Anda di halaman 1dari 10

Ekosistem Danau Arief Rahmat Setyawan 12/335046/PN/13008 Manajemen Sumberdaya Perikanan Intisari Danau merupakan salah satu kawasan

perairan lentik yang memiliki keanekaragaman dan kemelimpahan biota dan organisme perairan. Danau memiliki manfaat yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan manusia selain sebagai habitat bagi berbagai biota perairan. Praktikum mengenai ekosisitem danau ini memiliki beberapa tujuan antara lain mempelajari karakteristik ekosisitem lentik (perairan menggenang) dan faktor-faktor pembatasnya, mempelajari cara-cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisik , kimia, dan biologik suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton dan bentos), dan untuk mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan. Praktikum mengenai ekosistem danau ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 April 2013 pukul 9.00 WIB. Praktikum ini bertempat di danau Tambak Boyo, Yogyakarta. Pada lokasi praktikum dilakukan beberapa pengukuran yaitu suhu, kecerahan dengan menggunakan sacchi disk, TSS dengan memakai metode gravimetri, DO dengan metode winkler, CO2 dan Alkalinitas dengan metode alkalimetri, BO, BOD5, densitas plankton dan diversitas plankton. Dari hasil pengamatan pada stasiun 7 didapatkan suhu air dan suhu udara sebesar 27C, kecerahan 70 cm, pH 7, diversitas plankton 0,1118 dan densitas plankton 14. Berdasarkan indeks diversitas, stasiun 1, 2, 3, 4, 6, dan 7 termasuk kedalam perairan tercemar berat dengan H < 1 dan stasiun 5 termasuk perairan dengan pencemaran sedang dengan H 1,0 H 1,59, sehingga stasiun 5 adalah stasiun terbaik dengan indeks diversitas 1,0922. Kata kunci : Ekosisitem, Danau, Diversitas plankton, Lingkungan, dan Parameter. Pendahuluan Danau Tambak Boyo merupakan salah satu danau buatan yang berada di Yogyakarta. Air danau Tambak Boyo ini berasal dari sungai tambak bayan dam sungai buntung. Danau Tambak Boyo digunakan untuk wisata air, irigasi pertanian, konservasi sumberdaya air, dan pengendalian banjir. Melihat banyaknya mamfaat dari danau Tambak Boyo ini, maka perlu dilakukan pencegahan pencemaran air dan dilakukan penelitian kualitas air. Danau merupakan salah satu bentuk ekosistem air tawar yang bersifat menggenang atau lentik. Ekosistem ini menempati daerah yang relative tidak luas di permukaan bumi dibanding dengan habitat lautan dan daratan (Connel dan Miler,1995). Pada danau terdapat pembagian daerah berdasarkan penetrasi cahaya matahari, daerah yang dapat ditembus cahaya sehingga terjadi proses fotosintesis disebut dengan daerah fotik, daerah yang tidak tembus cahaya disebut daerah afotik, pada danau juga terdapat perubahan temperature yang

dratis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah hangat diatas dengan daerah dingin di dasar(Suwignyo,2003). Perairan danau memiliki ciri ciri antara lain cahaya, warna air, kejernihan, total suspended solid, dan suhu. Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, ketinggian permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran, serta kedalaman badan air. Suhu sangat mempengaruhi pengendalian kondisi ekosistem perairan (Effendi,2003). Kejernihan atau kekeruhan merupakan intensitas kegelapan didalam air yang disebabkan oleh bahan bahan yang melayang. Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan bahan yang terdapat didalam air (Ristiarti,2007). Total suspended solid merupakan jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada pada limbah setelah mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron (Sugiharto,1987). Danau biasanya mengalami stratifikasi secara vertical akibat perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu di dalam air yang terjadi secara vertical (Effendi,2003). Arus dapat bergerak ke berbagai arah dan memiliki stratifikasi kualitas air secara vertical tergantung pada kedalama dan musim (Cole,1988) Praktikum ekosistem danau bertujuan untuk mempelajari karakter ekosistem lentik (perairan menggenang) dan faktor faktor pembatasnya, mempelajari cara pengambilan data tolokukur (parameter) fisika, kimia, dan biologi suatu perairan lentik, mempelajari korelasi antara beberapa tolokukur lingkungan dengan populasi biota perairan (plankton dan bentos) dan mempelajari kualitas perairan lentik berdasarkan atas indeks diversitas biota perairan. Metodologi Praktikum ekosistem danau ini dilakukan pada hari sabtu tanggal 20 April 2013 dengan mengambil tempat penelitian di danau Tambak Boyo, Sleman, Yogyakarta. Parameter parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah parameter fisika yaitu suhu air, suhu udara, kecerahan, total suspended solid, warna air, parameter kimia yaitu oksigen terlarut, CO2 bebas, alkalinitas, pH, bahan organic, BOD5, parameter biologi yaitu densitas plankton dan diversitas plankton. Pada lokasi danau yang telah ditentukan dibagi menjadi beberapa stasiun pengamatan. Pada setap stasiun pengamatan dilakukan pengambilan data pada titik permukaan dan dasar perairan menggunakan water sampler dan dilakukan pengambilan cuplikan plankton. Tiap stasiun dilakukan pengukuran tolokukur lingkungan seperti suhu, pH, kandungan O2 terlarut dengan metode winkler, CO2 bebas dengan metode alkalimetri, alkalinitas dengan metode

