhatian yang lebih besar terhadap toksisitas mangan tumbuh pada tahun 1930-40an setelah munculnya laporan mengenai kondisi yang sama pada beberapa penambang. BEIJING. Setidaknya 1.354 anak di Cina keracunan akibat polusi yang berasal dari pabrik peleburan mangan. Menurut berita yang dilansir kantor berita Cina, Xinhua, anak-anak itu diketahui keracunan setelah ratusan di antaranya jatuh sakit. Peristiwa ini terjadi di Provinsi Hunan Ifengah. Di wilayah ini terdapat pabrik peleburan mangan yang berlokasi di Kota Weping. Pabrik yang bernama Wugang ini dibuka pada Mei 2008, dan lokasinya hanya 500 meter dari sekolah dasar, sekolah menengah, serta taman kanak-kanak. Kecurigaan bahwa anak-anak yang tinggal di sekitar pabrik keracunan muncul awal Juli lalu, tepatnya ketika banyak anak tiba-tiba merasa kedinginan, demam, dan penyakit lainnya. Setelah diperiksa, tulis Xinhua, ternyata darah pada 70 persen dari 1.354 anak yang sudah diperiksa mengandung timah hitam yang berlebihan. Keracunan timah hitam selama ini diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi, menimbulkan tekanan darah tinggi, dan kehilangan ingatan.

2.2 Logam Besi Besi (Fe) adalah logam berwarna putih keperakan dan dapat dibentuk. Fe di dalam susunan unsur berkala termasuk logam golongan VIII B, dengan berat atom 55,85 g.mol-1, nomor atom 26, berat jenis 7,86 g.cm-3 dan umumnya mempunyai valensi 2 dan 3 (Wikipedia,2012).

2.2.1 Keberadaan Besi Besi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hampir setiap tempat tempat di bumi, pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada umumnya, besi yang ada di dalam air dapat bersifat terlarut sebagai senyawa garam ferri (Fe3+) atau garam ferro (Fe2+); tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1 mm) atau lebih besar seperti, Fe(OH)3; dan tergabung dengan zat organik atau zat padat yang anorganik. Keberadaan besi dalam air dapat ditandai dengan air berwarna merah kecoklatandan adanya endapan kuning kecoklatan pada air. Pada dasarnya, besi dalam airdalam bentuk Ferro (Fe2+) atau Ferri (Fe3+), hal ini tergantung pada kondisi pH danoksigenterlarut dalam air. Pada pH netral dan adanya oksigen terlarut yang cukup,maka ion ferro yang terlarut dapat teroksidasi menjadi ion ferri dan selanjutnyamembetuk endapan Fe berada dalam tanah dan batuan sebagai ferioksida (Fe2O3) dan ferihidroksida (Fe(OH)3). Dalam air, besi berbentuk ferobikarbonat (Fe(HCO3)2), ferohidroksida (Fe(OH)2), ferosulfat (FeSO4) dan besi organik kompleks. Air tanah mengandung besi terlarut berbentuk ferro (Fe ). Jika air tanah dipompakan keluar dan kontak dengan udara (oksigen) maka besi (Fe ) akan teroksidasi menjadi ferihidroksida (Fe(OH)3). Ferihidroksida dapat mengendap dan berwarna kuning kecoklatan. Hal ini dapat menodai peralatan porselen dan cucian. Bakteri besi (Crenothrix dan Gallionella) memanfaatkan besi fero (Fe ) sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya dan mengendapkan ferrihidroksida. Pertumbuhan
2+ 2+ 2+

bakteri besi yang terlalu cepat (karena adanya besi ferro) menyebabkan diameter pipa berkurang dan lama kelamaan pipa akan tersumbat.

