Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Tubuh dapat bertahan selama berminggu-minggu tanpa makanan, tapi hanya beberapa hari tanpa air. Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis, yang memiliki proporsi besar dalam bagian tubuh, hampir 90% dari total berat badan tubuh. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan, kategori persentase cairan tubuh berdasarkan umur adalah bayi baru lahir 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa 55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Pada proses menua manusia kehilangan air. Kehilangan ini sebagian besar berupa kehilangan cairan ekstraselular. Persentase cairan tubuh bervariasi, bergantung pada faktor usia, jenis kelamin, proporsi jaringan otot dan jaringan lemak. Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraselular (cairan di dalam sel) yang komposisinya cocok untuk sel tersebut dan cairan ekstraselular (cairan di luar sel) yang komposisinya cocok pula. Cairan ektraselular terdiri atas cairan interstisial atau interselular (sebagian besar) yang terdapat di sela-sela sel dan cairan intravaskular berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian-bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan agar selalu berada dalam keadaan homeostasis/tetap. Keseimbangan cairan di tiap kompartemen menentukan volume dan tekanan darah. Gangguan volume cairan adalah suatu keadaan ketika individu beresiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat dari suatu kelainan cairan intravaskuler, interstisial dan intraseluler. Pemasukan (intake) dan pengeluaran (output) cairan tubuh haruslah seimbang agar tidak terjadi gangguan volume cairan di dalam tubuh. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan agar komposisi cairan tubuh tetap seimbang.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Cairan Tubuh Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya, jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna. 2.2 Distribusi Cairan Tubuh Cairan tubuh didistribusikan dalam dua kompartemen yang berbeda yaitu: 1. Cairan Ekstrasel Terdiri dari cairan interstisial (CIS) dan cairan Intravaskular. Cairan interstisial mengisi ruangan yang berada diantara sebagian besar sel tubuh dan menyusun sebagian besar cairan tubuh. Sekitar 15% berat tubuh merupakan cairan tubuh interstisial. Cairan intravascular terdiri dari plasma, bagian cairan limfe yang mengandung air tidak berwarna, dan darah yang mengandung suspensi leukosit, eritrosit, dan trombosit. Plasma menyusun 5% berat tubuh. 2. Cairan Intrasel Cairan intrasel adalah cairan didalam membran sel yang berisi subtansi terlarut atau solut yang penting untuk keseimbangan cairan dan elektrolit serta untuk metabolisme. Cairan intrasel membentuk 40% berat tubuh. Kompartemen cairan

intrasel memiliki banyak solute yang sama dengan cairan yang berada diruang ekstrasel. Namun proporsi subtansi-subtansi tersebut berbeda. Misalnya, proporsi kalium lebih besar didalam cairan intrasel daripada dalam cairan ekstrasel. 2.2.1 Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu : 1. Fase I Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal. 2. Fase II Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari pembuluh darah kapiler dan sel 3. Fase III

Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter sehingga tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara : a. Difusi Suatu proses ketika materi padat, partikel, seperti gula didalam cairan, berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, sehingga distribusi partikel didalam cairan menjadi merata atau partikel akan melewati membran sel yang permeable terhadap subtansi tersebut. b. Filtrasi Suatu proses perpindahan air dan substansi yang dapat larut secara bersamaan sebagai respon terhadap adanya tekanan cairan. Proses ini bersifat aktif di dalam bantalan kapiler. c. Osmosis Perpindahan pelarut murni, seperti air, melalui membran semipermeabel yang berpindah dari larutan yang memiliki konsentrasi solute rendah ke larutan yang memiliki konsentrasi solute tinggi. Kecepatan osmosis tergantung pada konsentrasi solute di dalam larutan, suhu larutan, muatan listrik solute, dan perbedaan antara tekanan osmosis yang dikeluarkan oleh larutan. d. Transport aktif