alkalimetri, BOD5, TSS dengan metode gravimetric. Dilakukan pengamatan dan penghitungan plankton dengan memakai Sedgwick Rafter Counting Cell (SR) bervolume 1 ml. Dibuat grafik densitas plankton dan dianalisi regresi dan korelasi dengan densitas plankton sebagai peubah tidk bebas dan pH, kandungan O2 terlarut, CO2 bebas, dan alkalinitas sebagai peubah bebas. Dilakukan pengukuran kekeruhan dengan membenamkan Secchi Disk kedalam air hingga tidak terlihat warna pada sacchi disk. Densitas plankton diukur dengan rumus : N= ( ) Keterangan : N = Jumlah sel perliter; n = Jumlah sel yang diamati Vr = Volume air tersaring; Vs = Volume air yang disaring Vo = Volume air yang diamati (pada SR) Indeks diversitas plankton dihitung dengan rumus Shannon-Wiener : Keterangan : H = Indeks keanekaragaman ni = Cacah individu satu genus N = Cacah individu seluruh genus Kandungan padatan tersuspensi total dihitung dengan metode gravimetri dengan rumus : Kandungan TSS = BOD5 dihitung dengan menggunakan rumus : Hasil analisis kandungan terlarut segera Hasil analisis kandungan terlarut 5 hari Kandungan BOD5 = Kandungan O2 terlarut dihitung dengan metode winkler dengan rumus : Kandungan O2 terlarut = Kandungan CO2 bebas diukur dengan metode alkalimetri dengan rumus : : A ml : B ml

Kandungan CO2 bebas = Alkalinitas dihitng dengan metode alkalimetri dengan rumus ; Kandungan CO3- = Kandungan HCO3-= Alkalinitas total = X + Y mg/l ..(=X) (=Y)

Hasil dan Pembahasan


Parameter Fisika Suhu Air (C) Suhu Udara (C) Kecerahan (cm) TSS (ppm) 27.25 29 14 0.4526 28 34 117 0.267 25 27 56 0.308 26 29 73.25 0.067 27.5 29 66 0.673 27 30 69 0.24 27 27 70 0.0027 Stasiun 1 2 3 4 5 6 7

Kimia DO (ppm) CO2 (ppm) Alkalinitas (ppm) pH BO (ppm) BOD5 (ppm) 5 8.4 85 7 4.80 0.97 5.58 18.7 96 7 7.21 0.75 3.2 9 97 7 8.40 0.865 5.5 15 20 7.1 7.27 0.35 4.78 8.3 74 7 9.50 0.7 2.8 11 63 7 2.40 0.731 9.5 6.3 47.6 7 18.3454 1.15

Biologi Diversitas Plankton Densitas Plankton 0.3559 38 0.8698 17 0.3476 23 0.796 52 1.0922 30 0.7808 95 0.1118 14