2.2.2 Toksitas Besi Tempat pertama dalam tubuh yang mengontrol pemasukkan Fe adalah usus halus. Bagian dari usus ini berfungsi untuk absorpsi dan sekaligus ekskresi Fe yang tidak diserap. Besi dari usus diabsorpsi dalam bentuk feritin, dimana bentuk ferro lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk ferri. Feritin masuk kedalam darah berubah bentuk menjadi transferin. Dalam darah tersebut besi berstatus sebagai besi bervalensi tiga (trivalent) yang kemudian ditransfer ke hati dan limpa yang kemudian disimpan dalam organ tersebut sebagai cadangan dalam bentuk feritin dan hemosiderin. Toksisitas terjadi bilamana terjadi kelebihan (kejenuhan) dalam ikatan tersebut. Toksisitas akut Fe pada anak terjadi karena anak memakan sekitar 1 g Fe dan mungkin lebih banyak. Kandungan asupan besi pada anak secara normal adalah sekitar 10-20 mg/kg berat badan. Setiap tahun dilaporkan sekitar 2500 kasus keracunan Fe pada anak dibawah umur 6 tahun dan merupakan salah satu kasus keracunan yang terbanyak yang menyebabkan kematian pada anak. Kejadian Toksisitas Fe pada Anak (akut) Kebanyakan orang tidak begitu memperhatikan bahwa Fe sangat berbahaya dan tidak begitu menghiraukan karena sediaan itu dalam pikiran mereka hanya vitamin saja dan merupakan produk nutrisi belaka. Di samping itu sediaan tersebut sangat menarik hati anak-anak yaitu dalam hal warna, bentuk dan rasanya yang manis yang kadang ada rasa buahnya. Begitu obat terjangkau oleh anak-anak, maka anak dengan lahapnya mengonsumsi obat tersebut banyakbanyak dan akibatnya terjadilah keracunan Fe yang fatal. Gejala keracunan (Akut) Dosis rekomendasi yang diperbolehkan untuk orang dewasa per hari (RDAs/Recommended Daily Allowances) adalah 18 mg. Over dosis Fe akan terjadi bila anak mengonsumsi lebih dari 10 mg/kg berat badan anak dengan berat sekitar 18 kg, sehingga yang dikonsumsi anak tersebut sekitar 180 mg Fe. Gejala yang akan terlihat adalah rasal mual yang sangat, muntah-muntah, perdarahan

lambung dan usus sering terjadi, muntah darah disertai diare. Gejala tersebut terjadi sekitar 20 menit setelah kejadian over dosis Fe. Toksisitas Fe ini bila berlanjut akan menyebabkan kerusakan lambung, hati, ginjal dinding pembuluh darah dan otak. Kejadian fatal timbul segera setelah terjadi shock atau koma. Pengobatan keracunan Fe harus dilakukan dengan pengurasan lambung, analisis gambaran darah dan tekanan darah, pemberian agen khelat untuk mengikat Fe dari sirkulasi darah dan menolong mengeliminasi Fe dari darah. Mekanisme dan Gejala Toksisitas Kronis. Besi dapat terikat dalam bentuk komplek dengan sejumlah makromolekul, sebagai akibatnya akan mengurangi aktivitas normal dari komplek tersebut. Kelebihan Fe intraseluler menyebabkan terjadinya perubahan formasi dan deposisi dari hemosiderin yang menyebabkan disfungsi dan kerusakan seluler. Hemokromatosis adalah istilah terjadinya gangguan metabolisme Fe yang tercri dengan terjadinya kelebihan absorpsi Fe. Kejenuhan ikatan protein Fe dan deposisi hemosiderin terjadi dalam jaringan. Pengaruh dan gejala pertama terjadi pada hati, pankreas dan kulit. Kelebihan deposit Fe dalam hati dapat menyebabkan cirrhosis dan dalam pankreas dapat menyebabkan diabetes. Kelebihan deposit Fe menyebabkan pigmentasi warna perunggu (kuning abu-abu) pada organ dan kulit. Pengobatan Toksisitas Fe Yang penting dalam pengobatan toksisitas Fe akut adalah adalah mencegah absorpsi Fe dalam saluran cerna dan pernapasan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara: a) Memuntahkan makanan yang terkontaminasi Fe dengan seketika. b) Menggunakan obat pencahar, yaitu memberi 5% Na HCO3 yang dapat mengikat besi dalam bentuk Fe karbonat dan tidak dapat diabsorpsi serta segera dikeluarkan lewat feces. Untuk tujuan pengikatan Fe sebelum diabsorpsi dapat juga diberikan kombinasi garam karbonat dan fosfat. Hal tersebut baik dilakukan karena beberapa alasan, yaitu: a) Mengikat Fe yang terlarut menjadi bentuk tidak larut yaitu Fe karbonat dan Fe fosfat.