Merupakan suatu mekanisme mengenai sel-sel yang mengabsorbsi glukosa dan substansi-substansi lain untuk melakukan aktivitas metabolik. Aktivitas metabolik dan pengeluaran energi diperlukan untuk menggerakan berbagai materi guna menembus membrane sel. 2.3 Fungsi Cairan Tubuh Manusia Air merupakan bagian terbesar dari komposisi tubuh manusia. Hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Agar metabolisme tubuh berjalan dengan baik, dibutuhkan masukan cairan setiap hari untuk menggantikan cairan yang hilang. Fungsi cairan tubuh antara lain : 1. Mengatur suhu tubuh Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas di dalam tubuh. Sebagian panas yang dihasilkan dari metabolisme energi diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh pada 37C. Suhu ini paling cocok untuk bekerjanyaa enzim-enzim dalam tubuh. Kelebihan panas yang diperoleh dari metabolisme energi perlu segera disalurkan keluar. Sebagian besar pengeluaran kelebihan panas ini dilakukan melalui penguapan air dari permukaan tubuh (keringat). Semakin besar luas permukaan tubuh, semakin besar kehilangan panas melalui kulit. 2. Melancarkan peredaran darah Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung. 3. Katalisator Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana. 4. Membuang racun dan sisa makanan Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan. 5. Pencernaan Peran air dalam proses pencernaan untuk mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan
4

membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar. 6. Pelumas Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan. 7. Peredam benturan Air dalam mata, jaringan saraf tulang belakang, dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan. 2.4 Keseimbangan Air Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar tubuh. Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan di dalam tubuh setiap waktu berada di dalam jumlah yang tetap/konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi (kehilangan air secara berlebihan) dan overhidrasi (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urine, air di dalam feses, dan air yang dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru Tabel 1. Keseimbangan air Masukan Air Cairan Makanan Air Metabolik Jumlah (mL) 550-1500 700-1000 200-300 Ekskresi/Keluaran Air Ginjal Kulit Paru-paru Feses 1450-2800 Jumlah (mL) 500-1400 450-900 350 150 1450-2800

2.4.1 Intake Cairan Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme. Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah ini :

Tabel 3. Pengaturan Intake Cairan Tubuh Berdasarkan Umur dan Berat Badan Berat Badan (kg) 3,0 9,5 11,8 20,0 28,7 45,0 54,0 Kebutuhan Cairan (mL/24 Jam) 250-300 1150-1300 1150-1300 1350-1500 1800-2000 2000-2500 2200-2700

No

Umur

1 2 3 4 5 6 7

3 Hari 1 Tahun 2 Tahun 6 Tahun 10 Tahun 14 Tahun 18 Tahun (adult)

Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak, sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal. 2.4.2 Output Cairan Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu : a. Urine Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. b. IWL (Insesible Water Loss) IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit. Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar

300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat. c. Keringat Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan saraf simpatis pada kulit. d. Feses Pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

2.4.3 Pengaturan Konsumsi Air Konsumsi air di atur rasa haus dan kenyang hal ini terjadi melalui perubahan yang dirasakan oleh mulut, hipotalamus (pusat otak yang mengontrol pemeliharaan keseimbangan air dan suhu tubuh) dan perut. Bila konsentrasi bahan-bahan di dalam darah terlalu tinggi, maka bahan-bahan ini akan menarik air dari kelenjar ludah. Mulut menjadi kering, dan timbul keinginan untuk minum guna membasahi mulut. Bila hipotalamus mengetahui bahwa konsentrasi darah terlalu tinggi, maka timbul rangsangan untuk minum. Pengaturan minum dilakukan pula oleh saraf

keseimbangan. Walaupun rasa haus dapat mengatur konsumsi air dalam keadaan kehilangan air yang terjadi secara cepat, mekanisme ini sering tidak terjadi pada waktunya mengganti air yang diperlukan. Misalnya kehilangan cairan yang terjadi cepat pada seorang pekerja yang bekerja di panas matahari atau seorang pelari jarak jauh. Kadang-kadang minum tidak dapat segera mengembalikan kehilangan cairan yang dialaminya. Akibatnya terjadi dehidrasi. 2.4.4 Pengaturan Pengeluaran Air Pengeluaran air dari tubuh diatur oleh ginjal dan otak. Hipotalamus mengatur konsentrasi garam di dalam darah, merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan hormon antidiuretika (ADH). ADH dikeluarkan bilamana konsentrasi garam tubuh terlalu tinggi, atau bila volume darah atau tekanan darah terlalu rendah. ADH merangsang ginjal untuk menahan atau menyerap kembali air dan mengedarkannya kembali ke dalam tubuh. Jadi semakin banyak air dibutuhkan tubuh, semakin sedikit yang dikeluarkan.