Pembahasan Pada stasiun 7, kondisi lingkungan disekitar danau didominasi oleh vegetasi semak belukar dan terdapat pohon, warna air pada danau kehijauan. Pada stasiun 7 didapati suhu udara dan suhu air sebesar 27C, temperature ini tergolong sejuk karena pengamatan dilakukan pada pagi hari. Tingkat kecerahan air danau pada stasiun 7 sebesar 70 cm dan Total suspended solid pada stasiun ini sebesar 0,0027 ppm. Kandungan O2 terlarut (DO) pada stasiun 7 sebesar 9,5 ppm dengan kandungan CO2 bebasnya sebesar 6,3 ppm. Pada stasiun ini didapati besarnya alkalinitas adalah 47,6 ppm dan pH sebesar 7. Kandungan bahan organik pada stasiun ini adalah 18,3454 ppm dan BOD5 sebesar 1,15 ppm. Diversitas plankton pada stasiun 7 didapati sebesar 0,1118 dengan Densitasnya sebesar 14 indv/liter. Nilai DO pada stasiun 7 termasuk tinggi karena diatas batas minimum toleransi biota perairan yaitu 5 ppm dan kandungan CO2 bebasnya termasuk rendah menurut UNESCO/WHO/UNEP (1992) dalam Efendi (2003) yang menyatakan bahwa perairan alami memiliki kisaran CO2 bebas kurang dari 20 mg/l. Kandungan bahan organic dan BOD5 pada stasiun ini tergolong rendah. Alkalinitas pada stasiun ini tergolong tinggi. Nilai alkalinitas pada perairan alami adalah 40 mg/liter CaC03 (Boyd, 1982). Grafik hubungan suhu dengan DO dan CO2

Suhu VS Stasiun
40 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 Suhu Air Suhu Udara DO (ppm) 30

DO vs Stasiun
10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

CO2 vs Stasiun
20 CO2 (ppm) 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Dari grafik dapat dilihat bahwa ketika suhu air dan suhu udara rendah atau menurun maka kandungan DO akan meningkat dan ketika suhu air dan suhu udara meningkat maka kandungan DO akan menurun. Menurut Sastrawijaya (1991) bahwa suhu mempunyai pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen, jika suhu naik maka oksigen dalam air akan menurun. Hal ini dapat terjadi karena ketika suhu naik, maka proses metabolisme dalam air akan meningkat dan mengakibatkan menurunnya DO dalam air. Meningkatnya suhu air mempercepat laju metabolisme akan tetapi pada saat yang sama pasokan oksigen akan

menurun karena kelarutannya yang rendah dalam air

yang panas (Chang,2005). Pada

beberapa stasiun didapati pada saat suhu meningkat, DOnya tetap tinggi (meningkat), hal ini karena selain suhu, DO dalam air dipengaruhi oleh kandungan bahan organik dalam air. Kandungan oksigen terlarut akan berbanding terbalik dengan kandungan CO2 bebas didalam air, dimana ketika DO tinggi maka CO2 bebas akan rendah dan ketika DO rendah maka CO2 bebas akan tinggi. Peningkatan kadar CO2 akan menghalangi proses difusi DO yang akan mempengaruhi nilai DO dalam perairan akan menurun (Kordi,2005). Grafik hubungan pH dengan alkalinitas dengan CO2 bebas pH vs Stasiun
Alkalinitas (ppm) 7.2 pH 7.1 7 6.9 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Alkalinitas vs Stasiun
100 50 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun CO2 (ppm) 150 20 10 0

CO2 vs Stasiun

1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Berdasarkan grafik dapat dilihat bahwa nilai pH berhubungan langsung dengan nilai alkalinitas. Menurut Modereth et al dalam Effendi (2003), bahwa pH berkaitan erat dengan karbon dioksida dan alkalinitas, semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbon dioksida bebas terlarut yang bersifat asam. Hal ini karena alkalinitas dapat menetralkan asam. Proses penetralan keasaman pH terjadi karena adanya ion karbonat dan ion bikarbonat yang saling bereaksi. Dalam kondisi basa, ion bikarbonat akan membentuk ion karbonat dan melepaskan ion hidrogen yang bersifat asam sehingga keadaan pH menjadi netral. Sebaliknya bila keadaan terlalu asam, ion karbonat akan mengalami hidrolisa menjadi ion bikarbonat dan melepaskan hidrogen oksida yang bersifat basa, sehingga keadaan kembali netral (Arsyad, 1989). Nilai pH akan berbanding terbalik dengan kadar CO2 bebas, ketika pH tinggi maka CO2 bebas akan rendah begitu pula ketika pH rendah maka CO2 bebas akan tinggi. Alkalinitas tidak berhubungan langsung dengan CO2 bebas. Grafik hubungan DO dengan BOD5 dengan BO DO vs Stasiun
DO (ppm)