b) Untuk menguras isi lambung. c) Pemberian obat pencahar seperti garam katartik (MgSO4), juga dapat dilakukan untuk menguras isi lambung, sehingga Fe tidak sempat untuk diabsorpsi. Pengobatan dengan khelator deferoksamin dianjurkan bila kadar Fe dalam serum sampai 300 ug/dl, walaupun gejala klinis belum terlihat. Deferoksamin komplek pada dosis 100 mg dapat mengikat 9 mg Fe, obat tersebut dapat diberikan melalui mulut dan dapat mengikat Fe dari usus sehingga mencegah absorpsi Fe oleh dinding usus. Bila diberikan secara injeksi intravena, dilakukan dengan dosis 15 mg/kg bb/hari, injeksi dilakukan dengan perlahan karena deferoksamin dapat menyebabkan hipotensi. Bila diberikan secara intramuskuler, diberikan dosis 90 mg/kg bb. Urine harus selalu dimonitor, urine yang berwarna merah-orange menunjukkan adanya ekskresi dari Fe-komplek khelasi. Pengobatan khelasi harus selalu dilakukan sampai urine berwarna normal kembali, yang menunjukkan bahwa Fe komplek telah habis. Unsur Fe merupakan unsur yang penting dan berguna untuk metabolisme tubuh. Setiap hari tubuh memerlukan unsur besi 7-35 mg/hari yang sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Depkes RI menetapkan kadar maksimum unsur besi terdapat dalam air minum adalah 0,3 mg/L. Fe dibutuhkan tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya besi dalam tubuh dikendalikan oleh fase adsorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe, karenanya mereka yang sering mendapat transfusi darah, warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi. Sekalipun Fe diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis yang besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini (Slamet, 2004) Hemokromatis merupakan penyakit akibat kelebihan zat besi. Biasanya penyakit ini memiliki tanda-tanda diantaranya kulit berwarna merah, kanker hati, diabetes, impotensi, kelelahan dan gangguan jantung. Seseorang yang telah mendapat penyakit tersebut akan lebih rentan terhadap serangan jantung, stroke, dan gangguan pembuluh darah

Besi dalam tubuh biasanya berikatan dengan protein yang melibatkan kelompok hemoglobin yaitu rantai asam amino dan ikatan Fe-S, menjadi residu sistein dalam protein ferodoksin dari bakteri dan tanaman. Kandungan besi total dalam tubuh pria sekitar 3,8 gram dan pada wanita 2,3 gram. Dari total kandungan besi dalam tubuh tersebut sebagian digunakan untuk proses metabolisme dan sebagian digunakan untuk cadangan. Besi yang digunakan sebagai proses metabolisme untuk enzimatis dalam hemoglobin adalah 55% dalam mioglobin adalah 15%. Besi yang disimpan sebagai cadangan ialah berbentuk feritin yaitu sekitar 70-80%, sebagai komplek protein yang mudah larut dan sebagian besar terdapat dalam intraseluler dan sebagian kecil dalam serum, sedangkan besi dalam bentuk hemosiderin merupakan protein komplek yang tidak mudah larut. Kedua bentuk ikatan Fe tersebut disimpan dalam organ hati, sumsum tulang, limpa dan otot skeletal. Bila keseimbangan konsentrasi Fe dalam tubuh terganggu, penurunan kadar Fe terjadi pada lokasi penyimpanan sebelim fungsi Fe untuk metabolisme menurun. Sebagian Fe dalam tubuh terikat erat dengan protein lain yang mengangkut Fe ke dalam jaringan dan menyimpannya sebagai ion Fe (III) yang stabil dan tidak terhidroksida. Bentuk Fe transferin yang berada dalam protein darah mempunyai dua ikatan kuat dalam bentuk Fe (III) ini terdiri dua kelompok tirosinat dan fenolat, dimana bila tempat ikatan tersebut mengikat Fe (II) ikatannya menjadi lemah. Transferin merupakan kelompok glikoprotein yang termasuk laktoferin (dalam air susu), konalbumin dan ovotransferin (dalam putih telur) dan transferin serum, dimana semua protein tersebut mengikat Fe. Besi bervalensi 3 tersebut, Fe (III) tertimbun dalam feritin ini pada lapisan luarnya mengandung Fe (III) hidroksi polimer yang mengandung Fe sampai 4.500 atom. Besi dalam hemoglobin dan mioglobin adalah Fe dalam fase oksida Fe (II). Ligan dari protein Hb ini menstabilkan oksida oleh O2 menjadi fase oksida (III), hal tersebut menunjukkan bahwa ikatan O2 adalah seimbang (reversible), sehingga Fe (III)-hemoglobin menjadi tidak aktif terhadap ikatan O2. Fe dapat menyebabkan anemia mikrositik hipokromik yang disebabkan oleh: a) Perdarahan: hal ini adalah penyebab utama dari penyakit defisiensi Fe. Sering terjadi pada wanita dewasa yang mengalami menstruasi yaitu pada umur 15-