Bila terlalu banyak air keluar dari tubuh, volume darah dan tekanan darah akan turun. Sel-sel ginjal akan mengeluarkan enzim renin. Renin mengaktifkan protein di dalam darah yang dinamakan angiotensinogen ke dalam bentuk aktifnya angiotensin. Angiostensi akan mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga tekanan darah akan naik. Di samping itu angiotensin mengatur pengeluaran hormon aldosteron dari kelenjar adrenalin. Aldosteron akan mempengaruhi ginjal untuk menahan natrium dan air. Akibatnya, bila dibutuhkan lebih banyak air, akan lebih sedikit air dikeluarkan dari tubuh. Mekanisme ini tidak berjalan, bila seseorang tidak minum air dalam jumlah cukup. Tubuh paling kurang harus mengeluarkan 500 ml air sehari melalui urine yaitu jumlah minimal yang diperlukan untuk mengeluarkan bahan sisa sehari sebagai akibat aktivitas metabolisme di dalam tubuh. Di luar jumlah ini, pengeluaran air disesuaikan dengan pemasukan air. Bila seseorang minum air dalam jumlah lebih banyak, urine akan lebih encer. Disamping melalui urine, tubuh kehilangan air melalui paru-paru sebagai uap, melalui kulit sebagai keringat, dan sedikit melalui feses. Jumlah air yang hilang rata-rata tiap hari sebanyak 2 liter. 2.5 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh harus mampu memelihara konsentrasi semua elektrolit yang sesuai di dalam cairan tubuh, sehingga tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit. Pengaturan ini penting bagi kehidupan sel, karena sel harus secara terus menerus berada di dalam cairan dengan komposisi yang benar, baik cairan di dalam maupun di luar sel. Mineral makro terdapat dalam bentuk ikatan garam yang larut dalam cairan tubuh. Sel-sel tubuh mengatur ke mana garam harus bergerak dengan demikian menetapkan ke mana cairan tubuh harus mengalir, karena cairan mengikuti garam. Kecenderungan air mengikuti garam dinamakan osmosis. 2.5.1 Disosiasi Garam dalam Air Bila garam larut dalam air, misalnya garam NaCl, akan terjadi disosiasi sehingga terbentuk ion-ion bermuatan positif dan negatif. Ion positif dinamakan kation, sedangkan ion negatif anion. Ion mengandung muatan listrik dan dinamakan elektrolit. Cairan tubuh yang mengandung air dan garam dalam keadaan disosiasi dinamakan larutan elektrolit. Dalam semua larutan elektrolit, ada keseimbangan antara konsentrasi anion dan kation. Tabel dibawah ini menunjukkan keberadaan elektrolit di luar dan di dalam sel tubuh.

Tabel 2. Keberadaan Elektrolit Tubuh Elektrolit Kation Natrium Kalium Kalsium Magnesium Konsentrasi di luar sel (meq/l) 142 5 5 3 155 Konsentrasi di dalam sel (meq/l) 10 150 2 40 202

Anion Klorida Bikarbonat Fosfat Sulfat ) Asam organic (laktat, piruvat) Protein

103 27 2 1 6 16 155

2 10 103 20 10 57 202

Sumber: Whitney, E.N. dan S.R.Rolfes, Understanding Nutrition, 1999, hlm. 371.

2.5.2 Pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit oleh protein Membran sel mengandung alat transport berupa protein yang mengatur penyebrangan ion positif dan bahan lain melalui membran sel tersebut. Ion negatif akan mengikuti ion positif dan air akan mengalir ke arah cairan yang lebih tinggi konsentrasinya. Salah satu contoh alat transport ini adalah pompa natrium-kalium, suatu enzim yang memompa natrium ke luar lebih cepat daripada proses difusi biasa. Pada waktu yang sama, kalium akan dipompa ke dalam sel. Pompa ini secara aktif mempertukarkan natrium dengan kalium melalui membran sel, dengan demikian mempertahankan tingkat konsentrasi masing-masing elektrolit. Pompa ini

menggunakan ATP sebagai sumber energi dan enzim natrium-kalium ATP-ase guna melepaskan energi dari ATP. 2.5.3 Pemeliharaan Keseimbangan Cairan Tubuh dan Elektrolit Jumlah berbagai jenis garam dalam tubuh hendaknya dijaga dalam keadaan konstan. Bila terjadi kehilangan garam dari tubuh, maka harus diganti dari sumber di luar tubuh, yaitu makanan dan minuman. Tubuh mempunyai suatu mekanisme yang mengatur agar konsentrasi semua mineral barada dalam batas-batas normal. Pengaturan ini terutama dilakukan oleh saluran cerna dan ginjal.