BOD5 vs Stasiun
BOD5 (ppm)
1 0.5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun BO (ppm) 1.5

BO vs Stasiun
20.00 10.00 0.00 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Berdasarkan hasil pada grafik, didapati ketika kandungan DO dalam air tinggi, maka kandungan bahan organik rendah. Berkurangnya oksigen terlarut berkaitan dengan banyaknya bahan bahan organik dari limbah industry yang mengandung bahan bahan tereduksi dan lainnya (Welch,1952). Dari grafik dapat dilihat bahwa ketika DO rendah maka BOD5 dalam air akan tinggi. BOD5 merupakan ukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan bahan organik yang terdapat didalam air. Nilai BOD5 yang besar menunjukan aktifitas mikroorganisme yang tinggi dalam menguraikan bahan bahan organik (APHA,1989). Menurut Wargadinata (1995) menyatakan bahwa kebutuhan oksigen oleh hidrobiota akan meningkat apabila oksigen terlarut pada perairan semakin kecil. Kandungan BO akan berpengaruh secara tidak langsung pada BOD5 karena kandungan BO dalam air berpengaruh terhadap besar kecilnya DO. Pada stasiun 7, hasil pengamatan tidak sesuai dengan teori dimana pada stasiun 7 dengan kandungan DO yang tinggi, kandungan BO dan BOD5nya juga tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor faktor lain seperti suhu, proses fotosintesis, dan kecerahan. Grafik hubungan DO dengan CO2 bebas dengan densitas plankton DO vs Stasiun
CO2 (ppm)
DO (ppm) 10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

CO2 vs Stasiun

Densitas Plankton vs Stasiun


Diversitas Plankton
100 50 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Berdasarkan grafik terlihat bahwa ketika kandungan oksigen dalam air tinggi, maka densitas planktonnya akan tinggi pula. Menurut Sastrawijaya (1991) untuk mempertahankan hidupnya, organisme air bergantung pada oksigen terlarut, sehingga ketika DO tinggi maka densitas planktonnya akan ikut tinggi. Densitas plankton akan mempengaruhi besar kecilnya DO dalam air karena dengan densitas yang besar, maka jumlah proses fotosintesis dalam air akan meningkat, padahal fotosintesis merupakan salah satu sumber oksigen terlarut sehingga DO akan ikut tinggi pula. Gas oksigen terlarut dalam air berasal dari hasil fotosintesis oleh

fitoplankton atau tumbuhan air dan difusi dari udara (APHA,1989). Pada grafik dapat dilihat bahwa ketika CO2 bebas tinggi maka densitas plankton dan kandungan oksigen dalam air akan rendah. Hal ini karena CO2 bebas berbanding terbalik dengan oksigen terlarut. Terdapat beberapa hasil pengamatan yang tidak sesuai dengan teori, seperti pada stasiun 7 dengan kandungan oksigen yang tinggi dan CO2 bebas yang rendah, namun densitas planktonnya rendah. Hal ini dapat terjadi karena kandungan nutrisi yang dibutuhkan plankton pada stasiun ini kurang sehingga plankton tidak dapat berkembang secara penuh. Grafik hubungan TSS dengan kecerahan dan DO TSS vs Stasiun
TSS (ppm) 1 0.5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Kecerahan vs Stasiun
Kecerahan(cm) 100 50 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun DO (ppm) 150

DO vs Stasiun
10 5 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Berdasarkan grafik dapt dilihat bahwa ketika TSS tinggi maka tingkat kecerahan akan rendah dan kandungan DO juga rendah dan sebaliknya ketika TSS rendah maka kecerahan dan DO akan tinggi. Hal ini dapat terjadi karena tingginya TSS akan mempengaruhi kecerahan air karena akan membuat air menjadi lebih gelap. Ketika air danau itu menjadi gelap atau pekat maka tumbuhan air dan fitoplankton akan sulit melakukan fotosintesis karena suplai cahaya matahari akan kurang dan mengakibatkan DO menurun karena fotosintesis merupakan salah satu penyumbang oksigen terlarut dalam air. Reaksi fotosintesis adalah 6H2O (air) + 6CO2 (karbondioksida) + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6O2 (oksigen). Grafik diversitas plankton