45 tahun. Sedangkan defisiansi pria dan wanita yang sudah mengalami menopause sering disebabkan oleh perdarahan kronis pada saluran pencernaan baik pada lambung maupun usus. Perdarahan kronis tersebut biasanya merupakan efek samping dari adanya tukak lambung maupun usus, misalnya pada penyakit: peptic ulcer disease, trauma mukosa, hernia, pengaruh obat, infeksi parasit dan tumor. b) Kurangnya asupan Fe: sering ditemukan pada bayi hal tersebut terjadi karena bayi hanya mendapatkan air susu ibu yang kurang kandungan Fe-nya. Dalam pemberian suplemen Fe pada ibu hamil sangat diperlukan. c) Gangguan absorpsi Fe: kasus malabsorpsi jarang terjadi, tetapi sering terjadi pada orang yang pernah menjalani operasi gastrektomi atau orang yang memang mengalami gangguan absorpsi Fe.

Secara klinis dan laboratorik gejala penyakit defisiensi Fe adalah: a) Penurunan kadar hematokrit dan hemoglobin yang mengakibatkan anemia b) Gejala anemia hipokromik mikrositik pada pemeriksaan ulas darah tepi c) Penurunan kadar Fe serum dan peningkatan kapasitas pengikatan total Fe d) Penurunan cadangan Fe dalam sumsum tulang dan penurunan feritin dalam serum

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah: 1. Besi adalah logam berwarna putih keperakan dan dapat dibentuk. Fe di dalam susunan unsur berkala termasuk logam golongan VIII B. Mangan adalah unsur yang termasuk ke dalam golongan VIIB yang berwarna putih keabuan, rapuh, dan termasuk ke dalam logam yang reaktif. 2. Keberadaan logam mangan dan besi terdapat pada air, tanah, dalam bentuk garamnya atau mineral. 3. Toksisitas logam mangan dan besi ini dapat membahayakan bagi tubuh dan lingkungan.

2. Saran 1. Perlunya pengetahuan yang lebih agar dpat lebih mengenal bahaya besi dan mangan. 2. Menghindari dari makanan yang terlalu banyak mengandung dan atau terkontaminasi besi dan mangan.

DAFTAR PUSTAKA
Lala, F. 2012. Makalah Toksikologi logam berat besi. http:// tralalaikrima. blogspot.com/2012/04/makalah-toksikologi-logam berat-fe-besi.html. diakses 21 oktober 2013. Utomo, G.R. 2011. Mangan. http://bilangapax.blogspot.com/2011/02/mangan. html.diakses 21 oktober 2013. Saputra, D. 2012. Mangan dan Zink. http://7face-diansaputra.blogspot.com/ 2012/01/mangan-dan-zink.html. diakses 21 Oktober 2013. Khuntari, W. 2012. Mangan. http://akuwewete.blogspot.com/2012/11/mangan. html. diakses 22 Oktober 2013.