Bagian atas saluran cerna, yaitu lambung dan usus halus, secara terus menerus memperoleh mineral melalui getah pencernaan dan cairan empedu. Mineral ini kemudian diserap kembali di bagian bawah saluran cerna, yaitu bagian kolon/usus besar. Melalui mekanisme ini sebanyak 8 liter cairan mengalami daur ulang, yang cukup berarti untuk pemeliharaan keseimbangan elektrolit. Pengaturan keseimbangan air juga diatur oleh ginjal. Hormon ADH menentukan jumlah air yang dikeluarkan ginjal dan jumlah yang diserap kembali. Untuk mengatur keseimbangan elektrolit, ginjal memanfaatkan kelenjar adrenal melalui hormon aldosteron. Bila kadar natrium tubuh menjadi rendah, aldosteron meningkatkan reabsorpsi natrium dari tubula ginjal. Bila terjadi reabsorpsi natrium, kalium akan dikeluarkan dari tubuh sesuai dengan aturan bahwa jumlah ion positif di dalam tubuh harus tetap sama. Kemampuan ginjal mengatur kandungan natrium tubuh luar biasa. Makanan biasanya mengandung lebih banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Natrium mudah diabsorpsi oleh saluran cerna ke dalam darah. Ginjal akan mengeluarkan kelebihan natrium ini dan menjaga konsentrasinya dalam darah pada tingkat normal. Rasa haus juga membantu kadar natrium di dalam darah. Bila kadar natrium tinggi, reseptor di dalam otak merangsang seseorang untuk minum hingga tercapai rasio normal natrium terhadap air. Kemudian ginjal akan mengeluarkan kelebihan air dan kelebihan natrium secara bersamaan. 2.5.4 Faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain : a. Umur Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. bayi dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung. b. Iklim Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat.

10

Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari. c. Diet Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi tidak ada maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema. d. Stress Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glikogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah. e. Kondisi Sakit Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, misalnya : 1. Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL. 2. Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri. 2.6 Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit Secara normal, tubuh mampu mempertahankan diri dari ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Namun, ada kalanya tubuh tidak mampu mengatasinya. Ini terjadi bila kehilangan terjadi dalam jumlah banyak sekaligus, seperti pada muntah-muntah, diare, berkeringat luar biasa, terbakar, luka/pendarahan, dan sebagainya. Dalam keadaan ini elektrolit pertama yang hilang adalah natrium dan klorida, karena keduanya merupakan elektrolit ekstraselular utama dalam tubuh. Biasanya perlu segera diberikan cairan elektrolit. Cairan elektrolit yang paling sederhana dan dikenal masyarakat adalah oralit atau larutan gula garam (LGG). 2.6.1 Hipervolemia Hipervolemia merupakan keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau interstisial. Kelebihan volume cairan mengacu pada perluasan isotonik dari CES yang disebabkan oleh retensi air dan natrium yang abnormal dalam proporsi yang kurang lebih sama dimana mereka
11