Densitas Plankton

Diversitas Plankton vs Stasiun


2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 Stasiun

Tingkat diversitas plankton yang tinggi menunjukan bahwa perairan masih baik dan belum tercemar. Lee et al (1978) dalam Soegianto (1994), mengklasifikasikan kualitas

ekologis berdasarkan nilai H fauna benthos menjadi empat, yaitu : i) tinggi (H > 2,0), berarti bahwa komunitas bersangkutan berada dalam kondisi stabil; ii) sedang (1,6 H 2,0), berarti bahwa stabilitas komunitas bersangkutan dalam kondisi moderat; iii) rendah (1,0 H 1,59), berarti bahwa komunitas bersangkutan dalam kondisi tidak stabil; iv) sangat rendah (H< 1,0), berarti bahwa komunitas bersangkutan dalam kondisi sangat tidak stabil. Dari grafik terlihat bahwa rata rata kualitas perairan berdasarkan indeks diversitas telah tercemar karena kebanyakan stasiun indeks diversitasnya kurang dari 1. Stasiun dengan kualitas perairan terbaik berada pada stasiun 5 dengan indeks diversitas 1.0922. Kandungan DO dalam perairan juga dapat menjadi parameter kualitas perairan. Berdasarkan DO maka kualitas perairan terbaik berada pada stasiun 7. Kesimpulan Danau merupakan suatu bentuk genangan air yang terjadi karena peristiwa alam seperti tektonik dan vulkanik. Danau juga dapat terbentuk karena putusnya aliran sungai dan membentuk kelokan. Karakteristik perairan lentik diidentikan pada yang terbuka dengan system tertutup. Setiap parameter fisika, kimia, dan biologi sekaku berkaitan dan akan berpengaruh pada tinggi rendahnya nilai parameter tersebut. Populasi plankton dipengaruhi oleh parameter fisika dan kimia karena berhubungan langsung dengan metabolisme dan kehidupan plankton. Keanekaragaman plankton dapat dijadikan parameter baik tidaknya kualitas suatu perairan, semakin tinggi keanekaragaman maka kualitas perairan lebih baik, seperti pada stasiun 2 dengan indeks diversitas 1,0922 termasuk perairan yang lebih baik dibanding stasiun lainnya yang indeks diversitasnya dibawah 1 yang telah tercemar berat. Saran Secara umum kondisi atau kualitas perairan danau Tambak Boyo tergolong baik, walaupun telah terjadi pencemaran di beberapa titik. Untuk itu diperlukan kesadaran masyarakat jogja dan masyarakat sekitar untuk menjaga danau Tambak Boyo agar tidak tercemar. Daftar Pustaka Arsyad S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor. APHA. 1989. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater. Seventeenth Edition. American Public Health Association, Washington,. D.C.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality in Warm Water Fish Pond Auburn University. Agriculture Experiment Station, Auburn. Cole, B.A. 2988. Textbook Of Limnology 3rd Ed. Wavelanders, INc. Illionis. Connel, D.W dan Miller, G.J. 1995. Kimia dan Ekotoksiologi Pencemaran. UI Press. Jakarta. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta. Kordi, M.G. 2005. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta Karya, Bandung. Sastrawijaya, A.T. 1991. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta. Soegianto. 1994. Ekologi Kuantitatif (Metode Analisis Populasi dan Komunitas). Usaha Nasional. Surabaya Sugiharto, 1987. Dasar dasar Pengolahan Air Limbah. Jakarta. UI Press. Suwignyo, D. 2003. Ekosistem Perairan Pedalaman: Tipologi dan Permasalahannya. LIPI. Bogor. Wargadinata, C.L. 1995. Makrozoobentos sebagai Indikator di Sungai Percut. Program Pasca Sarjana Ilmu Pengetahuan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, USU. Medan Welch, P.S. 1952. Limnology. Mc Graw Hill Publication. New York.