secara normal berada dalam CES. Hal ini selalu terjadi sesudah ada peningkatan kandungan natrium tubuh total, yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan air tubuh total. Hipervolemia terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat kecil. Minum air dalam jumlah yang sangat banyak biasanya tidak menyebabkan hipervolemia jika kelenjar hipofisa, ginjal dan jantung berfungsi secara normal. hipervolemia lebih sering terjadi pada orang-orang yang ginjalnya tidak membuang cairan secara normal, misalnya pada penderita penyakit jantung, ginjal atau hati. Orang-orang tersebut harus membatasi jumlah air yang mereka minum dan jumlah garam yang mereka makan. Hipervolemia ini dapat terjadi jika : 1) Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air 2) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air 3) Kelebihan pemberian cairan intra vena 4) Perpindahan cairan interstisial ke plasma Organ yang paling mudah terkena dampak dari overhidrasi adalah otak. Jika overhidrasi terjadi secara perlahan, sel-sel otak memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri, sehingga hanya sedikit gejala yang timbul. Jika overhidrasi terjadi sangat cepat, penderita akan menunjukkan kekacauan mental, kejang dan koma. 2.6.2 Hipovolemia Kekurangan volume cairan adalah suatu keadaan pada individu yang mengalami dehidrasi intrasel, vaskular, atau selular yang berhubungan dengan kehilangan yang aktif. Kekurangan volume cairan terjadi jika pengeluaran cairan tubuh lebih banyak daripada pemasukannya. Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Hipovolemia ini terjadi dapat disebabkan karena : 1) Penurunan masukan (kekurangan natrium, kekurangan air, kekurangan natrium dan air). 2) Kehilangan cairan yang abnormal melalui : kulit, gastro intestinal, ginjal abnormal. 3) Pendarahan. Hipovolemia sering disebut dehidrasi. Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu :
12

1) Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan) 2) Dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan) 3) Dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan) Gejala yang ditimbulkan dari dehidrasi ringan adalah sakit kepala, lesu, jarang buang air kecil, dan berkeringat. Untuk mengatasi dehidrasi ringan bisa dengan minum cairan ekstra. Tapi jika tidak segera diatasi, dehidrasi mengakibatkan rasa haus ekstrim, pusing, kebingungan, dan berhenti buang air kecil. Pada anak-anak dan lansia, dehidrasi bisa menyebabkan diare, muntah, demam, cepat marah, dan kebingungan.

13

BAB III KESIMPULAN

Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di dalam tubuh makhluk multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Fungsi cairan tubuh secara umum adalah sebagai pengatur suhu tubuh, melancarkan peredaran darah, katalisator, membuang racun dan sisa makanan, pencernaan, pelumas, dan peredam benturan. Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar tubuh. Cairan tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan bila mengalami kelebihan atau kekurangan. Ketidakseimbangan cairan tubuh terjadi pada hipervolemia (kelebihan volume cairan) dan hipovolemia (kekurangan volume cairan).

14

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Ardiyanto. (2013). Hati-hati Kelebihan dan Kekurangan Air Bisa Sebabkan Gangguan Jantung. [Online]. Tersedia : http://www.okejos.com/hati-hati-kelebihan-dan-

kekurangan-air-bisa-sebabkan-gangguan-jantung.html. [8 Oktober 2013]. Ismaryadi, Andi. (2012). Makalah Diagnosa Gangguan Volume cairan. [Online]. Tersedia : http://andysmar.blogspot.com/2012/05/makalah-diagnosa-gangguan-volume-cairan. html. [8 Oktober 2013]. Putra, Herman. (2013). Cairan dan Elektrolit. [Online]. Tersedia : [8

http://hermankampus.blogspot.com/2013/02/makalah-cairan-dan-elektrolit.html. Oktober 2013].

15

LAMPIRAN

ARTIKEL TERKAIT Oleh Tanggal Terbit : Ardiyanto : Jumat, 1 Maret 2013 13.53 WIB

Hati-Hati, Kelebihan Dan Kekurangan Air Bisa Sebabkan Gangguan Jantung

Kekurangan cairan dalam tubuh disebut juga dehidrasi. Dehidrasi terjadi apabila kondisi air dalam tubuh tidak sesuai dengan kadar air dalam tubuh normal. Jika tubuh mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi, maka beberapa gejala penyakit siap mengancam di belakang. Salah satunya penyakit yang kerap menyerang tubuh yang kekurangan cairan adalah jantung. Gangguan jantung bisa disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan cairan. Sepintas memang tidak ada pengaruh antara kadar air dalam tubuh dengan gangguan jantung, karena biasanya jantung sering disebabkan oleh pengaruh obat ataupun yang berkenaan langsung dengan jantung seperti asap rokok dan lain sebagainya. Namun berdasarkan ilmu kedokteran, ternyata gangguan jantung juga bisa dipicu karena kekurangan cairan. Hal ini tak lepas dari tugas jantung sebagai pemompa darah. Darah yang dipompa jatung juga memiliki kadar kekentalan tertentu. Sehingga jika seseorang kekurangan cairan, maka darah dalam tubuh akan lebih kental dari biasanya. Oleh sebab itu kerja jantungpun semakin berat. Dengan beban kerja yang cukup berat ini membuat jantung sedikit demi sedikit mengalami gangguan. Gangguan jantung akibat kekurangan air ini akan semakin mudah terjadi pada orang yang sudah lanjut usia. Secara kinerja jantung, lansia atau lanjut usia sudah mengalami penurunan.

16

Sehingga sangat rentan sekali orang yang berusia mengalami gangguan jantung apabila kekurangan cairan. Selain kekurangan cairan, gangguan jantung juga bisa dipicu karena kelebihan cairan. Seolah kejadian mustahil, namun hal ini memang rawan terjadi pada beberapa orang tertentu. Gangguan jantung yang disebabkan oleh kelebihan cairan ini mudah biasanya dialami oleh penderita ginjal dan jantung. Untuk penderita gangguan ginjal, banyak mengkonsumsi air malah menyebabkan kerja ginjal semakin berat. Secara kasat mata, penderita gangguan ginjal akan mengeluarkan urine lebih sedikit. Namun, apabila penderita mengkonsumsi air terlalu banyak maka terjadi ketidak seimbangan antara pengeluaran cairan tubuh dengan pemasukan. Kelebihan pemasukan air inilah yang menyebabkan air menjadi menumpuk dalam tubuh. Sehingga dengan air yang makin menumpuk akan menyebabkan gangguan pada kerja ginjal serta dapat membebani tugas jantung sebagai pemompa darah keseluruh tubuh.

17

Pertanyaan 1. Mengapa apabila saat stress, seringkali telapak tangan berkeringat? Adakah kaitannya dengan mekanisme cairan tubuh? Adakah kaitannya dengan penyakit lemah jantung? Jawab : Sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung antara keringat berlebih pada telapak tangan dengan mekanisme cairan tubuh. Keringat berlebih pada telapak tangan adalah salah satu gejala hiperhidrosis. Hiperhidrosis ini merupakan salah satu bentuk keringat berlebihan pada tubuh yang berlangsung dalam kadar sering dan konstan. Hiperhidrosis dibagi kedalam dua kategori, yaitu hiperhidrosis lokal dan hiperhidrosis sistemik. Hiperhidrosis lokal hanya terjadi di bagian telapak tangan dan kaki seta ketiak. Penyebab hiperhidrosis lokal biasanya berkaitan dengan faktor psikologis, misalnya takut, cemas, atau khawatir berlebihan. Kondisi akan mempengaruhi sistem saraf simpatis dan memacu kelenjar keringat untuk berproduksi lebih banyak, maka terjadilah hiperhidrosis. Untuk hiperhidrosis sistemik, terjadi tidak hanya telapak tangan, kaki, dan ketiak yang berkeringat, seluruh tubuh pun berkeringat. Tapi itu bukan gejala utama lemah jantung seperti anggapan yang beredar di masyarakat. Hiperhidrosis sistemik bisa menjadi pertanda seseorang mengalami hipertiroid, yakni suatu kondisi akibat peningkatan kadar hormon tiroid yang berfungsi mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Jika seseorang mengalami hipertiroid, metabolisme tubuh menjadi lebih cepat, itu lah yang membuat kelenjar keringat memproduksi keringat lebih banyak. Hipertiroid juga membuat jantung berdetak lebih cepat, jika dibandingkan dengan detak jantung normal. Kondisi inilah yang memunculkan anggapan bahwa sering berkeringat merupakan pertanda lemah jantung.

2. Mengapa pada saat kita kurang minum air putih, seringkali mengalami sakit pinggang? Jawab : Fungsi dasar cairan tubuh salah satunya adalah sebagai pelumas. Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh sebab itu apabila kita kekurangan cairan (kurang minum air putih), volume cairan dalam tubuh kita pun akan berkurang dan tidak akan berfungsi sebagai mana mestinya. Salah satu gejala yang ditimbulkan dari kekurangan cairan ini adalah sakit pinggang, karena otot-otot pada pinggang ini akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Oleh karena itu, perlu minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot, sakit pinggang dan kelelahan.
18